Connect with us
Sinar Bulan di Atas Kolam Sinar Bulan di Atas Kolam

Cerpen

Sinar Bulan di Atas Kolam

mm

Published

on

Yasunari Kawabata*

SUDAH agak lama juga datangnya pikiran pada Kyoko untuk memperlihatkan kebun sayurannya pada suaminya, dengan perantara cermin-tangan. Dengan demikian ia membuka bagi suaminya, yang sudah lama sakit, pintu gerbang suatu dunia yang telah hilang baginya. Cermin-tangan itu adalah sebagian dari hadiah perkawinannya. Baik gagang maupun bingkai cermin yang tidak begitu besar itu terbuat dari kayu murbei.

Cermin tersebut selalu mengingatkan betapa malunya ia dulu pada tahun-tehun permulaan perkawinan mereka. Mula-mula ia mencoba melihat melalui cermin itu sanggulnya di bagian belakang kepala, dan akibatnya lengan kimononya yang lebar turun ke bawah, sehingga pangkal lengannya tersingkap seluruhnya. Ia lalu tersipu-sipu dan yang lebih hebat lagi, menurutnya, adalah ketika ia keluar dari pemandian dan suaminya melalui cermin itu mengangumi kuduknya dari segala sudut.

“Benar-benar kau ini tidak cekatan sekali!” kata suaminya sambil tertawa dan merenggut cermin itu dari tangannya. “Mari, biar aku yang memegangnya.”

Sebenarnya Kyoko bukannya tidak cekatan, tetapi ia menjadi gugup bila suaminya  memperhatikan dia sampai ke detail-detail seperti itu.

Peristiwa itu adalah kenangan lama, tetapi belum begitu lama hingga kayu cermin itu menjadi usang. Selama perang, cermin itu tersimpan saja di laci, karena menurut Kyoko pada masa itu bukanlah waktu untuk mempercantik diri. Mereka harus mengungsi ke luar kota dan kemudian suaminya jatuh sakit, sehingga sewaktu ia mendapat ide untuk memperlihatkan kebun sayurnya melalui cermin itu, kaca cermin sudah agak tua dan pinggirnya kotor oleh gincu yang usang dan bedak. Tetapi proses penuaan itu hanya terjadi setempat saja dan juga tidak demikian buruk hingga tak kelihatan lagi gambar-gambarnya; karena itulah Kyoko tak begitu memperhatikannya. Tetapi suaminya, dengan perasaan gugup seorang cacat yang tak punya kerjaan, selalu menggosok-gosok cermin itu. Kadang-kadang Kyoko dihinggapi perasaan, bahwa dengan jalan  demikian suaminya sedang menggosokan hasil tuberkel ke dalam cermin tersebut. Bila Kyoko mengosokkan minyak rambut yang sengit baunya pada rambut suaminya, maka suaminya kadang-kadang mengusap-usap rambutnya terlebih dulu dengan tangan dan kemudian cermin itu. Suaminya tak memperkenankan cermin itu dibawa oleh Kyoko, walaupun hanya untuk sekejap. Dengan demikian rangka kayu murbeinya menjadi suram tetapi kacanya sendiri tetap mengkilap.

Sewaktu Kyoko kawin untuk kedua kalinya, gagang cermin itu dibawanya. Tetapi kacanya dimasukkan ke peti mati suaminya sewaktu pembakaran mayat. Pada gagang cermin ia masukkan kaca cermin yang baru dan diberinya pinggiran yang berukir. Mengenai hal ini tak pernah ia bicarakan dengan suaminya yang kedua.

Karena tangan-tangan orang mati, menurut kebiasaan lama—dengan jari-jari bersusun—harus dilipatkan di atas dada, maka cermin itu tak dapat ditaruhnya di dalam tangan suaminya. Dengan demikian cermin itu ditempatkan di bawah tangannya, di atas dada. Ia pikir; kau selalu menderita sakit di dadamu, karena itu kuharap cermin ini tidak memberatkanmu. Karena itu, beberapa saat kemudian cermin itu ia geser sedikit ke bawah hingga di atas perut. Kyoko tak ingin sanak-keluarganya mengetahui hal ini. Mereka toh tak akan mengerti betapa pentingnya peranan yang telah dimainkan cermin itu dalam perkawinan mereka. Karena itu ia susun bunga-bunga chrysanthenum berwarna putih di atas cermin tersebut. Tak seorang pun yang mengetahui hal ini. Baru setelah kremasi abu jenazah dikumpulkan, maka di antara gumpalan yang tak memiliki bentuk lagi, orang menemukan pecahan-pecahan kaca yang hangus.

“Ini kaca!” kata seseorang, “Aneh, kaca ini bisa masuk ke dalam peti!”

Cermin baru yang ada di gagang cermin itu lebih kecil ukurannya daripada yang lama.

Cermin baru ini adalah cermin rangkap, yang diberikan oleh suaminya yang kedua sebelum pergi berbulan madu. Perjalanan bulan madu dengan suami pertamanya tidak jadi, karena pada masa itu perang meletus. Dengan suaminya yang kedua, barulah ia jadi berbulan madu. Dan karena kopornya sudah bau apak, maka dibelinya yang baru—dengan cermin-tangan di dalamnya.

Pada hari pertama tamsya bulan madu itu, tiba-tiba suaminya memegang tangan Kyoko dan berkata, “Kau ini masih seperti gadis cilik saja! Kasihan!”

Ia berkata bahwa itu tidak ironis. Lebih tepatnya, karena ia gembira. Agaknya ia senang Kyoko tampak masih seperti gadis. Tetapi Kyoko tiba-tiba merasa sedih karena kata-kata itu. Airmatanya berlinang dan tangannya dilepaskan dari pegangan suaminya. Mungkin suaminya sendiri menganggap, ini juga kekanak-kanakan.

Tak tahulah Kyoko, apakah ia sedih memikirkan nasibnya sendiri atau karena nasib suaminya yang pertama. Hal ini tak dapat ia pastikan. Sebab ketika pikiran-pikiran itu muncul, Kyoko tiba-tiba merasa kasihan pada suami keduanya dan merasa bersikap keberahi-berahian.

“Apakah aku begitu berbeda dibandingkan istri pertamamu?”

Belum habis kalimat itu ia ucapkan, ia menyesal dan sekali lagi tersipu-sipu. Suaminya memandangnya dengan bergairah dan berakta, “Kau tak pernah mempunyai anak …..”

Kata-kata itu sangat menusuk hati Kyoko. Apakah suaminya menghinanya? Atau ia bermaksud, dengan ucapan itu, ia ingin membuat malu suami pertamanya; bahwa almarhum tidak melakukan tugasnya sebagai laki-laki?

“Tetapi aku selalu mengharapkan seorang anak!” protesnya.

Ia toh tak dapat mengatakan, bahwa selama sakit bertahun-tahun itu suami pertamanya adalah anaknya. Tetapi kalau nasib sudah ditetapkan bahwa ia harus mati, apa gunanya Kyoko menghindari hubungan badan selama itu?

“Aku hanya melihat Desa Mori selalu dari kereta api.”

Suami keduanya itu meraih Kyoko sewaktu ia menyebut nama desa kelahirannya belakangan ini. “Mori artinya kayu, bukan? Apakah letaknya begitu indah di tengah-tengah hutan? Berapa lama kau tinggal di sana?”

“Hingga ujian penghabisanku. Setelah itu aku mendapat panggilan untuk bekerja di sebuah perusahaan mesiu di Sanjo.”

“Sanjo adalah kota yang terdekat letaknya, bukan? Termasyhur karena kecantikan alamnya! Kalau begitu, jelaslah bagiku, kanapa aku tertarik kawin dengan ratu kecantikan ini!”

“Oh, aku sama sekali tidak cantik!” kata Kyoko tersipu-sipu, sambil  menutupi lehernya yang terbuka dengan tangannya.

“Karena tanganmu demikian bagusnya, aku pikir tentu tubuhmu juga sebagus itu.”

“Oh, tidak!” Karena malunya, tangannya disembunyikan di balik ikat pinggangnya.

“Aku tahu pasti, aku akan mengawini kau juga meski seandainya kau punya anak. Ya, aku dapat mengadopsi dan merawatnya. Anak gadis yang paling kusukai dalam hal ini.” Kata-kata terakhir ini ia bisikkan ke telinga Kyoko. Mungkin ia sangat mengharapkan anak perempuan, karena ia sendiri sudah punya anak laki-laki. Tetapi kata-kata yang dikemukakannya itu terdengar agak janggal. Apakah ia merencanakan perjalanan bulan madu yang demikian lama agar Kyoko tak terlalu cepat berkenalan dengan anak tirinya itu?

Kopor suaminya terbuat dari kulit yang kuat. Kepunyaan Kyoko tak sebanding dengan miliknya. Kopor suaminya besar dan kuat, tapi tidak baru lagi. Mungkin karena ia banyak berpergian, atau karena suaminya sayang pada kopirnya sendiri yang tak pernah digunakan dan sudah bulukan. Satu-satunya yang digunakannya adalah kaca cermin yang ada dalam kopor itu, yang telah dibakar bersama suami pertamanya. Karena kerangka kayu terbakar habis, maka tidak tahulah orang bahwa pecahan kaca itu adalah bekas sebuah cermin. Kyoko dihinggapi perasaan, seolah-olah dunia yang digambarkan oleh cermin itu juga ikut terbakar. Sebab melalui cermin itu, Kyoko untuk pertama kali memperlihatkan kebun sayurnya pada suaminya. Sesudah itu suaminya selalu menghendaki agar cermin tersebut berada di samping bantalnya. Karena cermin dengan bingkainya itu terlampau berat bagi orang cacat seperti suaminya, maka kacanya lalu dikeluarkan dari bingkai.

Tidak hanya kebun sayurnya yang telah dilihat suaminya melalui cermin itu; juga langit, awan, salju, gunung-gunung yang jauh dan hutan-hutan di sekitarnya. Dia telah melihat bulan dan bunga-bunga liar dan rombongan burung-burung, melalui cermin itu. Dia telah melihat orang berjalan-jalan dan anak-anak yang bermain di kebun.

Kyoko sangat tercengan akan kekayaan dunia dalam cerminnya itu. Sebuah cermin yang sampai saat itu hanya dikenalnya sebagai alat rias—cermin-tangan untuk melihat bagian belakang lehernya—ternyata bagi seroang cacat adalah suatu penghidupan baru. Bersama-sama mereka melihat ke dalam cermint itu. Lama-kelamaan Kyoko malah dapat membedakan dengan jelas dunia yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri dan dunia melalui cermin tersebut. Seolah-olah dua dunia yang terpisah. Dan kadang-kadang rupa dunia dalam cermin itu adalah dunia yang sebenarnya.

“Dalam cermin, langit tampak seolah-olah perak,” pernah Kyoko berkata. Kemudian sambil memandang melalui jendela, ia menambahkan, “Sedangkan di luar, warna langit abu-abu.” Sebab langit yang dilihatnya melalui jendela begitu guram, sedangkan langit di cermin tampak mengkilap.

“Apa itu disebabkan karena kau selalu menggosok cermin ini?”

Walaupun suaminya telentang di atas punggunya, dapat juga ia melihat langit dengan cara memutar kepalanya.

“Ya, langit itu berwarna abu-abu suram. Tetapi belum tentu mata burung-burung atau binatang-binatang berkaki empat melihat warna langit seperti kita melihatnya.”

“Apa kaukira yang kita lihat melalui cermin ini sama seperti mata-cermin ini melihatnya?”

Kyoko cenderung menamakan cermin itu “mata cinta mereka”. Jika dilihat melalui cermin, warna hijau pohon-pohon tampak lebih segar dan warna putih bunga lili lebih putih.

“Ini sidik itu jarimu, Kyoko. Ibu jari kananmu!”

Ia menunjuk pada pinggiran cermin. Kyoko terkejut melihatnya. Ia embuskan napasnya pada cermin untuk menghapus sidik jari itu.

“Tak usahlah, Kyoko. Sidik jari ini sudah ada sewaktu kau untuk pertama kali memperlihatkan kebun sayurmu padaku.”

“Aku tak pernah mengetahuinya.”

“Mungkin tidak. Tetapi dengan perantara cermin ini aku sudah mengenal seluruh sidik jarimu. Hanya seorang cacat yang bisa begitu.”

Sejak permulaan perkawinan mereka, suaminya selalu berbaring di tempat tidur. Dia tidak ikut perang. Pada tahun-tahun akhir peperangan, ia mendapat panggilan untuk bekerja di lapangan terbang, tetapi ia jatuh sakit lagi, dan segera setelah Jepang kalah suaminya dilepas dari pekerjaannya. Bersama kakak laki-lakinya, Kyoko pergi menjemput suaminya, karena ia sudah tak dapat berjalan lagi. Pada waktu suaminya menerima panggilan itu, Kyoko tinggal bersama orangtuanya yang meninggalkan kota karena takut pada pengeboman.

Perabotan rumah sudah tidak ada. Rumah yang didiaminya selama minggu-minggu pertama perkawinan mereka sudah terbakar habis, dan kemudian mereka menyewa kamar pada seorang kawannya.

Sebulan di rumahnya yang pertama dan dua bulan di rumah kawannya; itulah masa Kyoko hidup bersama suaminya sebelum ia jatuh sakit. Waktu ia kembali dari dinas, mereka mengambil keputusan untuk menyewa sebuah rumah kecil di pegunungan, di mana ia mungkin bisa sembuh. Penghuninya  yang terakhir  adalah para pengungsi, yang setelah perang selesai kembali lagi ke Tokyo. Kyoko juga mengoper kebun sayur mereka. Luasnya tidak lebih dari enam meter persegi; sebuah tanah terbuka di antara semak-semak. Mereka dapat saja membeli sayuran di desa, tetapi Kyoko senang sekali bekerja di kebunnya. Ia tertarik pada segala sesuatu yang dapat tumbuh sendiri.

Soalnya bukan karena ia bosan selalu duduk di dekat suaminya, tetapi seharian hanya menjahit dan menyulam saja membuat ia selalu merasa sedih. Karena ia harus selalu mengingat suaminya itu, maka pikirannya akan lebih ringan dan penuh harapan bila ia bekerja di kebunnya. Di sanalah ia baru merasakan cinta pada suaminya. Memang sering pula ia duduk di dekat tempat tidur untuk membacakan cerita, tetapi pekerjaan di kebun adalah penting sekali untuk menyebarkan jiwa, sehingga dapatlah Kyoko merawat suaminya dengan baik.

Sewaktu mereka datang ke rumah di pegunungan itu, saat itu pertengahan September. Tamu-tamu musim panas sudah pulang lagi dan masa berikutnya ditandai dengan udara lembap dan hujan yang dingin.

Pada suatu petang matahari tiba-tiba memantulkan sinarnya menerobos awan dan seekor burung kesiangan mulai berkicau. Waktu Kyoko tiba di kebunya, daun-daun sayur mengkilap seperti baru digosok layaknya. Awan berwarna merah-muda yang menggumpal di puncak-puncak pegunungan itu memesonanya. Ia terkejut sewaktu mendengar suaminya tiba-tiba memanggilnya, dan tergesa-gesa ia ke atas; tanpa menunggu sampai tangannya yang penuh lumpur di cuci dulu. Suaminya terengah-engah karena pemusatan tenaga yang dibutuhkan untuk berteriak memanggilnya.

“Aku memanggil dan memanggil! Apa kau tidak dengar?”

“Aku sangat menyesal.”

“Berhentilah dengan kerjamu di kebun ini! Bila aku tiap kali harus berteriak memanggilmu, dalam sekejap saja aku akan mati. Lagi pula aku tak bisa melihat di mana kau berada dan apa yang kaulakukan.”

“Aku bekerja di kebun sayur. Tapi kalau kau tidak suka, aku akan berhenti bekerja.”

Suaminya menjadi agak tenang.

“Apa kaudengar burung nuri itu berkicau?”

Hanya itulah yang ingin diceritakannya pada Kyoko. Seekor burung nuri di hutan yang menyanyi. Hutan itu tampak hitam di udara malam itu. Demikianlah ia telah dapat membedakan bunyi kicau burung nuri.

“Bagaimana kalau kita gunakan bel saja untuk memanggilku? Bagaimana kalau aku beri kau sesuatu untuk dilontarkan, selama bel itu belum terpasang?”

“Apakah kau suka aku melemparkan cangkir ke kepalamu? Kok lucu sekali?”

Akhirnya suaminya setuju ia terus berkebun-sayur, tetapi baru setelah musim semi mengakhiri musim dingin di pegunungan itu, timbul pikiran pada Kyoko untuk memperlihatkan kebun sayurnya melalui cermin. Cermin sederhana itu memberikan kenikmatan yang bukan main besarnya pada suaminya, seolah-olah telah kembali padanya suatu dunia-hijau yang segar.

Dia dapat melihat Kyoko bekerja di kebun, tetapi tentu saja ia tidak dapat melihat ulat-ulat yang sedang dibersihkan istrinya dari daun-daun sayur. Maka ia akan menggunakan bel dan Kyoko datang memperlihatkan ulat-ulat itu.

“Tetapi cacing tanah dapat kulihat dari sini,” kata suaminya berolok-olok, ketika dilihatnya Kyoko sedang menggaruk-garuk tanah.

Jika matahari menyinarkan cahayanya melalui jendela, kadang-kadang Kyoko melihat gumpalan cahaya terang yang tiba-tiba bergerak. Suaminya sedang memainkan cermin dengan memantulkan cahaya matahari itu. Ia menghendaki agar Kyoko membuat celana kerja dari kimono biru yang dipakainya dulu pada masa mahasiswanya. Sebab ia ingin mengangumi Kyoko bekerja di kebun, di mana cahaya dimainkan di atas patron biru dan putih dari kimono tersebut. Bila Kyoko bekerja di kebun, alam-tak-sadarnya mengatakan ia sedang diamat-amati. Ia merasa senang diamat-amati oleh suaminya, hal mana terbukti bahwa ia sudah sangat berubah sejak hari-hari pertama perkawinan mereka. Waktu itu Kyoko masih malu jika ia memegang cermin di atas kepalanya, dan lengan kimononya yang merosot itu tiba-tiba mempertontonkan pangkal lengannya yang telanjang. Sekarang ia malah senang suaminya diam-diam mengamatinya. Tetapi barulah setelah perkawinannya  yang kedua, Kyoko menggunakan make-up dan gincu untuk mempercantik diri. Seolah-olah ia hendak mengejar tahun-tahun ketika ia harus merawat suaminya dan masa ia dalam dukacita itu. Dia kini sadar akan kecantikannya dan mengerti bahwa suami keduanya tidak berlebihan ketika berkata ia cantik.

Juga setelah mandi ia tidak mau lagi pada pantulan tubuhnya di cermin itu. Ia telah menemukan kecantikannya sendiri. Tetapi perasaan akan adanya keistimewaan pada gambar-gambar  di cermin, yang dikenalnya pada masa bersama suami pertamanya, tidaklah hilang. Dia tidak menyangsikan adanya kecantikan istimewa yang dipantulkan oleh cermin itu. Malah sebaliknya, ada kecenderungan untuk tidak percaya pada kebenaran dunia di luar cermin tersebut, walaupun perbedaan antara kulitnya didalam cermin dan yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri tidaklah begitu besar; seperti perbedaan tempo hari antara langit yang berwarna abu-abu dengan yang mengkilap. Hal ini bukanlah akibat dari perbedaan jarak. Mungkin juga keinginan suaminya yang sakit itu yang menyebabkan adanya kilap ajaib pada langit. Hingga saat kematian suami pertamanya, ia tak tahu rahasia cermin itu yang sebenarnya.

Lagi-lagi terkenang oleh Kyoko, betapa suaminya bergairah mengamatinya dalam cermin sewaktu ia bekerja di kebun, dan betapa putihnya bunga lili, betapa riangnya anak-anak, betapa indahnya cahaya matahari pagi memantulkan sinarnya di puncak-puncak pegunungan yang penuh salju; sewaktu mereka bersama-sama menikmati pemandangan melalui cermin itu. Maka timbullah kerinduan padanya untuk melihat dunia rahasia itu, yang hanya diperuntukan bagi mereka berdua. Tetapi agar tidak menyedihkan hati suaminya yang baru, Kyoko menekan sekuat tenaga perasaan itu, yang kadang-kadang merupakan kerinduan jasmaniah dan ia mencoba menganggapnya sebagai keinginan melihat surga melalui lubang kunci.

Pada suatu pagi di bulan Mei ia mendengar di radio nyanyian burung-burung di hutan, yaitu siaran yang dipancarkan dari lereng gunung di daerah mana ia tinggal sampai saat suami pertamanya meninggal.

Jika  pagi-pagi suaminya meninggalkan rumah untuk ke kantor, sering Kyoko mengeluarkan cermin-tangan itu dari gagangnya untuk dipantul-pantulkan ke langit. Atau ia memperhatikan wajahnya sendiri di cermin tersebut. Dan terjadilah sesuatu yang memesona, yaitu orang hanya dapat melihat wajahnya melalui cermin. Tak ada orang yang dapat  melihat wajahnya sendiri. Lalu timbul pertanyaan, seberapa besar kebenaran gambar di cermin itu dengan wajah kita sendiri. Lama Kyoko memikirkan hal ini. Apa sebabnya Tuhan menjelmakan manusia sedemikian rupa, sehingga ia tak bisa melihat wajahnya sendiri?

Coba bayangkan jika kita dapat melihat wajah kita sendiri, apakah manusia akan tahan dalam keadaan seperti ini? Apakah dengan demikian tak mungkin kita dapat hidup terus? Perkembangan alamiah menyebabkan manusia tak dapat melihat wajahnya sendiri. Dengan susunan mata yang rumit itu, mungkin penglihatan kita bsia diterbangkan atau dilayang-layangkan.

Tetapi mungkin muka seseorang hanya boleh dilihat oleh orang lain. Bukankah hal ini sama halnya dengan cinta?

Sewaktu kaca cermin diletakkan lagi pada gagangnya, Kyoko tertarik akan kombinasi bingkai kayu murbei dan garis-garis kembang yang tergores didalamnya. Karena kaca cermin yang lama sudah terbakar bersama suaminya, maka gagang itu dapat disamakan dengan seorang janda. Tetapi kaca cermin itu memiliki segi kerugiannya juga. Kyoko selalu melihat di dalamnya wajah suaminya yang kurus-kering. Mungkinkah suaminya juga melihat tengkoraknya di belakang cermin itu? Kalau begitu, mungkinkah dalam hal ini kita bisa bicara tentang suatu pembunuhan psikologis, dan sebenarnya Kyoko-lah pembunuh itu, karena ia yang memberikan cermin itu pada suaminya? Tetapi suaminya sendiri tak sependapat dalam hal ini.

“Apa kau mau membuat aku buta? Selama aku masih hidup, aku ingin melihat dunia dan mencitainya,” demikian kata suaminya.

Ia rela mengorbankan jiwanya untuk mempertahankan cermin itu. Bila hujan lama turun berlarut-larut, mereka mengagumi bulan—atau tepatnya kolam kecil di kebun tempat bulan dipantulkan. Bulan itu, yang sebenarnya  tak lain adalah suatu gambar cermin, masih tetap bersinar di hati Kyoko.

Suaminya yang kedua senang mengucapkan, “Cinta yang sehat menghendaki tubuh yang sehat.”

Kyoko hanya mengangguk saja, walaupun sebenarnya ia tidak sependapat. Sewaktu suami pertamanya meninggal, timbul perasaan menyesal pada Kyoko bahwa tahun-tahun itu dilaluinya tanpa hubungan badan. Tetapi setelah itu terasa pula bahwa pengingkaran seksual itu adalah kenangan yang terhangat dalam cinta mereka; suatu kenangan dimana cinta penuh-sesak dan penyesalan terhapus karenanya. Mungkin suaminya yang kedua menganggap soal cinta itu enteng saja.

“Kenapa kau menceraikan dia, sedangkan kau adalah manusia yang dimikian baiknya?” pernah Kyoko bertanya.

Pertanyaan itu tak pernah dijawab suaminya.

Kyoko mengawininya atas desakan kakak tertua suaminya almarhum. Empat bulan mereka berkawan, kemudian mereka kawin. Dia lima belas tahun lebih tua dari Kyoko.

Sewaktu Kyoko mengandung, ia begitu takut hingga seluruh wajahnya berubah. “Aku  takut! Aku takut!” Ia mendekap kuat-kuat suaminya. Ia sangat menderita karena muntah-muntah dan kadang-kadang tampak seperti orang tidak waras. Maka berjalanlah ia di kebun untuk mengumpulkan daun-daun cemara, atau ia memberi anak tirinya dua bungkus makanan untuk ke sekolah, yang dua-duanya hanya terdiri dari nasi ketan belaka. Sering pula ia menengok pada cermin, seolah-olah pandangannya tembus ke dalam kaca itu. Suatu malam ikat pinggang kimononya terlepas, dan ia sangat terkejut ketika tanpa sadar ia membuat jerat dari ikat pinggang tersebut. Apakah ia hendak menjerat leher suaminya? Sesaat kemudian Kyoko menangis histeris, sampai ia mandi air mata dan suaminya terbangun. Seolah tak terjadi apa-apa, suaminya dengan penuh kasih melekatkan ikat pinggang itu kembali. Kyoko menggigil, walaupun malam itu adalah malam musim panas yang amat hangat.

“Percayalah pada anakmu, Kyoko!” kata suaminya yang lalu memeluknya dengan kasih sayang.

Dokter menghendaki agar Kyoko bersalin di rumah sakit. Mula-mula Kyoko tidak setuju, tetapi kemudian menyetujuinya.

“Aku akan minta diopname, tapi kuharap kau setuju agar terleblih dahulu aku mengunjungi orangtuaku.”

Beberapa hari kemudian suaminya mengantarnya ke desa di mana orangtuanya tinggal. Esok harinya Kyoko diam-diam meninggalkan rumah dan mengambil kereta ke bukit, di mana ia pernah tinggal bersama suami pertamanya. Waktu itu permulaan bulan September, sepuluh hari lebih awal dari saat mereka pindah ke sana dulu, Kyoko merasa ia mau munta. Kereta api membuatnya mabuk darat, sehingga rasanya ia ingin meloncat keluar saja. Sewaktu kereta tiba di daerah pegunungan yang lebih tinggi, Kyoko merasa badannya enakan karena udara segar itu. Ia sudah dapat menguasai dirinya  lagi; setan yang menganggunya tadi rupanya sudah lenyap. Tetapi toh ia berdiri di muka gedung stasiun kecil itu seperti orang bingung. Di sekelilingnya berderet gunung-gunung yang membiru menggambarkan langit . Di dalamnya ia melihat suatu kehidupan penuh misteri. Ia menghapus airmatanya yang jatuh berlinang dan perlahan-lahan berjalan ke rumah dimana mereka pernah tinggal.

Dari hutan yang gelap dalam udara senja terdengar burung nuri berkicau. Rumah itu kini ditinggali orang lain, dan dari jendela atas sebuah tirai putih menggelepar karena angin. Kyoko berdiri sebentar, karena ia hanya mau melihat rumah itu dari kejauhan saja.

“Dan apabila anak ini wajahnya seperti dia,” pikirnya tiba-tiba.

Ia terkejut sendiri karena pikiran itu, tetapi ia dihinggapi perasaan tenang yang teramat sangat sewaktu dalam perjalanan pulang. (*)

*YASUNARI KAWABATA, lahir di Osaka, Jepang tahun 1899 dan meninggal tahun 1972. Mulanya Kawabata bercita-cita menjadi pelukis, tetapi kemudian dunia karang-mengarang lebih menarik perhatiannya. Sejak Sekolah Lanjutan, ia sudah menulis untuk majalah-majalah sastra dan surat kabar, dan setelah menamatkan pendidikan di Univesitas Tokyo ia menjadi redaktur dua majalah sastra terkemuka di Jepang. Sejak itulah ia menulis dengan gaya ceosensualisme, dan secara halus menyarakan pandangan hidup orang Jepang. Kawabata terutama dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis cerpen dan esai. Bahkan pada masa mduanya ia juga menulis puisi. Novel-novel Kawabata antara lain Yukiguni (1947), Senbazuru (1949), Meijin (1954), Yama no Oto (1954) dan Nerumeru Bijo (1961). Sedangkan kumpulan cerita pendeknya yang banyak diterjemahkan dan dibicarakan adalah Izu no Odoriko (1926).

 

Continue Reading

Cerpen

Perempuan yang Pertama-tama Kutemui Dalam Hening

mm

Published

on

*) Aura A. Asmaradana[1]

Aku menemui Klara di dalam bis komuter. Selama tiga minggu berturut-turut, ia memilih duduk di sampingku, seringkali di baris kedua sebelah kiri. Ketika duduk di dalam bis, aku lebih sering membaca apapun yang ada di dalam tas. Buku-buku atau sekadar lembar-lembar rancangan pembelajaran semester atau beberapa kertas bungkus kacang rebus yang terselip.

Selasa pertama, ketika bis berhenti di kompleks perumahan Klara, ia naik dengan memeluk sebuah buku tebal ukuran folio. Esok hari dan hari-hari setelahnya begitu pula. Waktu itu, dalam hati aku menduga Klara memilih duduk denganku karena ia melihatku membaca diktat kuliah—merasa senasib sepenanggungan sebagai mahasiswa.

Kalau sedang tak membaca, di dalam bis, aku tidur. Apalagi ketika penumpang penuh, lampu dalam bis akan dimatikan. Maka aku tak mungkin lagi membaca. Klara pun kuperhatikan begitu. Ia akan mengeluarkan seplastik masker sekali pakai dari dalam tas, mengeluarkan selembar, mengenakannya, dan tidur. Aku tahu ada banyak orang yang tak mau mulutnya terlihat ketika tidur. Bisa jadi mereka tertidur dengan mulut menganga, tak kuasa membendung air liur, atau hanya sekadar perasaan tak nyaman diperhatikan orang lain.

Butuh tiga minggu hingga aku dan Klara berhasil bercakap-cakap secara verbal. Percakapan kami selalu tanpa kata-kata. Sekali waktu, ia ngambek padaku. Dari awal peristiwa hingga akhirnya duduk bersama kembali, kami tak pernah bicara satu sama lain. Cerita ini baru kami bagi setelah berani berbincang lebih jauh.

Waktu itu hari Kamis. Aku duduk di kursi baris kedua sebelah kanan karena baris sebelah kiri sudah ada yang lebih dulu menempati. Klara duduk di sebelah kiriku. Melamun. Mengeluarkan masker. Memasangnya. Tidur. Aku pun tertidur setelah menyelesaikan membaca salah satu bagian introduksi Kritik Atas Rasio Murni dan belum juga memahaminya. Kernet mengumpulkan ongkos, aku terbangun. Membayar dengan uang pas, selembar sepuluh ribu dan selembar lima ribu. Bis naik di jalan layang. Aku terbangun lagi. Kulirik Klara yang masih tertidur. Aku memejamkan mata lagi tanpa benar-benar tidur. Bis terus berada di jalan layang hingga gedung-gedung khas perkotaan terlihat dan penumpang bis berkasak-kusuk. Bis mulai ambil jalur kiri karena hendak keluar tol. Klara masih tidur. Aku tahu tak jauh lagi ia harusnya turun. Keberanianku membangunkannya maju mundur. Di satu sisi aku agak cemas ia tak terbangun, di sisi lain aku percaya bahwa ia tak mungkin abai pada keributan di sekitarnya. Tapi aku pun ragu untuk membangunkannya. Apa kata-kata yang harus kupakai untuk membangunkannya? “Halo, bis sudah mau berhenti.” “Hai, sebentar lagi harusnya turun, kan?”

Aku menegakkan punggung. Klara masih tidur ketika bis turun dari jalan layang. Tepat ketika bis berhenti di tepian jalan, orang-orang mengantri untuk turun di lorong bis, ia tersentak bangun. Setelah sebentar melirik ke arahku yang pura-pura tak lihat, ia menyiapkan ranselnya dan turun. Aku merasa sedikit bersalah. Sedikit saja. Sebab toh ia akhirnya bangun dan tak melewatkan kuliah paginya. Minggu depannya, Selasa hingga Kamis, ia tak mau lagi duduk di sampingku. Ia duduk di seberang lorong, sejajar dengan tempatku.

Selasa berikutnya, ia naik bis tepat ketika aku masih membiarkan inhaler menggantung di lubang hidungku. Ia berdiri sebentar di lorong, melihatku, mungkin merasa iba melihatku yang kalah oleh pendingin ruang, mata sembab dan berair akibat flu. Klara duduk di sampingku. Mengeluarkan sebungkus masker. Mengenakannya dan mulai tidur seakan menyiapkan diri untuk menemaniku, menghangatkanku.

Aku tak pernah bilang pada Klara bahwa aku sangat bersyukur tidak mengajaknya bicara lebih dulu. Gengsi. Klara pun mungkin begitu. Kami hanya berkomunikasi dalam hening. “Kau tahu, keheningan seringkali lebih menyampaikan banyak hal.” Ujarku kemudian, mengingat pembahasan kelas kuliah seminar sore sebelumnya membahas tentang Dasein yang berdiskursus dengan cara schweigen. Klara manggut-manggut.

Pada pagi berjalanan licin di akhir bulan, kami mulai bicara. Kami menyaksikan kecelakaan dari balik jendela bis. Sesaat sebelum Klara turun di dekat kampusnya, seorang pengendara menuntun sepeda motornya melintasi pembatas jalan tinggi bertanaman hias demi menghindari razia oleh Polantas. Ia dengan gesit menurunkan sepeda motor dari atas pembatas jalan, menumpanginya dalam hitungan detik, mengendarainya di busway. Sanggup mengelak dari bis Transjakarta yang membunyikan klakson panjang, ia jatuh tertimpa sepeda motornya sendiri dan tak sanggup mengelak dari hantaman sedan yang melaju kencang di jalur kiri. Aku dan Klara menyaksikannya tersungkur di jalan basah akibat hujan semalaman. Semua terjadi begitu cepat dan tertata. Seperti ada tangan besar tak terlihat yang dengan lincah menata segala gerak serta maut. Pengendara motor itu tak bergerak lagi. Bahkan ketika tubuhnya dibopong ramai-ramai ke tepian.

Aku melirik Klara di samping kiri. Ia menatapku, seolah menanti responku atas peristiwa itu. Aku mengembuskan napas yang lama tertahan. Ia meringis. Padaku. Tadinya kukira bukan. Tapi tak ada siapapun di kursi itu selain aku. Aku menggelengkan kepala sambil menarik napas panjang. “Ngeri.” Akhirnya. Aku mendengar suara Klara bergema di dalam kepalaku. Jenis suara yang selama ini kuduga-duga macamnya; kukira-kira saja dari perawakan badan sekitar seratus enam puluh lima sentimeter dengan wajah oval, lesung pipi, dan rambut silky kuncir kuda. Suara itu lebih tegas dan berat daripada yang kupikirkan selama berminggu-minggu. “Iya.” Penumpang yang sudah berdiri di lorong berisik sekali. Namun aku tak dapat dengar komentar mereka karena telingaku sepenuhnya dikepung suara Klara. “Helmnya lepas.” Kataku. Padahal Klara juga melihatnya. Ia mengangguk. Bibir naik separuh. Ada kekhawatiran di lesung pipinya. Ia bangun dari duduk. Aku melepasnya pergi. Sungguh tak sanggup menunggu Selasa pagi.

Sejak itu, Klara dan aku berbincang banyak. Ia membahas beberapa buku yang pernah kubaca. Ingatannya tentang beberapa yang baru kubaca membuat kembang api meledak di kedua pipiku—ketika ia bilang dengan hati-hati. “Aku tidak mengintip, lho. Siapapun yang duduk di sebelahmu pasti bisa baca.” “Aku tahu. Tapi kau kan yang memilih duduk di sini.” Ia tersipu. “Sesama mahasiswa.” Dan pada masanya, aku akhirnya dapat menuntaskan rasa penasaranku, “Buku babonmu itu, kenapa tidak dimasukkan saja ke dalam tas?” Sebab kulihat tasnya tak penuh-penuh amat. Kutimbang, buku itu sepertinya muat dalam tas.  “Supaya kelihatan terpelajar.” Aku mencibir Klara hingga puas karena jawaban itu.

Usiaku dan Klara terpaut cukup jauh. Aku dua puluh empat, ia di akhir dua puluh satu. Tanpa diminta, aku menjelaskan padanya tentang kemalasanku kembali ke kampus setelah cuti satu semester. Dua semester. Tiga…. “Kamu bodoh.” Aku terhenyak. “Padahal kuliahmu asik.” Aku mengiyakan saja. Iya, kuliah filsafat memang fancy. Iya pula, mungkin aku memang bodoh.

Beberapa pertemuan setelah membicarakan hal-hal di permukaan, aku sering bercerita padanya tentang situasi di kampus. Ia pun begitu. Tentang dosen. Beberapa teman. Beberapa laki-laki. Beberapa laki-laki tampan. Laki-laki tampan beruban di pascasarjana—dalam cerita Klara, “Ia rajin ke Gereja.” Laki-laki tampan urakan berkulit coklat tua—dalam ceritaku, “Ia membiarkan tumbuh jenggot dan kumisnya. Juga mencepol rambutnya yang keriting mengembang.” Klara ber-ih panjang. Tapi mungkin kemudian ia ingat gerombolan uban di kepala calon kekasihnya, maka ia segera diam. “Ia bahkan lebih tua darimu.” “Tidak masalah, kan?” “Iya, karena sampai sekarang dari obrolan-obrolan kami tidak terjadi apa-apa” “Uh, apalagi aku. Bahkan aku sengaja tak mau tahu namanya.” Kubilang pada Klara, kekaguman jenis apapun akan luntur setelah manusia mendapatkan informasi terlalu mendalam. Kupikir, rasa penasaran itu justru bumbu utama. Semakin banyak dapat informasi, pengalaman mencecap rasa itu tidak berkesan lagi. Klara tak selalu sepakat padaku—meski masih mendorongku untuk bercerita tentang laki-laki yang beberapa tahun lebih muda usianya dariku itu. “Ia sama mudanya denganmu.” Kataku.

Obrolan-obrolan aku dan Klara menyentuh segala hal seperti beliung. Ketika aku bercerita tentang tema penelitian redaksi teks, aku baru tahu bahwa ayah Klara ada di penjara. “Kau tahu siapa yang sebetulnya membaptis Yesus di sungai Yordan?” “Yohanes Pembaptis.” “Dalam Injil Lukas, Yohanes sudah dipenjara ketika Yesus dibaptis.” “Tapi ia melihat Roh Kudus turun pada Yesus.” “Itu di teks yang lain.” Klara manggut-manggut. “Terima kasih, ya.” “Apa?” “Bisa jadi bahan obrolanku dengan Wahyu.” Ia menyebut nama laki-laki beruban itu. Aku tertawa saja waktu itu. “Coba kita lihat. Kalau kecenderungan tafsirannya sangat harfiah dan tekstual, itu menandakan dia tak peka. Berarti kamu memang harus bilang cinta duluan.” Kerut di kening Klara. “Tak ada hubungannya tauk!” Aku menguap. Sejak sering berbincang, kami berdua tak pernah tidur lagi di bis. “Aku tidur sebentar, ya.” Matahari naik pelan-pelan di horison. Klara mengangguk. Aku hampir lelap ketika Klara bicara. “Omong-omong soal Roh Kudus, waktu SD, aku pernah diminta menggambarnya oleh seorang frater ketika ret-ret.” Klara tahu aku mendengarkannya meski kedua mata terpejam. “Teman-teman menggambar merpati dan api dan kilatan cahaya. Aku menggambar tiang jemuran.” Aku melek dan langsung memelototinya. Hampir tertawa tapi tak jadi. Raut wajah Klara datar dan dingin. Aku bekerja keras menimbang apa ia akan tersinggung kalau aku tertawa? “Sesaat sebelum dipenjara, ayahku bilang bahwa Roh Kudus adalah tiupan angin keras yang sanggup memenuhi seluruh rumah. Pasti bisa mengeringkan cucian ibu walau segunung.” Aku terkagum-kagum pada sosok separuh asing di hadapanku. Aku berpikir, mungkin suatu hari, ketika Klara tak sedang sentimentil begitu, aku akan bertanya lebih banyak tentang ayahnya. Mungkin pula ada waktu ketika aku dan ia bisa datang mengunjunginya dalam penjara.

Satu hari di April yang basah, aku memberanikan diri mengajak Klara pergi. “Ke toko buku saja.” Kukira yang hendak ia perlihatkan adalah daftar beberapa buku yang ia inginkan, tapi yang kutemukan malah daftar bolpoin gel, stabilo, tipe-x, post-it, pensil mekanik, pensil serut HB, B2, B3, B4, dan seterusnya. “Aku memang tak pernah datang ke toko buku untuk membeli buku.” Ia mengangkat bahu. Kami berjanji untuk pergi hari Minggu sore. Namun aku mendapat telepon dari Klara menjelang pukul sepuluh malam di hari Sabtu. Waktu aku menemuinya di teras rumahnya—setelah bermacet-macet naik angkot sepanjang tiga kilometer saja—aku menemukan lebam besar warna buah manggis dan sedikit kulit dadas dan darah kering di sudut kelopak matanya. “Ini kecelakaan.” Aku agak kesal Klara tak memberitahuku tentang pertemuan dengan Wahyu malam Minggu itu. “Bagaimana ceritanya?” Ia menambahkan prolog sepanjang dan selihai ular sebelum akhirnya sampai di inti cerita. Aku agak terkejut mendengar keberaniannya bertindak. Kalau aku adalah Klara, mungkin aku sibuk menimbang apa yang bisa kulakukan untuk mendapatkan pembelaan seorang pengacara. Kalau Klara adalah aku, tentu ia takkan mendapat luka lebam.

“Aku tidak menyukainya.” Sesal Klara. “Sudah kubilang. Kau harus menciptakan jarak dalam mengagumi seseorang, membiarkannya tetap jadi misteri.” “Seperti Tuhan.” Kami berbincang lagi soal laki-laki dan Tuhan, meski tak banyak-banyak. Padahal kuyakin sekitar mata Klara masih berdenyut pedih. Malam itu adalah kali pertama percakapan kami tidak dibatasi laju bis dan jam kuliah pertama pukul setengah delapan pagi.

Di ujung malam, ketika aku pamit pulang dan memeluk Klara serta berpesan supaya ia menjaga diri, ia mengecup bibirku lama-lama. Pipiku. Baiklah, mungkin bibir. Agak ke pipi. Bibir di bagian ujung. Klara memegangi pipiku selama ciuman itu, seolah tak membiarkan aku pergi, meski sebetulnya kepalaku rasanya hendak lepas dan menggelinding di jalan aspal. Tatapan mata Klara padaku setelahnya terasa seperti ia telah membayar lunas segala sesuatu.

Sebelumnya mungkin aku keliru. Setelah mendapat ciuman di luar persetujuan, aku tidak sibuk mengingat apa yang bisa kulakukan untuk mendapatkan pembelaan seorang pengacara. Klara tak serta merta jadi seorang bajingan. Aku tak menampar seperti yang dilakukan Klara sehingga Wahyu kemudian meledak. Aku malah memikirkan segala teori tentang menjaga jarak—yang runtuh seketika. Aku mendapatkan fakta betapa nikmat tenggelam dalam misteri setelah mendapatkan segala tentangnya; tentang perempuan yang pertama-tama kutemui dalam hening di bis.

Dari sentuhan bibir Klara malam itu, diam-diam aku tak bisa menghapus bayangan laki-laki tampan berkulit coklat bak nelayan yang melaut belasan siang, serta bagaimana ia mengisap-embuskan asap rokoknya. (*)

Cawang, 13-14 April 2018

[1] Aura Asmaradana (Twitter: @aurasmaradana) sedang berusaha menyelesaikan perkuliahan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta. Gemar menulis cerita pendek, puisi, dan esai. Karyanya yang telah dibukukan adalah Solo Eksibisi (kumpulan cerita, 2015) dan Solilokui (novel, 2018).

Continue Reading

Cerpen

Cinta yang Sulit

mm

Published

on

Kawan pertamanya di semesta ganjil ini adalah seekor ayam jago muda. Dengan suaranya yang tipis dan belum matang benar, si ayam jago muda senantiasa menjadi yang pertama berkokok. Jago-jago yang lain, dengan malas-malasan, kemudian mengikutinya. Sesekali mereka mengeluh apalah gunanya berkokok di semesta yang seperti itu. Sia-sia belaka, tukas yang lain. Namun tak urung, mereka tetap saja berkokok. Jago-jago yang benar-benar labil. Ayam-ayam betina akan bangun dari tidur mereka dan berciap-ciap ribut. Lalu hari yang membosankan pun dimulai. Mereka berkeliaran. Kadang-kadang, mengikuti kebiasaan alami kaum ayam, mereka mematuk-matuk lantai semesta tersebut. Namun tak ada cacing atau remah tanah yang bisa diasin. Bahkan, tak ada partikel apa pun yang masuk melalui paruh-paruh mereka. Semesta ini bersih dan jembar dengan caranya sendiri yang sepertinya tak terdeskripsikan. Bukan hanya umat ayam penghuni semesta tersebut, tentu saja. Banyak. Aneka tetumbuhan seperti bayam dan kangkung, hingga binatang-binatang, mulai sapi hingga kelelawar dan tikus.

“Bagaimana bisa ada tikus dan kelelawar?” ia pernah bertanya seperti itu.

“Menado,” jawab si ayam jago muda. “Mereka masuk ke sini ketika ia berada di Menado.”

“Ia pernah ke Menado? Itu kan jauh,” katanya. “Kukira ia tidak cukup kaya untuk bisa pergi ke Menado.”

“Kau beruntung aku sudah berada di sini cukup lama. Lebih lama ketimbang kelelawar dan tikus itu. Jadi aku bisa tahu dengan pasti bagaimana ia bisa sampai ke Menado, lalu memasukkan kelelawar dan tikus itu ke sini. Jadi begini,” si ayam mendehem sebentar. Ia mengepakkan sayapnya tiga kali, membenahi posisi berdirinya, lalu meneruskan, “dia seorang penyair. Kau pasti tahu itu kan? Sekitar tiga tahun yang lalu, ia pernah dikirim oleh Dewan Kesenian Jawa Timur untuk menghadiri temu sastrawan di sana. Semua biaya ditanggung. Selain itu, ia juga mendapat uang saku yang cukup banyak. Ini akan ada hubungannya denganmu.”

“Ada hubungannya denganku? Apa maksudmu?”

“Dengan uang saku yang ia dapat, ia melamar perempuan itu.”

“Siti?”

“Siti.”

“Oh.”

“Kenapa?”

“Kukira mereka kawin lari.”

“Mereka memang kawin lari.”

“Apa maksudmu? Bukankah katamu ia melamar Siti. Lalu kenapa mereka kawin lari?”

“Lamarannya ditolak. Mereka beda agama. Masa kau tidak tahu itu? Dan karena ditolak itulah, mereka kawin lari. Uang yang sedianya untuk beli peningset itu yang mereka gunakan untuk lari dan mengontrak rumah di tepi kali itu.”

“Begitu?”

“Begitulah. Dan kau sudah tahu apa yang kemudian terjadi.”

Ia memang tahu apa yang kemudian terjadi. Sejak suatu sore tiga tahun yang lalu, hari kedua kepindahan pasangan muda tersebut, ia tahu hampir semua yang terjadi atas mereka. Ia sedang mengintai seekor kodok yang tengah bersantai di pinggir kali sewaktu Siti hendak membuang sampah. Setengah tubuhnya tersembunyi di balik gerumbul semak. Namun ekornya yang panjang menjulur tak terlindung. Jarak mereka tidak begitu jauh, sekitar dua puluh meter. Cahaya matahari sore menimpa sisik-sisik gelapnya. Takdir menumbukkan padangan mata Siti ke ekornya.

“Buaya… buaya…” Siti berteriak seraya menjatuhkan keranjang sampahnya dan berlari balik ke rumah petak kontrakannya. Ia terkejut mendengar teriakan itu dan melesat nyemplung ke dalam kali. Si kodok juga terkejut dan melompat entah ke mana. Tak lama kemudian, seorang laki-laki keluar dari rumah, dengan Siti yang mukanya sepucat mayat mengikuti dan mengintip dari balik bahu.

“Di mana buayanya?” lelaki itu bertanya.

“Di sana. Tadi aku melihat ekornya. Di sana. Mungkin sudah pergi. Tapi hati-hatilah.”

Si lelaki menggenggam sebilah parang. Dengan mantap, ia berjalan menuju semak-semak. Melempar batu ke sana. Lalu diam sebentar dalam jarak lima meter.

“Kalau memang ada buaya, pasti ia sudah keluar,” kata si lelaki.

“Mungkin batunya kurang besar.”

Si lelaki memungut batu yang lebih besar. Lalu melemparkannya ke gerumbul semak.

“Tidak ada,” kata si lelaki. Lalu ia berjalan semakin mendekati gerumbul itu. Dan dengan parangnya, ia tebasi gerumbul itu.

“Tidak ada apa-apa.”

“Tapi aku bersumpah.”

“Mungkin kau hanya salah lihat.”

Ia mengamati adegan itu dengan sepasang mata kecilnya dari bawah permukaan air yang coklat. Itulah saat ia merasa darahnya yang dingin berubah hangat. Ia lupa akan dirinya, akan bahaya yang mengancamnya. Ia berenang ke tepian yang baru saja ia tinggalkan. Seperti ada magnet yang menariknya. Dan ia tahu, perempuan itulah magnet tersebut. Si lelaki sudah membalikkan badan dan mulai melangkah menuju rumah kontraknya ketika ia sampai di tepian. Siti berjalan mengikuti lelaki itu, namun sebelum memasuki halaman rumah, Siti menoleh. Pandangan mereka bertemu. Siti kembali menjerit. Dan ia merasa tubuhnya kaku.

Si lelaki menoleh. Lantas tertawa kencang. “Itu biawak. Bukan buaya. Sama sekali tidak berbahaya,” kata si lelaki di sela-sela tawa.

Sejak itu, satu-satunya hal yang ia ingini adalah melihat si perempuan yang di kemudian hari, dari bagaimana si lelaki memanggil, ia ketahui bernama Siti. Semakin dekat semakin baik. Dan dalam rangka itulah ia kerap menyelinap di antara tumpukan sampah tak jauh dari rumah petak tersebut, kadangkala ia mendekam di antara potongan kayu dan tong-tong yang berada di samping rumah. Namun yang paling ia sukai adalah berada di kolong tempat tidur pasangan baru tersebut.

Beberapa kali Siti memergokinya. Ia gembira ketika tahu bahwa Siti mengetahui kehadirannya. Namun tidak dengan Siti. Perempuan itu selalu berteriak. Dan si lelaki akan segera datang untuk mengusirnya.

“Usir yang jauh supaya dia tidak kembali lagi,” begitu selalu yang dikatakan Siti.

“Jangan takut. Nanti aku akan menangkapnya. Daging biawak enak kalau dimasak rica-rica.”

“Ih… jangan begitu. Menjijikkan.”

Namun si lelaki tak pernah berhasil menangkapnya. Ia terlalu gesit. Sekali waktu, ia hampir tertangkap. Si lelaki bahkan berhasil menyabetkan parang yang merobek punggungnya. Namun ia segera berlari. Kesakitan yang ia rasakan memberi semacam kekuatan ekstra yang tak ia duga sebelumnya. Setelah kejadian itu, ia menjadi lebih berhati-hati.

Namun dua minggu yang lalu, ia memutuskan untuk menyerahkan dirinya. Dan untuk keputusan paling penting dalam keseluruhan takdirnya itu, ia berhutang kepada seekor kodok yang sedianya bakal menjadi menu makan siangnya. Seekor kodok petapa, pikirnya, dan karenanya, telah memperoleh pencerahan yang tidak didapat oleh kebanyakan makhluk. Kodok itu, tanpa ia tahu bagaimana, mengerti bahasanya.

“Aku lebih suka menjadi santapanmu ketimbang mati karena usia tua dan membusuk dalam tanah,” kata si kodok. “Dengan menjadi santapanmu, aku tidak benar-benar mati. Aku akan meneruskan hidupku, hanya saja dalam semesta tubuhmu, menjadi bagian dari dirimu.”

Itu adalah hari ketiga ia tersiksa dalam nelangsa yang tidak karuan besarnya. Itu adalah hari ketiga ia mengetahui bahwa Siti telah meninggalkan si lelaki setelah sebuah pertengkaran atas hal yang sama, namun telah mencapai puncaknya. Ia berada di kolong ranjang ketika pertengkaran tersebut terjadi. Dan karenanya, ia tahu detil-detilnya.

“Kita ini kualat. Karena itu rezeki kita seret. Aku lapar. Dan kita terancam jadi gelandangan kalau tidak bisa membayar kontrakan bulan depan,” rintih Siti terbata, di antara isak tangis yang sedemikian pilu.

“Sabarlah. Aku yakin sebentar lagi tulisanku akan ada yang terbit. Dan itu berarti kita akan dapat honor.”

“Seberapa besar honormu? Tidak. Kau tahu, bukan karena tulisanmu jelek sehingga jarang ada yang mau memuatnya. Tapi karena kualat. Kita sudah melawan orangtua kita. Kita ini durhaka. Ini hukuman.”

“Ada apa denganmu? Kau dulu tidak pernah berkata seperti ini.”

“Dulu aku belum tahu kalau kita akan kualat.”

Keesokan paginya, Siti meninggalkan rumah itu sebelum si lelaki bangun. Pergi untuk selama-lamanya. Dan ia tahu, ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan Siti kalau ia tidak melakukan sesuatu. Ucapan si kodoklah yang membuatnya keluar dari persembunyiannya, menampakkan diri pada si lelaki, dan membiarkan lelaki lapar itu menebas kepalanya, lalu mengulitinya, memotong-motong dagingnya, memasaknya, lalu memangsanya.

Dan seperti yang dikatakan si kodok, ia ternyata tidak benar-benar mati. Ia hanya berpindah semesta. Meneruskan hidup dalam diri si lelaki. Dan bertemu serta berkenalan dengan banyak makhluk yang juga meneruskan hidup dalam diri si lelaki.

Ia berharap si lelaki akan menyusul Siti dan membujuknya, dan mereka akan kembali hidup bersama, lalu berbahagia selama-lamanya. Namun ucapan si ayam jago muda membuat semangatnya menyusut.

“Kau tahu apa yang membuat hubungan mereka tidak direstui?”

Ia menggeleng.

“Mereka beda agama. Dan secinta-cintanya mereka satu sama lain, keimanan mereka jauh lebih kuat. Mereka memang bukan orang saleh dan karenanya kau tak akan mendapatkan mereka tengah beribadah. Kekurang salehan mereka, selain cinta tentu saja, yang menyebabkan mereka memutuskan kawin lari. Namun toh, tetap saja, tak ada yang mau mengalah dengan berpindah agama. Mereka pikir itu bukan kendala yang berarti. Dan sekarang kau tahu, yang menjadi kendala adalah kelaparan. Uang. Dan aku yakin, bila ia menyusul Siti, orang tua Siti hanya akan memberi dua pilihan: berpisah atau ia pindah agama.”

“Kemungkinan mana yang lebih besar?”

“Berpisah.”

Tapi si lelaki, ternyata, tak pernah menyusul Siti. Tak pernah. Dan ia, yang merasa pengorbanannya sia-sia, hanya bisa merutuki si lelaki: lelaki terkutuk ini tidak pernah benar-benar mencintai Siti. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

Continue Reading

Cerpen

Ziarah Bit

mm

Published

on

Apa yang akan mereka lakukan bila sungguh-sungguh ketemu? Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore, membeli es krim di Taman Bungkul, atau menyesap kopi di Kafe Cakcuk. Atau mungkin juga mereka akan memutuskan untuk menghabiskan waktu di H20, memilih sebuah meja dan duduk berseberangan, lalu saling diam, saling memandang, tangan mereka bertaut di atas meja, dan penjaga berkacamata akan berkali-kali melirik untuk memastikan mereka tidak melakukan perbuatan mesum. Mereka memang tidak akan berbuat mesum. Tidak. Dari semua kemungkinan yang bisa terjadi, berbuat mesum tidak termasuk di dalamnya. Salah satu dari mereka mungkin akan beranjak ke rak terdekat setelah berpandangan sepuluh detik dan mulai merasa rikuh, mengambil satu buku puisi secara acak, membuka halaman juga secara acak, dan melisankan puisi apa pun yang terpacak di dalamnya lirih-lirih. Setelah itu mereka tertawa tertahan.

“Puisi ini lebih bagus dari puisi Suyitno,” demikian Bit barangkali akan berkata.

“Tapi tidak ada puisi yang lebih penting ketimbang puisi Suyitno,” Aliya menanggapi.

Dan mereka kembali tertawa.

Dunia memang penuh perdebatan, pertentangan, perbedaan, ketidaksetujuan dari satu pihak kepada pihak lain atas satu hal. Agama, politik, penggusuran, drama korea, Tere Liye, Kusala Sastra Khatulistiwa, Jerusalem, tingkat kepahitan kopi, cara menyuguhkan bubur ayam, definisi soto, dan banyak lagi. Namun semua, tidak bisa tidak, akan bersepakat bahwa puisi Suyitno, seseorang yang satu-satunya cita-citanya adalah menjadi penyair namun jelas-jelas tak memiliki kemampuan untuk itu, adalah puisi yang buruk. Buruk sekali, malah. Demi Tuhan, salah satu berkah terbesar yang merungkupi Suyitno adalah ia hidup di zaman media sosial telah melebarkan sayap dan menancapkan cakar-cakarnya sedemikian rupa hingga lelaki ceking dengan kumis melintang dan rambut abu-abu itu sanggup mengumumkan puisi-puisi ciptaannya ke khalayak. Bebas. Tanpa mesti melewati tatapan bengis mata redaktur yang senantiasa dicurigai keobyektifan dan kapasitas keilmuannya. Bertahun-tahun sebelumnya, mati-matian Suyitno mengirim ratusan, kalau tidak ribuan, puisi ke koran-koran dan majalah-majalah, mulai dari yang dianggap memiliki wibawa dan pengaruh dalam bidang kesusatraan hingga yang acak adut dan sama sekali tidak masuk radar halaman bermutu. Dan tak satu pun yang dimuat. Ia juga tak kapok-kapok mengirim manuskrip puisi, yang dilambari pengantar muluk-muluk yang ia tulis sendiri, ke penerbit. Dan tak satu pun penerbit yang membalas kirimannya. Media sosial membuatnya mungkin melakukan apa yang dulu tidak mungkin ia lakukan. Dan dengan kegirangan yang luar biasa, ia mengumumkan siapa dirinya: aku penyair!

Di bawah kuasa ilusi bahwa puisi-puisi yang dihasilkannya adalah puisi-puisi paling adiluhung yang pernah diproduksi manusia sepanjang peradaban, seperti kebanyakan – atau kalau tidak, semua – penyair, Suyitno merasa ia memiliki tanggungjawab untuk memaksa orang lain membaca puisi-puisinya. Tak lega dengan mengunggah puisi-puisinya belaka (khususnya dan terutama di Facebook), ia juga menandai akun-akun orang lain dalam unggahannya. Dan untuk kerja kerasnya, ia setidaknya menuai lima tanda suka dan nol komentar dari empat puluh tanda paksaannya. Itu sudah cukup membuatnya tersenyum puas.

Tak ada pola khusus mengenai bagaimana Suyitno menentukan akun-akun siapa yang akan ia tandai. Dalam seminggu, kadang satu akun ia tandai lima kali, kadang satu kali, dan kadang tidak sama sekali. Dengan lima ribu akun yang berteman dengannya, ia memiliki banyak komposisi kemungkinan. Pada akhir September 2017, murni ketidaksengajaan, ia menandai Bit dan Aliya dalam penandaan yang sama atas puisi singkatnya. Berteman di Facebook, itu judul puisinya. Isinya singkat belaka, hanya dua baris: sejak aku mengenalmu/aku bertambah teman.

Bit dan Aliya bukan orang yang suka puisi. Apalagi pembaca puisi yang baik. Apalagi mengerti teori-teori dalam dunia perpuisian. Namun tak urung, mereka tertawa ngakak sehabis membaca puisi Suyitno. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar di Indonesia dan pernah mengenyam Sekolah Dasar, mereka pernah membaca beberapa puisi Chairil Anwar, Rendra, dan Toto Sudarto Bachtiar. Dan tentu saja puisi-puisi mereka tidak bisa dibandingkan dengan puisi Suyitno. Dan puisi dari ketiga penyair itu, setidaknya, memberi Bit dan Aliya dasar seperti apa puisi itu sebenarnya.

Bit punya waktu berlimpah. Umurnya dua puluh lima dan orangtuanya memperlakukannya laiknya porselen yang gampang retak. Kakaknya meninggal diseruduk motor yang dikendarai pemuda mabuk pada usia sepuluh tahun. Sejak itu, Bit menjadi anak tunggal. Trauma mendalam yang mendera orangtuanya menyebabkan mereka begitu protektif terhadap Bit. Bit, yang berselisih usia lima tahun dari kakaknya, tumbuh dalam begitu banyak larangan. Jangan menyeberang jalan sembarangan. Jangan bermain dengan anak itu.  Jangan lari-larian. Jangan bermain lumpur. Jangan hujan-hujan. Jangan jajan permen. Jangan pulang sekolah telat. Jangan naik sepeda pancal. Jangan lupa pakai sandal. Jangan memanjat pohon. Jangan menyentuh beling. Jangan pergi ke ujung gang. Jangan sampai tisunya ketinggalan. Jangan pakai kaos kaki ungu. Jangan petak umpet, cuma bikin capek. Jangan ikut kasti, nanti kakimu patah. Jangan ini. Jangan itu. Pada akhirnya, tanpa disadari, Bit telah menjelma pemuda tanpa keberanian melakukan apa pun. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di dalam rumah bila tidak ada sesuatu yang memaksanya untuk beraktivitas di luaran. Ia juga cenderung kesulitan dalam pergaulan sosial secara langsung, yang mendorongnya menjauh dari kehidupan sosial semacam itu. Ia, praktis, tak pernah memiliki teman, apalagi teman dekat. Dan orangtuanya, yang masih dihantui tragedi kematian anak sulungnya, menganggap itu yang terbaik bagi Bit. Sebagai kompensasi dari tindak protektif mereka, mereka menyediakan apa pun yang berpotensi membuat Bit nyaman dan krasan di rumah. Mulai dari konsol game hingga akhirnya gawai-gawai termutakhir dengan koneksi internet yang lajak. Selepas kuliah, Bit yang tidak kunjung mendapat pekerjaan menghabiskan waktu dengan berselancar di media sosial. Lalu ia, pada suatu hari, menerima permintaan pertemanan dari Suyitno di Facebook. Dan akhir September itu, ia ditandai dalam sebuah kiriman puisi yang menyedihkan. Keberlimpahan waktu yang dimiliki Bit lah yang menyebabkan pemuda itu secara iseng mengklik tanda reaksi tawa, satu-satunya reaksi yang didapat puisi Suyitno tersebut, dan mendapati nama akun Aliya.

Bit yakin ia jatuh cinta pada saat itu. Gambar profil Aliya menampilkan sosok gadis ideal masa kini: kulit putih, hidung mancung, bibir tipis segar, mata sipit, rambut lurus sepunggung, dan tubuh langsing semampai. Bit mengklik akun itu dan mulai berjalan-jalan di linimasa Aliya. Bit tidak mendapat banyak info dari keterangan akun. Hanya bahwa Aliya tinggal di Surabaya. Di unggahan foto Aliya dan keterangan yang menyertai foto tersebut, Bit mendapat gambaran bagaimana suasana kafe Cakcuk atau bagaimana rak-rak buku berderet-deret di perpustakaan H20. Itu semua adalah tempat-tempat yang asing bagi Bit meski sepanjang hayatnya hingga saat itu ia tinggal di Surabaya.

Dengan gelegak aneh di kedalaman dadanya, Bit menjelajahi waktu yang membeku di linimasa Aliya. Sebelumnya, tentu saja, ia mengajukan permintaan pertemanan. Untung saja akun Aliya diatur publik hingga ia tidak perlu menunggu permintaan pertemanannya disetujui untuk segera memulai perjalanannya membongkar jejak-jejak arkeologis kehidupan Aliya.

“Ia punya banyak teman,” batin Bit setelah beberapa saat. Ia menemukan ratusan reaksi dan komentar yang didapat Aliya dari setiap unggahannya, dan ratusan foto-foto yang menandakan betapa perempuan itu suka dan acap jalan-jalan serta kumpul-kumpul dengan banyak orang. Bit juga kerap bercanda dengan teman-teman media sosialnya, namun itu terbatas di media sosial. Dari tiga ribu teman Facebook-nya – dua ratus di antaranya cukup sering berinteraksi dengannya – ia belum pernah ngopi darat dengan mereka dan ngobrol bertatap muka secara langsung. Ia terlalu pemalu. Beberapa teman mayanya yang berdomisili di Surabaya pernah mengajaknya kopi darat. Namun Bit tak pernah menanggapi permintaan itu. Bukannya tidak ingin, namun ia hanya gentar. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana bila pertemuan langsung itu terjadi. Ia juga tak tahu apa yang akan mereka bicarakan nantinya. Facebook dan platform media sosial lainnya telah menyelamatkannya dari kegagapan semacam itu, namun tak pernah benar-benar membantu menyelesaikan semua masalahnya. Hal pertama yang terlintas di benaknya setiap kali mendapatkan ajakan untuk kopi darat adalah pengalaman-pengalamannya selama sekolah atau kuliah, di mana ia senantiasa menghabiskan waktu sendirian di sudut kelas dan memandang teman-temannya saling bercanda. Beberapa kali ada teman yang mencoba mengajaknya bercakap, namun secara reflek, ia melindungi diri dengan cara membungkam; hanya mengangguk atau menggeleng.

Empat menit setelah mengklik akun Aliya untuk pertama kalinya, Bit merasakan dorongan untuk mengirim pesan pribadi ke kotak pesan Aliya. Namun dengan segera ia mendapati bahwa ia tak tahu apa yang akan ia tulis. Ia tugur. Lalu ia meneruskan menjelajahi linimasa Aliya. Tiga jam setelah permintaan pertemannya terkirim, Aliya menyetujuinya. Dan sepuluh detik kemudian, Aliya memperbaharui statusnya. Siap-siap kopi darat nih, tulis Aliya. Bit merasakan dadanya panas. Mangkel. Cemburu? Bit tidak tahu.

Bit menunggu. Ia ingin mengomentari status itu. Namun baru satu kata ia tulis, buru-buru ia hapus. Begitu berulang-ulang. Tak ada kata atau kalimat yang layak untuk ditulis di kolom komentar, pikir Bit. Hingga akhirnya Bit membanting dirinya sendiri ke atas kasur. Ia berguling-guling seraya membayangkan apa yang akan mereka lakukan bila mereka benar-benar bertemu. Bertemu sebagai sepasang kekasih. Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore. Atau membeli es krim di Taman Bungkul. Atau membaca buku puisi sambil tertawa-tawa di H20.

Namun khayalan Bit tidak akan pernah terjadi. Tiga jam empat puluh lima menit setelah Aliya memperbaharui statusnya, puluhan kiriman menyesaki dinding akun Aliya. Semuanya muram. Semua menyampaikan pernyataan duka cita. Bit tak percaya apa yang jelas-jelas tersurat dari kiriman-kiriman itu, bahwa Aliya ditemukan dengan leher nyaris putus digorok oleh lelaki yang dikenalnya melalui Facebook pada perjumpaan langsung mereka yang pertama. Beberapa akun memacak foto pembunuh, seorang pemuda sepantaran Bit, dengan cambang dan kumis lebat dan model rambut undercut, yang telah berhasil dibekuk polisi setengah jam setelah kejadian.

Bit mengunggah gambar karangan mawar di dinding akun Aliya. Berulang-ulang setiap hari. Sebuah ziarah yang seakan abadi ke kuburan yang dibangun dengan pondasi algoritma dan bit komputer. Akun Aliya terkesan singun.  Begitu singun. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

 

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending