Connect with us

Cerpen

Yury Nagibin: Teater Bolshoi

mm

Published

on

Teater Bolshoi

Dia memang sungguh-sungguh tidak punya cukup waktu, begitu banyak keberhasilan yang dia perlukan! Lantas bagaimana, jika pada hari satu-satunya itu dia datang karena aku dan karena aku juga dia pergi, setelah berkata dengan kejujuran yang berbesar hati: “Tidak berhasil…”

Oleh: Yury Nagibin | Penerjemah: Ladinata 

___

Berakhirlah pelajaran terakhir dari hari terakhir kehidupan sekolah kami. Di depan masih ada ujian-ujian panjang dan sukar, tetapi pelajaran-pelajaran tidak akan pernah kami miliki lagi. Kuliah, seminar, kolokium – seluruh kata-kata yang mengandung kedewasaan tersebut – akan datang kepada kami, auditorium perguruan tinggi dan laboratorium pun akan datang, tetapi baik kelas maupun bangku-bangku sekolah tidak akan pernah datang lagi. Sepuluh tahun masa sekolah dirampungkan dengan bunyi lonceng keparau-parauan yang dikenal, yang muncul di bawah, di dalam ruangan para guru, yang lebih dulu dialiri oleh bunyi tersebut dan bunyi itu naik dengan sedikit terlambat ke arah kami di tingkat enam, yang di dalamnya tersebar kelas-kelas sepuluh. Kami semua, yang tengah tersentuh, terharu, bahagia dan menyesalkan sesuatu, yang merasa bimbang dan tersipu dengan perubahan sekejap mata sendiri dari anak sekolah menjadi orang dewasa, manusia, yang menikah saja pun bahkan boleh, berkeliaran di sepanjang kelas dan koridor, seperti ketakutan keluar dari tembok sekolah menuju dunia, yang menjadi tanpa batas. Dan ada perasaan yang demikian, seakan-akan ada sesuatu yang tidak terkatakan, tidak sampai, tidak terselesaikan selama sepuluh tahun yang telah lalu itu, dan seolah saja hari ini telah menemukan kami dengan tanpa diduga.

Di jendela-jendela yang terbuka lebar warna biru langit yang pekat tampak melimpah, burung-burung merpati mendekut lantaran ingin kawin dengan suara yang kasar di bendul jendela, terasa ada bau yang kuat dari pohon-pohon yang sedang berkembang dan aspal yang meleleh.

Zhenya Rumyantseva masuk ke kelas kami.

“Seryozha[2], bolehkah barang sebentar?” Aku keluar ke koridor. Pada hari yang tidak biasa ini, Zhenya menunjukkan kepadaku mengenai dirinya yang sama sekali tidak biasa. Dia berpakaian, seperti keselaluannya, tanpa cita rasa: pakaian pendek, yang memang sudah kekecilan untuknya di tahun yang lalu dan lebih tinggi dari lututnya, koftochka[3] dari wol, yang tidak bertemu rapat di bagian dada, dan di balik koftochka, dengan warna jadi agak kebiru-biruan karena seringnya dicuci, terlekat bluzka[4]putih, serta sepatu anak-anak yang tidak lancip tanpa hak. Kelihatannya, Zhenya mengenakan pakaian adik perempuannya. Rambut Zhenya yang menggunduk  dan berdebu secara serampangan disatukan dengan jepitan rambut, harspel,[5]dan grebenka,[6]yang menyekitari wajah kecilnya dan tetap saja rambutnya itu menutupi bagian dahi serta lehernya, sedang satu untaian rambutnya selalu jatuh ke hidungnya yang agak pesek dan dia dengan rasa jengkel menepis-nepisnya. Sesuatu yang baru yang ada padanya adalah warna merah yang tipis merata, yang meronai wajahnya, dan sinar mata kelabunya yang besar, tampak dekat dan hidup, kadang serius-penuh kesibukan, kadang lengah-seperti tak melihat.

“Seryozha, saya ingin mengatakan kepadamu: marilah kita bertemu selang sepuluh tahun lagi.”

Percandaan sama sekali bukanlah ciri yang mendasar bagi Zhenya dan secara serius aku bertanya:

“Untuk apa?”

“Saya tertarik, akan jadi apa kamu nanti,” Zhenya mengibaskan untaian rambutnya yang menjengkelkan. “Pada tahun-tahun sekolah ini, kamu begitu membuat saya tertarik.”

Aku berpikiran, bahwa Zhenya Rumyantseva tidak mengenal baik kata-kata itu, maupun perasaan seperti itu. Seluruh hidupnya mengalir di dalam dua lingkungan: pada pekerjaan gugus generasi muda yang intens – dia merupakan pemimpin regu kami – dan pada cita-citanya tentang dunia bintang. Aku tidak pernah mendengar, pada waktu luang dari kesibukan kerjanya Zhenya mengatakan mengenai sesuatu yang lain, kecuali mengenai bintang-bintang, planet, orbit, suar matahari, dan penerbangan ke luar angkasa. Tidak banyak dari kami yang secara tegas dapat menentukan jalan kehidupan sendiri yang selanjutnya, tetapi Zhenya sejak kelas enam telah mengetahui, bahwa dia akan menjadi astronom dan bukan yang lain. Di antara kami tidak pernah ada kedekatan pertemanan, kami belajar di kelas berparalel dan kami bertemu hanya karena pekerjaan di gugus generasi muda. Beberapa tahun lalu akibat sebuah kesalahan aku agak hampir dikeluarkan dari gugus kepanduan. Para kawanku berdiri dengan teguh di belakangku dan aku akhirnya tetap menjadi bagian dari kepanduan. Hanya Zhenya seorang, anak baru di sekolah kami, yang sampai akhir menuntut pengecualian itu. Dan hal yang demikian memberi bekas di dalam relasiku terhadapnya. Tetapi kemudian aku mengerti, bahwa karakter tanpa iba Zhenya terjadi karena usaha untuk mempertinggi ketelitian bagi diri sendiri dan orang lain, sama sekali bukan karena hati yang jelek. Manusia itu sampai ke dasarnya haruslah jernih, berhati teguh, serta dapat dipercaya, dan dia ingin semua yang ada di sekelilingnya jadi seperti itu. Aku bukan seorang kesatria yang tanpa rasa takut dan tanpa cela [7] dan sekarang pengakuannya yang tanpa disangka, membuat aku bingung dan heran.

Di dalam pencarian dengan perdugaan, secara berpikir-pikir aku berlari ke masa lampau, tetapi tidak ada apa pun yang kujumpai, kecuali sebuah pertemuan di Chistye Prudy.[8]

