Connect with us

COFFEESOPHIA

Tak Ada Sajak di Kafe-Kafe

mm

Published

on

I

Samsara Duka
(Aug, 2020)
by Sabiq Carebesth

ISBN 978-623-93949-0-5
____
Puisi Sabiq Carebesth dalam buku ini menggunakan banyak kata yang berfungsi menebar berbagai asosiasi.Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat—Samsara dan duka dalam kumpulan Sabiq merupakan dua korpus yang berfungsi sebagai baling-baling yang menggerakkan narasi maupun sebagai jangkar; duka dilihat sebagai premis dalam melakukan perifikasi—dan lingkaran Samsara bekerja sebagai semacam makrifat, ngelakoni, jalan penderitaan: lingkaran lumernya batas sensualitas, erotisme, seksualitas dan spritualitas di mana pelacakan atas identitas yang tak lengkap itu dilakukan.
-Afrizal Malna, Penyair.
__
Buku ini bisa dipesan via kontak whatsapp 082111450777 atau tokopedia bookcoffeeandmore
Rp. 100.000

Aku tak menulis sajak untuk pembaca

Mereka mudah murka dan kecewa

Sajak-sajakku bukan pelipur lara

Aku menulis sajak untuk angin

Mereka hening dan luas.

Di sana

Sajak-sajakku bisa rebah istirah

Sebab kerap

Ia lelah menempuh jalan panjang

Melewati tiap hampa dan sia-sia;

Ia rapuh dan lambat

Tapi senantiasa mencari puncak;

Di sana hanya hening

Di sana hanya kekosongan;

Selalu hanya sejenak

Tapi sajakku memahami

Terjalnya jalan kembali ke mula

Ingatan dari mana ia lahir

Merepih jalan memuncak.

II

Aku pernah mengira sajakku terbuat dari waktu

Mengira tersusun dari sore yang menderita

Dengan bunyi senja yang beringsut pada gelap

Dangan tatakan dari kayu di mana jiwa dibelah;

Sementara kuncup bunga tetap mekar tak iba—

pada sajakku.

Tapi sajakku tak dibuat untuk pembaca

Sajakku memang bukan sajak

Ia hanya sajak—memenuhi takdirnya

Untuk memapah jiwa-jiwa

Keluar dari sekam hampa

Agar senantiasa berdetak

Meski dengan suara jauh

Meski dengan kebisuan serigala

Serupa kepak rajawali di pucuk langit

Atau suara kesunyian tempat ibadah

Yang ditinggalkan hasrat para penyembah

Karena kematian yang tak memberi aba

III

Sajakku

Sajak-sajak rapuh

Yang tak sanggup bertahan

Untuk sampai pada pembacanya

Ia lahir lalu mendaki

Kembali pada sepi sebelum sempat

Duduk di antara pengunjung kafe

Yang tak pernah sempat menuntaskan

Menulis sajak tentang sajak-sajak

Tapi kini tak ada sajak di kafe-kafe

Sebab di luar hujan membadai

Orang-orang berlindung dalam kaca

Senantiasa sia-sia dan mengulanginya

Mereka membayar gairah

Dengan cinta yang ditambatkan sejenak

dan terburu;

Tak sempat bercumbu

Sibuk mengulur waktu

Seolah waktu segera habis

Dan kebisuan pun tak sempat memakna

IV

Aku menulis sajakku di kafe

Tapi sajakku bukan sajak

Sajakku tidak ditulis

Untuk dibaca para pembaca

Aku menulis sajak di kafe

Tapi tak ada sajak di kafe-kafe

Dan kau menunggu akhir sajakku?

Aku tidak menulis sajak untukmu

Aku telah menghapus dendam sukmaku

Sebelum sempat menjadi sajak

Maka sajakku tak punya kekuatan

Untuk meledak dan menulis sejarah

Waktu selalu lekas

Tapi sajak-sajak tidak

Sebab ia kedinginan

Seperti rumah yang ditinggalkan

Seperti pendaki di ujung petang

Ia hanya ingin istirah

Atau pohon-pohon kepurbaan akan menelannya

Hilang dalam gerbang sepi

Membeku bersama dingin

yang tak mungkin dipahaminya.

V

Kenapa sajak-sajak harus ditulis untuk pembaca?

Sajakku tak kutulis untuk pembaca!

Aku tak ingin sajakku dibaca

Sajakku bukan sajak

Aku ingin sajakku dibentangkan

Dalam sukma sehingga jiwamu membahana

Atau biarkan sajakku

Menjadi lumut pepohonan

Yang mewarnai jiwa

Menjadi selimut bagi tubuh waktu

Dan ketika para serigala menjadi sepi

Sajakku menjulang mengabarkan nyanyian

Agar sang rajawali kembali

Menemui kekasihnya yang tersesat

Di antara belantara kesepian

Di antara pepohonan purba

Dan para pendaki masih mencari

Nyanyian bagi jiwanya yang duka

Maka kutulis sajakku

Untuk menjadi kabut

Selimut bagi jiwa yang beku

Agar penantiannya menumbuhkan dedaunan rindu

Yang berguguran di hutan-hutan waktu

Menjadi api bagi peziarah puncak

Dengannya kehangatan menyerta

Peziarah tiba di puncaknya

Dan sajakku merayakan kenangannya

Sendirian..

VI

Sementara di kafe aku memesan kopi

Sambil melihat matahari berwarna putih

Aku tak juga mendapati sajak-sajak

Tak mendapati dedaunan dan peziarah

Tidak serigala kedinginan

Tidak juga rajawali yang kesepian

Kekasihku pun tak ada

Aku mencari sajak-sajakku

Tak ada yang membacakannya

Di kafe hanya pendusta

Yang membual tentang mimpi

Menebus hasrat dengan cinta

Yang sebentar dan tak berbalas

Masing-masing menjauh dari jiwanya

Kehilangan sajak-sajak milik jiwanya

Dan sajakku tak kunjung berhenti

Bernyayi ria dalam tarian kalbuku

Ia ingin berkisah tapi aku mulai lelah

VII

Aku harus pulang

Membawakan sisa sajakku

Anak gadisku telah menunggu

Di ranjang dengan ribuan malaikat

Menantiku membacakan sajak-sajakku

Di rumah kubacakan sajakku

Untuknya entah ratusan malaikat:

“Tak ada sajak di kafe-kafe

Pergilah pada jauh

Mendakilah pada hasrat

Sebab cinta membawa para ksatria

Pergi berperang sebagai martir

Untuk menaklukkan kesepiannya sendiri

Maka jadikan tanganmu perisai

Dan hatimu martir.”

___

Sabiq Carebesth, 2019

Continue Reading
Advertisement

COFFEESOPHIA

Virginia Woolf: Terlalu Banyak Esai—dengan karakter utama tulisan yang dicirikan oleh “keegoisannya”—Beredar

mm

Published

on

Hanya karena Kamu Mampu Menuliskannya, Bukan Berarti Kamu Harus Mempublikasikannya

Oleh Lorraine Berry | Penerjemah Marlina Sopiana | editor Sabiq Carebesth

Sebentar-sebentar artikel muncul di internet, menjegal dunia literasi , memenuhi linimasa Facebook dan Twitter dengan opini kontroversial, tak berdasar, menyesatkan…. Itulah yang dibahas dalam tulisan Tolentino di New Yorker “The Personal-Essay Boom is Over”. Sebelum bekerja di New Yorker, Tolentino adalah editor Jezebel dan ia juga pernah bekerja di The Hairpin, keduanya merupakan laman website yang secara signifikan berkontribusi membiakkan bentuk tulisan yang disebut esai personal itu.

Di tahun 1905, Virginia Woolf menulis esai yang penuh kejengkelan berjudul “The Decay of Essay Writing” yang di dalamnya ia mengeluhkan perkembangbiakkan esai personal melebih-lebihi bahan bacaan yang ada. “Seorang anggota keluarga hampir saja mendapat tugas resmi untuk berjaga di depan pintu ruang tengah dengan memegang pedang berapi dan harus memerangi pasukan yang datang menerobos,” begitu dia menulis. “Selebaran, pamflet, iklan-iklan, cetakan-cetakan majalah yang dibagikan secara cuma-cuma, dan karya literatur buatan teman-teman tiba melalui pos, diantar dengan kereta tunggal, lewat kurir-datang tanpa mengenal waktu di siang hari dan baru berhenti saat malam tiba, hingga meja makan di pagi hari hampir tertimbun lembaran-lembaran itu.”

Adeline Virginia Stephen atau lebih dikenal dengan Virginia Woolf lahir pada 25 Januari 1882. Virginia adalah putri dari Sir Leslie Stephen, seorang penulis esai, editor, dan intelektual publik, dan Julia Prinsep Duckworth Stephen. Julia, menurut Panthea Reid penulis biografi Woolf, “dipuja karena kecantikan dan kecerdasannya, pengorbanan dirinya dalam merawat orang sakit, dan keberaniannya ketika harus menjadi janda muda. Virginia Woolf adalah seorang novelis Inggris yang dianggap salah satu tokoh terbesar sastra modernis dari abad 20. Walaupun ia seringkali disebut sebagai seorang feminis, ia menyangkal julukan tersebut karena ia merasa itu menunjukkan suatu obsesi. Lebih dari sekadar penulis perempuan, Woolf—dia adalah seorang kritikus yang ganas.

Ketika pertama kali saya menemukan esai ini beberapa tahun lalu, usai membeli paket komplit karya-karya Woolf di Kindle seharga satu dolar, saya kira esai ini dimaksudkan sebagai satir, mula-mula saya mengartikannya sebagai sebuah pembelaan ala Woolfian atas hak perempuan untuk menulis. Akan tetapi saat saya lanjut membacanya, saya menyadari bahwa Woolf sungguh-sungguh menunjukkan kejengkelan bahwa terlalu banyak tulisan yang diproduksi. Pada waktu itu saya membuat catatan bahwa Woolf mungkin akan membenci internet, tapi saya lupa mengembangkannya menjadi sebuah esai yang potensial karena ada proyek lain yang mengalihkan imajinasi saya. Esai Tolentino lah yang membuat saya kembali mengingat catatan tentang Woolf itu hingga menyadari bahwa selang seabad keduanya berbincang dengan satu sama lain.

Woolf sempat menyebutkan age’s fiction dan perangkat literatur lainnya tapi dengan segera mengarah pada sumber sebagian besar lembaran yang ada di mejanya: esai personal. Dia mengatakan, benar bahwa esai personal pertama-tama ditulis oleh Montaigne, tapi esai personal telah menjadi perangkat literatur yang begitu populer hingga “kita merasa berhak untuk menjadikannya sebagai milik kita sendiri.”

Meski demikian, hanya karena begitu banyak esai personal ditulis bukan berarti bentuk tulisan itu benar-benar bagus sebagai literatur. Dia mengakui bahwa “keunikan format” esai mengambil bentuk dari beragam jenis tulisan, meskipun karakter tulisan jenis itu utamanya dicirikan oleh “keegoisannya”.

“Hampir semua esai dimulai dengan pengungkapan Saya yang besar-‘Saya kira,’ ‘Saya rasa,’-dan jika kamu sudah menggunakan kata itu, maka jelaslah bahwa kamu tidak sedang menulis sejarah atau filsafat atau biografi atau apa pun melainkan menulis sebuah esai, yang bisa jadi cerdas atau hebat, yang mugkin saja bergumul soal keabadian jiwa, atau malah membahas gejala rematik di bahu sebelah kirimu, tapi itu semata-mata sebuah pengungkapan opini pribadi.”

Pembaca bisa menyimpulkan bahwa gagasan Woolf atas esai yang absurd adalah tentang seseorang yang menulis perihal gejala rematik di bahu kirinya. Bagi Tolentino, yang paling absurd adalah seorang perempuan yang menulis tentang dirinya mengeluarkan segumpal bulu kucing dari vaginanya. Saya berandai-andai jika para editor di era Edwarian tidak terbelenggu hukum tentang kecabulan pada masanya, apakah mereka akan menerbitkan sebuah esai tentang vagina yang dipenuhi bulu kucing.

Woolf mengatakan bahwa zamannya tidaklah lebih egois dari era sebelumnya, akan tetapi orang sezamannya memiliki keunggulan dalam “ketangkasan manual mempergunakan pulpen.” Dia berpendapat bahwa berkembangbiaknya tulisan disebabkan oleh banyaknya orang yang bisa menulis dan mempunyai akses terhadap kertas dan pulpen.

“Tentu saja ada orang-orang hebat yang menggunakan medium ini dengan kesungguhan, karena ini cara terbaik mengejawantahkan inti dari pemikiran mereka. Tapi di sisi lain, ada terlalu banyak orang yang membuat kekeliruan fatal, dan membiarkan kegiatan mekanis menulis itu sendiri menggerakkan pikiran yang semestinya hanya bisa digerakkan oleh hal yang lebih mulia”

Dengan kata lain, orang-orang merasa bahwa selama mereka bisa menggerakkan pulpen di atas kertas, maka mereka mampu membuat karya tulisan. Tapi sebagaimana semua guru menulis akan memberitahumu di zaman ini, seperti halnya Woolf di masa itu, “tidak serta merta begitu.”

Woolf menulis bahwa salah satu konsukuensi dari membanjirnya tulisan-tulisan yang dipublikasikan ini adalah menumpulnya kritik seni. Kini siapa pun merasa mampu menyatakan bahwa mereka menyukai atau tidak menyukai sesuatu, kritik itu berubah menjadi “ocehan ramah-tamah di meja makan-yang dibungkus dalam bentuk esai.”

Jadi nampaklah bahwa gemeretuk yang muncul baru-baru ini atas menurunnya kualitas intelektual dari kritik seni merupakan sebuah kritik yang sudah diantisipasi Woolf pada tahun 1905.

Dia meminta jika orang hendak menulis esai, maka berhentilah membagikan opini mereka tentang karya seni dan sebagai gantinya, belajarlah untuk mengisahkan hal yang nyata tentang diri mereka di atas halaman itu. Dia memperingatkan bahwa masalah utama dalam autobiografi kontemporer dan tulisan sejenis itu adalah lenyapnya keberanian.

“Berhadapan dengan momok yang buruk tentang diri mereka sendiri, sang pemberani cenderung melarikan diri atau menyembunyikan matanya.” Bagi Woolf, inti kebobrokan esai personal adalah bahwa orang merasa mampu menulis tentang hal yang mereka hanya punya opini yang dangkal atasnya. Dan yang seharusnya dilakukan dalam esai personal yaitu-menceritakan kebenaran yang nyata tentang hidupnya sendiri-malah dihindari. Esai mengabaikan “nilai keutamaan yaitu kejujuran,” selagi penulis berlagak “paling tahu dan paling benar”.

Selengkahpnya di majalah “Book Coffee and More” by Galeri Buku Jakarta. (*)

____

Para penulis dan kontributor yang dicintai pembacanya. Kisah-kisah itu penting dan membawa para pembaca pada kedalaman nun filosofis. Galeri Buku Jakarta mengetengahkan tulisan penting dan mendalam juga kolom dan kerya penerjemahan tentang sastra, politik, bisnis dan sains, serta budaya pop dan seni, bersama dengan dosis dari publikasi puisi dan cerita pendek juga kajian bukunya yang khas. Selain penayangan website juga edisi cetak dari majalah Book Coffee and More  yang dikelola tim editorial Galeri Buku Jakarta. Kami selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu.  Setiap minggu selama lebih dari 4 tahun, Kami telah mencurahkan waktu, pikiran, cinta, dan sumber daya yang luar biasa ke Galeri Buku Jakarta / galeribukujakarta.com, yang tetap bebas (dan bebas iklan) dan dimungkinkan oleh patronase. Kami membutuhkan ratusan jam sebulan untuk meneliti dan menulis, dan ratusan juta untuk bertahan. Jika Anda menemukan kegembiraan dan penghiburan dalam kerja cinta ini, silakan pertimbangkan untuk menjadi pendukung dan ikut berkontribusi mengirimkan karya penerjemahan yang Anda kerjakan dengan antusias ke redaksi galeribukujakarta@gmail.com —antara secangkir kopi dan makan siang yang enak. Dukungan Anda akan sangat berharga untuk komunitas kami (*)

Continue Reading

COFFEESOPHIA

Warisan Kesepian

mm

Published

on

Kau bisa bahagia di mana saja, tidak bahagia di mana saja.. Seorang yang merangkul dalam dirinya pengalaman banyak manusia lain dengan segala rupa kondisinya ia tidak akan pernah sungguh-sungguh kesepian.

Oleh | Bindu Bansinath | The Paris Review | Diterjemahkan oleh Regina N. Helnaz dari “An Inheritance of Loneliness”

______

Karantina membuatku merasa menjadi perempuan yang lebih kesepian, tapi aku selalu merengkuh warisan rasa kesepian perempuan lain. Di usia awal dua puluhan, ibuku meninggalkan rumah ibunya di Bengaluru untuk pindah ke New York, tempat suami barunya — ayahku — tinggal sejak beberapa tahun sebelumnya. Ibunyalah, atau nenekku, yang mengatur perjodohan mereka. Nenek sangat senang mengirim ibuku ke Amerika, meskipun ibuku tidak ingin menikah dan tidak mengidealkan datang ke Amerika seperti ibunya.

Kau bisa bahagia di mana saja, tidak bahagia di mana saja, kata nenek pada ibuku. Keduanya memiliki hubungan ibu-anak seperti yang ada di novel Jamaika Kincaid: penyayang tapi kontroversial, penuh kedisiplinan dan peringatan tentang betapa sulitnya menjadi seorang perempuan.

Ibuku mengingat kehidupan awalnya di New York sebagai semacam karantina mandiri. Sementara ayahku bekerja, dia menghabiskan hari-harinya terisolasi di apartemen studio kecil mereka, gelisah, memasak dan membersihkan dan menatap dinding putih. Seorang kerabat yang senang bergosip di tempat asalnya dulu menakut-nakutinya untuk percaya kalau dia akan dibunuh jika dia membuka pintu depan rumahnya di Amerika. Sesekali, dia berbicara dengan perempuan yang ada di apartemen sebelah. Tetapi sebagian besar waktu istirahatnya, ibuku habiskan untuk tidur. Dia sering sengaja tidur dan sering, mencoba memasuki kembali kehidupan lamanya dalam mimpinya: berjalan-jalan dengan teman-teman kuliahnya ke truk pani puri, gonggongan anjing Pomeranian milik tetangga, denyut nadi kehidupan sebagai perempuan yang belum menikah, hidup dengan canda tawa dan kebebasan. Ibuku membenci ibunya karena menikahkannya. Mereka berbicara sebulan sekali, melalui panggilan internasional, di mana mereka berdebat tentang takdir. Dan kemudian ibuku akan menutup telepon, merindukan ibunya, dan tidur lebih lama lagi.

Pengalaman seperti ibuku ialah hal yang lumrah bagi banyak perempuan. Pengalaman itu sering kali dibuat fiksi dan menjadi novel tentang pengalaman imigran, novel yang banyak pembaca dari komunitas imigran sudah bosan dengannya. Tidak bisakah kita menceritakan kisah selain tentang datang ke Amerika dan berasimilasi? Namun, narasi-narasi itu menarik bagiku — berisi cerita tentang rasa kesepian para perempuan yang selalu saja memikatku.

Aku telah membaca Lucy karya Jamaica Kincaid berulang kali. Ini adalah novel yang kubaca lagi ketika mendambakan buku yang pernah kusukai sebelumnya. Terbit pertama kali pada tahun 1990, Lucy berkisah tentang seorang perempuan muda yang meninggalkan rumahnya di Hindia Barat untuk bekerja sebagai au pair bagi Mariah dan Lewis, pasangan kulit putih kaya di Amerika Serikat. Sekilas, Lucy tampak seperti novel yang dibuat untuk kucintai: Aku selalu ingin menjadi sosok perempuan yang berjuang untuk bangkit, jadi aku menyukai cerita tentang perempuan yang berjuang untuk bangkit. Dasar pemikiran Lucy menyiratkan narasi tentang kebangkitan sosial — seorang perempuan muda berpenghasilan, tipe pengasuh modern yang berdiri di atas kakinya sendiri. Di permukaan, novel itu nampaknya menjanjikan diri sebagai bildungsroman imigran lainnya, memetakan jalan proses pendewasaan seorang perempuan muda ke dalam masyarakat di mana hal-hal seperti tali sepatu dirayakan.

Tapi Lucy tidak peduli tentang kebangkitan sosial atau asimilasi. Kincaid tidak repot memikirkan tentang proses menjadi seorang perempuan, melainkan tentang keadaan aktual sebagai seorang perempuan. Bagaimana seseorang bisa menjadi seperti itu? Lucy bertanya-tanya, berulang kali. Apa yang dia inginkan — semua yang dia inginkan — adalah sendirian. Dia ingin mengisolasi dirinya sendiri sebelum masyarakat mengambil kesempatan untuk mengisolasi dirinya. Kesendirian adalah tindakan mempertahankan diri, sedangkan kesepian bisa menjadi tindakan kekerasan, sehingga setiap pilihan yang dibuat Lucy adalah mencari kesendirian. Dia memilih meninggalkan pulau itu. Dia memilih meninggalkan ibunya, seorang ibu yang, untuk semua keganasan cintanya, membesarkan putrinya dengan tangan patriarki yang sama yang juga telah membesarkannya.

Begitu sampai di Amerika, Lucy mengabaikan setumpuk surat yang dikirim ibunya, semua catatan tentang cinta, hukuman, dan kerinduan. Dia mulai menyayangi majikannya, Mariah, seperti sesosok ibu, dan keduanya membentuk ikatan meskipun ada jurang perbedaan kelas antara mereka. “Hal yang benar selalu terjadi padanya,” kata Lucy tentang Mariah. “Hal yang selalu dia inginkan terjadi, terjadi.” Setelah pernikahan Mariah hancur, Lucy berdiri di sisinya. Namun jarak di antara mereka melebar, dan akhirnya Lucy menyisihkan sejumlah uang yang cukup untuk meninggalkan ibu walinya juga. Dengan uang yang dia hasilkan sebagai au pair, Lucy dan seorang temannya pindah ke apartemen dan berbagi uang sewa. Di sana, setidaknya dia menemukan kesendiriannya, dia akhirnya membalas surat ibunya. Dia sengaja memasukkan alamat pengirim yang salah, memutuskan korespondensi mereka selamanya. Tetapi bahkan di apartemennya, dengan ruangan-ruangan kecil dan jendela kamar mandi berjeruji, Lucy masih belum lepas dari ibunya. Suara ibunya hidup di dalam dirinya — itu juga suara Lucy. Lucy terdiri dari dua perempuan: dirinya dan ibunya. “Aku tidak seperti ibuku,” katanya, “Aku adalah ibuku.” Seseorang yang merangkul dalam dirinya pengalaman manusia lain dengan segala rupa kondisinya, ia tidak akan pernah sungguh-sungguh kesepian.

Saat aku duduk, sendirian, di masa karantina, ini keempat kalinya aku membaca ulang Lucy, tapi aku masih ingat kali yang pertama. Aku masih kuliah, dan profesorku memperkenalkan setiap novel yang kami pelajari dengan kutipan di papan tulis yang diambil dari novel lain. Untuk Lucy, kutipan itu diambil dari Middlemarch karya George Eliot. Eliot menulis, dan aku tidak pernah lupa:

Jika kita memiliki penglihatan dan perasaan yang tajam akan semua kehidupan manusia biasa, rasanya akan seperti mendengar rumput tumbuh, dan detak jantung tupai, dan kita akan mati karena raungan yang terletak di sisi lain dari keheningan.

Kutipan itu hadir di satu momen dalam Middlemarch ketika sang tokoh utama perempuan baru saja menikah. Dia menangis di bulan madunya. Suami barunya, sosok yang dia ingin setara dengannya, telah menurunkannya ke posisi pembantu. Penderitaan tokoh utama perempuan itu mendalam — friksi klaustrofobia dalam perkawinan, kesadaran bahwa pria adalah sosok yang sedari dulu memang seperti itu — tetapi itu pun hal biasa, dan narator cerdas Eliot tahu bahwa pembaca tidak bersimpati dengan rasa sakit yang biasa. Bersimpati dengan hal-hal biasa tidak praktis; itu artinya berlebihan dalam merasa. Selengkahpnya di majalah “Book Coffee and More” by Galeri Buku Jakarta. (*)

____

Para penulis dan kontributor yang dicintai pembacanya. Kisah-kisah itu penting dan membawa para pembaca pada kedalaman nun filosofis. Galeri Buku Jakarta mengetengahkan tulisan penting dan mendalam juga kolom dan kerya penerjemahan tentang sastra, politik, bisnis dan sains, serta budaya pop dan seni, bersama dengan dosis dari publikasi puisi dan cerita pendek juga kajian bukunya yang khas. Kami selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu.  Setiap minggu selama lebih dari 4 tahun, Kami telah mencurahkan waktu, pikiran, cinta, dan sumber daya yang luar biasa ke Galeri Buku Jakarta / galeribukujakarta.com, yang tetap bebas (dan bebas iklan) dan dimungkinkan oleh patronase. Kami membutuhkan ratusan jam sebulan untuk meneliti dan menulis, dan ratusan juta untuk bertahan. Jika Anda menemukan kegembiraan dan penghiburan dalam kerja cinta ini, silakan pertimbangkan untuk menjadi pendukung dan ikut berkontribusi mengirimkan karya penerjemahan yang Anda kerjakan dengan antusias ke redaksi galeribukujakarta@gmail.com —antara secangkir kopi dan makan siang yang enak. Dukungan Anda akan sangat berharga untuk komunitas kami (*)

Continue Reading

COFFEESOPHIA

Zialo—tentang gelegak yang tak bisa meledak—terluka dengan (cara yang tak terlalu) sederhana.

mm

Published

on

Puisi-puisi dalam buku ini ditandai dengan tahun 2008 sebagai puisi pertama yang ditulis hingga tahun 2011. Setelah itu tahun penciptaan melompat ke tahun 2020. Hampir 90 % puisi memang ditulis tahun 2020, menandai wabah corona dan isolasi ruang untuk “di rumah saja”.

zialo akan rilis pada 21 Oktober 2020. Pre order dibuka saat ini sampai tanggal 19 oktober 2020 dengan diskon 20% (Rp.70.400) dari harga asli Rp. 88.000. Hubungi whatsapp 082111450777 untuk pemesanan.

Penyair Afrizal Malna dalam komentar pengantarnya untuk buku ini menuturkan “Kereta-kereta di kepala Zialo” merupakan sebuah topeng memori dalam memandang cinta yang telah berlalu maupun yang sedang terjadi. Pengalaman, ingatan dan pemaknaan atas peristiwa cinta, membangun topeng memori yang khas. Dan bisa menjadi jebakan: hubungan jatuh sebagai pemaknaan tentang lelaki atau tentang perempuan. Pengalaman dibekukan ke dalam pencarian identitas dalam konteks hubungan cinta. Berbagai nilai, situs sejarah, mitos-mitos, perjalanan lintas budaya saling berkelindan untuk mendapatkan stasiun yang bisa menyatukan seluruh retakan ini. Medium kereta selalu menandai terjadinya pertemuan-pertemuan baru, kota-kota, budaya, orang-orang, bahasa, bangunan, alam, makanan, pakaian, sesuatu yang lain dan asing. Setelah itu kita seperti sebuah gerbong panjang yang tidak pernah kosong, mengangkut banyak hal sebagai bagian yang telah menjadi “orang lain”. Apakah cinta bisa mengarahkan dari mana kereta akan berangkat dan di mana akan berhenti. Atau keretalah yang akan menentukan siapa penghuni yang akan masuk ke dalam gerbong cinta itu dan siapa yang harus pergi—dan penghuni berganti lagi. Sebuah buku puisi yang memang menempatkan cinta sebagai sebuah perjalanan kereta. (*)

Sementara Pengajar Ilmu Susastra, FIBUI, Melani Budianta menuliskan untuk buku ini: Di tengah pusaran masa kini-masa depan yang selalu berbalik ke masa lalu, puisi-puisi Herlinatiens membentangkan perjalanan ala Sisyphus yang tak kunjung usai.  Rasa-ingatan terjebak dalam dunia metafora kereta api, jam stasiun, gerbong,peluit keberangkatan, rel kereta dan bantalannya, kursi kereta dan remah-remah di lantai, yang menjelma secara surealis menjadi biduk terombang-ambing di samudra tak berpantai, atau serangga di gurun pasir tak bertepi.  Rindu tak sampai, cinta tersangkal, gelegak  yang tak bisa meledak menjadi purgatori bagi akulirik yang—meminjam frasa viral Sapardi—terluka dengan (cara yang tak terlalu) sederhana.

Pada akhirnya, seperti kata penulisnya sendiri, herlinatiens[1], puisi-puisi ini pulang ke rumah yang didadanya, menemu nafas hidup mereka. Untuk kekasihku, Zialo, yang menjadi nyala redup api di dadaku.

AVAILABLE FOR PRE ORDER NOW

#zialo akan rilis pada 21 oktober 2020. Bagi yang akan membeli bisa mulai pre-order mulai tanggal 6-19 Oktober 2020 via whatsapp 082111450777 dengan diskon 20% (Rp.70.400) dari harga asli Rp. 88.000.


[1] Herlinatiens—Novel pertamanya “Garis Tepi Seorang Lesbian” rilis pada 2003. Sampai novel terakhirnya  pada 2012 “Maria Tsabat” ia tercatat telah menerbitkan 14 novel termasuk karya best seller “Malam Untuk Soe Hok Gie” (2005) dan “Dejavu” (2004). Herlinatiens kini tinggal dan bekerja di Yogyakarta, Menyelesaikan studi pada Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Buku sajak “Kereta-Kereta di Kepala Zialo” merupakan kumpulan sajak pertama Herlinatiens—memasuki arena baru puitik dari wilayah prosa yang biasa digelutinya.

__

Continue Reading

Trending