Connect with us
Tamu Albert Camus Tamu Albert Camus

Cerpen

Albert Camus: Tamu

mm

Published

on

oleh: Albert Camus

Si guru memperhatikan dua orang lelaki yang merambat naik ke arahnya. Seorang di punggung kuda, seorang berjalan kaki. Mereka belum mencapai tanjakan curam yang akan membawa mereka ke gedung sekolah yang dibangun di punggung bukit.

Perjalanan itu tampak sulit, mereka merambat pelan-pelan di dataran salju, di antara batu-batu, menyeberangi dataran luas dan gurun pasir di dataran tinggi. Sesekali kudanya tersandung-sandung. Meski tak terdengar dengusnya, ia bisa melihat hembusan nafas yang terengah-engah dari cuping hidung binatang tersebut. Salah seorang tampaknya kenal betul dengan daerah yang mereka lalui. Langkah mereka tidak melenceng dari jalan setapak kendati jalan itu tertutup putih salju sejak beberapa hari lalu. Menurut perkiraan si guru, mereka baru akan mencapai bukit dalam waktu setengah jam lagi. Udara begitu dingin, si guru kembali ke ruang kelas untuk mengambil sweaternya.

Ia melintasi ruangan yang kosong dan dingin. Di papan tulis mengalir sungai-sungai Perancis – digambar sejak tiga hari lalu dengan kapur tulis empat warna – menuju muara. Salju mendadak turun di pertengahan bulan Oktober setelah delapan bulan dipanggang musim kemarau, tanpa ada hujan yang menandai masa peralihan. Dua puluh siswanya, kurang lebih sejumlah itulah mereka, yang tinggal menyebar di desa-desa di dataran tinggi itu, tak datang ke sekolah. Mereka akan datang lagi ketika cuaca kembali cerah.

Daru menghangatkan kamar tidurnya. Kamar itu berhimpitan dengan ruang kelas dan keduanya dihubungkan oleh sebuah pintu. Seperti juga jendela-jendela kelas, jendela kamarnya pun menghadap ke selatan. Gedung sekolah ini terletak beberapa kilometer dari turunan pertama ke arah Selatan. Jika udara bagus, akan tampak jajaran gunung-gunung berwarna ungu dan jarak yang membentang di gurun pasir.

Sedikit hangat di kamarnya, Daru kembali ke jendela dimana ia mula-mula melihat dua orang yang mendaki. Mereka tak kelihatan lagi. Tentu sedang menyusuri tanjakan. Langit tidak terlalu gelap, sebab salju sudah berhenti turun sejak tadi malam. Pagi diawali dengan cahaya muram, yang jarang akan jadi cerah bahkan setelah gumpalan awan menyingkir. Pada pukul dua siang, hari seperti baru saja dimulai. Namun keadaan ini jauh lebih baik dibanding tiga hari lalu tatkala turun salju tebal di tengah cuaca gelap yang disertai hembusan angin yang menyebabkan daun pintu kelas berdecit-decit. Sepanjang hari Daru tinggal di kamarnya dan hanya meninggalkan kamar untuk ke gudang, memberi makan ayam-ayam, atau mengambil arang. Untunglah truk pengantar barang dari Tadjid, desa terdekat dari utara, datang dengan barang-barang kebutuhannya dua hari sebelum badai salju. Ia akan meninggalkan dataran ini lagi dalam 48 jam.

Tapi, selain kedatangan truk itu, ia sendiri sebenarnya telah memiliki cukup persediaan untuk menghadapi kepungan salju. Kamarnya yang kecil penuh dengan kantung-kantung terigu yang dikirimkan sebagai persediaan bagi para siswa yang keluarganya kekurangan pangan selama musim kemarau. Mereka benar-benar jadi korban karena kemiskinan mereka. Setiap hari Daru membagikan ransum kepada anak-anak. Ia tahu, mereka sangat membutuhkan itu selama berlangsungnya hari buruk. Mungkin bapak atau kakak mereka akan datang siang ini dan ia akan membagikan beras kepada mereka. Hanya itu yang bisa dilakukan selama menunggu datangnya panen berikut. Kini kapal-kapal pengangkut gandum datang dari Perancis dan situasi terburuk bisa diatasi. Namun, sungguh sulit melupakan kemiskinan. Ia bagai pasukan iblis yang berkeliaran di bawah terik matahari. Dataran tinggi ini terbakar selama berbulan-bulan, tanah menjadi keriput dan hangus sedikit demi sedikit. Batu-batu pecah menjadi debu di bawah telapak kaki. Kawanan ternak mati, ribuan jumlahnya. Manusia juga mati, di mana-mana, kadang tanpa seorang pun mengetahuinya.

Sebaliknya dari yang mereka alami, ia hidup nyaris seperti pendeta di sekolah yang terpencil, dan dengan apa yang ada padanya, bagaimanapun, kebutuhannya selalu tercukupi. Dengan segala kesulitan yang harus dijalani, dengan dipannya yang sempit, dengan rak yang tidak dicat, dengan sumurnya, dan dengan persediaan air dan makanan yang dipasok setiap minggunya, ia merasa dirinya seolah bangsawan yang dikelilingi tembok-tembok putih bersih. Lalu tiba-tiba turun salju, tanpa hujan sebelumnya. Begitulah daerah ini, terlalu menyiksa bagi kehidupan, bahkan kalaupun tanpa manusia – yang tak pernah bisa saling menolong dalam menghadapinya. Tapi Daru lahir di sini. Di tempat lain, di mana pun, ia merasa terasing.

Ia melangkah ke teras di depan bangunan sekolah. Kedua orang tadi kini berada di tengah lereng yang landai. Ia kenal si penunggang kuda yang tak lain adalah Balducci, polisi tua yang dikenalnya sejak lama. Balducci menggenggam ujung tali yang mengikat kedua pergelangan tangan si Arab. Si Arab berjalan di belakangnya dengan tangan terbelenggu dan kepala menunduk. Polisi tua itu bersalam dengan lambaian tangannya, Daru tidak membalas lambaiannya; seluruh fikirannya tertancap pada si Arab. Orang itu mengenakan pakaian jellaba yang sudah pudar warna birunya, memakai sandal namun membungkus kakinya dengan kaus kaki wool tebal, dan menutup kepalanya dengan kopiah kecil pendek. Mereka makin dekat. Balducci menahan laju kudanya agar tidak menyakiti si Arab. Keduanya merambat pelan sekali.

Bagai letusan senapan, Balducci berteriak: “Satu jam hanya untuk tiga kilometer dari El Ameur!” Daru tidak menyahut. Dibalut sweater tebal, sosoknya makin kelihatan pendek dan gempal. Matanya terus menatap kedua orang yang sedang mendaki ke arahnya. Tak satu kali pun si Arab mengangkat kepalanya.
“Hello,” sapa Daru ketika mereka akhirnya sampai di teras. “Masuklah dan hangatkan badan.”
Balducci turun dari kuda dengan rasa sakit dan penat, ujung tali pengikat si Arab terus digenggamnya. Kumis polisi tua itu bagai semak-semak kaku, ia tersenyum kepada Daru. Matanya kecil, tersembunyi dalam cekungan di bawah dahinya yang coklat, dan di sekitar mulutnya tampak kerut-kerut yang melahirkan kesan bahwa ia seorang yang sungguh-sungguh dan penuh perhatian. Daru meraih tali kekang dan menbawa kuda ke gudang. Ketika ia kembali lagi, dua orang itu sudah menunggunya di ruang kelas. Daru membawa mereka ke kamarya.

“Saya akan memanaskan ruangan kelas dulu,” katanya. “Agar lebih nyaman.”

Ketika kembali ke kamarnya, ia melihat Balducci duduk di atas dipan kecilnya. Tangannya tetap menggenggam tali yang menghubungkan dirinya dengan si Arab yang kini berjongkok di tepi tungku pemanas. Tangan si Arab tetap terikat, kopiahnya terdorong ke belakang, matanya terbang ke jendela. Mula-mula Daru memperhatikan bibirnya yang tebal dan berlemak, menyerupai Negro, namun hidungnya mancung, matanya gelap dan penuh kemarahan. Kopiah yang dikenakannya menunjukkan sikap keras kepala di balik dahi lebar yang saat ini memucat oleh hawa dingin. Keseluruhan paras mukanya memancarkan pemberontakan yang membuat Daru terpaku ketika si Arab menoleh ke arahnya dan menatapnya langsung.

“Mari ke ruang kelas,” kata si guru, “saya akan bikinkan teh manis.”

“Terima kasih,” sahut Balducci. “Oh! Pekerjaan yang menyebalkan. Aku ingin segera pensiun sebetulnya.” Dan kepada si Arab tawanannya ia berteriak: “Kemari kau!” Si Arab bangun dan, pelan sekali, tetap dengan kedua pergelangan tangan terikat, maju di depan Balducci. Mereka kemudian beralih ke ruang kelas.

Sambil membawa teh, Daru mengangkat kursi. Namun Balducci ternyata sudah meletakkan pantatnya di bangku siswa yang paling dekat dengan pintu kelas dan si Arab berjongkok di depan mimbar guru, menghadapi tungku pemanas tak jauh dari jendela. Ketika menyodorkan segelas teh kepada si Arab, Daru termenung sejenak melihat tangan si Arab terbelenggu.

“Mungkin ikatan ini harus dilepas,” katanya.

“Tentu,” sahut Balducci. “Itu hanya berlaku selama dalam perjalanan.”

Polisi itu segera akan bergerak, tapi Daru lebih cepat. Ia meletakkan gelas di lantai dan kemudian berjongkok di samping si Arab. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, si Arab menyaksikan Daru dengan tatap mata yang membara. Sekejap saja tangannya bebas. Lalu secara bergantian ia mengusap-usap bekas ikatan di kedua pergelangan tangannya. Ia menjangkau gelas teh di lantai, dan menyeruput teh panas itu berkali-kali sampai habis.

