Connect with us

COLUMN & IDEAS

W.S. Rendra: Mempertimbangkan Tradisi

mm

Published

on

W.S. Rendra: Mempertimbangkan Tradisi

(Pidato Rendra Pada Penerimaan Penghargaan

Dari Akademi Jakarta)

 

HARI ini Akademi Jakarta telah memberikan hadiah penghargaan kepada saya sebagai seorang seniman.

Hadiah penghargaan itu saya terima dengan baik. Terima kasih. Selanjutnya perkenankan saya mengutarakan kegirangan hati saya karena mendapatkan penghargaan ini.

Pepatah mengatakan: “Di dalam ilmu silat tidak ada juara nomor dua, di dalam ilmu surat tidak ada juara nomor satu”.

Tentu saja: di dalam persaingan di rimba persilatan, yang tinggal jaya hanyalah juara nomor satu, sebab yang nomor dua sudah terbunuh di dalam pertarungan; sedangkan di dalam ilmu surat, ukuran apa yang akan dipakai untuk menetapkan juara nomor satu? Bukankah ilmu surat itu cermin kehidupan? Maka kehidupan itu banyak seginya. Dan semua segi kehidupan itu penting. Jadi, para ahli ilmu surat itu, yang masing-masing mencerminkan segi berbeda dari kehidupan, tidak mungkin dipertandingkan. Semuanya nomor satu. Tidak ada yang lebih unggul dari lainnya.

Jadi mustahil bila saya menganggap bahwa penghargaan dari Akademi Jakarta ini bisa menjadi ukuran mutu bagi kesenian saya, di dalam perbandingannya dengan karya seniman-seniman lain yang  tidak mendapatkan hadiah pada tahun ini.

Maka kegembiraan saya hari ini tidak ada hubungannya dengan rasa unggul.

Lalu apakah dasar kegembiraan saya yang sangat besar hari ini?

            Di kota di mana saya tinggal, di Yogya, sejak pementasan drama saya Mastodon dan Burung Kondor, saya belum pernah diizinkan untuk melakukan pementasan sandiwara lagi. Alasan pelarangan-pelarangan terhadap pementasan saya itu tidak bisa diterima oleh akal sehat.

Oidipus Berpulang dan Lysistrata yang sudah diizinkan di Jakarta itu, tidak diizinkan untuk dimainkan di Yogya.

Naskah Oidipus Berpulang itu dilarang karena dinilai tidak sesuai dengan naskah Sophocles yang asli. – Tetapi apakah ada undang-undang yang melarang penyaduran?

Sedang Lysistrata dilarang berdasarkan pertimbangan atasan, serta mengingat “situasi dan kondisi di Daerah Istimewa Yogyakarta saat itu”. – Astaga, jadi rupa-rupanya saat ini, menurut keterangan di dalam surat polisi ini, Yogya dalam keadaan sedemikian rupa sehingga pementasan sebuah sandiwara semacam Lysistrata saja dianggap akan bisa membahayakan suasana. Kalau begitu secara tidak langsung diakui bahwa Yogya penuh dengan keadaan yang tidak normal. Ataukah keadaan Yogya diakui selalu tegang dan gawat terus-menerus? – Bagaimanakah sebenarnya? Sebagai penduduk Yogya saya kurang tahu duduk perkara keadaan aneh semacam itu. Pemerintah Pusat, para wakil rakyat, dan para wartawan harus menyelidiki “situasi yang dikuatirkan oleh polisi Yogya tersebut di atas. Apakah para atasan yang disebut oleh polisi itu benar sudah tidak bisa menguasai suasana sehingga mereka menjadi repot hanya oleh sebuah sandiwara? Ini harus benar-benar diselidiki. Apakah mereka takut menghadapi sindiran dan kritikan? Kalau begitu apakah kewibawaan mereka sudah sedemikian tipis sehingga gentar menghadapi kritikan?

            Syahdan, para ksatria dan raja-raja bijaksana didalam wayang tidak pernah mengamuk karena kritikan-kritikan dari Semar, Bagong dan Petruk. Mereka selalu menanggapi kritikan-kritikan itu dengan baik. Mereka adalah ksatria dan raja-raja yang bijaksana yang bisa diajak bicara. Karena itu mereka mendapatkan wibawa. – Lain daripada para raja raksasa.

Mereka tidak punya Semar, Bagong, Gareng, dan Petruk yang memberikan kritikan-kritikannya. Mereka penuh gairah angkara murka, adigang-adigung-adiguna, penuh roso risi = rasa bersalah, sehingga mereka tidak tahan terhadap kritikan. Mereka kasar. Mereka hanya bisa menekan dan melarang. Mereka tidak bisa diajak bicara.

Mereka hanya punya kekuasaan, tetapi mereka tidak punya wibawa, oleh karena itu mereka tidak tahan terhadap kritikan yang dilancarkan dalam goro-goro atau adegan banyolan yang penuh sindiran.

Setelah wayang mencapai saat: goro-goro itu, hanya para ksatria yang bisa tinggal jaya, para raksasa tak bisa jaya sesudah itu. Ya, bagaimana cara penguasa menghadapi goro-goro itulah ukuran mutunya. Kita akan segera bisa melihat apakah ia termasuk ksatria atau raksasa.

Adapun sandiwara-sandiwara saya tak lebih dari sebuah goro-goro. Di Dalam goro-goro Semar, Bagong, Gareng dan Petruk memang melancarkan kritikan yang menginginkan keadilan yang merata, namun tidak menyarankan perubahan kekuasaan. Goro-goro yang sudah saya mainkan di Jakarta tidak pernah menimbulkan anarki, karena pada hakikatnya saya antianarki. Jadi kenapa para atasan yang disebut oleh polisi di Yogya itu melarang goro-goro saya yang menentang anarki itu? Ini menimbulkan keprihatinan saya yang dalam.

Rendra tengah beraltih teater bersama rekan-rekannya di halaman rumahnya yang jadi markas Bengkel Teater di Kampung Ketanggungan, Yogya, 1970. (Photo: Arsip Rumah Budaya Tembi)

 

Tiba-tiba di dalam keprihatinan saya itu, datanglah keputusan Akademi Jakarta  untuk memberikan penghargaan kepada saya. Inilah suatu keseimbangan di dalam masyarakat yang menjadi rahmat bagi saya.

Itulah sebabnya kenapa hari ini saya benar-benar bergembira dan bersyukur sedalam-dalamnya.

Ah, sekarang saya ingin gantian berbuat sesuatu untuk Akademi Jakarta. Saudara-saudara telah berkenan untuk memberi penghargaan kepada saya, maka kini saya pun berkenan untuk memberikan tanda mata kepada Saudara-saudara. Tanda mata saya ini bernama goro-goro.

Orang-orang di kampung saya, di Ketanggungan, Yogya, dan juga orang tua saya, tidak bisa membayangkan apakah Akademi Jakarta itu. Sesungguhnya banyak orang yang belum pernah mendengar tentang adanya Akademi ini, dan baru sekarang mereka membicarakannya.

Banyak di antara mereka menyangka bahwa Akademi Jakarta ini semacam Akademi Bank, atau Akademi Bahasa Asing, atau Akademi Kesenian, atau semacam itu.

Salah tampa rakyat banyak yang semacam ini wajar sekali, sebab sampai sekarang Akademi Jakarta belum berbuat sesuatu yang dengan kuat menyangkut kepentingan mereka, dan belum pernah pula Akademi Jakarta mempunyai bahasa yang kuat untuk menjelaskan kehadirannya.

Saya sendiri juga susah dalam memberikan jawaban kepada mereka perihal lembaga Saudara-saudara ini.

Nama “Akademi” selalu mengingatkan saya kepada pabrik pengangguran, sekolah-sekolah yang miskin metoda dan serba melahap kesimpulan-kesimpulan pemikiran asing tanpa mengolah daya pencernaan yang baik!

Beberapa hari sebelum saya datang kemari untuk menerima penghargaan ini, sering kali, sambil mengasuh anak bungsu saya di bawah pohon-pohon nangka, di kampung saya, di Ketanggungan, Yogya, saya merenung, mencoba mencari-cari kaitan Akademi Saudara-saudara dengan dunia saya. – Ya, bagi orang kampung seperti saya, apakah artinya Akademi semacam itu?

Di Prancis memang ada Akademi Prancis, didirikan oleh Richelieu. Maksudnya untuk setiap kali membuat takaran resmi bagi kebudayaan yang berkembang di masyarakat. Ini penting bagi Prancis waktu itu, karena merupakan tuntutan dari bentuk politik monarki absolut. Waktu itu, disesuaikan dengan kebutuhan politis Raja Louis kebudayaan harus bercorak neoklasik. Satu per satu, seniman Prancis waktu itu, dipaksa bertekuk lutut terhadap aliran neoklasik. Corneille menderita, mencoba bertahan, tetapi akhirnya bertekuk lutut juga. Hanya Moliere yang sanggup bertahan terhadap tekanan dari Akademi Prancis.

Dan kini Akademi Jakarta.

Apakah saya sekadar melahap ataukah saya akan mencernakannya? Ini suatu laku yang penting untuk menentukan kelangsungan hidup saya.

Nama Akademi Jakarta memang mengingatkan saya kepada Akademi Prancis, lalu terlintas pula di dalam renungan saya bagan-bagan masyarakat yang merupakan kesimpulan pikiran dan pengalaman orang Barat. Apakah saya harus mengaitkan kedudukan Akademi Jakarta ke sana?

Wah, ini tidak sesuai dengan alat pencernaan orang kampung seperti saya.

Selera bisa dibina, pencernaan selalu berkiblat kepada lingkungan.

Jadi saya akan mencoba mengaitkan Akademi Jakarta dengan alam pikiran dan pengalaman lingkungan saya.

Bencana dan keberuntungan manusia ialah bahwa ia terdiri dari roh dan badan. Modern atau tidak modern, manusia harus mempertahankan keseimbangan antara roh dan badannya, demi kesehatan.

Di dalam masyarakat modern atau bukan modern, pembagian roh dan badan itu tetap ada. Lembaga hukum, adat-istiadat, kebiasaan-kebiasaan itulah badan. Naluri dan mimpi, itulah roh. Adalah tugas para ulama, cendekiawan, dan seniman untuk menjaga peranan roh masyarakat. Kerja sama dengan badan harus dilakukan. Keseimbangan harus dijaga.

Kesepuluh anggota Akademi Jakarta adalah cendekiawan-cendekiawan dan seniman-seniman yang terpandang, dan masing-masing sudah nyata jasanya. Di zaman dulu orang-orang seperti mereka disebut empu-empu. Dan kedudukan mereka masing-masing di dalam mata masyarakat, adalah penjaga nilai-nilai rohani.

            Maka, raja berumah di keraton dan empu berumah di angin. Begitu kata pepatah yang tersangkut di rantang pohon.

Jadi kenapa kesepuluh empu ini mesti dilembagakan? Bukankah sejauh-jauhnya empu berkelembaga, pasti hanya menjadi lembaga setengah badan?

Rupa-rupanya di dalam saat perubahan masyarakat diperlukan secara mengakar, maka raja atau pengatur lembaga selalu berusaha untuk setengah melembagakan empu-empu itu. Maksud saya bukannya mengubah cendekiawan itu menjadi teknokrat, sebab itu artinya membadankan mereka sama sekali, tetapi hanya sekadar setengah membadankan saja.

Maksudnya tentulah untuk mengatur ketangkasan masyarakat di dalam mengadakan perubahan-perubahan yang diperlukan, sesuai dengan kebutuhan bersama.

Maka apabila empu-empu ini seluruhnya dibadankan menjadi patih atau teknokrat, akan hilanglah kemampuan mereka untuk dipakai sebagai imbangan rohani oleh raja. Tetapi apabila setengah dibadankan saja, maka mereka akan lebih bisa dirapikan untuk kepentngan ketangkasan kerja sama, sementara itu mereka masih mampu memiliki kewibawaan rohani.

Dahulu di zaman kehinduan akan ditanamkan di Indonesia, dan masyarakat memerlukan perubahan tata kemasyarakatan serta tata pertanian yang mengakar, maka empu-empu juga diusahakan oleh raja untuk setengah dilembagakan. Pada saat itu empu-empu dipindahkan dari padepokan-padepokan dan mulai berumah di keraton. Banyak pujangga menjadi pujangga keraton. Dukun menjadi dukun keraton semacam Empu Lohgawe, meskipun saat itu empu-empu pembuat keris tetap sukar untuk dikeratonkan dan banyak di antara mereka, tetap tinggal di angin, seperti Empu Gandring, Empu Supo Pertama, dan lain-lain.

Kejadian ini berulang lagi waktu agama Islam mula-mula masuk ke Jawa. Waktu itu Islam memberikan kesegaran kepada kemacetan masyarakat yang terlalu dijuruskan oleh Gajah Mda kepada kebudayaan pertanian, sehingga sangat lemah kebudayaan perdagangannya; apalagi setelah Syahbandar Tuban hijrah ke Malaka dengan segenap kapal dan modal-modalnya. Islam yang masuk waktu itu juga berarti tambahnya kembali kekuatan perdagangan. Raja Islam yang mengganti kekuasaan Majapahit sanggup menghadapi kekuatan perdagangan bangsa Portugis. Sultan Trenggono dengan gilang-gemilang bisa merebut kembali Sunda Kelapa dari tangan orang-orang Portugis. Ia adalah raja yang membawa pembaruan kepada masyarakat. Empu-empu, ya, ulama-ulama, yang penting  disetengah-lembagakan menjadi wali, sehingga menjadi Wali Sembilan. Ada juga empu yang tidak mau disetengah-lembagakan, ia ingin tetap berumah di angin, yaitu Syekh Siti Jenar.

Sekarang di zaman kita ini, perubahan masyarakat perlu diadakan secara mengakar, sebab kebudayaan Jawa Baru yang kepriayian, yang sudah kehilangan kerakyatannya itu, serta juga sisa-sisa kebudayaan penjajahan yang sok barat tetapi tidak ilmiah itu, perlu diganti dengan kebudayaan baru yang lebih memberi kesempatan kepada nilai-nilai analitis dan logis, serta juga mengutamakan keadilan kerakyatan, tanpa melupakan dasar agama yang kuat tertanam di dalam naluri bangsa.

Tentu saja, demi ketangkasan kerja sama di dalam masyarakat dalam memperjuangkan perubahan itu, para empu, yah, maksud saya cendekiawan-cendekiawan, ulama dan seniman perlu juga disetengah-badankan. Jadi akhirnya saya bisa menerima dan mengatakan kedudukan Akademi Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta, Majelis Ulama, dan lain sebagainya kepada kebutuhan masyarakat.

Meskipun tentu saja akan tetap ada cendekiawan atau seniman yang tidak mau disetengah-badankan, misalnya saya, dan banyak lagi yang lain. Yah, saya ingin tetap tinggal di angin.

Begitulah memang seharusnya keseimbangan di dalam masa-masa perubahan. Badan + setengah roh, setengah badan + roh. Salah satu ditiadakan, keseimbangan akan terguncang. Tugas penjaga roh, yaitu mereka yang berumah di angin, adalah untuk mencari imspirasi dan daya hidup. Tugas penjaga badan, yaitu yang berumah di keraton adalah untuk menjalankan pelaksanaan, menjaga setengah badan = adalah mereka yang berumah di dewan, untuk menyebarkan nilai roh dan nilai badan sehingga menjelma menjadi perumusan yang bisa dilaksanakan. Inilah tugas yang berat dan gawat, karena menurut kebijaksanaan dan kematangan jiwa.

Rendra (tengah) bersama Iwan Fals dan Sawung Jabo. (photo koleksi http://sidomi.com)

Saya percaya bahwa orang-orang yang berkualitas semacam itu ada di dalam masyarakat kita. Tetapi saya tidak percaya bahwa orang itu bisa bersifat dewa. Saya tidak bisa percaya bahwa ada orang bisa maju penuh sementara ia berumah di angin dan sekaligus berumah di keraton atau di dewan. Disiplin bekerja antara ketiga golongan itu sungguh-sungguh berbeda.

Orang yang tinggal di keraton harus bekerja dengan rencana: rencana pelaksanaan, rencana tempat, rencana waktu, rencana keamanan. Orang yang tinggal di angin tidak punya rencana ruang karena ia meruang: ia tidak punya rencana waktu karena didalam alam; kemarin dan esok adalah hari ini; ia tidak punya perhitungan untung rugi karena di mata alam: bencana dan keberuntugnan sama saja; ia tidak mencari ketika  di luar dirinya karena begitu ia mengalami langit di luar dan langit di badan bersatu dalam jiwanya:  … itulah ketikanya!

Maka, orang yang berumah di dewan, lain lagi disiplinnya: mereka harus menjaga agar selalu ada ruang dalam pikiran, perasaan, dan perkataannya untuk diplomasi. Merekalah yang bertugas untuk menjaga agar pertentangan roh dan badan tidak menjelma menjadi perang, tetapi menjadi diplomasi. Segala persaolan harus mereka  hadapi dengan disiplin ilmu silat pedang. Adapun menggenggam pedang itu seperti menggenggam burung: terlalu longgar dipegang ia terbang, terlalu erat dipegang ia mati.

Begitulah besarnya perbedaan disiplin antara ketiga golongan itu. Sehingga tidak mungkin satu golongan merangkap menjadi golongan lain pula.

Orang yang berumah di angin harus mendapat keadilan di dalam keseimbangan masyarakat di dalam alam semesta.

Syekh Siti Jenar sesungguhnya tak usah dibunuh. Sebab nilai rohani yang menghalalkan pembunuhan semacam itu sudah menjadi budak dari badan. Itulah kesalahan Sunan Kudus, wali yang terlalu membudak kepada badan. Ia lah yang memulai timbulnya keguncangan keseimbangan antara roh dan badan.

Kerajaan Demak jatuh diganti Kerajaan Pajang yang cuma singkat usianya, lalu jatuh pula, lalu diganti oleh kekusaan Panembahan Senopati pendiri Kerajaan Mataram II.

Orang-orang priayi Jawa Baru menganggap Panembahan Senopati adalah teladan utama. Tetapi sebenarnya ia adalah raja yang buruk dan liar. Salah seorang putranya disuruh membunuh ibunya. Salah seorang putrinya disuruh menjadi ronggeng, memikat hati seorang pemberontak, menjadi isterinya dan akhirnya lalu menjadi jalan kematiannya. Sesudah itu hampir pula putrinya itu ia bunuh juga karena sudah terlanjur mengandung anak dari benih pemberontak itu. Untung bisa dicegah oleh salah seorang putranya. Dan terhadap raja yang sewenang-wenang ini tak ada suara roh yang berani menentangnya. Suara-suara roh sudah disirnakan oleh Sunan Kudus dengan bantuan wali-wali lainnya.

Akhirnya Sultan Agung, cucu Panembahan Senopati, menambah parah kegawatan imbangan itu.

Ia merasa mendapat wahyu cakraningrat, yaitu wahyu untuk menjadi raja dan pendeta sekaligus, roh dan badan sekaligus. Suara roh makin tak ada  jadinya. Ia bergerak tanpa imbangan dan aturan.

Lalu mulailah Mataram mewarisi kepriayian yang bertele-tele itu. Daya cipta yang segar parah. Kebudayaan Jawa Baru hanyalah kebudayaan gincu dan rendah-renda, roh yang polos lemah suaranya, diganti dengan kecerdikan yang gemerlapan.

Sungguh besar ongkos yang harus dibayar karena menyingkirkan orang-orang yang berumah di angin.

Orde Lama jatuh karena mencap orang-orang yang berumah di angin sebagai golongan antirevolusi, sehingga tak ada lagi imbangan kontrol yang bisa memberi tanda bahaya.

Dan sekarang bagaimanakah keadaan orang-orang yang berumah di dewan saat sekarang?

Rakyat ingin melihat dan membuktikan, apakah orang-orang yang berumah di dewan sanggup membela orang yang berumah di angin? Apakah mereka sanggup merapikan orang yang berumah di keraton? Apakah mereka sanggup membela keadilan kerakyatan dengan lebih mendorong agar bisa tercapai demokratis politik yang lebih bijaksana? Apakah mereka sanggup lebih mendorong terlaksananya demokrasi ekonomi? Apakah mereka sanggup mendorong tercapainya demokrasi pendidikan? Sebab inilah semua alur perubahan yang diperlukan untuk membela rakyat.

Tetapi juga ini: apakah orang-orang yang berumah di dewan akan sanggup mendorong agar nilai ilmiah benar-benar bisa diterapkan di dalam melaksanakan kemajuan? Yang saya maksud, agar urutan 5 disiplin ilmiah: mengumpulkan fakta, menyusun fakta, menganalisa fakta, membuat kesimpulan dan membuktikan kesimpulan, benar-benar bisa diterapkan di Indonesia. Tanpa salah satu dari kelima disiplin itu tidak akan mungkin bisa ada penghayatan ilmiah. Jadi sangat penting agar penghayatan ilmiah bisa dilaksanakan rakyat bahwa semua fakta bisa terbuka untuk mereka, dan mereka pun harus dibebaskan untuk mengumpulkan fakta apa saja.

            Selanjutnya harus pula ada kesempatan untuk membuktikan kesimpulan-kesimpulan yang sudah ada. Tanpa kesempatan-kesempatan semacam itu sikap ilmiah adalah omong kosong.

Dalam hubunganya dengan renungan saya di kampung Ketanggungan, itulah kaitan Akademi Jakarta dengan kepentingan rakyat.

Nama “Akademi” memang asing, tetapi dalam takaran soal ini, tak perlu menjadi masalah lagi. Kata “wali” toh juga kata asing tadinya.

Yang penting tantangan kepada mereka sudah saya ucapkan. Sudah terang tantangan serupa itu tidak cukup bisa dijawab dengan memberikan hadiah-hadiah semacam ini. Saya masih menunggu kapan lagi Akademi Jakarta akan bisa mengundang orang-orang yang berumah di angin untuk berpidato di masyarakat terbuka yang diselenggarakan oleh Akademi. Saya masih ingin melihat buku-buku apa yang akan diterbitkan. Dan juga ingin menyaksikan bagaimana pelaksanan-pelaksanaan lain yang lebih nyata.

Sekarang saya ambil hadiah dari Akademi Jakarta. Terima kasih.

Saya akan kembali ke angin.

Kemarin dan esok

adalah hari ini

Bencana dan keberuntungan

sama saja

Langit di luar

langit di badan

bersatu dalam jiwa

1975

***

 

*Rendra lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935. Sepulang memperdalam pengetahuan  drama di American Academy of Dramatical Arts, ia mendirikan Bengkel Teater. Sajak-sajaknya mulai dikenal luas sejak tahun 1950-an. Antara April-Oktober 1978 ditahan Pemerintah Orde Baru karena pembacaan sajak-sajak protes sosialnya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kumpulan puisinya: Balada Orang Tercinta (1956; meraih Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-56); Empat Kumpulan Sajak (1961); Blues untuk Bonnie (1971); Sajak-sajak Sepatu Tua (1972); Potret Pembangunan dalam Puisi (1983); Disebabkan oleh Angin (1993); Orang-orang Rangkasbitung (1993); Perjalanan Bu Aminah (1997); Mencari Bapak (1997). Buku-buku puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, yaitu: Indonesia Poet in New York (1971; diterjemahkan Harry Aveling, et.al.); Rendra Ballads and Blues (1974; Harry Aveling, e.al.); Contemporary Indonesian Poetry (1975; diterjemahkan Harry Aveling), ia pun menerjemahkan karya-karya drama klasik dunia, yaitu: Oidipus Sang Raja (1976); Odipus di Kolonus (1976); Antigone (1976); Ketiganya karya Sophocles, Informan (1968; Bertoit Brecht); SLA (1970; Arnold Pearl). Pada 1970, Pemerintah RI memberinya Anugerah Seni dan lima tahun setelah itu ia memperoleh penghargaan dari Akademi Jakarta.

**Sumber: Rendra, Mempertimbangkan Tradisi, PT Gramedia, Jakarta, 1984.

 

 

COLUMN & IDEAS

Marah: Cerita dan Berita

mm

Published

on

Bandung Mawardi *)

Bocah itu sasaran marah. Album biografi memiliki bab-bab awal sebagai bocah dimarahi bapak atau ibu. Bocah mungkin bersalah diganjar marah. Bocah tak bersalah kadang terkena marah. Episode menjadi bocah sudah mengalami dan mencipta ingatan-ingatan marah. Pada saat “pementasan” kemarahan, bocah memilih diam, menangis, atau membalas dengan omelan-omelan. Marah itu peristiwa “dramatis” di pembentukan diri bersama keluarga, teman, guru, dan orang-orang pernah bersama si bocah membuat bab-bab biografis.

*) Bandung Mawardi, Esais.
Penulis Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Marah memiliki tata cara? Sekian orang menganggap marah tak memiliki kaidah dan urutan. Marah sering mendadak atau “meledak” dalam usaha memendam di hitungan detik, menit, jam, dan hari. Bahasa dan gerak saat marah dimiliki si pemarah tanpa wajib mengikuti petunjuk di sekolah, kursus, les, atau pelatihan secara “profesional”. Pemarah itu aktor. Ia pun mengumbar kata-kata sulit dipelajari melalui tata bahasa formal dan berpijak di kamus-kamus. Kata-kata dalam marah justru peristiwa bahasa mengejutkan tapi mendebarkan bila terduga berdampak fatal.

Kita ingin membaca (lagi) rekaman-rekaman marah dalam gubahan sastra. Pilihan memang mengandung imajinasi. Kita membaca dengan tokoh dan latar berbeda, menginginkan penemuan mutu atau selera marah. Kita mulai dengan buku cerita berjudul Tono dan Tini (1979) gubahan Annie MG Schmidt. Buku cerita disimak bocah-bocah di Belanda, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Alma Evita Almanar. Pada hari hujan, Tono dan Tini cuma bisa bermain di dalam rumah. Ibu Tono menganjurkan dua bocah itu menikmati waktu dengan menggunting gambar-gambar bagus di buku sudah tak dipakai. Gunting dan 3 buku diberikan ke mereka. Tono dan Tini senang menggunting beragam gambar.

Hujan belum reda, mereka masih ingin menggunting dan mengoleksi gambar. Tono melihat buku-buku di lemari koleksi bapak. Ia sengaja mengambil lagi buku-buku di bagian bawah. Tiga buku tadi sudah habis digunting. Mereka ingin buku-buku lagi, menambahi kegembiraan menggunting. Sekian buku menjadi sasaran penggutingan. Dua bocah girang dan saling pamer. Meni-menit berganti, bapak Tono datang tercengang. Tono dan Tini menggunting, kertas-kertas sisa guntingan dari buku-buku berserakan. Bapak marah melihat buku-buku penting ikut diguntingi. Bapak pun berteriak. Marah! Tono dan Tini berhenti, gunting lepas dari tangan. Pengarang menceritakan: “O, dia sangat marah! Alangkah marahnya dia!” Tono sedih sekali dimarahi. Pada malam hari, Tono tak dibacakan buku oleh bapak. Konon, Tono mendapat hukuman. Rumah memang tempat “pementasan” marah mungkin terjadi setiap hari. Tono mengerti berbuat salah. Marah itu memastikan pihak bersalah. Hukuman pun wajar.

Kita bergerak ke Tiongkok, membaca marah di keluarga miskin berlatar Revolusi Kebudayaan. Marah diceritakan dalam novel berjudul Kisah Seorang Pedagang Darah (2015) gubahan Yu Hua, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Agustinus Wibowo. Kemarahan biasa terjadi setiap hari dengan pelbagai pemicu. Tiga bocah hidup dalam “roman” kemarahan dicipta bapak dan ibu. Marah mengartikan mengingatkan, mendidik, merendahkan, melukai, dan lain-lain. Tokoh bapak dalam novel memiliki kebiasaan marah dengan parade kata mengejutkan. Kita cuma membaca dalam terjemahan bahasa Indonesia. Kemarahan bapak pada anak: “Kamu genjik cilik. Kamu telur kura-kura cilik… Suatu hari nanti kamu pasti bakal bikin aku mati marah-marah.” Kemarahan akibat makanan, sikap, pekerjaan, politik, atau asmara “diselenggarakan” di rumah. Sekian kata “aneh” itu mengesankan kemarahan memiliki referensi kata dan khazanah kata terwariskan. Pemarah bisa mengumbar kata-kata lugas atau sejenis metafora. Pembaca novel Yu Hua menemukan sekian “pementasan” kemarahan khas dalam kata.

Kita memiliki dua bacaan mengandung marah berasal dari Belanda dan Tiongkok. Kita menemukan tokoh bocah terkena marah. Kesalahan bocah mudah menghasilkan marah. Konon, orangtua berdalih marah untuk memberi “pelajaran” atau membuat si bocah kapok. Marah terasakan serbuan tanda seru. Suara keras, pilihan kata, dan wajah membuat marah itu “bermakna”. Marah itu “api”, “letusan”, “ledakan”, atau “gempuran”. Marah pun menerbitkan sumpah atau kata-kata bertuah “mengundang” petaka. Di hadapan buku cerita atau novel, kita belajar marah di pelbagai peradaban. Kita perlahan mengerti sejarah peradaban besar disahkan kemarahan-kemarahan. Arus peradaban di Yunani, India, Tiongkok, Persia, Mesir, Jepang, Prancis, Amerika Serikat, dan lain-lain pasti memiliki bab-bab marah dengan daftar para tokoh kondang: raja, ratu, jenderal, pengarang, saudagar, filosof, seniman, buruh, dan lain-lain. Kemarahan melegenda dalam album peradaban dunia. Marah mengubah arah kekuasaan. Marah memicu duka dan darah dalam masalah agama. Marah pun bermula dari asmara membuat orang-orang bergelimpangan.

Novel penting bercerita marah digubah oleh Chinua Achebe berjudul Things Fall Apart, diterjemahkan ke bahasa Indonesia berjudul Segalanya Berantakan (1986). Ungkapan dan dampak kemarahan dalam novel menguak sejarah rumit Afrika. Kehidupan suku guncang gara-gara kedatangan “orang kulit putih” membawa misi-misi besar: agama, bisnis, pendidikan, kekuasaan. Novel mengajak pembaca ke halaman-halaman bercerita antropologis. Kemarahan melanda keluarga-keluarga di suku mengakibatkan petaka-petaka. Pembaca mafhum “berantakan” bermula dari salah paham, penghinaan, pelanggaran, atau penindasan Marah dilancarkan sebagai konsekuensi melawan, balasa dendam, putus asa, dan lain-lain. Marah di Afrika itu menggerakkan sejarah: ditolak dan diterima. Buku sejarah sering memiliki halaman-halaman marah. “Berantakan” dari ratusan tahun lalu belum berakhir.

Kita sudah mengingat tiga buku, berusaha mengerti marah di Belanda, Tiongkok, dan Afrika. Buku-buku cerita tak bermaksud menjadi sumber pelajaran sejarah secara “resmi”. Kita membaca dan mengutip saja dalam membuka ingatan-ingatan kemarahan berlangsung di pelbagai negeri, dari masa ke masa. Kita sengaja belum ingin membaca buku-buku cerita gubahan pengarang Indonesia dalam menguak makna dan dampak marah. Buku-buku biar tetap tertutup, menunggu saat paling tepat untuk terbaca dengan tenang.

Konon, orang-orang Indonesia sedang dihebohkan kemarahan tokoh berdampak ke ikhtiar penanggulangan wabah dan pemulihan nasib Indonesia. Kemarahan itu anggaplah “resmi” berkaitan kekuasaan dan pemenuhan amanah sudah diberikan dalam tata cara berdemokrasi, sekian tahun lalu. Kita tak lagi berurusan dengan fiksi tapi fakta. Kemarahan itu ditonton jutaan orang, menimbulkan tafsir-tafsir mungkin memberi pujian atau ledekan. Kemarahan pun menjadi berita di koran-koran terbit 29 dan 30 Juni 2020. Kita pastikan membaca berita-berita, bukan cerita-cerita bergelimang imajinasi. Wabah belum rampung, kita sibuk “bergosip” dengan tema marah. Begitu.

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Emha, Satra dan Pengakuan

mm

Published

on

Oleh Bandung Mawardi *)

Semula, orang-orang mengenali Emha Ainun Nadjib di sastra. Para pembaca majalah Horison masa lalu sering membaca puisi dan cerpen gubahan Emha Ainun Nadjib. Majalah itu tercatat dalam biografi tokoh telah menua. Kini, ia masih lantang saat omong dan sregep menulis. Leren atau tamat tak tercantum dalam “kamus” milik Emha Ainun Nadjib. Di toko buku, kita memastikan puluhan buku Emha Ainun Nadjib menggoda orang untuk membeli dan membaca. Buku lama cetak ulang. Buku baru pun terbit. Di situ, kita membaca nostalgia dan kecenderungan mutakhir ibadah keaksaraan Emha Ainun Nadjib dengan pelbagai ke-mbeling-an dan kesantunan.



Muhammad Ainun Nadjib (born 27 May 1953), best known as Emha Ainun Nadjib or Cak Nun, is an Indonesian poet, essayist, and humanist. Born in JombangEast Java, Nadjib began writing poetry while living in Yogyakarta, publishing his first collection in 1976. He became one of the city’s predominant poets by the late 1980s, and by then had also began writing essays. He is the leader of the Kiai Kanjeng group, which stages dramas and musical performances on religious themes. Early poems by Nadjib have elements of social criticism. However, more prominent are Islamic values, variously described as santri or Sufi. Islam is also a common subject for his essays. His writings have taken a variety of forms, including poetry, essays, novels, and short stories. (Wikipedia)

Keranjingan bersastra memiliki kaitan dengan Horison, sebelum Emha Ainun Nadjib sering menulis kolom di pelbagai koran dan majalah. Kita ingin menghormati Emha Ainun Nadjib saat ulang tahun dengan mengingat babak pergulatan dan pergaulan sastra masa lalu. Di Horison edisi Oktober 1991, kita simak hasil wawancara bersama Emha Ainun Nadjib. Ia tak melulu di sastra. Emha Ainun Nadjib terbukti mumpuni pula di teater dan musik. Ia rajin berceramah atau membuat obrolan-obrolan bertema agama di pelbagai tempat. Sastra mungkin masih pijakan atau titik mula.

Emha Ainun Nadjib menjadi “manusia seribu acara”. Sibuk! Ia kangen bersastra tapi harus berhitung dengan segala peristiwa dan perjumpaan manusia di keseharian. Ia mengaku ingin “menjadi sastrawan kembali”. Sulit! Kita simak perkataan Emha Ainun Nadjib berlatar 1980-an dan 1990-an: “Tapi sebenarnya bertahun-tahun saya hampir tak punya peluang bersastra-sastra ria. Artinya, ragam kegiatan saya yang ‘disusun’ oleh orang banyak kurang toleran terhadap berlangsungnya metabolisme kreativitas sastra saya.” Ia tak mengeluh atau pamer sesalan telah berada dan mengalami pelbagai peristiwa di luar sastra. Sekian kegiatan memang semakin jarang berkategori sastra. Emha Ainun Nadjib telah milik umat beragam tema, tak cuma sastra. Orang-orang memang mulai terpikat dan menganggap Emha Ainun Nadjib itu kolomnis tanpa tanding. Tulisan-tulisan menggairahkan opini publik bersikap atas keadaan aktual. Sastra masih disinggung tapi menipis.

Tarik-ulur dalam menempatkan diri untuk pergulatan keaksaraan dan omongan masa 1990-an memicu dilema. Emha Ainun Nadjib memilih berkelakar: “Yang menyangkut sastra adalah keinginan saya agar kelak saya sanggup merepresentasikannya melalui bahasa sastra. Tapi susah, ya? Sastrawan itu pasti kekasih gelap Tuhan, diizinkan dilalui oleh keindahan-Nya.” Sekian orang tetap membaca puisi-puisi gubahan Emha Ainun Nadjib terbit menjadi buku berjudul 99 Untuk TuhankuSyair Lautan JilbabSeribu Masjid Satu JumlahnyaCahaya Maha Cahaya, dan lain-lain. Di mata kalangan sastra, Emha Ainun Nadjib itu pujangga religius dengan memberi bobot kritik sosial dan sikap-sikap kemanusiaan. Ia tak perlu dipaksa masuk dalam kategori menghasilkan sastra sufistik, sastra profetik, atau sastra transendental.

Pada masa 1970-an dan 1980-an, diskusi sastra dan penulisan kritik sastra menempatkan para pujangga dan buku puisi dalam kategori-kategori mengarah ke keagamaan. Publik membaca dan memberi predikat pada Abdul Hadi WM, Taufiq Ismail, Kuntowijoyo, Emha Ainun Nadjib, Sutardji Calzoum Bachri, Zawawi Imron, dan lain-lain. Di pelbagai perbincangan sastra, nama Emha Ainun Nadjib mungkin disebut tapi ia perlahan tak terlalu “terpandang” dalam gejolak kesusastraan Indonesia. “Saya bukan apa-apa, belum ‘seseorang’ dalam dunia sastra Indonesia,” pengakuan Emha Ainun Nadjib.

Pendapat atau pengalaman bersastra Emha Ainun Nadjib selama sekian tahun terbit menjadi buku berjudul Sastra yang Membebaskan (1984). Buku kecil bekertas buram. Kita membaca (lagi) sebagai pembukti ingatan masa keranjingan bersastra, sebelum Emha Ainun Nadjib menjadi “manusia seribu peristiwa” dan harus “merebut” kewaktuan untuk sastra di masa 1990-an. Tulisan-tulisan dokumentatif dan menjelaskan posisi Emha Ainun Nadjib sebagai penggubah atau pengamat sastra.

Emha Ainun Nadjib menerangkan: “Sejak awal 1982, kita menyaksikan berbagai gugatan agar sastra lebih menunjukkan peran sertanya dalam proses perubahan sosial. Ini jelas bukan sekadar gejala kesusastraan, tapi bersumber pada kompleksitas kegelisahan sosial yang lebih luas. Meskipun batang tubuhnya berupa pemikiran sastra, namun ia adalah ‘saudara kembar’ dari sebutlah meluasnya kesadaran akan keperluan sosiologi dalam banyak ilmu-ilmu pilah modern, munculnya antitesa terhadap tradisi arsitektur modern, tumbuhnya solidaritas-solidaritas dalam kehidupan beragama, atau makin banyak diselenggarakannya kegiatan yang menegur-sapakan berbagai spesialisasi kehidupan.” Sastra “diwajibkan” terbuka, tak sendirian atau dalam pengistimewaan tanpa jamahan atau keterjalinan dengan hal-hal lain.  

Pada 2020, Emha masih menulis beragam tema. Wabah pasti dituliskan dengan kelenturan sikap dan acuan. Orang-orang merasa berhak memberi penghormatan meski tanpa acara besar dan menghebohkan. Situasi tak memungkinkan, Emha Ainun Nadjib mungkin tak menginginkan. Di hadapan kita, Emha Ainun Nadjib telah berubah menandai tua. Wajah itu masih ganteng dan berwibawa dengan sekian kerut. Ketuaan mustahil menghentikan ibadah menulis dan membuat obrolan-obrolan di seantero Indonesia. Ia belum letih. Emha Ainun Nadjib belum ringkih.

Kita mengingat masa muda bersatra di Jogjakarta melalui pengakuan Emha Ainun Nadjib: “Kompetisi yang ketat, suatu perjalanan penuh api, hidup koyak sekolah terbengkalai, hingga akhirnya tiba di sampai ke sampai, meskipun tak akan pernah selesai…. Di Pelopor Yogya ketika itu, suatu hari, puisiku tiba-tiba telah terpasang di ruang ‘Sabana’, suatu tempat tinggi yang di perasaanku waktu itu bagaikan di Arsy. Sesudah membeli sebiji koran itu rasanya ingin aku berlari ke setiap jakan dan gang-gang di kampung-kampung seluruh Jogjakarta untuk melaporkan puisiku.” Kegirangan seorang muda ingin mendapat tempat di sastra, setelah tekun belajar dan mendapat pengasuhan dari Umbu Landu Paranggi. Ia merasa sah sebagai pujangga.

Pulang ke Jombang, Emha Ainun Nadjib mengumumkan ke ibu mengenai puisi di Pelopor Yogya. Puisi tak setinggi pemaknaan bagi ibu dan keluarga. Emha Ainun Nadjib terkejut melakukan kesalahan dugaan dan pengukuran. Ia pun menceritakan pada kita: “Ibuku sama sekali tak terkejut. Bahkan tak sedikit pun ada perubahan di roman mukanya. Meskipun pancaran kasih sayangnya tak pernah berhenti mengalir, tapi aku tahu betul ‘Sabana’ itu tak berarti sama sekali bagi alam hidup pribadi ibuku. Segera sesudah itu aku pun makin melihat juga bahwa semua sahabatku di desa, orang-orang tua, seluruh anggota keluargaku, tidak bergeming oleh pameran itu. Mereka asing.” Emha Ainun Nadjib mulai berhitung ulang: diri, puisi, keluarga, agama, Indonesia, dan lain-lain. Puluhan tahun lalu, ia telanjur menjadi pujangga. Kini, kita tetap mengakui ia adalah pujangga, memberi puisi-puisi di arus penginsafan dan kesadaran mengarah ke religiusitas dan kemanusiaan. Begitu. (*)     

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Mewarisi Buku

mm

Published

on

Sharjah Children’s Book Illustration Exhibition / Getty Image / https://publishingperspectives.com/

Oleh Setyaningsih—Esais, penulis buku Kitab Cerita (2019)

Ada yang agak janggal. Romantisasi bacaan anak yang dipermasalahkan oleh Anindita S. Thayf dalam esai “Bacaan Anak dan Kenangan” di rubrik Saujana, Jawa Pos, 12 Januari 2020, ternyata berawal dari rebutan saluran televisi antara anak dan ibu di ruang tunggu klinik gigi. Anak merengek karena tidak suka tayangan Laptop Si Unyil yang tokoh bonekanya jelek dan mulutnya tidak bergerak. Ibu menolak mengganti saluran dengan alasan tayangan inilah yang ditonton ibu waktu kecil. Dari kejadian ini, Anindita melihat bahwa orangtua memaksakan pilihan pada anak, termasuk pilihan buku. Orangtua merasa berhak “menjejalkan” apa yang dulu dibaca, masih “harus” dibaca anaknya saat ini, padahal zaman berubah. 

Anidita tidak jeli membedakan Unyil bagi ibu yang sangat mungkin hadir dalam film seri Si Unyil, ikonciptaan Suyadi atau Pak Raden dengan Unyil di acara Laptop Si Unyil yang hanya menjadi semacam pembawa acara. Unyil tidak hadir dalam bentuk cerita tapi ikon telah beralih peran. Anindita juga hanya mencontohkan sedikit buku “warisan”, seperti Lima Sekawan dan Trio Detektif (tanpa menyebutkan nama penulis) dan novel garapan Lewis Carol atau Astrid Lindgren serta dongeng H.C. Andersen (tanpa mencontohkan atau menyebut judul cerita). Tapi suatu kenyataan lumrah memang bahwa di ruang-ruang anak berada, buku masih jarang dipilih sebagai kejutan, hadiah, teman di kala menunggu.   

Saya teringat kejadian merayakan Bulan Bahasa di PAUD Tenera, Bengkulu Utara, pada Oktober 2017. Suatu pagi, anak-anak berkumpul di aula bundar yang terang. Saya dan teman-teman menyiapkan buku untuk dibacakan kepada anak-anak. Kami memilih buku Seribu Kucing untuk Kakek garapan Suyadi atau Pak Raden, diterbitkan ulang oleh penerbit Noura pada 2017. Edisi awal buku diterbitkan oleh Djambatan pada 1974. Jelas ada rentang waktu yang jauh dari kelahiran buku dan anak-anak PAUD Tenera. Mereka pasti tidak mengenal Pak Raden berkumis dan bersuara khas juga. 

Justru cerita disambut dengan mata lugu tapi berbinar. Ada anak menyimak dengan serius sampai melongo, tertawa di bagian yang lucu, dan tentu anak-anak biasanya menyukai kucing. Bukan karena usia cerita sudah tua, cerita sanggup membawa apa yang dekat dengan anak meski penulisnya tiada dan waktu terus maju. Meski ilustrasi garapan Pak Raden tampil hitam putih, goresannya tegas dan menyiratkan setiap adegan dengan pas. Cerita yang awet mampu membawa apa yang pantas disampaikan ke anak-anak: kejutan, kedekatan, kelucuan, penuturan tanpa beban moralitas.

Bukan Mewarisi Persepsi

Dalam jagat perbukuan, ada cerita-cerita yang seolah ditakdirkan diwariskan. Hal ini, cukup sering menyangkut biografi orangtua sebagai pembaca di masa kanak ataupun tidak lagi kanak. Bahkan ada kesengajaan orangtua merekomendasikan ke penerbit, seperti disampaikan oleh penerbit buku bacaan anak berjudul Gembira garapan A.S. Maxwell yang pada 1977 mengalami cetak ulang kesembilan, “Generasi yang terdahulu telah dewasa, namun masih banyak dari antara mereka yang mengingat buku ini dan kisah-kisah yang terdapat di dalamnya. Dari antara mereka itu banyak yang sudah berkeluarga dan ingin mengisahkan apa yang telah dibaca mereka puluhan tahun yang lalu [….] Mereka menganjurkan supaya buku ini dicetak kembali dan anak-anak mereka dapat membacanya.” Buku Gembira memuat cerita tentang dunia anak, keluarga, binatang, lagu, alat transportasi, cita-cita, dan lain-lain. Buku diminta lahir kembali untuk mengiringi anak-anak bertumbuh. Sangat mungkin, orangtua yang pernah anak ini dulu dikenalkan dengan buku Gembira juga lewat “kenangan” orangtua dan merasa tidak terjejali.

Para pembaca Indonesia tentu turut menjadi masyarakat buku panjang umur. Buku terus dirayakan kelahirannya meski penulis tidak lagi di dunia. Buku disambut pembaca terus berganti. Kita masih bisa mendapati novel ala A Little Princess (2015) yang terbit pertama pada 1904 oleh Frances Hodgson Burnett atau Anne of Green Gables (2017) garapan Lucy Maud Montgomery yang pertama ditulis pada 1908. Pippi Si Kaus Kaki Panjang (2018) diterbitkan pada 1945 oleh Astrid Lindgren masih tetap mewakili naluri anak-anak untuk bebas, usil, dan banyak ide. Cerita predikat klasik masih tetap terbaca hari ini.

Dan dalam biografi keluarga, orangtua memang berkuasa atas politik belanja karena merekalah yang punya modal secara ekonomi. Neil Postman (2009) mengatakan buku menawarkan misteri-misteri kognitif. Sejak penemuan mesin cetak di Barat dan juga berarti penemuan atau penciptaan sikap khusus atas masa kanak, buku menjadi salah satu media penting pengajaran. Anak adalah sosok yang “berbeda” dari orang dewasa, maka ada kebutuhan tertentu disiapkan. Ide tentang masa kanak memang diawali oleh kelas menengah yang terutama memiliki modal ekonomi dan menjadikan mereka terhormat secara sosial. Dikatakan, “Dalam mengatakan apa yang kita harapkan dari seorang anak nantinya, kita mengatakan siapa kita.” Sedang yang terjadi saat ini, kuasa membelikan buku masih diutamakan untuk buku pelajaran atau buku tulis.

Orangtua adalah penjejal buku wajib administratif bagi anak-anaknya. Sering asupan gizi buku imajinatif tidak diberikan karena ada orangtua benar-benar tidak tahu apa yang akan dirayukan kepada anak. Kenangan saja tidak punya lho! Negara pun turut campur mengadakan hal-hal yang semakin meremehkan pengalaman orangtua berbuku, entah gerakan 10 menit membacakan buku, mendongeng, atau Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku). Orangtua harus diperintah-perintah terus agar sadar menjadi masyarakat lumrah huruf.

Kenangan memang bisa saja sentimental dalam pewarisan cerita. Yang menjadi kunci, mewariskan kenangan buku bukan berarti mewariskan persepsi orangtua atas buku. Ini bukan soal bagus-tidak bagus dan anak harus menyepakatinya. Anak pasti memiliki cara tanggap berbeda dari orangtua atas apa yang dulu dibaca orangtua. Masih ada orangtua yang takut jika anak berani berpendapat berbeda.

Saya tentu menyepakati bahwa “anak-anak yang paling tahu cara menemukan kesenangan murni dalam sebuah buku.” Tapi untuk sampai pada kesenangan murni itu, anak juga perlu digoda, diajak bicara, diajak berdialog-belanja di toko buku atau pasar buku bekas, dan diajak penasaran. Orangtua mesti berusaha menjadi penggoda buku berbekal kenangan-kenangan di rasa dan kepala. (*)  

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending