Kenangan Jakarta
JUL. 07, 2026
Photo-Illustration: Vulture; Photos: Publisher
I
aku kira ini jam sepuluh malam kemarin
atau sepuluh malam yang lusa; rupanya
nyaris pukul dua atau jarumnya mendetak
ke tiga tetapi bukan waktu atau telah
jadi bayangan subuh; dan siapa itu memanggil
Tuhan; oh kukira langit merona merah
dari atap sajak yang terbakar—dan
kita tak kunjug lelap.
Aku membaca sajak—kau tahu,
rupanya afrizal dalam sajak Rendra terlelap
di atap titik komanya tetapi bagaimana
pelabuhan di utara itu terbakar? Pasar atau
pasar di senen selalu saja subuh dan kereta laju
membawa semua ke masa lalu;
sebelum nasi kapau jadi magrib
dan bom meledak di Kampung Melayu—di Barat;
kipas angin di atas mesin jahit berhenti menderu.
Tunggu sebentar, apakah ini malam yang kapan
dan sebuah kuburan di Imogiri bernisan batavia
sebelum Petanahan menyumbang ombak Wilhelmina
dan Cilacap membakar tumpukan upeti;
demi memberi rumput kuda Diponegoro—
tak ada dalam kisah harimau-harimau Lubis,
tak ada juga dalam catatan kecil Rosihan.
II
yang menatap dari kesepian hotel dekat
Jembatan Lima; politik dalam gelak
di ujung Cikini, dentum-dentum ledak-meledak
sepanjang Gajah Mada, luput menelan erang jeritan
gadis sayu belum genap tujuh belas atau delapan belas;
betapa fana lalu seperti sediakala—kau anggaplah
benang kusut di rumah-rumah konveksi
di dekat gang di sepanjang Tambora—tak satu penyair
singgah di sudut-sudut wartegnya, tidak juga di klentengnya.
III
Lalu selamat malam Cililitan dari kuburan dekat
Sewon, tukang pandai besi berhenti mengganyang
api sebab istrinya kepingin makan sayur gori pagi ini;
atau pagi kemarin atau yang lusa aku pun lupa—tapi siapakah
jakarta pagi ini atau pagi kemarin atau yang lalu,
atau kenapa bau wangi dari pipimu masih saja di sini;
di meja kafeku petang tadi di Cikini. Oh rupanya masa lalu;
yang mencari masa kini di sepanjang larut lampu-lampu—
seluruh jakarta waktu Indonesia dalam demokrasi. |
Sabiq Carebesth
06/feb/2021
aku kira ini jam sepuluh malam kemarin
atau sepuluh malam yang lusa; rupanya
nyaris pukul dua atau jarumnya mendetak
ke tiga tetapi bukan waktu atau telah
jadi bayangan subuh; dan siapa itu memanggil
Tuhan; oh kukira langit merona merah
dari atap sajak yang terbakar—dan
kita tak kunjug lelap.
Aku membaca sajak—kau tahu,
rupanya afrizal dalam sajak Rendra terlelap
di atap titik komanya tetapi bagaimana
pelabuhan di utara itu terbakar? Pasar atau
pasar di senen selalu saja subuh dan kereta laju
membawa semua ke masa lalu;
sebelum nasi kapau jadi magrib
dan bom meledak di Kampung Melayu—di Barat;
kipas angin di atas mesin jahit berhenti menderu.
Tunggu sebentar, apakah ini malam yang kapan
dan sebuah kuburan di Imogiri bernisan batavia
sebelum Petanahan menyumbang ombak Wilhelmina
dan Cilacap membakar tumpukan upeti;
demi memberi rumput kuda Diponegoro—
tak ada dalam kisah harimau-harimau Lubis,
tak ada juga dalam catatan kecil Rosihan.
II
yang menatap dari kesepian hotel dekat
Jembatan Lima; politik dalam gelak
di ujung Cikini, dentum-dentum ledak-meledak
sepanjang Gajah Mada, luput menelan erang jeritan
gadis sayu belum genap tujuh belas atau delapan belas;
betapa fana lalu seperti sediakala—kau anggaplah
benang kusut di rumah-rumah konveksi
di dekat gang di sepanjang Tambora—tak satu penyair
singgah di sudut-sudut wartegnya, tidak juga di klentengnya.
III
Lalu selamat malam Cililitan dari kuburan dekat
Sewon, tukang pandai besi berhenti mengganyang
api sebab istrinya kepingin makan sayur gori pagi ini;
atau pagi kemarin atau yang lusa aku pun lupa—tapi siapakah
jakarta pagi ini atau pagi kemarin atau yang lalu,
atau kenapa bau wangi dari pipimu masih saja di sini;
di meja kafeku petang tadi di Cikini. Oh rupanya masa lalu;
yang mencari masa kini di sepanjang larut lampu-lampu—
seluruh jakarta waktu Indonesia dalam demokrasi. |
Sabiq Carebesth
06/feb/2021