Connect with us

Buku

Y.B. Mangunwijaya, Burung-Burung Manyar Romo Rahadi

mm

Published

on

Novel ini justru lebih kuat dan lebih utuh sebagai novel dibanding dengan Burung-Burung Manyar. Novelnya yang satu ini terlalu sara dengan renungan dan pemikiran. Dan dalam hal ini Mangunwijaya memang sudah membuktikan mampu dan berbobot lewat esei dan artikel-artikelnya. Romo Rahadi adalah novel yang penuh dengan emosi tetapi sekaligus tidak lepas dari tinjauan-tinjauan logisnya. Justru karena unsur inilah novel Romo Rahadi lebih utuh sebagai rumusan pengalaman manusia. Burung-burung Manyar yang banyak memuat refleksi-refleksi jiwa itu justru kurang mampu membawa pembacanya ke dalam suasana pengalaman yang beraneka aspek itu.

Mangunwijaya adalah seorang pastor yang banyak menulis di berbagai dia penerbitan umum, baik surat kabar maupun majalah. Mula-mula dikenal sebagai kolumnis masalah sosial dan budaya di harian Kompas. Kumpulan esei-eseinya itu sudah dikumpulkan menjadi buku berjudul Puntung-Puntung Roro Gendut. Pengetahuannya yang luas dan penguasaannya atas beberapa bahasa berat mempengaruhi tulis-tulisannya. Esei-eseinya menunjukkan kepadatan namun diungkapkan dengan nada senda gurau yang ringan.

Kepengarangan Awal Mangunwijaya bisa dilihat dari dua novelnya yaitu Burung-Burung Manyar dan Romo Rahadi. Novelnya yang kedua ini sebenarnya justru ditulis pertama kali. Romo Rahadi mengisahkan problematik kejiwaan seorang pastor muda dalam menghadapi naluri-naluri kelaki-lakiannya dengan kekuatan panggilan manatannya.

Novel ini, lebih sedikit diketahui pembaca hari ini, walau begitu lebih menarik lagi karena bersetting di pedalaman Jaya. Gaya bahasa Mangun tak bisa dibedakan dengan kebanyakan eseinya. Justru dalam novel-novelnya nampak sekali adanya unsur esei yang selalu ingin memberi penjelasan secara argumentative. Dalam novel Romo Rahadi gaya sudah mulai berkurang. Romo Mangun sendiri menamakan romannya Burung Burung Manyar sebagai roman esei. Dalam kematangan visi dan luas pengetahuannya ia boleh disejajarkan dengan tokoh semacam Sutan Takdir Alisjahbana yang juga mengisi roman-romannya yang tebal dengan penjelasan-penjelasan yang eseis.

Burung-Burung Manyar.

Tentang revolusi Indonesia dan patriotisme telah banyak ditulis dalam sastra Indonesia. Tetapi point of view dan sikap melihat revolusi itu masih tetap dari segi Indonesia. Setelah revolusi itu berlalu 35 tahun rupanya orang mulai melihatnya secara kritis dan obyektif. Cara melihat demikian dimungkinkan oleh banyak peristiwa yang sudah cukup menyejarah dank arena banyak dari generasi jarang yang tidak mengenal revolusi itu secara langsung.

Kolumnis Y.B. Mangunwijaya adalah orang pertama yang mencoba melihat revolusi itu dari segi yang boleh dikatakan obyektif, bahkan agak cenderung melihatnya dari segi Belanda. Kalau sejak novel Keluarga Gerilya sampai dengan Maut dan Cinta nasionalisme dan patriotisme selalu menonjol menjadi tema dan suasana cerita, dengan protagonis orang-orang Indonesia yang bersedia mati buat tanah air, maka Y.B. Mangunwijaya dengan novelnya (dia menyebutnya roman) Burung-Burung Manyar ini memasang protagonis orang Indonesia yang anti Republik, yakni seorang KNIL, dengan pandangan yang mencemooh perjuangan dan dibawakan dengan nada ejekan yang humoristis sesuai dengan gaya dia dalam menulis esei-eseinya di koran. Barangkali segi inilah yang menarik dari novel pertama Mangunwijaya ini.

Novel ini bercerita tentang Setadewa seorang anak tunggal dari ibu Indo-Belanda dengan seorang bangsawan keraton Solo. Sang ayah yang lulusan Akademi Militer Breda inilah yang mendorong Setadewa masuk tentara KNIL waktu revolusi meletus. Tetapi alasan utamanya adalah lantaran kedua orang tuanya menjadi korban keganasan Jepang, dan Sukarno Hatta waktu itu bekerja sama dengan Jepang. Juga pemerintahan R.I. yang kemudian terbentuk dinilainya sebagai bikinan atau meniru Jepang. Ia membenci Indonesia karena alasan-alasan pribadi saja dan bukan prinsipiil ideologis. Motivasi ini barangkali cukup masuk akal. Sebab pemuda ini dididik oleh seorang militer yang dinas dalam KNIL dan masa mudanya terpuruk kebanggaan militer Belanda. Namun alasan Seta untuk tidak menyukai Indonesia bahkan memusuhinya karena Sukarno Hatta yang mendirikan R.I. bekas pegawai Jepang, rasanya merupakan alasan psikologis yang kurang dijelaskan secara baik. Terlalu sedikit penggambaran kejiwaan atau konflik kejiwaan dalam hal ini. Kalau orang tua mereka binasa akibat kekejaman Jepang mengapa ia membenci dan melampiaskan dendamnya pada bangsa Indonesia yang sebenarnya juga menjadi korban keganasan?

Tetapi konflik kejiwaan Seta ini hanyalah sampingan belaka. Penggarapan pengarang terutama pada masalah percintaan Seta dengan gadis bangsawan teman sekolahnya yang juga berdarah bangsawan, yakni Atik Larasati. Diam-diam kedua remaja ini saling menaruh hati (episode tahun 1934-1942) sampai pecahnya perang dunia dan kedatangan Jepang di Indonesia. Setelah proklamasi Seta memutuskan untuk bekerja sebagai tentara KNIL, sedang Atik justru bekerja sebagai penterjemah pada staf perdana menteri Syahrir. Rupanya hambatan inilah yang merupakan problem utama novel. Seorang KNIL mencintai seorang gadis Republik. Meskipun Seta berusaha tetap menjalin hubungan namun cinta tak mungkin diteruskan. Tetapi rupanya cinta terpendam ini begitu mendalam sehingga pada tahun 1978 Seta yang sudah berumah tangga (dan gagal) mencoba mengadakan “sentimental journey” ke Jawa dan menemui bekas kekasihnya di zaman Belanda dulu. Ternyata Atik juga tak melupakan.

Kelemahan konflik utama cerita ini adalah penggambaran cinta yang begitu platonic. Seta dan Atik sebenarnya tidak pernah menjalin hubungan cinta secara mesra betul. Peristiwa-peristiwa pacaran tak pernah terjadi, tetapi keduanya begitu memendam cinta yang begitu dalam. Dalam sejarah barangkali karakter begini bisa dikembalikan pada penyair Dante Alighieri. Bahkan waktu kedua asyik masyuk ini bertemu berdua saja di rumah kosong tak terjadi peristiwa cinta yang cukup sederhana. Meteka hanya berpelukan. Dan keduanya memendam cinta membara. Dan Seta adalah seorang prajurit KNIL yang tergolong bersih dalam urusan dengan seks. Masak tidak lebih hanya berpelukan saja? Toh persitiwa ini sanggup membuat kedua orang yang kelak sudah dewasa dan berkeluarga ini masih tetap saling mengharap akan bertemu dan menjalin hubungan asmara lagi. Dalam takaran ini jelaslah bahwa Mangunwijaya mentrapkan “mawar berduri” dalam kisah cinta novel Indonesia.

Meskipun tema sentral ini agak lemah, tetapi saya justru menaruh perhatian pada sikap-sikap Seta yang anti Indonesia ini. Di samping itu informasi kehidupan tentara KNIL dari dalam baru kali ini ditulis dalam sastra Indonesia. Penilaian Seta yang sinis dan merendahkan pemimpin-pemimpin Indonesia pada masa gawatnya revolusi sesuai betul dengan gaya pengarangnya yang secara intelektual suka mengejek keterpelajaran itu. Inilah pelopor fiksi yang mencoba melihat sejarah secara obyektif. Tidak ada lagi sentimental rendah yang selalu menggambarkan setiap memihak perjuangan adalah otomatis luhur dan suci. Mangunwijaya menyadarkan pembacanya bahwa kedua belah fihak adalah manusia. Mereka mendukung kebenarannya sendiri-sendiri. Dan penilaian terserah pada pembacanya. Saya kira dengan melihat secara obyektif dan tidak memihak ini justru makin jelaslah “kebenaran” dan nilai perjuangan revolusi Indonesia. Yang kita inginkan sekarang bukan lagi kecengengan dan sentimentalitas, tetapi hakekat. Dan jalan menuju ke sana tidak bisa ditempuh hanya dengan melihat dari satu segi pandangan saja, yakni segi Indonesia yang selalu bertindak sebagai protagonis. Patriotisme dan nasionalisme yang lebih murni mungkin akan lebih terpatri kalau kita juga diajak masuk dalam pikiran antagonis kita, Belanda pada waktu itu. Dan Mangunwijaya mencoba menyuguhkan sekelumit pikiran antagonis kita itu.

Gaya bercerita pengarang untuk novel yang begini panjang cukup melelahkan. Ini disebabkan karena Mangunwijaya terlalu banyak memakai tehnik narasi. Semua kejadian dituturkan dan dikomentari secara panjang lebar. Novel yang begini tebal perlu penceritaan dramatic yang dapat menimbulkan suasana cerita sehingga pembaca larut dalam pengalaman konkrit pelaku utamanya. Juga point of view yang diambil pengarang pengarang dengan tehnik “akuan” ternyata tidak mampu mendukung semua informasi kejadian, dan untuk itu dipakai tehnik Omniscient (kejadian dilihat dari atas). Akibatnya pengarang harus bolak balik antara dua tehnik tersebut. Dan celakanya dua tehnik ini memiliki gaya yang sama. Dengan demikian jelas sekali bahwa pribadi pengarang larut atau menjelma dalam pribadi tokoh ciptaannya, Setadewa. Suara dan gaya Mangunwijaya menjadi gaya Setadewa.

Mangunwijaya juga terlalu banyak memasang “ gambar mati” buat melukiskan kejadian cerita. Rentetan kejadian yang menggambarkan perjalanan konflik tidak dipasang dalam kisah yang mengalir dan “hidup” (gambar hidup) tetapi dalam bentuk slide. Adalah khas Mangunwijaya untuk menghentikan sebuah peristiwa dalam cerita dan memberi komentar inilah yang membuat novel berjalan sangat lamban. Namun tetap harus diakui bahwa komentar-komentarnya tetap punya nilai intelektual yang tinggi dan menunjukkan keluasan pengetahuan pengarang. Tetapi novel adalah novel bukan esei yang menerangjelaskan.

Akhirnya nilai buku ini terutama terletak kepada keberanian pengarang untuk mengisahkan konflik jiwa seorang anti-republik semasa revolusi, sebagai informasinya tentang kehidupan tentara Knil dan gaya humor pengarang yang kadang-kadang terselip ejekan yang penuh kejutan. Hanya tehnik penyajian saya kira yang membuat novel ini nampak sebagai bacaan yang berat. Novel ini miskin peristiwa, terlalu banyak renungan.

Romo Rahadi

Novel ini justru lebih kuat dan lebih utuh sebagai novel dibanding dengan Burung-Burung Manyar. Novelnya yang satu ini terlalu sara dengan renungan dan pemikiran. Dan dalam hal ini Mangunwijaya memang sudah membuktikan mampu dan berbobot lewat esei dan artikel-artikelnya. Romo Rahadi adalah novel yang penuh dengan emosi tetapi sekaligus tidak lepas dari tinjauan-tinjauan logisnya. Justru karena unsur inilah novel Romo Rahadi lebih utuh sebagai rumusan pengalaman manusia. Burung-burung Manyar yang banyak memuat refleksi-refleksi jiwa itu justru kurang mampu membawa pembacanya ke dalam suasana pengalaman yang beraneka aspek itu.

Keistimewaan novel ini adalah pada tema yang digarapnya. Ia membicarakan jabatan pastor dan segala konsekwensinya. Istimewa sekali menyorot pribadi room atau pastor sebagai manusia dan lelaki. Jabatan dalam agama ini bukan sekedar jabatan. Ia adalah “panggilan” Tuhan. Memang ada kebebasan bagi pejabatnya untuk langsung menerima tugas dan jabatan pastor atau meninggalkannya, dan justru karena itu sifat panggilannya akan menonjol, seperti dibuktikan oleh novel tebal ini.

Albertus Rahadi adalah pemuda Jawa yang disambut gembira oleh keluarganya waktu ia menyatakan diri masuk sekolah pastor (seminari). Ini anugerah Tuhan bagi keluarga Katolik yang taat itu. Namun Rahadi adalah pemuda sehat jiwa raga. Setelah menjadi imam atau room ia datangi gadis Indo – Veitnam, waktu di Jerman, bernama Hildegrad. Gadis yang secara budaya tidak mampu lagi hidup di Barat mencari pegangan baru dan memperolehnya pada figur Rahadi. Hanya sayang pemuda sehat ini adalah pastor. Tetapi keduanya sudah saling cocok dan bersahabat untuk tidak mengatakan cinta mencintai. Perkenalan ini untuk sementara terputus ketika Rahadi harus kembali ke Indonesia. Dan dalam perjalanan Rahadi ke Irian, untuk berlibur dan sekaligus merefleksi dirinya apakah ia akan terus memantapkan dirinya sebagai romo atau tidak, secara diluar dugaan ia sepesawat dengan Hilde yang dalam perjalanan petualangannya ke Irian atas undangan pamannya seorang anthropolog. Kenangan-kenangan lama muncul kembali, dan rasa saling membutuhkan sebagai manusia “lengkap” hidup kembali. Di Irian Rahadi berpisah dengan Hilde, tetapi bertemu kembali dengan Rosi kawan dan “pacar” sebelum menjadi pastor. Dalam suatu peristiwa balas dendam sesuatu suku, Hilde bersama beberapa lelaki asing diculik dan dibawa masuk ke dalam hutan rimba. Pertolongan yang diberikan Rahadi untuk menyelamatkan Hilde adalah masuk ke dalam rombongan militer yang dipimpin oleh abang iparnya. Sayang, Hilde tak tertolong dan menjadi korban satu-satunya. Rahadi mendapat pukulan berat, bukan karena Hilde sebagai wanita saja tetapi juga kawatir Hilde kecewa terhadap pencarian ketenangan batinnya yang diburu-buru selama ini. Pukulan jiwa ini dapat dipulihkan oleh dokter Rosi yang janda kembang. Keduanya tergoda begitu hebat untuk saling melengkapi diri sebagai layaknya orang awam. Hampir saja Rahadi siap meninggalkan jubahnya, tetapi si wanita justru yang paling kuat menolak mengingat kehidupan mereka kelak di masyarakat. Bagaimana bisa tenang hidup bersama “bekas pastor” di tengah bekas domba-dombanya? Novel diakhiri dengan tekad bulat Rahadi untuk kembali ke Jakarta, kepada kehidupan nyata penggembalaannya sebagai pastor.

Nampak bahwa jabatan pastor dalam novel ini menyangkut masalah rohani dan iman. Ia bukan sekedar pemimpin umat dalam arti sosial. Godaan-godaan deras terhadap wanita dan kehangatan cintanya yang nyata membuat Rahadi berkali-kali goncang. Namun justru dalam tempaan-tempaan godaan ini Rahadi sanggup menyelami dasar samodra panggilannya. Kegagalan-kegagalan percintaannya bukan lantaran kemauan dirinya. Ia cenderung mau. Tetapi kedua wanitanya menolak dengan turun tangannya takdir dan kesadaran berkorban. Hilde meninggal dan Rosi memang tidak mampu hidup dengan “bekas pastornya” meskipun cintanya hanya pada dia.

Gambaran figure Rahadi sebagai lelaki dan manusia normal amat mengesankan. Potret kehidupan jiwa seorang romo amat jelas tergambar. Mangunwijaya mampu menghadirkan godaan-godaan sensualitas secara hidup sekali. Penilaian-penilaian Rahadi sebagai pastor terhadap wanita muda sama hidupnya dengan lelaki normal mana pun. Dibalik jubah itu berdetak naluri-naluri alami yang biologis. Ia mengalir disana secara deras dan sehat. Namun jabatan sebagai pastor yang dilandasi aturan keras dalam selibat (tidak boleh menikah selama hidup), yang lebih merupakan perjanjian pribadi, membatasi aliran hidup itu. Konflik jiwa Rahadi antara memetik dan terus takwa kepada perjanjian, membawa dia masuk ke dalam hakekat kebebasan manusia dalam menentukan pilhan-pilihannya dalam hidup ini. Dan arti kebebasan manusia dalam menentukan pilihan-pilihannya dalam hidup ini. Dan arti kebebasan manusia diberi rumusan yang jitu. Kebebasan mengandung mengandung resiko gagal, sedang kepastian dala keimanan yang kalau dibrikan mesti selamat tanpa resiko kegagalan, lebih disukai Rahadi. Ketenangan dalam kegelisahan. Konflik-konflik jiwa Hilde, Rahadi, Rosi semuanya membawa pembaca ke dalam pemikiran-pemikiran mendalam dan mendasar. Untuk ini dengan sendirinya pembaca berhak menolak atau menerimanya tergantung dari falsafah hidup masing-masing. Tetapi pengarang berusaha untuk mendudukkannya dalam taraf pemikiran yang rasional saja, meskipun tak bisa dielakkan juga dasar pandangan hidup pengarangnya yang pastor itu. Itu nampak dalam pandangannya tentang kebebasan tadi.

Keistimewaan lain dari novel ini adalah setting Irian yang digambarkan dengan sangat otentik. Penggambaran hutan rimba dan topografinya yang teliti nampaknya berdasarkan pengalaman yang nyata. Juga kebudayaan mereka dan tempatnya dalam peta kebudayaan manusia serta maknanya yang masih tetap aktual digambarkan dengan takaran intelektual dan pengetahuan yang luas. Dan memang inilah gaya Mangunwijaya yang menonjol kaya referensi budayanya, tangkas daya pikirnya, humoritis dalam menanggapi kehidupan dan kepekaannya dalam rasa bahasa yang amat beragam itu. Namun gaya ini juga bisa membawa bahaya kalau lepas control. Dalam novel ini nampak dalam bagian penggambaran kehidupan keluarga Swantaji yang terlalu bertele-tele, semata-mata hanya untuk adegan-adegan kelucuan anak-anak yang kurang memberikan aksentuasi pada pokok cerita. Bahkan bagian ini agak mengganggu kelangsungan cerita.

Suatu masalah yang kini ramai diperbincangkan tentang masuknya sastra lesan dalam penulisan, kiranya amat menonjol dalam karya-karya Mangunwijaya. Membaca humor-humor Mangunwijaya orang cepat sekali ingat bagaimana kata-kata semacam itu diucapkan. Artinya kita baru bisa menikmati nilainya secara lengkap kalau diperagakan, sebab hal itu dipungut dari kenyataan lesan. Dengan sendirinya referensi budaya bahasa itu harus dimiliki oleh si pembaca. Dalam masalah bahasa lesan ini apakah merupakan unsur yang memperkaya sastra atau justru malah memerosotkannya, bisa melahirkan banyak pendapat. Dalam hal ini jelas sekali bahwa unsur bahasa lesan (yang dituliskan) hanya bisa dinikmati oleh pemiliki bahasa yang bersangkutan saja, meskipun dalam bahasa Mangunwijaya ini  jauh lebih tertib misalnya dengan sajak-sajak Darmanto, atau Umar Kayam.

Novel ini menunjukkan bahwa karya sastra seharusnya merupakan kerja intelektual dan bukan sekedar tukang cerita. Ia merupakan pemikiran yang otentik dan baru. Dalam hal ini jelas bahwa Mangunwijaya lebih dahulu muncul sebagai seorang intelektual yang kemudian memakai media sastra buat berkomunikasi. Dengan sendirinya takaran intelektual seorang sastrawan harus seimbang dengan ketrampilan tehnis keseniannya. Dan dalam hal ini kiranya Mangunwijaya telah mendekati idealisme demikian. Novelnya ini cukup hidup, lancar, sugestif, meskipun ada cacad terlalu lepas rem dalam humornya yang bertele-tele dalam bab tiga. (*)

*Dari berbagai sumber, dikaji oleh Tim Editorial Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Buku

Tiongkok Tuliskan Sejarah Nusantara

mm

Published

on

Judul Buku: Nusantara dalam Catatan Tionghoa

Penulis: W.P. Groeneveldt

Penerbit: Komunitas Bambu | Tahun Terbit: 2018

Tebal; vvxi + 172 halaman, ISBN 978-602-9402-92-6

_____________________________________________

Ada sebuah pernyataan bijak yang tidak diketahui namanya menyatakan, “Orang yang bijak adalah orang yan mengenal sejarahnya.” Sekilas ini merupakan sebuah pernyataan yang sangat baik. Kita diminta mengenal sejarah kita, agar dapat belajar mengambil sikap dan memetakan masa depan.

Akan tetapi, kita juga dapat mempertanyakan pernyataan di atas? Dari mana kita dapat mengetahui sejarah kita? Apakah dari dalam diri kita sendiri atau lingkungan kita? Atau bahkan kita harus mengetahui sejarah kita dari orang lain?

Suka atau tidak, hal itu yang terjadi pada pencatatan sejarah Indonesia atau saat masih gugusan kepulauan nusantara. Justru sejarah Indonesia, banyak ditulis oleh orang asing yang dikenal dengan istilah Indonesianis. Mereka banyak menulis tentang sejarah Indonesia periode kontemporer hingga periode klasik yang masih bernamakan nusantara.

Hal itu yang coba diusahakan oleh W.P Groeneveldt dalam usahanya mengenalkan sejarah nusantara. Sebagai seorang arkeolog dan juga memegang jabatan penting dalam administrasi kolonial Belanda di Indonesia, ia melacak sejarah gugusan kepulauan nusantara yang akan menjadi cikal bakal Nusantara.

Uniknya, ia tidak memakai catatan orang-orang Eropa dalam menuliskan sejarah nusantara, tetapi memakai catatan-catatan orang-orang Tiongkok yang pernah mendatangi langsung kepuluan nusantara seperti Jawa, Sumatra, Bali, dan Kalimantan. Bukan tanpa sebab Groeneveldt memakai  catatan orang-orang Tiongkok, pasalnya Tiongkok memiliki literature lengkap yang tidak pernah terputus dari dinasti ke dinasti dalam berbagai subjek (hlm.XV).

Tentu, hal yang menghubungkan Kekaisaran Tiongkok dan nusantara adalah perdagangan. Bahkan, dalam catatan yang ditemukan oleh Groeneveldt, Kekaisaran Tiongkok sudah memiliki kontak dagangan mulai sejak zaman dinasti Shang pada 2000 SM. Dinasti Shang banyak melakukan interaksi perdagangan baik melalui jalur darat maupun jalur laut ke wilayah Sumatra dan Jawa. Interaksi antara Tiongkok dan wilayah nusantara pun terus berlanjut dari dinasti ke dinasti berikutnya tanpa terputus.

Selain itu, dari setiap utusan dinasti yang berkunjung ke nusantara melibatkan banyak orang yang menjadi perantara yang merangkap menjadi penerjemah untuk para pedagang baik secara resmi maupun pribadi. Adanya penerjemah ini adalah satu petanda bahwa interaksi sudah berjalan cukup intens. Terlebih saat masa kekaisaran Dinasti Ming, melibatkan utusan bernama Zheng He. Ia dikenal memiliki reputasi catatannya yang akurat dari hasil kunjunngannya ke luar negeri (Hlm.48).

Dampak lain dari perdagangan yang dilakukan oleh orang-orang Tiongkok adalah dibolehkannya orang-orang Tiongkok menetap di wilayah-wilayah nusantara. Baik sebelum masa kerajaan maupun sampai masa kerajaan. Mereka menetap dan melakukan akulturasi dengan penduduk nusantara.

Tentu orang-orang Tiongkok tidak hanya sekadar mencatat interaksi perdagangan dengan orang-orang nusantara, tetapi juga mencatat kegiatan masyarakat nusantara pada saat itu. Ini merupakan hal penting, karena dalam sejarah Indonesia terdapat missing link setelah era prasejarah, langsung memasuki era kerajaan-kerajaan nusantara dimulai dari Kutai Kartanegara.

Mereka mencatat kehidupan orang-orang nusantara cukup mengerikan, “Mereka berjalan tanpa alas kaki dan apabila ada kerabat yang meninggal, jenazahnya akan diletakkan di hutan agar di makan anjing. Apabila, jenazahnya di makan sampai habis, maka keluarga akan bahagia. Sedangkan, jika jenazahnya tidak di makan sampai habis, maka keluarga akan bersedih dan membuang sisa jenazahnya ke laut.” (Hlm.58-59) Catatan-catatan tersebut tentu sangat penting dalam mengisi kekosongan pencatatan sejarah di Indonesia, meski secara kuantitas hingga saat ini masih sangat kurang.

Dikarenakan ditulis oleh orang-orang Tiongkok, catatan-catatan ini hanya menunjukkan bagaimana adikuasanya Tiongkok atas kepuluan-kepulauan nusantara. Kendati demikian, berdasarkan catatan ini kita bisa melihat sumbangsih atau peran orang Tionghoa dalam kehidupan sehari-hari hingga mereka melakukan pembauran dengan masyarakat. Nusantara.

Buku ini juga bisa menjadi jawaban atas sentimen rasial yang tengah melanda di Indonesia terhadap orang-orang Tionghoa. Sebab, sering kali banyak yang menyatakan bahwa orang Tionghoa tidak memiliki peran di Indonesia. Justru, dengan buku ini, orang-orang Indonesia berhutang budi karena Orang Tionghoa telah mencatat dan mengenalkan sejarah Indonesia.

__________________________

*) Virdika Rizky Utama: Periset di NARASI.TV

Continue Reading

Budaya

Mengembalikan Kedigdayaan Maluku

mm

Published

on

Tak ada yang memungkiri, Tiongkok merupakan penguasa ekonomi awal abad XXI. Bahkan, tingkat pertumbuhan Tiongkok merupakan yang tertinggi kedua di dunia. Tiongkok dapat mengancam kedigdayaan ekonomi Amerika Serikat (AS). Padahal, hingga akhir abad XX AS merupakan penguasa ekonomi dunia, jauh meninggalkan Tiongkok.

Tak pelak, pencapaian yang diraih Tiongkok menimbulkan persaingan dengan AS. Bahkan, untuk menahan laju perekonomian Tiongkok, AS membangun jalur perdagangan transpasifik Trans Pacific Partnership (TPP) pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama 2009 lalu. Sedangkan, Tiongkok, membangkitkan kembali jalur sutera yang pernah dirintis oleh pedagang-pedagangnya pada awal masehi, untuk kembali menguasai perekonomian dunia.

Lalu di manakah posisi Indonesia? Sebagai negara yang memiliki posisi geografis yang sangat strategis, Indonesia dapat masuk dalam kedua kutub persaingan dua jalur perekonomian dunia. Tapi apakah Indonesia harus memilih salah satu diantaranya atau Indonesia dapat membuat poros baru perdagangan dunia?

Melalui buku ini, Komarudin Watubun mencoba menawarkan sebuah gagasan agar Indonesia untuk dapat membuat poros perekonomian dunia yang baru? Di mana, bagaimana, dan mengapa, Indonesia mesti membangun poros perekonomian itu?

Komarudin menawarkan gagasan bahwa Maluku dapat dijadikan sebagai poros perekonomian Indonesia abad XXI. Pertanyaan yang kemudian muncul, kenapa harus Maluku? Kenapa poros perdagangan dunia tidak dimulai di bagian Barat Indonesia yang sudah memiliki sarana dan prasarana yang lengkap dibandingkan wilayah Timur Indonesia seperti Maluku?

Secara umum, buku ini terdiri atas tiga bagian yakni kondisi Maluku dan Indonesia saat ini, sejarah Maluku, dan strategi untuk mewujudkan Maluku sebagai pusat perekonomian Indonesia dan dunia. Penulis mengungkapkan empat tesis untuk memperkuat alasan pemilihan Maluku menjadi titik perdagangan Indonesia dan dunia.

Pertama, tentu nilai historis dan ekonomis Maluku bagi Nusantara sejak abad XII hingga abad XX. Layaknya Tiongkok yang membangkitkan kembali jalur sutera, sejarah semestinya tidak menjadi benda mati dan hanya menjadi pelajaran menghafal di sekolah. Sebab, dalam perjalanan sejarah nusantara, Indonesia terutama Maluku pernah memiliki jalur perekonomian sendiri. Jalur tersebut dinamakan jalur rempah, Maluku menjadi titik pusatnya.

Dalam catatam sejarah, Maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbaik dunia yang merupakan komoditas perdagangan termahal mengalahkan harga emas di dunia pada abad XVI. Bahkan, selama abad XVI—XVIII Maluku memasok kebutuhan rempah-rempah dunia yang melahirkan globalisasi, jaringan maritim dunia, inovasi, dan revolusi sistem keuangan dan korporasi global pertama kali di dunia (hlm.247).

Bahkan, karena kekayaannya, Spanyol dan Portugal sebagai kekuatan imperialis kuno memperebutkan Maluku. Perselisihan tersebut bahkan  menghasilkan Perjanjian Zaragoza yang membagi belahan bumi barat di antara Spanyol dan Portugal dan diprakarsai oleh Paus pada 7 Juni 1494.

Judul Buku : Maluku, Staging Point RI Abad ke-21 Penulis : Komarudin Watubun Penerbit : Yayasan Taman Pustaka Tahun Terbit : Cetakan I, November 2017 Tebal : vi + 431 halaman Harga : Rp.120.000

Namun, tak hanya dua negara tersebut yang memperebutkan Maluku, Belanda pun pada Dua abad setelahnya, ikut dalam persaingan memperebutkan Maluku. Sebab, siapa yang dapat menguasai rempah-rempah Maluku, maka akan dapat menguasai perdagangan Eropa (hlm.274) Hal itu merupakan nilai historis dan strategis Maluku.

Kedua, Geostrategis Maluku dan Indonesia. Posisi Maluku dan sekitarnya memiliki jalur-jalur terbuka yang sangat banyak, khususnya bila zona Maluku dan sekitarnya dijadikan basis produksi, penyedia, dan transit arus komoditi jasa, mineral strategis, manuisa, barang, jasa, uang dan informasi. Sebab, wilayah Maluku sangat terbuka ke Filipina, Brunei, Australia, Papua Nugini, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok hingga Australia.

Maluku dapat menjadi opsi lain sebagai titik pusat jalur perdagangan Indonesia. Sebab, bila mengikuti rute yang dibangun oleh Belanda yang berpusat pada Jakarta dan melalui commercial hub atau transit di Singapura yang dibangun oleh Inggris, maka komoditas dari Indonesia sangat terbatas. Tak hanya itu, jalur itu hanya menguntungkan Singapura (hlm.129).

Ketiga, faktor mineral strategis Maluku. Maluku memiliki kekayaan alam selain rempah-rempah yaitu ladang gas Blok Masela. Blok Masela merupakan ladang gas abadi yang dimiliki oleh Indonesia dengan cadangan gasnya yang bisa bertahan selama 70 tahun ke depan. Cadangan gasnya mencapai 10,73 triliun cubic feet (tcf).

Selain itu, produk dari gas dapat diolah kembali menjadi 200 produk turunan (hlm.74). Bahkan, Rizal Ramli saat masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman menyatakan, apabila dikelola dengan baik, maka ladang Blok Masela dapat mengalahkan penghasilan gas dan minyak Qatar.

Keempat, seleksi alam dan segitiga arus alam Maluku selama ini pada tiga tingkat global.  Secara historis ratusan tahun sejak pramasehi, kebutuhan masyarakat dunia dapat dipasok dari kawasan arus alam Papua, Maluku, dan Nusa tenggara Timur (NTT). Zona tersebut merupakan satu garis alam (hlm.395).

Pola hubungan alam zona-zona tersebut saling terkait, saling mendukung, dan saling melindungi. Oleh sebab itu, penerapan strategi sosial, ekonomi, dan lingkungan pada zona tersebut akan perubahan signifikan dan bersamaan pada seluruh sektor yaitu pertanian, kehutanan, perikanan, kelautan, peternakan, dan perhubungan baik secara nasional maupun internasional.

Posisi Indonesia—terutama Maluku—yang sangat strategis semestinya dapat dijadikan untuk membangun poros perekonomian baru, bukan harus memilih antara jalur transpasifik AS dan jalur sutera Tiongkok. Tentu saja, pembangunan Maluku menjadi poros ekonomi baru Indonesia harus dapat menyejahterahkan rakyat Maluku dan Indonesia.

Sebab, hingga saat ini, dibalik kekayaan alam yang melimpah, Provinsi Maluku menjadi salah satu provinsi miskin di Indonesia. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran Indonesia pada Agustus 2017 mencapai 7,04 juta orang atau naik 10 ribu orang dari bulan sebelumnya yang tercatat 7,03 juta. Dengan demikian, Provinsi Maluku menjadi daerah dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi (TPT) dengan persentasi 9,29 persen.

Oleh sebab itu, buku ini sangat layak untuk dibaca oleh semua kalangan, terutama pemerintah dan rakyat Indonesia khususnya Maluku. Bagi pemerintah, buku ini dapat dijadikan sebagai pedoman untuk membangun perekonomian yang berpihak pada rakyat. Sedangkan, bagi rakyat Maluku, buku ini mengingatkan agar kita tak lengah atau terlena dengan kekayaan alam yang dimiliki. Kita tentu tak ingin mengulangi kesalahan pengelolaan kekayaan alam yang kita miliki di Papua yang tak memberi dampak bagi rakyat Indonesia. Selain itu, buku ini banyak memiliki data-data yang sangat lengkap, baik data sejarah maupun data ekonomi dan geostrategis politik dunia.

Kita tentu tak ingin terus membenarkan sebuah adagium bahwa kekayaan alam suatu negara adalah kutukan. Kekayaan alam hanya menghasilkan konflik dan kemiskinan bagi sebuah negara. Kita tentu ingin membuktikan bahwa kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia dapat menyejahterakan rakyatnya. Sehingga, sila kelima dalam pancasila bukan lagi sebuah cita-cita, melainkan sebuah realitas dan keniscayaan bagi rakyat Indonesia.

*) Virdika Rizky Utama, Penulis dan Wartawan Majalah GATRA

Continue Reading

Milenia

Marlina dan Perlawanan Perempuan

mm

Published

on

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, film yang masih tayang di bioskop ini menghadirkan perempuan dan penindasan. Tokoh perempuan yang diceritakan dalam film ini merupakan sebuah upaya pembuat film dalam menyebarkan pesan keberanian. Film ini memuat semangat juang para perempuan yang akhirnya keluar dari penindasan yang mereka alami selama ini. Perempuan yang acap kali dicap sebagai sosok yang lemah berhasil dipatahkan lewat adegan demi adegan di film ini.

Marsha Timothy sukses memainkan karakter Marlina. Ini dibuktikan dengan penghargaan tingkat dunia yang berhasil ia gondol. Marlina digambarkan sebagai perempuan yang tidak cuma diam membisu saat dirinya diopresi oleh sekelompok laki-laki. Ia dengan gagah melawan perlakuan semena-mena dari para lelaki. Tidak mudah bagi Marlina untuk lepas dari cengkeram kuasa jahat para lelaki.

Marlina, seorang janda yang ditinggal mati suami dan anaknya harus rela rumahnya didatangi sekawanan pria. Gerombolan laki-laki itu menyatroni rumahnya dengan maksud mengambil hewan ternak kepunyaan Marlina sebagai pengganti hutang yang belum terbayar. Pada awalnya, Marlina menuruti permintaan demi permintaan para perampok dari mulai menyuruh dibuatkan minum, makan, hingga pasrah ketika sapi, babi, dan binatang lain miliknya digiring naik ke atas truk. Namun ia sangat cerdik rupanya. Ia telah membubuhi racun ke dalam makanan yang akan disajikan kepada para laki-laki tak tahu diri itu. Satu persatu para laki-laki itu tumbang dan tak berdaya dengan racun yang merasuki tubuh.

Tersisa tiga dari tujuh laki-laki yang belum meregang nyawa. Salah satunya Markus, pria berumur separuh abad ini merupakan yang tertua di antara rekan-rekan perampok. Markus tak sampai teracuni sup ayam buatan Marlina karena mangkuk supnya jatuh dan pecah. Peran pria uzur ini diperagakan oleh Egi Fedly. Nafsu birahi Markus tersalurkan dengan memperkosa Marlina. Sayangnya nasib malang tak dapat ditolak. Kepuasan Markus harus ditukar dengan hilang nyawanya. Marlina terus memberontak saat disetubuhi, hingga parang pun melayang menebas kepala Markus.

Perwujudan Perempuan yang Tampil Bertindak

Alur kisah dalam film ini pun berlanjut. Marlina yang mencari keadilan segera menuju ke kantor polisi. Kepala Markus yang sudah terpenggal ia tenteng ke mana-mana. Marlina tak gentar menuntut hukuman setimpal bagi para bandit yang masih hidup atas apa yang menimpa dirinya. Potongan tubuh Markus yang kadang kala membuntutinya pun tidak menyurutkan niat Marlina.

Marsha Timothy, Pemeran Utama Film “Marlina the Murderer in Four Acts”

Marlina sukses melampaui anggapan dari aliran feminism eksistensialis. Feminisme eksistensialis memandang perempuan sebagai jenis kelamin kedua atau the second sex yang mendefinisikan dirinya liyan. Sedangkan laki-laki melabeli dirinya sebagai Sang Diri. Ia ada untuk dirinya. Liyan bertugas melayani Sang Diri. Wanita disimbolkan sebagai objek yang dikuasi Diri atau subjeknya. Ada relasi kuasi superioritas dan inferioritas.

Marlina unggul pada tamatnya cerita, meski di permulaan sempat beradu dan tunduk sementara pada laki-laki. Penggiat feminism eksistensialis, Simone de Beauvoir menegaskan, dalam dunia patriarki, perempuan tidak bisa lepas dari jerat dunia laki-laki, perangkap ini merupakan tanda penguasaan laki-laki terhadap perempuan. Para bandit-bandit sepertinya menerapkan pemikiran itu.

Bentang alam Sumba menjadi latar perjalanan Marlina ke polsek terdekat dari rumahnya. Film ini juga menggambarkan betapa ketersediaan sarana transportasi masih jarang di Sumba. Untuk mendapat tumpangan bus truk, warga harus menanti selama satu jam. Begitu pula Marlina. Bahkan ia harus menyambung perjalanannya dengan menunggangi kuda.

Fakta tersebut sangat kontras dengan mudahnya akses komunikasi, yang ditunjukkan dengan adanya interaksi antar tokoh yang sedang berkomunikasi lewat telepon seluler. Film ini pun tak sepenuhnya menikam penonton dengan terus-menerus meneror lewat bayangan seram dan berdarah-darah. Kejadian-kejadian menggelitik mengundang tawa dimunculkan lewat dialog khas Sumba.

Lagi-lagi, pemahaman mengenai perempuan  punya kekuatan untuk menantang sekaligus menentang ketakberpihakan yang menimpa ingin ditularkan kepada penonton dari film ini. Tokoh Mama dan Novi turut mengokohkan film ini sebagai propaganda agar perempuan jangan mau diinjak nasibnya oleh laki-laki.

Mama di sini diperankan sebagai wanita yang tak menampakkan rasa takut sama sekali meski melihat Marlina membawa kepala Markus tanpa dibungkus kain. Berbeda dengan penumpang lelaki yang justru ketakutan dan berusaha menghindar dari Marlina. Mama juga memiliki andil besar dalam perkawinan keponakannya. Ia ditugasi untuk segera mengirim tambahan kuda sebagai semacam mahar bagi ponakan laki-lakinya yang akan menikahi seorang perempuan. Adegan ini merefleksikan bagaimana laki-laki seolah-olah bisa menebus perempuan dengan harta sebagai penggantinya.

Novi, teman Marlina ikut menambah gambaran betapa kuatnya perempuan Sumba. Novi yang tengah mengandung 10 bulan ikut membantu Marlina dalam mengatasi kisruh dengan para bandit laki-laki. Novi bahkan tanpa ragu-ragu memenggal kepala Frans yang memerkosa Marlina pada babak akhir. Kondisinya yang sedang hamil besar tidak menghalangi langkahnya dalam menghadapi ulah para lelaki yang semena-mena, termasuk Umbu, suaminya. Setiap detil percakapan atau laku dalam film ini benar-benar mencerminkan usaha untuk memberi panduan kepada masyarakat tentang bagaimana memandang perempuan dan laki-laki secara setara. Status janda, kemiskinan, kehamilan, harta, pernikahan, pemerkosaan, dan aparat hukum merupakan sedikit dari banyak hal yang coba ditonjolkan lewat film ini.

Kehamilan perempuan begitu diatur sedemikian rupa oleh konstruksi pikiran masyarakat. Novi menanggung akibat dari masyarakat yang terlalu menyetir urusan reproduksi perempuan itu. Suami Novi menyimpan rasa ketidakpercayaan kepada Novi yang konon hamil sungsang, tak kunjung melahirkan. Umbu termakan hasutan masyarakat dan orang lain, daripada memilih yakin dengan istrinya.

Novi menyepakati kepercayaan yang dipegang para penganut paham feminism radikal. Feminisme radikal libertarian berprinsip bahwa orang lain tidak perlu mencampuri urusan reproduksi perempuan. Seksualitas adalah ranah pribadi yang tak usah diganggu oleh omongan masyarakat. Dominasi atas lingkup privat berarti pelanggaran yang lebih luas dan berbahaya hingga ke wilayah publik. Novi tak mengambil pusing dengan desas-desus orang-orang mengenai kehamilannya yang tak kunjung lahir. Baginya, tubuh perempuan adalah milik perempuan itu sendiri. Perempuan bebas menentukan apapun yang berhubungan dengan raganya termasuk urusan reproduksi dan kesehatan.

Marlina terpaksa mendapat kesialan yakni diperkosa karena status jandanya. Markus bahkan berujar, Marlina akan menjadi perempuan paling beruntung karena akan tidur bergilir dengan para lelaki. Kehebatan Marlina pun terpapar, ia tidak diam dan sanggup menampik perkataan Markus. Menyandang status janda sangat riskan saat hidup di masyarakat. Apalagi diperparah dengan perkosaan yang dilakukan Markus dan Frans. Penderitaan Marlina sungguh bertumpuk.

Aparat hukum pun lemah dan tak kunjung menyelesaikan aduan pemerkosaan yang dilaporkan Marlina. Polisi justru sibuk bermain ping-pong. Aparat kepolisian malah mengutarakan berbagai alasan seperti tidak ada kendaraan operasional, dan ketiadaan fasilitas kesehatan saat Marlina membutuhkan penuntasan dan pengusutan kasusnya segera.

Apa yang disuguhkan dalam film ini menunjukkan sebuah kegagalan dari sistem patriarki dan dampak buruk dari dominasi laki-laki. Perempuan yang terkena masalah kekerasan seperti pelecehan seksual, pemerkosaan, dan kekerasan dalam rumah tangga tampak dibiarkan saja. Perempuan dinilai pantas memeroleh itu semua dan tak berhak protes karena seperti itu garis hidupnya. Gejala yang mengkhawatirkan bagi kehidupan masyarakat apabila praktik penindasan diabaikan tanpa penyelesaian.

Film ini juga mengulas secara satir bagaimana sarana sanitasi masih minim di daerah pedalaman. Novi dan Marlina terlihat dalam secuil adegan tengah kencing di padang sabana. Mereka seakan lumrah dengan kebiasaan tersebut karena memang terbatas fasilitas.

Akting para artis dalam film ini sangat memukau dan berkesan. Diputarnya film ini, diharapkan bisa mengembalikan kejayaan dunia sineas Indonesia. Dan semoga opresi terhadap perempuan bisa terhenti. Baik perempuan dan laki-laki sama-sama menyadari kedudukan mereka setara, tidak ada yang tinggi atau rendah. (*)

 

*) Shela Kusumaningtyas: Lahir di Kendal, 24 November 1994. Seorang penulis. Tulisannya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

Continue Reading

Classic Prose

Trending