Connect with us
Steppenwolf Steppenwolf

Buku

Steppenwolf; Anak Kandung Renaisance Yang Dilahirkan Dengan Dilema

mm

Published

on

Oleh: Sabiq Carebesth*

…ia adalah Serigala padang rumput, maka walau ia liar, ia tidak buas, bahkan penyendiri dan sangat pemalu; tinggal di sebuah loteng, ditemani dua koper dan sebuah lemari besar penuh buku.Yang pasti cerita tentang Steppenwolf menggambarkan sebuah penyakit dan krisis—tetapi tidak satu pun yang mengarah pada kematian dan kehancuran, justeru sebaliknya: pada penyembuhan. Ia diciptakan sebagaimana banyak diucapkan orang tentang Nietzsche, si genius positif yang bebas dengan kampuan menahan luka yang menakutkan sebagaimana setiap perenung dunia modern ini—
Apakah orang yang mengatakan “Ya” pada apa pun yang ia alami dari hidup akan dengan pasti juga dapat menanggung penderitaan? Atau bahkan menghindarinya dengan cara dari suatu kemampuan untuk tidak merasai penderitaan? Apakah kesendirian, kesepian, keheningan, adalah jalan sunyi yang pasti ditempuhi para pencari? Apa penderitaan, sebagaimana ajaran Sidharta itu memang sumbernya dari keinginan-keinginan dan hanya dengan meredam keinginan (hidup tanpa keinginan: apateia) lantas hidup menjadi begitu terasa damai?

Dilema dari modernitas (barat-eropa) sudah lama menjadi topik pembahasan, bahkan kalau boleh meminjam istilah resmi renaissance—menjadi grand narasi dalam perbincangan berbasis dilema nalar, kritik, dan kemanusiaan. Hidup rupanya tak cukup pada persoalan akal budi dan makan saja, walau kedua hal itu adalah kehidupan yang nyata, namun bukan tanpa mengandung kritikan. Filsafat Eksistensialisme misalnya, sejak kemunculannya, lahir dari dalam kelas-kelas dan diluar kelas untuk mengkritik dan berupaya menjadi anti tesis dari dominasi perang dingin idealisme Hegelian dengan Materialisme Historis Marxian.

Sebagai kritik, eksistensialisme mengkritik kedua dominasi anak kandung Renaissance itu dengan mempertanyakan di mana tempatnya kenangan, cinta kasih dan romansa kemanusiaan? Apa hidup harus kaku dalam mekanisme absolut seperti (rasa) hidup itu bisa di sainstifiskan? Seperti matematika atau fisika? Bagaimana dengan luka hati ribuan manusia yang kehilangan, yang memoarnya menjadi sedemikian memar oleh sebab perang dunia yang dilahirkan dari majunya alat produksi? Orang-orang yang menjadi kelaparan dan tidak kebagian tempat dalam strata pembagian kerja zaman modern yang melahirkan mesin-mesin untuk menggeser fungsi alamiah kerja manusia? Hidup pun menjadi absurd, bahkan tak jarang nihil.

Nihilisme Nietzsche kemudian lahir sebagai salah satu suatu metoda dan mekanisme bagaimana menjalani hidup yang maha individual, di mana Tuhan (ketuhanan), telah dibunuh dengan cara yang keji oleh nilai-nilai absolut modernitas. Kumandang ateisme Nietzche lahir sebagai sebuah kritik nalar kosmologis ketimbang teologis. Kematian Tuhan lebih merupakan metafora dan penerimaan akan hidup yang dianggapnya sudah kadung absolut oleh nalar akal budi, dan oleh kemanusian absolut di mana segala realitas kebenaran harus di ukur berdasar nilai kemanusian (yang dikonstruksi oleh kelas borjuasi), tepatnya manusia-manusia kaya dan pemilik kartel dagang kelas besar yang bisa melahirkan nilai-nilai dalam sebauh strukutur hegemoni idiologis dalam beragam cara dan bentuk. Alih-alih menjadi terasing dan bertuhan kepada tuhan yang diimajinkan nalar sebagai sebuah bentuk keterasingan, sebentuk metafora alegoris dari hidup yang sudah maha menderita, Nietszche mengajukan tawaran untuk pertama-tama meniadakan semua nilai lama, mengkritiknya, mempertanyakannya dan kemudian menyusun kembali semua nilai-nilai, dan itu tanpa tuhan atau ribuan tuhan dalam imajinasi setiap kepala manusia. Maka kita lalu hendak memaknai Ateisme Nietzsche lebih merupakan kritik kosmologis ketimbang ateisme teologis yang bermaksud tidak mengakui eksistensi Tuhan yang maha monoteis itu.

Dilema modernitas tidak hanya menawarkan kritisisme bahkan hujatan dilematis dari anak kandung Renaissance Eropa sendiri seperti Sabda Zarathustra. Namun melampaui dunia batas Barat, jauh di timur dalam keacakan ruang dan waktu, drama penuh dilema dari kegelisahan batin zaman modern pun di susun mengambil, atau dalam beberapa hal memadukan nilai dan nalar bersahaja dari timur seperti yang dilakukan Herman Hesse atas ajaran Budha Sidharta.

Drama ruang batin dan super religiositas ditengah makin hampanya peradaban yang dilahirkan oleh modernitas eropa sejak Renaissance itu lah yang ingin dijelajahi Hesse dalam novelnya: Steppenwolf, yang oleh beberapa penikamat karya Hesse disebut-sebut sebagai novel biografisnya. Kritik dan dilemma modernitas dalam novel Hesse ini kentara misalnya dalam pernyataan si tokoh Steppenwolf: ”Hal yang selalu kubenci dan kukutuk adalah kebahagiaan, kesehatan dan kenyamanan, hal yang mempertahankan keoptimisan kaum kelas menengah, pemikiran memabukkan yang dipelihara.” (hlm. 38)

Steppenwolf, begitu si tokoh Aku menyebut dirinya—adalah Serigala padang rumput. Sebagai pribadi yang mengindentifikasi sebagai Serigala, ia liar. Tapi ia adalah Serigala padang rumput, maka walau ia liar, ia tidak buas, bahkan penyendiri dan sangat pemalu; tinggal di sebuah loteng, ditemani dua koper dan sebuah lemari besar penuh buku.

Stepenwolf adalah novel yang ditulis Herman Hesse pada tahun 1927, bercerita tentang seorang pria yang tercabik-cabik di antara instink kebinatanganya dan kehormatan borjuisnya. Dua pribadi dalam penokohan Steppenwolf yang dilakkan Hesse menunjukan tidak hanya dua karakter (psikologis) dalam diri sebuah tokoh yang dibangunnya, melampaui hal itu, dua karakter dalam diri Steppenwolf adalah dua dilemma, dua tragedy yang membawa bobot dunia barat yang borjuis, modernis, dan satu lagi adalah dunia Timur di mana Hesse melalui Steppenwolf berlaku sebagai manusia yang terjebak dalam dilemma modernitas borjuis barat dan melarikan diri ke Timur untuk mencari ketenangan batin, menemukan hidup dan kemanusiaan yang lebih manusiawi sebagaimana Hesse, dalam kehidupan nyatanya, beberapa kali mengunjungi India pada 1922 dan pada tahun itu juga ia menerbitakan novelnya tentang Buddha denagn judul Siddharta.
Fakta sosiologis dari kehidupan pribadi Hesse sendiri dengan mudah menunjukan bagaimana Novel Steppenwolf ini adalah gabungan dua kehidupan, karakter dan peradaban barat dan timur; dunia barat yang menggugat adalah sosok Nietszsche dengan nihilismenya atas nilai-nilai moral yang dilahirkan oleh modernisme eropa (Renaisance), dan Timur adalah ketenangan batin dan pencarian spiritual dalam prbadi Siddhartha.

Maka jadilah Steppenwolf, yang mestinya seperti serigala: bersifat bebas, liar, tidak terkendali, berbahaya dan kuat, akan membuat semua yang megiranya sebagai serigala kecewa karena pada sisi yang lain Steppenwolf adalah serigala padang rumput. “orang-orang merasa kecewa dan tidak suka ketika tiba-tiba serigala liar dan licik ini juga memiliki sisi manusia, dan memiliki minat pada hal-hal baik dan halus, dan ingin mendengarkan Mozart, membaca puisi dan menghargai impian-impian menusia.” (hlm: 61)

Harry Haller—sang Steppenwolf, selalu terlibat pertempuran antara naluri purba Serigala melawan manusia rasional yang hidup di tengah-tengah masayrakat borjuis sampai akhirnya kehidupannya berubah ketika ia berjumpa dengan si lembut hati yang nyaris tidak tersentuh, Hermine.

Apa yang terjadi selanjutnya? Yang pasti cerita tentang Steppenwolf menggambarkan sebuah penyakit dan krisis—tetapi tidak satu pun yang mengarah pada kematian dan kehancuran, justeru sebaliknya: pada penyembuhan. Ia diciptakan sebagaimana banyak diucapkan orang tentang Nietzsche, si genius positif yang bebas dengan kampuan menahan luka yang menakutkan sebagaimana setiap perenung dunia modern ini. (*)

*Sabiq Carebesth, editor Galeri Buku Jakarta (GBJ)

Continue Reading

Buku

Optimisme dari Chomsky

mm

Published

on

Siapa yang tak kenal dengan Noam Chomsky? Seorang intelektual yang dianggap “nyeleneh” karena selalu berbeda pandangan dalam tatanan keilmuan dan masyarakat Amerika Serikat. Banyak buku yang ia tulis justru untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan Amerika baik dalam maupun luar negeri. Namun, sebenarnya yang ia kritik bukan Amerika, melainkan sistem kapitalisme yang dianut oleh Amerika.

Hampir sama dengan buku-buku yang ia tulis, buku Optimism Over Despair merupakan kekesalan atau lebih tepatnya kemarahan Chomsky terhadap Amerika dan kapitalisme. Buku ini merupakan hasil sebuah wawancara Noam Chomsky dengan C. J. Polychroniou dalam kurun waktu 2014—2016. Meski secara garis besar buku ini sama dengan buku Chomsky lainnya, tapi Chomsky coba menguraikan situasi sosial, ekonomi, dan politik  abad ke-21 dan dampak yang ditimbulkan hingga bagaiamana kita harus menyikapi dampak tersebut.

Menurut Marx, kapitalisme merupakan sebuah hubungan masyarakat yang dibangun atas hubungan-hubungan produksi  dan menghadirkan ketimpangan kelas serta alienasi. Pada perkembangan awal kapitalisme, kapitalisme didasari oleh pemilikan modal yang diwujudkan dalam pabrik dan negara bagian dari kelas tersebut.

Sedangkan, kapitalisme pada abad ke-21 menurut Chomsky jauh lebih buruk. Kenapa dapat dikatakan lebih buruk? Sebab, kapitalisme abad ke-21 sudah menutup akses atau alat bagi masayarakat bawah untuk melakukan mobilitas sosial (hlm.154).

Jika konteks dalam negara, maka negara maju sudah menutup kesempatan bagi negara miskin untuk melakukan perbaikan kehidupan ekonomi. Dengan kata lain, kapitalisme sudah menjadi sebuah kekaisaran besar dengan Amerika sebagai rajanya. Kenapa demikian? Karena Amerika masih menguasai perekonomian dan politik dunia, meski pasca-perang dingin Amerika secara perlahan sudah tidak lagi digdaya.

Dengan dana besar yang dimiliki, Amerika dengan sangat mudah untuk mengintervensi suatu negara dengan memaksakan sistem “plutokrasi”. Plutokrasi dibahasakan oleh Chomsky karena sangat jauh dari cita-cita demokrasi. Jika demokrasi bertujuan untuk memakmurkan rakyat dengan menjamin hak asasi, maka plutokrasi sebaliknya.

Judul Buku : Optimism Over Despair on Capitalism, Empire, and Social Change Penulis : Noam Chomsky dan C. J. Polychroniou Penerbit : Haymarket Books Tahun Terbit : Agustus 2017 Tebal : 210 halaman

Plutokrasi hanya akan memamurkan dan menjamin hak asasi untuk penguasa, sedangkan masyarakat akan terus dieksploitasi melalui serangkaian aturan yang dibuat oleh negara (hlm.155). Dengan kata lain, sosialisme untuk si kaya dan kapitalisme untuk si miskin.

Lalu bagaimana dengan kesenjangan yang dibuat oleh kapitalisme? Chomsky setidaknya menyebut dua masalah besar yakni meningkatnya kekuatan fundamentalisme dan rusaknya lingkungan.

Munculnya fundamentalisme dalam berpolitik dapat tercermin dari terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika. Chomsky menganalisis kemenangan Trump sebagai sebuah bentuk kekecewaan dan frustrasinya rakyat Amerika karena demokrasi dan kemakmuran tidak terjadi di masyarakat.

Poin lainnya, Trump berhasil memainkan sentimen agama untuk menaikan popularitasnya. Sejatinya, “agama” yang dibawa Trump saat pemilu dan memimpin adalah sebuah propaganda untuk membuat garis diametral antara kami dan mereka, malaikat dan setan (hlm.50).

Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam buku How Democracies Die (2018) menyatakan, majunya Trump sebagai calon presiden Partai Republik karena aturan untuk menyeleksi seorang calon presiden sudah memudar yakni dalam poin tidak menyerang secara personal kompetitor dan tidak merendahkan pemilih kompetitor.

Hal ini dilakukan partai Republik dan Trump karena kepentingan bisnisnya terhambat. Disitat dari Cherian George dalam buku Hate Spin (2016) Trump dapat memenangkan emosi warga Amerika yang membuat seolah-oleh ketidakmakmuran warga Amerika adalah korban dari kebijakan yang pro-imigran. Padahal, menurut Chomsky, hadirnya pengungsi di negara-negara maju merupakan sebuah keharusan, sebab negara mereka dibombardir oleh Amerika dan sekutunya.

Selain itu, Trump juga berhasil meyakinkan warga amerika yang mayoritas Kristen sebagai korban dari adanya pengungsi yang beragama Islam yang dinilai akan dapat merebut Amerika. Oleh sebab itu, Trump membuat slogan Make America Great Again. Cara kemenangan Trump ini juga menginspirasi negara-negara lainnya di Eropa dan Asia.

Lalu bagaimana dengan kerusakan lingkungan? Chomsky berpendapat bahwa ini terjadi secara nyata, bukan hanya sebuah iklan terselubung dari produk tertentu agar warga menggunakan atau membeli produknya. Keluarnya Amerika dari Kesepakatan Paris merupakan sebuah kekonyolan terbesar. Kesepakatan yang dibuat pada 2015 lalu, Amerika dan 187 negara lainnya mesti menjaga kenaikan temperature global di bawah 2 derajat Celscius

Terlebih, alasan yang dikeluarkan Trump hanya untuk penghematan anggaran. Demi menjaga kesepakatan itu, Amerika sedikitnya mesti mengeluarkan uang 3 triliun USD. Padahal Amerika merupakan negara dengan penghasil karbon terbesar di dunia. Selain itu, banyak perusahaan Amerika di berbagai negara melakukan penebangan hutan dan membuat kerusakan alam lainnya yang mengancam kelangsungan hidup umat manusia.

Dengan segala kekacauan tersebut, apa yang harus dilakukan?

Tentu saja kita tak memiliki banyak pilihan. Menyitat Gramsci, Chomsky berpendapat akan selalu ada ruang untuk “optimisme kehendak” (hlm.133). Akan tetapi, layaknya seorang filsuf, Chomsky tidak menjabarkan secara rinci bagaimana kita mesti menghadapi kekacauan itu dan mengubahnya menjadi sebuah kebaikan.

Secara tersirat Chomsky masih memercayai adanya kekuatan rakyat. Kekuatan rakyat itu dapat mendesar pemerintah dan membawa perubahan. Akan tetapi, dalam konteks abad ke-21, kekuatan rakyat bukan berarti harus mengadakan sebuah revolusi besar seperti yang terjadi di abad ke-20.

Kekuatan rakyat terjewantahkan dalam sebuah kelompok komunitas. Dengan konsentrasi di bidangnya masing-masing, mereka mesti berjejaring satu sama lain dan dapat melebur sebagai kekuatan baru tanpa sekat negara layaknya kapitalisme saat ini. Sebab, kata Chomsky, kita masih kekurangan asosiasi dan organisasi yang memungkinkan public untuk berpartisipasi dalam  hal yang berarti seperti diskursus politik, social, dan ekonomi (hlm165).

Kita hanya memiliki dua pilihan. Kita bisa pesimis, menyerah, dan membantu keberlangsungan yang terburuk akan terjadi atau kita bisa optimis, menangkap kesempatan yang masih ada, dan mungkin dapat membuat dunia menjadi lebih baik. (*)

*) Virdika Rizky Utama: Periset di Narasi.TV

Continue Reading

Buku

Beberapa catatan bekal membaca drama Menunggu Godot

mm

Published

on

En Attendant Godot adalah karangan penulis Prancis kelahiran Irlandia, Samuel Beckett. Ia berbahasa Prancis laiknya menggunakan bahasa ibu meski ia lahir dan berbahasa pertama Irlandia. Naskah En Attendant Godot diterjemahkan ke dalam bahasa inggris oleh Beckett sendiri dengan judul Waiting for Godot, dan terbit pertama kali di Amerika pada 1954 atau setahun setelah pertama kali dipentaskan dalam bahasa Prancis di Paris 1953.

Dramawan W.S Rendra adalah teatrawan indonesia pertama mengerjakan pementasan dari versi bahasa inggris setelah sebelumnya coba disadur dalam bahasa Indonesia oleh Dosen Fakultas Sastra UGM, Bakdi Sumanto.

Di Indonesia, lakon Godot umum dikenal dengan drama “Menunggu Godot”, dipentaskan pertama kali pada 1969 di Teater Besar TIM oleh Bengkel teater pimpinan W.S. Rendra. Tepat pada saat pengarangnya—Samuel Beckett menerima hadiah nobel berkat Waiting for Godot.

Pada pementasan pertamanya di Paris (1953), dan di Miami, Amerika (1955) lakon Godot mendapat kritikan pedas dari pada pengamat. Akan tetapi ada cerita lain pada tahun-tahun tersebut.

Pada musim semi 1954 Beckett menerima surat dari direktur penjara di Luttringhausen, Jerman, yang meminta ijinnya agar agar lakon Menunggu Godot boleh diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman untuk di pentas di penjara itu. Dan Beckett menyetujuinya. Pada 1957 drama Godot kembali dipentaskan di dalam penjara, yaitu di penjara San Quentin di San Fransisco. Dalam dua pementasan di Penjara tersebut, para napi menunjukkan mereka tidak memahami drama itu secara kognitif, tapi pengalaman yang mereka alami di dalam penjara membuktikan bisa menjadi medium komunikasi untuk bisa menikmati karya tersebut. Bahwa mereka terpenjara dalam penantian, dan menunggu sang kebebasan menjemput.

Sementara itu, berikut adalah beberapa fakta intrinsik dari buku Waiting for Godot yang akan bermanfaat bagi pembaca yang belum pernah menikmati karya besar Beckett dan berniat membacanya:

  • Waiting for Godot bersetting di A country road. A tree. Evening. Tokoh utamanya: Vladimir, Estragon, Pozzo, Lucky dan A boy. Alur: Cyclical, dalam arti akhir lakon menyiratkan alur kembali pada awal. Topik dialog dari awal hingga akhir, berpusat pada akan datagnya tokoh bernama Godot, akan tetapi, hingga akhir lakon, Godot tak pernah datang.
  • Dari rujukan tekstual, tampak, bahwa walau pun tokoh Godot menjadi pusat pembicaraan, topik sebenarnya bergeser dari Godot ke situasi menanti itu sendiri. Oleh karena itu yang dominan bukan tema, tapi suasana menunggu.
  • Walau pun dalam lakon disajikan lima tokoh, tetapi sebenarnya yang penting hanyalah Vladimir dan Estrogan. Mereka adalah tokoh utamanya, dilukiskan seperti dua orang gelandangan, compang-camping, terdampar pada suatu tempat yang mirip nowhere. Teks drama tersebut menyebutkan mereka sangat miskin yang ditunjukkan oleh ucapan dalam dialog dua gelandangan itu, bahwa mereka hanya membawa bekal potongan wortel dan lobak. Mereka sangat kelaparan ditunjukkan dengan keinginan Estrogan memakan tulang sapi atau ayam yang dibuang oleh Pozzo, setelah dagingnya dihabiskan.
  • Sepanjang jalan cerita, dari dua tokoh utamanya menunjukkan bahwa mereka sejak awal; mengisyaratkan keputusasaan, bicara dalam dialog yang tidak nyambung, mereka kehilangan orinetasi waktu—intinya bagi Vladimir dan Estrogan, symbol rakyat jelata dan papa, tidak ada persoalan serius yang dibicarakan, apalagi diselesaikan. Sebab masalah pokoknya, hanya menantikan seseorang atau sesuatu yang tidak dapat didefinisikan. Oleh karena itu, dilihat dari jagat konvensi alam pikir filsafat Prancis, lakon godot memberikan isyarat refleksi metafisik, yang mengingatkan orang pada refleksi filosfis Alber Camus, terutama yang tampak dalam esainya Le mythe de Sisyphe (Mite Sisifus) tahun 1943 atau novel Camus yang terkenal L’etranger (1944).
  • Karenanya drama Waiting for Godot digolongkan dalam teater absurd. Di mana orang tidak melihat teater absurd sebagai alat perjuangan, betapa pun ada suasana perlawanan atau “terrorizing” di dalamnya. Sebab konsep dasar tetaer absurd sendiri berambisi menghadirkan kemurnian. Untuk membedakannya dengan misalnya filsafat sebagai senjata atau alat perlawanan terhadap “unidentified dominating power” seperti paham Brecht.
  • Dalam refleksi yang lebih mendasar, drama ini terus relevan, sebab dalam keadan yang serba tidak jelas, pertanyaan dasar drama ini kembali muncul, siapakah Godot yang dinantikan itu? Sebab bahkan ketika bom atom jatuh di Jepang untuk menghentikan PD II, ternyata hal itu tidak mengakhiri ketegangan perang dingin. Bahkan hingga hari ini, di Amerika dan juga di Indonesia, di belahan dunia lain, rakyat seperti Vladimir dan Estrogan masih menantikan Godot. Dan kita hari ini bahkan masih terus bicara satu sama lain dalam dialog yang tidak nyambung…

*) Sabiq Carebesth, Juni 2018. Ditulis dengan malas dan kesal karena kebingungan menyusun orientasi waktu dan ruang paska libur lebaran. Tulisan pendek ini disarikan dari buku “Sementara Menunggu Godot” dan Makalah Bakdi Sumanto bertajuk “Teater dan Bom” (2001).

Continue Reading

Buku

Pahlawan Dibalik Layar

mm

Published

on

Foto: Koleksi foto ANTARA

Oleh: Umar Fauzi Ballah *)

Dalam situasi bernegara dan berbangsa yang diliputi laku korupsi dan kolusi sebagian besar elit politik, bahkan kerawanannya telah menjangkau sakit kebudayaan—membangunkan sosok anutan dari tidur sejarahnya bisa menjadi upaya baik dalam mencarikan jalan ingatan; bahwa bangsa ini dibangun oleh pribadi berintegritas dan orang-orang jujur. Sosok Djohan Sjahroezah, adalah salah satunya.

Usaha Riadi Ngasiran—penulis buku “Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah, Pejuang Kemerdekaan Bawah  Tanah” untuk mengumpulkan renik kehidupan seorang Djohan Sjahroezah dalam buku biografi karyanya patut diapresiasi dengan kegembiraan, terutama karena usaha kerasnya mengingat sosok yang ditulis tidak setenar Bung Karno atau Bung Hatta. Usaha memperkenalkan sosok Djohan Sjahroezah yang dikenal sebagai tokoh pergerakan dan politikus adalah momentum tepat di tengah kondisi korup elite di negara ini.

Nama Djohan memang tidak setenar Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Hatta, Soekarno, maupun Adam Malik, teman seangkatannya, serta mertuanya, H. Agus Salim. Ia juga tidak setenar sosok reaksioner, bung Tomo, walaupun pada saat meletus peristiwa 10 November 1945, bung Djohan juga sedang berada di Surabaya untuk melindungi Tan Malaka (hlm. 147).

Djohan adalah pahlawan dalam kapasitasnya dan perannya sebagai organisator yang disegani di Indonesia, terutama di tanah Jawa. Ia bukan pahlawan yang dikenang namanya dengan mengangkat senjata. Ia juga bukan pahlawan yang disegani karena kelihaian berpidato, tetapi ia adalah satu-satunya tokoh yang paling dipercaya banyak kelompok dalam membangun jaringan-jaringan bawah tanah. Ia mengkader pemuda saat itu di berbagai daerah seperti Batavia, Bandung, Yogyakarta, maupun Surabaya yang pada saat itu ia menjadi buruh di perusahaan minyak Belanda, BPM (Bataafsche Petroleum Maatshappij).

Djohan Sjahroezah adalah tokoh kelahiran Muara Enim, Sumatera Selatan, 26 November 1912. Ia seakan menggenapi tokoh-tokoh lain dari trah Minangkabau yang juga berjibaku di panggung sejarah Indonesia seperti Muhammad Hatta, Muhammad Yamin, Tan Malaka, Hamka, Mohammad Natsir, H. Agus Salim, maupun Sutan Sjahrir, pamannya.

Dengan kelihaiannya membangun jaringan, dia bersama Adam Malik, Soemanang, A.M. Sipahuntar, dan Pandoe Kartawiguna mendirikan Kantor Berita Antara tahun 1937 yang sampai saat ini masih eksis. Kantor Berita Antara adalah perjuangan perdananya dalam rangka turut serta memperjuangan kebebasan bangsa Indonesia. Ia menyadari betul fungsi dan peranan pers sebagai alat perjuangan.

KB Antara bukanlah tempat pertama Djohan di bidang jurnalistik. Sebelumnya, dia bergabung dengan Arta News Agency, sebuah kantor berita milik Samuel de Heer, seorang Belanda. Ia memutuskan keluar dari Arta tahun 1937 dengan kesadaran bahwa dirinya harus mengembalikan komitmen aslinya: mengutamakan fungsi dan tanggung jawab kemasyarakatan. Masyarakat di bawah kekuasaan penjajah harus dibebaskan, demikianlah posisi dan peranan pers yang telah didefinisikannya. Djohan dan jurnalis sezaman merumuskan peranan pers sebagai pengantar masyarakat ke masa depan (hlm. 83).

Lingkaran Sjahrir

Ketika membincangkan kehidupan Djohan, tidak bisa terlepas dari sosok Sutan Sjahrir. Karena itu, sebagian besar buku ini berada dalam “alur” Sutan Sjahrir. Ketika membicarakan tindak-tanduk Djohan, muncul juga peran Sutan Sjahrir di dalamnya. Djohan adalah salah satu loyalis utama Sutan Sjahrir.

Ketika Sutan Sjahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada 12 Februari 1948, Djohan adalah sosok yang masih setia mengikuti Sjahrir. Sebelumnya, pada 1 November 1945 Amir Sjarifuddin mendirikan Partai Sosialis Indonesia (Parsi), sedangkan Sjahrir mendirikan Partai Rakyat Sosialis (Paras) pada 19 November 1945. Karena persamaan sikap antikapitalis dan antiimperialis, pada 16—17 Desember 1945 kedua partai tersebut bergabung menjadi Partai Sosialis (PS) yang di dalamnya juga ada kelompok komunis. PS tidak berumur lama karena ketegangan kelompok komunis dan kelompok sosialis di dalamnya yang puncaknya terjadi ketika Bung Hatta mengumumkan kabinetnya pada 29 Januari 1948 menggantikan Kabinet Amir Sjarifuddin. Sjahrir adalah pendukung penuh Kabinet Hatta, sedangkan Amir memutuskan menjadi oposisi bagi Kabinet Hatta. Hal itu membuat Sjahrir dan kelompoknya, termasuk Djohan keluar dari Partai Sosialis dan mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Judul : Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah, Pejuang Kemerdekaan Bawah Tanah | Penulis : Riadi Ngasiran | Penerbit : Penerbit Buku Kompas | Tahun : cetakan pertama, Mei 2015 | Tebal : xlvi + 418 hlm. | ISBN : 978-979-709-918-3 | Harga : Rp99.000,00

Sebagai tokoh yang bergerak di dunia pergerakan, Djohan memiliki banyak kader yang tentunya diharapkan mengikutinya sebagai bagian dari lingkaran Sjahrir. Namun, kenyataannya berbeda. Tidak sedikit kader-kadernya berada di seberang jalan menjadi kader partai komunis. Dengan kemampuannya memahami ajaran Marxisme dan jurnalistik, Djohan menjadi corong untuk menjelaskan pandangan-pandangan kelompok sosialis secara tertulis dalam rangka menjawab “tuduhan-tuduhan” kelompok komunis.

Riadi Ngasiran, dengan pengalamannya di bidang jurnalistik dan sastra, berhasil mengolah biografi ini dengan baik. Pernik kehidupan Djohan memang tidak disampaikan secara dramatis sebab biografi ini adalah catatan politis tentang sosok Djohan Sjahroezah. Riadi menggambarkan sosok Djohan secara umum dalam tiga masa penting, yakni perannya sebagai tokoh pergerakan bawah tanah dalam usahanya mengkader pemuda; peran Djohan di dunia jurnalistik; dan perannya sebagai politikus Partai Sosialis Indonesia.

Djohan, sebagaimana manusia biasa, juga menjalani hidup sebagaimana kebanyakan masyarakat. Hal ini takluput dari catatan Riadi. Kisah Djohan dengan istrinya, Violet Hanifah, putri H. Agus Salim, pun digambarkan dengan hidup, seperti perjuangan masa-masa sulit bersama sang istri. Dalam biografi ini, Riadi menyuguhkan tempo tulisan yang dinamis. Di saat tertentu, ia menggambarkan secara naratif dan di saat yang lain secara argumentatif dengan memaparkan berbagai fakta tekstual.

Sebuah buku tidak lain adalah representasi ide-ide sang penulis. Kehadiran biografi ini menjadi wacana tandingan yang menampilkan tokoh dari golongan sosialis. Riadi Ngasiran sadar betul bahwa, selain karena peran Djohan sebagai tokoh jurnalis, menampilkan sosok Djohan adalah meneguhkan keberimbangan wacana tentang peran pergerakan yang dilakukan oleh kelompok sosialis, terutama kaitannya dengan konfrontasi golongan komunis.

Buku ini telah menandai keberadaan sosok yang tidak begitu populis di panggung sejarah Indonesia. Buku ini dihadirkan di waktu yang tepat. Keteladanan Djohan Sjahroezah dalam perjuangannya melalui berbagai pergerakan aktivis dan politis harusnya menjadi ruang refleksi bagi pergulatan politis Indonesia saat ini yang sudah jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. (*)

*) Umar Fauzi Ballah penikmat buku di Komunitas Stingghil, Sampang tinggal di Sampang sebagai Kepala Rayon LBB Ganesha Operation Sampang.

 

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending