© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Strukturalisme Awal Gaston Bachelard

Gaston Bachelard – seorang ahli epistemologi, ahli filsafat ilmu, dan teoretis tentang imajinasi – mempengaruhi banyak tokoh kunci dari generasi strukturalis dan pos-strukturalis masa sesudah perang. Melalui Jean Cavailles, dan secara khusus diterangi dan dipandu oleh karya-karya Georges Conguilhem, dan melalui Michel Foucault, ia memperoleh orientasi khasnya dalam meneliti sejarah pengetahuan. Selain itu, bersama Louis Althusser yang mendapat ilham dari konsep Bachelard tentang “diskontinuitas” – yang kemudian diterjemahkannya sebagai “keterlepasan epistemologis” – satu generasi filsuf aliran Marxis terdorong untuk memikirkan ulang segala pengertian tentang waktu, subjektivitas, dan ilmu.

Gaston Bachelard lahir pada tahun 1884, di daerah pedesaan Prancis, tepatnya di Bar-sur-Aube, dan meningngal di Paris pada tahun 1962. Setelah bekerja di Jawatan Pos (1903-1913), ia menjadi seorang guru besar fisika di College de Bar-sur-Aube dari tahun 1919 sampai tahun 1930. Dalam umur 35 tahun, ia berkesempatan untuk belajar lebih lanjut – kali ini dalam bidang filsafat, dan agregation diperolehnya pada tahun 1922. Kemudian, pada tahun 1928 ia menerbitkan tesis doktoralnya yang dipertahankan pada tahun 1927, berjudul Essai sur la connaisance approchee (Esai Tentang Pengetahuan Pendekatan) dan tesis pelengkapnya yang berjudul Etude sur I’evolution d’un probleme physique, La propagation thermique dans le solides (Telaah Evolusi Suatu Masalah dalam Fisika: Hantaran Panas dalam Benda Padat). Berkat karyanya ini, pada tahun 1940 Bachelard diminta menduduki jabatan yang bertugas menangani masalah sejarah dan filsafat ilmu di Sorbonne, jabatan yang dipegangnya sampai tahun 1954.

Tiga unsur pokok pemikiran Bachelard membuatnya menjadi seorang filsuf dan pemikir yang unik serta membuat karya-karyanya sangat berpengaruh bagi generasi kaum strukturalis di zaman sesudah perang. Yang pertama berkaitan dengan pentingnya kedudukan epistemologi di dalam ilmu. Dalam kaitan ini, jika para ilmuwan kurang memiliki pemahaman yang mendalam tentang bidang tugas mereka, maka penerapan karya mereka akan benar-benar terhambat. Epistemologi adalah wilayah kajian yang meninjau pentingnya segala praktek ilmiah. Seperti yang dituliskan Bachelard di dalam The Philosophy of No!, “Ruang yang diamati seseorang, yang diperiksa oleh seseorang, secara filosofis sangat berbeda dengan ruang yang dilihatnya.”[1] Ini karena ruang yang dilihat seseorang selalu merupakan ruang yang direpresentasikan, bukan ruang yang nyata. Hanya dengan upaya kembali ke filsafat, hal ini bisa dipikirkan. Memang, Bachelard terus berusaha mengusulkan suatu “telaah sistematis tentang representasi, bentuk pengantaran yang paling alamiah dalam menentukan hubungan antara noumenon dan fenomenon” .[2] Berkaitan erat dengan interaksi antara realitas dengan representasinya, Bachelard tak pernah lelah mendukung hubungan dialektis antara rasionalisme dengan realisme – atau empirisisme (sebagaimana biasa disebut). Oleh sebab itu, dalam bukunya yang paling berpengaruh, The New Scientific Spirit, “penyair” epistemologi tulen ini berpendapat tentang adanya dua landasan  metafisis mendasar, yaitu rasionalisme dan realisme. Rasionalisme – yang di dalamnya tercakup filsafat dan teori – adalah wilayah interprestasi dan penalaran; di pihak lain, realisme memberikan bahan-bahan bagi rasionalisme untuk melakukan interprestasinya. Jika dalam upaya menangkap fakta-fakta baru kita tetap berada di tingkatan yang naif dan intuitif – tingkatan eksperimental – itu berarti menjerumuskan pemahaman ilmiah ke dalam stagnasi, karena kenaifan dan instuisi itu tidak bisa menyadari apa yang dilakukannya. Demikian juga, bila kita membesar-besarkan pentingnya aspek rasionalitas – bahkan mungkin pada akhirnya mengklaim bahwa ilmu itu tidak lebih daripada sekadar ilmu itu tidak lebih daripada sekadar perenungan tentang sistem filosofis yang mendasarinya – maka muncullah idealisme yang mandul. Oleh sebab itu, bagi Bachelard bersikap ilmiah tidak berarti mengistimewakan rasionalitas atau realitas, melainkan mengenali adanya kaitan tak terputuskan antara mereka. Di dalam ungkapannya yang terkenal berikut ini, Bachelard menangkap satu hal yang penting: “Eksperimen harus memberi kesempatan untuk munculnya argumen, dan argumen harus dikembalikan ke eksperimen.”[3] Semua tulisan Bachelard tentang sifat-sifat ilmu didorong oleh prinsip ini. Terdidik sebagai ilmuwan dan filsuf, semua tulisan Bachelard memang memperlihatkan kedua posisi itu. Seperti yang bisa diharapkan, buku seperti Le Rationalisme applique (Rasionalisme terapan), ditujukan untuk menunjukkan landasan teoretis pada berbagai eksperimentasi berbeda. Oleh sebab itu, rasionalisme yang mendalam selalu merupakan rasionalisme terapan yang dipelajari dari realitas. Walaupun begitu, ini belum semuanya, karena Bachelard juga sependapat bahwa kaum empiris bisa mempelajari realitas dari kaum teoretisi bila – seperti halnya Einstein – suatu teori dikembangkan sebelum eksperimen yang berkaitan denganya dilakukan. Di sini, teori memerlukan keterkaitan eksperimental untuk bisa mendapatkan keabsahannya. Dengan penekanannya terhadap epistemologi, Bachelard menyatukan filsafat dengan ilmu secara sangat baru. Di sinilah manusia dan ilmu-ilmu alam menemukan titik temu dan pengantarannya, yakni dalam diri seorang lelaki yang akhinya berhasil menuliskan ‘puisi’ tentang ilmu.

Aspek pokok kedua, dalam karya Bachelard yang sangat berpengaruh pada strukkkturalisme adalah penteorian (theorisation) yang dilakukannya pada sejarah ilmu. Pada pokoknya, Bachelard mengusulkan suatu penjelasan non-evolusioner tentang perkembangan ilmu, di mana perkembangan yang terjadi sebelumnya tidak selalu menjelaskan keadaan ilmu di masa kini. Sebagai contoh, menurut Bachelard kita tidak mungkin bisa memberikan penjelasan tentang teori realtivitas Einstein sebagai pengembangan dari teori fisika Newton. Menurut Bachelard, doktrin-doktrin baru tidak berkembang dari yang lama, tetapi “yang baru merangkum yang lama”. Kemudian diteruskannya: “Generasi kaum intelektual tercakup satu di dalam yang lain. Saat kita berpindah dari fisika non-Newtonian ke fisika Newtonian, kita tidak menemukan kontradiksi, akan tetapi kita mengalami kontradiksi.”[4] Berdasarkan hal ini, konsep yang menghubungkan satu penemuan yang akan datang dengan penemuan-penemuan sebelumnya bukanlah suatu kontinuitas, melainkan suatu diskontinuitas antara geometri non-Euclidean dengan geometri Euclidean, dan teori tentang kedudukan, ruang, dan waktu yang dikemukakan oleh Heisenberg dan Einstein. Di sini juga Bachelard menunjukkan bahwa di masa lalu, massa didefinisikan dalam kaitannya dengan sejumlah kuantitas materi, sehingga semakin besar massanya semakin besar pula gaya yang diperlukan untuk mendorongnya: kecepatan dianggap sebagai fungsi dari massa. Melalui Einstein kita sekarang tahu bahwa massa adalah fungsi dari kecepatan, bukan sebaliknya. Hal penting yang mau dikemukakan di sini bukanlah bahwa teori-teori yang dibangun di masa lalu itu tidak lengkap dan perlu ditentang, melainkan bahwa teori-teori baru cenderung mentransendensikan sepenuhnya – atau memiliki diskontinuitas dengan – teori-teori dan penjelasan tentang gejala-gejala yang sebelumnya sudah ada. Seperti yang dijelaskan Bachelard:

Jelas bahwa ada beberapa jenis pengetahuan yang tidak pernah berubah. Maka, ada orang yang berpikir bahwa kestabilan isi berasal dari kestabilan wadahnya, atau dengan kata lain, bahwa bentuk-bentuk rasionalitas bersifat permanen dan tidak ada bentuk baru pemikiran rasional yang mungkin. Akan tetapi, struktur tidak datang dari akumulasi saja, setumpuk pengetahuan yang tidak pernah berubah tidak memiliki kepentingan fungsional sebesar yang kadang-kadang kita perkirakan.[5]

Bachelard berpendapat bahwa sebenarnya perubahan makna suatu konsep atau ciri suatu bidang penelitianlah – kadang-kadang berlangsung secara radikal – yang mencirikan bentuk upaya-upaya ilmiah dengan sangat baik. Oleh sebab itu, yang baru di dalam ilmu selalu bersifat revolusioner.

Sebagai tambahan terhadap konsepsi Bachelard tentang perkembangan ilmiah, perlu diketahui bahwa semua pikiran ilmiah pada dasarnya merupakan suatu proses objektifikasi – hal yang diyakini sepenuhnya oleh Pierre Bourdieu (seorang bekas murid Bachelard). Selain itu, dalam membahas pemikiran ilmiah dari zaman modern, Bachelard menunjukkan bahwa pada dasarnya ia bertujuan untuk melihat segala fenomena secara relasional, dan tidak secara subtantif, atau sebagai yang memiliki kualitas mendasar. Pengamatan ini jelas menunjukkan satu ciri yang ada di dalam pemikiran strukturalis kontemporer. Oleh sebab itu, Bachelard mengakui bahwa “objek yang ada dalam sistem Hilbert sepenuhnya bersifat relasional dan sedikit pun tidak bersifat substansial.”[6]

Ketika ia mengemukakan bahwa “upaya asimilasi terhadap hal yang tak rasional melalui penalaran tidak pernah gagal membangkitkan reorganisasi timbal balik dalam wilayah rasionalitas”[7], pada intinya Bachelard mau menegaskan ciri dialektis dari pendekatannya – yang dalam konteks dan tujuan yang berbeda dicuatkan kembali oleh Julia Kristeva dengan konsepnya tentang “semiotik” dan “simbolik”. Pemikiran selalu “berada dalam proses objektifikasi”;[8] ia tidak pernah lengkap dan pasti – tidak pernah tertutup dalam dirinya sendiri, seperti yang sering dipikirkan oleh para ilmuwan.

Dikaitkan dengan konsep pemikiran seperti itu, tampaklah sikap Bachelard yang anti Cartesian. Jika Descartes berpendapat bahwa untuk mencapai kemajuan, pemikiran harus beranjak dari gagasan yang jelas dan sederhana, maka Bachelard justru berpendapat sebaliknya. Gagasan yang sederhana itu tidak ada, kata Bachelard yang ada hanya kerumitan, dan ini terbukti khususnya saat gagasan itu diterapkan. Penerapan adalah perumitan begitu kata Bachelard. Selain itu, bila teori terbaik tampaknya menjadi teori yang bisa menjelaskan realitas dengan cara yang paling sederhana. Bachelard berpendapat bahwa realitas itu tidak pernah sederhana, dan di dalam sejarah ilmu, upaya untuk mencapai kesederhanaan (misalnya struktur atom hidrogen) segera menunjukkan adanya penyederhanaan yang terlalu besar saat kerumitan realitas itu akhirnya diakui. Sebagai suatu pengertian yang datang dari Descartes, kesederhanaan tidak bisa dengan begitu saja mengurai fakta karena setiap gejala adalah jalinan dari keterkaitan, bukan hanya subtansi saja. Dengan demikian, segala gejala hanya bisa dicerna melalui sebentuk sintesis yang senada dengan yang disebutkan oleh Bachelard pada tahun 1936 sebagai surrasionalisme.[9] Surrasionalisme merupakan suatu pengayaan dan revitalisasi rasionalisme dengan merujuk pada dunia material, seperti halnya surealisme yang bertujuan melakukan revitalisasi realisme dari arah yang lain, yakni melalui mimpi.

Dimensi lain dari pemikiran Bachelard yang cukup berpengaruh adalah karyanya yang mengalisis bentuk-bentuk imajinasi, khususnya imaji-imaji yang terkait dengan tema materi, gerakan, gaya, dan impian, seperti juga yang berhubungan seperti api, air, udara, dan tanah. Dalam karyanya seperti La Terre et les reveries de la volonte (Bumi dan Khayalan Kehendak) Bachelard beberapa kali merujuk ke puisi dan sastra dari tradisi kultural Barat yang digunakan untuk menggambarkan karya imajinasi. Karya imajinasi harus dibedakan dengan pencerapan atau persepsi tentang dunia luar yang diterjemahkan kedalam imaji atau citra. Seperti yang sudah dikatakan Bachelard, karya imajinasi itu lebih mendasar daripada pencerapan imaji; oleh sebab itu, hal ini merupakan suatu masalah pengakuan terhadap “karakter imajinasi kreatif yang mendasar secara psikis”.[10] Di sini imajinasi bukanlah bayangan sederhana dari imajinasi eksternal, melainkan kegiatan  yang dipengaruhi oleh atau tunduk pada kehendak  individu. Bachelard lalu mulai  mengamati hasil-hasil kehendak kreatif ini – produk-produk yang tidak bisa diramalkan berdasarkan pengetahuan tentang realitas. Oleh sebab itu, dalam pengertian tertentu, ilmu tidak bisa meramalkan arah suatu imajinasi karena imajinasi  ini memiliki bentuk otonomi tertentu. Tunduk pada kehendak berarti bahwa imajinasi ini – sebagaimana halnya pada beberapa orang surealis – berkaitan dengan khayalan setengah sadar (reverie), bukannya dengan proses-proses tak sadar (kondensasi, perpindahan, dan sebagainya) yang ada dalam mimpi. Dengan demikian, bersama dengan minatnya terhadap arketipe, faktor inilah yang membuat Bachelard jauh lebih dekat dengan Jung daripada dengan Freud. Yang juga mengingatkan kita akan Jung adalah penekanan yang diberikan Bachelard, dalam analisisnya tentang imajinasi, atas empat unsur primer yaitu api, air, udara, dan tanah, yang terus ada selamanya di dalam suatu alkimia puitis. Di sini tampaklah adanya suatu unsur mistis (bdk. karya Jung, Psychology and Alchemy). Lebih jauh lagi, keteguhan sikap Bachelard pada keunggulan hubungan subjek-objek yang bersifat asli yang, walaupun tidak selalu dengan sukarela, diambilnya dari fenomenologi, menunjukkan bahwa jikalaupun imajinasi menghasilkan citra atau imaji (paling sering berupa sublimasi arketipe), karya kreativitas sendiri tidak dilihat sebagai yang menghasilkan hubungan subjek-objek. Oleh karena itu, yang menjadi subjek di sini adalah Yang Mulia ego, seperti yang juga sudah dikatakan Freud; karena adanya anggapan tentang otonomi yang mencoba bersikap mutlak. Suatu unsur penutupan tampaknya tidak ada didalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan dengan demikian unsur tersebut mulai memasuki karya-karya Bachelard tentang imajinasi.

Imajinasi adalah medan dari citri (imaji), dan hal ini harus dibedakan dengan penerjemahan dunia eksternal kedalam konsep. Imajinasi menghasilkan imaji dan menjadi imajinya, sedangkan pikiran melahirkan konsep. Tanpa suatu surealisme yang muncul untuk membangkitkan imaji ini, dunia imaji akan layu dan mati, sehingga gilirannya ia akan tertutup bagi dirinya sendiri. Sama juga, jika tidak ada suatu surrasionalisme tertentu, pemikiran dan konsep-konsepnya juga akan layu – akibat kelengkapan dan kesederhanaannya sendiri. Sebenarnya, “keterbukaan” dan “kompleksitas” merangkum sikap Bachelard. Dalam menjelaskan unsur-unsurnya – sedikit bergaya Jungian – konsep menjadi berciri maskulin, sedangkan imaji atau citra menjadi berciri feminin. Demikian juga, konsep setara dengan citra siang hari (karena setara dengan ‘melihat’), sedangkan citra (imaji) setara dengan bayangan malam hari. Dominique Lecourt, dalam sebuah buku kecilnya yang dengan begitu tajam mengulas Bachelard, memberikan komentar yang sangat tepat terhadap gambaran pemikiran sang pemikir tersebut. “Singkatnya, dalam mengungkapkan kembali pemikiran Bachelard, perbedaan antara buku-buku ilmiahnya dan buku-bukunya tentang imajinasi itu tampak seperti halnya perbedaan antara Siang dengan Malam”.[11] Pada umumnya Bachelard tidak terlalu yakin tentang apakah kedua unsur itu bisa muncul bersama-sama, yaitu apakah imaji bisa muncul di dalam ilmu, dan ilmu di dalam lingkungan imaji. Meskipun demikian, tulisan-tulisan Bachelard akhirnya bisa dilihat sebagai sumber inspirasi bagi orang-orang yang ingin meruntuhkan batas antara konsep dan imaji, sehingga imaji-imaji baru bisa menjadi landasan dari konsep-konsep ilmiah yang baru, sedangkan konsep baru bisa merangsang lahirnya imaji-imaji yang baru.

Secara khusus, karya Bachelard menunjukkan bahwa baik konsep maupun imaji atau citra itu tidak transparan, dan ketidaktransparan ini menunjukkan bahwa unsur subjektivitas selalu bermain dalam semua kegiatan manusia. Ini berarti bahwa manusia diperbincangkan selama mereka berbicara dalam kerangka ilmu serta sistem simbolik yang mencirikan kehidupan mereka. Seperti yang juga dikatakan Lecourt: “tidak ada yang bisa membaca wacana yang divergen ini tanpa merasakan adanya kesatuan yang harus dicari di bawah kontradiksi yang ada”.[12] “Kesatuan”? Atau “sintesis”? Jawabannya bukan tidak penting. Hal ini karena jika kesatuan berkonotasi homogenitas dan berisiko menjadi suatu kesatuan yang sederhana, maka menurut Bachelard sintesis ini berhubungan dengan keterkaitan. Yang terakhir ini bisa muncul di antara unsur-unsur yang berbeda (asal perbedaannya tidak terlalu radikal), dan mengandaikan adanya sedikit perbedaan. Di sisi lain, kesatuan cenderung menghapuskan segala hubungan. Akhirnya, oeuvre Bachelard cenderung menampilkan pengertian tentang sintesis yang telah dikemukakan di dalam tulisan-tulisan awalnya. Meskipun demikian, karena sebab-sebab tertentu, sintesis tersebut tidak bisa dilihatnya; suatu kebutuhan yang niscaya karena posisi yang diambilnya saat ia menulis (dalam kerangka eksistensial). Dalam hal ini, Malam bisa dilihat berlangsung sebelum datangnya Siang dalam oeuvre yang sangat istimewa ini. (John Lechte, dalam 50 Filsuf Kontemporer, Kanisius Yogyakarta)

[1] Gaston Bachelard, The Philosophy of No: A Philosophy of the New Scientific Mind, terjemahan oleh G.C. Waterston, New York, Orion Press, 1968, hlm. 63.

[2] Ibid., hlm. 64

[3] Gaston Bachelard, The New Scientific Spirit, terjemahan oleh Arthur Goldhammer, Boston, Beacon press 1985, hlm. 4; penekanan dari Bachelard.

[4] Ibid., hlm. 60.

[5] Ibid., hlm. 54.

[6] Ibid., hlm. 30-31.

[7] Ibid., hlm. 137.

[8] Ibid., hlm. 176. Penekanan ditambahkan kemudian.

[9] Gaston Bachelard. ‘Le Surrationalisme’ Inquisitions, I (1936).

[10] Gaston Bachekard, La Terre et les reveries de la volonte: essai sur I’imagination des forces, Paris, Corti, 1948, hlm. 3.

[11] Dominique Lecourt, Bachelard ou le jour et laruit (un essai de mat’erialisme dialectique), Paris, Maspero, 1974, hlm. 32.

[12] Ibid. Penekanan dari Lecourt.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT