Connect with us

Milenia

Tradisi Puisi “Imagism”: Mencari yang Konkrit, Menyepuh yang Abstrak

mm

Published

on

Kelompok penyair Imagism  (gambar, visual—bukan dalam makna “imajinasi”/ “Imagination“) berbeda dengan kelompok penyair romantik. Yang terakhir disebut adalah lebih pendahulu. Kelompok penyair pertama, ‘terkesan’ menjadi konservatif dan tradisional pada awal abad 20—persisnya ketika semua seni dipolitisasi dan dipancarkan oleh revolusi—dengan slogan dan abstraksi-abstraksi. Kelompok penyair imagism (imajis)  ini kembali pada tradisi Yunani klasik, tradisi Roma, dan Prancis abad 15 untuk menyusun semacam “manifesto” yang mengungkapkan prinsip-prinsip kerja puitis mereka.

F.S. Flint adalah penulis esai utama gagasan puisi imagism (imaji) ini, meski kemudian Ezra Pound mengklaim bahwa dia, Hilda Doolittle dan suaminya, Richard Aldington, telah lebih dulu menuliskan gagasan tentang aliran puisi imagism ini.

Pada kesimpulan umumnya ada tiga standar yang dengannya puisi (imajis) harus diadili yaitu: (1) Perlakuan langsung terhadap “sesuatu”, apakah subjektif atau objektif, (2) Sama sekali tidak menggunakan kata yang tidak berkontribusi pada presentasi (citra), (3) Seperti tentang ritme: untuk menyusun urutan frase musik, tidak berurutan dari metronom.

Agaknya tiga rumusan tersebut terlalu “mengawang” khususnya bagi mereka yang kurang akrab dengan peristilahan dalam teknis dan teori penulisan puisi. Pembaca membutuhkan konsep lebih deskriptif terkait aturan dan model kerja puisi imajis ini. Aturan main yang dibutuhkan dalam detail puisi seperti pemilihan kata, aturan bahasa, matra dan rima. Ezra Pound sepertinya menyadari hal tersebut dan dia menyusun presentasi lebih detail untuk menjelaskan prinsip-prinsip puisi ala para penyair imagist seperti dirinya dan F.S. Flint.

Beberapa artikel tentang aliran imagism ini—jika tidak salah dan karena gegabah menyimpulkan, penulis ingin menyebut inti dari konsentrasi puisi imajis ini adalah: citra.

Catatan F.S. Flint dalam “A Few Don’ts by an Imagiste,”–“Sedikit Larangan oleh Imagiste,” yang hasil akhirnya juga ditandatangani oleh Ezra Pound sendiri, memulai dengan sebuah definisi berikut:

“Citra ‘adalah sesuatu yang menghadirkan kompleksitas intelektual dan emosional dalam sekejap waktu—secara konstan.”

Inilah tujuan utama  para penyair imajis—untuk membuat puisi yang memusatkan perhatian semua penyair pada komunikasi citra. Untuk menyaring pernyataan puitis menjadi gambar daripada menggunakan perangkat puitis seperti matra bahasa dan sajak-keprosaan untuk mengesankan sulit dalam menghias narasi. Seperti dikatakan Pound, “Lebih baik menyajikan satu gambar dalam seumur hidup daripada menghasilkan berjilid-jilid karya (antologi)”.

Untuk sampai pada konsentrasi “citra” di dalam menghasilkan puisi imajis, saran Ezra Pound berikut akan terdengar akrab bagi mereka yang telah membaca kaidah menulis puisi atau menekuni dunia puisi:

  • Potong puisi sampai ke tulang dan hilangkan setiap kata yang tidak perlu – “jangan gunakan kata yang tidak berguna dalam keutuhan puisi, jangan gunakan kata sifat, yang itu tidak mengungkapkan sesuatu pun… Gunakan ornamen atau hiasan yang bagus. “
  • Jadikan semuanya konkret dan khusus – “takutlah pada terjerumus dalam abstraksi”
  • Jangan mencoba membuat puisi dengan menghias prosa atau memotongnya menjadi garis puitis – “Jangan menceritakan kembali dalam puisi yang biasa-biasa saja apa yang telah dilakukan dengan sajak-prosa yang baik. Jangan berpikir ada orang yang cerdas yang akan tertipu saat Anda mencoba mengelak dari semua kesulitan seni prosa dengan cara memotong komposisi.”
  • Pelajarilah alat musik puisi untuk menggunakannya dengan keterampilan dan kehalusan, tanpa mengubah suara alam, gambar dan makna bahasa – “Biarkan orang tua mengetahui penyatuan dan ungkapan, sajak langsung dan tertunda, sederhana dan polifonik, seperti yang diharapkan musisi. tahu keharmonisan dan tandingan dan semua hal kecil dari keahliannya … struktur ritmis Anda seharusnya tidak menghancurkan bentuk kata-kata atau suara alami atau maknanya. “

“Manifesto” gerakan imagism  dan Antologinya

Antologi pertama penyair imagism, “Des Imagistes,” diedit oleh Ezra Pound dan diterbitkan pada tahun 1914, menampilkan puisi oleh Pound, Doolittle dan Aldington, serta Flint, Skipwith Cannell, Amy Lowell, William Carlos Williams, James Joyce, Ford Madox Ford, Allen ke atas dan John Cournos. Merekalah para aktor utama aliran puisi imagism ini.

Pada saat buku “Des Imagistes” terbit, Lowell (Amy Lowell)telah melangkah ke dalam peran “promotor” gagasan imagism—dan Pound, khawatir bahwa antusiasmenya akan memperluas gerakan di luar pernyataannya yang ketat, sehingga dikhawatirkan aliran imagism beralih dari apa yang sekarang dijuluki “Amygism” atau “Vortisisme.” Meski demikian Lowell kemudian menjabat sebagai editor serangkaian antologi, “Beberapa Penyair Imagist,” pada tahun 1915, 1916 dan 1917.

Dalam kata pengantar antologi yang pertama, Amy Lowell menawarkan garis besar prinsip-prinsip (puisi) imagism-nya:

  • “Untuk menggunakan bahasa ucapan umum tapi selalu menggunakan kata yang tepat, bukan kata yang hampir pasti, dan bukan dekoratif saja.”
  • “Untuk menciptakan ritme baru – sebagai ungkapan suasana hati yang baru – dan tidak menyalin ritme lama, yang hanya menggemakan suasana hati lama. Kami tidak menekankan ‘puisi bebas’ sebagai satu-satunya metode penulisan puisi. Kami memperjuangkannya seperti sebuah prinsip kebebasan. Kami percaya bahwa individualitas seorang penyair mungkin lebih baik diekspresikan dalam puisi bebas daripada bentuk konvensional. Dalam puisi, irama baru berarti sebuah gagasan baru.”
  • “… bukan hal buruk di dalam seni untuk menulis dengan baik tentang masa lalu. Kami percaya dengan penuh semangat nilai artistik kehidupan modern, tapi kami ingin menunjukkan bahwa tidak ada yang begitu membosankan dan juga tidak kuno untuk misalnya menulis tentang pesawat terbang tahun 1911. “
  • “Untuk menyajikan sebuah gambar (maka namanya: ‘imagist’). Kami bukan sekolah pelukis, tapi kami percaya bahwa puisi harus memberi keterangan secara tepat dan tidak sesuai dengan generalitas yang kabur, betapapun luar biasa dan nyaring. Kami menentang penyair kosmik, yang tampak bagi kita seperti tengah menghindari kesulitan nyata dari seni. “
  • “Untuk menghasilkan puisi yang keras dan jernih, tidak kabur atau menjadi tidak pasti.”
  • “Akhirnya, kebanyakan dari kita percaya bahwa konsentrasi adalah inti dari puisi.”

Dalam sejarahnya volume ketiga adalah publikasi terakhir dari para penyair imagism—namun pengaruh dari gerakan para penyair imajis ini dapat ditelusuri dalam banyak jenis puisi sesudahnya pada abad ke-20, dari puisi bebas hingga ritmis (sajak)sampai penyair bahasa (keprosaan).

Menurut analisis Banua (2004) dan Abdul Wachid B.S. (2005:23), puisi-puisi yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono adalah salah satu contoh puisi imajis—lihat terutama pada puisi “Hujan Bulan Juni”. (*)

*) Ditulis oleh Sabiq Carebesth, dari berbagai sumber bacaan dan artikel. Makalah ini hanya bersifat catatan ringan dan pengantar saja. Demi mengisi ‘kekosongan’ waktu menjelang libur tahun baru 2017.

 

 

Continue Reading

Milenia

Mary Wollstonecraft: Pikiran Tidak Memliki Jenis Kelamin

mm

Published

on

Let women share the rights and she will emulate the virtues of man—dalam sebagian besar sejarah yang tercatat, perempuan dilihat sebagai bawahan laki-laki.

Tetapi pada abad ke-18, keadilan atas stigma ini mulai ditantang secara terbuka. Di antara suara-suara yang paling menonjol dalam membongkar paradigma tentang ketertindasan perempuan adalah Mary Wollstonecraft (17591797)—seorang perempuan radikal, penulis dan filsuf berkebangsaan Inggris.

Banyak pemikir sebelumnya telah menyebutkan perbedaan fisik antara kedua jenis kelamin untuk membenarkan ketidaksetaraan sosial antara perempuan dan laki-laki. Namun, dalam masa pencerahan, yaitu selama abad ke-17, beberapa pemikir telah merumuskan pandangan dan gagasan yang mencoba mendobrak diskriminasi kepada perempuan.

Contohnya Filsuf besar John Locke yang menyatakan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dan pendidikan, validitas pemikiran memang dipertanyakan tapi tidak gender dari si pemikir. Artinya, sebuah gagasan atau hasil dari pemikiran dan perenungan tidak memiliki gender, bisa saja datang dari laki-laki ataupun perempuan.

Pendidikan Setara

Wollstonecraft berpendapat bahwa jika laki-laki dan perempuan diberikan pendidikan yang sama, baik laki-laki dan perempuan akan mendapatkan karakter yang sama dan pendekatan rasional yang sama terhadap kehidupan, karena pada dasarnya mereka memiliki otak dan pikiran yang sama secara mendasar.

Buku karya Wollstonecraft berjudul A Vindication of the Rights of Woman diterbitkan pada tahun 1792, isi dari karya Wollstonecraft merupakan tanggapan terhadap karya Jean-Jacques Rousseaus’s berjudul Emile (1762), yang merekomendasikan bahwa anak perempuan dididik secara berbeda dari pendidikan yang diberikan kepada anak laki-laki, dan pada akhirnya mereka akan belajar tentang rasa hormat.

Tuntutan Wollstonecraft bahwa perempuan harus diperlakukan sebagai warga negara yang setara—dengan hak hukum, sosial, dan politik—masih ditanggapi dengan penuh ejekan hingga akhir abad ke-18. Tapi hal itu akhirnya menabur benih-benih hak pilih dan gerakan feminis yang akan berkembang di abad ke-19 dan ke-20.

Wollstonecraft terus mengajak perempuan untuk menyuarakan hak politik mereka, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan yang sebelumnya suara perempuan tidak pernah dihitung. Gagasan Wollstonecraft tentang keadilan bagi perempuan telah menabur benih-benih hak politik bagi perempuan, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan.

Nama Wollstonecraft mungkin tidak seterkenal Simone de Beauvoir, namun Wollstonecraft secara tegas dan telah menginspirasi sedari mulanya, menyatakan jika gagasan dan sebuah pemikiran tidak memiliki gender. Gagasan yang baik bisa lahir dari seorang perempuan ataupun laki-laki, dan perempuan sejatinya diberikan hak yang sama dengan laki-laki baik dalam politik dan pendidikan, hingga pada akhirnya kebaikan untuk semua manusia lahir; tanpa harus menegasikan yang lain. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari Mary Wollstonecraft  and A Vindication of the Rights of Woman” (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Milenia

9 Pesan Mas Pram Tentang Bangsa dan Humanisme dalam Novel “Bumi Manusia”

mm

Published

on

Membaca roman “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer, kita akan mendapati putaran waktu pada saat-saat mula sebuah bangsa dibibit, mula-mula bersemainya pergerakan nasional.

Roman pertama dari tetralogi Pulau Buru ini mengambil latar belakang dan cikalbakal nation Indonesia di awal abad ke- 20.

Dalam roman “Bumi Manusia”, Pram, salah satu sastrawan paling besar dan agung yang dimiliki Indonesia, tidak hanya melahirkan tokoh-tokoh, tapi juga suatu kesadaran, karakter, yang ditegaskan lewat para tokoh utama romannya seperti Minke. Istimewanya, penyemaian bibit kebangsaan itu lahir dari para tokoh perempuan dalam novelnya, sebutlah Nyai Ontosoroh dan Annelies.

Para srikandi ditempatkan oleh Pram sebagai penyemai dan pengawal utama bangunan nasional yang kelak akan melahirkan Indonesia modern. Perempuan Indonesia modern saat ini, terlebih generasi milenial, sudah sepantasnya barang sekali dalam hidupnya membaca roman yang diselesaikan Pram pada tahun 1975 ini.

Berikut adalah 9 kutipan dari roman “Bumi Manusia” tentang kesadaran akan bangsa, kemerdekaan dan hargadiri sebagai anak suatu bangsa:

  1. Kodrat umat manusia kini dan kemudian ditentukan oleh penguasaanya atas ilmu dan pengetahuan. Semua, pribadi dan bangsa-bangsa akan tumbang tanpa itu. Melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan.
  2. Seorang harus punya perasaan hargadiri baik sebaga pribadi mau pun anak bangsa. Jangan seperti kebanyakan umumnya, merasa sebagai bangsa tiada tara di dunia  ini bila berada di antara mereka sendiri. Begitu di dekat seorang Eropa, seorang saja, sudah melata, bahkan mengangkat pandang pun tak ada keberanian lagi.
  3. Pekerjaan Pendidikan dan pengajaran tak lain dari usaha kemanusiaan. Kalau seorang murid di luar sekolah telah menjadi pribadi berkemanusiaan, kemanusiaan sebagai faham, sebagai sikap, semestinya kita berterimakasih dan bersyukur sekali pun saham kiita terlalu amat kecil dalam pembentukan itu. Pribadi luar biasa memang dilahirkan oleh keadaan dan syarat-sayarat luar biasa.

    Sampul muka roman “Bumi Manusia” edisi penerbit: Hasta Mitra.

  4. Kita adalah suatu bangsa—tak akan membiarkan yang asing melihat kita tanpa perasaan manusia—tak membiarkan mereka melihat kita sebagai inventaris.
  5. Aku tak pernah bersekolah, Nak, Nyo, tak pernah diajar mengagumi Eropa. Biar kau belajar sampai puluhan tahun, apa pun yang kau pelajari, jiwanya sama: mengagumi mereka tanpa habis-habisnya, tanpa batas, sampai-sampai orang tak tahu lagi dirinya sendiri siapa, dan di mana. Biar begitu memang masih lebih beruntung yang bersekolah. Setidak-tidaknya dapat mengenal cara bangsa lain merampas milik bangsa lain.
  6. Kau sudah harus adil sejak dalam pikiran! Jangankan tukang bawa parang dan pendekar, batu-batu bisu pun bisa membantu—kalau kau menenal mereka. Jangan sepelekan kemampuan satu orang, apalagi dua!
  7. Tahu kau apa yang dibutuhkan bangsamu? Seorang pemimpin yang mampu mengangkat derajat bangsamu kembali. Seorang pemula dan pembaru sekaligus.
  8. Mana bisa Multatuli diajarkan di sekolah? Yang benar saja. Dalam buku pelajaran tak pernah disebut!
  9. Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak dia takkan jadi apa-apa.
Continue Reading

Milenia

Ini bagian paling memilukan “Bumi Manusia”

mm

Published

on

“Mama,” sela Annelies, “ingatkah Mama pada cerita Mama dulu..?”

“Ya, Ann, cerita apa maksudmu?” balas Nyai Ontosoroh.

“Mama meninggalkan rumah untuk selama-lamanya.. ?”

Ya, Ann, mengapa?”

“Mama bawa kopor tua coklat dari seng?”

“Ya, Ann.”

“Di mana kopor itu sekarang, Ma?”

“Tersimpan dalam kamar sepen, Ann.”

“Aku ingn melihatnya.”

Mama pergi untuk mengambilnya.

“Waktunya sudah semakin dekat, Juffrouw,” Perempuan Eropa itu menyela.

Baik Annelies mau pun aku tak menanggapi. Dan Mama datang membawa kopor seng kecil, coklat,  berkarat, peot, cekung dan cembung di sana-sini. Anelies segera menyambutnya.

“Dengan kopor ini aku akan pergi, Mama, Mamaku.”

“Terlampau kecil dan buruk, tidak pantas, Ann.”

“Mama, dengan kopor ini dulu mama pergi dan bertekad takkan kembali lagi, kopor ini terlalu memberati kenangan Mama. Biar aku bawa, Mama, beserta kenangan berat di dalamnya. Aku takkan bawa apa-apa kecuali batikan Bunda, pakaian pengantinku, Ma. Masukkan sini, sembah-sungkemku pada B… Aku akan pergi, Ma, jangan kenangkan yang dulu-dulu. Yang sudah lewat biarlah berlalu, Mamaku, Mamaku sayang.”

“Kereta sudah lama menunggu di luar, Juffrouw,” pendatang Eropa itu menengahi lagi.

“Apa maksudmu, Ann?”

“Seperti mama dulu, Ma, juga aku takkan balik lagi ke rumah ini.’

“Ann, Annelies, anakku sayang,” seru Mama dan dipeluknya istriku.” “Bukan Mama kurang berusaha, Ann, bukan aku kurang membela kau, Nak…”

Mama tenggelam dalam sedu-sedan penyesalan. Juga Aku.

“Kami berdua sudah lakukan semua, Ann,” tambahku.

“Jangan, jangan menangis. Ma, Mas, aku masih ada permintaan, Ma, jangan menangis.”

“Katakan, Ann, katakana,” Mama mulai menggerung.

“Ma, beri aku seorang adik, adik perempuan, yang akan selalu manis padamu…”

Mama semakin menggerung.

“… begitu manis. Ma, tidak menyusahkan seperti anakmu ini…, sampai…”

“Sampai apa, Ann?”

“… sampai Mama takkan lagi merasa tanpa Annelies ini.”

“Ann, Ann, anakku, betapa tega kau bicara begitu. Ampuni kami tak mampu membela kau, ampuni, ampuni, ampuni.”

“Mas, kan kita pernah bahagia bersama?”

“Tentu, Ann.”

“Kenangkan kebahagian itu saja, ya Mas, jangan yang lain.”

“Ayoh!” seru seorang lelaki Indo dari pintu. “Sudah dua menit terlembat berangkat.”

“Mari, sayang, Juffrouw,” perempuan Eropa itu menuntun Annelies.

Sekaligus Annelies tenggelam dalam  pembisuan dan ketidakpedulian. Kehormatannya yang sebentar tiba-tiba lenyap. Ia berjalan lambat-lambat meninggalkan kamar, menuruni tangga dalam tuntunan perempuan Eropa itu. Badannya nampak sangat rapuh dan terlalu lemah.

Aku dan Mama lari memapahnya menggantikan perempuan itu. Tetapi lelaki indo dan perempuan Eropa itu menolak kami.

Di bawah tangga telah berkerumun Maresose.

Dan kami dihalau tak boleh mendekat! Maka kami hanya dapat melihat mahluk tersayang itu dituntun seperti seekor sapi, dan berjalan lambat-lambat, anak tangga demi anaktangga.

Mungkin begini juga perasaan ibu Mama diperlakukan oleh Mama dulu karena tak mampu membelanya dari kekuasaan Tuan Mallema. Tapi bagaimana perasaan Annelies? Benarkah dia telah melepaskan segalanya, juga perasaanya sendiri?

Aku sudah tak tahu sesuatu. Tiba-tiba kudengar suara tangisku sendiri, Bunda, putramu kalah. Putramu tersayang tidak lari, Bunda, bukan kriminal, biar pun tak mampu membela istri sendiri, menantumu. Sebegini lemah Pribumi di hadapan Eropa? Eropa! Kau, guruku, begini macam perbuatanmu? Sampai-sampai istriku yang takt ahu banyak tentangmu kini kehilangan kepercayaan pada dunianya yang kecil—dunia tanpa keamanan dan jaminan bagi dirinya seorang. Hanya seorang.

Aku panggil-panggil dia. Annelies tidak menjawab. Menoleh pun tidak.

“Aku akan segera menyusul, Ann,” pekikku.

Tanpa jawab tanpa toleh.

“Juga aku Ann, besarkan hatimu!” seru Mama, suaranya parau, hampir-hampir tak keluar dari kerongkongan.

Juga tanpa jawab tanpa toleh.

Pintu depan dipersada sana dibuka. Sebuah kereta gubermen telah menunggu dalam apitan Maresose berkuda. Mama dan aku tak diperkenankan melewati pintu itu.

Sekilas masih dapat kami lilhat Annelies dibantu menaiki kereta. Ia tetap tak menengok, tak bersuara.

Pintu ditutup dari luar.

Sayup-sayup terdengar roda kereta menggiling kerikil, makin lama makin jauh, akhirnya tak terdengar lagi. Annelies dalam pelayaran ke negeri di mana Sri Ratu Wilhelmina bertahta. Kami menunundukkan kepala di belakang pintu.

“Kita kalah, Ma,” bisikku.

“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

______________

“Bumi Manusia”: Buru, 1975. | Pramoedya Ananta Toer

Continue Reading

Classic Prose

Trending