Jakarta+
Vel ipsam temporibus nisi eos unde rerum vitae
19 July 2025
Saya cenderung tertarik pada hal-hal yang hilang. Kau menemukan sesuatu hilang, secara tiba-tiba, ketika kau tidak menduganya-seperti, kau berjalan melintasi ladang dan jatuh ke dalam sebuah sumur kering. Saya tidak tahu mengapa, tapi saya tertarik pada situasi semacam itu.
Karyamu
dalam terbitan minggu ini, “With the Beatles.” berkisah tentang seorang pria
yang mengenang dua gadis dari masa sekolahnya, satu gadis yang hanya ia temui
satu kali dalam sekilas pandang, dan gadis lainnya adalah benar-benar kekasih
pertamanya. Ia mengenang yang pertama sebagai sebuah jalan membangkitkan
gairah-cara gadis itu memeluk sebuah rekaman Beatles LP di dadanya “seolah
rekaman itu adalah benda yang sangat berharga.” Ia mengenang yang lainnya
sebagai gadis yang “manis,” namun, meski mereka berkencan selama beberapa tahun,
gadis itu tidak pernah menjadi pilihannya. Mengapa kau pikir gadis pertama,
yang hanya dilihatnya satu kali, sangat membekas, dan tidak untuk gadis yang ia
kenal bertahun-tahun? [1]
Bagi
naratornya, gadis pertama itu, yang hanya ia temui satu kali di lorong sekolah,
merupakan sejenis simbol. Dalam hal ini, simbol akan kerinduan atas sesuatu.
Dia sangat mirip dengan simbol yang muncul pada permulaan cerita “My Lost City”
karya F. Scott Fitzgerald yang dinamainya “the girl.”
Sejujurnya,
saya memiliki memori yang hampir serupa.[2]
Saat saya di sekolah menengah atas, saya berpapasan dengan seorang gadis di
lorong sekolah, gadis yang namanya tidak saya ketahui, gadis itu memegang erat
sebuah rekaman “With the Beatles” seolah itu merupakan benda berharga.
Pemandangan itu tertoreh di kepala saya dan bagi saya, mejadi simbol masa
remaja. Terkadang, kepingan memori seperti itu bisa menjadi pemantik yang akan
mewujudkan sebuah cerita.
Akan tetapi,
realitas yang kita hadapi berbeda dengan simbol. Dan terkadang tidak ada yang bisa
menjembatani antara keduanya-antara simbol dan realitas. Cerita ini tentu saja
sebuah fiksi, tapi saya kira hampir semua orang pernah mengalami hal yang
serupa.
Yang menjadi
pusat dalam ceritanya adalah jam-jam yang dihabiskan sang narator dengan kakak
laki-laki dari kekasihnya. Kakak laki-laki dari gadis itu menceritakan pada
sang narator bahwa ia mengidap penyakit yang menyebabkan kehilangan memori
total. Bagaimana bisa ide tentang waktu yang hilang-tentang bagian kehidupan
sang kakak laki-laki yang lenyap, seolah dia melompat dari bagian tengah
simfoni Mozart movement ke-2 ke bagian tengah movement ke-3 -menghubungkan
keseluruhan ceritanya?
Sang narator
tidak benar-benar tahu apakah yang diceritakan kakak dari kekasihnya itu hal
yang nyata, atau bagaimana dia harus menanggapinya secara serius. Namun,
anehnya, dia seperti tersedot ke arah sang kakak, dan hal yang sama terjadi
pada penulisnya. Dalam fiksi, kau membutuhkan pihak ketiga yang secara aneh
menarikmu ke arahnya. Sang kakak merupakan karakter pendukung, tapi saya juga
mendapat kesan seolah dia lah sang tokoh utama yang memainkan plotnya. (Tentu
saja ini sepenuhnya kesan yang saya alami sendiri.)
Ketika
bersama dengan tokoh kakak dari kekasihnya, sang narator membacakan keras-keras
satu bagian dari cerita “Spinning Gears,” karya Akutagawa, sebuah cerita yang
ditulis sesaat sebelum Akutagawa melakukan bunuh diri. Di akhir cerita (awas
spoiler!), kekasihnya lah, bukan sang kakak, yang melakukan bunuh diri. Apakah
kau sudah memikirkan akhir gadis itu saat kau mulai menullis ceritanya?
Ceritanya
tak pernah menjelaskan mengapa Sayako bunuh diri. Saya kira tak ada yang akan
benar-benar tahu apa yang menjadi alasannya. Bahkan saya, penulisnya, tidak
tahu. Biasanya, kegelapan yang orang-orang miliki dalam dirinya tidak tampak.
Kegelapan itu memuncak di saat yang tidak kau duga, dalam bentuk dan di tempat
yang tidak bisa kau antisipasi, dan dalam banyak kasus, saat hal itu menjadi
tampak nyata, sudah terlambat untuk memperbaikinya.
Kakak
laki-laki Sayoko (mungkin) berhasil melalui krisis semacam itu dalam hidupnya,
tetapi Sayoko tidak. Atau mungkin saja, semakin sang kakak membaik, semakin
memburuk keadaan Sayoko. Bertahun-tahun kemudian, sang narator hanya mengetahui
hasil akhir dari kejadian-kejadian ini. Dapatkah seseorang menyelamatkan
Sayoko? Tidak ada yang bisa menjawab. Yang bisa kita lakukan hanyalah
menyelamatkan orang-orang di sini dan di masa ini.
Sang narator
mengaku bahwa ia tak pernah benar-benar tertarik pada the Beatles. Karya musik
mereka hanya serupa wallpaper yang mengiringi masa mudanya, dan ia tak
benar-benar berusaha untuk menikmatinya. Apakah kau memilki perasaan yang sama
dengan sang narator?
Saya
sangatlah tinggi hati ketika remaja, dan saya sangat menggilai jazz dan musik
klasik. Benar adanya bahwa karya the Beatles bisa dikatakan musik penghias.
Saya seringkali mendengar lagu-lagu mereka di radio tapi selalu seperti
setengah mendengarkan. Dan saya tak membeli rekaman mereka. Tidak sampai saya
tinggal di sebuah pulau di Yunani di tahun 1980’an, saat saya pergi menuju
pantai dan mendengarkan White Album dari awal hingga akhir dari Walkman
saya. Saya mendengarnya berulang-ulang dan terpana akan musiknya untuk pertama
kali.
Dalam karya
terakhirmu yang diterbitkan di majalah ini, “Cream,” seorang gadis mengundang
anak laki-laki ke sebuah resital piano. Ketika ia tiba, tidak ada tanda-tanda
dilaksanakannya sebuah resital dan tidak ada penampakan dari gadis tersebut.
Dalam “With the Beatles,” kekasih sang narator mengundangnya untuk datang ke
rumah, dan, ketika sang narator tiba, gadis itu lenyap. Apa yang membuat
skenario semacam ini menarik bagimu sebagai seorang penulis?
Saya
cenderung tertarik pada hal-hal yang hilang. Kau menemukan sesuatu hilang,
secara tiba-tiba, ketika kau tidak menduganya-seperti, kau berjalan melintasi
ladang dan jatuh ke dalam sebuah sumur kering. Saya tidak tahu mengapa, tapi
saya tertarik pada situasi semacam itu. Sesuatu yang seharusnya ada di sana,
tak ada, seseorang yang seharusnya berada di sana, tak ada. Dan saat itulah
ceritanya dimulai. (*)
19 July 2025
06 October 2025
09 October 2025
27 November 2025
06 January 2026