Connect with us
Sinar Bulan di Atas Kolam Sinar Bulan di Atas Kolam

Cerpen

Sinar Bulan di Atas Kolam

mm

Published

on

Yasunari Kawabata*

SUDAH agak lama juga datangnya pikiran pada Kyoko untuk memperlihatkan kebun sayurannya pada suaminya, dengan perantara cermin-tangan. Dengan demikian ia membuka bagi suaminya, yang sudah lama sakit, pintu gerbang suatu dunia yang telah hilang baginya. Cermin-tangan itu adalah sebagian dari hadiah perkawinannya. Baik gagang maupun bingkai cermin yang tidak begitu besar itu terbuat dari kayu murbei.

Cermin tersebut selalu mengingatkan betapa malunya ia dulu pada tahun-tehun permulaan perkawinan mereka. Mula-mula ia mencoba melihat melalui cermin itu sanggulnya di bagian belakang kepala, dan akibatnya lengan kimononya yang lebar turun ke bawah, sehingga pangkal lengannya tersingkap seluruhnya. Ia lalu tersipu-sipu dan yang lebih hebat lagi, menurutnya, adalah ketika ia keluar dari pemandian dan suaminya melalui cermin itu mengangumi kuduknya dari segala sudut.

“Benar-benar kau ini tidak cekatan sekali!” kata suaminya sambil tertawa dan merenggut cermin itu dari tangannya. “Mari, biar aku yang memegangnya.”

Sebenarnya Kyoko bukannya tidak cekatan, tetapi ia menjadi gugup bila suaminya  memperhatikan dia sampai ke detail-detail seperti itu.

Peristiwa itu adalah kenangan lama, tetapi belum begitu lama hingga kayu cermin itu menjadi usang. Selama perang, cermin itu tersimpan saja di laci, karena menurut Kyoko pada masa itu bukanlah waktu untuk mempercantik diri. Mereka harus mengungsi ke luar kota dan kemudian suaminya jatuh sakit, sehingga sewaktu ia mendapat ide untuk memperlihatkan kebun sayurnya melalui cermin itu, kaca cermin sudah agak tua dan pinggirnya kotor oleh gincu yang usang dan bedak. Tetapi proses penuaan itu hanya terjadi setempat saja dan juga tidak demikian buruk hingga tak kelihatan lagi gambar-gambarnya; karena itulah Kyoko tak begitu memperhatikannya. Tetapi suaminya, dengan perasaan gugup seorang cacat yang tak punya kerjaan, selalu menggosok-gosok cermin itu. Kadang-kadang Kyoko dihinggapi perasaan, bahwa dengan jalan  demikian suaminya sedang menggosokan hasil tuberkel ke dalam cermin tersebut. Bila Kyoko mengosokkan minyak rambut yang sengit baunya pada rambut suaminya, maka suaminya kadang-kadang mengusap-usap rambutnya terlebih dulu dengan tangan dan kemudian cermin itu. Suaminya tak memperkenankan cermin itu dibawa oleh Kyoko, walaupun hanya untuk sekejap. Dengan demikian rangka kayu murbeinya menjadi suram tetapi kacanya sendiri tetap mengkilap.

Sewaktu Kyoko kawin untuk kedua kalinya, gagang cermin itu dibawanya. Tetapi kacanya dimasukkan ke peti mati suaminya sewaktu pembakaran mayat. Pada gagang cermin ia masukkan kaca cermin yang baru dan diberinya pinggiran yang berukir. Mengenai hal ini tak pernah ia bicarakan dengan suaminya yang kedua.

Karena tangan-tangan orang mati, menurut kebiasaan lama—dengan jari-jari bersusun—harus dilipatkan di atas dada, maka cermin itu tak dapat ditaruhnya di dalam tangan suaminya. Dengan demikian cermin itu ditempatkan di bawah tangannya, di atas dada. Ia pikir; kau selalu menderita sakit di dadamu, karena itu kuharap cermin ini tidak memberatkanmu. Karena itu, beberapa saat kemudian cermin itu ia geser sedikit ke bawah hingga di atas perut. Kyoko tak ingin sanak-keluarganya mengetahui hal ini. Mereka toh tak akan mengerti betapa pentingnya peranan yang telah dimainkan cermin itu dalam perkawinan mereka. Karena itu ia susun bunga-bunga chrysanthenum berwarna putih di atas cermin tersebut. Tak seorang pun yang mengetahui hal ini. Baru setelah kremasi abu jenazah dikumpulkan, maka di antara gumpalan yang tak memiliki bentuk lagi, orang menemukan pecahan-pecahan kaca yang hangus.

“Ini kaca!” kata seseorang, “Aneh, kaca ini bisa masuk ke dalam peti!”

Cermin baru yang ada di gagang cermin itu lebih kecil ukurannya daripada yang lama.

Cermin baru ini adalah cermin rangkap, yang diberikan oleh suaminya yang kedua sebelum pergi berbulan madu. Perjalanan bulan madu dengan suami pertamanya tidak jadi, karena pada masa itu perang meletus. Dengan suaminya yang kedua, barulah ia jadi berbulan madu. Dan karena kopornya sudah bau apak, maka dibelinya yang baru—dengan cermin-tangan di dalamnya.

Pada hari pertama tamsya bulan madu itu, tiba-tiba suaminya memegang tangan Kyoko dan berkata, “Kau ini masih seperti gadis cilik saja! Kasihan!”

Ia berkata bahwa itu tidak ironis. Lebih tepatnya, karena ia gembira. Agaknya ia senang Kyoko tampak masih seperti gadis. Tetapi Kyoko tiba-tiba merasa sedih karena kata-kata itu. Airmatanya berlinang dan tangannya dilepaskan dari pegangan suaminya. Mungkin suaminya sendiri menganggap, ini juga kekanak-kanakan.

Tak tahulah Kyoko, apakah ia sedih memikirkan nasibnya sendiri atau karena nasib suaminya yang pertama. Hal ini tak dapat ia pastikan. Sebab ketika pikiran-pikiran itu muncul, Kyoko tiba-tiba merasa kasihan pada suami keduanya dan merasa bersikap keberahi-berahian.

“Apakah aku begitu berbeda dibandingkan istri pertamamu?”

Belum habis kalimat itu ia ucapkan, ia menyesal dan sekali lagi tersipu-sipu. Suaminya memandangnya dengan bergairah dan berakta, “Kau tak pernah mempunyai anak …..”

Kata-kata itu sangat menusuk hati Kyoko. Apakah suaminya menghinanya? Atau ia bermaksud, dengan ucapan itu, ia ingin membuat malu suami pertamanya; bahwa almarhum tidak melakukan tugasnya sebagai laki-laki?

“Tetapi aku selalu mengharapkan seorang anak!” protesnya.

Ia toh tak dapat mengatakan, bahwa selama sakit bertahun-tahun itu suami pertamanya adalah anaknya. Tetapi kalau nasib sudah ditetapkan bahwa ia harus mati, apa gunanya Kyoko menghindari hubungan badan selama itu?

“Aku hanya melihat Desa Mori selalu dari kereta api.”

Suami keduanya itu meraih Kyoko sewaktu ia menyebut nama desa kelahirannya belakangan ini. “Mori artinya kayu, bukan? Apakah letaknya begitu indah di tengah-tengah hutan? Berapa lama kau tinggal di sana?”

“Hingga ujian penghabisanku. Setelah itu aku mendapat panggilan untuk bekerja di sebuah perusahaan mesiu di Sanjo.”

“Sanjo adalah kota yang terdekat letaknya, bukan? Termasyhur karena kecantikan alamnya! Kalau begitu, jelaslah bagiku, kanapa aku tertarik kawin dengan ratu kecantikan ini!”

“Oh, aku sama sekali tidak cantik!” kata Kyoko tersipu-sipu, sambil  menutupi lehernya yang terbuka dengan tangannya.

“Karena tanganmu demikian bagusnya, aku pikir tentu tubuhmu juga sebagus itu.”

“Oh, tidak!” Karena malunya, tangannya disembunyikan di balik ikat pinggangnya.

“Aku tahu pasti, aku akan mengawini kau juga meski seandainya kau punya anak. Ya, aku dapat mengadopsi dan merawatnya. Anak gadis yang paling kusukai dalam hal ini.” Kata-kata terakhir ini ia bisikkan ke telinga Kyoko. Mungkin ia sangat mengharapkan anak perempuan, karena ia sendiri sudah punya anak laki-laki. Tetapi kata-kata yang dikemukakannya itu terdengar agak janggal. Apakah ia merencanakan perjalanan bulan madu yang demikian lama agar Kyoko tak terlalu cepat berkenalan dengan anak tirinya itu?

Kopor suaminya terbuat dari kulit yang kuat. Kepunyaan Kyoko tak sebanding dengan miliknya. Kopor suaminya besar dan kuat, tapi tidak baru lagi. Mungkin karena ia banyak berpergian, atau karena suaminya sayang pada kopirnya sendiri yang tak pernah digunakan dan sudah bulukan. Satu-satunya yang digunakannya adalah kaca cermin yang ada dalam kopor itu, yang telah dibakar bersama suami pertamanya. Karena kerangka kayu terbakar habis, maka tidak tahulah orang bahwa pecahan kaca itu adalah bekas sebuah cermin. Kyoko dihinggapi perasaan, seolah-olah dunia yang digambarkan oleh cermin itu juga ikut terbakar. Sebab melalui cermin itu, Kyoko untuk pertama kali memperlihatkan kebun sayurnya pada suaminya. Sesudah itu suaminya selalu menghendaki agar cermin tersebut berada di samping bantalnya. Karena cermin dengan bingkainya itu terlampau berat bagi orang cacat seperti suaminya, maka kacanya lalu dikeluarkan dari bingkai.

Tidak hanya kebun sayurnya yang telah dilihat suaminya melalui cermin itu; juga langit, awan, salju, gunung-gunung yang jauh dan hutan-hutan di sekitarnya. Dia telah melihat bulan dan bunga-bunga liar dan rombongan burung-burung, melalui cermin itu. Dia telah melihat orang berjalan-jalan dan anak-anak yang bermain di kebun.

Kyoko sangat tercengan akan kekayaan dunia dalam cerminnya itu. Sebuah cermin yang sampai saat itu hanya dikenalnya sebagai alat rias—cermin-tangan untuk melihat bagian belakang lehernya—ternyata bagi seroang cacat adalah suatu penghidupan baru. Bersama-sama mereka melihat ke dalam cermint itu. Lama-kelamaan Kyoko malah dapat membedakan dengan jelas dunia yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri dan dunia melalui cermin tersebut. Seolah-olah dua dunia yang terpisah. Dan kadang-kadang rupa dunia dalam cermin itu adalah dunia yang sebenarnya.

“Dalam cermin, langit tampak seolah-olah perak,” pernah Kyoko berkata. Kemudian sambil memandang melalui jendela, ia menambahkan, “Sedangkan di luar, warna langit abu-abu.” Sebab langit yang dilihatnya melalui jendela begitu guram, sedangkan langit di cermin tampak mengkilap.

“Apa itu disebabkan karena kau selalu menggosok cermin ini?”

Walaupun suaminya telentang di atas punggunya, dapat juga ia melihat langit dengan cara memutar kepalanya.

“Ya, langit itu berwarna abu-abu suram. Tetapi belum tentu mata burung-burung atau binatang-binatang berkaki empat melihat warna langit seperti kita melihatnya.”

“Apa kaukira yang kita lihat melalui cermin ini sama seperti mata-cermin ini melihatnya?”

Kyoko cenderung menamakan cermin itu “mata cinta mereka”. Jika dilihat melalui cermin, warna hijau pohon-pohon tampak lebih segar dan warna putih bunga lili lebih putih.

“Ini sidik itu jarimu, Kyoko. Ibu jari kananmu!”

Ia menunjuk pada pinggiran cermin. Kyoko terkejut melihatnya. Ia embuskan napasnya pada cermin untuk menghapus sidik jari itu.

“Tak usahlah, Kyoko. Sidik jari ini sudah ada sewaktu kau untuk pertama kali memperlihatkan kebun sayurmu padaku.”

“Aku tak pernah mengetahuinya.”

“Mungkin tidak. Tetapi dengan perantara cermin ini aku sudah mengenal seluruh sidik jarimu. Hanya seorang cacat yang bisa begitu.”

Sejak permulaan perkawinan mereka, suaminya selalu berbaring di tempat tidur. Dia tidak ikut perang. Pada tahun-tahun akhir peperangan, ia mendapat panggilan untuk bekerja di lapangan terbang, tetapi ia jatuh sakit lagi, dan segera setelah Jepang kalah suaminya dilepas dari pekerjaannya. Bersama kakak laki-lakinya, Kyoko pergi menjemput suaminya, karena ia sudah tak dapat berjalan lagi. Pada waktu suaminya menerima panggilan itu, Kyoko tinggal bersama orangtuanya yang meninggalkan kota karena takut pada pengeboman.

Perabotan rumah sudah tidak ada. Rumah yang didiaminya selama minggu-minggu pertama perkawinan mereka sudah terbakar habis, dan kemudian mereka menyewa kamar pada seorang kawannya.

Sebulan di rumahnya yang pertama dan dua bulan di rumah kawannya; itulah masa Kyoko hidup bersama suaminya sebelum ia jatuh sakit. Waktu ia kembali dari dinas, mereka mengambil keputusan untuk menyewa sebuah rumah kecil di pegunungan, di mana ia mungkin bisa sembuh. Penghuninya  yang terakhir  adalah para pengungsi, yang setelah perang selesai kembali lagi ke Tokyo. Kyoko juga mengoper kebun sayur mereka. Luasnya tidak lebih dari enam meter persegi; sebuah tanah terbuka di antara semak-semak. Mereka dapat saja membeli sayuran di desa, tetapi Kyoko senang sekali bekerja di kebunnya. Ia tertarik pada segala sesuatu yang dapat tumbuh sendiri.

Soalnya bukan karena ia bosan selalu duduk di dekat suaminya, tetapi seharian hanya menjahit dan menyulam saja membuat ia selalu merasa sedih. Karena ia harus selalu mengingat suaminya itu, maka pikirannya akan lebih ringan dan penuh harapan bila ia bekerja di kebunnya. Di sanalah ia baru merasakan cinta pada suaminya. Memang sering pula ia duduk di dekat tempat tidur untuk membacakan cerita, tetapi pekerjaan di kebun adalah penting sekali untuk menyebarkan jiwa, sehingga dapatlah Kyoko merawat suaminya dengan baik.

Sewaktu mereka datang ke rumah di pegunungan itu, saat itu pertengahan September. Tamu-tamu musim panas sudah pulang lagi dan masa berikutnya ditandai dengan udara lembap dan hujan yang dingin.

Pada suatu petang matahari tiba-tiba memantulkan sinarnya menerobos awan dan seekor burung kesiangan mulai berkicau. Waktu Kyoko tiba di kebunya, daun-daun sayur mengkilap seperti baru digosok layaknya. Awan berwarna merah-muda yang menggumpal di puncak-puncak pegunungan itu memesonanya. Ia terkejut sewaktu mendengar suaminya tiba-tiba memanggilnya, dan tergesa-gesa ia ke atas; tanpa menunggu sampai tangannya yang penuh lumpur di cuci dulu. Suaminya terengah-engah karena pemusatan tenaga yang dibutuhkan untuk berteriak memanggilnya.

“Aku memanggil dan memanggil! Apa kau tidak dengar?”

“Aku sangat menyesal.”

“Berhentilah dengan kerjamu di kebun ini! Bila aku tiap kali harus berteriak memanggilmu, dalam sekejap saja aku akan mati. Lagi pula aku tak bisa melihat di mana kau berada dan apa yang kaulakukan.”

“Aku bekerja di kebun sayur. Tapi kalau kau tidak suka, aku akan berhenti bekerja.”

Suaminya menjadi agak tenang.

“Apa kaudengar burung nuri itu berkicau?”

Hanya itulah yang ingin diceritakannya pada Kyoko. Seekor burung nuri di hutan yang menyanyi. Hutan itu tampak hitam di udara malam itu. Demikianlah ia telah dapat membedakan bunyi kicau burung nuri.

“Bagaimana kalau kita gunakan bel saja untuk memanggilku? Bagaimana kalau aku beri kau sesuatu untuk dilontarkan, selama bel itu belum terpasang?”

“Apakah kau suka aku melemparkan cangkir ke kepalamu? Kok lucu sekali?”

Akhirnya suaminya setuju ia terus berkebun-sayur, tetapi baru setelah musim semi mengakhiri musim dingin di pegunungan itu, timbul pikiran pada Kyoko untuk memperlihatkan kebun sayurnya melalui cermin. Cermin sederhana itu memberikan kenikmatan yang bukan main besarnya pada suaminya, seolah-olah telah kembali padanya suatu dunia-hijau yang segar.

Dia dapat melihat Kyoko bekerja di kebun, tetapi tentu saja ia tidak dapat melihat ulat-ulat yang sedang dibersihkan istrinya dari daun-daun sayur. Maka ia akan menggunakan bel dan Kyoko datang memperlihatkan ulat-ulat itu.

“Tetapi cacing tanah dapat kulihat dari sini,” kata suaminya berolok-olok, ketika dilihatnya Kyoko sedang menggaruk-garuk tanah.

Jika matahari menyinarkan cahayanya melalui jendela, kadang-kadang Kyoko melihat gumpalan cahaya terang yang tiba-tiba bergerak. Suaminya sedang memainkan cermin dengan memantulkan cahaya matahari itu. Ia menghendaki agar Kyoko membuat celana kerja dari kimono biru yang dipakainya dulu pada masa mahasiswanya. Sebab ia ingin mengangumi Kyoko bekerja di kebun, di mana cahaya dimainkan di atas patron biru dan putih dari kimono tersebut. Bila Kyoko bekerja di kebun, alam-tak-sadarnya mengatakan ia sedang diamat-amati. Ia merasa senang diamat-amati oleh suaminya, hal mana terbukti bahwa ia sudah sangat berubah sejak hari-hari pertama perkawinan mereka. Waktu itu Kyoko masih malu jika ia memegang cermin di atas kepalanya, dan lengan kimononya yang merosot itu tiba-tiba mempertontonkan pangkal lengannya yang telanjang. Sekarang ia malah senang suaminya diam-diam mengamatinya. Tetapi barulah setelah perkawinannya  yang kedua, Kyoko menggunakan make-up dan gincu untuk mempercantik diri. Seolah-olah ia hendak mengejar tahun-tahun ketika ia harus merawat suaminya dan masa ia dalam dukacita itu. Dia kini sadar akan kecantikannya dan mengerti bahwa suami keduanya tidak berlebihan ketika berkata ia cantik.

Juga setelah mandi ia tidak mau lagi pada pantulan tubuhnya di cermin itu. Ia telah menemukan kecantikannya sendiri. Tetapi perasaan akan adanya keistimewaan pada gambar-gambar  di cermin, yang dikenalnya pada masa bersama suami pertamanya, tidaklah hilang. Dia tidak menyangsikan adanya kecantikan istimewa yang dipantulkan oleh cermin itu. Malah sebaliknya, ada kecenderungan untuk tidak percaya pada kebenaran dunia di luar cermin tersebut, walaupun perbedaan antara kulitnya didalam cermin dan yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri tidaklah begitu besar; seperti perbedaan tempo hari antara langit yang berwarna abu-abu dengan yang mengkilap. Hal ini bukanlah akibat dari perbedaan jarak. Mungkin juga keinginan suaminya yang sakit itu yang menyebabkan adanya kilap ajaib pada langit. Hingga saat kematian suami pertamanya, ia tak tahu rahasia cermin itu yang sebenarnya.

Lagi-lagi terkenang oleh Kyoko, betapa suaminya bergairah mengamatinya dalam cermin sewaktu ia bekerja di kebun, dan betapa putihnya bunga lili, betapa riangnya anak-anak, betapa indahnya cahaya matahari pagi memantulkan sinarnya di puncak-puncak pegunungan yang penuh salju; sewaktu mereka bersama-sama menikmati pemandangan melalui cermin itu. Maka timbullah kerinduan padanya untuk melihat dunia rahasia itu, yang hanya diperuntukan bagi mereka berdua. Tetapi agar tidak menyedihkan hati suaminya yang baru, Kyoko menekan sekuat tenaga perasaan itu, yang kadang-kadang merupakan kerinduan jasmaniah dan ia mencoba menganggapnya sebagai keinginan melihat surga melalui lubang kunci.

Pada suatu pagi di bulan Mei ia mendengar di radio nyanyian burung-burung di hutan, yaitu siaran yang dipancarkan dari lereng gunung di daerah mana ia tinggal sampai saat suami pertamanya meninggal.

Jika  pagi-pagi suaminya meninggalkan rumah untuk ke kantor, sering Kyoko mengeluarkan cermin-tangan itu dari gagangnya untuk dipantul-pantulkan ke langit. Atau ia memperhatikan wajahnya sendiri di cermin tersebut. Dan terjadilah sesuatu yang memesona, yaitu orang hanya dapat melihat wajahnya melalui cermin. Tak ada orang yang dapat  melihat wajahnya sendiri. Lalu timbul pertanyaan, seberapa besar kebenaran gambar di cermin itu dengan wajah kita sendiri. Lama Kyoko memikirkan hal ini. Apa sebabnya Tuhan menjelmakan manusia sedemikian rupa, sehingga ia tak bisa melihat wajahnya sendiri?

Coba bayangkan jika kita dapat melihat wajah kita sendiri, apakah manusia akan tahan dalam keadaan seperti ini? Apakah dengan demikian tak mungkin kita dapat hidup terus? Perkembangan alamiah menyebabkan manusia tak dapat melihat wajahnya sendiri. Dengan susunan mata yang rumit itu, mungkin penglihatan kita bsia diterbangkan atau dilayang-layangkan.

Tetapi mungkin muka seseorang hanya boleh dilihat oleh orang lain. Bukankah hal ini sama halnya dengan cinta?

Sewaktu kaca cermin diletakkan lagi pada gagangnya, Kyoko tertarik akan kombinasi bingkai kayu murbei dan garis-garis kembang yang tergores didalamnya. Karena kaca cermin yang lama sudah terbakar bersama suaminya, maka gagang itu dapat disamakan dengan seorang janda. Tetapi kaca cermin itu memiliki segi kerugiannya juga. Kyoko selalu melihat di dalamnya wajah suaminya yang kurus-kering. Mungkinkah suaminya juga melihat tengkoraknya di belakang cermin itu? Kalau begitu, mungkinkah dalam hal ini kita bisa bicara tentang suatu pembunuhan psikologis, dan sebenarnya Kyoko-lah pembunuh itu, karena ia yang memberikan cermin itu pada suaminya? Tetapi suaminya sendiri tak sependapat dalam hal ini.

“Apa kau mau membuat aku buta? Selama aku masih hidup, aku ingin melihat dunia dan mencitainya,” demikian kata suaminya.

Ia rela mengorbankan jiwanya untuk mempertahankan cermin itu. Bila hujan lama turun berlarut-larut, mereka mengagumi bulan—atau tepatnya kolam kecil di kebun tempat bulan dipantulkan. Bulan itu, yang sebenarnya  tak lain adalah suatu gambar cermin, masih tetap bersinar di hati Kyoko.

Suaminya yang kedua senang mengucapkan, “Cinta yang sehat menghendaki tubuh yang sehat.”

Kyoko hanya mengangguk saja, walaupun sebenarnya ia tidak sependapat. Sewaktu suami pertamanya meninggal, timbul perasaan menyesal pada Kyoko bahwa tahun-tahun itu dilaluinya tanpa hubungan badan. Tetapi setelah itu terasa pula bahwa pengingkaran seksual itu adalah kenangan yang terhangat dalam cinta mereka; suatu kenangan dimana cinta penuh-sesak dan penyesalan terhapus karenanya. Mungkin suaminya yang kedua menganggap soal cinta itu enteng saja.

“Kenapa kau menceraikan dia, sedangkan kau adalah manusia yang dimikian baiknya?” pernah Kyoko bertanya.

Pertanyaan itu tak pernah dijawab suaminya.

Kyoko mengawininya atas desakan kakak tertua suaminya almarhum. Empat bulan mereka berkawan, kemudian mereka kawin. Dia lima belas tahun lebih tua dari Kyoko.

Sewaktu Kyoko mengandung, ia begitu takut hingga seluruh wajahnya berubah. “Aku  takut! Aku takut!” Ia mendekap kuat-kuat suaminya. Ia sangat menderita karena muntah-muntah dan kadang-kadang tampak seperti orang tidak waras. Maka berjalanlah ia di kebun untuk mengumpulkan daun-daun cemara, atau ia memberi anak tirinya dua bungkus makanan untuk ke sekolah, yang dua-duanya hanya terdiri dari nasi ketan belaka. Sering pula ia menengok pada cermin, seolah-olah pandangannya tembus ke dalam kaca itu. Suatu malam ikat pinggang kimononya terlepas, dan ia sangat terkejut ketika tanpa sadar ia membuat jerat dari ikat pinggang tersebut. Apakah ia hendak menjerat leher suaminya? Sesaat kemudian Kyoko menangis histeris, sampai ia mandi air mata dan suaminya terbangun. Seolah tak terjadi apa-apa, suaminya dengan penuh kasih melekatkan ikat pinggang itu kembali. Kyoko menggigil, walaupun malam itu adalah malam musim panas yang amat hangat.

“Percayalah pada anakmu, Kyoko!” kata suaminya yang lalu memeluknya dengan kasih sayang.

Dokter menghendaki agar Kyoko bersalin di rumah sakit. Mula-mula Kyoko tidak setuju, tetapi kemudian menyetujuinya.

“Aku akan minta diopname, tapi kuharap kau setuju agar terleblih dahulu aku mengunjungi orangtuaku.”

Beberapa hari kemudian suaminya mengantarnya ke desa di mana orangtuanya tinggal. Esok harinya Kyoko diam-diam meninggalkan rumah dan mengambil kereta ke bukit, di mana ia pernah tinggal bersama suami pertamanya. Waktu itu permulaan bulan September, sepuluh hari lebih awal dari saat mereka pindah ke sana dulu, Kyoko merasa ia mau munta. Kereta api membuatnya mabuk darat, sehingga rasanya ia ingin meloncat keluar saja. Sewaktu kereta tiba di daerah pegunungan yang lebih tinggi, Kyoko merasa badannya enakan karena udara segar itu. Ia sudah dapat menguasai dirinya  lagi; setan yang menganggunya tadi rupanya sudah lenyap. Tetapi toh ia berdiri di muka gedung stasiun kecil itu seperti orang bingung. Di sekelilingnya berderet gunung-gunung yang membiru menggambarkan langit . Di dalamnya ia melihat suatu kehidupan penuh misteri. Ia menghapus airmatanya yang jatuh berlinang dan perlahan-lahan berjalan ke rumah dimana mereka pernah tinggal.

Dari hutan yang gelap dalam udara senja terdengar burung nuri berkicau. Rumah itu kini ditinggali orang lain, dan dari jendela atas sebuah tirai putih menggelepar karena angin. Kyoko berdiri sebentar, karena ia hanya mau melihat rumah itu dari kejauhan saja.

“Dan apabila anak ini wajahnya seperti dia,” pikirnya tiba-tiba.

Ia terkejut sendiri karena pikiran itu, tetapi ia dihinggapi perasaan tenang yang teramat sangat sewaktu dalam perjalanan pulang. (*)

*YASUNARI KAWABATA, lahir di Osaka, Jepang tahun 1899 dan meninggal tahun 1972. Mulanya Kawabata bercita-cita menjadi pelukis, tetapi kemudian dunia karang-mengarang lebih menarik perhatiannya. Sejak Sekolah Lanjutan, ia sudah menulis untuk majalah-majalah sastra dan surat kabar, dan setelah menamatkan pendidikan di Univesitas Tokyo ia menjadi redaktur dua majalah sastra terkemuka di Jepang. Sejak itulah ia menulis dengan gaya ceosensualisme, dan secara halus menyarakan pandangan hidup orang Jepang. Kawabata terutama dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis cerpen dan esai. Bahkan pada masa mduanya ia juga menulis puisi. Novel-novel Kawabata antara lain Yukiguni (1947), Senbazuru (1949), Meijin (1954), Yama no Oto (1954) dan Nerumeru Bijo (1961). Sedangkan kumpulan cerita pendeknya yang banyak diterjemahkan dan dibicarakan adalah Izu no Odoriko (1926).

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerpen

Samuel Beckett: Molloy

mm

Published

on

Aku ada dikamar Ibu. Sekarang aku memang tinggal di sana. Aku tak tahu, bagaimana aku bisa sampai ke sana. Barangkali dengan ambulans, sejenis kendaraan atau angkutan tertentu. Aku tidak betah. Heran. Aku tak pernah disana sendirian.

Ada seorang laki-laki yang rutin berkunjung setiap minggu. Mungkin aku harus berterima kasih padanya. Dia tidak banyak bicara. Dia memberiku uang dan mengambil berkas-berkas. Lebih banyak berkas, akan lebih banyak uang. Ya, aku bekerja sekarang. Setidak-tidaknya, yang kuangankan, sedikit mirip. Lagi pula aku tidak tahu persis, bagaimana sesungguhnya bekerja itu. Agaknya ini tidak penting.

Apa yang sesungguhnya kuinginkan sekarang adalah membicarakan hal-hal yang telah lewat, mengucapkan selamat tinggal, lalu mengakhiri dengan kematian. Tetapi mereka tak mengiinginkan hal itu terjadi padaku. Ya, kukatakan mereka, karena lebih dari satu—tampaknya begitu. Tetapi, hanya orang itu-itu saja yang datang. Kamu akan bisa mengerjakannya nanti, katanya. Baguslah.

Nyatanya, aku tak akan membiarkan semua ini terus tertinggal. Yaitu ketika dia datang dengan berkas-berkas baru yang ia bawa minggu berikutnya. Mereka sibuk menandai dengan tanda-tanda yang sama sekali tidak kumengerti. Karena itu, aku sengaja tak membacanya. Dan ketika aku tidak mengerjakan apa-apa, mereka tidak memberiku apa-apa. Bahkan mengancamku.

Sebenarnya aku tidak bekerja demi uang. Lalu, untuk apa? Aku tidak tahu. Sungguh, aku tidak tahu banyak. Sebagai contoh, kematian Ibu. Apakah berliau sudah meninggal waktu aku datang? Ataukah beliau meninggal kemudian, yaitu baru meninggal beberapa saat setelah kedatanganku?

Kukira Ibu sudah dimakamkan. Entahlah. Mungkin mereka malah belum menguburkannya. Yang pasti, di sisi lain, aku memiliki kamarnya. Aku tidur di ranjangnya. Aku buang air dan meludah di pispotnya. Aku sudah mengambil alih tempatnya. Barangkali, semakin lama aku semakin mirip dengannya.

Yang lebih kubutuhkan sekarang sebenarnya seorang anak laki-laki. Barangkali suatu saat nanti aku akan memiliki satu. Tapi kupikir tidak. Dia sudah sangat tua sekarang. Hampir setua aku. Dia hanyalah pelayan rendahan. Ini bukan cintaku yang sesungguhnya.

Cinta yang sejati telah kupersembahkan pada orang yang lainnya lagi. Kita akan membicarakannya setelah ini. Namanya? Ah, aku sudah lupa. Dan agaknya, bagi diriku sendiri, kadang-kadang seakan aku merasa begitu mengetahui ihwal anak laki-lakiku tadi. Aku bentul-betul menganguminya. Kemudian aku meyakinkan diriku kalau itu tidak mungkin. Seperti juga tidak mungkinya aku dapat mengagumi orang lain. Aku bahkan sudah lupa, bagaimana mengeja dan memilah kata-kata. Tampaknya ini tidak penting.

Baiklah. Dia adalah kartu ajaib bagiku, yang datang secara khusus untuk menjengukku. Agaknya dia datang hanya setiap hari Minggu. Pada hari-hari yang lain, dia libur. Dia selalu keharusan. Dialah yang membentakku kalau aku mulai mengerjakan sesuatu yang menurutnya salah; dan aku seharusnya mengerjakannya secara berbeda. Mungkin dia benar. Aku harus memuliai dari permulaan lagi; seperti meneliti suatu kesalahan yang usang dan membingunkan—bisakah kalian bayangkan?

Ini permulaan bagiku. Mungkin karena itulah mereka membiarkannya saja.Aku menemui banyak kesulitan. Padahal ini baru permulaan—kalian lihat? Seolah-olah sekarang aku sedang mendekati titik akhir. Apakah yang kukerjakan saat ini jauh lebih baik? Entahlah.

Kota itu tidak jauh. Ada dua orang, mungkin tidak mudah kalian pahami. Yang satu pendek, yang satunya lagi lebih tinggi. Mererka bergerak meninggalkan kota. Mula-mula yang satu, kemudian yang lainnya. Dan kemudian, dengan susah-payah mereka mengingat-ingat semua perbuatan yang telah mereka kerjakan. Udara dingin menusuk tajam, sehingga mereka mengenakan mantel-mantel tebal. Mereka tampak serupa satu sama lain.

Tetapi tak ada lagi yang mereka kerjakan. Pada awalnya jarak yang lebar membentang diantara mereka. Mereka tidak saling melihat. Padahal mereka sudah mencapai keadaan di mana kepala mereka saling berhadapan. Namun, dikarenakan jarak yang lebar, ruang yang lapang, dan kemudian karena tanah yang bergelombang yang menyebabkan jalanan jadi ikut bergelombang—meskipun tidak curam dan terjal tapi cukup berkelok. Tetapi saatnya tiba, ketika mereka berdua tiba di sebuah ruang yang sama dan akhirnya tikungan-tikungan itu bertemu.

Untuk mengatakan bahwa mereka saling memperkenalkan diri, tidak, tidak ada apa pun yang jadi jaminannya. Tetapi, barangkali dari suara langkah-langkah kaki atau ditandai gemerisik uap insting yang samar-samar, mereka saling mendongakkan kepala dan saling menyelidiki satu sama lain, untuk menentukan langkah-langkah yang baik sebelum akhirnya mereka berhenti dan saling berhadapan.

Ya, mereka tidak saling melewati, tetapi mengendap-endap, berhadap-hadapan, mengadu wajah seperti ketika di desa: pada suatu senja di ruas jalan yang sejuk, dua sosok bayang-bayang saling berkelebat, tanpa terjadi sesuatu yang luar biasa. Tetapi barangkali saja mereka sudah saling mengenal satu sama lain, mengagumi satu sama lainnya, saling memuji, bahkan setelah mereka sampai ke sudut-sudut kota.

Mereka berjalan memutar, melewati laut yang ada di ujung timur. Jauh dari padang-padang rumput, memanjat cakrawala tinggi dengan menggubah sedikit kata-kata. Kemudian keduanya berjalan ke arah masing-masing. A melintasi kota, B melewati jalanan yang seolah teramat sulit untuk dia mengerti. Atau semuanya.

Selama dia pergi dengan langkah-langkah tak menentu dan terkadang terlalu sering menghentikan langkahnya untuk mengamati apa saja, dia seperti seseorang yang mencoba memperbaiki letak penanda batas-tanah-milik di dalam benaknya. Pada suatu hari, barangkali dia harus berkali-kali membalikkan langkahnya—kalian tak akan pernah tahu kenapa.

Dia tampak tua. Dan dengan pandangan mata penuh penyesalan, ia menekuri kesunyian yang telah ditempuhnya berabad-abad, bertahun-tahun, berhari-hari, dan bermalam-malam tanpa bernah berpikir untuk membiarkan keajaiban-keajaiban itu muncul justru pada hari kelahirannya, atau bahkan jauh-jauh hari sebelumnya.

Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Sekarang, perlahan, sebuah bisikan. Sekarang, lebih teliti dari apa yang telah dikerjakan seorang pelayan teladan. Dan selanjutnya? Sesudah itu? Dan sering pula muncul sebagai jeritan. Dan pada akhirnya, aku harus percaya padanya. Aku tahu, tinggal ini kesempatanku. Tinggal ini saja. Aku percaya lagi pada umur panjangku. Dan sekarang aku mengunyah apa saja dengan asyik.

Apa yang kubutuhkan sekarang adalah dongeng-dongeng yang membutuhkan waktu sangat lama untuk memahaminya, dan aku tidak yakin apakah itu ada, memberi informasi padamu, pada kalian, hal-hal tertentu; tentang benda-benda yang kuketahui, tentang hal-hal yang tidak kumengerti. Hal-hal yang begitu menyulitkanku, juga yang tak pernah menyulitkanku.

Apapun bahasanya. Apa pun istilahnya. Aku bahkan telah mempelajari apa profesinya, karena aku tertarik pada keahlian-keahlian. Dan berpikir: aku mencoba mengerjakan yang terbaik untuk tidak bercerita tentang diriku sendiri. Pada suatu ketika aku mungkin akan bercerita tentang ternak-ternak, tentang langit dan apa saja, apabila aku mampu melakukannya.

Aku di sana, kemudian dia meninggalkan aku. Dia tampak terburu-buru. Dia mengembara, seperti yang sudah pernah kukatakan pada kalian; tetapi, setelah tiga menit berbicara denganku, dia tampak terburu-buru. Aku percaya padanya. Dan sekali lagi, aku tak akan menceritakan diriku sendiri. Tidak, itu tidak seperti aku. Tetapi bagaimana aku harus mengatakannya, aku tidak tahu.

Memperbaiki diri sendiri, menyempurnakan diri sendiri, oh tidak. Aku tak akan bisa membiarkan diriku sendiri. Bebas. Ya. Aku tak tahu apa artinya itu, tetapi itulah kata yang kupilih dan kugunakan. Bebas untuk mengerjakan apa saja, bebas untuk tidak melakukan apa-apa, bebas untuk mengetahui—tapi apa? Mungkin hukum-hukum pemikiran; pemikiran-pemikiranmu sendiri yang serupa air mengalir secara proporsional ketika ia memutuskan untuk membasahimu. Dan kalian akan mengerjakan hal-hal yang baik, paling tidak, tidak terlalu buruk untuk menghapus teks-teks, menghilangkan margin-margin, mengisi lubang kata-kata, sampai segalanya menjadi kosong dan datar. Sehingga segala kesibukan yang tampaknya dahsyat, menakutkan dan tak berperasaan atau semacamnya menjadi tak terkatakan, sampai tak ada lagi isu kemiskinan. Jadi aku tak merasa ragu untuk mengerjakan semua yang lebih baik, paling tidak, tidak terlalu buruk, dan tidak menyusahkan diriku sendiri dengan serangkaian observasi tentang segala sesuatu yang akan terjadi nanti.

Aku memiliki cacat untuk dapat membangkitkan semangat orang lain, yaitu orang-orang yang bertongkat. Kemudian bisik-bisikan dan gumam-gumam itu kembali dimulai. Untuk bersunyi sendiri; mengembalikan peranan lebih dari sekadar objek-objek.

Kemudian, aku masih hidup. Mungkin kehadiranku masih berguna. Mahkota dan pakaian kebesaran kupandang sebagai sesuatu yang belum layak kubicarakan sekarang, karena masih terlalu dini. Tanpa ragu-ragu aku akan membicarakannya nanti, jika sudah tiba saatnya untuk membicarakan penemuan kebaikan-kebaikan serta harapan-harapan milikku. Jika tidak, aku akan merelakannya hilang, terselip di antara hari-hari sekarang dan nanti. Tetapi, bahkan ketika semua itu hilang, mereka tetap akan mendapat tempat, di dalam daftar semua barang kesayanganku. Tetapi, mudah bagi ingatanku; tidak seharusnya aku menghilangkannya. Seperti tongkat setiaku, yang tidak seharusnya kuhilangkan juga.

Barangkali sekarang aku sedang berada di puncak atau di lereng, di antara orang-orang penting dan terkenal, demi orang lain. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku dapat melihat begitu jauh, begitu dekat di tangan, begitu banyak hal yang tetap dan yang berpindah-pindah. Tetapi, apa yang akan dilakukan seseorang yang sudah sangat terkenal di tempat yang hampir-hampir tak beriak ini? Dan aku, apa yang kukerjakan di sini, dan kenapa mesti datang?

Ada banyak hal yang mesti kita coba dan temukan. Tetapi ada hal-hal tertentu yang tidak seharusnya kita pikirkan dengan serius. Ada sebagian dari segala sesuatu yang secara penampakan wajud lahirnya memiliki cacat tersendiri. Dan pada suatu ketika aku mungkin menjadi bingung oleh kontrasnya perbedaan-perbedaan itu. Tetapi pertentangan-pertentangan adalah tempat kediamanku. (*)

_______________________

*) Samuel Beckett: Peraih Nobel Prize for Literature 1969. Lahir di Dublin, Irlandia tahun 1906 dan meninggal tahun 1989 di Paris, Prancis. Beckett dianggap sebagai salah satu pengarang abad ke-20 yang paling inovatif dan berpengaruh. Hal ini berangkat dari keyakinannya, yang lalu membekas dalam karya-karyanya, bahwa hidup manusia adalah absurd, tidak jelas, keras, dan akhirnya tidak memiliki tujuan. Secara pribadi, ia gigih menyuarakan metafora-metafora tentang malaise moral manusia.

Beckett terutama dikenal sebagai penulis drama, tetapi ia juga menulis novel dan puisi. Ia telah menulis enam novel, empat naskah drama serta lusinan framen yang lebih pendek, selain sebuah esai dan satu kumpulan puisi. Tetapi yang membuat namanya dikenal adalah karya drama Waiting for Godot (1952) yang disebut-sebut sebagai drama paling penting dalam abad ke-20.

Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Keusastraan pada Beckett sebagai pengakuan: “…..untuk karangan-karangannya yang dalam serta mengungkap kekurangan manusia modern, mendapatkan tempat yang luhur lewat bentuk novel dan drama gaya baru…..

Beckett adalah sastrawan kedua Irlandia (Setelah William Butler Yeats tahun 1923) yang memperoleh penghargaan tersebut. Atau sastrawan ketiga setelah George Benard Shaw (tahun 1925) yang kemudian hijrah dan menjadi warga negara Inggris.

**) Penerjemah: Endang Susanti R.A.

 

 

 

Continue Reading

Cerpen

Kotak Kardus Aulina

mm

Published

on

Aulina berusia empat tahun tiga bulan ketika mengejutkan bapaknya dengan berkata, “belikan aku hape android. Aku mau liat youtube.” Bapaknya menyemburkan kopi pagi yang baru dihirupnya ketika itu. Pedagang peracangan itu meletakkan piring gelasnya yang masih berisi kopi, lalu memandang lekat-lekat bocah playgroup tersebut. “Apa yang kau katakan?” tanyanya tak percaya.

“Teman-teman bawa hape ke sekolah,” jawab si bocah. “Dan mereka liat youtube.”

Bapaknya mengangkat si bocah, lalu meletakkannya di pangkuannya. “Emangnya ada apa di youtube?

“Banyak Yah. Ada video-video bagus,” ujar si bocah. Lalu mulutnya nyerocos menceritakan lagu-lagu dan aneka jenis jogetan yang ia saksiksan di layar ponsel temannya, juga kisah seorang putri yang mampu menciptakan salju dari kibasan tangan atau bagaimana seorang putri artis seumuran dengannya menghabiskan hari di salon untuk mencuci rambut dan melumuri tubuh dengan krim entah apa. “Setelah itu, dia main kuda-kudaan dan sepatunya yang bagus robek,” sambung Aulina. Mulut mungilnya tampak menggemaskan dan matanya berkilauan. “Tapi dia pinter Yah, soalnya dia gak nangis,” tambahnya. Bapaknya tertawa sebelum mencubit pipinya.

“Kamu juga pintar. Hayo mandi sana. Sebentar lagi kamu harus berangkat. Mana ibumu?”

“Tapi hapenya?”

“Kamu kan masih kecil,” jawab bapaknya seraya tertawa.

Permintaan itu terus diulang Aulina hingga seminggu kemudian. Seiring hari, rengekan dan rayuannya lebih dahsyat dari sebelumnya. Bapak dan ibunya, yang mulanya mengira Aulina akan segera melupakan keinginannya, segera merasa terteror. Awalnya, mereka mencoba mengalihkan perhatian Aulina dengan mengajaknya jalan-jalan ke pasar kecamatan dan menjajaninya sosis goreng kesukaan si bocah. Itu berhasil membujuk Aulina, tapi tak lama. Keesokan harinya, Aulina kembali merengek. Ibunya mengambil boneka panda kesukaan Aulina dan mengulang dongeng bagaimana seorang bocah yang durhaka kepada orangtuanya dikutuk menjadi binatang yang di kemudian hari disebut panda. Biasanya, dongeng itu cukup mangkus meredam kerewelan Aulina. Namun tidak kali itu. Aulina berteriak bahwa ia bosan pada kisah panda dan satu-satunya yang ia ingini adalah hape android supaya ia bisa lihat youtube seperti teman-temannya di playgroup. Bapaknya tidak diam saja dalam episode runyam itu. Lelaki tiga puluhan tahun tersebut menyalakan televisi dua puluh satu inchi dan menyetelnya pada chanel yang menayangkan Shaun The Sheep. “Aku mau youtube,” Aulina kembali berteriak, kali ini sambil memuntahkan air mata. Pada hari kedelapan, tak tahan dengan rengekan tanpa akhir dan mustahil diredakan tersebut, mereka memarahi Aulina dan mengatakan beberapa perkara dengan cara yang tidak semestinya mereka gunakan kepada anak berusia empat tahun tiga bulan. Perkara-perkara itu meliputi bahwa Aulina selayaknya bersyukur bisa makan tiap hari dan berkesempatan merasakan playgroup dan tak perlu meminta yang aneh-aneh mengingat pekerjaan bapaknya yang hanya pedagang pracangan tak memungkinkan mereka untuk hidup mewah. Sementara cara tidak pantas yang mereka terapkan antara lain, berkata dengan suara keras dan cenderung membentak, mata merah, dan ludah yang berkali-kali muncrat menimpa wajah si bocah. Aulina sempat membantah perkataan bapaknya. Ia bilang bahwa Sri, yang sudah tidak punya bapak, bisa punya hape android. Bapaknya merespon ucapan Aulina yang terkesan meremehkan dan mencabik harga diri seorang bapak itu dengan sebuah tamparan di pipi yang merupakan puncak dari ketidakpantasan tersebut.

Hari itu, Aulina mengurung diri di kamar. Itu adalah suatu hari Minggu yang cerah. Likuran tahun sebelumnya, pada hari libur seperti itu, bapak dan ibu Alina akan menghabiskan waktu dengan bermain petak umpet atau sondah atau bentengan di luar rumah bersama kawan-kawan mereka. Namun hari itu, lingkungan sekitar mereka tampak kalis dari anak kecil. Orangtua Alina tahu, zaman sudah berubah. Tak ada lagi pemandangan bocah yang berlarian dan bermain di luar rumah hingga lupa waktu sehingga memaksa orangtua mereka untuk marah-marah menyuruh mereka pulang. Anak-anak kini lebih suka mendekam dalam rumah dengan gawai di tangan, menghabiskan hari dengan menekuri benda ajaib mungil tersebut. Mereka sesungguhnya menginginkan Aulina tumbuh seperti anak-anak lain sezamannya. Mereka tak ingin Aulina menjadi aneh karena merupakan satu-satunya anak yang tidak punya gawai. Namun apa daya, mereka memang belum memiliki cukup uang untuk memenuhi keinginan tersebut.

Di dalam kamar, Aulina menghabiskan hari dengan menangis dan terus menangis. Ia tidak mempedulikan panggilan ibunya dan malah memperkeras volume tangisannya. Bapaknya, alih-alih ikut membujuknya, justru menyibukkan diri dengan barang dagangan. Kepada istrinya, lelaki itu hanya berkara singkat, “nanti kalau capek juga berhenti nangis.”

Kenyataannya, bukan Alina yang capek, melainkan ibunya. Dan pada akhirnya, capek  membujuk Alina, ibunya menyetujui pendapat suaminya. Mengerti bahwa ibunya juga tidak lagi berusaha membujuknya, Aulina malah menjadi-jadi. Ia tidak hanya menangis, melainkan juga membongkar kotak mainannya dan melempar-lemparkan isinya. Sisi si boneka berambut merah terlontar hingga ambang pintu, panci dan kompor plastik kecil berserakan di bawah meja, buku cerita bergambar robek beberapa halaman, dan bola-bola plastik kecil aneka warna bergelindingan ke seantero ruangan.

Kotak mainan itu sesungguhnya adalah kardus bekas bungkus televisi dua puluh satu inchi dan cukup besar untuk menyembunyikan tubuh Aulina. Setelah mengosongkan kardus tersebut dan ibunya tidak kunjung muncul, Aulina meneruskan ngambeknya dengan memasuki kardus tersebut. Di sanalah, kelelahan menangis dan mengacak-acak mainannya, ia jatuh tertidur.

Belum lama matanya terpejam ketika ia merasa terjatuh. Tubuhnya yang payah membuatnya terlelap dengan cepat ketika otaknya belum siap. Otak itu, merespon tubuh yang tiba-tiba lemah, memerintahkan otot untuk bersiap dan menegang. Itulah sesungguhnya yang terjadi namun Aulina mengira ia terpeleset lantas terjatuh dalam tidur. Ia tersentak dan terbangun. Dan di sanalah ia menemukan dirinya, di antara gumpalan salju, langit biru cerah, dan angin yang membawa lagu-lagu merdu. Lagu itu memiliki syair dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Namun tubuhnya bergoyang secara intuitif. Semua terasa begitu asing, tentu saja. Namun alih-alih takut, ia justru tertawa. Ia melonjak-lonjak. Rambutnya terkibas kencang hingga ujungnya terjuntai ke depan dadanya. Ia terkejut. Rambutnya hanya sepanjang bahu. Jadi mustahil rambut itu bisa terkibas hingga ke dada. Ia meraba rambutnya. Panjang hingga pantat dan terkepang. Warnanya merah tembaga. Mengingatkannya pada rambut seorang putri yang mampu menciptakan salju dari kibasan tangan. Dan pada waktu itu pula ia menyadari bahwa tubuhnya juga telah berubah. Dadanya membusung. Ia merabanya. Ia menjerit mendapati dua buah dada besar kencang di sana. Ia meraba pinggulnya. Jauh lebih besar dari yang ia ingat. Bajunya juga bukan baju motif polkadot yang ia kenakan sebelumnya, melainkan gaun seperti yang ia lihat dalam video youtube yang dikenakan oleh para putri.

Aulina tak tahu apa yang terjadi. Dan perutnya mulai bernyanyi. Ia lapar.

Ia mengamati sekelilingnya lebih cermat. Hamparan yang begitu luas, seperti tak terbatas. Gumpalan salju jauh lebih banyak dari yang ia sangka, menjadikan lanskap itu seakan medan berwarna putih semata. Dan itu membuatnya takut. Ia berteriak. Lanskap mengembalikan teriakannya. Itu membuatnya semakin kalut. Ia berteriak lebih kencang. Dan pantulan yang ia dengar lebih mengerikan. Ia berlari. Ia memanggil ibunya. Ia memanggil bapaknya. Namun tak ada sahutan. Ia berlari lebih kencang, sekencang yang ia bisa. Hamparan itu, kenyataannya, bukannya seperti tak terbatas, melainkan memang tak memiliki batas. Aulina mengira ia telah berlari sepanjang hari namun yang membentang di depannya tetaplah hamparan putih dengan gundukan salju terserak di mana-mana. Beberapa saat kemudian, sebuah gundukan salju menghalangi langkah kakinya. Ia terantuk dan terjatuh dengan muka membentur lantai terlebih dahulu. Ia merasa semua menggelap dengan cepat. Ia menangis. Namun tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya.

Aulina terbangun dua jam kemudian, ketika tangan ibunya menepuk-nepuk pundak dan pipinya. “Kamu kok tidur di sini? Ayo bangun,” ujar ibunya. Aulina menguap pelan. Lalu celingukan.  Tak ada hamparan tak bertepi dengan gundukan salju di sana-sini. Tak ada langit biru cerah. Tak ada angin yang menyanyikan lagu-lagu dengan lirik dalam bahasa yang ia tidak mengerti. Ia meringkuk dalam kotak kardus bekas bungkus televisi yang digunakan sebagai kotak penyimpan mainannya. Ia berada dalam kamarnya belaka, dengan langit-langit internit yang dikotori sejumlah sarang laba-laba. Ia meraba rambutnya. Sebahu dan tidak terlalu tebal. Ia menyentuh dadanya. “Ibu,” ia berkata lirih seraya menatap ibunya. Matanya berkaca-kaca.

“Hei, apa itu?” sang ibu mengangkatnya. “Apa yang terjadi di sini?”

Di dalam kardus itu, terserak butiran-butiran berwarna putih. Basah dan dingin.

“Kau tak apa?” ibunya meletakkan telapak tangan di kening Aulina. “Kau demam,” lirih ibunya.

Sore itu, Aulina dibawa ke bidan kampung. Bapaknya yakin bahwa demam tersebut disebabkan permintaan Aulina yang tidak dituruti dan akan sembuh dengan sendirinya. Namun ibunya tak mau ambil resiko. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

Continue Reading

Cerpen

Naguib Mahfouz: Surga Anak-anak

mm

Published

on

“BAPAK!”

“Ya?”

“Saya dan teman saya Nadia selalu bersama-sama.”

“Tentu, Sayang. Dia kan sahabatmu.”

“Di kelas, pada waktu istirahat, dan waktu makan siang.”

“Bagus sekali. Ia anak yang manis dan sopan.”

“Tapi waktu pelajaran agama, saya di satu kelas dan ia di kelas yang lain.”

Terlihat ibunya tersenyum, meskipun sedang sibuk menyulam seprai. Dan ia berkata sambil juga tersenyum:

“Itu hanya pada pelajaran agama saja.”

“Kenapa, Pak?”

“Karena kau punya agama sendiri dan ia punya gama lain.”

“Bagaimana sih, pak?”

“Kau Islam dan ia Kristen.”

“Kenapa?”

“Kau masih kecil, nanti akan mengerti.”

“Saya sudah besar sekarang.”

“Masih kecil sayangku.”

“Kenapa saya seorang Islam?”

Ia harus lapang dada dan harus hati-hati. Juga tidak mempersetankan pendidikan modern yang baru pertama kali diterapkan. Dan ia berkata:

“Bapak dan Ibu orang Islam. Sebab itu kau juga orang Islam.”

“Dan Nadia?”

“Bapak dan ibunya Kristen. Sebab itu ia juga Kristen.”

“Apa karena bapaknya berkacamata?”

“Bukan. Tak ada urusannya kacamata dalam hal ini. Dan juga karena kakeknya Kristen.”

Ia berusaha mengikuti silsilah kakek-kakeknya sampai entah tak ada batasnya, agar anak itu bosan dan mengalihkan pecakapan ke arah lain. Tapi sang anak bertanya:

“Siapa yang lebih baik?”

Ia berpikir sejenak, lalu berkata:

“Orang Islam baik dan orang Kristen juga baik.”

“Tentu salah satu ada yang lebih baik.”

“Ini baik dan itu juga baik.”

“Apa boleh saya berlaku seperti Kristen, agar kami bisa selalu bersama-sama?”

“Oo tidak, Sayang, itu tidak bisa. Tiap orang harus tetap seperti bapak dan ibunya.”

“Tapi, kenapa?”

Memang betul, pendidikan modern itu keji juga! Dan ia bertanya:

“Apa tidak tunggu saja sampai kau besar nanti?”

“Tidak.”

“Baiklah, kau tahu mode kan? Seseorang bisa menyenangi mode tertentu, dan orang lain menyenangi mode lain. Bahwa kau orang Islam, itu artinya mode terakhir. Sebab itu kau harus tetap Islam.

“Jadi, Nadia itu mode lama?”

Hmm, jangan-jangan Tuhan akan menjewermu bersama Nadia pada hari yang sama. Tampaknya ia telah melakukan kesalahan, betapapun ia sudah berhati-hati. Dan ia meraa seperti didorong tanpa ampun ke sebuah leher botol. Katanya:

“Masalahnya adalah selera. Tapi tiap orang harus tetap seperti bapak dan ibunya.”

“Apakah dapat saya katakan pada Nadia, bahwa ia mode lama dan saya mode baru?”

Segera ia memotong:

“Tiap agama baik. Orang Islam menyembah Allah, dan orang Kristen menyembah Allah juga.”

“Kenapa ia menyembah Allah di satu kelas dan saya di kelas yang lain?”

“Di sini Allah disembah dengan cara tertentu, dan di sana dengan cara lain?”

“Apa bedanya, Pak?”

“Nanti tahun depan kau akan mengetahuinya, atau tahun berikutnya lagi. Sekarang kau cukup tahu saja, bahwa orang Islam itu menyembah Allah dan orang Kristen juga menyembah Allah.”

“Siapa sih Allah, Pak?”

Jadinya ia berpikir agak lama juga. Lantas ia bertanya untuk sekadar mengulur waktu:

“Apa kata Bu Guru di sekolah?”

“Ia membaca surat-surat dari Al-Quran dan mengajari kami sembahyang. Tapi saya tidak tahu siapa Allah itu.”

Ia berpikir lagi, sambil tersenyum agak remang. Katanya:

“Ia yang menciptakan dunia seluruhnya.”

“Seluruhnya?”

“Ya, seluruhnya.”

“Apa artinya mencipta?”

“Yang membuat segala sesuatu.”

“Bagaimana caranya?”

“Dengan kekuasaan yang agung sekali.”

“Dimana Ia tingal?”

“Di dunia seluruhnya.”

“Dan sebelum ada dunia?”

“Di atas.”

“Di langit?”

“Ya.”

“Saya ingin melihat-Nya.”

“Tidak bisa.”

“Meski melalui televisi?”

“Ya, tidak bisa juga.”

“Tak seroang pun bisa melihat-Nya?”

“Tak seorang pun.”

“Bagaimana Bapak tahu Ia ada di atas?”

“Begitulah.”

“Siapa yang kasih tahu ia di atas?”

“Para nabi.”

“Para nabi?”

“Ya, seperti nabi kita Muhammad.”

“Bagaimana caranya?”

“Dengan kesanggupan yang khas ada padanya.”

“Kedua matanya tajam sekali?”

“Ya.”

“Kenapa begitu?”

“Allah menciptakannya begitu.”

“Kenapa?”

Dan ia menjawab sambil menahan kesabarannya:

“ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki.”

“Dan bagaimana nabi melihat-Nya?”

“Agung sekali, kuat sekali, dan berkuasa atas segala sesuatu.”

“Seperti Bapak?”

Ia menjawab sambil menahan tawanya:

“Ia tak ada bandingannya.”

“Kenapa Ia tinggal di atas?”

“Bumi tak bisa memuat-Nya. Tapi Ia bisa melihat segala sesuatu.”

Anak kecil itu diam sebentar, lalu katanya:

“Tapi Nadia bilang, Ia tinggal di bumi.”

“Karena Ia tahu dan melihat segala sesuatu, maka seolah-olah Ia tinggal di mana-mana.”

“Dan ia juga bilang, orang-orang telah membunuh-Nya.”

“Tapi Ia hidup dan tidak mati.”

Nadia bilang, orang-orang itu telah membunuh-Nya.”

“Tidak, Sayang. Mereka mengira telah membunuh-Nya. Tapi Ia hidup dan tidak mati.”

“Dan kakekku masih hidup juga?”

“Kakekmu sudah meninggal.”

“Apa orang-orang juga telah membunuhnya?”

“Tidak, ia meninggal sendiri.”

“Bagaimana?”

“Ia sakit, dan kemudian meninggal.”

“Dan adikku juga akan meninggal karena ia sakit?”

Keningnya mengernyit sebentar, sementara ia melihat gerak semacam protes dari arah istrinya.

“Tidak, insya Allah ia akan sembuh.”

“Dan kenapa Kakek meninggal?”

“Sakit dalam ketuaannya.”

“Bapak pernah sakit dan Bapak juga sudah tua. Kenapa tidak meninggal?”

Tiba-tiba ibunya menghardiknya. Anak itu jadi heran tak mengerti, sebentar matanya ditujukan pada ibunya, sebentar lagi pada ayahnya. Kata sang ayah:

“Kita semua akan mati kalau Tuhan menghendakinya.”

“Kenapa Tuhan menghendaki agar kita semua mati?”

“Ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki.”

“Apa mati itu menyenangkan?”

“Tidak, Sayang.”

“Kenapa Tuhan menghendaki sesuatu yang tidak menyenangkan?”

“Selama Tuhan yang menghendaki begitu, itu artinya baik dan menyenangkan.”

“Tapi tadi Bapak bilang, itu tidak menyenangkan.”

“Hmm, Bapak keliru tadi.”

“Dan kenapa Ibu marah waktu saya bilang bahwa Bapak akan mati?”

“Karena Tuhan belum menghendaki begitu.”

“Kenapa Ia menghendaki begitu, Pak?”

“Dialah yang membawa kita ke dunia, dan Dia pula yang membawa kita pergi.”

“Kenapa?”

Agar ita berbuat baik di dunia sebelum kita pergi.”

“Kenapa kita tidak tinggal saja terus di dunia?”

“Nanti tak akan muat dunia kalau semua orang tinggal.”

“Dan kita tinggalkan hal-hal yang baik?”

“Kita akan pergi ke hal-hal yang lebih baik lagi.”

“Di mana?”

“Di atas.”

“Si sisi Tuhan?”

“Ya.”

“Dan kita bisa melihat-Nya?”

“Ya.”

“Tentunya itu bagus kan?”

“Tentu.”

“Kalau begitu, kita harus pergi.”

“Tapi sekarang kita belum melakukan hal-hal yang baik.”

“Dan kakek sudah melakukannya?”

“Ya.”

“Apa yang ia lakukan?”

“Ia telah membangun rumah dan menanam kebun.”

“Dan Tutu, sepupuku, apa yang sudah ia lakukan?”

Wajahnya jadi merengut sebentar, kemudian pandangannya ia tujukan ke arah istrinya seperti minta kasihan.

“Ia juga telah bikin sebuah rumah kecil sebelum ia pergi.”

“Tapi Lulu, tetangga kita, ia pernah memukulku dan tak pernah berbuat baik.”

“Ia anak nakal.”

“Tapi ia tidak akan mati.”

“Kecuali kalau Tuhan menghendakinya.”

“Meskipun ia tidak berbuat hal-hal yang baik?”

“Semua akan mati. Siapa yang berbuat baik, ia akan pergi ke sisi Tuhan. Dan siapa yang berbuat jahat, ia akan ke neraka.”

Anak kecil itu menarik napas seraya kemudian diam. Sang ayah tiba-tiba merasa dirinya begitu capek. Tak tahu ia, berapa dari kata-katanya tadi yang benar dan berapa yang salah. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah menggerakkan tanda-tanya, yang kemudian mengendap di dalam dirinya. Namun si kecil tiba-tiba berseru:

“Saya ingin selalu bersama Nadia!”

Ditolehkannya kepalanya seperti ingin tahu. Si kecil itu berseru lagi:

“Meski pada pelajaran agama sekalipun!”

Dan ia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Istrinya juga ketawa. Sambil menguap mengantuk, ia kemudian berkata:

“Tak bisa kubayangkan, pertanyaan-pertanyaan ini bisa didiskusikan pada taraf umur begitu!”

Istrinya menyahut:

“Nanti ia akan besar, dan kau akan bisa menjelaskan hal-hal itu padanya.”

Cepat ia menoleh ke perempuan itu, untuk mengetahui apa memang betul kata-katanya atau hanya sekadar cemoohan berlaka. Namun dilihatnya perempuan itu sudah sibuk lagi dengan sulamannya. (Penerjemah: M. Fudoli Zaini)

_______________________________________

*) Naguib Mahfouz: Lahir di Kairo, Mesin tahun 1911. Mahfouz dianggap sebagai pengarang besar berbahasa Arab, bahkan ia dianggap yang terbesar dalam sastra modern Mesir yang belum berusia satu abad itu. Sebagai pengarang, mula-mula ia menulis dengan gaya romantis, kemudian realistis, simbolis, filosofis, dan terakhir simbolis-filosofis dengan kecenderungan sufistis. Ia meraih Nobel Prize for Literature 1988.

Mahfouz terutama dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis cerita pendek. Karya-karyanya meliputi 32 novel, 14 kumpulan cerita, dan 30 naskah film. Di antara karya-karyanya adalah Khan Al-Khalili (1946), Zuqaq Al-Midag (1947), trilogi Bain Al-Qasrain, Qasr Asy-Syauq, As-Sukkariyah (1956-1957), Al-Liss Wa al-Kilab (1962), Al-Tariq (1964), Asy-Syahhadz (1965), dan Pentalogi Aulad Haratina (1969).

Dalam keterangan pers-nya Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusastraan pada Mahfouz sebagai pengakuan untuk: “…ketajaman nuansa realistik, kadang ambigu, yang dibentuk dalam seni kisahan Arab yang diaplikasikan bagi semesta kemanusiaan….”

Mahfouz adalah sastrawan pertama Mesir yang memperoleh penghargaan tersebut.

Continue Reading

Classic Prose

Trending