Connect with us

Writing Tips

Write With Simplicity, Sesederhana Apa?

mm

Published

on

Tulislah dengan baik apa-apa yang anda ketahui. Jika anda tidak dapat menulis dengan baik hal-hal yang akrab dengan anda, bisa dipastikan satu juta persen anda juga tidak dapat menulis dengan baik hal-hal yang tidak anda ketahui.

Brander Matthews adalah orang paling bijak bestari yang pernah saya kenal. Saya beruntung pernah belajar di bawah bimbingannya selama tiga tahun di Universitas Columbia. Sebuah kehormatan pula bagi saya bisa dekat secara pribadi dan bersahabat dengan Matthews.

Suatu hari, ketika Matthews dan saya berbincang di dekat jendela ruang kerjanya, ia tiba-tiba menunjuk ke arah luar. Jarinya mengarah pada seorang pria paruh baya yang tampak berjalan santai.

“Jika aku bisa menulis kisah hidup lelaki itu,” kata Matthews, “Jika aku bisa mengisahkan perjalanan hidup laki-laki itu sejak kecil sampai tua renta, aku akan menulis sebuah buku yang lebih hebat dari semua literatur di dunia, kecuali Alkitab.”

Saya tentu heran dengan pernyataan Matthews yang diucapkan dengan begitu berapi-api itu. Semula saya melirik raut mukanya, memastikan ia sedang bercanda atau tidak. Ternyata, Matthews serius.

Lalu saya melongok ke luar jendela, tapi laki-laki yang dibicarakan Matthews terlihat layaknya orang biasa saja, tak ada istimewanya. Saya pun tak melihat ada hal khusus pada lelaki itu yang mungkin membuat kisah hidupnya akan membuat dunia gempar. Matthews sepertinya tahu saya meragukan ucapannya, ia pun kemudian berkata:

“Saya tidak kenal dia. Saya tidak tahu apa-apa tentang dia. Saya tidak pernah melihat dia sebelumnya. Saya hanya memilih laki-laki tua itu sebagai contoh, karena dia terlihat sangat biasa-biasa saja. Maksud saya adalah….”

“Tidak ada pria atau perempuan yang kisah hidupnya, jika secara jujur dan benar-benar diceritakan, tidak akan menjadi drama yang luar biasa. Tapi drama seperti itu tidak akan pernah benar-benar bisa ditulis.”

“Tak satu pun manusia memiliki visi yang sepenuhnya benar tentang kehidupannya sendiri dan betul-betul bisa melihat secara tepat episode kehidupannya yang merupakan drama sangat menyentuh.”

“Hal-hal dramatis bukan lah seperti perjuangan di bibir tebing atau kebahagiaan saat orang lolos dari masalah berat. Drama menarik yang membawa pesan luhur ada pada hal-hal yang terjadi setiap hari dan reaksi seseorang pada peristiwa seperti itu. ”

Karena saat itu saya masih muda, saya anggap nasihat dosen saya itu keliru. Bagi saya waktu itu, kisah-kisah hidup dan mati, kisah petualangan “Prisoner of Zenda”, cerita tentang detektif Hawkshaw, jauh lebih menarik. Menurut saya, kehidupan sehari-hari sama sekali tidak memuat unsur drama yang menarik sehingga tak berharga untuk ditulis.

Akan tetapi, 30 tahun kemudian, setelah saya lebih banyak belajar dan punya segudang pengalaman menulis, nasihat Brander Matthews terdengar sangat tepat. Jika saya mengikuti nasihat dosen saya itu sejak awal, mungkin saya menjadi penulis hebat sejak usia muda. Sayang sekali, saya sungguh terlambat menyadarinya.

Saya meyakini, jika banyak penulis pemula mau mengikuti nasihat Matthews, mereka mungkin bisa menghindari kekecewaan karena gagal menulis kisah yang menarik dan sukses memikat pembaca. Jadi, lebih baik mereka menulis hal-hal sederhana yang benar-benar diketahuinya, alih-alih menulis fiksi soal cerita yang tidak begitu mereka pahami.

Ray Long (editor salah satu majalah bergengsi di Amerika, “Cosmopolitan,” hidup 1878-1935) mengomentari “teori” Brander Matthews tadi, saat ia bertemu dengan saya dan kami sedang berdiskusi mengenai penyebab banyak penulis pemula gagal mengarang fiksi berkualitas. Ray Long berkata:

“Para pelajar mampu 50 kali lebih baik dalam mengisahkan kejadian biasa-biasa saja dengan cara yang luar biasa, daripada menggambarkan kejadian luar biasa dengan cara biasa-biasa saja!”

Silakan membaca lagi cerpen-cerpen terbaik kalian, saya yakin, anda semua akan menyadari betapa benar pendapat Ray Long itu.

Sebagai contoh: Guy de Maupassant (penulis hebat Perancis di abad ke-19 dan salah satu pencetus cerita pendek modern) adalah pengarang cerita pendek yang tak ada bandingannya. Apa tema dari cerpen-cerpennya yang paling populer?

Berikut adalah tema dari dua cerpen terbaiknya:

Pertama: “Seorang istri panitera yang miskin meminjam sebuah kalung berlian. Tapi, dia menghilangkan perhiasan itu. Dia pun menghabiskan sisa masa mudanya untuk menghemat uang agar bisa mengganti perhiasan yang hilang tadi; –di ujung kisah, ternyata kalung itu Cuma sepuhan, bukan berlian asli.”

Kedua: “Seorang warga desa yang sudah sepuh dan bongkok menemukan sebuah tas. Banyak orang menuduhnya telah mencuri tas itu. Tuduhan itu membebani pikiran orang tua tadi, sampai-sampai ia jatuh sakit.”

Itu adalah tema besar dari dua cerpen abadi Guy de Maupassant. Tak ada melodrama maupun kemewahan di kisah dalam “The Necklace” dan “A Piece of String.” Dan, di daftar karya-karya terbaik Guy de Maupassant, dua cerpen itu wajib ada di dalamnya.

Setiap orang memiliki pengetahuan mendalam tentang cerita kehidupan satu orang atau lebih, yang sangat ia pahami, dan layak menjadi bahan kisah-kisah menakjubkan.

Mungkin seorang penulis pemula itu hanya petugas pos, gadis penjaga toko, buruh tani atau pemulung sampah. Namun, selalu ada drama menarik dan narasi kuat di setiap ribuan detail soal pekerjaan itu; di cara mereka menjalaninya; di jalinan persahabatan yang terbentuk karena pekerjaan mereka; di karakter unik cara mereka menjalani hidup. Kisah-kisah yang ditulis oleh orang-orang seperti ini dapat menjadi luar biasa, jika mereka menjadikannya sebagai cermin kehidupan.

Apakah mereka bisa menuliskannya? Tidak, jika mereka justru menulis kisah soal kejahatan yang sesungguhnya tidak mereka pahami; cerita cinta yang konon romantis; dan topik lain yang sepenuhnya tidak mereka ketahui.

Artikel lengkap dapat dibaca di buku “Memikirkan Kata” (GBJ, 2019) yang akan diterbitkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta tahun depan.

Tak banyak orang mendapat pengalaman menghadapi kematian dalam pertarungan satu lawan satu; menumpangi kapal karam di laut; merebut cinta seorang putri dari pangeran jahat; menggagalkan pencurian permata oleh maling kaliber internasional; menyelamatkan anak perempuan dari jamahan seorang kaya yang tamak; memecahkan kode pada peta lokasi harta karun. Dan ketika kita mencoba menulis kisah-kisah petualangan seperti itu, kebanyakan dari kita gagal dan justru seolah-olah menceritakan kunjungan ke planet Mars!

Tetapi banyak orang, mungkin tahu betul bagaimana manajer kantor bersikap dan berbicara saat tahu si Smithers terlambat masuk kerja untuk ketiga kalinya dalam sepekan; bagaimana trotoar licin saat dilintasi; dan bagaimana angin fajar mengipasi wajah kita agar lekas bangun untuk berangkat bekerja pada pukul 6 pagi.

Ribuan orang lain mungkin juga tahu benar, bagaimana jawaban konyol para penunggak utang saat tagihan sudah jatuh tempo; bagaimana perbedaan karakter ratusan anak di sekolah tempat mereka mengajar; bagaimana obrolan hambar rekan-rekan kerja mereka atau orang-orang yang sedang bersuka ria; bagaimana sikap aneh tetangga apartemen mereka; hingga bagaimana sikap nyeleneh para petugas kebersihan.

Banyak orang tahu semua hal itu dengan sangat baik, karena menjadi bagian langsung dari kehidupan sehari-hari mereka, sehingga tidak berpikir cerita-cerita layak untuk menjadi bahan fiksi yang menarik. Hanya sebagian kecil saja yang menyadarinya dan menuai panen kesuksesan sebagai penulis fiksi.

Maka, tulislah dengan baik apa-apa yang anda ketahui. Jika anda tidak dapat menulis dengan baik hal-hal yang akrab dengan anda, bisa dipastikan satu juta persen anda juga tidak dapat menulis dengan baik hal-hal yang tidak anda ketahui.

Adegan, karakter, tema — semua sebenarnya sudah ada di tangan anda. Manfaatkan hal itu. Jangan justru memalingkan muka dan menyimpang jauh untuk menulis hal-hal yang tidak anda diketahui. (*)

______________

*) Albert Payson Terhune (1872-1942) adalah seorang penulis dan jurnalis asal Amerika Serikat. Ia juga peternak anjing collies di Sunnybank, New Jersey, AS. Terhune populer dengan novel-novelnya yang berkisah soal petualangan anjing-anjing kesayangannya.

Novel pertamanya ialah “Dr. Dale” (terbit 1900), disusun bareng ibunya yang juga seorang novelis. Tapi, yang membuat Terhune terkenal di publik sastra Amerika Utara ialah novel pertamanya soal kehidupan anjing collie miliknya, si Lad. Pada 1919, “Lad, A Dog” terbit dan terus dicetak ulang sebanyak 80an kali hingga Abad 21. Setelah “Lad, A Dog” terbit, Terhune menulis 30an novel soal kisah anjing semasa hidupnya.

Terhune lulus dari Universitas Columbia pada 1893. Di artikelnya ini, ia mengulas nasihat dalam menulis fiksi dari seorang dosennya, James Brander Matthews (1852-1929). Nama terakhir ini merupakan penulis sekaligus akademikus kawakan Amerika di Abad 19. Matthews punya peran signifikan dalam perkembangan studi teater di dunia akademik.

___
Diterjemahkan dari “Write With Simplicity”

By Albert Payson Terhune oleh Addi M Idham

Writing Tips

Mendekati (dan Menikmati) Puisi Sebagai Teks

mm

Published

on

Puisi memang bisa didekati sebagai sebuah teks. Dalam puisi ada wujud fisik dan ruh. Ada bentuk dan isi. Ada cara ucap ada bahan yang hendak diucapkan. Dari buku yang sama, kita dapat penjelasan bahwa untuk dapat disebut sebagai teks maka sebuah teks harus memenuhi unsur-unsur tekstualitas. Apa itu?

Terbayang bukan bahwa puisi memang bisa didekati sebagai sebuah teks. Dalam puisi ada wujud fisik dan ruh. Ada bentuk dan isi. Ada cara ucap ada bahan yang hendak diucapkan.
Dari buku yang sama, kita dapat penjelasan bahwa untuk dapat disebut sebagai teks maka sebuah teks harus memenuhi unsur-unsur tekstualitas. Apa itu? Ada enam. |Oleh Hasan Aspahani
Penyair, penulis, jurnalis, dan aha kini juga vlogger.

WUJUD fisik puisi itu adalah teks. Menikmati dan mencintai puisi tak mesti harus memahami itu. Tapi, puisi bisa didekati lewat jalan itu, memasukinya sebagai sebagai sebuah medan teks.

Apakah teks? Dalam bahasa Inggris, kini teks juga berarti pesan lewat SMS. “Text me…” berarti kirimi saya SMS. Orang Inggris, karena memang dekat dengan sumber etimologi kata teks itu, menyebut SMS sebagai teks untuk membedakannya dengan pesan yang bisa disampaikan lewat lisan melalui gawai yang sama yaitu ponsel. “Call me…”, lawannya adalah “text me…”.

Konsep teks, text, textum (dari sini juga turun kata tekstil yang tersusun dari jaringan benang), jaringan, muncul menjadi perhatian manusia dalam konteks memahami bahasa. Benang jaringan teks bahasa itu adalah kata-kata.

Lalu pengertian teks itu meluas, menjadi apa saja yang bisa dibaca dan “dibaca”, rambu lalu lintas, iklan, bentuk bangunan, gambar, lukisan, hamparan alam, gaya berpakaian, gerak tubuh, batuknya Pak Harto, kerdip mata Sukarno, diamnya Bung Hatta, senyumnya Dian Sastro, jambulnya Syahrini, dll.

Apa yang menyamakan semua itu? Ada segugus tanda dan simbol, yang daripadanya bisa ditangkap suatu pesan. Itu!

Teks bahasa dimaknai lewat semantik, bagian dari linguistik, yang juga merupakan cabang dari semiotik, satu ilmu yang dikembangkan untuk “membaca” atau memaknai teks, termasuk yang bukan teks bahasa (tulis).

Kita berenang dalam lautan teks. Kita dikepung teks. Baliho, status FB, pesan WA, berita, tweet, email, blog, komentar, dan lain-lain. Tak pernah kita terlelap dalam samudera teks sedahsyat hari-hari ini. Duhai manusia, duhai homo signans, seberapa kuat kita mampu memaknai semua paparan teks semenderu ini? Apakah sebanyak itu teks harus hadir di ruang publik dan ruang privat kita manusia modern ini?

Ah, daripada mumet, mari kita nikmati teks puisi saja. Ya, puisi adalah teks. Yang bisa dinikmati. Nah, biar terasa sedikit ilmiah, saya ingin mengutip apa definisi teks. Benny H. Hood (Semiotik & Dinamika Sosial Budaya) memakai definisi ini: teks adalah satu satuan kebahasaan (verbal) yang mempunyai wujud dan isi, atau segi ekspresi dan segi isi.

Terbayang bukan bahwa puisi memang bisa didekati sebagai sebuah teks. Dalam puisi ada wujud fisik dan ruh. Ada bentuk dan isi. Ada cara ucap ada bahan yang hendak diucapkan.

Dari buku yang sama, kita dapat penjelasan bahwa untuk dapat disebut sebagai teks maka sebuah teks harus memenuhi unsur-unsur tekstualitas. Apa itu? Ada enam. Inilah dia:

1. Kohesi. Unsur-unsur pembentuknya mempunyai kaitan semantis, atau unsur pembangun makna. Penyair menjaga benar unsur ini, ketika ia menulis puisi. Antara lain dengan memilih diksi, membangun metafora, rima, ritme, pokoknya perangkat puitika itulah.

2. Koherensi. Segi isinya, sekali lagi isinya, dapat diterima karena memenuhi logika tekstual. Bukan hanya diterima. Tapi juga diterima dengan nikmat. Teks puisi harus menjanjikan kenikmatan tekstual. Dia harus istimewa dibanding teks bahasa biasa yang bukan puisi.

3. Intensionalitas. Ada intensi, ada tujuan. Ada udang-di-balik-batu-nya. Teks diproduksi dengan tujuan atau maksud tertentu. Puisi juga pasti mengandung itu. Penyair menulis puisi karena itu. Kalau tidak, dia tak akan menulis puisi. Meskipun tak selalu pembaca tahu dan tak perlu juga tahu apa tujuannya menulis puisi itu.

4. Keberterimaan. Teks berterima bagi masyarakat pembaca. Jika tidak, puisi sebagai teks, akan menjadi medan yang gelap, yang tertolak, yang tak diterima pembaca.

5. Intertekstualitas. Ada kaitan semantis dengan teks-teks yang lain. Nah, ini penting sekali dalam puisi. Goenawan Mohamad menyebutnya pasemon. Persemuan. Ada sesuatu yang dihadirkan, atau disusupkan ke dalam teks puisi, yang diam-diam membawa segugus teks dan makna lain. Ketika Chairil Anwar menulis “Ahasveros” dalam sajaknya, maka mitologi yang melibatkan nama itu, menjadi bagian dari makna puisi Chairil. Itu intertektualitas.

6. Informativitas. Ya, teks juga harus mengandung informasi dan pesan tertentu. Di dalam puisi, informasi itu tak terlalu penting lagi, tapi pesannya penting, dan bisa berganda-ganda, membangun atau terbangun dari ambiguitas dari unsur pembentuk teks puisi itu.

Nah, apakah penjelasan ini bikin puisi tampak menjadi semakin ribet? Maafkan, kalau begitu, dan lupakan saja. Kalau mau masih ada penjelasan yang lebih rumit. Puisi kok dilawan. Dekati dan terima puisi sebagai puisi saja. Kalau memang itu lebih nikmat untuk dilakukan.

Jakarta, 20 Februari 2020.

Continue Reading

Writing Tips

Zadie Smith: 10 Saran untuk Penulis

mm

Published

on

Zadie Smith (lahir Oktober 1975) adalah seorang penulis cerita pendek, penyair, penulis esai dan novelis Inggris yang tumbuh di Willesden Green, sebuah daerah kelas pekerja di barat laut London. Pada 2013, ia telah menerbitkan lima novel, yang paling terakhir adalah kisah multifaset dari London, NW (2012), Fail Better (2006), On Beauty (2005), The Autograph Man (2002) dan novel debutnya White Teeth (2000) ), yang semuanya telah menerima pujian kritis nan substansial.

White Teeth adalah kisah yang brilian, ditulis dengan jelas, sangat lucu, ceroboh tentang dua keluarga multi-budaya yang eksentrik di London Barat Laut. Ini menyajikan karakter dari berbagai (dan kadang-kadang campuran) kelas, ras dan kelompok etnis semua berpikir tentang diri mereka sendiri bahwa mereka memiliki kebenaran dalam tahanan. Smith mengatakan dia melihat kesamaan dalam beberapa perilaku karakternya dibandingkan dengan karakternya, mengingat bahwa dia dilahirkan dalam keluarga antar-ras (ayahnya adalah orang Inggris dan ibunya adalah seorang imigran Jamaika).

Meskipun White Teeth jelas tentang multikulturalisme di Inggris, novel ini memenuhi harapan besar dan tidak hanya pembaca Inggris, tetapi juga pembaca Amerika. Smith hampir secara instan dinobatkan sebagai juara fiksi kontemporer dan masa depan sastra ketika dia merilis buku itu. Beberapa kritikus mengatakan dia telah menulis novel yang bahkan tidak dapat dilakukan oleh penulis berbakat pada usia 80 apalagi pada usia muda 22 tahun dan masih seorang mahasiswa di Cambridge.

Tidak pernah diberi tahu apa yang harus dipikirkan atau dilakukan, Smith terus bekerja pada perkembangannya tanpa terpengaruh oleh statusnya yang semakin meningkat di dunia sastra. Dalam beberapa tahun terakhir, ia telah menjadi kritikus intelektual dan budaya publik yang cerdik, menerbitkan esai tentang beragam topik seperti keadaan novel realis, pantasnya fiksi David Foster Wallace, nasib Willesden Green Library Center dan masalah dengan Facebook.

Dalam sebuah wawancara di episode Desert Island Disc BBC, Smith tanpa berbasa-basi mengutuk obsesi media ‘konyol’ dengan penampilannya dan saran tersirat serta ‘seram’ bahwa seorang wanita cantik tidak dapat mencapai kebesaran sastra. Dia mengutip Sylvia Plath sebagai contoh seorang penulis wanita cantik yang telah berhasil dalam pekerjaannya sebelum membahas apa yang dia anggap sikap seksis ‘jahat’:

  1. Ketika masih anak-anak, pastikan Anda membaca banyak buku. Luangkan lebih banyak waktu untuk melakukan ini daripada yang lainnya.
  2. Ketika seorang dewasa, cobalah membaca karya Anda sendiri seperti orang asing akan membacanya, atau bahkan lebih baik, seperti yang dilakukan musuh.
  3. Jangan meromantiskan “panggilan” Anda. Anda bisa menulis kalimat yang baik atau tidak. Tidak ada “gaya hidup penulis”. Yang penting adalah apa yang Anda tinggalkan di halaman.
  4. Hindari kelemahan Anda. Tetapi lakukan ini tanpa mengatakan pada diri sendiri bahwa hal-hal yang tidak dapat Anda lakukan tidak layak dilakukan. Jangan menutupi keraguan diri dengan penghinaan.
  5. Berikan waktu yang cukup untuk menulis dan mengeditnya.
  6. Hindari klik-klik, geng, kelompok. Kehadiran orang banyak tidak akan membuat tulisan Anda lebih baik dari itu.
  7. Bekerja pada komputer yang terputus dari internet.
  8. Lindungi waktu dan ruang di mana Anda menulis. Jauhkan semua orang darinya, bahkan orang-orang yang paling penting bagi Anda.
  9. Jangan mengacaukan penghargaan dengan prestasi.
  10. Katakan kebenaran melmeskipun pembatasan ada di mana-mana- tetap katakan itu. Mengundurkan diri dari kesedihan seumur hidup yang datang karena tidak pernah puas.

*) Dari “Zadie Smith’s White Teeth: 10 Golden Rules for Writers” | (p) Virdika R Utama (e) Sabiq Carebesth

Continue Reading

Tabloids

Ini yang Dituntut Para Editor Atas Cerpen Anda

mm

Published

on

Kriteria fiksi macam apa yang dianggap ‘menjual’? juga bagaimana cara penulis bersaing dengan satu sama lain demi menarik perhatian pembaca? Para editor fiksi dunia—Anthony Varallo, Editor Fiksi, CRAZYHORSE, Susan Burmeister-Brown, Co-Editor, GLIMMER TRAIN STORIES, Susan Mase, Editor Fiksi, NIMROD—membocorkan sedikit tips tentang cerita pendek macam apa yang menurut mereka pantas untuk diterbitkan. Selengkapnya:

  • Pentingnya Gramatikal dan Ejaan

“Pertama-tama, cek ejaan, tanda baca dan penggunaan kalimat dalam tulisanmu…dan kalau kau ingin menulis fiksi, kau juga harus banyak membaca fiksi. Kalau berniat menjadi penulis cerita pendek, maka kau harus membaca cerita pendek sebanyak mungkin. Setelah itu, baca hasil tulisanmu keras-keras. Kalau ada kalimat yang terdengar ‘aneh’—segera cabut dari tulisanmu. Dan jangan pernah mengirim draft pertama tulisanmu kepada editor, karena itu adalah tulisan yang belum selesai. Kenapa kau harus melakukan semua ini? Karena semua poin-poin yang saya sebutkan menyimpulkan bahwa menulis adalah sebuah pekerjaan. Kalau kau ingin ceritamu dibaca banyak orang, maka kau harus bekerja keras. Semua cerita yang ingin kau kirimkan ke editor majalah atau buku harus terbaca rapi, bersih, padat dan jelas. Setiap kalimat yang ada dalam ceritamu harus menunjukkan bahwa kau telah bekerja keras menghasilkan tulisan tersebut. Sebuah karya bisa dikatakan bagus, tapi bagus saja tidak cukup. Untuk meraih pembaca seluas mungkin, diperlukan karya yang luar biasa. Kami menerima banyak sekali kiriman cerita pendek yang bagus, tapi kami hanya menerbitkan cerita-cerita yang menurut kami luar biasa. Cerita-cerita yang tidak terlupakan, yang menyentuh kami, yang sangat kami sukai. Standar ‘cerita bagus’ terlalu rendah untuk kami. Cerita yang luar biasa akan selalu teringat di kepala pembacanya.” ~ Anthony Varallo, Editor Fiksi, CRAZYHORSE

 

  • Baca Artikel serupa dalam buku “Memikirkan Kata” akan terbit Agustus, 2019. Info pemesanan klik gambar.

    Detail yang menguatkan Karakter

“Pembaca sangat peduli terhadap karakter dan bahkan setelah cerita selesai, mereka tetap memikirkan karakter yang mereka temui di dalam cerita tersebut. Cerita harus memiliki detail yang bisa dibayangkan jelas oleh pembaca, serta menjadi pegangan si pembaca. Dan bila ada dialog dalam cerita itu, maka dialog tersebut harus terdengar nyata, dan tidak dibuat-buat atau berlebihan. Selain itu, cerita yang kami cari harus bisa menawarkan pandangan hidup yang segar dan mendalam. Sesuatu yang punya arti serta nilai resonansi terhadap pembaca. Dan, di akhir cerita, pembaca merasa puas. Bukan berarti cerita itu harus berakhir bahagia, tapi ada perasaan bahwa sebagian dari perjalanan si karakter telah tiba di penghujung jalan.” ~ Susan Burmeister-Brown, Co-Editor, GLIMMER TRAIN STORIES

  • Mengejutkan Sejak Pembukaan

“Cerita yang kami inginkan adalah cerita yang bisa mengangkat dirinya di atas cerita-cerita lain—yang menarik perhatian kami dengan cepat, bahkan di kalimat pertama, serta membuat kami terbuai setelah membaca satu, dua paragraf. Cerita yang kami inginkan akan membuat kami terpaku pada setiap kata dan kalimat hingga cerita itu selesai, dan seluruh indera kami terpicu karena begitu senang menemukan cerita yang luar biasa. Cerita seperti ini adalah cerita yang bisa kami cerna, dan juga membuat kami terpukau dan terhubung pada manusia lain. Kami mencari cerita yang bisa menarik perhatian kami lewat ritme, penggunaan kalimat serta kepribadian karakter di dalamnya. Semua karakter harus terasa hidup. Selain itu, detail yang kuat akan membuat suara si penulis dan para karakternya lebih terdengar, hingga membawa pembaca ke bawah permukaan interior atau eksterior cerita. Namun, semua elemen ini juga tidak boleh bertabrakan dengan alur narasi cerita.” Susan Mase, Editor Fiksi, NIMROD.

___

Baca Artikel serupa tentang Tips dan Saran menulis lainnya dalam buku “Memikirkan Kata” akan terbit Agustus, 2019. Info pemesanan Whatsapp 082 111 450 777. Info detail buku klik Order Buku Memikirkan Kata 

 

 

Continue Reading

Trending