Connect with us

Interesting Literature

The Best H. G. Wells Novels




10 classic books written by the master of science fiction, H. G. Wells

  1. G. Wells (1866-1946) wrote dozens of books over the course of his literary career, a career which spanned over half a century. But what are the best books by H. G. Wells? As well as writing many classic works of science fiction, Wells also wrote non-fiction as well as many popular realist novels such as Kipps and The History of Mr Polly. But in this list of his best novels we’ve confined ourselves to the pick of his science fiction, since it’s for his science fiction that Wells is best remembered. As ever with our lists, we’ll start at number 10 and work our way up to what is, in our opinion, the best H. G. Wells novel of all…
  2. In the Days of the Comet (1906). One of Wells’s utopian novels, this novel tells of a green comet which, when it comes into the orbit of Earth, releases ‘green vapours’ which spread peaceful feelings and a sense of contentment among the entire human population. The novel also explores Wells’s own utopian ideas (or ideals) involving socialism and free love. The idea is interesting, but the plot is meandering and not as gripping as Wells’s earlier scientific romances (see below). Still worth a look, though – but not the best entry-point for the Wells novice. Recommended edition: In the Days of the Comet.
  3. The Food of the Gods (1904). Focusing on genetically modified food (of sorts), this largely forgotten Wells novel is about a synthesised foodstuff, ‘Boomfood’, that can make all sorts of animals – insects, rats, and chickens, as well as human beings – grow to many times their normal size. The book has been adapted for cinema on several occasions: the 1976 film won the Golden Turkey Award for that year and also scooped up the accolade of ‘Worst Rodent Movie of All Time’ (beating, Wikipedia informs us, such classics as The Killer ShrewsThe Mole People, and The Nasty Rabbit). Recommended edition: The Food of the Gods by Wells, H. G. ( AUTHOR ) Sep-16-2010 Hardback.
  4. The Shape of Things to Come (1933). This prophetic later work by Wells predicted that there would be another world war within a decade of the book’s publication (after conflict in Eastern Europe erupted onto the world stage). Wells, and the world, had to wait just six years for his prophecy to come true. Although not the most easily readable of his novels, this book has enough to interest Wells fans. Recommended edition: The Shape of Things to Come: The Ultimate Revolution (Penguin Classics).
  5. The War in the Air (1908). Written just a few years after the Wright brothers made their flight at Kitty Hawk, this novel is another Wells work that would prove strangely prophetic – particularly of the aerial warfare of the World Wars. The book’s protagonist, Bert Smallways, is clearly modelled in no small part on Wells himself: Kentish by birth, of small stature (Wells was below average height), and called (Her)Bert. Recommended edition: The War in the Air (Penguin Classics).
  6. The Sleeper Awakes (1910). As we discuss in our post on early dystopian fiction, this futuristic dystopian novel was Wells’s own reworking of an earlier novel, When the Sleeper Wakes (1899). The ‘sleeper’ is a man named Graham who comes out of a coma after several hundred years to find that he is the richest man in the world. Among other things, Wells predicted automatic doors in this novel, which is another little reason for seeking it out. Recommended edition: The Sleeper Awakes.
  7. The Island of Doctor Moreau (1896). The idea at the heart of this, Wells’s second science-fiction novel, is vivisection: the titular doctor fashions creatures from the body parts of animals. These creatures resemble men, but are actually monsters. The novel is a bit like a cross between Defoe’s Robinson Crusoe (Moreau, as the title suggests, has his own island which the novel’s narrator is shipwrecked upon) and Mary Shelley’s Frankenstein, given a distinctive H. G. Wells twist. Recommended edition: The Island of Doctor Moreau (Penguin Classics).
  8. The Invisible Man (1897). This novel might be read as Wells’s take on Stevenson’s Dr Jekyll and Mr Hyde: a scientist, Griffin, succeeds in making himself invisible but finds it difficult to reverse the scientific process, just as Jekyll finds he can no longer keep his alter ego, Edward Hyde, at bay in Stevenson’s story. Recommended edition: The Invisible Man (Penguin Classics).
  9. The First Men in the Moon (1901). Drawing on earlier moon-voyage novels by Jules Verne, this is another of Wells’s classic early scientific romances, though it often gets overlooked in favour of, say, The War of the Worlds or The Time Machine. But it deserves more attention. In many ways this book forms a pair with the next book on our list of the best H. G. Wells novels. Whereas The First Men in the Moon sees men travelling to another ‘world’ and meeting the alien life-forms that exist there, our next novel sees the aliens coming to us… Recommended edition: The First Men in the Moon (Penguin Classics).
  10. The War of the Worlds (1898). A pioneering work of ‘invasion’ literature, this classic early Wells novel inspired countless film adaptations (as well as the infamous radio broadcast made by Orson Welles in 1938), and was undoubtedly a major influence on all subsequent films and novels about aliens coming to Earth from space. The aliens in this case, of course, are the Martians. Recommended edition: The War of the Worlds.
  11. The Time Machine (1895). Wells’s first novel, based loosely on a story he wrote while still in his early twenties, ‘The Chronic Argonauts’ (1888). It is, for our money, his best, and embodies early Wells in its vision, its storytelling, and its engagement with scientific and political issues, many of which are still with us today. It also more or less invented the concept of the time machine. The short novel recounts the adventures of the Time Traveller, who builds a machine which enables him to travel into the future. He ends up in the year 802,701, and discovers that mankind has evolved into two distinct subspecies: the Eloi and the Morlocks. But what the precise relationship is between the two remains at first a mystery – until the Time Traveller discovers the horrific truth… Recommended edition: The Time Machine (Penguin Classics).

(Copy Posted by interestingliterature)

Continue Reading

Editor's Choice

Tips Utama Menulis sebuah Ulasan




Tujuan penulisan sebuah ulasan adalah untuk mengevaluasi dan menilai sesuatu. Kita menilai segala hal setiap hari. Misalnya, kamu punya band atau pertunjukkan televisi kesukaan, dan kamu menyukai satu supermarket dibanding yang lainnya. Semua itu merupakan penilaian. Ketika kamu menulis sebuah ulasan, tugasmu adalah menyatakan pendapatmu atau penilaianmu dan menyokongnya. Kamu melakukannya dengan memberikan alasan-alasan dan bukti.

  1. Menonton, membaca, atau mendengarkan karya itu lebih dari satu kali

Pertama kali kamu membaca atau menonton sesuatu, rasakan keseluruhan sensasi dari karya itu. Lalu pikirkan tentang kekuatan karya itu dan kelemahannya. Baca atau tonton karya itu lagi untuk mrngonfirmasi kesan pertamamu. Kali ini, buatlah catatan dengan hati-hati. Bersiaplah untuk mengubah pikiranmu jika pengamatan yang lebih seksama membawamu ke arah yang berbeda.

  1. Sediakan informasi pokok

Beritahu pembaca judul lengkap dari karya itu dan nama pengarangnya atau penciptanya. Tambahkan nama penerbit, tanggal penerbitan, dan informasi lain tentang kapan karya itu diciptakan dan dimana pembaca atau penonton dapat menemukannya. Periksa fakta-faktamu. Rincian dalam ulasan haruslah akurat.

  1. Pahami subjek pembacamu

Ulasan hadir di berbagai tempat. Kamu akan menemukannya di penerbitan lokal atau nasional, online, dan juga di jurnal-jurnal khusus dan surat kabar di tempat tinggalmu. Pelajari tempat dimana kamu ingin menerbitkan ulasanmu, dan menulislah berdasarkan itu. Pikirkan tentang apa yang perlu kamu jelaskan. Pembaca umum akan membutuhkan lebih banyak informasi latar dibandingkan pembaca untuk penerbitan yang menargetkan para ahli.

  1. Tentukan posisi

Nyatakan pendapatmu tentang karya yang sedang kamu evaluasi. Ulasanmu bisa berbentuk negatif, positif, atau campuran keduanya. Tugasmu adalah mendukung pendapat itu dengan perincian dan bukti. Bahkan ketika pembaca tidak setuju denganmu, mereka tetap perlu mengetahui bagaimana kamu mencapai kesimpulan.

  1. Jelaskan cara kamu menilai karya itu

Putuskan kriteriamu, standar yang kamu gunakan untuk menilai buku, pertunjukkan, atau film. Kamu mungkin percaya sebuah novel sukses saat ia memiliki karakter-karakter yang kamu sukai dan sebuah alur yang membuatmu terus ingin membaca. Nyatakan kriteria-kriteria tersebut sehingga pembacamu mengerti apa yang kamu percaya.

  1. Perlihatkan bukti untuk mendukung kriteriamu

Sokong penilaianmu dengan kutipan-kutipan atau deskripsi-deskripsi adegan dalam sebuah karya. Juga berkonsultasilah pada sumber-sumber lain. Adakah kritikus lain sependapat denganmu tentang karya ini? Kamu mungkin bisa menyebutkan ulasan-ulasan itu juga. Pastikan selalu mengutip hasil kerja penulis lain dengan tepat, jika digunakan.

  1. Kenali kaidah-kaidah dalam genre nya

Setiap jenis tulisan atau seni memiliki elemen-elemen tententu. Sebuah misteri harus memiliki ketegangan, sementara roman harus memiliki karakter-karakter yang kamu percaya akan tertarik satu sama lain. Pertimbangkan tema, struktur, karakter, latar, dialog, dan faktor-faktor terkait lainnya. Pahami kaidah-kaidah itu dan masukkan sebagai bagian dari kriteriamu.

  1. Bandingkan dan bedakan

Perbandingan dapat menjadi cara yang baik untuk mengembangkan evaluasimu. Seumpama kamu mengklaim bahwa sebuah film memilki dialog yang sangat bagus, orisinil. Tonjoikan hal ini dengan membagi sejumlah dialog dari film lain yang memiliki dialog yang sulit, kaku, atau klise. Gunakan perbedaannya untuk memperlihatkan maksudmu.

  1. Jangan merangkum keseluruhan isi cerita

Buku-buku, film, dan pertunjukkan-pertunjukkan televisi memiliki bagian permulaan, pertengahan, dan akhir. Orang membaca dan menonton karya-karya itu sebagian karena mereka ingin mengetahui apa yang terjadi. Biarkan mereka menikmati ceritanya. Sediakan gagasan umun tentang apa yang terjadi, tetapi jangan memberikan rahasia-rahasia penting, terutama akhir ceritanya.


Diterjemahkan Marlina Sopiana dari Top tips for writing a review.

Continue Reading

Editor's Choice

11 Penggambaran Paling Realistis tentang Gangguan Jiwa dalam Novel




Terdapat tradisi besar tentang gangguan jiwa dalam karya fiksi. Penulis era Victoria senang menyembunyikan perempuan gila di atas sebuah Menara atau loteng, dimana dia dapat perlahan-lahan mengupas wallpaper dari dindingnya atau merintih dan mengerang dengan tidak terkendali sehingga membuat takut para governess muda yang berusaha tidur di lantai bawah. Kemudian, buku-buku akan memperkenalkan pembaca pada perawat-perawat jahat, pemaksaan lobotomi, dan upaya yang ceroboh dalam terapi kejut listrik. Tak perlu dijelaskan, gangguan jiwa memang lebih tidak dipahami pada masa lampau dibandingkan dengan saat ini.

Beberapa dekade terakhir telah membawa perubahan dalam cara pengobatan gangguan jiwa dan bagaimana hal itu digambarkan dalam literatur. Karakter diizinkan untuk turun dari loteng dan menceritakan kisah mereka sendiri. Dalam memoar, pengarang membagi pengalaman-pengalaman mereka dalam catatan-catatan kasar dari sudut pandang orang pertama. Girl, Interrupted, Prozac Nation, dan Running with Scissors hanyalah beberapa contoh – lihatlah daftar dalam link ini 20 Greatest Memoirs of Mental Illness untuk mendapatkan lebih banyak rujukan.

11 novel yang tercantum dibawah ini juga berbicara dengan sangat jujur mengenai gangguan jiwa. Terkadang selubung fiksi mengizinkan para pengarang untuk mencerikan kisah-kisah yang bahkan lebih nyata-mereka dapat menulis tanpa mengkhawatirkan reputasinya sendiri atau reaksi-reaksi dari anggota keluarga. Buku-buku mereka memberikan kita pemahaman yang lebih dalam tentang gangguan jiwa dan cara kita berhadapan dengan gangguan jiwa dalam kebudayaan kita. Mereka juga melakukan apa yang semua literatur besar harus lalkukjan-membiarkan kita untuk mengenal dan peduli pada karakter-karakter selayaknya manusia.

Mrs. Dalloway karya Virginia Woolf (1925)

Satu hari dalam hidup Clarrisa Dalloway, seorang wanita kelas atas Inggris. Melalui karakter Septimus, seorang veteran perang dunia pertama yang mengalami gangguan paska trauma perang, buku ini mengkritisi perlakuan terhadap penyakit kejiwaan. Woolf menggunakan perjuangannya sendiri dengan gangguan bipolar untuk mengisi karakter Septimus.

Tender is the Night karya F. Scott Fitzgerald (1934)

Scott Fitzgerald menulis novel ini ketika istrinya, Zelda, sedang berada di rumah sakit untuk pengobatan skizofrenia. Dikisahkan di Riviera Prancis pada tahun 1920an, Tender is the Night adalah sebuah cerita tentang psikoanalis Dick Diver dan istrinya Nicole…. Yang kebetulan juga menjadi pasiennya.

The Catcher in the Rye karya J.D. Salinger (1951)

Hikayat yang jujur tentang ketidakpuasan masa muda, The Catcher in the Rye masih laku terjual sekitar 250.000 kopi per tahun. Holden Caulfield, pahlawan muda kita, pertama kali muncul dalam sebuah cerita pendek tahun 1945 dalam majalah Collier dengan judul “I;m Crazy.”

The Bell Jar karya Sylvia Plath (1963)

Awalnya dipublikasikan dibawah nama samaran, The Bell Jar merupakan catatan semi-autobiografi dari depresi klinis yang dialami sendiri oleh Plath, sebuah sensasi yang ia deskripsikan sebagai berikut: “Dimanapun aku duduk-di atas dek sebuah kapal atau di kafe di jalan-jalan Paris atau Bangkok-aku akna duduk dibawah tudung gelas yang sama, terkukus dalam udaraku sendiri yang masam.”

I Never Promised You a Rose Garden karya Joanne Greenberg (nama pena: Hannah Green) (1964)

Deborah Blau didiagnosa dengan skizofenia paranoid, menghabiskan tiga tahun di rumah sakit jiwa. Kisahnya selaras dengan pengalaman-pengalaman pengarangnya, dan dokter dalam ceritanya didasarkan pada dokternya di dunia nyata, seorang psikiater German, Frieda Fromm-Reichmann.

Disturbing the Peace karya Richard Yates (1975)

Novel semi-autobiografi ini menceritakan kisah John C. Wilder, seorang perkerja periklanan berubah menjadi penulis skenario yang menghabiskan beberapa waktu di rumah sakit jiwa dan menderita (seperti halnya Yates) delusi-delusi dikarenakan allkohol.

Ordinary People karya Judith Guest (1976)

Conrad mencoba bunuh diri setelah kematian tragis kakak laki-lakinya, sehingga orangtuanya mengirimnya ke rumah sakit jiwa. Setelah keluar dengan bantuan dari psikiater, Conrad memeriksa depresinya dan mencoba untuk memahami kebekuan hubungannya dengan ibunya. Film adaptasi dari Ordinary People, diperankan oleh Mary Tyler Moore memenangkan Academy Award untuk film terbaik tahun 1980.

She’s Come Undone karya Wally Lamb (1992)

Delores Price perlahan-lahan menguraikan kekusutannya setelah berurusan dengan kejadian traumatis sebagai seorang remaja. Sebagai seorang perempuan berusia 20an, dia menghabiskan bertahun-tahun di sebuah institusi setelah sebuah upaya bunuh diri. Dia pada akhirnya berhenti terapi dan berusaha untuk membangun kembali hidupnya dengan caranya sendiri. Lamb kembali menulis tentang gangguan jiwa dalam buku selanjutnya, I Know This Much is True.

 The Hours karya Michael Cunning (1998)

Terinspirasi dari buku pertama dalam daftar kita, Mrs. Dalloway, kisahnya menampakkan satu hari di dalam hidup tiga wanita berbeda zaman, termasuk Virginia Woolf sendiri. The Hours memenangkan Pullitzer Prize untuk karya fiksi di tahun 1999.

The Passion of Alice karya Stephanie Grant (1998)

Salah satu novel yang kurang dikenal dari daftar ini, The Passion of Alice merupakan sebuah potret tangguh yang menyentuh tentang seorang perempuan berusia 25 tahun yang dimasukkan ke sebuah klinik gangguan makan setelah dia hampir mati dikarenakan gagal jantung.

The Marriage Plot karya Jeffrey Eugenides (2011)

Leonard, salah satu karakter utama dalam novel ini, hidup dengan depresi manik yang mempengaruhi pekerjaannya, persahabatannya, dan hubungan percintaannya. Di dalam sebuah wawancara dengan Slate, Eugenides membungkam rumor bahwa Leonard dibuat berdasarkan David Foster Wallace.


Diterjemahkan editor bahasa Galeri Buku Jakarta, Marlina Sophiana, dari 11 of the Most Realistic Portrayals of Mental Illness in Novels by Rebecca Kelley. Pertama kali ditayangkan di, 13 May 2014.


Continue Reading


Chairil Anwar Dan Patungnya




…kubentuk dunia sendiri,

dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!

Kucuplah aku terus, kucuplah

dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku …

(Sajak Putih)

Chairil Anwar adalah sastrawan yang juga pelopor angkatan 45 dan pembaharu sastra indonesia, khususnya puisi. Lahir di Medan 26 Juli 1922 dari pasangan Toeloes dan Saleha, meninggal di Jakarta pada tanggal 28 April 1949 dalam usia 27 tahun. Ia menikah dengan Hapsyah tanggal 6 September 1946 dan berpisah setelah mempunyai seorang putri, karena keinginannya untuk selalu ingin hidup bebas dan tak terikat.

Ia menempuh pendidikan di Holandsch Inlandsche School (HIS) dan meneruskan di MULO Medan namun tidak sampai selesai. Ia lalu pergi ke Jakarta. Ia mulai dikenal tahun 1945 setelah sajaknya yang berjudul “Aku” dimuat pada Majalah Timur yang dipimpin oleh Nur Sutan Iskandar. “Sajak itu ditulis tahun 1943 dan dalam majalah tersebut judulnya diganti menjadi “Semangat”. Sajak-sajaknya lebih bersifat ekspresionis, yang mencerminkan pemberontakan jiwa dengan melepaskan semua ukuran-ukuran lama. Chairil Anwar tidak hanya menciptakan sajak yang mencerminkan sifatnya yang individualis tetapi juga mengangkat segi-segi lain dari kehidupan manusia sehingga ia mendapat gelar “Binatang Jalang”. Selain “Aku”, karyanya yang terkenal antara lain: Yang Terhempas dan Terputus (tentang kematian), Doa (tentang kecintaan pada Tuhan/agama), Karawang Bekasi, Diponegoro, dan Siap Sedia (cinta tanah air). Selain dari puisi yang secara keseluruhan berjumlah 72 sajak asli, dua sajak saduran dan 11 sajak terjemahan, Chairil juga membuat prosa sebanyak tujuh buah prosa asli dan empat prosa terjemahan. Dari semua puisi dan prosa yang dikarangnya terdapat 1 buah puisi dan 1 prosa memakai bahasa Belanda.

Dalam proses kreatifnya, Chairil salah satu penyair yang menandatangi “Surat Kepercayaan Gelanggang” di antara penyair lain mencari dan memburu kata secara tepat dan cermat, juga menimbangnya sebelum menuliskan ke dalam sajak-sajaknya. Kadang bahkan harus berhari-hari atau berminggu-minggu untuk mendapatkan kata-kata yang tepat dan cermat itu. Salah satu sajak Chairil yang berjudul “Aku” menyiratkan bahwa penyairnya mempunyai vitalitas tinggi, individualitas serta semangat yang menggebu-gebu. Coba simak saja penggelan liriknya di bawah ini:

Aku binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

…Dan aku lebih tak perduli

…Aku mau hidup seribu tahun lagi.


Patung Chairil Anwar

Berbentuk patung dada atau lebih dikenal dengan gaya torsi, terbuat dari bahan perunggu. Patung ini terletak di dalam Taman Monas Utara, pada bagian utara Patung Diponegoro. Chairil Anwar dipatungkan dengan wajah tenang memandang lurus ke depan. Patung ini dibuat oleh pematung Arsono dari Studio ARSTUPA (Arsono Studio Patung), sedangkan pengecoran perunggunya dilakukan di Yogyakarta oleh pematung Gardono. Pembuatan patung ini melalui tiga tahap, pertama patung dari tanah liat ini diambil dari Karang Anyar, Jawa Tengah, kedua pembuatan cetakan perunggu dari gips (Teknik a cireperdue), dan ketiga penuangan perunggu yang dilakukan di Yogyakarta. Peresmian patung dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta R. Suprapto pada tanggal 21 Maret 1986. (*)

*Dari berbagai sumber, tim redaksi Galeri Buku Jakarta/ 2016.

Continue Reading

Classic Prose