Suatu hari, ketika liburan, kami berkemas ke telaga[9] Khimkinskoye[10] untuk bersenang-senang naik perahu. Dalam perbincangan yang sengit, Chistye Prudy akhirnya ditetapkan jadi lokasi berjumpa. Akan tetapi sedari pagi hujan rintik turun dan ke pusat temu tersebut yang datang hanya aku dengan Pavlik[11]Arshansky, Nina Barysheva dan Zhenya Rumyantseva. Nina datang karena di hari libur dia tak ingin tinggal di rumah, aku datang karena Nina, Pavlik – karena aku, sedangkan mengapa Zhenya datang, bagi kami tampaknya ketika itu tidak jelas. Zhenya tidak pernah hadir di dalam pesta perjamuan kami yang sederhana, tidak pernah pergi bersama kami ke gedung bioskop, ke Park Kultury,[12] dan ke Hermitage.[13] Tidak ada seorang pun yang dapat menduga-duga sikap diam Zhenya, hanya dia memang tidak punya cukup waktu: dia mengerjakan suatu aktivitas pada kelompok astronomi di bawah Universitas NegeriMoskow[14] dan masih melakukan sesuatu di planetarium. Kami menghormati arah dari tujuan tertentu Zhenya tersebut dan tidak ingin mengganggunya. Kami pun akhirnya berkumpul di sebuah tempat besar yang tembus air, di bawah payung raksasa yang terbuat dari kayu di tengah jalan besar. Hujan kadang besar dan berisik, mendera tanah, kadang jadi mengecil ke hampir rintik-benang yang tidak terlihat dan tidak terdengar, tetapi tidak berhenti barang sebentar juga. Awan kelabu yang tak putus-putus tanpa celah cahaya menuju ke atap-atap rumah. Tidak ada pikiran lagi mengenai Khimki.[15] Akan tetapi Zhenya  dengan keras hati membujuk kami untuk pergi. Inilah untuk pertama kalinya dia membiarkan dirinya melakukan penyimpangan kecil terhadap aturan biasanya yang keras dan bagaimana pun itu perlu, bisa-bisa kami dapat sangat beruntung!. Pada kancing jaket beludrunya bergantung bungkusan roti dan lauk-pauknya. Tampak, bahwa sesuatu yang ada di dalam bungkusan itu sangat menyentuh hati. Bagi benak Zhenya, agaknya, tidak pernah sampai, bahwa dapat saja makan pagi di zakusochnaya,[16] di kafe atau bahkan di restoran, seperti yang kami lakukan pada saat perjalanan. Lantaran rasa iba terhadap bungkusannya itu aku pun menawarkan:

“Mari kita bersenang-senang di kolam.” Aku menunjuk ke arah perahu[17]yang tua dan meretak, yang memiliki haluan menjulang dari bekas kayu penyangga gerbong pengangkut barang.[18] “Dan kita akan berimajinasi, bahwa kita sedang ada di Khimki.”

“Atau di laut Mediterranea,”[19] sela Pavlik.

“Atau di samudera Hindia!”[20] sambung Zhenya dengan penuh semangat. “Atau di pantai Greenland!”[21] katanya lagi.

“Kita tidak akan tenggelam?” tanya Nina. “Dan ini patut disesali: aku sebenarnya diajak ke pertunjukan pertama[22] di Moscow Arts Theatre,”[23] kata Nina lagi.

Dayung tidak ada. Kami pun mengambil dua buah papan di pinggiran, mengeluarkan air dari perahu dan kami memulai perjalanan berlayar keliling dunia. Sedikit kemungkinannya, bahwa seseorang dari kami, kecuali Zhenya, yang merasakan kesenangan akan hal itu. Ketika aku dan Pavlik dengan tanpa semangat mengayuhkan kayu di atas air, Zhenya mereka-reka jalur perjalanan. Begitulah kami melewati selat Bosporus,[24] melalui terusan Suez[25] kami masuk ke laut Merah,[26] dari sana ke laut Arab,[27] kemudian bertolak ke kepulauan Sunda Besar,[28] ke Philipina dan masuk ke lautan Pasifik.[29] Karakter kekanak-kanakkan Zhenya yang kasip tampak manis dan mengharukan, tetapi di dalam dirinya ada sesuatu yang ketika itu menyusahkan hatinya:

“Lihatlah!” kata Zhenya sambil menunjuk ke suatu arah, yang memperlihatkan, bahwa di balik ranting-ranting pohon yang berkilau lantaran hujan, pilar-pilar gedung bioskop Kolizei[30] yang basah tampak menghitam penuh kemuraman. “Itu pohon kelapa, pohon sulur-suluran,[31] dan gajah-gajah: kita terbawa ke pantai India!”

Kami jadi saling berpandangan. Hal itu biasa terjadi pada usia tujuh belas tahun, kita mempertahankan kehidupan pribadi sendiri, yang rapuh, yang mudah dilukai oleh lempeng baja ejekan yang disengaja, sinisme yang halus, dan kita tidak mengerti, bagaimana kita dapat begitu naif memperlihatkan diri sendiri.

“Kita mendekati kepulauan Solomon[32] yang mengerikan!” Zhenya mengumumkan dengan suara yang mendatangkan ketidakberuntungan.

“Benar!” Pavlik, orang yang paling baik di antara kami, mengulangi. “Dan itu orang-orang setempat-pemakan manusia,” tunjuknya ke arah sekelompok anak-anak Chistye Prudy, yang berhenti di sekitar pagar keliling telaga untuk merokok. Pelayaran kami yang menjenuhkan, yang menembus hujan, pun berlanjut. Zhenya dengan tanpa lelah memberikan perintah: “Kemudi ke kanan!”, “kemudi ke kiri!”, “naikkan layar!”, “turunkan layar!”, dan dia menemukan jalan berdasarkan letak bintang. Kompas kami rusak saat badai. Dan itu memberinya kesempatan untuk menjamu kami dengan kuliah astronomi, yang aku hanya ingat, bahwa di ekuator langit berbintang seolah-olah terbalik. Kemudian kami harus menanggung malapetaka, Zhenya memberi kami kue keringnya yang terakhir: roti dan lauk-pauknya yang jadi basah. Dengan murung kami mengunyahnya dan Zhenya berkata, bahwa dia sangat tertarik dengan kehidupan Robinson Crusoe.[33] Aku lelah, basah karena air, dan tangan yang memegang bilah papan-pendayung pun aku angkat. Itu membuatku jadi orang yang tak kenal rasa iba dan aku berkata, aku tidak tahu, jika ada buku yang lebih picik dibandingkan Robinson Crusoe.

“Seluruh isi buku penuh oleh kesibukan sempit terhadap makanan, pakaian dan perkakas. Itu tabel harga makanan dan barang rongsokan yang tidak ada habis-habisnya! Itu himne bagi kehidupan rumah tangga yang khusuk!”

“Dan saya tidak tahu apa pun yang lebih menggelorakan dibandingkan hal itu, hal yang kau bilang sebagai tabel harga!” kata Zhenya dengan butiran air di matanya. “Betapa banyak kebebasan di buku itu, sajak-sajak dan mimpi…..”

Perdebatan kami dihentikan oleh Nina Barysheva. Dia tiba-tiba berkata:

“Hore! Di depan ada pantai!”

“Mana? Di mana?” kata Zhenya dengan terkejut.

“Itu, di dekat gerbong pengangkut barang,” kata Nina dengan suara yang sama dan sangat menjemukan. “Sudah, kita telah sampai! Kawan-kawan,[34] aku bisa mati kedinginan, tanpa segelas konyak[35] aku tidak akan mampu mengatasi.”

“Mari kita ke Pokrovka,[36] ke kafe musim panas,”[37] aku mengajak.

Zhenya memandang kami dengan tertegun, pipinya jadi berwarna merah jambu. “Ada apa?” katanya dengan begitu gagah. “Kalau pergi minum[38] ya pergi!”

Kami memasukkan perahu di bawah kayu penyangga gerbong pengangkut barang, kemudian keluar ke arah pantai dan seketika itu juga kami langsung berhadapan dengan Lyalik,[39] kenalan lamaku yang bukan teman. Selama tahun-tahun belakangan ini manusia muda yang berandalan tersebut ada di penjara. Dia sangat kuat, pundaknya lebar, memandang dengan mengernyit dan mengesankan dirinya sebagai penjahat kawakan. Setelah bersejajar dengan kami, Lyalik membenturkan pundaknya yang satu kepadaku, yang lainnya kepada Pavlik dan memaki-maki dengan kasar. Sekarang, di dalam lingkaran cahaya kejayaan perbuatan kriminalnya, dia tahu, bahwa dia tidak memiliki resiko apa pun. Rasa takut kami bukan dimunculkan oleh dirinya, melainkan oleh reputasinya. Dia menindas kami dengan keagungan yang muram dari takdirnya. Kami merasa diri sendiri seperti manusia rewel yang hina, seperti anak bunda yang manja. Bagaimana juga kami mampu bertanding kekuatan dengan manusia yang telah kehilangan akal seperti Lyalik.

“Jangan kau berani memaki-maki, bajingan!” teriak Zhenya. Dia tidak tahu siapa Lyalik, yang dengan diam-diam berputar dan melangkah menuju kami. Akan tetapi Zhenya memotongnya di pertengahan jalan. Dia menarik ke bawah penutup kepala Lyalik yang usang dengan ujungnya  yang sudah patah ke arah hidung sang bajingan, dan dengan sekuat tenaga mendorong dada Lyalik. Sang bajingan pun melayang ke arah kawat pagar dan melewati kawat pagar dia berjungkir balik ke atas rumput, dan jelaslah seketika itu juga, bahwa Lyalik hanyalah seorang bocah, seperti halnya aku dan Pavlik. Dan seluruh tampangnya yang menyeramkan sama sekali tak ada harganya lagi.

“Mengapa kamu mendorongku?” gumam Lyalik dengan lirih, seraya berusaha menarik penutup kepala, yang ada tepat di kedua matanya. Kemudian kami duduk di kafe musim panas di bawah tenda payung dengan motif lajur-lajur yang basah, meminum kopi hitam dengan konyak dan makan gelato.[40] Zhenya, seraya mengernyit, meminum segelas kecil konyak dan tidak tahu bagaimana kejadiannya, jepitan rambut dan harspel-nya secara bersamaan jatuh dari rambutnya yang menggunduk dan lebat, wajahnya jadi memerah dan dia mulai menamai dirinya sebagai peminum berat dan seorang yang kehilangan jiwa. Kami jadi sedikit malu karena dia, kami khawatir, bahwa pekerja kafe tidak akan memberikan konyak lagi kepada kami, lantaran Zhenya masih belum menyerupai seorang gadis yang umurnya lebih tua dari yang seharusnya, seperti halnya di kafe tersebut, dengan rambut kusut dan pakaiannya yang di sepanjang waktu melampaui kedua lututnya. Dan Zhenya berkata, bahwa dia ingin mati di dalam penerbangan luar angkasanya yang pertama, karena tidak boleh sama sekali menguasai ruang angkasa tanpa pengorbanan dan kematian itu lebih baik baginya, lebih patut dihormati, dibandingkan hal yang lain. Kami mengetahui, bahwa dia berkata penuh keikhlasan dan dengan tidak bersyak wasangka terhadap keunggulan jiwa sendiri, hal yang demikian membuat kami jadi merasa rendah. Kami tidaklah seperti itu, bahkan meskipun di bawah pengaruh konyak dan kami memerlukan, meski entah bagaimana,  kesempatan untuk bertahan.

Selebihnya Zhenya tidak lagi bersama kami. Bukan hanya sekali kami mengundangnya untuk hadir ke pertemuan kami, tetapi dia  menampiknya lantaran tidak ada waktu, bisa jadi, dia memang sungguh-sungguh tidak punya cukup waktu, begitu banyak keberhasilan yang dia perlukan! Lantas bagaimana, jika pada hari satu-satunya itu dia datang karena aku dan karena aku juga dia pergi, setelah berkata dengan kejujuran yang berbesar hati: “Tidak berhasil…”

“Mengapa dulu kamu diam saja, Zhenya?” tanyaku.

“Untuk apa mengatakannya kepadamu? Nina Barysheva begitu tertarik kepadamu!”

Dengan perasaan kehilangan yang kecewa dan sedih, aku berkata:

“Di manakah dan kapan kita akan berjumpa?”

“Selang sepuluh tahun, tanggal dua puluh lima Mei, pada jam delapan malam, di bentangan tengah[41] di antara pilar-pilar teater Bolshoi.”

“Dan jika di sana jumlah pilarnya gasal?”

“Di sana ada delapan pilar, Seryozha…Pada waktu itu saya akan menjadi astronom ternama,” tambahnya dengan penuh keinginan, impian dan keyakinan yang teguh. “Sekiranya saya begitu berubah, kau dapat mengenaliku lewat potret-potret.”

“Baiklah, pada saat itu aku juga akan menjadi terkenal,” kataku dan aku berhenti barang sebentar: aku masih benar-benar belum membayangkan, di dalam bidang apa, aku ditakdirkan akan menjadi tersohor dan aku bahkan masih belum mengambil keputusan, ke fakultas mana aku mesti menyerahkan semua dokumen:[42] “Bagaimanapun juga, aku akan datang dengan mobil sendiri…” Itu benar-benar bodoh, tetapi aku tidak menemukan apa pun untuk dikatakan.

“Baguslah kalau begitu,” Zhenya tertawa, “kau akan mengajakku berkeliling kota…”

Tahun-tahun berlalu. Zhenya belajar di Leningrad[43], aku tidak mendengar apa-apa mengenai dirinya. Pada musim dingin tahun 1941, dengan keinginan yang besar aku berusaha mencari berita mengenai takdir kawan-kawanku, aku mengetahui, bahwa Zhenya pada hari pertama perang[44] meninggalkan institut dan masuk ke sekolah penerbang. Pada musim panas tahun 1944 aku terbaring di rumah sakit dan mendengar lewat radio keputusan tentang penganugrahan gelar pahlawan kepada mayor penerbang Rumyantseva. Ketika akukembali dari perang, aku baru mengetahui, bahwa gelar pahlawan itu diberikan kepada Zhenya karena dia telah gugur secara heroik di medan perang.

Hidup terus berjalan lebih jauh. Kadang dengan tiba-tiba aku mengenang perjanjian kami dan untuk beberapa hari sebelum batas waktu aku merasakan kegelisahan yang begitu pedih, begitu menyakitkan, seolah seluruh tahun yang telah lalu hanya aku persiapkan bagi pertemuan tersebut.

Aku tidak menjadi orang ternama, sebagaimana yang aku janjikan pada Zhenya, tetapi di dalam satu hal aku tidak menipunya: aku memiliki opel tua, yang aku beli dengan harga jatuhan di tempat pembuangan mobil rampasan. Aku mengenakan pakaian baru dan pergi ke teater Bolshoi. Sekiranya saja aku di sana bertemu Zhenya, aku akan mengatakan kepadanya, bahwa setelah semua pengelanaan akhirnya aku menemukan jalan sendiri: aku menerbitkan buku cerita, sekarang aku sedang menulis yang kedua. Itu bukanlah buku-buku, yang sebenarnya ingin aku tulis, tetapi aku percaya, bahwa aku akan menuliskan buku-buku tersebut sampai selesai.

Aku memarkir mobil di dekat taman umum, membeli bunga bakung di seorang perempuan penjual bunga dan menuju ke tengah-tengah rentangan di antara pilar-pilar teater Bolshoi. Dan jumlahnya memang benar delapan. Aku tidak lama berdiri di sana, kemudian aku berikan bunga bakung tersebut kepada seorang perempuan kurus bermata kelabu dan pulang ke rumah.

Aku ingin sekejap saja menghentikan waktu, menoleh pada diri sendiri, pada  tahun-tahun yang telah terlewati, mengenang seorang gadis yang mengenakan pakaian pendek dan koftochka yang kesempitan, mengenang perahu yang berat, tetapi bergerak dengan cekatan,  mengenang hujan kecil, yang menaburi permukaan kolam yang berwarna kekuning-kuningan dengan sulur berduri,  mengenang teriakan yang mengharukan: “Kita terbawa ke India!”, mengenang kebutaan jiwa masa muda sendiri dan jiwa masa muda tersebut dengan begitu mudah melalui sesuatu, yang bisa saja menjadi takdir. (*)

*) Ladinata, Staf Pengajar Fakultas Ilmu Budaya Unpad Bandung

___

Sumber                                    : Zelenaya Ptitsa s Krasnoy Golovoy (Burung Hijau dengan Kepala

Berwarna Merah)

Judul dalam bahasa Rusia       : Zhenya Rumyantseva

Penerbit                                   : Moskovsky Rabochy, 1966

Pengarang                               : Yury Nagibin

Biografi Pengarang                 : Yury  Markovich Nagibin (1920-1994)  merupakan  sastrawan- penulis prosa, jurnalis  dan seorang penulis skenario. Ayah asli Yury Markovich Nagibin adalah Kirill Alexandrovich Nagibin, yang   ditembak   mati   pada tahun   1920,  karena   menjadi anggota  white  guard.   Ketika  itu    Kirill  Alexandrovich meninggalkan   seorang    istri, Kseniya Alekseyevna, yang  sedang mengandung dan meminta kawannya, seorang advokat  bernama Mark Levental,  yang  namanya  kemudian dilekatkan menjadi  patronymic (nama ayah)  pada sang sastrawan,  untukmelindungi    keluarganya.Karya-karya Yury Markovich Nagibin   antara   lain:  The  Double  Mistake,   The  Man From the   Front,  The   Core   of   Life,  The   Commanding   Height,  Difficult Happiness, In Early Spring, Far and Near.

Penerjemah                              : Ladinata, Staf Pengajar Fakultas Ilmu Budaya Unpad Bandung

Sumber gambar                       : http://nnm.me/blogs/spiridonn/yuriy-markovich-nagibin-dnyu-rozhdeniya-posvyashaetsya/ / http://iknigi.net/avtor-yuriy-nagibin/80523-chistye-prudy-sbornik-yuriy-nagibin.html

Catatan kaki: 

[1] Terjemahan dalam bahasa Indonesia diberi judul Teater Bolshoi. Teater ini terletak di kota Moskow dan didirikan atas perkenan Prince Peter Urusov pada tanggal 17 Maret 1776. Awalnya hanya 13 aktor dan 9 artis, 4 penari perempuan dan 3 penari laki-laki dengan seorang koreografer dan 13 pemain musik yang melakukan unjuk seni di sini. Bolshoi dibaca Balshoi: karena tekanan ada pada huruf o kedua, sehingga huruf o pertama dilafalkan jadi a dan artinya besar

[2] Nama diminutif Sergey

[3] Sejenis mantel

[4] Bahasa Rusia untuk kata blouse

[5] Sejenis tusuk rambut, misalnya yang dipakai oleh wanita berkonde

[6] Sejenis penyatu rambut yang bentuknya seperti sisir

[7] Ungkapan khusus yang menyatakan: manusia dengan martabat moral yang tinggi

[8] Artinya kurang lebih Kolam Jernih, merupakan nama stasiun subway yang diinsinyuri oleh Nikolai Koli di Moskow. Sebelum tahun 1703 namanya Poganey Prud. Selain nama stasiun subway, nama Chistye Prudy merujuk (secara lebih dulu) ke area kolam modern, yang memiliki area 1,2 hektar dengan kedalaman rata-rata 1,2 meter

[9] Di sini maksudnya telaga buatan. Telaga buatan Khimkinskoye memiliki volume air 29 juta m3, area seluas 4 km2, lebar 0,8 km, panjang sekitar 9 km dan kedalaman sampai 17 meter. Tempat ini merupakan tempat tamasya

[10] Bentuk kata sifat untuk kata benda Khimki

[11] Nama kesayangan dari Pavel

[12] Artinya kurang lebih Taman Budaya, merupakan nama stasiun subway, yang dibangun pada tanggal 15 Mei 1935. Lokasi subway dekat dengan Gorky Park of Culture and Leisure, yang terletak di sepanjang pinggiran sungai Moskow

[13] Merupakan museum besar di Saint Petersburg, tetapi di sini mengacu ke nama restoran yang sangat terkenal di Moskow. Sekarang gedungnya menjadi the Moscow School of Modern Drama Theatre

[14] Universitas ini dinamakan dengan nama seorang sastrawan dan akademikus Rusia abad 18: Mikhail Lomonosov, yang merupakan pendirinya di tahun 1755. Dulunya universitas ini terletak di tengah kota Moskow di jalan Mohovaya. Sampai sekarang beberapa departemen masih ada di sana. Bangunan induk kira-kira ada 60 gedung dan tower sentral, yang seperti wedding cake berlokasi di Sparrow Hills. Jumlah tampungan mahasiswa kira-kira 50.000 orang

[15] Nama kota yang berasal dari nama sungai Khimka, sejak tahun 1939 masuk menjadi bagian dari kota Moskow

[16] Snack bar, semacam tempat untuk makan makanan kecil

[17] Maksudnya ploskodonka, perahu yang dasarnya datar

[18] Maksudnya teplushka, gerbong pengangkut barang

[19] Nama lainnya Laut (-an) Tengah, merupakan laut yang berhubungan dengan Lautan Atlantik dan dikelililingi oleh Mediterranean region. Di bagian utara Lautan ini dibatasi oleh Anatolia dan Eropa, di selatan oleh Afrika Utara dan di timur oleh Levant

[20] Samudera terbesar ketiga terbesar di dunia, yang menutupi kira-kira 20% permukaan bumi. Samudera Hindia dibatasi di utara oleh anak benua India, di barat oleh Afrika Timur, di timur oleh Indochina, Kepulauan Sunda dan Australia, dan di selatan oleh Samudera Selatan (atau tergantung pada penamaan, oleh Antartika)

[21] Merupakan pulau terbesar di dunia dan memiliki lapisan es terbesar kedua di dunia. Terletak di antara Artika dan Atlantik Utara

[22] Maksudnya première

[23] Maksudnya Moskovsky Khudozhestvenney Akademichesky Teatr, yang didirikan pada tahun 1898 oleh Konstantin Stanilavsky dan penulis drama-sutradara Vladimir Nemirovich-Danchenko. Moscow Arts Theatre merupakan tempat bagi teater naturalistik, yang kontras dengan teater-teater Rusia yang ketika itu didominasi oleh melodrama

[24] Dikenal juga dengan nama selat Istambul, merupakan selat yang membatasi Eropa dan Asia

[25] Merupakan terusan atau jalan air laut buatan di Mesir yang menghubungkan Laut Mediterranea dan Laut Merah. Dibuka pada bulan November 1869

[26] Merupakan teluk air laut  kecil dari samudera  Hindia, yang dibatasi di timur oleh India, di utara oleh Pakistan dan Iran, di barat oleh semenanjung Arab, di selatan, kira-kira, oleh garis di antara Guardafui di Somalia Timur Laut dan Kanyakumari di India

[27] Bagian dari samudera Hindia dan dibatasi oleh semenanjung Arab di sebelah barat dan semenanjung Hindustan di bagian timur Laut

[28] Merupakan gugusan pulau di Indonesia bagian barat, yang meliputi: Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Sumatra

[29] Nama lainnya lautan Teduh, merupakan bagian lautan bumi yang terbesar. Terbentang dari Artika di utara sampai ke lautan Selatan di selatan, dibatasi oleh Asia dan Australia di barat, dan Amerika di timur

[30] Terletak di bagian bernomor ganjil di Chistoprudney Boulevard. Gedung Kolizei (Coliseum) yang bernomor 19a ini dibangun kira-kira pada tahun 1904 dan diarsiteki oleh R. I. Klein. Sekarang menjadi teater Sovremennik

[31] Maksudnya liana, sejenis tumbuhan tropis yang merambat pada pohon lain

[32] Merupakan negara berdaulat di Oceania. Ibukotanya Honiara, yang terletak di pulau Guadalcanal dan merupakan anggota Commonwealth of Nations

[33] Merupakan novel karya Daniel Defoe yang dipublikasikan pertama kali pada tahun 1719. novel ini merupakan otobiografi  fiksi dari Robinson Crusoe, yang terdampar selama 28 tahun di sebuah pulau tropis dekat Venezuela

[34] Maksudnya malchiki, para kawan laki-laki

[35] Maksudnya cognac, minuman brendi berkualitas tinggi, yang biasanya disuling dengan baik di Cognac di Perancis sebelah barat

[36] Nama jalan di Administrasi Distrik Pusat Moskow, yang didasarkan pada nama tserkov’ Pokrova Bozh’yey Materi atau dalam bahasa Inggris disebut dsengan Church of the Intercession of the Mother of God. Tahun 1940-1992 nama jalan sempat diubah menjadi Chernyshevsky Street, untuk menghormati Nikolay Gavrilovich Chernyshevsky (12 Juli 1828 – 17 Oktober 1889): seorang revolusioner demokrat, kritikus, sosialis dan pemikir materialis

[37] Maksudnya kafe outdoor, kafe di luar ruang

[38] Maksudnya minum alkohol dalam kadar yang banyak

[39] Nama diminutif Alexey

[40] Maksudnya ice cream atau es krim

[41] Maksudnya bay, istilah arsitektur untuk menamai bagian gedung yang ditandai oleh elemen-elemen vertikal, dalam soal ini pilar teater

[42] Maksudnya ijasah dan hal-hal yang bertalian

[43] Penamaan untuk kota Saint Petersburg pada tahun 1924-1991

[44] Perang melawan Jerman tahun 1941-1944

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Janin Badai

mm

Published

on

Oleh Ken Hanggara

Di perutku badai asing tumbuh dan beranak-pinak. Hitam, garang, dan liar. Jika ia mengamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki melayang. Ketika badai itu reda, hidupku hambar. Dan saat ia marah, aku mau mati saja.

“Badai asing melukaiku,” ujarku tersengal-sengal, “jadi kubunuh dia.”

Tapi, kata Ibu, kalau kamu bunuh badai di perutmu, bisa saja kamu yang mati. Aku takut dan belum tentu Tuhan menaruhku di surga kalau aku mati. Tapi badai ini sudah keterlaluan. Di perutku ia menggila. Tak tahu apa yang badai itu mau atau bagaimana ia beraktivitas hingga seolah-olah kulihat gambaran: lumatan nasi di lambung campur baur dengan cairan asam berlebih akibat derasnya badai.

Selama badai marah, aku melingkar di kasur, berputar-putar mirip gasing. Kadang diam dan memejamkan mata, atau mengejan dengan maksud mengusir badai itu, dengan harapan bisa kentut, meski ternyata tidak. Sakit luar biasa!

Ibu melarangku mengejan begitu, karena badai dikhawatirkan keluar lewat lubang kentut dengan kekuatan superbesar dan membikin gubuk kami roboh. Kalau rumah ini hancur, mau tinggal di mana kita? Mau menggelandang, ha?

Kubantah kata-kata Ibu. Kita tidak akan menggelandang dan rumah jelek ini tidak mungkin roboh hanya karena kentut. Tidak masuk akal. Bagaimana bisa badai dari perut gadis kurus sepertiku membuat bangunan ini roboh?

Tapi, untuk satu kata ‘logis’, badai yang tumbuh dan beranak-pinak di perut saja tidak bisa dibilang logis. Ia antara ada dan tiada. Bagi orang waras yang tidak tahu, aku pasti dianggap sinting.

“Kamu yakin ada badai di perutmu?” tanya temanku.

“Tidak sih. Di saat tertentu aku tenang. Tapi di saat lain aku mengejan-ngejan, atau berputar-putar seperti gasing. Kukira itu pertanda bahwa badai asing ini mengamuk.”

“Bagaimana kamu menyimpulkan kalau itu adalah badai?”

“Soalnya perutku seperti diputar, digiling. Kamu tahu digiling, nggak?”

Temanku tidak bisa berkata lain selain menyuruhku ke dokter. Anak ini sudah tidak beres, begitu katanya berulang-ulang, diam-diam, bisik-bisik ke yang lain; sayangnya aku dengar, Tolol!

Kataku, pergi ke dokter bukan solusi, meskipun Ibu menyarankan hal yang sama. Barangkali ahli meteorologi bisa memberiku penjelasan mengapa ada badai di perut manusia, sebuah badai yang tidak diketahui asal usulnya, yang tumbuh, berkembang, mengamuk, dan beranak-pinak di sana. Itulah kenapa kusebut dia ‘badai asing’.

Pertanyaan lain, yang sesungguhnya juga kutanyakan: Bagaimana aku yakin badai asing beranak-pinak di perutku? Aku tidak tahu. Aku semakin bingung setelah ada satu malam di mana badai itu menangisi anak-anaknya. Dia tenang dalam kondisi menangis, seperti danau di tengah hutan tanpa seekor binatang atau manusia atau pengaruh musim yang menimbulkan riak di permukaan air. Sikap menangis wanita lemah.

“Kalau badai itu menangis, aku ikut menangis. Tapi aku bingung, buat apa badai menangis? Apa badai asing ini bernyawa? Apa dia makhluk, seperti hewan, tumbuhan, manusia, jin, malaikat…”

Kurasa ini petunjuk Tuhan. Mungkin badai di perutku termasuk makhluk semacam malaikat—atau jin, tapi beda jenis. Kalau benar, ini penemuan besar. Mungkin sudah takdirnya begitu, sehingga aku lega karena ada alasan di balik misteri badai di perutku. Secara teori, badai ini tidak cuma bisa menembus benda material sebagaimana malaikat atau jin, tetapi juga memiliki akal dan nafsu dalam dirinya.

Saat pertama kuberi tahu soal badai di perutku, Ibu diam. Beberapa jam Ibu tidak bicara dan sekalinya bersuara, dia bilang tidak terima saat kukatakan badai asing bisa beranak-pinak karena dia satu dari sekian jenis makhluk di dunia ini.

“Kamu bicara apa? ‘Kan sudah Ibu bilang, kamu bawa saja ke dokter!”

“Ibu tidak tahu badai asing ini makhluk berbahaya! Dokter tidak bisa melawannya. Kalau bisa, tidak satu pun dokter di dunia ini yang meninggal!”

“Kamu ini kacau, ya!”

“Memang, Bu. Kalau badai ini ngamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki di atas. Ibu tahu, nggak? Benar-benar biadab! Beraninya main di perut. Coba berhadapan langsung, sudah kubunuh dia!”

“Ya Tuhan, cobaan apa ini!”

Ibu pergi dan membanting pintu.

Setelah itu Ibu jarang bicara denganku dan aku bergelut dengan sakit luar biasa akibat badai dalam perut yang aneh dan lama-lama menakutkan. Ini pasti ada akhirnya. Tapi, betapapun kuatnya keyakinan bahwa si badai asing makhluk bernyawa dan kelak akan mati sebagaimana janji Tuhan bahwa setiap yang berjiwa pasti akan diambil, aku tidak tenang. Badai ini, jika beranak-pinak, suatu saat memenuhi seluruh bagian perut; ini juga ada waktunya. Kubayangkan lambung, usus, dan sebagainya, tak lagi cukup menampung hal lain selain badai asing dan anak turunnya. Dan badanku mungkin meledak!

Yang paling kuingat dari malam penemuanku, badai ini menangis dan memohon agar anak-anaknya tidak nakal dan kabur. Dia rela berbagi tubuh dengan mereka: “Satu sisi di puncak untukmu, Mata, Akal, Telinga. Sisi di samping untuk kalian, Jantung, Hati, Perasaan. Dan bawah badanku bagimu, Nafsu, Bencana, Aib…”

Dasar sinting! Ibu macam apa itu? Akal, perasaan, nafsu…? Jangan sok bijak, Setan! Tujuan dia menetap di perutku karena ingin menyiksaku. Mungkin badai ini semacam benalu, yang numpang hidup dalam tubuh makhluk lain, tapi tak sedikit pun memberi manfaat.

“Ya! Itulah dirimu, wahai badai asing!”

Aku sering berputar. Tubuhku tak lagi melingkar. Aku bergelinjang seperti belut di penggorengan. Aku mengejan sekuat tenaga seperti membuang tinja sebesar buaya. Ketika badai reda, tubuhku normal, tetapi pikiranku lari ke mana-mana. Aku tidak bisa menebak bagaimana mulanya badai asing tumbuh. Sesuatu yang ada pasti datang dari ketiadaan. Dulu tidak ada badai di perutku, tapi sejak lima bulan lalu, sejak badai itu datang, hidupku mulai berbeda.

“Kukira kamu perlu ke ahli meteorologi,” kata teman yang sama. “Karena asal-usul badai bisa dilacak. Badai di perutmu mungkin sama dengan badai umumnya. Mungkin ada perubahan atmosfer dalam tubuhmu, meski aku tidak yakin.”

“Dia bukan badai biasa. Dia makhluk seperti jin dan malaikat.”

“Kamu selalu sok tahu!”

“Ya.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Aku tahu karena dia beranak-pinak dan menangis, dan aku juga tahu dia ingin membagi raganya untuk anak-anaknya.”

“Tak masuk akal!”

“Memangnya masuk akal, ada badai dalam perutku? Bisa bayangkan?!”

Aku mencoba cara lain, yang sudah jadi keputusan akhir. Aku tidak tahan lebih lama. Setiap badai asing mengamuk, badanku tidak lagi berputar seratus delapan puluh derajat, atau mengejan, atau menggelinjang, atau melingkar dan mengerang di kasur, tapi aku lari ke sana kemari persis orang gila, karena amukan badai sangat menyakitkan!

Aku harus bunuh badai itu.

Aku tidak yakin diriku tidak terluka oleh rencana ini, tapi badai itu bisa mati kalau aku tahu titik pusatnya.

Jadi begini, saat badai tenang, kuraba perutku, kupijat, lalu kuremas bagian-bagian tertentu. Di sanalah titik pusatnya. Aku tidak menunggu badai mengamuk. Selagi ada kesempatan, ia kubunuh pada detik itu. Bisa dengan pisau atau pedang panjang, sehingga aku menusuknya melalui pusarku dan tembus sampai punggung. Aku tak punya pedang dan tak perlu berpikir rumit untuk sekadar membunuh badai dalam perutmu, bukan?

Aku hanya perlu mencari tempat di mana ia bisa kukubur, setelah kubunuh nanti. Aku percaya kematian badai membuatnya mudah kukeluarkan. Tidak lewat lubang anus, karena anak-anak badai sungguh amat sangat banyak. Hampir tiap malam ia melahirkan anak dan membagi dalam kelompok sesuai kebutuhan fisiknya: bagian atas, samping, bawah…. Tidak heran, hari ini anak-anak itu membuatnya lebih ganas. Aku bahkan tidak yakin selamat usai membunuh badai asing itu. Tapi satu yang pasti: percobaan ini jelas membunuhnya.

Kiranya ada hal yang membuat Tuhan tersinggung, aku minta maaf. Aku penemu sekaligus pembasmi makhluk jenis baru serupa jin dan malaikat yang bisa hidup dan beranak-pinak dalam perut seorang gadis tanpa diketahui bagaimana ia bermula.

Maka dengan tenang kuucap, “Badai asing kurang ajar yang masuk ke perutku, beranak-pinak tanpa peduli betapa susah fisikku karena menampung bobotmu yang kian hari kian berat, kuucapkan selamat tinggal.”

Dalam pandangan lamur, pisauku berlumuran darah. Tidak ada makhluk serupa jin atau malaikat, atau tiupan angin hingga gubuk roboh.

Setelah perut terbelah, yang ada seonggok daging, segumpal rambut, dua bola mata, dan bau amis. Tuhan bercanda. Terbuat dari apa badai yang tumbuh dan beranak-pinak dalam perutku sih? [ ]

Gempol, 2015-2019

 

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya tersebar di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

 

Continue Reading

Cerpen

Evolusi Homo Sapiens

mm

Published

on

Oleh: Sasti Gotama

 Seekor Homo sapiens terjatuh begitu saja dari langit. Untung saja ia terjatuh di atas tumpukan rumput kalanjana. Meskipun begitu, tetap saja ia merasa kesakitan lalu menguik    –yang bunyinya lebih mirip suara bekantan di rimba Kalimantan. Jika saja ia tidak terlalu berkonsentrasi dengan nyeri di pantatnya, tentu ia akan sadar bahwa suaranya  mengejutkan sepasang kupu-kupu hitam yang hinggap di pucuk ilalang hingga keduanya terbang berpencar, tak jadi melakukan ritual perkawinan.

Homo sapien itu bangkit sambil berusaha mengingat-ingat, bagaimana ia bisa terjatuh di tumpukan rumput ini. Seingatnya, terakhir kali yang  ia lakukan –beserta kawanannya– adalah mengejar seekor kukang tanah setinggi pohon yang melarikan diri menuju rimbunan  pakis haji raksasa. Ia mengejarnya sambil mengayunkan tombak batu yang baru diasahnya tadi malam. Ujung daun-daun itu sempat menggores kulit lengan sebelum ia merasa kakinya menginjak sesuatu yang lembut dan lunak.  Rawa. Tanah lembek itu mengisapnya ke dalam. Semakin dalam, hingga ia tak sempat berteriak ketika tanah hitam lembap itu masuk ke dalam lubang hidung dan mulutnya –terasa pahit dan asin– sebelum akhirnya ia melihat kegelapan yang berganti cahaya menyilaukan. Kemudian ia terjatuh begitu saja.

Ia melihat ke sekelilingnya. Dunia yang asing. Ia melihat tanaman  sejenis rerumputan yang dikumpulkan dalam berpetak-petak tanah. Ia pernah melihat tanaman sejenis rumput ini yang berbuah biji-bijian di suatu tempat di tengah hutan sebelum ia dan kawanannya berpindah tempat di musim kemarau panjang. Namun, rumput yang pernah dilihatnya hanya  serumpun, bukannya hamparan   kuning keemasan yang sepertinya sengaja ditanam dan terlihat seperti rimbunan bulu-bulu kukang terbentang di bawah kaki bukit.

Ia mendongak dan melihat langit sudah mulai terang. Bola api  raksasa merayap keluar dari balik bukit. Homo sapiens itu  memutuskan berjalan menuju ke arah sinar  dengan menyusuri parit buatan.

***

Sementara itu, seorang Homo sapiens lainnya berjenis kelamin laki-laki dan berbaju hitam  bernama Toha sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu rumah. Ia menunggu Imron, sepupunya, yang berjanji akan datang secepatnya setelah selesai nyabis ke Kyai Soleh.   Toha tak menghiraukan istrinya – Maemunah—juga kopi panas yang diletakkan di atas meja. Ia juga tak  peduli  kelopak mata istrinya bengkak karena menangis semalaman. Yang ada dalam pikirannya adalah harga diri yang harus dibela.

Seminggu yang lalu, Bukad  –pamannya– baru saja memenangkan pemilihan  klebun   di alun-alun Wirakrama. Sayangnya, Sugali, klebun yang lama menolak menyerahkan tanah percaton  karena menganggap sudah melakukan tukar guling dengan tanah miliknya di pinggir desa.  Bukad tidak terima, karena tanah percaton hasil tukar guling terletak jauh dari pusat desa dan tanahnya tidak begitu subur. Sugali berkilah bahwa ini sudah disahkan oleh pemerintah pusat. Ia menunjukkan berbagai macam surat yang menetapkan perihal ini. Tentu saja, Bukad tak terima. Ia mencium adanya persekongkolan dan  mencurigai bahwa tanda-tangan yang tertera di surat-surat itu dipalsukan. Ia lalu mengajak pendukungnya untuk beramai-ramai menyerbu rumah Sugali.

Sebagai kerabat yang baik, tentu saja Toha merasa berkewajiban membela pamannya. Ini masalah kehormatan. Bagi sukunya, kehormatan harus dijunjung tinggi. Lebih baik putih tulang daripada putih mata.

Tepat pukul delapan lebih lima belas menit, Toha melihat Imron datang. Segera diraihnya celurit –berukuran enam puluh sentimeter dengan ujung melengkung– yang telah diasahnya tadi malam . Ia menghampiri Imron yang juga membawa senjata yang sama. Tekad mereka bulat. Membela kebenaran.

Maemunah melepas keduanya dengan mata  sembab. Percuma saja meminta seorang lelaki sukunya yang sudah bertekad bulat untuk mengurungkan niat. Seperti halnya yang terjadi pada kisah-kisah sebelumnya, hal-hal seperti ini  –perihal membela kebenaran–  sering berujung pada carok masal. Padahal entah itu memang sebuah kebenaran atau kepentingann seseorang, Maemunah tak yakin. Sama tak yakinnya ia  bahwa Toha akan pulang selamat. Perlahan ia menutup sepasang pintu jati rumahnya, lalu jatuh terduduk dan bersandar pada pintu. Ia menangis tanpa suara.

Sementara itu pasukan pembela Bukad, termasuk Toha dan Imron,  sudah berkumpul di depan rumah Sugali. Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan celurit yang mereka bawa. Sebagian dari mereka memanggil nama Sugali. Sisanya memaki-maki.

Sugali terdiam di balik pintu. Bukannya ia gentar, tapi ia merasa melakukan hal yang benar. Akhir bulan Mei, lima tahun yang lalu, ia melihat atap salah satu sekolah dasar di pinggir desa tampak miring. Pemandangan yang lebih mengenaskan terlihat saat ia masuk ke dalam ruangan kelas. Dinding banyak yang rusak dan kayu-kayu penyangga rapuh dimakan rayap. Seolah-olah, jika ia bersin, maka bangunan ini akan rubuh begitu saja. Belum lagi letak sekolah ini jauh dari pusat desa. Anak-anak yang bersekolah harus menempuh jalan yang cukup jauh, melewati bukit kapur dan persawahan warga. Sugali berpikir, seandainya saja tanah pecaton di tengah desa bisa ia tukar dengan tanahnya di pinggir desa, mungkin bisa ia bangun sekolah yang lebih bagus.

Teriakan-teriakan semakin keras terdengar. Sugali sempat berpikir untuk keluar dan menjelaskan, tapi sesuatu berbisik di telinganya bahwa itu sama saja dengan bunuh diri dengan sadar. Jadi, ia memutuskan menunggu. Pendukungnya akan segera datang. Rencana Bukad untuk menyerbu rumahnya sudah bocor sejak tadi malam sehingga ia dan pendukungnya sudah menyiapkan taktik balasan. Tadi malam, ia gelorakan semangat pendukungnya. “Mereka melakukan fitnah sistematis. Mengatakan saya melakukan persekongkolan dan tipu muslihat. Padahal saya melakukan kebenaran. Kebenaran harus ditegakkan. Dibela sampai titik darah penghabisan!” Tentu saja ia tak mengatakan darah siapa yang harus dialirkan. Yang pasti bukan darahnya sendiri.

Ketika masa Bukad semakin beringas dan hendak merobohkan pagar rumah Sugali, dari arah belakang, ratusan masa pendukung Sugali menyerbu. Di tangan mereka ada celurit dan kelewang. Carok! Ujung-ujung celurit itu mulai liar. Menghujam kulit, menyobek daging, memenggal leher, hingga darah mengalir deras. Tak ubahnya  medan perang Kurukshetra.

Semuanya sibuk berperang hingga tak memperhatikan seekor Homo sapiens telanjang yang terdiam di pinggir jalan. Ia telah  menempuh empat puluh lima menit menyusuri jalan makadam dan terhenyak ketika melihat sekumpulan makhluk yang mirip dirinya saling menghujamkan senjata tajam.

Homo sapiens itu terheran-heran. Selama hidupnya, tak pernah kawanannya saling melukai seperti itu. Biasanya  mereka memburu bison atau kukang tanah raksasa bersama-sama. Menombak, memenggal kepala, dan mengulitinya, tapi tak pernah kawanannya saling memburu sesama. Ia bertanya-tanya, apakah mereka berperang karena memperebutkan daging  bison atau kambing liar atau kukang raksasa. Tetapi ia melihat  di sekitar mereka  tak ada bangkai binatang yang diperebutkan. Lagipula perut mereka membulat dan otot-otot mereka tampak pejal. Yang pasti mereka tak tampak kelaparan.

Homo sapiens itu tak pernah tahu, bahwa berpuluh-puluh tahun yang lalu, seorang Homo sapiens lain bernama Sigmund Freud telah menemukan  hal penting yang membuat Homo sapiens saling berperang. Ego. Ego yang tunduk pada id. Tentu saja ini adalah hasil evolusi otak dari seekor Homo sapiens. Jika saja Homo sapiens dari masa lalu itu tahu, bahwa ini hasil evolusi dari otak besarnya, mungkin ia akan menolak berevolusi dan tetap memilih menjadi lutung jantan.

***

Sebelas orang meninggal dan puluhan luka berat. Dan berminggu-minggu kemudian, dari kedua belah pihak –baik Bukad maupun Sugali—mengatakan bahwa masing-masing dari masa mereka disusupi oleh pembuat onar. Begitu kata mereka saat diwawancarai oleh reporter wanita cantik berambut pendek yang datang dari ibu kota. Tak  ada satu pun dari mereka menyebutkan keberadaan seekor Homo sapiens telanjang yang melenggang di tengah desa dengan wajah heran.

SELESAI

___

Keterangan:

Keterangan:

Nyabis: diisi tenaga dalam

Klebun: kepala desa

Percanton: tanah bengkok

Continue Reading

Cerpen

Tentang Maria, Gedung Bioskop, dan Buku Harian yang Tertinggal

mm

Published

on

Getty Images/ The Lovers by Rene Magritte

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

 

Oleh Ken Hanggara *)

Pada sore hari setelah Maria pergi, aku duduk di teras dan membuka-buka sebuah buku harian. Di sampul depan buku harian tersebut terdapat suatu cap yang dahulu aku buat di sana untuk kenang-kenangan agar Maria tak melupakanku.

“Ini hadiah dariku, Bung,” kataku kepada seorang tetangga.

“Kau yakin kalian benar-benar saling mencintai?”

Aku berdiri dan mengajaknya masuk ke ruang tamu. Toni tetangga baruku, dan ia belum pernah menyapa Maria. Tiga hari yang lalu Toni datang dengan membawa mobil pick up berisi berbagai perabot, dan kepadaku yang kebetulan berada di teras rumahku, ia mengaku semua benda tersebut warisan. Ia akan tinggal di rumah sebelah yang sudah sepuluh tahun lebih kosong.

Aku mengenal Toni sejak itu, dan karena ia bujangan, aku bisa mengajak pemuda itu mengobrol apa saja sampai larut malam. Maria tidak pernah mau kuajak bercumbu sebelum tidur dan itu tidak kuceritakan pada Toni.

Karena tidak pernah kuungkit-ungkit soal Maria, dan begitu tahu pasanganku pergi tanpa pamit, Toni berpikir Maria tidak benar-benar mencintaiku. Ia berkata, sambil kami melangkah ke dalam, “Kalau tidak begitu, ada sesuatu yang salah.”

Aku berhenti dan bermenung di depan foto diriku dan Maria yang berdiri sambil berpelukan di depan gedung bioskop tujuh tahun lalu, waktu kami pengantin baru. Aku tidak berkata apa-apa sampai akhirnya sadar ada Toni di sini, dan kujawab, “Sebetulnya tidak ada yang salah.”

Aku tahu ada yang beda di wajah Toni, dan kukira dia tidak enak saja padaku yang lebih tua beberapa tahun, tapi sudah dituduh macam-macam. Soal asmara bagi beberapa orang bisa jadi sensitif. Mungkin karena itu Toni memutuskan diam.

Kami tidak berkata apa-apa sampai kuajak Toni ke ruang tengah. Ada lebih banyak fotoku dan Maria dari tahun ke tahun. Ada beberapa yang sengaja dibuat khusus untuk mengenang bahwa kami tidak akan berubah soal cinta.

“Foto-foto macam ini,” jelasku pada Toni, yang terlihat agak lega, karena aku bisa bersikap santai, “dimulai dari ketidaksengajaan. Itu foto waktu kami pertama jadian.”

Kutunjuk sebuah foto, dan kemudian jariku beralih ke foto lain di samping kanan foto tadi.

“Ini setahun pertama kami jadian. Posisiku dan Maria terlihat sama seperti di hari ketika kami bersumpah akan terus bersama. Dia di kanan dan aku di kiri. Kami tetap berpelukan. Lihat, senyum kami juga sama. Ketika itu Maria bilang, ‘Aku tidak mau kita pacaran, dan kelak selesai begitu saja tanpa ada yang bisa dikenang.’ Maka kusodorkan ide foto dengan pose yang sama dari tahun ke tahun, dan perempuanku itu setuju. Dan kini, kamu lihat hasilnya!”

Toni mengangguk-angguk selagi kujelaskan itu. Ia sesekali bicara soal keakuratan senyum kami.

Senyumku dan Maria dari tahun ke tahun nyaris tak pernah terlihat beda dari foto di tahun sebelum dan sesudahnya. Bagi Toni, merancang foto seperti ini tidak semudah yang orang pikir, apalagi yang kami lakukan melebihi dari foto dengan pose tunggal. Yang kami lakukan membeku untuk urusan asmara. Ada beberapa yang beda di wajahku, yang jadi agak bulat, tapi senyumku dan Maria tak pernah beda.

Lalu kami melompat ke topik lain soal ayah dan anak di suatu belahan bumi, yang berfoto dengan pose tunggal setiap tahunnya, dan ketika si bocah semakin lama semakin besar, posisi ayah yang menggendong anaknya dapat dibalik sewaktu-waktu.

“Di foto kalian, tidak ada yang bakal terbalik, sebab kalian saling berpelukan, dan kita bisa memeluk siapa pun tanpa harus menjadi kuat. Apa yang tadi sempat kukatakan soal kalian yang sama-sama saling mencintai, harus kutarik dan aku menyesal sudah mengatakannya,” tutur Toni dengan memandangku lesu.

Aku mengangguk. Urusan percintaan saat manusia sudah berusia tiga puluh ke atas, atau empat puluhan, atau bahkan lima puluh hingga seratus tahun, sangat berbeda dari kisah cinta yang pada umumnya orang percayai.

“Aku dan Maria sering bertengkar dari waktu ke waktu setelah tahun keenam kami. Bayangkan, itu baru enam tahun kami menikah. Aku menikahi Maria pada saat umurku dua puluh delapan, dan dia dua puluh tujuh. Jadi, sekarang ini kami masih cukup muda, padahal kenyataannya aku dan Maria merasa sama-sama menua.”

Aku tidak ingin menjelaskan lebih jauh. Kuajak Toni berjalan lagi ke depan setelah puas melihat hampir semua fotoku dan Maria yang ada di ruang tengah.

Begitu aku ingat sudah menunjukkan foto-foto kami dengan pose tunggal kepada seorang tetangga baru, aku berbelok ke kamar dan mencari sesuatu di sana.

“Kau tunggu di depan,” kataku pada Toni.

Tak butuh waktu lama untuk tahu betapa Maria sudah membawa kamera dan setiap file dalam laptopku yang menyimpan seluruh foto dengan pose tunggal tadi. Itu adalah bukti untuk, paling tidak, dua kemungkinan. Pertama, Maria tidak ingin melupakanku sehingga foto-foto yang kami buat akan ia simpan selamanya meski kami tak bersama. Kedua, ia hapus seluruh file tersebut sehingga tidak ada lagi yang tahu bagaimana cara kami menyimpan cinta yang dulu begitu kami agungkan.

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

Di gedung bioskop,” desisku.

Itulah potongan kalimat pertama di buku harian Maria. Ia pernah bilang bahwa ia sengaja memindah catatan hariannya ke buku baru, setelah ada lelaki yang memenuhi kebutuhan cintanya, yakni aku. Jadi, hari ketika kami berdua bertemu itu Maria jadikan halaman pertama di buku harian barunya yang tebal.

Aku pernah bertanya, “Kamu menyiapkan buku setebal itu untuk tahun-tahun yang manis bersama orang paling beruntung, ya?”

“Aku yakin buku ini tidak akan pernah putus, karena ketika dia sudah kehabisan halaman kelak, akan kutambah dengan buku harian yang juga tebal, lalu mereka berdua kujahit, begitu seterusnya. Bisa dibayangkan? Kelak anak cucu kita akan tahu betapa nenek moyang mereka adalah penulis yang romantis!”

Aku bahagia dan merasa terhormat mendapat tempat seistimewa itu di hati Maria. Dia pernah dikhianati lelaki sewaktu masih SMA, dan sejak itu hingga berumur dua puluh tujuh, tidak sekali pun jatuh cinta. Dengan kata lain, akulah pria pertama yang ia cintai setelah bertahun-tahun membenci cinta.

Di gedung bioskop, seorang lelaki datang menyapaku, dan dia bertanya film apa yang bagus ditonton seorang diri? Kalimat pertama itulah yang ditulis Maria, dan aku ingat betapa dengan konyolnya aku bertanya soal film yang baik ditonton oleh orang yang kesepian. Waktu itu pilihan filmnya hanya romansa. Aku dan Maria dengan senang hati menonton bersama. Ia mudah menerima teman baru sepertiku, yang baginya lucu. Memang ketika itu aku merasa bodoh dan lucu.

Pulang dari bioskop kami mengobrol seperti teman biasa yang baru berkenalan. Ia kumintai nomor telepon, dan sejak itu, kami sering pergi ke bioskop. Sering juga kami menonton film yang dibuat untuk mereka yang tidak punya pasangan. Film-film macam superhero dan hal-hal tak masuk akal yang cenderung kekanak-kanakan. Aku tahu film semacam itu tidak benar-benar dibuat khusus untuk mereka yang single, tetapi tentu saja aku dan Maria ketika itu senang bercanda.

Begitulah, aku membaca halaman demi halaman buku harian Maria yang ditinggal, entah sengaja atau tidak. Buku harian itu kutemukan di lantai ruang tengah, tergeletak begitu saja bersama beberapa brosur liburan murah ke luar negeri serta beberapa buah buku bacaan yang Maria sukai. Benda-benda ini tersimpan di salah satu tas yang kukira harus Maria bawa, namun tak sengaja ditinggalkan. Aku tahu dia pergi dari rumahku dengan tergesa-gesa. Tidak ada alasan lain selain karena takut aku melarangnya.

Memikirkan Maria yang merasa tidak akan ada gunanya kami hidup tanpa pernah ada calon bayi di perutnya, membuatku sedih dan mungkin baiknya aku juga berkemas malam ini dan pergi dari rumah. Aku pergi untuk mencari Maria, atau mungkin pergi ke tempat mana pun yang kusuka untuk menghibur diri. Tapi, tubuhku lemas dan tak ada kemauan mewujudkan pikiran gila apa pun.

Mungkin esok keputusan itu ada. Mungkin juga tidak. Tapi, untuk saat ini tak ada hal apa pun yang ingin kulakukan selain tetap di sini. (*)

Gempol, 2017-2019

 _______________

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending