Connect with us

Cerpen

Valentin Rasputin: Pelajaran Bahasa Perancis

mm

Published

on

Kejadian ini berlangsung pada tahun 1948. Perang[1] belum lama usai, orang-orang ketika itu hidup dengan penuh kesulitan dan kelaparan.

Pada  tahun itu saya pergi dari  desa ke kota untuk melanjutkan pendidikan, lantaran sekolah di desa kami hanya sampai kelas 4.[2]

Di kota saya masuk ke kelas 5. Saya belajar dengan begitu baiknya, di semua mata pelajaran saya memperoleh nilai pyatyorka,[3] kecuali bahasa Perancis.

Dengan bahasa Perancis persoalan yang terjadi pada saya adalah karena pelafalan yang buruk. Untuk membenarkan pelafalan itu, Lidia Mikhailovna, guru bahasa Perancis, kerap menjelaskan, di manakah harusnya menempatkan lidah untuk mendapatkan bunyi yang benar. Tetapi semua kelihatannya sia-sia, lidah saya tidak mematuhi saya. Dan ada sedih yang lain. Ketika saya pulang dari sekolah dan tinggal sendirian, saya berpikiran mengenai rumah di desa. Saya merindukan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan saya, juga kawan-kawan. Saya sangatlah kurus, dan ibu, ketika datang melihat, dengan penuh kesulitan mengenali saya.

Akan tetapi saya kurus bukan hanya lantaran rindu kepada rumah. Saya pada sepanjang waktu merasa kelaparan. Ibu kadang-kadang mengirimkan roti dan kentang lewat orang-orang, yang pergi ke kota, tetapi itu tidaklah banyak. Dan saya tidak mampu meminta lebih kepada ibu, karena di rumah masih ada saudara laki-laki dan saudara perempuan saya. Kira-kira ada dua kali ibu mengirimkan kepada saya 50 kopek,[4] agar saya dapat membeli susu. Saya membeli susu di tetangga.

Dan pada suatu hari, pemuda sebelah, bernama Fedka[5] bertanya kepada saya:

“Kau main uang?”

“Apa? Main uang?”

“Ya, kalau kau punya uang, mari kita pergi untuk main.”

“Tidak, saya tak punya uang.”

“Ya, kalau begitu mari kita pergi untuk melihat, bagaimana mereka bermain.”

Kami pergi menuju ke sekolah. Di belakang sekolah semua anak-anak berdiri.

“Buat apa kau bawa dia?” seorang yang paling tua di antara kami bertanya kepada Fedka.

“Tidak apa-apa, Vadik,[6] biarkan dia melihat, dia orang kita sendiri,” jawab Fedka.

“Kau akan main?” tanya Vadik kepada saya.

“Saya tidak punya uang.”

“Baiklah, kalau begitu kau lihatlah, jangan bilang kepada siapapun juga, kalau kami main di sini.”

Lebih jauh lagi tidak ada yang memperhatikan saya dan saya mulai melihat. Memahami permainan tersebut tidaklah sukar. Anak-anak menggambar kuadrat[7]di atas tanah yang tidak begitu besar dan meletakkan uang di dalam kuadrat, setiap orang 10 kopek. Kemudian mereka menjauh kira-kira dua meter dan mulai melemparkan koin. Kalau koin jatuh di dalam kuadrat, maka orang yang melempar tersebut mengambil semua, yang ada di dalam kuadrat.

Kelihatannya bagi saya, jika saya ikut main, saya juga akan mampu memenangkannya. Dan demikianlah ketika ibu mengirimkan 50 kopek kepada saya untuk kali ketiga, saya tidak pergi untuk membeli susu. Saya pergi untuk ikut bermain. Mula-mulanya saya kalah 30 kopek, kemudian menang 20 kopek, kemudian menang lagi 50 kopek. Hari tampak sudah malam, saya ingin pulang, tetapi Vadik berkata:

“Main!”

Dia melemparkan koin dan koin tersebut agak tidak sampai ke dalam kuadrat. Dan saya melihat bagaimana Vadik mendorong koin tersebut.

“Kau mendorong koinnya!” kata saya.

“Apa? Coba, kau ulangi!” teriaknya.

“Kau mendorong koinnya!”

Vadik memukul saya. Saya pun terjatuh dan dari hidung saya keluar darah.

“Kau mendorongnya, kau mendorongnya!”

Vadik memukul saya dan saya ketika itu tidak menangis. Kemudian dia meninggalkan saya sendirian. Dengan susah payah saya bangun dan pulang ke rumah.

Di pagi hari saya dengan rasa khawatir melihat diri sendiri di  dalam cermin: hidung jadi membesar, di bawah mata kiri terlihat lebam kebiru-biruan.

“Hari ini di kelas kita ada yang terluka,” kata Lidia Mikhailovna, ketika saya masuk ke dalam kelas. “Apakah yang terjadi?”

“Tidak ada yang terjadi,” jawab saya.

“Hah, tidak ada yang terjadi!” teriak Fedka secara tiba-tiba. “Kemaren dia dipukul Vadik. Mereka main uang!”

Saya tidak tahu, apa yang harus dikatakan. Kami semua tahu dengan jelas, bahwa karena main uang, orang bisa dikeluarkan dari sekolah dan Fedka mengatakan semuanya kepada Lidia Mikhailovna!

“Saya tidak bertanya kepadamu, tetapi jika kau ingin menceritakan mengenai sesuatu, mendekatlah ke papan tulis dan ceritakanlah suatu teks pelajaran.” Lidia Mikhailovna menghentikan kata-kata Fedka. Dan kepada saya, dia berkata: “Kau tunggulah setelah mata pelajaran.”

Setelah mata pelajaran Lidia Mikhailovna menghampiri saya.

“Itu benar, bahwa kau main uang?” tanyanya.

“Benar.”

“Dan bagaimana, kau menang atau kalah?”

“Menang.”

“Berapakah?”

“40 kopek.”

“Dan apa yang akan kau lakukan dengan uang itu?”

“Saya akan membeli susu.”

“Susu?” Lidia Mikhailovna dengan penuh perhatian memandangi saya. “Tetapi tetap saja tidak boleh bermain uang. Kau tahu mengapa? Kita mesti belajar bahasa Perancis. Datanglah ke rumah saya nanti malam,” katanya mengakhiri percakapan.

Begitulah pelajaran bahasa Perancis dimulai untuk saya. Hampir setiap malam saya datang ke rumah Lidia Mikhailovna untuk belajar. Dan setelah belajar, dia mengundang saya untuk makan malam. Tetapi saya seketika itu juga bangun, berkata, bahwa saya tidaklah lapar dan dengan sesegeranya saya berlari pulang. Begitulah berulang beberapa kali, dan kemudian Lidia Mikhailovna berhenti mengundang saya untuk makan.

Pada suatu hari saya diberitahu untuk datang ke sekolah mengambil bingkisan. Saya berpikir, bahwa ibu sekali lagi mengirimkan saya kentang melalui seseorang, tetapi di dalam bingkisan tersebut terdapat makaroni. Makaroni! Di manakah ibu membeli makaroni? Di desa kami makaroni tidak pernah dijual. Surat di dalam bingkisan juga tidak ada. Jika ibu yang mengirimkan bingkisan, maka ibu pasti akan menggeletakkan surat di dalamnya dan di  dalam surat tersebut ibu akan mengisahkan, dari mana kekayaan tersebut bermuasal. Artinya, ini bukanlah ibu. Saya mengambil bingkisan tersebut dan menuju kepada Lidia Mikhailovna.

“Apakah yang  kau bawa itu? Untuk apa?” tanyanya, manakala dia melihat bingkisan.

“Ibu guru yang melakukan ini, ibulah yang mengirimkan ini kepada saya,” kata saya.

“Mengapa kau berpikir, bahwa sayalah yang melakukannya?’

“Karena di desa kami makaroni tidak ada, ibu harusnya  tahu itu.”

Dengan seketika Lidia Mikhailovna tertawa: “Ya, seharusnya lebih dulu saya tahu. Dan apakah yang kalian punya di desa?”

“Kentang.”

“Kami di Ukraina memiliki apel. Di sana sekarang banyak apel. Yah, baiklah, ambillah makaroni tersebut. Kau harus banyak makan, agar bisa belajar.”

Tetapi saya sudah lari menjauh.

Di dalam perkara yang demikian, pelajaran belumlah berakhir, saya masih melanjutkan untuk pergi ke rumah Lidia Mikhailovna. Patutlah diceritakan, bahwa saya telah melakukan keberhasilan dan oleh karenanya saya belajar bahasa Perancis dengan senang hati. Mengenai bingkisan kami tidaklah lagi mengingatnya.

Suatu hari Lidia Mikhailovna berkata kepada saya: “Nah, bagaimana, kau tidak lagi bermain uang?”

“Tidak,” jawab saya.

“Dan bagaimanakah permainan tersebut? Ceritakanlah!”

“Buat ibu, untuk apakah?”

“Itu menarik! Di dalam masa kanak-kanak saya juga bermain-main. Ceritakanlah, tidak perlu takut!”

“Untuk apa saya takut!”

Saya pun menjelaskan aturan permainan kepada Lidia Mikhailovna.

“Mari kita bermain,” tiba-tiba dia menawarkan.

Saya tidak mempercayai pendengaran saya sendiri. “Ibu kan seorang guru!”

“Lantas apa? Guru – mahluk lainkah? Hanya jangan sampai direktur sekolah tahu, bahwa kita main. Nah, mari kita mulai, jika tidak tertarik, kita tidak akan main.”

“Baiklah,” kata saya dengan penuh keraguan.

Kami mulai main. Lidia Mikhailovna tidak beruntung, dan tiba-tiba saya jadi faham, bahwasanya  dia memang tidak ingin memenangkan! Dia sengaja membuang koin, agar koin tersebut sejauh-jauhnya jatuh dari titik tujuan.

“Sudahlah,” kata saya, “kalau caranya demikian saya tidak bermain. Untuk apa ibu justru mengalah?”

“Sama sekali tidak, lihatlah!” kata Lidia Mikhailovna dan dia melemparkan koin. Sekali lagi koin jatuh cukup jauh dan pada ketika itu juga saya melihat, bahwa Lidia Mikhailovna mendorong koin!

“Apa yang ibu lakukan?” teriak saya.

“Apa?”

“Buat apa ibu mendorong koinnya?”

“Tidak, koinnya memang tergeletak di sini,” dengan riang Lidia Mikhailovna menjawab.

Saya langsung tidak ingat, bahwa dia secara khusus memang mengalah pada saya. Saya memandang dengan hati-hati, agar dia tidak mengelabui saya.

Semenjak itu kami bermain hampir pada setiap sore. Sekali lagi saya memiliki uang dan sekali lagi saya membeli susu.

Akan tetapi pada suatu hari segalanya berakhir. Seperti biasanya, pada setiap sore kami bermain dan berbantahan dengan kencang.

“Apakah yang sedang terjadi di sini?” tiba-tiba saja kami mendengar suara yang berat. Di depan kami berdiri direktur sekolah.

“Saya pikir, Anda akan mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk,” dengan perlahan Lidia Mikhailovna berkata.

“Saya sudah mengetuknya, tetapi tidak seorang pun yang menjawab. Apakah yang sedang terjadi di sini? Saya punya hak untuk mengetahui sebagai direktur sekolah.”

“Kami main uang,” dengan tenang Lidia Mikhailova menjelaskan.

“Anda main uang?…Dengan murid sendiri?!”

“Benar.”

“Anda tahu, saya…saya telah dua puluh tahun mengajar di sekolah, tetapi yang demikian ini…Ini perbuatan kriminal!”

“Selang tiga hari Lidia Mikhailovna pergi. Menjelang keberangkatannya dia berkata kepada saya: “Saya akan pergi ke Ukraina, ke tempat saya sendiri. Dan kau belajarlah dengan tenang. Tidak seorang pun yang akan mengeluarkanmu dari sekolah. Di sini sayalah yang bersalah. Belajarlah.”

Dia pun pergi dan saya tidak pernah melihatnya lagi.

Pada musim dingin, selepas waktu liburan, saya menerima bingkisan. Di dalamnya ada makaroni dan tiga buah apel merah yang besar-besar. Dulu kala saya hanya melihat apel di dalam gambar-gambar, tetapi sekarang saya langsung mengerti, beginilah apel-apel itu.

 

*Biografi Valentin Rasputin

Valentin Grigorevich Rasputin (15 Maret 1937-14 Maret 2015) lahir di desa Atalanka, Rusia dan wafat di Moskow, Rusia. Valentin Rasputin menamatkan Universitas Irkutsk pada tahun 1959 dan dalam beberapa tahun beliau bekerja di surat kabar di Irkutsk dan Krasnoyarsk. Buku pertamanya “The Edge Near The Sky” dipublikasikan tahun 1966 di Irkutsk dan “Man from This World” dikeluarkan tahun 1967 di Krasnoyarsk. Pada tahun yang sama “Money for Maria” dimuat di Angara No. 4 dan pada tahun 1968 “Money for Maria” diterbitkan sebagai buku terpisah di Moskow. Karya-karyanya yang lain: The Last Term (1970), Live and Remember (1974), Farewell to Matyora (1976), You Live and Love (1982), Ivan’s daughter, Ivan’s mother (2004).

Valentin Rasputin sangat dekat dikaitkan dengan gerakan kesusastraan Soviet Pasca Perang yang disebut dengan village prose atau rural prose. Karya village prose biasanya berfokus pada kesulitan kaum tani Soviet, pada gambaran ideal tentang kehidupan desa tradisional, dan secara implisit atau eksplisit mengkritik proyek modernisasi.

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

[1] Великая Отечественная Война (Velikaya Otechestvennaya Voina) atau Great Patriotic War adalah perang  antara Rusia dan Republik-republik yang tergabung di dalam Uni Soviet (kecuali negara-negara Baltik, Georgia, Azerbaijan dan Ukraina) melawan invasi Jerman dengan aliansinya Hungaria, Italia, Rumania, Slovakia, Finlandia, dan Kroasia. Perang berlangsung dari tanggal 22 Juni 1941 sampai tanggal 9 Mei 1945

[2] Primary general education merupakan tingkatan pertama dan berlangsung  selama 4 tahun, basic general education adalah tingkatan kedua berlangsung selama 5 tahun, dari kelas 5 sampai kelas  9, dan secondary (complete) general education yang merupakan tingkatan terakhir, berlangsung selama 2 tahun, dari kelas 10 sampai kelas 11

[3] Sistem penilaian di dalam pendidikan Rusia: единица yedinitsa = 1, двойка dvoika = 2, тройка troika = 3, четвёркa chetvorka = 4 dan пятёрка pyatyorka = 5

[4] Satuan terkecil mata uang Rusia

[5] Berasal dari nama Fyodor

[6] Beberapa sumber  menyebutkan berasal dari nama Vadim

[7] Persegi

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Keika Aku Melihatmu Mati

mm

Published

on

Oleh Mena Oktariyana

Tidak ada yang lebih menakutkan bagi Ali, selain melihat seseorang meregang nyawa di hadapannya. Malam itu, dia menyaksikan sendiri adiknya, Mono, tersiksa menghadapi sakaratul maut. Dilihatnya si Mono mengerang kesakitan dengan tubuh yang terus saja menggeliat di atas tempat tidurnya. Ali mendengar suara keluar dari kerongkongan adiknya, bagaikan orang yang sedang tercekik. Berulang kali dia membisikan ayat-ayat suci di telinganya sambil terus memegangi tubuhnya yang bergetar hebat itu. Dan, ketika getaran dan erangan itu berhenti, Mono sudah terbujur kaku dengan mulut dan mata yang terbuka lebar. Hawa di kamar itu seketika berubah menjadi begitu dingin menusuk. Malaikat maut seperti datang menghujani kamar itu dengan kegelapan dan kedinginan. Hujan dan petir di luar pun seperti bersekongkol untuk mengiringi kepergian adiknya. Ali menutup mata dan mulut Mono dengan tangannya yang gemetar. Dia ingin menangis, tapi tak bisa menangis. Ketakutan yang dia rasakan malam itu telah mengalahkan air matanya.

            Pintu rumah dibuka. Santi, istri Mono datang dengan kondisi basah kuyup sambil membawa kantong kresek yang berisi obat-obatan untuk suaminya.

            “Sial, sial, hujan lebat! basah semua bajuku ini. Tahu begini kan tadi aku bawa payung,” ucap Santi kesal.

            Dia menaruh obat-obatan itu di atas meja makan. Kemudian dia membuka pintu kamar dimana suaminya sedang terbaring, ditemani Ali yang sedang duduk di kursi samping tempat tidur. Karena dia tidak berani masuk ke dalam kamar dengan kondisinya yang basah kuyup, dia pun akhirnya menutup pintu kamar itu kembali dan berjalan menuju kamar mandi.

            “Ali, Al!” seru Santi dari balik kamar mandi. “Kamu kalo mau pulang, pulang saja ya. Aku sudah di rumah ini. Takutnya kamu kemalaman, nanti enggak dapat bus kamu.” lanjutnya sambil asik menggosok-gosok tubuhnya yang kotor dengan sabun. 

            “Makasih ya sudah mau nengokin si Mono. Aku tuh seneng, masih ada yang mau peduli sama saudara sendiri, tidak seperti saudara-saudaraku. Waktu aku kecelakan motor bulan kemarin, hemmm boro boro pada nengokin. Dikatain bego iya, gara-gara enggak becus bawa motor.”

            Beberapa saat kemudian, Santi keluar dari kamar mandi sambil mengusuk-ngusuk rambut basahnya menggunakan handuk. Lalu dia menuju kamar untuk mengambil sisir.

            “Loh, kok kamu masih disini? aku kira sudah pulang,” ucap Santi yang terkejut melihat Ali masih ada di kamar. “Ya sudah lah nanti aja kamu pulangnya, toh masih hujan juga di luar.” dia keluar kamar dan berjalan menuju dapur.

Dia membuka kulkas untuk melihat apa kira-kira yang bisa dia masak saat hujan deras begini. Tidak ada yang lebih enak selain makan sesuatu yang berkuah panas dan pedas saat hujan, pikirnya. Oleh karena itu dia mengambil sebungkus kwetiau kemasan, dua butir telur, sebungkus bakso, cabai, dan segala bumbu yang dia perlukan untuk memasak kwetiau kuah kesukaannya.

“Al, aku buatin kwetiau ya, kamu harus makan dulu sebelum pulang,” ucapnya sambil sibuk menyiapkan bumbu. “Oh iya Al, nanti tolong kamu bawa ya, pisang kepoknya. Pisang itu kesukaan istrimu. Di kebon belakang masih banyak, tadinya sih mau aku jual di pasar. Tapi, gimana ya, semenjak Mono sakit aku jadi susah buat ngapa-ngapain. Belum lagi kalau dia kambuh kejang-kejangnya. Repot lah pokoknya, aku tidak bisa tinggal dia lama-lama. Mau ngapain saja jadi susah.” ucapnya kesal.

Dua mangkuk kwetiau itu pun sudah siap untuk dihidangkan. Dengan perut keroncongan Santi membawanya ke meja makan.

“Al, makan dulu Al, sudah matang nih!” seru Santi kepada Ali yang masih berada di kamar.

Perutnya yang sudah lapar dari tadi, membuatnya langsung menyantap satu mangkuk besar kwetiau miliknya tanpa menunggu Ali. Dan sampai habis satu mangkuk kwetiau itu, Ali tidak juga datang ke meja makan.

“Ini orang kok dipanggilin nggak nyaut nyaut dari tadi, tidur apa gimana?” tanya Santi pada dirinya sendiri.

Lantas Santi membawakan satu mangkuk kwetiau untuk Ali itu ke dalam kamar. “Kamu aku panggil daritadi kok enggak jawab-jawab, nih dimakan,” katanya sambil memberikan semangkuk kwetiau kepada Ali. Namun Ali hanya terdiam sambil menangis.

“Lah, kenapa kamu nangis? tanya Santi bingung.

Dia melihat ke arah Mono yang dipikirnya sedang tertidur lelap. Dia hanya terdiam sambil melihat tubuh suaminya yang terbujur kaku dengan wajah pucat pasi. Tangannya gemetar, dia jatuh terduduk dan semangkuk kwetiau itu berserakan di lantai. Ali segera bangkit dari tempat duduknya dan berusaha menenangkan adik iparnya. Sadar suaminya telah mati, Santi menangis begitu hebat sambil berteriak memanggil-manggi suaminya.

Beberapa saat kemudian, tangisan itu berubah menjadi suara tawa yang menakutkan. Dilihatnya Santi sedang tertawa cekikikan sambil mengusap air matanya. Ali terkejut dan bingung. Dia tahu bahwa banyak orang menjadi gila karena ditinggal mati orang yang mereka cintai. Tapi, apa mungkin Santi bisa gila secepat ini, ucapnya dalam hati.

“Aku bebas! Aku bebas! sudah lama aku ingin dia mati!” teriak Santi sambil terus tertawa cekikikan.

Continue Reading

Cerpen

Tidak Ada Kunang-Kunang Malam Ini

mm

Published

on

Oleh: Khoirul Anam*

            Di samping rel kereta api, terdapat gubuk kecil berbilik bambu. Bagian atapnya terkadang bocor ketika hujan deras. Jika siang, seng itu bisa membuat orang di dalamnya merasa panas dan gerah. Tetapi bukan hanya satu gubuk, sepanjang rel dari selatan hingga utara ada lima—jaraknya berjauhan. Tempat yang strategis, agak jauh dari lingkungan warga.

            Untuk menuju ke sana, Sasha menempuh perjalanan sekitar satu jam setengah. Dia berangkat jam sembilan malam, bersama dua orang teman—di antaranya memiliki motor bodong—yang satu kontrakan. Setibanya mereka berpisah. Ada yang di ujung selatan, di tengah dan Sasha di utara. Dua germo—laki-laki bertubuh kekar dan perempuan dengan dada menyembul ke depan—menyambutnya.

“Sudah ada empat orang malam ini. Tiga lainnya menunggu di sana.” Perempuan itu menunjuk tiga bara api rokok, tidak terlalu jauh. Sasha menganguk dan tersenyum. Semenjak Rani dan Indah tak lagi bekerja, terkadang dia senang, terkadang sebaliknya. Pertama, karena dia mendapat uang lebih. Kedua, bagaimana mungkin dia mampu menemani banyak orang dalam satu malam, setiap hari. Tenang saja, sebentar lagi ada orang baru yang akan menemanimu, kata germonya. Setiap gubuk pasti ada yang menjaga, selain karena wanita di dalamnya bukan sembarangan, tentu agar transaksi mudah dan tidak ada kegaduhan. Tempat ini meski di samping rel dengan kondisi gubuk yang sederhana, tetap mengundang gairah banyak orang.

Namun, sekarang adalah malam yang sial bagi Sasha. Dia sudah berpesan kepada salah satu dari mereka akan pulang jam sebelas, tidak seperti biasanya—jam tiga-empat pagi. Kekasihku mengajak kencan, katanya. Tapi, apa boleh buat. Langganannya akan datang dan dia, harus menemaninya.

            “Barusan dia menelepon dan menanyakanmu. Bersiap-siaplah. Malam ini pasang wajah tercantikmu.” Perempuan itu—germonya— menjelaskan. Sasha mendengus menandakan penolakan.

“Dengar cantik, kamu mau jalan, temani pria itu. Dia akan memberi kita uang lebih jika kamu menemaninya.” Ucapan itu selalu terulang. Padahal Sasha sudah berkali-kali bilang, bahwa pria itu memacu dirinya dengan beringas.

Jelas, Sasha tidak bisa berkata apa-apa. Dia duduk di lawang pintu yang ditutup dengan karung jika ada seseorang masuk. Malam ini, seperti kebiasaan yang sering dia lakukan, matanya menatap kosong ke depan. Dari kejauhan, orang-orang hilir-mudik. Di sana tidak ada kunang-kunang yang bertengkar dengan lampu-lampu jalan. Melainkan, ditatapnya lekat kupu-kupu beterbangan, menemani malam kota yang pekatnya kental sekali. Lamunan itu terkadang buyar karena melintasnya kereta atau datangnya pria yang minta ditemani.

Saat ini, Sasha dengan terpaksa harus memuaskan nafsu bengis langgananya. Pria itu datang tiga-empat minggu sekali. Bayangkan saja, setiap Sasha melayaninya main, dia akan terkapar lemas. Kalau sudah begitu, tak bisa lagi dia menemani pria lain hingga pagi. Sasha mengambil ponsel dan mencari nama di sana. Dia menekan tobol hijau—memanggil.

“Sayang, mungkin aku sedikit telat malam ini. Tak apa, kan?” dia berdiri dengan langkah maju-mundur. Terdengar suara dengusan kesal dari seberang sana.

“Baiklah, sayang. Di tempat biasa, kan? Oke, kita bermalam di sana.” Telepon terputus. Dia kembali duduk di lawang pintu dengan gelisah. Selang beberapa menit, dia berdiri dengan kaki gemetar. Orang yang sedang bercakap dengan germonya pasti pria itu.

Sasha masuk dengan perasaan sangsi. Pria itu mengekori dari belakang. Karung yang tersingkap dia tutup, paku ditancapkan ke bilik bambu agar karung tidak diterpa angin malam.

            “Apa kabar, sayang. Sudah dua minggu aku tidak berkunjung kemari. Lagi banyak urusan. Kamu pasti kesepian, yah? Ayo jawab! Minggu depan aku perbaiki gubuk ini, memberinya selimut dan bantal. Tapi hanya untuk kita berdua.” Dia tertawa nyaring, satu kereta melintas membuat tawanya menciut.

            Sasha menggeleng-geleng seperti ketakutan. Dia tatap wajah di depannya. Pria tambun itu membuka kaus, ikat pinggang dan celana jeansnya. Satu tahi lalat agak besar di dagunya akan selalu Sasha ingat. Jika sewaktu-waktu dia bertemu dengannya di luar, mungkin Sasha akan memukul kepalanya dengan palu atau menyuruh orang bayaran.

            “Ayolah, cantik. Sekarang malam purnama, lihatlah di luar sana. Bulan memberkati kita untuk berpelukan hari ini.” Sasha menelan ludah. Pria itu memegang pundaknya. Satu ciuman di pipi kanan. Tanpa memberinya sedikit bernapas sejenak. Sasha terbujur paksa. Nyala remang-remang lampu senter kecil di dekatnya tak lagi dia rasakan.

***

Fajar, sudah muak dia duduk termangu sendirian. Telepon kekasihnya tidak dapat dihubungi. Sempat kesal dia karena tidak menjemputnya barusan. Dia pun memutuskan untuk bersabar menunggu. Ketika pertama kali menyatakan cinta padanya, jujur, dia bukan modus agar mendapatkan gratisan. Tetapi dia memang tertarik sejak awal melihatnya, di suatu senja, di taman kota. Fajar membuntutinya hingga tahu, bahwa wanita yang mengusik jiwanya setiap malam ada di sebuah gubuk kecil, di dekat rel kereta api.

Tempat itu tidak sama seperti yang pernah dia kunjungi. Meski gubuk kecil tapi bersih. Wanita di dalamnya menyenangkan mata bila dipandang, katanya saat nongkrong di warung kopi Ma Ijah. Di tempat lain, tak ada ketertarikan apa pun, dia hanya iseng. Ya, seperti kebanyakan anak muda. Hanya tawar-menawar, akhirnya tak jadi.

            Fajar tetap menaruh rasa, meski dia tahu wanita yang menjadi kekasihnya bekerja seperti itu. Entah karena landasan apa, Fajar hanya merasa nyaman setelah menjalin hubungan dengan Sasha sekitar satu tahun lebih. Dia pria pertama yang mengajak Sasha agar bersedia menjadi kekasihnya. Awal mula Sasha terkejut setelah menemaninya tidur. Brengsek, ini akal-akalan pria untuk bisa tidur gratis dengan embel-embel kasih sayang. Waktu itu, dia tidak memberi jawaban, hanya melempar senyum karena Fajar menidurinya dengan pelan, penuh kenikmatan.

            Hari berikutnya dia rutin datang ke sana hampir tiap minggu. Dan ternyata dugaan Sasha salah, dia kira Fajar akan mengajaknya tidur di hotel atau semacamnya. Tetapi, Fajar tetap berkunjung. Memberi uang pada germo. Dan, sesekali menyelipkan beberapa lembar di kutang Sasha.

            Sudah lama dia menunggu, giginya bergemeretuk geram. Dia meneleponnya lagi.

            “Halo, sudah berangkat, kah? Oke, aku tunggu.” Fajar memejamkan mata. Satu tarikan nafasnya panjang. Rokok dia selipkan di bibirnya. Kopi masih belum tersentuh.

***

            Purnama menyelimuti malam. Dua pasang kekasih duduk berhadapan. Sasha belum menjawab satu-dua pertanyaan. Nafasnya tak teratur. Setibanya Sasha melangkah dengan sedikit ngangkang, seperti kesakitan. Dia mengenakan Off Shounder Sweeter dengan bahu terbuka sedikit. Satu syal merah melingkari leher. Rambut diikat dan berponi, setengah lainnya tergurai ke belakang. Dia duduk dan memejamkan mata. Tiga kali pertanyaan berhasil membuyarkan lamunannya.

            “Sayang, kamu kenapa?” Fajar memegang tangan kekasihnya. Sasha membuka mata.

“Aku sudah tak kuat melayani pria tambun itu.” Matanya berkaca-kaca. Satu tangan mengusap kewanitaanya yang tertutup tas kecil.

            “Sial. Dia masih sering datang ke sana? Aku harus segera mencari orang bayaran untuk membunuhnya.” Kali ini nada bicaranya sedikit pelan, masih banyak orang di sekitar. Sasha menganguk-angguk, menyetujui. Pesanan dua sandwich dan satu kopi flat white datang. Sasha menatap wajah kekasihnya, dalam sekali.

            “Kamu masih ingat janji itu, kan? Apakah sungguh dengan perempuan sepertiku?”

            “Aku mencintaimu, Sayang!” kali ini bicaranya agak nyaring. Seseorang yang duduk di bangku sebelahnya menoleh. Sasha melekatkan jari terlunjuknya di bibir Fajar.

            “Suaramu membuat orang lain kehilangan konsentrasinya, sayang.” Mereka berdua tertawa liar.

            Bulan sudah dari tadi sempurna menggantung di langit. Obrolan semakin hangat. Fajar menanyakan kesediaan Sasha untuk bertemu keluarganya esok lusa. Setelah aku wisuda kita menikah, katanya. Aku sudah berencana merintis usaha desainer grafis dari awal, katanya lagi. Sasha tersenyum.

“Tadi di kutangku ada uang dari pria tambun-jelek itu,” dia berbisik pelan setelah hening saling tatap. Fajar dan Sasha tertawa liar.

            “Buang saja uang itu, nanti aku ganti yang lebih banyak.”

            Begitu bahagianya Sasha malam ini setelah ditindih penuh siksa. Sepasang kekasih, menikmati dua sandwich ditambah ketang balado. Selang beberapa menit, sayup-sayup terdengar suara sirine ambulans di parkir di pinggir jalan. Sasha melihat-lihat keluar. Apakah pemilik kafe sedang berduka? Satu orang pria dengan langkah tergesa masuk. Sasha menatap lekat pria itu. Tahi lalatnya? O, benarkah itu tahi lalat yang dia kenal? Dadanya bergemuruh.

            “Tiga sandwich, segera.” Pria itu memesan.

            “Ayah, sedang apa di sini?” suara Fajar membuatnya menoleh dan menghampirinya.

            “Owh, kamu. Ada warga terkena serangan jantung malam-malam seperti ini. Untung saja selamat. Sekarang perjalanan menuju pulang. Ibu menelepon, adikmu bangun meminta sandwich.” Ujarnya menjelaskan, tatapannya sesekali menusuk Sasha.

            “Oalah, maaf  Yah, biasanya Fajar yang membawakan sandwich itu buat Raihan. Malam ini mungkin pulang lebih larut.”

            “Ya sudah, tak apa.”

            “Perkenalkan, Yah. Wanita yang besok lusa akan aku bawa ke rumah. Cantik, bukan?”

            “Owh, ya. Wanita yang sempurna, kamu pandai memilih ternyata. Saya tunggu kedatangannya.” Dia melemparkan senyum pada Sasha, dadanya semakin kencang bergemuruh.

            Pelayan menyebutkan pesanan. Pria itu pamit dan keluar. Ambulans melaju tenang, suara sirine dimatikan. Sasha termangu, suara Fajar di depannya samar seolah tak terdengar. Di tempurung kepalanya akar-akar pohon upas mulai mengakar-meracun.

            Sasha menatap Fajar. Kuku-kupu yang sering dilihatnya bertengger di atas kepala kekasihnya.

Sampang 2020

Khoirul Anam, dia menulis cerita pendek. Pernah bergiat di Asoli (Asosiasi Literasi Indonesia) Bandung. Dan sekarang, berproses di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

Continue Reading

Cerpen

Di Antara

mm

Published

on


Galeh Pramudianto lahir tahun 1993. Bekerja sebagai pendidik dan mengelola platform Penakota.id bersama rekannya. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019) diterjemahkan ke bahasa Inggris lewat beasiswa Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Puisinya “Barus, Suatu Pertanyaan” melaju di Majelis Sastra Asia Tenggara 2020.

Karena kamu telah memutuskan untuk memainkan gim ini, maka kamu harus memilih: 1) menjadi tidak terlihat atau 2) bisa membaca pikiran seseorang dari masa kelahiran hingga berakhir di liang lahat? Kamu harus memilih satu. Jika kamu mengabaikan perintah ini maka permainan tidak bisa berlanjut dan hanya bertahan di pilihan menu—sembari menatap karakter yang terus bergerak ke sana ke mari dalam hamparan bit di layar.

Kamu memutuskan untuk memiliki kemampuan membaca pikiran. Kamu memilih itu karena kamu fobia dengan kesepian dan kesendirian. Kalau kamu mendaratkan pada pilihan pertama maka kamu akan stres. Sementara di pilihan kedua nampaknya kamu lebih rileks karena ramai pergumulan dan arus kesadaran di lalu lintas pikiran orang-orang.

Kamu awalnya tidak menyangka dengan ini semua. Gim video di zaman sekarang ternyata bisa begitu ekstrem polahnya. Kamu membeli gim tersebut karena penasaran dengan ragam fitur yang diperbincangkan di forum-forum terjauh, terpinggir dan tergelap di belantara maya. Kamu ingin lari dari kenyataan yang berantakan ini dan menemukan ekstase dan fantasi yang lain di petualangan virtual.

Dan ekstase serta fantasi itu ternyata mewujud nyata. Tuas kendali atau stik yang kamu genggam bergetar hebat. Layar tiba-tiba mati dan gelap. Pandanganmu memudar dan semua nampak buram. Televisi di ruang tengah itu bergoyang-goyang lalu terlepas dari etalase dan menyusut ke dalam lubang matamu.

Seketika itu dunia yang kamu tinggali tak lagi sama. Ketika kamu mampu membaca pikiran orang awalnya kamu nampak baik-baik saja. Tapi ternyata kamu lupa bahwa kamu memiliki masalah dengan penghakiman dan perundungan yang dilakukan orang-orang. Dan itu semakin bekerja dengan baik tatkala kamu mendapati seseorang di hadapanmu, di suatu entah di mana, sekarang dapat membaca pikiranmu.

Kamu ingin berteriak dan menghajar orang-orang yang merundungmu lewat pikirannya. Kamu sudah tidak tahan dengan itu semua. Kamu ingin segera mengambil batu yang ada di sebelah kiri lalu menghantamnya ke kepala si lelaki ini. Ketika kamu memutarbalikan badan dan hendak membungkuk, kamu mendengar ucapan yang tak kamu kira sebelumnya. Ucapan itu tak terdengar lewat bising suara, tetapi berdengung di membran tempani dan berputar-putar terus seperti pita kaset rusak.

“Jangan lakukan! Kita sama-sama memiliki kemampuan ini. Aku ingin menghilangkan Bakat Besar yang mengganggu mentalku ini. Tapi aku tak tahu caranya. Tolong!” ia berbicara denganmu tanpa mengeluarkan suara.

“Maksudmu Bakat Besar?” kamu terheran dengannya.

“Aku telah memiliki kemampuan membaca pikiran ini sejak masih kanak-kanak. Ayahku membelikan gim video itu saat dunia pernah mengalami pagebluk yang terjadi 20 tahun silam. Tahun di mana seharusnya perhelatan sepak bola termegah di Eropa dan Olimpiade terjadi. Ayahku membelikan itu maksudnya agar aku ada hiburan dan tidak stres ketika terlalu lama belajar di rumah. Setelah aku memilih karakter dan kemampuan khusus yang bernama Bakat Besar laknat itu.”

“Jadi kamu berasal dari dua dekade yang lalu?” kamu coba mengingat-ingat masa lalu yang sempat membuatmu ingin mengakhiri hidup.

Apa maksudmu?” ia bertanya keheranan.

“Ketika aku memainkan gim video itu, usiaku sekitar 40 tahun dan tubuhku gampang sakit-sakitan. Tapi sekarang aku merasa lebih bugar dan muda. Aku tak tahu, apa itu hanya efek placebo dari gim ini.” kamu menjelaskan.

“Heh, aku bilang kamu bukan berada di gim lagi! Kamu sudah masuk di dunia baru. Jadi, tubuh dan jiwamu masih tetap ada di dunia sebelumnya, di Bumi atau apalah itu. Tapi setelah itu ia membelah dirinya sendiri dan ada replika dirimu di dunia Antara.” ia menerangkan dengan menggerak-gerakkan bahumu, berusaha meyakinkan.

“Maksudmu di dunia Antara?” kamu menjadi bingung.

“Betul. Orang-orang otomatis akan menggandakan diri dari dunia nyata atau fisik atau apalah itu namanya dan berpindah ke semesta baru yang dinamakan dunia Antara. Maaf maksudku bukan berpindah, tapi ada paralel yang berjalan bersamaan.”

“Jadi, aku yang saat itu berusia 40 tahunan masih hidup? Dan aku yang saat ini lebih muda menjalankan hidup di sini? Di dunia gim video ini?” kamu mencoba mencerna itu semua.

“Kira-kira, begitulah.”

Kamu semakin sadar bahwa sekarang semakin banyak pengguna gim video tersebut di dunia ini. Impian dan harapanmu akan dunia yang lebih baik telah sirna. Impian yang berbasis eskapisme semata ternyata malah menelanmu mentah-mentah. Dirimu masuk ke semesta bernama Antara dan terciptalah Bakat Besar itu. Kamu masih berusaha mengulik ini semua: dunia yang baru, ketika batas kesadaran, realitas dan fantasi telah memudar.

Dunia yang kamu harapkan hanya ada di gim video dan malah membuatmu menjadi cemas karena banyak yang memiliki kemampuan seperti awal kisah ini dimulai: menjadi tidak terlihat atau 2) bisa membaca pikiran seseorang dari masa kelahiran hingga berakhir di liang lahat? Kamu sekarang bingung antara bahagia atau tidak dengan usiamu yang lebih muda 20 tahun ini. Tapi setidaknya, kamu bisa memberi tahu kepadanya dan orang-orang yang memiliki privilese di pemerintahan. Kalau 20 tahun setelah pagebluk itu usai, dunia harus bersiap-siap untuk 20 tahun berikutnya. (*)

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending