Connect with us

COLUMN & IDEAS

T.S. Eliot : Tradisi Dan Bakat Individu

mm

Published

on

            I

            Dalam tulisan khas Inggris kita tidak begitu banyak bicara tentang tradisi, meski sesekali kita memakai kata ini demi mengisi ketidakhadirannya. Kita tidak bisa mengatakan “ini tradisi” atau “suatu tradisi”; Tapi kita lebih banyak menggunakan kata sifat dalam mengatakan puisi si anu “tradisionil” atau bahkan “terlalu tradisionil”. Jarang barangkali kata ini muncul, kecuali dalam suatu ungkapan mencela. Kalaupun kata ini dipakai, kata ini juga membingungkan dan susah diterima dengan baik, dengan implikasi, sebagaimana kata ini harus disetujui, dengan rekonstruksi arkeologis yang bagus. Anda bakal susah membuat suatu kata bisa diterima oleh telinga orang Inggris tanpa acuan ilmu pengetahuan arkeologis yang meyakinkan.

Tentunya kata ini tidak bakal hilang dalam apresiasi kehidupan atau penulis kita terdahulu. Setiap bangsa, ras, tidak hanya punya perubahan pikiran yang kreatif tapi juga kritis; bahkan kelemahan dan batasan kebiasaan kritisnya tidak begitu diperhatikan dibanding bakat kreatifnya. Kita tahu, atau kita mengira kita tahu, dari begitu banyaknya tulisan metode kritis atau kebiasaan kritis dalam bahasa Perancis; kita lalu menyimpulkan ( alangkah tidak sadarnya kita) bahwa orang Perancis “lebih kritis” dibanding kita, dan kadang kita pun berkilah dengan mengatakan sebaliknya bahwa orang perancis kurang spontan. Barangkali memang begitu, tapi harus diingat bahwa kritik adalah kemestian, layaknya bernafas, dan kita jangan sampai tidak bisa mengartikulasikan ide dalam pikiran kita di saat membaca sebuah buku dan merasakan emosi yang diakibatkannya, karena dengan mempertanyakan pikiran kita sendiri kita bisa bisa melakukan kritik atas karya mereka. Satu fakta yang perlu diperjelas dalam proses ini adalah kecenderungan kita dalam menekankan aspek-aspek karya seseorang, misalkan saat kita sedang memuji sebuah puisi, bahwa karyanya tidak begitu mirip dengan karya si anu. Dalam aspek dan bagian karya orang ini, kita lalu berusaha menemukan apa yang khas secara individu, yang esensial manusia. Kita lalu tenggelam dalam kepuasan meihat perbedaan penyair ini dengan pendahulunya, khususnya siapa saja yang mempengaruhi karyanya; kita berusaha sedemikian rupa menemukan sesuatu yang bisa dijauhkan untuk kita nikmati sendiri. Sedangkan kalau kita mendekati seorang penyair tanpa prasangka ini, kita akan sering menemukan tidak hanya karya terbaiknya tapi juga bagian-bagian paling individual yang barangkali terdapat dalam karya penyair yang telah meninggal, para penyair awal, yang abadi. Yang saya maksud bukan periode awal era impressionis tapi periodenya yang sudah matang.

Sekiranya keberlangsungan bentuk tradisi hanya dengan cara langsung bulat-bulat mengikuti kesuksesan generasi sebelumnya, maka “tadisi” seharusnya tidak usah dilanjutkan. Kita banyak melihat contoh-contohnya yang hilang begitu saja; karena kebaruan lebih baik dibanding pengulangan. Tradisi mencakup masalah lebih luas lagi. Tradisi tidak bisa diwarisi, tapi kalau anda ingin, anda harus meraihnya dengan usaha yang luar biasa. Yang utama di sini adalah kepekaan akan sejarah (the sense of history), yang harus dimiliki setiap orang yang tetap ingin menjadi penyair setelah berumur dua puluh lima; dan kepekaan akan sejarah melibatkan suatu persepsi, bukan hanya tentang kemasa-laluan apa yang sudah terjadi, tapi juga ke-kini-an; kepekaan akan sejarah tidak hanya membuat seseorang menulis tentang generasinya sekarang semata, tapi dengan kesadaran bahwa dari kesusastraan Eropa sampai Homer dan keseluruhan sastra dimana ia berada, hadir terus menerus dan membentuk keteraturan yang berkesinambungan. Kepekaan akan sejarah adalah kepekaan akan yang abadi sekaligus yang sementara dan yang abadi dan yang sementara bersamaan. Inilah yang membuat seorang penulis “tradisionil”. Dan pada saat yang sama, ini juga yang membuatnya sangat menyadari akan ikatan tempat dan waktu, dimana ia berada.

Tak seorang penyair, atau seniman manapun, yang bisa punya arti lengkap tersendiri. Arti pentingnya, apresiasinya adalah apresiasi dari hubungannya dengan penyair yang terdahulu dan yang sekarang. Anda tidak bisa menilainya semata-mata ia sendiri; anda harus menempatkannya dalam perbedaan dan perbandingan dengan penyair yang terdahulu. Yang saya maksud adalah prinsip estetika, tidak hanya sejarah atau kritik. Perlunya bahwa ia cocok, atau sesuai adalah masalah satu sisi; apa yang terjadi ketika suatu karya seni tercipta adalah sesuatu yang terjadi berkelanjutan pada semua karya seni sebelumnya. Pencapaian sastra yang telah ada membentuk keteraturan yang ideal di antara mereka sendiri, yang diubah oleh munculnya suatu karya seni yang betul-betul baru di dalamnya. Keteraturan yang telah ada menjadi lengkap sebelum karya seni baru lainnya muncul lagi; karena keteraturan untuk mempertahankan setelah diikuti dengan lekat dengan kebaruan, keseluruhan keteraturan yang ada mesti berubah, sekecil apapun; dan begitu juga dengan pola hubungan, proporsi, nilai tiap karya seni secara keseluruhan, semua diatur kembali; dan, inilah yang dimaksud dengan konformitas antara yang lama dan yang baru. Siapapun yang menyetujui ide keteraturan, apakah itu dalam bentuk sastra Eropa ataupun Inggris akan mengetahui bahwa bisa saja masa lalu diubah oleh masa sekarang seperti halnya masa sekarang yang juga ditentukan oleh masa lalu. Dan seorang penyair yang punya kesadaran akan hal ini sadar akan kesulitan pelik dan tanggung jawabnya.

Dalam hal tertentu, seorang penyair sadar bahwa ia bisa saja dinilai dengan standart nilai masa lalu. Saya tekankan di sini, “dinilai”, bukan “dibantai” , oleh nilai-nilai tersebut, tidak dinilai sama bagusnya dengan, atau lebih jelek atau lebih baik dari penyair terdahulu; dan juga bukan dinilai oleh kritikus master/sokoguru sastra  yang pernah ada. Yang saya maksud adalah suatu penilaian, perbandingan, dimana dua hal diukur oleh satu sama lainnya. Menyetujui semua hal yang baru bukan berarti menerima semuanya; tentunya tidak baru lagi kalau diterima semua, dengan demikian, tidak menjadi suatu karya sastra lagi. Kita tidak bermaksud mengatakan bahwa hal yang baru lebih bernilai karena kecocokannya, tapi kecocokan ini adalah tes nilai – suatu tes, yang memang benar, yang hanya bisa dipakai dengan perlahan dan hati-hati, karena tidak satu pun dari kita dengan penilaian mutlak terhadap konformitas. Kita katakanlah: kelihatannya konformitas, tapi bisa juga individual, atau kelihatannya individual, tapi bisa jadi konformitas; namun kita susah juga menetukan apakah konformitas atau individual.

Untuk menghasilkan penjabaran yang cerdas tentang hubungan penyair dan masa lalu: seorang penyair tidak bisa menganggap masa lalu sebagai benjolan yang mengganggu, suatu obat sembarangan, ia tidak bisa saja fanatik pada satu atau dua orang yang dikaguminya, atau pada satu periode tertentu. Keadaan pertama tentu tidak bisa diterima, yang kedua tentu berhubungan dengan pengalaman masa muda penting penyair, dan yang ketiga adalah suplemen menyenangkan yang diingininya. Seorang penyair harus selalu mengikuti perkembangan zaman, yang tentu saja tidak mengalir secara tetap selama reputasinya sedang menanjak. Ia mesti selalu sadar akan fakta bahwa seni tidak pernah berubah, tapi bahan seni lah yang tidak pernah sama. Ia mesti sadar bahwa alam pikir Eropa – alam pikir negerinya sendiri – suatu alam pikir yang ia pelajari selama hidup yang jauh lebih penting daripada alam pikirnya sendiri, selalu berubah, dan bahwasanya perubahan ini adalah perkembangan yang tidak membuang apapun selama perubahan itu terus berlangsung (en route), yang tetap menghidupkan apakah itu karya Shakespeare, Homer, atau juga lukisan bebatuan pelukis era Magdalenian. Dari sudut pandang seniman, perkembangan atau perbaikan ini, yang memang rumit,  barangkali bukanlah suatu kemajuan, dari sudut pandang psikologis mungkin juga begitu, atau dari apa yang kita bayangkan sekalipun; mungkin hanya dari sisi ekonomi dan permesinan saja adanya kemajuan. Tapi yang jelas, perbedaan antara masa sekarang dan masa lalu adalah bahwa kesadaran ke-kini-an adalah kesadaran akan masa lalu dalam suatu cara dan pada pengertian dimana kesadaran kemasa-laluan itu sendiri tidak akan bisa muncul.

Seseorang pernah berkata: “Penulis yang telah meninggal jaraknya jauh dari kita karena kita tahu jauh lebih banyak daripada apa yang mereka tahu” Pendeknya, mereka adalah apa yang kita tahu.

Saya menaruh perhatian pada keberatan umum dari apa yang jelas-jelas merupakan bagian dari keahlian saya dalam kekhasan (metier) puisi. Keberatan ini adalah bahwa doktrin tentang puisi yang membutuhkan pengetahuan yang melimpah, yang terlihat menyombongkan (pedantry), suatu klaim yang bisa ditolak dengan pertimbangan kehidupan para penyair yang tinggal dalam kuil-kuil panteon. Bahkan diperkukuh bahwa kebanyakan belajar akan mematikan atau menyimpangkan sensibilitas puisi. Namun sebaliknya, kita tetap meyakini bahwa seorang penyair harus mengetahui sebanyak tidak menggerogoti daya penerimaan dan kemalasannya berkarya, kita tidak menginginkan pengungkungan pengetahuan ke dalam berbagai bentuk ujian yang berguna, ruang gambar, atau bentuk publisitas ketenangan yang mewah. Beberapa penulis bisa menyerap pengetahuan, dimana semakin tekun ia semakin bagus hasil karyanya. Shakespeare lebih banyak memperoleh pengetahuan sejarah penting dari buku Plutarch dibanding keseluruhan Museum British. Apa yang perlu ditekankan disini adalah bahwa penyair harus mengembangkan atau mendapatkan kesadaran masa lalu dan ia harus terus melanjutkan kesadaran ini sepanjang karirnya.

Apa yang terjadi adalah penyerahan diri secara berkelanjutan sebagaimana ia berada pada momen yang lebih berharga. Kemajuan seorang penyair adalah pengorbanan diri terus menerus, suatu penghilangan personalitas tiada henti.

Disinilah bagaimana harus mendefenisikan proses penghilangan diri (depersonalization) dan hubungannya dengan kepekaan tradisi. Dalam proses penghilangan diri inilah seni dikatakan memasuki ranah sains. Untuk itu saya mengajak Anda untuk menyadari hal ini, sebagai usulan analogi, tindakan yang yang berlangsung ketika serpihan platinum sepuh tak berharga dimasukkan ke dalam bilik berisi oksigen dan sulfur dioksida.                           

 

II

 

Kritik yang jujur dan apresiasi yang mengena bukan ditujukan pada si penyairnya, tapi karyanya. Kalau kita mengikuti ulasan kritik sastra yang marak dan berulang-ulang di koran, kita akan menemukan sederet nama penyair. Kalau kita hanya mencari kesenangan puisi semata tanpa pengetahuan mendalam, dan kita meminta sebuah puisi, ini jarang ditemukan. Saya sudah menjelaskan pentingnya hubungan puisi dengan puisi dari penyair lainnya, dan mengusulkan konsep puisi sebagai suatu kehidupan yang menyeluruh dari semua puisi yang pernah ditulis. Aspek lain dari teori impersonal (Impersonal Theory) puisi adalah hubungan sajak puisi dengan penyairnya. Dan disini saya mengisyaratkan dengan sebuah analogi, bahwa perbedaan pikiran penyair yang matang dengan yang tidak matang tidak semata-mata terdapat dalam evaluasi “personalitas”, bukan hanya apakah puisi tersebut lebih menarik atau tidak, atau apakah puisi tersebut mempunyai isi “yang lebih banyak yang bisa dikatakan”, tetapi perbedaan ini lebih pada penyempurnaan puisi sebagai medium  dimana perasaan spesial, atau yang beragam, bebas memasuki suatu kombinasi baru.

Analoginya sama dengan katalis. Ketika oksigen dan sulfur dioksida dicampur dalam kawat platinum halus, mereka membentuk asam sulfur. Kombinasi ini hanya terjadi jika platinumnya ada; dengan begitu, asam yang baru terbentuk tidak meninggalkan bekas platinum, dan platinum itu sendiri tidak terpengaruhi: platinumnya tetap ada, bersifat netral, dan tak berubah. Alam pikir penyair seperti serpihan platinum. Secara terpisah dan eksklusif bekerja terhadap pengalaman manusia itu sendiri; tapi, semakin sempurna penyair, semakin lengkap keterpisahan dalam dirinya sebagai manusia yang menderita dan pikiran yang mencipta, semakin sempurna pula lah pikirannya mencerna dan mengubah semangat (passions) sebagai materinya.

Pengalaman, seperti yang Anda nanti bisa lihat sendiri, adalah elemen yang memasuki kehadiran katalis yang mengalami perubahan. Ada dua macam pengalaman, emosi dan perasaan. Pengaruh karya seni terhadap seseorang yang menikmatinya adalah  suatu pengalaman yang berbeda dengan pengalaman seseorang terhadap yang bukan karya seni. Pengalaman ini bisa terbentuk dari suatu emosi, atau bisa juga kombinasi beberapa hal; dan berbagai bentuk perasaan, dan apa saja yang melekat pada puisi itu sendiri seperti kata-kata khusus, frase atau gambaran (images), yang ditambahkan oleh bentukan hasil akhir. Atau bisa juga sebuah puisi yang bagus dibuat tanpa adanya emosi langsung apapun: puisi yang ditulis semata-mata dari perasaan. Canto XV Inferno (Brunetto Latini) sebagai contoh, adalah puisi yang ditulis dengan adanya bukti situasi emosi; tapi pengaruhnya, meski hanya satu seperti karya puisi lainnya, bisa diperoleh dengan kompleksitas hal-hal terperinci. Kuatrain berikut ini menghasilkan suatu gambaran, suatu perasaan yang melekat pada satu gambaran, yang “datang”, yang tidak berkembang dengan begitu saja dari yang sebelumnya, tapi yang mungkin berada dalam penangguhan (suspension) alam pikir penyair sampai akhirnya kombinasi yang pantas muncul bertambah.

Terjemahan Dorothy L. Sayers:

Then he turned round,

And seemed like one of those who over the flat

And open course in the fields beside Verona

Run for the green cloth; and he seemed, at that,

Not like a loser, but the winning runner.

 

Alam pikir penyair adalah wadah untuk menggunakan dan menyimpan perasaan yang tak terhitung banyaknya, frase, gambaran, yang menggenang di sana sampai akhirnya semua partikel yang bisa menyatu membentuk gabungan baru hadir bersamaan.

Kalau Anda bandingkan beberapa puisi representatif yang pernah ada, Anda akan lihat begitu hebatnya keragaman jenis kombinasi dan kelengkapan kriteria semi-etis “keindahan (sublimity)” di dalamnya. Karena itu, masalahnya bukan “kehebatan (greatness)”, intensitas, tekanan, emosi, komponen, tetapi adanya intensitas proses artistik, dengan cara lain bisa dikatakan suatu tekanan di bawah percampuran yang berlangsung, inilah yang penting. Episode puisi Paolo Francesca menggunakan emosi yang terbatas, tapi intensitas puisinya menjadi sesuatu yang berbeda dari intensitas pengalaman kesan apapun terhadapnya. Dalam Canto XXVI, perjalanan Ulysses, juga tidak terlepas dari ketergantungan langsung terhadap emosi. Kehebatan keragaman bisa saja hadir dalam proses transmutasi emosi: contohnya pembunuhan Agamemnon, atau penderitaan Othello, puisi-puisi ini memberikan efek artistik jelas yang lebih dekat  dan orisinil dibanding karya Dante. Dalam Agamemnon, emosi artistik hampir sama dengan emosi penontonny, tapi dalam karya Othello emosinya lebih hadir dalam sang tokoh protagonis sendiri. Tapi di sini ada perbedaan antara seni dan kejadian yang absolut; kombinasi yang ada dalam pembunuhan Agamemnon mungkin sama kompleksnya  dengan yang ada dalam perjalanan Ulysses. Dalam satu kasus, tentu terjadi penggabungan (fusion) elemen. Puisi syair pujian (ode) karya Keats memiliki beberapa perasaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan burung bul-bul, tapi barangkali karena nama burung yang unik itu sendiri, dan tentu saja karena reputasi nama Keats sendiri.

Sudut pandang yang saya tidak setujui barangkali berhubungan dengan teori metafisikal kesatuan substansi jiwa (substantial unity of the soul): karena yang saya maksud adalah, bahwa penyair punya medium khusus untuk diekspresikan, tapi bukannya ekspresi “personalitas”. Suatu medium yang berfungsi betul-betul sebagai medium, dan bukan suatu personalitas, dimana kesan dan pengalaman menyatu dalam suatu cara khusus dantak terduga. Kesan dan pengalaman yang sangat penting buat manusia bisa saja tidak harus didapatkan melalui puisi, dan bagi siapa yang menjadikan puisi penting mungkin akan memainkan personalitasnya tidak begitu diperhatikan lagi.

Saya kutip di sini puisi Cyril Tourneur, The Revenger’s Tragedy (1607), puisi yang tidak biasa dilihat dari perhatiannya terhadap cahaya, atau kegelapan:

 

And how methinks I could e’en chide myself

For doating on her beaty, though hetr death

Shall be revenged after no common action.

Does the silkworm expend her yellow labours

For thee? For thee does she undo herself?

Are lordships sold to maintain ladyships

For the poor benefit of a bewildering minute?

Why does yon fellow falsify highways,

And put his life between the judge’s lips,

To refine such a thing- keeps horse and men

To beat their valours for her?

Dalam bait puisi ini (sebagai bukti puisi ini dikutip berdasarkan konteks), ada suatiu kombinasi emosi positif dan negatif: suatu ketertarikan kuat yang intens terhadap kecantikan dan sekaligus keterpesonaan yang intens terhadap kejelekan yang dikontraskan dan yang menghancurkannya. Keseimbangan emosi yang bertolak belakang ini berada dalam situasi dramatis dengan cara ujar yang saling terpaut, tapi situasi itu sendiri sebenarnya tidak memadai. Contoh ini, secara emosi struktural ditemukan dalam drama. Namun efek keseluruhan, suara (tone) dominannya ini disebabkan oleh adanya perasaan yang mengambang, karena daya tarik emosi ini tidak berarti bukti yang superfisial, karena telah bergabung dengannya sehingga memberikan pada kita suatu emosi seni yang baru.

 

Emosi ini bukan bersifat personal, emosi yang diprovokasi oleh peristiwa khusus dalam hidupnya. Seorang penyair dalam beberapa hal sangat tertarik pada emosi khusus yang kelihatan sederhana, kasar atau datar-datar saja. Emosi dalam karyanya menjadi sangat kompleks, tapi bukan dengan kompleksitas emosi masyarakat umum. Yang khas dalam puisi adalah mencari emosi-emosi manusia yang baru untuk diekspresikan; pencarian kebaruan ditempat yang salah akan menjadi keganjilan. Tugas penyair bukan mencari emosi-emosi yang baru, tapi menggunakan emosi yang biasa-biasa dan mengaduknya dalam puisi, mengekspresikan perasaan yang bukan emosi. Emosi yang belum pernah ia alami akan mengubahnya menjadi seperti sudah dialaminya. Dengan begitu, keyakinan kita bahwa “emosi yang terkumpul dalam ketenangan” adalah formula yang tidak pasti. ( Puisi adalah aliran perasaan spontan yang sangat hebat: istilah emotion recollected tranquility diambil dari Wordsworth, dalam buku Lyrical Ballads -1800 ). Karena yang sebenarnya bukan emosi, atau kumpulan emosi, atau apapun, yang nantinya pasti akan mengalami distorsi arti, ketenangan adalah suatu konsentrasi, dan hal baru yang dihasilkan dari konsentrasi, segala macam pengalaman yang bagi seseorang yang praktis dan aktif tidak dianggap sebagai pengalaman tentunya; yang dimaksud adalah konsentrasi yang tidak terjadi secara sadar atau sukarela. Pengalaman ini bukan “pengumpulan ulang” yang pada akhirnya menyatu dalam suatu atmosfir yang “tenang”, yang hanya dengan begitu lah pengalaman memasuki kejadian. Tentu masalahnya bukan ini saja, banyak hal yang mencakup dalam penulisan puisi, yang harus disadari dan disenangi. Perlu diketahui, penyair yang tidak baik selalu tidak menyadari dimana ia seharusnya sadar dan sadar dimana ia seharusnya tidak sadar. Kedua kesalahan ini akan menggiring karyanya menjadi “personal”. Puisi bukanlah pelepasan emosi, tapi suatu pelarian dari emosi, puisi bukan suatu ekspresi personalitas, tapi suatu pelarian dari personalitas. Jadi, tentunya bagi yang punya emosi dan personalitas tahu apa arti dari keinginannya melarikan diri dari hal ni.

…Sedangkan intelek adalah tanpa keraguan sesuatu yang lebih ilahi dan tidak selalu diam ( Aristoteles, dalam karyanya De Anima )

Esei ini bertujuan untuk berhenti di ujung luar metafisika atau mistis supaya memberi batasan demi mencapai kesimpulan praktis yang bisa diaplikasikan oleh orang yang tertarik dengan puisi. Mengalihkan ketertarikan dari satu penyair ke penyair lainnya akan berujung pada tujuan pemujian: karena ini akan mengubah estimasi puisi yang lebih proporsional dalam menilai sebuah puisi baik atau buruk. Banyak orang yang mengapresiasi ekspresi emosi sebuah sajak, tapi hanya sedikit yang bisa mengapresiasi kejenusan puisi ecara teknis. Dan lebih sedikit lagi orang yang tahu kapan suatu ekspresi menandai emosi, emosi yang hidup dalam puisi, bukan emosi yang terdapat dalam sejarah pengalaman hidup si penyair. Seni tentang emosi adalah hal impersonal. Seorang penyair tidak akan bisa mencapai personalitas ini tanpa menyerahkan dirinya sepenuhnya pada karya yang dikerjakannya. Seorang penyair dikatakan tidak tahu apa yang seharusnya ia ketahui kecuali jika ia yakin pada apa yang semata-mata masa sekarang, momen ke-kini-an tentang tentang masa lalu, dan kecuali jika ia sadar bukan pada yang telah mati tapi yang hidup.

*Thomas Stearns Eliot (1888-1965) adalah salah satu penyair terbesar dan kritikus sastra paling berpengaruh sepanjang masa. Lahir di St. Louis, Missouri, lulusan universitas Harvard dan Oxford, dan juga pernah belajar di Perancis dan Jerman. Pada 1914 ia menetap di Inggris dan menjadi warga negara Inggris pada 1927. Puisi awal pentingnya, The love of J. Alfred Prufrock muncul pada 1915. The Waste Land, puisi yang mengangkat namanya menjadi suara puitis generasinya, terbit pada 1922. Ia berteman dengan sang penyair jenius Ezra Pound dan juga menerbitkan esei dan ulasan sastra yang terkumpul dalam The Sacred Wood (1920). Pada 1922, Eliot mendirikan jurnal The Criterion, yang ia edit sampai 1939. Setelah bekerja beberapa tahun sebagai bankir, Eliot bergabung dengan penerbit Faber and Faber dan akhirnya menjabat sebagai direktur.

Continue Reading
Advertisement

COLUMN & IDEAS

Simposium Cinta Untuk Perempuan

mm

Published

on

getty image/ ‘Spring (Apple Blossoms)’ [1859, oil on canvas, 176 x 113cm, Lady Lever Art Gallery, LL3624] by Millais

Dalam bahasa Indonesia, kata cinta sering disandingkan dengan kata “asmara”. Makna cinta jauh lebih luas dan lebih rumit daripada kata asmara, karena “asmara” dapat dikatakan hanya merupakan gabungan dari kategori cinta seksual plus cinta romantis. Tetapi, cinta seksual yang semata-mata hanya bertujuan untuk kepuasan jasmaniah, meskipun dapat juga dibumbui dengan romantika, belum tentu merupakan “cinta asmara”, bahkan tidak juga dapat disebut “cinta” melainkan hanya merupakan “nafsu” birahi, (meskipun dalam bahasa Inggris disebut juga “love”).

 Gunawan Wiradi[1]

 

Sepanjang yang saya tahu, catatan sejarah mengenai pembahasan tentang “cinta” yang disajikan tertulis pertama kali adalah buku karya Plato berjudul “Symposium” (sekitar 300 tahun sebelum Masehi).

‘Simposium’-nya Plato

Plato berpandangan bahwa jalan yang terbaik untuk memperoleh pengetahuan adalah dengan diskusi. Karena itu semua karya Plato bentuknya adalah dialog. Begitu juga dengan “Symposium”, dia menceritakan dialognya berbagai peserta, walaupun sebenarnya dengan itu dia menyampaikan pesan-pesannya. Hakekat cinta, menurutnya, adalah perasaan “ketertarikan dan hasrat atau nafsu” untuk menyatu, walaupun kita tidak tahu dari mana asal usul perasaan itu (“Attraction and desire”).

Sebelum kita gambarkan isi buku Plato tersebut, mungkin ada baiknya menyimpang sedikit, yaitu masalah istilah mengenai berbagai format diskusi, yang di Indonesia sekarang ini sering bercampur aduk.

Symposium.  Berbeda dari format-format yang lain, seperti tersebut diatas, dan belajar dari “symposium”nya Plato, ciri utamanya adalah “brain storming” dan semua peserta seharusnya turut berbicara. Tidak harus ada narasumber, dan tidak harus ada kesimpulan. Karena itu marilah kita lihat sepintas isi buku Plato itu.

Perlu dicatat lebih dulu bahwa arti harfiah dari kata ‘symposium’ adalah “pesta minum-minum bersama untuk merayakan sesuatu”, dan memang buku Plato ini menceritakan tentang pesta minum bersama untuk merayakan seorang sastrawan bernama Agathon yang berhasil memperoleh hadiah pertama dalam suatu kejuaraan sastra (semacam “syukuran”). Namun para peserta pertemuan itu akhirnya menghendaki agar pertemuan dilanjutkan dengan berdiskusi dengan tema “cinta”. Para pelayan minuman, dan para penabuh musik diminta keluar ruangan sehingga yang tinggal untuk berdiskusi adalah para filosof dan sastrawan.

Diantara para peserta yang menyampaikan pandangan-pandangannya mengenai “cinta”, ada satu orang yang pidatonya menarik perhatian para hadirin, yaitu yang bernama Aristophanes. Hampir semua peserta memang berbicara dan pada umumnya menganggap bahwa “cinta” adalah “Dewa Agung” (The Great God). Aristhophanes menceritakan sebuah dongeng bahwa semula, manusia itu berbentuk bulat dengan empat tangan dan empat kaki. Tetapi kemudian dewa Zeus membelahnya menjadi dua. Karena itu, “Cinta” adalah suatu hasrat kerinduan dari masing-masing belahan badan tersebut untuk “re-uni”, bersatu kembali dengan pasangannya. Gambaran dari Aristophanes ini kemudian dikoreksi dan sekaligus dikembangkan oleh Socrates. Atas dasar ajaran yang berasal dari seorang wanita bijak bernama Diotima, Socrates menyatakan bahwa “Cinta” itu bukan “Dewa”, melainkan hasrat dan upaya manusia untuk menghindari kematian. Pada tingkatan paling rendah, wujudnya adalah “reproduksi fisik” (Kelahiran adalah lawan dari Kematian). Pada tingkatan yang lebih tinggi adalah penyatuan secara cendekia dengan “keindahan mutlak”. Belum sempat Socrates menjelaskannya lebih lanjut tentang hal ini, seorang yang sedang mabuk bernama Alcibiades masuk ruangan diskusi dan bernyanyi memuji-muji Socrates, dan diikuti oleh sejumlah pemabuk lainnya, sehingga membingungkan. Maka diskusi tersebut lalu diakhiri, tanpa kesimpulan apa-apa. (Dari sinilah maka, pengertiannya sekarang, symposium adalah forum diskusi yang tidak menghasilkan kesimpulan).

Sosiologi tentang Cinta

Kita semua tahu bahwa “sosiologi” adalah ilmu yang mempelajari “hubungan antar manusia secara umum” (a general science). Karena itu, masalah “cinta” yang merupakan salah satu aspek hubungan antar-manusia memang sudah sewajarnya masuk ke dalam ranah kajian sosiologis.

Jika kita bertolak secara formal, dapat dikatakan bahwa lahirnya sosiologi adalah saat diperkenalkannya istilah “sosiologi” dari August Compte, di pertengahan abad 19. Namun itu tidak berarti bahwa berbagai karya pemikir sebelumnya tidak ada yang bernilai sosiologi. Karya Ibn Khaldun, misalnya, dalam jilid I yang berjudul “Muqadimah” (dari 7 jilid buku sejarah yang ditulisnya), benar-benar mencerminkan uraian yang bersifat sosiologis.

Belajar dari buku “Symposium”nya Plato, dan kemudian memperhatikan berbagai ungkapan tentang cinta dari para pemikir sesudahnya (berbagai budayawan, psikolog, sejarahwan, filosof, dll), maka ada sebagian sosiolog masa kini yang berusaha untuk mengembangkan konseptualisasi tentang cinta, dan membuat kategorisasi atas dasar nuansa psikologisnya. Sepanjang yang saya ketahui ada 7 (tujuh) kategori cinta, yaitu: (1) “Brotherly Love” atau cinta sesama; (2) “Platonic Love”; (3) “Sexual Love”;   (4) “Romantic Love”; (5) “Conjugal Love”; (6) “Plutonic love”; dan (7) “Patriotic Love”. Lima yang disebut pertama memang saling berkaitan. Sedang dua yang terakhir dapat disebut eksklusif dan tak banyak orang menghiraukannya. Mari kita coba telaah satu persatu walaupun secara amat ringkas.

 

  • Cinta sesama (“Brother Love”)

Perasaan cinta sesama bisa muncul jika kita dapat ber“empati”, bisa merasakan apa yang dialami orang lain (“seandainya saya itu dia”). Sedikit atau banyak, ada semangat “altruistic” (sebagai lawan individualistik)

  • Cinta Platonic. (“Platonic Love”)

Cinta kategori ini adalah perasaan menyayangi yang bernuansa “mengagumi”, “menghormati tinggi”, bahkan juga mengandung sifat pemujaan bahkan ketundukan. Misalnya sebagian besar rakyat Indonesia “mencintai” Bung Karno.

  • Cinta Sexual. (“Sexual Love”)

Ini adalah jenis cinta yang paling digemari banyak orang untuk membahasnya tapi sekaligus juga ditabukan untuk dibahas secara terbuka dihadapan publik. Dalam wacana ilmiah, topik hubungan sex juga merupakan objek kajian yang paling menuntut perhatian serius, rumit, dan sekaligus juga paling sukar untuk menjelaskannya karena mencakup sedikitnya tiga tradisi keilmuan yaitu biologi, psikologi (khususnya aliran Freudian) dan sosial budaya. Bahkan dalam hal tertentu masuk pula aspek politik karena kemudian dipertanyakan apakah hubungan sex semata dapat disebut sebagai “cinta”. Secara sederhana, pandangan dari segi biologi menyatakan bahwa hubungan sex diperlukan untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah dan dikaitkan dengan fungsi reproduksi (membuahkan keturunan). Psikologi Freudian memusatkan perhatian pada aspek “kepuasan” dalam hubungan sex yang mempengaruhi perilaku. “Kebahagiaan” suatu pasangan ditentukan oleh tingkat kepuasan dalam hubungan sex-nya. Pusat perhatian psikologi terletak pada pengaruh kejiwaan terhadap individu yang bersangkutan. Sedangkan sosiologi memandang bahwa bagaimanapun juga hubungan sex antara dua individu adalah hubungan sosial. Pusat perhatiannya tidak semata-mata pada individunya “an sich” melainkan pada dampak dari perilaku yang dipengaruhi oleh tingkat kepuasan tersebut terhadap interelasinya dengan manusia lain yang pada gilirannya mempengaruhi interelasi antar-manusia dalam masyarakat secara keseluruhan. Namun justru karena itu, sosiologi juga berkepentingan dalam hal-hal yang menyangkut metode bagaimana cara mengukur tingkat kepuasan hubungan sex tersebut. Jika dalam psikologi yang diukur adalah tingkat kepuasan dalam hubungan sex itu sendiri, dalam sosiologi yang diukur adalah tingkat kebahagiaan yang dipengaruhi oleh tingkat kepuasan itu. Dalam “sociology of love” dikenal adanya konsep SSR (Sex Satiety Ratio). Jika SSR = 1 maka dikatakan bahwa suatu pasangan itu bahagia. (Bagaimana teknik menghitungnya, rasanya tak perlu ditulis disini).

  • Cinta Romantis. (“Romantic Love”)

Istilah romantic sudah terlalu dikenal oleh masyarakat. Namun apa makna yang sesungguhnya, dan bagaimana latar belakang sejarah timbulnya istilah tersebut, barangkali tidak banyak yang perduli. Kurang lebih ceritanya sebagai berikut:

Dalam setiap peperangan tentu terdapat sejumlah korban, baik yang menang maupun yang kalah. Begitulah di jaman Romawi Kuno, terjadi perang antara Romawi Barat (RB) dan Romawi Timur (RT) yang dimenangkan oleh RB. Tentara RB menyerbu ke Timur. Tentara RB terkenal disiplin, dan sebelum berangkat menyerbu ke Timur mereka sudah mendapat perintah keras dari pimpinan tertinggi di Roma bahwa jika nanti menang dan menduduki wilayah Timur mereka dilarang melakukan hubungan sex ataupun perkawinan dengan janda-janda prajurit RT. Sangsinya sangat berat, yaitu hukuman mati. Tentara RB menghadapi dilema. Disatu sisi, karena jauh dari rumah, jauh dari istri, maka sulit untuk menahan perasaan cinta birahi. Namun di sisi yang lain, sikap disiplin dan sangsi hukuman mati telah mengekangnya. Apa yang kemudian mereka lakukan?. Setiap waktu luang mereka mengundang janda-janda itu, minum-minum, nyanyi-nyanyi, dan melakukan dialog dengan janda-janda tersebut melalui kalimat-kalimat yang puitis, (seperti berpantun ala  adat Minang). Jadi, “cumbu rayutanpa sentuhan tubuh itulah yang dilakukannya. Dari kejadian inilah asal timbulnya istilah romantic. “Roman” artinya “Orang Roma”, dan “Romantic” artinya “Seperti Orang Roma”.

  • Cinta Suami Isteri. (“Conjugal Love”)

Di luar masalah hubungan sex, “cinta suami isteri” mengandung nuansa psikologis yang lain yang pada hakekatnya dapat dianggap sebagai “cinta keluarga”. Yang dianggap ideal adalah bahwa “conjugal love” sebaiknya menyatu secara integrative dengan kategori cinta yang lain tersebut di atas. Pasangan suami isteri seyogyanya juga mengandung bukan saja “Brotherly Love”, tapi juga “Platonic Love”, “Sexual Love”, dan “Romantic Love”. Suami menghormati tinggi isterinya, dan si isteri mengagumi dan membanggakan suaminya (Platonic). Sekali-sekali perlu adanya suasana “romantic”. Demikianlah, lima kategori cinta yang saling terkait.

  • Cinta Plutonic (“Plutonic Love”)

Berbeda dari lima kategori cinta tersebut diatas, cinta Plutonic mengandung nuansa lain yang sama sekali berbeda. Istilah Pluto dalam ilmu falak berarti planet terluar dalam tata surya kita (paling jauh dari matahari). Dalam mitologi Yunani, Pluto adalah “Dewa dari dunia rendah”. Maknanya adalah nafsu serakah. Cinta Plutonic adalah mengabdi kepada harta, kekayaan material, tanpa menghiraukan orang lain.

  • Cinta Patriotik (“Patriotic Love”)

“Cinta Patriotic” adalah cinta tanah air. Sekalipun nuansa psikologinya juga berbeda dengan lima kategori yang diuraikan tersebut diatas, namun cinta tanah air amat berlawanan dengan dengan cinta Plutonic. Secara normatif, cinta tanah air adalah positif dan memenuhi makna pepatah Yunani Kuno bahwa: “Ukuran cinta adalah apa yang dikorbankan untuknya”. Seorang patriot rela mengorbankan jiwanya demi tanah airnya. Seorang patriot tak akan rela jika masyarakat tanah airnya rusak moralnya.

Masalah hubungan antar-manusia (juga antara manusia dengan sesuatu di luar dirinya) yang disebut “cinta”, adalah sesuatu isu yang tak pernah berhenti dibicarakan, dibahas, dan diperdebatkan sepanjang jaman, dari jaman kuno sekali sampai sekarang (bahkan sampai kapanpun). Mengapa masalah cinta selalu menjadi bahan pergunjingan sepanjang jaman, karena masalah ini masuk ke wilayah perasaan, bagian kehidupan yang serba rumit, kadang menggugah, kadang menghancurkan, pelik, indah, mengharukan, sekaligus mengandung berbagai segi yang dapat menyesatkan, bahkan menghancurkan kehidupan seseorang. Seorang filosof Islam klasik, Ibn Hazm, yang menulis tentang cinta (tahun 1022 M), pernah mengatakan bahwa arti cinta itu begitu rumit untuk diuraikan, dan maknanya yang sejati tak bisa diamati kecuali melalui pengalaman.

Dalam bahasa Indonesia, kata cinta sering disandingkan dengan kata “asmara”. Makna cinta jauh lebih luas dan lebih rumit daripada kata asmara, karena “asmara” dapat dikatakan hanya merupakan gabungan dari kategori cinta seksual plus cinta romantis. Tetapi, cinta seksual yang semata-mata hanya bertujuan untuk kepuasan jasmaniah, meskipun dapat juga dibumbui dengan romantika, belum tentu merupakan “cinta asmara”, bahkan tidak juga dapat disebut “cinta” melainkan hanya merupakan “nafsu” birahi, (meskipun dalam bahasa Inggris disebut juga “love”).

Keadilan dan Konflik

Demikianlah ulasan sekedarnya tentang sosiologi cinta. Lalu, dimanakah letak relevansinya terhadap masalah (pertanyaan) tentang keadilan gender?

Dari sejarah di berbagai negara, kita tahu bahwa ketidakadilan (dalam dan sebagai contoh utama di lapangan agrarian) melahirkan maraknya konflik agraria yang seringkai disertai dengan tindak kekerasan. Di Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir inipun juga diwarnai oleh gejala tersebut. Mengapa? Karena globalisasi pasar bebas mendengung-dengungkan persaingan. Padahal menurut pakar sosiologi, “konflik adalah tingkatan tertinggi dari persaingan” (T. F. Hoult, 1977).

Dalam kondisi maraknya konflik terutama (misalnya di lapangan agrarian) yang disertai kekerasan itu, kategori cinta yang manakah di antara tujuh kategori tersebut di atas yang patut dan relevan untuk dipertanyakan?. Menurut hemat saya, ada tiga kategori yang tidak perlu dipertanyakan  (yaitu, “Platonik”, “Sexual”  dan “Romantic”), karena dalam kondisi apapun, gejala atau praktik cinta seperti itu akan tetap ada. Dengan demikian tinggal empat kategori yang lain yang barangkali memang perlu diulas.

Kalau kita mau jujur, saya kira semua merasakan bahwa semangat “patriotic love” terasa menurun, justru karena maraknya semangat “Plutonic Love”, cinta harta, cinta kekuasaan. Dengan harta dan kekuasaan, hampir semua hal dapat dipaksakan atau dibeli. Mengapa proses ini bisa terjadi? Tidak lain karena pengaruh propaganda globalisasi ekonomi pasar bebas. Semangat bersaing, dikobar-kobarkan, dan hampir semua hal diperlakukan sebagai barang dagangan, termasuk tanah dan juga jasa. Barangkali dua hal ini (tanah dan jasa) perlu ada sedikit catatan yaitu: dahulu, tanah dipandang sebagai benda sakral. Hubungan manusia dengan tanah mengandung nuansa “religio-magis”. Semangat globalisasi ekonomi melahirkan pandangan bahwa tanah adalah juga barang dagangan. Akibatnya terjadilah ketidakadilan (dalam kaus di lapangan agrarian), karena segelintir orang yang bermodal besar akhirnya menguasai ratusan bahkan ribuan hektar, sementara rakyat yang terbujuk uang akhirnya tergusur dari tanahnya.

Lalu bagaimana di lapangan selain agrarian? Saya berharap Anda yang menuliskannya setelah saya memberikan pengantar sosiologis tentang hal tersebut. (*)

___

Daftar Kepustakaan

Brumbaugh, Robert S. (1980):  “Plato”, dalam Encyclopedia Americana, Vol. 22.

Fairchild, H.P (1977): Dictionary of Sosiology and Related Sciences. Totowa, New Jersey. Litttlefield, Adam & co.

Hathorn, Richmond Y. (1980): “Symposium”, dalam Enclopedia Americana, Vol. 26.

Suprayetno Wagiman (1998): “Robert J. Sternberg and Ibn Hazm on The Nature of Love”, dalam Yudian Wahyudi, dkk (Eds): The Dynamic of Civilization, Yogyakarta, Titian Ilahi Press.

Hutheesing, O. (1976), “Sociology of Love” (Hand Out-Catatan Kuliah, USM, Penang Malaysia).

 

 

[1] Dr. Ir. Gunawan  Wiradi, M.Sos. Sc. adalah pemikir dan penggerak Reforma Agraria Indonesia yang sangat dihormati dan menjadi referensi berjalan, selama lima puluh tahun terakhir. Karyanya mengenai bidang itu dan bidang perubahan pertanian, pedesaan dan masyarakat adat tersebar di mana-mana. Dalam usia yang sudah 80 tahun, ia yang tinggal di Bogor ini,  masih dianugerahi kesehatan prima, untuk memberikan ceramah, semangat dan wawancara bagi banyak kelompok dan di berbagai tempat di Tanah Air. Tulisan yang bernuansa selingan ini khusus dimohon oleh redaksi, agar sisi tertentu dari kemanusiaannya yang jarang diketahui, sampai pula pada pembaca (-nya). |

editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Kritikan yang Membangun dalam Puisi, Pembangunan yang Dikritik oleh Puisi

mm

Published

on

 

Oleh: Zulfikar A.S.

 

            Tak terasa selesainya era Orde Baru yang ditandai oleh Reformasi sudah memasuki usia 21 tahun, di mana pada usia itu seorang manusia sudah mampu kawin dan beranak-pinak. Orde Baru memasuki masa-masa yang ditandai dan dicirikan sebagai masa pembangunan setelah era sebelumnya, era yang dinamakan Orde Lama terfokus kepada arah politik bangsa, dan puncaknya menimbulkan kekacauan bangsa Indonesia di akhir tahun 1965 dan kejadian itu diberi gelar G.30S/PKI. Pada era Orde Baru, Indonesia menemukan asa hidup kembali setelah tokohnya pada masa itu Bapak Soeharto menggagas dan mencanangkan konsep atau program Pelita (pembangunan lima tahun) yang salah satu isinya adalah Trilogi Pembangunan; pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju kepada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, stabilitas nasional yang cukup sehat dan dinamis. Dengan konsep itu di awal pemerintahan Orde Baru mengutamakan pemulihan ekonomi, mengatasi inflasi yang mencapai 650% dan utang luar negeri 2,5 miliar dolar. Dalam masa-masa keterpurukan, bangsa Indonesia mulai merangkak bangkit dan menafikan kehancuran melalui Pak Harto dan kawan-kawan Orde Barunya.

Bapak Soeharto resmi menjadi Presiden Indonesia yang ke-2 setelah dilantik dan disumpah sebagai presiden dalam Sidang Umum MPRS V pada 27 Maret 1968. Dalam pidato pertamanya setelah mengemban jabatan presiden, Pak Harto menyatakan perjuangan Orde Baru mempunyai dua tema pokok. Pertama mengisi kemerdekaan dengan meningkatkan kesejahteraan rakyat banyak. Kedua, menegakkan kehidupan konstitusional, termasuk mengembalikan kehidupan demokrasi. Keduanya tidak boleh dipertentangkan, tetapi harus diserasikan. Tetapi, pada pelaksanaannya cita-cita menuju ke arah bangsa yang lebih baik itu dilabeli dengan sejumlah regulasi yang mengakibatkan pengendalian pers dan pengendalian aksi mahasiswa. Orang-orang asing dengan modalnya yang terus mengalir dan menggenang menyebabkan penumpukan utang luar negeri. Dan ketika jatuhnya harga minyak dunia, Pak Harto, mengambil kebijakan regulasi liberalisasi guna mengendalikan kembali arus orang-orang asing dengan modal pada kecepatan yang stabil.

Pada era Orde Baru juga ketika itu muncul beberapa penyair “nakal”. Salah satunya adalah W.S. Rendra. Rendra, menjadi bukti bahwa Indonesia tidak pernah kehabisan seniman tajam dengan penuh harapan. Pada periode sebelumnya kita mengenal penyair Chairil Anwar sebagai potret manusia Indonesia di masa itu dalam dunia sastra atau puisi. Namun tak mestinya kedua penyair yang berbeda periode itu harus diperbandingkan. Mereka berdua menjadi potret celah cahaya dan teriakan perjuangan pada masanya masing-masing. Jelas pada masa Orde Baru, Rendra mengawal dan menggali lubang cahaya dalam masa kegelapan dan kekelaman bangsa Indonesia.

Ketika itu Orde Baru berhasil membawa Indonesia pada istilah yang menjadi ikonik dari sosok R.A. Kartini, yaitu “habis gelap terbitlah terang”. Tetapi apakah kesuksesan Orde Baru dalam mewakili istilah itu tidak kembali terjerembap dalam lubang kegelapan dan kekelaman sebuah bangsa? Di beberapa puisinya, Rendra, akan membawa dan memperdengarkan kepada pembacanya bahwa istilah “habis gelap terbitlah terang”, tidak hanya selesai pada terang. Ia kembali pada gelap, dan semakin menegaskan gagasan Dialektika pemikir Jerman, Friedrich Hegel, bahwa perubahan tidak terjadi oleh tindakan, tapi oleh waktu. Seperti tesis, antitesis, sintetis. Begitulah hidup menurut Hegel. Berputar.

Orde Baru kehilangan koridornya ketika rumah pemerintahan menjadi sarangnya para koruptor, terjadinya kesenjangan sosial dan pembungkaman suara-suara kritis terhadap pemerintahan. Tetapi Rendra, tidak sembunyi ia terus menyeruak dan ikut serta mengawal bangsa ini melalui suara, teriakan dan raungan dalam puisinya untuk menyadarkan kelompok-kelompok orang yang bertanggung jawab penuh atas pemerintahan sebuah bangsa ─ bahwa di lapisan bawah sini masih ada yang memagut derita akibat ulah di atas sana. “Sajak Sebatang Lisong”, (Potret Pembangunan dalam Puisi, 1996), yang ditulis olehnya pada 19 Agustus 1977 menjadi salah satu manifes Rendra.

“Sajak Sebatang Lisong”, barangkali tidak hanya menggambarkan, tapi lebih dari itu menjadi kenyataan yang benar-benar harus ditempa bangsa Indonesia pada masa itu. Orde Baru yang membuka lebar arus asing terlihat jelas dalam bait ke-7 dari “Sajak Sebatang Lisong”, “bahwa bangsa kita adalah malas,/bahwa bangsa mesti dibangun;/mesti di-up-grade,/disesuaikan dengan teknologi yang diimpor”. Peran-peran penting di segala sektor yang dikuasai arus asing menyebabkan “pribumi” tersingkir, kehilangan kesejahteraan dan tanpa pendidikan yang layak. Orde Baru lupa mengisi kekosongan dan memasifkan pilar-pilar yang rapuh. Pada bait ke-3 terdengar Rendra, meneriakkan kemacetan hak berbicara dan bersuara. Mari kita dengar, “Aku bertanya,/tetapi pertanyaan-pertanyaanku/membentur meja kekuasaan yang macet”. Tetapi barangkali Rendra, lupa mengingat bahwa Orde Baru pernah menyalakan cahaya di dalam masa kegelapan bangsa Indonesia.

Orde Lama, Orde Baru, atau periode apa pun yang disematkan dalam kelahiran hingga tumbuh-kembangnya bangsa Indonesia sampai saat ini bukan merupakan hal yang seharusnya membuang-buang waktu hanya sekadar untuk diperbandingkan. Pembangunan tidak akan bertemu dengan jalan menyenangkan jika hanya ditunggangi keuntungan sebelah tangan. Mari kita mengingat, “Kendeng, Proyek Reklamasi, Sengketa Lahan Proyek Bandara Kulon Progo, Sengketa Rumpin dan Penggusuran Pemukiman Padat Penduduk di Kota-kota Besar”. Semua bertujuan untuk pembangunan. Tetapi menanamkan luka, derita dan tangisan. Apakah pembangunan harus selalu bersifat seperti itu? Pembangunan lebih baik dilakukan tanpa menggores nilai-nilai kemanusiaan, pembangunan lebih baik dikerjakan dengan keuntungan semua pihak tanpa menempatkan untung dan rugi; keuntungan untuk siapa dan kerugian untuk siapa. Bukankah pembangunan itu lahir dari kata dasar bangun; bangun dari keterpurukan, bangun dari ketidaktahuan dan bangun untuk menghapus keserakahan. Perjalanan yang panjang dengan jalan yang berliku dalam membangun jalan lebih baik untuk hidup kesejahteraan dan keadilan masih menyediakan kesempatan untuk siapa pun yang duduk dan memandu bangsanya ke arah yang lebih baik.

Mari mengingat dan mengulang kembali perjalanan pena dari awal sampai kalimat ini. Puisi dan sastra masih memiliki tempat untuk teguran dan senantiasa membagi cahaya untuk mereka pemangku derita.

Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya.

Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya”, (John F. Kennedy).

_________

*) Zulfikar A.S., untuk saat ini lahir dan tinggal di Kota Bogor.

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Smells: An Exclamation Mark

mm

Published

on

Getty Images/ Yau Ma Tei Wholesale Fruit Market, Hong Kong | by mikemikecat

Theresia Pratiwi *)

An exclamation mark.

That’s what I got from my workshop leader Maud Casey for the sentence where I described the Chinese quarter in Surabaya in the ‘30s, a bustling city in the Dutch East Indies with “the pungency of lard and garlic.” Nowhere else in particular Maud  explicitly marked my constructed details of the city. When I returned to the draft, I did then see the details that I felt strongly—and thus wanted to come off equally strongly through seeing—and where Maud felt as more seductive: the olfaction.

That smellscape is full of tensions is neither a new revelation nor technique of writing. Toni Morrison’s Sula, for example, marks the boundaries of pleasant smells and odors. What is commonly deemed unsanitary and uncivilized in Morrison’s hand becomes a sensual mark of love. In Sula, important events take place in lavatories and outhouses. Ajax ends his relationship with Sula after Sula cleans the bathroom, makes the bed, and “wraps herself in the deadly odor of freshly applied cologne.” I, on the other hand, went by the road usually taken by labelling lard and garlic pungent. It was where, I realized, my understanding of attributing the significance of smells lacked the gravitas of being culture-specific and time-specific.

(Slow as I was, it was also when I awarded my realization double exclamation marks.)

Take another example where marking the absence of smells is as testing as marking its presence. Buddhist temple cuisine in East Asian countries abstains from the five pungent spices: onions, garlic, scallions, chives, and leeks. What characterizes the Chinese quarter in 1930s Surabaya in my draft is tabooed in Buddhist Korean temple food, perhaps most gorgeously and exemplarily depicted in nun-chef Jeong Kwan’s work, star of a Netflix’s Chef’s Table episode. Questions for the writerly tribe: How does one translate the stunning visual and taste of Jeong Kwan’s serving table into the written words without using any adjectives reserved for smells, without rendering it into a list of absent ingredients, so to speak? How can a writer keep the abundance of tastes and make sure the scents that get the saliva running are aplenty, too?

Absence does not equal missing. “Smells detonate softly in our memory like poignant land mines,” Diane Ackerman writes in A Natural History of the Senses. “Hit a tripwire of smell, and memories explode all at once.” Smells is evocative, is seductive. The tricky part is that one’s sense of smell has a stronger connection with the memory storage in the brain than with the part that produces language. A writer wishing to evoke and seduce the reader’s into a detonation of senses must then map the features of a smell. All features, if needs be. Let smells be a trigger to the release of oxytocin, which plays a role in social bonding and trust increase, including one between a writer and a reader. Let smells be a trigger to emotional connections, a mood, a character trait, a season, a place, a culture. “Our cerebral hemispheres were originally buds from the olfactory stalks. We think because we smelled,” Ackerman states. I smell, therefore I am.

Of course, there is always a precaution of leaving everything to the evocation of smells. Take Southeast Asia’s prized golden fruit, durians. Most of my American friends claim that durians smell like wet socks, putrefied pest, skunky, sulfuric, all the world’s unfortunate. When purchasing an unopened durian, Southeast Asians determine its ripeness by sniffing the root of its stem. The more pungent, the better. Odorless durians are edible, but they are a mere safe treat that make durian lovers scoff. The smells of durians are culturally determined, the prince and pauper of fruits both. Garlic, too, undergoes this determination: a tempter that Buddhists are warned about and repeller of gods but also a safeguard against vampires and cancer preventer.

 

I did some more work on the sentence that was marked with Maud’s exclamation mark, went back to my research notes. I re-discovered in “the pungency of lard and garlic” a history of a racially segregated city, a seat to a colonial power, and the everyday life of the natives it oppressed, peoples who favored one spice and shunned another. And I wanted the draft to come out reeking out more of these as I revised it.

(Character count: 4,300)

_________

*) Theresia Pratiwi is a graduate of the MFA program in Creative Writing at the University of Maryland. She dreams of petting all the dogs in the world and hopes to shake hand with Meryl Streep one day. This is her first submission to Galeri Buku Jakarta.

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending