Connect with us
Sinar Bulan di Atas Kolam Sinar Bulan di Atas Kolam

Cerpen

Sinar Bulan di Atas Kolam

mm

Published

on

Yasunari Kawabata*

SUDAH agak lama juga datangnya pikiran pada Kyoko untuk memperlihatkan kebun sayurannya pada suaminya, dengan perantara cermin-tangan. Dengan demikian ia membuka bagi suaminya, yang sudah lama sakit, pintu gerbang suatu dunia yang telah hilang baginya. Cermin-tangan itu adalah sebagian dari hadiah perkawinannya. Baik gagang maupun bingkai cermin yang tidak begitu besar itu terbuat dari kayu murbei.

Cermin tersebut selalu mengingatkan betapa malunya ia dulu pada tahun-tehun permulaan perkawinan mereka. Mula-mula ia mencoba melihat melalui cermin itu sanggulnya di bagian belakang kepala, dan akibatnya lengan kimononya yang lebar turun ke bawah, sehingga pangkal lengannya tersingkap seluruhnya. Ia lalu tersipu-sipu dan yang lebih hebat lagi, menurutnya, adalah ketika ia keluar dari pemandian dan suaminya melalui cermin itu mengangumi kuduknya dari segala sudut.

“Benar-benar kau ini tidak cekatan sekali!” kata suaminya sambil tertawa dan merenggut cermin itu dari tangannya. “Mari, biar aku yang memegangnya.”

Sebenarnya Kyoko bukannya tidak cekatan, tetapi ia menjadi gugup bila suaminya  memperhatikan dia sampai ke detail-detail seperti itu.

Peristiwa itu adalah kenangan lama, tetapi belum begitu lama hingga kayu cermin itu menjadi usang. Selama perang, cermin itu tersimpan saja di laci, karena menurut Kyoko pada masa itu bukanlah waktu untuk mempercantik diri. Mereka harus mengungsi ke luar kota dan kemudian suaminya jatuh sakit, sehingga sewaktu ia mendapat ide untuk memperlihatkan kebun sayurnya melalui cermin itu, kaca cermin sudah agak tua dan pinggirnya kotor oleh gincu yang usang dan bedak. Tetapi proses penuaan itu hanya terjadi setempat saja dan juga tidak demikian buruk hingga tak kelihatan lagi gambar-gambarnya; karena itulah Kyoko tak begitu memperhatikannya. Tetapi suaminya, dengan perasaan gugup seorang cacat yang tak punya kerjaan, selalu menggosok-gosok cermin itu. Kadang-kadang Kyoko dihinggapi perasaan, bahwa dengan jalan  demikian suaminya sedang menggosokan hasil tuberkel ke dalam cermin tersebut. Bila Kyoko mengosokkan minyak rambut yang sengit baunya pada rambut suaminya, maka suaminya kadang-kadang mengusap-usap rambutnya terlebih dulu dengan tangan dan kemudian cermin itu. Suaminya tak memperkenankan cermin itu dibawa oleh Kyoko, walaupun hanya untuk sekejap. Dengan demikian rangka kayu murbeinya menjadi suram tetapi kacanya sendiri tetap mengkilap.

Sewaktu Kyoko kawin untuk kedua kalinya, gagang cermin itu dibawanya. Tetapi kacanya dimasukkan ke peti mati suaminya sewaktu pembakaran mayat. Pada gagang cermin ia masukkan kaca cermin yang baru dan diberinya pinggiran yang berukir. Mengenai hal ini tak pernah ia bicarakan dengan suaminya yang kedua.

Karena tangan-tangan orang mati, menurut kebiasaan lama—dengan jari-jari bersusun—harus dilipatkan di atas dada, maka cermin itu tak dapat ditaruhnya di dalam tangan suaminya. Dengan demikian cermin itu ditempatkan di bawah tangannya, di atas dada. Ia pikir; kau selalu menderita sakit di dadamu, karena itu kuharap cermin ini tidak memberatkanmu. Karena itu, beberapa saat kemudian cermin itu ia geser sedikit ke bawah hingga di atas perut. Kyoko tak ingin sanak-keluarganya mengetahui hal ini. Mereka toh tak akan mengerti betapa pentingnya peranan yang telah dimainkan cermin itu dalam perkawinan mereka. Karena itu ia susun bunga-bunga chrysanthenum berwarna putih di atas cermin tersebut. Tak seorang pun yang mengetahui hal ini. Baru setelah kremasi abu jenazah dikumpulkan, maka di antara gumpalan yang tak memiliki bentuk lagi, orang menemukan pecahan-pecahan kaca yang hangus.

“Ini kaca!” kata seseorang, “Aneh, kaca ini bisa masuk ke dalam peti!”

Cermin baru yang ada di gagang cermin itu lebih kecil ukurannya daripada yang lama.

Cermin baru ini adalah cermin rangkap, yang diberikan oleh suaminya yang kedua sebelum pergi berbulan madu. Perjalanan bulan madu dengan suami pertamanya tidak jadi, karena pada masa itu perang meletus. Dengan suaminya yang kedua, barulah ia jadi berbulan madu. Dan karena kopornya sudah bau apak, maka dibelinya yang baru—dengan cermin-tangan di dalamnya.

Pada hari pertama tamsya bulan madu itu, tiba-tiba suaminya memegang tangan Kyoko dan berkata, “Kau ini masih seperti gadis cilik saja! Kasihan!”

Ia berkata bahwa itu tidak ironis. Lebih tepatnya, karena ia gembira. Agaknya ia senang Kyoko tampak masih seperti gadis. Tetapi Kyoko tiba-tiba merasa sedih karena kata-kata itu. Airmatanya berlinang dan tangannya dilepaskan dari pegangan suaminya. Mungkin suaminya sendiri menganggap, ini juga kekanak-kanakan.

Tak tahulah Kyoko, apakah ia sedih memikirkan nasibnya sendiri atau karena nasib suaminya yang pertama. Hal ini tak dapat ia pastikan. Sebab ketika pikiran-pikiran itu muncul, Kyoko tiba-tiba merasa kasihan pada suami keduanya dan merasa bersikap keberahi-berahian.

“Apakah aku begitu berbeda dibandingkan istri pertamamu?”

Belum habis kalimat itu ia ucapkan, ia menyesal dan sekali lagi tersipu-sipu. Suaminya memandangnya dengan bergairah dan berakta, “Kau tak pernah mempunyai anak …..”

Kata-kata itu sangat menusuk hati Kyoko. Apakah suaminya menghinanya? Atau ia bermaksud, dengan ucapan itu, ia ingin membuat malu suami pertamanya; bahwa almarhum tidak melakukan tugasnya sebagai laki-laki?

“Tetapi aku selalu mengharapkan seorang anak!” protesnya.

Ia toh tak dapat mengatakan, bahwa selama sakit bertahun-tahun itu suami pertamanya adalah anaknya. Tetapi kalau nasib sudah ditetapkan bahwa ia harus mati, apa gunanya Kyoko menghindari hubungan badan selama itu?

“Aku hanya melihat Desa Mori selalu dari kereta api.”

Suami keduanya itu meraih Kyoko sewaktu ia menyebut nama desa kelahirannya belakangan ini. “Mori artinya kayu, bukan? Apakah letaknya begitu indah di tengah-tengah hutan? Berapa lama kau tinggal di sana?”

“Hingga ujian penghabisanku. Setelah itu aku mendapat panggilan untuk bekerja di sebuah perusahaan mesiu di Sanjo.”

“Sanjo adalah kota yang terdekat letaknya, bukan? Termasyhur karena kecantikan alamnya! Kalau begitu, jelaslah bagiku, kanapa aku tertarik kawin dengan ratu kecantikan ini!”

“Oh, aku sama sekali tidak cantik!” kata Kyoko tersipu-sipu, sambil  menutupi lehernya yang terbuka dengan tangannya.

“Karena tanganmu demikian bagusnya, aku pikir tentu tubuhmu juga sebagus itu.”

“Oh, tidak!” Karena malunya, tangannya disembunyikan di balik ikat pinggangnya.

“Aku tahu pasti, aku akan mengawini kau juga meski seandainya kau punya anak. Ya, aku dapat mengadopsi dan merawatnya. Anak gadis yang paling kusukai dalam hal ini.” Kata-kata terakhir ini ia bisikkan ke telinga Kyoko. Mungkin ia sangat mengharapkan anak perempuan, karena ia sendiri sudah punya anak laki-laki. Tetapi kata-kata yang dikemukakannya itu terdengar agak janggal. Apakah ia merencanakan perjalanan bulan madu yang demikian lama agar Kyoko tak terlalu cepat berkenalan dengan anak tirinya itu?

Kopor suaminya terbuat dari kulit yang kuat. Kepunyaan Kyoko tak sebanding dengan miliknya. Kopor suaminya besar dan kuat, tapi tidak baru lagi. Mungkin karena ia banyak berpergian, atau karena suaminya sayang pada kopirnya sendiri yang tak pernah digunakan dan sudah bulukan. Satu-satunya yang digunakannya adalah kaca cermin yang ada dalam kopor itu, yang telah dibakar bersama suami pertamanya. Karena kerangka kayu terbakar habis, maka tidak tahulah orang bahwa pecahan kaca itu adalah bekas sebuah cermin. Kyoko dihinggapi perasaan, seolah-olah dunia yang digambarkan oleh cermin itu juga ikut terbakar. Sebab melalui cermin itu, Kyoko untuk pertama kali memperlihatkan kebun sayurnya pada suaminya. Sesudah itu suaminya selalu menghendaki agar cermin tersebut berada di samping bantalnya. Karena cermin dengan bingkainya itu terlampau berat bagi orang cacat seperti suaminya, maka kacanya lalu dikeluarkan dari bingkai.

Tidak hanya kebun sayurnya yang telah dilihat suaminya melalui cermin itu; juga langit, awan, salju, gunung-gunung yang jauh dan hutan-hutan di sekitarnya. Dia telah melihat bulan dan bunga-bunga liar dan rombongan burung-burung, melalui cermin itu. Dia telah melihat orang berjalan-jalan dan anak-anak yang bermain di kebun.

Kyoko sangat tercengan akan kekayaan dunia dalam cerminnya itu. Sebuah cermin yang sampai saat itu hanya dikenalnya sebagai alat rias—cermin-tangan untuk melihat bagian belakang lehernya—ternyata bagi seroang cacat adalah suatu penghidupan baru. Bersama-sama mereka melihat ke dalam cermint itu. Lama-kelamaan Kyoko malah dapat membedakan dengan jelas dunia yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri dan dunia melalui cermin tersebut. Seolah-olah dua dunia yang terpisah. Dan kadang-kadang rupa dunia dalam cermin itu adalah dunia yang sebenarnya.

“Dalam cermin, langit tampak seolah-olah perak,” pernah Kyoko berkata. Kemudian sambil memandang melalui jendela, ia menambahkan, “Sedangkan di luar, warna langit abu-abu.” Sebab langit yang dilihatnya melalui jendela begitu guram, sedangkan langit di cermin tampak mengkilap.

“Apa itu disebabkan karena kau selalu menggosok cermin ini?”

Walaupun suaminya telentang di atas punggunya, dapat juga ia melihat langit dengan cara memutar kepalanya.

“Ya, langit itu berwarna abu-abu suram. Tetapi belum tentu mata burung-burung atau binatang-binatang berkaki empat melihat warna langit seperti kita melihatnya.”

“Apa kaukira yang kita lihat melalui cermin ini sama seperti mata-cermin ini melihatnya?”

Kyoko cenderung menamakan cermin itu “mata cinta mereka”. Jika dilihat melalui cermin, warna hijau pohon-pohon tampak lebih segar dan warna putih bunga lili lebih putih.

“Ini sidik itu jarimu, Kyoko. Ibu jari kananmu!”

Ia menunjuk pada pinggiran cermin. Kyoko terkejut melihatnya. Ia embuskan napasnya pada cermin untuk menghapus sidik jari itu.

“Tak usahlah, Kyoko. Sidik jari ini sudah ada sewaktu kau untuk pertama kali memperlihatkan kebun sayurmu padaku.”

“Aku tak pernah mengetahuinya.”

“Mungkin tidak. Tetapi dengan perantara cermin ini aku sudah mengenal seluruh sidik jarimu. Hanya seorang cacat yang bisa begitu.”

Sejak permulaan perkawinan mereka, suaminya selalu berbaring di tempat tidur. Dia tidak ikut perang. Pada tahun-tahun akhir peperangan, ia mendapat panggilan untuk bekerja di lapangan terbang, tetapi ia jatuh sakit lagi, dan segera setelah Jepang kalah suaminya dilepas dari pekerjaannya. Bersama kakak laki-lakinya, Kyoko pergi menjemput suaminya, karena ia sudah tak dapat berjalan lagi. Pada waktu suaminya menerima panggilan itu, Kyoko tinggal bersama orangtuanya yang meninggalkan kota karena takut pada pengeboman.

Perabotan rumah sudah tidak ada. Rumah yang didiaminya selama minggu-minggu pertama perkawinan mereka sudah terbakar habis, dan kemudian mereka menyewa kamar pada seorang kawannya.

Sebulan di rumahnya yang pertama dan dua bulan di rumah kawannya; itulah masa Kyoko hidup bersama suaminya sebelum ia jatuh sakit. Waktu ia kembali dari dinas, mereka mengambil keputusan untuk menyewa sebuah rumah kecil di pegunungan, di mana ia mungkin bisa sembuh. Penghuninya  yang terakhir  adalah para pengungsi, yang setelah perang selesai kembali lagi ke Tokyo. Kyoko juga mengoper kebun sayur mereka. Luasnya tidak lebih dari enam meter persegi; sebuah tanah terbuka di antara semak-semak. Mereka dapat saja membeli sayuran di desa, tetapi Kyoko senang sekali bekerja di kebunnya. Ia tertarik pada segala sesuatu yang dapat tumbuh sendiri.

Soalnya bukan karena ia bosan selalu duduk di dekat suaminya, tetapi seharian hanya menjahit dan menyulam saja membuat ia selalu merasa sedih. Karena ia harus selalu mengingat suaminya itu, maka pikirannya akan lebih ringan dan penuh harapan bila ia bekerja di kebunnya. Di sanalah ia baru merasakan cinta pada suaminya. Memang sering pula ia duduk di dekat tempat tidur untuk membacakan cerita, tetapi pekerjaan di kebun adalah penting sekali untuk menyebarkan jiwa, sehingga dapatlah Kyoko merawat suaminya dengan baik.

Sewaktu mereka datang ke rumah di pegunungan itu, saat itu pertengahan September. Tamu-tamu musim panas sudah pulang lagi dan masa berikutnya ditandai dengan udara lembap dan hujan yang dingin.

Pada suatu petang matahari tiba-tiba memantulkan sinarnya menerobos awan dan seekor burung kesiangan mulai berkicau. Waktu Kyoko tiba di kebunya, daun-daun sayur mengkilap seperti baru digosok layaknya. Awan berwarna merah-muda yang menggumpal di puncak-puncak pegunungan itu memesonanya. Ia terkejut sewaktu mendengar suaminya tiba-tiba memanggilnya, dan tergesa-gesa ia ke atas; tanpa menunggu sampai tangannya yang penuh lumpur di cuci dulu. Suaminya terengah-engah karena pemusatan tenaga yang dibutuhkan untuk berteriak memanggilnya.

“Aku memanggil dan memanggil! Apa kau tidak dengar?”

“Aku sangat menyesal.”

“Berhentilah dengan kerjamu di kebun ini! Bila aku tiap kali harus berteriak memanggilmu, dalam sekejap saja aku akan mati. Lagi pula aku tak bisa melihat di mana kau berada dan apa yang kaulakukan.”

“Aku bekerja di kebun sayur. Tapi kalau kau tidak suka, aku akan berhenti bekerja.”

Suaminya menjadi agak tenang.

“Apa kaudengar burung nuri itu berkicau?”

Hanya itulah yang ingin diceritakannya pada Kyoko. Seekor burung nuri di hutan yang menyanyi. Hutan itu tampak hitam di udara malam itu. Demikianlah ia telah dapat membedakan bunyi kicau burung nuri.

“Bagaimana kalau kita gunakan bel saja untuk memanggilku? Bagaimana kalau aku beri kau sesuatu untuk dilontarkan, selama bel itu belum terpasang?”

“Apakah kau suka aku melemparkan cangkir ke kepalamu? Kok lucu sekali?”

Akhirnya suaminya setuju ia terus berkebun-sayur, tetapi baru setelah musim semi mengakhiri musim dingin di pegunungan itu, timbul pikiran pada Kyoko untuk memperlihatkan kebun sayurnya melalui cermin. Cermin sederhana itu memberikan kenikmatan yang bukan main besarnya pada suaminya, seolah-olah telah kembali padanya suatu dunia-hijau yang segar.

Dia dapat melihat Kyoko bekerja di kebun, tetapi tentu saja ia tidak dapat melihat ulat-ulat yang sedang dibersihkan istrinya dari daun-daun sayur. Maka ia akan menggunakan bel dan Kyoko datang memperlihatkan ulat-ulat itu.

“Tetapi cacing tanah dapat kulihat dari sini,” kata suaminya berolok-olok, ketika dilihatnya Kyoko sedang menggaruk-garuk tanah.

Jika matahari menyinarkan cahayanya melalui jendela, kadang-kadang Kyoko melihat gumpalan cahaya terang yang tiba-tiba bergerak. Suaminya sedang memainkan cermin dengan memantulkan cahaya matahari itu. Ia menghendaki agar Kyoko membuat celana kerja dari kimono biru yang dipakainya dulu pada masa mahasiswanya. Sebab ia ingin mengangumi Kyoko bekerja di kebun, di mana cahaya dimainkan di atas patron biru dan putih dari kimono tersebut. Bila Kyoko bekerja di kebun, alam-tak-sadarnya mengatakan ia sedang diamat-amati. Ia merasa senang diamat-amati oleh suaminya, hal mana terbukti bahwa ia sudah sangat berubah sejak hari-hari pertama perkawinan mereka. Waktu itu Kyoko masih malu jika ia memegang cermin di atas kepalanya, dan lengan kimononya yang merosot itu tiba-tiba mempertontonkan pangkal lengannya yang telanjang. Sekarang ia malah senang suaminya diam-diam mengamatinya. Tetapi barulah setelah perkawinannya  yang kedua, Kyoko menggunakan make-up dan gincu untuk mempercantik diri. Seolah-olah ia hendak mengejar tahun-tahun ketika ia harus merawat suaminya dan masa ia dalam dukacita itu. Dia kini sadar akan kecantikannya dan mengerti bahwa suami keduanya tidak berlebihan ketika berkata ia cantik.

Juga setelah mandi ia tidak mau lagi pada pantulan tubuhnya di cermin itu. Ia telah menemukan kecantikannya sendiri. Tetapi perasaan akan adanya keistimewaan pada gambar-gambar  di cermin, yang dikenalnya pada masa bersama suami pertamanya, tidaklah hilang. Dia tidak menyangsikan adanya kecantikan istimewa yang dipantulkan oleh cermin itu. Malah sebaliknya, ada kecenderungan untuk tidak percaya pada kebenaran dunia di luar cermin tersebut, walaupun perbedaan antara kulitnya didalam cermin dan yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri tidaklah begitu besar; seperti perbedaan tempo hari antara langit yang berwarna abu-abu dengan yang mengkilap. Hal ini bukanlah akibat dari perbedaan jarak. Mungkin juga keinginan suaminya yang sakit itu yang menyebabkan adanya kilap ajaib pada langit. Hingga saat kematian suami pertamanya, ia tak tahu rahasia cermin itu yang sebenarnya.

Lagi-lagi terkenang oleh Kyoko, betapa suaminya bergairah mengamatinya dalam cermin sewaktu ia bekerja di kebun, dan betapa putihnya bunga lili, betapa riangnya anak-anak, betapa indahnya cahaya matahari pagi memantulkan sinarnya di puncak-puncak pegunungan yang penuh salju; sewaktu mereka bersama-sama menikmati pemandangan melalui cermin itu. Maka timbullah kerinduan padanya untuk melihat dunia rahasia itu, yang hanya diperuntukan bagi mereka berdua. Tetapi agar tidak menyedihkan hati suaminya yang baru, Kyoko menekan sekuat tenaga perasaan itu, yang kadang-kadang merupakan kerinduan jasmaniah dan ia mencoba menganggapnya sebagai keinginan melihat surga melalui lubang kunci.

Pada suatu pagi di bulan Mei ia mendengar di radio nyanyian burung-burung di hutan, yaitu siaran yang dipancarkan dari lereng gunung di daerah mana ia tinggal sampai saat suami pertamanya meninggal.

Jika  pagi-pagi suaminya meninggalkan rumah untuk ke kantor, sering Kyoko mengeluarkan cermin-tangan itu dari gagangnya untuk dipantul-pantulkan ke langit. Atau ia memperhatikan wajahnya sendiri di cermin tersebut. Dan terjadilah sesuatu yang memesona, yaitu orang hanya dapat melihat wajahnya melalui cermin. Tak ada orang yang dapat  melihat wajahnya sendiri. Lalu timbul pertanyaan, seberapa besar kebenaran gambar di cermin itu dengan wajah kita sendiri. Lama Kyoko memikirkan hal ini. Apa sebabnya Tuhan menjelmakan manusia sedemikian rupa, sehingga ia tak bisa melihat wajahnya sendiri?

Coba bayangkan jika kita dapat melihat wajah kita sendiri, apakah manusia akan tahan dalam keadaan seperti ini? Apakah dengan demikian tak mungkin kita dapat hidup terus? Perkembangan alamiah menyebabkan manusia tak dapat melihat wajahnya sendiri. Dengan susunan mata yang rumit itu, mungkin penglihatan kita bsia diterbangkan atau dilayang-layangkan.

Tetapi mungkin muka seseorang hanya boleh dilihat oleh orang lain. Bukankah hal ini sama halnya dengan cinta?

Sewaktu kaca cermin diletakkan lagi pada gagangnya, Kyoko tertarik akan kombinasi bingkai kayu murbei dan garis-garis kembang yang tergores didalamnya. Karena kaca cermin yang lama sudah terbakar bersama suaminya, maka gagang itu dapat disamakan dengan seorang janda. Tetapi kaca cermin itu memiliki segi kerugiannya juga. Kyoko selalu melihat di dalamnya wajah suaminya yang kurus-kering. Mungkinkah suaminya juga melihat tengkoraknya di belakang cermin itu? Kalau begitu, mungkinkah dalam hal ini kita bisa bicara tentang suatu pembunuhan psikologis, dan sebenarnya Kyoko-lah pembunuh itu, karena ia yang memberikan cermin itu pada suaminya? Tetapi suaminya sendiri tak sependapat dalam hal ini.

“Apa kau mau membuat aku buta? Selama aku masih hidup, aku ingin melihat dunia dan mencitainya,” demikian kata suaminya.

Ia rela mengorbankan jiwanya untuk mempertahankan cermin itu. Bila hujan lama turun berlarut-larut, mereka mengagumi bulan—atau tepatnya kolam kecil di kebun tempat bulan dipantulkan. Bulan itu, yang sebenarnya  tak lain adalah suatu gambar cermin, masih tetap bersinar di hati Kyoko.

Suaminya yang kedua senang mengucapkan, “Cinta yang sehat menghendaki tubuh yang sehat.”

Kyoko hanya mengangguk saja, walaupun sebenarnya ia tidak sependapat. Sewaktu suami pertamanya meninggal, timbul perasaan menyesal pada Kyoko bahwa tahun-tahun itu dilaluinya tanpa hubungan badan. Tetapi setelah itu terasa pula bahwa pengingkaran seksual itu adalah kenangan yang terhangat dalam cinta mereka; suatu kenangan dimana cinta penuh-sesak dan penyesalan terhapus karenanya. Mungkin suaminya yang kedua menganggap soal cinta itu enteng saja.

“Kenapa kau menceraikan dia, sedangkan kau adalah manusia yang dimikian baiknya?” pernah Kyoko bertanya.

Pertanyaan itu tak pernah dijawab suaminya.

Kyoko mengawininya atas desakan kakak tertua suaminya almarhum. Empat bulan mereka berkawan, kemudian mereka kawin. Dia lima belas tahun lebih tua dari Kyoko.

Sewaktu Kyoko mengandung, ia begitu takut hingga seluruh wajahnya berubah. “Aku  takut! Aku takut!” Ia mendekap kuat-kuat suaminya. Ia sangat menderita karena muntah-muntah dan kadang-kadang tampak seperti orang tidak waras. Maka berjalanlah ia di kebun untuk mengumpulkan daun-daun cemara, atau ia memberi anak tirinya dua bungkus makanan untuk ke sekolah, yang dua-duanya hanya terdiri dari nasi ketan belaka. Sering pula ia menengok pada cermin, seolah-olah pandangannya tembus ke dalam kaca itu. Suatu malam ikat pinggang kimononya terlepas, dan ia sangat terkejut ketika tanpa sadar ia membuat jerat dari ikat pinggang tersebut. Apakah ia hendak menjerat leher suaminya? Sesaat kemudian Kyoko menangis histeris, sampai ia mandi air mata dan suaminya terbangun. Seolah tak terjadi apa-apa, suaminya dengan penuh kasih melekatkan ikat pinggang itu kembali. Kyoko menggigil, walaupun malam itu adalah malam musim panas yang amat hangat.

“Percayalah pada anakmu, Kyoko!” kata suaminya yang lalu memeluknya dengan kasih sayang.

Dokter menghendaki agar Kyoko bersalin di rumah sakit. Mula-mula Kyoko tidak setuju, tetapi kemudian menyetujuinya.

“Aku akan minta diopname, tapi kuharap kau setuju agar terleblih dahulu aku mengunjungi orangtuaku.”

Beberapa hari kemudian suaminya mengantarnya ke desa di mana orangtuanya tinggal. Esok harinya Kyoko diam-diam meninggalkan rumah dan mengambil kereta ke bukit, di mana ia pernah tinggal bersama suami pertamanya. Waktu itu permulaan bulan September, sepuluh hari lebih awal dari saat mereka pindah ke sana dulu, Kyoko merasa ia mau munta. Kereta api membuatnya mabuk darat, sehingga rasanya ia ingin meloncat keluar saja. Sewaktu kereta tiba di daerah pegunungan yang lebih tinggi, Kyoko merasa badannya enakan karena udara segar itu. Ia sudah dapat menguasai dirinya  lagi; setan yang menganggunya tadi rupanya sudah lenyap. Tetapi toh ia berdiri di muka gedung stasiun kecil itu seperti orang bingung. Di sekelilingnya berderet gunung-gunung yang membiru menggambarkan langit . Di dalamnya ia melihat suatu kehidupan penuh misteri. Ia menghapus airmatanya yang jatuh berlinang dan perlahan-lahan berjalan ke rumah dimana mereka pernah tinggal.

Dari hutan yang gelap dalam udara senja terdengar burung nuri berkicau. Rumah itu kini ditinggali orang lain, dan dari jendela atas sebuah tirai putih menggelepar karena angin. Kyoko berdiri sebentar, karena ia hanya mau melihat rumah itu dari kejauhan saja.

“Dan apabila anak ini wajahnya seperti dia,” pikirnya tiba-tiba.

Ia terkejut sendiri karena pikiran itu, tetapi ia dihinggapi perasaan tenang yang teramat sangat sewaktu dalam perjalanan pulang. (*)

*YASUNARI KAWABATA, lahir di Osaka, Jepang tahun 1899 dan meninggal tahun 1972. Mulanya Kawabata bercita-cita menjadi pelukis, tetapi kemudian dunia karang-mengarang lebih menarik perhatiannya. Sejak Sekolah Lanjutan, ia sudah menulis untuk majalah-majalah sastra dan surat kabar, dan setelah menamatkan pendidikan di Univesitas Tokyo ia menjadi redaktur dua majalah sastra terkemuka di Jepang. Sejak itulah ia menulis dengan gaya ceosensualisme, dan secara halus menyarakan pandangan hidup orang Jepang. Kawabata terutama dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis cerpen dan esai. Bahkan pada masa mduanya ia juga menulis puisi. Novel-novel Kawabata antara lain Yukiguni (1947), Senbazuru (1949), Meijin (1954), Yama no Oto (1954) dan Nerumeru Bijo (1961). Sedangkan kumpulan cerita pendeknya yang banyak diterjemahkan dan dibicarakan adalah Izu no Odoriko (1926).

 

Continue Reading

Cerpen

Cinta Ayu

mm

Published

on

Dengan langkah kaki cepat, Ayu bergegas menuju gedung Diponegoro untuk mengikuti seminar. Seminar yang mengambil tema “Menyoal Cinta dan Feminisme” bukan hanya memikat hati Ayu, melainkan kebanyakan hati perempuan. Sebab, pembicara dalam seminar ialah seorang feminis laki-laki, sekaligus aktivis “kemanusiaan” yang menjadi diskursusnya. Kendati ia masih berstatus mahasiswa. Namun, ia bagaikan matahari yang menjadi pusat perhatian di kampusnya. Pagi itu, bukan tanpa perjuangan bagi seorang gadis yang hidupnya normal. Ayu memutuskan alpa sarapan pagi beserta Abah dan Umminya. Satu keputusan radikal yang sepanjang usianya belum sekalipun dilakukannya. “Semoga acaranya belum dimulai,” gumamnya dalam hati.

Setelah setengah berlari menaiki tangga sepanjang lima lantai, Ayu mengatur nafasnya sambil sesekali mengipasi wajahnya yang merah setelah mengambil tempat duduk. “Ayu, sini, kamu lama sekali,” kata April sahabat karibnya. “Ia, maaf saya ketiduran sehabis salat Subuh,” jawabnya pelan.

“Raka sudah berbicara?”

“Belum, Ayu.”

Setelah satu jam berlalu, kini giliran pembicara terakhir yang sudah dinanti-nantikan tampil di podium. “Selamat pagi Puan dan Tuan. Baik untuk menghemat narasi saya langsung masuk pada bagian subtansi…”

“Kenapa tidak mengucapkan Assalamualaikum.”

“Entahlah.”

“Apa dia non-Muslim?”

Ayu tak menjawab. Hanya mengangkat kedua bahunya.

Setelah hampir setengah jam Raka menyampaikan pandangannya, kini waktunya berdiskusi: tanya-jawab. Empat orang penanya sudah mendapatkan jawabannya. Dan Ayu memberanikan diri mengangkat tangannya. “Baik, silakan perkenalkan diri Anda sebelum bertanya,” kata moderator. “Nama saya Ayu Arunika. Saya ingin bertanya pada Mas Raka. Sepanjang penjelasan Anda tentang feminisme. Saya merasa bahwa Anda terlalu liberal. Sebab, Islam justru memuliakan perempuan. Perkara peradaban menghendaki perempuan selalu di bawah laki-laki, karena seorang suami adalah pemimpin dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sebagai hamba tentu harus taat pada perintah Allah SWT. Itu yang pertama. Yang kedua, atas dasar apa Anda mengajukan argumen bahwa doktrin teologis adalah penyumbang kerusakan alam? Bahkan berperan dalam mendorong rusaknya lingkungan alam akibat doktrin antoposentrisnya. Terima kasih.”

Pertanyaan yang mengagetkan semua orang yang sedang asyik-masyuk mendengar penjelasan Raka, mahasiswa filsafat yang menjadi bintang di acara itu. Dengan tenang Raka menjawab, “Ayu Arunika. Sebagai fakta nama itu indah untuk dikecupkan. Saya tahu arah pertanyaanmu. Benar-benar pertanyaan teologis. Tadi dikecupkan kata “hamba”. Maka, dengan sendirinya ada hierarki dalam kalimat yang Anda susun: Tuhan dan hamba. Saya mengajukan argumen yang basisnya adalah reasoning. Dan Anda mengajukan pertanyaan yang dibungkus dokumen dari langit. Tidak mungkin saya debat dengan argumen. Itu yang pertama. Yang kedua perihal ekofeminisme…”

“Tunggu sebentar. Apa keyakinan Anda?” Ayu memotong.

Setelah diam sesaat, Raka menjawab. “Anda tahu bahwa diskusi ini mengangkat tema feminisme. Artinya tidak membahas tema teologis. Pertanyaan Anda tidak ethics, kendati dibungkus dengan kesantunan bahasa. Karena Anda bertanya sesuatu yang bersifat privat. Tidak mungkin saya jawab di ruang publik. Tapi tidak jadi soal. Pukul setengah empat nanti saya ada perlu di perpustakaan. Jika Anda masih penasaran dan menuntut jawaban dari saya, silakan temui saya.” Selanjutnya diskusi berjalan lancar. Namun pertanyaan dari Ayu membuat orang-orang mulai berpikir ulang tentang sosok sang pembicara.

***

Pukul empat sore Ayu datang ke perpustakaan. Di ruang kecil, tempat diskusi, seorang pemuda sedang duduk dengan tenang. Di tangannya terlihat Ivan Illich: Deshooling Society. Setelah menarik nafas panjang Ayu memberanikan diri menghampirinya. “Assalamulaikum, maaf saya terlambat datang.”

“Tak apa. Artinya dikau masih orang Indonesia. Silakan duduk.”

Jawaban yang membuat wajah Ayu merah sebab malu. “Maaf, tadi saya habis salat Ashar terlebih dahulu.” Jawabnya pelan. “Mas Raka sudah Salat?”

Setelah meletakan Ivan Illich, Raka menatap mata Ayu dengan tatapan tajam. “Puan, apa dikau tahu siapa nama orangtuaku? Pekerjaannya apa? Apa dikau juga tahu sosio-historisku?”

Ayu menggelengkan kepala.

“Pertanyaan teologismu itu menghukum psikologiku. Semacam hukuman bahwa saya telah divonis dalam perkara privat: agama tertentu. Dan seringkali pertanyaan itu dianggap hal yang wajar hingga berkumandang di telinga setiap orang. “Kamu sudah salat? Apa agamamu? Pertanyaan itu buat saya semacam arogansi karena disponsori suara mayoritasisme. Bahkan hal semacam itu, terjadi di wilayah akademis. Seharusnya seorang akademis bisa lepas dari hal semacam itu. Di ruang akademis yang ada hanya pikiran. Universitas dalam definisi bebas ialah wilayah di mana sikap kritis itu tumbuh. Artinya tidak dikekang oleh doktrin teologis. Yang ada hanya dialektika rasionalisme. Sebab universitas adalah tempat lalu lintasnya pikiran. No road to heaven. Dan sebagai warga negara, kita hanya diikat oleh etika publik. Status agama itu hak. Artinya seseorang boleh tidak menggunakan haknya. Paham Ayu?”

Mendengar jawaban Raka, airmuka Ayu merah padam. Baru kali ini ia diceramahi pelajaran di luar nalar pikirannya. Wajahnya menunduk, seakan-akan tak sanggup melihat matanya yang tajam bagai mata pedang. Barulah ia sadar bahwa pemuda yang sedang menceramahinya adalah pemuda yang setiap hari diperbincangkan teman-temannya sesama mahasiswi: Raka adalah pemuda cerdas. Menyukai sastra, filsafat, sosiologi, psikologi, politik, hukum dan pelbagai ilmu pengetahuan lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Raka penggila filsuf Immanuel Kant, Sartre, Heidegger hingga Ivan Illich. Juga ada pula yang mengatakan bahwa sudah banyak perempuan yang patah hati. Bukan lantaran disakiti, melainkan karena alasan yang abnormal: Raka tidak ingin menikah. Pikiran yang benar-benar gila bagi anak muda seusianya.

“Saya minta maaf bila pertanyaanku membuat Mas Raka tersinggung,” kata Ayu sebelum meninggalkan Raka. Akan tetapi, sebelum Ayu menghilang ditelan pintu perpustakaan, Raka menyahut, “Ayu, saya yang minta maaf. Senang berkenalan denganmu. Di luar ada cafe yang nyaman untuk menikmati segelas kopi dan sepotong kenangan.” Ayu terseyum mendengarnya. Senyuman yang menawan. Demikianlah perempuan gemar membunuh seorang lelaki dengan senyumannya.

***

Waktu bergulir dengan cepat. Bergantinya nama bulan seperti bergantinya siang dan malam. Demikianlah bagi hati anak muda yang hari-harinya diliputi bahagia bertabur bunga. Begitulah hari-hari Ayu dan Raka. Keduanya semakin akrab, bukan hanya sebagai teman, melainkan sepasang kekasih yang sedang mengepakan sayapnya. Selepas pertemuan itu, Ayu terpesona oleh Raka yang dinilainya berbeda.

Kendati kasak-kusuk berita negatif tentang Raka tersebar luas di lingkungan kampus. Namun, hal itu tidak membuat Ayu membatalkan cintanya. Tidak pula mempengaruhi Ayu untuk memadamkan api cinta yang menyala di hatinya. Masih menggema lonceng cinta di pikiran batinnya, baginya Raka serupa sang pengusik sepi yang membunyikan loncengnya. “Janganlah dikau padamkan matahari cinta yang terbit dari hati seorang pujangga,” kata-kata itu bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya tepat mengenai jantung hati gadis pujaannya. Ujar Raka pada Ayu suatu senja di bukit Mandalawangi.

Dalam cinta selalu ada kegilaan. Orang gila yang rasional adalah orang yang sedang dimabuk cinta. Hari-hari berikutnya, di mana kaki Raka melangkah, di situ jejak Ayu tertinggal. Terlebih Raka selalu membimbing langkah kaki Ayu pada tempat yang tak terduga: gunung, hutan, dan sekolah rakyat yang didirikannya bersama para sahabatnya. Deschooling Society adalah kitab sucinya Raka.

Namun, ada yang ganjil dalam pikiran Ayu yang setiap malam selalu menghantuinya. Sebab, selama menjadi kekasih Raka, sekalipun Ayu tak pernah mendengar kata dari kamus agama diucapkan olehnya. Juga tidak sekalipun Ayu mempergoki sisa-sisa jejak ritual keagamaan yang dilakukan Raka. Baik jejak kakinya di Gereja, Masjid, maupun rumah ibadah lainnya yang tertinggal.

Keganjilan itu membuat Ayu memberanikan diri untuk mencari tahu. Entah sudah berapa banyak teman-teman Raka yang diinterogasi. Namun, semuanya menjawab seragam seperti orang mengucapkan kata “Aamiin”, yakni “tidak tahu”. Hingga pada suatu hari Ayu menanyakan langsung kepada Raka. Sebagaimana kebiasaannya, Raka yang suka merenung di tempat sunyi seorang diri di hutan, tiba-tiba dikagetkan oleh kehadiran Ayu yang sudah mengetahui tempat pelariannya. Lama keduanya bertukar pandangan.

Ayu mulai mencium keganjilan kekasihnya itu. Karena tak tahan sambil bercucuran air mata Ayu bertanya, “Apa agamamu Mas? Banyak orang yang membicarakanmu perihal itu. Apakah Mas percaya akan adanya Tuhan?”

Raka tak menjawab. Lama ia terdiam.

“Sekali lagi saya tanya, apa Mas percaya akan adanya Tuhan?”

“Ayu, dikau menyusulku ke sini hanya untuk menanyakan sesuatu yang menjadi antitesis kemanusiaan.” Kemudian Raka menjemput tangan Ayu sambil berujar, “Kamu mencintaiku?” Ayu mengangguk diiringi tangisan.

“Jika dikau percaya Sartre adalah seorang atheis, dan Simon de Beauvoir tidak mempermasalahkannya, maka kamu harus percaya bahwa kekasihmu adalah orang yang percaya sebagaimana kepercayaan Sartre.”

Mendengar jawaban itu, tangisan Ayu semakin dera. Segera saja Ayu melepaskan tangannya dari genggaman Raka. “Wahai dzat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-MU,” ucap Ayu sebelum pergi.

“Jatuh cinta adalah cara paling manis untuk menyakiti diri sendiri. Sebab, cinta sedari dulu kala selalu saja drama. Cinta adalah kesunyian yang panjang, kendati keramaian selalu mengintainya. Namun cinta selalu memilih untuk sendiri,” kata Raka pada dirinya sendiri. (*)

*) Arian Pangestu, aktif di sekolah feminisme. Artikelnya berupa cerpen, esai, dan puisi dimuat di koran Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, Bangka Pos, Radar Surabaya, Harian Analisa. Saat ini aktif sebagai mahasiswa sastra.

Continue Reading

Cerpen

Rahwana Di Tepi Kolam Pemancingan Ikan

mm

Published

on

Memancing adalah usahaku menyelamatkan diri dari kematian. Bagaimana bisa? Iya, setiap ikan yang kudapat dari kolam pemancing mampu menyelamatkanku dari kematian itu. Kematian macam apa? Mengusahakan hidup bahagia bukankah kalimat lain dari menghindari kematian. Dan buatku itu mulia. Sedangkan hidup yang penuh duka nestapa, kesedihan, kesusahan, kemurungan, kegalauan dan lain sejenisnya serupa dengan kematian. Kematian semasa hidup. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Siapa tahu, apa yang sudah menggerakkan pikiranku hingga setubuhku, sepagi itu, mematung hidmat di tepi kolam pemancingan ikan. Yang kulakukan bukan laku orang suci yang menyepi di dalam gua Tsur atau naik ke Sinai atau Olympus.

Seperti aku yang beribu, kota ini semestinya memiliki asal-usul yang bisa ditelusuri secara genetika sejarah. Itu akan berguna seperti markah jalan yang akan menolong para sopir. Sopir itu adalah anak-anak zaman dalam perjalanannya menuju kehidupan agung, bukan kematian. Manusia, dalam ekspedisi hidupnya, mengikatkan diri pada dua mitologi, ibu dan rumah. Sehingga, Abdul Wachid BS pun tak kuasa menolak, maka jadikannya sekumpulan puisinya, Rumah Cahaya. Bahkan, sebuah negara menyebut pusat administrasi pemerintahannya dengan nama ibu kota. Jakarta adalah tempat yang kupilih untuk tinggal, meninggalkan ibu di kampung kelahiranku. Sebagai penghormatan, aku menyematkan nama kampung itu di belakang namaku dalam kartu nama.

Kota bagi ibuku tak ubahnya sawah yang ditumbuhi gedung pencakar langit sebagai gulma. Sedangkan gulma adalah sianggit yang akan merebut dengan serakah hara yang menjadi cikal bakal bulir-bulir padi yang hanya mahal ongkos produksinya.

Pernah suatu ketika, aku terbangun dengan mata yang tak awas karena sisa-sisa kantuk mengira terjadi gempa. Sepasang sandal murahan, kipas angin yang sudah rusak, dan keyboard mengapung di atas air setinggi dengkul. Beruntung, laptop dan flashdisk sempat kutaruh di meja sebelum tidur. Kalau dua benda itu ikut terendam, itu akan menjadi subuh terkutuk kedua terbesar dalam sejarah dosa manusia seperti yang menyebabkan Ratna Anjani dan dua saudaranya mewujud segawan, kera.

Tapi, benarlah kata ibu, segala yang di dunia adalah nisbi. Terbatas ruang dan waktu. Dari derita Anjanilah kemudian lahir Anoman yang agung. Kota ini begitu arogan dan culas, hujan pun dituduh sebagai penyebab banjir yang mengapungkan sampah tak berharga dalam kamarku itu. “Menanam padi, pasti akan tumbuh gulma, tapi tak kebalikannya,” kata ibuku suatu hari.

Apa sudah menjadi tabiatnya, manusia takut perubahan, apalagi yang mendadak. Yang membuat kaget. Jantungan. Yang darah tinggi bisa stroke, kalau tak modar sekalian. Bukankah manusia dibekali kemampuan menalar, menganalisis, bersistesis, mengevalusi hingga berimajinasi untuk mengada dari yang ada sesuai kebutuhan dan seleranya. Orang di kota ini, ibarat menanam benih padi kualitas terbaik di atas tanah subur, tapi tak dirawat. Ia akan  menjadi rumpun liar. Angker. Anak-anak takkan menjadikannya tempat bermain, orang dewasa tanpa kesaktian yang mumpuni akan mati sia-sia tak mampu menaklukan ketakutan dan kesunyian di dalamnya.

Kota ini kapankah lepas dari kutukan. Penduduknya diharamkan dari sinar matahari. Tubuh mereka terhimpit bangunanan yang semakin hari makin tinggi besar seperti Rahwana yang lahir dari ayah ibu yang terhasut nafsu. Bahkan, ayam jago tak tahu kapan waktu berkokok, makan, dan kawin. Anak-anak tak bisa membedakan fajar atau senja, timur atau barat, siang atau malam, bagaimana mereka ingat pulang ke rumah dan ibu?  Wajah mereka letih dan tua, bosan dengan permainan hingga berubah friksi.

Sementara itu, kota ini makin sempit karena penduduk harus berbagi tempat dengan koloni tikus, kecoa, dan lalat. Mereka bukan hewan biasa—kalau manusia tak mau disamakan—dari leher hingga kaki mereka adalah manusia, hanya kepala saja yang menyerupai hewan-hewan yang akrab dengan sampah itu. Ah, penduduk kota yang manusia seutuhnya makin punah, dalam satu malam mereka telah berrevolusi menjadi manusia berkepala hewan hanya dengan hasutan dan fitnah. Mereka yang sadar dan tak sanggup menerima perubahan itu memutuskan mengakhiri hidup alih-alih hidup tersiksa tak kuat menahan malu. Ah, kata mereka yang bertahan, malu takkan buat orang kenyang dan hidup.

Hari ini, di kota yang tak penah ibu injak tanahnya, semua kata-kata ibu menjadi nyata. Aku membayangkan, kota ini akan bebas dari kutukan kesialannya bila tanahnya sekali saja ibuku menginjakkan telapak kakinya yang penuh tuah. Seakan kebenaran itu datang kepadaku hanya untuk menggatikan jasadnyanya. Ia datang ketika ibu telah memantapkan dirinya untuk tinggal seorang diri di rumah sunyi tanpa pintu dan jendela. Tapi, aku sendiri menjadi geli ketika tersadar aku sendiri—sebagai penghuni kota—tak pernah menginjak tanahnya dalam arti yang sesungguhnya, kecuali latai keramik atau marmer dan jalan beton atau aspal.

Tanggal merah di hari Jumat—kemewahan yang langka untuk para buruh urban sepertiku—menjadi tanpa makna. Umumnya, orang sepertiku akan pulang kampung, atau menepi ke puncak Bogor menyewa vila untuk satu atau dua malam. Di antara keduanya tak satupun kupilih. Ibarat orang luka parah, hanya diberi obat penahan rasa sakit, bukan disembuhkan lukanya.

Aku tak punya lagi alasan untuk pulang kampung. Berkereta empat atau lima jam hanya untuk menziarahi kuburan rasanya hanya akan menambah deritaku. Aku bahkan tak tahu di sebalah mana ibuku dikuburkan. Apa yang mesti kukatakan pada orang-prang kampung. Mereka akan bertanya, kenapa tak pulang di hari kematian ibumu? Apa tempat kerjamu di tengah samudera sehingga tak dapat dihubungi? Untuk apa pandai dan bersekolah di luar negeri kalau sekarang hanya jadi buruh? Bukankah bos di perusahaanmu yang tak selesai kuliah karena dropout?

Ibu tidak menyukai hobiku yang satu ini meski tak pernah mengatakan dan melarangku. Satu-satunya hal yang tidak pernah ia mau lakukan untukku adalah memasak ikan pancinganku. Karenanya, aku terbiasa mengolah ikan sendiri. Ikan-ikan itu tak pernah kumakan, melainkan kuberikan pada tetangga kanan-kiri rumah. Kepada ibu, mereka kerap memberi pujian atas kemampuanku mengolah ikan. Karena itu pula, ibu sering mendapat kiriman balasan dari para tetangga dalam bentuk masakan yang lain.

Joran yang kuletakkan di lantai tepi kolam yang disemen kasar itu bergerak. Umpannya disambar ikan. Kaki kananku sigap menginjak pangkal joran. Tangan kananku angkat ujung jorannya. Berat. Joran itu membentuk parabol yang indah seperti lengkungan pelangi. Aku merasa joran itu akan patah. Aku melepaskan kuncian tali, memberi jarak yang cukup untuk ikan melakukan perlawanan.

Perlawanan ikan segera berganti pada kejadian empat puluh hari setelah kematian ibu. Satu jam tertidur di dalam mobil, getar ponsel di saku kemeja yang tak lagi rapi membangunkanku. Sejam kemudian, kami baru sampai di rumah setelah kujamu mereka makan malam di restoran mewah. Tak ada pembicaraan serius selama perjamuan, hanya perkenalan seorang gadis yang turut bersama paman.

Selepas subuh, gadis itu sudah berada di dapur yang aku sendiri tak pernah memakainya. Memasak air untuk membuat kopi, kebiasaan yang entah kapan terakhir kali lakukan.

Setelah membicarakan masalah rumah dan sawah peninggalan ibu dan ayah yang harus kuurus agar tak terbengkalai, dia mengingatkanku tentang perjodohanku dengan anak perempuan saudari sepupu ibuku, anak tetangga yang dulu sering kukirim ikan pancingan.

Astaga, ibu pun membaca bahasa cinta masa kecilku yang aku sendiri hampir lupa. Aku berkecil hati karena pernah menyembunyikan sesuatu di balik punggungku dari ibu, dan itu gagal. Meski bukan sesuatu yang perlu ditutupi karena bukan dosa seperti yang pernah melahirkan Rahwana.

Tapi, itu baru hidangan pembuka di restoran, hidangan intinya adalah akulah Rahwana itu sendiri. Gadis yang dijodohkan dengaku oleh ibu adalah Sinta yang hatinya telah dikuasai Rama. Sinta datang kepadaku untuk meminta pembebasan atas ikatan perjodohan yang disepakati antara ibuku dan kedua orang tuanya.

“Bagaimana?”

Aku tak merasa perlu segera menjawab. Kuminum kopi buatan Sinta. Dua tamuku terlihat tegang menunggu jawabanku. Tanpa sadar, aku menghabiskan satu cangkir kopi itu dalam satu teguk saja.

“Aku setuju melepas perjodohan itu.”

Sejam berlalu, ikan menghentikan perlawanannya kemudian bersikap tenang meski mata kail sudah menancap di antara bibir dan matanya. Aku menunda ikan yang hampir pasti kudapat untuk menjawab telfon. Baru kuambil ponsel itu dari dalam tas, berhenti. Kubaca notifikasi, sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, Sinta. Kubuka pesan WA, foto undangan pernikahan dengan desain sampul gunungan wayang. Tercetak tulisan emas dua nama Sinta dengan Rama, pamanku.

Joran yang sejak tadi kuinjak pangkalnya itu kuangkat. Berasa ringan. Ikan lepas bersama kailnya. Aku membuka tas kecil di pinggang, mengmbil dan memasang kail yang baru. (*)

Bunga Pustaka, 2017

*) Mufti Wibowo. Penulis, tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan 06 Purwokerto. Email: bowoart60@yahoo.co.id

Continue Reading

Cerpen

Teater Bolshoi

mm

Published

on

Teater Bolshoi

oleh: Yury Nagibin

Berakhirlah pelajaran terakhir dari hari terakhir kehidupan sekolah kami. Di depan masih ada ujian-ujian panjang dan sukar, tetapi pelajaran-pelajaran tidak akan pernah kami miliki lagi. Kuliah, seminar, kolokium – seluruh kata-kata yang mengandung kedewasaan tersebut – akan datang kepada kami, auditorium perguruan tinggi dan laboratorium pun akan datang, tetapi baik kelas maupun bangku-bangku sekolah tidak akan pernah datang lagi. Sepuluh tahun masa sekolah dirampungkan dengan bunyi lonceng keparau-parauan yang dikenal, yang muncul di bawah, di dalam ruangan para guru, yang lebih dulu dialiri oleh bunyi tersebut dan bunyi itu naik dengan sedikit terlambat ke arah kami di tingkat enam, yang di dalamnya tersebar kelas-kelas sepuluh. Kami semua, yang tengah tersentuh, terharu, bahagia dan menyesalkan sesuatu, yang merasa bimbang dan tersipu dengan perubahan sekejap mata sendiri dari anak sekolah menjadi orang dewasa, manusia, yang menikah saja pun bahkan boleh, berkeliaran di sepanjang kelas dan koridor, seperti ketakutan keluar dari tembok sekolah menuju dunia, yang menjadi tanpa batas. Dan ada perasaan yang demikian, seakan-akan ada sesuatu yang tidak terkatakan, tidak sampai, tidak terselesaikan selama sepuluh tahun yang telah lalu itu, dan seolah saja hari ini telah menemukan kami dengan tanpa diduga.

Di jendela-jendela yang terbuka lebar warna biru langit yang pekat tampak melimpah, burung-burung merpati mendekut lantaran ingin kawin dengan suara yang kasar di bendul jendela, terasa ada bau yang kuat dari pohon-pohon yang sedang berkembang dan aspal yang meleleh.

Zhenya Rumyantseva masuk ke kelas kami.

“Seryozha[2], bolehkah barang sebentar?” Aku keluar ke koridor. Pada hari yang tidak biasa ini, Zhenya menunjukkan kepadaku mengenai dirinya yang sama sekali tidak biasa. Dia berpakaian, seperti keselaluannya, tanpa cita rasa: pakaian pendek, yang memang sudah kekecilan untuknya di tahun yang lalu dan lebih tinggi dari lututnya, koftochka[3] dari wol, yang tidak bertemu rapat di bagian dada, dan di balik koftochka, dengan warna jadi agak kebiru-biruan karena seringnya dicuci, terlekat bluzka[4]putih, serta sepatu anak-anak yang tidak lancip tanpa hak. Kelihatannya, Zhenya mengenakan pakaian adik perempuannya. Rambut Zhenya yang menggunduk  dan berdebu secara serampangan disatukan dengan jepitan rambut, harspel,[5]dan grebenka,[6]yang menyekitari wajah kecilnya dan tetap saja rambutnya itu menutupi bagian dahi serta lehernya, sedang satu untaian rambutnya selalu jatuh ke hidungnya yang agak pesek dan dia dengan rasa jengkel menepis-nepisnya. Sesuatu yang baru yang ada padanya adalah warna merah yang tipis merata, yang meronai wajahnya, dan sinar mata kelabunya yang besar, tampak dekat dan hidup, kadang serius-penuh kesibukan, kadang lengah-seperti tak melihat.

“Seryozha, saya ingin mengatakan kepadamu: marilah kita bertemu selang sepuluh tahun lagi.”

Percandaan sama sekali bukanlah ciri yang mendasar bagi Zhenya dan secara serius aku bertanya:

“Untuk apa?”

“Saya tertarik, akan jadi apa kamu nanti,” Zhenya mengibaskan untaian rambutnya yang menjengkelkan. “Pada tahun-tahun sekolah ini, kamu begitu membuat saya tertarik.”

Aku berpikiran, bahwa Zhenya Rumyantseva tidak mengenal baik kata-kata itu, maupun perasaan seperti itu. Seluruh hidupnya mengalir di dalam dua lingkungan: pada pekerjaan gugus generasi muda yang intens – dia merupakan pemimpin regu kami – dan pada cita-citanya tentang dunia bintang. Aku tidak pernah mendengar, pada waktu luang dari kesibukan kerjanya Zhenya mengatakan mengenai sesuatu yang lain, kecuali mengenai bintang-bintang, planet, orbit, suar matahari, dan penerbangan ke luar angkasa. Tidak banyak dari kami yang secara tegas dapat menentukan jalan kehidupan sendiri yang selanjutnya, tetapi Zhenya sejak kelas enam telah mengetahui, bahwa dia akan menjadi astronom dan bukan yang lain. Di antara kami tidak pernah ada kedekatan pertemanan, kami belajar di kelas berparalel dan kami bertemu hanya karena pekerjaan di gugus generasi muda. Beberapa tahun lalu akibat sebuah kesalahan aku agak hampir dikeluarkan dari gugus kepanduan. Para kawanku berdiri dengan teguh di belakangku dan aku akhirnya tetap menjadi bagian dari kepanduan. Hanya Zhenya seorang, anak baru di sekolah kami, yang sampai akhir menuntut pengecualian itu. Dan hal yang demikian memberi bekas di dalam relasiku terhadapnya. Tetapi kemudian aku mengerti, bahwa karakter tanpa iba Zhenya terjadi karena usaha untuk mempertinggi ketelitian bagi diri sendiri dan orang lain, sama sekali bukan karena hati yang jelek. Manusia itu sampai ke dasarnya haruslah jernih, berhati teguh, serta dapat dipercaya, dan dia ingin semua yang ada di sekelilingnya jadi seperti itu. Aku bukan seorang kesatria yang tanpa rasa takut dan tanpa cela [7] dan sekarang pengakuannya yang tanpa disangka, membuat aku bingung dan heran.

Di dalam pencarian dengan perdugaan, secara berpikir-pikir aku berlari ke masa lampau, tetapi tidak ada apa pun yang kujumpai, kecuali sebuah pertemuan di Chistye Prudy.[8]

Suatu hari, ketika liburan, kami berkemas ke telaga[9] Khimkinskoye[10] untuk bersenang-senang naik perahu. Dalam perbincangan yang sengit, Chistye Prudy akhirnya ditetapkan jadi lokasi berjumpa. Akan tetapi sedari pagi hujan rintik turun dan ke pusat temu tersebut yang datang hanya aku dengan Pavlik[11]Arshansky, Nina Barysheva dan Zhenya Rumyantseva. Nina datang karena di hari libur dia tak ingin tinggal di rumah, aku datang karena Nina, Pavlik – karena aku, sedangkan mengapa Zhenya datang, bagi kami tampaknya ketika itu tidak jelas. Zhenya tidak pernah hadir di dalam pesta perjamuan kami yang sederhana, tidak pernah pergi bersama kami ke gedung bioskop, ke Park Kultury,[12] dan ke Hermitage.[13] Tidak ada seorang pun yang dapat menduga-duga sikap diam Zhenya, hanya dia memang tidak punya cukup waktu: dia mengerjakan suatu aktivitas pada kelompok astronomi di bawah Universitas NegeriMoskow[14] dan masih melakukan sesuatu di planetarium. Kami menghormati arah dari tujuan tertentu Zhenya tersebut dan tidak ingin mengganggunya. Kami pun akhirnya berkumpul di sebuah tempat besar yang tembus air, di bawah payung raksasa yang terbuat dari kayu di tengah jalan besar. Hujan kadang besar dan berisik, mendera tanah, kadang jadi mengecil ke hampir rintik-benang yang tidak terlihat dan tidak terdengar, tetapi tidak berhenti barang sebentar juga. Awan kelabu yang tak putus-putus tanpa celah cahaya menuju ke atap-atap rumah. Tidak ada pikiran lagi mengenai Khimki.[15] Akan tetapi Zhenya  dengan keras hati membujuk kami untuk pergi. Inilah untuk pertama kalinya dia membiarkan dirinya melakukan penyimpangan kecil terhadap aturan biasanya yang keras dan bagaimana pun itu perlu, bisa-bisa kami dapat sangat beruntung!. Pada kancing jaket beludrunya bergantung bungkusan roti dan lauk-pauknya. Tampak, bahwa sesuatu yang ada di dalam bungkusan itu sangat menyentuh hati. Bagi benak Zhenya, agaknya, tidak pernah sampai, bahwa dapat saja makan pagi di zakusochnaya,[16] di kafe atau bahkan di restoran, seperti yang kami lakukan pada saat perjalanan. Lantaran rasa iba terhadap bungkusannya itu aku pun menawarkan:

“Mari kita bersenang-senang di kolam.” Aku menunjuk ke arah perahu[17]yang tua dan meretak, yang memiliki haluan menjulang dari bekas kayu penyangga gerbong pengangkut barang.[18] “Dan kita akan berimajinasi, bahwa kita sedang ada di Khimki.”

“Atau di laut Mediterranea,”[19] sela Pavlik.

“Atau di samudera Hindia!”[20] sambung Zhenya dengan penuh semangat. “Atau di pantai Greenland!”[21] katanya lagi.

“Kita tidak akan tenggelam?” tanya Nina. “Dan ini patut disesali: aku sebenarnya diajak ke pertunjukan pertama[22] di Moscow Arts Theatre,”[23] kata Nina lagi.

Dayung tidak ada. Kami pun mengambil dua buah papan di pinggiran, mengeluarkan air dari perahu dan kami memulai perjalanan berlayar keliling dunia. Sedikit kemungkinannya, bahwa seseorang dari kami, kecuali Zhenya, yang merasakan kesenangan akan hal itu. Ketika aku dan Pavlik dengan tanpa semangat mengayuhkan kayu di atas air, Zhenya mereka-reka jalur perjalanan. Begitulah kami melewati selat Bosporus,[24] melalui terusan Suez[25] kami masuk ke laut Merah,[26] dari sana ke laut Arab,[27] kemudian bertolak ke kepulauan Sunda Besar,[28] ke Philipina dan masuk ke lautan Pasifik.[29] Karakter kekanak-kanakkan Zhenya yang kasip tampak manis dan mengharukan, tetapi di dalam dirinya ada sesuatu yang ketika itu menyusahkan hatinya:

“Lihatlah!” kata Zhenya sambil menunjuk ke suatu arah, yang memperlihatkan, bahwa di balik ranting-ranting pohon yang berkilau lantaran hujan, pilar-pilar gedung bioskop Kolizei[30] yang basah tampak menghitam penuh kemuraman. “Itu pohon kelapa, pohon sulur-suluran,[31] dan gajah-gajah: kita terbawa ke pantai India!”

Kami jadi saling berpandangan. Hal itu biasa terjadi pada usia tujuh belas tahun, kita mempertahankan kehidupan pribadi sendiri, yang rapuh, yang mudah dilukai oleh lempeng baja ejekan yang disengaja, sinisme yang halus, dan kita tidak mengerti, bagaimana kita dapat begitu naif memperlihatkan diri sendiri.

“Kita mendekati kepulauan Solomon[32] yang mengerikan!” Zhenya mengumumkan dengan suara yang mendatangkan ketidakberuntungan.

“Benar!” Pavlik, orang yang paling baik di antara kami, mengulangi. “Dan itu orang-orang setempat-pemakan manusia,” tunjuknya ke arah sekelompok anak-anak Chistye Prudy, yang berhenti di sekitar pagar keliling telaga untuk merokok. Pelayaran kami yang menjenuhkan, yang menembus hujan, pun berlanjut. Zhenya dengan tanpa lelah memberikan perintah: “Kemudi ke kanan!”, “kemudi ke kiri!”, “naikkan layar!”, “turunkan layar!”, dan dia menemukan jalan berdasarkan letak bintang. Kompas kami rusak saat badai. Dan itu memberinya kesempatan untuk menjamu kami dengan kuliah astronomi, yang aku hanya ingat, bahwa di ekuator langit berbintang seolah-olah terbalik. Kemudian kami harus menanggung malapetaka, Zhenya memberi kami kue keringnya yang terakhir: roti dan lauk-pauknya yang jadi basah. Dengan murung kami mengunyahnya dan Zhenya berkata, bahwa dia sangat tertarik dengan kehidupan Robinson Crusoe.[33] Aku lelah, basah karena air, dan tangan yang memegang bilah papan-pendayung pun aku angkat. Itu membuatku jadi orang yang tak kenal rasa iba dan aku berkata, aku tidak tahu, jika ada buku yang lebih picik dibandingkan Robinson Crusoe.

“Seluruh isi buku penuh oleh kesibukan sempit terhadap makanan, pakaian dan perkakas. Itu tabel harga makanan dan barang rongsokan yang tidak ada habis-habisnya! Itu himne bagi kehidupan rumah tangga yang khusuk!”

“Dan saya tidak tahu apa pun yang lebih menggelorakan dibandingkan hal itu, hal yang kau bilang sebagai tabel harga!” kata Zhenya dengan butiran air di matanya. “Betapa banyak kebebasan di buku itu, sajak-sajak dan mimpi…..”

Perdebatan kami dihentikan oleh Nina Barysheva. Dia tiba-tiba berkata:

“Hore! Di depan ada pantai!”

“Mana? Di mana?” kata Zhenya dengan terkejut.

“Itu, di dekat gerbong pengangkut barang,” kata Nina dengan suara yang sama dan sangat menjemukan. “Sudah, kita telah sampai! Kawan-kawan,[34] aku bisa mati kedinginan, tanpa segelas konyak[35] aku tidak akan mampu mengatasi.”

“Mari kita ke Pokrovka,[36] ke kafe musim panas,”[37] aku mengajak.

Zhenya memandang kami dengan tertegun, pipinya jadi berwarna merah jambu. “Ada apa?” katanya dengan begitu gagah. “Kalau pergi minum[38] ya pergi!”

Kami memasukkan perahu di bawah kayu penyangga gerbong pengangkut barang, kemudian keluar ke arah pantai dan seketika itu juga kami langsung berhadapan dengan Lyalik,[39] kenalan lamaku yang bukan teman. Selama tahun-tahun belakangan ini manusia muda yang berandalan tersebut ada di penjara. Dia sangat kuat, pundaknya lebar, memandang dengan mengernyit dan mengesankan dirinya sebagai penjahat kawakan. Setelah bersejajar dengan kami, Lyalik membenturkan pundaknya yang satu kepadaku, yang lainnya kepada Pavlik dan memaki-maki dengan kasar. Sekarang, di dalam lingkaran cahaya kejayaan perbuatan kriminalnya, dia tahu, bahwa dia tidak memiliki resiko apa pun. Rasa takut kami bukan dimunculkan oleh dirinya, melainkan oleh reputasinya. Dia menindas kami dengan keagungan yang muram dari takdirnya. Kami merasa diri sendiri seperti manusia rewel yang hina, seperti anak bunda yang manja. Bagaimana juga kami mampu bertanding kekuatan dengan manusia yang telah kehilangan akal seperti Lyalik.

“Jangan kau berani memaki-maki, bajingan!” teriak Zhenya. Dia tidak tahu siapa Lyalik, yang dengan diam-diam berputar dan melangkah menuju kami. Akan tetapi Zhenya memotongnya di pertengahan jalan. Dia menarik ke bawah penutup kepala Lyalik yang usang dengan ujungnya  yang sudah patah ke arah hidung sang bajingan, dan dengan sekuat tenaga mendorong dada Lyalik. Sang bajingan pun melayang ke arah kawat pagar dan melewati kawat pagar dia berjungkir balik ke atas rumput, dan jelaslah seketika itu juga, bahwa Lyalik hanyalah seorang bocah, seperti halnya aku dan Pavlik. Dan seluruh tampangnya yang menyeramkan sama sekali tak ada harganya lagi.

“Mengapa kamu mendorongku?” gumam Lyalik dengan lirih, seraya berusaha menarik penutup kepala, yang ada tepat di kedua matanya. Kemudian kami duduk di kafe musim panas di bawah tenda payung dengan motif lajur-lajur yang basah, meminum kopi hitam dengan konyak dan makan gelato.[40] Zhenya, seraya mengernyit, meminum segelas kecil konyak dan tidak tahu bagaimana kejadiannya, jepitan rambut dan harspel-nya secara bersamaan jatuh dari rambutnya yang menggunduk dan lebat, wajahnya jadi memerah dan dia mulai menamai dirinya sebagai peminum berat dan seorang yang kehilangan jiwa. Kami jadi sedikit malu karena dia, kami khawatir, bahwa pekerja kafe tidak akan memberikan konyak lagi kepada kami, lantaran Zhenya masih belum menyerupai seorang gadis yang umurnya lebih tua dari yang seharusnya, seperti halnya di kafe tersebut, dengan rambut kusut dan pakaiannya yang di sepanjang waktu melampaui kedua lututnya. Dan Zhenya berkata, bahwa dia ingin mati di dalam penerbangan luar angkasanya yang pertama, karena tidak boleh sama sekali menguasai ruang angkasa tanpa pengorbanan dan kematian itu lebih baik baginya, lebih patut dihormati, dibandingkan hal yang lain. Kami mengetahui, bahwa dia berkata penuh keikhlasan dan dengan tidak bersyak wasangka terhadap keunggulan jiwa sendiri, hal yang demikian membuat kami jadi merasa rendah. Kami tidaklah seperti itu, bahkan meskipun di bawah pengaruh konyak dan kami memerlukan, meski entah bagaimana,  kesempatan untuk bertahan.

Selebihnya Zhenya tidak lagi bersama kami. Bukan hanya sekali kami mengundangnya untuk hadir ke pertemuan kami, tetapi dia  menampiknya lantaran tidak ada waktu, bisa jadi, dia memang sungguh-sungguh tidak punya cukup waktu, begitu banyak keberhasilan yang dia perlukan! Lantas bagaimana, jika pada hari satu-satunya itu dia datang karena aku dan karena aku juga dia pergi, setelah berkata dengan kejujuran yang berbesar hati: “Tidak berhasil…”

“Mengapa dulu kamu diam saja, Zhenya?” tanyaku.

“Untuk apa mengatakannya kepadamu? Nina Barysheva begitu tertarik kepadamu!”

Dengan perasaan kehilangan yang kecewa dan sedih, aku berkata:

“Di manakah dan kapan kita akan berjumpa?”

“Selang sepuluh tahun, tanggal dua puluh lima Mei, pada jam delapan malam, di bentangan tengah[41] di antara pilar-pilar teater Bolshoi.”

“Dan jika di sana jumlah pilarnya gasal?”

“Di sana ada delapan pilar, Seryozha…Pada waktu itu saya akan menjadi astronom ternama,” tambahnya dengan penuh keinginan, impian dan keyakinan yang teguh. “Sekiranya saya begitu berubah, kau dapat mengenaliku lewat potret-potret.”

“Baiklah, pada saat itu aku juga akan menjadi terkenal,” kataku dan aku berhenti barang sebentar: aku masih benar-benar belum membayangkan, di dalam bidang apa, aku ditakdirkan akan menjadi tersohor dan aku bahkan masih belum mengambil keputusan, ke fakultas mana aku mesti menyerahkan semua dokumen:[42] “Bagaimanapun juga, aku akan datang dengan mobil sendiri…” Itu benar-benar bodoh, tetapi aku tidak menemukan apa pun untuk dikatakan.

“Baguslah kalau begitu,” Zhenya tertawa, “kau akan mengajakku berkeliling kota…”

Tahun-tahun berlalu. Zhenya belajar di Leningrad[43], aku tidak mendengar apa-apa mengenai dirinya. Pada musim dingin tahun 1941, dengan keinginan yang besar aku berusaha mencari berita mengenai takdir kawan-kawanku, aku mengetahui, bahwa Zhenya pada hari pertama perang[44] meninggalkan institut dan masuk ke sekolah penerbang. Pada musim panas tahun 1944 aku terbaring di rumah sakit dan mendengar lewat radio keputusan tentang penganugrahan gelar pahlawan kepada mayor penerbang Rumyantseva. Ketika akukembali dari perang, aku baru mengetahui, bahwa gelar pahlawan itu diberikan kepada Zhenya karena dia telah gugur secara heroik di medan perang.

Hidup terus berjalan lebih jauh. Kadang dengan tiba-tiba aku mengenang perjanjian kami dan untuk beberapa hari sebelum batas waktu aku merasakan kegelisahan yang begitu pedih, begitu menyakitkan, seolah seluruh tahun yang telah lalu hanya aku persiapkan bagi pertemuan tersebut.

Aku tidak menjadi orang ternama, sebagaimana yang aku janjikan pada Zhenya, tetapi di dalam satu hal aku tidak menipunya: aku memiliki opel tua, yang aku beli dengan harga jatuhan di tempat pembuangan mobil rampasan. Aku mengenakan pakaian baru dan pergi ke teater Bolshoi. Sekiranya saja aku di sana bertemu Zhenya, aku akan mengatakan kepadanya, bahwa setelah semua pengelanaan akhirnya aku menemukan jalan sendiri: aku menerbitkan buku cerita, sekarang aku sedang menulis yang kedua. Itu bukanlah buku-buku, yang sebenarnya ingin aku tulis, tetapi aku percaya, bahwa aku akan menuliskan buku-buku tersebut sampai selesai.

Aku memarkir mobil di dekat taman umum, membeli bunga bakung di seorang perempuan penjual bunga dan menuju ke tengah-tengah rentangan di antara pilar-pilar teater Bolshoi. Dan jumlahnya memang benar delapan. Aku tidak lama berdiri di sana, kemudian aku berikan bunga bakung tersebut kepada seorang perempuan kurus bermata kelabu dan pulang ke rumah.

Aku ingin sekejap saja menghentikan waktu, menoleh pada diri sendiri, pada  tahun-tahun yang telah terlewati, mengenang seorang gadis yang mengenakan pakaian pendek dan koftochka yang kesempitan, mengenang perahu yang berat, tetapi bergerak dengan cekatan,  mengenang hujan kecil, yang menaburi permukaan kolam yang berwarna kekuning-kuningan dengan sulur berduri,  mengenang teriakan yang mengharukan: “Kita terbawa ke India!”, mengenang kebutaan jiwa masa muda sendiri dan jiwa masa muda tersebut dengan begitu mudah melalui sesuatu, yang bisa saja menjadi takdir. (*)

Sumber                                    : Zelenaya Ptitsa s Krasnoy Golovoy (Burung Hijau dengan Kepala

Berwarna Merah)

Judul dalam bahasa Rusia       : Zhenya Rumyantseva

Penerbit                                   : Moskovsky Rabochy, 1966

Pengarang                               : Yury Nagibin

Biografi Pengarang                 : Yury  Markovich Nagibin (1920-1994)  merupakan  sastrawan- penulis prosa, jurnalis  dan seorang penulis skenario. Ayah asli Yury Markovich Nagibin adalah Kirill Alexandrovich Nagibin, yang   ditembak   mati   pada tahun   1920,  karena   menjadi anggota  white  guard.   Ketika  itu    Kirill  Alexandrovich meninggalkan   seorang    istri, Kseniya Alekseyevna, yang  sedang mengandung dan meminta kawannya, seorang advokat  bernama Mark Levental,  yang  namanya  kemudian dilekatkan menjadi  patronymic (nama ayah)  pada sang sastrawan,  untukmelindungi    keluarganya.Karya-karya Yury Markovich Nagibin   antara   lain:  The  Double  Mistake,   The  Man From the   Front,  The   Core   of   Life,  The   Commanding   Height,  Difficult Happiness, In Early Spring, Far and Near.

Penerjemah                              : Ladinata, Staf Pengajar Fakultas Ilmu Budaya Unpad Bandung

Sumber gambar                       : http://nnm.me/blogs/spiridonn/yuriy-markovich-nagibin-dnyu-rozhdeniya-posvyashaetsya/ / http://iknigi.net/avtor-yuriy-nagibin/80523-chistye-prudy-sbornik-yuriy-nagibin.html

Catatan kaki: 

[1] Terjemahan dalam bahasa Indonesia diberi judul Teater Bolshoi. Teater ini terletak di kota Moskow dan didirikan atas perkenan Prince Peter Urusov pada tanggal 17 Maret 1776. Awalnya hanya 13 aktor dan 9 artis, 4 penari perempuan dan 3 penari laki-laki dengan seorang koreografer dan 13 pemain musik yang melakukan unjuk seni di sini. Bolshoi dibaca Balshoi: karena tekanan ada pada huruf o kedua, sehingga huruf o pertama dilafalkan jadi a dan artinya besar

[2] Nama diminutif Sergey

[3] Sejenis mantel

[4] Bahasa Rusia untuk kata blouse

[5] Sejenis tusuk rambut, misalnya yang dipakai oleh wanita berkonde

[6] Sejenis penyatu rambut yang bentuknya seperti sisir

[7] Ungkapan khusus yang menyatakan: manusia dengan martabat moral yang tinggi

[8] Artinya kurang lebih Kolam Jernih, merupakan nama stasiun subway yang diinsinyuri oleh Nikolai Koli di Moskow. Sebelum tahun 1703 namanya Poganey Prud. Selain nama stasiun subway, nama Chistye Prudy merujuk (secara lebih dulu) ke area kolam modern, yang memiliki area 1,2 hektar dengan kedalaman rata-rata 1,2 meter

[9] Di sini maksudnya telaga buatan. Telaga buatan Khimkinskoye memiliki volume air 29 juta m3, area seluas 4 km2, lebar 0,8 km, panjang sekitar 9 km dan kedalaman sampai 17 meter. Tempat ini merupakan tempat tamasya

[10] Bentuk kata sifat untuk kata benda Khimki

[11] Nama kesayangan dari Pavel

[12] Artinya kurang lebih Taman Budaya, merupakan nama stasiun subway, yang dibangun pada tanggal 15 Mei 1935. Lokasi subway dekat dengan Gorky Park of Culture and Leisure, yang terletak di sepanjang pinggiran sungai Moskow

[13] Merupakan museum besar di Saint Petersburg, tetapi di sini mengacu ke nama restoran yang sangat terkenal di Moskow. Sekarang gedungnya menjadi the Moscow School of Modern Drama Theatre

[14] Universitas ini dinamakan dengan nama seorang sastrawan dan akademikus Rusia abad 18: Mikhail Lomonosov, yang merupakan pendirinya di tahun 1755. Dulunya universitas ini terletak di tengah kota Moskow di jalan Mohovaya. Sampai sekarang beberapa departemen masih ada di sana. Bangunan induk kira-kira ada 60 gedung dan tower sentral, yang seperti wedding cake berlokasi di Sparrow Hills. Jumlah tampungan mahasiswa kira-kira 50.000 orang

[15] Nama kota yang berasal dari nama sungai Khimka, sejak tahun 1939 masuk menjadi bagian dari kota Moskow

[16] Snack bar, semacam tempat untuk makan makanan kecil

[17] Maksudnya ploskodonka, perahu yang dasarnya datar

[18] Maksudnya teplushka, gerbong pengangkut barang

[19] Nama lainnya Laut (-an) Tengah, merupakan laut yang berhubungan dengan Lautan Atlantik dan dikelililingi oleh Mediterranean region. Di bagian utara Lautan ini dibatasi oleh Anatolia dan Eropa, di selatan oleh Afrika Utara dan di timur oleh Levant

[20] Samudera terbesar ketiga terbesar di dunia, yang menutupi kira-kira 20% permukaan bumi. Samudera Hindia dibatasi di utara oleh anak benua India, di barat oleh Afrika Timur, di timur oleh Indochina, Kepulauan Sunda dan Australia, dan di selatan oleh Samudera Selatan (atau tergantung pada penamaan, oleh Antartika)

[21] Merupakan pulau terbesar di dunia dan memiliki lapisan es terbesar kedua di dunia. Terletak di antara Artika dan Atlantik Utara

[22] Maksudnya première

[23] Maksudnya Moskovsky Khudozhestvenney Akademichesky Teatr, yang didirikan pada tahun 1898 oleh Konstantin Stanilavsky dan penulis drama-sutradara Vladimir Nemirovich-Danchenko. Moscow Arts Theatre merupakan tempat bagi teater naturalistik, yang kontras dengan teater-teater Rusia yang ketika itu didominasi oleh melodrama

[24] Dikenal juga dengan nama selat Istambul, merupakan selat yang membatasi Eropa dan Asia

[25] Merupakan terusan atau jalan air laut buatan di Mesir yang menghubungkan Laut Mediterranea dan Laut Merah. Dibuka pada bulan November 1869

[26] Merupakan teluk air laut  kecil dari samudera  Hindia, yang dibatasi di timur oleh India, di utara oleh Pakistan dan Iran, di barat oleh semenanjung Arab, di selatan, kira-kira, oleh garis di antara Guardafui di Somalia Timur Laut dan Kanyakumari di India

[27] Bagian dari samudera Hindia dan dibatasi oleh semenanjung Arab di sebelah barat dan semenanjung Hindustan di bagian timur Laut

[28] Merupakan gugusan pulau di Indonesia bagian barat, yang meliputi: Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Sumatra

[29] Nama lainnya lautan Teduh, merupakan bagian lautan bumi yang terbesar. Terbentang dari Artika di utara sampai ke lautan Selatan di selatan, dibatasi oleh Asia dan Australia di barat, dan Amerika di timur

[30] Terletak di bagian bernomor ganjil di Chistoprudney Boulevard. Gedung Kolizei (Coliseum) yang bernomor 19a ini dibangun kira-kira pada tahun 1904 dan diarsiteki oleh R. I. Klein. Sekarang menjadi teater Sovremennik

[31] Maksudnya liana, sejenis tumbuhan tropis yang merambat pada pohon lain

[32] Merupakan negara berdaulat di Oceania. Ibukotanya Honiara, yang terletak di pulau Guadalcanal dan merupakan anggota Commonwealth of Nations

[33] Merupakan novel karya Daniel Defoe yang dipublikasikan pertama kali pada tahun 1719. novel ini merupakan otobiografi  fiksi dari Robinson Crusoe, yang terdampar selama 28 tahun di sebuah pulau tropis dekat Venezuela

[34] Maksudnya malchiki, para kawan laki-laki

[35] Maksudnya cognac, minuman brendi berkualitas tinggi, yang biasanya disuling dengan baik di Cognac di Perancis sebelah barat

[36] Nama jalan di Administrasi Distrik Pusat Moskow, yang didasarkan pada nama tserkov’ Pokrova Bozh’yey Materi atau dalam bahasa Inggris disebut dsengan Church of the Intercession of the Mother of God. Tahun 1940-1992 nama jalan sempat diubah menjadi Chernyshevsky Street, untuk menghormati Nikolay Gavrilovich Chernyshevsky (12 Juli 1828 – 17 Oktober 1889): seorang revolusioner demokrat, kritikus, sosialis dan pemikir materialis

[37] Maksudnya kafe outdoor, kafe di luar ruang

[38] Maksudnya minum alkohol dalam kadar yang banyak

[39] Nama diminutif Alexey

[40] Maksudnya ice cream atau es krim

[41] Maksudnya bay, istilah arsitektur untuk menamai bagian gedung yang ditandai oleh elemen-elemen vertikal, dalam soal ini pilar teater

[42] Maksudnya ijasah dan hal-hal yang bertalian

[43] Penamaan untuk kota Saint Petersburg pada tahun 1924-1991

[44] Perang melawan Jerman tahun 1941-1944

Continue Reading

Classic Prose

Trending