Connect with us

COLUMN & IDEAS

Soe Hok Gie: Riwayat Seorang Pejuang yang Sendirian

mm

Published

on

“Kita semua terdidik untuk berontak terhadap semua kemunafikan. Kawan, apa kabar Indonesia Raya?”__Soe Hok Gie, 1969.

Hampir setengah abad meninggalnya Soe Hok Gie, 16 Desemeber 1969 di Gunung Semeru. Mengenang dan belajar atas apa yang sudah dikerjakannya barangkali dapat memperlapang jalan untuk melihat situasi Indonesia hari ini, dan barangkali menemu jalan untuk keluar dari situasi krisis kultural dan politik yang tersisa hari ini.

Sikap ‘kritis’ seperti sudah dikerjakan Gie adalah usaha baik untuk melawan usaha-usaha dehumanisasi dan anti Demokrasi. Tapi siapakah sebeneanya Soe Hok Gie? Biar lah jawaban itu ada dibenak setiap kita yang mengenalnya, dalam ragam citra dan kenangan atasnya. Tapi selalu hal paling indah adalah ditempatkan pada titik yang manusiawi. Pun barangkali Gie.

Riwayat Keterasingan: yang kedinginan, yang kesepian, yang sendirian

Suatu kali Soe Hok Gie bicara dengan kakaknya, Arif Budiman, katanya:”Kadang-kadang saya merasa sangat sedih. Kalau saya bicara dengan ayahnya Si…saya merasa dia sangat menghargai saya. Malah dia mengagumi saya dalam tulisan-tulisan saya. Tetapi kalau anaknya diminta, dia pasti menolak. Terlalu besar resikonya. Orang hanya membutuhkan keberanian saya, tulisan dan kritik-kritik saya tanpa mau terlibat dengan diri saya.”

Beberapa waktu kemudian Gie mendapat surat dari kawannya di Amerika: ”Gie, seorang intelektual yang bebas adalah seorang pejuang yang sendirian, selalu. Mula-mula, kau menggulingkan suatu kekuasaan yang korup untuk menegakkan kekuasaan lain yang lebih bersih. Tapi sesudah kekuasaan baru ini berkuasa, orang seperti kau akan terasing lagi dan akan terlempar keluar dari sistem kekuasaan. Ini akan terjadi terus-menerus. Bersedialah menerima nasib ini kalau kau mau bertahan sebagai intelektual yang merdeka: sendirian, kesepian; penderitaan.” Surat itu oleh Gie lantas di tunjukan pada kakaknya, Arief Budiman. Dari wajah Gie jelas tergambar”Ya, saya siap!” kenang Arif Budiman.

Selanjutnya, dalam catatannya Arief Budiman mengisahkan, dalam suasana seperti itulah Gie meninggalkan Jakarta untuk pergi ke puncak gunung Semeru. Pekerjaan terakhir yang ia kerjakan adalah mengirim bedak dan pupur untuk wakil-wakil rakyat yang duduk diparleman yang adalah kawannya turun ke jalan sepanjang tahun 1966; agar tambah pandai bersolek dan menjilat dimuka penguasa. Suatu hal yang membuatnya tambah terasing lagi.

Ketika akhirnya Gie tercekik oleh gas beracun kawah Mahameru, jenazahnya dibungkus dalam sebuah kantung plastik; kulitnya tampak kuning pucat, matanya terpejam dan ia tampak begitu tenang.”tentu dingin dan sepi terbungkus dalam plastik itu.” kenang Arief Budiman, kaka Gie yang menjemput jenazahnya di kaki gunung Semeru.

Soe Hok Gie dan Zaman Peralihan

Sejarah ditulis oleh mereka yang menang, itulah pragraf yang menandai penulisan dan dunia kesaksian sejarah selama masa hampir 32 tahun Orde Baru. Setelah itu hampir pasti di pahami, dan bahkan sampai hari ini, seolah-olah orde baru terpisah dari orde lama, dan orde baru merupakan kekuatan sejarah yang berdiri sendiri. Imagologi sejarah seperti itu baru sekelumit dari banyak pembiasan kesaksian sejarah yang dikonstruksi oleh mereka yang menang atau berkuasa. Tetapi sudah merupakan kewajiban bagi suatu generasi untuk menggali kembali sejarah dan memungkinkan suatu pandangan kebenaran yang lain. Suatu catatan sejarah yang menjadi “kesaksian bagi mereka yang menjadi korban sejarah, bukan aktor utama sejarah,” itulah nasihat Albert Camus.

Fase transisi di Indonesia, baik setelah Revolusi Kemerdekaan 1945 maupun reformasi 1998 menyiskan suatu pekerjaan lain diantara pekerjaan yang mendesak dan banyak-reformasi politik, reformasi kebangsaan, reformasi kelembagaan Negara, demokratisasi ekonomi dan politik-ada tugas lain yang penting yang mungkin menolong fase transisi yang sampai hari ini belum bisa dikatakan berhasil terlewati. Yang dimaksudkan adalah penamabahan pengertian tentang sejarah politik selama hamper 70 tahun terakhir ini, karena di situ bangsa ini mungkin mencari sumber kesulitan sekarang disamping, mungkin menemukan pelajaran yang dapat melapangkan sedikit jalan keluar dari keadaan krisis sekarang ini. Bukankah yang terpenting dari setiap perubahan adalah lahirnya kesadaran historis pada masayarakatnya?
*

Catatan alternatif di luar meanstream, atau grand narasi catatan sejarah kaum penguasa yang menjadi kewajiban suatu generasi kiranya sudah dilakukan Soe Hok Gie sepanjang hidupnya sebagai intelektual yang idealis. Melalui catan-catatannya di berbagai media, Gie menyuarakan suara kritisnya, yang sekaligus menjadi kesaksian (sejarah) dari anak generasi atas periode sulit zaman peralihan Orde Lama-Orde Baru.

Sebagai suatu kesaksian atas zamannya, catatan Soe Hok Gie sangat kental dengan subjektifisme,(mengingat Gie adalah seorang intelektual non partisan). Suatu subjektifitas yang berada pada posisi kontroversial, maka sudah barang tentu pula mendulang resiko untuk disetujui, di bantah atau pun ditolak. Namun terlepas dari ukuran untuk diterima atau di tolak, bagaimanapun Gie sudah memotofasi kita untuk selalu menumbuhkan kesegaan berpikir, dan menyikapi gejala-gejala anti Demokrasi dan dehumanisasi secara kritis.

Makam Soe Hok Gie di Taman Prasasti, Jakarta Pusat

Tahun 1967-1969
Tahun antara 1967-1969 adalah tahun transisi, zaman peralihan pada tingkat elit kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru. Lazim pada situasi transisional melahirkan pemikiran-pemikiran yang kritis dan radikal. Itu pula yang hampir menjadi ruh dan nafas catatan Gie. Tulisan-tulisan Soe Hok Gie sangat tajam dan menggigit, dan seringkali sinis. Suatu kesinisan yang wajar yang sekaligus menjadi penanda konsistensi sikap Gie pada kemanusian dan idealismenya sebagai intelektual. Maka terasa wajar bila membaca catatan Soe Hok Gie rasa kemanusiaanya seperti dirobek-robek.

Semua tulisan dalam catatan Soe Hok Gie sangat kental beraroma keprihatinan atas kemanusian Indonesia di zaman itu. Menunjukan suatu idealisme kaum muda, beserta pula frustasi yang melingkupi zamannya. Dalam catatan yang yang berjudul “Sebuah Generasi yang Kecewa” dan “Generasi yang lahir setelah tahun empat lima.” misalnya, Gie memberitahu kita suatu ironi zaman, ketragisan suatu “Idealisme” saat harus berhadapan dengan culasnya kekuasaan. Bagaimana idealisme setinggi langit menjadi sia-sia belaka, ketika harus menghadapi verbalisme pejabat, kepalsuan dan kedegilan. Pemuda-pemuda Indoensia yang penuh dengan Idealisme akhirnya hanya punya dua pilihan. Yang pertama tetap bertahan dengan idealisme mereka, menjadi manusia-manusia yang non-kompromistis. Dan orang-orang dengan aneh dan kasihan akan melihat mereka sambil geleng-geleng kepala: “Dia pandai dan Jujur, tetapi ssayangnya kakinya tidak menginjak tanah.” Atau dia kompromi dengan situasi yang baru. Lupakan idealisme dan ikut arus, bergabung dengan group yang kuat (Partai, ormas, ABRI, klik dan lain-lainnya) dan belajarlah teknik memfitnah dan menjilat. (Hlm.80) itulah sekelumit penggambaran Gie atas angkatannya dan zamannya beserta ironi dan tragiknya.

*
Mengenang Gie dan catatannya akan senantiasa memberikan ruang reflektif, dan kesempatan untuk melakukan evaluasi dan kritisisme terhadap situasi yang mendekati gejala anti Demokrasi dan de humanisasi pada zaman kita sekarang. Banyak potret penderitaan masyarakat kecil yang terus terjadi bahkan tak kunjung usai sesudah hampir 12 tahun lebih reformasi; demokrasi yang mekanik dan rakyat yang gagap atasnya, kongsi dan aviliasi kelompok elit yang hanya mementingkan kemakmuran sendiri, penembakan petani, penganiayaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tanpa ada komitmen keberpihakan dan perlindungan riil dari negara, kelaparan dan krisis pangan sampai perampasan sumberdaya alam yang tak jarang memakan tumbal nyawa.

Dalam konteks itulah sesungguhnya situasi kebangsaan Indonesia kini sebenaranya masih belum lagi banyak beranjak dari suatu krisis kepercayaan dan krisis kepemimpinan sejak fase transisi pasca Mei 1998. Bangsa ini rupanya masih linglung, dalam suatu kondisi  populivacante: berbangsa tanpa panutan yang bisa dicontoh, yang seharusnya diberikan mereka yang berada di puncak-puncak kekuasaan. Belum lagi kini kita terbelenggu oleh krisis social akibat merebaknya sikap-sikap intoleransi.

Krisis legitimasi yang menurut Dr. Kuntowijoyo dalam kata pengantar untuk salah satu Buku Soe Hok Gie, terjadi tatkala perilaku yang ada di tingkat kekuasaan-yaitu kekuatan-kekuatan yang secara menyeluruh mendominasi ekonomi, politik, jenjang sosial dan produksi kultural tak mampu lagi jadi panutan masayarakat. Situasi yang pernah dicatat Gie yang menghadapkan siapapun pada pertanyaan klasik,”Di Indonesia hanya ada dua pilihan, menjadi idealis atau apatis. Dan saya sudah lama memutuskan bahwa saya akan menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya.” (LP3S, 1983 hal. 221) demikianlah ketegasan sikap Gie, menjadi idealis sempai batas sejauh-jauhnya. Dan Gie sudah membuktikannya dalam catatan-catatannya, dalam keterasingan dan kesendiriannya, sampai kematiannya!(*)

Sabiq Carebesth, editor Galeri Buku Jakarta. Twitter @sabiqcarebesth

 

Continue Reading
Advertisement

COLUMN & IDEAS

Emha, Satra dan Pengakuan

mm

Published

on

Oleh Bandung Mawardi *)

Semula, orang-orang mengenali Emha Ainun Nadjib di sastra. Para pembaca majalah Horison masa lalu sering membaca puisi dan cerpen gubahan Emha Ainun Nadjib. Majalah itu tercatat dalam biografi tokoh telah menua. Kini, ia masih lantang saat omong dan sregep menulis. Leren atau tamat tak tercantum dalam “kamus” milik Emha Ainun Nadjib. Di toko buku, kita memastikan puluhan buku Emha Ainun Nadjib menggoda orang untuk membeli dan membaca. Buku lama cetak ulang. Buku baru pun terbit. Di situ, kita membaca nostalgia dan kecenderungan mutakhir ibadah keaksaraan Emha Ainun Nadjib dengan pelbagai ke-mbeling-an dan kesantunan.



Muhammad Ainun Nadjib (born 27 May 1953), best known as Emha Ainun Nadjib or Cak Nun, is an Indonesian poet, essayist, and humanist. Born in JombangEast Java, Nadjib began writing poetry while living in Yogyakarta, publishing his first collection in 1976. He became one of the city’s predominant poets by the late 1980s, and by then had also began writing essays. He is the leader of the Kiai Kanjeng group, which stages dramas and musical performances on religious themes. Early poems by Nadjib have elements of social criticism. However, more prominent are Islamic values, variously described as santri or Sufi. Islam is also a common subject for his essays. His writings have taken a variety of forms, including poetry, essays, novels, and short stories. (Wikipedia)

Keranjingan bersastra memiliki kaitan dengan Horison, sebelum Emha Ainun Nadjib sering menulis kolom di pelbagai koran dan majalah. Kita ingin menghormati Emha Ainun Nadjib saat ulang tahun dengan mengingat babak pergulatan dan pergaulan sastra masa lalu. Di Horison edisi Oktober 1991, kita simak hasil wawancara bersama Emha Ainun Nadjib. Ia tak melulu di sastra. Emha Ainun Nadjib terbukti mumpuni pula di teater dan musik. Ia rajin berceramah atau membuat obrolan-obrolan bertema agama di pelbagai tempat. Sastra mungkin masih pijakan atau titik mula.

Emha Ainun Nadjib menjadi “manusia seribu acara”. Sibuk! Ia kangen bersastra tapi harus berhitung dengan segala peristiwa dan perjumpaan manusia di keseharian. Ia mengaku ingin “menjadi sastrawan kembali”. Sulit! Kita simak perkataan Emha Ainun Nadjib berlatar 1980-an dan 1990-an: “Tapi sebenarnya bertahun-tahun saya hampir tak punya peluang bersastra-sastra ria. Artinya, ragam kegiatan saya yang ‘disusun’ oleh orang banyak kurang toleran terhadap berlangsungnya metabolisme kreativitas sastra saya.” Ia tak mengeluh atau pamer sesalan telah berada dan mengalami pelbagai peristiwa di luar sastra. Sekian kegiatan memang semakin jarang berkategori sastra. Emha Ainun Nadjib telah milik umat beragam tema, tak cuma sastra. Orang-orang memang mulai terpikat dan menganggap Emha Ainun Nadjib itu kolomnis tanpa tanding. Tulisan-tulisan menggairahkan opini publik bersikap atas keadaan aktual. Sastra masih disinggung tapi menipis.

Tarik-ulur dalam menempatkan diri untuk pergulatan keaksaraan dan omongan masa 1990-an memicu dilema. Emha Ainun Nadjib memilih berkelakar: “Yang menyangkut sastra adalah keinginan saya agar kelak saya sanggup merepresentasikannya melalui bahasa sastra. Tapi susah, ya? Sastrawan itu pasti kekasih gelap Tuhan, diizinkan dilalui oleh keindahan-Nya.” Sekian orang tetap membaca puisi-puisi gubahan Emha Ainun Nadjib terbit menjadi buku berjudul 99 Untuk TuhankuSyair Lautan JilbabSeribu Masjid Satu JumlahnyaCahaya Maha Cahaya, dan lain-lain. Di mata kalangan sastra, Emha Ainun Nadjib itu pujangga religius dengan memberi bobot kritik sosial dan sikap-sikap kemanusiaan. Ia tak perlu dipaksa masuk dalam kategori menghasilkan sastra sufistik, sastra profetik, atau sastra transendental.

Pada masa 1970-an dan 1980-an, diskusi sastra dan penulisan kritik sastra menempatkan para pujangga dan buku puisi dalam kategori-kategori mengarah ke keagamaan. Publik membaca dan memberi predikat pada Abdul Hadi WM, Taufiq Ismail, Kuntowijoyo, Emha Ainun Nadjib, Sutardji Calzoum Bachri, Zawawi Imron, dan lain-lain. Di pelbagai perbincangan sastra, nama Emha Ainun Nadjib mungkin disebut tapi ia perlahan tak terlalu “terpandang” dalam gejolak kesusastraan Indonesia. “Saya bukan apa-apa, belum ‘seseorang’ dalam dunia sastra Indonesia,” pengakuan Emha Ainun Nadjib.

Pendapat atau pengalaman bersastra Emha Ainun Nadjib selama sekian tahun terbit menjadi buku berjudul Sastra yang Membebaskan (1984). Buku kecil bekertas buram. Kita membaca (lagi) sebagai pembukti ingatan masa keranjingan bersastra, sebelum Emha Ainun Nadjib menjadi “manusia seribu peristiwa” dan harus “merebut” kewaktuan untuk sastra di masa 1990-an. Tulisan-tulisan dokumentatif dan menjelaskan posisi Emha Ainun Nadjib sebagai penggubah atau pengamat sastra.

Emha Ainun Nadjib menerangkan: “Sejak awal 1982, kita menyaksikan berbagai gugatan agar sastra lebih menunjukkan peran sertanya dalam proses perubahan sosial. Ini jelas bukan sekadar gejala kesusastraan, tapi bersumber pada kompleksitas kegelisahan sosial yang lebih luas. Meskipun batang tubuhnya berupa pemikiran sastra, namun ia adalah ‘saudara kembar’ dari sebutlah meluasnya kesadaran akan keperluan sosiologi dalam banyak ilmu-ilmu pilah modern, munculnya antitesa terhadap tradisi arsitektur modern, tumbuhnya solidaritas-solidaritas dalam kehidupan beragama, atau makin banyak diselenggarakannya kegiatan yang menegur-sapakan berbagai spesialisasi kehidupan.” Sastra “diwajibkan” terbuka, tak sendirian atau dalam pengistimewaan tanpa jamahan atau keterjalinan dengan hal-hal lain.  

Pada 2020, Emha masih menulis beragam tema. Wabah pasti dituliskan dengan kelenturan sikap dan acuan. Orang-orang merasa berhak memberi penghormatan meski tanpa acara besar dan menghebohkan. Situasi tak memungkinkan, Emha Ainun Nadjib mungkin tak menginginkan. Di hadapan kita, Emha Ainun Nadjib telah berubah menandai tua. Wajah itu masih ganteng dan berwibawa dengan sekian kerut. Ketuaan mustahil menghentikan ibadah menulis dan membuat obrolan-obrolan di seantero Indonesia. Ia belum letih. Emha Ainun Nadjib belum ringkih.

Kita mengingat masa muda bersatra di Jogjakarta melalui pengakuan Emha Ainun Nadjib: “Kompetisi yang ketat, suatu perjalanan penuh api, hidup koyak sekolah terbengkalai, hingga akhirnya tiba di sampai ke sampai, meskipun tak akan pernah selesai…. Di Pelopor Yogya ketika itu, suatu hari, puisiku tiba-tiba telah terpasang di ruang ‘Sabana’, suatu tempat tinggi yang di perasaanku waktu itu bagaikan di Arsy. Sesudah membeli sebiji koran itu rasanya ingin aku berlari ke setiap jakan dan gang-gang di kampung-kampung seluruh Jogjakarta untuk melaporkan puisiku.” Kegirangan seorang muda ingin mendapat tempat di sastra, setelah tekun belajar dan mendapat pengasuhan dari Umbu Landu Paranggi. Ia merasa sah sebagai pujangga.

Pulang ke Jombang, Emha Ainun Nadjib mengumumkan ke ibu mengenai puisi di Pelopor Yogya. Puisi tak setinggi pemaknaan bagi ibu dan keluarga. Emha Ainun Nadjib terkejut melakukan kesalahan dugaan dan pengukuran. Ia pun menceritakan pada kita: “Ibuku sama sekali tak terkejut. Bahkan tak sedikit pun ada perubahan di roman mukanya. Meskipun pancaran kasih sayangnya tak pernah berhenti mengalir, tapi aku tahu betul ‘Sabana’ itu tak berarti sama sekali bagi alam hidup pribadi ibuku. Segera sesudah itu aku pun makin melihat juga bahwa semua sahabatku di desa, orang-orang tua, seluruh anggota keluargaku, tidak bergeming oleh pameran itu. Mereka asing.” Emha Ainun Nadjib mulai berhitung ulang: diri, puisi, keluarga, agama, Indonesia, dan lain-lain. Puluhan tahun lalu, ia telanjur menjadi pujangga. Kini, kita tetap mengakui ia adalah pujangga, memberi puisi-puisi di arus penginsafan dan kesadaran mengarah ke religiusitas dan kemanusiaan. Begitu. (*)     

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Mewarisi Buku

mm

Published

on

Sharjah Children’s Book Illustration Exhibition / Getty Image / https://publishingperspectives.com/

Oleh Setyaningsih—Esais, penulis buku Kitab Cerita (2019)

Ada yang agak janggal. Romantisasi bacaan anak yang dipermasalahkan oleh Anindita S. Thayf dalam esai “Bacaan Anak dan Kenangan” di rubrik Saujana, Jawa Pos, 12 Januari 2020, ternyata berawal dari rebutan saluran televisi antara anak dan ibu di ruang tunggu klinik gigi. Anak merengek karena tidak suka tayangan Laptop Si Unyil yang tokoh bonekanya jelek dan mulutnya tidak bergerak. Ibu menolak mengganti saluran dengan alasan tayangan inilah yang ditonton ibu waktu kecil. Dari kejadian ini, Anindita melihat bahwa orangtua memaksakan pilihan pada anak, termasuk pilihan buku. Orangtua merasa berhak “menjejalkan” apa yang dulu dibaca, masih “harus” dibaca anaknya saat ini, padahal zaman berubah. 

Anidita tidak jeli membedakan Unyil bagi ibu yang sangat mungkin hadir dalam film seri Si Unyil, ikonciptaan Suyadi atau Pak Raden dengan Unyil di acara Laptop Si Unyil yang hanya menjadi semacam pembawa acara. Unyil tidak hadir dalam bentuk cerita tapi ikon telah beralih peran. Anindita juga hanya mencontohkan sedikit buku “warisan”, seperti Lima Sekawan dan Trio Detektif (tanpa menyebutkan nama penulis) dan novel garapan Lewis Carol atau Astrid Lindgren serta dongeng H.C. Andersen (tanpa mencontohkan atau menyebut judul cerita). Tapi suatu kenyataan lumrah memang bahwa di ruang-ruang anak berada, buku masih jarang dipilih sebagai kejutan, hadiah, teman di kala menunggu.   

Saya teringat kejadian merayakan Bulan Bahasa di PAUD Tenera, Bengkulu Utara, pada Oktober 2017. Suatu pagi, anak-anak berkumpul di aula bundar yang terang. Saya dan teman-teman menyiapkan buku untuk dibacakan kepada anak-anak. Kami memilih buku Seribu Kucing untuk Kakek garapan Suyadi atau Pak Raden, diterbitkan ulang oleh penerbit Noura pada 2017. Edisi awal buku diterbitkan oleh Djambatan pada 1974. Jelas ada rentang waktu yang jauh dari kelahiran buku dan anak-anak PAUD Tenera. Mereka pasti tidak mengenal Pak Raden berkumis dan bersuara khas juga. 

Justru cerita disambut dengan mata lugu tapi berbinar. Ada anak menyimak dengan serius sampai melongo, tertawa di bagian yang lucu, dan tentu anak-anak biasanya menyukai kucing. Bukan karena usia cerita sudah tua, cerita sanggup membawa apa yang dekat dengan anak meski penulisnya tiada dan waktu terus maju. Meski ilustrasi garapan Pak Raden tampil hitam putih, goresannya tegas dan menyiratkan setiap adegan dengan pas. Cerita yang awet mampu membawa apa yang pantas disampaikan ke anak-anak: kejutan, kedekatan, kelucuan, penuturan tanpa beban moralitas.

Bukan Mewarisi Persepsi

Dalam jagat perbukuan, ada cerita-cerita yang seolah ditakdirkan diwariskan. Hal ini, cukup sering menyangkut biografi orangtua sebagai pembaca di masa kanak ataupun tidak lagi kanak. Bahkan ada kesengajaan orangtua merekomendasikan ke penerbit, seperti disampaikan oleh penerbit buku bacaan anak berjudul Gembira garapan A.S. Maxwell yang pada 1977 mengalami cetak ulang kesembilan, “Generasi yang terdahulu telah dewasa, namun masih banyak dari antara mereka yang mengingat buku ini dan kisah-kisah yang terdapat di dalamnya. Dari antara mereka itu banyak yang sudah berkeluarga dan ingin mengisahkan apa yang telah dibaca mereka puluhan tahun yang lalu [….] Mereka menganjurkan supaya buku ini dicetak kembali dan anak-anak mereka dapat membacanya.” Buku Gembira memuat cerita tentang dunia anak, keluarga, binatang, lagu, alat transportasi, cita-cita, dan lain-lain. Buku diminta lahir kembali untuk mengiringi anak-anak bertumbuh. Sangat mungkin, orangtua yang pernah anak ini dulu dikenalkan dengan buku Gembira juga lewat “kenangan” orangtua dan merasa tidak terjejali.

Para pembaca Indonesia tentu turut menjadi masyarakat buku panjang umur. Buku terus dirayakan kelahirannya meski penulis tidak lagi di dunia. Buku disambut pembaca terus berganti. Kita masih bisa mendapati novel ala A Little Princess (2015) yang terbit pertama pada 1904 oleh Frances Hodgson Burnett atau Anne of Green Gables (2017) garapan Lucy Maud Montgomery yang pertama ditulis pada 1908. Pippi Si Kaus Kaki Panjang (2018) diterbitkan pada 1945 oleh Astrid Lindgren masih tetap mewakili naluri anak-anak untuk bebas, usil, dan banyak ide. Cerita predikat klasik masih tetap terbaca hari ini.

Dan dalam biografi keluarga, orangtua memang berkuasa atas politik belanja karena merekalah yang punya modal secara ekonomi. Neil Postman (2009) mengatakan buku menawarkan misteri-misteri kognitif. Sejak penemuan mesin cetak di Barat dan juga berarti penemuan atau penciptaan sikap khusus atas masa kanak, buku menjadi salah satu media penting pengajaran. Anak adalah sosok yang “berbeda” dari orang dewasa, maka ada kebutuhan tertentu disiapkan. Ide tentang masa kanak memang diawali oleh kelas menengah yang terutama memiliki modal ekonomi dan menjadikan mereka terhormat secara sosial. Dikatakan, “Dalam mengatakan apa yang kita harapkan dari seorang anak nantinya, kita mengatakan siapa kita.” Sedang yang terjadi saat ini, kuasa membelikan buku masih diutamakan untuk buku pelajaran atau buku tulis.

Orangtua adalah penjejal buku wajib administratif bagi anak-anaknya. Sering asupan gizi buku imajinatif tidak diberikan karena ada orangtua benar-benar tidak tahu apa yang akan dirayukan kepada anak. Kenangan saja tidak punya lho! Negara pun turut campur mengadakan hal-hal yang semakin meremehkan pengalaman orangtua berbuku, entah gerakan 10 menit membacakan buku, mendongeng, atau Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku). Orangtua harus diperintah-perintah terus agar sadar menjadi masyarakat lumrah huruf.

Kenangan memang bisa saja sentimental dalam pewarisan cerita. Yang menjadi kunci, mewariskan kenangan buku bukan berarti mewariskan persepsi orangtua atas buku. Ini bukan soal bagus-tidak bagus dan anak harus menyepakatinya. Anak pasti memiliki cara tanggap berbeda dari orangtua atas apa yang dulu dibaca orangtua. Masih ada orangtua yang takut jika anak berani berpendapat berbeda.

Saya tentu menyepakati bahwa “anak-anak yang paling tahu cara menemukan kesenangan murni dalam sebuah buku.” Tapi untuk sampai pada kesenangan murni itu, anak juga perlu digoda, diajak bicara, diajak berdialog-belanja di toko buku atau pasar buku bekas, dan diajak penasaran. Orangtua mesti berusaha menjadi penggoda buku berbekal kenangan-kenangan di rasa dan kepala. (*)  

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Terbang dan Hinggap

mm

Published

on

Bandung Mawardi, Esais. Penulis Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Hanna Heath, tokoh dalam novel berjudul People of the Book (2015) gubahan Geraldine Brooks. Pakar buku kuno atau ia memilih sebutan konservator untuk buku-buku berusia ratusan tahun bakal bergulat dengan seribu penasaran saat mengurusi naskah. Sekian hal perlahan terjawab tapi ada sisa-sisa sulit terjawab. Mustahil. Kerja di bentangan waktu tanpa ada tanda-tanda jelas untuk selesai atau sampai. Sekian hal dipelajari dan dipahami. Sekian hal harus diajukan ke orang-orang memiliki kepakaran. Di hadapan buku kuno, ia bukan pelamun tapi pencari jawaban-jawaban secuil, setengah, utuh, atau berantakan.

Ia pun wajib mengerti binatang dan geografi. Pada kitab-kitab kuno, binatang adalah unsur, tak cuma kulit-penjilidan. Keberadaan naskah atau kitab terbaca dan tersimpan memungkinkan disinggahi binatang-binatang kecil: tampak atau sulit terlihat mata. Hal-hal mengejutkan lazim mengiringi kesejarahan naskah kuno, melintasi waktu dan berpindah tempat. Benda itu disentuh, dipegang, dibuka sekian orang memiliki beragam misi. Cara membaca kitab dan posisi raga pembaca di suatu tempat turut menentukan “keterlibatan” atau “kehadiran” sekian binatang. Hanna Heath memastikan ada sekian binatang. Kutu buku itu tentu.

Pada suatu penasaran, Hanna Heath menemui Amalie Sutter. Tokoh tekun melakukan studi biologi evolusioner. Kedatangan Hanna Heath untuk “pemastian” sisa atau jejak binatang terdapat di naskah kuno. Mereka berada di laboratorium dan bercakap. Imajinasi menggenapi temuan-temuan melalui tata cara ilmiah. Keseriusan mengarah ke kupu-kupu meski “sejenak” diragukan. Laci ditarik Amalie Sutter dipandangi bersama Hanna Heath. Di situ, tatanan rapi kupu-kupu “dikekalkan”. Geraldine Brooks membahasakan: “Kupu-kupu itu cantik dalam cara yang halus dan lirih.” Dua orang memandangi kupu-kupu di raihan jawaban, melampaui takjub dan pengetahuan sudah termiliki.

Amalie berkata: “Bukan kupu-kupu paling semarak di dunia, dari segi apa pun. Tapi digandrungi kolektor. Mungkin, karena mendapatkannya harus mendaki gunung dulu.” Kupu-kupu itu hidup di pegunungan tinggi, di tempat terjal berbatu. Hanna Heath belum pasti menerima itu jawaban untuk jejak binatang di naskah kuno. Arah ke pembuktian terdengar dari omongan Amalie: “Naskahmu itu, Hanna, apakah pernah menempuh perjalanan ke Pegunungan Alpen?” Jawaban tak mudah. Kitab atau naskah kuno biasa bergerak ke pelbagai tempat di hitungan waktu ratusan tahun dan peristiwa-peristiwa sebagai album sejarah. Kita tak mengikuti ikhtiar mereka menjawab dan membuktikan. Kita menandai saja ada ingatan buku dan kupu-kupu di Eropa. Novel itu rumit. Kita membaca perlahan tanpa memiliki jeda lama untuk berimajinasi dan “memandangi” kupu-kupu. Edisi memberi pujian “tertutupi” oleh sekian persekongkolan berpusat pada naskah kuno.

Kita tinggalkan kupu-kupu di novel gubahan peraih Pulitzer Prize. Kita ingin bersahaja dengan menikmati kupu-kupu di Indonesia. Menikmati dalam puisi. Kupu-kupu itu berada di buku berjudul Batu Ibu (2019) garapan Warih Wisatsana. Di puisi berjudul “Tarianmu”, kita di alur imajinasi kupu-kupu: Bayangkan/ panggung ini sebuah taman/ seekor ulat pucat/ menjelma kupu-kupu/ menjelma dirimu/ melayang anggun seringan angin. Kupu-kupu itu metafora. Pembaca memasuki cerita tubuh dan tari. Pengimajinasian ke babak-babak perubahan, menempatkan kupu-kupu pada “kemenjadian” dan “ibarat”.

Pada dua bait menjelang akhir puisi, terbaca: Kelak semusim semi lagi/ kupu-kupu akan menghampiri/ setelah letih merenungi/ wangi diri yang pergi// Kupu-kupu melepas sayapnya/ seolah ruh pasrah/ berpisah dari tubuh/ melayang bening di udara/ menyentuh luluh mula cahaya/ menyempurnakan yang mahatiada. Puisi ingin bermisteri, menuntun pembaca ke lakon manusia dan tari dalam kesakralan dan penafsiran raga. Puisi bersahaja, mengisahkan kupu-kupu di “tarian”. Kupu-kupu bukan terpokok tapi menetapkan petunjuk. Kita tentu tak cukup dengan sebuah puisi bila ingin mengerti kupu-kupu.

Pada masa lalu, Nusantara menjadi tempat pilihan bagi orang-orang asing mencari dan menulis kupu-kupu. Wallace datang dari negara jauh. Pengembaraan ke hutan-hutan, menemu tetumbuhan dan binatang. Ia terpukau kupu-kupu. Ia melihat sebagai “ilmuwan”, bukan pujangga. Wallace memiliki pengalaman membaca sastra, termasuk novel berjudul Max Havelaar. Kedatangan ke Nusantara tak bermaksud menggubah puisi atau novel tapi mengerti “asal” dan album “sejarah” terbaca dari flora-fauna. Ia memilih menulis surat-surat dikirimkan ke Eropa. Ia pun mengirim surat ke Darwin. Wallace menulis buku “pengetahuan” dalam bentuk laporan berselera sastra. Kita “ahli waris” diperkenankan menengok Nusantara masa lalu dengan membaca halaman-halaman tentang kupu-kupu. Binatang tercatat dan terjelaskan dalam buku berjudul Kepulauan Nusantara: Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam (Komunoitas Bambu, 2019) susunan Alfred Russel Wallace.

Pada pengembaraan di Sumatra, 1861-1862, ia bahagia bertemu kupu-kupu. Di Lobo Raman, ia salah jadwal kunjungan tapi ditebus dengan pencarian dan pencatatan kupu-kupu. Wallace menulis: “Saya banyak menemukan kupu-kupu yang langka dan indah.” Lekaslah ia mencatat rinci, bukan menata kata menjadi puisi! Kallima paralekta, jenis kupu-kupu diinginkan tapi sulit ditangkap. Ia telah mendapat sekian kupu-kupu tapi ada kegagalan mendapat kupu-kupu “dikagumi”. Pengakuan Wallace: “Saya sering mengendap-endap ke tempat persembunyiannya, tetapi ia kemudian akan terbang dan menghilang di tempat yang sama. Beberapa kali saya hanya cukup beruntung bisa melihat dengan saksama di tempat kupu-kupu itu hinggap.” Ia mungkin sebal dan gemas. Memandang kupu-kupu, peristiwa masih mungkin membahagiakan. Kita tak hidup di masa lalu. Wallace mengajak kita turut di “pengalaman” memasuki hutan-hutan memiliki khazanah kupu-kupu mustahil semua tercatat dan dikoleksi untuk dipamerkan ke mata Eropa. Di Sulawesi, Wallace juga sibuk berurusan dengan kupu-kupu. Kita mengandaikan Wallace adalah novelis. Kita bakal mendapat warisan novel “menggetarkan”, bercerita kupu-kupu seabad lalu.

Kini, kita menantikan saja ada para pengarang Indonesia menekuni buku garapan Wallace dan melakukan kunjungan-kunjungan ke pelbagai tempat. Mereka melacak dan melakukan pembuktian mengacu data-data Wallace. Pengalaman dan pengembaraan bertema kupu-kupu mungkin menjadi seratusan puisi dan novel-novel penting. Gubahan sastra itu “bekal” melakukan penginsafan atas perdagangan kupu-kupu. Di lagu, kupu-kupu itu masih merdu untuk mengasuh bocah: “Kupu-kupu yang lucu, ke mana engkau terbang…” Kini, kita masih kekurangan puisi, cerita pendek, dan novel untuk bercerita nasib kupu-kupu di Indonesia, dari masa ke masa.

Kita membaca National Geographic-Indonesia edisi September 2018, memiliki judul utama: “Penangkapan Kupu-kupu: Keruhnya Perdagangan si Sayap Elok Nusantara.” Matthew Teague menulis laporan kemolekan kupu-kupu di Sulawesi dan nasib sial ditanggung kupu-kupu akibat perdagangan demi nafkah. Ia mengingatkan: “Peraturan Indonesia yang mengatur penangkapan, penjualan, dan ekspor kupu-kupu, rumit dan penuh pengecualian. Hal ini memungkinkan spesies yang terancam punah dibiakkan untuk kepentingan komersial, untuk dibeli dan dijual dalam keadaan tertentu.” Kupu-kupu itu incaran para kolektor di pelbagai negara. Para pengarang di Indonesia belum merasa perlu menjadikan kupu-kupu adalah puisi atau cerita. Mereka belum mau menjadi “kolektor” menghidupkan, tandingan dari pamrih komersial.

Sejak ratusan tahun lalu, orang-orang Eropa bersaing memiliki predikat sebagai kolektor kupu-kupu. Orang-orang Jepang juga memiliki perhatian serius mengoleksi kupu-kupu. Pasar kupu-kupu terus membesar dan bergerak menjauh dari “pesona-pesona” masa lalu saat kupu-kupu itu “mengindahkan” Nusantara. Kita juga diingatkan dengan ketekunan Vladimir Nabokov dalam “berburu” kupu-kupu meski tak menghasilkan novel memukau terbaca oleh umat sastra di dunia. Kita menunggu saja kemunculan pengarang Indonesia serius bercerita kupu-kupu.  Begitu.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending