Connect with us
Umbu Landu Umbu Landu

Interview

Umbu Landu Paranggi Berumah dalam Kata-kata

mm

Published

on

Penyair selalu menempuh jalan sunyi dengan misi suci. Sunyilah yang menginspirasi untuk melahirkan buah berkah bagi kedalaman kemanusiaan. Percik permenungan yang dituliskannya adalah sari-sari dari kejujuran untuk membangun moralitas.

Umbu Wulang Landu Paranggi (69) masih seperti dulu. Cuma dalam dua pertemuan akhir Oktober 2012 di Denpasar, ia tampak lebih kurus. Tetapi, jelas, riak-riak kreativitas dan simpanan energi di dalam dirinya seperti empasan ombak Pantai Sindu, Sanur, tempat kami bertemu.

Umbu memilih Pantai Sanur bukan tanpa alasan. Cuaca malam hari di Sanur selalu penuh misteri. Gerak pepohonan, lorong-lorong desa, derit rumpun bambu, kunang-kunang di belukar liar, serta kerlap-kerlip bintang di kejauhan seakan berpadu dengan gemuruh ombak sepanjang pantai. ”Sanur masih saja mistis…,” kata penyair yang sudah lebih dari 50 tahun mengabdikan dirinya pada puisi. Banyak yang salah kaprah pada puisi. Puisi, tutur Umbu, bukan cuma milik para penyair. Ia harus hidup di hati, kepala, dan lidah semua orang, termasuk para politisi. Bahkan, tambahnya mengutip Mochtar Pabottingi, rekan sejawatnya, menulis puisi bukan untuk menjadi penyair, melainkan membuat diri terhindar dari sakit jiwa. Kesalahan terbesar ”delegasi Senayan” (maksudnya: wakil rakyat), kata Umbu, tidak ada yang paham ”Gurindam 12” Raja Ali Haji. ”Sebab itulah dasar-dasar kecintaan, kejujuran, dan segala hal yang berhubungan dengan pengabdian,” kata Umbu.

Di tengah angin yang menderas, tiba-tiba muncul penyair Warih Wisatsana dan Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana. ”Wah, saya sudah tunggu-tunggu, saya sudah siapkan ini…,” sambut Umbu sambil mengulurkan sepucuk surat kepada Supadma Rudana. Keduanya, baru bertemu untuk pertama kali meski masing-masing sudah saling mengenal nama.

Pada masa 1960-an, Umbu dikenal dengan julukan ”Presiden Malioboro”. Ia tidak saja mengasuh rubrik budaya di mingguan Pelopor Yogyakarta, tetapi juga memelopori apresiasi sastra di emperan toko Jalan Malioboro Yogyakarta. ”Akademi” jalanan Malioboro ini kemudian melahirkan nama-nama besar dalam sejarah sastra Indonesia. Sebutlah ”murid-murid” yang menonjol, seperti Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi AG, Korrie Layun Rampan, dan Yudistira Ardhi Nugraha. Di situ juga ada nama-nama Agus Dermawan T dan Ebiet G Ade.

Anda dikenal sebagai pelopor dalam perkembangan sastra, sampai-sampai jarang yang mengenal karya Anda. Kapan bikin buku?

Ah itu biarkan saja orang lain. Tugas saya sejak di Yogya sampai Bali selalu bikin taman. Taman kreativitas untuk menemukan orang-orang yang mencintai hidup.

Anda tidak risau dalam masa kepenyairan 50 tahun lebih belum juga memiliki sebuah antologi?

Sudah saya katakan, itu tugas orang lain. Tugas saya ya begini saja, jalani kehidupan sebagai pencinta sunyi. Gede Prama pernah menulis, sepi yang mengilhami, ketika dia membahas soal Nyepi di Bali. Itu rumusan yang luar biasa, sepi bukan berarti kosong, tetapi justru penuh geriap energi dalamnya.

Menurut Umbu, keberangkatannya pada usia relatif muda dari Sumba Timur ke Yogyakarta pada tahun 1960 untuk belajar di SMA Taman Siswa. ”Kata taman itu menancap di kepala saya. Sayang saya terlambat sehingga akhirnya sekolah di SMA Bopkri Kotabaru. Tetapi, malah di situ ketemu Ibu Lasiyah Soetanto, guru yang tidak menggurui,” katanya.

Saat-saat mantan menteri peranan wanita pertama RI itu mengajar Bahasa Inggris, Umbu selalu menulis puisi. Ulah ”si pendiam” yang nakal itu membuat teman-temannya protes. ”Ibu tolong minta saja Umbu baca puisinya ke depan kelas. Dan Ibu Lasiyah selalu bilang, nanti saja kalau puisinya sudah dimuat di koran kita kritik ramai-ramai,” tutur Umbu mengulang kejadian di masa-masa awal kepenyairannya.

Mengapa Anda tidak seperti Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, atau Rendra saja dalam menekuni dunia kepenyairan?

Saya cuma menjalankan apa yang sudah dituliskan langit.

Maksudnya?

Semua punya peran masing-masing. Kalau semua seperti Chairil atau Sutardji, mungkin dunia kepenyairan dan kebahasaan kita tumbuh lamban. Berbahasa Indonesia bukan sesuatu yang mudah bagi sekalangan orang Jawa dan Bali dan orang-orang yang bukan Melayu. Karena itulah, Sumpah Pemuda itu puisi mantra. Ia ibarat amarah suci sebuah angkatan… 17 tahun kemudian terbukti terjadi proklamasi.

Anda tadi menyinggung soal ”delegasi Senayan” apa yang terjadi di situ dalam kacamata Anda?

Kita sudah berjarak dengan bahasa sehingga semua menganggap rakyat itu bodoh. Ada ungkapan penting: kediamdirian rakyat adalah pelajaran bagi seorang raja. Kalau raja ingin tahu apa yang terjadi, dia harus turun kepada rakyat. Penyair Hartoyo Andangjaya bilang, kita adalah rakyat, darah di tubuh rakyat, debar sepanjang masa. Nah, mereka ini jenis yang tak tahu debar, tak tahu sejarah disusun dari darah.

Apa yang membuat Anda begitu mencintai puisi?

Lho… alfabet itu cuma terdiri atas 26 huruf saja. Tetapi, kata-kata adalah diksi dari nyawa. Makanya, kita percaya kepada Tuhan karena kata. Soebagio Sastrowardoyo (penyair) pernah menulis: Ini kata-kata, maka dari itu aku bersembunyi dalam kata dan menenggelamkan diri di dalam kata. Coba bayangkan kalau semua pejabat kita paham bahasa. Tantangan ke depan harus tampil apa adanya, jangan sibuk soal-soal pencitraan….

Totalitas Umbu

Umbu relatif tidak dicatat sebagai penyair dalam sejarah sastra Indonesia. Karya-karyanya tidak banyak dikenal karena memang ia jarang memublikasikannya. Tetapi, anehnya, semua seniman, setidaknya generasi 1960-an sampai 2000-an, mengaku pernah bersentuhan dengannya. Bahkan, penyair senior sekelas Taufik Ismail pun pernah menulis sajak berjudul Beri Daku Sumba. Ia menulis begini: //Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu/Aneh, aku jadi ingat pada Umbu…// Penyair-penyair kenamaan, seperti Rendra, Sutardji, Sapardi, apalagi Emha, Linus, dan Korrie, seperti ”haram” hukumnya kalau ke Bali dan tidak bertemu Umbu.

Emha Ainun Nadjib, sebagai ”murid kesayangan” bahkan berbilang tahun menunggu untuk memperkenalkan istrinya, Novia Kolopaking, kepada Umbu. Ketika suatu hari sekitar pertengahan tahun 1990-an akhirnya bertemu, Emha dan Novia ”sungkem” karena menganggap Umbu sebagai orangtua yang pantas dimintai restu atas pernikahan mereka.

Begitu banyak orang merasa ”harus” bertemu dengan Anda. Biasanya kalau sudah bertemu apa yang dipercakapkan?

Ya begitulah. Paling bercerita seputar kondisi kesehatan masing-masing kalau sudah tua begini, ha-ha-ha….

Tidak bicara sastra?

Terkadang saja ada yang bawa segepok puisi.

Kalau toh ada, apa sih tugas penyair atau puisi itu?

Puisi itu seperti memijat mata. Kalau sudah lihat puisi saya bisa tidur. Begitulah ha-ha-ha…. Tugas semua seni itu menunjukkan kelemahan kita. Soebagio bilang, apakah cita-cita, tak ada lagi cita-cita, tetapi ada barangkali, beri aku satu kata puisi daripada seribu rumus sehingga aku terlontar…. Dan itulah bahasa. Seni itu sangkan paraning dumadi, mempertanyakan kembali kedirian kita. Kalau daun sudah menguning akan jatuh dengan sendirinya. Tidak bisa kita katakan, jangan jatuh dulu, hijau lagi. Itu namanya keikhlasan semesta. Jadi, seni juga mengajarkan rendah hati, tetapi matang dalam pertimbangan. Bangsa kita bangsa pelupa, lalai, sering kali lebai, tugas puisi mengingatkan.

Maaf saya harus tanyakan. Anda dicap sebagai sosok misterius, selain sulit ditemui, sampai kini pun tak jelas memiliki alamat rumah?

Lho kan sudah jelas, penyair itu berumah pada kata-kata, apalagi…? Saya berjalan ke semua kabupaten di Bali karena saya menemukan kata-kata tak pernah ingkar janji. Saya suka bermain pada wilayah kemustahilan….

Maksudnya?

Ya jalani saja hidup dengan seluruh simpanan totalitasmu.

Sejak bermukim di Yogyakarta, lalu pindah ke Bali, Umbu menjadi satu-satu pengabdi puisi paling setia. Ia ”mengorbankan” semua kesenangan hidup pribadinya dengan menjalani hidup seorang diri, jauh dari sanak keluarga, jauh dari komunitas yang dididiknya. Tetapi, dalam kesendirian itu, ia tak sungkan mengunjungi para penyair muda atau seorang seniman yang sedang sakit.

Umbu praktis menjadi tokoh penting yang berada di balik layar kemunculan para sastrawan Indonesia sejak generasi 1960-an sampai 2000-an. Hampir semua penyair ingin ”uji nyali” mengirimkan karya kepadanya. Sejatinya adalah salah satu sutradara penting pergerakan kesusastraan nasional. Tokoh-tokoh penting, seperti Rendra, Putu Wijaya, Sapardi, dan belakangan dari Emha, Linus, sampai Joko Pinurbo, pernah bersentuhan secara kreatif dengan Umbu.

Cuaca Pantai Sindu makin dingin. Samar-samar Pulau Nusa Penida tampak di seberang laut. Umbu mengeratkan lilitan syal di lehernya. ”Rupanya sudah waktunya permisi. Air laut makin naik…,” katanya.

Kami bergegas meninggalkan Sanur. Sebelum mencapai jalan raya, seekor kunang-kunang memotong jalanan….(Harian Kompas, Putu Fajar Arcana)

Continue Reading

Interview

Octavio Paz, Puisi Panjang dan tanda (resmi) perpuisian

mm

Published

on

Dia salah satu penyair Meksiko terbesar, bahkan salah satu yang terbesar dan otoriatif yang dimiliki dunia perpuisian modern. Alam pikiran dan pengalamannya mengembara melampaui ruang dan waktu, secara fisik dan juga metafisik—ia Octavio Paz,  seorang yang sukses sebagai penyair, juga dalam karirnya sebagai diplomat untuk negaranya.

Menjelajah peradaban Amerika sebagai salah satu korp diplomatik Meksiko pada 1941-1945, mengembara ke India juga sebagai duta besar negaranya dari 1962-1968—seni dan filsafat timur pun diserapnya. Sebagai warga negara selatan ia memahami sosialisme dan ‘budaya’ revolusi meski ia juga tak gentar mengkritik realisme-sosialis dalam medan kasustraan; ia tinggal dan menyerap paham kapitalisme ala Amerika selama tinggal di sana—dan ia pun tak kalah galaknya dalam melabrak cara pandang kebudayaan dan sastra Amerika yang selalu berbau Anglocentrik.

Kesastrawannya memang tiidak terburu-buru, meski ia telah menulis dan mempelajari puisi sejak masih muda belia, namun ia baru menandai kesastrawannya dalam terbitan kumpulan sajaknya pada tahun 1949. Setahun kemudian, ia menerbitkan esai tentang Meksiko “Labirin Kesunyian” (1950) yang lantas diterjemahkan ke hampir semua bahasa Eropa. Kedalaman visi pengetahuan dan ketegasan sikap politiknya tak diragukan, ia mengundurkan diri menjadi diplomat negara untuk India sebagai bentuk protes atas pembantain brutal yang dilakukan negaranya pada kaum pelajar di Mexico City. Ia mendirikan majalah kebudayaan yang pedas dalam kritik, Plural, (1971), Vuelta (1976)—kedunya dibredel penguasa.

Berkat kerja nyata dan siasat kebudayaan yang dikerjakannya dalam membela kemanusiaan ia diganjar berbaai penghargaan, dan yang paling bergengsi tentu saja adalah beroleh Nobel Sastra pada 1990. Pada 19 April 1998 Paz wafat karena kanker.

Sebelum meninggalnya karena kanker, dunia mencatat tujuh esai Paz paling monumental tentang sastra, dunia kita hingga relasinya dengan revolusi yang demamnya melanda bangsa-bangsa di dunia pada masa hidupnya. Tujuh esai yang lantas bertajuk “The Other Voice” tersebut merupakan “investasi” pemikirannya sejak esai pertama yang ditulisnya pada 1941—berisi pandangan meditatif Paz yang dimulai dari permenungannya tentang dunia puisi dari romantisme hingga simbolisme dan gerakan avant Grade. Salah astu pertanyaan terpenting esai tersebut adalah pertanyaan yang ia ajukan sendiri: “Dimana kira-kira tempat puisi pada waktu yang akan datang?”

Meski dimulai dari permenungan tentang puisi, buku “The Other Voice”, sebagaimana dicatat Helen Lane dalam pengantar untuk buku tersebut, berbicara juga tentang kondisi masyarakat kontemporer, filsafat, ideologi, revolusi dan tentang Paz sendiri, diri sang penyair—seorang modernis dan dan visioner. Seorang pemikir yang terus reasah-gelisah dan prihatin namun optimis terhadap perkembangan zaman.

Dalam tulisan berbentuk interview imajiner ini, penulis hanya akan meringkas pemikiran Paz tentang dunia puisi—atau dari sudut pandang puisi-penyair atas realitas dunia kontemporer (dalam bagian kedua interview). Ringkasan jawaban Paz secara utuh bisa didapati dalam bukunya “The Other Voice” (Suara Lain):

INTERVIEWER

Apa Puisi buat Anda, atau bagaimana ungkapan itu (puisi) memiliki artinya bagi Anda?

OCTAVIO PAZ

Pertama izinkan saya mengutip Antonio Machado untuk menjawab pertanyaan tersebut, Machado menulis: “Sejarah yang hidup dinyanyikan dengan memadahkan alun nadanya”.

Saya mulai menulis puisi pada waktu masih muda belia dan sejak itu pula saya membayangkan tentang bagaimana menulisnya. Puisi adalah suatu pekerjaan yang paling ambigu: suatu tugas dan sebuah misteri, suatu masa lalu dan suatu sakramen, sebuah profesi, dan suatu hasrat atau nafsu.

Saya ingin katakan hal itu pada mulanya seperti sebuah meditasi (barangkali kata itu lebih tepat karena keserampangannya, untuk menyebutnya sebagai suatu penyimpangan yang tidak beraturan) tentang perbedaan-perbedaan besar puitik dan pengalaman manusia: kesunyian, komuni, communion. Saya melihat hal itu dalam personifikasi dua orang penyair yang saya baca dengan penuh gairah; Quevedo dan Saint Jhon the Cross dalam buku karya mereka Lagrimas de un penitente dan Cantico spiritual.

INTERVIEWER

Dalam beberapa esai yang Anda tulis, anda tampak mengagumi puisi panjang dan memberi penilian tinggi atasnya ketimbang puisi pendek. Bagaimana Anda menilai dan menjelaskan hal tersebut?

OCTAVIO PAZ

Saya mambahas secara khusus mengenai “extensive poem”, puisi panjang—di mana itu adalah bentuk puitik yang telah memperoleh nasib baik dalam abad XX. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa puisi-puisi modern yang terbaik adalah puisi-puisi yang panjang. Sebaliknya malah lebih mendekati kebenaran: intensitas dari puisi yang terdiri dari atas tiga atau empat baris sering mampu menembus tembok waktu. Tetapi, puisi panjang—yang ditulis oleh T.S. Eliot, Saint John Perse, dan Juan Ramon Jimenez, saya berikan tiga contoh yang terkenal—merupakan ekspresi era kita, dan telah meninggalkan jejaknya tentang hal itu.

Jadi dapat dikatakan bahwa extensive poem adalah sebuah puisi yang panjang. Selama dalam pengertian itu kata-kata datang berurutan satu sama lain, suatu puisi yang ekstensif dengan demikian bisa berarti sebuah puisi yang terdiri dari banyak baris dan pembacaanya membutuhkan waktu tertentu. Ruang dan waktu.

INTERVIEWER

Namun berapa panjang sebuah puisi dapat dipandang sebagai sebuah puisi ekstentif? Terdiri dari berapa banyak baris?

OCTAVIO PAZ

Mahabharata terdiri lebih dari dua ratus ribu sajak, sementara bagi orang Jepang, sau Uta—sebagai puisi panjang—terdiri dari tiga puluh sampai empat puluh sajak; Soledades karya Gongora berisi dua ribu sajak; Primero Sueno karya Sor Juana Ines de la Cruz kira-kira seribu sajak dan Divina Comedia karya Dante terdiri dari lima belas ribu sajak. Sebaliknya puisi The Waste Land hanya terdiri dari empat ratus tiga puluh empat sajak. Jadi dalam hal ini panjang pendek adalah realtif. Ia berupa istilah yang bersifat variable bebas, tidak tetap. Jumlah persajakan (verses) bukan masalah sama sekali, kita membutuhkan factor-faktor lain untuk menjelaskan hal ini.

Saya ambil Paul Valery yang pernah berkata bahwa sebuah puisi panjang, merupakan mengembangan dari suatu ekslamasi, suatu seruan. Yakni suatu formula singkat dan jelas namun toh masih membutuhkan suatu pengembangan. Dalam puisi pendek awal dan akhir berpadu, menyatu hingga jarang kita dapati pengembangan apa pun. Awal dan akhir dengan gamblang dapat dibedakan, terang, jelas, setiap persajakannya memiliki fisiogno-minnya sendiri-sendiri tetapi pada waktu yang bersamaan semuanya tak dapat dipisahkan. Pada puisi panjang, bagian-bagiannya bersifat nyaris otonom, benar-benar ada seagai bagian-bagian (dari keseluruhan). Contohnya, episode Paolo dan Francesca daam Inferno karya Dante, atau episode Dante dan Matilda pada ahkhir penggambarannya melewati purgatory.

INTERVIEWER

Mari kita detailkan, inti dari pembeda puisi panjang dan puisi pendek, dan mengapa ada cenderung pada yang pertama?

OCTAVIO PAZ

Perpuisian ditentukan oleh prinsip keanekaan dalam kesatuan yang bersifat ganda. Dalam puisi-puisi yang pendek, keanekaan dikorbankan demi kesatuan; pada puisi-puisi panjang, puisi itu mencapai kesempurnaan sebagai puisi tanpa mengorbankan atau merusak kesatuan (unity). Jadi, boleh dibilang, pada puisi panjang kita bukan hanya menemukan perpanjangan atau perluasan yang sebenarnya merupakan suatu dimensi yang relatif, tetapi juga keanekaan yang maksimum.

Tambahan lagi, puisi ekstensif memenuhi persyaratan ganda lain yang rapat hubungannya dengan hukum keanekaan dalam kesatuan: pengulangan dan kejutan. Pengulangan merupakan prinsip utama dalam perpuisian. Matra dan aksen-aksennya, rima (rhyme), julukan (epithet) dalam karya-karya Homerus dan penyair-penyair lainnya; frase dan insiden berulang seperti motif-motif musical yang tersedia sebagai tanda-tanda untuk memberi tekanan pada kesinambungan. Perbedaan lain yang lebih besar lagi adalah jeda atau penghentian, pergantian, penemuan—singkatnya, ketakterdugaan.

Bila kita reduksi sampai ke bentuk paling sederhana dan esensial, puisi adalah sebuah madah, alias nyanyian. Nyanyian bukanlah suatu diskursus atau penjelasan. Pada puisi pendek, latar belakang dan hampir semua keadaan yang mengitarinya, yang merupakan sebab atau objek nyanyian, dihilangkan atau diabaikan. Yang saya maksud adalah: pada gilirannya nyanyian menjadi cerita, dan akhirnya cerita menjadi nyanyian—seperti dalam puisi ekstensif.

INTERVIEWER

Ada yang hendak Anda tambahkan lagi?

OCTAVIO PAZ

Sebuah puisi ekstensif harus memuaskan suatu kebutuhan rangkap: keanekaan dalam kesatuan dan kombinasi dari pengulangan dan kejutan. Hal itu mengembangkan dan bukan sekedar mengakumulasi.

Sebutlah dalam Soledades saya tidak menemukan pengembangan, melainkan hanya akumulasi—yang seringkali membosankan dan bertele-tele dari fragmen dan detil-detilnya. Soledades adalah suatu tatahan potongan-potongan yang memang indah tapi tidak berarti. Puisi-puisi itu tidak memiliki aksi, taka da cerita, dan dipenuhi dengan penjelasan tambahan yang panjang dan berbelit-belit serta pemakain kata yang terlalu banyak yang sebenarnya tidak perlu.

Anda harus memahami hal ini; apakah kita membaca sebuah puisi dengan penuh gairah? Antusiasme—hiruk pikuk dan kegila-gilaan yang bersifat ketuhanan—merupakan tanda (resmi) perpuisian. (*)

*) Sabiq Carebesth, penyair, editor in chief Galeri Buku Jakarta.

Continue Reading

Interview

Edmund Husserl: “Pengalaman Itu Sendiri Bukan Sains”

mm

Published

on

Menjelang akhir karirnya, Husserl menulis bahwa impiannya untuk meletakkan sains di atas pondasi yang kuat; telah berakhir! Apa yang terjadi? Sementara filsafat fenomenologi karyanya bahkan telah menjadi salah satu paling diminati dan menjadi pondasi bagi kemajuan filsafat sejak abad 20?

Edmund Husserl adalah filsuf yang dihantui mimpi yang latarnya telah dipenuhi oleh para pemikir sejak zaman Socrates: mimpi tentang kepastian!

Untuk Socrates, masalahnya seperti ini: meskipun kita mudah mencapai kesepakatan tentang pertanyaan yang berkaitan dengan hal-hal yang dapat kita ukur (misalnya, “berapa banyak zaitun yang ada di botol ini?”), namun ketika sampai pada pertanyaan filosofis seperti “apakah keadilan itu?” atau “apa itu kecantikan?”, sepertinya tidak ada cara yang jelas untuk mencapai kesepakatan definisi atas pertanyaan itu. Dan jika kita tidak tahu pasti apa itu keadilan, lalu bagaimana kita bisa berbicara tentang keadilan itu?

Masalah Kepastian

Husserl adalah seorang filsuf yang memulai “keheranannya” sebagai seorang matematikawan. Dia bermimpi dan terus memikirkannya; permasalahan seperti “apa itu keadilan?” bisa diselesaikan seperti bagaimana seorang menyelesaikan masalah matematika “berapa banyak zaitun yang ada di toples?” dengan kata lain, Husserl berharap untuk menempatkan semua ilmu pengetahuan—apapun cabang pengetahuan dan aktifitas manusia, dari matematika, kimia dan fisika hingga etika dan politik–dalam dasar yang lebih utuh.

Teori-teori ilmiah didasarkan pada pengalaman. Tetapi Husserl percaya bahwa pengalaman saja tidak menambah ilmu pengetahuan, karena sebagaimana diketahui oleh semua ilmuwan, pengalaman penuh dengan semua jenis asumsi, bias, dan kesalahpahaman.

Husserl ingin melepaskan semua ketidakpastian ini untuk memberikan kepada ilmu pengetahuan suatu pondasi dasar yang pasti.

Untuk melakukan ini, Husserl menelaah pemikiran filsafat dari seorang filsuf abad ke-17; Rene Descartes. Seperti Husserl, Descartes ingin membebaskan filsafat dari semua asumsi, bias, dan keraguan. Descartes menulis bahwa meskipun hampir semuanya bisa diragukan, ia tidak dapat meragukan bahwa ia meragukannya—layaknya adagium cogito ergo sum—saya berpikir maka saya ada.

Fenomenologi

Husserl mengambil pendekatan yang mirip dengan Descartes, tetapi menggunakannya secara berbeda. Dia menyarankan bahwa jika kita mengadopsi sikap ilmiah untuk mengalami, mengesampingkan setiap asumsi yang kita miliki (bahkan termasuk asumsi bahwa dunia eksternal ada di luar kita), maka kita dapat memulai filsafat dengan bersih, bebas dari semua asumsi.

Husserl menyebut pendekatannya ini dengan “fenomenologi”: penyelidikan filosofis tentang fenomena pengalaman. Kita perlu melihat pengalaman dengan sikap ilmiah, meletakkan ke satu sisi (atau “mengurung keluar” sebagaimana Husserl menyebutnya) setiap asumsi kita. Dan jika kita melihat dengan hati-hati dan cukup sabar, kita dapat membangun landasan pengetahuan yang dapat membantu kita mengatasi masalah filosofis yang telah ada bersama kita sejak awal filsafat.

Namun, para filsuf yang berbeda mengikuti metode Husserl dan mendapatkan hasil yang berbeda, dan ada sedikit perbedaan tentang apa sebenarnya metode itu, atau bagaimana seseorang mempraktikkannya.

Menjelang akhir karirnya, Husserl menulis bahwa impiannya untuk meletakkan sains di atas pondasi yang kuat; telah berakhir!

Tetapi meskipun fenomenologi Husserl gagal mendorong filsafat dengan pendekatan ilmiah untuk pengalaman, atau untuk memecahkan masalah filsafat yang telah bertahan lama, tetapi pemikiran Husserl bagaimana pun telah melahirkan salah satu tradisi terkaya dalam pemikiran abad ke-20. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari Edmund Husserl and Phenomenology  (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Interview

Italo Calvino: Sebuah Memoar

mm

Published

on

featured image by https://www.telegraph.co.uk

Aku dan Italo Calvino berbagi lanskap: daerah pesisir Italia dari Genoa hingga Menton, di perbatasan Prancis. Kami berbagi bebatuan yang jatuh dengan curam menuju laut, bukit-bukit yang diselimuti oleh cemara dan pohon-pohon zaitun, rumpun tanaman berbunga kuning di musim dingin, buah-buah pertama dari truk perkebunan dan bunga-bunga dari biji yang bermekaran, kepiting-kepiting, kue paskah-dan kemudian, tepat di belakang pohon-pohon zaitun, petak-petak tanah liat yang tandus dan deretan pegunungan Appenini yang misterius. Dan segera setelah kami melewati gerbang-gerbang kota, di situlah gunung Fasce, petak-petak kecil di bukit-bukit berbatu yang gersang dimana para petani (pensiunan kapten kapal, para pelaut, para mandor kapal yang sudah tua tetapi juga pengacara-pengacara yang dipulangkan dari Argentina) membuat bangunan kecil, dengan dinding-dinding batu yang kering, mengambil air dari yang tak diketahui entah darimana sumbernya, dan kemudian, sebagai hobi, menanam sedikit tomat, buncis dan labu. Semuanya dalam jumlah kecil, terbatas, diambil dari sumber yang minim, melalui kecerdasan yang diasah oleh kekurangan sumber daya.

Aku dan Calvino sama-sama memiliki beberapa bidang tanah itu-miliknya, kukira lebih besar-dan berkali-kali ketika kami masih muda, kami berbincang tentang satu sudut di Liguria itu dengan kecintaan yang dimiliki seseorang untuk rumahnya. Tidaklah mungkin untuk memahami Calvino tanpa membayangkan lanskap ini, kecintaan untuk hal-hal kecil ini. Itu adalah kekayaan sesungguhnya yang dia miliki. Secara bertahap, setelah tahun-tahun berlalu, dia semakin menyukai cerpen, sajak prosa, perumpaan moral, kisah metafisik, caprice, miniatur, exvoto. Mungkin “bentuk-bentuk kecil” itu-dari Petrarch hingga Operette Morali karya Leopardi-telah mengkonstitusi esensi dari kecerdasan luar biasa orang Italia ini: digambarkan dengan tajam, terkonsentrasi, abstrak, terealisasikan dengan penghematan paling canggih dari sumber-sumber yang ada dan berlimpah gaung makna. Seperti penyair besar Persia, yang mengkonstruksi syair-syair luar biasa dengan memasangkan bersama kisah-kisah kecil yang tak terlihat, Calvino telah mempelajari seni menjalin plot cerita dan refleksinya; “bentuk-bentuk kecil” itu menerangi satu sama lain, menawarkan kiasan-kiasan dan perspektif dan tidak tetap, rancangan-rancangan bangunan yang tak terhingga. Aku tidak tahu apa yang mungkin akan dia tulis di masa depan yang sirna itu, tapi aku selalu membayangkan bahwa dengan kelenturan dan kecerdasan tangannya, menggunakan batu-batuan kecil berwarna miliknya, dia mungkin saja menggubah kisah-kisah kosmogoni dan kosmologi.

*

Ketika aku bertemu dengannya dia berusia dua puluh empat tahun, dan kapanpun aku berpikir tentangnya sebagaimana dia waktu itu, aku tersenyum. Dia menawan. Dia berjalan menelusuri jalan-jalan Turin yang kelabu, berpakaian seperti seorang imigran dari Haiti atau Santo Domingo dengan sandal dan sweter-sweter berwarna di pertengahan musim gugur atau pada awal musim dingin. Dia pemalu, seperti seorang bocah laki-laki dari daerah yang baru saja pindah ke kota besar. Dia memiliki kecenderungan inferioritas yang didorong oleh kehidupan keluarga yang eksentrik; dari waktu ke waktu kejengkelannya, sebuah perubahan retoris nada dalam suaranya seperti mengejek, gerakan tangannya mengingatkan pada sebuah fakta bahwa dia bukan termasuk orang Liguria asli Eugeno Montale tetapi merupakan bagian dari orang-orang Liguria yang penggila mitologi, periang, tukang gosip dan ahli kebatinan di bagian pesisir yang lain.  Apa yang membuatku terpesona dari segala hal adalah kecepatan dan keringanannya. Dia memiliki tatapan yang segar dan luar biasa tajam, pikiran yang tangkas, kecintaan pada garis lurus, sebuah kemampuan yang elegan sebagai seorang pengarah gaya. Tinggal di Turin, yang menggambarkan dirinya sendiri stoic dan geometris, dia telah membuatkan dirinya sendiri sebuah baju zirah stoic, dan dari balik lapisan baja ini, yang digosok hingga bersinar, dia mengamati pertunjukkan besar di bumi, selalu dari suatu kemiringan, atau dari ketinggian burung yang bersenandung dan hutan lebat yang suatu kali pernah menyelimuti Eropa.

Italo Calvino

Dia sangat lucu. Banyak kesempatan aku tertawa dengannya. Banyak pula kesempatan dimana aku dengan perasaan kasih menertawakannya. Dia seringkali jatuh cinta, atau berpikir bahwa dia jatuh cinta, atau berpura-pura untuk jatuh cinta. Hampir selalu, mengikutsertakan diri mereka sendiri, putri-putri Bogus yang mengajarinya tentang tatakrama yang baik (meskipun tatakramanya sudah lebih baik dari mereka), memaksanya untuk pergi ke restoran-restoran mahal dan meminum Veuve Cloquot meskipun dia miskin dan kikir. Dia mengagumi mereka dan menderita setiap kali mendengar tentang kemewahan, kebenaran-kebenaran yang berputar turun dari atas. Hingga suatu hari dia mengerti bahwa dia telah menyia-nyiakan hatinya dan waktunya dan secara tiba-tiba dia melarikan diri. Dia tiba di Roma dengan aura yang ketakutan di matanya, menginap di hotel-hotel yang tidak dikenal, tidak memberikan nomor teleponnya kepada siapa pun….sementara para putri dari Bogus mengejarnya ke penjuru Italia dengan sebuah pistol di tas tangannya, membacakan keras-keras kepada rekan-rekannya dalam nada mendengkur seperti seekor merpati yang tertohok tiga ribu surat cinta yang dituliskan untuknya.

 Aku selalu penasaran apakah Calvino memiliki perasaan. Sudah pasti dia adalah salah satu lelaki paling setia yang kukenal-setia pada teman-temannya dan pada penerbit yang terkadang tidak pantas menerima kesetiannya. Dia tidak pernah senang membicarakan psikologi. Karakter-karakter orang dan penggambaran tidak menarik baginya.

Penilaiannya pada orang lain ksar dan singkat saja: mereka pintar atau bodoh, menulis buku-buku bagus atau buku-buku jelek; segalanya hal di dalam novel yang menjadikannya penting atau konflik psikologis tidak menarik minatnya. Dia tidak mempercayai emosi; dalam kekacaubalauan hati manusia selalu ada sesuatu yang mungkin mengenai dan melukainya. Aku yakin bahwa terkadang dia berpikir untuk menukar jantung-organ yang kasar itu-dengan hal lain yang akan dia temukan melalui investigasi-investigasi cerdiknya, sebuah organ yang tak kalah bergairah dan murni, tetapi terbuat dari bahan kristal, seumpama sebuah kebenaran matematika.

Aku juga penasaran apakah dibalik kernyit dalam yang bergalur-galur di antara alisnya dia memiliki sebuah ego. Aku tidak pernah mengenal orang lain yang begitu tidak agresif dalam kesehariannya. Dia selalu mencoba untuk membenarkan, untuk memahami, untuk menetralkan sindiran-sindiran. Selama masa-masa pendewasaan dengan penuh kebijaksanaan, elegan dan meremehkan dia seperti menghilang dari dunia seolah “Aku” telah mengusirnya. Dalam buku terakhirnya dia mengungkapkan sebuah kepanikan yang hampir obsesif tentang keberadaan; sementara dia mencoba melipatgandakan dirinya bagaikan tokoh dalam dongeng, dia melarikan diri dari dirinya sendiri. Bilamana, sesekali dia terlihat seperti mempertahankan ke”Aku”annya, itu   arena dia telah mengambil risiko kehilangan dirinya sendiri dalam labirin cermin-cermin. Pada akhirnya, sebagaimana yang terjadi pada banyak penulis-penulis besar, dia menjadi mahluk kolektif-jenis yang menerima apapun; tak pasti, kebingungan, gelisah, rentan terhadap pengaruh sekecil apapun dari sekelilingnya, dibuat bingung oleh dinding-dinding rumahnya, dan bermacam refleksi: penguasa dari kerajaan yang hanya terdiri dari bayangan-bayangan.

Saat pertama kali aku bertemu Calvino, dia mengenal sedikit buku. Pada masa itu orang-orang mulai membaca Robert Musil, Nabokov, Dylan Thomas, Carlo Emilio Gadda, Boris Pasternak: bunga terakhir dari perkembangan literature Barat. Calvino tidak menyukai Musil, Nabokov, Gadda, tidak juga Dr. Zhivago atau pun Under Milk Wood. Seperti Jendral Stumm von Bordwehr, dia merasakan keberadaan musuh dimana pun: bahaya dari kekosongan, labirin itu, lautan objektivitas;

dia mempelajari banyak garis pertempuran, manuver-manuver pertahanan dan pengepungan, menggali parit-parit, memasang pagar kawat berduri, menyebarkan prajurit-prajuritnya yang lemah dalam seragam dan topi kecil berwarna. Aku menjadi terganggu dengannya. Tetapi aku keliru. Calvino bukan seorang kritikus. Dia tidak dalam kewajiban apa pun untuk menjadi objektif tentang siapapun. Tugas utamanya hanya untuk mempertahankan dunianya yang sangat menyenangkan yang terbuat dari kertas tisu dan cahaya-cahaya lembut.

Apa yang terjadi setelahnya aku tak yakin bagaimana cara untuk menceritakannya kembali. Dalam beberapa tahun penulis kecil menawan yang telah membayangkan “Our Anchestors” menjadi pembawa narasi utama Italia di abad dua puluh yang akan datang. Ini merupakan metamorfosis yang panjang yang berjalan hampir tak disadari, dalam lobaratorium khayalan dari literatur eksperimental. Bacaannya menjadi semakin dewasa. Sekarang dia membaca Musil dan Paul Valery-tepatnya buku-buku yang sewaktu muda dia benci-dan Petrarch, Kafka, Proust, Eugenio Montale, yang pada suatu masa, dengan terdistraksi dan tak mau ambil pusing, dia lewati. Semua yang dia baca, bahkan hal-hal yang paling tidak berhubungan, memasuki aliran darahnya. Pada saat ini dia semata-mata literatur; seorang sastrawan sebagaimana layaknya seorang yag beriman atau seorang pebisnis, dan meskipun begitu dengan kewajaran yang sama layaknya pohon-pohon cemara yang tinggi di halaman rumahnya menghisap nutrisi dari tanah dan menyebarkannya kesuluruh cabang yang ada pada dirinya.

Lanskapnya berubah. Jika saat dia tinggal di Paris dia seperti seorang alien, atau di Roma seperti tamu, saat ini rumah sesungguhnya baginya adalah rumpun cemara di Roccamare, dekat Castiglione della Pecasia, yang dalam cara pandang tertentu merupakan pengulangan dari lanskap alam Liguria di masa mudanya. Disini pun, semuanya serba terbatas; sebidang pasir terserak diantara dua daratan yang menjorok ke laut, serumpun cemara, sebuah taman kecil dimana semuanya terlihat seperti dibuat dalam skala lebih kecil. Dia menulis di tempat yang tinggi di rumahnya, sebuah ruang kerja yang kecil yang dapat dicapai dengan sebuah tangga kecil yang sangat berbahaya, bagaikan dalam sebuah aerial kandang ayam atau sarang merpati. Dibawah kakinya, istrinya berbincang dengan teman-temannya atau para pembantu rumah tangga. Tukang antar barang datang dan pergi, teman-teman tiba; dia terus saja menulis, terbenam dalam kebisingan kehidupan, menjaga rumah itu seperti seekor bangau. Meskipun dia tak pernah mengatakan tidak untuk hal apapun, pada saat ini dia sudah sangat dalam menjauhkan dirinya dari realitas, terbungkus dalam dunianya yang terbuat dari bayangan-bayangan lemah. Di antara dirinya dan orang lain, dia menempatkan isitinya; istrinya dharapkan dapat memberitahunya tentang semua hal; seperti apa wajah-wajah orang lain, apa yang terjadi di rumpun-rumpun cemara, bayangan-bayangan yang dihasilkan pepohonan, wewangian apa yang menyebrangi padang rumput, apa rasa dari makanan-makanan itu, bunyi-bunyian musik. Di atas sana seperti seekor lebah dia menerima madu yang dikumpulkan oleh istrinya dan menyimpannya di dalam sarang halus di pikirannya.

 Pikirannya menjadi yang paling kompleks, membungkus, pikiran paling berliku-liku yang pernah dimiliki oleh penulis Italia manapun. Menulis, bagi Calvino, berarti menggerakkan ide-ide-karena, seperti Proust mengatakan, mengutip Leonardo, literatur adalah sebuah persoalan mental.

Akan tetapi jatuh pada sebuah ide terasa seperti mencelupkan diri ke dalam sebuah jurang yang amat dalam, sebuah kekuatan merusak yang tak terhingga. Setiap kali dia lari dari bahaya perasaan kewalahan. Tak ada apapun yang pasti-hanya sebuah hipotesis dalam pencarian makna: sebuah hipotesis yang berkembang menjadi dugaan-dugaan baru, kemungkinan lebih jauh yang seringkali berakhir pada ketidakmungkinan. Jika pada suatu masa dia menyukai kekeraskepalaan pikiran yang tertutup yang dimiliki garis lurus, sekarang dia memilih jalinan-jalinan-berbelit-belit, garis-garis bercabang. Dulu ritmenya padat dan penuh petualangan; sekarang menjadi lambat, berhati-hati, begitu cermat, dihapus, ditambahkan, diubah sedikit-sedikit, berlawanan. Setiap tema bercabang dalam keanekaragaman yang berlimpah mengikuti gaung-gaung yang tak pernah berakhir.

Betapa sederhana motivasi intelektual masa mudanya, ketika dia percaya dalam permainan kejam pertentangan-pertentangan, harus muncul dihadapannya! Sekarang dia terobsesi dengan ketidakterbatasan ganda, yang kecil tak berhingga dan yang besar tak berhingga yang merusak semua pemikiran… jalinan tak terelakkan dari setiap persetujuan dengan setiap sanggahan; relasi yang tak terpisahkan antara segala hal dan hubungan-hubungan antara relasi-relasi itu-refleksi yang panjang atas gema yang kompleks hingga semua kata-kata dan tindakan dibangkitkan. Calvino merasa dia berada di tepi khayalan, dalam vertigo, ketidakmungkinan untuk menulis dan berbicara. Dia tidak pernah menjadi penulis yang tragis, dan sekarang dia menemukan bahwa tagedi sesungguhnya dalam literatur bukan terletak pada gairahnya, melainkan pada ekploitasi pikiran. Sangat tragis mungkin, kematian Anna Karenina di stasiun kereta di Obiralovka, itu tidak ada bandingannya dengan tragedi ketidakterbatasan yang ganda. Seperti semua seniman yang ahli dia selalu merasa bangga untuk mengetahu motif-motif dan tahapan-tahapan literaturnya. Tapi tepatnya saat ini, sebagaimana dia menuliskan “hal-hal mental,” ide-ide membawanya ke tempat-tempat yang baru baginya, dan pada masa-masa itu memenuhinya dengan kengerian.

Lalu, dengan begitu cepat, tahun-tahun terakhir tiba di hutan cemara. Memalingkan dirinya dari semua ide-ide umum, Calvino merasa puas untuk merenungi segulung ombak, setumpuk rumput di taman, seekor burung yang bernyanyi; perenungan atas hal-hal sederhana ini membangkitkan dalam dirinya sebuah kebingungan yang begitu radikal hingga mencegahnya merasakan emosi, membagikan sebuah ide, memahami bentuk dari sebuah objek, untuk hanya dapat mengatakan: “Benda ini adalah,” atau “Aku ada.”

Mungkinkah-aku menanyakan diriku sendiri-sudah tidak ada lagi apapun; dia telah secara diam-diam lenyap tanpa kita menyadarinya.

Musim panas terakhirnya begitu berat. Dia sedang menuliskan kuliah-kuliahnya tentang Amerika (yang kemudian dikumpulkan dalam The Uses of Literature), sebuah buku yang paling indah, warisan dalam seni puisi di akhir abad ini, dimana literarur kuno dan modern saling merefleksikan masing-masing dalam sebuah cermin jernih. Dia tidak dalam suasana hati yang baik. Dia berpikir bahwa dia menyia-nyiakan waktunya. Dia seorang penulis, dia harus memberi bentuk pada lusinan cerita yang bergumul di dalam kepalanya, bukan merefleksikan literatur. Dia tak lagi keluar dari rumah. Tersembunyi dalam sarang burungnya yang tinggi, dia tak pernah lagi berenang di laut.

Hari pertama di bulan Desember tahun 1985, kuliah-kuliahnya hampir selesai dikerjakan, meskipun baginya hal itu sudah menjadi milik waktu yang telah lampau. Selama hari-hari terakhir itu aku menemuinya dua kali. Dia lembut, penuh kasih saying, menghibur, nyaris bahagia. Dia bahkan mencium pipi istriku-betapa jarangnya bibir Ligurian yang abstrak dan penyendiri itu membengkok untuk menyentuh pipi seorang teman! Aku pergi tidur dengan penuh kegembiraan.

Tak ada alasan untuk ketakutan atas apa yang akan terjadi. Mr. Palomar merupakan sebuah kisah seperti semua yang bagi mereka literatur adalah sebuah persoalan mental. Calvino berpikir bawa setiap bukunya haruslah sebuah proyek baru yang akan memaksakan pada dunia sebuah bentuk yang tak terduga. Dia pernah menghidupi proyek ahli astronom khayalannya begitu dalam. Dia telah menanggalkannya, dan sekarang seraya dia kembali kerumah pada malam hari tak diragukan dia sedang berpikir tentang bentuk-bentuk khayalan lain yang akan dia hidupi untuk beberapa waktu.

Salah satu karya terbaik Italo Calvino, Invisible Cities pernah diterjemahkan dalam “Kota-Kota Imajiner” dan diterbitkan ke dalam bahasa indonesia oleh Fresh Book (Jakarta: 2006) pimpinan Savic Ali.

Tapi kemudian tidak ada apa-apa lagi…hanya kejatuhannya ke tanah, ambulan yang berpacu ke Siena, rumah sakit yang mengerikan dimana aku sudah menyaksikan kematian-kematian yang lain, wajah-wajah cemas para dokter, operasi yang tak berguna, pemeriksaan yang sia-sia, penantian, kepala yang diperban, kuburan kecil di atas lautan di Castiglione. Sautu pagi untuk menenangkan kami, para dokter mengatakan bahwa semuanya berjalan dengan baik-sakit Italo merupakan sebuah cacat otak bawaan; dia seharusnya sudah mati di usia dua puluh lima atau paling lama tiga puluh tahun. Pikirkan tentang waktu yang telah dia peroleh. Pikirkan tentang buku-buku yang telah dia tulis dengan kegesitan petani-pelayarnya, ditempa di sepanjang petak-petak tanah liat yang gersang.

Betapa bijaksana dia telah mencuri waktu-satu-satunya kekayaan yang berharga- dari dewa-dewa yang bermain-main dengan kita. Aku katakan pada diriku sendiri, mungkin sekali dia pun tak tahu bahwa dia rapuh. Dia telah menghindari kerapuhannya dengan kesabaran, karya, kebijaksanaan, dan bantuan si penyihir yang mentransformasi kerapuhan menjadi kekuatan, dan kekuatan menjadi kerapuhan: literatur.

Aku tidak pernah bermimpi. Dua tahun kemudian Italo datang padaku di dalam mimpi. Dahinya masih diperban, tetapi senyumnya merupakan senyum yang bercahaya di malam terakhir. Dia mengatakan, “Kau tahu itu semua adalah kesalahan. Para dokter tidak mengerti. Aku tidak mati.” Dan dia terkesan ingin mengungkapkan sebuah rahasia padaku-sebah rahasia kecil yang tak berarti yang mestinya kukomunikasikan dengan beberapa teman. Arti dari mimpi itu sangat jelas: Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia sudah mati. Tetapi mimpi itu memberitahukan hal lain; hal itu adalah-bagaimana aku bisa keliru? -sebuah pesan dari ladang-ladang Elysian. Dikatakan bahwa yang tragis itu bukanlah bentuk esensial dari dunia, dan bahwa tak pernah ada tragedi yang sebenar-benarnya. Dibalik itu ada selubung lain, lalu selubung lainnya, dan kemudian selubung lainnya lagi, dan permainan bentuk-bentuk yang menipu ini dimana banyak cahaya-cahaya dan bayangan-bayangan berjalinan adalah satu-satunya hal yang kita tahu.

___________________

*) Diterjemahkan dari naskah Bahasa Inggris oleh Pietro Citati. Naskah asli berbahasa Italia ditulis oleh Raymond Rosental. | terjemahan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia oleh Marlina Sophiana. Editor Sabiq Carebesth

 

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending