Connect with us
Umbu Landu Umbu Landu

Interview

Umbu Landu Paranggi Berumah dalam Kata-kata

mm

Published

on

Penyair selalu menempuh jalan sunyi dengan misi suci. Sunyilah yang menginspirasi untuk melahirkan buah berkah bagi kedalaman kemanusiaan. Percik permenungan yang dituliskannya adalah sari-sari dari kejujuran untuk membangun moralitas.

Umbu Wulang Landu Paranggi (69) masih seperti dulu. Cuma dalam dua pertemuan akhir Oktober 2012 di Denpasar, ia tampak lebih kurus. Tetapi, jelas, riak-riak kreativitas dan simpanan energi di dalam dirinya seperti empasan ombak Pantai Sindu, Sanur, tempat kami bertemu.

Umbu memilih Pantai Sanur bukan tanpa alasan. Cuaca malam hari di Sanur selalu penuh misteri. Gerak pepohonan, lorong-lorong desa, derit rumpun bambu, kunang-kunang di belukar liar, serta kerlap-kerlip bintang di kejauhan seakan berpadu dengan gemuruh ombak sepanjang pantai. ”Sanur masih saja mistis…,” kata penyair yang sudah lebih dari 50 tahun mengabdikan dirinya pada puisi. Banyak yang salah kaprah pada puisi. Puisi, tutur Umbu, bukan cuma milik para penyair. Ia harus hidup di hati, kepala, dan lidah semua orang, termasuk para politisi. Bahkan, tambahnya mengutip Mochtar Pabottingi, rekan sejawatnya, menulis puisi bukan untuk menjadi penyair, melainkan membuat diri terhindar dari sakit jiwa. Kesalahan terbesar ”delegasi Senayan” (maksudnya: wakil rakyat), kata Umbu, tidak ada yang paham ”Gurindam 12” Raja Ali Haji. ”Sebab itulah dasar-dasar kecintaan, kejujuran, dan segala hal yang berhubungan dengan pengabdian,” kata Umbu.

Di tengah angin yang menderas, tiba-tiba muncul penyair Warih Wisatsana dan Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana. ”Wah, saya sudah tunggu-tunggu, saya sudah siapkan ini…,” sambut Umbu sambil mengulurkan sepucuk surat kepada Supadma Rudana. Keduanya, baru bertemu untuk pertama kali meski masing-masing sudah saling mengenal nama.

Pada masa 1960-an, Umbu dikenal dengan julukan ”Presiden Malioboro”. Ia tidak saja mengasuh rubrik budaya di mingguan Pelopor Yogyakarta, tetapi juga memelopori apresiasi sastra di emperan toko Jalan Malioboro Yogyakarta. ”Akademi” jalanan Malioboro ini kemudian melahirkan nama-nama besar dalam sejarah sastra Indonesia. Sebutlah ”murid-murid” yang menonjol, seperti Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi AG, Korrie Layun Rampan, dan Yudistira Ardhi Nugraha. Di situ juga ada nama-nama Agus Dermawan T dan Ebiet G Ade.

Anda dikenal sebagai pelopor dalam perkembangan sastra, sampai-sampai jarang yang mengenal karya Anda. Kapan bikin buku?

Ah itu biarkan saja orang lain. Tugas saya sejak di Yogya sampai Bali selalu bikin taman. Taman kreativitas untuk menemukan orang-orang yang mencintai hidup.

Anda tidak risau dalam masa kepenyairan 50 tahun lebih belum juga memiliki sebuah antologi?

Sudah saya katakan, itu tugas orang lain. Tugas saya ya begini saja, jalani kehidupan sebagai pencinta sunyi. Gede Prama pernah menulis, sepi yang mengilhami, ketika dia membahas soal Nyepi di Bali. Itu rumusan yang luar biasa, sepi bukan berarti kosong, tetapi justru penuh geriap energi dalamnya.

Menurut Umbu, keberangkatannya pada usia relatif muda dari Sumba Timur ke Yogyakarta pada tahun 1960 untuk belajar di SMA Taman Siswa. ”Kata taman itu menancap di kepala saya. Sayang saya terlambat sehingga akhirnya sekolah di SMA Bopkri Kotabaru. Tetapi, malah di situ ketemu Ibu Lasiyah Soetanto, guru yang tidak menggurui,” katanya.

Saat-saat mantan menteri peranan wanita pertama RI itu mengajar Bahasa Inggris, Umbu selalu menulis puisi. Ulah ”si pendiam” yang nakal itu membuat teman-temannya protes. ”Ibu tolong minta saja Umbu baca puisinya ke depan kelas. Dan Ibu Lasiyah selalu bilang, nanti saja kalau puisinya sudah dimuat di koran kita kritik ramai-ramai,” tutur Umbu mengulang kejadian di masa-masa awal kepenyairannya.

Mengapa Anda tidak seperti Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, atau Rendra saja dalam menekuni dunia kepenyairan?

Saya cuma menjalankan apa yang sudah dituliskan langit.

Maksudnya?

Semua punya peran masing-masing. Kalau semua seperti Chairil atau Sutardji, mungkin dunia kepenyairan dan kebahasaan kita tumbuh lamban. Berbahasa Indonesia bukan sesuatu yang mudah bagi sekalangan orang Jawa dan Bali dan orang-orang yang bukan Melayu. Karena itulah, Sumpah Pemuda itu puisi mantra. Ia ibarat amarah suci sebuah angkatan… 17 tahun kemudian terbukti terjadi proklamasi.

Anda tadi menyinggung soal ”delegasi Senayan” apa yang terjadi di situ dalam kacamata Anda?

Kita sudah berjarak dengan bahasa sehingga semua menganggap rakyat itu bodoh. Ada ungkapan penting: kediamdirian rakyat adalah pelajaran bagi seorang raja. Kalau raja ingin tahu apa yang terjadi, dia harus turun kepada rakyat. Penyair Hartoyo Andangjaya bilang, kita adalah rakyat, darah di tubuh rakyat, debar sepanjang masa. Nah, mereka ini jenis yang tak tahu debar, tak tahu sejarah disusun dari darah.

Apa yang membuat Anda begitu mencintai puisi?

Lho… alfabet itu cuma terdiri atas 26 huruf saja. Tetapi, kata-kata adalah diksi dari nyawa. Makanya, kita percaya kepada Tuhan karena kata. Soebagio Sastrowardoyo (penyair) pernah menulis: Ini kata-kata, maka dari itu aku bersembunyi dalam kata dan menenggelamkan diri di dalam kata. Coba bayangkan kalau semua pejabat kita paham bahasa. Tantangan ke depan harus tampil apa adanya, jangan sibuk soal-soal pencitraan….

Totalitas Umbu

Umbu relatif tidak dicatat sebagai penyair dalam sejarah sastra Indonesia. Karya-karyanya tidak banyak dikenal karena memang ia jarang memublikasikannya. Tetapi, anehnya, semua seniman, setidaknya generasi 1960-an sampai 2000-an, mengaku pernah bersentuhan dengannya. Bahkan, penyair senior sekelas Taufik Ismail pun pernah menulis sajak berjudul Beri Daku Sumba. Ia menulis begini: //Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu/Aneh, aku jadi ingat pada Umbu…// Penyair-penyair kenamaan, seperti Rendra, Sutardji, Sapardi, apalagi Emha, Linus, dan Korrie, seperti ”haram” hukumnya kalau ke Bali dan tidak bertemu Umbu.

Emha Ainun Nadjib, sebagai ”murid kesayangan” bahkan berbilang tahun menunggu untuk memperkenalkan istrinya, Novia Kolopaking, kepada Umbu. Ketika suatu hari sekitar pertengahan tahun 1990-an akhirnya bertemu, Emha dan Novia ”sungkem” karena menganggap Umbu sebagai orangtua yang pantas dimintai restu atas pernikahan mereka.

Begitu banyak orang merasa ”harus” bertemu dengan Anda. Biasanya kalau sudah bertemu apa yang dipercakapkan?

Ya begitulah. Paling bercerita seputar kondisi kesehatan masing-masing kalau sudah tua begini, ha-ha-ha….

Tidak bicara sastra?

Terkadang saja ada yang bawa segepok puisi.

Kalau toh ada, apa sih tugas penyair atau puisi itu?

Puisi itu seperti memijat mata. Kalau sudah lihat puisi saya bisa tidur. Begitulah ha-ha-ha…. Tugas semua seni itu menunjukkan kelemahan kita. Soebagio bilang, apakah cita-cita, tak ada lagi cita-cita, tetapi ada barangkali, beri aku satu kata puisi daripada seribu rumus sehingga aku terlontar…. Dan itulah bahasa. Seni itu sangkan paraning dumadi, mempertanyakan kembali kedirian kita. Kalau daun sudah menguning akan jatuh dengan sendirinya. Tidak bisa kita katakan, jangan jatuh dulu, hijau lagi. Itu namanya keikhlasan semesta. Jadi, seni juga mengajarkan rendah hati, tetapi matang dalam pertimbangan. Bangsa kita bangsa pelupa, lalai, sering kali lebai, tugas puisi mengingatkan.

Maaf saya harus tanyakan. Anda dicap sebagai sosok misterius, selain sulit ditemui, sampai kini pun tak jelas memiliki alamat rumah?

Lho kan sudah jelas, penyair itu berumah pada kata-kata, apalagi…? Saya berjalan ke semua kabupaten di Bali karena saya menemukan kata-kata tak pernah ingkar janji. Saya suka bermain pada wilayah kemustahilan….

Maksudnya?

Ya jalani saja hidup dengan seluruh simpanan totalitasmu.

Sejak bermukim di Yogyakarta, lalu pindah ke Bali, Umbu menjadi satu-satu pengabdi puisi paling setia. Ia ”mengorbankan” semua kesenangan hidup pribadinya dengan menjalani hidup seorang diri, jauh dari sanak keluarga, jauh dari komunitas yang dididiknya. Tetapi, dalam kesendirian itu, ia tak sungkan mengunjungi para penyair muda atau seorang seniman yang sedang sakit.

Umbu praktis menjadi tokoh penting yang berada di balik layar kemunculan para sastrawan Indonesia sejak generasi 1960-an sampai 2000-an. Hampir semua penyair ingin ”uji nyali” mengirimkan karya kepadanya. Sejatinya adalah salah satu sutradara penting pergerakan kesusastraan nasional. Tokoh-tokoh penting, seperti Rendra, Putu Wijaya, Sapardi, dan belakangan dari Emha, Linus, sampai Joko Pinurbo, pernah bersentuhan secara kreatif dengan Umbu.

Cuaca Pantai Sindu makin dingin. Samar-samar Pulau Nusa Penida tampak di seberang laut. Umbu mengeratkan lilitan syal di lehernya. ”Rupanya sudah waktunya permisi. Air laut makin naik…,” katanya.

Kami bergegas meninggalkan Sanur. Sebelum mencapai jalan raya, seekor kunang-kunang memotong jalanan….(Harian Kompas, Putu Fajar Arcana)

Continue Reading

Interview

Haruki Murakami: Saya Kurang Suka Pada Gaya Kepenulisan Realis

mm

Published

on

Sastrawan Jepang kelahiran 1964 ini namanya menjadi salah satu paling sering dijagokan menjadi penerima Nobel Sastra. Meski kesempatan mewah tersebut belum kunjung hadir padanya, pembaca setianya seakan tak peduli lagi apakah dia menerima penghargaan sastra tersebut atau tidak. Apa boleh dikata kalau sudah jatuh cinta, karya Murakami memang salah satu paling menakjubkan.

Karyanya menginspirasi banyak pembaca, tak terkecuali mereka yang telah lama menjadi penulis cerita. Jadi tak ada salahnya kita menilik ‘dapur’ kepenulisan Haruki Murakami, mencuri darinya inspirasi.

Dapurnya sederhana, kenyataan bahwa Murakami tak memiliki aturan khusus dalam dapur produksi menulisnya adalah salah satu rahasia penting untuk dipelajari. Meski tanpa aturan khusus, bukan berarti dia bekerja dengan sembarangan. Simak dunia dapur menulis Murakami selengkapnya dalam wawancara imajinatif berikut yang disarikan Galeri Buku Jakarta dari dokumen interview Murakami bersama The Paris Review dan The New York Times.

_________________________

Apa gaya menulis yang paling dekat dengan proses kreatif Anda selama ini?

 Gaya kepenulisan yang natural bagi saya sangat dekat dengan novel saya yang berjudul Hard-Boiled Wonderland. Terus terang, saya kurang suka pada gaya kepenulisan realis. Saya lebih cenderung memilih gaya kepenulisan surealis. Tapi di novel Norwegian Wood saya memutuskan untuk menulis karya yang seratus persen realis. Saya butuh pengalaman itu. Saya bisa jadi penulis cult jika saya hanya menulis novel-novel surealis. Tapi saya punya keinginan untuk masuk ke dalam genre popular, maka saya mendorong diri saya untuk menulis buku realis. Itu sebabnya saya menulis Norwegian Wood yang kemudian jadi buku best-seller di Jepang. Saya sudah memprediksi hal tersebut. Sebagai perbandingan dengan novel-novel saya yang lain, Norwegian Wood sangat mudah dibaca dan mudah dimengerti. Banyak orang yang suka dengan buku itu. Dengan begitu saya harap mereka akan tertarik membaca buku-buku saya yang lain.

Aapakah Anda terbiasa menulis dengan memiliki kerangka cerita lebih dulu sebelum mulai mengerjakan proyek menulis?

Ketika saya mulai menulis, saya tak pernah menyusun kerangka khusus. Saya cukup menunggu saja sampai cerita itu terbentuk di kepala saya. Saya tidak pernah memilih jenis cerita yang ingin saya tulis atau bagaimana akhirnya. Saya hanya menunggu. Untuk kasus Norwegian Wood tentunya berbeda, karena saya sengaja memutuskan untuk menulis dengan gaya realis. Tapi secara garis besar—saya tidak pernah memilih cerita apa yang ingin saya sampaikan. Biasanya saya mendapat beberapa bayangan, lantas saya menggabungkan bayangan itu menjadi garis cerita. Lalu saya jelaskan garis cerita itu kepada pembaca. Saat menjelaskan sesuatu kepada pembaca, saya harus pelan-pelan dan menggunakan kata-kata yang tidak sulit dicerna, metafora yang masuk akal, alegori yang baik. Itu pekerjaan saya. Saya harus menyampaikan cerita dengan hati-hati dan bahasa yang jelas.

Mana yang lebih penting menurut Anda, paragraf pembuka atau ending cerita?

Saya punya kecenderungan mengakhiri novel atau cerita saya dengan ending ambigu. Tapi itu natural bagi saya. Coba saja baca karya-karya Raymond Chandler. Bukunya juga tidak pernah memberikan ending yang konklusif. Dia mungkin menunjukkan bahwa Si A adalah pembunuh yang dicari-cari, tapi sebagai pembaca saya tidak peduli siapa tokoh pembunuhnya. Ada satu episode yang menarik ketika Howard Hawks [sutradara] mengadaptasi buku Raymond Chandler yang berjudul The Big Sleep untuk jadi film layar lebar. Howard tidak mengerti siapa yang membunuh karakter supir dalam buku The Big Sleep, maka ia menghubungi Raymond untuk menanyakan hal tersebut. Jawaban Raymond, “Itu tidak penting!” Hal yang sama juga saya rasakan sebagai pembaca. Ending konklusif itu tak ada artinya. Saya tidak peduli siapa tokoh pembunuh dalam buku The Brothers Karamazov [karya Fyodor Dostoyevsky]. Saat menulis, saya juga tak pernah mau tahu siapa pelaku kejahatan dalam cerita saya. Saya menempatkan diri di level yang sama dengan pembaca. Di awal cerita, saya tidak tahu bagaimana cerita itu akan berakhir atau apa yang akan terjadi di halaman-halaman berikutnya. Bila saya membuka cerita dengan kasus pembunuhan, saya tidak langsung tahu siapa pembunuhnya. Saya justru menuliskan cerita tersebut untuk mengetahui siapa pembunuhnya. Kalau saya sudah tahu sejak awal siapa pembunuhnya, maka tak ada gunanya lagi cerita itu ditulis.

Sebagai penulis Anda memiliki jadwal kerja khusus dan teratur?

Menulis buku sama seperti bermimpi dalam keadaan terjaga. Kalau kita bermimpi dalam tidur, kita tidak akan bisa mengendalikan mimpi itu. Saat menulis buku, kita terjaga; kita bisa memilih waktu, kondisi, semuanya. Setiap pagi saya menulis selama empat, lima, enam jam; lalu saya berhenti. Saya akan melanjutkan tulisan saya keesokan harinya. Saat saya menulis novel, saya selalu bangun pukul empat pagi dan bekerja selama lima sampai enam jam. Di sore hari, saya jogging sejauh sepuluh kilometer atau berenang sejauh 1500 meter (atau melakukan keduanya). Lantas saya menghabiskan waktu membaca atau mendengarkan musik. Saya tidur pukul sembilan malam. Setiap hari saya melakukan hal ini secara rutin. Pola ini adalah hal yang penting bagi saya. Karena dengan rutinitas seperti ini saya bisa mengkodisikan pikiran saya untuk selalu fokus. Jangan kira ini hal mudah. Menetapkan rutinitas yang sama—tanpa jeda—selama enam bulan berturut-turut atau setahun penuh butuh kekuatan mental dan fisik. Oleh sebab itu, menulis sama seperti latihan daya tahan. Kekuatan fisik sama pentingnya dengan sensitivitas artistik.

Sebagaian besar penulis cerita akan menulis bebas pada awalnya sebelum merevisi tulisannya sampai merasa benar-benar telah jadi. Anda demikian juga?

Saya pekerja keras. Saya selalu berkonsentrasi dalam mengerjakan tulisan saya. Setiap karya yang saya tulis biasanya harus dipoles dan direvisi sebanyak empat, lima kali. Lumrahnya saya butuh enam bulan untuk menulis draf pertama setiap novel, lalu tujuh atau delapan bulan setelahnya saya habiskan merevisi. Draf pertama selalu berantakan. Saya harus merivisi lagi dan lagi.

Beri kami rahasia psikologi yang melatari tokoh-tokoh utama dalam cerita Anda?

Protaginis saya cenderung terperangkap dalam dunia spiritual dan dunia nyata. Di dunia spiritual, tokoh wanita—atau pria—yang saya tulis cenderung pendiam, cerdas dan rendah hati. Di dunia realistis, tokoh wanita saya cenderung aktif, komikal dan positif. Mereka punya selera humor. Pikiran protagonis saya juga cenderung terbelah antara dua dunia dan mereka selalu bingung saat harus memilih. Saya rasa itu pola yang terus muncul dalam karya-karya saya. Terlebih di novel Hard-Boiled Wonderland di mana pikiran si protagonis benar-benar terbelah dua. Di novel Norwegian Wood juga begitu—ada dua gadis dan si protagonis tidak bisa memilih salah satu dari mereka. Begitu terus dari awal sampai akhir.

Baik untuk yang terakhir, apa hal paling penting dalam sebuah karya cerita?

Narasi. Narasi sangat penting dalam praktik menulis buku. Saya tidak peduli soal teori. Saya tidak peduli soal kosa kata. Bagi saya yang terpenting adalah apakah narasinya bagus atau tidak.

_________________________

Akhirnya tidak ada yang sempurna tak terkecuali dalam dunia menulis. Yang ada adalah disiplin dan kerja keras. Anda akan berhenti atau kembali duduk dan mulai menyelesaikan karya Anda? Seperti kata Murakami, sama halnya dengan keputus asaan, taka da yang sempurna, “There’s no such thing as perfect writing, just like there’s no such thing as perfect despair.” (GBJ/ SC).

Continue Reading

Inspirasi

Kesusastraan Rusia Dan Maxim Gorky Di Mata Soesilo Toer

mm

Published

on

“Tradisi kesusastraan Rusia terbentuk karena pembacaan juga, mereka termasuk pembaca berat, makanya pengarang dapat berproduksi dengan baik. Pengarang di sana dihargai, karena kerja intelektual”.

Begitulah komentar Soesilo Toer, Ph.D, M. Sc, Direktur Perpustakaan Pataba yang juga merupakan adik kesayangan sastrawan besar indonesia (alm) Pramoedya Ananta Toer.

Lalu apa pandangannya dengan sastra realisme? Ia menuturkan kalau (kita) menulis cerita tentang ketidakadilan dalam masyarakat, sosial, itu namanya realisme sosial. Kalau kemudian dikaitkan dengan organisasi, negara, ditunggangi oleh negara, ide-ide dari negara, itu baru namanya realisme sosialis.

Tentu saja ia juga mengajukan pendapat penting tentang proses kreatif dan kesadaran yang terbangun dalam diri dan karya-karya kakaknya Pramoednya, ia menyebut Pram Menerima karyanya sebagai realisme sosialis, namun demikian Soesilo menuturkan Pram dalam gaya menulis banyak belajar pada Multatuli dan Hemingway.

“Pram mengakui. Secara ide, dia menerima realisme sosialis itu. Tapi secara pemikiran Pram banyak bergantung pada Multatuli dan Hemingway. Pram mempelajari cara menulisnya. Pram membaca Multatuli dari perpustakaan bapaknya. Kesimpulan Multatuli itu luar biasa, “tugas manusia adalah menjadi manusia itu sendiri”. Disimbolkan oleh bapaknya Pram, “untuk menjadi manusia, Anda harus melalui tiga periode, tiga tingkat: belajar, bekerja, berkarya”.

Bagaimana pendapatnya tentang dunia sastra, politik dan kemanusiaan lebih luas? Simak wawancara berikut yang dikerjakan oleh Ladinata Jabarti dan kawan-kawan, selengkapnya:

Bagaimana karakter kesusastraan Rusia menurut Pak Soesilo sebagai pengelola Pataba?

Kalau zaman saya itu ‘kan sedang populernya realisme sosialis, jadi buku-bukunya Dostoyevsky itu tidak dianjurkan untuk dibaca karena berbau pesimisme. Tapi belakangan, semua boleh dibaca, nggak ada batasan. Kalau di sini (Indonesia) ‘kan Bumi Manusia dilarang, dianggap mengandung ajaran marxisme-leninisme, kalau di sana (Rusia) nggak ada.

Saya membaca Multatuli yang diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia, yang bahkan Lenin memberi komentar untuk buku itu. Saya membeli buku itu di pinggir jalan. Buku-buku yang di pinggir jalan dan di toko besar itu isinya sama. Orang-orang Rusia sangat menghargai buku. Di mana-mana, misalnya di bus, mereka membaca buku atau koran. Kalau sedang istirahat juga rata-rata buku yang dipegang. Jadi (tradisi) kesusastraan Rusia terbentuk karena pembacaan juga, mereka termasuk pembaca berat, makanya pengarang dapat berproduksi dengan baik. Pengarang di sana dihargai, karena kerja intelektual.

Kesusastraan Rusia yang bersangkutan dengan Maxim Gorky, bagaimana (Maxim Gorky) menurut Bapak?

Gorky menganggap sastra Rusia itu harus melihat kepada rakyat. Yang utama bagi mereka kalau secara perabadan, peradaban dari yang pertama, taruhlah perbudakan sampai yang terakhir, kapitalisme-imperialisme terbentuk dengan sendirinya. Dari sana kemudian lahir berbagai teori seperti Adam Smith, Malthus, jadi fakta menghasilkan teori. Peristiwa dulu, baru timbul teori. Nah ini oleh Marx dan Lenin dibalik: teori menciptakan fakta. Mereka jalan seperti di dalam lubang hitamnya Hawking. Walaupun disebut sebagai ajaran ilmiah, tapi tetap utopia, berjalan di dalam gelap. Jadi kalau menurut saya, nantinya, kalau terjadi perubahan setelah imperialisme itu nggak mesti sosialisme atau komunisme. Apa saja namanya, yang penting terjadi perubahan lanjutan yang melawan kapitalisme maupun imperialisme. Dan akan terjadi perubahan dengan sendirinya secara alami. Bagi saya, fakta dulu baru teori.

Soesilo Toer, Ph.D, M. Sc, Direktur Perpustakaan Pataba

Soal realisme sosialis Gorky, itu bagaimana?

Kalau (kita) menulis cerita tentang ketidakadilan dalam masyarakat, sosial, itu namanya realisme sosial. Kalau kemudian dikaitkan dengan organisasi, negara, ditunggangi oleh negara, ide-ide dari negara, itu baru namanya realisme sosialis. Seperti (contohnya) Kuprin itu ‘kan banyak menulis kejelekan-kejelekan di masyarakat, itu masih realisme sosial. Tapi kalau sudah campur tangan seperti bukunya Gorky Mother atau Mat’ (dalam bahasa Rusia)”, itu ‘kan tokohnya, Pavel, tadinya peminum seperti ayahnya. Anak-bapak itu peminum berat, yang ditindas adalah ibunya. Nah, suatu kali anak ini punya kesadaran, “orang tua saya kok saya perlakukan seperti budak.” Dalam buku itu sudah masuk campur tangan negara, karena dia pegawai di pabrik (yang berkaitan dengan pemerintah). Dilibatkannya unsur-unsur negara di dalam karya, itu sudah masuk realisme sosialis, bedanya di situ.

Dalam Cinta Pertama, Maxim Gorky memiliki semacam prinsip dalam kesusastraan. Pandangan dunia Gorky sangat kuat, seperti juga dalam Mother yang (digambarkan) begitu kuat. Menurut Bapak, apa yang membuat Gorky jadi sedemikian tangguh dalam berprinsip dan berkesusastraan?

Gorky itu ‘kan menderita waktu kecil, nama sebenarnya Aleksey Peshkov, Peshkov itu artinya pasir atau debu. Kemudian Gorky itu artinya getir, pahit. Dia merasa kuat karena pengalamannya banyak. Ditinggal ibunya, ditinggal ayahnya. Ia menjadi kuat karena pengalaman hidupnya sendiri. Luntang-lantung keliling Rusia selama lima tahun. Gorky pernah mencoba bunuh diri, tapi gagal. Maka dari itu ia pernah istirahat di Italia untuk menyembuhkan luka tembaknya, sambil menulis cerita anak-anak. Gorky menjadi kuat karena proses hidup yang dijalaninya begitu.

Kenali hidup sendiri. Dari mana Anda bisa kuat? Semakin besar dan berat penderitaan Anda, semakin berat Anda merenung. Bukan berputus asa, tapi merenung. Makanya setiap hinaan yang saya terima (pun) saya pakai sebagai kekuatan.

Lalu bagaimana pada akhirnya Gorky menjadi beraliran realisme sosialis?

Pada awalnya realisme sosial. Setelah terjun ke dunia politik baru kemudian menjadi realisme sosialis, walaupun ia bukan anggota partai komunis. Ia hanya mendukung pembangunan negara sosialis dan mengerti tujuan sosialisme itu untuk apa.

Pramoedya (Ananta Toer) terlihat sekali terpengaruh Maxim Gorky…

(Dia) Pram mengakui. Secara ide, dia menerima realisme sosialis itu. Tapi secara pemikiran Pram banyak bergantung pada Multatuli dan Hemingway. Pram mempelajari cara menulisnya. Pram membaca Multatuli dari perpustakaan bapaknya. Kesimpulan Multatuli itu luar biasa, “tugas manusia adalah menjadi manusia itu sendiri”. Disimbolkan oleh bapaknya Pram, “untuk menjadi manusia, Anda harus melalui tiga periode, tiga tingkat: belajar, bekerja, berkarya”. Berkarya disimbolkan oleh Pram “menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Nah, saya, saya ikuti lagi, “supaya Anda hidup, harus bekerja”.

Bagaimana realisme sosialis Gorky itu bagi Pak Soesilo?

Saya membaca buku dia, tapi ya saya bukan seorang sastrawan yang dari mula kepengin jadi sastrawan, hanya suka membaca saja. Gorky tidak seberapa memengaruhi pemikiran saya, karena saya sudah bandingkan dengan yang lain-lain, kebetulan pendidikan saya cukup ada, sehingga tidak begitu tergila-gila terhadap sesuatu.

Pada saat Bapak kuliah di Rusia (berkisar pada tahun 60-an), bagaimana nama Gorky dalam ingatan masyarakat ketika itu?

Di sana itu Gorky bacaannya para tokoh muda sosialis, diwajibkan untuk mahasiswa Rusia, apa lagi untuk institute yang berkaitan dengan sastra. Tapi secara umum itu dianggap sebagai bacaan standar untuk semua anak sekolah.

_________________________________

*) Team Pewancara:

Ladinata Jabarti

Mochamad Luqman Hakim

Randolph Jordan

Muhammad Yunus Musthofa

Firmansyah

**) Wawancara penuh mengenai diri Soesilo Toer Ph.D, M.Sc (sebagai Direktur Perpustakaan Pataba), Perpustakaan Pataba (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa) dan Kesusastraan Rusia dan Maxim Gorky. Kami mengambil penggalan wawancara mengenai Kesusastraan Rusia dan Maxim Gorky.

Setelah salat asar dan magrib, dengan sajadah yang dipinjamkan oleh keluarga Toer, di dalam perpustakaan,  setelah juga menyantap sate Blora, yang ditraktir oleh seorang kawan baik, yang pernah bekerja di Athan di Moskow, dan sekarang menjadi Lurah Pojokwatu, Pak Suwondo, wawancara dilakukan dengan dikawani oleh Benee Santoso, pemilik Penerbitan Pataba Press, putra tunggal dari Soesilo Toer, Ph.D, M. Sc.

Continue Reading

Editor's Choice

Simone de Beauvoir: “Mengapa Saya Seorang Feminis”

mm

Published

on

Di dalam Novel Simone de Beauvoir pada tahun 1945 berjudul The Blood of Others, si narator, Jean Blomart, bercerita tentang reaksi teman masa kecilnya Marcel ketika mendengar kata “Revolusi”:

Itu tidak masuk akal, mencoba untuk mengubah segalanya di dunia atau pun di dalam hidup; banyak hal yang cukup buruk sekali pun tidak dicampur. Segala sesuatu yang hati dan pikirannya telah mengutuk atas apapun yang telah ia pertahankan—ayahnya, pernikahan, kapitalisme. Karena salah satu letak kesalahannya tidak hanya dari sebuah institusi, tetapi dari dalam diri kita sendiri (mengada). Kita harus merenung di sebuah sudut dan membuat diri kita sekecil mungkin. Lebih baik untuk menerima segala sesuatu daripada membuat sebuah usaha tapi gagal, bahwa kita telah ditakdirkan dari awal untuk menghadapi kegagalan.

Fatalisme ketakutan dari Marcel merepresentasikan segala sesuatu yang De Beauvoir kutuk di dalam tulisannya, terutama dalam studi dasarnya pada tahun 1949, The Second Sex, yang sering digunakan sebagai teks dasar feminisme di gelombang kedua. De Beauvoir menolak gagasan bahwa perempuan ditundukkan secara alami di dalam sejarah—“di kedalaman diri kita”. Sebaliknya, Analisa De Beauvoir menyalahkan lembaga institusi yang dibela oleh Marcell: Patriarki, pernikahan, eksplioitasi kapitalisme.

Simone de Beauvoir, tampak menulis di dekat jendela kamarnya di paris, 1952. Image by: gisele-freund.

Dalam wawancara dengan jurnalis Perancis Jean-Louis Servan-Schreiber di tahun 1975—Mengapa aku feminis—De Beauvoir mengambil ide-ide dari The Second Sex, dimana Servan-Schreiber menyebut pentingnya sebuah “referensi ideologis” untuk kaum feminis. Seperti halnya “Capital” Marx untuk kaum komunis. Dia bertanya kepada De Beauvior tentang salah satu kutipan yang sering dikutip: “One is not born a woman, one becomes one.” Jawabannya menunjukkan seberapa jauh seorang Simone de Beauvoir sebagai seorang Pasca Anti Esensialisme modern, dan kemudian seberapa jauh seorang pemikir feminis berhutang atas gagasannya sendiri.

“Ya, formula tersebut merupakan dasar dari semua teori… itu artinya sangat sederhana, bahwa menjadi seorang perempuan bukan sebagai takdir yang alami. Hal tersebut merupakan hasil dari perjalanan sejarah. Tidak ada tujuan, baik secara biologi dan psikologi yang menjelaskan bahwa perempuan sebagai…bayi perempuan yang diproduksi untuk menjadi seorang perempuan.”

Tidak bisa dipungkiri jika memang ada perbedaan biologis, namun De Beauvoir menolak gagasan tentang perbedaan seks yang dinilai sudah cukup membenarkan hirarki berbasis status gender dan kekuatan sosial. Status kelas nomor dua bagi perempuan, dia berargumen, adalah hasil dari proses sejarah yang panjang; bahkan jika lembaga tidak lagi sengaja menghilangkan kekuasaan perempuan, mereka masih berniat untuk mempertahankan kekuasaan laki-laki secara historis.

Hampir 40 tahun setelah wawancara ini—setelah  lebih dari 60 tahun sejak diterbitkannya The Second Sex – perdebatan De Beauvoir mendorong kita untuk mulai merasakan kegusaran, yang akan terus berlangsung dan tidak akan terselesaikan dalam waktu dekat. Meskipun Servan-Schreiber menyebut feminisme sebagai “rising force” atau diartikan sebagai meningkatnya kekuatan yang menjanjikan adanya perubahan besar, namun orang-orang bertanya apakah De Beauvoir, yang meninggal dunia pada 1986, akan cemas dengan nasib perempuan di berbagai belahan dunia saat ini. Tapi sekali lagi, tidak seperti karakter Marcel, De Beauvoir adalah seorang pejuang, ia bukanlah seorang “penakut yang berdiri di pojok ruangan” dan menyerah.

Servan-Shreiber mengatakan bahwa De Beauvoir “selalu menolak, hingga tahun ini, untuk muncul di TV”, tapi ia keliru. Pada tahun 1967, De Beauvoir muncul dengan pasangannya Jean Paul Sartre pada sebuah program Televisi Perancis-Kanada bernama Dossiers. Anda tentu mengerti arti peristiwa ini? (*)

—————————-

Diterjemahkan oleh Gui Susan dari Simone de Beauvoir Explains “Why I’m a Feminist” in a Rare TV Interview (1975). Dieditori oleh Sabiq Carebesth.

Continue Reading

Classic Prose

Trending