“Ke mana Anda akan pergi?” Tanya Daru.

Balducci menarik kumisnya yang menyentuh-nyentuh permukaan air teh di gelas. “Ya kesini, nak,” sahutnya.

“Aneh. Dan Anda akan bermalam?”

“Tidak. Aku akan segera kembali ke El Ameur. Dan kau harus membawa orang ini ke Tinguit. Ia ditunggu oleh polisi di sana.”

Balducci menatap Daru, bibirnya tersenyum manis sekali.

“Apa maksudnya ini? Kau tidak sedang bercanda, kan?”

“Tidak, nak. Ini adalah tugas.”

“Tugas?” kupikir…” Daru terdiam beberapa saat, ia tak ingin menyakiti si tua dari Corsica itu. “Kurasa, ini bukan tugasku.”

“Begitukah menurutmu? Dalam masa perang, setiap orang mengerjakan apa pun tugas yang dipikulkan kepadanya.”

“Kalau begitu aku akan menunggu adanya pernyataan perang.”

Balducci mengangguk-angguk.

“Ok. Tapi tugas itu ada di depan mata dan meminta kesediaanmu pula. Segala hal terjadi, segala peristiwa bermunculan. Kita mendengar pidato-pidato perlawanan dan kemudian dimobilisasi. Begitulah.”

Daru kembali terdiam.

“Dengar, nak. Aku menyayangimu dan kau harus faham. Hanya ada selusin polisi di El Ameur yang berpatroli untuk wilayah yang luas di sana. Aku harus cepat-cepat kembali. Tugasku adalah membawa orang ini kepadamu dan kembali ke markas secepat mungkin. Ia tak bisa ditahan di sana. Orang-orang di desanya mulai bergerak, mereka akan membebaskannya kembali. Kau harus membawanya ke Tinguit besok. Hanya dua puluh kilometer dan itu tak akan jadi persoalan benar bagi lelaki tegap seperti kau. Setelah itu segalanya beres. Kau bisa kembali mengajar dan menjalani hidup yang menyenangkan.”

Di balik dinding kelas, terdengar kuda Balducci mendengus dan menggaruk-garuk tanah. Daru melihat hamparan salju di luar jendela. Udara bersih dan cahaya makin terang di atas dataran salju. Ketika salju mencair, matahari akan mengambil alih kekuasaan dan membakar dataran berbatu-batu ini. Lalu, selama berhari-hari, langit akan terus memancarkan cahayanya ke seluruh permukaan gurun yang kosong dan sendirian, yang seolah sama sekali tak berhubungan dengan manusia.

“Jadi, apa sesungguhnya yang telah ia lakukan?” Tanya Daru. Dan sebelum polisi tua itu membuka mulut, Daru menyusulkan pertanyaan lain: “Bisa ia berbahasa Perancis?”

“Tidak! Tak sepatah katapun. Kami telah mencarinya sebulan penuh, namun mereka menyembunyikannya. Ia telah membunuh sepupunya.”

“Apakah ia pemberontak?”

“Rasanya tidak. Tapi entahlah, tak ada yang bisa dipastikan.”

“Kenapa ia membunuh?”

“Pertengkaran keluarga kurasa. Mungkin salah seorang berutang beras pada yang lain. Entahlah, tak begitu jelas. Pokoknya ia membunuh sepupunya dengan celurit, seperti seekor domba, kreeezk!”

Balducci menirukan gerakan menggoreskan pisau di tenggorokannya sendiri dan si Arab menatapnya dengan sorot mata marah. Daru merasakan amarah yang menggelegak tiba-tiba. Ia benci kepada manusia, semua manusia, yang menyimpan dengki yang membusuk di hati; kebencian yang tak pernah sudah, dan nafsu menumpahkan darah.

Ketel di atas tungku berdenging. Daru mengisi lagi gelas Balducci dengan air teh. Juga gelas si Arab. Dan, untuk kedua kalinya, si Arab menyeruput habis teh di gelasnya dalam waktu cepat. Ketika tangannya mengangkat gelas, baju jellabanya merosot dan terbuka, Daru melihat dadanya yang kurus namun berotot.

“Terima kasih, nak,” kata Balducci. “Kini saya akan pergi.”

Ia bangkit mendekati si Arab dan segera mengeluarkan tali dari saku bajunya.

“Apa yang hendak kau lakukan?” Tanya Daru dengan suara kering.

Balducci, dengan paras muka linglung, menunjukkan tali di tangannya.

“Tak usah repot-repot.”

Polisi tua itu makin bingung: “Baiklah, terserah kau. Omong-omong, kau punya senjata?”

“Aku punya pistol.”

“Mana?”

“Di kopor.”

“Mestinya kau taruh di dekat tempat tidurmu.”

“Buat apa? Tak ada yang perlu kutakutkan.”

“Kau gila, nak. Jika meletus keributan, tidak ada yang bisa menjamin keselamatanmu, dan kita di perahu yang sama.”

“Aku akan melindungi diriku sendiri. Aku akan punya waktu sebelum mereka tiba di tempat ini.”

Balducci terbahak-bahak, kumisnya menutupi deretan giginya.

“Kau punya waktu? Baiklah, ya…aku hanya bisa mengatakan ‘baiklah’. Kau memang sedikit gila rupanya. Dan tak banyak tahu. Tapi karena itulah aku menyukaimu. Anakku juga seperti kau itu.”

Pada saat yang sama ia mengeluarkan revolvernya dan meletakkan di meja.

“Ambillah; aku tak memerlukan dua pistol untuk menempuh perjalanan dari sini ke El Ameur.”

Revolver itu berkilat-kilat di atas meja yang di cat warna hitam. Ketika polisi tua itu berpaling ke arahnya, si guru mencium bau kulit dan daging kuda.

“Dengar, Balducci,” kata Daru tiba-tiba, “Segala sesuatunya membuatku muak, terutama ketika tiba-tiba kau tinggalkan seseorang di sini. Aku tidak akan mengantarkannya ke Tinguit. Kalau harus bertarung dengannya, aku akan lakukan, tapi tidak untuk mengantarkannya.”

Sang polisi tua berdiri termangu di hadapan Daru dan menatapnya lama sekali.

“Alangkah tololnya kau,” gumamnya. “Aku tidak suka mendengar kalimatmu. Kau tak mau mengikat dia karena mungkin itu memalukan buatmu – ya, mungkin memalukan. Tapi sama sekali tak masuk akal jika kau biarkan ia bebas menentukan langkahnya sendiri.”

“Aku tidak akan mengantarkannya.”

“Ini tugas, nak. Berapa kali harus kuulangi?”

“Baiklah. Kalau begitu kuulangi saja kepada mereka apa yang sudah kuucapkan kepadamu: aku tidak akan mengantarkannya.”

Balducci tertegun lama. Bergantilah ia memandang paras muka Daru dan si Arab. Akhirnya ia mengambil keputusan.

“Tidak! Aku tidak akan bercerita apa pun kepada mereka. Jika kau ingin melemahkan kami, lakukanlah. Aku tidak akan melaporkanmu. Aku sekadar menjalankan tugas mengantarkan tawanan ini dan itu sudah kulakukan. Sekarang kau hanya perlu menandatangani surat ini, untukku.”

“Itupun tidak ada perlunya. Aku toh tak menolak kau tinggalkan tawanan itu di tempatku.”

“Jangan membuatku jengkel. Aku tahu kau seorang yang jujur. Kau berasal dari sini dan kau seorang laki-laki. Tapi kau perlu membubuhkan tanda tangan di sini. Itu aturannya.”

Daru membuka lacinya, mengambil tinta dalam botol kotak kecil, dan mengeluarkan tangkai pena dari kayu berwarna merah dengan mata pena “sergeant-major” yang biasa ia gunakan untuk menulis indah. Ia menandatangani surat yang disodorkan kepadanya. Polisi tua melipat kembali suratnya dan menyimpannya di dalam saku. Setelah itu ia melangkah ke pintu.

“Aku akan mengantarmu keluar.”

“Tak usah berbasa-basi. Kau telah melukaiku.”

Polisi tua itu memandang si Arab beberapa saat, mendengus marah, dan kemudian bergegas meninggalkan tempat itu. “Selamat tinggal, nak,” katanya. Pintu tertutup di belakangnya. Balducci tampak dalam bingkai jendela dan kemudian hilang sama sekali. Bunyi langkah kakinya ditelan hamparan salju. Di balik dinding, kuda bergerak, ayam-ayam ribut ketakutan.

Beberapa saat kemudian Balducci tampak lagi dalam bingkai jendela, menuntun kudanya pada tali kekang. Ia berjalan ke arah tanjakan kecil tanpa menoleh lagi sampai hilang dari pandangan. Kudanya membuntuti di belakangnya. Terdengar suara batu besar menggelinding. Daru berbaik ke arah si Arab yang nyaris tak bergerak dan nyaris tak pernah memandangnya.

“Tunggu di sini,” kata si guru dalam bahasa Arab, ia berjalan ke kamar tidurnya. Ketika melewati ambang pintu, ia berpikir beberapa saat, kemudian kembali lagi ke meja di mana Balducci meninggalkan revolvernya. Diambilnya revolver itu dan dimasukkan ke dalam sakunya. Kemudian, tanpa menengok ke belakang, ia bergegas ke kamarnya.

Beberapa saat ia merebahkan diri di dipannya, memandang langit yang makin gelap, mendengarkan kesunyian. Kesunyian yang menyiksanya sejak hari pertama ia tinggal di tempat ini, setelah perang. Ia mohon agar ditempatlkan di kota kecil di kaki bukit, yang terletak di antara dataran tinggi dan gurun. Di sana, dinding-dinding batu, hijau kehitaman di sebelah utara, jambon dan lembayung muda di sisi selatan, menandai tapal batas musim panas yang kekal. Tapi justru di dataran tinggi ini ia ditempatkan. Pada mulanya, terasa berat baginya menghadapi kesunyian dan kesendirian di hamparan tanah kosong yang dihuni hanya oleh batu-batu. Sesekali tampak bekas galur-galur pada tanah cadas bekas digaru. Tapi tak ada yang bisa diperbuat pada lapisan tipis tanah yang menutup batu-batu, yang hanya cocok untuk bahan bangunan. Jadi satu-satunya yang bisa dihasilkan di daerah ini adalah memanen batu. Di beberapa tempat, orang lain menggarap lapisan tipis tanah yang memenuhi cekungan dan menanaminya dengan tetumbuhan seadanya yang bisa tumbuh di sana.

Begitulah keadaannya. Hamparan batu menutupi tiga per empat bagian wilayah ini. Kota-kota tumbuh, berkembang, dan kemudian hilang; orang-orang datang, saling mencintai atau saling membenci, dan kemudian mati. Tak seorang pun di gurun ini, baik dirinya sendiri atau si Arab tamunya, punya arti. Dan, sebaliknya, di luar gurun, Daru tahu itu, tak ada seorang pun yang benar-benar hidup.

Ketika ia bangkit, tak terdengar gerisik suara di ruang kelas. Ia merasakan sebuah kegembiraan tatkala tiba-tiba muncul pikiran bahwa si Arab mungkin sudah melarikan diri dan ia kembali sendirian seperti sediakala tanpa bersusah-susah mengambil keputusan. Namun tawanan itu tetap di tempatnya. Tubuhnya terbujur pasrah di antara tungku dan bangku. Matanya terbuka, ia menatap langit-langit ruangan.

Daru menatap lekat-lekat bibirnya yang tebal, yang tiba-tiba di matanya seperti sedang mencibir. “Kemarilah,” panggil Daru. Si Arab bangkit dan mengikutinya. Di kamar tidurnya, si guru mengarahkan telunjuknya pada kursi yang letaknya tak jauh dari meja di bawah jendela. Si Arab duduk di kursi tersebut tanpa melepaskan pandangannya ke Daru.

“Kau lapar?”

“Ya,” si Arab mengangguk.

Daru mengatur meja makan untuk dua orang. Ia mengambil tepung dan minyak, membikin kue, menyalakan kompor dengan tabung gas kecil, dan menggoreng kue bikinannya. Menunggu kuenya masak, ia keluar menuju gudang untuk mengambil keju, telur, kurma, dan susu kental. Setelah masak, kue-kue yang baru diangkat dari penggorengan dia angin-anginkan di ambang jendela. Lalu membuat dadar telur, menambahkan air pada susu kental dan memanaskannya. Ketika mengerjakan itu semua, satu saat tangannya menyenggol gagang revolver yang ia simpan di saku kanan. Semua beres. Ia menurunkan panci yang digunakan untuk merebus susu dan membawa hasil masakannya ke ruang kelas. Kemudian ia kembali ke kamarnya dan menyimpan revolver di laci mejanya. Ketika kembali lagi ke ruang kelas, malam telah jatuh. Ia menyalakan lampu dan mempersilakan si Arab.

“Makanlah,” katanya. Si Arab mengambil sepotong kue, mengangkatnya ke mulut, dan berhenti sejenak

“Kau sendiri?” ia bertanya.

“Aku makan setelah kau.”

Bibir tebal itu terbuka sedikit. Si Arab sedikit ragu-ragu, kemudian seperti terpaksa menggigit kuenya.

Ia menatap si guru setelah menyantap habis kue di tangannya.

“Kau akan mengadiliku?”

“Tidak, aku hanya akan menjagamu hingga besok pagi.”

“Mengapa kau makan semeja denganku?”

“Sebab aku lapar.”

Si Arab kemudian membisu. Daru bangkit dan melangkah keluar. Ia kembali dengan membawa kasur lipat yang diambilnya dari gudang, meletakkannya di antara tungku dan meja, tegak lurus dengan tempat tidurnya. Dari kopor besar yang ada di pojok, yang biasa ia gunakan untuk menyimpan kertas-kertas, ia mengeluarkan dua buah selimut dan menatanya di atas tempat tidur. Beberapa saat kemudian dihentikannya pekerjaan itu, ia merasa tak ada gunanya, dan lalu duduk di atas kasur. Tak ada apa pun yang harus dikerjakan atau disiapkan. Ia harus melihat siapa yang ada dihadapannya. Dan melihat si Arab, ia membayangkan bagaimana paras muka lelaki itu saat dibakar amarah. Tak bisa ia melakukan apa-apa. Tak ia lihat apa pun pada si Arab kecuali ceruk mata yang gelap, tapi memancarkan cahaya, dan mulut seekor binatang.

“Mengapa kau membunuhnya?” dengan kasar tiba-tiba ia mengajukan pertanyaan, tekanan suaranya membuat si Arab tercengang.

“Ia lari. Aku mengejarnya.”

Ia mengangkat pandangannya ke arah Daru, kemudian mereka terlibat dalam tanya jawab yang getir.

“Sekarang, apa yang akan mereka perbuat kepadaku?” tanyanya.

“Kau takut?”

Si Arab mendengus, melemparkan pandangannya jauh-jauh.

“Kau menyesal?”

Si Arab menatapnya dengan mulut terbuka. Tak paham pada apa yang baru saja didengarnya. Daru menjadi gusar. Pada saat yang sama ia merasa risih dengan si Arab yang teronggok di antara dua tempat tidur.

“Berbaringlah di sana,” perintah Daru. “Itu tempat tidurmu.”

Si Arab tidak bergerak. Ia meminta: “Katakan padaku!”

Si Guru menatapnya.

“Apakah polisi tua itu akan datang lagi besok?”

“Aku tak tahu.”

“Apakah kau akan bergabung dengan kami?”

“Aku tak tahu. Kenapa rupanya?”

Tawanan itu bangkit dan merebahkan tubuhnya di atas selimut. Kakinya menjulur ke arah jendela. Cahaya bola lampu listrik jatuh di kedua matanya, ia memejamkan kedua matanya itu.

“Kenapa?” ulang Daru, kini ia tegak di samping tempat tidur.

Si Arab membuka matanya melawan cahaya yang menyilaukan, menatap Daru, dan mencoba tidak mengerjap.

“Bergabunglah dengan kami,” katanya.

Hingga tengah malam Daru tetap tak bisa tidur. Ia merebahkan diri di kasurnya setelah menanggalkan semua pakaian; ia biasa tidur telanjang. Tetapi tatkala sadar bahwa dengan keadaan itu kulitnya tak terlindung bahkan dari serangan yang paling sepele, rasa gelisahnya muncul. Ia merasa saat itu dirinya adalah sasaran empuk dan tiba-tiba mencul godaan untuk mengenakan lagi pakaiannya. Namun ia hanya mengangkat bahu, ia toh bukan kanak-kanak. Jika perlu ia sanggup berkelahi melawan si Arab. Dari tempat tidurnya ia bisa menawasi tawanan itu: telentang, tidak bergerak, matanya terkatub di bawah cahaya yang menyilaukan. Ketika Daru mematikan lampu, kegelapan seakan membekukan segala hal secara mendadak. Pelahan-lahan malam kembali datang di bingkai jendela, langit tanpa bintang berpendar lembut. Si guru menarik kakinya. Si arab tidak bergerak, namun matanya kelihatan terbuka. Angin berdesir mengitari gedung sekolah. Mungkin ia akan menyingkirkan awan di langit dan matahari bakal muncul lagi.

Makin malam, angin bertiup kuat. Ayam-ayam mengepak-ngepakkan sayap sesekali, kemudian sunyi. Si Arab menggeliat, kini memunggungi Daru yang tengah berpikir bahwa ia mendengar suara mengerang. Kemudian ia mendengar dengus nafas tamunya, makin berat dan makin teratur. Ia mendengar dengus nafas itu begitu dekat dengan dirinya. Rasa kantuk tak pernah datang pada pikiran yang tak tenang. Selama setahun ia tidur sendirian saja di kamar ini, dan kini kehadiran si Arab membuatnya bingung. Ia bingung karena kehadiran si Arab membebaninya dengan keakraban, sesuatu yang ia pahami betul. Namun, untuk saat ini ia ingin menolaknya. Orang-orang yang saling berbagi di ruangan yang sama, prajurit atau tawanan, membangun persekutuan aneh seolah-olah, setelah melepas baju zirah dan menggantinya dengan pakaian rumah, mereka adalah para sahabat yang bercengkerama setiap petang dengan impian dan keletihan bersama yang sangat tua usianya. Daru menggetarkan tubuhnya, ia tidak suka memikirkan hal-hal itu dan tampaknya yang lebih penting saat ini adalah tidur.

Sejenak kemudian si Arab menggerakkan tubuhnya, pelan sekali, dan si guru tetap belum tidur. Ketika tawanan itu membuat gerakan untuk kedua kalinya, Daru mendengus seolah memberikan peringatan. Si Arab mengangkat tubuhnya sangat pelan menyerupai gerakan orang tidur berjalan. Tegak di atas tempat tidurnya, ia menunggu tanpa gerakan, tanpa menoleh ke arah Daru, seolah-olah sedang mendengarkan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Daru juga diam, ia hanya perlu meyakinkan bahwa revolvernya masih tersimpan di laci mejanya. Dan ia akan melakukan sesuatu yang tepat pada saatnya. Diawasinya terus si Arab yang, tetap dengan gerakan pelan, menurunkan kakinya ke lantai dan kemudian pelan-pelan berdiri. Daru ingin memanggilnya ketika si Arab mulai mengayunkan kakinya. Sangat alamiah, namun tanpa suara. Ia menuju ke pintu yang menghadap ke arah gudang. Diangkatnya palang pintu dengan hati-hati, didorongnya daun pintu, lalu melangkah keluar tanpa menutup kembali pintu tersebut.

Daru membeku di tempatnya. “Ia melarikan diri,” pikirnya. “Baguslah.” Namun ia memasang telinganya dengan serius.

Ayam-ayam tidak gaduh; tamunya niscaya masih di dataran tinggi ini. Ricik air sampai ke telinganya dan ia tidak paham dengan pendengarannya sampai kemudian si Arab muncul lagi di ambang pintu. Ia menutup kembali pintu itu dan segera kembali ke tempat tidurnya. Tanpa suara. Kemudian Daru memutar tubuh memunggungi tawanannya dan tidur.

Beberapa saat kemudian, di tengah-tengah nyenyak tidurnya, ia mendengar langkah berjingkat-jingkat di seputar bangunan sekolah. “Hanya mimpi! Hanya mimpi!” Ia meyakinkan dirinya berulang-ulang. Dan meneruskan tidurnya.

Ketika ia bangun, langit cerah; udara pagi yang dingin masuk lewat jendela yang terbuka. Si Arab masih tertidur, meringkuk di bawah selimut sekarang, mulutnya terbuka. Benar-benar tenang tampaknya. Ketika Daru mengguncangkan tubuhnya, paras mukanya menjadi tegang. Ia menatap Daru dengan sorot mata liar seolah-olah berhadapan dengan makhluk yang tak pernah ia jumpai sebelumnya. Cemas di paras mukanya membuat Daru surut ke belakang.

“Jangan takut. Ini aku. Kau harus makan.” Si Arab mengangguk-anggukkan kepalanya dan mengatakan “ya”. Wajahnya kembali tenang, namun ekspresinya kosong dan tanpa gairah.

Kopi telah siap. Mereka duduk dan minum bersama di kasur lipat sembari mengunyah beberapa potong kue. Kemudian Daru membawa si Arab ke gudang dan menunjukkan keran dimana ia bisa mencuci muka. Ia sendiri kembali ke kamar, membereskan selimut dan tempat tidur, dan menata ruangan seperti sediakala. Setelah semua beres, ia menuju ke teras dan duduk di sana.

Matahari telah muncul di langit; dataran tinggi diguyur cahaya pagi yang lembut. Di punggung bukit, salju meleleh di beberapa tempat. Batu-batu bermunculan lagi. Dari tempatnya, di tebing dataran tinggi, si guru menyaksikan gurun yang terhampar sangat luas. Ia teringat Balducci. Ia telah melukai polisi tua itu karena menerima kedatangannya dan melepas kepulangannya tanpa mau bekerjasama. Kalimat yang diucapkan Balducci ketika pamitan masih terngiang-ngiang di telinganya. Dan, entah kenapa, saat itu ia merasakan kekosongan yang aneh. Ia merasa bahwa dirinya begitu ringkih dan begitu mudah diserang. Ketika itu, ia mendengar si Arab terbatuk-batuk. Ah, selama si Arab bersamanya, Daru lebih mendengarkan tamunya, nyaris tanpa mendengar dirinya sendiri. Dipenuhi rasa marah, ia melontarkan sebutir kerikil kuat-kuat. Terdengar desing di udara sebelum kerikil itu jatuh ke hamparan salju. Seseorang telah melakukan kejahatan yang bodoh dan ia tiba-tiba terkuasai olehnya. Namun, untuk menyerahkan seperti yang diminta Balducci, ia merasa tindakannya itu tidak ada harganya sama sekali. Terus-menerus diganggu oleh persoalan itu, tiba-tiba ia menjadi orang yang gampang membenci segala hal. Ia mengutuk semuanya: orang-orang dari golongannya sendiri yang telah mengirimkan si Arab kepadanya, dan si Arab yang berani melakukan pembunuhan namun tidak merancang cara melarikan diri. Daru bangkit, berjalan mondar-mandir di teras, dan kemudian kembali ke gedung sekolah.

Si Arab, satu tangannya bertelekan pada dinding gudang, sedang menggosok gigi dengan dua jarinya.

Daru memandang dan berseru: “Kemarilah.”

Si tawanan mengikuti Daru masuk ke dalam kamar. Dipakainya jaket berburu menutupi sweaternya, dikenakannya sepatu naik gunung. Si Arab memasang kopiah di kepala dan mengenakan sandalnya.

Mereka melangkah ke ruang kelas dan si guru menunjuk keluar: “Pergilah!” Tamunya tidak beranjak. “Aku bersamamu,” katanya lagi.

Si Arab keluar. Daru masuk lagi ke kamarnya, membungkus beberapa potong roti, kurma, dan gula. Di ruang kelas, sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak di depan mejanya, kemudian bergegas ke pintu dan menguncinya.

“Itu jalannya,” katanya. Ia berjalan ke timur, diikuti oleh tawanannya. Namun, beberapa langkah dari gedung sekolah, ia merasa mendengar suara langkah kaki berjingkat-jingkat di sekitar mereka. Ia kembali dan memeriksa sekeliling bangunan sekolah. Tak dijumpainya seorang pun. Si Arab memandangnya tak faham. “Ayolah!” kata Daru

Mereka berjalan selama sejam dan beristirahat di samping batu kapur yang mendongak tajam. Salju mencair makin lama makin cepat dan matahari menghisap habis genangan air di kubangan dalam waktu sekejap. Dataran tinggi itu bersih dari salju, menjadi makin kering, lalu bergetar sebagaimana udara bergetar.

Ketika mereka melanjutkan perjalanan, tanah di bawah kaki mereka berdenyar. Sesekali seekor burung membelah udara dengan jeritan bahagia. Daru menarik nafas dalam-dalam di tengah cahaya segar pagi hari. Ia merasakan semacam pesona, sebelum nantinya kembali menghadapi hamparan tanah kosong yang begitu akrab baginya, yang sekarang hampir seluruhnya menguning di bawah kubah langit biru. Mereka berjalan satu jam lagi menuruni lereng ke arah utara. Mereka sampai pada hamparan batu-batu yang rapuh. Dari sana, jika mengambil jalan turun ke arah Timur, mereka akan tiba di lembah yang ditumbuhi beberapa batang pohon. Jika ke arah Selatan, akan sampai pada dataran luas dengan pemandangan yang berantakan oleh batu-batu yang nongol di sana-sini.

Daru mengikuti kedua jalan itu dengan matanya. Tak dia temukan apapun kecuali ufuk di mana langit dan tanah bertemu. Tak ada manusia. Ia berpaling ke si Arab yang menatapnya dengan mata kosong. Diulurkannya bungkusan yang dia bawa kepada si Arab.

“Ambillah,” katanya. “Ada roti, kurma, dan gula. Kau bisa bertahan selama dua hari dengannya. Aku juga ada seratus franc, ambillah.” Si Arab menerima bungkusan dan uang yang disodorkan Daru, merapatkan ke dada, dan tetap begitu terus seolah-olah tak tahu apa yang bisa dilakukannya dengan benda-benda di tangannya itu.

“Sekarang lihat,” kata si guru, tangannya menunjuk ke arah Tinguit. Kau harus berjalan selama dua jam. Di Tinguit, temuilah bagian administrasi dan polisi. Mereka mengharapkan kedatanganmu.”

Si Arab melemparkan pandangannya ke Timur, tetap dengan uang dan bungkusan di dada. Daru meraih sikunya dan memutarnya dengan sedikit kasar ke arah Selatan. Di kaki bukit di mana mereka berdiri, tanpa jalan setapak.

“Itu jalan setapak melintasi dataran. Sehari jalan kaki dari sini, kau akan menjumpai padang rumput dan kafilah para nomaden. Mereka akan menerima kedatanganmu sesuai hukum mereka.”

Si Arab kini berpaling ke Daru dengan wajah panik. “Dengarlah,” pintanya.

Daru menggelengkan kepala: “Tidak, tenanglah. Sekarang, aku akan meninggalkanmu.” Segera setelah itu ia membalikkan badan, mengambil langkah lebar-lebar ke arah gedung sekolah, ia menatap dengan ragu ke arah si Arab yang tetap tak bergerak, dan kembali meneruskan langkahnya. Untuk beberapa menit tak ia dengar apapun kecuali langkah kakinya sendiri yang bergema di atas tanah dingin. Tak pula ia putar kepalanya. Namun, akhirnya ia membalikkan badan juga. Si Arab tetap di tempatnya, di tepi bukit, tangannya sudah turun, dan ia memandang si guru. Daru merasa sesuatu merambat naik ke kerongkongannya. Namun ia menguatkan diri, melambai samar-samar, dan kembali meneruskan langkahnya. Beberapa saat kemudian ia berhenti lagi dan kembali menengok ke belakang. Sudah tak ada siapapun di bukit.

Daru tercenung. Matahari makin tinggi dan mulai menyengat kepalanya. Si guru mengikuti jalan yang sama dengan jalan yang ditempuhnya saat berangkat, mula-mula dengan ragu, tapi kemudian makin yakin. Ketika sampai di bukit kecil, tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Ia mendaki secepat yang bisa ia lakukan, dan berhenti di puncak menenangkan nafasnya. Bebatuan yang terhampar si sisi Selatan tampak makin tajam di bawah biru langit. Tanah lapang di sebelah Timur bergetar oleh uap air yang naik ke langit. Dan dengan pandangan sedikit merendahkan, Daru melihat si Arab berjalan pelan sekali menyusuri jalan ke arah penjara.

Beberapa saat setelah itu, tegak di tepi jendela kelas, si guru melihat cahaya matahari yang kuat menyapu seluruh permukaan dataran tinggi. Namun sesungguhnya ia hampir tidak melihat apa pun. Di belakangnya, di papan tulis, diantara lekuk liku sungai-sungai Perancis, sebuah kalimat yang ditulis tidak rapi berbunyi:

“Kau telah menyerahkan saudara kami. Maka kau harus membayarnya.” Daru menatap langit, dataran tinggi, dan di luar itu, hamparan tanah yang tak tampak, yang membentangkan semua jalan menuju laut. Di hamparan tanah yang begitu ia cintai, ia merasa sendiri.

*Cerpen ini diterjemahkan oleh A.S. Laksana dari “The Guest” dalam antologi Great French Short Stories, yang dipillih dan diedit serta diberi kata pengantar oleh Germaine Bree, terbitan Dell Publishing Co., Inc., New York, cetakan ke-10, tahun 1973)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerpen

Samuel Beckett: Molloy

mm

Published

on

Aku ada dikamar Ibu. Sekarang aku memang tinggal di sana. Aku tak tahu, bagaimana aku bisa sampai ke sana. Barangkali dengan ambulans, sejenis kendaraan atau angkutan tertentu. Aku tidak betah. Heran. Aku tak pernah disana sendirian.

Ada seorang laki-laki yang rutin berkunjung setiap minggu. Mungkin aku harus berterima kasih padanya. Dia tidak banyak bicara. Dia memberiku uang dan mengambil berkas-berkas. Lebih banyak berkas, akan lebih banyak uang. Ya, aku bekerja sekarang. Setidak-tidaknya, yang kuangankan, sedikit mirip. Lagi pula aku tidak tahu persis, bagaimana sesungguhnya bekerja itu. Agaknya ini tidak penting.

Apa yang sesungguhnya kuinginkan sekarang adalah membicarakan hal-hal yang telah lewat, mengucapkan selamat tinggal, lalu mengakhiri dengan kematian. Tetapi mereka tak mengiinginkan hal itu terjadi padaku. Ya, kukatakan mereka, karena lebih dari satu—tampaknya begitu. Tetapi, hanya orang itu-itu saja yang datang. Kamu akan bisa mengerjakannya nanti, katanya. Baguslah.

Nyatanya, aku tak akan membiarkan semua ini terus tertinggal. Yaitu ketika dia datang dengan berkas-berkas baru yang ia bawa minggu berikutnya. Mereka sibuk menandai dengan tanda-tanda yang sama sekali tidak kumengerti. Karena itu, aku sengaja tak membacanya. Dan ketika aku tidak mengerjakan apa-apa, mereka tidak memberiku apa-apa. Bahkan mengancamku.

Sebenarnya aku tidak bekerja demi uang. Lalu, untuk apa? Aku tidak tahu. Sungguh, aku tidak tahu banyak. Sebagai contoh, kematian Ibu. Apakah berliau sudah meninggal waktu aku datang? Ataukah beliau meninggal kemudian, yaitu baru meninggal beberapa saat setelah kedatanganku?

Kukira Ibu sudah dimakamkan. Entahlah. Mungkin mereka malah belum menguburkannya. Yang pasti, di sisi lain, aku memiliki kamarnya. Aku tidur di ranjangnya. Aku buang air dan meludah di pispotnya. Aku sudah mengambil alih tempatnya. Barangkali, semakin lama aku semakin mirip dengannya.

Yang lebih kubutuhkan sekarang sebenarnya seorang anak laki-laki. Barangkali suatu saat nanti aku akan memiliki satu. Tapi kupikir tidak. Dia sudah sangat tua sekarang. Hampir setua aku. Dia hanyalah pelayan rendahan. Ini bukan cintaku yang sesungguhnya.

Cinta yang sejati telah kupersembahkan pada orang yang lainnya lagi. Kita akan membicarakannya setelah ini. Namanya? Ah, aku sudah lupa. Dan agaknya, bagi diriku sendiri, kadang-kadang seakan aku merasa begitu mengetahui ihwal anak laki-lakiku tadi. Aku bentul-betul menganguminya. Kemudian aku meyakinkan diriku kalau itu tidak mungkin. Seperti juga tidak mungkinya aku dapat mengagumi orang lain. Aku bahkan sudah lupa, bagaimana mengeja dan memilah kata-kata. Tampaknya ini tidak penting.

Baiklah. Dia adalah kartu ajaib bagiku, yang datang secara khusus untuk menjengukku. Agaknya dia datang hanya setiap hari Minggu. Pada hari-hari yang lain, dia libur. Dia selalu keharusan. Dialah yang membentakku kalau aku mulai mengerjakan sesuatu yang menurutnya salah; dan aku seharusnya mengerjakannya secara berbeda. Mungkin dia benar. Aku harus memuliai dari permulaan lagi; seperti meneliti suatu kesalahan yang usang dan membingunkan—bisakah kalian bayangkan?

Ini permulaan bagiku. Mungkin karena itulah mereka membiarkannya saja.Aku menemui banyak kesulitan. Padahal ini baru permulaan—kalian lihat? Seolah-olah sekarang aku sedang mendekati titik akhir. Apakah yang kukerjakan saat ini jauh lebih baik? Entahlah.

Kota itu tidak jauh. Ada dua orang, mungkin tidak mudah kalian pahami. Yang satu pendek, yang satunya lagi lebih tinggi. Mererka bergerak meninggalkan kota. Mula-mula yang satu, kemudian yang lainnya. Dan kemudian, dengan susah-payah mereka mengingat-ingat semua perbuatan yang telah mereka kerjakan. Udara dingin menusuk tajam, sehingga mereka mengenakan mantel-mantel tebal. Mereka tampak serupa satu sama lain.

Tetapi tak ada lagi yang mereka kerjakan. Pada awalnya jarak yang lebar membentang diantara mereka. Mereka tidak saling melihat. Padahal mereka sudah mencapai keadaan di mana kepala mereka saling berhadapan. Namun, dikarenakan jarak yang lebar, ruang yang lapang, dan kemudian karena tanah yang bergelombang yang menyebabkan jalanan jadi ikut bergelombang—meskipun tidak curam dan terjal tapi cukup berkelok. Tetapi saatnya tiba, ketika mereka berdua tiba di sebuah ruang yang sama dan akhirnya tikungan-tikungan itu bertemu.

Untuk mengatakan bahwa mereka saling memperkenalkan diri, tidak, tidak ada apa pun yang jadi jaminannya. Tetapi, barangkali dari suara langkah-langkah kaki atau ditandai gemerisik uap insting yang samar-samar, mereka saling mendongakkan kepala dan saling menyelidiki satu sama lain, untuk menentukan langkah-langkah yang baik sebelum akhirnya mereka berhenti dan saling berhadapan.

Ya, mereka tidak saling melewati, tetapi mengendap-endap, berhadap-hadapan, mengadu wajah seperti ketika di desa: pada suatu senja di ruas jalan yang sejuk, dua sosok bayang-bayang saling berkelebat, tanpa terjadi sesuatu yang luar biasa. Tetapi barangkali saja mereka sudah saling mengenal satu sama lain, mengagumi satu sama lainnya, saling memuji, bahkan setelah mereka sampai ke sudut-sudut kota.

Mereka berjalan memutar, melewati laut yang ada di ujung timur. Jauh dari padang-padang rumput, memanjat cakrawala tinggi dengan menggubah sedikit kata-kata. Kemudian keduanya berjalan ke arah masing-masing. A melintasi kota, B melewati jalanan yang seolah teramat sulit untuk dia mengerti. Atau semuanya.

Selama dia pergi dengan langkah-langkah tak menentu dan terkadang terlalu sering menghentikan langkahnya untuk mengamati apa saja, dia seperti seseorang yang mencoba memperbaiki letak penanda batas-tanah-milik di dalam benaknya. Pada suatu hari, barangkali dia harus berkali-kali membalikkan langkahnya—kalian tak akan pernah tahu kenapa.

Dia tampak tua. Dan dengan pandangan mata penuh penyesalan, ia menekuri kesunyian yang telah ditempuhnya berabad-abad, bertahun-tahun, berhari-hari, dan bermalam-malam tanpa bernah berpikir untuk membiarkan keajaiban-keajaiban itu muncul justru pada hari kelahirannya, atau bahkan jauh-jauh hari sebelumnya.

Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Sekarang, perlahan, sebuah bisikan. Sekarang, lebih teliti dari apa yang telah dikerjakan seorang pelayan teladan. Dan selanjutnya? Sesudah itu? Dan sering pula muncul sebagai jeritan. Dan pada akhirnya, aku harus percaya padanya. Aku tahu, tinggal ini kesempatanku. Tinggal ini saja. Aku percaya lagi pada umur panjangku. Dan sekarang aku mengunyah apa saja dengan asyik.

Apa yang kubutuhkan sekarang adalah dongeng-dongeng yang membutuhkan waktu sangat lama untuk memahaminya, dan aku tidak yakin apakah itu ada, memberi informasi padamu, pada kalian, hal-hal tertentu; tentang benda-benda yang kuketahui, tentang hal-hal yang tidak kumengerti. Hal-hal yang begitu menyulitkanku, juga yang tak pernah menyulitkanku.

Apapun bahasanya. Apa pun istilahnya. Aku bahkan telah mempelajari apa profesinya, karena aku tertarik pada keahlian-keahlian. Dan berpikir: aku mencoba mengerjakan yang terbaik untuk tidak bercerita tentang diriku sendiri. Pada suatu ketika aku mungkin akan bercerita tentang ternak-ternak, tentang langit dan apa saja, apabila aku mampu melakukannya.

Aku di sana, kemudian dia meninggalkan aku. Dia tampak terburu-buru. Dia mengembara, seperti yang sudah pernah kukatakan pada kalian; tetapi, setelah tiga menit berbicara denganku, dia tampak terburu-buru. Aku percaya padanya. Dan sekali lagi, aku tak akan menceritakan diriku sendiri. Tidak, itu tidak seperti aku. Tetapi bagaimana aku harus mengatakannya, aku tidak tahu.

Memperbaiki diri sendiri, menyempurnakan diri sendiri, oh tidak. Aku tak akan bisa membiarkan diriku sendiri. Bebas. Ya. Aku tak tahu apa artinya itu, tetapi itulah kata yang kupilih dan kugunakan. Bebas untuk mengerjakan apa saja, bebas untuk tidak melakukan apa-apa, bebas untuk mengetahui—tapi apa? Mungkin hukum-hukum pemikiran; pemikiran-pemikiranmu sendiri yang serupa air mengalir secara proporsional ketika ia memutuskan untuk membasahimu. Dan kalian akan mengerjakan hal-hal yang baik, paling tidak, tidak terlalu buruk untuk menghapus teks-teks, menghilangkan margin-margin, mengisi lubang kata-kata, sampai segalanya menjadi kosong dan datar. Sehingga segala kesibukan yang tampaknya dahsyat, menakutkan dan tak berperasaan atau semacamnya menjadi tak terkatakan, sampai tak ada lagi isu kemiskinan. Jadi aku tak merasa ragu untuk mengerjakan semua yang lebih baik, paling tidak, tidak terlalu buruk, dan tidak menyusahkan diriku sendiri dengan serangkaian observasi tentang segala sesuatu yang akan terjadi nanti.

Aku memiliki cacat untuk dapat membangkitkan semangat orang lain, yaitu orang-orang yang bertongkat. Kemudian bisik-bisikan dan gumam-gumam itu kembali dimulai. Untuk bersunyi sendiri; mengembalikan peranan lebih dari sekadar objek-objek.

Kemudian, aku masih hidup. Mungkin kehadiranku masih berguna. Mahkota dan pakaian kebesaran kupandang sebagai sesuatu yang belum layak kubicarakan sekarang, karena masih terlalu dini. Tanpa ragu-ragu aku akan membicarakannya nanti, jika sudah tiba saatnya untuk membicarakan penemuan kebaikan-kebaikan serta harapan-harapan milikku. Jika tidak, aku akan merelakannya hilang, terselip di antara hari-hari sekarang dan nanti. Tetapi, bahkan ketika semua itu hilang, mereka tetap akan mendapat tempat, di dalam daftar semua barang kesayanganku. Tetapi, mudah bagi ingatanku; tidak seharusnya aku menghilangkannya. Seperti tongkat setiaku, yang tidak seharusnya kuhilangkan juga.

Barangkali sekarang aku sedang berada di puncak atau di lereng, di antara orang-orang penting dan terkenal, demi orang lain. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku dapat melihat begitu jauh, begitu dekat di tangan, begitu banyak hal yang tetap dan yang berpindah-pindah. Tetapi, apa yang akan dilakukan seseorang yang sudah sangat terkenal di tempat yang hampir-hampir tak beriak ini? Dan aku, apa yang kukerjakan di sini, dan kenapa mesti datang?

Ada banyak hal yang mesti kita coba dan temukan. Tetapi ada hal-hal tertentu yang tidak seharusnya kita pikirkan dengan serius. Ada sebagian dari segala sesuatu yang secara penampakan wajud lahirnya memiliki cacat tersendiri. Dan pada suatu ketika aku mungkin menjadi bingung oleh kontrasnya perbedaan-perbedaan itu. Tetapi pertentangan-pertentangan adalah tempat kediamanku. (*)

_______________________

*) Samuel Beckett: Peraih Nobel Prize for Literature 1969. Lahir di Dublin, Irlandia tahun 1906 dan meninggal tahun 1989 di Paris, Prancis. Beckett dianggap sebagai salah satu pengarang abad ke-20 yang paling inovatif dan berpengaruh. Hal ini berangkat dari keyakinannya, yang lalu membekas dalam karya-karyanya, bahwa hidup manusia adalah absurd, tidak jelas, keras, dan akhirnya tidak memiliki tujuan. Secara pribadi, ia gigih menyuarakan metafora-metafora tentang malaise moral manusia.

Beckett terutama dikenal sebagai penulis drama, tetapi ia juga menulis novel dan puisi. Ia telah menulis enam novel, empat naskah drama serta lusinan framen yang lebih pendek, selain sebuah esai dan satu kumpulan puisi. Tetapi yang membuat namanya dikenal adalah karya drama Waiting for Godot (1952) yang disebut-sebut sebagai drama paling penting dalam abad ke-20.

Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Keusastraan pada Beckett sebagai pengakuan: “…..untuk karangan-karangannya yang dalam serta mengungkap kekurangan manusia modern, mendapatkan tempat yang luhur lewat bentuk novel dan drama gaya baru…..

Beckett adalah sastrawan kedua Irlandia (Setelah William Butler Yeats tahun 1923) yang memperoleh penghargaan tersebut. Atau sastrawan ketiga setelah George Benard Shaw (tahun 1925) yang kemudian hijrah dan menjadi warga negara Inggris.

**) Penerjemah: Endang Susanti R.A.

 

 

 

Continue Reading

Cerpen

Kotak Kardus Aulina

mm

Published

on

Aulina berusia empat tahun tiga bulan ketika mengejutkan bapaknya dengan berkata, “belikan aku hape android. Aku mau liat youtube.” Bapaknya menyemburkan kopi pagi yang baru dihirupnya ketika itu. Pedagang peracangan itu meletakkan piring gelasnya yang masih berisi kopi, lalu memandang lekat-lekat bocah playgroup tersebut. “Apa yang kau katakan?” tanyanya tak percaya.

“Teman-teman bawa hape ke sekolah,” jawab si bocah. “Dan mereka liat youtube.”

Bapaknya mengangkat si bocah, lalu meletakkannya di pangkuannya. “Emangnya ada apa di youtube?

“Banyak Yah. Ada video-video bagus,” ujar si bocah. Lalu mulutnya nyerocos menceritakan lagu-lagu dan aneka jenis jogetan yang ia saksiksan di layar ponsel temannya, juga kisah seorang putri yang mampu menciptakan salju dari kibasan tangan atau bagaimana seorang putri artis seumuran dengannya menghabiskan hari di salon untuk mencuci rambut dan melumuri tubuh dengan krim entah apa. “Setelah itu, dia main kuda-kudaan dan sepatunya yang bagus robek,” sambung Aulina. Mulut mungilnya tampak menggemaskan dan matanya berkilauan. “Tapi dia pinter Yah, soalnya dia gak nangis,” tambahnya. Bapaknya tertawa sebelum mencubit pipinya.

“Kamu juga pintar. Hayo mandi sana. Sebentar lagi kamu harus berangkat. Mana ibumu?”

“Tapi hapenya?”

“Kamu kan masih kecil,” jawab bapaknya seraya tertawa.

Permintaan itu terus diulang Aulina hingga seminggu kemudian. Seiring hari, rengekan dan rayuannya lebih dahsyat dari sebelumnya. Bapak dan ibunya, yang mulanya mengira Aulina akan segera melupakan keinginannya, segera merasa terteror. Awalnya, mereka mencoba mengalihkan perhatian Aulina dengan mengajaknya jalan-jalan ke pasar kecamatan dan menjajaninya sosis goreng kesukaan si bocah. Itu berhasil membujuk Aulina, tapi tak lama. Keesokan harinya, Aulina kembali merengek. Ibunya mengambil boneka panda kesukaan Aulina dan mengulang dongeng bagaimana seorang bocah yang durhaka kepada orangtuanya dikutuk menjadi binatang yang di kemudian hari disebut panda. Biasanya, dongeng itu cukup mangkus meredam kerewelan Aulina. Namun tidak kali itu. Aulina berteriak bahwa ia bosan pada kisah panda dan satu-satunya yang ia ingini adalah hape android supaya ia bisa lihat youtube seperti teman-temannya di playgroup. Bapaknya tidak diam saja dalam episode runyam itu. Lelaki tiga puluhan tahun tersebut menyalakan televisi dua puluh satu inchi dan menyetelnya pada chanel yang menayangkan Shaun The Sheep. “Aku mau youtube,” Aulina kembali berteriak, kali ini sambil memuntahkan air mata. Pada hari kedelapan, tak tahan dengan rengekan tanpa akhir dan mustahil diredakan tersebut, mereka memarahi Aulina dan mengatakan beberapa perkara dengan cara yang tidak semestinya mereka gunakan kepada anak berusia empat tahun tiga bulan. Perkara-perkara itu meliputi bahwa Aulina selayaknya bersyukur bisa makan tiap hari dan berkesempatan merasakan playgroup dan tak perlu meminta yang aneh-aneh mengingat pekerjaan bapaknya yang hanya pedagang pracangan tak memungkinkan mereka untuk hidup mewah. Sementara cara tidak pantas yang mereka terapkan antara lain, berkata dengan suara keras dan cenderung membentak, mata merah, dan ludah yang berkali-kali muncrat menimpa wajah si bocah. Aulina sempat membantah perkataan bapaknya. Ia bilang bahwa Sri, yang sudah tidak punya bapak, bisa punya hape android. Bapaknya merespon ucapan Aulina yang terkesan meremehkan dan mencabik harga diri seorang bapak itu dengan sebuah tamparan di pipi yang merupakan puncak dari ketidakpantasan tersebut.

Hari itu, Aulina mengurung diri di kamar. Itu adalah suatu hari Minggu yang cerah. Likuran tahun sebelumnya, pada hari libur seperti itu, bapak dan ibu Alina akan menghabiskan waktu dengan bermain petak umpet atau sondah atau bentengan di luar rumah bersama kawan-kawan mereka. Namun hari itu, lingkungan sekitar mereka tampak kalis dari anak kecil. Orangtua Alina tahu, zaman sudah berubah. Tak ada lagi pemandangan bocah yang berlarian dan bermain di luar rumah hingga lupa waktu sehingga memaksa orangtua mereka untuk marah-marah menyuruh mereka pulang. Anak-anak kini lebih suka mendekam dalam rumah dengan gawai di tangan, menghabiskan hari dengan menekuri benda ajaib mungil tersebut. Mereka sesungguhnya menginginkan Aulina tumbuh seperti anak-anak lain sezamannya. Mereka tak ingin Aulina menjadi aneh karena merupakan satu-satunya anak yang tidak punya gawai. Namun apa daya, mereka memang belum memiliki cukup uang untuk memenuhi keinginan tersebut.

Di dalam kamar, Aulina menghabiskan hari dengan menangis dan terus menangis. Ia tidak mempedulikan panggilan ibunya dan malah memperkeras volume tangisannya. Bapaknya, alih-alih ikut membujuknya, justru menyibukkan diri dengan barang dagangan. Kepada istrinya, lelaki itu hanya berkara singkat, “nanti kalau capek juga berhenti nangis.”

Kenyataannya, bukan Alina yang capek, melainkan ibunya. Dan pada akhirnya, capek  membujuk Alina, ibunya menyetujui pendapat suaminya. Mengerti bahwa ibunya juga tidak lagi berusaha membujuknya, Aulina malah menjadi-jadi. Ia tidak hanya menangis, melainkan juga membongkar kotak mainannya dan melempar-lemparkan isinya. Sisi si boneka berambut merah terlontar hingga ambang pintu, panci dan kompor plastik kecil berserakan di bawah meja, buku cerita bergambar robek beberapa halaman, dan bola-bola plastik kecil aneka warna bergelindingan ke seantero ruangan.

Kotak mainan itu sesungguhnya adalah kardus bekas bungkus televisi dua puluh satu inchi dan cukup besar untuk menyembunyikan tubuh Aulina. Setelah mengosongkan kardus tersebut dan ibunya tidak kunjung muncul, Aulina meneruskan ngambeknya dengan memasuki kardus tersebut. Di sanalah, kelelahan menangis dan mengacak-acak mainannya, ia jatuh tertidur.

Belum lama matanya terpejam ketika ia merasa terjatuh. Tubuhnya yang payah membuatnya terlelap dengan cepat ketika otaknya belum siap. Otak itu, merespon tubuh yang tiba-tiba lemah, memerintahkan otot untuk bersiap dan menegang. Itulah sesungguhnya yang terjadi namun Aulina mengira ia terpeleset lantas terjatuh dalam tidur. Ia tersentak dan terbangun. Dan di sanalah ia menemukan dirinya, di antara gumpalan salju, langit biru cerah, dan angin yang membawa lagu-lagu merdu. Lagu itu memiliki syair dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Namun tubuhnya bergoyang secara intuitif. Semua terasa begitu asing, tentu saja. Namun alih-alih takut, ia justru tertawa. Ia melonjak-lonjak. Rambutnya terkibas kencang hingga ujungnya terjuntai ke depan dadanya. Ia terkejut. Rambutnya hanya sepanjang bahu. Jadi mustahil rambut itu bisa terkibas hingga ke dada. Ia meraba rambutnya. Panjang hingga pantat dan terkepang. Warnanya merah tembaga. Mengingatkannya pada rambut seorang putri yang mampu menciptakan salju dari kibasan tangan. Dan pada waktu itu pula ia menyadari bahwa tubuhnya juga telah berubah. Dadanya membusung. Ia merabanya. Ia menjerit mendapati dua buah dada besar kencang di sana. Ia meraba pinggulnya. Jauh lebih besar dari yang ia ingat. Bajunya juga bukan baju motif polkadot yang ia kenakan sebelumnya, melainkan gaun seperti yang ia lihat dalam video youtube yang dikenakan oleh para putri.

Aulina tak tahu apa yang terjadi. Dan perutnya mulai bernyanyi. Ia lapar.

Ia mengamati sekelilingnya lebih cermat. Hamparan yang begitu luas, seperti tak terbatas. Gumpalan salju jauh lebih banyak dari yang ia sangka, menjadikan lanskap itu seakan medan berwarna putih semata. Dan itu membuatnya takut. Ia berteriak. Lanskap mengembalikan teriakannya. Itu membuatnya semakin kalut. Ia berteriak lebih kencang. Dan pantulan yang ia dengar lebih mengerikan. Ia berlari. Ia memanggil ibunya. Ia memanggil bapaknya. Namun tak ada sahutan. Ia berlari lebih kencang, sekencang yang ia bisa. Hamparan itu, kenyataannya, bukannya seperti tak terbatas, melainkan memang tak memiliki batas. Aulina mengira ia telah berlari sepanjang hari namun yang membentang di depannya tetaplah hamparan putih dengan gundukan salju terserak di mana-mana. Beberapa saat kemudian, sebuah gundukan salju menghalangi langkah kakinya. Ia terantuk dan terjatuh dengan muka membentur lantai terlebih dahulu. Ia merasa semua menggelap dengan cepat. Ia menangis. Namun tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya.

Aulina terbangun dua jam kemudian, ketika tangan ibunya menepuk-nepuk pundak dan pipinya. “Kamu kok tidur di sini? Ayo bangun,” ujar ibunya. Aulina menguap pelan. Lalu celingukan.  Tak ada hamparan tak bertepi dengan gundukan salju di sana-sini. Tak ada langit biru cerah. Tak ada angin yang menyanyikan lagu-lagu dengan lirik dalam bahasa yang ia tidak mengerti. Ia meringkuk dalam kotak kardus bekas bungkus televisi yang digunakan sebagai kotak penyimpan mainannya. Ia berada dalam kamarnya belaka, dengan langit-langit internit yang dikotori sejumlah sarang laba-laba. Ia meraba rambutnya. Sebahu dan tidak terlalu tebal. Ia menyentuh dadanya. “Ibu,” ia berkata lirih seraya menatap ibunya. Matanya berkaca-kaca.

“Hei, apa itu?” sang ibu mengangkatnya. “Apa yang terjadi di sini?”

Di dalam kardus itu, terserak butiran-butiran berwarna putih. Basah dan dingin.

“Kau tak apa?” ibunya meletakkan telapak tangan di kening Aulina. “Kau demam,” lirih ibunya.

Sore itu, Aulina dibawa ke bidan kampung. Bapaknya yakin bahwa demam tersebut disebabkan permintaan Aulina yang tidak dituruti dan akan sembuh dengan sendirinya. Namun ibunya tak mau ambil resiko. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

Continue Reading

Cerpen

Naguib Mahfouz: Surga Anak-anak

mm

Published

on

“BAPAK!”

“Ya?”

“Saya dan teman saya Nadia selalu bersama-sama.”

“Tentu, Sayang. Dia kan sahabatmu.”

“Di kelas, pada waktu istirahat, dan waktu makan siang.”

“Bagus sekali. Ia anak yang manis dan sopan.”

“Tapi waktu pelajaran agama, saya di satu kelas dan ia di kelas yang lain.”

Terlihat ibunya tersenyum, meskipun sedang sibuk menyulam seprai. Dan ia berkata sambil juga tersenyum:

“Itu hanya pada pelajaran agama saja.”

“Kenapa, Pak?”

“Karena kau punya agama sendiri dan ia punya gama lain.”

“Bagaimana sih, pak?”

“Kau Islam dan ia Kristen.”

“Kenapa?”

“Kau masih kecil, nanti akan mengerti.”

“Saya sudah besar sekarang.”

“Masih kecil sayangku.”

“Kenapa saya seorang Islam?”

Ia harus lapang dada dan harus hati-hati. Juga tidak mempersetankan pendidikan modern yang baru pertama kali diterapkan. Dan ia berkata:

“Bapak dan Ibu orang Islam. Sebab itu kau juga orang Islam.”

“Dan Nadia?”

“Bapak dan ibunya Kristen. Sebab itu ia juga Kristen.”

“Apa karena bapaknya berkacamata?”

“Bukan. Tak ada urusannya kacamata dalam hal ini. Dan juga karena kakeknya Kristen.”

Ia berusaha mengikuti silsilah kakek-kakeknya sampai entah tak ada batasnya, agar anak itu bosan dan mengalihkan pecakapan ke arah lain. Tapi sang anak bertanya:

“Siapa yang lebih baik?”

Ia berpikir sejenak, lalu berkata:

“Orang Islam baik dan orang Kristen juga baik.”

“Tentu salah satu ada yang lebih baik.”

“Ini baik dan itu juga baik.”

“Apa boleh saya berlaku seperti Kristen, agar kami bisa selalu bersama-sama?”

“Oo tidak, Sayang, itu tidak bisa. Tiap orang harus tetap seperti bapak dan ibunya.”

“Tapi, kenapa?”

Memang betul, pendidikan modern itu keji juga! Dan ia bertanya:

“Apa tidak tunggu saja sampai kau besar nanti?”

“Tidak.”

“Baiklah, kau tahu mode kan? Seseorang bisa menyenangi mode tertentu, dan orang lain menyenangi mode lain. Bahwa kau orang Islam, itu artinya mode terakhir. Sebab itu kau harus tetap Islam.

“Jadi, Nadia itu mode lama?”

Hmm, jangan-jangan Tuhan akan menjewermu bersama Nadia pada hari yang sama. Tampaknya ia telah melakukan kesalahan, betapapun ia sudah berhati-hati. Dan ia meraa seperti didorong tanpa ampun ke sebuah leher botol. Katanya:

“Masalahnya adalah selera. Tapi tiap orang harus tetap seperti bapak dan ibunya.”

“Apakah dapat saya katakan pada Nadia, bahwa ia mode lama dan saya mode baru?”

Segera ia memotong:

“Tiap agama baik. Orang Islam menyembah Allah, dan orang Kristen menyembah Allah juga.”

“Kenapa ia menyembah Allah di satu kelas dan saya di kelas yang lain?”

“Di sini Allah disembah dengan cara tertentu, dan di sana dengan cara lain?”

“Apa bedanya, Pak?”

“Nanti tahun depan kau akan mengetahuinya, atau tahun berikutnya lagi. Sekarang kau cukup tahu saja, bahwa orang Islam itu menyembah Allah dan orang Kristen juga menyembah Allah.”

“Siapa sih Allah, Pak?”

Jadinya ia berpikir agak lama juga. Lantas ia bertanya untuk sekadar mengulur waktu:

“Apa kata Bu Guru di sekolah?”

“Ia membaca surat-surat dari Al-Quran dan mengajari kami sembahyang. Tapi saya tidak tahu siapa Allah itu.”

Ia berpikir lagi, sambil tersenyum agak remang. Katanya:

“Ia yang menciptakan dunia seluruhnya.”

“Seluruhnya?”

“Ya, seluruhnya.”

“Apa artinya mencipta?”

“Yang membuat segala sesuatu.”

“Bagaimana caranya?”

“Dengan kekuasaan yang agung sekali.”

“Dimana Ia tingal?”

“Di dunia seluruhnya.”

“Dan sebelum ada dunia?”

“Di atas.”

“Di langit?”

“Ya.”

“Saya ingin melihat-Nya.”

“Tidak bisa.”

“Meski melalui televisi?”

“Ya, tidak bisa juga.”

“Tak seroang pun bisa melihat-Nya?”

“Tak seorang pun.”

“Bagaimana Bapak tahu Ia ada di atas?”

“Begitulah.”

“Siapa yang kasih tahu ia di atas?”

“Para nabi.”

“Para nabi?”

“Ya, seperti nabi kita Muhammad.”

“Bagaimana caranya?”

“Dengan kesanggupan yang khas ada padanya.”

“Kedua matanya tajam sekali?”

“Ya.”

“Kenapa begitu?”

“Allah menciptakannya begitu.”

“Kenapa?”

Dan ia menjawab sambil menahan kesabarannya:

“ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki.”

“Dan bagaimana nabi melihat-Nya?”

“Agung sekali, kuat sekali, dan berkuasa atas segala sesuatu.”

“Seperti Bapak?”

Ia menjawab sambil menahan tawanya:

“Ia tak ada bandingannya.”

“Kenapa Ia tinggal di atas?”

“Bumi tak bisa memuat-Nya. Tapi Ia bisa melihat segala sesuatu.”

Anak kecil itu diam sebentar, lalu katanya:

“Tapi Nadia bilang, Ia tinggal di bumi.”

“Karena Ia tahu dan melihat segala sesuatu, maka seolah-olah Ia tinggal di mana-mana.”

“Dan ia juga bilang, orang-orang telah membunuh-Nya.”

“Tapi Ia hidup dan tidak mati.”

Nadia bilang, orang-orang itu telah membunuh-Nya.”

“Tidak, Sayang. Mereka mengira telah membunuh-Nya. Tapi Ia hidup dan tidak mati.”

“Dan kakekku masih hidup juga?”

“Kakekmu sudah meninggal.”

“Apa orang-orang juga telah membunuhnya?”

“Tidak, ia meninggal sendiri.”

“Bagaimana?”

“Ia sakit, dan kemudian meninggal.”

“Dan adikku juga akan meninggal karena ia sakit?”

Keningnya mengernyit sebentar, sementara ia melihat gerak semacam protes dari arah istrinya.

“Tidak, insya Allah ia akan sembuh.”

“Dan kenapa Kakek meninggal?”

“Sakit dalam ketuaannya.”

“Bapak pernah sakit dan Bapak juga sudah tua. Kenapa tidak meninggal?”

Tiba-tiba ibunya menghardiknya. Anak itu jadi heran tak mengerti, sebentar matanya ditujukan pada ibunya, sebentar lagi pada ayahnya. Kata sang ayah:

“Kita semua akan mati kalau Tuhan menghendakinya.”

“Kenapa Tuhan menghendaki agar kita semua mati?”

“Ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki.”

“Apa mati itu menyenangkan?”

“Tidak, Sayang.”

“Kenapa Tuhan menghendaki sesuatu yang tidak menyenangkan?”

“Selama Tuhan yang menghendaki begitu, itu artinya baik dan menyenangkan.”

“Tapi tadi Bapak bilang, itu tidak menyenangkan.”

“Hmm, Bapak keliru tadi.”

“Dan kenapa Ibu marah waktu saya bilang bahwa Bapak akan mati?”

“Karena Tuhan belum menghendaki begitu.”

“Kenapa Ia menghendaki begitu, Pak?”

“Dialah yang membawa kita ke dunia, dan Dia pula yang membawa kita pergi.”

“Kenapa?”

Agar ita berbuat baik di dunia sebelum kita pergi.”

“Kenapa kita tidak tinggal saja terus di dunia?”

“Nanti tak akan muat dunia kalau semua orang tinggal.”

“Dan kita tinggalkan hal-hal yang baik?”

“Kita akan pergi ke hal-hal yang lebih baik lagi.”

“Di mana?”

“Di atas.”

“Si sisi Tuhan?”

“Ya.”

“Dan kita bisa melihat-Nya?”

“Ya.”

“Tentunya itu bagus kan?”

“Tentu.”

“Kalau begitu, kita harus pergi.”

“Tapi sekarang kita belum melakukan hal-hal yang baik.”

“Dan kakek sudah melakukannya?”

“Ya.”

“Apa yang ia lakukan?”

“Ia telah membangun rumah dan menanam kebun.”

“Dan Tutu, sepupuku, apa yang sudah ia lakukan?”

Wajahnya jadi merengut sebentar, kemudian pandangannya ia tujukan ke arah istrinya seperti minta kasihan.

“Ia juga telah bikin sebuah rumah kecil sebelum ia pergi.”

“Tapi Lulu, tetangga kita, ia pernah memukulku dan tak pernah berbuat baik.”

“Ia anak nakal.”

“Tapi ia tidak akan mati.”

“Kecuali kalau Tuhan menghendakinya.”

“Meskipun ia tidak berbuat hal-hal yang baik?”

“Semua akan mati. Siapa yang berbuat baik, ia akan pergi ke sisi Tuhan. Dan siapa yang berbuat jahat, ia akan ke neraka.”

Anak kecil itu menarik napas seraya kemudian diam. Sang ayah tiba-tiba merasa dirinya begitu capek. Tak tahu ia, berapa dari kata-katanya tadi yang benar dan berapa yang salah. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah menggerakkan tanda-tanya, yang kemudian mengendap di dalam dirinya. Namun si kecil tiba-tiba berseru:

“Saya ingin selalu bersama Nadia!”

Ditolehkannya kepalanya seperti ingin tahu. Si kecil itu berseru lagi:

“Meski pada pelajaran agama sekalipun!”

Dan ia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Istrinya juga ketawa. Sambil menguap mengantuk, ia kemudian berkata:

“Tak bisa kubayangkan, pertanyaan-pertanyaan ini bisa didiskusikan pada taraf umur begitu!”

Istrinya menyahut:

“Nanti ia akan besar, dan kau akan bisa menjelaskan hal-hal itu padanya.”

Cepat ia menoleh ke perempuan itu, untuk mengetahui apa memang betul kata-katanya atau hanya sekadar cemoohan berlaka. Namun dilihatnya perempuan itu sudah sibuk lagi dengan sulamannya. (Penerjemah: M. Fudoli Zaini)

_______________________________________

*) Naguib Mahfouz: Lahir di Kairo, Mesin tahun 1911. Mahfouz dianggap sebagai pengarang besar berbahasa Arab, bahkan ia dianggap yang terbesar dalam sastra modern Mesir yang belum berusia satu abad itu. Sebagai pengarang, mula-mula ia menulis dengan gaya romantis, kemudian realistis, simbolis, filosofis, dan terakhir simbolis-filosofis dengan kecenderungan sufistis. Ia meraih Nobel Prize for Literature 1988.

Mahfouz terutama dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis cerita pendek. Karya-karyanya meliputi 32 novel, 14 kumpulan cerita, dan 30 naskah film. Di antara karya-karyanya adalah Khan Al-Khalili (1946), Zuqaq Al-Midag (1947), trilogi Bain Al-Qasrain, Qasr Asy-Syauq, As-Sukkariyah (1956-1957), Al-Liss Wa al-Kilab (1962), Al-Tariq (1964), Asy-Syahhadz (1965), dan Pentalogi Aulad Haratina (1969).

Dalam keterangan pers-nya Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusastraan pada Mahfouz sebagai pengakuan untuk: “…ketajaman nuansa realistik, kadang ambigu, yang dibentuk dalam seni kisahan Arab yang diaplikasikan bagi semesta kemanusiaan….”

Mahfouz adalah sastrawan pertama Mesir yang memperoleh penghargaan tersebut.

Continue Reading

Classic Prose

Trending