AUG. 07, 2026

Haruki Murakami tentang Bagaimana Memori Dapat Memantik Sebuah Cerita

Saya cenderung tertarik pada hal-hal yang hilang. Kau menemukan sesuatu hilang, secara tiba-tiba, ketika kau tidak menduganya-seperti, kau berjalan melintasi ladang dan jatuh ke dalam sebuah sumur kering. Saya tidak tahu mengapa, tapi saya tertarik pada situasi semacam itu.

Foto Penulis

By Galeri Buku Jakarta

Karyamu dalam terbitan minggu ini, “With the Beatles.” berkisah tentang seorang pria yang mengenang dua gadis dari masa sekolahnya, satu gadis yang hanya ia temui satu kali dalam sekilas pandang, dan gadis lainnya adalah benar-benar kekasih pertamanya. Ia mengenang yang pertama sebagai sebuah jalan membangkitkan gairah-cara gadis itu memeluk sebuah rekaman Beatles LP di dadanya “seolah rekaman itu adalah benda yang sangat berharga.” Ia mengenang yang lainnya sebagai gadis yang “manis,” namun, meski mereka berkencan selama beberapa tahun, gadis itu tidak pernah menjadi pilihannya. Mengapa kau pikir gadis pertama, yang hanya dilihatnya satu kali, sangat membekas, dan tidak untuk gadis yang ia kenal bertahun-tahun? [1]

Bagi naratornya, gadis pertama itu, yang hanya ia temui satu kali di lorong sekolah, merupakan sejenis simbol. Dalam hal ini, simbol akan kerinduan atas sesuatu. Dia sangat mirip dengan simbol yang muncul pada permulaan cerita “My Lost City” karya F. Scott Fitzgerald yang dinamainya “the girl.”

Sejujurnya, saya memiliki memori yang hampir serupa.[2] Saat saya di sekolah menengah atas, saya berpapasan dengan seorang gadis di lorong sekolah, gadis yang namanya tidak saya ketahui, gadis itu memegang erat sebuah rekaman “With the Beatles” seolah itu merupakan benda berharga. Pemandangan itu tertoreh di kepala saya dan bagi saya, mejadi simbol masa remaja. Terkadang, kepingan memori seperti itu bisa menjadi pemantik yang akan mewujudkan sebuah cerita.

Akan tetapi, realitas yang kita hadapi berbeda dengan simbol. Dan terkadang tidak ada yang bisa menjembatani antara keduanya-antara simbol dan realitas. Cerita ini tentu saja sebuah fiksi, tapi saya kira hampir semua orang pernah mengalami hal yang serupa.

Yang menjadi pusat dalam ceritanya adalah jam-jam yang dihabiskan sang narator dengan kakak laki-laki dari kekasihnya. Kakak laki-laki dari gadis itu menceritakan pada sang narator bahwa ia mengidap penyakit yang menyebabkan kehilangan memori total. Bagaimana bisa ide tentang waktu yang hilang-tentang bagian kehidupan sang kakak laki-laki yang lenyap, seolah dia melompat dari bagian tengah simfoni Mozart movement ke-2 ke bagian tengah movement ke-3 -menghubungkan keseluruhan ceritanya?

Sang narator tidak benar-benar tahu apakah yang diceritakan kakak dari kekasihnya itu hal yang nyata, atau bagaimana dia harus menanggapinya secara serius. Namun, anehnya, dia seperti tersedot ke arah sang kakak, dan hal yang sama terjadi pada penulisnya. Dalam fiksi, kau membutuhkan pihak ketiga yang secara aneh menarikmu ke arahnya. Sang kakak merupakan karakter pendukung, tapi saya juga mendapat kesan seolah dia lah sang tokoh utama yang memainkan plotnya. (Tentu saja ini sepenuhnya kesan yang saya alami sendiri.)

Ketika bersama dengan tokoh kakak dari kekasihnya, sang narator membacakan keras-keras satu bagian dari cerita “Spinning Gears,” karya Akutagawa, sebuah cerita yang ditulis sesaat sebelum Akutagawa melakukan bunuh diri. Di akhir cerita (awas spoiler!), kekasihnya lah, bukan sang kakak, yang melakukan bunuh diri. Apakah kau sudah memikirkan akhir gadis itu saat kau mulai menullis ceritanya?

Ceritanya tak pernah menjelaskan mengapa Sayako bunuh diri. Saya kira tak ada yang akan benar-benar tahu apa yang menjadi alasannya. Bahkan saya, penulisnya, tidak tahu. Biasanya, kegelapan yang orang-orang miliki dalam dirinya tidak tampak. Kegelapan itu memuncak di saat yang tidak kau duga, dalam bentuk dan di tempat yang tidak bisa kau antisipasi, dan dalam banyak kasus, saat hal itu menjadi tampak nyata, sudah terlambat untuk memperbaikinya.

Kakak laki-laki Sayoko (mungkin) berhasil melalui krisis semacam itu dalam hidupnya, tetapi Sayoko tidak. Atau mungkin saja, semakin sang kakak membaik, semakin memburuk keadaan Sayoko. Bertahun-tahun kemudian, sang narator hanya mengetahui hasil akhir dari kejadian-kejadian ini. Dapatkah seseorang menyelamatkan Sayoko? Tidak ada yang bisa menjawab. Yang bisa kita lakukan hanyalah menyelamatkan orang-orang di sini dan di masa ini.

Sang narator mengaku bahwa ia tak pernah benar-benar tertarik pada the Beatles. Karya musik mereka hanya serupa wallpaper yang mengiringi masa mudanya, dan ia tak benar-benar berusaha untuk menikmatinya. Apakah kau memilki perasaan yang sama dengan sang narator?

Saya sangatlah tinggi hati ketika remaja, dan saya sangat menggilai jazz dan musik klasik. Benar adanya bahwa karya the Beatles bisa dikatakan musik penghias. Saya seringkali mendengar lagu-lagu mereka di radio tapi selalu seperti setengah mendengarkan. Dan saya tak membeli rekaman mereka. Tidak sampai saya tinggal di sebuah pulau di Yunani di tahun 1980’an, saat saya pergi menuju pantai dan mendengarkan White Album dari awal hingga akhir dari Walkman saya. Saya mendengarnya berulang-ulang dan terpana akan musiknya untuk pertama kali.

Dalam karya terakhirmu yang diterbitkan di majalah ini, “Cream,” seorang gadis mengundang anak laki-laki ke sebuah resital piano. Ketika ia tiba, tidak ada tanda-tanda dilaksanakannya sebuah resital dan tidak ada penampakan dari gadis tersebut. Dalam “With the Beatles,” kekasih sang narator mengundangnya untuk datang ke rumah, dan, ketika sang narator tiba, gadis itu lenyap. Apa yang membuat skenario semacam ini menarik bagimu sebagai seorang penulis?

Saya cenderung tertarik pada hal-hal yang hilang. Kau menemukan sesuatu hilang, secara tiba-tiba, ketika kau tidak menduganya-seperti, kau berjalan melintasi ladang dan jatuh ke dalam sebuah sumur kering. Saya tidak tahu mengapa, tapi saya tertarik pada situasi semacam itu. Sesuatu yang seharusnya ada di sana, tak ada, seseorang yang seharusnya berada di sana, tak ada. Dan saat itulah ceritanya dimulai. (*)

 


[1] Jawaban Haruki Murakami diterjemahkan dari bahas Jepang oleh Philip Gabriel.

[2] From HARUKI MURAKAMI ON HOW MEMORY CAN TRIGGER A STORY | By Deborah Treisman | (p) Marlina Sopiana (ed) Sabiq carebesth 


Galeri Buku Jakarta

GALERI BUKU JAKARTA

Bersama para penulis dan kontributor Galeri Buku Jakarta yang dicintai pembacanya. Galeri Buku Jakarta selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu.