Connect with us

Buku

Y.B. Mangunwijaya, Burung-Burung Manyar Romo Rahadi

mm

Published

on

Novel ini justru lebih kuat dan lebih utuh sebagai novel dibanding dengan Burung-Burung Manyar. Novelnya yang satu ini terlalu sara dengan renungan dan pemikiran. Dan dalam hal ini Mangunwijaya memang sudah membuktikan mampu dan berbobot lewat esei dan artikel-artikelnya. Romo Rahadi adalah novel yang penuh dengan emosi tetapi sekaligus tidak lepas dari tinjauan-tinjauan logisnya. Justru karena unsur inilah novel Romo Rahadi lebih utuh sebagai rumusan pengalaman manusia. Burung-burung Manyar yang banyak memuat refleksi-refleksi jiwa itu justru kurang mampu membawa pembacanya ke dalam suasana pengalaman yang beraneka aspek itu.

Mangunwijaya adalah seorang pastor yang banyak menulis di berbagai dia penerbitan umum, baik surat kabar maupun majalah. Mula-mula dikenal sebagai kolumnis masalah sosial dan budaya di harian Kompas. Kumpulan esei-eseinya itu sudah dikumpulkan menjadi buku berjudul Puntung-Puntung Roro Gendut. Pengetahuannya yang luas dan penguasaannya atas beberapa bahasa berat mempengaruhi tulis-tulisannya. Esei-eseinya menunjukkan kepadatan namun diungkapkan dengan nada senda gurau yang ringan.

Kepengarangan Awal Mangunwijaya bisa dilihat dari dua novelnya yaitu Burung-Burung Manyar dan Romo Rahadi. Novelnya yang kedua ini sebenarnya justru ditulis pertama kali. Romo Rahadi mengisahkan problematik kejiwaan seorang pastor muda dalam menghadapi naluri-naluri kelaki-lakiannya dengan kekuatan panggilan manatannya.

Novel ini, lebih sedikit diketahui pembaca hari ini, walau begitu lebih menarik lagi karena bersetting di pedalaman Jaya. Gaya bahasa Mangun tak bisa dibedakan dengan kebanyakan eseinya. Justru dalam novel-novelnya nampak sekali adanya unsur esei yang selalu ingin memberi penjelasan secara argumentative. Dalam novel Romo Rahadi gaya sudah mulai berkurang. Romo Mangun sendiri menamakan romannya Burung Burung Manyar sebagai roman esei. Dalam kematangan visi dan luas pengetahuannya ia boleh disejajarkan dengan tokoh semacam Sutan Takdir Alisjahbana yang juga mengisi roman-romannya yang tebal dengan penjelasan-penjelasan yang eseis.

Burung-Burung Manyar.

Tentang revolusi Indonesia dan patriotisme telah banyak ditulis dalam sastra Indonesia. Tetapi point of view dan sikap melihat revolusi itu masih tetap dari segi Indonesia. Setelah revolusi itu berlalu 35 tahun rupanya orang mulai melihatnya secara kritis dan obyektif. Cara melihat demikian dimungkinkan oleh banyak peristiwa yang sudah cukup menyejarah dank arena banyak dari generasi jarang yang tidak mengenal revolusi itu secara langsung.

Kolumnis Y.B. Mangunwijaya adalah orang pertama yang mencoba melihat revolusi itu dari segi yang boleh dikatakan obyektif, bahkan agak cenderung melihatnya dari segi Belanda. Kalau sejak novel Keluarga Gerilya sampai dengan Maut dan Cinta nasionalisme dan patriotisme selalu menonjol menjadi tema dan suasana cerita, dengan protagonis orang-orang Indonesia yang bersedia mati buat tanah air, maka Y.B. Mangunwijaya dengan novelnya (dia menyebutnya roman) Burung-Burung Manyar ini memasang protagonis orang Indonesia yang anti Republik, yakni seorang KNIL, dengan pandangan yang mencemooh perjuangan dan dibawakan dengan nada ejekan yang humoristis sesuai dengan gaya dia dalam menulis esei-eseinya di koran. Barangkali segi inilah yang menarik dari novel pertama Mangunwijaya ini.

Novel ini bercerita tentang Setadewa seorang anak tunggal dari ibu Indo-Belanda dengan seorang bangsawan keraton Solo. Sang ayah yang lulusan Akademi Militer Breda inilah yang mendorong Setadewa masuk tentara KNIL waktu revolusi meletus. Tetapi alasan utamanya adalah lantaran kedua orang tuanya menjadi korban keganasan Jepang, dan Sukarno Hatta waktu itu bekerja sama dengan Jepang. Juga pemerintahan R.I. yang kemudian terbentuk dinilainya sebagai bikinan atau meniru Jepang. Ia membenci Indonesia karena alasan-alasan pribadi saja dan bukan prinsipiil ideologis. Motivasi ini barangkali cukup masuk akal. Sebab pemuda ini dididik oleh seorang militer yang dinas dalam KNIL dan masa mudanya terpuruk kebanggaan militer Belanda. Namun alasan Seta untuk tidak menyukai Indonesia bahkan memusuhinya karena Sukarno Hatta yang mendirikan R.I. bekas pegawai Jepang, rasanya merupakan alasan psikologis yang kurang dijelaskan secara baik. Terlalu sedikit penggambaran kejiwaan atau konflik kejiwaan dalam hal ini. Kalau orang tua mereka binasa akibat kekejaman Jepang mengapa ia membenci dan melampiaskan dendamnya pada bangsa Indonesia yang sebenarnya juga menjadi korban keganasan?

Tetapi konflik kejiwaan Seta ini hanyalah sampingan belaka. Penggarapan pengarang terutama pada masalah percintaan Seta dengan gadis bangsawan teman sekolahnya yang juga berdarah bangsawan, yakni Atik Larasati. Diam-diam kedua remaja ini saling menaruh hati (episode tahun 1934-1942) sampai pecahnya perang dunia dan kedatangan Jepang di Indonesia. Setelah proklamasi Seta memutuskan untuk bekerja sebagai tentara KNIL, sedang Atik justru bekerja sebagai penterjemah pada staf perdana menteri Syahrir. Rupanya hambatan inilah yang merupakan problem utama novel. Seorang KNIL mencintai seorang gadis Republik. Meskipun Seta berusaha tetap menjalin hubungan namun cinta tak mungkin diteruskan. Tetapi rupanya cinta terpendam ini begitu mendalam sehingga pada tahun 1978 Seta yang sudah berumah tangga (dan gagal) mencoba mengadakan “sentimental journey” ke Jawa dan menemui bekas kekasihnya di zaman Belanda dulu. Ternyata Atik juga tak melupakan.

Kelemahan konflik utama cerita ini adalah penggambaran cinta yang begitu platonic. Seta dan Atik sebenarnya tidak pernah menjalin hubungan cinta secara mesra betul. Peristiwa-peristiwa pacaran tak pernah terjadi, tetapi keduanya begitu memendam cinta yang begitu dalam. Dalam sejarah barangkali karakter begini bisa dikembalikan pada penyair Dante Alighieri. Bahkan waktu kedua asyik masyuk ini bertemu berdua saja di rumah kosong tak terjadi peristiwa cinta yang cukup sederhana. Meteka hanya berpelukan. Dan keduanya memendam cinta membara. Dan Seta adalah seorang prajurit KNIL yang tergolong bersih dalam urusan dengan seks. Masak tidak lebih hanya berpelukan saja? Toh persitiwa ini sanggup membuat kedua orang yang kelak sudah dewasa dan berkeluarga ini masih tetap saling mengharap akan bertemu dan menjalin hubungan asmara lagi. Dalam takaran ini jelaslah bahwa Mangunwijaya mentrapkan “mawar berduri” dalam kisah cinta novel Indonesia.

Meskipun tema sentral ini agak lemah, tetapi saya justru menaruh perhatian pada sikap-sikap Seta yang anti Indonesia ini. Di samping itu informasi kehidupan tentara KNIL dari dalam baru kali ini ditulis dalam sastra Indonesia. Penilaian Seta yang sinis dan merendahkan pemimpin-pemimpin Indonesia pada masa gawatnya revolusi sesuai betul dengan gaya pengarangnya yang secara intelektual suka mengejek keterpelajaran itu. Inilah pelopor fiksi yang mencoba melihat sejarah secara obyektif. Tidak ada lagi sentimental rendah yang selalu menggambarkan setiap memihak perjuangan adalah otomatis luhur dan suci. Mangunwijaya menyadarkan pembacanya bahwa kedua belah fihak adalah manusia. Mereka mendukung kebenarannya sendiri-sendiri. Dan penilaian terserah pada pembacanya. Saya kira dengan melihat secara obyektif dan tidak memihak ini justru makin jelaslah “kebenaran” dan nilai perjuangan revolusi Indonesia. Yang kita inginkan sekarang bukan lagi kecengengan dan sentimentalitas, tetapi hakekat. Dan jalan menuju ke sana tidak bisa ditempuh hanya dengan melihat dari satu segi pandangan saja, yakni segi Indonesia yang selalu bertindak sebagai protagonis. Patriotisme dan nasionalisme yang lebih murni mungkin akan lebih terpatri kalau kita juga diajak masuk dalam pikiran antagonis kita, Belanda pada waktu itu. Dan Mangunwijaya mencoba menyuguhkan sekelumit pikiran antagonis kita itu.

Gaya bercerita pengarang untuk novel yang begini panjang cukup melelahkan. Ini disebabkan karena Mangunwijaya terlalu banyak memakai tehnik narasi. Semua kejadian dituturkan dan dikomentari secara panjang lebar. Novel yang begini tebal perlu penceritaan dramatic yang dapat menimbulkan suasana cerita sehingga pembaca larut dalam pengalaman konkrit pelaku utamanya. Juga point of view yang diambil pengarang pengarang dengan tehnik “akuan” ternyata tidak mampu mendukung semua informasi kejadian, dan untuk itu dipakai tehnik Omniscient (kejadian dilihat dari atas). Akibatnya pengarang harus bolak balik antara dua tehnik tersebut. Dan celakanya dua tehnik ini memiliki gaya yang sama. Dengan demikian jelas sekali bahwa pribadi pengarang larut atau menjelma dalam pribadi tokoh ciptaannya, Setadewa. Suara dan gaya Mangunwijaya menjadi gaya Setadewa.

Mangunwijaya juga terlalu banyak memasang “ gambar mati” buat melukiskan kejadian cerita. Rentetan kejadian yang menggambarkan perjalanan konflik tidak dipasang dalam kisah yang mengalir dan “hidup” (gambar hidup) tetapi dalam bentuk slide. Adalah khas Mangunwijaya untuk menghentikan sebuah peristiwa dalam cerita dan memberi komentar inilah yang membuat novel berjalan sangat lamban. Namun tetap harus diakui bahwa komentar-komentarnya tetap punya nilai intelektual yang tinggi dan menunjukkan keluasan pengetahuan pengarang. Tetapi novel adalah novel bukan esei yang menerangjelaskan.

Akhirnya nilai buku ini terutama terletak kepada keberanian pengarang untuk mengisahkan konflik jiwa seorang anti-republik semasa revolusi, sebagai informasinya tentang kehidupan tentara Knil dan gaya humor pengarang yang kadang-kadang terselip ejekan yang penuh kejutan. Hanya tehnik penyajian saya kira yang membuat novel ini nampak sebagai bacaan yang berat. Novel ini miskin peristiwa, terlalu banyak renungan.

Romo Rahadi

Novel ini justru lebih kuat dan lebih utuh sebagai novel dibanding dengan Burung-Burung Manyar. Novelnya yang satu ini terlalu sara dengan renungan dan pemikiran. Dan dalam hal ini Mangunwijaya memang sudah membuktikan mampu dan berbobot lewat esei dan artikel-artikelnya. Romo Rahadi adalah novel yang penuh dengan emosi tetapi sekaligus tidak lepas dari tinjauan-tinjauan logisnya. Justru karena unsur inilah novel Romo Rahadi lebih utuh sebagai rumusan pengalaman manusia. Burung-burung Manyar yang banyak memuat refleksi-refleksi jiwa itu justru kurang mampu membawa pembacanya ke dalam suasana pengalaman yang beraneka aspek itu.

Keistimewaan novel ini adalah pada tema yang digarapnya. Ia membicarakan jabatan pastor dan segala konsekwensinya. Istimewa sekali menyorot pribadi room atau pastor sebagai manusia dan lelaki. Jabatan dalam agama ini bukan sekedar jabatan. Ia adalah “panggilan” Tuhan. Memang ada kebebasan bagi pejabatnya untuk langsung menerima tugas dan jabatan pastor atau meninggalkannya, dan justru karena itu sifat panggilannya akan menonjol, seperti dibuktikan oleh novel tebal ini.

Albertus Rahadi adalah pemuda Jawa yang disambut gembira oleh keluarganya waktu ia menyatakan diri masuk sekolah pastor (seminari). Ini anugerah Tuhan bagi keluarga Katolik yang taat itu. Namun Rahadi adalah pemuda sehat jiwa raga. Setelah menjadi imam atau room ia datangi gadis Indo – Veitnam, waktu di Jerman, bernama Hildegrad. Gadis yang secara budaya tidak mampu lagi hidup di Barat mencari pegangan baru dan memperolehnya pada figur Rahadi. Hanya sayang pemuda sehat ini adalah pastor. Tetapi keduanya sudah saling cocok dan bersahabat untuk tidak mengatakan cinta mencintai. Perkenalan ini untuk sementara terputus ketika Rahadi harus kembali ke Indonesia. Dan dalam perjalanan Rahadi ke Irian, untuk berlibur dan sekaligus merefleksi dirinya apakah ia akan terus memantapkan dirinya sebagai romo atau tidak, secara diluar dugaan ia sepesawat dengan Hilde yang dalam perjalanan petualangannya ke Irian atas undangan pamannya seorang anthropolog. Kenangan-kenangan lama muncul kembali, dan rasa saling membutuhkan sebagai manusia “lengkap” hidup kembali. Di Irian Rahadi berpisah dengan Hilde, tetapi bertemu kembali dengan Rosi kawan dan “pacar” sebelum menjadi pastor. Dalam suatu peristiwa balas dendam sesuatu suku, Hilde bersama beberapa lelaki asing diculik dan dibawa masuk ke dalam hutan rimba. Pertolongan yang diberikan Rahadi untuk menyelamatkan Hilde adalah masuk ke dalam rombongan militer yang dipimpin oleh abang iparnya. Sayang, Hilde tak tertolong dan menjadi korban satu-satunya. Rahadi mendapat pukulan berat, bukan karena Hilde sebagai wanita saja tetapi juga kawatir Hilde kecewa terhadap pencarian ketenangan batinnya yang diburu-buru selama ini. Pukulan jiwa ini dapat dipulihkan oleh dokter Rosi yang janda kembang. Keduanya tergoda begitu hebat untuk saling melengkapi diri sebagai layaknya orang awam. Hampir saja Rahadi siap meninggalkan jubahnya, tetapi si wanita justru yang paling kuat menolak mengingat kehidupan mereka kelak di masyarakat. Bagaimana bisa tenang hidup bersama “bekas pastor” di tengah bekas domba-dombanya? Novel diakhiri dengan tekad bulat Rahadi untuk kembali ke Jakarta, kepada kehidupan nyata penggembalaannya sebagai pastor.

Nampak bahwa jabatan pastor dalam novel ini menyangkut masalah rohani dan iman. Ia bukan sekedar pemimpin umat dalam arti sosial. Godaan-godaan deras terhadap wanita dan kehangatan cintanya yang nyata membuat Rahadi berkali-kali goncang. Namun justru dalam tempaan-tempaan godaan ini Rahadi sanggup menyelami dasar samodra panggilannya. Kegagalan-kegagalan percintaannya bukan lantaran kemauan dirinya. Ia cenderung mau. Tetapi kedua wanitanya menolak dengan turun tangannya takdir dan kesadaran berkorban. Hilde meninggal dan Rosi memang tidak mampu hidup dengan “bekas pastornya” meskipun cintanya hanya pada dia.

Gambaran figure Rahadi sebagai lelaki dan manusia normal amat mengesankan. Potret kehidupan jiwa seorang romo amat jelas tergambar. Mangunwijaya mampu menghadirkan godaan-godaan sensualitas secara hidup sekali. Penilaian-penilaian Rahadi sebagai pastor terhadap wanita muda sama hidupnya dengan lelaki normal mana pun. Dibalik jubah itu berdetak naluri-naluri alami yang biologis. Ia mengalir disana secara deras dan sehat. Namun jabatan sebagai pastor yang dilandasi aturan keras dalam selibat (tidak boleh menikah selama hidup), yang lebih merupakan perjanjian pribadi, membatasi aliran hidup itu. Konflik jiwa Rahadi antara memetik dan terus takwa kepada perjanjian, membawa dia masuk ke dalam hakekat kebebasan manusia dalam menentukan pilhan-pilihannya dalam hidup ini. Dan arti kebebasan manusia dalam menentukan pilihan-pilihannya dalam hidup ini. Dan arti kebebasan manusia diberi rumusan yang jitu. Kebebasan mengandung mengandung resiko gagal, sedang kepastian dala keimanan yang kalau dibrikan mesti selamat tanpa resiko kegagalan, lebih disukai Rahadi. Ketenangan dalam kegelisahan. Konflik-konflik jiwa Hilde, Rahadi, Rosi semuanya membawa pembaca ke dalam pemikiran-pemikiran mendalam dan mendasar. Untuk ini dengan sendirinya pembaca berhak menolak atau menerimanya tergantung dari falsafah hidup masing-masing. Tetapi pengarang berusaha untuk mendudukkannya dalam taraf pemikiran yang rasional saja, meskipun tak bisa dielakkan juga dasar pandangan hidup pengarangnya yang pastor itu. Itu nampak dalam pandangannya tentang kebebasan tadi.

Keistimewaan lain dari novel ini adalah setting Irian yang digambarkan dengan sangat otentik. Penggambaran hutan rimba dan topografinya yang teliti nampaknya berdasarkan pengalaman yang nyata. Juga kebudayaan mereka dan tempatnya dalam peta kebudayaan manusia serta maknanya yang masih tetap aktual digambarkan dengan takaran intelektual dan pengetahuan yang luas. Dan memang inilah gaya Mangunwijaya yang menonjol kaya referensi budayanya, tangkas daya pikirnya, humoritis dalam menanggapi kehidupan dan kepekaannya dalam rasa bahasa yang amat beragam itu. Namun gaya ini juga bisa membawa bahaya kalau lepas control. Dalam novel ini nampak dalam bagian penggambaran kehidupan keluarga Swantaji yang terlalu bertele-tele, semata-mata hanya untuk adegan-adegan kelucuan anak-anak yang kurang memberikan aksentuasi pada pokok cerita. Bahkan bagian ini agak mengganggu kelangsungan cerita.

Suatu masalah yang kini ramai diperbincangkan tentang masuknya sastra lesan dalam penulisan, kiranya amat menonjol dalam karya-karya Mangunwijaya. Membaca humor-humor Mangunwijaya orang cepat sekali ingat bagaimana kata-kata semacam itu diucapkan. Artinya kita baru bisa menikmati nilainya secara lengkap kalau diperagakan, sebab hal itu dipungut dari kenyataan lesan. Dengan sendirinya referensi budaya bahasa itu harus dimiliki oleh si pembaca. Dalam masalah bahasa lesan ini apakah merupakan unsur yang memperkaya sastra atau justru malah memerosotkannya, bisa melahirkan banyak pendapat. Dalam hal ini jelas sekali bahwa unsur bahasa lesan (yang dituliskan) hanya bisa dinikmati oleh pemiliki bahasa yang bersangkutan saja, meskipun dalam bahasa Mangunwijaya ini  jauh lebih tertib misalnya dengan sajak-sajak Darmanto, atau Umar Kayam.

Novel ini menunjukkan bahwa karya sastra seharusnya merupakan kerja intelektual dan bukan sekedar tukang cerita. Ia merupakan pemikiran yang otentik dan baru. Dalam hal ini jelas bahwa Mangunwijaya lebih dahulu muncul sebagai seorang intelektual yang kemudian memakai media sastra buat berkomunikasi. Dengan sendirinya takaran intelektual seorang sastrawan harus seimbang dengan ketrampilan tehnis keseniannya. Dan dalam hal ini kiranya Mangunwijaya telah mendekati idealisme demikian. Novelnya ini cukup hidup, lancar, sugestif, meskipun ada cacad terlalu lepas rem dalam humornya yang bertele-tele dalam bab tiga. (*)

*Dari berbagai sumber, dikaji oleh Tim Editorial Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Buku

Optimisme dari Chomsky

mm

Published

on

Siapa yang tak kenal dengan Noam Chomsky? Seorang intelektual yang dianggap “nyeleneh” karena selalu berbeda pandangan dalam tatanan keilmuan dan masyarakat Amerika Serikat. Banyak buku yang ia tulis justru untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan Amerika baik dalam maupun luar negeri. Namun, sebenarnya yang ia kritik bukan Amerika, melainkan sistem kapitalisme yang dianut oleh Amerika.

Hampir sama dengan buku-buku yang ia tulis, buku Optimism Over Despair merupakan kekesalan atau lebih tepatnya kemarahan Chomsky terhadap Amerika dan kapitalisme. Buku ini merupakan hasil sebuah wawancara Noam Chomsky dengan C. J. Polychroniou dalam kurun waktu 2014—2016. Meski secara garis besar buku ini sama dengan buku Chomsky lainnya, tapi Chomsky coba menguraikan situasi sosial, ekonomi, dan politik  abad ke-21 dan dampak yang ditimbulkan hingga bagaiamana kita harus menyikapi dampak tersebut.

Menurut Marx, kapitalisme merupakan sebuah hubungan masyarakat yang dibangun atas hubungan-hubungan produksi  dan menghadirkan ketimpangan kelas serta alienasi. Pada perkembangan awal kapitalisme, kapitalisme didasari oleh pemilikan modal yang diwujudkan dalam pabrik dan negara bagian dari kelas tersebut.

Sedangkan, kapitalisme pada abad ke-21 menurut Chomsky jauh lebih buruk. Kenapa dapat dikatakan lebih buruk? Sebab, kapitalisme abad ke-21 sudah menutup akses atau alat bagi masayarakat bawah untuk melakukan mobilitas sosial (hlm.154).

Jika konteks dalam negara, maka negara maju sudah menutup kesempatan bagi negara miskin untuk melakukan perbaikan kehidupan ekonomi. Dengan kata lain, kapitalisme sudah menjadi sebuah kekaisaran besar dengan Amerika sebagai rajanya. Kenapa demikian? Karena Amerika masih menguasai perekonomian dan politik dunia, meski pasca-perang dingin Amerika secara perlahan sudah tidak lagi digdaya.

Dengan dana besar yang dimiliki, Amerika dengan sangat mudah untuk mengintervensi suatu negara dengan memaksakan sistem “plutokrasi”. Plutokrasi dibahasakan oleh Chomsky karena sangat jauh dari cita-cita demokrasi. Jika demokrasi bertujuan untuk memakmurkan rakyat dengan menjamin hak asasi, maka plutokrasi sebaliknya.

Judul Buku : Optimism Over Despair on Capitalism, Empire, and Social Change Penulis : Noam Chomsky dan C. J. Polychroniou Penerbit : Haymarket Books Tahun Terbit : Agustus 2017 Tebal : 210 halaman

Plutokrasi hanya akan memamurkan dan menjamin hak asasi untuk penguasa, sedangkan masyarakat akan terus dieksploitasi melalui serangkaian aturan yang dibuat oleh negara (hlm.155). Dengan kata lain, sosialisme untuk si kaya dan kapitalisme untuk si miskin.

Lalu bagaimana dengan kesenjangan yang dibuat oleh kapitalisme? Chomsky setidaknya menyebut dua masalah besar yakni meningkatnya kekuatan fundamentalisme dan rusaknya lingkungan.

Munculnya fundamentalisme dalam berpolitik dapat tercermin dari terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika. Chomsky menganalisis kemenangan Trump sebagai sebuah bentuk kekecewaan dan frustrasinya rakyat Amerika karena demokrasi dan kemakmuran tidak terjadi di masyarakat.

Poin lainnya, Trump berhasil memainkan sentimen agama untuk menaikan popularitasnya. Sejatinya, “agama” yang dibawa Trump saat pemilu dan memimpin adalah sebuah propaganda untuk membuat garis diametral antara kami dan mereka, malaikat dan setan (hlm.50).

Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam buku How Democracies Die (2018) menyatakan, majunya Trump sebagai calon presiden Partai Republik karena aturan untuk menyeleksi seorang calon presiden sudah memudar yakni dalam poin tidak menyerang secara personal kompetitor dan tidak merendahkan pemilih kompetitor.

Hal ini dilakukan partai Republik dan Trump karena kepentingan bisnisnya terhambat. Disitat dari Cherian George dalam buku Hate Spin (2016) Trump dapat memenangkan emosi warga Amerika yang membuat seolah-oleh ketidakmakmuran warga Amerika adalah korban dari kebijakan yang pro-imigran. Padahal, menurut Chomsky, hadirnya pengungsi di negara-negara maju merupakan sebuah keharusan, sebab negara mereka dibombardir oleh Amerika dan sekutunya.

Selain itu, Trump juga berhasil meyakinkan warga amerika yang mayoritas Kristen sebagai korban dari adanya pengungsi yang beragama Islam yang dinilai akan dapat merebut Amerika. Oleh sebab itu, Trump membuat slogan Make America Great Again. Cara kemenangan Trump ini juga menginspirasi negara-negara lainnya di Eropa dan Asia.

Lalu bagaimana dengan kerusakan lingkungan? Chomsky berpendapat bahwa ini terjadi secara nyata, bukan hanya sebuah iklan terselubung dari produk tertentu agar warga menggunakan atau membeli produknya. Keluarnya Amerika dari Kesepakatan Paris merupakan sebuah kekonyolan terbesar. Kesepakatan yang dibuat pada 2015 lalu, Amerika dan 187 negara lainnya mesti menjaga kenaikan temperature global di bawah 2 derajat Celscius

Terlebih, alasan yang dikeluarkan Trump hanya untuk penghematan anggaran. Demi menjaga kesepakatan itu, Amerika sedikitnya mesti mengeluarkan uang 3 triliun USD. Padahal Amerika merupakan negara dengan penghasil karbon terbesar di dunia. Selain itu, banyak perusahaan Amerika di berbagai negara melakukan penebangan hutan dan membuat kerusakan alam lainnya yang mengancam kelangsungan hidup umat manusia.

Dengan segala kekacauan tersebut, apa yang harus dilakukan?

Tentu saja kita tak memiliki banyak pilihan. Menyitat Gramsci, Chomsky berpendapat akan selalu ada ruang untuk “optimisme kehendak” (hlm.133). Akan tetapi, layaknya seorang filsuf, Chomsky tidak menjabarkan secara rinci bagaimana kita mesti menghadapi kekacauan itu dan mengubahnya menjadi sebuah kebaikan.

Secara tersirat Chomsky masih memercayai adanya kekuatan rakyat. Kekuatan rakyat itu dapat mendesar pemerintah dan membawa perubahan. Akan tetapi, dalam konteks abad ke-21, kekuatan rakyat bukan berarti harus mengadakan sebuah revolusi besar seperti yang terjadi di abad ke-20.

Kekuatan rakyat terjewantahkan dalam sebuah kelompok komunitas. Dengan konsentrasi di bidangnya masing-masing, mereka mesti berjejaring satu sama lain dan dapat melebur sebagai kekuatan baru tanpa sekat negara layaknya kapitalisme saat ini. Sebab, kata Chomsky, kita masih kekurangan asosiasi dan organisasi yang memungkinkan public untuk berpartisipasi dalam  hal yang berarti seperti diskursus politik, social, dan ekonomi (hlm165).

Kita hanya memiliki dua pilihan. Kita bisa pesimis, menyerah, dan membantu keberlangsungan yang terburuk akan terjadi atau kita bisa optimis, menangkap kesempatan yang masih ada, dan mungkin dapat membuat dunia menjadi lebih baik. (*)

*) Virdika Rizky Utama: Periset di Narasi.TV

Continue Reading

Buku

Beberapa catatan bekal membaca drama Menunggu Godot

mm

Published

on

En Attendant Godot adalah karangan penulis Prancis kelahiran Irlandia, Samuel Beckett. Ia berbahasa Prancis laiknya menggunakan bahasa ibu meski ia lahir dan berbahasa pertama Irlandia. Naskah En Attendant Godot diterjemahkan ke dalam bahasa inggris oleh Beckett sendiri dengan judul Waiting for Godot, dan terbit pertama kali di Amerika pada 1954 atau setahun setelah pertama kali dipentaskan dalam bahasa Prancis di Paris 1953.

Dramawan W.S Rendra adalah teatrawan indonesia pertama mengerjakan pementasan dari versi bahasa inggris setelah sebelumnya coba disadur dalam bahasa Indonesia oleh Dosen Fakultas Sastra UGM, Bakdi Sumanto.

Di Indonesia, lakon Godot umum dikenal dengan drama “Menunggu Godot”, dipentaskan pertama kali pada 1969 di Teater Besar TIM oleh Bengkel teater pimpinan W.S. Rendra. Tepat pada saat pengarangnya—Samuel Beckett menerima hadiah nobel berkat Waiting for Godot.

Pada pementasan pertamanya di Paris (1953), dan di Miami, Amerika (1955) lakon Godot mendapat kritikan pedas dari pada pengamat. Akan tetapi ada cerita lain pada tahun-tahun tersebut.

Pada musim semi 1954 Beckett menerima surat dari direktur penjara di Luttringhausen, Jerman, yang meminta ijinnya agar agar lakon Menunggu Godot boleh diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman untuk di pentas di penjara itu. Dan Beckett menyetujuinya. Pada 1957 drama Godot kembali dipentaskan di dalam penjara, yaitu di penjara San Quentin di San Fransisco. Dalam dua pementasan di Penjara tersebut, para napi menunjukkan mereka tidak memahami drama itu secara kognitif, tapi pengalaman yang mereka alami di dalam penjara membuktikan bisa menjadi medium komunikasi untuk bisa menikmati karya tersebut. Bahwa mereka terpenjara dalam penantian, dan menunggu sang kebebasan menjemput.

Sementara itu, berikut adalah beberapa fakta intrinsik dari buku Waiting for Godot yang akan bermanfaat bagi pembaca yang belum pernah menikmati karya besar Beckett dan berniat membacanya:

  • Waiting for Godot bersetting di A country road. A tree. Evening. Tokoh utamanya: Vladimir, Estragon, Pozzo, Lucky dan A boy. Alur: Cyclical, dalam arti akhir lakon menyiratkan alur kembali pada awal. Topik dialog dari awal hingga akhir, berpusat pada akan datagnya tokoh bernama Godot, akan tetapi, hingga akhir lakon, Godot tak pernah datang.
  • Dari rujukan tekstual, tampak, bahwa walau pun tokoh Godot menjadi pusat pembicaraan, topik sebenarnya bergeser dari Godot ke situasi menanti itu sendiri. Oleh karena itu yang dominan bukan tema, tapi suasana menunggu.
  • Walau pun dalam lakon disajikan lima tokoh, tetapi sebenarnya yang penting hanyalah Vladimir dan Estrogan. Mereka adalah tokoh utamanya, dilukiskan seperti dua orang gelandangan, compang-camping, terdampar pada suatu tempat yang mirip nowhere. Teks drama tersebut menyebutkan mereka sangat miskin yang ditunjukkan oleh ucapan dalam dialog dua gelandangan itu, bahwa mereka hanya membawa bekal potongan wortel dan lobak. Mereka sangat kelaparan ditunjukkan dengan keinginan Estrogan memakan tulang sapi atau ayam yang dibuang oleh Pozzo, setelah dagingnya dihabiskan.
  • Sepanjang jalan cerita, dari dua tokoh utamanya menunjukkan bahwa mereka sejak awal; mengisyaratkan keputusasaan, bicara dalam dialog yang tidak nyambung, mereka kehilangan orinetasi waktu—intinya bagi Vladimir dan Estrogan, symbol rakyat jelata dan papa, tidak ada persoalan serius yang dibicarakan, apalagi diselesaikan. Sebab masalah pokoknya, hanya menantikan seseorang atau sesuatu yang tidak dapat didefinisikan. Oleh karena itu, dilihat dari jagat konvensi alam pikir filsafat Prancis, lakon godot memberikan isyarat refleksi metafisik, yang mengingatkan orang pada refleksi filosfis Alber Camus, terutama yang tampak dalam esainya Le mythe de Sisyphe (Mite Sisifus) tahun 1943 atau novel Camus yang terkenal L’etranger (1944).
  • Karenanya drama Waiting for Godot digolongkan dalam teater absurd. Di mana orang tidak melihat teater absurd sebagai alat perjuangan, betapa pun ada suasana perlawanan atau “terrorizing” di dalamnya. Sebab konsep dasar tetaer absurd sendiri berambisi menghadirkan kemurnian. Untuk membedakannya dengan misalnya filsafat sebagai senjata atau alat perlawanan terhadap “unidentified dominating power” seperti paham Brecht.
  • Dalam refleksi yang lebih mendasar, drama ini terus relevan, sebab dalam keadan yang serba tidak jelas, pertanyaan dasar drama ini kembali muncul, siapakah Godot yang dinantikan itu? Sebab bahkan ketika bom atom jatuh di Jepang untuk menghentikan PD II, ternyata hal itu tidak mengakhiri ketegangan perang dingin. Bahkan hingga hari ini, di Amerika dan juga di Indonesia, di belahan dunia lain, rakyat seperti Vladimir dan Estrogan masih menantikan Godot. Dan kita hari ini bahkan masih terus bicara satu sama lain dalam dialog yang tidak nyambung…

*) Sabiq Carebesth, Juni 2018. Ditulis dengan malas dan kesal karena kebingungan menyusun orientasi waktu dan ruang paska libur lebaran. Tulisan pendek ini disarikan dari buku “Sementara Menunggu Godot” dan Makalah Bakdi Sumanto bertajuk “Teater dan Bom” (2001).

Continue Reading

Buku

Pahlawan Dibalik Layar

mm

Published

on

Foto: Koleksi foto ANTARA

Oleh: Umar Fauzi Ballah *)

Dalam situasi bernegara dan berbangsa yang diliputi laku korupsi dan kolusi sebagian besar elit politik, bahkan kerawanannya telah menjangkau sakit kebudayaan—membangunkan sosok anutan dari tidur sejarahnya bisa menjadi upaya baik dalam mencarikan jalan ingatan; bahwa bangsa ini dibangun oleh pribadi berintegritas dan orang-orang jujur. Sosok Djohan Sjahroezah, adalah salah satunya.

Usaha Riadi Ngasiran—penulis buku “Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah, Pejuang Kemerdekaan Bawah  Tanah” untuk mengumpulkan renik kehidupan seorang Djohan Sjahroezah dalam buku biografi karyanya patut diapresiasi dengan kegembiraan, terutama karena usaha kerasnya mengingat sosok yang ditulis tidak setenar Bung Karno atau Bung Hatta. Usaha memperkenalkan sosok Djohan Sjahroezah yang dikenal sebagai tokoh pergerakan dan politikus adalah momentum tepat di tengah kondisi korup elite di negara ini.

Nama Djohan memang tidak setenar Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Hatta, Soekarno, maupun Adam Malik, teman seangkatannya, serta mertuanya, H. Agus Salim. Ia juga tidak setenar sosok reaksioner, bung Tomo, walaupun pada saat meletus peristiwa 10 November 1945, bung Djohan juga sedang berada di Surabaya untuk melindungi Tan Malaka (hlm. 147).

Djohan adalah pahlawan dalam kapasitasnya dan perannya sebagai organisator yang disegani di Indonesia, terutama di tanah Jawa. Ia bukan pahlawan yang dikenang namanya dengan mengangkat senjata. Ia juga bukan pahlawan yang disegani karena kelihaian berpidato, tetapi ia adalah satu-satunya tokoh yang paling dipercaya banyak kelompok dalam membangun jaringan-jaringan bawah tanah. Ia mengkader pemuda saat itu di berbagai daerah seperti Batavia, Bandung, Yogyakarta, maupun Surabaya yang pada saat itu ia menjadi buruh di perusahaan minyak Belanda, BPM (Bataafsche Petroleum Maatshappij).

Djohan Sjahroezah adalah tokoh kelahiran Muara Enim, Sumatera Selatan, 26 November 1912. Ia seakan menggenapi tokoh-tokoh lain dari trah Minangkabau yang juga berjibaku di panggung sejarah Indonesia seperti Muhammad Hatta, Muhammad Yamin, Tan Malaka, Hamka, Mohammad Natsir, H. Agus Salim, maupun Sutan Sjahrir, pamannya.

Dengan kelihaiannya membangun jaringan, dia bersama Adam Malik, Soemanang, A.M. Sipahuntar, dan Pandoe Kartawiguna mendirikan Kantor Berita Antara tahun 1937 yang sampai saat ini masih eksis. Kantor Berita Antara adalah perjuangan perdananya dalam rangka turut serta memperjuangan kebebasan bangsa Indonesia. Ia menyadari betul fungsi dan peranan pers sebagai alat perjuangan.

KB Antara bukanlah tempat pertama Djohan di bidang jurnalistik. Sebelumnya, dia bergabung dengan Arta News Agency, sebuah kantor berita milik Samuel de Heer, seorang Belanda. Ia memutuskan keluar dari Arta tahun 1937 dengan kesadaran bahwa dirinya harus mengembalikan komitmen aslinya: mengutamakan fungsi dan tanggung jawab kemasyarakatan. Masyarakat di bawah kekuasaan penjajah harus dibebaskan, demikianlah posisi dan peranan pers yang telah didefinisikannya. Djohan dan jurnalis sezaman merumuskan peranan pers sebagai pengantar masyarakat ke masa depan (hlm. 83).

Lingkaran Sjahrir

Ketika membincangkan kehidupan Djohan, tidak bisa terlepas dari sosok Sutan Sjahrir. Karena itu, sebagian besar buku ini berada dalam “alur” Sutan Sjahrir. Ketika membicarakan tindak-tanduk Djohan, muncul juga peran Sutan Sjahrir di dalamnya. Djohan adalah salah satu loyalis utama Sutan Sjahrir.

Ketika Sutan Sjahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada 12 Februari 1948, Djohan adalah sosok yang masih setia mengikuti Sjahrir. Sebelumnya, pada 1 November 1945 Amir Sjarifuddin mendirikan Partai Sosialis Indonesia (Parsi), sedangkan Sjahrir mendirikan Partai Rakyat Sosialis (Paras) pada 19 November 1945. Karena persamaan sikap antikapitalis dan antiimperialis, pada 16—17 Desember 1945 kedua partai tersebut bergabung menjadi Partai Sosialis (PS) yang di dalamnya juga ada kelompok komunis. PS tidak berumur lama karena ketegangan kelompok komunis dan kelompok sosialis di dalamnya yang puncaknya terjadi ketika Bung Hatta mengumumkan kabinetnya pada 29 Januari 1948 menggantikan Kabinet Amir Sjarifuddin. Sjahrir adalah pendukung penuh Kabinet Hatta, sedangkan Amir memutuskan menjadi oposisi bagi Kabinet Hatta. Hal itu membuat Sjahrir dan kelompoknya, termasuk Djohan keluar dari Partai Sosialis dan mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Judul : Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah, Pejuang Kemerdekaan Bawah Tanah | Penulis : Riadi Ngasiran | Penerbit : Penerbit Buku Kompas | Tahun : cetakan pertama, Mei 2015 | Tebal : xlvi + 418 hlm. | ISBN : 978-979-709-918-3 | Harga : Rp99.000,00

Sebagai tokoh yang bergerak di dunia pergerakan, Djohan memiliki banyak kader yang tentunya diharapkan mengikutinya sebagai bagian dari lingkaran Sjahrir. Namun, kenyataannya berbeda. Tidak sedikit kader-kadernya berada di seberang jalan menjadi kader partai komunis. Dengan kemampuannya memahami ajaran Marxisme dan jurnalistik, Djohan menjadi corong untuk menjelaskan pandangan-pandangan kelompok sosialis secara tertulis dalam rangka menjawab “tuduhan-tuduhan” kelompok komunis.

Riadi Ngasiran, dengan pengalamannya di bidang jurnalistik dan sastra, berhasil mengolah biografi ini dengan baik. Pernik kehidupan Djohan memang tidak disampaikan secara dramatis sebab biografi ini adalah catatan politis tentang sosok Djohan Sjahroezah. Riadi menggambarkan sosok Djohan secara umum dalam tiga masa penting, yakni perannya sebagai tokoh pergerakan bawah tanah dalam usahanya mengkader pemuda; peran Djohan di dunia jurnalistik; dan perannya sebagai politikus Partai Sosialis Indonesia.

Djohan, sebagaimana manusia biasa, juga menjalani hidup sebagaimana kebanyakan masyarakat. Hal ini takluput dari catatan Riadi. Kisah Djohan dengan istrinya, Violet Hanifah, putri H. Agus Salim, pun digambarkan dengan hidup, seperti perjuangan masa-masa sulit bersama sang istri. Dalam biografi ini, Riadi menyuguhkan tempo tulisan yang dinamis. Di saat tertentu, ia menggambarkan secara naratif dan di saat yang lain secara argumentatif dengan memaparkan berbagai fakta tekstual.

Sebuah buku tidak lain adalah representasi ide-ide sang penulis. Kehadiran biografi ini menjadi wacana tandingan yang menampilkan tokoh dari golongan sosialis. Riadi Ngasiran sadar betul bahwa, selain karena peran Djohan sebagai tokoh jurnalis, menampilkan sosok Djohan adalah meneguhkan keberimbangan wacana tentang peran pergerakan yang dilakukan oleh kelompok sosialis, terutama kaitannya dengan konfrontasi golongan komunis.

Buku ini telah menandai keberadaan sosok yang tidak begitu populis di panggung sejarah Indonesia. Buku ini dihadirkan di waktu yang tepat. Keteladanan Djohan Sjahroezah dalam perjuangannya melalui berbagai pergerakan aktivis dan politis harusnya menjadi ruang refleksi bagi pergulatan politis Indonesia saat ini yang sudah jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. (*)

*) Umar Fauzi Ballah penikmat buku di Komunitas Stingghil, Sampang tinggal di Sampang sebagai Kepala Rayon LBB Ganesha Operation Sampang.

 

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending