Connect with us

Interview

Umbu Landu Paranggi Berumah dalam Kata-kata

mm

Published

on

Umbu Landu

Penyair selalu menempuh jalan sunyi dengan misi suci. Sunyilah yang menginspirasi untuk melahirkan buah berkah bagi kedalaman kemanusiaan. Percik permenungan yang dituliskannya adalah sari-sari dari kejujuran untuk membangun moralitas.

Umbu Wulang Landu Paranggi (69) masih seperti dulu. Cuma dalam dua pertemuan akhir Oktober 2012 di Denpasar, ia tampak lebih kurus. Tetapi, jelas, riak-riak kreativitas dan simpanan energi di dalam dirinya seperti empasan ombak Pantai Sindu, Sanur, tempat kami bertemu.

Umbu memilih Pantai Sanur bukan tanpa alasan. Cuaca malam hari di Sanur selalu penuh misteri. Gerak pepohonan, lorong-lorong desa, derit rumpun bambu, kunang-kunang di belukar liar, serta kerlap-kerlip bintang di kejauhan seakan berpadu dengan gemuruh ombak sepanjang pantai. ”Sanur masih saja mistis…,” kata penyair yang sudah lebih dari 50 tahun mengabdikan dirinya pada puisi. Banyak yang salah kaprah pada puisi. Puisi, tutur Umbu, bukan cuma milik para penyair. Ia harus hidup di hati, kepala, dan lidah semua orang, termasuk para politisi. Bahkan, tambahnya mengutip Mochtar Pabottingi, rekan sejawatnya, menulis puisi bukan untuk menjadi penyair, melainkan membuat diri terhindar dari sakit jiwa. Kesalahan terbesar ”delegasi Senayan” (maksudnya: wakil rakyat), kata Umbu, tidak ada yang paham ”Gurindam 12” Raja Ali Haji. ”Sebab itulah dasar-dasar kecintaan, kejujuran, dan segala hal yang berhubungan dengan pengabdian,” kata Umbu.

Di tengah angin yang menderas, tiba-tiba muncul penyair Warih Wisatsana dan Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana. ”Wah, saya sudah tunggu-tunggu, saya sudah siapkan ini…,” sambut Umbu sambil mengulurkan sepucuk surat kepada Supadma Rudana. Keduanya, baru bertemu untuk pertama kali meski masing-masing sudah saling mengenal nama.

Pada masa 1960-an, Umbu dikenal dengan julukan ”Presiden Malioboro”. Ia tidak saja mengasuh rubrik budaya di mingguan Pelopor Yogyakarta, tetapi juga memelopori apresiasi sastra di emperan toko Jalan Malioboro Yogyakarta. ”Akademi” jalanan Malioboro ini kemudian melahirkan nama-nama besar dalam sejarah sastra Indonesia. Sebutlah ”murid-murid” yang menonjol, seperti Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi AG, Korrie Layun Rampan, dan Yudistira Ardhi Nugraha. Di situ juga ada nama-nama Agus Dermawan T dan Ebiet G Ade.

Anda dikenal sebagai pelopor dalam perkembangan sastra, sampai-sampai jarang yang mengenal karya Anda. Kapan bikin buku?

Ah itu biarkan saja orang lain. Tugas saya sejak di Yogya sampai Bali selalu bikin taman. Taman kreativitas untuk menemukan orang-orang yang mencintai hidup.

Anda tidak risau dalam masa kepenyairan 50 tahun lebih belum juga memiliki sebuah antologi?

Sudah saya katakan, itu tugas orang lain. Tugas saya ya begini saja, jalani kehidupan sebagai pencinta sunyi. Gede Prama pernah menulis, sepi yang mengilhami, ketika dia membahas soal Nyepi di Bali. Itu rumusan yang luar biasa, sepi bukan berarti kosong, tetapi justru penuh geriap energi dalamnya.

Menurut Umbu, keberangkatannya pada usia relatif muda dari Sumba Timur ke Yogyakarta pada tahun 1960 untuk belajar di SMA Taman Siswa. ”Kata taman itu menancap di kepala saya. Sayang saya terlambat sehingga akhirnya sekolah di SMA Bopkri Kotabaru. Tetapi, malah di situ ketemu Ibu Lasiyah Soetanto, guru yang tidak menggurui,” katanya.

Saat-saat mantan menteri peranan wanita pertama RI itu mengajar Bahasa Inggris, Umbu selalu menulis puisi. Ulah ”si pendiam” yang nakal itu membuat teman-temannya protes. ”Ibu tolong minta saja Umbu baca puisinya ke depan kelas. Dan Ibu Lasiyah selalu bilang, nanti saja kalau puisinya sudah dimuat di koran kita kritik ramai-ramai,” tutur Umbu mengulang kejadian di masa-masa awal kepenyairannya.

Mengapa Anda tidak seperti Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, atau Rendra saja dalam menekuni dunia kepenyairan?

Saya cuma menjalankan apa yang sudah dituliskan langit.

Maksudnya?

Semua punya peran masing-masing. Kalau semua seperti Chairil atau Sutardji, mungkin dunia kepenyairan dan kebahasaan kita tumbuh lamban. Berbahasa Indonesia bukan sesuatu yang mudah bagi sekalangan orang Jawa dan Bali dan orang-orang yang bukan Melayu. Karena itulah, Sumpah Pemuda itu puisi mantra. Ia ibarat amarah suci sebuah angkatan… 17 tahun kemudian terbukti terjadi proklamasi.

Anda tadi menyinggung soal ”delegasi Senayan” apa yang terjadi di situ dalam kacamata Anda?

Kita sudah berjarak dengan bahasa sehingga semua menganggap rakyat itu bodoh. Ada ungkapan penting: kediamdirian rakyat adalah pelajaran bagi seorang raja. Kalau raja ingin tahu apa yang terjadi, dia harus turun kepada rakyat. Penyair Hartoyo Andangjaya bilang, kita adalah rakyat, darah di tubuh rakyat, debar sepanjang masa. Nah, mereka ini jenis yang tak tahu debar, tak tahu sejarah disusun dari darah.

Apa yang membuat Anda begitu mencintai puisi?

Lho… alfabet itu cuma terdiri atas 26 huruf saja. Tetapi, kata-kata adalah diksi dari nyawa. Makanya, kita percaya kepada Tuhan karena kata. Soebagio Sastrowardoyo (penyair) pernah menulis: Ini kata-kata, maka dari itu aku bersembunyi dalam kata dan menenggelamkan diri di dalam kata. Coba bayangkan kalau semua pejabat kita paham bahasa. Tantangan ke depan harus tampil apa adanya, jangan sibuk soal-soal pencitraan….

Totalitas Umbu

Umbu relatif tidak dicatat sebagai penyair dalam sejarah sastra Indonesia. Karya-karyanya tidak banyak dikenal karena memang ia jarang memublikasikannya. Tetapi, anehnya, semua seniman, setidaknya generasi 1960-an sampai 2000-an, mengaku pernah bersentuhan dengannya. Bahkan, penyair senior sekelas Taufik Ismail pun pernah menulis sajak berjudul Beri Daku Sumba. Ia menulis begini: //Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu/Aneh, aku jadi ingat pada Umbu…// Penyair-penyair kenamaan, seperti Rendra, Sutardji, Sapardi, apalagi Emha, Linus, dan Korrie, seperti ”haram” hukumnya kalau ke Bali dan tidak bertemu Umbu.

Emha Ainun Nadjib, sebagai ”murid kesayangan” bahkan berbilang tahun menunggu untuk memperkenalkan istrinya, Novia Kolopaking, kepada Umbu. Ketika suatu hari sekitar pertengahan tahun 1990-an akhirnya bertemu, Emha dan Novia ”sungkem” karena menganggap Umbu sebagai orangtua yang pantas dimintai restu atas pernikahan mereka.

Begitu banyak orang merasa ”harus” bertemu dengan Anda. Biasanya kalau sudah bertemu apa yang dipercakapkan?

Ya begitulah. Paling bercerita seputar kondisi kesehatan masing-masing kalau sudah tua begini, ha-ha-ha….

Tidak bicara sastra?

Terkadang saja ada yang bawa segepok puisi.

Kalau toh ada, apa sih tugas penyair atau puisi itu?

Puisi itu seperti memijat mata. Kalau sudah lihat puisi saya bisa tidur. Begitulah ha-ha-ha…. Tugas semua seni itu menunjukkan kelemahan kita. Soebagio bilang, apakah cita-cita, tak ada lagi cita-cita, tetapi ada barangkali, beri aku satu kata puisi daripada seribu rumus sehingga aku terlontar…. Dan itulah bahasa. Seni itu sangkan paraning dumadi, mempertanyakan kembali kedirian kita. Kalau daun sudah menguning akan jatuh dengan sendirinya. Tidak bisa kita katakan, jangan jatuh dulu, hijau lagi. Itu namanya keikhlasan semesta. Jadi, seni juga mengajarkan rendah hati, tetapi matang dalam pertimbangan. Bangsa kita bangsa pelupa, lalai, sering kali lebai, tugas puisi mengingatkan.

Maaf saya harus tanyakan. Anda dicap sebagai sosok misterius, selain sulit ditemui, sampai kini pun tak jelas memiliki alamat rumah?

Lho kan sudah jelas, penyair itu berumah pada kata-kata, apalagi…? Saya berjalan ke semua kabupaten di Bali karena saya menemukan kata-kata tak pernah ingkar janji. Saya suka bermain pada wilayah kemustahilan….

Maksudnya?

Ya jalani saja hidup dengan seluruh simpanan totalitasmu.

Sejak bermukim di Yogyakarta, lalu pindah ke Bali, Umbu menjadi satu-satu pengabdi puisi paling setia. Ia ”mengorbankan” semua kesenangan hidup pribadinya dengan menjalani hidup seorang diri, jauh dari sanak keluarga, jauh dari komunitas yang dididiknya. Tetapi, dalam kesendirian itu, ia tak sungkan mengunjungi para penyair muda atau seorang seniman yang sedang sakit.

Umbu praktis menjadi tokoh penting yang berada di balik layar kemunculan para sastrawan Indonesia sejak generasi 1960-an sampai 2000-an. Hampir semua penyair ingin ”uji nyali” mengirimkan karya kepadanya. Sejatinya adalah salah satu sutradara penting pergerakan kesusastraan nasional. Tokoh-tokoh penting, seperti Rendra, Putu Wijaya, Sapardi, dan belakangan dari Emha, Linus, sampai Joko Pinurbo, pernah bersentuhan secara kreatif dengan Umbu.

Cuaca Pantai Sindu makin dingin. Samar-samar Pulau Nusa Penida tampak di seberang laut. Umbu mengeratkan lilitan syal di lehernya. ”Rupanya sudah waktunya permisi. Air laut makin naik…,” katanya.

Kami bergegas meninggalkan Sanur. Sebelum mencapai jalan raya, seekor kunang-kunang memotong jalanan….(Harian Kompas, Putu Fajar Arcana)

Continue Reading
Advertisement

Interview

Virginia Woolf: Profesi Untuk Perempuan

mm

Published

on

Kesadaran atas apa yang akan dikatakan laki-laki tentang seorang perempuan yang bicara sejujurnya soal gairah telah membangunkannya dari keadaan tidak sadarkan dirinya sebagai seniman. Dia tidak bisa menulis lagi. Kesurupan telah berakhir. Imajinasinya tidak bisa bekerja lagi. Ini saya yakini sebagai pengalaman yang sangat umum terjadi pada penulis perempuan

From Professions for Women by Virginia Woolf | (p) Regina N. Helnaz (ed) Sabiq Carebesth

Begitu saya meletakkan pena di atas kertas, Anda tidak dapat mengulas sebuah novel tanpa memiliki pikiran Anda sendiri, tanpa mengungkapkan apa yang Anda pikir sebagai kebenaran tentang hubungan manusia, moralitas, seks. Dan semua pertanyaan ini, menurut Malaikat di Rumah, tidak dapat diselesaikan secara bebas dan terbuka oleh perempuan; perempuan haruslah memikat, mereka harus berdamai, mereka harus.. [j]adi, setiap kali saya merasakan bayangan sayapnya atau pancaran lingkaran cahayanya di atas halaman saya, saya mengambil bak tinta dan melemparkan benda itu ke arahnya. Dia mati dengan cara yang keras.

“Profesi untuk Para Perempuan” adalah versi singkat pidato Virginia Woolf yang disampaikan di depan cabang National Society for Women’s Service pada 21 Januari 1931; diterbitkan secara anumerta di The Death of the Moth dan Other Essays. Pada hari sebelum pidato, dia menulis di buku hariannya: “Saya memiliki momen ini, saat mandi, menyusun seluruh buku baru— sekuel A Room of One’s Own—tentang kehidupan seksual perempuan: yang disebut Profesi untuk Para Perempuan (Professions for Women) mungkin— Tuhan, betapa menariknya!” Lebih dari satu setengah tahun kemudian, pada 11 Oktober 1932, Virginia Woolf mulai menulis buku barunya: “THE PARGITERS: An Essay based upon a paper read to the London/National Society for women’s service.” “The Pargiters” berevolusi menjadi The Years dan diterbitkan pada tahun 1937. Buku yang akhirnya menjadi sekuel A Room of One’s Own adalah Three Guineas (1938), dan judul orisinal pertamanya adalah “Profesi untuk Para Perempuan”.

           Esai yang dicetak di sini berkonsentrasi pada hantu Victoria yang dikenal sebagai Malaikat di Rumah/The Angel in the House (dipinjam dari puisi Coventry Patmore yang merayakan kebahagiaan domestik)– perempuan pada abad kesembilan belas yang tidak mementingkan diri dan banyak berkorban yang satu-satunya tujuan hidupnya adalah menenangkan, menyanjung, dan menghibur separuh populasi laki-laki di dunia. “Membunuh Malaikat di Rumah,” tulis Virginia Woolf, “adalah bagian dari pekerjaan seorang penulis perempuan.” Pernyataan itu terbukti sebagai prediksi yang tepat untuk saat ini, tidak hanya dalam dunia kepenulisan, tetapi di seluruh dunia profesional, perempuan masih terlibat dalam kontes maut perihal perjuangan mereka untuk kesetaraan sosial dan ekonomi.

                                                                        –Mitchell A. Leaska

Ketika sekretaris Anda mengundang saya untuk datang ke sini, dia memberi tahu saya bahwa Masyarakat Anda peduli dengan pekerjaan perempuan dan dia menyarankan agar saya memberi tahu Anda sesuatu tentang pengalaman profesional saya sendiri. Memang benar saya seorang perempuan; memang benar saya bekerja; tetapi pengalaman profesional apa yang saya miliki? Sulit untuk mengatakannya. Profesi saya adalah sastra; dan dalam profesi itu hanya ada sedikit pengalaman untuk perempuan daripada profesi lain, dengan pengecualian pada pentas panggung – sedikit, maksud saya, yang khusus perempuan. Karena jalurnya telah terputus bertahun-tahun yang lalu–oleh Fanny Burney, oleh Aphra Behn, oleh Harriet Martineau, oleh Jane Austen, oleh George Eliot–banyak perempuan terkenal, dan banyak lagi yang tidak dikenal dan dilupakan, telah ada sebelum saya, membuat jalan ini terasa semakin lancar, dan mengatur langkah-langkah saya. Jadi, ketika saya mulai menulis, hanya ada sedikit saja kendala materi di jalan saya. Menulis adalah pekerjaan yang memiliki reputasi dan tidak berbahaya. Kedamaian keluarga tidak terganggu oleh goresan pena. Tidak pula membutuhkan banyak pengeluaran rumah tangga. Dengan sejumlah penny, seseorang bisa membeli kertas yang cukup untuk menulis semua drama Shakespeare–jika dia memiliki pemikiran seperti itu. Piano dan model, Paris, Wina, dan Berlin, tuan dan simpanan, tidak diperlukan oleh seorang penulis. Murahnya menulis, tentu saja, adalah alasan mengapa perempuan telah sukses sebagai penulis sebelum mereka sukses dalam profesi lain.

Tetapi jika menceritakan kisah saya kepada Anda–sederhana saja. Anda hanya perlu membayangkan sendiri seorang gadis di kamar tidur dengan pena di tangannya. Dia hanya harus memindahkan pena itu dari kiri ke kanan–dari jam sepuluh ke satu. Kemudian terpikir olehnya untuk melakukan apa yang terasa sederhana dan cukup murah–menyelipkan beberapa halaman itu ke dalam amplop, memperbaiki stempel satu sen di ujung, dan memasukkan amplop ke dalam kotak merah di persimpangan jalan. Dengan demikian saya menjadi jurnalis; dan usaha saya dihargai pada hari pertama bulan berikutnya–hari yang sangat mulia bagi saya–dengan surat dari editor yang berisi cek sejumlah satu pound sepuluh shilling dan enam penny. Jika saya tunjukkan kepada Anda betapa sedikitnya saya layak disebut sebagai perempuan profesional, betapa sedikit yang saya ketahui tentang pergulatan dan kesulitan hidup seperti itu, saya harus mengakui, bahwa alih-alih menghabiskan uang itu untuk roti dan mentega, biaya sewa, sepatu dan stoking, atau membeli daging, saya keluar dan membeli kucing – kucing cantik, kucing Persia, yang segera setelahnya melibatkan saya dalam perselisihan pahit dengan tetangga saya.

Apa lagi yang lebih mudah selain menulis artikel dan membeli kucing Persia dengan profit yang didapat? Tapi tunggu sebentar. Artikel harus bicara tentang sesuatu. Punya saya, seingat saya, adalah tentang novel karya seorang laki-laki terkenal. Dan ketika saya sedang menulis ulasan ini, saya menemukan bahwa jika saya akan mengulas buku, saya harus berperang dengan hantu tertentu. Dan hantu itu adalah seorang perempuan, dan ketika saya mengenalnya dengan lebih baik, saya menjulukinya dengan nama tokoh utama perempuan dari sebuah puisi terkenal, Malaikat di Rumah. Dialah yang dulu datang di antara saya dan kertas saya ketika saya sedang menulis ulasan. Dialah yang mengganggu saya dan menyia-nyiakan waktu saya dan begitu menyiksa hingga akhirnya saya membunuhnya. Anda yang berasal dari generasi yang lebih muda dan lebih bahagia mungkin belum pernah mendengarnya–Anda mungkin tidak tahu apa yang saya maksud dengan Malaikat di Rumah.

Saya akan menggambarkannya sesederhana mungkin. Dia sangat simpatik. Dia sangat menawan. Dia sama sekali tidak egois. Dia unggul dalam seni kehidupan keluarga yang sulit. Dia mengorbankan dirinya setiap hari. Jika ada ayam, dia mengambil kakinya; jika ada suatu draf tulisan dia mendudukinya–singkatnya dia dibentuk sehingga dia tidak pernah memiliki pikiran atau keinginannya sendiri, tetapi lebih memilih untuk bersimpati selalu dengan pikiran dan keinginan orang lain. Di atas segalanya–saya mesti katakan–dia murni. Kemurniannya seharusnya menjadi kecantikan utamanya–wajahnya memerah, rahmatnya yang luar biasa. Pada masa itu– yang terakhir adalah Ratu Victoria–setiap rumah memiliki Malaikatnya sendiri. Dan ketika saya mulai menulis, saya bertemu dengannya sejak kata-kata pertama. Bayangan sayapnya jatuh di halaman saya; saya mendengar gemerisik roknya di kamar. Saya mengambil pena di tangan saya untuk mengulas novel karangan seorang laki-laki terkenal itu, seketika, dia menyelinap di belakang saya dan berbisik: “Sayangku, kamu adalah seorang wanita muda. Kamu sedang menulis tentang sebuah buku yang telah ditulis oleh seorang laki-laki. Bersikaplah simpatik; lembut; menyanjung; memperdaya; gunakan semua seni dan tipu muslihat dari jenis kelamin kita. Jangan pernah biarkan orang menebak bahwa kamu memiliki pikiranmu sendiri. Yang terpenting, jadilah murni.” Dan dia seolah-olah ingin memandu pena saya.

Sekarang, saat ini, saya mencatat satu tindakan yang juga menjadi penghargan bagi diri saya sendiri, meskipun penghargaan itu semestinya milik beberapa leluhur saya yang luar biasa yang meninggalkan saya sejumlah uang–mungkin bisa kita katakan lima ratus poundsterling setahun? –sehingga saya tidak perlu bergantung hanya pada pesona diri untuk kelangsungan hidup saya. Saya berbalik ke arahnya dan mencengkam lehernya. Saya melakukan yang terbaik untuk membunuhnya. Jika saya dibawa ke pengadilan, dalih saya adalah tindakan pembelaan diri. Jika saya tidak membunuhnya, dia akan membunuh saya. Dia akan mencabut hati dari tulisan saya. Karena, seperti yang saya temui, begitu saya meletakkan pena di atas kertas, Anda tidak dapat mengulas sebuah novel tanpa memiliki pikiran Anda sendiri, tanpa mengungkapkan apa yang Anda pikir sebagai kebenaran tentang hubungan manusia, moralitas, seks. Dan semua pertanyaan ini, menurut Malaikat di Rumah, tidak dapat diselesaikan secara bebas dan terbuka oleh perempuan; perempuan haruslah memikat, mereka harus berdamai, mereka harus–jika kita blak-blakan–berbohong jika mereka ingin sukses. Jadi, setiap kali saya merasakan bayangan sayapnya atau pancaran lingkaran cahayanya di atas halaman saya, saya mengambil bak tinta dan melemparkan benda itu ke arahnya. Dia mati dengan cara yang keras…

*) Selengkapnya bisa dibaca di majalah “Book Coffee and More” Edisi Khusus Virginia Woolf yang tengah disiapkan penerbitannya oleh Galeri Buku Jakarta. Maret-April 2020.

Continue Reading

Inspirasi

Buku Harian Steinbeck dan Proses Kreatifnya

mm

Published

on

Dia, Steinbeck, sangat tidak percaya pada pengakuan publik dan rasa puas yang dihasilkannya: “Kehormatan yang aneh. Hal yang paling menyedihkan di dunia.

 

From “How Steinbeck Used the Diary as a Tool of Discipline, a Hedge Against Self-Doubt, and a Pacemaker for the Heartbeat of Creative Work” by BY MARIA POPOVA | www.brainpickings.org |  (p) Virdika R Utama (ed) Sabiq Carebesth

____

Bagaimana Steinbeck Menggunakan Buku Harian sebagai Alat mendisiplinkan diri? membebaskan dirinya dari keraguan dan menjadikan hal itu sebagai alat pacu bagi detak jantung kreatifnya? “Cukup atur pekerjaan satu hari di depan pekerjaan hari terakhir. Begitulah caranya. Dan itulah satu-satunya cara.”

Banyak penulis terkenal telah memperjuangkan manfaat kreatif dari membuat buku harian, tetapi tidak ada yang menempatkan buku harian itu untuk penggunaan praktis yang lebih mengesankan dalam proses kreatif daripada John Steinbeck (27 Februari 1902 – 20 Desember 1968).

Pada musim semi 1938, tak lama setelah melakukan salah satu aksi keberanian artistik terbesar—yaitu mengubah pikiran seseorang ketika sebuah proyek kreatif berjalan dengan baik, seperti yang dilakukan Steinbeck ketika dia meninggalkan sebuah buku yang dia rasa tidak sesuai dengan tugas kemanusiaannya.—dia memulai pengalaman menulis paling intens dalam hidupnya. Buah publik dari kerja ini akan menjadi karya utama tahun 1939, The Grapes of Wrath—sebuah judul yang disetujui isterinya, seorang politisi radikal, Carol Steinbeck, setelah membaca The Battle Hymn of Republic oleh Julia Howe. Novel ini menghasilkan Hadiah Pulitzer Steinbeck pada tahun 1940 dan merupakan landasan bagi Hadiah Nobelnya dua dekade kemudian. Tetapi buah pribadinya dalam banyak hal setidaknya sama pentingnya dan instruktif secara moral.

Bersamaan dengan novel, Steinbeck juga mulai membuat buku harian, akhirnya diterbitkan sebagai Hari Kerja: Jurnal The Grapes of Wrath.

Jurnal The Grapes of Wrath (perpustakaan umum)—buku harian Steinbeck, berisi catatan hidup yang luar biasa dari perjalanan kreatifnya. Hal utama dari buku harian itu adalah pemandangan ambigu: di mana penulis yang luar biasa ini berselisih dengan keraguan diri yang luar biasa bertubi, terkadang penderitaan dan juga kesepian—tetapi ia tetap maju ke depan, dengan semangat dan putaran antusiasme yang setara, didorong oleh tekad yang teguh untuk melakukan yang terbaik dan mungkin. Buku harian menjadi praktik baik penebusan dan bagaimana pun, tampak sebagai sesuatu yang juga transenden.

Steinbeck hanya memiliki dua permintaan untuk buku harian itu—bahwa itu tidak akan dipublikasikan pada masa hidupnya, dan bahwa itu harus dibuat tersedia untuk kedua putranya sehingga mereka dapat “melihat ke belakang mitos dan desas-desus dan sanjungan dan fitnah seorang pria yang hilang menjadi dan untuk mengetahui sampai batas tertentu seperti apa manusia ayah mereka. ”Ia berdiri, di atas segalanya, sebagai bukti tertinggi akan fakta bahwa satu-satunya substansi kejeniusan adalah tindakan harian yang muncul.

Steinbeck in 1959

Steinbeck menangkap ini dengan sempurna dalam catatannya yang berlaku juga untuk bidang usaha kreatif apa pun:

Dalam menulis, kebiasaan tampaknya menjadi kekuatan yang jauh lebih kuat daripada kemauan atau inspirasi. Akibatnya harus ada sedikit kualitas keganasan sampai pola kebiasaan sejumlah kata ditetapkan. Tidak ada kemungkinan, setidaknya dalam diriku, untuk mengatakan, “Aku akan melakukannya jika aku menginginkannya.” Seseorang tidak pernah merasa seperti bangun setiap hari. Bahkan, mengingat alasan terkecil, seseorang tidak akan bekerja sama sekali. Sisanya adalah omong kosong. Mungkin ada orang yang bisa bekerja seperti itu, tetapi saya tidak bisa. Saya harus menurunkan kata-kata saya setiap hari apakah itu ada gunanya atau tidak.

*

Jurnal itu kemudian menjadi alat disiplin diri (dia bersumpah untuk menulis di dalamnya setiap hari kerja, dan melakukannya, menyatakan dalam salah satu catatan pertama: “Bekerja adalah satu-satunya hal yang baik.”), Sebuah mekanisme mondar-mandir (dia memberi dirinya tujuh bulan untuk menyelesaikan buku itu, mengantisipasi itu hanya akan memakan waktu 100 hari, dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari lima bulan, rata-rata 2.000 kata per hari, lama, tidak termasuk buku harian), dan papan suara untuk diri positif yang sangat dibutuhkan -Berbicara dalam menghadapi keraguan terus-menerus (“Saya sangat malas dan hal di depan sangat sulit,” ia putus asa dalam satu catatan; tetapi ia meyakinkan dirinya sendiri di catatan lain: “Keinginan saya rendah. Saya harus membangun kembali keinginan saya. Dan saya bisa melakukannya. ”) Yang terpenting, ini adalah alat pertanggungjawaban untuk membuatnya terus maju meskipun ada banyak gangguan dan tanggung jawab dalam hidup. “Masalah menumpuk sehingga buku ini bergerak seperti siput Tide Pool dengan cangkang dan teritip di punggungnya,” tulisnya, namun yang penting adalah meskipun ada masalah, terlepas dari teritip, ia bergerak. Dia menangkap ini dalam salah satu catatan yang paling pedih, tak lama sebelum menyelesaikan paruh pertama novel:

“Setiap buku tampaknya merupakan perjuangan seumur hidup. Dan kemudian, ketika sudah selesai – pouf! Sudah! Tidak pernah terjadi. Jadi hal terbaik adalah menurunkan kata-kata setiap hari. Dan sekarang saatnya untuk memulai kembali. Dan beberapa hari kemudian, ia kembali ragu-ragu: “Banyak kelemahan saya mulai menunjukkan kepada mereka. Saya harus mengeluarkan benda ini dari sistem otak saya. Saya bukan seorang penulis. Saya telah membodohi diri sendiri dan orang lain. Aku berharap begitu. Keberhasilan ini akan menghancurkan saya dengan pasti. Mungkin tidak akan bertahan lama, dan itu akan baik-baik saja. Saya akan mencoba melanjutkan pekerjaan sekarang. Hanya menjalankan tugas setiap hari. Saya selalu lupa.”

Memang, setelah memulai buku harian itu, Steinbeck memiliki tujuan jelas, pendisiplinan dan perannya sebagai pengingat kemajuan kerjanya saban harian yang semakin meningkat, sering lambat dan kecil, justru yang menghasilkan keseluruhan yang lebih besar. Dalam salah satu catatan pertamanya pada awal Juni, ia menulis:

“Ini adalah buku harian terpanjang yang pernah saya simpan. Tentu saja bukan buku harian tetapi upaya untuk memetakan hari dan jam kerja novel yang sebenarnya. Jika satu hari dilewati maka akan terlihat mencolok pada catatan ini dan akan ada beberapa alasan yang diberikan untuk hal seperti kekeliruan..”

Komitmen Steinbeck terhadap disiplin bukan hanya kesombongan moral atau fetisisme produktivitas—keinginannya sungguh-sungguh untuk menciptakan karya terbesar dalam hidupnya, puncak kemampuannya sebagai manusia yang sadar dan kreatif. Dalam salah satu catatan awal, ia memutuskan:

“Ini pasti buku yang bagus. Itu harus. Saya tidak punya pilihan. Pasti jauh dan jauh dari hal terbaik yang pernah saya coba—lambat tapi pasti, menumpuk detail pada detail sampai gambar dan pengalaman muncul. Sampai semuanya berdenyut-denyut muncul. Dan saya bisa melakukannya. Saya merasa sangat kuat untuk melakukannya.”

Tetapi menurut Dani Shapiro, ada perbedaan tajam antara keyakinan dan keberanian, ini adalah pernyataan yang terakhir, kebajikan yang lebih benar—Steinbeck sangat menyadari segala sesuatu yang mungkin menggagalkan usahanya, kekesalan baik eksternal maupun internal, namun ia tetap memutuskan untuk mengerahkan dirinya, untuk sepenuh hati tentang upaya, meskipun kurangnya kepercayaan diri yang mendalam. Inilah keberanian, hidup yang berdenyut, dari catatan awal lainnya:

“Segala macam hal mungkin terjadi dalam perjalanan buku ini tetapi saya tidak boleh lemah. Ini harus dilakukan. Kegagalan kemauan bahkan untuk satu hari memiliki dampak buruk pada keseluruhan, jauh lebih penting daripada hanya kehilangan waktu dan kata-kata. Seluruh dasar fisik novel ini adalah disiplin penulis, materialnya, bahasa. Dan cukup menyedihkan, jika salah satu dari disiplin itu hilang, semuanya menderita.”

Menulis kadang seperti sebuah tujuan yang puncak, dalam satu catatan ia menyatakan:

Setelah buku ini selesai, saya tidak akan peduli seberapa cepat saya mati, karena pekerjaan utama saya akan berakhir.

Dan di tempat lain:

Ketika saya sudah selesai saya akan bersantai tetapi tidak sampai saat itu. Hidup saya tidak terlalu lama dan saya harus menulis satu buku yang bagus sebelum berakhir.

Tetapi beberapa hari, tekadnya nyaris mengalahkan keraguan dirinya:

“Kalau saja saya bisa mengerjakan buku ini dengan benar, itu akan menjadi salah satu buku yang sangat bagus dan buku yang benar-benar Amerika. Tetapi saya diserang oleh ketidaktahuan dan ketidakmampuan saya sendiri. Saya hanya harus bekerja dari latar belakang ini. Kejujuran. Jika saya dapat menjaga kejujuran, itulah yang dapat saya harapkan dari otak saya yang buruk – jangan pernah marah kepada prasangka pembaca, tetapi bengkokkan seperti dempul untuk pengertiannya.”

Dan beberapa waktu kemudian, keraguan diri itu menjadi sangat luar biasa:

Jika saya bisa melakukan itu semua …. Karena tidak ada orang lain yang tahu kurangnya kemampuan saya seperti yang saya lakukan. Saya mendorongnya sepanjang waktu. Kadang-kadang, saya tampaknya melakukan pekerjaan kecil yang baik, tetapi ketika hal itu dilakukan, itu akan menjadi biasa-biasa saja.

Pada orang lain, ia bisa mengenali keraguan tetapi tidak setuju:

Untuk beberapa alasan saya sedikit gugup. Itu tidak selalu berarti apa-apa. Saya hanya akan menyelam lari dan mengatur apa yang terjadi.

John and Elaine Steinbeck in 1950

Di satu sisi, ini adalah kualitas jurnal (Catatan Harian) yang paling berani—hampir merupakan tulisan suci Buddhis, beberapa dekade sebelum Bradbury’s Zen dalam Seni Menulis, ketika Steinbeck menghadapi pasang surut dan aliran pengalaman. Dia merasakan perasaan keraguannya sepenuhnya, membiarkannya melewatinya, namun mempertahankan kesadaran yang lebih tinggi bahwa mereka hanya: perasaan, bukan Kebenaran.

Namun, yang paling mengejutkan dan paling aneh meyakinkan semua – terutama bagi mereka yang juga bekerja di kuali mendidih ketidakpastian yang merupakan karya kreatif – adalah kasus kronis dan akut Sindrom Impostor milik Steinbeck. Meskipun ia telah mencapai keberhasilan yang kritis dan finansial dengan pekerjaannya sebelumnya, ia tampaknya tidak hanya tidak percaya tetapi juga meremehkan keberhasilan itu, melihat di dalamnya bukan sumber kebanggaan tetapi juga rasa malu. Dalam jurnal awal, ia menulis:

Untuk saat ini, beban keuangan telah dihapus. Tapi itu tidak permanen. Saya tidak dibuat untuk sukses. Saya menemukan diri saya sekarang dengan reputasi yang berkembang. Dalam banyak hal itu adalah hal yang mengerikan … Di antara hal-hal lain saya merasa telah meletakkan sesuatu. Bahwa keberhasilan kecilku ini curang.

Dia sangat keras pada dirinya sendiri, sampai-sampai membiarkan kecurigaannya atas keberhasilannya sendiri membengkak menjadi kecurigaan terhadap keberanian pribadinya dan kebaikan dasar karakternya: Saya harus yakin untuk memilih mana yang cinta dan yang menyesal. Saya bukan orang yang sangat baik. Terkadang murah hati dan baik dan baik dan lain kali berarti dan pendek.

Seperti kebanyakan seniman, ia berulang kali mempertanyakan validitas seni dan kualifikasinya. Bahkan ketika dia hampir menyelesaikan novel yang kelak akan memenangkan Pulitzer dan membawanya mendapatkan Hadiah Nobel, dia masih tidak percaya pada kelebihan dan bakatnya: “Buku ini menjadi kesengsaraan bagiku karena ketidakmampuanku”.

Tak lama sebelum memulai The Grapes of Wrath, Steinbeck menangkap dalam jurnal lain sifat penyelamatan diri yang palsu. “Saya bosan dengan perjuangan melawan semua kekuatan yang telah membawa kesuksesan yang menyedihkan ini terhadap saya. Saya tidak tahu apakah saya bisa menulis buku yang layak sekarang. Itu adalah ketakutan terbesar dari semua. Saya sedang mengerjakannya tetapi saya tidak bisa mengatakannya.”

Dia sangat tidak percaya pada pengakuan publik dan rasa puas yang dihasilkannya: “Kehormatan yang aneh. Hal yang paling menyedihkan di dunia.

Memang, ia mengukur kesuksesannya bukan dari pendapatan atau pujian tetapi dari pekerjaan hari itu. “Inilah buku harian sebuah buku dan akan menarik untuk melihat bagaimana hasilnya. Saya telah mencoba untuk menulis buku harian sebelumnya tetapi mereka tidak berhasil karena keharusan untuk jujur. Dalam hal-hal di mana tidak ada kebenaran yang pasti, saya condong ke arah yang sebaliknya. Kadang-kadang di mana ada kebenaran yang pasti, saya merasa jijik dengan keangkuhannya dan melakukan hal yang sama. Namun dalam hal ini, saya akan mencoba hanya untuk menyimpan catatan hari kerja dan jumlah yang dilakukan di masing-masing dan keberhasilan (sejauh yang saya tahu) hari itu.”

Steinbeck sama-sama tidak terganggu oleh prospek komersial, pekerjaanya adalah sebagai kebutuhan moral: “Tidak tahu siapa yang akan menerbitkan buku saya. Tidak tahu sama sekali. Tidak ada alasan untuk membiarkannya. Harus terus melakukannya. Perlu.”

Proses itu, baginya, didorong oleh apa yang oleh Anne Lamott disebut pendekatan “burung demi burung” untuk ditulis beberapa dekade kemudian. Jurnal kemudian menjadi mekanisme mondar-mandir. Steinbeck menulis:

“Saya bertanya-tanya apakah saya akan pernah menyelesaikan buku ini. Dan tentu saja saya akan menyelesaikannya. Hanya bekerja dalam jangka waktu tertentu dan poco a poco akan selesai. Lakukan saja pekerjaan hari itu.”

__
Selengkapnya dalam Majalah “Book Coffee and More” by Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Interview

Nurani Kata-Kata: Susan Sontag tentang Kebijaksanaan Sastra, Bahaya Opini, dan Tugas Penulis

mm

Published

on

Kita khawatir tentang kata-kata, kita penulis. Kata-kata memiliki arti. Kata-kata menunjukkan sesuatu. Mereka adalah panah. Panah yang terjebak di persembunyian realitas yang keras. Dan semakin mencolok, semakin umum kata itu, semakin mereka juga menyerupai ruangan atau terowongan. Mereka bisa meluas dan memanjang, atau runtuh. Mereka bisa dipenuhi dengan bau tak sedap. Mereka akan sering mengingatkan kita tentang ruangan-ruangan lain, yang lebih suka kita huni atau di mana kita pikir sudah kita huni.

 

___

By: Maria Popova |  (p) Regina L. Helnaz

“Kata-kata adalah milik satu sama lain,” Virginia Woolf berpendapat dalam satu-satunya rekaman suaranya yang masih ada. “Kata-kata adalah peristiwa, mereka melakukan sesuatu, mengubah sesuatu,” Ursula K. Le Guin menulis beberapa dekade kemudian saat merenungkan keajaiban percakapan yang sesungguhnya. Penyair David Whyte kagum pada “ketidakpastian tersembunyi nan indah dan menggugah” ketika ia mulai menghidupkan kembali makna yang lebih mendalam dari kata-kata sehari-hari. Tetapi, apa yang sebenarnya dilakukan kata-kata—apa tanggung jawab mereka terhadap kita dan kita terhadap mereka?

Itulah yang dieksplorasi oleh Susan Sontag (16 Januari 1933 – 28 Desember 2004) dalam pidato penerimaan Jerusalem Prize 2001 yang spektakuler, yang dipublikasikan dengan judul “The Conscience of Words” dalam  At the Same Time: Essays and Speeches (public library)antologi anumerta yang berperan penting dan sangat diperlukan yang menghadirkan Sontag pada kita tentang keberanian moral dan kekuatan perlawanan berprinsip melawan ketidakadilan, kesusastraan dan kebebasan, keindahan vs. ketertarikan, dan nasihatnya kepada para penulis.

Sontag memulai dengan menimbang elastisitas bahasa dan cara kata-kata dapat memperluas makna sebanyak mereka dapat mengerutkannya:

Kita khawatir tentang kata-kata, kita penulis. Kata-kata memiliki arti. Kata-kata menunjukkan sesuatu. Mereka adalah panah. Panah yang terjebak di persembunyian realitas yang keras. Dan semakin mencolok, semakin umum kata itu, semakin mereka juga menyerupai ruangan atau terowongan. Mereka bisa meluas dan memanjang, atau runtuh. Mereka bisa dipenuhi dengan bau tak sedap. Mereka akan sering mengingatkan kita tentang ruangan-ruangan lain, yang lebih suka kita huni atau di mana kita pikir sudah kita huni. Kata-kata bisa berupa ruang tempat kita kehilangan seni atau kebijaksanaan menghuni. Dan pada akhirnya, isi niat batin yang tidak lagi kita ketahui bagaimana menghuninya akan terabaikan, ditutup.

Apa yang kita maksudkan, misalnya, dengan kata “kedamaian”? Apakah yang kita maksudkan adalah tidak adanya perselisihan? Apakah yang kita maksud adalah melupakan? Apakah yang kita maksud adalah pengampunan? Atau apakah yang kita maksudkan adalah kelelahan luar biasa, keletihan, proses kekosongan karena kebencian? Tampaknya, bagi saya, yang dimaksud oleh kebanyakan orang dengan “kedamaian” adalah kemenangan. Kemenangan di pihak mereka. Itulah arti “kedamaian” bagi mereka, sementara bagi orang lain kedamaian berarti kekalahan… Kedamaian menjadi ruang di mana orang tidak lagi tahu cara menghuninya.

Berkaca dari nama lengkap ajang yang menghadirkan pidatonya–the Jerusalem Prize for the Freedom of the Individual in Society–Sontag menggambarkan hubungan penulis dengan kata-kata sebagai alat perantara pribadi:

Yang penting bukanlah apa yang penulis katakan, tetapi ‘apa’ penulis itu sendiri. Para penulis–yang saya maksudkan sebagai anggota komunitas sastra-adalah lambang dari kegigihan (dan kebutuhan) atas visi individual.

Namun karena “ada impuls kontradiktif dalam segala hal,” seperti yang Sontag sendiri dengan tajamnya amati seperempat abad sebelumnya, ada sisi gelap dari gagasan tentang visi individu ini. Dalam sebuah bagian dari aktualitas tertentu di tengah zaman yang kental dengan identitas dan unjuk diri ini, Sontag, yang bertahan hidup selama “the century of the self” (red: dokumenter karya Adam Curtis yang membahas konsumerisme dan demokrasi) menulis:

“Propaganda yang tak henti-hentinya di zaman kita untuk “individu” tampaknya bagi saya sangat mencurigakan, karena “individualitas” itu sendiri menjadi lebih dan lebih lagi sebagai sinonim dari keegoisan. Masyarakat kapitalis memiliki kepentingan pribadi dalam memuji “individualitas” dan “kebebasan” – yang mungkin artinya tidak lebih daripada hak untuk pengembangan diri yang terus-menerus, dan kebebasan untuk berbelanja, memperoleh, menggunakan, mengonsumsi, dan untuk membuat usang.

Saya tidak percaya ada nilai inheren dalam pengembangan diri. Dan saya pikir tidak ada budaya (jika menggunakan istilah tersebut secara normatif) tanpa standar altruisme, jika berkaitan dengan orang lain. Saya percaya ada nilai inheren dalam memperluas pengertian kita tentang kehidupan manusia. Jika sastra telah melibatkan saya sebagai suatu rancangan, pertama sebagai pembaca dan kemudian sebagai penulis, itu adalah perpanjangan dari simpati saya kepada diri-diri lain, domain-domain lain, mimpi-mimpi lain, kata-kata lain, dan teritori lainnya yang menjadi bahan perhatian.

Dalam sebuah sentimen yang hampir kontra budaya saat ini, ketika kita menyaksikan seluruh profesi dibangun di atas maraknya opini yang meluap-luap, Sontag mempertimbangkan tugas sesungguhnya dari penulis:

Susan Sontag

Seorang penulis tidak boleh menjadi mesin opini… Pekerjaan pertama penulis adalah untuk tidak memiliki opini, tetapi untuk mengatakan yang sebenarnya… dan menolak untuk menjadi kaki tangan dari kebohongan dan informasi yang salah. Sastra adalah rumah nuansa dan perselisihan melawan suara-suara penyederhanaan. Tugas penulis adalah mempersulit orang untuk memercayai para perampok batin. Tugas penulis adalah membuat kita melihat dunia apa adanya, penuh dengan berbagai klaim dan bagian, serta pengalaman.

Adalah tugas penulis untuk menggambarkan realitas: realitas busuk, realitas yang penuh dengan berbagai emosi. Ini adalah inti dari kebijaksanaan yang disediakan oleh sastra untuk membantu kita memahami bahwa, apa pun yang terjadi, hal lainnya selalu terjadi.

Ada sesuatu yang vulgar tentang penyebaran opini secara publik tentang hal-hal yang mana seseorang tidak memiliki pengetahuan pribadi yang luas. Jika saya berbicara tentang apa yang tidak saya ketahui, atau yang saya ketahui dengan tergesa-gesa, ini hanya sekadar penyebaran opini belaka.

[…]

Masalahnya dengan opini adalah bahwa seseorang terjebak dengannya. Dan setiap kali penulis menjalankan fungsinya sebagai penulis, mereka selalu melihat… lebih.

Membuktikan kekuatan literatur untuk mengembalikan nuansa dan merayakan apa yang penyair Elizabeth Alexander sebut “multivocality, polyphony, gumbo yaya,”

Kata-kata Sontag memancarkan pengakuan yang menyakitkan tentang kecenderungan kontemporer kita untuk membentuk opini instan dan salah mengartikan apa yang sebenarnya merupakan reaksi terhadap reaksi sebagai opini yang mendasarkan diri pada informasi (informed opinion). Dia mengamati:

Jika sastra itu sendiri, usaha besar ini yang telah dilakukan (dalam lingkup kita) selama hampir tiga ribu tahun, mengandung sebuah kebijaksanaan– dan saya pikir memang begitu dan merupakan inti dari seberapa pentingnya arti yang kita berikan pada sastra–adalah dengan menunjukkan berbagai watak dari takdir pribadi dan komunal kita. Itu akan mengingatkan kita bahwa mungkin ada kontradiksi, terkadang konflik yang tak dapat direduksi, di antara nilai-nilai yang paling kita hargai.

Dari penghargaan atas multiplisitas dan komplementaritas ini muncul tugas sastra tertinggi, serta penghargaan terbesarnya. Berabad-abad setelah Hegel, salah satu yang berpengaruh besar baginya, mengingatkan tentang bahaya fixed opinions, Sontag menulis:

Kebijaksanaan sastra cukup antitesis dengan memiliki opini… Mengutarakan opini, bahkan opini yang benar—kapan pun diminta–merendahkan apa yang dapat dilakukan oleh para novelis dan penyair dengan baik, yaitu mensponsori reflektifitas, untuk mengejar kompleksitas. (RH)

______
Selengkapnya di majalah “Book Review and More” by Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending