Connect with us

Art & Culture

Tulisan seorang penulis bernama Virginia Woolf adalah sebuah inspirasi

mm

Published

on

Pada musim panas ini, baru saja dibuka sebuah pameran di Pallant House Gallery di Chichester, Sussex yang wajib dikunjungi. Pameran tersebut berjudul, ‘Virginia Woolf: sebuah pameran yang terinspirasi oleh tulisannya.’

Terinspirasi tulisan dari Virginia Woolf (1882-1941), yang mengeksplorasi hak pilih perempuan dan metafora pemandangan, ruangan dan masih hidup; membawa bersama lebih dari delapan puluh karya seniman wanita Inggris dan Kontemporer modern. Pameran tersebut lahir dari kerjasama antara Tate St Ives, Pallant House Gallery dan The Fitzwilliam.

Pertunjukan visual yang menakjubkan, dipenuhi cahaya yang dikuratori dan digantung dengan indah. Skala domestik dari banyak lukisan dan objek dihidupkan kembali di Pallant House ketika narasi dari pameran secara cerdas terungkap dalam serangkaian ruangan. Walaupun ini bukan pameran biografis, namun tetap menggambarkan bagaimana Virginia Woolf secara konsisten menggambarkan hubungan dan pengalamannya dalam tulisannya untuk mengartikulasikan rasa dalam diri dan tempat.

Pada masa kecilnya, Ia menghabiskan setiap musim panas pada Talland House di St Ives. Ia akan kembali mengingat betapa formatif suatu ingatan awal ini dalam Sketsa Masa Lalu: ‘…berbaring setengah tertidur, setengah terjaga, di tempat tidur dalam ruangan bayi di St Ives… mendengar ombak pecah, satu, dua, satu, dua, dan mengirim percikan air ke pantai; kemudian memecahkan, satu, dua, satu, dua, dibelakang tirai kuning.’ Lukisan dari cat minyak milik Laura Knight yang berjudul The Dark Pool juga menangkap daya tarik dengan laut ketika seorang wanita muda berdiri pada bebatuan di samping pantai yang melihat secara reflektif pada kedalaman laut, bebas pada pikirannya. Lukisan Woolf the Landscape akan sering menjadi metafora dari ruangan yang akan dia nyatakan ambiguitasnya di tempat otonomi potensial dan pembebasan yang juga melambangkan pengekangan sosial atas perempuan pada saat itu.

Vanessa Bell yang menghadap keluar, membebaskan minyak dari Kolam pada Charleston di Sussex dipenuhi dengan cahaya, gerakan, dan harapan. Menggabungkan sebuah pemandangan, ruangan dan suatu lukisan.

Virginia Woolf dan Vanessa Bell adalah kakak beradik dan sepanjang hidup mereka menginspirasi dan mempengaruhi karya satu sama lain. Mereka berkumpul mengitari lingkaran dari seniman wanita Inggris Modern yang berpengaruh, banyak dari mereka menjadi wakil dalam suatu pertunjukkan.

Sussex, seperti Cornwall, memainkan bagian yang cukup signifikan dalam kehidupan dan dunia kerja kepengarangan seorang Woolf. Memang Vanessa Bell hanya berpindah ke Charleston pada 1916 karena rekomendasi dari kakaknya. Rumah tersebut akan menjadi tempat pertemuan untuk Grup Bloomsbury.

Pada 1919, Virginia Woolf dan suaminya, Leonard membeli rumah seorang biksu di sebuah desa Rodmell di Sussex Timur dimana dia akan tinggal hingga bunuh diri pada 1941. Pondok abad ke 17 memungkinkan dirinya untuk menulis dalam ketenangan Sussex Downs dekat dengan kakak perempuannya, Vanessa Bell yang sangat penting dalam membangun rasa pada Woolf tentang dirinya sendiri dan kesejahteraannya. Woolf suka untuk berdiskusi tentang seni dengan saudara perempuannya. Keinginannya untuk belajar ini bersifat pribadi dan intelektual. Itu membawanya lebih dekat ke saudara perempuannya dan teman-temannya yang artistik; termasuk Dora Carrington, Duncan Grant, Roger Fry dan seorang penulis bernama Vita Sackville-West.

Saya senang bahwa Toovey, bersama dengan De’Longhi dan Irwin Mitchell termasuk di dalam sponsor utama dan pendukung pameran yang luar biasa ini. ‘Virginia Woolf: sebuah pameran yang terinspirasi oleh karya tulisnya’ berlangsung di Pallant House Gallery, Chichester sepanjang musim panas September 2018. (*)

__
Oleh Rupert Toovey, seorang direktur senior Toovey, rumah lelang seni terkemuka di Sussex Barat, berdasarkan pada A24 di Washington. Awalnya diterbitkan di West Sussex Gazette.  | (p) Alethea Monica (e) Sabiq Carebesth

Continue Reading
Advertisement

Art & Culture

Puisiku untuk Mereka yang Tak Menyukai Puisi

mm

Published

on

May Sarton *)

May Sarton is best known for her poetry and novels, but I really love her journals and memoirs best. The House By the Sea covers a period from 1975-1976 during her years in a house on the New England shore.

Banyak dari sajak-sajakku merupakan sajak-sajak cinta. Aku hanya mampu menuils puisi, sebagian besar, saat aku mempunyai sebuah inspirasi, seorang perempuan yang memfokuskan dunia untukku. Dia mungkin saja seorang kekasih, mungkin saja bukan.

Dalam satu kasus dia adalah seseorang yang hanya kulihat satu kali, saat makan siang di dalam sebuah ruangan penuh dengan banyak orang lain, dan aku menulis satu buku penuh sajak-sajak. Banyak dari sajak-sajak itu belum dipublikasikan. Tapi inilah misterinya. Sesuatu terjadi yang menyentuh sumber dari puisi dan menyalakannya. Terkadang itu merupakan hasil dari hubungan percintaan yang panjang, seperti halnya dengan sajak-sajak “The Divorce of Lovers”, rangkaian sonata itu. Akan tetapi tidak selalu. Jadi siapa hadirin untuk puisiku? Hadirinku adalah orang yang kucintai. Tetapi biasanya “orang yang kucintai” tidak benar-benar tertarik pada sajak-sajak.

Continue Reading

Art & Culture

Arus Balik Nusantara dan Kemacetan Kesadaran Bahari

mm

Published

on

Getty Image/ Ivan Aivazovsky--Along the Coast

Masih dapatkan arus balik membalik lagi? Itulah pertanyaan dalam epos “Arus Balik” karya Alm. Pramoedya Ananta Toer, juga pertanyaan utama bangsa ini sejak abad 16 lalu yang belum kunjung terjawab hingga sekarang ini. Dan kini kita menyaksikan dengan kengiluan bagaimana kehidupan para nelayan yang terlunta dan tersandera oleh kebijakan, kultur sekalian kesadaran bangsanya sendiri atas kebahariannya.

Oleh Susan Herawati *)

Siapakah kita, siapakah bangsa indonesia? Bagi kami yang hidup berdampingan dengan kehidupan para nelayan, masyarakat pesisir, laki-laki dan perempuan; kita, indonesia adalah nusantara—yang di dalamnya terkandung kekuatan dan kesatuan maritim, bangsa bahari yang pernah memiliki epos paling megah dan akbar di muka bumi ini! Kekuatan dan kesatuan maritim yang pada masa jayanya pernah menjadikan bangsa ini sebagai bangsa laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi.

Di mana seperti dikabarkan sastrawan besar kita Pramoedya Ananta Toer dalam epos dari karya Pulau Buru Arus Balik: “Kejayaan bahari kita menjadikan arus di muka bumi ini bergerak dari selatan ke utara, segalanya; kapal-kapalnya, manusianya, amal perbuatannya, cita-citanya, semua bergerak dari Nusantara di selatan, ke ‘atas angin’ di utara di Eropa, di Amerika. Sampai ketika zaman berubah…Arus berbalik—bukan lagi dari selatan ke utara tetapi sebaliknya dari utara ke selatan. Utara kuasai selatan, menguasai urat nadi kehidupan Nusantara.. perpecahan dan kekalahan demi kekalahan seakan menjadi bagian dari Nusantara yang beruntun tiada henti.” Inikah potret besar bangsa kita hari ini?

Lepas dari itu bagaimana pun tetap akan ada tokoh seperti Wiranggaleng, juga Idayu, pemuda dan pemudi desa nelayan yang sederhana, keduanya bertarung sampai ke pusat kekuatan Utara, ia memberi segala-galanya—walau hanya secauk pasir sekalipun—untuk membendung arus Utara. Lalu masih dapatkan arus balik membalik lagi?

Itulah pertanyaan dalam epos “Arus Balik” karya Alm. Pramoedya Ananta Toer, juga pertanyaan utama bangsa ini sejak abad 16 lalu yang belum kunjung terjawab hingga sekarang ini. Dan kini kita menyaksikan dengan kengiluan bagaimana kehidupan para nelayan yang terlunta dan tersandera oleh kebijakan, kulturl dan kesadaran bangsanya sendiri, masyarakat pesisir yang bersetia menjaga lautnya siang dan malam itu, para anak turun sang Wiranggaleng, Idayu, Rama Cluring… anak kandung bangsa bahari yang pernah paling Berjaya dan perkasa di atas muka bumi, kini hidup dalam periuk kemiskinan yang inti.

*

Mari kita kenang sejenak dan menjauhkan cakrawala batin kita tanpa bermaksud mengajak romantisme dalam glorifikasi semu, mari melihat lembar sejarah agar kita mengingat dan menumbuhkan kepercayaan diri akan siapa kita? Bahwa kita adalah bangsa bahari dari Selatan, yang pada abad-abad lalu, kapal-kapal angin dari Negeri Utara, dari bangsa-bangsa Eropa dan Amerika itu—apalah artinya, hanya saumpama kambinng di sebelah kuda, begitu kecil dan lambat dibanding kapal-kapal Nusantara yang besar dan laju! Ingatkah kabar yang ditulis sastrawan kita Pramoedya…

“Dahulu adalah seorang anak desa dari kampung nelayan Tuban, Nala Namanya, kelak ia adalah empu kapal sekaligus ahli kayu yang menjelajah muka bumi dan tahu hanya jenis kayu lunas namanya, terbaik yang bisa menghadapi laut dan hanya bangsa nusantara yang punya, menempel di dinding-dinding kapal-kapal kita yang bak elang! Bocah Nala itu dikarunia oleh para dewa dengan banyak cipta. Untuk majapahit dia menciptakan kapal-kapal besar dari lima puluh depa panjang dan sepuluh depa lebar, bisa mengangkut sampai delapan ratus orang prajurit dan dua ratus tawanan, kapal-kapal besar, ya terbesar di dunia ini, di selurh jagad ini. Pada tiang agungnya selalu terpasang bendera merah-putih yang berkibar tak jemu-jemunya. Seperti bendera kapal-kapal kecil Tuban saat ini, hanya lebih pendek.
Beratus-ratus kapal semacam itu dibuat di galangan-galangan Majapahit di Tuban, Gresik, Kawal, Panarukan, Pasuruan, Pacitan, Juana.. aku kira jumlahnya takkan kurang dari tiga ribu. Penuhlah laut dengan armada bangsa Nusantara. Setiap di antaranya pasti akan kalian sangka istana Dewi lautan. Dan setiap kapal pimpinan selalu berlayar sutra kuning gemerlapan.. tak ada yang menyerupai besar dan kelajuannya. Kapal-kapal atas angin itu, huh, apalah artinya, seperti kambing di sebelah kuda saja. Dan bila semua layar telah dikembangkan, laksana elang ia meluncur meninggalkan di belakangnya semua bikininan manusia yang terapung di atas laut. Seribu bajak takkan bisa memburu apalagi mengepungnya!”
*
Begitulah bangsa indonesia tercinta ini adalah bangsa besar dan disegani bangsa-bangsa lain di muka bumi ini sebelum arus itu berbalik. Kita adalah bangsa dengan sejarah sebagai penentu garis utama peradaban dunia baik dalam ilmu pengetahuan, teknologi inovasi, kekayaan, politik dan ekonominya. Pelaut dan nelayan kita adalah para pemberani, para kstaria, masyarakat produktif yang mampu berdaulat, mendiri dalam mengibarkan panji-panji kejayaannya. Kemakmuran dan kekayaan dikelola dalam sistem perdagangan global yang adil, bangsa dan rakyat yang disegani dunia karena kamajuan, kesatuan dan kekuatan baharinya. Nyatalah kita bukan bangsa kerdil yang menjadi buruh dan miskin persis di tepi lautnya sendiri.

Tapi kita hari ini telah ratusan tahun, berabad  sejak arus berbalik dari utara ke selatan, kita seakan dininabobokan dan dikalahkan sehingga seakan menjadi bangsa kerdil akibat dari kekosongan dan kekalahan penguasaan pengetahuan modern, sistem moral yang menjungkirkan egalitarianisme, kesetaraan gender, juga kosongnya kepemimpinan dalam arti moral dan historis dimana kebaharian justeru diabaikan dan nyaris tak pernah lagi mendapat prioritas kebiajakan strategis nasional dalam semua ihwal rencana visi dan misi kepemimpinan indonesia sejak abad 16 lalu !

Kita memalingkan muka dan nyaris saja meninggalkan sejarah bangsa sendiri, bahwa kita bahari, kita bangsa produktif, kita bangsa inovatif, bangsa dengan masyarakatnya yang cerdas, mampu mengurus sumber dayanya sendiri, sanggup mengurus lautnya sendiri, sanggup berdaulat dan bersikap adil atas nama kemanusiaan.

*
Karenanya hari ini penting untuk bangkit, membangun sistem ekonomi, sistem sosial, pengetahuan dan moral berdasar pada artikulasi historis kita sebagai bangsa bahari. Nusantara yang produktif, berdaulat, mendiri dan sanggup mengurus lautnya sendiri.

Para elit negeri, percayakan laut pada mereka nelayan laki-laki dan perempuan, mereka tahu caranya mengurus lautnya, berdaulat pangan dari kekayaan lautnya, melestarikan dan menciptakan inovasi ekonomi dari sumber daya agararia kelauatan.

Misi indonesia sebagai bangsa bahari modern harus memastikan kesadaran yang tidak macet, kesadaran akan pentingnya ekonomi nasional yang bertumpu pada pemajuan ekonomi bahari, komoditas laut kita harus diurus dan dikelola oleh bangsa sendiri, oleh nelayan baik laki-laki mau pun perempuan; industri kelauatan modern harus dibangun, tidak lagi menjadi bangsa pragmatis yang menjual komoditas mentahnya ke ekspor global sementara kita bisa menciptakan nilai tambah luar biasa besar dari kekayaan sumber daya agraria kelautan kita.

Kita bahkan sama sekali tidak perlu impor garam, ikan, dan pangan laut lainnya selama ribuan tahun asal pemerintah dan kita semua benar-benar memiliki kesadaran kebangsaan bahari dan mau berpihak serta bekerja keras mengembalikan arus agar berbalik dari indonesia ke dunia!

Pada akhirinya, ini soal itikad sejarah dan kehendak bersama untuk mengakhiri kemacetan kesadaran kebaharian kita yang telah mandek sejak berabad lalu dalam sistem politik, sistem ekonomi juga perangkat pengetahuan dan ekonomi kita. Kita tak perlu   lagi mewacanakan kepemimpinan bahari indonesia di dunia jika para pihak khususnya para pemimpin indonesia tidak kunjung bertaubat nasuha dari kesadaran keliru atas sejarah kejayaan bangsanya sendiri !

*) Susan Herawati, Pecinta Laut, Puisi, dan Masyarakat Bahari Indonesia.

Continue Reading

Art & Culture

Rekki Zakkia: Dalam Kehilangan dan Jalan Ketuhanan nun Indah

mm

Published

on

Saya memutuskan menapaki jalan sepiritual sambil berharap Tuhan masih memeberi kesempatan untuk saya dapat menulis keindahan-keindahanya.

Oleh : Doel Rohim *)

Malam itu, saya berkesempatan bertemu Rekki Zakkia. Generasi saat ini tentu bertanya siapa nama dan sosok itu? Tapi pada akhir 90an atau awal tahun 2000an dia adalah salah satu sastrawan yang namanya juga turut beredar mengisi ruang sastra generasi saat itu.

Dia eorang sastrawan yang hampir kehilangan imaji sastranya, bahkan semangat hidupnya setelah sekian lama memerangi penyakit Skizofrenia yang di deritanya. Baru-baru ini ia seperti menemukan gairah hidupnya kembali,  setelah mengeluarkan sebuah kumpulan sajaknya yang sudah lama hilang. Kumpulan puisi yang ia sebut sebagai anak ruhaninya ini baru saja ia temukan, yang ternyata disimpan oleh sahabatnya yang ia pikir sudah tidak bisa diselamatkan.

Beberapa kumpulan puisi ini, merupakan catatan dirinya dalam menghayati dinamika sosial politik, agama hingga identitas dirinya sebagai manusia dalam priode tahun 1998-2009.

Waktu yang cukup menguras energinya dalam menapaki pergulatan batin yang lebih sering terbentur hingga akhirnya ia tak lagi punya daya untuk sekedar menulis sajak, yang pernah menjadi jalan sunyi yang digelutinya.

Kali ini saya ingin mengajak Rekki untuk menyusuri ingatannya kembali terkait proses kepenulisan dan kesustraanya kembali. Di temani segelas kopi dan sebungkus rokok saya pelan-pelan masuk dengan beberapa pertanyaan. Ia bicara pelan, tapi sepenuhnya masih sastrawan.

Sejak kapan anda mulai menulis?

Saya menulis sejak SMP, orang tua saya seorang seniman juga, bisa dikatakan pendakwah, akses buku di rumah sudah lumayan banyak, dari sana saya suka menulis. Begitupun orang tua saya tidak pernah mendorong untuk menjadi penulis, tetapi dengan apa yang dikerjakan ayah saya dengan pergaulanya bersama para kiai dan seniman, itu mendorong saya. Gairah menulis saya mulai muncul.

Apakah anda punya pengalaman terkait kepenulisan

di masa awal anda menggeluti dunia tulis menulis?

Ada, saat itu ketika saya masih SMP ada mahasiswa KKN dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang datang ke rumah saya, ia seorang sastrawan dari Teater Eska, saya memberanikan untuk tanya menggenai puisi, dan jawabanya hanya “pertanyaanmu itu puisi”, jawaban itu seperti petir yang menyambar kepalaku, dari sanalah saya yakin menulis menjadi jalan hidupku. Dari situ juga mulai mendalami kepenulisan mulai dari, puisi, esai dan cerpen.

Bisa di ceritakan peran ayah anda dalam proses kepenulisan anda?

Bapak saya sangat berperan dalam proses kepenulisan saya, beliau memberi kebebasan pada anak-anaknya dan memberi akses yang luas terhadap ilmu pengetahuan, menyediakan banyak buku dan jaringan para sastrawan yang bisa saya kenal dari bapak saya. Selain itu bapak saya juga memberi tauladan dalam membicarakan gerakan sosial kepada masyarakat yang bagi saya luar biasa, ia selama hampir 30 tahun memasukan kultur santri yang sebelumnya sangat jauh dari masyarakat saya, hingga perubahanya bisa dirasakan sampai sekarang. Dari sanalah saya mulai tertarik dengan gerakan sosial sejak kecil, hingga waktu SMA saya menjadi aktifis Frond Perjuangan Pemuda Indonesia, basis pelajar di Yogyakarta.

Anda masuk sebuah basis gerakan sosial sejak SMA, apa yang anda fikirkan saat itu?

Saya tidak tahu itu mengalir saja, awalnya ketika saya memilih sekolah SMA 8 di Yogyakarta. Kondisi sosial politik di masa akhir orde baru saat itu sangat bergejolak termasuk di Yogya, hampir setiap hari ada demonstrasi, berbekal pengetahuan dari buku yang saya baca panggilan untuk terlibat dalam aksi-aksi itu tak bisa dihindarkan, dan akhirnya saya masuk ke forn pelajar Yogya bergabung dengan mahasiswa ikut aksi-aksi menggulingkan Soeharto.

Apakah kondisi seperti itu berpengaruh dalam beberapa puisi yang anda tulis?

Masa puncak priode kepenulisan saya terhitung sangat pendek, tahun 96 sampai 98. Saat itu tulisan saya banyak di muat media di Indonesia, bahkan esai saya pernah menjadi yang terbaik di majalah Horison. Jelas, dalam rentang waktu yang pendek dengan latar kondisi sosial politik yang panas seperti itu, saya juga meresponya dengan beberapa puisi. Namun saat puncak demonstrasi sekitar tahun 98, saya lebih sibuk ke gerakan hingga saya sudah jarang menulis kembali.

Saya membaca beberapa puisi dalam buku yang anda cetak,

bernuansa spiritual dan itu sekitar tahun 98, apakah ada hubungannya dengan situasi saat itu?

Secara langsung tidak, itu moment bulan puasa saja, dimana saat itu saya mengalami situasi batin yang teramat rumit, mempertanyakan identitas diri begitupan eksistensi Tuhan dan munculah beberapa puisi yang bisa anda baca tersebut.

Adakah pengalaman tragis yang bisa anda ceritakan terkait proses kepenulisan anda?

Ini yang saya katakan saya kehilangan anak ruhani saya. Saat itu saya sedang mencintai seorang wanita, cinta yang tidak hanya sekedar cinta monyet seperti anak SMA. Tapi lebih dalam dari pada itu, seperti getaran batin yang hanya ada untuknya, kalau anda pernah dengar kisah cinta penyair besar Umbu Landu Paranggi kira-kira seperti itulah gambaranya. Hingga akhirnya saya menuliskan beberapa surat puisi untuknya,  terhitung hampir ratusan yang saya berikan padanya. Dalam surat tersebut tidak hanya sekedar puisi cinta tapi termasuk catatan saya terkait sosial politik yang saya kemas melalui bait-bait sajak. Saat beberapa kali saya kasih tahu pada teman yang bergelut di dunia sastra terkait karya tersebut, ia merekomendasikan untuk menerbitkanya. Dan saya sendiri yakin itu master pice dari proses kepenulisan saya, saat itu juga saya sudah ingin menerbitkanya menjadi buku, bahkan sudah ada judulnya.

Namun naas, bebarengan perempuan yang saya cintai itu menikah, dan akhirnya karya itu juga tidak terselamatkan. Ketika saya tanyakan, ia tak pernah bisa menjawab, mungkin sudah di bakar. Mulai dari sana hancurlah sebagian dari hidup saya, seperti halnya kehilangan anak ruhani yang saya persiapkan kelahiranya, namun hal tersebut tak pernah terjadi. Semenjak itu saya tak sanggub menulis puisi lagi.

Saat menceritakan prihal di atas, anda begitu haru dan emosional,

apa pengaruhnya dalam hidup anda?

Setelah kejadian itu, saya tak punya daya lagi untuk sekedar menulis, aktifitas gerakan setelah jatuhnya rezim Soeharto pun berhenti, para aktivis tercerai berai. Di masa awal kejatuhan Soharto saya masih berusaha bangkit Bersama kawan-kawan saya menghidukan dan menjalani agenda gerakan social bersama FFPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia). Secara otomatis aktifitas menulis saya sudah tidak saya lakukan lagi. Tahun 2002 saya terkena sakit Skizofrenia, saat-saat seperti itu kegiatan intelektual saya berhenti karna takut mengganggu proses penyembuhan. Tahun  2009 saya berusaha bangkit dengan masuk kampus UNY jurusan sastra, baru dapat satu semester kondisi tidak setabil kembali.

Akhirnya saya memutuskan menapaki jalan sepiritual sambil berharap Tuhan masih memeberi kesempatan untuk saya dapat menulis keindahan-keindahanya. (*)

____

Pewawancara: Doel Rohem—penulis lepas, menempa proses kreatif dunia menulis di LPM ARENA Yogyakarta. | Editor: Sabiq Carebesth.

 

 

 

 

 

 

 

Continue Reading

Trending