Connect with us
Teater Bolshoi Teater Bolshoi

Cerpen

Teater Bolshoi

mm

Published

on

oleh: Yury Nagibin

Berakhirlah pelajaran terakhir dari hari terakhir kehidupan sekolah kami. Di depan masih ada ujian-ujian panjang dan sukar, tetapi pelajaran-pelajaran tidak akan pernah kami miliki lagi. Kuliah, seminar, kolokium – seluruh kata-kata yang mengandung kedewasaan tersebut – akan datang kepada kami, auditorium perguruan tinggi dan laboratorium pun akan datang, tetapi baik kelas maupun bangku-bangku sekolah tidak akan pernah datang lagi. Sepuluh tahun masa sekolah dirampungkan dengan bunyi lonceng keparau-parauan yang dikenal, yang muncul di bawah, di dalam ruangan para guru, yang lebih dulu dialiri oleh bunyi tersebut dan bunyi itu naik dengan sedikit terlambat ke arah kami di tingkat enam, yang di dalamnya tersebar kelas-kelas sepuluh. Kami semua, yang tengah tersentuh, terharu, bahagia dan menyesalkan sesuatu, yang merasa bimbang dan tersipu dengan perubahan sekejap mata sendiri dari anak sekolah menjadi orang dewasa, manusia, yang menikah saja pun bahkan boleh, berkeliaran di sepanjang kelas dan koridor, seperti ketakutan keluar dari tembok sekolah menuju dunia, yang menjadi tanpa batas. Dan ada perasaan yang demikian, seakan-akan ada sesuatu yang tidak terkatakan, tidak sampai, tidak terselesaikan selama sepuluh tahun yang telah lalu itu, dan seolah saja hari ini telah menemukan kami dengan tanpa diduga.

Di jendela-jendela yang terbuka lebar warna biru langit yang pekat tampak melimpah, burung-burung merpati mendekut lantaran ingin kawin dengan suara yang kasar di bendul jendela, terasa ada bau yang kuat dari pohon-pohon yang sedang berkembang dan aspal yang meleleh.

Zhenya Rumyantseva masuk ke kelas kami.

“Seryozha[2], bolehkah barang sebentar?” Aku keluar ke koridor. Pada hari yang tidak biasa ini, Zhenya menunjukkan kepadaku mengenai dirinya yang sama sekali tidak biasa. Dia berpakaian, seperti keselaluannya, tanpa cita rasa: pakaian pendek, yang memang sudah kekecilan untuknya di tahun yang lalu dan lebih tinggi dari lututnya, koftochka[3] dari wol, yang tidak bertemu rapat di bagian dada, dan di balik koftochka, dengan warna jadi agak kebiru-biruan karena seringnya dicuci, terlekat bluzka[4]putih, serta sepatu anak-anak yang tidak lancip tanpa hak. Kelihatannya, Zhenya mengenakan pakaian adik perempuannya. Rambut Zhenya yang menggunduk  dan berdebu secara serampangan disatukan dengan jepitan rambut, harspel,[5]dan grebenka,[6]yang menyekitari wajah kecilnya dan tetap saja rambutnya itu menutupi bagian dahi serta lehernya, sedang satu untaian rambutnya selalu jatuh ke hidungnya yang agak pesek dan dia dengan rasa jengkel menepis-nepisnya. Sesuatu yang baru yang ada padanya adalah warna merah yang tipis merata, yang meronai wajahnya, dan sinar mata kelabunya yang besar, tampak dekat dan hidup, kadang serius-penuh kesibukan, kadang lengah-seperti tak melihat.

“Seryozha, saya ingin mengatakan kepadamu: marilah kita bertemu selang sepuluh tahun lagi.”

Percandaan sama sekali bukanlah ciri yang mendasar bagi Zhenya dan secara serius aku bertanya:

“Untuk apa?”

“Saya tertarik, akan jadi apa kamu nanti,” Zhenya mengibaskan untaian rambutnya yang menjengkelkan. “Pada tahun-tahun sekolah ini, kamu begitu membuat saya tertarik.”

Aku berpikiran, bahwa Zhenya Rumyantseva tidak mengenal baik kata-kata itu, maupun perasaan seperti itu. Seluruh hidupnya mengalir di dalam dua lingkungan: pada pekerjaan gugus generasi muda yang intens – dia merupakan pemimpin regu kami – dan pada cita-citanya tentang dunia bintang. Aku tidak pernah mendengar, pada waktu luang dari kesibukan kerjanya Zhenya mengatakan mengenai sesuatu yang lain, kecuali mengenai bintang-bintang, planet, orbit, suar matahari, dan penerbangan ke luar angkasa. Tidak banyak dari kami yang secara tegas dapat menentukan jalan kehidupan sendiri yang selanjutnya, tetapi Zhenya sejak kelas enam telah mengetahui, bahwa dia akan menjadi astronom dan bukan yang lain. Di antara kami tidak pernah ada kedekatan pertemanan, kami belajar di kelas berparalel dan kami bertemu hanya karena pekerjaan di gugus generasi muda. Beberapa tahun lalu akibat sebuah kesalahan aku agak hampir dikeluarkan dari gugus kepanduan. Para kawanku berdiri dengan teguh di belakangku dan aku akhirnya tetap menjadi bagian dari kepanduan. Hanya Zhenya seorang, anak baru di sekolah kami, yang sampai akhir menuntut pengecualian itu. Dan hal yang demikian memberi bekas di dalam relasiku terhadapnya. Tetapi kemudian aku mengerti, bahwa karakter tanpa iba Zhenya terjadi karena usaha untuk mempertinggi ketelitian bagi diri sendiri dan orang lain, sama sekali bukan karena hati yang jelek. Manusia itu sampai ke dasarnya haruslah jernih, berhati teguh, serta dapat dipercaya, dan dia ingin semua yang ada di sekelilingnya jadi seperti itu. Aku bukan seorang kesatria yang tanpa rasa takut dan tanpa cela [7] dan sekarang pengakuannya yang tanpa disangka, membuat aku bingung dan heran.

Di dalam pencarian dengan perdugaan, secara berpikir-pikir aku berlari ke masa lampau, tetapi tidak ada apa pun yang kujumpai, kecuali sebuah pertemuan di Chistye Prudy.[8]

Suatu hari, ketika liburan, kami berkemas ke telaga[9] Khimkinskoye[10] untuk bersenang-senang naik perahu. Dalam perbincangan yang sengit, Chistye Prudy akhirnya ditetapkan jadi lokasi berjumpa. Akan tetapi sedari pagi hujan rintik turun dan ke pusat temu tersebut yang datang hanya aku dengan Pavlik[11]Arshansky, Nina Barysheva dan Zhenya Rumyantseva. Nina datang karena di hari libur dia tak ingin tinggal di rumah, aku datang karena Nina, Pavlik – karena aku, sedangkan mengapa Zhenya datang, bagi kami tampaknya ketika itu tidak jelas. Zhenya tidak pernah hadir di dalam pesta perjamuan kami yang sederhana, tidak pernah pergi bersama kami ke gedung bioskop, ke Park Kultury,[12] dan ke Hermitage.[13] Tidak ada seorang pun yang dapat menduga-duga sikap diam Zhenya, hanya dia memang tidak punya cukup waktu: dia mengerjakan suatu aktivitas pada kelompok astronomi di bawah Universitas NegeriMoskow[14] dan masih melakukan sesuatu di planetarium. Kami menghormati arah dari tujuan tertentu Zhenya tersebut dan tidak ingin mengganggunya. Kami pun akhirnya berkumpul di sebuah tempat besar yang tembus air, di bawah payung raksasa yang terbuat dari kayu di tengah jalan besar. Hujan kadang besar dan berisik, mendera tanah, kadang jadi mengecil ke hampir rintik-benang yang tidak terlihat dan tidak terdengar, tetapi tidak berhenti barang sebentar juga. Awan kelabu yang tak putus-putus tanpa celah cahaya menuju ke atap-atap rumah. Tidak ada pikiran lagi mengenai Khimki.[15] Akan tetapi Zhenya  dengan keras hati membujuk kami untuk pergi. Inilah untuk pertama kalinya dia membiarkan dirinya melakukan penyimpangan kecil terhadap aturan biasanya yang keras dan bagaimana pun itu perlu, bisa-bisa kami dapat sangat beruntung!. Pada kancing jaket beludrunya bergantung bungkusan roti dan lauk-pauknya. Tampak, bahwa sesuatu yang ada di dalam bungkusan itu sangat menyentuh hati. Bagi benak Zhenya, agaknya, tidak pernah sampai, bahwa dapat saja makan pagi di zakusochnaya,[16] di kafe atau bahkan di restoran, seperti yang kami lakukan pada saat perjalanan. Lantaran rasa iba terhadap bungkusannya itu aku pun menawarkan:

“Mari kita bersenang-senang di kolam.” Aku menunjuk ke arah perahu[17]yang tua dan meretak, yang memiliki haluan menjulang dari bekas kayu penyangga gerbong pengangkut barang.[18] “Dan kita akan berimajinasi, bahwa kita sedang ada di Khimki.”

“Atau di laut Mediterranea,”[19] sela Pavlik.

“Atau di samudera Hindia!”[20] sambung Zhenya dengan penuh semangat. “Atau di pantai Greenland!”[21] katanya lagi.

“Kita tidak akan tenggelam?” tanya Nina. “Dan ini patut disesali: aku sebenarnya diajak ke pertunjukan pertama[22] di Moscow Arts Theatre,”[23] kata Nina lagi.

Dayung tidak ada. Kami pun mengambil dua buah papan di pinggiran, mengeluarkan air dari perahu dan kami memulai perjalanan berlayar keliling dunia. Sedikit kemungkinannya, bahwa seseorang dari kami, kecuali Zhenya, yang merasakan kesenangan akan hal itu. Ketika aku dan Pavlik dengan tanpa semangat mengayuhkan kayu di atas air, Zhenya mereka-reka jalur perjalanan. Begitulah kami melewati selat Bosporus,[24] melalui terusan Suez[25] kami masuk ke laut Merah,[26] dari sana ke laut Arab,[27] kemudian bertolak ke kepulauan Sunda Besar,[28] ke Philipina dan masuk ke lautan Pasifik.[29] Karakter kekanak-kanakkan Zhenya yang kasip tampak manis dan mengharukan, tetapi di dalam dirinya ada sesuatu yang ketika itu menyusahkan hatinya:

“Lihatlah!” kata Zhenya sambil menunjuk ke suatu arah, yang memperlihatkan, bahwa di balik ranting-ranting pohon yang berkilau lantaran hujan, pilar-pilar gedung bioskop Kolizei[30] yang basah tampak menghitam penuh kemuraman. “Itu pohon kelapa, pohon sulur-suluran,[31] dan gajah-gajah: kita terbawa ke pantai India!”

Kami jadi saling berpandangan. Hal itu biasa terjadi pada usia tujuh belas tahun, kita mempertahankan kehidupan pribadi sendiri, yang rapuh, yang mudah dilukai oleh lempeng baja ejekan yang disengaja, sinisme yang halus, dan kita tidak mengerti, bagaimana kita dapat begitu naif memperlihatkan diri sendiri.

“Kita mendekati kepulauan Solomon[32] yang mengerikan!” Zhenya mengumumkan dengan suara yang mendatangkan ketidakberuntungan.

“Benar!” Pavlik, orang yang paling baik di antara kami, mengulangi. “Dan itu orang-orang setempat-pemakan manusia,” tunjuknya ke arah sekelompok anak-anak Chistye Prudy, yang berhenti di sekitar pagar keliling telaga untuk merokok. Pelayaran kami yang menjenuhkan, yang menembus hujan, pun berlanjut. Zhenya dengan tanpa lelah memberikan perintah: “Kemudi ke kanan!”, “kemudi ke kiri!”, “naikkan layar!”, “turunkan layar!”, dan dia menemukan jalan berdasarkan letak bintang. Kompas kami rusak saat badai. Dan itu memberinya kesempatan untuk menjamu kami dengan kuliah astronomi, yang aku hanya ingat, bahwa di ekuator langit berbintang seolah-olah terbalik. Kemudian kami harus menanggung malapetaka, Zhenya memberi kami kue keringnya yang terakhir: roti dan lauk-pauknya yang jadi basah. Dengan murung kami mengunyahnya dan Zhenya berkata, bahwa dia sangat tertarik dengan kehidupan Robinson Crusoe.[33] Aku lelah, basah karena air, dan tangan yang memegang bilah papan-pendayung pun aku angkat. Itu membuatku jadi orang yang tak kenal rasa iba dan aku berkata, aku tidak tahu, jika ada buku yang lebih picik dibandingkan Robinson Crusoe.

“Seluruh isi buku penuh oleh kesibukan sempit terhadap makanan, pakaian dan perkakas. Itu tabel harga makanan dan barang rongsokan yang tidak ada habis-habisnya! Itu himne bagi kehidupan rumah tangga yang khusuk!”

“Dan saya tidak tahu apa pun yang lebih menggelorakan dibandingkan hal itu, hal yang kau bilang sebagai tabel harga!” kata Zhenya dengan butiran air di matanya. “Betapa banyak kebebasan di buku itu, sajak-sajak dan mimpi…..”

Perdebatan kami dihentikan oleh Nina Barysheva. Dia tiba-tiba berkata:

“Hore! Di depan ada pantai!”

“Mana? Di mana?” kata Zhenya dengan terkejut.

“Itu, di dekat gerbong pengangkut barang,” kata Nina dengan suara yang sama dan sangat menjemukan. “Sudah, kita telah sampai! Kawan-kawan,[34] aku bisa mati kedinginan, tanpa segelas konyak[35] aku tidak akan mampu mengatasi.”

“Mari kita ke Pokrovka,[36] ke kafe musim panas,”[37] aku mengajak.

Zhenya memandang kami dengan tertegun, pipinya jadi berwarna merah jambu. “Ada apa?” katanya dengan begitu gagah. “Kalau pergi minum[38] ya pergi!”

Kami memasukkan perahu di bawah kayu penyangga gerbong pengangkut barang, kemudian keluar ke arah pantai dan seketika itu juga kami langsung berhadapan dengan Lyalik,[39] kenalan lamaku yang bukan teman. Selama tahun-tahun belakangan ini manusia muda yang berandalan tersebut ada di penjara. Dia sangat kuat, pundaknya lebar, memandang dengan mengernyit dan mengesankan dirinya sebagai penjahat kawakan. Setelah bersejajar dengan kami, Lyalik membenturkan pundaknya yang satu kepadaku, yang lainnya kepada Pavlik dan memaki-maki dengan kasar. Sekarang, di dalam lingkaran cahaya kejayaan perbuatan kriminalnya, dia tahu, bahwa dia tidak memiliki resiko apa pun. Rasa takut kami bukan dimunculkan oleh dirinya, melainkan oleh reputasinya. Dia menindas kami dengan keagungan yang muram dari takdirnya. Kami merasa diri sendiri seperti manusia rewel yang hina, seperti anak bunda yang manja. Bagaimana juga kami mampu bertanding kekuatan dengan manusia yang telah kehilangan akal seperti Lyalik.

“Jangan kau berani memaki-maki, bajingan!” teriak Zhenya. Dia tidak tahu siapa Lyalik, yang dengan diam-diam berputar dan melangkah menuju kami. Akan tetapi Zhenya memotongnya di pertengahan jalan. Dia menarik ke bawah penutup kepala Lyalik yang usang dengan ujungnya  yang sudah patah ke arah hidung sang bajingan, dan dengan sekuat tenaga mendorong dada Lyalik. Sang bajingan pun melayang ke arah kawat pagar dan melewati kawat pagar dia berjungkir balik ke atas rumput, dan jelaslah seketika itu juga, bahwa Lyalik hanyalah seorang bocah, seperti halnya aku dan Pavlik. Dan seluruh tampangnya yang menyeramkan sama sekali tak ada harganya lagi.

“Mengapa kamu mendorongku?” gumam Lyalik dengan lirih, seraya berusaha menarik penutup kepala, yang ada tepat di kedua matanya. Kemudian kami duduk di kafe musim panas di bawah tenda payung dengan motif lajur-lajur yang basah, meminum kopi hitam dengan konyak dan makan gelato.[40] Zhenya, seraya mengernyit, meminum segelas kecil konyak dan tidak tahu bagaimana kejadiannya, jepitan rambut dan harspel-nya secara bersamaan jatuh dari rambutnya yang menggunduk dan lebat, wajahnya jadi memerah dan dia mulai menamai dirinya sebagai peminum berat dan seorang yang kehilangan jiwa. Kami jadi sedikit malu karena dia, kami khawatir, bahwa pekerja kafe tidak akan memberikan konyak lagi kepada kami, lantaran Zhenya masih belum menyerupai seorang gadis yang umurnya lebih tua dari yang seharusnya, seperti halnya di kafe tersebut, dengan rambut kusut dan pakaiannya yang di sepanjang waktu melampaui kedua lututnya. Dan Zhenya berkata, bahwa dia ingin mati di dalam penerbangan luar angkasanya yang pertama, karena tidak boleh sama sekali menguasai ruang angkasa tanpa pengorbanan dan kematian itu lebih baik baginya, lebih patut dihormati, dibandingkan hal yang lain. Kami mengetahui, bahwa dia berkata penuh keikhlasan dan dengan tidak bersyak wasangka terhadap keunggulan jiwa sendiri, hal yang demikian membuat kami jadi merasa rendah. Kami tidaklah seperti itu, bahkan meskipun di bawah pengaruh konyak dan kami memerlukan, meski entah bagaimana,  kesempatan untuk bertahan.

Selebihnya Zhenya tidak lagi bersama kami. Bukan hanya sekali kami mengundangnya untuk hadir ke pertemuan kami, tetapi dia  menampiknya lantaran tidak ada waktu, bisa jadi, dia memang sungguh-sungguh tidak punya cukup waktu, begitu banyak keberhasilan yang dia perlukan! Lantas bagaimana, jika pada hari satu-satunya itu dia datang karena aku dan karena aku juga dia pergi, setelah berkata dengan kejujuran yang berbesar hati: “Tidak berhasil…”

“Mengapa dulu kamu diam saja, Zhenya?” tanyaku.

“Untuk apa mengatakannya kepadamu? Nina Barysheva begitu tertarik kepadamu!”

Dengan perasaan kehilangan yang kecewa dan sedih, aku berkata:

“Di manakah dan kapan kita akan berjumpa?”

“Selang sepuluh tahun, tanggal dua puluh lima Mei, pada jam delapan malam, di bentangan tengah[41] di antara pilar-pilar teater Bolshoi.”

“Dan jika di sana jumlah pilarnya gasal?”

“Di sana ada delapan pilar, Seryozha…Pada waktu itu saya akan menjadi astronom ternama,” tambahnya dengan penuh keinginan, impian dan keyakinan yang teguh. “Sekiranya saya begitu berubah, kau dapat mengenaliku lewat potret-potret.”

“Baiklah, pada saat itu aku juga akan menjadi terkenal,” kataku dan aku berhenti barang sebentar: aku masih benar-benar belum membayangkan, di dalam bidang apa, aku ditakdirkan akan menjadi tersohor dan aku bahkan masih belum mengambil keputusan, ke fakultas mana aku mesti menyerahkan semua dokumen:[42] “Bagaimanapun juga, aku akan datang dengan mobil sendiri…” Itu benar-benar bodoh, tetapi aku tidak menemukan apa pun untuk dikatakan.

“Baguslah kalau begitu,” Zhenya tertawa, “kau akan mengajakku berkeliling kota…”

Tahun-tahun berlalu. Zhenya belajar di Leningrad[43], aku tidak mendengar apa-apa mengenai dirinya. Pada musim dingin tahun 1941, dengan keinginan yang besar aku berusaha mencari berita mengenai takdir kawan-kawanku, aku mengetahui, bahwa Zhenya pada hari pertama perang[44] meninggalkan institut dan masuk ke sekolah penerbang. Pada musim panas tahun 1944 aku terbaring di rumah sakit dan mendengar lewat radio keputusan tentang penganugrahan gelar pahlawan kepada mayor penerbang Rumyantseva. Ketika akukembali dari perang, aku baru mengetahui, bahwa gelar pahlawan itu diberikan kepada Zhenya karena dia telah gugur secara heroik di medan perang.

Hidup terus berjalan lebih jauh. Kadang dengan tiba-tiba aku mengenang perjanjian kami dan untuk beberapa hari sebelum batas waktu aku merasakan kegelisahan yang begitu pedih, begitu menyakitkan, seolah seluruh tahun yang telah lalu hanya aku persiapkan bagi pertemuan tersebut.

Aku tidak menjadi orang ternama, sebagaimana yang aku janjikan pada Zhenya, tetapi di dalam satu hal aku tidak menipunya: aku memiliki opel tua, yang aku beli dengan harga jatuhan di tempat pembuangan mobil rampasan. Aku mengenakan pakaian baru dan pergi ke teater Bolshoi. Sekiranya saja aku di sana bertemu Zhenya, aku akan mengatakan kepadanya, bahwa setelah semua pengelanaan akhirnya aku menemukan jalan sendiri: aku menerbitkan buku cerita, sekarang aku sedang menulis yang kedua. Itu bukanlah buku-buku, yang sebenarnya ingin aku tulis, tetapi aku percaya, bahwa aku akan menuliskan buku-buku tersebut sampai selesai.

Aku memarkir mobil di dekat taman umum, membeli bunga bakung di seorang perempuan penjual bunga dan menuju ke tengah-tengah rentangan di antara pilar-pilar teater Bolshoi. Dan jumlahnya memang benar delapan. Aku tidak lama berdiri di sana, kemudian aku berikan bunga bakung tersebut kepada seorang perempuan kurus bermata kelabu dan pulang ke rumah.

Aku ingin sekejap saja menghentikan waktu, menoleh pada diri sendiri, pada  tahun-tahun yang telah terlewati, mengenang seorang gadis yang mengenakan pakaian pendek dan koftochka yang kesempitan, mengenang perahu yang berat, tetapi bergerak dengan cekatan,  mengenang hujan kecil, yang menaburi permukaan kolam yang berwarna kekuning-kuningan dengan sulur berduri,  mengenang teriakan yang mengharukan: “Kita terbawa ke India!”, mengenang kebutaan jiwa masa muda sendiri dan jiwa masa muda tersebut dengan begitu mudah melalui sesuatu, yang bisa saja menjadi takdir. (*)

Sumber                                    : Zelenaya Ptitsa s Krasnoy Golovoy (Burung Hijau dengan Kepala

Berwarna Merah)

Judul dalam bahasa Rusia       : Zhenya Rumyantseva

Penerbit                                   : Moskovsky Rabochy, 1966

Pengarang                               : Yury Nagibin

Biografi Pengarang                 : Yury  Markovich Nagibin (1920-1994)  merupakan  sastrawan- penulis prosa, jurnalis  dan seorang penulis skenario. Ayah asli Yury Markovich Nagibin adalah Kirill Alexandrovich Nagibin, yang   ditembak   mati   pada tahun   1920,  karena   menjadi anggota  white  guard.   Ketika  itu    Kirill  Alexandrovich meninggalkan   seorang    istri, Kseniya Alekseyevna, yang  sedang mengandung dan meminta kawannya, seorang advokat  bernama Mark Levental,  yang  namanya  kemudian dilekatkan menjadi  patronymic (nama ayah)  pada sang sastrawan,  untukmelindungi    keluarganya.Karya-karya Yury Markovich Nagibin   antara   lain:  The  Double  Mistake,   The  Man From the   Front,  The   Core   of   Life,  The   Commanding   Height,  Difficult Happiness, In Early Spring, Far and Near.

Penerjemah                              : Ladinata, Staf Pengajar Fakultas Ilmu Budaya Unpad Bandung

Sumber gambar                       : http://nnm.me/blogs/spiridonn/yuriy-markovich-nagibin-dnyu-rozhdeniya-posvyashaetsya/ / http://iknigi.net/avtor-yuriy-nagibin/80523-chistye-prudy-sbornik-yuriy-nagibin.html

Catatan kaki: 

[1] Terjemahan dalam bahasa Indonesia diberi judul Teater Bolshoi. Teater ini terletak di kota Moskow dan didirikan atas perkenan Prince Peter Urusov pada tanggal 17 Maret 1776. Awalnya hanya 13 aktor dan 9 artis, 4 penari perempuan dan 3 penari laki-laki dengan seorang koreografer dan 13 pemain musik yang melakukan unjuk seni di sini. Bolshoi dibaca Balshoi: karena tekanan ada pada huruf o kedua, sehingga huruf o pertama dilafalkan jadi a dan artinya besar

[2] Nama diminutif Sergey

[3] Sejenis mantel

[4] Bahasa Rusia untuk kata blouse

[5] Sejenis tusuk rambut, misalnya yang dipakai oleh wanita berkonde

[6] Sejenis penyatu rambut yang bentuknya seperti sisir

[7] Ungkapan khusus yang menyatakan: manusia dengan martabat moral yang tinggi

[8] Artinya kurang lebih Kolam Jernih, merupakan nama stasiun subway yang diinsinyuri oleh Nikolai Koli di Moskow. Sebelum tahun 1703 namanya Poganey Prud. Selain nama stasiun subway, nama Chistye Prudy merujuk (secara lebih dulu) ke area kolam modern, yang memiliki area 1,2 hektar dengan kedalaman rata-rata 1,2 meter

[9] Di sini maksudnya telaga buatan. Telaga buatan Khimkinskoye memiliki volume air 29 juta m3, area seluas 4 km2, lebar 0,8 km, panjang sekitar 9 km dan kedalaman sampai 17 meter. Tempat ini merupakan tempat tamasya

[10] Bentuk kata sifat untuk kata benda Khimki

[11] Nama kesayangan dari Pavel

[12] Artinya kurang lebih Taman Budaya, merupakan nama stasiun subway, yang dibangun pada tanggal 15 Mei 1935. Lokasi subway dekat dengan Gorky Park of Culture and Leisure, yang terletak di sepanjang pinggiran sungai Moskow

[13] Merupakan museum besar di Saint Petersburg, tetapi di sini mengacu ke nama restoran yang sangat terkenal di Moskow. Sekarang gedungnya menjadi the Moscow School of Modern Drama Theatre

[14] Universitas ini dinamakan dengan nama seorang sastrawan dan akademikus Rusia abad 18: Mikhail Lomonosov, yang merupakan pendirinya di tahun 1755. Dulunya universitas ini terletak di tengah kota Moskow di jalan Mohovaya. Sampai sekarang beberapa departemen masih ada di sana. Bangunan induk kira-kira ada 60 gedung dan tower sentral, yang seperti wedding cake berlokasi di Sparrow Hills. Jumlah tampungan mahasiswa kira-kira 50.000 orang

[15] Nama kota yang berasal dari nama sungai Khimka, sejak tahun 1939 masuk menjadi bagian dari kota Moskow

[16] Snack bar, semacam tempat untuk makan makanan kecil

[17] Maksudnya ploskodonka, perahu yang dasarnya datar

[18] Maksudnya teplushka, gerbong pengangkut barang

[19] Nama lainnya Laut (-an) Tengah, merupakan laut yang berhubungan dengan Lautan Atlantik dan dikelililingi oleh Mediterranean region. Di bagian utara Lautan ini dibatasi oleh Anatolia dan Eropa, di selatan oleh Afrika Utara dan di timur oleh Levant

[20] Samudera terbesar ketiga terbesar di dunia, yang menutupi kira-kira 20% permukaan bumi. Samudera Hindia dibatasi di utara oleh anak benua India, di barat oleh Afrika Timur, di timur oleh Indochina, Kepulauan Sunda dan Australia, dan di selatan oleh Samudera Selatan (atau tergantung pada penamaan, oleh Antartika)

[21] Merupakan pulau terbesar di dunia dan memiliki lapisan es terbesar kedua di dunia. Terletak di antara Artika dan Atlantik Utara

[22] Maksudnya première

[23] Maksudnya Moskovsky Khudozhestvenney Akademichesky Teatr, yang didirikan pada tahun 1898 oleh Konstantin Stanilavsky dan penulis drama-sutradara Vladimir Nemirovich-Danchenko. Moscow Arts Theatre merupakan tempat bagi teater naturalistik, yang kontras dengan teater-teater Rusia yang ketika itu didominasi oleh melodrama

[24] Dikenal juga dengan nama selat Istambul, merupakan selat yang membatasi Eropa dan Asia

[25] Merupakan terusan atau jalan air laut buatan di Mesir yang menghubungkan Laut Mediterranea dan Laut Merah. Dibuka pada bulan November 1869

[26] Merupakan teluk air laut  kecil dari samudera  Hindia, yang dibatasi di timur oleh India, di utara oleh Pakistan dan Iran, di barat oleh semenanjung Arab, di selatan, kira-kira, oleh garis di antara Guardafui di Somalia Timur Laut dan Kanyakumari di India

[27] Bagian dari samudera Hindia dan dibatasi oleh semenanjung Arab di sebelah barat dan semenanjung Hindustan di bagian timur Laut

[28] Merupakan gugusan pulau di Indonesia bagian barat, yang meliputi: Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Sumatra

[29] Nama lainnya lautan Teduh, merupakan bagian lautan bumi yang terbesar. Terbentang dari Artika di utara sampai ke lautan Selatan di selatan, dibatasi oleh Asia dan Australia di barat, dan Amerika di timur

[30] Terletak di bagian bernomor ganjil di Chistoprudney Boulevard. Gedung Kolizei (Coliseum) yang bernomor 19a ini dibangun kira-kira pada tahun 1904 dan diarsiteki oleh R. I. Klein. Sekarang menjadi teater Sovremennik

[31] Maksudnya liana, sejenis tumbuhan tropis yang merambat pada pohon lain

[32] Merupakan negara berdaulat di Oceania. Ibukotanya Honiara, yang terletak di pulau Guadalcanal dan merupakan anggota Commonwealth of Nations

[33] Merupakan novel karya Daniel Defoe yang dipublikasikan pertama kali pada tahun 1719. novel ini merupakan otobiografi  fiksi dari Robinson Crusoe, yang terdampar selama 28 tahun di sebuah pulau tropis dekat Venezuela

[34] Maksudnya malchiki, para kawan laki-laki

[35] Maksudnya cognac, minuman brendi berkualitas tinggi, yang biasanya disuling dengan baik di Cognac di Perancis sebelah barat

[36] Nama jalan di Administrasi Distrik Pusat Moskow, yang didasarkan pada nama tserkov’ Pokrova Bozh’yey Materi atau dalam bahasa Inggris disebut dsengan Church of the Intercession of the Mother of God. Tahun 1940-1992 nama jalan sempat diubah menjadi Chernyshevsky Street, untuk menghormati Nikolay Gavrilovich Chernyshevsky (12 Juli 1828 – 17 Oktober 1889): seorang revolusioner demokrat, kritikus, sosialis dan pemikir materialis

[37] Maksudnya kafe outdoor, kafe di luar ruang

[38] Maksudnya minum alkohol dalam kadar yang banyak

[39] Nama diminutif Alexey

[40] Maksudnya ice cream atau es krim

[41] Maksudnya bay, istilah arsitektur untuk menamai bagian gedung yang ditandai oleh elemen-elemen vertikal, dalam soal ini pilar teater

[42] Maksudnya ijasah dan hal-hal yang bertalian

[43] Penamaan untuk kota Saint Petersburg pada tahun 1924-1991

[44] Perang melawan Jerman tahun 1941-1944

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerpen

Samuel Beckett: Molloy

mm

Published

on

Aku ada dikamar Ibu. Sekarang aku memang tinggal di sana. Aku tak tahu, bagaimana aku bisa sampai ke sana. Barangkali dengan ambulans, sejenis kendaraan atau angkutan tertentu. Aku tidak betah. Heran. Aku tak pernah disana sendirian.

Ada seorang laki-laki yang rutin berkunjung setiap minggu. Mungkin aku harus berterima kasih padanya. Dia tidak banyak bicara. Dia memberiku uang dan mengambil berkas-berkas. Lebih banyak berkas, akan lebih banyak uang. Ya, aku bekerja sekarang. Setidak-tidaknya, yang kuangankan, sedikit mirip. Lagi pula aku tidak tahu persis, bagaimana sesungguhnya bekerja itu. Agaknya ini tidak penting.

Apa yang sesungguhnya kuinginkan sekarang adalah membicarakan hal-hal yang telah lewat, mengucapkan selamat tinggal, lalu mengakhiri dengan kematian. Tetapi mereka tak mengiinginkan hal itu terjadi padaku. Ya, kukatakan mereka, karena lebih dari satu—tampaknya begitu. Tetapi, hanya orang itu-itu saja yang datang. Kamu akan bisa mengerjakannya nanti, katanya. Baguslah.

Nyatanya, aku tak akan membiarkan semua ini terus tertinggal. Yaitu ketika dia datang dengan berkas-berkas baru yang ia bawa minggu berikutnya. Mereka sibuk menandai dengan tanda-tanda yang sama sekali tidak kumengerti. Karena itu, aku sengaja tak membacanya. Dan ketika aku tidak mengerjakan apa-apa, mereka tidak memberiku apa-apa. Bahkan mengancamku.

Sebenarnya aku tidak bekerja demi uang. Lalu, untuk apa? Aku tidak tahu. Sungguh, aku tidak tahu banyak. Sebagai contoh, kematian Ibu. Apakah berliau sudah meninggal waktu aku datang? Ataukah beliau meninggal kemudian, yaitu baru meninggal beberapa saat setelah kedatanganku?

Kukira Ibu sudah dimakamkan. Entahlah. Mungkin mereka malah belum menguburkannya. Yang pasti, di sisi lain, aku memiliki kamarnya. Aku tidur di ranjangnya. Aku buang air dan meludah di pispotnya. Aku sudah mengambil alih tempatnya. Barangkali, semakin lama aku semakin mirip dengannya.

Yang lebih kubutuhkan sekarang sebenarnya seorang anak laki-laki. Barangkali suatu saat nanti aku akan memiliki satu. Tapi kupikir tidak. Dia sudah sangat tua sekarang. Hampir setua aku. Dia hanyalah pelayan rendahan. Ini bukan cintaku yang sesungguhnya.

Cinta yang sejati telah kupersembahkan pada orang yang lainnya lagi. Kita akan membicarakannya setelah ini. Namanya? Ah, aku sudah lupa. Dan agaknya, bagi diriku sendiri, kadang-kadang seakan aku merasa begitu mengetahui ihwal anak laki-lakiku tadi. Aku bentul-betul menganguminya. Kemudian aku meyakinkan diriku kalau itu tidak mungkin. Seperti juga tidak mungkinya aku dapat mengagumi orang lain. Aku bahkan sudah lupa, bagaimana mengeja dan memilah kata-kata. Tampaknya ini tidak penting.

Baiklah. Dia adalah kartu ajaib bagiku, yang datang secara khusus untuk menjengukku. Agaknya dia datang hanya setiap hari Minggu. Pada hari-hari yang lain, dia libur. Dia selalu keharusan. Dialah yang membentakku kalau aku mulai mengerjakan sesuatu yang menurutnya salah; dan aku seharusnya mengerjakannya secara berbeda. Mungkin dia benar. Aku harus memuliai dari permulaan lagi; seperti meneliti suatu kesalahan yang usang dan membingunkan—bisakah kalian bayangkan?

Ini permulaan bagiku. Mungkin karena itulah mereka membiarkannya saja.Aku menemui banyak kesulitan. Padahal ini baru permulaan—kalian lihat? Seolah-olah sekarang aku sedang mendekati titik akhir. Apakah yang kukerjakan saat ini jauh lebih baik? Entahlah.

Kota itu tidak jauh. Ada dua orang, mungkin tidak mudah kalian pahami. Yang satu pendek, yang satunya lagi lebih tinggi. Mererka bergerak meninggalkan kota. Mula-mula yang satu, kemudian yang lainnya. Dan kemudian, dengan susah-payah mereka mengingat-ingat semua perbuatan yang telah mereka kerjakan. Udara dingin menusuk tajam, sehingga mereka mengenakan mantel-mantel tebal. Mereka tampak serupa satu sama lain.

Tetapi tak ada lagi yang mereka kerjakan. Pada awalnya jarak yang lebar membentang diantara mereka. Mereka tidak saling melihat. Padahal mereka sudah mencapai keadaan di mana kepala mereka saling berhadapan. Namun, dikarenakan jarak yang lebar, ruang yang lapang, dan kemudian karena tanah yang bergelombang yang menyebabkan jalanan jadi ikut bergelombang—meskipun tidak curam dan terjal tapi cukup berkelok. Tetapi saatnya tiba, ketika mereka berdua tiba di sebuah ruang yang sama dan akhirnya tikungan-tikungan itu bertemu.

Untuk mengatakan bahwa mereka saling memperkenalkan diri, tidak, tidak ada apa pun yang jadi jaminannya. Tetapi, barangkali dari suara langkah-langkah kaki atau ditandai gemerisik uap insting yang samar-samar, mereka saling mendongakkan kepala dan saling menyelidiki satu sama lain, untuk menentukan langkah-langkah yang baik sebelum akhirnya mereka berhenti dan saling berhadapan.

Ya, mereka tidak saling melewati, tetapi mengendap-endap, berhadap-hadapan, mengadu wajah seperti ketika di desa: pada suatu senja di ruas jalan yang sejuk, dua sosok bayang-bayang saling berkelebat, tanpa terjadi sesuatu yang luar biasa. Tetapi barangkali saja mereka sudah saling mengenal satu sama lain, mengagumi satu sama lainnya, saling memuji, bahkan setelah mereka sampai ke sudut-sudut kota.

Mereka berjalan memutar, melewati laut yang ada di ujung timur. Jauh dari padang-padang rumput, memanjat cakrawala tinggi dengan menggubah sedikit kata-kata. Kemudian keduanya berjalan ke arah masing-masing. A melintasi kota, B melewati jalanan yang seolah teramat sulit untuk dia mengerti. Atau semuanya.

Selama dia pergi dengan langkah-langkah tak menentu dan terkadang terlalu sering menghentikan langkahnya untuk mengamati apa saja, dia seperti seseorang yang mencoba memperbaiki letak penanda batas-tanah-milik di dalam benaknya. Pada suatu hari, barangkali dia harus berkali-kali membalikkan langkahnya—kalian tak akan pernah tahu kenapa.

Dia tampak tua. Dan dengan pandangan mata penuh penyesalan, ia menekuri kesunyian yang telah ditempuhnya berabad-abad, bertahun-tahun, berhari-hari, dan bermalam-malam tanpa bernah berpikir untuk membiarkan keajaiban-keajaiban itu muncul justru pada hari kelahirannya, atau bahkan jauh-jauh hari sebelumnya.

Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Sekarang, perlahan, sebuah bisikan. Sekarang, lebih teliti dari apa yang telah dikerjakan seorang pelayan teladan. Dan selanjutnya? Sesudah itu? Dan sering pula muncul sebagai jeritan. Dan pada akhirnya, aku harus percaya padanya. Aku tahu, tinggal ini kesempatanku. Tinggal ini saja. Aku percaya lagi pada umur panjangku. Dan sekarang aku mengunyah apa saja dengan asyik.

Apa yang kubutuhkan sekarang adalah dongeng-dongeng yang membutuhkan waktu sangat lama untuk memahaminya, dan aku tidak yakin apakah itu ada, memberi informasi padamu, pada kalian, hal-hal tertentu; tentang benda-benda yang kuketahui, tentang hal-hal yang tidak kumengerti. Hal-hal yang begitu menyulitkanku, juga yang tak pernah menyulitkanku.

Apapun bahasanya. Apa pun istilahnya. Aku bahkan telah mempelajari apa profesinya, karena aku tertarik pada keahlian-keahlian. Dan berpikir: aku mencoba mengerjakan yang terbaik untuk tidak bercerita tentang diriku sendiri. Pada suatu ketika aku mungkin akan bercerita tentang ternak-ternak, tentang langit dan apa saja, apabila aku mampu melakukannya.

Aku di sana, kemudian dia meninggalkan aku. Dia tampak terburu-buru. Dia mengembara, seperti yang sudah pernah kukatakan pada kalian; tetapi, setelah tiga menit berbicara denganku, dia tampak terburu-buru. Aku percaya padanya. Dan sekali lagi, aku tak akan menceritakan diriku sendiri. Tidak, itu tidak seperti aku. Tetapi bagaimana aku harus mengatakannya, aku tidak tahu.

Memperbaiki diri sendiri, menyempurnakan diri sendiri, oh tidak. Aku tak akan bisa membiarkan diriku sendiri. Bebas. Ya. Aku tak tahu apa artinya itu, tetapi itulah kata yang kupilih dan kugunakan. Bebas untuk mengerjakan apa saja, bebas untuk tidak melakukan apa-apa, bebas untuk mengetahui—tapi apa? Mungkin hukum-hukum pemikiran; pemikiran-pemikiranmu sendiri yang serupa air mengalir secara proporsional ketika ia memutuskan untuk membasahimu. Dan kalian akan mengerjakan hal-hal yang baik, paling tidak, tidak terlalu buruk untuk menghapus teks-teks, menghilangkan margin-margin, mengisi lubang kata-kata, sampai segalanya menjadi kosong dan datar. Sehingga segala kesibukan yang tampaknya dahsyat, menakutkan dan tak berperasaan atau semacamnya menjadi tak terkatakan, sampai tak ada lagi isu kemiskinan. Jadi aku tak merasa ragu untuk mengerjakan semua yang lebih baik, paling tidak, tidak terlalu buruk, dan tidak menyusahkan diriku sendiri dengan serangkaian observasi tentang segala sesuatu yang akan terjadi nanti.

Aku memiliki cacat untuk dapat membangkitkan semangat orang lain, yaitu orang-orang yang bertongkat. Kemudian bisik-bisikan dan gumam-gumam itu kembali dimulai. Untuk bersunyi sendiri; mengembalikan peranan lebih dari sekadar objek-objek.

Kemudian, aku masih hidup. Mungkin kehadiranku masih berguna. Mahkota dan pakaian kebesaran kupandang sebagai sesuatu yang belum layak kubicarakan sekarang, karena masih terlalu dini. Tanpa ragu-ragu aku akan membicarakannya nanti, jika sudah tiba saatnya untuk membicarakan penemuan kebaikan-kebaikan serta harapan-harapan milikku. Jika tidak, aku akan merelakannya hilang, terselip di antara hari-hari sekarang dan nanti. Tetapi, bahkan ketika semua itu hilang, mereka tetap akan mendapat tempat, di dalam daftar semua barang kesayanganku. Tetapi, mudah bagi ingatanku; tidak seharusnya aku menghilangkannya. Seperti tongkat setiaku, yang tidak seharusnya kuhilangkan juga.

Barangkali sekarang aku sedang berada di puncak atau di lereng, di antara orang-orang penting dan terkenal, demi orang lain. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku dapat melihat begitu jauh, begitu dekat di tangan, begitu banyak hal yang tetap dan yang berpindah-pindah. Tetapi, apa yang akan dilakukan seseorang yang sudah sangat terkenal di tempat yang hampir-hampir tak beriak ini? Dan aku, apa yang kukerjakan di sini, dan kenapa mesti datang?

Ada banyak hal yang mesti kita coba dan temukan. Tetapi ada hal-hal tertentu yang tidak seharusnya kita pikirkan dengan serius. Ada sebagian dari segala sesuatu yang secara penampakan wajud lahirnya memiliki cacat tersendiri. Dan pada suatu ketika aku mungkin menjadi bingung oleh kontrasnya perbedaan-perbedaan itu. Tetapi pertentangan-pertentangan adalah tempat kediamanku. (*)

_______________________

*) Samuel Beckett: Peraih Nobel Prize for Literature 1969. Lahir di Dublin, Irlandia tahun 1906 dan meninggal tahun 1989 di Paris, Prancis. Beckett dianggap sebagai salah satu pengarang abad ke-20 yang paling inovatif dan berpengaruh. Hal ini berangkat dari keyakinannya, yang lalu membekas dalam karya-karyanya, bahwa hidup manusia adalah absurd, tidak jelas, keras, dan akhirnya tidak memiliki tujuan. Secara pribadi, ia gigih menyuarakan metafora-metafora tentang malaise moral manusia.

Beckett terutama dikenal sebagai penulis drama, tetapi ia juga menulis novel dan puisi. Ia telah menulis enam novel, empat naskah drama serta lusinan framen yang lebih pendek, selain sebuah esai dan satu kumpulan puisi. Tetapi yang membuat namanya dikenal adalah karya drama Waiting for Godot (1952) yang disebut-sebut sebagai drama paling penting dalam abad ke-20.

Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Keusastraan pada Beckett sebagai pengakuan: “…..untuk karangan-karangannya yang dalam serta mengungkap kekurangan manusia modern, mendapatkan tempat yang luhur lewat bentuk novel dan drama gaya baru…..

Beckett adalah sastrawan kedua Irlandia (Setelah William Butler Yeats tahun 1923) yang memperoleh penghargaan tersebut. Atau sastrawan ketiga setelah George Benard Shaw (tahun 1925) yang kemudian hijrah dan menjadi warga negara Inggris.

**) Penerjemah: Endang Susanti R.A.

 

 

 

Continue Reading

Cerpen

Kotak Kardus Aulina

mm

Published

on

Aulina berusia empat tahun tiga bulan ketika mengejutkan bapaknya dengan berkata, “belikan aku hape android. Aku mau liat youtube.” Bapaknya menyemburkan kopi pagi yang baru dihirupnya ketika itu. Pedagang peracangan itu meletakkan piring gelasnya yang masih berisi kopi, lalu memandang lekat-lekat bocah playgroup tersebut. “Apa yang kau katakan?” tanyanya tak percaya.

“Teman-teman bawa hape ke sekolah,” jawab si bocah. “Dan mereka liat youtube.”

Bapaknya mengangkat si bocah, lalu meletakkannya di pangkuannya. “Emangnya ada apa di youtube?

“Banyak Yah. Ada video-video bagus,” ujar si bocah. Lalu mulutnya nyerocos menceritakan lagu-lagu dan aneka jenis jogetan yang ia saksiksan di layar ponsel temannya, juga kisah seorang putri yang mampu menciptakan salju dari kibasan tangan atau bagaimana seorang putri artis seumuran dengannya menghabiskan hari di salon untuk mencuci rambut dan melumuri tubuh dengan krim entah apa. “Setelah itu, dia main kuda-kudaan dan sepatunya yang bagus robek,” sambung Aulina. Mulut mungilnya tampak menggemaskan dan matanya berkilauan. “Tapi dia pinter Yah, soalnya dia gak nangis,” tambahnya. Bapaknya tertawa sebelum mencubit pipinya.

“Kamu juga pintar. Hayo mandi sana. Sebentar lagi kamu harus berangkat. Mana ibumu?”

“Tapi hapenya?”

“Kamu kan masih kecil,” jawab bapaknya seraya tertawa.

Permintaan itu terus diulang Aulina hingga seminggu kemudian. Seiring hari, rengekan dan rayuannya lebih dahsyat dari sebelumnya. Bapak dan ibunya, yang mulanya mengira Aulina akan segera melupakan keinginannya, segera merasa terteror. Awalnya, mereka mencoba mengalihkan perhatian Aulina dengan mengajaknya jalan-jalan ke pasar kecamatan dan menjajaninya sosis goreng kesukaan si bocah. Itu berhasil membujuk Aulina, tapi tak lama. Keesokan harinya, Aulina kembali merengek. Ibunya mengambil boneka panda kesukaan Aulina dan mengulang dongeng bagaimana seorang bocah yang durhaka kepada orangtuanya dikutuk menjadi binatang yang di kemudian hari disebut panda. Biasanya, dongeng itu cukup mangkus meredam kerewelan Aulina. Namun tidak kali itu. Aulina berteriak bahwa ia bosan pada kisah panda dan satu-satunya yang ia ingini adalah hape android supaya ia bisa lihat youtube seperti teman-temannya di playgroup. Bapaknya tidak diam saja dalam episode runyam itu. Lelaki tiga puluhan tahun tersebut menyalakan televisi dua puluh satu inchi dan menyetelnya pada chanel yang menayangkan Shaun The Sheep. “Aku mau youtube,” Aulina kembali berteriak, kali ini sambil memuntahkan air mata. Pada hari kedelapan, tak tahan dengan rengekan tanpa akhir dan mustahil diredakan tersebut, mereka memarahi Aulina dan mengatakan beberapa perkara dengan cara yang tidak semestinya mereka gunakan kepada anak berusia empat tahun tiga bulan. Perkara-perkara itu meliputi bahwa Aulina selayaknya bersyukur bisa makan tiap hari dan berkesempatan merasakan playgroup dan tak perlu meminta yang aneh-aneh mengingat pekerjaan bapaknya yang hanya pedagang pracangan tak memungkinkan mereka untuk hidup mewah. Sementara cara tidak pantas yang mereka terapkan antara lain, berkata dengan suara keras dan cenderung membentak, mata merah, dan ludah yang berkali-kali muncrat menimpa wajah si bocah. Aulina sempat membantah perkataan bapaknya. Ia bilang bahwa Sri, yang sudah tidak punya bapak, bisa punya hape android. Bapaknya merespon ucapan Aulina yang terkesan meremehkan dan mencabik harga diri seorang bapak itu dengan sebuah tamparan di pipi yang merupakan puncak dari ketidakpantasan tersebut.

Hari itu, Aulina mengurung diri di kamar. Itu adalah suatu hari Minggu yang cerah. Likuran tahun sebelumnya, pada hari libur seperti itu, bapak dan ibu Alina akan menghabiskan waktu dengan bermain petak umpet atau sondah atau bentengan di luar rumah bersama kawan-kawan mereka. Namun hari itu, lingkungan sekitar mereka tampak kalis dari anak kecil. Orangtua Alina tahu, zaman sudah berubah. Tak ada lagi pemandangan bocah yang berlarian dan bermain di luar rumah hingga lupa waktu sehingga memaksa orangtua mereka untuk marah-marah menyuruh mereka pulang. Anak-anak kini lebih suka mendekam dalam rumah dengan gawai di tangan, menghabiskan hari dengan menekuri benda ajaib mungil tersebut. Mereka sesungguhnya menginginkan Aulina tumbuh seperti anak-anak lain sezamannya. Mereka tak ingin Aulina menjadi aneh karena merupakan satu-satunya anak yang tidak punya gawai. Namun apa daya, mereka memang belum memiliki cukup uang untuk memenuhi keinginan tersebut.

Di dalam kamar, Aulina menghabiskan hari dengan menangis dan terus menangis. Ia tidak mempedulikan panggilan ibunya dan malah memperkeras volume tangisannya. Bapaknya, alih-alih ikut membujuknya, justru menyibukkan diri dengan barang dagangan. Kepada istrinya, lelaki itu hanya berkara singkat, “nanti kalau capek juga berhenti nangis.”

Kenyataannya, bukan Alina yang capek, melainkan ibunya. Dan pada akhirnya, capek  membujuk Alina, ibunya menyetujui pendapat suaminya. Mengerti bahwa ibunya juga tidak lagi berusaha membujuknya, Aulina malah menjadi-jadi. Ia tidak hanya menangis, melainkan juga membongkar kotak mainannya dan melempar-lemparkan isinya. Sisi si boneka berambut merah terlontar hingga ambang pintu, panci dan kompor plastik kecil berserakan di bawah meja, buku cerita bergambar robek beberapa halaman, dan bola-bola plastik kecil aneka warna bergelindingan ke seantero ruangan.

Kotak mainan itu sesungguhnya adalah kardus bekas bungkus televisi dua puluh satu inchi dan cukup besar untuk menyembunyikan tubuh Aulina. Setelah mengosongkan kardus tersebut dan ibunya tidak kunjung muncul, Aulina meneruskan ngambeknya dengan memasuki kardus tersebut. Di sanalah, kelelahan menangis dan mengacak-acak mainannya, ia jatuh tertidur.

Belum lama matanya terpejam ketika ia merasa terjatuh. Tubuhnya yang payah membuatnya terlelap dengan cepat ketika otaknya belum siap. Otak itu, merespon tubuh yang tiba-tiba lemah, memerintahkan otot untuk bersiap dan menegang. Itulah sesungguhnya yang terjadi namun Aulina mengira ia terpeleset lantas terjatuh dalam tidur. Ia tersentak dan terbangun. Dan di sanalah ia menemukan dirinya, di antara gumpalan salju, langit biru cerah, dan angin yang membawa lagu-lagu merdu. Lagu itu memiliki syair dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Namun tubuhnya bergoyang secara intuitif. Semua terasa begitu asing, tentu saja. Namun alih-alih takut, ia justru tertawa. Ia melonjak-lonjak. Rambutnya terkibas kencang hingga ujungnya terjuntai ke depan dadanya. Ia terkejut. Rambutnya hanya sepanjang bahu. Jadi mustahil rambut itu bisa terkibas hingga ke dada. Ia meraba rambutnya. Panjang hingga pantat dan terkepang. Warnanya merah tembaga. Mengingatkannya pada rambut seorang putri yang mampu menciptakan salju dari kibasan tangan. Dan pada waktu itu pula ia menyadari bahwa tubuhnya juga telah berubah. Dadanya membusung. Ia merabanya. Ia menjerit mendapati dua buah dada besar kencang di sana. Ia meraba pinggulnya. Jauh lebih besar dari yang ia ingat. Bajunya juga bukan baju motif polkadot yang ia kenakan sebelumnya, melainkan gaun seperti yang ia lihat dalam video youtube yang dikenakan oleh para putri.

Aulina tak tahu apa yang terjadi. Dan perutnya mulai bernyanyi. Ia lapar.

Ia mengamati sekelilingnya lebih cermat. Hamparan yang begitu luas, seperti tak terbatas. Gumpalan salju jauh lebih banyak dari yang ia sangka, menjadikan lanskap itu seakan medan berwarna putih semata. Dan itu membuatnya takut. Ia berteriak. Lanskap mengembalikan teriakannya. Itu membuatnya semakin kalut. Ia berteriak lebih kencang. Dan pantulan yang ia dengar lebih mengerikan. Ia berlari. Ia memanggil ibunya. Ia memanggil bapaknya. Namun tak ada sahutan. Ia berlari lebih kencang, sekencang yang ia bisa. Hamparan itu, kenyataannya, bukannya seperti tak terbatas, melainkan memang tak memiliki batas. Aulina mengira ia telah berlari sepanjang hari namun yang membentang di depannya tetaplah hamparan putih dengan gundukan salju terserak di mana-mana. Beberapa saat kemudian, sebuah gundukan salju menghalangi langkah kakinya. Ia terantuk dan terjatuh dengan muka membentur lantai terlebih dahulu. Ia merasa semua menggelap dengan cepat. Ia menangis. Namun tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya.

Aulina terbangun dua jam kemudian, ketika tangan ibunya menepuk-nepuk pundak dan pipinya. “Kamu kok tidur di sini? Ayo bangun,” ujar ibunya. Aulina menguap pelan. Lalu celingukan.  Tak ada hamparan tak bertepi dengan gundukan salju di sana-sini. Tak ada langit biru cerah. Tak ada angin yang menyanyikan lagu-lagu dengan lirik dalam bahasa yang ia tidak mengerti. Ia meringkuk dalam kotak kardus bekas bungkus televisi yang digunakan sebagai kotak penyimpan mainannya. Ia berada dalam kamarnya belaka, dengan langit-langit internit yang dikotori sejumlah sarang laba-laba. Ia meraba rambutnya. Sebahu dan tidak terlalu tebal. Ia menyentuh dadanya. “Ibu,” ia berkata lirih seraya menatap ibunya. Matanya berkaca-kaca.

“Hei, apa itu?” sang ibu mengangkatnya. “Apa yang terjadi di sini?”

Di dalam kardus itu, terserak butiran-butiran berwarna putih. Basah dan dingin.

“Kau tak apa?” ibunya meletakkan telapak tangan di kening Aulina. “Kau demam,” lirih ibunya.

Sore itu, Aulina dibawa ke bidan kampung. Bapaknya yakin bahwa demam tersebut disebabkan permintaan Aulina yang tidak dituruti dan akan sembuh dengan sendirinya. Namun ibunya tak mau ambil resiko. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

Continue Reading

Cerpen

Naguib Mahfouz: Surga Anak-anak

mm

Published

on

“BAPAK!”

“Ya?”

“Saya dan teman saya Nadia selalu bersama-sama.”

“Tentu, Sayang. Dia kan sahabatmu.”

“Di kelas, pada waktu istirahat, dan waktu makan siang.”

“Bagus sekali. Ia anak yang manis dan sopan.”

“Tapi waktu pelajaran agama, saya di satu kelas dan ia di kelas yang lain.”

Terlihat ibunya tersenyum, meskipun sedang sibuk menyulam seprai. Dan ia berkata sambil juga tersenyum:

“Itu hanya pada pelajaran agama saja.”

“Kenapa, Pak?”

“Karena kau punya agama sendiri dan ia punya gama lain.”

“Bagaimana sih, pak?”

“Kau Islam dan ia Kristen.”

“Kenapa?”

“Kau masih kecil, nanti akan mengerti.”

“Saya sudah besar sekarang.”

“Masih kecil sayangku.”

“Kenapa saya seorang Islam?”

Ia harus lapang dada dan harus hati-hati. Juga tidak mempersetankan pendidikan modern yang baru pertama kali diterapkan. Dan ia berkata:

“Bapak dan Ibu orang Islam. Sebab itu kau juga orang Islam.”

“Dan Nadia?”

“Bapak dan ibunya Kristen. Sebab itu ia juga Kristen.”

“Apa karena bapaknya berkacamata?”

“Bukan. Tak ada urusannya kacamata dalam hal ini. Dan juga karena kakeknya Kristen.”

Ia berusaha mengikuti silsilah kakek-kakeknya sampai entah tak ada batasnya, agar anak itu bosan dan mengalihkan pecakapan ke arah lain. Tapi sang anak bertanya:

“Siapa yang lebih baik?”

Ia berpikir sejenak, lalu berkata:

“Orang Islam baik dan orang Kristen juga baik.”

“Tentu salah satu ada yang lebih baik.”

“Ini baik dan itu juga baik.”

“Apa boleh saya berlaku seperti Kristen, agar kami bisa selalu bersama-sama?”

“Oo tidak, Sayang, itu tidak bisa. Tiap orang harus tetap seperti bapak dan ibunya.”

“Tapi, kenapa?”

Memang betul, pendidikan modern itu keji juga! Dan ia bertanya:

“Apa tidak tunggu saja sampai kau besar nanti?”

“Tidak.”

“Baiklah, kau tahu mode kan? Seseorang bisa menyenangi mode tertentu, dan orang lain menyenangi mode lain. Bahwa kau orang Islam, itu artinya mode terakhir. Sebab itu kau harus tetap Islam.

“Jadi, Nadia itu mode lama?”

Hmm, jangan-jangan Tuhan akan menjewermu bersama Nadia pada hari yang sama. Tampaknya ia telah melakukan kesalahan, betapapun ia sudah berhati-hati. Dan ia meraa seperti didorong tanpa ampun ke sebuah leher botol. Katanya:

“Masalahnya adalah selera. Tapi tiap orang harus tetap seperti bapak dan ibunya.”

“Apakah dapat saya katakan pada Nadia, bahwa ia mode lama dan saya mode baru?”

Segera ia memotong:

“Tiap agama baik. Orang Islam menyembah Allah, dan orang Kristen menyembah Allah juga.”

“Kenapa ia menyembah Allah di satu kelas dan saya di kelas yang lain?”

“Di sini Allah disembah dengan cara tertentu, dan di sana dengan cara lain?”

“Apa bedanya, Pak?”

“Nanti tahun depan kau akan mengetahuinya, atau tahun berikutnya lagi. Sekarang kau cukup tahu saja, bahwa orang Islam itu menyembah Allah dan orang Kristen juga menyembah Allah.”

“Siapa sih Allah, Pak?”

Jadinya ia berpikir agak lama juga. Lantas ia bertanya untuk sekadar mengulur waktu:

“Apa kata Bu Guru di sekolah?”

“Ia membaca surat-surat dari Al-Quran dan mengajari kami sembahyang. Tapi saya tidak tahu siapa Allah itu.”

Ia berpikir lagi, sambil tersenyum agak remang. Katanya:

“Ia yang menciptakan dunia seluruhnya.”

“Seluruhnya?”

“Ya, seluruhnya.”

“Apa artinya mencipta?”

“Yang membuat segala sesuatu.”

“Bagaimana caranya?”

“Dengan kekuasaan yang agung sekali.”

“Dimana Ia tingal?”

“Di dunia seluruhnya.”

“Dan sebelum ada dunia?”

“Di atas.”

“Di langit?”

“Ya.”

“Saya ingin melihat-Nya.”

“Tidak bisa.”

“Meski melalui televisi?”

“Ya, tidak bisa juga.”

“Tak seroang pun bisa melihat-Nya?”

“Tak seorang pun.”

“Bagaimana Bapak tahu Ia ada di atas?”

“Begitulah.”

“Siapa yang kasih tahu ia di atas?”

“Para nabi.”

“Para nabi?”

“Ya, seperti nabi kita Muhammad.”

“Bagaimana caranya?”

“Dengan kesanggupan yang khas ada padanya.”

“Kedua matanya tajam sekali?”

“Ya.”

“Kenapa begitu?”

“Allah menciptakannya begitu.”

“Kenapa?”

Dan ia menjawab sambil menahan kesabarannya:

“ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki.”

“Dan bagaimana nabi melihat-Nya?”

“Agung sekali, kuat sekali, dan berkuasa atas segala sesuatu.”

“Seperti Bapak?”

Ia menjawab sambil menahan tawanya:

“Ia tak ada bandingannya.”

“Kenapa Ia tinggal di atas?”

“Bumi tak bisa memuat-Nya. Tapi Ia bisa melihat segala sesuatu.”

Anak kecil itu diam sebentar, lalu katanya:

“Tapi Nadia bilang, Ia tinggal di bumi.”

“Karena Ia tahu dan melihat segala sesuatu, maka seolah-olah Ia tinggal di mana-mana.”

“Dan ia juga bilang, orang-orang telah membunuh-Nya.”

“Tapi Ia hidup dan tidak mati.”

Nadia bilang, orang-orang itu telah membunuh-Nya.”

“Tidak, Sayang. Mereka mengira telah membunuh-Nya. Tapi Ia hidup dan tidak mati.”

“Dan kakekku masih hidup juga?”

“Kakekmu sudah meninggal.”

“Apa orang-orang juga telah membunuhnya?”

“Tidak, ia meninggal sendiri.”

“Bagaimana?”

“Ia sakit, dan kemudian meninggal.”

“Dan adikku juga akan meninggal karena ia sakit?”

Keningnya mengernyit sebentar, sementara ia melihat gerak semacam protes dari arah istrinya.

“Tidak, insya Allah ia akan sembuh.”

“Dan kenapa Kakek meninggal?”

“Sakit dalam ketuaannya.”

“Bapak pernah sakit dan Bapak juga sudah tua. Kenapa tidak meninggal?”

Tiba-tiba ibunya menghardiknya. Anak itu jadi heran tak mengerti, sebentar matanya ditujukan pada ibunya, sebentar lagi pada ayahnya. Kata sang ayah:

“Kita semua akan mati kalau Tuhan menghendakinya.”

“Kenapa Tuhan menghendaki agar kita semua mati?”

“Ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki.”

“Apa mati itu menyenangkan?”

“Tidak, Sayang.”

“Kenapa Tuhan menghendaki sesuatu yang tidak menyenangkan?”

“Selama Tuhan yang menghendaki begitu, itu artinya baik dan menyenangkan.”

“Tapi tadi Bapak bilang, itu tidak menyenangkan.”

“Hmm, Bapak keliru tadi.”

“Dan kenapa Ibu marah waktu saya bilang bahwa Bapak akan mati?”

“Karena Tuhan belum menghendaki begitu.”

“Kenapa Ia menghendaki begitu, Pak?”

“Dialah yang membawa kita ke dunia, dan Dia pula yang membawa kita pergi.”

“Kenapa?”

Agar ita berbuat baik di dunia sebelum kita pergi.”

“Kenapa kita tidak tinggal saja terus di dunia?”

“Nanti tak akan muat dunia kalau semua orang tinggal.”

“Dan kita tinggalkan hal-hal yang baik?”

“Kita akan pergi ke hal-hal yang lebih baik lagi.”

“Di mana?”

“Di atas.”

“Si sisi Tuhan?”

“Ya.”

“Dan kita bisa melihat-Nya?”

“Ya.”

“Tentunya itu bagus kan?”

“Tentu.”

“Kalau begitu, kita harus pergi.”

“Tapi sekarang kita belum melakukan hal-hal yang baik.”

“Dan kakek sudah melakukannya?”

“Ya.”

“Apa yang ia lakukan?”

“Ia telah membangun rumah dan menanam kebun.”

“Dan Tutu, sepupuku, apa yang sudah ia lakukan?”

Wajahnya jadi merengut sebentar, kemudian pandangannya ia tujukan ke arah istrinya seperti minta kasihan.

“Ia juga telah bikin sebuah rumah kecil sebelum ia pergi.”

“Tapi Lulu, tetangga kita, ia pernah memukulku dan tak pernah berbuat baik.”

“Ia anak nakal.”

“Tapi ia tidak akan mati.”

“Kecuali kalau Tuhan menghendakinya.”

“Meskipun ia tidak berbuat hal-hal yang baik?”

“Semua akan mati. Siapa yang berbuat baik, ia akan pergi ke sisi Tuhan. Dan siapa yang berbuat jahat, ia akan ke neraka.”

Anak kecil itu menarik napas seraya kemudian diam. Sang ayah tiba-tiba merasa dirinya begitu capek. Tak tahu ia, berapa dari kata-katanya tadi yang benar dan berapa yang salah. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah menggerakkan tanda-tanya, yang kemudian mengendap di dalam dirinya. Namun si kecil tiba-tiba berseru:

“Saya ingin selalu bersama Nadia!”

Ditolehkannya kepalanya seperti ingin tahu. Si kecil itu berseru lagi:

“Meski pada pelajaran agama sekalipun!”

Dan ia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Istrinya juga ketawa. Sambil menguap mengantuk, ia kemudian berkata:

“Tak bisa kubayangkan, pertanyaan-pertanyaan ini bisa didiskusikan pada taraf umur begitu!”

Istrinya menyahut:

“Nanti ia akan besar, dan kau akan bisa menjelaskan hal-hal itu padanya.”

Cepat ia menoleh ke perempuan itu, untuk mengetahui apa memang betul kata-katanya atau hanya sekadar cemoohan berlaka. Namun dilihatnya perempuan itu sudah sibuk lagi dengan sulamannya. (Penerjemah: M. Fudoli Zaini)

_______________________________________

*) Naguib Mahfouz: Lahir di Kairo, Mesin tahun 1911. Mahfouz dianggap sebagai pengarang besar berbahasa Arab, bahkan ia dianggap yang terbesar dalam sastra modern Mesir yang belum berusia satu abad itu. Sebagai pengarang, mula-mula ia menulis dengan gaya romantis, kemudian realistis, simbolis, filosofis, dan terakhir simbolis-filosofis dengan kecenderungan sufistis. Ia meraih Nobel Prize for Literature 1988.

Mahfouz terutama dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis cerita pendek. Karya-karyanya meliputi 32 novel, 14 kumpulan cerita, dan 30 naskah film. Di antara karya-karyanya adalah Khan Al-Khalili (1946), Zuqaq Al-Midag (1947), trilogi Bain Al-Qasrain, Qasr Asy-Syauq, As-Sukkariyah (1956-1957), Al-Liss Wa al-Kilab (1962), Al-Tariq (1964), Asy-Syahhadz (1965), dan Pentalogi Aulad Haratina (1969).

Dalam keterangan pers-nya Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusastraan pada Mahfouz sebagai pengakuan untuk: “…ketajaman nuansa realistik, kadang ambigu, yang dibentuk dalam seni kisahan Arab yang diaplikasikan bagi semesta kemanusiaan….”

Mahfouz adalah sastrawan pertama Mesir yang memperoleh penghargaan tersebut.

Continue Reading

Classic Prose

Trending