Connect with us
a a

Entertainment

The Black Keys ready to drop a New Album

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis Theme natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet.

mm

Published

on

Follow breaking news as they occur around the world; always keep yourself posted with important global and local events

[eltdf_dropcaps type=”normal” color=”” background_color=””]A[/eltdf_dropcaps]liquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante. magna.

Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem. Nulla consequat massa quis enim. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt.Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis Theme natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui.Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum.Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.

Happiness is determined by how much information and affection flows through us covertly every day and year, our minds are intertwined with other people and activities.

Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante. Etiam sit amet orci eget eros faucibus tincidunt. Duis leo. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus.

a

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis Theme natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante.

Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante. Etiam sit amet orci eget eros faucibus tincidunt. Duis leo.

a

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis Theme natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante.

And that is how it all started…

Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante. Etiam sit amet orci eget eros faucibus tincidunt. Duis leo. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus.

Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem. Nulla consequat massa quis enim. Donec pede justo, fringilla vel, aliquet nec, vulputate eget, arcu. In enim justo, rhoncus ut, imperdiet a, venenatis vitae, justo. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt.

Tabloids

Merenda Suara Rendra

mm

Published

on

“Rendra, aku menunggumu, di awal musim dingin, yang membuat November berwarna putih. Kita berjanji, tidak membawa Hamlet dan Amangkurat ke pesta itu. Pesta yang penuh dengan bau tangan ibumu.” —Afrizal Malna

Sabiq Carebesth *)

Yogyakarta tahun 1974, bocah lelaki yang tengah menginjak dewasa itu mendengar suara-suara seperti jeritan, dan ia menulis sajaknya: Aku mendengar suara/ jerit hewan yang terluka../Orang-orang harus dibangunkan./Kesaksian harus diberikan. /Agar kehidupan terus terjaga..

Apa arti Rendra untuk manusia zaman sekarang? Pasti akan dikatakan bahwa pemberontak yang menantang dewa-dewa kekuasaan pada zamannya ini adalah model bagi manusia kontemporer, bahwa suara protesnya yang bangkit puluhan tahun yang lalu di Halaman ITB (Institut Teknologi Bandung) 19 Agustus 1977 saat membacakan puisinya “Sajak Sebatang Lisong”, memuncak hari ini dalam sebuah ledakan sejarah yang tidak pararel.

Namun pada saat yang sama, sesuatu mengatakan kepada kita bahwa korban penganiyaan zaman ini—jerit hewan yang terluka—masih berada di antara kita, dan bahwa kita masih tuli terhadap jeritan keras pemberontakan manusia yang memberi tanda kesepian; seperti potret pembangunan dalam puisi (1993).

Rendra adalah realitas akbar yang mentransendensikan kemurnian masa kanak-kanak, intelektualitas dan pemberontakan ke dalam entitas politis dan historis; yang dijelmakan Rendra menjadi realitas dalam sajak, prosa dalam drama juga cerita pendek serta esainya dan terutama puisi-puisi pamfletnya—yang meski pamflet tetapi indah. Membaca puisi Rendra adalah mendengar bunyi dari kalimat pemberontakan yang seakan tak tersusun dengan bahasa; tetapi sebuah jeritan panjang ribuan hewan terluka, yang menjerit memanggilinya dalam sukma kenangan yang telah menjadi mistik bagi pemberontakan jiwanya; Aku mendengar jerit hewan yang terluka.

 

Sejak kumpulan sajaknya yang pertama “Ballada orang-orang Tercinta” pada 1957, nada dasar puisi Rendra sudah jelas: pemberontakan pada pengangkangan akal sehat dan kemanusiaan. Orang-orang tercinta itu adalah sosok-sosok wanita memelas menyedihkan, ditinggal, tak dimengerti, disakiti, difitnah; penderitaan yang dikenal penyair sebagai jerit hewan yang terluka; atau mereka yang berujud aktivis yang dihilangkan, perempuan Tionghoa yang diperkosa dalam tragedi, atau tawanan-tawanan dari musuh yang kejam—mereka korban sejarah yang membutuhkan kesaksian penyair.

Sajak dan dramanya adalah kesaksian demi keselamatan kehidupan dan pemberontakan terhadap segala yang mengancam dan memunahkan kehidupan—itulah nada dasar dari sajak-sajak dan drama karya Rendra.

Maka sudah sejak semula ketika Rendra masih kanak-kanak di Solo, si bocah yang tengah menginjak dewasa ini lah yang bangkit, memberontak terhadap orang tuanya, melawan tekanan dari ayah, R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo—seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, juga dramawan tradisional—namun senantiasa, dalam pemberontakannya, ada Ibu yang pengampun dan setia dibelakangnya, Raden Ayu Catharina Ismadillah, perempuan penari serimpi di keraton, sebagaimana tampak dalam puisinya “Sajak Ibunda”; tetapi si anak lelaki yang lahir pada 7 November 1935, memang kelana pengembara, betapa pun meluap rindu hatinya, tak mungkin kembali karena harga diri mencegah dia pulang ke rumah orang tuanya.

Sejak itu ia harus menggenggam nasib ditangan sendiri, dan tetangganya, saudara di masa kanak-kanaknya, tak akan mengerti kenapa anak lelaki yang begitu manis dan baik bernama panjang Willibrordus Surendra Broto Rendra atau yang kemudian lebih akrab oleh teman-teman dekatnya dengan panggilan “Mas Willy” ini, tak pernah pulang kembali.

Sebuah sajak berjudul “rendra diares: lubang bahasa” yang ditulis penyair Afrizal Malna untuk Rendra mewakilakan atmosfir keadaan itu dengan baik.“.. Seoarang ayah, dengan mata cemasnya, melihat anaknya berjalan di atas panggung. Melihat anaknya berjalan sebagai seorang penyair. Ayahnya menahan tangisnya. Dia tahu, seorang penyair hanya lahir dari sebuah atap kalimat yang terbakar. Ketika jeritan bahasa membuat sepasang lubang di matanya.”

Pada tahun 50-an, Rendra kemudian sangat dikenal masyarakat Solo karena puisi-puisinya di majalah Kisah, dan beberapa majalah lain di kawasan Joglosemar (Yogyakartam Solo, dan Semarang). Puisi-puisi ini kemudian dibukukan dalam antologi puisi “Ballada Orang-Orang Tercinta” (1957).  Namun ketika lakon naskah teaternya “Orang-Orang di Tikungan Jalan” (1954) meraih hadiah pertama dalam lomba yang digelar Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Yogyakarta, masyarakat beralih mengenalnya sebagai seorang pekerja seni teater. Jadi siapakah Rendra?

Profesor Dr. Andries “Hans” Teeuw  atau yang lebih dikenal A. Teeuw, pengamat Sastra Indonesia dan sahabat karib Rendra, mengaku bertemu Rendra pertama kali di Yogyakarta pada usia Rendra yang ke 19, yaitu pada bulan November 1954. Saat itu Rendra adalah murid SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Solo. Bagi A. Teeuw pertemuan kali itu dengan Rendra jauh dari mengesankan. Berbeda dengan pertemuan setahun berselang, persisnya ketika Teeuw mengaku terkejut membaca sajak-sajak permulaannya yang dimuat dalam majalah sastra yang terpenting ketika itu di Ibukota Jakarta “Gelanggang”—lampiran Kebudayaan Mingguan Siasat—terutama sajak berjudul “Tahanan”, yang mengisahkan hukuman mati bagi pejuang kemerdekaan, “Puisi itu benar-benar membukakan mata saya lebar-lebar.” Ungkap Teeuw.

 

Kebebasan dan Karakter Rendra

Dalam opininya Teeuw kerap mengungkapkan, dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. “Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.”

Alur cerita dari Rendra yang bebas dan pemberontak muncul lebih kuat pada masa-masa awal kehadirannya di panggung teater bersama Umar Kayam, sewaktu mementaskan repertoar “Hanya Satu Kali” karya Jhon Galsworthy. Rendra sendiri mengatakan, “Wah saya malu. Ada hal-hal yang tidak mengenakkan saya, pertama, make-up itu dan menjadi orang lain itu. Kedua, layar yang harus dibuka dan ditutup itu.” (Rendra Berkisah Tentang Teaternya, 1983).

Semenjak itu Rendra menggagas kebaruan, menjauhi tradisi make-up, menjadi orang lain, maupun naik-turunnya layar. Lahirlah apa yang kemduian dikenal sebagai drama “mini kata” yang miskin dialog, menonjolkan aspek gerak, dan cenderung memberi ruang bagi beragam intrepretasi penonton.

Namun, sebagaimana lazimnya kebaruan gagasan, tak sama dengan kelahiran jabang bayi yang disambut dengan suka cita; kelahiran drama ala Rendra ditanggapi secara negatif. Almarhum Trisno Sumardjo pun meragukannya sebagai sebuah teater. Repertoar “Bip-Bop” yang dimainkan bersama oleh beberapa mahasiswa psikologi UI dianggap sebagai permainan orang gendheng, bahkan di Yogyakarta disambut dengan lemparan-lemparan batu.

Tahun-tahun kemudian lahirlah dari tangan Rendra muda “Sajak Malam Stanza”, juga sajak tentang perkawinan: ”Kakawin Kawin” yang menandai babak baru persajakan Rendra; sajak-sajak yang lebih langsung kepada diri sendiri. Penemuan dirinya berlanjut dan berkembang melalui bentuk liris, dengan segala gapaian gelap dari bawah sadar, kecemasan pada maut, keterpencilan dan kesepian; juga penghayatannya yang ekstasis dari puncak-puncak eksistensi manusiawi tentang kebebasan dan ketuhanan. Ia menggapai kebebasan tapi mawas diri dan was-was. Penemuan “diri” Rendra tidak pernah lepas dari kaitan dengan masyarakatnya, kaitan dengan dunia dan kosmos, yang senantiasa menjiwai sajak-sajak Rendra sejak mulanya.

“Apalah artinya renda-renda kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apalah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan. Kepadamu aku bertanya..?” (Sajak Sebatang Lisong)

 

Pemberontakan Rendra

Apa yang mengesakan dari Rendra adalah ia bersetia kepada dirinya sendiri. Ia tumbuh dan mengecap pengaruh dari sana-sini, ia mempunyai segi-segi dan saat-saat kelemahannya, masa-masa yang lambat dan bimbang. Namun hampir setengah abad ini Rendra menjadi “ikon” utama perikemanusiaan di Indonesia melalui jalan kebudayaan. Dan “pemberontakan” bisa dikatakan sebagai tema dominan karyanya. Pemberontakan untuk apa dan yang bagaimana?

“Yang saya maksud dengan pemberontakan bukanlah pemberontak yang memperjuangkan kekuasaan pemerintahan atau lembaga lainnya. Pendeknya bukan mereka yang memberontak dengan orientasi politik atau kekuasaan. Melainkan mereka yang selalu memberontak terhadap keterbatasan keadaan dirinya. Jadi kaum pemberontak yang sejati akan mempunyai orientasi: mengulur batas-batas situasi manusia.” Demikian Rendra pernah menulis semasa hidupnya.

Dalam pengertian itu, Rendra sang penyair dan sang manusia adalah memang pemberontak; yaiatu seorang yang selalu sibuk dengan upaya melonggarkan kungkungan dan pembatasan-pembatasan keaadaan manusia, “dia ingin mengulurnya.”, sebisa semungkin ia memiliki jiwa dan raganya! Pemberontakan Rendra terus merangkak dari yang kedirian sampai kepada yang kemasyrakatan.

Melibatkan kebebasan diri ke dalam solidaritas dengan sesama, adalah politik kepenyairan Rendra. Bagi Rendra, penghayatan eksistensi diri, kehidupan, masyarakat dan alam, kosmos dan Tuhan senantiasa merupakan suatu kesatuan. Tekanannya berbeda-beda dalam berbagai periode kehidupan Rendra, yang pasti pemutlakan dan pengisolasian aspek-aspek tersebut secara terpisah dalam kepenyairan Rendra adalah mustahil.

Sajaknya, terutama sajak-sajak yang dibuat di Amerika dalam kumpulan “Blues untuk Bonnie” pada 1971 menkonfirmasi kemesraan yang kian mendalam dan menjadi satu dalam penghayatan liris eksistensi Rendra  terutama lewat erotika, keterlibatan sosial, serta kaitan dengan kosmis. Inilah tahun-tahun yang menandai makin menguatnya pemberontakan Rendra.

Sajak berjudul Blues Untuk Bonnie sangat mengharukan, mengisahkan seorang Negro tua dari Georgia yang menghabiskan sisa usinya dalam keadaan terasing dan terpencil dalam kesepian, menyanyikan lagu-lagu di sebuh cafe di Boston: Sambil jari-jari galak gitarnya/ mencakar dan mencakar/menggaruki rasa gatal di sukmanya.

Namun dalam kurun yang sama tidak absen pula sajak-sajak cinta yang ekstasis, dimana keterhanyutan menemukan ekspresinya dalam simbol-simbol kosmis—Kupanggili Namamu: “Sambil terus memanggili namamu/amarah pemberontakanku yang suci/bangkit dengan perkasa malam ini”. Juga dalam sajak “Nyanyian Suto untuk Fatima”: duapuluh tiga matahari/bangkit dari pundakmu/tubuhmu menguapkan bau tanah/dan menyalalah sukmaku.

 

Dari Yogyakarta ke Amerika; Dari Kelam ke Sunyi

Rendra yang gemar mendetakkan jantung moral generasinya, juga pernah berada pada fase saat jiwanya yang tadinya luhur jadi lunglai, bermuram durja dan terasing.

Perjalanannya ke beberapa negara penganut ideologi Komunis (USSR, Cina dan Korea Utara) dalam tahun 1957, ternyata tidak meninggalkan bekas-bekas positif, baik pada puisi mau pun kegiatan kemasyarakatannya. Hal yang sama sekali berbeda dengan milsanya Sitor Sitomorang, yang sesudah suatu perjalanan ke Peking di tahun 1961, telah menuangkan kesan-kesan dan emosi yang didapatnya di sana ke dalam sajak-sajak. Pada Rendra, dalam kumpulan ”Sajak-Sajak Sepatu Tua” (1972), kita tak menemukan gambaran dunia semacam itu, melainkan dunia si penyairnya sendiri yang terasing dalam suasana itu.

Pukulan batin yang pertama melandanya terjadi tahun 60-an awal. Saat itu, Lekra yang tengah menguasai ruang kebudayaan Indonesia kurang simpatik kepada gaya soliter Rendra, tak pelak serangan dan kritik tajam kepada Rendra sampai membuatnya tak bisa menulis dan tentu saja tidak punya uang. Padahal, saat itu, ia sudah memiliki tiga orang anak.

Untung, waktu itu juga, antara lain berkat bantuan Ipe Ma’ruf, Rendra yang rupanya lulusan Jurusan Sastra Inggris bisa mendapat beasiswa American Academy of Dramatical Art (1964 – 1967) ke Amerika dan dibolehkan membawa keluarga ke negeri Paman Sam ini. “Wah uang saya banyak, sebab saya bukan dihitung sebagai mahasiswa, tetapi sebagai penyair.” ujarnya girang.

Di Amerika Rendra bertahan sampai tiga tahun, tetapi juga di sana ia merasa seperti seorang yang terpencil, berdiri dipinggiran kebudayaan resmi, ikut terlibat dalam subkultur artistik Greenwich Village. Potret dirinya yang dia kirimkan kepada sahabat karibnya AA. Teuw, menunjukan ia seorang diri di pojok bus Greyhound yang besar, laksana burung kecil yang sedang sakit dalam kurungan besar, menanggungn dan mengandung cerita sunyi berjilid-jilid. Tetapi ketika ia kembali ke Yogyakarta, Rendra menemu, ia yakin sekali apa yang dia inginkan dan apa yang harus dilakukan “kesaksian yang harus diberikan.” Demikian kata Rendra, “Indonesia harus kembali pada dirinya sendiri”.

Tahun sekitar 1968 itu Rendra tercatat menulis pula sajak-sajak yang berlatar Indonesia dan telah mengejutkan publik Indonesia lewat publikasi pertamanya sepulang dari Amerika. “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta”, “Pesan Pencopet pada Pacarnya, dan yang terutama “Nyanyian Angsa.”

Maka kendati terombang-ambing oleh suatu kurun yang tak menentu dari Surakarta, Yogyakarta sampai Amerika, benang merah kesenian Rendra tak pernah putus—kesaksian dan memberontak—dengan memperdengarkan pertanda dan penanda; tidak untuk membawakan pemecahan atau solusi politik, namun untuk menunjukan jalan kearah pengertian dan harmoni. Sebagaimana yang tampak nyata dalam tokoh Jose Karosta, sang penyair dalam drama “Mastadon dan Burung Kondor” 1973.

Dari drama“Mastadon dan Burung Kondor” tahun 1973 inilah asal nyanyian “Sajak Burung-Burung Kondor” yang terkenal itu lahir; Burung-Burung Kondor itu sebagai roh-roh bangsa yang menderita, yang di malam hari menjauhkan diri ke atas gunung, mencari sepi dan mendapat hiburan darinya—“Karena hanya sepi mampu menghisap dendam dan sakit hati.”

Maka bagi Rendra, penemuan diri sendiri, pengenalan kembali diri, penghayatan dan ekspresi diri sebagai manusia-manusia pribadi, dengan kebebasannya masing-masing, namun senantiasa dalam solidaritas sosial dan kosmis yang besar dengan seluruh ciptaan adalah mimpi besar kesenian Rendra.

Rendra di Yogya bersama Bengkel Teater

Bengkel teater di Yogyakarta yang ia dirikan sepulang dari Amerika, ia tujukan tidak lain untuk membantu bangsa Indonesia sampai kepada kesadaran diri seperti dikatakannya. Pementasan drama “Kisah Perjuangan Suku Naga” (1975) yang begitu pedas mengkritik rezim Orde Baru atas korupsi dan pembangunanisme yang justeru menyengsarakan, adalah salah satu puncak ekspresi kesaksian Rendra. Tak pelak radar “pembredelan” Orde Baru melanda sampai ke Citayem, markas Bengkel Teater Rendra. Tahun 1977 ketika ia sedang menyelesaikan film garapan Sjumanjaya, “Yang Muda Yang Bercinta” ia pun dicekal pemerintah Orde Baru. Semua penampilan di muka publik dilarang. Tapi Rendra tetaplah Rendra sang seniman dan sang pemberontak; menutup malam pidato penerimaan penghargaan dari Akademi Jakarta dengan keyakinan yang disuarakannya: Kemarin dan esok/adalah hari ini/Bencana dan keberuntungan/sama saja..

 

Narti dan “Tuhan Aku Cinta Padamu”

Badai kekuasaan kian keras menghantam karang jiwa Rendra, Rendra yang telah memiliki nama baru setelah ia menjadi seorang muslim; Wahyu Sulaiman Rendra—nama yang sempat dipakainya untuk sebuah karangan buku drama untuk remaja berjudul “Seni Drama Untuk Remaja”. Tapi sejak 1975 ia lebih sering menyederhanakan namanya menjadi Rendra saja.

Tahun 1981 adalah tahun yang tak kalah berat bagi kehidupan Rendra, saat itu ia tidak dibenarkan mementaskan Lysistrata—drama yang disadur Rendra dari karya Aristophanes yang  mengisahkan kebangkitan pandangan politik kaum perempuan ditengah ancaman perang Athena dengan Spartapadahal persiapan pementasan Lysistrata sudah final.

Peristiwa tahun 1981 itu sempat membuat Rendra frustrasi berat selama enam bulan. Ia nyaris lumpuh, kakinya kejang, tak bisa tidur, dan kulitnya mengelupas halus. “Menyebut Allah saja, mulut saya mengelurkan darah. Begitu juga menulis bismillah, dan apa saja, mulut saya mengeluarkan darah,” cerita Rendra.

Berbagai upaya pengobatan tak menyembuhkan sakitnya. Selama sakit itulah, dia dijaga siang malam oleh anggota Bengkel Teater dan sejumlah kerabat. Berkat bantuan seorang kenalan lama, dia kembali teringat meditasi. Tanpa buang waktu lagi, dia melakukan meditasi dan berhasil menghilangkan frustrasinya. “Masa saya begini hancur. Lalu saya coba menulis Allah, bismilah. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar kembali”.

Lalu Kupanggil kamu, kekasihku/ kubutuhkan kamu di meja makanku/ duduk di sisi dukaku/ 
membelai luka-luka dalam jiwa. Rendra, tentu saja tidak akan pernah bisa dilepaskan dari kehidupan istri tercintanya, Sunarti—Perempuan yang dinikahi Rendra pada 31 Maret 1959 di Gereja Bintaran Yogyakarta ketika Rendra berumur 24 tahun.

Tapi hidup perkawinan dan cinta mereka yang agung itu kemudian berantakan sesudah sempat membuahkan lima anak; Theodorus Setya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Clara Sinta.

Kemelut belum muncul sewaktu Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat hadir di tengah kehidupan mereka, bahkan Sunarti Suwandi dengan kebesaran jiwanya menemani Rendra melamar Raden Ayu Sitoresmi. Pada 12 Agustus 1970 Perkawinan keduanya dengan putri darah biru Keraton Yogyakarta itu pun berlangsung. Sastrawan senior Indonesia Taufik Ismail dan Ajip Rosidi hadir menjadi saksi perkawainan Rendra dengan Sito dan dengan keyakinan spritual baru Rendra sebagai seorang muslim.

Banyak yang mencibir hanya karena Sito Rendra menjadi muslim. Tapi Rendra sungguh mencari Tuhan sepanjang hidupnya, mulai dari tiduran sampai berjongkok, mulai menggumam sampai berkumur dan akhirnya bersandar pada takbir. “Aku telah berhaji, aku menemukan Tuhan!” kata Rendra sepulang dari naik Haji. Meski sepulangnya berhaji sebenarnaya tidak banyak yang berubah dari laku hidupnya, Rendra tetap muslim abangan pada umumnya, hanya saja semenjak kepulannya dari tanah Suci, di padepokan Bengkel Teater tak lagi boleh “nyimeng”, dan tentunya tidak boleh “ngebir”.

Tapi Rendra adalah Rendra, bagi sahabat dekatnya, Rendra sungguh bertemu Tuhannya, teman-teman dekatnya seperti Emha Ainun Nadjib melihat itu dengan jelas. Rendra bahagia menjadi seorang muslim, dan kemudian sedikit tumpul sebagai penyair, bukan Islam yang membuatnya lembut tapi kebijaksanaan telah menghampirinya. Karyanya tidak lagi meradang dan penuh amarah, karyanya berisi ilmu yang menyejukkan. Kontemplasinya berbuah kata mutiara, mata pisaunya berkilat dalam suci, dalam nafas Illahi dan dalam kesendirian dunia.

Pergolakan batin dalam ekstase kehidupan Rendra menemu juga ujinya, bahtera perkawinan Sunarti dengan Rendra ternyata tak bisa lagi  dipertahankan ketika Si Burung Merak (juga) menikahi Ken Zuraida; istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba.

Pernikahan dengan Ken Zuraida harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra diceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981. Kurun waktu yang jelas tak mudah bagi Burung Merak, pada saat itu tampaknya hanya Tuhan yang bisa menenangkan sukmanya.

Rendra bersama grup Kantata Takwa

Rendra mengaku bersama Ken Zuraida, semua serpih waktu yang terlewati membawa pula ia lebih dekat pada jalan ketakwaan kepada Allah. Masa di mana ia kemudian bergabung bersama Setiawan Djodi dan Iwan Falls dalam grup Swami dan Kantata Takwa. Dan irik kalbunya menggema di mana-mana: Kesadaran adalah matahari/Kesabaran adalah bumi/Keberanian menjadi cakrawala/Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.—nyanyian kalbu itu lahir pada kurun tersebut, 1984.

 

Burung Merak Yang Sederhana

Gelar Burung Merak yang sohor atasnya diberikan kepada Rendra tak lama setelah ia menikah dengan Ken Zuraida. Saat itu ia sedang mengajak berlibur sahabatnya dari Australia di kebun binatang Gembira Loka Yogyakarta, ia melihat seekor burung Merak jantan diikuti oleh dua betina. Ia ngakak sambil berkata “itu Rendra..”—dan sejak itu ia sohor dengan nama “Burung Merak”.

Burung Merak yang tak mewah, bahkan sangat sederhana dan kerap juga menderita. “Saya dididik keras untuk hidup sederhana. Selain itu, ibu saya senantiasa mengajarkan saya agar tahan menderita,” tutur Rendra semasa hidupnya.

Sesederhana itu lah Rendra dalam artinya yang harfiah, sejak menginjak dewasa sampai tua, bahkan tidak pernah punya tempat tidur. Dia hanya tidur beralaskan tikar. Meja tulis saja, baru dimilikinya setelah diberi oleh Hariman Siregar. Bahkan menjelang wafatnya, penyair sebesar Rendra kepada karibnya Emha Ainun Najib curhat ingin punya mobil Innova, hal yang juga tak pernah kesampaian sampai baris puisi terakhir yang ditulisanya pada 31 Juli 2009 di Rumah sakit Mitra Keluarga, “Tuhan aku cinta padamu.”  Puisi untuk terakhir kalinya itu tak sempat lagi terdengar seperti gelegar suara Rendra yang biasanya, sebab hari itu 6 Agustus 2009 Rendra meninggalkan Indonesia Raya menuju Tuhannya diusia ke 73 tahun.

6 Agustus 2009 Rendra Wafat diusianya yang ke 73 tahun.

Sepotong sajak Rendra tentang Ronin (Samurai yang menganggur): “Akulah Ronin yang mengembara/Air sawah minumanku/Dingin malam selimutku/Aku setia mengunjungimu”—sajak yang tidak pernah didokumentasikan dalam buku, kecuali disimpan oleh Danarto, telah secara gamblang menampilkan sosok Si Burung Merak, seniman besar Indonesia yang merdeka, yang tetap setia mengunjungi masyarakat Indonesia, mengunjungi kita sampai hari ini, mengabarkan kemerdekaan berpikir, berkehendak, dan melakukan segala sesuatu untuk kebebasan dan kemanusiaan.

Pada akhirnya, kita semua seperti ratap rindu Afrizal Malna, melalui salah satu sajaknya dalam kumpulan sajak “Pada Bantal Bersap” Afrizal mengidungkan nyanyian rindunya untuk Rendra:

Rendra, aku menunggumu, di awal musim dingin, yang membuat November berwarna putih. Kita berjanji, tidak membawa Hamlet dan Amangkurat ke pesta itu. Pesta yang penuh dengan bau tangan ibumu.  (*)

*) Sabiq Carebesth, Pecinta Puisi, Penulis Buku Sajak “Memoar Kehilangan” (2012). “Seperti Para Penyair” (2017). Pendiri dan Editor in Chief Galeri Buku Jakarta. |  Artikel ini akan diterbitkan bersama artikel lain dalam buku “Memikirkan Kata” pada Mei 2019.

Continue Reading

Tabloids

Puisi Selalu Menemukan Jalannya Sendiri

mm

Published

on

Aku memiliki dua puluh empat puisi dan bersiap untuk mencetaknya, tetapi mereka semua sangat aneh, sangat tidak mirip karya-karyaku sebelumnya, karena itu aku merasa sedikit khawatir. Aku mendapat dorongan dari satu atau dua teman, tapi aku masih tak tahu apa yang harus dilakukan.

Pertanyaan yang muncul setelah The Dream Songs adalah bilamana aku akan berusaha menulis sebuah puisi yang panjang lagi, dan kupikir itu tidak mungkin, jadi aku tidak berharap untuk menulis bait-bait lagi.

Tapi tiba-tiba suatu hari di musim dingin tahun lalu aku menuliskan satu baris: “I fell in love with a girl.” Aku memerhatikannya, dan aku tak dapat menemukan ada yang salah dengan baris itu. Aku berpikir, “Sial, hal itu nyata” Aku merasa, seperti seorang temanku mengatakan, “merasa nyaman dengan hal itu.” Dan aku memerhatikannya sampai aku memikirkan sebuah baris kedua, dan kemudian baris ketiga, dan kemudian baris keempat, dan jadilah sebuah stanza. Tak berima. Dan semakin kuperhatikan, semakin aku menyukainya, jadi aku menulis stanza kedua. Dan kemudian aku menulis lebih banyak stanza, dan tahukah kau? Aku memliki sebuah lirik sajak, dan itu sangat bagus. Aku tak pernah tahu aku memilikinya dalam diriku! Jadi, ketika hari berikutnya aku menggubah sebuah stanza, mengubah beragam baris, disana sini, tapi segera setelahnya hal itu terlihat klasik.

Seklasik salah satu dari puisi-puisi Rubaiyat-tanpa keniscayaan rima dan matra, tetapi dengan keniscayaan-keniscayaannya sendiri. Kukira itu sebagus puisi-puisi awalku, dan beberapa dari mereka sangatlah bagus; kebanyakan dari mereka tidak, tapi beberapa memang bagus. Lebih jauh, baris-baris itu tidak mempunyai kemiripan dengan bait manapun yang pernah kutulis seumur hidupku, dan lebih jauh lagi, subjeknya sama sekali baru, benar-benar dan hanya tentang diriku sendiri. Tak ada yang lain. Sebuah subjek dimana aku adalah seorang ahlinya. Tak ada seorang pun yang bisa membantahku.

Aku percaya dengan teguh atas otoritas dari pembelajaran. Alasan mengapa Milton merupakan penyair terbesar Inggris kecuali untuk Shakespeare adalah karena otoritas dari pembelajarannya. Aku sarjana di bidang-bidang tertentu, tetapi subjek yang aku mempunyai otoritas penuh atasnya adalah diriku, jadi aku menghapus semua kepura-puraan dan mulai bekerja. Dalam lima atau enam minggu aku memiliki sesuatu yang tampak jelas sebagai sebuah buku berjudul Love & Fame.

Aku memiliki dua puluh empat puisi dan bersiap untuk mencetaknya, tetapi mereka semua sangat aneh, sangat tidak mirip karya-karyaku sebelumnya, karena itu aku merasa sedikit khawatir. Aku mendapat dorongan dari satu atau dua teman, tapi aku masih tak tahu apa yang harus dilakukan.

Aku sebelumnya sudah mengirimkan puisi pertama kepada Arthur Crook di Times Literary Supplement. Dia senang membacanya dan mengirimkanku sebuah contoh cetakan. Aku, sebaliknya, merasa senang bahwa dia menyukainya, jadi aku mengoreksi contoh cetakannya dan mengirimkannya lima puisi lagi-Aku tidak ingin puisi itu tampil sendirian. Jadi dia mencetak keenamnya, yang mengisi satu halaman penuh-sangat indah secara tipografi-dan ini semakin membesarkan hati.

Tapi aku masih tak yakin. Sementara itu, aku sedang berada di rumah sakit. Aku seorang pencemas. Aku telah kehilangan sembilan belas pon dalam lima minggu dan minum-minum banyak sekali-satu quart per hari. Jadi aku meminta penerbitku di New York, Giroux, mengkopi selusin salinan, yang aku kirimkan kepada teman-temanku diseluruh negeri untuk mendapatkan opini mereka. Itu adalah hal yang aneh untuk dilakukan-Aku tak pernah mendengar orang lain melakukannya-tapi aku melakukannya, mencari penguatan diri, konfirmasi, menginginkan kritik, dan seterusnya, dan aku mendapat sejumlah kritik yang sangat baik. Dick Wilbur memilih “Shirley & Auden”, salah satu lirik yang paling penting di bagian pertama-beberapa sajak yang lain begitu ringan, dan yang lainnya sangat ambisius- dan menjadikannya sengsara. Dan aku setuju-aku mengadopsi hampir semua saran.

Aku juga mendapat sejumlah konfirmasi dan penguatan diri, akan tetapi ada opini-opini yang lain juga. Edmund Wilson, yang pendapatnya sangat aku hargai, mendapati buku itu tak punya harapan. Dia mengatakan terdapat beberapa baris yang baik dan bait-bait yang menohok. Bagaimana kau menyukainya? Itu seperti mengatakan kepada seorang perempuan cantik, “Aku menyukai kuku kelingkingmu yang sebelah kiri; itu benar-benar manis,” sementara perempuan itu berdiri telanjang bulat tampak seperti Venus. Aku sangat terluka karena surat itu. Dan kemudian respon-respon yang lain sangatlah aneh. Mark Van Doren, guruku, seorang teman lama dan seorang hakim yang luar biasa bagi puisi, juga menulis. Aku lupa tepatnya yang dia katakan, tapi dia sangat serius dengan buku itu. Dia mengatakan hal-hal seperti “orisinil,” dan “akan berpengaruh”, dan “akan menjadi populer,” dan seterusnya, tapi “juga akan ditakuti dan dibenci.”

Sungguh surat yang sangat mengejutkan! Aku membutuhkan berhari-hari hingga aku terbiasa dengan surat itu, dan aku membutuhkan lebih banyak hari lagi untuk memahami maksudnya. Tapi sekarang aku mengerti apa yang yang dia maksud.

Sejumlah puisinya mengancam, sangat mengancam untuk sebagian pembaca, tak ada keraguan untuk itu. Sebagaimana beberapa orang menganggapku mengancam-berada dalam satu ruangan denganku membuat mereka gila. Dan kemudian ada cukup banyak kecabulan dalam sajak-sajak itu juga. Dan ada begitu banyak belas kasihan dalam sajak-sajak terakhir, yang akan mengganggu banyak orang.

Kau tahu, negeri ini penuh dengan para ateis, dan mereka benar-benar akan merasa diri mereka terancam oleh puisi-puisi itu. Majalah The Saturday Review mencetak lima dari puisi-puisi itu, dan aku menerima banyak sekali surat tentang itu- lagi-lagi menyampaikan opini yang sangat beraneka ragam.

Beberapa orang setulusnya hanya berterimakasih karena aku memberitahu mereka bagaimana menempatkan apa yang mereka rasakan selama bertahun-tahun. Dan ada orang-orang lain yang membencinya—mereka tak menyebutnya tak tulus, tapi mereka hanya tak bisa memercayainya.

*) John Berryman

Continue Reading

Tabloids

Saat Ide Menulis Macet dan Pengarang Putus Asa

mm

Published

on

Ya, itu bisa berwujud apa saja. Bisa saja sebuah suara, sebuah gambar; bisa jadi sebuah momen terdalam dari keputusasaan diri. Misalnya, dengan Ragtime aku sedang sangat putus asa untuk menulis, aku menghadap dinding ruang kerjaku di rumahku yang berada di New Rochelle dan jadilah aku mulai menulis tentang dinding itu. Itu salah satu jenis hari yang terkadang kita alami, sebagai penulis. Kemudian aku menulis tentang rumah yang menempel dengan dinding itu. Rumah itu dibangun tahun 1906, kau paham, jadi aku memikirkan tentang era itu dan bagaimana Broadview Avenue terlihat pada masa itu: mobil-mobil trem listrik berjalan melalui jalan raya yang berada dibawah bukit itu; orang-orang mengenakan baju berwarna putih pada musim panas agar tetap sejuk.

Waktu itu Teddy Roosevelt seorang presiden. Satu hal menuntun ke hal lain dan begitulah buku itu dimulai, melalui keputusasaan menuju gambaran-gambaran itu. Dengan Loon Lake, sangat berbeda, itu hanya sebuah perasaan yang kuat tentang sebuah tempat, perasaan yang membuncah ketika aku menemukan diriku sendiri di Adirondacks setelah bertahun-tahun pergi jauh…dan semua ini sampai pada titik dimana aku melihat sebuah tanda, sebuah penanda jalan: danau Loon. Jadi itu bisa apa saja… aku menyukai bunyi dari dua kata yang bergandengan-danau Loon. Aku memiliki bayangan-bayangan pembuka itu tentang sebuah kereta dengan rel pribadi di atas trek tunggal di malam hari menanjak melalui Adirondacks dengan sekelompok gangster di dalamnya, dan seorang gadis cantiK berdiri, telanjang, memegangi sebuah busana berwarna putih tepat di hadapan cermin untuk mengetahui apakah dia harus mengenakannya.

Aku tak tahu darimana para gangster itu berasal. Aku tahu kemana mereka akan pergi-ke kamp seorang lelaki kaya. Bertahun-tahun lalu orang yang sangat kaya raya menemukan alam liar di pegunungan paling timur Amerika. Mereka membangun kamp yang sangat luar biasa itu-C. W. Post. Harriman, Morgan-mereka menjadikan alam liar itu kemewahan bagi mereka sendiri. Jadi aku membayangkan sebuah kamp semacam ini, dengan para gangster itu, orang-orang kelas bawah itu pergi ke atas menumpang sebuah kereta dengan rel pribadi. Itulah yang membuatku memulai. Aku mempublikasikan materi ini di Kenyon Review, tetapi aku tidak terpuaskan.

Aku terus berpikir tentang bayangan-bayangan itu dan merasa heran darimana hal itu berasal. Latar waktunya adalah tahun 1930an, benar-benar saat terakhir seseorang dapat memiliki jalur kereta mobil pribadi, seperti halnya saat ini orang-orang memiliki jalur jet pribadi. Terjadi sebuah krisis ekonomi saat itu, jadi orang yang menyaksikan kereta yang mengagumkan ini pastilah seorang tunawisma, seorang pejalan kaki. Lalu aku mendapatkan karakterku, Joe, diluar sana dalam kedinginan cuaca seperti ini, kegelapan semacam ini, melihat lampu utama mesin itu menuju kelokan dan membutakannya, dan kemudian selagi kereta itu berlalu menyaksikan orang-orang itu di meja-meja dengan tabir hijau disuguhi minuman-minuman dan gadis itu berdiri di sebuah kamar kompartemen menggenggam gaunnya. Dan pada saat fajar, dia mengikuti lintasan ke arah kereta itu berlalu. Dan dia pergi dan berlari, dan begitu pun diriku.

*) E. L. Doctorow

Continue Reading

Trending