Connect with us

COLUMN & IDEAS

Simposium Cinta Untuk Perempuan

mm

Published

on

getty image/ ‘Spring (Apple Blossoms)’ [1859, oil on canvas, 176 x 113cm, Lady Lever Art Gallery, LL3624] by Millais

Dalam bahasa Indonesia, kata cinta sering disandingkan dengan kata “asmara”. Makna cinta jauh lebih luas dan lebih rumit daripada kata asmara, karena “asmara” dapat dikatakan hanya merupakan gabungan dari kategori cinta seksual plus cinta romantis. Tetapi, cinta seksual yang semata-mata hanya bertujuan untuk kepuasan jasmaniah, meskipun dapat juga dibumbui dengan romantika, belum tentu merupakan “cinta asmara”, bahkan tidak juga dapat disebut “cinta” melainkan hanya merupakan “nafsu” birahi, (meskipun dalam bahasa Inggris disebut juga “love”).

 Gunawan Wiradi[1]

 

Sepanjang yang saya tahu, catatan sejarah mengenai pembahasan tentang “cinta” yang disajikan tertulis pertama kali adalah buku karya Plato berjudul “Symposium” (sekitar 300 tahun sebelum Masehi).

‘Simposium’-nya Plato

Plato berpandangan bahwa jalan yang terbaik untuk memperoleh pengetahuan adalah dengan diskusi. Karena itu semua karya Plato bentuknya adalah dialog. Begitu juga dengan “Symposium”, dia menceritakan dialognya berbagai peserta, walaupun sebenarnya dengan itu dia menyampaikan pesan-pesannya. Hakekat cinta, menurutnya, adalah perasaan “ketertarikan dan hasrat atau nafsu” untuk menyatu, walaupun kita tidak tahu dari mana asal usul perasaan itu (“Attraction and desire”).

Sebelum kita gambarkan isi buku Plato tersebut, mungkin ada baiknya menyimpang sedikit, yaitu masalah istilah mengenai berbagai format diskusi, yang di Indonesia sekarang ini sering bercampur aduk.

Symposium.  Berbeda dari format-format yang lain, seperti tersebut diatas, dan belajar dari “symposium”nya Plato, ciri utamanya adalah “brain storming” dan semua peserta seharusnya turut berbicara. Tidak harus ada narasumber, dan tidak harus ada kesimpulan. Karena itu marilah kita lihat sepintas isi buku Plato itu.

Perlu dicatat lebih dulu bahwa arti harfiah dari kata ‘symposium’ adalah “pesta minum-minum bersama untuk merayakan sesuatu”, dan memang buku Plato ini menceritakan tentang pesta minum bersama untuk merayakan seorang sastrawan bernama Agathon yang berhasil memperoleh hadiah pertama dalam suatu kejuaraan sastra (semacam “syukuran”). Namun para peserta pertemuan itu akhirnya menghendaki agar pertemuan dilanjutkan dengan berdiskusi dengan tema “cinta”. Para pelayan minuman, dan para penabuh musik diminta keluar ruangan sehingga yang tinggal untuk berdiskusi adalah para filosof dan sastrawan.

Diantara para peserta yang menyampaikan pandangan-pandangannya mengenai “cinta”, ada satu orang yang pidatonya menarik perhatian para hadirin, yaitu yang bernama Aristophanes. Hampir semua peserta memang berbicara dan pada umumnya menganggap bahwa “cinta” adalah “Dewa Agung” (The Great God). Aristhophanes menceritakan sebuah dongeng bahwa semula, manusia itu berbentuk bulat dengan empat tangan dan empat kaki. Tetapi kemudian dewa Zeus membelahnya menjadi dua. Karena itu, “Cinta” adalah suatu hasrat kerinduan dari masing-masing belahan badan tersebut untuk “re-uni”, bersatu kembali dengan pasangannya. Gambaran dari Aristophanes ini kemudian dikoreksi dan sekaligus dikembangkan oleh Socrates. Atas dasar ajaran yang berasal dari seorang wanita bijak bernama Diotima, Socrates menyatakan bahwa “Cinta” itu bukan “Dewa”, melainkan hasrat dan upaya manusia untuk menghindari kematian. Pada tingkatan paling rendah, wujudnya adalah “reproduksi fisik” (Kelahiran adalah lawan dari Kematian). Pada tingkatan yang lebih tinggi adalah penyatuan secara cendekia dengan “keindahan mutlak”. Belum sempat Socrates menjelaskannya lebih lanjut tentang hal ini, seorang yang sedang mabuk bernama Alcibiades masuk ruangan diskusi dan bernyanyi memuji-muji Socrates, dan diikuti oleh sejumlah pemabuk lainnya, sehingga membingungkan. Maka diskusi tersebut lalu diakhiri, tanpa kesimpulan apa-apa. (Dari sinilah maka, pengertiannya sekarang, symposium adalah forum diskusi yang tidak menghasilkan kesimpulan).

Sosiologi tentang Cinta

Kita semua tahu bahwa “sosiologi” adalah ilmu yang mempelajari “hubungan antar manusia secara umum” (a general science). Karena itu, masalah “cinta” yang merupakan salah satu aspek hubungan antar-manusia memang sudah sewajarnya masuk ke dalam ranah kajian sosiologis.

Jika kita bertolak secara formal, dapat dikatakan bahwa lahirnya sosiologi adalah saat diperkenalkannya istilah “sosiologi” dari August Compte, di pertengahan abad 19. Namun itu tidak berarti bahwa berbagai karya pemikir sebelumnya tidak ada yang bernilai sosiologi. Karya Ibn Khaldun, misalnya, dalam jilid I yang berjudul “Muqadimah” (dari 7 jilid buku sejarah yang ditulisnya), benar-benar mencerminkan uraian yang bersifat sosiologis.

Belajar dari buku “Symposium”nya Plato, dan kemudian memperhatikan berbagai ungkapan tentang cinta dari para pemikir sesudahnya (berbagai budayawan, psikolog, sejarahwan, filosof, dll), maka ada sebagian sosiolog masa kini yang berusaha untuk mengembangkan konseptualisasi tentang cinta, dan membuat kategorisasi atas dasar nuansa psikologisnya. Sepanjang yang saya ketahui ada 7 (tujuh) kategori cinta, yaitu: (1) “Brotherly Love” atau cinta sesama; (2) “Platonic Love”; (3) “Sexual Love”;   (4) “Romantic Love”; (5) “Conjugal Love”; (6) “Plutonic love”; dan (7) “Patriotic Love”. Lima yang disebut pertama memang saling berkaitan. Sedang dua yang terakhir dapat disebut eksklusif dan tak banyak orang menghiraukannya. Mari kita coba telaah satu persatu walaupun secara amat ringkas.

 

  • Cinta sesama (“Brother Love”)

Perasaan cinta sesama bisa muncul jika kita dapat ber“empati”, bisa merasakan apa yang dialami orang lain (“seandainya saya itu dia”). Sedikit atau banyak, ada semangat “altruistic” (sebagai lawan individualistik)

  • Cinta Platonic. (“Platonic Love”)

Cinta kategori ini adalah perasaan menyayangi yang bernuansa “mengagumi”, “menghormati tinggi”, bahkan juga mengandung sifat pemujaan bahkan ketundukan. Misalnya sebagian besar rakyat Indonesia “mencintai” Bung Karno.

  • Cinta Sexual. (“Sexual Love”)

Ini adalah jenis cinta yang paling digemari banyak orang untuk membahasnya tapi sekaligus juga ditabukan untuk dibahas secara terbuka dihadapan publik. Dalam wacana ilmiah, topik hubungan sex juga merupakan objek kajian yang paling menuntut perhatian serius, rumit, dan sekaligus juga paling sukar untuk menjelaskannya karena mencakup sedikitnya tiga tradisi keilmuan yaitu biologi, psikologi (khususnya aliran Freudian) dan sosial budaya. Bahkan dalam hal tertentu masuk pula aspek politik karena kemudian dipertanyakan apakah hubungan sex semata dapat disebut sebagai “cinta”. Secara sederhana, pandangan dari segi biologi menyatakan bahwa hubungan sex diperlukan untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah dan dikaitkan dengan fungsi reproduksi (membuahkan keturunan). Psikologi Freudian memusatkan perhatian pada aspek “kepuasan” dalam hubungan sex yang mempengaruhi perilaku. “Kebahagiaan” suatu pasangan ditentukan oleh tingkat kepuasan dalam hubungan sex-nya. Pusat perhatian psikologi terletak pada pengaruh kejiwaan terhadap individu yang bersangkutan. Sedangkan sosiologi memandang bahwa bagaimanapun juga hubungan sex antara dua individu adalah hubungan sosial. Pusat perhatiannya tidak semata-mata pada individunya “an sich” melainkan pada dampak dari perilaku yang dipengaruhi oleh tingkat kepuasan tersebut terhadap interelasinya dengan manusia lain yang pada gilirannya mempengaruhi interelasi antar-manusia dalam masyarakat secara keseluruhan. Namun justru karena itu, sosiologi juga berkepentingan dalam hal-hal yang menyangkut metode bagaimana cara mengukur tingkat kepuasan hubungan sex tersebut. Jika dalam psikologi yang diukur adalah tingkat kepuasan dalam hubungan sex itu sendiri, dalam sosiologi yang diukur adalah tingkat kebahagiaan yang dipengaruhi oleh tingkat kepuasan itu. Dalam “sociology of love” dikenal adanya konsep SSR (Sex Satiety Ratio). Jika SSR = 1 maka dikatakan bahwa suatu pasangan itu bahagia. (Bagaimana teknik menghitungnya, rasanya tak perlu ditulis disini).

  • Cinta Romantis. (“Romantic Love”)

Istilah romantic sudah terlalu dikenal oleh masyarakat. Namun apa makna yang sesungguhnya, dan bagaimana latar belakang sejarah timbulnya istilah tersebut, barangkali tidak banyak yang perduli. Kurang lebih ceritanya sebagai berikut:

Dalam setiap peperangan tentu terdapat sejumlah korban, baik yang menang maupun yang kalah. Begitulah di jaman Romawi Kuno, terjadi perang antara Romawi Barat (RB) dan Romawi Timur (RT) yang dimenangkan oleh RB. Tentara RB menyerbu ke Timur. Tentara RB terkenal disiplin, dan sebelum berangkat menyerbu ke Timur mereka sudah mendapat perintah keras dari pimpinan tertinggi di Roma bahwa jika nanti menang dan menduduki wilayah Timur mereka dilarang melakukan hubungan sex ataupun perkawinan dengan janda-janda prajurit RT. Sangsinya sangat berat, yaitu hukuman mati. Tentara RB menghadapi dilema. Disatu sisi, karena jauh dari rumah, jauh dari istri, maka sulit untuk menahan perasaan cinta birahi. Namun di sisi yang lain, sikap disiplin dan sangsi hukuman mati telah mengekangnya. Apa yang kemudian mereka lakukan?. Setiap waktu luang mereka mengundang janda-janda itu, minum-minum, nyanyi-nyanyi, dan melakukan dialog dengan janda-janda tersebut melalui kalimat-kalimat yang puitis, (seperti berpantun ala  adat Minang). Jadi, “cumbu rayutanpa sentuhan tubuh itulah yang dilakukannya. Dari kejadian inilah asal timbulnya istilah romantic. “Roman” artinya “Orang Roma”, dan “Romantic” artinya “Seperti Orang Roma”.

  • Cinta Suami Isteri. (“Conjugal Love”)

Di luar masalah hubungan sex, “cinta suami isteri” mengandung nuansa psikologis yang lain yang pada hakekatnya dapat dianggap sebagai “cinta keluarga”. Yang dianggap ideal adalah bahwa “conjugal love” sebaiknya menyatu secara integrative dengan kategori cinta yang lain tersebut di atas. Pasangan suami isteri seyogyanya juga mengandung bukan saja “Brotherly Love”, tapi juga “Platonic Love”, “Sexual Love”, dan “Romantic Love”. Suami menghormati tinggi isterinya, dan si isteri mengagumi dan membanggakan suaminya (Platonic). Sekali-sekali perlu adanya suasana “romantic”. Demikianlah, lima kategori cinta yang saling terkait.

  • Cinta Plutonic (“Plutonic Love”)

Berbeda dari lima kategori cinta tersebut diatas, cinta Plutonic mengandung nuansa lain yang sama sekali berbeda. Istilah Pluto dalam ilmu falak berarti planet terluar dalam tata surya kita (paling jauh dari matahari). Dalam mitologi Yunani, Pluto adalah “Dewa dari dunia rendah”. Maknanya adalah nafsu serakah. Cinta Plutonic adalah mengabdi kepada harta, kekayaan material, tanpa menghiraukan orang lain.

  • Cinta Patriotik (“Patriotic Love”)

“Cinta Patriotic” adalah cinta tanah air. Sekalipun nuansa psikologinya juga berbeda dengan lima kategori yang diuraikan tersebut diatas, namun cinta tanah air amat berlawanan dengan dengan cinta Plutonic. Secara normatif, cinta tanah air adalah positif dan memenuhi makna pepatah Yunani Kuno bahwa: “Ukuran cinta adalah apa yang dikorbankan untuknya”. Seorang patriot rela mengorbankan jiwanya demi tanah airnya. Seorang patriot tak akan rela jika masyarakat tanah airnya rusak moralnya.

Masalah hubungan antar-manusia (juga antara manusia dengan sesuatu di luar dirinya) yang disebut “cinta”, adalah sesuatu isu yang tak pernah berhenti dibicarakan, dibahas, dan diperdebatkan sepanjang jaman, dari jaman kuno sekali sampai sekarang (bahkan sampai kapanpun). Mengapa masalah cinta selalu menjadi bahan pergunjingan sepanjang jaman, karena masalah ini masuk ke wilayah perasaan, bagian kehidupan yang serba rumit, kadang menggugah, kadang menghancurkan, pelik, indah, mengharukan, sekaligus mengandung berbagai segi yang dapat menyesatkan, bahkan menghancurkan kehidupan seseorang. Seorang filosof Islam klasik, Ibn Hazm, yang menulis tentang cinta (tahun 1022 M), pernah mengatakan bahwa arti cinta itu begitu rumit untuk diuraikan, dan maknanya yang sejati tak bisa diamati kecuali melalui pengalaman.

Dalam bahasa Indonesia, kata cinta sering disandingkan dengan kata “asmara”. Makna cinta jauh lebih luas dan lebih rumit daripada kata asmara, karena “asmara” dapat dikatakan hanya merupakan gabungan dari kategori cinta seksual plus cinta romantis. Tetapi, cinta seksual yang semata-mata hanya bertujuan untuk kepuasan jasmaniah, meskipun dapat juga dibumbui dengan romantika, belum tentu merupakan “cinta asmara”, bahkan tidak juga dapat disebut “cinta” melainkan hanya merupakan “nafsu” birahi, (meskipun dalam bahasa Inggris disebut juga “love”).

Keadilan dan Konflik

Demikianlah ulasan sekedarnya tentang sosiologi cinta. Lalu, dimanakah letak relevansinya terhadap masalah (pertanyaan) tentang keadilan gender?

Dari sejarah di berbagai negara, kita tahu bahwa ketidakadilan (dalam dan sebagai contoh utama di lapangan agrarian) melahirkan maraknya konflik agraria yang seringkai disertai dengan tindak kekerasan. Di Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir inipun juga diwarnai oleh gejala tersebut. Mengapa? Karena globalisasi pasar bebas mendengung-dengungkan persaingan. Padahal menurut pakar sosiologi, “konflik adalah tingkatan tertinggi dari persaingan” (T. F. Hoult, 1977).

Dalam kondisi maraknya konflik terutama (misalnya di lapangan agrarian) yang disertai kekerasan itu, kategori cinta yang manakah di antara tujuh kategori tersebut di atas yang patut dan relevan untuk dipertanyakan?. Menurut hemat saya, ada tiga kategori yang tidak perlu dipertanyakan  (yaitu, “Platonik”, “Sexual”  dan “Romantic”), karena dalam kondisi apapun, gejala atau praktik cinta seperti itu akan tetap ada. Dengan demikian tinggal empat kategori yang lain yang barangkali memang perlu diulas.

Kalau kita mau jujur, saya kira semua merasakan bahwa semangat “patriotic love” terasa menurun, justru karena maraknya semangat “Plutonic Love”, cinta harta, cinta kekuasaan. Dengan harta dan kekuasaan, hampir semua hal dapat dipaksakan atau dibeli. Mengapa proses ini bisa terjadi? Tidak lain karena pengaruh propaganda globalisasi ekonomi pasar bebas. Semangat bersaing, dikobar-kobarkan, dan hampir semua hal diperlakukan sebagai barang dagangan, termasuk tanah dan juga jasa. Barangkali dua hal ini (tanah dan jasa) perlu ada sedikit catatan yaitu: dahulu, tanah dipandang sebagai benda sakral. Hubungan manusia dengan tanah mengandung nuansa “religio-magis”. Semangat globalisasi ekonomi melahirkan pandangan bahwa tanah adalah juga barang dagangan. Akibatnya terjadilah ketidakadilan (dalam kaus di lapangan agrarian), karena segelintir orang yang bermodal besar akhirnya menguasai ratusan bahkan ribuan hektar, sementara rakyat yang terbujuk uang akhirnya tergusur dari tanahnya.

Lalu bagaimana di lapangan selain agrarian? Saya berharap Anda yang menuliskannya setelah saya memberikan pengantar sosiologis tentang hal tersebut. (*)

___

Daftar Kepustakaan

Brumbaugh, Robert S. (1980):  “Plato”, dalam Encyclopedia Americana, Vol. 22.

Fairchild, H.P (1977): Dictionary of Sosiology and Related Sciences. Totowa, New Jersey. Litttlefield, Adam & co.

Hathorn, Richmond Y. (1980): “Symposium”, dalam Enclopedia Americana, Vol. 26.

Suprayetno Wagiman (1998): “Robert J. Sternberg and Ibn Hazm on The Nature of Love”, dalam Yudian Wahyudi, dkk (Eds): The Dynamic of Civilization, Yogyakarta, Titian Ilahi Press.

Hutheesing, O. (1976), “Sociology of Love” (Hand Out-Catatan Kuliah, USM, Penang Malaysia).

 

 

[1] Dr. Ir. Gunawan  Wiradi, M.Sos. Sc. adalah pemikir dan penggerak Reforma Agraria Indonesia yang sangat dihormati dan menjadi referensi berjalan, selama lima puluh tahun terakhir. Karyanya mengenai bidang itu dan bidang perubahan pertanian, pedesaan dan masyarakat adat tersebar di mana-mana. Dalam usia yang sudah 80 tahun, ia yang tinggal di Bogor ini,  masih dianugerahi kesehatan prima, untuk memberikan ceramah, semangat dan wawancara bagi banyak kelompok dan di berbagai tempat di Tanah Air. Tulisan yang bernuansa selingan ini khusus dimohon oleh redaksi, agar sisi tertentu dari kemanusiaannya yang jarang diketahui, sampai pula pada pembaca (-nya). |

editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading
Advertisement

COLUMN & IDEAS

Mereka Berpuisi Batu

mm

Published

on

Batu-batu dengan pelbagai sebutan adalah tanda peradaban, bukti kesanggupan manusia mengejawantahkan seni dan arsitektur sampai ke pemujaan pada Tuhan. Para penyair pun menyusun batu-batu dalam sajak-sajaknya.

Bandung Mawardi

Di jagat sastra Indonesia, kita bertemu tiga buku puisi mengandung batu. Sitor Situmorang memberi Bunga di Atas Batu (1989), Radhar Panca Dahana suguhkan Lalu Batu (2003), dan Sapardi Djoko Damono mempersembahkan Babad Batu (2016). Mereka pengisah batu, bertaut ke mitos, ritual, arsitektur, asmara, bahasa, modernitas, kekuasaan, dan identitas. Batu ada di arus peradaban manusia, berperan sebagai material dan simbolik. Batu-batu bercerita pelbagai kejadian dan bergelimang makna, terwariskan selama ribuan tahun. Batu pun cerita bergerak, tak melulu diam dan mengeras. Pada batu, biografi manusia dan tata dunia mengalami pembentukan, perubahan, dan penghilangan.

Sebelum ke tiga buku, kita sempat ingat puisi gubahan Sutardji Calzoum Bachri berjudul “Batu”. Puisi bersandar mantra, mengajak pembaca melafalkan: batu mawar/ batu langit/ batu duka/ batu rindu/ batu jarum/ batu bisu… Pengulangan batu terasa penguatan atas kata, benda, dan pukau imajinasi. Batu tak sendirian. Ia hadir dengan bentukan bersama, kejutan metafora saat bersanding mawar, langit, duka, rindu, jarum, dan bisu. Pembaca merasa berhadapan dengan batu, perlahan ada bersama batu. Diri pun mungkin mem-batu. Puisi itu jarang teringat pembaca, tersimpan di buku merindu pembaca keranjingan batu.

Jejak-jejak peradaban manusia di batu disajikan dalam puisi berjudul “Bunga Batu” oleh Sitor Situmorang. Batu itu perlambang atas cerita pertemuan manusia. Pada batu, tokoh dan kejadian masih teringat. Sitor Situmorang menulis: Seribu tahun sebelum kita dan nanti/ Dari dalam tanah orang menggali/ Wajah tertera pada lapisan batu/ Bergaris cerita mati – masih terharu. Batu memang membisu tapi “kebisuan lebih berkata dari duka.” Sitor mundur ke masa lalu, ingat pengetahuan-pengetahuan lama tercantum dan tersimpan di batu-batu. Manusia bercerita diri dan dunia bereferensi batu. Pada gerak waktu, seratus sampai seribu tahun, batu-batu enggan kapok menceritakan manusia dan masa lalu meski duka.

Pada masa berbeda, Sitor Situmorang menggubah puisi berjudul “Batu-Batu Sungai Indus.” Batu di titik peradaban dunia, ribuan tahun silam. Batu-batu masih ada, menampik punah. Batu itu bercerita religiositas: Biksu khayalanku lalu merunduk/ mengamati batu-batu bertebaran/ Aku pun ikut membungkuk/ memungut batu-batu yang/ terlalu halus dalam jamah/ dibentuk oleh asahan arus waktu/ berujud sungai tak kenal hulu dan muara/ menjelma dalam sentuhan jari-jariku. Batu dan waktu, dua perkara mempengaruhi cara manusia mendefinisikan diri, bermula urusan-urusan duniawi sampai ke ritual suci. Di sungai, batu-batu “mengalirkan” pesan dan mengundang manusia insaf atas alam dan kedirian. Batu telah melintasi waktu. Batu menandai usaha manusia mengerti segala saat waktu berlalu.

Pengalaman dan suasana religius terus mengacu ke batu. Radhar Panca Dahana dalam puisi berjudul “Menara Cinta Bernama Batu” berkesadaran batu, perlambang usaha manusia menemukan diri. Puisi mirip ikhtisar manusia menggerakkan ide dan imajinasi, mengartikan hidup pada masa-masa berbeda dengan pelbagai teknologi dan arsitektur. Pada masa berbeda, makna bersumber batu tetap bergerak dan terkandung dalam kedirian manusia. Radhar Panca Dahana dengan kelembutan bercerita manusia dan batu: berhasilkah kau keluar dari itu menara,/ lalu membangun sendiri di hatimu/ sebuah menara batu, batu-batu cahaya/ yang tak berhasil dipenjara waktu/ di situ, aku segera datang padamu/ membawa pintu yang akan membuka/ hati bagimu setiap aku,/ aku yang datang selalu/ datang selalu sebagai tentu/ sebagai batu. Puisi seperti serial “sambungan” dari ketekunan para pujangga Indonesia menulis batu bergelimang makna religius dan penentu peradaban dunia. Manusia tak cuma melihat dan menghadapi batu. Ia telah batu. Akhir dari puisi menjadi penjelasan keberadaan manusia: dulu dan sekarang.

   Batu belum selesai ditulis oleh pujangga-pujangga di Indonesia. Pada 2016, pujangga tua bernama Sapardi Djoko Damono mengeluarkan buku puisi berjudul angker dan gagah, Babad Batu. Ia memilih bercerita batu, tak melemah akibat usia atau melembut mengacu ke tumpukan nostalgia. Batu itu pusat pengisahan. Sapardi Djoko Damono sanggup menggubah puisi berjudul panjang demi bercerita batu. Pada puisi “Berbicara tentang Perkara yang Meskipun Mungkin Tidak Ada Kait-mengaitnya dengan Kami dan Tidak Berguna tetapi Kalau Tidak Dijalani Tidak Akan Pernah Diketahui Berguna atau Tidaknya”, pembaca bertemu pengakuan atas sejarah dan makna batu bagi manusia:  Masih kokoh bongkah-bongkah batu itu bayang-bayang ketuaan/ dan kebajikan dan kebijakan tumbuh di lumut sekujurnya. Batu tak ingin sirna atau telantar dalam bisu. Batu justru pengingat dan pengisah.

Sapardi Djoko Damono juga bercerita Nusantara. Batu-batu dengan pelbagai sebutan adalah tanda peradaban, bukti kesanggupan manusia mengejawantahkan seni dan arsitektur sampai ke pemujaan pada Tuhan. Warisan-warisan terpenting berupa batu, mulai prasasti sampai candi. Di buku Babad Batu, kita mengembara ke masa lalu memberi pujian dan pengandaian ke para leluhur saat bercerita dengan batu-batu. Pengembaraan itu bekal untuk sadar lakon batu abad XXI. Batu mulai mengeras makna, menjauh dari mitos dan sakralitas dalam teks-teks kuno. Batu telah berarti uang, metropolitan, pelesiran, kriminalitas, dan demonstrasi. Religiositas batu terlupakan saat orang-orang tak lagi menjenguk puisi atau memegang batu dengan tangan berjari makna. Begitu.

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Menuju Kematian Demokrasi

mm

Published

on

Populisme adalah salah satu jalan utama menuju kematian demokrasi. Tetapi bukan satu-satunya. Para politisi yang sengaja memanfaatkan sentimen sosial yang ada di masayarakat seperti Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) untuk meraup dukungan elektoral, berkelindan dalam kerumitan yang memperparah sakit kronis demokrasi di banyak negara di dunia.

Populisme, Oposisi dan Oligarki—
Juru Jagal Demokrasi

Virdika Rizky Utama & Sabiq Carebesth

Saat ini, demokrasi merupakan sebuah sistem pemerintahan yang banyak dianut oleh negara-negara yang ada di dunia, terutama setelah berakhir perang dingin pada 1990. Demokrasi dinilai sebagai sebuah sistem yang ideal, karena sistem yang berasal dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Selain itu, demokrasi juga menganut prinsip pembagian kekuasaan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Akan tetapi, menurut Karl Popper dalam Masyarakat Terbuka dan Musuh-Musuhnya (1945) satu hal yang menjadi daya tarik dalam sistem demokrasi adalah adanya jaminan terhadap hak-hak individu sebagai makhluk yang otonom dalam berpikir dan menyampaikan pendapat. Dalam konteks pemerintahan, pemerintahan dinilai berjalan dengan baik bila pemerintah dan para pemimpin senantiasa membuka diri dan bersikap rendah hati terhadap masukan dan kritik, baik kritik publik baik dari oposisi maupun rakyat biasa. Tujuannya tak lain adalah perbaikan untuk menyejahterakan rakyat.

Namun, satu dekade terakhir muncul gejala populisme secara global di dunia. Populisme merupakan paham yang mengutamakan kepentingan rakyat kecil dalam rupa ragam bentuk penguatan identitasnya, ketimbang kalangan elite. Populisme muncul karena demokrasi dianggap gagal mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Isu ini kerap dimanfaatkan untuk memunculkan rasa nasionalisme dalam arti sempit, yang menolak semangat perubahan dan keterbukaan. Dengan kata lain, populisme merupakan salah satu jalan untuk kematian demokrasi.

Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt

Fenomena populisme abad ke-21, terjadi di Amerika Serikat dengan terpilihnya Donald Trump yang dalam janji kampanyenya menyiratkan sosok populis dan patriotis (hlm.61). Namun, tentu bukan hanya populisme saja yang menjadikan jalan bagi matinya demokrasi secara global. Hal itu dijabarkan dalam buku yang ditulis oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt “How Democracies Die”

Menurut dua professor dari Universitas Harvard, Amerika Serikat tersebut, jalan kematian demokrasi suatu negara dapat terjadi pada dua pihak yakni pihak internal—pemerintah atau penguasa— dan pihak eksternal—oposisi. Biasanya, pihak oposisi akan memulai kritik dengan gagalnya pemerintah dalam mewujudkan kesejahteraan sosial. Lantas, pihak oposisi akan mengkritiknya dan menyalahkan pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat kecil dan mendukung pihak asing.

Judul Buku : How Democracies Die Penulis : Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt Penerbit : Crown Publishing Tahun Terbit : Cetakan I, Maret 2018 Tebal : 312 halaman, ISBN 978-1-5247-6293-3

Oposisi akan mengkritik keras dan vokal guna mendapatkan perhatian dari rakyat. Tak hanya itu, demi mengakumulasi dukungan dari rakyat, oposisi melalui politisinya akan memanfaatkan sentimen sosial yang ada di masayarakat seperti Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA).

Menurut Cherian George (2016), isu SARA saja kerap tak cukup, para politisi biasanya akan melakukan pemelintiran kebencian di masyarakat. Mereka akan memanfaatkan emosi massa, seperti penolakan pembangunan masjid di Ground Zero, Amerika Serikat yang dekat dengan serangan Gedung World Trade Centre (WTC) pada 11 September 2001. Hal itu digunakan oleh partai Republik untuk meraup dukungan dari adanya sentimen terhadap kelompok Islam. Cara ini tentu akan membuat polarisasi di masyarakat, kepanikan, permusuhan, dan saling tidak percaya (hlm.76).

Sedangkan, dari pihak pemerintah, matinya demokrasi ditandai dengan memilih penegak-pengegak hukum yang berasal dari partainya atau koalisi pemerintahan. Dengan demikian, penguasa akan dengan mudah membuat regulasi atau aturan-aturan yang dapat melindungi kekuasaannya dari kritik pihak oposisi (hlm.87-92).

Faktor berikutnya adalah pihak pemerintah atau pendukung pemerintah akan terus menganggap oposisi sebagai musuh.  Biasanya pihak oposisi akan menganggap pemerintah tidak demokratis. Sedangkan, pemerintah akan menganggap oposisi sebagai benih-benih chauvinism atau fasis (hlm.115) Dengan begitu, akan ada terus kekhawatiran dari pemerintah untuk membatasi setiap gerak dan gagasan oposisi. Disadari atau tidak, cara berpikir ini tentu akan semakin membuat polarisasi di masyarakat meruncing. Jadi pihak pemerintah dan oposisi sama-sama berperan atas terjadinya polarisasi di masyarakat.

Penulis mencontohkan, oposisi yang memanfaatkan hal-hal SARA kemungkinan besar akan menjadi diktator yang mengerikan dan justru mematikan demokrasi. Contoh nyata menurut penulis adalah Adolf Hitler di Jerman, dan Benito Mussolini di Italia.

Bagaimana Demokrasi Sekarat
dan Apa Alternatifnya?

Ada jarak antara pemerintah dan rakyat yang kian tak terjembatani di banyak negara demokrasi. Bagaimana jika Demokrasi benar-benar sekarat? Adakah alternatif di tengah politik modern yang kian mekanis dan artifisial, kian alienatif sebab pada saat bersamaan krisisnya di topang revolusi teknologi yang mengambil alih kehidupan seluruh kehidupan, khususnya politik. Bisakah peradaban politik dibangun dan demokrasi diselamatkan?

_____

Kenyataan dan tak dapat dimungkiri bahwa politik identitas sedang marak digunakan oleh para politisi hampir di seluruh dunia. Masifnya gerakan politik identitas disinyalir akan membawa dampak buruk bagi kelangsungan hidup demokrasi di suatu negara. Pertanyannya, salahkah politik identitas hadir di tengah demokrasi? Apakah politik identitas merupakan faktor utama akan matinya demokrasi? Lantas, apakah kita harus khawatir kalau demokrasi benar-benar berakhir?

Sementara Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt “How Democracies Die”  menengari politik identitas sebagai salah satu jalan utama menuju sekaratnya demokrasi, David Runciman dalam bukunya “How Democracy Ends” mengungkapkan bahwa politik identitas merupakan sebuah konsekuensi yang tak dapat dihindari dalam demokrasi. Dosen Oxford University ini menyebut, politik identitas sesungguhnya merupakan suatu upaya pengakuan akan eksistensi sebuah kelompok yang frustrasi dalam suatu negara.

Kenapa frustrasi? Karena demokrasi dianggap gagal mewujudkan dua fase tujuannya. Pertama, fase jangka pendek yaitu pengakuan martabat atau hak-hak individu. Kedua, fase jangka panjang yaitu memiliki kesempatan untuk berbagi stabilitas, kemakmuran, dan kedamaian atau disebut martabat kolektif (hlm. 169-170).

Politik identitas menjadi kekuatan politik riil karena hak-hak pribadinya sebagai warga negara, tergerus oleh tujuan kolektif kelompok dominan yang berkuasa. Dalam politik identitas, sebenarnya individu-individu hanya mencari pengakuan atas eksistensi keberadaannya. Padahal, politik pengakuan merupakan perpanjangan dari daya tarik demokrasi dan bukan sebagai antitesisnya (hlm.175). Mestinya, ini dapat diwadahi dan diselesaikan dengan demokratis, tapi urung terjadi.

David Runciman

Musababnya, negara adalah representasi kelas dominan baik secara ekonomi maupun politik dalam masyarakat (Antonio Gramsci: 1971). Akibatnya, sistem demokrasi yang representatif suatu negara dianggap tak efektif karena mewadahi kelompok dominan. Kebutuhan mayoritas rakyat tak pernah benar-benar terwakili oleh para politisi dan penyelenggara negara. Kendati sudah mengadakan pemilihan umum (pemilu) untuk memilih politisi yang mewakili aspirasi rakyat dari berabagai macam golongan.

Pemilu pun, akhirnya, dianggap sekadar bagi-bagi kue kelas dominan di suatu negara. Terlebih pemilu hanya menjadikan rakyat sebagai objek. Runciman meyakini, meningkatnya politik identitas adalah sebuah indikasi bahwa terlibat dalam sebuah pemilihan umum tak lagi memuaskan (hlm.177).

Kenapa hal itu dapat terjadi? Runciman meyakini arus politik modern yang terjadi di dunia saat ini sangat mekanis dan artifisial. Akibatnya, kita sangat bergantung pada kesenangan-kesenangan dan kenyamanan artifisial yang menandai gagalnya sebuah peradaban politik.

Runciman mengutip Mahatma Gandhi yang mengungkapkan kecemasannya akan teknologi yang mengambil alih kehidupan seluruh kehidupan, khususnya politik. Gandhi mengkhawatirkan kesalahan yang terjadi pada sistem demokrasi representatif modern yang amat mirip cara kerjanya dengan mesin.

Men will not need the use of their hands and
feet. They will press a button and they will have their clothing by their
side.  They will press another and they
will have their newspaper. A third and a motorcar will be waiting for them.
They will have a variety of delicately dished up food. Everything will be done
by machinery (hlm.121).

Ini layaknya sebuah sistem yang mempasrahkan diri pada sebuah pemerintahan terpilih yang akan mengambil keputusan atas nama rakyat, tapi tak pernah bisa menyelamatkan rakyat dari eksistensi artifisial. Rakyat tak ubahnya penghamba dihadapan mesin.

Politik dijalankan melalui mesin partai, mesin birokrasi, dan mesin uang. Rakyat hanya menjadi konsumen pasif dari cita-cita atau harapan politiknya. Rakyat hanya mencoblos atau layaknya menekan tombol dan rakyat berharap pemerintah akan merespons. Sebenarnya jika pemerintah tak merespons, maka demokrasi sungguh memungkinkan bagi rakyat untuk mengganti politisi atau pemerintah. Namun, cara itu juga tak membuat demokrasi menjadi lebih baik.


Judul Buku: How Democracy Ends Penulis: David Runciman | Penerbit: Profile Book Ltd
Tahun Terbit : Cetakan I, Desember 2018 | Tebal: 249 Halaman, ISBN 978 1-78125-9740

Ada jarak antara pemerintah dan rakyat yang tak terjembatani. Selain itu, terdapat ketidakadilan akses untuk mendapatkan informasi antara rakyat dan politisi. Semakin rakyat menginginkan keterbukaan, semakin banyak juga informasi yang coba ditutupi oleh politisi.

Sebaliknya, politisi dapat dengan mudah “bertemu” dan mencari tahu apa yang sedang digemari oleh rakyat. Politisi dapat dengan mudah membeli dan mengakses seluruh data-data manusia. Contohnya nyata penjualan data manusia dalam sebuah pemilu adalah kemenangan Donald Trump pada pemilu 2016 dan Referendum Brexit (hlm.159).

Itu semua dapat terpenuhi dengan cepat dan mudah melalui perusahaan teknologi seperti Facebook. Facebook dan perusahaan sejenisnya merekam semua kegiatan dan perhatian rakyat termasuk apa yang disukai dan tidak disukai. Disadari atau tidak, hal itu menunjukkan bahwa manusia sedang dan terus dikontrol oleh teknologi yang terus berjejaring dan terakumulasi dalam Big Data.

Data menjadi komoditas penting dalam kapitalisme abad ke-21. Seperti dijelaskan oleh Tim Wu (2016) dngan data yang terkumpul, Facebook akan tahu apa keinginan penggunanya, mereka lantas membuat produk yang diinginkan oleh pengguna, dan terus mengulangi fase itu. Jadi, tak salah kalau saat ini demokrasi layaknya sebuah kompetisi di antara tim sales untuk mendapatkan pemilih untuk membeli produk mereka (hlm.158).

Hal-hal artifisial dalam demokrasi dan didukung dengan kuasa teknologi diyakini Runciman sebagai penyebab dan cara bagaimana demokrasi mati.

Adakah alternatif?





Runciman mengungkapkan setidaknya ada tiga alternatif sistem politik yang dapat digunakan apabila demokrasi benar-benar mati. Pertama, adalah otoritariansime representatif. Sistem ini merupakan sebuah sistem antara otoriter dan demokrasi representatif. Sistem ini dianggap berhasil dijalankan oleh Tiongkok. Mereka terbukti berhasil menurunkan angka kemiskinan, memajukan pendidikan, dan menjadi raksasa ekonomi dunia. Konsekuensinya, hak-hak rakyatnya dibatasi dan diawasi. Sistem ini jauh lebih baik daripada India yang menjamin hak rakyat, tapi gagal membangun martabat kolektif (hlm. 172).

 

Kedua, epistokrasi. Ini adalah sebuah sistem oleh orang-orang tahu yang terbaik, tapi bukan teknokrasi. Dasarnya adalah tak menyetujui one man, one vote untuk seluruh kalangan masyarakat. Mesti ada perbedaan jumlah hak suara antara seorang ahli atau professional dan orang awam. (hlm.181).

 

Ketiga, anarkisme. Terkesan aneh karena dianggap sangat utopis akan gagasannya tentang kesetaraan yang ingin tak ada subjek dan objek sesama manusia. Tapi, gagasan ini berkembang kembali di abad ke-21 karena sistem masyarakat saat ini dinilai tak lagi menawarkan harapan baru (hlm.193).

 

Buku yang terdiri dari empat bagian ini sangat penting untuk siapa saja yang tertarik dengan politik. Runciman berhasil menawarkan sudut pandang baru tentang perkembangan demokrasi dunia. Tak hanya itu, risetnya pun lebih mengglobal daripada yang dilakukan dan ditulis oleh dan Steven Levitsky dalam bukunya How Democracy Dies (2018) yang sangat Amerika-sentris.

 

Kematian demokrasi bukan kematian manusia. Analogi antara kehidupan manusia dan kehidupan sebuah sistem politik merupakan sebuah kekeliruan. Kita tak bisa untuk terus menyibukkan diri tentang kematian demokrasi. Politik demokratis sedang dihambat oleh kepalsuan-kepalsuan yang sudah mulai terdeteksi.

 

Merasa percaya diri akan masa depan mungkin akan terlihat konyol pada tahap krisis demokrasi saat ini. Sebab, kita memiliki lebih banyak rasa takut daripada rasa takut itu sendiri. Tetapi kita juga harus mengakui, selagi demokrasi masih berkutat pada masalah-masalahnya, ia tetap harus dijalani. Jika pada sampai tahap akhir kita masih habiskan untuk mengkhawatirkan akhir demokrasi, maka waktu hanya akan berlalu dengan sia-sia.

Kita hanya memiliki dua pilihan. Kita bisa pesimis, menyerah, dan membantu keberlangsungan yang terburuk akan terjadi. Atau kita juga bisa optimis, menangkap kesempatan yang masih ada, dan mungkin dapat membuat dunia menjadi lebih baik. Dengan atau pun tanpa demokrasi.

Menjaga Demokrasi

Sementara itu bagaimana untuk menjaga demokrasi agar tetap hidup? Steven dan Daniel dalam buku “How Democracies Die” tersebut menawarkan dua elemen untuk menjaga demokrasi. Pertama, adalah menghormati norma sosial. Para politisi baik pemerintah maupun oposisi saling menahan diri untuk tidak melakukan segala cara untuk melakukan segala cara untuk meraih kekuasaan. Apalagi membuat sentimen SARA (hlm.106). Meski terkesan naif, cara ini dinilai akan menciptakan suasana kondusif dalam jalannya pemerintahan.

Elemen kedua adalah media sebagai pilar keempat dalam demokrasi. Media diharapkan untuk tetap independen, tidak menjadi partisan pemerintah, oposisi, atau kelompok politik tertentu. Hal tersebut tentu menjadi tantangan bagi media menjaga indepensi, di tengah pemodal yang berafiliasi dengan kepentingan politik tertentu. Sebab, pers yang independen adalah benteng terakhir demokrasi, tak ada demokrasi yang bisa hidup tanpa pers yang independen (hlm.199).

Buku yang terdiri dari sembilan bab ini tentu sangat Amerika sentris. Hanya sedikit studi kasus yang ditulis di negara lain terkait masalah demokrasi.

Meski begitu, buku ini cukup layak untuk dibaca oleh berbagai kalangan masyarakat, terutama para politisi. Sebab, penting bagi politisi untuk tidak membuat polarisasi dan konflik horizontal di masyarakat, hanya untuk meraih kekuasaan. Kondisi Indonesia toh tak jauh berbeda?

Kita tentu menyadari, tidak ada sebuah sistem yang sempurna, termasuk demokrasi. Namun, hanya dengan demokrasi kita dapat menjunjung tinggi prinsip-prinsip humanisme yang menjamin hak serta kewajiban setiap individu tanpa membedakan SARA. Sebab, hanya dengan seperti itu, demokrasi dapat menjadi  alat untuk mencapai tujuan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. (*)

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Apakah Kita Benar-benar Memahami “Berita Palsu”?

mm

Published

on

Kita berpikir bahwa kita sedang membagikan fakta, tapi sebenarnya kita sedang mengekspresikan emosi kita di sebuah pabrik amarah. Jadi bisa dipahami bahwa media sosial adalah pabrik amarah. Dan secara paradoksal, itu bisa terjadi karena kebanyakan orang tak menyadari, dan tak ingin menyadari, tentang hal ini.

by: Oleh Michael P. Lynch | Agus Tegus (p) Sabiq Carebesth (ed)

____

Dengan begitu seringnya diobrolkan, ditwitkan, dan dipermasalahkan, pasti Anda berpikir Anda tahu banyak tentang berita palsu. Untuk beberapa hal memang begitu. Kita tahu ada artikel-artikel dari lembaga jurnalisme terlegitimasi yang digunakan untuk mengatur hasil pemilu. Kita tahu tulisan-tulisan itu menyebarluaskan teori konspirasi, bahkan menciptakan bias memori di benak kita. Dan kita tahu bahwa istilah “berita palsu” menjadi klise, terlampau banyak diucapkan dan disalahartikan sampai tak lagi sesuai dengan maknanya yang semula.

Kenapa demikian? Dan mengapa berita palsu–sebagai fenomena aktual—masih efektif disebarkan? Cerminan dari pada emosi-emosi kita, ditambah sedikit acuan dari filsafat kebahasaan dan neuroscience yang sekarang berlaku, menawarkan jawaban untuk kedua pertanyaan itu.

Kita sering bingung tentang peran emosi dalam kehidupan kita. Satu hal, kita suka berpikir, mirip Plato, bahwa alasan menjadi pendorong kereta nalar kita dan menjaga agar kuda-kuda liar emosi tak keluar dari jalur. Tapi kebanyakan orang mungkin mengakui bahwa seringkali pernyataan Hume lebih mendekati kenyataan, bahwa: alasan itu budaknya nafsu. Kita pun seringkali mencampuradukkan antara apa yang kita rasa dengan kenyataan yang sebenarnya: jika sesuatu membuat kita jengkel, maka  kita bilang itu menjengkelkan.

Akibatnya, tanpa kita sadari, perilaku komunikasi kita sehari-hari ditunggangi oleh emosi. Inilah yang digarisbawahi oleh para filosof bahasa pada pertengahan abad ke-20 sebagai “ekspresivis”. Mereka menunjuk bahwa terkadang orang mengira bahwa mereka sedang bicara tentang fakta-fakta, sementara kenyataannya mereka sedang mengekspresikan diri secara emosional. Para ekspresivis menerapkan pemikiran tersebut secara meluas pada semua laku komunikasi etis tentang benar atau salah, baik atau buruk. Bahkan kalaupuan kita belum sampai sejauh itu, pemahaman mereka menggambarkan tentang apa yang terjadi saat kita membagikan atau meretwit postingan baru–palsu ataupun tidak—secara online.

Saat membagikan atau meretwit, kita suka membayangkan diri kita menjalani apa yang disebut para filosof sebagai perilaku testimoni–mencoba menyampaikan atau mendukung (meng-endorse) sebuah pengetahuan. Tentu saja tak selalu seperti itu; masih ada ironi. Meski begitu, membagikan atau meretwit sesuatu padahal tak sepakat dengan isinya itu melanggar kelaziman–terlihat juga dalam fakta bahwa kebanyakan orang merasa wajib memperlihatkan bahwa retwit mereka bukanlah endorsement. Dengan demikian jadi tak masuk akal jika dibilang bahwa default-nya bukan bahwa membagikan dan meretwit adalah perilaku meng-endorse.

Tapi bagaimana jika kita sekadar bingung tentang bagaimana sebenarnya komunikasi menjalani fungsinya secara online? Petunjuknya bisa ditemukan dalam apa yang kita lakukan dan kita hindari saat membagikan konten secara online.

Mari kita mulai dengan yang tak kita lakukan. Riset baru-baru ini memperkirakan bahwa setidaknya 60 persen berita yang dibagikan secara online itu bahkan tak dibaca sama sekali oleh orang yang membagikannya. Seorang peneliti menyimpulkan, “Orang lebih suka membagikannya ketimbang membacanya sendiri.” Di lain pihak, yang kita lakukan adalah membagikan konten yang membikin orang meradang.

Riset telah menemukan bahwa prediktor paling baik untuk berbagi sesuatu adalah emosi yang kuat–baik emosi berupa kasih sayang (misalnya postingan tentang anak kucing) maupun emosi-emosi semacam gejolak moral. Penelitian membeberkan bahwa emosi yang menyangkut moral itu luar biasa efektif: setiap sentimen moral meningkatkan 20 persen kemungkinan sebuah twit dibagikan. Dan media sosial pun berlaku menggejolakkan perasaan-perasaan kita. Berbagai perilaku yang di dunia nyata tak begitu membangkitkan kemarahan, misalnya, bisa lebih berdampak di online, karena bisa jadi manfaat sosial dari kemarahan itu bisa tetap ada tanpa ada risiko-risiko yang yang biasanya timbul.

Mau tak mau, ini memperlihatkan kepada kita bahwa menyampaikan pengetahuan bukan menjadi alasan utama berita dibagikan. Sebagaimana disebut oleh filosof kontemporer Ruth Millikan, fungsi stabilisasi dari komunikasilah yang menjelaskan kenapa tindakan itu terus dilakukan. Fungsi stablisasi teriakan “Air ball!” (meleset) kepada seorang pemain basket yang sedang melakukan lemparan bebas adalah untuk mengalihkan perhatiannya. Orang yang baru bermain basket bisa jadi menganggapnya sebaliknya. Mereka mengira orang-orang sedang mengingatkan pemain itu atau memprediksi bahwa lemparannya bakal meleset. Interpretasi semacam ini bisa membuat orang menyalahartikan sebuah fungsi stabilisasi.

Hal seperti ini dalam skala besar terjadi di media sosial. Kita mirip dengan orang seperti itu, yang baru dalam permainan basket. Kita berpikir sedang membagikan berita untuk sebuah hal, semisal transfer pengetahuan, tapi sering kali sebenarnya sama sekali tak melukan hal itu –betapapun kita memikirkannya dengan sadar. Seandainya itu, bisa dibilang kita memang sudah membaca berita yang kita bagikan. Tapi kebanyakan kita tak melakukannya. Jadi, kita sebenarnya sedang apa?

Selengkapnya dalam edisi majalah “Book, Review and More”

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending