Connect with us

Kajian

Sigmund Freud dan The Interpretation of Dreams

mm

Published

on

Adalah klise untuk mengatakan bahwa Freud adalah manusia dari zamannya – bahwa ia memiliki nilai-nilai dari kaum borjuis abad kesembilan belas, bahwa ia dipengaruhi oleh positivisme ilmiah dan vitalisme, bahwa gaya hidup Victorian sedikit banyak mewarnai pandangannya tentang seksualitas. Meskipun demikian, dari sudut lain kita bisa melihat Freud sebagai seorang pemikir yang kontroversial, dan masih akan tetap demikian. Hal ini terkait dengan pendiriannya dalam hal seksualitas serta psike, maupun dengan kecemerlangannya dalam menemukan psikoanalisis melalui analisis terhadap gejala-gejala yang sampai pada saat itu (masa hidup Freud) dianggap sebagai hal yang tak teranalisis, seperti mimpi dan selip lidah (igau).

Karya tulis Freud sangat menantang dalam pembahasan tentang entitas yang (relatif) berlainan; karya tersebut juga, bahkan terutama, menantang sebagai jejak sebuah  pengembaraan intelektual agung yang di dalamnya psikoanalisis mengalami suatu transformasi halus dalam sekumpulan wacana yang terus berevolusi. Sebagaimana transformasi ini datang dari kenyataan bahwa Freud sendiri tidak seluruhnya mengendalikan konsep (seperti kehidupan, kematian, kenikmatan, dan sebagainya) yang ingin ia utarakan, dan juga karena konsep ini belum mantap. Singkatnya, Freud, yang menekankan pentingnya upaya melakukan interpretasi secara terus-menerus – Freud yang mengatakan bahwa pada akhirnya suatu ilmu psikoanalisis itu tidak pernah akan berakhir – Freud yang demikian, harus ditafsirkan dalam kerangka pengertian tentang “interpretasi tak terbatas” seperti yang pertama kali ia usulkan.

Oleh sebab itu, sebuah wacana tentang Freud, yang mungkin paling menarik, diberikan oleh ahli psikoanalisis Prancis yang juga murid Jacques lacan, yaitu Jean Laplanche. Secara singkat sekali Laplanche mengemukakan bahwa khususnya sehubungan dengan konsep hidup dan mati, hampir seluruh karya Freudian – dari “Proyek untuk suatu psikologi ilmiah” yang ditulis pada tahun 1895, terus secara khusus ke Beyond the Pleasure Principle pada tahun 1920, hingga ke “Masalah ekonomi masokisme” tahun 1924 – bisa dilihat dalam kerangka suatu chiasmus, di mana yang pada awalnya dulu merupakan kehidupan (homeostasis), berubah menjadi kematian (Thanatos), dan yang pada awalnya dulu merupakan kematian (energi yang tak terbatas), berubah menjadi kehidupan (Eros).[1]

Laplanche menunjukkan bahwa sesungguhnya, membaca dan memahami Freud dalam konteks aktual tidak pernah bisa tergantikan.

Sigmund Freud lahir dalam sebuah keluarga Yahudi pada tahun 1856 di Freiburg. Ketika ia berumur 4 tahun, keluarganya pindah ke Wina tempat Freud hidup dan bekerja sampai tahun 1938, saat ia terpaksa melarikan diri ke Inggris setelah terjadinya Anschluss. Meskipun ia selalu mengeluh tentang gerahnya kehidupan di Wina, Freud tidak hanya tinggal di sana hampir seluruh masa hidupnya, tetapi ia dengan seluruh keluarganya hidup di alamat yang sama hampir selama lima puluh tahun; Jalan Bergasse 19 yang terkenal itu. Freud adalah seorang murid yang cemerlang, setiap tahun selalu nomor satu di antara teman-temannya di Gymnasium, dan lulus dengan pujian pada tahun 1873. Pada tahun 1881 ia mendapatkan gelar dokternya dari Universitas Wina, dan pada tahun 1885 memenangkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Paris. Di sana ia belajar di bawah pengawasan Jean Martin Charcot di Salpetriere. Bagi Freud, dengan diagnosisnya tentang histeria dan penggunaan hipnosis. Charcot bukan hanya membuka jalan  untuk belajar tentang sakit jiwa secara serius, melainkan juga merupakan seorang guru karismatik dan suka memberikan dorongan; kekaguman Freud terhadap gurunya ini tidak pernah habis. Setelah ia kembali ke Wina pada tahun 1886, ia membuka praktek sebagai dokter, dan akhirnya ia meninggal di London pada tahun 1939.

Selama belajar di universitas, calon ahli psikoanalisis ini bekerja di laboratorium  seorang ahli fisiologi dan penganut aliran positivis, Ernst Brucke. Teman sejawat brucke yang cukup berpengaruh. Hermann Helmholtz – yang menghasilkan banyak karya tulis, diantaranya tentang teori termodinamika – juga memberikan pengaruh yang cukup besar pada Freud, demikian juga fisikawan dan filsuf Gustav Fechner. Ketiga orang ini merupakan wakil dari dunia medis yang beraliran positivisme dan vitalisme yang mendominasi banyak tempat termasuk Wina selama tiga dasawarsa terakhir dalam abad kesembilan belas. Pengaruh mereka secara khusus bisa terlihat pada teori Freud tentang energi psikis yang “terbatas” dan “tidak terbatas” dalam sebuah karyanya yang diterbitkan secara anumerta, yaitu “Proyek untuk suatu psikologi ilmiah”. Pada tahun yang sama, yaitu tahun 1895, Freud dan Breuer, yang pada awalnya mengawali pekerjaan mereka dari kasus Anna O, menerbitkan karya berjudul Studies in Hysteria. Dengan demikian, penelitian Freud pada kegiatan psikis mulai bergerak ke arah baru. Yang tampaknya mengakibatkan kesembuhan Anna O melalui katarsis (pelepasan ketegangan) adalah sebagaimana dikatakan oleh sang pasien itu, “pengobatan dengan melakukan kegiatan berbicara” (‘talking cure’). Sebenarnya, “talking cure” merupakan hasil cara kerja menurut model psike seorang fisikalis atau vitalis: ketegangan dilepaskan (dicapainya homeostasis) melalui pembicaraan dan interpretasi – artinya, melalui suatu manipulasi makna.

Seperti yang ditunjukkan oleh Laplanche, perubahan dari model psike seorang vitalis, yang diperlihatkan di dalam analisis tentang histeria, muncul dengan lebih dramatis dalam sebuah studi kasus yang dikaji ulang pada tahun 1895, yaitu “Proyek” merupakan sebuah wacana yang menunjukkan dengan jelas sekali model psike yang kuantitatif – psike sebagai “sejenis ekonomi kekuatan urat syaraf”, seperti yang dituliskan Freud dalam sebuah surat kepada Fliess. Kasus yang ditinjau adalah mengenai seorang wanita muda bernama Emma yang memiliki rasa takut untuk pergi ke toko sendirian. Dalam analisis studi tersebut, Emma mengaitkan kelainan yang dideritanya dengan kenangan saat ia, pada usia 12 tahun, pergi ke sebuah toko dan melihat dua orang penjaga toko tertawa bersama-sama, dan ia lari ketakutan dari toko itu. Pengkajian analitis menunjukkan bahwa di balik peristiwa ini masih ada peristiwa lain lagi: pada usia 8 tahun, Emma pergi ke sebuah toko untuk membeli permen, dan penjaga toko itu meraba-raba alat kelaminnya. Walaupun begitu, pengalaman Emma pada saat itu tidak dianggap traumatis. Yang penting dari kedua peristiwa ini adalah bahwa yang pertama bersifat traumatis sebagai sebuah memori, tetapi sebagai sebuah peristiwa yang tidak membangkitkan rasa dosa; peristiwa yang kedua (secara kronologis merupakan yang pertama) berpotensi traumatis tetapi tetap tidak membangkitkan rasa dosa sebagai sebuah memori – persis karena tidak dialami sebagai suatu trauma. Baru setelah masa pubertas dilalui, pelecehan ini menjadi bermakna penuh sehingga secara psikis menjadi traumatis, tetapi hanya sebagai jejak memori, atau bisa kita katakan hanya dalam bentuk yang sudah dialihkan. Di sini, pengertian pengalihan cukup penting karena menyebabkan pencirian kategoris suatu trauma dengan suatu peristiwa fisik menjadi tidak mungkin. Lebih dari itu, pengetian pengalihan menyarankan bahwa setiap pemahaman manusiawi tentang trauma harus mempertimbangkan makna retrospektifnya. Dengan kata lain, pemahaman fisikalis atau vitalis terhadap psike itu tidak memadai. Hal tersebut membuka jalan di mana realitas pengalihan yang sesunggunya – yang diuraikan Freud dengan sangat lengkap dalam The Interpretation of Dreams – menampilkan dirinya di dalam struktur wacana Freud, saat ia akhirnya mengubah teori positivistiknya tentang kehidupan psikis setelah bertemu dengan fakta-fakta tentang psike itu sendiri – termasuk psikenya sendiri yang ditemuinya melalui analisis diri, dan juga dari pasien-pasiennya.

Oleh sebab itu, sebelum berbentuk suatu entitas fisik, psike itu adalah suatu struktur makna. Ia berhubungan dengan proses-proses simbolik dan mengundang interpretasi. Jika unsur interpretasi ini menjadi penting dalam kaitannya dengan kehidupan psikis, maka model kuantitatif – dan yang terakhir model behavioris – tentang psike menjadi tidak mencukupi.

Mungkin jauh lebih penting daripada yang lain, pembagian semu antara tataran fisik-serta-biologis, dan tataran simbolik yang ada dalam karya Freud, sering menjadi pusat perdebatan dan kesalahpahaman. Sebagai contoh, dalam kaitannya dengan seksualitas, banyak komentator Anglo-Amerika cenderung menolak teori seksualitas Freud karena mereka memahaminya dalam kerangka biologi – yaitu secara positivistik, buka secara simbolik.

Di bagian awal The Interpretation of Dreams, dengan tegas Freud menyatakan bahwa usahanya memberikan pemahaman tentang mimpi yang lebih mendalam berbeda sekali dengan usaha-usaha yang pernah dilakukan sebelumnya karena ia tidak mengandalkan tanda-tanda mimpi yang lazim. Oleh sebab itu, ia mengusulkan agar meninjau hal-hal dalam mimpi itu sendiri. Secara garis besar Freud menunjukkan bahwa penafsiran mimpi harus berbentuk khusus karena mimpi adalah suatu pemenuhan harapan (secara umum), harapan yang tidak dipahami dalam tataran pemunculan isinya. Sebuah mimpi selalu mengandung pesan tersembunyi yang terkait dengan seksualitas sang pemimpi. Secara harfiah, banyak yang berpikir bahwa ini adalah klaim yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin sebuah mimpi itu berkaitan (secara esensial) dengan seksualitas? Jawaban singkatnya, bahwa pada dasarnya seksualitas itu tersembunyi atau harus disembunyikan. Seksualitas itu berkaitan dengan tanda-tanda dan hal-hal yang bersifat  simbolik. Ini bukan dorongan hewani (meskipun kadang-kadang Freud sendiri tertarik pada pandangan ini), tetapi hal ini terus tumpuk-menumpuk dalam semua pengalihan kehidupan sosial dan kultural. Pengalihan adalah jalur yang berputar-putar. Dalam The Interpretation of Dreams, Freud mendefinisikan pengalihan sebagai salah satu cara kerja mimpi menyamarkan pesan tak sadar dari mimpi itu. Bersama dengan kondensasi, ia membentuk sebagian proses primer. Pengalihan mengarah pada cara yang membuat satu atau beberapa unsur dalam isi/muatan mimpi yang tampil menjadi tidak berarti atau malah tidak ada dalam kandungan latennya; gagasan mimpi. Kondensasi menunjukkan bagaimana kandungan mimpi yang tampil itu jauh lebih miskin dibandingkan dengan kekayaan pikiran tentang mimpi yang diturunkan darinya. Setiap unsur mimpi mungkin menghasilkan berbagai macam kesatuan, dan ini disebutkan Freud sebagai “overdeterminasi”. Oleh sebab itu, pengalihan dan kondensasi mensyaratkan bahwa mimpi menghendaki adanya interpretasi (ia tidak bisa disamakan dengan isi tampilannya). Selain itu kedua proses ini merupakan dua aspek kegiatan mimpi yang berfungsi menyamarkan makna mimpi yang sejati (jelas bersifat seksual), dan dengan demikian memungkinkan dipenuhinya harapan; tertutupnya pemikiran tak sadar.

Seperti yang kita lihat di atas, titik tolak Freud adalah pendapatnya tentang tidak adanya resep pasti untuk menafsirkan mimpi. Setiap unsur (biasanya suatu citra/imaji) harus ditafsirkan  seolah-olah ini baru pertama kali dilakukan. Ini karena mimpi itu lebih merupakah bahasa daripada produk suatu proses linguistik; ia mirip sebuah idiolek. Hal ini karena Freud menunjukkan bagaimana suatu mimpi memperluas bahasa dan interpretasi sampai batas-batasnya sehingga diluas psikoanalisis, khususnya dalam bidang interpretasi wacana, karyanya menjadi cukup berpengaruh.

Untuk bisa memahami pentingnya penyamaran dan distorsi yang ada dalam mimpi, Freud menunjukkan perlunya memahami peranan represi (penekanan). Tentu saja, represi terkait erat dengan ketidaksadaran; selain itu yang direpresi adalah gagasan/alam mimpi yang tidak sadar. Dari satu sudut, si pemimpi – dan berikutnya sang penganalisis – melakukan represi pada ingatan-ingatan seksual yang menyakitkan dan traumatis; dalam wacana ini pada pokoknya represi adalah sebentuk pembelaan diri. Walaupun begitu, dalam karya awal Jacques Lacan, ia memberikan penafsiran terhadap represi yang lebih bersifat struktural. Di sini represi terait dengan satu-satunya pembentukan subjek dalam bahasa dan simbol itu sendiri. Inilah yang memungkinkan terdapatnya perbedaan antara subjek dan objek. Akan tetapi jika demikian halnya, mengapa perlu mengakses materi-materi yang direpresi? Jika represi itu merupakan suatu keniscayaan struktural, mengapa itu harus ‘dibangkitkan’? Seperti yang ditunjukkan Freud, sebagian jawabannya adalah, represi bisa runtuh, dan menghasilkan sebuah gejala (yang disebut Freud sebagai bentukan kompromi) dan pengulangan yang berlangsung tidak sadar. Yang pertama tidak bisa dijelaskan subjek, dan yang terakhir seluruhnya sering terlepas dari kesadaran. Dalam kedua kasus ini, tujuannya menjadi melakukan interpretasi pada gejala dan pengulangannya, dan ini berarti mengakui, dan mungkin memperluas, wilayah yang simbolik. Ketidaksadaran par excellence (paling tinggi) merupakan trauma seksual: yaitu yang tidak bisa diucapkan atau disimbolkan, dan yang hanya bisa diketahui melalui pengaruhnya pada yang simbolik. Berdasarkan hal ini, hal-hal cabul akan merupakan titik singgung antara yang simbolik dengan ketidaksadaran (trauma).

Tentu saja, Freud dikenal juga sebagai perumus konsep kompleks Oedipus. Secara harfiah ini adalah gejala yang diamati oleh Freud (dan ini menggambarkan analisis dirinya) di mana sang anak laki-laki (seperti Oedipus yang ada di dalam mitologi Yunani) ingin menyingkirkan ayahnya agar bisa  tidak dengan ibunya. Tema yang terkait dengan hal itu muncul dalam Totem and Taboo saat Freud menunjukkan mitos tentang pembunuhan dan penyantapan bapak yang jahat dalam gerombolan Darwinian purba. Sebagai tindakan penyesalan dan ungkapan rasa bersalah, anak laki-laki dari sang bapak tersebut, segera menghentikan inses/hubungan langsung dengan isteri ayahnya, dan membentuk suatu tatanan simbolik; tatanan hukum. Oedipus dan kisah tentang gerombolan purba memberikan gambaran tentang bagaimana ketidaksadaran (proses primer) selalu berusaha untuk menghindari represi dan dengan demikian menghindari tatatan simbolik (proses sekunder). Di sini ia meninggalkan tanda pada yang simbolik sebagai suatu gejala (seperti selip lidah/igauan).

Suatu jalur pemikiran Freud yang cukup banyak mendatangkan perdebatan adalah pengertian tentang ego. Freud mendefinisikan ego dalam kaitannya dengan dua pengertian lain: id – atau energi afektif atau reservoar – dan super-ego – ( ego ideal), atau yang mewakili realitas eksternal.

Satu titik pokok yang menjadi bahan perdebatan adalah apakah ego itu sama dengan keseluruhan pribadi – yang berarti akan memasukkan id dan super-ego di dalam dirinya – atau apakah ego itu merupakan pelaku yang berusaha membedakan dirinya dari dua lainnya (id dan super-ego). Bila pandangan pertama membuka kemungkinan tentang suatu ego yang pada akhirnya identik dengan dirinya, maka pandangan yang kedua membuat adanya kemungkinan tentang identitas diri menjadi problematis.

Faktor lain yang merumitkan dalam hubungannya dengan ego adalah narsisme. Di sini subjek-ego membuat dirinya menjadi objek pada dirinya sendiri, dan sekali lagi mulai mempertanyakan pengertian tentang suatu entitas yang identik dengan dirinya. Dari sini, psikologi ego Amerika cenderung melihat ego sebagai pusat pencerapan dan kesadaran, sehingga memberi kesempatan munculnya ego dengan kemampuan untuk memiliki kesadaran diri sepenuhnya. Seperti yang ditunjukkan Laplanche dan Pontalis, wacana Freud tidak pernah meninggalkan keraguan akan kemenduaan (ambiguitas) yang terus ada dalam hubungannya dengan ego, dan juga dalam kaitannya dengan banyak konsep yang ada di dalam psikoanalisis. Ini hanya bisa diharapkan datang dari suatu oeuvre yang terus berevolusi, yang pada akhirnya berusaha memberikan kejelasan terhadap mekanisme produksinya sendiri.

Freud mewariskan oeuvre yang sangat luas dan heterogen; karya-karya yang didasarkan atas model biologis dari psike; karya-karya meta-psikologis yang memberikan garis besr tentang konsep-konsep penting; beberapa studi kasus yang diambil dari praktek klinis; karya-karya autobiograifs dan sejarah; karya yang didasarkan atas data historis dan antropologis; telaah tentang kehidupan sehari-hari, dan karya didaktis yang berusaha menjelaskan psikoanalisis kepada publik yang lebih luas. Walaupun begitu, yang secara umum menjadi peninggalannya adalah suatu oeuvre yang tidak menyembunyikan proses evolusi pergulatan pemikirannya: awal yang salah, beberapa penemuan, modifikasi konsep-konsep pokok yang berlangsung terus-menerus, semua ada di sana. Ini berarti bahwa bagi para pembaca kontemporer, warisan Freud yang paling awet adalah: wacananya selalu “menuntut” untuk ditafsirkan ulang.(*)

 

[1] Jean Laplanche, Life and Death in Psychoanalysis, terjemahan Jeffrey Mehlman, Baltimore, Johns Hopkins University Press, 1979.

Continue Reading
Advertisement

Kajian

Periode Skolastik, St. Thomas Aquinas, dan Pembuktian Keberadaan Tuhan

mm

Published

on

Dunia muslim telah menarik diri dari minat mereka terhadap filsafat dan membuat ide-ide Ibnu Rusyd lebih “laku” di kalangan kaum Katolik. Salah satunya adalah Roger Bacon (1214-1294), yang mengatakan bahwa tidak ada larangan memperoleh pengetahuan dari “orang kafir”. Bacon sering mengutip Al-Farabi dan Albumazar, di samping Ibnu Sina (Avicenna) dan Ibnu Rusyd dalam karya-karyanya.

Pernyataan yang mengatakan bahwa orang belajar filsafat pasti akan membuat ia menjadi ateis barangkali adalah pernyataan yang sangat konyol. Ribuan tahun sejarah filsafat diisi oleh banyak filsuf yang mengembangkan berbagai argumen untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Bahkan beberapa sistem filsafat didasarkan dengan pernyataan bahwa Tuhan itu ada.

Lalu, apakah mempelajari filsafat bisa membuat seseorang menjadi ateis? Ya bisa saja. Barangkali akan ada seseorang yang nyantol dengan pandangan fisikalis, materialis, atau mungkin empirisis garis keras, dan akhirnya menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada. Tapi tetap saja, mengatakan filsafat akan mendekatkan atau bahkan menjerumuskan kepada ateisme berkemungkinan besar akan membuat para filsuf yang akan dibahas ini menepok jidat.

Semenjak Ibnu Rusyd (Averroes), dunia muslim telah menarik diri dari minat mereka terhadap filsafat dan membuat ide-ide Ibnu Rusyd lebih “laku” di kalangan kaum Katolik. Salah satunya adalah Roger Bacon (1214-1294), yang mengatakan bahwa tidak ada larangan memperoleh pengetahuan dari “orang kafir”. Bacon sering mengutip Al-Farabi dan Albumazar, di samping Ibnu Sina (Avicenna) dan Ibnu Rusyd dalam karya-karyanya.

Roger Bacon hanyalah salah satu filsuf yang menandakan suatu periode yang disebut sebagai periode Skolastik. Periode yang ditandai dengan munculnya banyak sekolah yang berkembang menjadi universitas-universitas Eropa modern terawal. Oxford University salah satu contoh terkenalnya.

Pemikiran yang muncul pada periode skolastik biasa disebut dengan skolastisisme, sesuai dengan nama periodenya. Mudahnya, skolastisisme berusaha untuk mempertahankan dogma menggunakan argumen-argumen yang rasional. Ini bisa dibilang sebuah kemajuan, di mana para akademisi tidak hanya menerima pengetahuan begitu saja, tetapi ingin membangun argumen kuat, itu intinya.

Pada periode ini, di antara universitas-universitas yang ada, “lahirlah” berbagai filsuf yang berpengaruh seperti St. Anselm, William Occam, St. Albertus Magnus, Roger Bacon, dan St. Thomas Aquinas, yang disebut sebagai filsuf skolastik terbesar.

Bertrand Russel dalam Sejarah Filsafat Barat (2011) mengatakan bahwa Thomas Aquinas (1224/1225 – 1274) dianggap sebagai filosof skolastik terbesar dan bahkan memiliki pengaruh yang lebih besar dari filsuf sekaliber Immanuel Kant (1724-1804) dan Hegel (1770-1831) sekalipun. Ia banyak menghasilkan buah pikiran, yang tentu saja tidak mungkin  dibahas semuanya dalam kesempatan ini. Tapi salah satu buah pikirnya yang banyak dikenal orang adalah argumen yang ia hasilkan dari “proyek” filsafatnya untuk membuktikan keberadaan Tuhan.

Aquinas ingin membuktikan eksistensi Tuhan, yang dianggap oleh kebanyakan orang waktu itu tidak diperlukan karena eksistensi Tuhan terbukti dengan sendirinya. Tetapi Aquinas adalah seorang filsuf. Ia tidak ingin menerima begitu saja pengetahuan yang ada di sekitarnya. Ia ingin membuat argumen kuat yang memantapkan pandangannya terhadap dunia.

Aquinas sangat terkenal dengan lima argumennya yang mendukung bukti adanya Tuhan. Pertama, argumen penggerak yang tidak digerakkan. Argumen ini mengatakan bahwa kita hidup di dunia di mana segala sesuatu bergerak. Gerakan disebabkan oleh penggerak. Segala sesuatu yang bergerak pasti telah digerakkan oleh sesuatu yang bergerak juga, begitu seterusnya hingga kita berhenti pada sesuatu yang memulai gerakan pada awalnya. Aquinas menyebut sesuatu yang mengawali gerakan itu adalah Tuhan, penggerak yang tidak digerakkan.

Kedua, argumen sebab pertama. Argumen ini mengatakan bahwa segala sesuatu memiliki sebab. Pastinya ada sesuatu yang menyebabkan sesuatu, tetapi sesuatu itu tidak di disebabkan oleh apa pun. Aquinas menyebut sesuatu ini sebagai Tuhan, sang sebab pertama.

Argumen ketiga adalah argumen kontingensi. Benda-benda yang kita lihat “bisa saja” tidak ada. Ambillah diri Anda misalnya, Anda “bisa saja” tidak ada di dunia ini, namun dunia ini tetap berjalan sebagaimana mestinya. Misalnya sebuah cangkir kopi di suatu kafe. Cangkir itu “bisa saja” tidak ada, tapi toh dunia akan tetap berjalan, meskipun tentu saja ada yang berbeda. Lalu apa hubungannya dengan Tuhan? Aquinas berpendapat bahwa pasti ada sesuatu yang jika ia tidak ada, dunia tidak akan berjalan. Dengan kata lain harus ada sesuatu yang tidak bisa “bisa saja” tidak ada, Aquinas menyebut sesuatu itu sebagai Tuhan.

Argumen keempat, adalah argumen derajat atau tingkatan. Begini, bayangkan Anda pergi ke dapur dan melihat tikus sepanjang dua meter dengan tinggi hampir satu meter. Anda pasti akan berpikir tikus tersebut sangat besar, atau barangkali bertanya-tanya kenapa harus membayangkan tikus sebesar itu? Nah, lalu bagaimana Anda tahu kalau tikus itu besar? Kemudian coba bayangkan tikus tersebut berubah menjadi seekor gajah, atau ubahlah menjadi sebuah gedung dengan ukuran yang sama, apakah gajah atau gedung itu masih dapat dikatakan besar?

Menurut Aquinas, kita mengukur derajat sesuatu berdasarkan sesuatu lainnya. Kita dapat mengukur sesuatu itu “besar” berdasarkan benda-benda di sekitarnya, begitu juga sifat-sifat seperti “baik” dan “indah”. Dari segala sesuatu yang kita alami, kita kemudian membuat standar atau nilai. Kemudian Aquinas berpendapat haruslah ada suatu sifat yang menjadi inti dan pusat tolak ukur segala nilai yang ada, yang terisolasi dari sesuatu yang lainnya. Dan menurut Aquinas, sesuatu itu adalah Tuhan, atau sesuatu yang paling sempurna yang bisa ada tanpa sebuah tolak ukur.

Argumen terakhir bisa dibilang adalah argumen yang paling banyak dikembangkan dan paling terkenal dalam versi “modern”nya. Dan, bisa dibilang ini adalah argumen yang paling populer di antara argumen-argumen yang mendukung keberadaan Tuhan. Argumen kelima ini disebut dengan argumen teleologi, yang lebih dikenal dengan sebutan Intelligent design. Tapi, yang akan saya jabarkan adalah argumen yang sudah lebih dipoles lagi oleh para filsuf. Argumen ini disebut dengan Fine-Tuning Arguments.

Alam semesta terlalu bagus untuk hanya sekadar menjadi kebetulan, begitu kira-kira inti argumen tersebut. Argumen ini mengatakan bahwa alam semesta memiliki “setelan” yang sangat pas, yang memungkinkan munculnya kehidupan, bahkan munculnya manusia. Dan yang menyetel alam semesta tersebut adalah Tuhan, sang desainer inteligen. Paul Davies dalam The Goldilocks Enigma (2006) menjabarkan secara komprehensif bagaimana alam semesta “disetel” dengan sangat baik.

Jika gaya elektromagnetik lebih kuat, proton dalam atom akan saling menolak dengan sangat kuat sehingga atom akan pecah. Jika gravitasi lebih lemah, materi tidak akan bergabung menjadi bintang dan planet. Jika gravitasi lebih kuat, umur bintang akan jauh lebih singkat dan tidak memungkinkan kehidupan berevolusi dalam suatu planet. Jika gaya nuklir kuat berubah bahkan lebih kecil dari satu persen, atom karbon yang sangat penting untuk membentuk “kehidupan” tidak akan ada. Masih banyak contoh lainnya yang disebutkan oleh Davies, begitu juga contoh yang ditambahkan oleh orang-orang yang mendukung argumennya (seperti posisi bumi yang “pas” di dalam tata surya dan galaksi).

Selain lima argumen di atas, Aquinas juga banyak berkontribusi pada puluhan subjek ilmu pengetahuan yang tidak bisa saya sebutkan satu-satu. Selain sebagai filsuf, ia juga dikenal sebagai penulis yang sangat produktif. Salah satu karya terbesarnya (yang belum selesai), Summa Theologiae memiliki tebal sekitar 3000 halaman. Aquinas juga meninggal dalam keadaan pada saat ia sedang menuliskan karyanya.

Jelas, kini banyak argumennya yang sudah dipatahkan oleh para filsuf setelahnya. Tapi Aquinas, dan filosof skolastik lainnya mengajarkan satu hal penting yang bisa menjadi pelajaran generasi setelahnya dari berbagai pandangan filosofi, yaitu berargumen. Filsafat, bukan hanya sekadar meragukan kemudian menolak begitu saja suatu pendapat yang ada di masyarakat. Kita membangun argumen yang kuat yang mendukung pandangan kita. Kita jelas boleh tidak setuju dengan Aquinas, tapi apakah kita memiliki argumen yang mendukung ketidaksetujuan kita? Itu yang penting, dan barangkali itulah yang esensial pada para filsuf skolastik ini.

 

*) Muhammad Yasyfa Ibadurrahman, biasa dipanggil dengan sebutan Rahman. Lahir di Bogor pada tanggal 24 Juni 2000. Mengikuti perkuliahan di Universitas Negeri Jakarta sejak 2018 di jurusan psikologi dan aktif di Lembaga Kajian Mahasiswa UNJ. Terkadang menyibukkan diri dengan menulis cerpen dan esai, juga mengasah kemampuan menggambar di waktu senggang.

 

Continue Reading

Kajian

Jacques Derrida dan Dekonstruksi Anti Marxis?

mm

Published

on

Belum lama ini, Jacques Derrida memperluas lingkup karyanya saat buku karangannya tentang Marx terbit. Ia mengatakan bahwa filsafat dekonstruksinya tidak bisa secara sederhana dikatakan sebagai anti-Marxis. Maka, sekarang ini, ada yang menunggu-nunggu untuk melihat apakah ada unsur politik dalam gramatologi Derrida.

Derrida, seorang Yahudi Aljazair, lahir di Aljazair pada tahun 1930 dan pindah ke Prancis pada tahun 1959. Ia belajar di Ecole Normale Superieure (re d’Ulm) di Paris, dan mulai memperoleh perhatian publik pada akhir tahun 1965 saat ia menerbitkan dua artikel panjang yang mengulas buku-buku tentang sejarah dan bentuk penulisan pada sebuah jurnal Paris, Critique.[1] Karya ini membentuk landasan bagi buku Derrida yang mungkin paling terkenal, yiatu Of Grammatology.

Ada sejumlah kecenderungan penting yang mendasari pendekatan Derrida pada filsafat, dan lebih khusus lagi, pada tradisi pemikiran Barat. Yang pertama adalah pemkiran untuk bercermin pada tradisi pemikiran Barat dan mengurangi ketergantungan tradisi ini pada logika identitas. Logika identitas diturunkan dari karya Aristoteles, dan, seperti kata Bertrand Russell, terdiri atas unsur-unsur pokok berikut:

  1. Hukum identitas: “Sesuatu adalah sesuatu itu sendiri.”
  2. Hukum kontradiksi: “Sesuatu tidak bisa serentak menjadi ada dan tiada.”
  3. Hukum tidaknya yang berada di tengah: “Antara ada dan tiada tidak boleh ada apa pun juga.”[2]

“Hukum-hukum” pikiran ini tidak hanya mengandaikan adanya suatu koherensi logis, mereka juga mengarah ke sesuatu yang mendalam dan mencirikan tradisi yang terkait dengan suatu realitas pokok – asal usul – yang merujuk hukum-hukum ini. Untuk memelihara koherensi logisnya, asal usul ini haruslah “sederhana” (yaitu bebas dari kontradiksi), homogen (berupa substansi dan keteraturan yang sama), sesuai dengan dirinya sendiri (yaitu berada terpisah dan berbeda dari segala pengantaran, sadar akan dirinya sendiri tanpa ada kesenjangan antara asal usul dengan kesadaran). Jelas bahwa “hukum-hukum” ini menghendaki dikesampingkannya ciri-ciri tertentu seperti: kerumitan, pengantaran, dan perbedaan – singkatnya ciri-ciri yang memunculkan “ketidakmurnian”, atau kerumitan. Proses pengesampingan ini berlangsung dalam tataran umum, metafisis, di mana di dalamnya dilembagakan satu keseluruhan sistem konsep (yang terindra-yang terpikirkan; ideal-nyata; internal-eksternal; fiksi-kebenaran; alam-kultur; lisan-tulisan; keaktifan-kepasifan, dan sebagainya) yang mengendalikan proses pemikiran yang berlangsung di Barat.

Melalui suatu pendekatan yang disebut sebagai “dekonstruksi”. Derrida memulai penelitian mendasar pada bentuk tradisi metafisis Barat dan dasar-dasarnya dalam hukum-hukum identitas. Secara kasar bisa dikatakan bahwa hasil dari penelitian ini tampaknya menyingkap sebuah tradisi yang dipenuhi dengan paradoks dan aporia logis – seperti yang ada dalam filsafat Rousseau berikut ini.

Suatu ketika Rousseau berpendapat bahwa kita harus mendengarkan suara alam. Alam ini identik dengan dirinya sendiri, suatu kumpulan yang tidak perlu ditambah atau dikurangi. Akan tetapi, ia juga menunjuk pada kenyataan bahwa kadang-kadang dalam alam itu terdapat kekurangan – sebagaimana halnya seorang ibu tidak bisa memberikan air susu yang cukup kepada anaknya. Sekarang ini keadaan berkekurangan dilihat sebagai yang umum terdapat di alam, jika bukan sebagai karakteristiknya yang paling umum. Oleh sebab itu, Derrida menunjukkan bahwa alam yang menurut Rousseau itu “cukup-diri” ternyata juga berkekurangan.[3] Keadaan berkekurangan ini malah mengganggu kecukupan diri alam itu sendiri – yaitu identitasnya, atau seperti kata Derrida, kehadiran dirinya. Kecukupan diri alam hanya bisa dipenuhi bila kekurangan ini bisa ditutup. Walaupun begitu, agar logika identitas bisa dipertahankan, kalaupun alam memerlukan penambahan ia juga tidak bisa cukup dengan dirinya sendiri (identik dengan dirinya). Ini karena kecukupan diri dan kekurangan adalah dua hal yang paling bertentangan: salah satu bisa menjadi landasan identitas, tetapi bukan kedua-duanya bila kontradiksi ingin dihindari. Ketidakmurnian identitas, atau dilemahkannya eksistensi diri ini tidak bisa dihindarkan karena, pada umumnya setiap asal usul yang tampaknya “sederhana” mungkin saja datang dari yang bukan asal usul. Manusia memerlukan pengantaran kesadaran, atau cermin bahasa, untuk bisa memahami diri sendiri dan dunia; akan tetapi, pengantaran atau cermin (ketidakmurnian) ini harus disingkirkan dari proses perolehan pengetahuan. Kedua hal itu memang memungkinkan diperolehnya pengetahuan, tetapi tidak termasuk di dalam proses itu. Jika demikian halnya, seperti pada filsafat kaum fenomenologis, maka semua ini (kesadaran, subjektivitas, bahasa) menjadi setara dengan sejnis keberadaan yang identik dengan dirinya.

Proses “dekonstruksi” yang meninjau dasar-dasar pemikiran Barat modern tidak dilakukan dengan harapan agar paradoks atau kontradiksi ini juga tidak mengklaim bahwa ia bisa melepaskan diri dari hal-hal yang mendasari tradisi ini dan membentuk suatu sistem yang berlandaskan pada pemahamannya sendiri. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa di sini terpaksa digunakan konsep-konsep yang sebenarnya tidak bisa dipertahankan dalam kerangka klaim yang dibuatnya untuk itu. Singkatnya, ia juga (paling tidak untuk sementara) harus mendukung klaim-klaim ini.

Secara filosofis, dorongan untuk melakukan dekonstruksi tidak hanya untuk menunjukkan bahwa “hukum-hukum” pemikiran itu tidak lengkap. Akan tetapi, kecenderungan yang tampak jelas dalam oeuvre Derrida adalah untuk membangkitkan pengaruh, untuk membuka wilayah baru dalam dunia filsafat sehingga terus bisa menjadi ajang kreativitas dan penemuan baru. Pengertian tentang perbedaan, atau differance, mungkin mengarah kepada kecenderungan kedua yang tampak dalam karya Derrida – yang terkait erat dengan keinginan untuk terus memelihara kreativitas dalam filsafat.

Differance adalah istilah yang diusulkan Derrida pada tahun 1968 dalam hubungannya dengan penelitiannya tentang teori Saussurean dan teori bahasa sturkturalis. Bila Saussure bersusah payah dalam upayanya untuk menunjukkan bahwa dalam bentuknya yang paling umum bahasa bisa dipahami sebagai suatu sistem perbedaan, “tanpa isitilah positif”, maka Derrida melihat bahwa implikasi penuh dari konsep ini tidak dipahami baik oleh kaum strukturalis kontemporer maupun Saussure sendiri. Perbedaan tanpa istilah positif menghendaki secara tak langsung bahwa dimensi bahasa ini harus tetap tidak bisa dikonsepkan. Pada Derrida, perbedaan menjadi prototipe dari hal-hal yang tetap berada di luar lingkup pemikiran metafisis Barat karena kondisi kemungkinan pemikiran ini. Tentu saja, dalam kehidupan sehari-hari orang-orang berbicara tentang segala perbedaan. Sebagai contoh, kita katakan bahwa “x” (yang memiliki kualitas tertentu) berbeda dari “y” (yang memiliki kualtias lain), dan yang biasanya kita maksudkan adalah bahwa di sini dimungkinkan untuk mengungkapkan segala kualitas yang mengakibatkan segala perbedaan ini. Walaupun begitu, ini sebenarnya memberikan pemahaman positif terhadap perbedaan – yang menghendaki bahwa ia bisa berbentuk suatu gejala – sehingga hal ini bukanlah merupakan perbedaan yang dinyatakan Saussure, yaitu yang secara efektif tidak bisa dikonsepkan. Oleh sebab itu, menjadi jelaslah alasan pertama neologisme Derrida: ia ingin memisahkan perbedaan menurut akal sehat yang bisa dikonsepkan dengan perbedaan yang tidak dikembalikan kepada tatanan yang sama dan menerima identitas melalui suatu konsep. Perbedaan itu bukanlah suatu identitas; ia juga bukan merupakan perbedaan dari dua identitas yang berbeda. Perbedaan adalah perbedaan yang di-tunda (defer) – dalam bahasa Prancis, kata kerja yang sama (defferer) bisa berarti membedakan (to differ) atau menangguhkan (to defer). Differance mengingatkan kita pada sekumpulan istilah yang berkembang dalam karya Derrida di mana strukturnya mutlak bersifat ganda: pharmakon (baik racun maupun obat); supplement (baik surplus maupun tambahan yang diperlukan); hymen (baik yang berada di luar maupun yang berada di dalam).

Pembenaran lain untuk neologisme Derrida juga datang dari teori bahasa Saussure. Menurut Saussure, tulisan itu bersifat sekunder bila dibandingkan dengan wicara yang diucapkan oleh semua anggota komunitas bahasa. Bagi Saussure, tulisan itu bahkan merupakan suara bentuk bahasa yang “cacat bentuk” dalam pengertian bahwa (melalui tata bahasa) ia dianggap menjadi representasi sejati darinya, sedangkan Saussure menfklaimbahwa pada kenyataannya esensi bahasa terkandung didalam wicara yang dijalani, yang selalu berubah. Derrida mempertanyakan perbedaan ini, karena dalam perbedaan, ia melihat bahwa baik Saussure maupun kaum strukturalis (bdk. Levi-Strauss) meninjau bahasa tulisan dengan menggunakan pengertian tulisan seperti yang ada dalam kehidupan sehari-hari, yaitu yang berusaha mengabaikan segala kerumitan. Oleh sebab itu, tulisan dianggap sebagai yang sepenuhnya bersifat grafis, yang mungkin bisa membantu ingatan, namun dibandingkan wicara ia tetap bersifat sekunder; secara mendasar ia dianggap fonetik, dan mewakili suara dari bahasa. Wicara itu sendiri dianggap lebih dekat dengan pikrian, yang berarti pada emosi, gagasan, dan kehendak si pembicara. Oleh sebab itu, sebagai primer dan yang lebih asli, wicara dipertentangkan dengan tulisan yang bersifat sekunder dan representatif. Sebagai seorang gramatologis (teoretisi tentang tulisan) Derrida berusaha menunjukkan bahwa pembedaan ini tidak bisa bertahan. Sebagai contoh, istilah differance itu sendiri memiliki unsur grafis yang tak tereduksi lagi, yang tidak bisa diamati pada tataran suara. Selain itu, klaim yang mengatakan bahwa tulisan fonetik itu seluruhnya bersifat fonetik, atau wicara itu seluruhnya terkait dengan pendengaran menjadi dipertanyakan saat tanda baca yang sepenuhnya bersifat rafis muncul, bersama dengan saat diam (spasi) dalam wicara yang tidak bisa terwakili.

Entah bagaimanapun, seluruh oeuvre Derrida merupakan suatu penjelajah bentuk tulisan dalam pengertiannya yang paling luas sebagai suatu differance. Sampai pada titik tulisan itu mencakup unsur-unsur piktografik, ideografik, dan fonetik, tulisan memang tidak identik dengan dirinya sendiri. Oleh sebab itu, tulisan itu selalu tidak murni, dan dengan demikian menantang pengertian tentang identitas, dan akhirnya pengertian tentang asal usul sebagai sesuatu yang “sederhana”. Hal ini bisa seluruhnya ada atau tidak ada, tetapi ini adalah jejak dari penghapusannya dalam upaya mengejar transparansi. Lebih dari itu, di satu sisi tulisan itu lebih “asli” daripada bentuk fenomenalnya. Tulisan sebagai jejak, tanda, grafen menjadi prasyarat bagi semua bentuk fenomental. Pengertian inilah yang secara implisit terdapat dalam salah satu bab Of grammatalogy yang berjudul “The end of the book and the beginning of writing”. Bab ini menunjukkan bahwa dalam pengertiannya yang ketat, tulisan itu bersifat semu, bukan fenomenal; ia bukan apa yang dihasilkannya, melainkan yang memungkinkan dihasilkannya sesuatu. Ia membangkitkan seluruh medan sibernetika, matematika teoretis, dan teori informasi.[4]

Dalam perenungan tentang tema-tema keksusastraan, seni dan psikoanalisis, seperti juga tema-tema fislafat sejarah, salah satu strategi Derrida adalah menampakkan “ketidakmurnian” tulisan (dan identitas apa pun). Derrida sering berupaya memberikan pembenaran secara filosofis dengan menerapkan strategi retoris, grafis, dan puitis (seperti pada Glas, atau The Post Card: From Socrates to Freud and Beyond) sehingga menyadarkan para pembaca akan kaburnya perbatasan antara disiplin (seperti filsafat dan sastra), dan materi-subjek (seperti karya tulis/filsafat dan autobiografi). Dalam presentasi pertamanya di Sorbonne pada tahun 1968 yang membahas difference secara lebih luas dan mendalam, seorang hadirin yang kritis mengatakan, meskipun dengan penuh penyesalan, “Dalam karya Anda, ungkapan itu begitu penting sehingga perhatian pendengar terus-menerus terpecah dan terarah, di satu sisi kepada cara Anda berbicara, dan di sisi lain kepada hal yang ingin Anda katakan.”

Derrida kemudian menjawab hal ini dengan mengatakan, “Saya berusaha menempatkan diri saya pada satu titik di mana hal yang ditandakan tidak lagi bisa dibedakan dengan mudah dari penandanya.”[5]

Petunjuk yang mengatakan tentang tidak mungkinnya memisahkan secara ketat dimensi puitis-serta-retoris naskah (tataran penanda) dari “kandungan” pesan atau makna (tataran yang ditandakan) adalah gerakan yang paling penting dan kontroversial dalam seluruh eksplorasi yang dilakukan Derrida. Meskipun beberapa kritikus sastra Amerika cukup tertarik pada strategi ini, ada yang berpikir sampai sejauh mana sang filsuf mampu mengendalikan strategi ini (secara sadar). Jika perbatasan disiplin dan genre sebenarnya adalah konvensi dengan sejarah tertentu – yaitu, bila mereka dibangun berdasar semacam keyakinan – di sini ada kemungkinan besar untuk merusaknya. Maka yang kemudian dirusak sebenarnya adalah prinsip kerja yang relatif rapuh, bukan suatu prinsip pokok yang sangat mendasar. Dalam karya Laclau (yang diilhami oleh Derrida) tentang teori politik, kerapuhan identitas inilah yang tampaknya memberikan kesegaran baru pada politik. Karena identitas adalah hasil bentukan dan bukan yang paling dasar, mereka pasti rapuh, tetapi tidak kurang penting.

Dari sudut “Yang Lain”, karya Derrida membuka suatu kreativitas baru yang olehnya minat terhadap tulisan sebagai gramatologi memiliki dampak praktis. Di sini kita ingat Derrida pernah menunjukkan bahwa landasan prinsip-prinsip metafisis itu rapuh dan sangat mendua. Karena ia memiliki identitas yang tetap, maka apa yang benar dan “sesuai” (seperti kata benda nama diri), akhirnya akan memunculkan suatu dekonstruksi dari yang “sesuai” ini (misalnya, sebuah nama tidak hanya menunjuk ke suatu objek atau pribadi yang sederhana, “nyata”, atau fenomenal; karena ia juga memiliki dimensi retoris yang memungkinkan adanya permainan kata). Bila sebuah nama diri ditunjukkan sebagai yang “tidak” sesuai, muncullah “tulisan” dalam pengertian Derrida. Nama penyair Prancis, F. Ponge (yang dalam sebuah esai terkenal Derrida diubah menjadi eponge [spon]), menjadi sumber tulisan filosofis yang kreatif dan kritis. Dalam bahasa Inggris, agar muncul serangkaian asosiasi yang “tidak tepat” (improper), kita hanya perlu memikirkan Wordsworth dan “joy” (kegembiraan) dalam nama Jocye. Melalui permainan kata, anagram, etimologi, atau berbagai ciri diakritis (ingat “joy” pada Joyce), nama diri bisa dikaitkan dengan berbagai sistem konsep, gagasan, atau kata-kata (termasuk yang ada dalam bahasa lain). Selain itu Derrida sebenarnya mengaitkan nama diri dengan berbagai jenis citra (imaji) dan suara sehingga, dari satu sudut pandang, naskah rujukan tampak memiliki hubungan yang sangat sedikit dengan naskah yang diulas (lihat perlakuannya terhadap karya Jean Genet dalam Glas; atau esai Signeponge tentang karya Francis Ponge). Sebenarnya, bila kritik sastra tradisional cenderung mencari kebenaran (baik itu semantik, puitis, maupun ideologis) pada naskah sastra yang ditulis sesamanya, dan kemudian menerapkan peranan sekunder dan terhormat saat berhadapan dengan “keunggulan” naskah tersbut, Deriida malah mengubah naskah “primer” menjadi sumber ilham dan kreativitas baru. Sekarang ini para kritikus/pembaca tidak lagi hanya melakukan penafsiran (yang memang tidak pernah sepenuhnya demikian), tetapi bahkan menjadi “penulis”.

Selain itu, bila akal sehat cenderung mengandaikan bahwa keberulangan kurang lebih merupakan kualitas bahasa yang bersifat kebetulan, sehingga kata, frase, kalimat, dan sebagainya bisa diulang-ulang dalam konteks yang berbeda-beda, maka sebenarnya ini adalah kualitas yang menurut Derrida memisahkan tataran penanda dengan yang ditandakan. Oleh sebab itu, jika makna itu terkait dengan konteks, maka dalam kaitannya dengan struktur bahasa, tidak akan ada konteks yang tepat untuk memberikan bukti pada makna akhir. Seperti dikatakan Jonathan Culler, konteks itu tak terbatas. Perdebatan Derrida dengan filsuf Amerika, John R. Searl tentang teori “perfomatif” dari J.L. Austin adalah persis tentang hal ini. Bila Austin berupaya untuk membuat perfomasi yang sesuai (melakukan sesuatu dengan mengatakannya – seperti saat membuat janji) bergantung pada realisasinya dalam konteks yang tepat oleh pelaku yang tepat, maka perfomasi yang tidak sesuai – seperti saat sseseroang mengucapkan “saya mau” di luar upacara perkawinan, atau saat rapat dibuka oleh orang yang salah – tidak bisa dihapuskan dari bahasa. Derrida menegaskan, hal ini terjadi karena ketidaksesuaian terkandung di dalam struktur perfomatif itu sendiri: kualitas keberulangan berati bahwa bahasa – termasuk tanda tangan – bisa dipakai oleh siapa pun pada setiap saat. Oleh sebab itu, keberulangan mensyaratkan kemungkinan adanya tanda tangan yang dipalsukan.

Singkatnya, pencarian filosofis Derrida ini mengklaim untuk melakukan dekonstruksi terhadap semboyan-semboyan yang dipakai secara luas baik dalam dunia akademik maupun dalam bahasa kehidupan sehari-hari. Bahasa sehari-hari itu tidak netral; di dalamnya terdapat berbagai pra-anggapan dan asumsi kultural dari keseluruhan tradisi. Pada saat yang sama, penataan ulang secara kritis pada landasan filsofis dari tradisi ini, mungkin secara tak terduga, menghasilkan suatu penekanan baru terhadap otonomi individu dan kreativitas peneliti/filsuf/pembaca. Mungkin unsur yang bersifat anti-populis tetapi juga anti-Platonis dalam gramatologi adalah sumbangan Derrida yang paling penting bagi pemikiran zaman sesudah perang. (*)

[1] Lihat Jacques Derrida, ‘De Ia grammatologie (I), Critique, 223 (Desember 1965), hlm. 1016-1042; dan ‘De la grammatologie (II)’, Critique, 224 (Januari 1966), hlm. 23-53.

[2] Bertrand Russell, The Problems of Philosophy, London, New York, Oxford University Press, dicetak ulang tahun 1973, hlm. 40.

[3] Jacques Derrida, Of Grammatology, diterjemahkan oleh Gayatri Chakravorty Spivak, Baltimore dan london, Johns Hopkins University Press, 1976, hlm. 145.

[4] Ibid., hlm. 9

[5] David Wood dan Robert Bernasconi (ed.), Derrida and Differance’, Evanston, Northwestern University Press, 1988, hlm. 88.

Continue Reading

Kajian

Michel Foucault, geneologi dan “sejarah efektif”

mm

Published

on

Michel Faucault lahir di Poitiers pada tahun 1926. Ia mendapatkan agregation-nya pada umur 25 tahun, dan pada tahun 1952 memperoleh diploma dalam psikologi. Pada tahun 1950-an ia bekerja dalam sebuah rumah sakit jiwa, dan tahun 1955 mengajar di Universitas Uppsala, Swedia. Karya pokoknya yang pertama berjudul Folie et deraison: Histoire de la folie a I’age classique (kegilaan dan Ketakbernalaran: Sejarah Kegilaan dalam Masa Klasik) terbit pada tahun 1961 setelah dipresentasikan sebagai doctorat d’etat pada tahun 1959 melalui bimbingan Georges Canguilhem. Ia meninggal pada tahun 1984 akibat penyakit yang terkait dengan gejala AIDS.

Pada bulan April 1970 Foucault diangkat menjadi dosen “sejarah sistem pemikiran” di College de France, Resume dari kuliah pertamanya berjudul “The will to truth” – yang diberikan di sana pada tahun 1970-1971 – membahas “praktek-praktek diskursif” dan sekali waktu pernah mengatakan:

Kelompok-kelompok yang teratur [dalam praktek-praktek diskursif] sekarang tidak bersesuai dengan karya-karya individu. Meskipun muncul dan untuk pertama kali menjadi jelas dalam salah satu dari mereka, ini berkembang cukup luas di luar mereka dan sering menyatukan beberapa kelompok. Akan tetapi, mereka tidak selalu bersesuaian dengan yang biasa kita sebut ilmu atau disiplin, meskipun untuk sementara memiliki perbatasan yang sama.[1]

Penjelasan Foucault menggambarkan ciri inovatif dan individualis dari karyanya. Oleh sebab itu, dalam kutipan yang disebutkan di atas, ia mengarah pada tesis yang diberikan dalam The Ar-cheology of Knowledge bahwa kita tidak bisa mereduksikan “praktek-praktek diskursif” menjadi kategori oeuvre individu, atau disiplin akademik. Akan tetapi, praktek diskursif adalah sebuah keteraturan yang muncul dalam fakta artikulasi itu sendiri: ia tidak datang sebelum artikulasi itu dilakukan. Sistematika praktek diskursif itu tidak berjenis logis atau linguistik. Keteraturan suatu diskursus itu bersifat tidak sadar dan berlangsung dalam tataran parole Saussure, dan tidak pada tataran longue yang sudah ada sebelumnya.

Bukannya mempelajari gerakan pikiran dengan mengikuti jalan yang dipakai Sejarah Gagasan – di mana gagasannya datang sebelum adanya bahan kajian – juga bukannya mempelajari bagaimana ideologi atau teori mengungkapkan kondisi material, Foucault menganalisis “rezim praktek”. Bisa juga, karena garis yang memisahkan perkataan dan perbuatan – seperti antara melihat dan berbicara – selalu berada dalam keadaan tidak stabil (pembagian itu sendiri selalu berubah-ubah), maka “rezim-rezim praktek” tidak bisa direduksikan pada bentuk-bentuk tindakan yang historis, atau praktek, lebih dari sekadar perkataan, bisa direduksikan ke dalam wilayah teori. Dengan perkataan lain, Pemahaman sejarah Foucault yang diilhami oleh anti-idealisme Nietzsche berusaha menghindari “proyeksi ‘makna’ ke dalam sejarah”.[2] Dalam hubungan ini, pengertian tentang sebab pun patut dicurigai – seperti pelaku di balik tindakan. Paragraf terakhir yang terkenal pada The Order of Things: An Archeology of the Human Sciences mengakui hal ini dengan membicarakan manusia, sang pelaku, yang dihapuskan, “seperti wajah yang dilukis pada pasir di tepi pantai.”[3] Yang kita dapati adalah tindakan dan akibat material; tidak ada makna esensial di balik segala benda – tidak ada subjek esensial di balik tindakan; dalam sejarah juga tidak ada tatanan esensial. Akan tetapi, tatanan itu ada dalam penulisan sejarah itu sendiri. Buku-buku Foucault seperti The Order of Things dan The Archaeology of Knowledge adalah hasil dari pendekatan Netizsche semacam ini pada sejarah pengetahuan. Di sini digambarlah sebuah peta baru: praktek menjadi satu cara berpikir dengan “logika, strategi, bukti dan penalaran” praktek itu sendiri.

Sebelum kita tinjau secara sekilas beberapa karya pokok Faucault, agar bisa semakin memahami keaslian pemikiran Foucault perlu kita perjelas terlebih dahulu lima istilah pokok yang saling berkaitan, yaitu masa kini, genealogi, epistemologi, ketidaksinambungan, dan teknologi (teknik).

Oleh karena, seperti yang ditunjukkan Nietzsche, dalam sejarah tidak ada wilayah yang secara intrinsik sangat penting selain hanya wilayah-wilayah kepentingan material, maka para sejarawan selalu terpaku pada kepentingan masa kini, pada satu situasi tertentu. Maka dari itu, sejarah selalu ditulis dari perspektif masa kini: sejarah memenuhi kebutuhan masa kini. Masa kini menawarkan masalah untuk ditelaah secara historis – bangkitnya strukturalisme pada tahun 1960-an, atau gangguan di penjara-penajara pada awal tahun 1970-an, adalah kasus-kasus yang menjadi perhatiannya, dan masing-masing memunculkan karya Foucault, yaitu The Order of Things (1966), dan Discipline and Punish: The Birth of the Prison (1975).

Jika masa kini menentukan tema yang menjadi pokok perhatian sejarawan, apakah tidak ada bahaya bahwa masa lalu itu pasti akan menjadi masa kini? Foucault menjawabnhya dengan mengatakan bahwa ini adalah bahaya yang dibangkitkan oleh idealisme. Sejarah akan menjadi masa kini hanya bila pengertian tentang sebab diberi kesempatan untuk mendominasi akibat (material), dan jika kesinambungan dibolehkan mengatasi ketidaksinambungan yang muncul dalam tataran praktek. Walaupun begitu, fakta bahwa masa kini selalu berada dalam proses  transformasi berarti bahwa masa lalu harus selalu dikaji ulang; menulis sejarah masa lalu adalah melihatnya secara baru, seperti juga para pasien dalam ruang psikoanalisis akan melihat peristiwa dalam biografi pribadinya dalam terang pengalaman psikoanalisis. Singkatnya, masa lalu akan memiliki makna baru dalam terang peristiwa-peristiwa baru. Hal ini mencegah timbulnya hubungan penyebaban sederhana yang diusulkan dalam upaya mengaitkan masa kini dengan masa lalu. Bahaya historisisme akan berkurang bila disadari bahwa tidak ada masa  lalu yang bisa dipahami melulu dari kerangkanya sendiri, bila dari satu sisi sejarah itu selalu merupakan sejarah masa kini.

Dekat hubungannya dengan pengertian tentang masa kini dan penilaian ulang masa lalu yang berlangsung terus-menerus adalah pemahaman tentang genealogi. Genealogi adalah sejarah yang ditulis sesuai dengan komitmen terhadap masalah-masalah masa kini, dan ia akan menerobos masuk masa kini. Singkatnya, genealogi adalah sebuah “sejarah efektif” (Neitzsche) yang ditulis sebagai intervensi masa kini.

Diilhami oleh Bachelard, Canguillhem, dan Cavailles, tokoh ini kemudian sadar bahwa jika sejarah itu selalu berupa genealogi dan intervensi, maka kerangka pengetahuan dan cara pemahaman selalu mengalami perubahan. Epistemologi mempelajari segala perubahan ini sebagai “tata bahasa” pembentukan pengetahuan dan tampak dalam praktek-praktek ilmu, filsafat, seni, dan sastra. Epistemologi juga merupakan satu cara mengaitkan peristiwa dengan pemikiran atau gagasan; hubungan ini harus diperjelas dalam praktek epistemologi. Dalam karya terkahir Foucault hal ini masih tetap penting, seperti yang ditunjukkan dalam kutipan tentang sejarah seksualitas:

Maka dari itu, pemikiran tidak bisa dicari hanya melalui perumusan teoretis seperti dalam filsafat atau ilmu pengetahuan; ia bisa dan harus dianalisis melalui cara berperilaku, berbicara, dan bertindak di mana para individu muncul dan bertindak sebagai subjek belajar, subjek etis atau yuridis, dan sebagai subjek yang sadar akan diri sendiri dan orang lain.[4]

Dalam hubungannya dengan teknologi atau teknik yang penting dalam karya-karya mutakhir Foucault, tampak bahwa inspirasinya datang dari Mauss meskipun Mauss hampir tidak pernah disebut-sebut dalam tulisannya. Menurut Mauss hampir tidak ada bentuk tindakan manusia yang tidak tampil dalam kerangka pengulangan. Dalam pengertian ini, menurut Mauss meludah adalah suatu teknik. Dengan demikian, dalam upaya memahami tindakan manusia, Mauss lebih mengutamakan teknik daripada kekontingenan, dan ia menyebutkan teknik badan sebagai “teknologi tanpa peralatan”. Keteraturan tindakan bisa muncul sebagai teknik yang dianggap sudah ada dengan sendirinya sehingga tampaknya tidak pernah dipelajari. Khususnya dalam analisis tentang kekuasaan, Foucault tertarik untuk menyingkapkan  keteraturan tindakan yang tersembunyi sebagai tanda dari suatu teknik. Selain itu, menjelang akhir hidupnya Foucault terus berbicara tentang “teknologi diri pribadi”. Sebagai suatu teknologi, teknik bisa muncul dan menyeberang berbagai jenis praktek yang berbeda, seperti yang ditunjukkan oleh berbagai bentuk disiplin tubuh. Sekarang ini kita akan tinjau beberapa tulisan Foucoult yang paling penting.

Judul tesis pokok Michel Foucault, Folkie et deraison: Histoire de la folie a I’age classique, yang dipertahankannya pada bulan Mei 1961 merupakan sebuah peringatan bahwa Zaman Klasik – zaman Descartes – adalah juga zaman Akal Budi. Foucault sendiri berusaha menunjukkan bagaimana Descartes, dalam “Meditasi Pertama” mengesampingkan ketidakwarasan dari keraguan hiperbolik: Descartes bisa meragukan segalanya kecuali kewarasannya. Foucault ingin menemukan kegilaan dan ketidaknalaran apa saja yang ada dalam zaman Descartes, dan berusaha mengetahui mengapa perbedaan  antara mereka berdua menjadi masalah yang begitu besar. Bisa juga dikatakan, menggunakan perumusan yang dibuat kemudian, ia ingin mempelajari cara ditetapkannya pembagian ketidakwarasan dan penalaran itu. Oleh sebab itu, penalaran dan ketidakwarasan ditampilkan sebagai hasil dari proses historis; mereka tidak datang sebagai kategori-kategori yang secara universal bersifat objektif. Bagi beberapa orang, pendekatan ini bersifat relativistik. Dengan cara yang sama, ia juga memberikan kesempatan untuk bertemu  dengan pendekatan terhadap peristiwa historis yang jauh lebih rumit dan halus.

Secara khusus, Foucault berupaya memetakan jalan bagaimana orang gila, yang sebelum tahun 1600 tidak dikurung dalam lembaga apa pun, menjelang pertengahan abad ke tujuh belas menempati status atau kedudukan orang tersaing par excellence – kedudukan yang sebelumnya ditempati para penderita kusta. Dalam abad kelima belas orang gila adalah orang yang mengembara ke sana kemari, seperti yang diabadikan dalam puisi Sebastian Brant, Stulifera navis (‘Kapal Orang-orang Tolol’, 1497) dan dalam lukiksan karya Hieronyamous Bosch dengan nama sama yang diilhami oleh puisi Brant. Selain itu, secara umum tema ketidakwarasan muncul dalam literatur dan ikonografi karena orang tidak waras dilihat sebagai sumber kebenaran, kebijaksaan, dan kritik terhadap situasi politik yang ada. Dalam masa Renaissance ketidakwarasan berada di tempat yang utama: ini adalah “pengalaman dalam medan bahasa, pengalaman saat manusia dihadapkan dengan kebenaran moralnya, dengan aturan-aturan yang sesuai dengan sifat dan kebenaran yang dimilikinya”.[5] Ketidakwarasan adalah semacam akal budi dan dilihat sebagai karakteristik umum manusia. Akal budi yang tidak bernalar dan ketidakbenaran yang bernalar bisa hidup berdampingan.

Michel Foucault

Pada Zaman Klasik (abad ketujuh belas dan kedelapan belas), ketidakwarasan direduksikan pada keadaan diam; atau bisa juga ia tidak memiliki suara sendiri tetapi secara aneh ada dalam tokoh yang bersifat anti-sosial seperti yang tidak menghormati wanita, kaum homoseksual, orang terbuang, atau tukang sihir. Ini adalah orang-orang yang terkurung dalam rumah sakit, kamp kerja paksa, dan penjara. Demikian juga, pemikiran abad kedelapan belas dan kesembilan belas mendefinisikan kemarahan – yang didalamnya termasuk perilaku kriminal dan tidak waras – sebagai “hal yang diluar nalar”. Pandangan tentang ketidakwarasan berubah dalam masa Renaissance dan Zaman Klasik, dan di samping itu strategi masyarakat dalam menghadapinya berubah juga. Saat itu, upaya untuk menemukan konsepsi medis tentang ketidakwarasan masih sangat jauh. Sampai abad kesembilan belas, ketidakwarasan atau kegilaan lebih banyak menjadi masalah polisi, bukannya masalah medis. Orang yang tidak waras tidak dianggap sedang sakit. Oleh sebab itu, Foucault berpendapat bahwa sebelum itu tidak ada landasan untuk melakukan penelitian tentang hal-hal yang mengawali upaya penanganan orang-orang yang sakit jiwa dalam sejarah psikiatri, atau lebih umum lagi, dalam sejarah kedokteran. Akan tetapi, di sini muncul diskontinuitas historis – pertama, antara pandangan Renaissance tentang ketidakwarasan dengan pandangan Zaman Klasik yang mereduksikannya pada ketidaknalaran dan berarti ke keadaan diam; kedua, antara Zaman Klasik dengan penanganan ketidakwarasan sebagai keadaan sakit mental seperti yang berlangsung dalam abad kesembilan belas. Maka dari itu, ketidaksinambungan (antar zaman) mendominasi sejarah pemahaman tentang ketidakwarasan.

Meskipun sejak awal abad ketujuh belas, orang-orang yang tidak waras mulai dikurung (didirikannya Hopital general pada tahun 1956 menjadi hal kunci di sini), dan meskipun ilmu pengobatan pada zaman modern sedikit demi sedikit bergerak ke rumah sakit jiwa untuk merawat para penderita sakit jiwa, rumah sakit jiwa ini berubah secara mendasar saat Tuke dan Pinel mulai menjalankan reformasinya pada akhir abad kesembilan belas. Dengan demikian, pengobatan dan pemahaman menjadi semakin dekat, bukan karena adanya penemuan besar dalam bidang medis, melainkan karena adanya dua faktor yang tidak berhubungan langsung ; perhatian yang lebih besar pada hak-hak individu pada awal Revolusi Prancis, serta transformasi rumah sakit jiwa menjadi rumah praktek pengobatan, bukannya menjadi lembaga swasta yang hanya bertugas sebagai penghukum.

Saat antusiasme terhadap gerakan sturkturalis mulai mereda pada tahun 1970-an, diskursus yang berlangsung mulai mengurangi perhatian mereka pada karya Foucault dan digantikan dengan “teknologi” dalam kaitannya dengan kekuasaan dan tubuh. Dua aspek teori kekuasaan dari Foucault menjadi jelas dalam dua buku utamanya yang terbit dalam tahun 1970-an. Kedua buku ini berbicara tentang kekuasaan dalam kaitannya dengan pengetahuan dan tubuh dalam penghukuman dan seksualitas, serta tentang kekuasaan yang dipahami sebagai yang berbeda dari krangka filosofis-yuridis dari zaman Pencerahan, dan penekanannya pada pemerintahan perwakilan. Singkatannya, kekuasaan tidak lagi memiliki kandungan substantif; bukannya dimiliki dan disentralisasikan, kekuasaan malah dilihat sebagai suatu teknologi.

Discipline and Punish mewakili dua imaji atau citra dari tubuh si terhukum: tubuh yang tersiksa dan rusak dari sang calon raja. Dimiens, serta tubuh sang tahanan yang terkurung di dalam selnya, seorang tahanan yang mendapatkan pengawasan secara rahasia. Seperti halnya dengan sejarah kegilaan. Foucault berpendapat tidak mungkin memisahkan kelahiran penjara, sebagai bentuk pokok penghukuman yang sah menurut hukum yang berlaku dalam abad kesembilan belas, dari sejarah berbagai lembaga seperti tentara, pabrik, dan sekolah, yang menekankan pendisiplinan tubuh melalui teknik pengawasan yang nyata dan semu. Yang memunculkan penjara bukanlah kehendak baik, rasa kemanusiaan para reformis atau perubahan hukum kriminal. Melainkan munculnya masyarakat yang berdisiplin serta adanya pengungkapan kekuasaan secara baru.

Foucault mengatakan bahwa gambaran yang paling tepat dalam menangkap struktur artikulasi kekuasaan yang berlangsung sesudah abad kedelapan belas adalah “Panoptican” dari Jeremy Bentham. Di sini ada kemungkinan untuk dilakukannya pengamatan pada sejumlah besar orang oleh orang lain yang relatif sedikit. Sebagaimana dengan ketidakwarasan, penghukuman secara legal pun memiliki sejarah yang berubah-ubah dan tidak mantap, yang bergantung tidak hanya pada persepsi tentang para narapidana, tetapi juga pada perubahan yang diakibatkan oleh munculnya lembaga-lembaga yang bertanggung jawab pada berkembangnya pegnetahuan tentang para individu. Oleh sebab itu, pengetahuan itu terkait dengan kekuasaan, dan penjara menjadi sarana pengetahuan.

Mungkin secara lebih teoretis bisa dikatakan bahwa volume pertama tentang sejarah seksualitas menganalisis kaitan kekuasaan dengan pengetahuan. Di sini, konsepsi yuridis-filosofis – yang pada dasarnya melihat kekuasaan sebagai yang rerpresif, dan yang berarti pada dasarnya bersifat negatif dan harus dihindari – tampil sebagai konsep yang datang dari Zaman Pencerahan. Foucault mengatakan bahwa sekarang ini kekuasaan tersebar di seluruh masyarakat (tidak ada seorang pun yang memilikinya) dan ini memberikan pengaruh yang positif. Definisi yuridis yang menegaskan bahwa kekuasaan itu terpusat dan dimiliki oleh satu orang berarti bahwa kepala sang raja masih harus dipotong. Seperti halnya kekuasaan itu tidak memiliki kandungan substantif, seks itu juga belum pernah mengalami represi. Akan tetapi, telaah sejarah menunjukkan semakin berlimpahnya diskursus tentang seksualitas dan kegiatan seksual. Oleh sebab itu, teori-teori yang mengklaim diri mampu menjelaskan peristiwa-peristiwa sejarah, harus dibedakan dari peristiwa yang sebenarnya. Selain itu, pendekatan genealogis yang mendalam menunjukkan bahwa teori – bukannya yang menjelaskan praktek – adalah bagian dari praktek yang ada di zaman historis tertentu.

Karya Foucault yang terakhir tentang sejarah seksualitas meninjau zaman Yunani Kuno dan melihat bagaimana seksualitas pada zaman itu merupakan bagian dari seluruh jarignan praktek (moral, politik, ekonomi) yang mendasar pada produksi, pemerintahan, dan perlindungan diri. Di sini, sejarah subjektivitas adalah minat eksplisit Foucault yang paling penting; akan tetapi, pendekatan yang dipakai – analisis mendalam pada naskah – sama seperti yang dipakai dalam The Order of Things, di mana subjektivitas adalah hasil dari praktek diskursif. The Use of Pleasure menunjukkan bagaimana kepuasan (seksual atau yang lainnya), meskipun merupakan bagian dari sistem sosial Yunani, adalah tetap merupakan sumber ketegangan – khususnya dalam permainan hubungan-hubungan sosial antara yang berkuasa dan yang dikuasai. Kepuasan yang paling besar datang dari kesadaran pernuh akan kedudukan seseorang dalam seksualitas; maka dari itu kepuasan bukan merupakan hasil dari kejahatan atau perilaku menyimpang, melainkan hasil yang kemudian dimunculkan dalam perkawinan, seperti yang berlangsung kemudian dalam Kristianitas.

Orang-orang Yunani juga mengaitkan kenikmatan dan kebebasan individu dengan pengendalikan diri dalam hubungan yang teratur satu dengan lainnya. Dalam The Care of the Self. Foucault menganalisis pengertian tentang pengendalian diri dan menggarisbawahi bagaimana orang-orang Yunani menghabiskan banyak waktunya dalam mengembangkan berbagai sistem aturan untuk diterapkan pada tata perilaku – termasuk juga tata perilaku seksual. Tanpa melaksanakan langkah-langkah ini pada diri – yang menghasilkan mengendalian diri yang semakin besar – akses terhadap kenikmatan dan kebenaran menjadi terbatas. Ini karena bahayanya adalah kehidupan yang didominasi oleh pemanjaan diri dan perilaku berlebihan dan bukannya penyimpangan; yang menjadi masalah bukan seks di luar perkawnian, melaikan terlalu banyaknya seks yang dilakukan di dalamnya.

Oleh sebab itu, sejarah menurut Foucault menampilkan wajah kenikmatan secara lain: kenikmatan melalui pengaturan dan disiplin diri, bukannya melalui sikap yang tidak menghormati wanita atau perilaku permisif. Dalam katian dengan seksualitas, sekarang ini dunia Yunani berada dalam ketidaksinambungan dengan dunia Kristen, dan gagasan lain yang telah diterima menjadi hancur. (GBJ)

[1] Michel Foucault, Resume des cours, 1970-1982, Paris, Julliard, 1989, hlm. 10.

[2] Friedrich Nietzsche, The Will to Power, diterjemahkan oleh Walter Kaufmann, New York, Vintage Books, 1968, bagian 1011, hlm. 523.

[3] Michel Foucault, The Order of Things: An Ar-chaeology of the Human Sciences, terjemahan dari bahasa Prancis, New York, Vintage Books, 1973, hlm. 387.

[4] Michel Foucault, Pendahuluan dari The History of Sexuality, Vol. II, diterjemahkan oleh William Smock dalam Paul Rabinow (ed.) Foucault Reader, New York, Pantheon Books, 1984,hlm. 334-335. Ini adalah terjemahan dari versi yang lebih awal yang akan menjadi Pendahuluan dari The History of Sexuality, Vol. II.

[5] Michel Foucault, Histoire de la folie a I’age classique (1961), paris, Gallimard, TEL., 1972, hlm. 39.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending