Connect with us

Art & Culture

T.S. Eliot: Fungsi Kritik

mm

Published

on

I

Setelah menulis kajian hubungan seni lama dan baru beberapa tahun yang lalu, di sana saya membentuk suatu pandangan yang masih saya ikuti. Berikut ini saya kutip kalimat dalam tulisan tersebut, karena tulisan saya yang sekarang ini merupakan aplikasi prinsip yang ada di sana:

Pencapaian sastra yang telah ada membentuk keteraturan yang ideal di antara mereka sendiri, yang diubah oleh munculnya suatu karya seni yang betul-betul baru di dalamnya. Keteraturan yang telah ada menjadi lengkap sebelum karya seni baru lainnya muncul lagi; karena keteraturan untuk mempertahankan setelah diikuti dengan lekat dengan kebaruan, keseluruhan keteraturan yang ada mesti berubah, sekecil apapun; dan begitu juga dengan pola hubungan, proporsi, nilai tiap karya seni secara keseluruhan, semua diatur kembali; dan, inilah yang dimaksud dengan konformitas antara yang lama dan yang baru. Siapapun yang menyetujui ide keteraturan, apakah itu dalam bentuk sastra Eropa ataupun Inggris akan mengetahui bahwa bisa saja masa lalu diubah oleh masa sekarang seperti halnya masa sekarang yang juga ditentukan oleh masa lalu.

Yang saya bahas dalam tulisan ini adalah tentang seniman dan kepekaan akan tradisi, yang menurut saya, seorang seniman harus miliki; masalah umum lainnya adalah tentang keteraturan; dan fungsi kritik juga termasuk secara esensial ke dalam masalah keteraturan. Pemikiran saya tentang sastra, sampai sekarang, bahwa sastra dunia, sastra Eropa, sastra suatu negeri, bukanlah suatu koleksi tulisan individu-individu, tapi merupakan “keseluruhan bagian (organic wholes)”, sebagai sistem-sistem dalam hubungan, dan hanya dalam hubungannya dengan karya seni sastra individu, dan dalam karya seniman individu lah mereka punya arti penting. Karenanya, seorang seniman terikat dan mengabdi pada semua yang ada diluar dirinya, ia harus menyerahkan dan mengorbankan dirinya supaya mendapatkan dan meraih keunikan posisinya. Warisan dan sebab umum menyatukan seniman secara sadar dan tak sadar: harus disadari bahwa penyatuan itu biasanya secara tidak sadar. Seniman dimana dan kapan pun, saya percaya, adalah komunitas tak berkesadaran. Dan, insting untuk hidup teratur menyuruh kita untuk tidak meninggalkan bahayanya ketidaksadaran dari apa saja yang kita usahakan dengan sadar, dengan begitu, kita pun mendapatkan kesimpulan bahwa apa yang terjadi secara tidak sadar membuahkan hasil, dan membentuk suatu tujuan, jikasaja kita membuatnya dengan suatu usaha yang sadar. Namun, seniman yang tidak bermutu tentu tidak mampu menyerahkan dirinya pada tindakan apapun; karena tugas utamanya adalah kesenangannya pada hal remeh yang menjadi pembedanya; hanya orang yang berani memberi begitu banyak yang bisa melupakan dirinya sendiri tenggelam dalam karyanya lah yang bisa bekerja sama, saling bagi, dan memberikan kontribusi.

Apapun pandangan orang tentang seni, tentunya akan mengikuti suatu pandangan tertentu. Meski demikian, pasti ada kesamaan pandangan dalam hal kritik. Yang saya maksud kritik disini adalah komentar dan jabaran karya seni dalam bentuk kata-kata tertulis; karena penggunaan secara umum kata kritik selalu mengacu pada tulisan, seperti yang Matthew Arnold gunakan dalam eseinya (The Function of Criticism at the Present Time, 1864), untuk itu, saya membuat beberapa kualifikasi tentang kritik.

 

Saya pikir, tidak ada eksponen kritikus (dalam artian terbatas) yang pernah membuat asumsi yang tidak masuk akal bahwa kritik adalah kegiatan yang didalamnya ada akhir atau tujuan (aututelic). Saya tidak menyangkal bahwa seni dimaksudkan untuk mencapai suatu akhir yang jauh melampauinya; tapi seni tidak harus menyadari akan akhir ini, walaupun seni melayani fungsinya entah sebagai apa saja, yang menurut teori tentang nilai, bahwa seni lebih baik mengabaikan akhir atau tujuan ini. Kritik, di sisi lainnya, harus selalu menyatakan suatu akhir dalam pandangan, yang dengan kata lain bisa dikatakan, bahwa kritik kelihatan seperti uraian, penjelasan suatu karya seni dan pembetulan suatu selera. Maka, tugas kritikus kelihatan lebih jelas, dan relatif mudah memutuskan apakah ia menghasilkan kritik yang baik atau tidak. Kalau dipelajari lebih dalam lagi, kritik adalah kegiatan bermamfaat yang tidak sederhana dan teratur, tidak seperti amatiran yang bisa dengan mudah didepak, yang tidak lebih baik daripada ahli pidato di taman tiap hari Minggu, yang belum sampai pada tahap seseorang yang punya perbedaan. Kritik, bisa dikatakan, suatu tempat sepi yang didalamnya terdapat usaha kooperatif. Kritikus, kalau orang itu ingin menampilkan keberadaannya, seharusnya selalu berusaha mendisiplinkan prasangka dan keanehannya (sifat yang biasanya dilekatkan pada kritikus) dan mengubah perbedaannya sebanyaknya sesama koleganya, dalam mencapai penilaian benar yang sama. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, kita mulai mencurigai bahwa suatu kritik dipengaruhi oleh latar kehidupannya menjadi sikap kekerasan dan ekstrim terhadap lawan kritik lainnya, atau pada sikap aneh tak bermamfaat yang ia punyai, yang ia rancang dan pertahankan, dan ia tidak menghiraukan pendapat lainnya. Kita pun tergoda untuk membuang semua yang tidak sesuai dengan pendapat kita.

Setelah membuang semua itu, atau setelah rasa marah hilang, kita lalu mulai menyadari bahwa ternyata ada banyak buku, esei-esei tertentu, kalimat, orang-orang yang memang ahlinya, dan semua ini “berguna” buat kita. Langkah selanjutnya adalah kita mulai mengklasifikasi, mencari tahu, prinsip apa yang akan dipegang dalam menentukan buku acuan, apa tujuannya dan metode kritik mana yang akan diikuti.

II

Pandangan tentang hubungan karya seni dengan seni, karya sastra dengan sastra, kritik dengan kritik, yang saya jelaskan sebelumnya, bagi saya kelihatannya bersifat alami dan jelas. Saya berterimakasih pada Mr. Middleton Murry (1889-1957, kritikus sastra dan pada masa hidupnya menjadi editor Adelphi yang ia dirikan) atas persepsi permasalahan yang sering menjadi pertengkaran ini, atau tentang pandangan saya bahwa adanya penyelesaian akhir masalah ini. Rasa terima kasih saya buat Mr. Murry tak terkira. Kebanyakan kritikus terjebak dalam suasana yang tidak mendukung: baik itu dalam usaha saling akur, saling hasut, menjatuhkan, menekan, menyombongkan, saling menenangkan, berpura-pura bahwa mereka orang yang santun dan yang lainnya sangat diragukan reputasinya. Tapi tidak demikian dengan Mr. Murry. Ia sadar bahwa ada posisi yang jelas yang harus diambil, dan sesekali seseorang harus berani menolak dan memilih. Ia penulis yang sangat dikenal dalam tulisan sastranya beberapa tahunlalu yang menyatakan bahwa era Romantis dan Klasik hampir sama, dan era Klasik Perancis yang sebenarnya adalah era yang menghasilkan katedral-katedral Gothic, Jeanne d’Arc misalnya. Yang saya tidak setuju tentang pernyataan Mr. Murry tentang era Klasik dan Romantis adalah bahwa, perbedaan yang tampak bagi saya adalah perbedaan antara yang lengkap dan yang terpecah, yang telah dewasa dan yang tidak matang, yang teratur dan yang kacau. Meski demikian, sebenarnya Mr. Murry ingin menunjukkan bahwa paling kurang terdapat dua sikap terhadap sastra dan apapun juga, dan Anda tidak bisa pegang dua-duanya. Dan sikap yang ia ambil menyiratkan bahwa yang satu tidak bisa dipakai di Inggris. Alasannya adalah karena ini isu nasional, isu rasial.

 

Mr Murry menjelaskan masalah ini dengan sangat jelas. Ia mengatakan, “Katolik” adalah prinsip otoritas spiritual yang tidak dipertanyakan diluar individu; prinsip sastra era Klasik juga begitu”. Dalam lingkaran diskusi tentang pernyataan Mr. Murry, defenisi ini kelihatannya tak disangsikan lagi, meski tidak semuanya begitu yang bisa dikatakan tentang Katolik maupun era Klasik. Kita ada yang setuju dengan pernyataan Mr. Murry, bahwa era Klasik percaya manusia tidak bisa melanjutkan hidup tanpa kepatuhan pada sesuatu di luar diri mereka. Saya menyadari bahwa istilah “luar” dan  “dalam” mengundang pertanyaan yang tak terbatas, dan pakar psikologi tidak akan mentolerir diskusi seperti ini; tapi saya pikir saya dan Mr. Murry bisa menyutujui bahwa pertentangan ini memadai, dan memaklumi ketidaksetujuan teman psikolog kami. Jadi, kalau Anda membayangkan sesuatu ada diluar sana, maka diluar lah ia. Kalau seseorang tertarik pada politik, saya pikir ia tentunya mengakui kepatuhannya pada prinsip-prinsip politik, atau pada bentuk pemerintahan, pada suatu monarki; dan kalau seseorang tertarik pada agama, maka punya agama lah ia, atau gereja; dan kalau ia tertarik pada sastra, ia tentu mengakui prinsip kepatuhan yang telah saya jelaskan sebelumnya. Namun, ada pilihannya, seperti yang dikatakan Mr. Murry. Menjadi “penulis Inggris, agamawan Inggris, negarawan Inggris, tidak mewarisi tradisi dari para pendahulunya, karena yang mereka wariskan hanyalah: suatu rasa, kepekaan bahwa pada usaha akhirnya, mereka harus bergantung pada suara dari dalam (the inner voice).” Pernyataan ini kelihatannya memang menyelesaikan beberapa permasalahan; pernyataan ini membanjiri Mr. Lloyd George dengan cahaya. Tapi kenapa “pada usaha akhir (in the last resort)?  Apakah ini berarti menghindari perintah suara terdalam keluar pada suatu kondisi ekstrim terakhir? Yang saya yakini adalah bahwa bagi siapa yang punya suara dari dalam ini cukup siap untuk mendengarkannya, dan tak akan mendengarkan yang lainnya lagi. Sebenarnya, suara dari dalam kedengarannya sangat sama dengan prinsip lama yang diformulasikan oleh kritikus senior (Matthew Arnold, 1869, dalam karyanya Culture and Anarchy) dalam satu frase yang akrab sekarang “melakukan sesuatu sebagaimana yang seseorang sukai”. Para pemilik suara dari dalam ini suka menonton pertandingan sepak bola di Swansea, sambil mendengarkan suara dari dalam, menghirup pesan abadi kesia-sian, ketakutan dan nafsu.

Mr. Murry akan mengatakan, dengan menunjukkan suatu pembenaran, bahwa ini merupakan kesalahan penasiran yang parah. Ia mengatakan: “kalau mereka itu (penulis Inggris, agamawan Inggris, negarawan Inggris) menggali lagi lebih dalam dalam usaha mereka memperoleh pengetahuan diri (self-knowledge) –  semacam penggalian diri yang tidak hanya dengan intelek, tapi juga dengan keseluruhan manusia – mereka akan sampai pada suatu diri yang universal” –  tentunya berupa latihan yang jauh melebihi kekuatan dalam antusias menonton pertandingan sepak bola. Tapi menurut saya, ini adalah latihan yang cukup menarik untuk ditulis dalam beberapa buku panduan praktik Katolik. Namun saya yakin juga, bahwa praktisi Katolik, dengan kemungkinan pengecualian beberapa pelaku bid’ah, tidak meragukan Narcissi; karena dalam Katolik tidak mempercayai Tuhan dan dirinya identik. Mr. Murry menambahkan, “manusia yang betul-betul mempertanyakan dirinya pada akhirnya akan mendengarkan suara Tuhan”, Dalam teorinya, hal ini akan berujung pada suatu bentuk pantheisme (menyatunya Tuhan dengan ciptaanNya) yang saya tahu bukan khas Eropa – sama halnya dengan Mr. Murry yang mendukung bahwa aliran “Klasik” bukanlah Inggris. Demi hasil yang praktis, orang bisa saja mengacu pada sajak Hudibras (sajak panjang Samuel Butler, 1612-80, yang menyindir sekte sesat puritan).

Saya rupanya tidak menyadari bahwa Mr. Murry adalah pengikut suatu sekte berpengaruh, sampai saya membaca kolom editorial harian besar yang mengatakan, “pakar jenius luar biasa dan representatif telah muncul di Inggris, mereka tidak hanya semata-mata ekspresi karakter Inggris, yang tetap berdiamdi dasar sana dengan teguh “humoris” dan “non-konformis”. Penulis ini setengah-setengah dala menggunakan sifat “semata-mata”, dan dengan jujur tanpa aling menyifatkan “kehumorisan” pada “unsur Teutonik dalam diri kita yang tak bisa diraih”. Ini mengejutkan saya karena Mr. Murry dan suara dari dalam lainnya, tidak satupun yang terlalu teguh atau terlalu toleran. Pertanyaannnya adalah, yang pertama, tidak akan alamiah atau biasa buat kita, jadi, apa itu yang benar? Tak satu pun dari keduanya yang lebih baik dari yang lainnya, atau kalau bukan begitu ini tidak penting. Tapi bagaimana bisa suatu pilihan tidak penting lagi? Pastinya ini adalah masalah asal usul ras, atau pernyataan yang tak lebih seperti Perancis begini, dan Inggris sebaliknya, ini tidak akan menjawab pertanyaan: pandangan antithesis mana yang benar? Dan saya tidak bisa memahami kenapa oposisi antara Klasik dan Romantisme seharusnya sudah cukup saja di negeri Latin (begitulah yang dikatakan Mr. Murry) dan yang sama sekali tidak penting buat kita. Karena, kalaupun Perancis secara alamiah bersifat klasikal, kenapa harus ada “oposisi” di Perancis sendiri, yang lebih banyak lagi di sini? Dan kalau Klasik tidak alamiah buat mereka, tapi sesuatu yang harus diraih, kenapa tidak diraih saja di sini? Apakah Perancis pada tahun 1600 bersifat klasikal, dan Inggris pada tahun yang sama bersifat romantis? Perbedaan yanglebih penting menurut saya yaitu Perancis pada tahun 1600 telah menulis prosa yang lebih matang.

III

Diskusi ini kelihatannya sudah menyeret kita keluar dari jalur subjek tulisan ini. Tapi cukup beralasan untuk melihat perbandingan Mr. Murry tentang Otoritas Luar (Outside Authority) dengan Suara Dari Dalam (Inner Voice). Karena, bagi orang yang mematuhi (obey) suara dari dalam ini (barangkali, kata mematuhi/ obey tidak terlalu pas di sini), saya tida bisa bilang apa-apa lagi tentang kritik dan semuanya tidak akan bernilai lagi. Karena mereka tidak akan tertarik dengan usaha mencari prinsip yang sama untuk tujuan kritik. Buat apa prinsip, kalau sudah punya suara dari dalam? Kalau saya suka sesuatu, itu lah yang saya ingini; dan kalau Anda sudah merasa cukup, teriakkan bersama, sukailah itu, itulah yang Anda (yang tidak menyukainya) harus ingini. Mr. Clutton Brock (kritikus asal Inggris) bilang, bahwa hukum tentang seni semuanya adalah kasus hukum. Kita tidak hanya suka apapun yang kita ingin sukai tapi kita bisa menyukainya karena adanya alasan yang kita pilih. Kenyataannya, kita tidak menaruh perhatian pada kesempurnaan sastra sama sekali – karena pencarian kesempurnaan adalah pertanda kepicikan, karena ini menunjukkan bahwa penulis mengakui otoritas spiritual diluar dirinya yang tak terbantah, yang padanya ia selalu berusaha untuk berdamai (conform). Kita tidak tertarik pada seni sama sekali. Kita tidak akan menyembah tuhan Baal. “Prinsip kepemimpinan klasikal adalah bahwa penyembahan ditujukan untuk perkantoran, atau tradisi, tapi tidak untuk manusia”. Yang kita inginkan adalah manusia, bukan prinsip.

Demikianlah sang suara dari dalam berbicara. Ini adalah suara, yang demi kenyamanan, kita beri nama saja, saran saya adalah, Whiggery (catatan penerjemah: Whiggery berasal dari kata Whig, pada abad 16-an Inggris, partai politik yang menentang Raja James, Duke of York yang Katolik sewaktu menaiki takhta. Partai ini mendorong pembatasan Monarki, mendorong reformasi sosial, Industrialisai, dan liberalisme)

IV

Sekarang kita tinggalkan mereka yang punya kepastian panggilan dan pilihan hidup (kalimat ini adalah alusi ironis doktrin penyelamatan Calvinis) dan kembali pada mereka yang dengan memalukan bergantung pada tradisi dan kumpulan kebijaksanaan kuno, dan  membatasi tulisan ini pada mereka yang saling bersimpati dalam diskusi yang rentan ini, ada baiknya kita mengomentari istilah “kritikal” dan “kreatif” oleh seorang yang tempatnya, secara keseluruhan, bersama perkumpulan persaudaraannya yang rentan, Matthew Arnold. Kelihatannya, ia terlau jauh membedakan kedua istilah ini: ia meninjau dengan luas pokok-pokok penting kritik dalam kegiatan kreasi itu sendiri. Barangkali memang, kegiatan yang lebih menyita pikiran penulis dalam menghasilkan karyanya adalah kegiatan mengkritisi itu, penyelidikan lebih dalam, penggabungan, usaha membangun ide, membuang ide yang tidak perlu, koreksi, dan pengujian: inilah seabrek kegiatan kritik dan kreatifitas. Saya tetap berpendapat bahwa kritik paling vital dan tertingi seharusnya dilakukan oleh penulis yang terlatih dan punya keahlian dalam pekerjaannya, dan (seperti yang sudah saya katakan sebelumnya) ada penulis kreatif yang lebih superior dibanding lainnya karena daya kritisnya memang superior. Ada kecenderungan, saya pikir ini kecenderungan Whiggery, untuk mencela usaha luar biasa seniman ini; dengan mengemukakan tesis, bahwa seniman hebat adalah seniman yang tidak berkesadaran, yang secara tidak sadar memberi label diri mereka dengan Terobosan Kekacauan (Muddle Through). Tapi diantara  kita yang tidak punya suara dari dalam (Inner Deaf Mutes), kadang terimbangi oleh suatu kesadaran sederhana, yang, meski tanpa kehebatan kata-kata agung, tetap menganjurkan kita untuk berbuat yang terbaik, mengingatkan kita bahwa karya kita harus sebisanya bebas dari cacat apapun. (untuk menebus kekurangan inspirasi mereka), pendek kata, hanya membuang-buang waktu saja. Kita sadar juga, bahwa diskriminasi kritis yang ditujukan pada kita hanya ada pada orang yang cepat sekali beruntung dalam suatu kreasi yang angat hebat; kita tidak berasumsi bahwa hanya karena suatu karya sudah ditulis tanpa adanya kritikan yang jelas, bukan berarti tidak ada usaha kritis yang telah dilakukan. Kita tidak tahu usaha sebelumnya yang telah dipersiapkan, atau yang sedang berlangsung, dalam cara kritis, sepanjang waktu dalam pikiran para pencipta ini.

Tapi afirmasi ini membuat kita kecut juga. Jika begitu besar bagian dari suatu penciptaan yang juga masuk dalam kegiatan kritik, tidakkah bagian besar itu dinamakan “tulisan kreatif” betul-betul kreatif? Jika demikian, tidak adakah kritik yang kreatif dalam artian biasa? Kelihatannya tidak ada jawaban untuk ini. Saya mengajukan suatu aksiomatis bahwa suatu kreasi, karya seni, adalah bersifat autotelic, adanya tujuan jelas dalam dirinya, dan kritik, dilihat dari defenisinya, adalah tentang sesuatu yang lain darinya. Dengan begitu, anda tidak bisa menyatukan penciptaan dengan kritik sebagaimana Anda menggabungkan kritik dengan penciptaan. Aktifitas kritikal sampai pada pencapaian tertingginya, dalam suatu penyatuan penciptaan apa yang dilakukan seorang seniman.

Namun begitu, tak seorang penulis pun yang bisa sepenuhnya bekerja sendiri, dan banyak penulis kreatif punya kegiatan kritis yang tidak sepenuhnya tertumpah pada karyanya sendiri. Ada yang menjaga daya kritis mereka dengan melakukan latihan tanpa aturan jelas; ada yang menyelesaikan karya mereka, ada yang terus melanjutkan kegiatan kritik mereka dengan selalu mengomentarinya. Tidak ada aturan umumnya. Karena setiap orang bisa belajar dari orang lain, dan mereka saling mengambil dan memberi. Bahkan ada yang sangat berguna bagi orang yang bukan penulis.

Pada suatu waktu saya tergerak untuk mengambil suatu sikap bahwa kritik yang pantas untuk dibaca hanya kritik yang dipraktikan dengan baik, dengan selera seni yang mereka punya. Tapi perlu saya perjelas lagi, sebagaimana usaha saya dalam mencari suatu rumus yang mencakup semua yang ingin saya nyatakan, meski ini melebihi dari apa yang saya inginkan. Kualifikasi paling penting yang bisa saya temukan, menyangkut pentingnya kritik bagi para praktisinya, adalah bahwa suatu kritik harus punya kepekaan akan fakta yang dikembangkan dengan sangat tinggi. Ini tidak sepele dan semata masalah bakat. Ini bukan tentang seseorang yang dengan mudahnya mendapatkan pujian orang banyak. Kepekaan akan fakta (the sense of fact) adalah sesuatu yang sangat lambat berkembang, dan perkembangannya yang lengkap mungkin berarti puncak peradaban. Begitu banyak fakta lapangan yang harus dikuasai, dan fakta lapangan terluar kita, pengetahuan, kontrol, terikat dengan kesenangan yang mencandu dalam bidang yang jauh lebih luas lagi. Buat anggota Browning Study Circle, diskusi para penyair tentang puisi kelihatannya membosankan, teknikal, dan terbatas. Diskusi ini hanya berkisar pada praktisi yang mengklarifikasi dan mengurangi fakta yang membuat segalanya jadi kabur; karena teknik tak memadai yang dipakai, dan bagi yang telah menguasainya, inilah yamg membuat anggota diskusi senang, hanya yang ringkas, terlacak dan bisa dikendalikan. Itulah yang menjadi satu alasan nilai kritik dari para praktisinya – ia berurusan dengan fakta darinya, ia bisa membantu kita untuk mengerjakan hal yang sama.

Pada tiap tingkatan kritik, saya menemukan kesamaan yang selalu hadir. Ada bagian besar tulisan kritikal yang merupakan “penafsiran” si penulis, suatu karya. Ini tidak berada dalam tingkatan Kegiatan Diskusi (Study Circle); ini kadang terjadi saat seseorang bisa mengerti yang lainnya, atau penulis kreatif, yang bisa ia berkomunikasi dengannya meski setengah-setengah, dan kita merasa ia benar dan memberikan pemahaman. Sulit menyatakan “penafsiran” dengan bukti luar. Bagi orang yang punya kemampuan pada tingkatan ini tentu akan menjadi bukti sendiri. Tapi siapa yang akan membuktikan keahliannya sendiri? Dan setiap kesuksesan untuk jenis tulisan ini, selalu ada ribuan banyaknya amatiran. Bukannya mendapatkan suatu pemahaman, tapi malah fiksi yang didapatkan. Jalan keluarnya adalah dengan cara aplikasi terus menerus, dengan cara pandang orisinil yang akan menuntun Anda. Namun begitu, tak ada seorangpun yang akan menjamin kompetensi Anda, inilah dilemanya.

 

Kita harus memutuskan apa yang berguna dan yang tidak, meski kita tidak begitu ada kemampuan untuk melakukannya. Tapi cukup meyakinkan bahwa “penafsiran” (di sini saya tidak bermaksud menyentuh elemen jumlah baris dalam karya sastra) akan diakui kalau ia bukan penafsiran sama sekali, tapi hanya dengan meletakkan posisi pembaca sebagai pemilik fakta yang kalau tidak begitu ia akan kehilangan. Dari pengalaman saya di perkuliahan Ekstensi (kelas dewasa yang diadakan pada malam hari di perguruan tinggi), saya temukan ada dua cara bagaimana membimbing siswa untuk menyukai sesuatu dengan kesukaan yan benar: pertama dengan memperkenalkan pada mereka seleksi bacaan dengan fakta yang lebih sederhana – bisa itu kondisinya, setting, dan asal usul, kedua dengan memupuk mereka dengan bacaan bermutu sehingga mereka tidak akan berprasangka menentangnya. Banyak cara bagaimana membantu mereka dalam hal drama periode Elizabeth: seperti pembacaan dengan keras puisi T.E. Hulme yang berfungsi memberikan efek langsung puisi tersebut.

Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, dan yang juga dijelaskan oleh Remy de Gourmont sebelum saya (seorang pakar tentang fakta, yang kadang-kadang saya khawatirkan, ia bergerak ke luar dari bidang sastra, seorang pakar ilusi fakta), perbandingan dan analisis adalah alat utama kritik. Memang, sebagai alat, yang mesti dirawat, dan tidak digunakan dalam penyelidikan novel Inggris. Perbandingan dan analisis tidak digunakan dengan kesuksesan yang menyolok oleh penulis kontemporer. Anda harus tahu apa yang dibanding, dan apa yang analisa. Mendiang Profesor (W.P) Ker adalah seorang yang ahli dalam cara ini. Perbandingan dan analisi hanya butuh bangkai mati di atas meja; tapi penafsiran selalu menghasilkan bagian-bagian tubuh dari kantongnya, dan membenarkannya kembali. Buku apa saja, esei, catatan dalam Notes and Queries, yang menghasilkan fakta bahkan dari bagian terendah sekalipun dari suatu karya seni yang malah lebih baik dibanding sembilan persepuluh jurnal kritik paling berpengaruh, atau dalam buku. Kita mengira bahwa kita adalah tuan, bukan budaknya fakta, dan kita tahu bahwa penemuan kertas tagihan cucian Shakespeare tidak akan berguna banyak buat kita; tapi kita harus selalu mempertahankan penilaian akhir seperti halnya kesia-sian penilitian yang telah menemukan kertas tagihan tersebut, dalam suatu kemungkinan bahwa ada orang jenius yang akan muncul dan tahu gunanya untuk menaruh kertas itu kembali. Titel, sesederhana apapun, ada haknya untuk itu, dan kita menganggap kita tahu bagaimana cara menggunakannya dan membuangnya. Proses perbanyakan buku kritik dan esei bisa saja menciptakan, dan saya sudah lihat hal ini terjadi, selera bacaan yang tidak sehat, dimana bacaan karya seni lebih diutamakan daipada membaca karya itu sendiri, hal ini bisa menjadi sekedar penyaluran pendapat daripada mendidik selera bacaan. Namun, fakta tidak bisa mengalahkan selera; pada tingkat paling parah, hal ini membuat selera pembaca tidak berkembang – seperti bacaan sejarah tentang yang antik-antik, biografi, – semua dibawah ilusi bahwa ini akan membantu yang lainnya. Orang yang paling parah dan korup di sini adalah orang yang kerjanya menyalurkan opini atau sekedar kesenangan; dan Goethe dan Coleridge juga termasuk – lihat saja karya Coleridge, Hamlet: jujurkah penyelidikannya sejauh data yang digunakannya, atau apakah ini hanya semacam usaha Coleridge untuk tampil dalam kostum yang centil menarik?

Kita belum juga menemukan semacam tes yang bisa diaplikasikan orang lain; kita sudah membuka jalan selebar-lebarnya untuk melahirkan buku-buku yang tak terhitung banyaknya dan yang juga tidak bermutu; tapi saya pikir, kita sudah menemukan suatu tes, yang bagi siapa saja yang mampu menggunakannya, akan membuang bagian-bagiannya yang ada cacatnya. Dengan tes ini kita bisa kembali pada pernyataan awal tentang kebijakan sastra dan kritiknya. Untuk jenis karya kritik yang kita akui, ada kemungkinan kegiatan saling kerja sama, dengan kemungkinan lebih jauh lagi untuk sampai pada sesuatu di luar diri kita sendiri, yang untuk sementara waktu kita sebut kebenaran. Tapi kalau ada orang yang tidask puas karena saya belum memberikan defenisi kebenaran, atau fakta, atau realitas, saya hamya bisa mengatakan rasa maaf karena bukan itu tujuan saya, karena saya hanya mencari suatu skema yang di dalamnya, apapun itu adanya, mereka pantas untuk itu, jika memang mereka ada. (*)

*Thomas Stearns Eliot (1888-1965) adalah salah satu penyair terbesar dan kritikus sastra paling berpengaruh sepanjang masa. Lahir di St. Louis, Missouri, lulusan universitas Harvard dan Oxford, dan juga pernah belajar di Perancis dan Jerman. Pada 1914 ia menetap di Inggris dan menjadi warga negara Inggris pada 1927. Puisi awal pentingnya, The love of J. Alfred Prufrock muncul pada 1915. The Waste Land, puisi yang mengangkat namanya menjadi suara puitis generasinya, terbit pada 1922. Ia berteman dengan sang penyair jenius Ezra Pound dan juga menerbitkan esei dan ulasan sastra yang terkumpul dalam The Sacred Wood (1920). Pada 1922, Eliot mendirikan jurnal The Criterion, yang ia edit sampai 1939. Setelah bekerja beberapa tahun sebagai bankir, Eliot bergabung dengan penerbit Faber and Faber dan akhirnya menjabat sebagai direktur.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Essay

Relasi Perempuan dan Laki-Laki dalam Film Posesif

mm

Published

on

Adipati Dolken dan Putri Marino terbilang apik dalam memerankan karakter dalam film Posesif. Keduanya dipasangkan sebagai kekasih yang menjalani roman percintaan pada masa putih abu-abu. Adipati didapuk menjadi tokoh Yudhis Ibrahim, sedangkan Putri bermain sebagai Lala Anindita. Cinta yang terbangun antara Yudhis dan Lala bukan semata-mata cinta monyet anak SMA. Bumbu-bumbu relasi gender terbingkai dalam cerita yang berlatar di kota metropolitan, Jakarta. Setting waktu yang diambil menggambarkan zaman sekarang. Bisa dikatakan film ini adalah cerminan kejadian pada era kids zaman now.

Lala dikisahkan baru saja memenangkan penghargaan dalam Pekan Olahraga Nasional mewakili provinsi DKI Jakarta. Ia merupakan atlet lompat indah yang membanggakan. Yudhis sendiri merupakan murid baru di sekolah Lala. Pertemuan Lala dan Yudhis dimulai di lorong sekolah. Alur cerita di babak awal masih mudah ditebak. Lala dan Yudhis terjebak dalam hubungan pacaran anak remaja. Fase ini adalah pengalaman pacaran pertama kali bagi Lala.

Rupanya, film ini tidak mengumbar cinta menye-menye yang penuh drama kegalauan layaknya tren dalam ftv. Cinta yang dialami tokoh utama dalam film ini menemukan liku yang menantang. Penulis naskah piawai membawa penonton untuk merasa dekat dengan problem yang dihadapi Lala dan Yudhis. Isu yang diangkat sarat dengan fenomena yang memang lumrah dijumpai di masyarakat, yakni ketimpangan gender.

Yudhis pelan-pelan mulai menampakkan tabiat aslinya. Ia adalah sosok cowok yang sangat khawatir terhadap pasangannya. Kekhawatirannya tersebut sudah dalam tahap berlebihan. Statusnya yang masih dalam tahap pacar, sudah berani melarang-larang Lala untuk menghentikan aktivitas latihan lompat indah. Padahal, menekuni lompat indah merupakan cita-cita yang didamba dan dielu-elukan di keluarga Lala. Lala menuruti permintaan Yudhis, karena ia terpanggil menjadi atlet bukan dari kehendak hati.

Ketika Lala sudah meninggalkan atribut atletnya demi menemani Yudhis, perangai Yudhis justru semakin memburuk. Temperamen Yudhis yang kasar semakin membuat jalinan asmara yang dijalaninya bersama Lala menjadi tidak sehat. Yudhis hanya menginginkan Lala selalu berada di sampingnya. Ia tidak memperbolehkan Lala intens berinteraksi dengan teman-temannya. Rasa cemburu tingkat tinggi menguasai pikiran Yudhis setiap kali ada teman yang perhatian ke Lala. Hari-hari Lala kian tidak karuan. Ia mulai terkekang dan sulit melepaskan diri. Sebab Yudhis pandai mengombang-ambingkan perasaan Lala. Seusai bertengkar dan menyakiti Lala dengan tindak kekerasan seperti mencekik dan menjambak, Yudhis selalu memasang tampang memelas dan merengek minta maaf. Penonton lalu digiring pada suguhan relasi perempuan dan laki-laki yang dipengaruhi tekanan batin yang menimpa kedua tokoh sentral tersebut.

Gender, Cinta, dan Ketakutan

Komunikasi yang tercipta di antara Yudhis dan Lala menandakan adanya cinta yang tumbuh. Keduanya akan rela dan berani melakukan apapun demi pasangannya. Apa yang dilakoni Lala dan Yudhis juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan Knapp, Ellis, dan Williams (1980). Penelitian tersebut mengungkap, kebaikan pasangan akan lebih besar bobotnya, sementara kesalahan yang dibuat pasangan tidak akan dianggap oleh mereka yang tengah dimabuk cinta.

Panggilan sayang yang dilontarkan Lala dan Yudhis semakin mempertegas hubungan special di antara keduanya. Mereka juga menciptakan dan menggunakan idiom personal, kata-kata, frasa, dan gestur yang membawa makna hanya untuk hubungan tertentu.  Unsur-unsur tersebut mengantarkan penonton kepada pemahaman bahwa keduanya memiliki bahasa spesial yang menandakan ikatan mereka (Hopper, Knapp dan Scott 1981).

Relasi interpersonal yang dibangun Lala dan Yudhis menerapkan teori pertukaran sosial. Ketika pasangan memasuki relasi interpersonal yang menggunakan model pertukaran sosial, maka konflik yang timbul berasal dari ketidakseimbangan antara input dan outputyang didapat. Maksudnya di sini adalah apabila seseorang mencurahkan seluruh hidupnya kepada pasangan namun pasangan hanya bersikap cuek tanpa ada balasan yang setimpal hal ini rawan berujung konflik.

Yudhis tergolong dalam tipe cinta mania. Ia begitu tergila-gila dengan pasangannya. Tergila-gila dikarakteristikan dengan ketinggian ekstrem dan kerendahan ekstrem. Pecinta yang tergila-gila mencintai berlebihan dan pada waktu yang sama sangat khawatir kehilangan cintanya. Ketakutan ini sering mencegah pencinta yang tergila-gila mengalami penurunan rasa suka yang mungkin timbul dalam suatu hubungan. Dengan sedikit provokasi, pencinta yang tergila-gila kemungkinan berpengalaman untuk cemburu secara berlebihan. Yudhis bahkan meneror Lala dengan pesan pendek, telepon, hingga menanyakan keberadaan Lala ke temannya. Padahal Lala sudah izin bermain dengan teman-temannya. Yudhis berlebihan dalam menanggapi Lala yang tidak ada kabar.

Pencintayang tergila-gila itu obsesif (tergila-gila); pencinta yang tergila-gila harus menguasai/memiliki pasangannya seutuhnya secara sempurna. Sebaliknya, pencinta yang tergila-gila berharap untuk dimiliki, dicintai secara berlebihan. Pencinta yang tergila-gila adalah bayangan pribadi yang kasihan, melihat kemampuan berkembang hanya dari cinta; harga diri datang dari dicintai daripada perasaan puas yang timbul dari dalam diri. Karena cinta itu sangat penting, tanda bahaya di sebuah hubungan seringkali diabaikan; pencinta yang tergila-gila percaya bahwa jika ada cinta, kemudian lainnya itu bukan masalah.

Yudhis juga mengombinasikan tipe cinta mania dengan eros. Para penganut cinta eros ini sangat memperhatikan daya tarik fisik orang yang dicintai. Saat sudah menjalin hubungan asmara, mereka memiliki ikatan emosional yang kuat terhadap orang yang dicintainya tersebut. Rasa cinta yang dimilikinya itu berdasarkan daya tarik fisik pada saat pertama jumpa. Cinta eros ini menggebu dan berani mengambil risiko. Saat sudah menjalin hubungan asmara, mereka menganggap penting ciuman dan pelukan.

Pernyataan-pernyataan yang disebutkan sebelumnya terwakili oleh kenekatan Yudhis melaser saingan Lala dalam lompat indah. Yudhis juga sama sekali tidak takut ketika sengaja menyerempet motor yang dikendarai teman cowok, sahabat Lala. Semua itu dengan dalih demi memperjuangkan cintanya ke Lala. Dia takut Lala direbut orang lain. Yudhis juga sangat mendewakan sentuhan dalam hubungannya dengan Lala. Adegan itu tergambar ketika ia lancang menyelinap masuk kamar Lala dengan kunci curian. Ia menciumi Lala.

Rupanya, ada faktor keluarga yang menyebabkan Yudhis bertingkah psikopat dalam merajut hubungan dengan Lala. Yudhis menjadi korban atas ketidakharmonisan hubungan sang ayah dan sang ibu. Sang ayah meninggalkan Yudhis dan ibunya sejak kecil. Ibunya menyimpan trauma. Ibunya memiliki emosi yang meledak-ledak dan selalu memaksakan kehendaknya ke Yudhis. Yudhis tidak punya kuasa untuk melawan sebab sang ibu adalah tipe yang ringan tangan, suka memukulinya. Meskipun setelah itu, sang ibu meminta maaf dan menyesal. Begitu terus dan berulang. Menurut ibunya, tidak ada orang yang memahami Yudhis selain ibunya. Rupanya sikap buruk itu turun ke Yudhis.

Lala yang terlalu tunduk pada Yudhis adalah akibat dari tekanan yang selama ini ia peroleh dari sang ayah. Ayahnya menaruh harapan besar kepada Lala untuk dapat meneruskan prestasi sang ibu yang telah meninggal, sebagai atlet lompat indah kenamaan. Lala juga berniat membantu Yudhis melepaskan diri dari jerat siksaan sang mama. Lala percaya, cinta bisa mengatasi semua masalah. Lala ingin Yudhis berubah, sebab ia tahu, Yudhis aslinya baik.

Apa yang menimpa Lala dan Yudhis bisa dijelaskan melalui feminism psikoanalitis. Pandangan ini berpatokan bahwa pengalaman seksualitas masa kanak-kanak hingga dewa mempengaruhi cara berpikir seseorang. Itulah mula lahirnya ketidaksetaraan gender. Laki-laki memandang dirinya sebagai maskulin, perempuan menganggap ia sebagai feminim. Masyarakat puun menilai demikian. Maskulinitas menduduki posisi superior, sedangkan feminism diletakkan sebagai inferior (Tong, 2006:190). Itulah yang membuat Lala mendengarkan perkataan Ega, sahabatnya. Ega melarang Lala putus dari Yudhis karena melepaskan Yudhis membuat rugi Lala. Mencari pacar setampan Yudhis tidak mudah.

Feminisme psikoanalitis turut menyoal tahapan oedipal yang dilalui anak-anak. Anak laki-laki mengerti bahwa ia dan ibunya tidak sama secara fisik. Perbedaan itu melatari timbulnya masalah. Anak laki-laki lalu terdorong mencari kekuasaan lewat identifikasi dirinya dengan laki-laki yakni ayahnya. Anak laki-laki tahu bahwa ia harus bebas dari ketergantungan terhadap ibunya. Sedangkan Yudhis mungkin tidak mendapati itu, sebab sang ayah pergi dan menelantarkannya.

Tahapan oedipal yang dijalani anak perempuan merumuskan hasil bahwa simboisis ibu dengan anak perempuan akan berkurang kekuatannya. Hasrat itu dialihkan kepada otonomi dan kemandirian yang dilambangkan lewat sang ayah. Lala tercurahi kemandirian yang terlalu besar sebab sang ibu telah meninggal. Ayahnyalah yang bertugas mengawal perkembangan Lala. Sang ayah bertindak sebagai orang tua tunggal yang harus bisa menjadi ayah sekaligus ibu.

Lala dan Yudhis sama-sama korban atas pincangnya kasih sayang dari orang tua. Keluarga mereka sama-sama penganut prinsip protektif. Tipe ini umumnya condong dalam konformitas yang tinggi namun minim percakapan. Ada banyak peraturan yang harus ditaati anak namun tanpa adanya komunikasi. Orang tua merasa tidak ada gunanya berdiskusi apapun dengan anak. Anak dianggap tidak perlu tahu apa yang orang tua putuskan.

Film ini menampar penonton dengan cara meramu cinta, gender, cita-cita, dan ketakutan dalam satu paduan. Ada pelajaran yang bisa dipetik yakni cinta tidak mesti harus membahas untung rugi. Boleh berkorban untuk cinta asal tetap rasional. Selamat menertawakan diri atau pasangan yang posesif! (*)

*) Shela Kusumaningtyas: Lahir di Kendal, 24 November 1994. Seorang penulis. Tulisannya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

 

 

 

Continue Reading

Essay

Setelah Edward Said

mm

Published

on

Nono Anwar Makarim *)

EDWARD Said meninggl pada 25 September 2003. Kanker darah yang menyiksa badannya sejak tahun 1991 akhirnya menang. Umurnya baru 67. Kofi Annan mengeluarkan pernyataan belasungkawa. Dia bilang bahwa Said berbuat banyak sekali dalam menjelaskan dunia Islam kepada dunia Barat, dan sebaliknya. Sekretaris Jenderal PBB itu tidak selalu setuju dengan pendapatnya, tetapi senantiasa suka berbincang dengan Said. Annan suka pada humor Said, dan kagum pada semangatnya memperjuangkan perdamaian antara Israel dan Palestina.

The New York, Beirut, menulis editorial yang menyebut Said sebagai orang besar yang, seperti figur-figur besar lain di dunia, kurang dihargai semasa hidupnya. Pada suatu ketika si pembela gigih nasib orang Palestina ini bahkan diusir Yasser Arafat dari Tepi Barat. Ediward Said terlalu keras mengecam korupsi di kalangan pemimpin Palestina. Arafat, si pengusir Said, sekarang berkata bahwa kematiannya membuat dunia kehilangan seorang jenius besar, seorang penyumbang kultur, intelek, dan daya-cipta universal.

N o s t a l g i  d i  E l a i n e ‘ s

Elaine’s, suatu restoran kecil di 2nd/88-89th Street, Manhattan adalah tempat pengarang, editor, profesor, seniman, dan intelektual berkumpul. Makanannya bernuansa Italia, harganya tidak semahal Daniel. Musim panas 1997. Kami berempat menanti kedatangan Edward Said untuk makan bersama. “Belum tentu dia bisa datang. Tapi, kalau serangan-serangan penyakitnya mereda, dia pasti datang!” kata temannya. Restoran kecil milik Elaine Kaufman cepat memenuh dengan orang dan suara orang diskusi sambil makan.

Tiba-tiba pintu dibuka dan Edward Said masuk. Seorang perempuan setengah baya dan tampak menarik bangun dari mejanya, menghampiri tamu yang terlambat datang, dan memeluknya erat-erat. “Itu Elaine, yang punya restoran ini!” bisik teman saya. Mereka berpelukan datang ke meja kami. Baru duduk, seorang perempuan lain bangun dari kursinya sambil berseru “Edward!” Sekali lagi teman saya berbisik, “Itu Joan Didion!” Sekali lagi Edward Said dipeluk dan dicium mesra.

Dua jam kami duduk, makan dan minum. Said hampir sepenuhnya bicara dengan seorang saja di antara kami, anak diplomat senior Inggris, kawan lama keluarga. Mereka berbicang tentang masa lalu. Memang begitu perangai orang yang sudah lama tak jumpa. Saya berupaya memutus dialog Inggris-Palestina yang terus berlangsung di meja kami. “Banyak orang di Indonesia mengira bahwa perjuangan Palestina itu adalah antara orang Islam dan orang Yahudi! Saya tahu itu tidak benar, akan tetapi, mengapa yang muncul di permukaan media hanya Hizbullah, Hamas, dan Fatah? Di mana Habbash sekarang?” Jawaban Said tidak memuaskan: “George (nama depan Habbash) sudah rusak! Tak ada yang bisa diharapkan lagi dari dia.” Said tidak menjelaskan mengapa hanya yang beragama Islam yang mengemuka di kalangan pejuang Palestina. Saya agak kesal menyaksikan konsentrasi perhatian Edward Said pada kenangan persahabatan di masa lalu. Tapi masa lalunya memang lebih menyenangkan daripada masa kininya. Anak orang kaya, hidup mewah, masuk sekolah terbaik di Palestina, Mesir, dan Amerika. Raja Hussein dan Omar Sharif adalah teman sekelasnya di Kairo. Bandingkan dengan masa kininya: Masuk dalam daftar orang yang harus dibunuh dari Liga Pembela Yahudi. Teror setiap hari melalui pos, telepon, faks yang ditujukan pada dirinya dan anggota keluarganya. Kemudian penyakit kronis yang enggan pergi, dan terus-menerus menciptakan penyakit sampingan: leukemia. Ia ditanya apakah ancaman akan dibunuh dan kanker darah tidak mengganggu semangat hidupnya. Said menjawab bahwa bahaya kelumpuhan semangat jauh lebih besar daripada leukemia dan ancaman pembunuhan. Karena itu ia berupaya tidak terlalu memikirkan nasib yang buruk itu. Tampang keren, otak cemerlang, latar belakang berduit, pekerjaan mengajar di universitas terkemuka di Amerika terjamin kesinambungannya sampai mati. Ketika saya tanyakan mengapa ia memilih tinggal di New York, metropolis yang begitu didominasi oleh orang yang mengancam akan membunuhnya, ia menjawab: “Apa ada kota lain?”

Konon, sebagai pribadi, Edward Said adalah orang yang sangat egosentris, memikirkan diri melulu, kurang pertimbangan akan orang-orang dekat yang mencitainya pun. Orang berbisik, “Tidak mudah hidup dengan jenius!” Lalu apa makna inti yang diwariskan almarhum pada kita? Di sini saya melihat dua unsur.

E s e n s i  E d w a r d  S a i d

Pada gelombang pasang nafsu perang di AS, jauh sebelum debakel Afganistan dan Irak yang kini sedang dialami negara adikuasa itu, saya bertanya kepada seorang cendekiawan Amerika: Kaum liberal Amerika kok tidak bersuara? Mengapa begitu sedikit orang menganut pandangan Chomsky dan Said? Jawabnya mengambang: Chomsky ekstrem. Orang tidak lagi mendengarkan suara dia. Edward Said sudah menggadaikan kecemerlangannya pada politik. Ia sudah menjadi partisan Palestina. Ia hanya mengkritik Israel dan Amerika. Ia berdiam ketika orang Palestina yang melakukan teror. Saya termenung mendengar jawaban itu. Kemudian mengingat kembali jauh ke masa lalu. Pada saat gelombang pasang suatu kampanye politik melanda masyarakat, intelektualnya kebanyakan cenderung menyesuaikan diri, atau berdiam. Mereka cemas akan tercampak keluar dari lingkungan masyarakatnya, terasing dari bangsanya. Ada juga pikiran: “Kalau begitu banyak orang setuju, jangan-jangan mereka benar: jangan-jangan pandangan saya keliru.” Periuk nasi sudah tentu paling keras membujuk agar mereka berpihak pada gelombang pasang, atau netral. Noam Chomsky dan Edward Said tegak berdiri di tengah badai kampanye perang George Bush. Mereka tidak menyesuaikan diri, mereka tidak berdiam. Mereka buka suara. Dan suaranya keras kedengarannya di seantero dunia.

Yang kedua ditinggalkan oleh almarhum adalah suatu penjernihan pikiran kita bahwa suatu teori besar yang diciptakan pemikir cemerlang tidak patut diuji pada setiap pernik keadaan konkret, buka mata. Teori orientalisme Edward Said digempur habis-habisan. Terlalu main pukul rata, terlalu gegabah, terlalu ekstrem. Akan tetapi suatu teori memang menyangkut garis besar, umum, abstrak, dan rrgeneralisasi. Yang perlu ditanyakan adalah apakah ia membuka mata.

Edward Said sudah pulang ke bukit-bukit hijau Palestina yang diimpikannya seumur hidup. Singkirkan karakternya yang egosentris; kesampingkan sulitnya orang hidup di sampingnya; maafkan sifat tak pedulinya pada perasaan orang lain, sebab dia bukan manusia biasa. Edward Said adalah orang luar biasa, orang abnormal. Lalu ambil sifat “intifadah” intelektualnya dan kecemerlangan bintangnya di langit pemikiran. Saya kehilangan seorang teladan lagi. (*)

*) Nono Anwar Makarim lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 25 September 1939. Pada 1960-an hingga 70-an ia dikenal sebagai wartawan dan pemimpin redaksi harian KAMI. Setelah keluar masuk Fakultas Hukum UI, ia memperdalam hukum hingga memperoleh gelar doctor of juridical science dari Harvard Law School, AS. Disertasinya berjudul Compainies and Business in Indonesia. Pendiri Kantor Konsultan Makarim & Taira ini hingga kini juga dikenal sebagai penulis kolom yang tajam.

Sumber: TEMPO, Edisi 29 September – 5 Oktober 2003, halaman 124-125.

Continue Reading

Essay

Ingatan, Sejarah, dan Mitos

mm

Published

on

Taufik Abdullah*)

Mengapakah demikian mudah suara saya menaik dan bergetar menahan marah, ketika beberapa orang mahasiswa dengan nada yang sinis menanyakan fungsi perayaan 50 tahun Kemerdekaan? Mula-mula memang saya bisa menjawab dengan tenang tentang makna simbolik dari perayaan ini. Bergaya sebagai seorang guru yang baik, saya menerangkan bahwa dalam usaha melangkah ke depan – ke masa yang tanpa peta itu – kita perlu juga sekali-sekali merenung dan mengingat lagi hasrat dan tekad yang pernah dipatrikan serta langkah-langkah yang telah diayunkan. Akan tetapi ketika seorang mahasiswa, lagi-lagi dengan suara sinis, malahan cenderung sarkastik, dengan gaya seorang oposan, berkomentar, “oh, sekedar merenung saja!” hampir saja kesabaran saya hilang. Suara saya menaik. Akan tetapi untunglah, kenakalan asli saya segera tampil dan saya pun bisa menjadikan jawabannya yang diiringi humor. Maka, semakin sadarlah saya bahwa saya bukan seorang pendidikan. Begitu mudah saya terkena provokasi.

Belum lama peristiwa itu terjadi. Baru beberapa hari berselang. Kalau saya pikir-pikir kembali peristiwa itu saya rasa tak pantas suara saya menaik dan bergetar menahan marah. Apa salahnya kalau hal yang dianggap “hebat” itu sekali-kali dihadapkan pada kesangsian akan keabsahannya? Bukankah dinamika dunia ilmu praktis ditentukan oleh letupan-letupan kesangsian terhadap apa yang telah diangap benar? Para mahasiswa itu memang memperlakukan saya sebagai seorang ilmuwan yang diharapkan dapat menjawab masalah keilmuan. Kebetulan saja masalah keilmuan itu, kali ini berkisar di sekitar perayaan Proklamasi Kemerdekaan. Akan tetapi, apa salahnya?

Masalah sesungguhnya bukan terletak pada pertanyaan mahasiswa yang sinis itu, tetapi pada diri saya. Saya pikir hal ini juga dirasakan sebagian mereka yang sebaya dengan saya dan yang lebih tua daripada saya. Seperti yang dialami mereka juga Proklamasi Kemerdekaan dan Revolusi Nasional adalah bagian dari otobiografi saya. Tak mungkin bagi saya untuk mengingat pertumbuhan kedirian saya di luar konteks itu. Revolusi Nasional adalah bagian dari otobiografi saya. Tak mungkin bagi saya untuk mengingat pertumbuhan kedirian saya di luar konteks itu. Revolusi Naional bagi saya bukanlah sesuatu “yang ada di sana,” yang dengan mudah bisa dilihat secara objektif, tanpa melibatkan perasaan. Saya tak mengatakan bahwa saya ikut ke medan perang menyambung nyawa demi tanah air dan saya pun tak bisa berbicara bahwa saya, dengan berbagai cara, ikut membantu perjuangan kita. Sama sekali tidak. Akan tetapi bagaimanakah saya bisa melupakan kesedihan yang saya rasakan karena tak bisa ikut melompat-lompat dan bersorak-sorak, seperti anak-anak lain ketika ulang tahun pertama proklamasi dirayakan di kota kecil saya? Baru beberapa hari sebelumnya saya dikhitan. Babagaimana pula saya tak akan ingat akan kegembiraan saya ikut berlari-lari di belakang para pemuda yang membawa Sutan Sjahrir di atas bahu mereka, ketika mantan Perdana Menteri itu berkunjung ke kota saya? Atau, melupakan perasaan yang mencekam ketika melihat mayat seorang pejuang yang tewas, setelah sebelumnya patroli tentara Belanda menembaki sekolah saya. Berbagai slide kenangan kadang-kadang tampil bergantian, jika saja gugatan terhadap masa lalu itu datang. Memang Revolusi Nasional bagi saya bukanlah “something out there” tetapi adalah sesuatu yang berbeda dalam diri saya. Tak bisa saya mengelak kehadirannya. Betapa pun mungkin saya ingin melupakannya, atau bisa juga, mengubah bentuknya yang sesuai dengan hasrat saya sekarang. Ia adalah kenangan saya. Ia adalah ingatan saya. Ia adalah bagian dari subjektivisme saya, betapa pun mungkin saya ingin menyembunyikannya. Saya pun tak bisa pula bersembunyi dari ingatan ini. Entah kalau amnesia telah menghidapi diri saya.

Jadi, suara saya yang menaik dan bergetar menahan marah semoga bisa juga dimaafkan. Mungkin para mahasiswa itu hanya bermaksud bertanya tentang sejarah yang konon objektif – “ sesuatu yang ada di sana,” di kelampauan – tetapi saya rasakan sebagai gugatan terhadap ingatan saya yang subjektif dan yang merupakan bagian dari kehadiran saya. Atau, barangkali pula mereka hanya menyangsikan keabsahan sebuah initos yang dirasakan semakin bercorak hegemonik. Bisa jadi demikian halnya, tetapi, mana mereka tahu bahwa yang langsung terkena adalah ingatan saya yang pribadi, bebas, dan otentik. Mereka mahasiswa itu, tak bisa mempertanyakan, apalagi menggugat, ingatan saya, yang riil pada diri dan kesendirian saya ini.

Harus saya akui, bahwa dalam suasana peringatan dan perayaan yang ketiganya – ingatan, yang pribadi sejarah, yang dihasilkan oleh pencarian akademis yang kritis, dan mitos, yang tumbuh dari sebuah corak keprihatinan atau kepentingan (entah kultural, kekuasaan, atau ideologi) – bisa saja bercampur baur menjadi satu lagi, di manakah sesungguhnya batas ketiganya? Bukankah sejarah bisa juga dianggap sebagai “rekaman ingatan kolektif” dan ingatan atau kenangan mungkin juga diperlukan sebagai “sejarah yang dialami sendiri”.

Dan mitos? Mitos boleh juga dianggap sebagai peristiwa “sejarah” yang harus selalu diingat dan diingatkan, sebagai pelajaran dan alat pemersatu.

Hanya saja, pencampuradukan dari ketiga kategori ini dengan mudah dapat menyebabkan kita kehilangan makna yang sesungguhnya dari peringatan peristiwa dramatis yang telah mengubah corak kehadiran kita sebagai bangsa itu. Sejarah tidaklah ada dengan sendirinya.  Sejarah adalah hasil dari sebuah usaha untuk merekam, melukiskan, dan menerangkan peristiwa di masa lalu. Bisa jadi sejarah adalah sebuah hasil yang sejujur mungkin ingin merekam dan “merekonstruksi” ingatan, baik yang kolektif maupun yang pribadi, tetapi mungkin juga sejarah bermaksud “menemukan kembali” peristiwa (apa, siapa, di mana, dan bila) yang telah terkibur impitan zaman. Sejarah adalah hasil yang didapatkan dengan sengaja ketika berbagai pertanyaan tentang masa lalu telah dirumuskan. Kalau demikian, bukankah “sejarah” sesungguhnya sangat ditentukan oleh jenis pertanyaan yang telah dirumuskan? Memang, demikian halnya dan inilah unsur yang paling subjektif dalam sejarah. Maka, dapat jugalah dibayangkan bahwa pertanyaan itu bukan saja beranjak dari rasa ingin tahu belaka, tetapi dapat pula dirangsang oleh kepentingan tertentu, apa pun mungkin coraknya.

Betapapun kejujuran adalah landasannya yang paling esensial, sejarah mau tak mau bersifat selektif. Tak semua kebenaran atau kenyataan historis bisa dan perlu dikatakan. Hanyalah yang penting dan yang relevan saja yang perlu dilukiskan. Kalau demikian, herankah kita karena yang sifatnya selektif ini, sejarah bisa juga memantulkan kisah atau pesan yang mempunyai tingkat penting dan relevan yang berbeda-beda? Bukan itu saja, tingkat penting dan relevan itu bisa pula ditentukan oleh golongan sosial yang berbeda-beda pula. Fungsi sosial sejarah malah ditentukan oleh pemahaman terhadap kisah dan pesan itu. Mungkin karena itulah, saya kira, pernah ada yang berkata,

“Sejarah tak memberikan pelajaran apa-apa, kitalah yang belajar dariapdanya”. Jadi kitalah – kita yang menghadapkan diri pada kisah sejarah – yang merupakan unsur yang aktif.

Begitulah, kadang-kadang kisah dan pesan tertentu kita perbesar-besar karena memberikan sesuatu yang bersifat integratif, inspiratif, atau apa saja yang dianggap berfaedah. Kadang-kadang kisah tertentu kita ulang-ulang, malah kita peringati dan kita rayakan, dengan berbagai macam corak ritual dan seremoni. Dari kisah tersebut kita mendapatkan sesuatu yang bermanfaat. Tetapi, pemilihan kisah atau pesan itu terjadi dalam proses kompetisi. Ketika pilihan akhirnya ditentukan, maka hal itu adalah akibat dari proses hegemonisasi yang telah dimenangkan. Dalam sistem kenegaraan yang sangat ideologis, seperti negara kita ini, sudah bisa dipahami bahwa kekuasaan mempunyai kecenderungan yang sangat tinggi melakukan hegemoni makna terhadap sejarah dan simbol. Dengan berbagai sistem rujukan dan informasi, serta pemakaian sistem kekuasaan, maka semakin membesarlah bentukan hasil pilihan itu dan semakin jauhlah ia dari sejarah yang pernah menghasilkannya. Analisis akademis mengatakan bahwa pilihan itu telah berubah menjadi sebuah mitos. Kalau ini telah terjadi, sejarah hampir tak berdaya untuk menuntutnya kembali ke pangkuannya – ke pangkuan dunia yang kritis dan “obyektif”. Mitos pun telah menjadi “realitas – sejarah”. Hanya saja ia bukan sesuatu yang “out there”, yang dingin dan yang telah berlalu, tetapi sesuatu yang ada “di sini”, hangat dan bagian dari kehidupan sosial. Kredibilitas mitos pun semakin menaik jika ia mendapat dukungan, apalagi kalau berawal dari ingatan, kolektif ataupun individual. Didukung oleh kecenderungan teologis, yang menjadikan situasi hari kini sebagai pembenaran dari keabsahan gambaran hari lalu, mitos pun semakin kokoh berdiri. Dengan begini, maka sistem hegemoni pun telah membentuk masa lalu berdasarkan skenario kepentingan hari kini.

Semua ikatan sosial memerlukan mitos, karena ia mengajukan jawaban bagi kemungkinan terdapatnya ketimpangan antara realitas dengan logika, memberi suasana kredibilitas bagi keberlakuan tata yang berlaku dan bisa pula merupakan unsur integratif yang diperlukan. Kalau saya tak salah, adalah Ernest Renan, yang mengatakan bahwa kehadiran “bangsa”, yang bermula dari “keinginan untuk hidup bersama”, bisa berlanjut jika komunitas itu bersedia “mengingat banyak hal” dan “melupakan hal”. Mengingat dan melupakan yang selektif inilah yang melahirkan mitos. Hanya saja seleksi yang hegemonik tidaklah sekedar berusaha menjauhkan kita dari sejarah yang dingin dan kritis, tetapi juga mengingkari keabsahan ingatan sendiri yang pribadi dan otentik.

Peristiwa besar, seperti Revolusi Nasional dan Perang Kemerdekaan kita, adalah lahan pengalaman yang dengan tajam menancapkan kehadirannya dalam ingatan, pribadi dan kolektif. Peristiwa ini adalah pula “sesuatu yang ada di sana”, yang bisa memberikan kisah tentang pergumulan sebuah bangsa mempertahankan kehadiranna dan kegelisahan manusia menghadapi hari-hari tanpa kepastian, selain harapan yang tak kunjung padam. Kekinian kita yang dihasilkannya – sebuah bangsa yang dulu berjuang kini telah mempunyai negara yang berdaulat – menjadikannya pula sebuah sumber inspirasi bagi tumbuhnya mitos.

Mitos bermain dalam wilayah publik. Ia adalah bagian dari kehidupan sosial. Kehadirannya membayangkan suasana integratif. Perayaan dan peringatan bisa pula dilihat sebagai peneguhan dari keberlakuan mitos. Dalam suasana perayaan – sebuah karnaval – siapa pun akan terlarut di dalamnya. Akan tetapi, sebuah pertanyaan kadang-kadang tertanyakan juga. “Siapakah yang menentukan corak mitos itu?” Kini, saya sadar, jangan-jangan pertanyaan sarkastis dan sinis dari mahasiswa yang saya ceritakan itu adalah pantulan dari penolakan mereka terhadap mitos integratif yang mereka anggap sebagai sesuatu yang hegemonik. Mungkin, demikianlah halnya tetapi andaipun bukan, mitos yang memperlihatkan wajahnya dalam wilayah publik, tidak saja mempunyai kemungkinan yang tinggi untuk memperteguh keakraban sosial dan sejarah, melainkan juga, dapat menjauhkan kita dari ingatan kita yang pribadi, murni, dan otentik. Yang tampil adalah wajah publik, bukan diri kita dalam kesendirian dan kepolosan yang tak bisa ditutupi.

Karena itulah saya kira pada saat kita mensyukuri kemerdekaan tanah air kita, semestinyalah kita menggali lagi ingatan yang pribadi dan otentik itu. Pengalaman apakah yang pernah dipatrikan ketika perjuangan dimasuki dan di saat antusiasme kemerdekaan dirasakan? Ingatan adalah penghadapan kita dengan kesendirian kita. Ia tak membiarkan kita untuk bertopeng dalam segala macam kepura-puraan. Dalam ingatan yang murni pribadi ini kita pun bisa mengingat dan mengenang kembali tangisan ibu yang meratapi kepergian abadi anak tercinta atau derai air mata sang istri melepas suami ke medan perang. Untuk apa? Kita mungkin bisa membohongi publik, tetapi tak bisa menghindar dari ingatan sendiri.

Kita rayakan hari kemerdekaan dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur, tetapi kita gali lagi ingatan dan kenangan dengan segala kepolosan yang hanya mungkin tampil dalam kesendirian kita masing-masing. Dalam kesendirian kita dengan ingatan ini, langkah yang telah diayunkan bisa dinilai lagi dan niat yang pernah dipatrikan dalam diri tinjauan kembali. Masihkah idealisme dan pengorbanan yang dipancarkan Proklamasi dan Revolusi Nasional menyinari kehidupan kita bernegara? Ataukah sesuatu yang lain – yang dulu tak terimpikan, malah dinista sebagai penyimpangan – telah menyelinap dalam kehidupan kita? Hanya ingatan kita dalam kesendirian kita masing-masing yang bisa menjawab. (*)

____________________________________

*)Taufik Abdullah lahir: Bukittinggi, Sumatra Barat, 3 Januari 1936, adalah ahli peneliti utama pada LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Ia lulus dari Jurusan sejarah Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (drs., 1961) dan Cornell University (M.A., 1967; Ph.D., 1970). Sejak  April 2000 ia menjadi ketua LIPI. Tulisan-tulisannya diterbitkan di dalam dan luar negeri; di antaranya “Adat dan Islam; An Examination of Conflicty in Minangkabau Indonesia” (1966); “Modernization in the Minangkabau World West Sumatra” dalam Claire Holt, et.al., (eds.); Culture and Politics in Indonesia (1972); Sejarah Lokal di Indonesia (1979, 1985); Islam dan Masyarakat, Pantulan Sejarah Indonesia (1987) ; “Islam and the Formation of Tradition in Indonesia A Comparative Perspective”, Itinerario (1989). Prof. Dr. Taufik Abdullah menjadi editor serta konsultan majalah Prisma, anggota dewan redaksi jurnal Sejarah, editor Ensiklopedi Islam Indonesia dan Ensiklopedi Indonesia. Pengalaman akademiknya dimulai dengan menjadi asisten pengajar Sejarah barat (1959-61) di Universitas Gadjah Mada, Fulbright Visiting Professor di University Wisconsin (1975), Post-Doctoral Fellow di University of Chicago (1977), Visiting Professor di Cornell University (1985), University of Kyoto (1989-90), Australian National University 91990), Mc Gill University, Montreal (1991-92) dan Thammasat University (1997). Aktivitas profesionalnya antara lain menjadi Member of Council for the Study of Malay Culture UNESCO (1971), Presiden International Association of Historians of Asia (IAHA) (1996-98); Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Pusat (dari 1995), Ketua Himpunan Indonesia Untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (1974-1978), anggota KITLV (1968-1978). Dari lembaga yang disebut terakhir ia juga memperoleh penghargaan sebagai anggota kehormatan.

Sumber: Taufik Abdullah, Nasionalisme dan Sejarah, Satya Historika, Bandung, 2001.

***

Continue Reading

Classic Prose

Trending