Connect with us

Editor's Choice

Soedjatmoko: Sukma dan Masyarakat—Sebuah Tafsiran Timur tentang Counter Culture

mm

Published

on

SAYA akan mulai dengan sebuah cerita. Inilah cerita rakyat yang bersumberkan mistik Jawa. Agama Islam menurut dugaan orang dibawa ke pulau Jawa, pulau asal saya di Indonesia, oleh kesembilan orang wali. Bertolak dari daerah pantai, mereka menyebarkan agamanya lewat penobatan maupun penaklukan. Salah seorang dari antaranya, Siti Djenar, adalah, seorang sufi beraliran heterodoks. Dimaklumkannya bahwa Allah bukanlah di surga, akan tetapi di dalam hati manusia dan bahwa untuk menjadi Muslim yang baik seorang tidak perlu melaksasnakan ibadah haji ke Mekkah atau memperhatikan bentuk-bentuk ibadah agama, asal saja dia dapat membuka dirinya bagi terang Allah di dalam hatinya.

Setelah beberapa lama menderita karena tingkah lakunya yang tidak patut, delapan wali lainnya berkumpul dan memutuskan bahwa Siti Djenar harus dibunuh, bukan saja karena yang diajarkannya tidak benar, akan tetapi ajarannya dan caranya mengajar menghancurkan ketertiban sosial. Mereka mengundangnya datang ke suatu pertemuan, di mana mereka mengumumkan keputusannya. Siti Djenar menerima keputusan mereka dan membiarkan dirinya ditikam; akan tetapi dari lukanya bukanlah darah yang menyembur melainkan suatu zat putih dan dia pun tidak meninggal. Akhirnya mereka mohon agar dia mati supaya ketertiban sosial bisa dipulihkan dan Siti Djenar pun mengikuti kehendak mereka; darahnya menjadi merah kembali dan dia pun wafat.

            Tergantung dari sudut penglihatan, seseorang, sebagaimana kebanyakan legenda, legenda ini mengandung berbagai tingkat makna. Salah satu yang sangat erat hubungannya dengan tema pembicaraan saya ini adalah – bahwa kehidupan manusia, secara individual dan secara kolektif, berputar sekitar dan bergerak antara dua kutub kepentingan fundamental; di satu pihak mencari kebenaran, kebebasan batin, untuk kesempurnaan kepribadian seseorang atau untuk penebusan jiwa; pada pihak lain mencari suatu masyarakat yang lebih baik.

Kebanyakan keresahan dan pencarian (search) kaum muda sekarang bukan saja di Amerika, akan tetapi di kebanyakan negara, berkisar pada dua kepentingan ini. Bahwa pencarian diri sendiri telah merebut tempat yang penting, bisa dipahami. Ia merupakan reaksi terhadap kekakuan yang melumpuhkan dan konformitas, hampa yang menjadi bagian dari masyarakat moderen, dan masyarakat yang berlimpah ruah kekayaannya baik di Barat maupun di Timur; menantang depersonalisasi hubungan antara manusia, kesepian yang mendalam pada setiap orang, dan rasa-tak-berdaya sebagai akibat terkurungnya manusia oleh birokrasi raksasa, baik birokrasi negara maupun swasta, yang memang dibutuhkan untuk menjalankan struktur yang kompleks dan yang berpijak pada teknologi. Ia merupakan reaksi terhadap pemiskinan spiritual sebagai akibat sekularisasi, rasionalisasi sambil menghilangkan nilai-nilai dan makna kehidupan manusia, dan rasa relativitas yang mendalam yang melumpuhkan kemampuan-kemampuan moral. Dari situ timbullah pencarian yang mendesak untuk “menghubungkan” satu sama lain, mencari kebenaran absolut, spontanitas dan kebebasan batin, meluaskan kesadaran manusia, mencari cinta, belas kasih dan kegembiraan.

Walaupun agak berbeda konotasinya, konsep “jiwa” kini semakin sering dipergunakan secara terhormat, setelah ia mengalami penyusutan arti karena menjadi bahan ulasan ilmiah para psikolog. Kemurnian dan kerapuhan “kekuatan bunga’ (flower power), penceburan diri ke dalam, dunia mistik dari agama dan filosofi ketimuran lainnya, tekanan baru yang diberikan kepada emosi, perasaan dan kebangkitan kembali kemampuan-kemampuan manusiawi yang telah terlalu lama dilumpuhkan. Bagi seorang pengamat yang berasal dari daerah di mana kecenderungan-kecenderungan mistik masih tetap kuat, fenomena ini mengingatkan dia akan kaitan dengan meluasnya semangat agama secara massal, walaupun dalam kasus tersendiri, dengan karakter yang jelas-jelas sekuler, dengan ciri-ciri post-Freudian atau pra-Marcussian. Akan tetapi pengamat tersebut secara tegas diingatkan kepada perbedaan fundamental yang senantiasa diberikan oleh semua agama yang mempunyai kecenderungan mistik dan filosofis antara menyerahkan diri kepada emosi dan kelembutan perasaan pada satu pihak, dan disiplin baja dari pikiran dan jiwa yang dituntut dari para penganut pada pihak lain.

Juga, sebagaimana tersirat dalam kisah yang saya ceritakan, kedua kutub di mana kepentingan utama manusia berputar, walaupun tidak, eksklusif terhadap yang lainnya, jelas bekerja pada tingkatan eksistensial yang berbeda. Metode yang dipergunakan untuk mencari yang satu tidak mesti menghantarkan kita untuk mencari yang lainnya, dan juga visi dan kedalaman pandangan yang diperoleh sesaat (Instant utopia) bukanlah kemestian sosial dari suatu loncatan mistik menuju Allah; dan juga pandangan hidup mistik yang historis tentang kehidupan tidak memberikan kita pegangan untuk menangani masalah-masalah sosial tak terkendalikan yang dan hanya bisa ditaklukkan oleh, penyelesaian-penyelesaian yang mampu bertahan terhadap waktu. Sejarah telah tertimbun oleh contoh-contoh di mana sistem-sistem sosial yang paksakan kepada masyarakat atas nama Allah dan kebenaran hanyalah menjurus kepada sikap tidak toleran, tirani dan penindasan yang paling kejam.

Kedua, pengertian tentang kebenaran sebagai realitas trans-subyektif melalui pengalaman batin yang iluminatif secara fundamental amat penting bagi individu bersangkutan, dan ia dapat mempengaruhi kemampuannya untuk “menghubungkan” kepada manusia dalam lingkungannya yang terdekat, biarpun harus disadari juga bahwa pengalaman ini tidak begitu saja dapat menjadikannya seorang yang “lebih baik.” Juga pengalaman semacam ini secara substansial tidak menambah kemampuannya untuk menolong meringankan bebasan kesengsaraan sesamanya. Dengan kata lain: mencapai kebebsan batin atau kesempurnaan, meski yang sepenuh-penuhnya, tidak memberi jaminan adanya suatu masyarakat yang sempurna. Dalam kenyataannya, sejarah agama-agama tradisional di Asia yang sangat berkepentingan dengan mengajar kebenaran secara mistis dan penebusan diri, mengungkapkan kegagalan mereka dalam mengatasi stagnasi, kemiskinan dan ketidakadilan dalam masyarakat-masyarakatnya; dalam banyak kesempatan mereka menghalangi penyesuaian-penyesuaian kepada perubahan sosial. Karena itu jelas ada kebutuhan terhadap kesadaran akan keterbatasannya; di seberangnya kepercayaan yang terlalu kuat pada jalan keaslian pribadi dalam menghadapi masalah msayarakat pada umumnya merupakan usaha mengalahkan diri sendiri. Pandangan personalistik terhadap penyakit masyarakat menghambat komunikasi dan aksi secara umum mengatasi dan melebihi partikularisme generasi atau kelompok seseorang, ia menghalangi berkembangnya teori masyarakat tanpa makna takkan mungkin ada tindakan sosial yang berencana dan berjangka panjang. Jelas dalam melihat kedua kutub kepentingan manusia kita sedang berhadapan dengan 2 realitas yang berbeda, masing-masing dengan jenis persepsi yang berlainan dan cara bertindak yang berbeda pula. Untuk menanggulangi masalah masyarakat dan perubahan sosial secara efektif maka kita harus menanganinya dengan memandangnya sebagai masalah sosial dan bukan masalah lainnya, dan bukan pula sebagai masalah kebenaran terakhir; kita harus, menghadapinya secara historis dan bukan secara moral, walaupun sangat boleh jadi motivasi kita bersifat moral.

Di dorong oleh beberapa manifestasi tekanan psikedelik dalam counter culture kaum muda sekarang, renungan ini mengandalkan betapa pentingnya kita berhenti sejenak untuk melihat ke dalam dan mengalihkan pandangan ke luar kepada masalah yang dihadapi dunia sekarang, dari mana tak seorang pun dari kita akan luput.

Rupanya manusia sekali lagi berada pada titik-titik bersejarah artikulasi untuk memberikan, keputusan-keputusan penting bagi masa depannya, kalau masa depan itu memang ada.

Pada suatu pihak ia dihantui pembinasaan nuklir. Pada pihak lain, sebagaimana tidak pernah ada sebelumnya, ia merasa memiliki peluang terbatas untuk menata hidupnya di dunia ini atas peri yang lebih berbudaya dan secara moral lebih bisa diterima, karena, berkat langkah-langkah raksasa dalam ilmu dan teknologi, kini ia memiliki kemampuan mengendalikan sumber-sumber alam menuju tujuan tersebut.

Antara kedua ujung ini ada kebutuhan mendesak untuk mempertahankan kembali kontrol moral manusia terhadap teknologi yang tak terkendalikan dalam industri dan militer, agar sekali lagi ia melayani tujuan dan kebutuhan manusia.

Ada tekanan yang ditimbulkan oleh masalah-masalah kehidupan kota, kantong-kantong (enclaves) terbelakang dan miskin. Masalah harmoni rasial dan bagaimana menghentikan pembinasaan ekolobi manusia. Ada masalah-masalah yang sama sekali tak terselesaikan yaitu penyesuaian pribadi dan kelembagaan secara terus-menerus kepada lingkungan teknologis, sosial dan kultural yang berubah cepat.

            Kemajuan ilmu pengetahuan telah menampilkan gambaran manusia mengenai dirinya pada suatu tingkatan seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya. Banyak pemikiran tentang diri, tentang yang baik dan jahat, semakin menjadi kuno, atau tidak relevan. Dengan demikian dalam menghadapi pil, obat-obatan yang mampu mempengaruhi pikiran serta daya ingatan, menghadapi kemungkinan untuk memanipulir konfigurasi keturunan seseorang dan peluang yang semakin terbuka bagi tramplantasi organ manusiawi, manusia senantiasa dipaksa dihadapkan kepada persoalan bukan saja mengenai apakah, ia dapat melanjutkan kehidupannya tetapi menyangkut masalah manusia jenis manakah yang dikehendakinya untuk meneruskan hidup, secara individual maupun secara kolektif. Manusia masih harus merumuskan kembali kemanusiaannya, memberikan formalisasi baru mengenai apa yang dikiranya hakiki bagi kemanusiaannya.

Inilah beberapa masalah yang harus dihadapi pada suatu titik tertentu oleh semua bangsa, dalam tingkatan yang berbeda-beda, dan dari perspektif kultural masing-masing, namun tetap tak terhindarkan.

Akan tetapi, masalah yang paling utama, sekurang-kurangnya bilamana kita mampu menghindari pembinasaan nuklir – adalah ledakan penduduk. Bila kita melihat kemungkinan bahwa 30 tahun lagi sejak sekarang penduduk dunia akan menjadi dua kali lipat, maka pertanyaan yang timbul adalah apakah umat manusia secara keseluruhan mampu mengorganisir diri secukupnya untuk menghadapi tantangan dalam memberikan makanan dan pakaian kepada jutaan orang yang mengkhawatirkan dan dengan demikian sekurang-kurangnya bisa menjamin tingkatan yang ditolerir dari kehidupan berbudaya. Dalam hubungan ini, patut disebut masalah kemiskinan internasional, dan jurang yang senantiasa melebar antara bangsa yang kaya dan yang miskin, dengan ancaman-ancaman yang inheren terhadap perdamaian dunia.

Hal ini patut menuntut pengarahan kembali secara fundamental sumber-sumber dunia. Hal ini berarti melibatkan negara-negara berkembang dalam suatu cara yang sistematis, dan semakin intensif, dalam proses-proses produksi dunia, dalam suatu cara yang sesuai dengan kebebasan dan martabat. Untuk mengambil satu contoh, bilamana tidak diambil suatu usaha yag dipertimbangkan secara matang untuk menjalin hubungan antara kemampuan penelitian pada bangsa-bangsa yang kurang maju – kalau perlu membantu memperkembangkannya sampai kepada suatu tingkat di mana hal ini dimungkinkan – dengan penelitian garis depan (frontiers research) dan pembangunan pada bangsa-bangsa yang telah maju teknologinya, maka kemajuan baru dalam teknologi hanyalah akan memperluas jurang antara negara-negara yang kaya dan miskin, dan menutupi negara miskin dalam suatu posisi menjadi tukang-tadah abadi dan pasif dengan memakai hasil ciptaan orang lain.

Penelitian yang dilakukan masa kini tentang biologi laut dan eksploitasi mineral di dasar laut adalah contoh yang baik dalam hal ini. Dengan demikian jelas dituntut konsep baru tentang pembangunan peralatan baru dan tepat untuk arus modal, kemahiran teknis dan kerampilan organisatoris dalam suatu tata besaran (0rder of magnitude) yang jauh melebihi yang pernah ada sekarang. Hal ini mengandalkan kebutuhan untuk memperkembangkan kerangka internasional baik dalam bidang hukum dan politik di mana penyusunan kembali tata internasional semacam ini bisa berlangsung dalam suatu cara yang bisa memberikan arti kepada kehidupan, bukan saja dalam hubungan dengan arti menurut tatanan masa sekarang akan tetapi juga bagi dasawarsa mendatang, baik pada tingkat individual maupun secara kolektif.

Inilah, dalam pandangan saya, masalah besar yang dihadapi umat manusia sekarang dan yang akan menentukan corak kualitas kehidupan individual maupun kehidupan bangsa-bangsa dalam dasawarsa-dasawarsa mendatang. Sejauh ini dunia tidak menunjukkan tanda-tanda atau kemampuan untuk mengatasinya. Kalaupun keadaan sekarang ditandai oleh stagnasi intelektual dan kekurangan ide-ide baru serta konsep-konsep baru, dunia harus memperkembangkan kemampuan kolektif untuk menanggulangi masalah ini. Tidak ada satu bangsa pun, betapapun berkuasanya, betapapun kayanya, maupun menyelesaikannya sendiri. Interdependensi baru yang fundamental, telah muncul, interdependensi kelangsungan hidup, interdependensi, kondisi minimum bagi peradaban.

            Uraian ini hanya menekankan apa yang telah jelas untuk beberapa waktu sekarang, yaitu amat pentingnya institusi intelektual untuk membentuk masa depan. Seperti belum pernah terjadi sebelumnya ilmu pengetahuan, terlebih pengetahuan teoretis, penelitian dan pengembangan dan imajinasi yang berdisiplin dari para ilmuwan telah menjadi kunci ke arah masa depan.

Karena itu untuk mengukur kemampuan kolektif kita untuk menghadapi masa depan, kita harus berpaling kepada universitas-universitas kita dan lembaga-lembaga penelitian. Universitas-universitas negara kaya dan miskin sama-sama terlibat, karena hampir semua masalah dan pemecahan yang dituntutnya telah menjadi global ruang lingkupnya.

Sebagai contoh marilah kita ambil universitas-universitas di Amerika telah lama mereka bukan lagi lembaga latihan bagi elit Amerika. Beberapa waktu yang lalu universitas-universitas ini telah menjadi medan latihan bagi elit dari banyak bagian dunia lainnya juga. Jelas bahwa universitas-universitas ini belum menyesuaikan dirinya secara tepat kepada peranan yang baru ini. Akan tetapi tidaklah adil untuk mengatakan bahwa universitas-universitas di Amerika adalah satu-satunya yang gagal menyesuaikan diri kepada tuntutan-tuntutan baru. Orang bisa mengatakan bahwa hampir semua lembaga di seluruh dunia telah digenggam secara tidak sadar oleh cepatnya, besarnya serta demikian dalamnya perubahan sosial dan kutlural yang telah berlangsung selama dua dasawarsa terakhir.

Bilamana untuk sementara kita melihat ke luar dari tiga faktor yang telah memberikan special case kepada kasus-kasus Amerika: perang Vietnam, rencana dan perjuangan hak-hak asasi manusia, dari mencoba memberikan definisi masalah yang dihadapi oleh universitas di seluruh dunia bersama-sama, maka akan muncullah dua pertanyaan dasar. Satu, dalam kaitannya dengan hubungan universitas dengan masyarakat yang lebih besar – perubahan sosial, menuju isyu-isyu dasar yang dihadapi masyarakat masa kini, yang membutuhkan definisi baru dari fungsi universitas. Pertanyaan lain berhubungan dengan tatanan ke dalam dari universitas sebagai suatu tatanan khusus, tidak perlu serupa dengan konsep tatanan masyarakat yang lebih besar; distribusi, hakekat otonominya, cara yang dipergunakan untuk melaksanakan otonominya, untuk sesuai dengan sifat khusus dan fungsi universitas, sehingga ia semakin menghasilkan jenis hubungan sosial yang akan memungkinkan persatuan disiplin sebagai suatu tuntutan inheren dalam belajar dengan tercapainya pertanggungjawaban dari generasi pendahulu yang matang.

Sebagaiamana semua proses perubahan struktur yang besar, beberapa tingkatan kekerasan yang diakibatkan oleh rasa putus asa dan ketakutan dan kemungkinan mereka untuk saling meningkatkan bisa terjadi. Akan tetapi apa yang lebih penting adalah sesuatu yang mengatasi riuh rendahnya, serta kekerasan retorik konfrontasi kampus, pencarian yang dilakukan oleh mahasiswa dan fakultas maupun administrasi untuk mengembangkan konsep yang dapat membantu mengatasi tantangan yang lebih luas dalam masa kita. Hanya dengan cara ini bisa kita harapkan mereka mempertanyakan asumsi masyarakat sekarang dalam hubungannya dengan tuntutan yang semakin mendesak agar kelanjutan hidup bersama bisa berlangsung secara kreatif dengan perpecah-belahan yang sekurang mungkin. Dengan memberikan batasan baru mengenai tugas dan tanggung jawabnya dalam hubungan ini maka universitas-universitas di seluruh dunia akan mampu memainkan fungsinya sebagai pesemaian masa depan yang lebih baik.

Karena adanya interdependensi bagi kelangsungan hidup, maka muncullah kebutuhan yang mendesak bagi suatu kerja sama internasional yang semakin intensif antara lembaga intelektual ini di seluruh dunia. Tanpa saling menyuburkan, tanpa penerangan lintas-kultural, tidaklah mungkin mengembangkan konsep-konsep dan pandangan ini agar bisa diterima di dunia pada umumnya. Yang dibutuhkan adalah sebuah jaringan, yang menghubungkan universitas dan memungkinkan komunikasi yang intensif, atau informasi yang bebas dan dikembangkan seluas mungkin, serta pengembangan cara kerja sama baru dalam suatu skala yang lebih besar sebagaimana sejauh ini telah berlangsung. Bilamana kerjasama yang erat ini bisa diperkembangkan jaringan internasional universitas-universitas ini dan lembaga-lembaga penelitian masih akan menjadi infrastruktur intelektual bagi suatu dunia baru dan suatu tata dunia yang baru. Atas peri itu, universitas akan memainkan peranan Republik Ketiga dalam Revolusi Perancis, dan istilah fifth estate tidaklah tepat dalam jaringan lembaga intelektual ini. Kaum muda adalah wahana bagi harapan-harapan dan kesempatan-kesempatan orang tua yang hilang. Munculnya setiap generasi baru karena itu, terlebih dalam masyarkat yang cepat berubah, membuka kesempatan dan kemungkinan-kemungkinan baru untuk sebuah perjalanan baru.

Berdasarkan cita-rasanya yang baru tentang kehidupan dan situasinya yang khusus, setiap generasi memiliki tugas untuk menetapkan arti hidup yang dikehendakinya; untuk memberikan batasan baru yang dihadapinya serta cara-cara mengatasinya, untuk memberikan batasan baru tentang masyarkat macam manakah yang ingin dijadikan tempat hidupnya, dan yang akan diwariskan kepada generasi penerusnya. Karena itu tidaklah cukup bagi kaum muda untuk merumuskan identitas mereka dengan peroses-prosesnya. Juga mendirikan masyarakat utopi bagi manusia bahagia atau aktivitas tanpa berpikir panjang, tidak memberikan jawaban yang berarti bagi masalah dasar dari peradaban yang kini tengah dihadapi umat manusia dalam lingkungan global.

Memang bisa, dipersoalkan bahwa eksistensi tatanan monastik atau pusat-pusat kehidupan kelompok-kelompok manusia berdasarkan nilai-nilai transendental, penting bagi setiap masyarakat, dan setiap peradaban, karena memperingatkan manusia kepada dimensi kehidupan yang lain dan jenis hidup yang lain, akan tetapi tidak seorang pun dapat mendakwakan ketepatannya sebagai jawaban untuk masalah-masalah yang tengah kita perbincangkan.

Di ujung lain dari spektrum ini, pasti benar bahwa manusia tidak dan tidak bisa mengetahui hasil akhir dan setiap tindakan sosial. Akan tetapi ini pun bukanlah alasan untuk menghapus rasionalitasnya atau tanggung jawab moralnya sejauh dia dapat melihatnya.

            Taktik-taktik yang dianjurkan oleh pengertian-pengertian  seperti kekacauan yang kreatif (creative chaos), atau sifat merusak yang kreatif (creative destructiveness), didasarkan atas pengingkaran dan penurunan martabat manusiawi. Pengertian semacam ini, maupun ide-ide tentang revolusi spontan dan kreatifnya aksi-aksi spontan massa, adalah sifat yang dikenal juga dalam revolusi kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi dapat saya yakinkan saudara-saudara bahwa dengan itu tujuan tak pernah tercapai.

Perkembangan yang paling penting untuk keluar dari krisis kultural yang kini mencekam masyarakat kaya boleh jadi adalah penilaian kembali kaum muda atas moral yang berlaku; kristalisasi nilai yang didasarkan kepada solidaritas kemanusiaan yang baru yang melewati batas-batas nasionalisme dan identitas kelompok yang sempit; kerinduan kepada jenis hubungan sosial yang bukan hirarkis, yang lebih memberikan kemungkinan bagi spontanitas, belas kasih dari cinta. Akan tetapi impuls baru yang kreatif dan moral ini dilengkapi dan dihubungkan dengan realitas-realitas yang ada bilamana mereka akan membawa kita melawati perjuangan yang ada di depannya. Bila tidak, mereka akan terperosok ke dalam pembenaran diri yang tak bermakna atau kepada aktivisme yang tidak terkekang.

Untuk kembali kepada cerita yang telah saya ceritakan pada permulaan, dan kepada kedua kutub eksistensi manusia yang telah saya katakan; dalam perjuangan manusia yang tiada akhirnya untuk memperjuangkan masyarakat manusia yang lebih baik, sambil memperhitungkan keselamatan jiwanya, manusia tidak bisa luput dari ketegangan ini, yang menjadi dasar kreativitasnya dan atas kesadaran ini dia dibebaskan dari pilihan palsu antara cop-out dan Uncle Tom.

Sebagai kesimpulan, selama pencarian kesenangan pribadi, kepenuhan pribadi dan kebebasan batin merupakan unsur penting bagi setiap pemecahan yang harus dikerjakan, maka itu saja tidak cukup. Hanya dengan perjuangan intelektual yang maha besar dan penerangan moral bisalah diharapkan ancaman-ancaman dan masalah-masalah yang meliputi kita akan dapat diatasi. Idealisme, semangat tidak ingat diri dan pengabdian, memang penting, akan tetapi yang tak kurang pentingnya adalah kemauan, kemampuan dan stamina untuk mengatasi masalah-masalah masyarakat dalam dirinya sendiri, untuk mengembangkan visi yang jelas tentang masa depannya – tentang jenis masyarakat dan dunia yang kita mau diami – dengan jiwa yang peka namun keras, kuat, akal yang relatih dan kreatif, yang juga rendah hati.

Kemampuan-kemampuan ini bisa diperkembangkan di universitas, yang bukan merupakan tempat yang salah untuk itu. (*)

__________________________

Soedjatmoko lahir di Sawahlunto (1922) dan meninggal di Jakarta, 21 Desember, 1988. Ia dalah satu dari hanya sedikit cendekiawan Indonesia yang memiliki reputasi memperoleh pengakuan yang sangat luas secara mondial. Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai surat kabar, majalah, jurnal, di dalam dan luar negeri. Sebagian termaktub dalam buku yang disuntingnya bersama Robert N. Bellah, Religion and Progress in Modern Asia (1964), dan Introduction to Indonesian Historiography (1965). Dua bukunya terpenting yang merupakan pilihan karangan-karangannya tentang agama, kebudayaan, sejarah, dan ilmu pengetahuan. Dimensi Manusia dalam Pembangunan dan etika pembebasan, telah menjadi karya klasik yang menjadi bacaan wajib para pemerhati masalah-masalah sosial dan kebudayaan. Di samping berbagai pos diplomatik yang dijabatnya sejak 1974, ia pernah memimpin majalah Hot Inzicht (1946-47), pemimpin redaksi Siasat (1952-60), dan anggota redaksi harian Pedoman (1952-60). Ia pernah belajar di sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta (1940, tidak selesai karena sikap kritisnya terhadap Jepang), memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dari Cedar Crest university (Doctor of Laws, 1969) dan Yale university (Doctor of Humanities, 1970), keduanya di Amerika Serikat, dan Doktor Honoris Causa dari University Sains di Penang (Doktor Persuratan, 1982). Selama hidupnya, Soedjatmoko juga pernah memperoleh pengakuan intelektual yang sangat tinggi dengan menjadi anggota Club or Rome dan anggota kehormatan American Academy of Arts and Science.

Sumber: Soedjatmoko, Etika Pembebasan, LP3ES, April, 1996.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku

Membangun (Kembali) Republik

mm

Published

on

Judul Buku: Membangun Republik
Editor: Baskara T. Wardaya
Penerbit: Galang Press
Tahun Terbit: Juli 2017
Tebal: xxviii+286 halaman,

ISBN 978-602-8174-19-0
Harga: Rp.80.000,-

 

Meningkatnya gerakan intoleransi dan sentimen Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA)  di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, membuat kita mesti menghidupkan kembali tentang diskursus keindonesiaan kita. Setidaknya ada beberapa pertanyaan untuk menghidupkan kembali diskursus tersebut. Pertama, apa raison d’etre Indonesia? Kedua, apakah konsensus berdirinya Republik ini sebagai sebuah negara bangsa benar-benar sudah final? Ketiga, Quo Vadis Indonesia?

Melalui buku yang disunting oleh Baskara T. Wardaya ini, pembaca diajak kembali untuk berdialog mengenai jalannya Republik Indonesia sejak masa prakemerdekaan hingga akhir 1990-an. Buku yang sejatinya kumpulan wawanacara dengan enam indonesianis dan dua intelektual Indonesia yakni Takashi Shiraishi, Bennedict Anderson, George Kahin, Clifford Geertz, Daniel Lev, Bill Liddle, Sartono Kartodirdjo dan Goenawan Mohammad ini setidaknya menyoroti tiga poin penting dalam perjalanan Indonesia yakni politik, budaya, dan hukum.

Dalam konteks politik, setiap kekuasaan memiliki dinamikanya sendiri yang cukup menarik. Selalu ada patahan sejarah di dalam proses menjadi Indonesia, mulai dari kekuasaan Hindu, Budha, Islam, Kolonialisme, hingga menjadi Republik (Parakitri Simbolon: 1995). Sayangnya, tiap fase kekuasaan tersebut dianggap tidak memiliki hubungan satu sama lain.

Salah satunya contohnya adalah ketika para pendiri bangsa bermufakat bahwa bentuk negara Indonesia adalah republik. Padahal, dalam geneaologi kekuasaan di nusantara, tidak pernah ada sekali pun yang memakai bentuk republik. Bahkan, Belanda yang menjajah Indonesia pun merupakan sebuah negara monarki. Semua kepemimpinan di nusantara tidak dibentuk atas kehendak rakyat atau wakil-wakilnya, melainkan hampir selalu berada di tangan sang penguasa tunggal beserta para kerabat dan pendukungnya (hlm.xvii-xviii). Hal ini yang terus terjadi hingga masa kepresidenan Soeharto.

Pemilihan bentuk negara republik merupakan hasil pergulatan intelektual para pendiri bangsa, bukan dari pengalaman empiris seperti yang dituliskan oleh Tan Malaka dalam Naar de Republiek (1925). Konsekuensi dari tidak adanya pengalaman empiris tersebut, sudah pasti memiliki banyak kendala dalam upaya membangun republik. Sebab, Indonesia tidak memiliki preseden yang baik dalam membangun sebuah negara dan bagaimana cara menghadapi masalah.

Hal lain yang tidak dapat dikesampingkan dalam proses politik Indonesia adalah pemuda. Ben Anderson dalam buku Revolusi Pemuda (1988), “Saya percaya bahwa watak khas dan arah dari revolusi Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh kesadaran pemuda.” Hal itu terus berlanjut saat mengakhir kekuasaan Soekarno pada 1966 dan Soeharto pada 1998. Sayangnya, pemuda sering kali dijadikan alat politik tertentu oleh pimpinan politik dalam pergulatan untuk berkuasa (hlm.57).

Dalam konteks budaya, Indonesia merupakan salah satu negara dan paling masyarakat yang paling kompleks di dunia. Banyaknya perbedaan dalam sebuah masyarakat, memerlukan persatuan untuk mengelolanya. Hal itu berhasil dibuktikan pada 1945, persatuan menjadi alat ampuh untuk meraih kemerdekaan.

Menurut Clifford Geertz, kemajemukan tersebut bisa melebur hanya dalam konteks tertentu, misalnya revolusi 1945. Lantas, setelah bersatu, ikatan-ikatan pengelompokan dan primordial kembali terjadi. Sebab, sifat-sifat primordial merupakan hasil sebuah proses sejarah, bukan sebuah nasib (hlm.147).

Oleh sebab itu setelah kemerdekaan, di dalam masyarakat, sifat-sifat primordial tersebut tetap ada dan kadang saling bersinggungan, hanya saja memerlukan waktu lama untuk menghasilkan gejolak. Dalam masyarakat, kata Geertz, kita akan selalu memikirkan: apa tujuan negara itu? Siapa yang mendapatkan untung dari negara itu? Untuk apa masyarakat berkumpul membuat negara itu?

Dengan demikian, Geertz melihat banyaknya peristiwa politik di Indonesia yang sekaligus merupakan persoalan budaya. Termasuk masalah agama dan sentimen ras (hlm.159). Baik menjelang runtuhnya Soekarno maupun saat menjelang lengsernya Soeharto dari tampuk kekuasaan.

Berkenaan dengan budaya, sifat-sifat feodal seperti pola kekerabatan— membangun oligarki politik dalam sebuah daerah atau partai politik—masih berlaku hingga saat ini menjadi penghambat dalam proses membangun. Ini tentu sebuah paradoks ketika para pendiri bangsa memutuskan membangun republik dan meninggalkan bentuk kekuasaan monarki, tapi tidak bisa menghilangkan sifat-sifat feodal yang kontra produktif dengan demokrasi. Soekarno dalam Sarinah (1947) menyatakan Indonesia merupakan sebuah negara yang dijajah oleh dua kekuatan yakni kolonial dan feodal. Oleh karenanya, setelah revolusi nasional, diperlukan revolusi sosial untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat yang baru.

Di ranah hukum, Indonesia masih belum bisa menjadikan hukum sebagai panglima. Hal ini ditambah buruk dengan banyaknya korupsi yang melibatkan lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Hal tersebut semakin mempersulit republik untuk mewujudkan cita-citanya yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Terkait hukum dengan membangun republik mestinya, menurut Daniel Lev, membangun lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga masyarakat. Dalam sebuah republik yang baik, lembaga pemerintahan mesti dikontrol oleh lembaga-lembaga dalam masyarakat. Elite-elite dalam setiap lembaga memiliki kecenderungan untuk mempertahankan diri dan ini pun harus dikontrol (hlm.156).

Sebenarnya, tidak ada masalah dan atau kesalahan yang baru dalam membangun republik. Hanya saja, kita selalu mengulangi kesalahan yang sama. Seolah-seolah kesalahan itu menjadi sebuah preseden yang layak ditiru. Pengalaman masa lalu tersebut semestinya bisa jadi pijakan dalam membangun republik di masa depan, itulah sebabnya sejarah menjadi penting. Bukankah hanya keledai yang mengulangi kesalahan yang sama?

Peristiwa atau pengalaman dari setiap periode perjalanan bangsa Indonesia selalu terputus. Seolah-olah setiap fase sejarah Indonesia tidak memiliki hubungan dengan fase sebelumnya. Maraknya aksi intoleransi dan sentimen antargolongan pun sudah terjadi sejak 1960-an dan 1990-an. Tinggal bagaimana kita memahami pemahaman sejarah yang baik untuk melalui proses tersebut dengan baik.

Oleh sebab itu, pewarisan ingatan sejarah menjadi sangat penting bagi generasi muda. Sebab, tonggak estafet membangun Indonesia terletak di tangan pemuda. Seperti Ben Andrson katakan, pemuda adalah penggerak sejarah. Namun, tentu dengan cara yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Sebab, semangat zamannya pasti berbeda.

Buku ini menarik untuk dibaca sebagai pengantar untuk memahami persoalan Indonesia dari berbagai sudut pandang. Selain itu, buku ini juga dapat menjadi pengantar untuk memahami karya-karya utuh para tokoh yang terlibat dalam wawancara ini.

Indonesia memang bangsa yang belum selesai, ia masih dalam tahap proses menjadi sebuah bangsa yang kokoh. Namun, bukan berarti Indonesia tidak akan bisa menyelesaikan masalah dan mewujudkan cita-citanya menjadi sebuah bangsa. Apa pun masalahnya, bila dalam upayanya menyelesaikan masalah-masalah besar pascarevolusi rakyat Indonesia mampu menunjukkan yang sama seperti yang telah mereka perlihatkan dalam perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan politik, peluang sukses mereka tampak kuat (Kahin: 2013). (*)

| Virdika Rizky Utama, lahir di Jakarta, 10 September 1993. Saat ini adalah Wartawan Majalah GATRA dan Pegiat Komunitas Sejarah Kita

 

Continue Reading

Blog Pembaca

Suraji: Buku-Buku Melapangkan Jiwa

mm

Published

on

Buku-buku melapangkan jiwa, tidak hanya karena ia memberi pengetahuan dan banyak kisah, tapi buku dan pembacanya sendiri sudah menyimpan kisah. Satu orang dengan yang lain memiliki keunikan kisahnya sendiri karena pengalaman dan ceritanya berbeda-beda. Kisah Suraji dengan buku-buku, adalah salah satu yang layak kita simak. Suraji adalah aktivis gerakan sosial yang punya benyak pengalaman perlawanan; memperjuangkan kebebasan dan demokrasi sejak era 90-2000an. Bagaimana buku-buku merubah hidupnya adalah cerita yang unik dan menginspirasi sebagaimana Anda tentu juga memiliki kisah Anda sendiri.

“Waktu kelas 1 SD, saya diajar Ibu Sumiati. Suatu ketika beliau mengajak saya ke ruangan guru, dan di situ ditunjukkan rak dan lemari berisi buku yang disekat terpisah dengan ruangan lain. “Ini perpustakaan,” kata Bu Sum. Saya pun mendekat dan membuka-buka isi rak buku itu. Dari situ saya mulai kenal buku-buku bacaan, dan terpikat untuk  membaca lebih banyak buku lagi.” Tutur Suraji yang kini menjadi Program Manager di Yayasan Bani KH. Abdurrahman Wahid (YBAW) dan aktif di komunitas Jaringan Gusdurian.

Suraji, Program Manager di Yayasan Bani KH. Abdurrahman Wahid (YBAW)

“Menulis itu Gampang” karangan Arswendo Atmowiloto yang dibacanya ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah buku yang menurutnya merubah hidupnya—buku itu memberinya keberanian untuk menulis dan hal itu membuatnya memiliki banyak gagasan, mimpi, dan dengan cara keras menggali inspirasi untuk ditungkan dalam bentuk tulisan.

Ketika kuliah di IAIN Sunan Kalijaga (Sekarang UIN Sunan Kalijaga) bekal itu membawanya menjadi Pemimpin Redaksi Majalah ARENA, majalah mahasiswa yang sempat dalam waktu lama disebut sebagai “anak kandung majalah TEMPO” karena liputannya yang cerdas dan berani. Ketika kantor ARENA diserang terkait penerbitan edisi majalah yang mengkritik keras Orde Baru, Suraji adalah pemimpin redaksi dan salah satu aktor utamanya.

Kami berkesempatan mengajukan beberapa pertanyaan seputar buku dan dunia membaca kepadanya, percayalah wawancara pertama dalam program #MencintaiBuku—Merayakan Indahnya Membaca Buku—yang digagas Galeri Buku Jakarta ini memberi kita begitu banyak memoar dan inspirasi. Seperti kata Suraji, berkah terbesarnya adalah buku-buku melapangkan jiwa kita melewati begitu banyak pengalaman kehidupan. Selamat membaca…

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

SURAJI

Buku adalah teman bijak yang selalu mengajak kita memandang cakrawala, memandu kita melewati lorong-lorong ruang dan waktu dengan jiwa yang selalu lapang.

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment perkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

SURAJI

Perkenalan saya dengan buku sejak tahu kosakata “perpustakaan”. Waktu kelas 1 SD, saya diajar Ibu Sumiati, suatu ketika beliau mengajak saya ke ruangan guru, dan di situ ditunjukkan rak dan lemari berisi buku yang disekat terpisah dengan ruangan lain. “Ini perpustakaan,” kata Bu Sum. Saya pun mendekat dan membuka-buka isi rak buku itu.

Dari situ saya mulai kenal buku-buku bacaan, dan terpikat untuk  membaca lebih banyak buku. Biasanya, saya memanfaatkan waktu istirahat kelas, atau kalau ada jam kosong, saya manfaatkan untuk membaca di perpus. Banyak buku-buku cerita rakyat seperti: cerita Bawang Putih dan Bawang Merah, Legenda Rawa Pening, Malin Kundang, Tangkuban Parahu, Legenda Banyuwangi. Ada juga cerita kepahlawanan seperti: Hikayat Hang Tuah, Untung Suropati, Gajahmada, dan masih banyak lagi.

INTERVIEWER

Beri tahu kami di mana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit—yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, atau di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri Anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

SURAJI

Saya termasuk orang yang bisa baca di mana saja dan kapan saja. Tapi selama yang pernah saya alami, saya merasakan paling nikmat membaca buku itu sewaktu kecil di sawah. Biasanya kalau musim kemarau, tak ada tanaman di sawah-sawah kampung kami. Hamparan sawah dibiarkan membera. Saat itulah, biasanya di sore hari kami menggiring sapi-sapi piaraan kami ke sawah untuk makan rerumputan. Kami yang masih anak-anak menunggui gembalaan di bawah pohon atau di balik semak-semak, hingga matahari tenggelam dan mengajak pulang sapi-sapi ke kandang. Saya biasanya menyelipkan buku pinjaman dari sekolah, di celana, untuk dibaca sambil menunggu sapi-sapi itu kenyang.

Jika musim penghujan, anak-anak di kampung kami biasanya menyabit rumput di pematang-pematang sawah, atau agak jauhan lagi ke hutan-hutan jati terdekat, tempat rumput-rumput itu tumbuh bebas, lalu kami memasukkannya ke keranjang untuk di bawa pulang. Saya pun biasanya membawa buku di sawah atau hutan, meskipun hanya sempat membacanya beberapa halaman.

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup Anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

SURAJI

Buku yang mengubah hidup saya, salah satunya adalah buku yang berjudul “Menulis itu Gampang” karangan Arswendo Atmowiloto. Saya membacanya ketika saya sudah usia SMP tahun 1991, juga saya baca waktu di sawah. Buku itu tentang kiat-kiat membuat karangan yang dikemas dalam model tanya-jawab. Buku ini yang menggugah saya untuk berani belajar menulis, mengeksplorasi ide-ide, berimajinasi, dan berpikir bebas. Setelah membacanya saya mulai membuat catatan harian, menuliskan pengalaman, dan memberanikan diri untuk ikut lomba membuat karangan di sekolah, dan juara. Membaca buku itu semakin membuat asyik lagi untuk membaca buku-buku yang lebih tebal; novel atau roman seperti “Siti Nurbaya” dan “Salah Asuhan”. Saya juga jadi gemar memburu majalah-majalah loakan untuk mengenal model tulisan bentuk laporan atau berita. Dari dulu sampai sekarang, di kampung kami belum pernah masuk koran atau majalah. Saya biasanya menabung untuk beli majalah atau tabloid bekas, ketika ada kesempatan pergi ke kota. Majalah seperti Tempo dan Intisari saya dapatkan di warung kertas bekas, yang biasanya dipakai untuk bungkus belanjaan bumbu dapur di pasar, dan itu dijual kiloan. Biasanya majalah-majalah yang sudah tahunan lalu terbitnya. Tapi saya merasa dapat informasi banyak. Jadi buku Arswendo ini membuat saya lebih banyak mencintai buku.

INTERVIEWER

Menurut Anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang indonesia? Kenapa?

SURAJI

Naskah epik Bugis, “La Galigo”, ini termasuk sastra kuno yang layak kita kenal. Naskah ini penting untuk dibaca, agar kita juga mengenali mitologi yang berkembang di masyarakat lokal Nusantara sebagai sumber pengetahuan dan peradaban. Jadi, sumber pengetahuan tidak hanya science yang bersumber akal saja, tapi juga rasa. Seperti di Barat, Yunani itu juga mengenal mitologi tentang dewa-dewa yang turut mempengaruhi lahirnya pengetahuan-pengetahuan baru.

“Arus Balik” karya Pramoedya Ananta Toer. Novel ini sangat kuat dalam membangkitkan imajinasi tentang manusia dalam peradaban maritim yang terbuka, egaliter, mendukung kemajuan, dan tidak mudah ditaklukkan. Kita sekarang ini perlu membangun mental bangsa maritim seperti itu.

Novel “Harimau-harimau” karya Mochtar Lubis, mewakili karya sastra dengan tema kebebasan, kemerdekaan, dan keberanian. Novel ini perlu dibaca bagi anak muda, supaya tidak gampang takut atau tunduk karena tekanan situasi.

Novel karya AA. Navis, “Robohnya Surau Kami”. Novel ini sangat sarkastik tapi elegan, sangat kuat melakukan kritik sosial terhadap pandangan keagamaan yang mendukung kemapanan dan melanggengkan penindasan atau ketidak-adilan. Penting untuk dibaca bagi orang Indonesia, yang kebanyakan menganut agama, agar nilai-nilai universal agama seperti kemanusiaan, kesetaraan, dan keadilan tidak semakin tergerus oleh sistem sosial yang koruptif dan manipulatif.

Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari. Novel ini menampilkan sisi humanisme dari masyarakat Indonesia, dengan setting masyarakat pedesaan. Latar cerita dalam novel adalah prahara konflik yang disebabkan oleh pergolakan politik setengah abad yang lalu, yang memakan korban jutaan manusia tidak berdosa. Novel ini mengajak kita kembali merenung, bahwa di atas politik masih ada kemanusiaan.

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

SURAJI

Buku berjudul “Waras di Zaman Edan” karangan Mas Supriyanto (Prie GS). Saya membacanya dengan penuh perenungan sambil tersenyum-senyum. Ini buku kumpulan kolom, setiap kolom biasanya mengangkat tema hal-hal yang sepele, remeh-temeh, tapi renungannya dalam. Dan di setiap akhir tulisan kita tersenyum puas karena mendapatkan pencerahan. Buku ini membantu mengurai keruwetan dan kerumitan yang diciptakan sendiri oleh manusia akibat cenderung menganut rutinitas tertentu, atau pola pikir tertentu yang membelenggu.

Novel “Crime and Punishment” karya Vyodor Dostoyevski, sudah diterjemahkan penerbit Obor dengan Judul “Kejahatan dan Hukuman”. Buku ini sangat kuat pesan sosialnya, bahwa kemiskinan atau kesenjangan ekonomi yang sangat lebar dapat menyuburkan tindak kejahatan atau situasi anomali dalam masyarakat. Cerita ini mengetengahkan dilema antara penegakan hukum, moralitas, dan kemanusiaan dalam meghadapi situasi kejahatan akibat kemiskinan akut. Novel ini merupakan kombinasi yang kokoh antara jenis novel yang menyelami sisi kejiwaan (psikologis) dan jenis novel tentang perburuan seorang kriminal (detektif).

Buku kumpulan esai-esainya Gus Dur yang berjudul “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”. Buku ini sering saya buka, dan saya baca bagian-bagian yang saya pilih. Banyak topik tentang demokrasi, dan keagamaan diulas. Ulasan Gus Dur membantu mencairkan ketegangan hubungan antara agama dan negara. Intinya, Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas warga Indonesia bukan hanya kompatibel terhadap demokrasi, namun prinsip demokrasi itu sendiri merupakan bagian dari ajaran agama. Tema-tema yang pernah ditulis Gus Dur dalam buku ini masih sangat kuat relevansinya dan tetap aktual.

INTERVIEWER

Misalnya Anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beri tahu kami apa judul yang akan Anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali memang anda akan memulai menulisnya!

SURAJI

Saya akan menulis tentang kampung tempat saya dilahirkan. Kampung ini termasuk prototipe desa yang miskin, masyarakatnya hidup bercocok tanam di lahan tadah hujan, dan itu satu-satunya sumber penghasilan utama. Kampung yang susah air. Ibarat penduduk yang tinggal hanya berjuang untuk bertahan hidup sambil menunggu usia tua atau datangnya kematian. Layaknya masyarakat kampung, hubungan kekerabatan masih dijaga, masih mengamalkan ritual-ritual slametan dan kenduri. Tantangan yang dihadapi sekarang adalah degradasi lingkungan pertanian dan makin bertambahnya penduduk. Motivasi menulis buku ini hanya untuk memotret dan mendokumentasikan perikehidupannya saja agar jadi pengetahuan generasi baru nanti. Saya akan menulis layaknya sebuah laporan antropologi atau etnografi yang melihat perubahan budaya masyarakatnya. Saya akan kasih judul buku itu: “Yang Beranjak dan Bertahan” Dari judul buku ini saya ingin menggambarkan bahwa ada perubahan di kampung saya, baik lambat atau cepat, tapi juga ada yang seperti tidak berubah atau bertahan dalam kurun waktu yang lama.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya indonesia dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir untuk mengatasi ‘krisis’ literasi di indonesia?

SURAJI

Di setiap kampung musti ada ruang atau tempat bagi anak-anak untuk membaca dan berdiskusi, belajar menulis dan mengembangkan nalar kritis. Idealnya ada perpustakaan di kelurahan-kelurahan yang itu bisa diakses oleh warga, petani bisa berkumpul mengembangkan pengetahuannya melalui sumber-sumber literatur buku. Di taman-taman kota bagus sekali kalau ada tempat nongkrong buat remaja sekaligus ada perpustakaannya. Di sekolah-sekolah, siswa-siswi difasilitasi untuk membentuk dan mengembangkan klub membaca (reading club). Tersedia buku-buku di kedai dan warung-warung. Perlu menciptakan budaya baca dan menulis dari mulai lingkungan keluarga. Membaca itu termasuk ibadah, sedangkan menulis adalah sedekah. (*)

SURAJI Lahir di Rembang, Agustus 1980. Minat di bidang jurnalisme dan sosial keagamaan. Sekarang aktif di komunitas Jaringan Gusdurian. Ia juga Program Manager di Yayasan Bani KH. Abdurrahman Wahid (YBAW). Menyukai kopi dan wayang kulit.

__________________________________________________________________________________________________________________________

| chief editor: sabiq carebesth | editor bahasa: marlina sophiana | galeribukujakarta@gmail.com | #MencintaiBuku

 

Continue Reading

Cerpen

Valentin Rasputin: Pelajaran Bahasa Perancis

mm

Published

on

Kejadian ini berlangsung pada tahun 1948. Perang[1] belum lama usai, orang-orang ketika itu hidup dengan penuh kesulitan dan kelaparan.

Pada  tahun itu saya pergi dari  desa ke kota untuk melanjutkan pendidikan, lantaran sekolah di desa kami hanya sampai kelas 4.[2]

Di kota saya masuk ke kelas 5. Saya belajar dengan begitu baiknya, di semua mata pelajaran saya memperoleh nilai pyatyorka,[3] kecuali bahasa Perancis.

Dengan bahasa Perancis persoalan yang terjadi pada saya adalah karena pelafalan yang buruk. Untuk membenarkan pelafalan itu, Lidia Mikhailovna, guru bahasa Perancis, kerap menjelaskan, di manakah harusnya menempatkan lidah untuk mendapatkan bunyi yang benar. Tetapi semua kelihatannya sia-sia, lidah saya tidak mematuhi saya. Dan ada sedih yang lain. Ketika saya pulang dari sekolah dan tinggal sendirian, saya berpikiran mengenai rumah di desa. Saya merindukan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan saya, juga kawan-kawan. Saya sangatlah kurus, dan ibu, ketika datang melihat, dengan penuh kesulitan mengenali saya.

Akan tetapi saya kurus bukan hanya lantaran rindu kepada rumah. Saya pada sepanjang waktu merasa kelaparan. Ibu kadang-kadang mengirimkan roti dan kentang lewat orang-orang, yang pergi ke kota, tetapi itu tidaklah banyak. Dan saya tidak mampu meminta lebih kepada ibu, karena di rumah masih ada saudara laki-laki dan saudara perempuan saya. Kira-kira ada dua kali ibu mengirimkan kepada saya 50 kopek,[4] agar saya dapat membeli susu. Saya membeli susu di tetangga.

Dan pada suatu hari, pemuda sebelah, bernama Fedka[5] bertanya kepada saya:

“Kau main uang?”

“Apa? Main uang?”

“Ya, kalau kau punya uang, mari kita pergi untuk main.”

“Tidak, saya tak punya uang.”

“Ya, kalau begitu mari kita pergi untuk melihat, bagaimana mereka bermain.”

Kami pergi menuju ke sekolah. Di belakang sekolah semua anak-anak berdiri.

“Buat apa kau bawa dia?” seorang yang paling tua di antara kami bertanya kepada Fedka.

“Tidak apa-apa, Vadik,[6] biarkan dia melihat, dia orang kita sendiri,” jawab Fedka.

“Kau akan main?” tanya Vadik kepada saya.

“Saya tidak punya uang.”

“Baiklah, kalau begitu kau lihatlah, jangan bilang kepada siapapun juga, kalau kami main di sini.”

Lebih jauh lagi tidak ada yang memperhatikan saya dan saya mulai melihat. Memahami permainan tersebut tidaklah sukar. Anak-anak menggambar kuadrat[7]di atas tanah yang tidak begitu besar dan meletakkan uang di dalam kuadrat, setiap orang 10 kopek. Kemudian mereka menjauh kira-kira dua meter dan mulai melemparkan koin. Kalau koin jatuh di dalam kuadrat, maka orang yang melempar tersebut mengambil semua, yang ada di dalam kuadrat.

Kelihatannya bagi saya, jika saya ikut main, saya juga akan mampu memenangkannya. Dan demikianlah ketika ibu mengirimkan 50 kopek kepada saya untuk kali ketiga, saya tidak pergi untuk membeli susu. Saya pergi untuk ikut bermain. Mula-mulanya saya kalah 30 kopek, kemudian menang 20 kopek, kemudian menang lagi 50 kopek. Hari tampak sudah malam, saya ingin pulang, tetapi Vadik berkata:

“Main!”

Dia melemparkan koin dan koin tersebut agak tidak sampai ke dalam kuadrat. Dan saya melihat bagaimana Vadik mendorong koin tersebut.

“Kau mendorong koinnya!” kata saya.

“Apa? Coba, kau ulangi!” teriaknya.

“Kau mendorong koinnya!”

Vadik memukul saya. Saya pun terjatuh dan dari hidung saya keluar darah.

“Kau mendorongnya, kau mendorongnya!”

Vadik memukul saya dan saya ketika itu tidak menangis. Kemudian dia meninggalkan saya sendirian. Dengan susah payah saya bangun dan pulang ke rumah.

Di pagi hari saya dengan rasa khawatir melihat diri sendiri di  dalam cermin: hidung jadi membesar, di bawah mata kiri terlihat lebam kebiru-biruan.

“Hari ini di kelas kita ada yang terluka,” kata Lidia Mikhailovna, ketika saya masuk ke dalam kelas. “Apakah yang terjadi?”

“Tidak ada yang terjadi,” jawab saya.

“Hah, tidak ada yang terjadi!” teriak Fedka secara tiba-tiba. “Kemaren dia dipukul Vadik. Mereka main uang!”

Saya tidak tahu, apa yang harus dikatakan. Kami semua tahu dengan jelas, bahwa karena main uang, orang bisa dikeluarkan dari sekolah dan Fedka mengatakan semuanya kepada Lidia Mikhailovna!

“Saya tidak bertanya kepadamu, tetapi jika kau ingin menceritakan mengenai sesuatu, mendekatlah ke papan tulis dan ceritakanlah suatu teks pelajaran.” Lidia Mikhailovna menghentikan kata-kata Fedka. Dan kepada saya, dia berkata: “Kau tunggulah setelah mata pelajaran.”

Setelah mata pelajaran Lidia Mikhailovna menghampiri saya.

“Itu benar, bahwa kau main uang?” tanyanya.

“Benar.”

“Dan bagaimana, kau menang atau kalah?”

“Menang.”

“Berapakah?”

“40 kopek.”

“Dan apa yang akan kau lakukan dengan uang itu?”

“Saya akan membeli susu.”

“Susu?” Lidia Mikhailovna dengan penuh perhatian memandangi saya. “Tetapi tetap saja tidak boleh bermain uang. Kau tahu mengapa? Kita mesti belajar bahasa Perancis. Datanglah ke rumah saya nanti malam,” katanya mengakhiri percakapan.

Begitulah pelajaran bahasa Perancis dimulai untuk saya. Hampir setiap malam saya datang ke rumah Lidia Mikhailovna untuk belajar. Dan setelah belajar, dia mengundang saya untuk makan malam. Tetapi saya seketika itu juga bangun, berkata, bahwa saya tidaklah lapar dan dengan sesegeranya saya berlari pulang. Begitulah berulang beberapa kali, dan kemudian Lidia Mikhailovna berhenti mengundang saya untuk makan.

Pada suatu hari saya diberitahu untuk datang ke sekolah mengambil bingkisan. Saya berpikir, bahwa ibu sekali lagi mengirimkan saya kentang melalui seseorang, tetapi di dalam bingkisan tersebut terdapat makaroni. Makaroni! Di manakah ibu membeli makaroni? Di desa kami makaroni tidak pernah dijual. Surat di dalam bingkisan juga tidak ada. Jika ibu yang mengirimkan bingkisan, maka ibu pasti akan menggeletakkan surat di dalamnya dan di  dalam surat tersebut ibu akan mengisahkan, dari mana kekayaan tersebut bermuasal. Artinya, ini bukanlah ibu. Saya mengambil bingkisan tersebut dan menuju kepada Lidia Mikhailovna.

“Apakah yang  kau bawa itu? Untuk apa?” tanyanya, manakala dia melihat bingkisan.

“Ibu guru yang melakukan ini, ibulah yang mengirimkan ini kepada saya,” kata saya.

“Mengapa kau berpikir, bahwa sayalah yang melakukannya?’

“Karena di desa kami makaroni tidak ada, ibu harusnya  tahu itu.”

Dengan seketika Lidia Mikhailovna tertawa: “Ya, seharusnya lebih dulu saya tahu. Dan apakah yang kalian punya di desa?”

“Kentang.”

“Kami di Ukraina memiliki apel. Di sana sekarang banyak apel. Yah, baiklah, ambillah makaroni tersebut. Kau harus banyak makan, agar bisa belajar.”

Tetapi saya sudah lari menjauh.

Di dalam perkara yang demikian, pelajaran belumlah berakhir, saya masih melanjutkan untuk pergi ke rumah Lidia Mikhailovna. Patutlah diceritakan, bahwa saya telah melakukan keberhasilan dan oleh karenanya saya belajar bahasa Perancis dengan senang hati. Mengenai bingkisan kami tidaklah lagi mengingatnya.

Suatu hari Lidia Mikhailovna berkata kepada saya: “Nah, bagaimana, kau tidak lagi bermain uang?”

“Tidak,” jawab saya.

“Dan bagaimanakah permainan tersebut? Ceritakanlah!”

“Buat ibu, untuk apakah?”

“Itu menarik! Di dalam masa kanak-kanak saya juga bermain-main. Ceritakanlah, tidak perlu takut!”

“Untuk apa saya takut!”

Saya pun menjelaskan aturan permainan kepada Lidia Mikhailovna.

“Mari kita bermain,” tiba-tiba dia menawarkan.

Saya tidak mempercayai pendengaran saya sendiri. “Ibu kan seorang guru!”

“Lantas apa? Guru – mahluk lainkah? Hanya jangan sampai direktur sekolah tahu, bahwa kita main. Nah, mari kita mulai, jika tidak tertarik, kita tidak akan main.”

“Baiklah,” kata saya dengan penuh keraguan.

Kami mulai main. Lidia Mikhailovna tidak beruntung, dan tiba-tiba saya jadi faham, bahwasanya  dia memang tidak ingin memenangkan! Dia sengaja membuang koin, agar koin tersebut sejauh-jauhnya jatuh dari titik tujuan.

“Sudahlah,” kata saya, “kalau caranya demikian saya tidak bermain. Untuk apa ibu justru mengalah?”

“Sama sekali tidak, lihatlah!” kata Lidia Mikhailovna dan dia melemparkan koin. Sekali lagi koin jatuh cukup jauh dan pada ketika itu juga saya melihat, bahwa Lidia Mikhailovna mendorong koin!

“Apa yang ibu lakukan?” teriak saya.

“Apa?”

“Buat apa ibu mendorong koinnya?”

“Tidak, koinnya memang tergeletak di sini,” dengan riang Lidia Mikhailovna menjawab.

Saya langsung tidak ingat, bahwa dia secara khusus memang mengalah pada saya. Saya memandang dengan hati-hati, agar dia tidak mengelabui saya.

Semenjak itu kami bermain hampir pada setiap sore. Sekali lagi saya memiliki uang dan sekali lagi saya membeli susu.

Akan tetapi pada suatu hari segalanya berakhir. Seperti biasanya, pada setiap sore kami bermain dan berbantahan dengan kencang.

“Apakah yang sedang terjadi di sini?” tiba-tiba saja kami mendengar suara yang berat. Di depan kami berdiri direktur sekolah.

“Saya pikir, Anda akan mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk,” dengan perlahan Lidia Mikhailovna berkata.

“Saya sudah mengetuknya, tetapi tidak seorang pun yang menjawab. Apakah yang sedang terjadi di sini? Saya punya hak untuk mengetahui sebagai direktur sekolah.”

“Kami main uang,” dengan tenang Lidia Mikhailova menjelaskan.

“Anda main uang?…Dengan murid sendiri?!”

“Benar.”

“Anda tahu, saya…saya telah dua puluh tahun mengajar di sekolah, tetapi yang demikian ini…Ini perbuatan kriminal!”

“Selang tiga hari Lidia Mikhailovna pergi. Menjelang keberangkatannya dia berkata kepada saya: “Saya akan pergi ke Ukraina, ke tempat saya sendiri. Dan kau belajarlah dengan tenang. Tidak seorang pun yang akan mengeluarkanmu dari sekolah. Di sini sayalah yang bersalah. Belajarlah.”

Dia pun pergi dan saya tidak pernah melihatnya lagi.

Pada musim dingin, selepas waktu liburan, saya menerima bingkisan. Di dalamnya ada makaroni dan tiga buah apel merah yang besar-besar. Dulu kala saya hanya melihat apel di dalam gambar-gambar, tetapi sekarang saya langsung mengerti, beginilah apel-apel itu.

 

*Biografi Valentin Rasputin

Valentin Grigorevich Rasputin (15 Maret 1937-14 Maret 2015) lahir di desa Atalanka, Rusia dan wafat di Moskow, Rusia. Valentin Rasputin menamatkan Universitas Irkutsk pada tahun 1959 dan dalam beberapa tahun beliau bekerja di surat kabar di Irkutsk dan Krasnoyarsk. Buku pertamanya “The Edge Near The Sky” dipublikasikan tahun 1966 di Irkutsk dan “Man from This World” dikeluarkan tahun 1967 di Krasnoyarsk. Pada tahun yang sama “Money for Maria” dimuat di Angara No. 4 dan pada tahun 1968 “Money for Maria” diterbitkan sebagai buku terpisah di Moskow. Karya-karyanya yang lain: The Last Term (1970), Live and Remember (1974), Farewell to Matyora (1976), You Live and Love (1982), Ivan’s daughter, Ivan’s mother (2004).

Valentin Rasputin sangat dekat dikaitkan dengan gerakan kesusastraan Soviet Pasca Perang yang disebut dengan village prose atau rural prose. Karya village prose biasanya berfokus pada kesulitan kaum tani Soviet, pada gambaran ideal tentang kehidupan desa tradisional, dan secara implisit atau eksplisit mengkritik proyek modernisasi.

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

[1] Великая Отечественная Война (Velikaya Otechestvennaya Voina) atau Great Patriotic War adalah perang  antara Rusia dan Republik-republik yang tergabung di dalam Uni Soviet (kecuali negara-negara Baltik, Georgia, Azerbaijan dan Ukraina) melawan invasi Jerman dengan aliansinya Hungaria, Italia, Rumania, Slovakia, Finlandia, dan Kroasia. Perang berlangsung dari tanggal 22 Juni 1941 sampai tanggal 9 Mei 1945

[2] Primary general education merupakan tingkatan pertama dan berlangsung  selama 4 tahun, basic general education adalah tingkatan kedua berlangsung selama 5 tahun, dari kelas 5 sampai kelas  9, dan secondary (complete) general education yang merupakan tingkatan terakhir, berlangsung selama 2 tahun, dari kelas 10 sampai kelas 11

[3] Sistem penilaian di dalam pendidikan Rusia: единица yedinitsa = 1, двойка dvoika = 2, тройка troika = 3, четвёркa chetvorka = 4 dan пятёрка pyatyorka = 5

[4] Satuan terkecil mata uang Rusia

[5] Berasal dari nama Fyodor

[6] Beberapa sumber  menyebutkan berasal dari nama Vadim

[7] Persegi

Continue Reading

Classic Prose

Trending