Getty Image/ Special
JUL. 06, 2026

Kota-Kota & Tanda-Tanda

Pada akhirnya perjalanan ini membawamu ke kota Tamara. Susurilah jalan-jalannya yang dipenuhi papan-papan reklame yang menjuntai dari dinding-dinding.

Foto Penulis

By Editorial Team GBJ

Kau berjalan selama berhari-hari di antara pepohonan dan di antara bebatuan. Mata jarang mengerling pada sesuatu namun pada saat-saat itulah kau menyadari bahwa setiap benda adalah pertanda dari sesuatu lainnya: sebuah jejak di atas pasir menandakan jalan lintasan harimau; paya-paya menginformasikan adanya saluran air; bunga sepatu menjadi tanda berakhirnya musim dingin. Segala yang tersisa adalah keheningan dan tidaklah terlalu unik; pepohonan dan bebatuan hanyalah apa adanya.

Pada akhirnya perjalanan ini membawamu ke kota Tamara. Susurilah jalan-jalannya yang dipenuhi papan-papan reklame yang menjuntai dari dinding-dinding. Matamu tidak melihat benda-benda melainkan gambaran-gambaran benda yang bermakna lain; penjepit adalah perlambang rumah ahli gigi; gelas besi perlambang kedai minuman; lembing-lembing, barak-barak; timbangan, penjual makanan. Sementara patung-patung dan perisai menggambarkan singa, lumba-lumba, menara, bintang-bintang: tanda bahwa sesuatu–apa pun itu–memiliki pertandanya masing-masing–entah singa atau lumba-lumba atau menara atau bintang. Tanda-tanda lain mewartakan larangan di tempat-tempat tertentu (larangan memasuki lorong dengan berkendara, larangan kencing di belakang kios, memancing dengan galah dari jembatan) dan apa yang diperbolehkan (memandikan zebra, bermain bowling, membakar jenazah sanak famili). Dari pintu-pintu kuil tampak patung-patung dewa, masing-masing tergambar lewat atributnya–contong-contong, jam pasir, medusa–begitulah cara para pemuja mengenali para dewa dan menyampaikan doa mereka secara benar. Manakala sebuah bangunan tidak memiliki papan reklame atau sosok yang jelas, bentuk dan posisinya dalam tatanan kota menunjukkan fungsinya: istana, penjara, artayasa, sekolah Pitagoras, rumah bordil. Barang-barang yang dipajang oleh para pedagang di lini kios mereka, tidak hanya memiliki nilai, tapi juga pertanda bagi hal-hal lain: destar bersula digantung menjadi pertanda keelokan; tandu sepuhan simbol kekuasaan; tumpukan karya Ibnu Rusyd berarti pembelajaran; gelang kaki menunjukkan kegairahan. Amatilah sepintas jalan-jalan yang kau lalui, mereka seolah-olah halaman-halaman penuh tulisan: kota itu mengatakan segala yang seharusnya kau pikirkan, membuatmu mengulang wacana yang ia cetuskan, dan di saat kau percaya bahwa kau mengunjungi Tamara, kau hanya merekam nama-nama yang ia gunakan untuk mendefinisikan dirinya dan semua bagian-bagiannya.

Meski kota itu mungkin benar nyata, di bawah tumpukan penuh tanda ini, apa pun yang mungkin dikandung atau disembunyikannya, kau pergi dari Tamara tanpa pernah menemukannya. Di luar, tanah membentang, lengang, hingga cakrawala; langit membentang, dengan awan-awan yang berkejaran. Dalam bentuk yang diberikan oleh kesempatan dan angin kepada awan, kau mendapati dirimu terpukau oleh bentuk-bentuk yang kamu kenal: perahu layar, tangan, gajah....

 

 


Editorial Team GBJ

EDITORIAL TEAM GBJ

Id mollitia eligendi totam et. Ut et non qui voluptatem eum. Labore cumque in praesentium aut.