Connect with us
Sigmund Freud Ahli Psykologi Dari Tak-Sadar Sigmund Freud Ahli Psykologi Dari Tak-Sadar

Journal

Sigmund Freud dan Inti Pengajaran Psikologi Tak Sadar

mm

Published

on

“Cukup alasan untuk percaya bahwa dalam masa seratus tahun yang akan datang Freud akan digolongkan satu kelas dengan Copernicus dan Newton sebagai salah seorang dari mereka yang membuka tepi-tepi langit baru dari pemikiran. Yang pasti sudah, ialah bahwa dalam masa kita tidak ada orang yang telah menyorotkan begitu banyak penerangan atas cara bekerja pikiran manusia seperti yang telah dilakukan oleh Freud…”

; Die Traumdeutung (Tafsir mimpi-mimpi)

Dari segala cabang ilmu, umumnya diakui bahwa psykologi adalah yang paling gelap dan mystik, yang paling tidak peka terhadap bukti-bukti ilmiah dari ilmu yang manapun juga. Seyogiyanya keruwetan dan hal-hal tak disangka-sangka memang tak bisa dielakkan, karena ahli-ahli psikologi berurusan dengan suatu phenomena alam yang paling misterius; jiwa manusia. Sebuah teori kimia fisika dapat diperiksa atau disalahkan dengan pertolongan teknik laboratorium, tapi berlakunya satu teori psykologi adalah suatu hal yang tak bisa diperlihatkan. Itulah sebab adanya keributan pertentangan pendapat yang berkecamuk sekitar Sigmund Freud dan psykoanalisis selama lebih dari 60 tahun.

Tapi biar bisa diperlihatkan atau tidak, teori-teori Freud telah mendjalankan pengaruh yang tak ada toloknya pada pemikiran modern. Bahkan Einstein tak dapat menggamit khayal atau memasuki hidup orang-orang sejamannya seperti telah diperbuat oleh Freud. Dalam menjelajah daerah jiwa yagn tak dikenal, Freud telah merumuskan cita dan istilah yang sekarang telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Sebetulnya setiap lapangan – kesusasteraan, seni, agama, anthropologi, pendidikan, hukum, sosiologi, kriminologi, sejarah, biografi dan telaah-telaah lain mengenai masyarakat dan individu – merasai akibat ajarannya.

Tapi sebenarnya dalam ajarannya sedikit sekali kemanisan dan penjelasan. Seorang pembahas yang agak lucu mencatar:

Bagi seorang yang tak mengetahui, dengan tersebarnya  teori Freud, ia kelihatannya seorang penggaduh terbesar dalam sejarah pikiran manusia, yang telah merubah telucon manusia dan kenikmatan-kenikmatan mesra menjadi tekanan-tekanan yang kering dan misterius, yang menemui kebencian diakar cinta, kebusukan dijantung kesayangan, noda dalam kesayangan kekanak-kanakan, dosa dalam kebaikan hati, dan kebencian yang ditekan terhadap ayah seseorang sebagai suatu warisan manusia yang normal.

Sungguhpun begitu, oleh karena Freud, manusia sekarang berpikri lain sekali tentang dirinya. Mereka terima sebagai hal yang biasa konsep-konsep Freud seperti: pengaruh bawah-sadar pada sadar, dasar kelamin dari neurosis, adanya dan pentingnya sexualitet infantil, fungsi mimpi, komplex oedipus, pengendalian, pengengkaran dan transferensi (pemidahan). Segi-segi kelemahan manusia, seperti salah sebut, lupa nama dan tak ingat janji beroleh arti baru jika dilihat dari sudut pandangan Freud. Pada saat ini sulit untuk membayangkan bahwa prasangka-prasangka yang harus diatasi Freud untuk menyebarkan ajarannya bahkan lebih keras lagi dari yang ditemui oleh Copernicus dan Darwin.

Waktu Freud dilahirkan di Freiberg, Moravia, kitab Asal-usul spesi-spesi belum lagi terbit. Tahun itu ialah tahun 1856. Seperti Karl Marx, dalam silsilah moyang Freud termasuk beberapa orang rabbi; tapi berbeda dengan marx, Freud berkata; “Saya tetap tinggal Yahudi.” Ia dibawa ke Wina waktu ia berumur 4 tahun dan ia tinggal diasana boleh dikatakan selama kehidupan dewasanya. Ayahnyalah, seorang saudagar wol, menurut penulis riwayat hidupnya yang utama, Ernest Jones; yang menjadi sebab makanya ia menaruh “sikap skeptis yang getir terhadap gonta-ganti tak tentu dari kehidupan, biasa untuk menunjukkan suatu moral dengan mengutip sebuah anekdote Yahudi, murtad dalam soal-soal agama”. Ibu Freud, seorang pribadi yang ramah dan lincah hidup sampai umur 95 tahun. Sigmund adalah anaknya yang pertama dan yang paling ia sayangi. Frend kemudian menulis, “Seorang laki-laki yang selalu menjadi kesayangan ibunya untuk selamanya dalam hidupnya akan menyimpan perasaan seorang penakluk, dan menaruh kepercayaan kepada sukses yang sering sekali menghasilkan sukses yang nyata.”

Dimasa mduanya Freud sangat sekali tertarik pada teori-teori Darwin, karena ia merasa, bahwa “teori-teori ini memberikan harapan kemanjuan yang luar biasa dalam pengertian kita tentang dunia”. Setelah memutuskan untuk menjadi dokter Freud belajar di universitas Wina untuk mempelajari ilmu kedokteran dimana ia dalamt ahun 1881 memperoleh ijasah dokternya. Sebagai seorang dokter mdua yang tetap dirumah sakit umum, ia melanjutkan pelajarannya mengenai neurologi dan anatomi otak. Beberapa tahun kemudian datanglah titik perkisaran nasibnya yang kelak akan membangunkan kemasyurannya diseluruh dunia. Sebuah beasiswa untuk berkunjung membawa ia ke Paris dimana ia bekerja dibawah Jean Charcot – waktu itu seoran ahli patologi dan meurologi Perancis yang terkenal. Disini ia beroleh kontak langsung dengan pekerjaan-pekerjaan Charcot mengenai hysteria dan pengobatannya dengan jalan sugesti hypnotis. Charcot membuktikan demi kepuasan Freud “kesungguhan phenomena hysteria, timbulnya yang sering pada manusia, penyebab paralyse (kelumpuhan) hysteria dan kemengkeretan-kemengkeretan disebabkan sugesti hypnotis”, dan kesamaan-lahirnya yang dekat dengan serangan-serangan yang sebenarnya.

Tapi setelah kembali ke Wina, Freud tidak berhasil meyakinkan dokter-dokter sejawatnya perihal dasar ilmiah pengobatan gangguan saraf dengan metodos hypnotis. Bahkan ia dihukum karena pendapat-pendapatnya yang radikal dengan menjauhkannya dari laboratorium anatomi otak. Semenjak itu, ia adalah seorang yang sunyi, jauh dari kehidupan akademi dan ia tak lagi mengikuti pertemuan-pertemuan yang diadakan perhimpunan-perhimpunan kesarjanaan. Dalam praktek kedokteran partikelirnya, ia melakukan eksperimen dengan hypnotis selama beberapa tahun, tapi lambat-laun cara ini ia buang karena sedikit sekali orang yang dapat dijadikan subyek yang baikd an hypnosis kadang-kadang mempunyai akibat yang tak baik atas kepribadian. Sebagai gantinya, Freud mulai mengembangkan teknik yang disebut “assosiasi bebas”, yang semenjak itu menjadi standard praktek psykologi.

Dengan tiada sangsi lagi Freud adalah pendiri dari psikhiatri modern. Sebelum Freud, psikhiatri telah mempersoalkan simtom kegilaan seperti schizophrenia, dan psykosis maniac-depressif yang menghendaki pengawasan didalam suatu rumah sakit. Setelah memulai kerja kliniknya dengan pengobatan repressi dan konflik orang neurotis Freud segera sampai pada kesimpulan bahwa konflik-konflik seperti itu tidak terbatas hanya pada seorang neurotis, tapi juga khas bagi orang-orang yang sehat jiwanya. Selanjutnya, meurosis bukanlah penyakit dalam pengertian baisa, tapi adalah keadaan psykologis jiwa. Soal besarnya disini ialah bagaimana caranya mengobat gangguan pikiran ini yang begitu banyak ditemui. Berdasarkan pengamatan eksperimen, dan pengalaman-pengalaman dengan pasien-pasien Wina, sekitar akhir abad ke-19, Freud meletakkan dasar dari psykoanalisis.

Freud adalah penulis ilmu jaman kita yang paling subur, dan keragaman dari konsep-konsep baru dan sumbangan-sumbangan psykologi yang lahir dari penanya tidak mungkin ditemuid alam satu buku atau satu pidato. Dalam pandangannya sendiri, karya besarnya yang mungkin paling ia sukai, ialah Tafsir Mimpi yang terbit dalam tahun 1900, yang memuat hampri semua dari pengamatan-pengamatannya dan pikirannya yang paling ajasi. Dalam sebuah kerja sebelumnya. Telaah tentang hysteria, 1895, ia menyatakan kepercayaannya dan pikirannya yang paling ajasi. Dalam sebuah kerja sebelumnya. Telaah tentang hysteria, 1895, ia menyatakan kepercayaannya, bahwa gangguan kelamin adalah faktor ajasi dalam etiologi, baik neurosis maupun psykoneurosis” – salah sebuah tiang-pokok dari teori psykhoanalisis. Dalam beberapa tahun kemudian. Freud juga telah mengerjakan konsepsi mengenai resistansi (penahanan), transferensi, sexualitet mada kanak-kanak, hubungan antara kenangan-kenangan yang tidak enak dengan fantasi, mekanisme pembelaan dan penekanan.

Sebuah ringkasan singkat dari ajaran-ajaran pokoknya akan menyingkapkan sedikit kerumitan psykoanalisis. Pertama-tama, psykhiatri dan psikoanalisis tidaklah sama. Psykoanalisis dapat dianggap sebagai bagian dari psykhiatri, dan biasanya digunakan hanya pada keadaan-keadaan gangguan kepribadian yang paling susah. Psykoanalisis dapat dirumuskan sebagai therapid alam pengobatan gangguan syaraf dan psykis. Menurut suatu lapuran yang baru, 300 dari 4000 orang ahli psykiatri yang diakui di Amerika adalah ahli-ahli psikoanalisis.

Freud hanya kadang-kadang menaruh perhatian apda therapi individuil. Keadaan individu-individu yang tak seimbang ia anggap sebagai gejala-gejala penyelewengan ekonomi, sosial dan kebudayaan dari dunia jaman sekarang. Tujuannya ialah untuk menyerang penyakit itu pada akarnya.

Kebanyakan pengeritik sepakat bahwa hak Freud atas kemasyuran yang lama berdasar pada penemuannya dan penyelidikannya mengenai jiwa tak sadar. Dengan membandingkan pikiran manusia dengan sebuah gunung es, yang 8/9 bagiannya berada dibawah air, ia beranggapan bahwa pikiran itu sebagian besar tersembunyi  dalam tak-sadar. Dibawah permukaan terdapat motif-motif, perasaan-perasaan dan maksud-maksud yang disembunyikan oleh seorang individu bukan saja bagi orang lain tapi juga bagi dirinya sendiri. Dalam psykologi Freud, tak-sadar itulah yang berkuasa dan kegiatan-kegiatan sadar tidak  lebih dari kegiatan yang bersifat mengikut (lebih rendah). Dengan jalan memahami kedalaman-kedalaman dari tak sadar yang jauh dan yang tidak dikenal, kita dapat mengenal fitri batin manusia. Kebanyakan pemikiran kita menurut Freud, adalah tak sadar dan hanya kadang-kadang menjadi sadar.l pikrian tak-sadar ini adalah submer dari neurosis, karena individu itu mencoba membuang kedaerah itu kenangan-kenangannya yang tak ia sukai dan harapan-harapannya yang berakhir dengan kekecewaan. Tapi ia hanya berhasil menimbunnya jadi kesulitan-kesulitan dimasa depan.

Freud menganggap kegiatan mental satu individu sebagai sesuatu yang berlangsung pada tiga tingakt, yang dia namai Id, Ego dan Superego. Yang palign penting ialah Id. “Daerah Id,” kata Freud adalah bagian dari pribadi kita yang gelap yang tak dapat dimasukkan pengetahuan yang ada pada kita; sedikit tentangnya kita pelajari dari telaah mimpi dan dari pembentukan gejala-gejala neurotis.” Id adalah pusat dari naluri-naluri dan impuls-impuls primitif, yang menjangkau kebelakang sampai kekelampauan hewani manusia, dan ia bersifat hewani dan sexuil. Ia tak  sadar. “Id” itu, kata Freud “mengandung segala yang diwarisi, yang ada waktu dilahrikan, yang telah terpateri apda susunan diri”. Id itu buta dan tak kenal kasihan. Satu-satunya kehendaknya ialah memuaskan keinginan dan kenikmatan, dengan tiada memperdulikan akibat-akibatnya. Seperti dikatakan oleh Thomas Mann, “Ia tak mengenal nilai, tak mengenal buruk baik, tak punya moral.”

Bayi yang baru lahir adalah perwujudan dari Id. Lambat-laun Ego berkembang dari id ini dengan bertambah besarnya bayi itu. Ego itu tidak dibimbing seluruhnya oleh prinsip kesenangan, tapi ia dikuasai oleh prinsip kenyataan. Ego ini sadar akan dunia kelilingnya, dan mengakui bahwa kecondongan tak kenal aturan dari Id itu harus  ditahan untuk mengelakkan suatu bentrokan dengan masyarakat. Sebagai dilukiskan oleh Freud, Ego itu adalah medator, “antara kehendak-kehendak Id yang liar dan kendali-kendali dunia luar”. Karena dalam kenyataannya, Ego itu berlaku sebagai sensor terhadap keinginan-keinginan Id, dengan jalan menyesuaikannya kepada keadaan-keadaan yang realistis, dengan jalan menyadari bahwa pengelakan hukuman,bahkan kepentingan keselamatan diri sendiri, mungkin tergantung dari penekanan Id itu. Tapi dari konflik antara Ego dan Id ini mungkin timbul neurosis yagn sangat mengganggu kepribadian seseorang.

Akhirnya ada unsur ketiga dalam proses mental, yaitu Superego, yang secara umum dapat dirumuskan sebagai sanubari. Pengikut ajaran Freud di Amerika yang terkemuka, A.A. Brill, menulis:

Superego ini adalah evolusi mental tertinggi yang dicapai oleh manusia, dan terdiri dari endapan-endapan segala larangan-larangan, segala tatakrama yang diajarkan kepada seorang anak oleh orang tuanya dan pengganti-pengganti orang tua. Perasaan kesadaran batin semuanya tergantung dari perkembangan Superego.

Seperti Id, Superego adalaht ak-sadar sifatnya, dan keduanya selalu berada dalam konflik yang tak putus-putus, sedangkan Ego bertindak sebagai wasit. Superego adalah kampung halaman dari cita-cita akhlak dan peraturan-peraturan tingkah-laku.

Jika Id,Ego, Superego berada dalam keadaan rada selaras, maka individu itu akan seimbang dan berbahagia. Tapi jika Ego mengijinkan Id untuk melanggar aturan, maka Superego akan menyebabkan kesusahan, perasaan dosa dan pelaksanaan-pelaksanaan lain dari kesadaran batin.

Suatu konsep yang dekat sekali ikatannya dengan Id, ialah konsep yang dilahirkan oleh Freud; teorinya tentang libido. Ia mengajarkan bahwa semua impuls-impuls Id, dibebani oleh suatu bentuk dari “energi psykhis”, disebut libido yang terutama bersifat sexuil. Teori libido ini disebut orang “inti dari doktrin psikoanalisis”. Semua kerja-kreatif manusia, baik seni, hukum, agama dan sebagainya, dianggap sebagai perkembangan dari libido. Dalam penamaan energi sexuil, sebetulnya kata “sexuil” disini mempunyai arti yang luas. Pada kanak-kanak, termasuk kebiasaan-kebiasaan, seperti mengisap jari, mengisap botol, dan buang air. Ditahun-tahun kemudian, libido ini mungkin dipindahkan kepadea orang laind engan perkawinan, lalu beroleh bentuk gangguan sex, atau diutarakan dengan pertolongan ciptaan-ciptaan artistik, sastra atau musik – suatu proses yang disebut “penggeseran”. Menurut Freud, naluri sex itu adalah submer terbesar dari kerja kreatif.

Di bawah pengaruh libido, demikian Freud membela dalam suatu teori psykoanalisis yang barangkali paling kontroversial, kanak-kanak itu mengembangkan perasaan sexuil terhadap orang tuanya. Dimulai dengan kenikmatan indera pertama yang diperoleh dari minum dari susu ibu, budak itu kemudianmulai memperoleh suatu rasa ikatan cinta pada ibunya. Makin matang ia, pada suatu usia yang muda, budak laki-laki itu mulai merasakan sautu penarikan sexuil yang besar terhadap ibunya, sedangkan ayahnya ia benci dan ia takuti sebagai seorang saingan. Sebaliknya, anak perempuan, akan berkisar dari hubungan yang d ekat dengan ibunya dan jatuh cinta pada ayahnya, sedangkan ibunya menjadi pokok dari kebencian dan persaingan. Pada laki-laki teori ini disebut komplex Oedipus, diberi nama menurut suatu tokoh dongeng Yunani kuno yang telah membunuh ayahnya dan mengawini ibunya sendiri. Komplex Oedipus ini, menurut Freud, adalah warisan yang kita terima dari nenek moyang kita yang primitif, yang telah membunuh ayah mereka dalam suatu topan kecemburuan. Jika ia telah dewasa maka seorang individu yang normal akan dapat mengatasi impuls-impuls Oedipus ini. Tapi individu-individu yang lemah, sebaliknya mungkin tidak pernah berhasil memutuskan ikatan pada orang tua ini dan dengan demikian jatuh kedalam rentetan neurosis.

Sebetulnya, demikian Freud menjelaskan, “Neurosis-neurosis itu dengan tiada kecualinya adalah gangguan-gangguan dari fungsi sexuil”. Selanjutnya, neurosis tidak bisa disebabkan oleh perkawainan yang tidak berhasil atau hubungan percintaan orang dewasa yang malang, tapi semuanya dapat dikembalikan kepada komplex-komplex sex dari masa kanak-kanak. Dalam mencobakan teorinya pada lapangan antropologi, dalam bukunya Totem dan tabu, Preud berkesimpulan bahwa mythe alam adan keagamaan dari manusia primitif adalah hasil dari komplex-komplex ayanh dan ibu. Bahkan agama, menurut kepercayaannya, adalah suatu pengutaraan dari komplex ayah. Setelah memberikan analisa-analisa yang sampai keperincian terkecil dari beratus kejadian yang dibawa kepadanya untuk diobati, Freud mengangkat naluri sexuil menjadi peranan yang terpenting dalam pembentukan suatu kepribadian, dan sebagai sebab utama dari neurosis. Pandangan ini adalah suatu pandangan yang telah ditolak oleh beberapa ahli psikoanalisis terkemuka, seperti nanti akan diperlihatkan.

Karena ia dipaksa oleh masyrakat untuk menekan sebagian besar dari keinginan-keinginannya, individu itu dengan tak sadar menumpuk banyak “tekanan-tekanan” – begitulah ia dinamakan oleh Freud. Biasanya, kesadaran seseorang berhasil untuk menghindarkan “kekuatan kelam dari tak-sadar” yang telah ditekan untuk muncul kembali. Tapi orang-orang yang neurotis, mungkin harus melewati suatu masa gangguan emosionil yang sangat dalam disebabkan oleh penyensoran tersebut. Adalah kewajiban terapi psikoanalitis, kata Freud untuk “menyingkapkan tekanan-tekanan ini dan menggantinya dengan tindakan-tindakan pertimbangan yang mungkin lahir  dari penerimaan atau penolakan dari apa yang selama ini telah diengkari”. Karena sifat yang perih dari bahan-bahan yang ditekan ini, maka sipenderita akan mencoba menghindarkan pengungkapan tekanan-tekanannya. Freud menyebut usaha ini “tahanan”, yang harus dijadikan tujuan oleh dokter untuk diatasi.

Teknik yang ditemui oleh Freud mengenai tekanan-tekanan dan tahanan-tahanan adalah metodos yang kini terkenal sebagai “asosiasi bebas” – pembicaraan arus-kesadaran oleh seorang penderita yang berbaring disofa seorang ahli psykoanalisis, dalam sebuah ruang yang diterangi samar-sama muka. Penderita dianjurkan untuk “mengatakan apa saja yang datang kedalam pikirannya dan berhenti memberikan arah dengan sadar pada pikirannya”. Dinyatakan oleh Freudk, bahwa metodos asosiasi bebas ini adalah satu-satunya cara untuk mengobati neurosis, dan bahwa ia telah “mencapai apa yang diharapkan dari padanya, yaitu penyadarkankembali bahan-bahan yang ditahan-tahan oleh tahanan”. Seperti Brill melukiskan prosedur  Freud dengan penderita-penderitanya, “Diyakinkannya mereka supaya meninggalkan setiap refleksi sadar, kemudian menyerahkan diri mereka pada konsentrasi yang tenang, dan mengikuti kejadian-kejadian mental mereka yang spontan, dan menyampingkannya semuanya kepadanya. Dengan cara begini, akhirnya ia memperoleh asosiasi bebas yang  membawanya kepada asal dari gejala-gejala itu”. Hal-hal yang telah dilupakan, yang kemudian disauk kembali oleh subyek dari tak sadarnya, setelah barangkali pengobatan psikoanalitis yang berbulan-bulan, biasanya menggambarkan sesuatu yang sangat menyakitkank, tak disukai, menakutkan, atau hal-hal yang tak enak dari jaman lampau, hal-hal yang tak ingin ia ingati dengan sadar. Taklah dapat dielakkan dalam proses seperti itu, bahwa kenangan yang kacau itu akan mengeluarkan suatu masa kejadian-kejadian yang samar, tak ada hubungannya dengan persoalan dan mungkin tidak berguna sama sekali. Karena itu semuanya tergantung pada kesanggupan dokterlah untuk mempsikoanalisa bahan-bahannya  yang, seperti ditunjukkan oleh pelbagai pengeritik, dan dapat ditafsirkan dengan cara yang tak terhitung jumlahnya. Jadi intelegensi dan kecakapan dari ahli psikoanalis itu adalah sesuatu yang bersifat sangat penting.

Selama ini ia mengadakan pengobatan psikoanalitis pada penderita-penderita, Freud menemui apa yang ia sebut “suatu faktor yang luar biasa pentingnya”, suatu hubungan emosionil yang akrab sekali antara subyek dan analisnya. Inilah yang disebut “pemidnahan” (transferensi).

Penderita itu tidak puas dengan pandangan terhadap analis dalam arti yang realistis yaitu seorang penolong dan penasehat …. sebaliknya, penderita pemandanganya sebagai kembalinya – reinkarnasi – suatu tokoh yang penting dari masa kenak-kanaknya atau dari masa lampaunya, dan dengan demikian memindahkan kepadanya perasaan-perasaan dan reaksi-reaksi yang tak sangsi lagi disangkakan ada pada model ini.

Pemindahan ini “mungkin berkisar antara ujung-ujung suatu percintaan sexuil yang penuh gariah dan lengkap, dan ucapan yang terkekang dari tantangan dan kebencian yang getir”. Dalam  situasi ini, analis, “biasanya, ditempatkan ditempat salah seorang dari orang uta penderita, ayahnya atau ibunya”. Kata pemindahan ini, dianggap oleh Freud sebagai “alat terbaikd alam pengotan analitis”, tapi “sungguhpun begitu cara mempergunakannya tetap paling sulit dan dapat diangggap bagian yang paling penting dari teknik analisa”. Masalah “dipercahkan” kata Freud, “dengan meyakinkan penderita bahwa ia sedang mengalami kembali hubungan emosionil yang berasal dari masa kanak-kanaknya dulu”.

Alat yang lain yang berhasil untuk masuk kedalam konflik dan emosi batin, yang dikembangkan oleh Freud ialah analisa mimpi. Juga disini Freud adalah seorang pelopor. Sebelum dia, mimpi dianggap sebagai sesuatu yang tak punya arti atau maksud. Bukunya Tafsir Mimpi adalah percobaan pertama dari telah ilmiah yang sungguh-sungguh mengenai phenomena ini. Tigapuluh satu tahun setelah buku ini diterbitkan, Freud mengatakan bahwa “ia berisi, bahkan dalam ukuran saya sekarang ini, pokok-pokok  yang paling berharga dari segala penemuan yang telah saya perbuat demi kebaikan nasib”. Menurut Freud, “Dapat dibenarkan jika kita mengatakan bahwa sebuah mimpi adalah pengabulan yang menyamar dari keinginan yang ditekan”. Setiap mimpi menggambarkan sebuah drama dalam dunia bathin. “Mimpi adalah hasil dari suatu konflik.” Demikian Freud menjelaskan, dan “Mimpi adalah pengawal tidur,” Fungsinya lebih lagi untuk menolong tidur dari pada mengganggunya, dengan mengendurkan ketegangan-ketegangan yang datang dari kehendak-kehendak yang tak terkabul.

Dunia mimpi dalam pandangan Freud, dikuasai oleh tak-sadar, oleh Id, dan mimpi adalah penting sekali bagi seorang psikoanalis, karena mimpi ini dapat mengantarkan dia kedunia tak-sadar penderita. Dalam tak-sadar ini terdapat semua keinginan-keinginan primitif dan kehendak emosionil yang dijauhkand ari kehidupan sadar oleh Ego dan Supergo. Nafsu hewani selalu berada dibawah permukaan dan mendorong dirinya sendiri kedalam mimpi. Tapi bahkan dalam tidur, Ego dan Superego berjaga sebagai sensor. Oleh sebab itu, arti mimpi tidak selamanya jelas; mereka dinyatakan dengan lambang-lambag, dan memerlukan penafsiran seorang ahli. Sebagai lambang mereka tak dapat diterima begitu saja, kecuali barangkali dalam mimpi-mimpi anak yang bersahaja. Tafsir Mimpi menjanjikan berjumlah-jumlah contoh mimpi, yang sudah dipsikoanalisa oleh Freud.

Juga suatu petunjuk bagi kerja tak-sadar ialahs alah ucap, terlanjur lidah, dan kejadian-kejadian kecil yang dilahirkan kelanaan pikiran. “Seperti psykoanalisis telah mempergunakan tafsir mimpi” kata Freud, “ia juga dapat menarik keuntungan dari kesalahan dan kekhilafan yang begitu banyak diperbuat oleh manusia – tindakan-tindakan simptomatis, begitulah ia disebut.” Soal ini telah diselediki oleh Freud dalamt ahun 1904 dalam bukunya “Psykopathologi dari Kehidupan Sehari-hari”. Dalam buku ini ia jelaskan, bahwa “phenomena ini tidaklah bersifat kebetulan ……….. mereka punya arti dan dapat ditafsirkan, dan kita boleh mengambil kesimpulan tentang adanya impuls-impuls dan kehendak-kehendak yang menegang atau diterkan”. Lupa suatu nama mungkin berarti, bahwa kita tak menyukai api karena kacau dalam jam berangkat kereta api, maka inimungkin berarti bahwa ia tak beringin mengejarnya. Seorang suami yang kehilangan atau lupa kunci rumahnya mungkin tak bahagia dirumah dan tak ingin kembali. Suatu telaah mengenai kesalahan-kesalahan seperti itu dapat mengantarkan seorang psykoanalis kejaring pikiran tak-sadar.

Kebebasan yang sama diperoleh dengan jalan lelucon, yang disebut Freud “klep keselamatan yang paling baik yang diperoleh manusia modern” karena melalui lelucon-lelucon ini kita untuk sebenat dibebaskan dari tekanan-tekanan yang biasanya diminta oleh masyarakat sopan supaya kita sembunyikan.

Barangkali karena peringatan-peringatan, kekecewaan bertambah atau pessimisme yang kelewat, pda dekat akhir kehidupannya Freud mulai mengasyiki “naluri mati”. Akhirnya ia menganggap konsepsi ini hampir sama pengtingnya dengan naluri sexuil. Freud beranggapan bahwa ada suatu naluri mati yang mendorong segala mahluk untuk kiembali kekeadaan organik dari mana ia berasal. Menurut pandangan ini, manusia selalu ditarik-tarik oleh keinginan pada hidup, yaitu naluri sexuil, dan oleh suatu kekuatan yang bertentangan, keinginan untuk menghancurkan,atau naluri kematian. Pada akhirnya tentu saja naluri kematian ini yang menang. Naluri ini menjadi sebab dari peperangan, dan contoh-contoh sadisme, seperti prasangka terhadap ras dan kelas, kenikmatan menghadiri pengadilan-pengadilan kriminil, adu sapi dan pemasungan.

Diatas ini secara singkat dilukiskan faset-faset pokok dari teori Freud. Ahli-ahli psykiatri sekarang ini terpisah jadi dua perkampungan yang lebih kurang bertentangan, yang pro dan yang anti Freud. Bahkan murid-muridnya telah merubah penerimaan bulat dari teori-teorinya selama limapuluh tahun ini. Salah seorang dari pengikut yang termula, Alfred Adler, memisahkan diri dari pihak Freud karena ia percaya bahwa Freud terlalu melebih-lebihkan naluri sexuil. Sebagai suatu doktrin alternatif, Adler mengajarkan bahwa keinginan setiap orang untuk membuktikan keagungannya adalah sumber dari tingkah laku manusia. Ia kembangkan pikiran dari “komplex rendah diri” yang mendorong seorang individu untuk berusaha beroleh pengakuan dalam suatu lapangan kegiatan. Pembelot yang lain yang terkenal ialah Karl Jung dari Zurich, yang juga mencoba mengurangi peranan sex. Jung membagi manusia menjadi dua type psykologis; type extrovert dan type introvert, biarpun ia membenarkan bahwa setiap individu adalah campuran dari keduanya. Berbeda dari Freud, Jung mementingkan faktor-faktor keturunan dalam perkembangan kepribadian. Umumnya, para pengeritik Freud memisahkan diri dari dia mengenai soal-soal seperti kepercayaannya yang ia kemukakan tentang pentingnya neurosis masa kanak-kanak, keyakinannya bahwa manusia dikendalikan naluri yang asal dan kaku, dan angkatan yang dbierikannya kepada libido atau energi sexuil sehingga beroleh tempat sentral dalam pembentukan kepribadian. Beberapa orang tak sependapat dengan Freud mengenai kepercayaannya bahwa assosiasi bebas adalah suatu teknik yang tak dapat diganti untuk menyelidiki tak-sadar, dengan menunjukkan terutama kesulitan-kesulitan dalam menafsirkan kejadian-kejadian yang dihasilkan oleh metodos ini.

Sungguhpun begitu seperti dikatakan oleh seorang psykiatris:

Perubahan dan perkembangan selama 60 tahun tak sedikitpun mengurangi kebesaran atau pengaruh Freud. Ia terlalu membukakan dunia tak-sadar. Ia telah memperlihatkan bagaimana tak-sadar ini bekerja menjadikan kita seperti adanya kita sekarang dan ia telah memperlihatkan bagaimana cara untuk mencapainya. Banyak dari idee dan konsepnya harus dirubah oleh orang-orang yang datang sesudahnya berkat pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman lebih jauh. Kita boleh mengatakan bahwa mereka telah menulis sebuah Wasiat Baru bagi psykiatri. Tapi Sigmund Freud telah menulis Wasiat Lama. Karyanya selalu akan mempunyai arti besar.

Sebagian besar dari sikap kita terhadap kegilaan adalah disebabkan oleh Freud. Sekarang ini terdapat kecondongan yang main keras untuk menyatakan bahwa orang “neurotis dan psykotis sebetulnya sama saja seperti kita, Cuma lebih neurotis dan lebih psykotis”. Alexander Reid Martin menegaskan, bahwa “baik diakui atau tidak, semua rumah-rumah sakit psykotherapeutis sekarang ini mempergunakan unsur-unsur dan dasar-dasar dari psykologi Freud. Apa yang dulu dianggap suatu dunia yang tak dikenal, terlarang, dan grotesque, tak punyai arti dan gun, berkat Freud menjadi cerah dan penuh berisi arti, yang telah menarik perhatian dan pengakuan bukan saja dari ilmu kedokteran tapi dari segala ilmu pengetahuan sosial”.

Pengaruh pikiran Freud atas kesusasteraan dan seni dapat dilihat dengan sama jelasnya. Dalam roman, puisi, drama, dan bentuk-bentuk sastera yang lain, motif-motif  Freudian berkembang dalam tahun-tahun ini. Benard de Voto telah menguntarakan pendapat bahwa “tidak ada ahli ilmu pengetahuan lain yang mempunyai pengaruh begitu kuat dan meluas pada kesusasteraan”. Pengaruhnya atas seni lukis, seni pahat dan dunia seni umumnya tidak kurang dalamnya.

Adalah suatu kewajiban yang sulit untuk menjumlahkan sumbangan yang bermacam-macam dari kecemerlangan Freud, karena kelebaran perhatiannya dan karenasifat yang kontroversial dari penemuan-penemuannya. Salah satu percobaan telah dilakukan oleh seorang pengarang Inggris, Reboert Hamilton. Dan kesimpulannya adalah seperti berikut:

Freud telah memetakan psykologi. Ia adalah seorang pelopor besar dan sebagian besar dari suksesnya adalah disebabkan oleh keasliannya dan gaya penulisnya. Sungguhpun sifanya nihilistis, tidak ada diluar sastera murni sistim yang begitu menarik, yang mempunyai gaya yang lebih bagus. Ia telah membuat dunia berpikir secara psykologis – suatu kebutuhan pokok bagi jaman kita dan ia memaksa manusia menanyakan kepada dirinya sendiri pertanyaan-pertanyaan yang bersifat vital bagi kesejahteraan manusia. Dari thesis psykologi akademi yang steril dari abad ke-19 ia membawa anti-thesis psykoanalisis dengan pengengkaran-pengengkarannya yang kelam.

Seorang psykiatris Amerika yang tekemuka, Frederic Wertham, menuliskan soal itu dari sudut pandangan yang lain:

Orang harus menjelaskan, bahwa disamping kumpulan fakta-fakta klinik tentang penderita-penderita yang ia amati, Freud telah membawa tiga perubahan dasar dalam cara penelaahan kepribadian dan pathologi jiwa. Yang pertama ialah, bahwa orang mengira bahwa kita tak dapat bicara tentang proses psykologi sama sekali dan memikrikannya dengan logika pengetahuan alam. Ini baru mungkin tatkala Freud mengemukakan konsnep realistis dari tak-sadar dan memperkenalkan metodos-metodos praktis untuk menyelidikinya. Kedua, adalah pengemukaan suatu dimensi baru dalam psykopathologi; masa kanak-kanak. Sebelum Freud, psykiatri dipraktekkan seolah-olah setiap penderita adalah seorang Adam – yang belum pernah jadi budak kecil. Ketiga ialah pembukaannya terhadap penghargaan genetik dari naluri sexuil. Penemuannya yang sebenarnya disini terutama bukan bahwa kanak-kanak mempunyai kehidupan sex, tapi bahwa naluri sex itu mempunyai masa kanak-kanak.

Suatu penghargaan yang sama telah diutarakan oleh A.G. Tansley pada suatu “peringatan kematian” yang dipersiapkannya untuk Royal Society di London:

Sifat revolusioner dari kesimpulan-kesimpulan Freud jadi dapat dimengerti jika kita ingat, bahwa ia telah menyelidiki suatu lapangan yang belum digarap sama sekali, sautu daerah dari pikiran manusia kedalam mana belum ada orangpernah masuk sebelumnya, dan yang perbuatan-perbuatannya yang terbuka dianggap sebagai sesuatu yang tgakd apat diterangkan atau sebagai penyimpangan kehancuran, atau disia-siakan sama sekali karena ia berada dibawah tabu manusia yang paling keras. Adanya lapangan ini tidak diketahui. Freud dipaksa untuk menerima realitet suatu daerah tak-sadar dari pikiran manusia, dan kemudian mencoba memeriksanya dengan pertolongan diskontinuitet yang jelas dari rantai kejadian-kejadian jiwa yang sadar.

Akhirnya Winfred Overholser menyarankan, “Cukup alasan untuk percaya bahwa dalam masa seratus tahun yang akan datang Freud akan digolongkan satu kelas dengan Copernicus dan Newton sebagai salah seorang dari mereka yang membuka tepi-tepi langit baru dari pemikiran. Yang pasti sudah, ialah bahwa dalam masa kita tidak ada orang yang telah menyorotkan begitu banyak penerangan atas cara bekerja pikiran manusia seperti yang telah dilakukan oleh Freud.

Bulan-bulan terakhir dari kehidupan Freud yang panjang dialami dalam pembuangan. Setelah Austria diduduki oleh Naz ia terpaksa meninggalkan Wina dalam tahun 1938. Inggris memberikan asylum padanya, tapi kanker mulut telah menyebabkan kematiannya dalam bulan September tahun 1938. (Copyright @ Galeri Buku Jakarta)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku

Sekilas Karl Marx dan Bukunya Das Kapital

mm

Published

on

Dalam duka-pidato penguburan Karl Marx, Friedrich Engels menyimpulkan bahwa “diatas segala-galanya Karl marx adalah seorang revolusioner, dan tujuan besar dalam hidupnya ialah memberikan sumbangan dengan salah satu cara untuk menghancurkan masyarakat kapitalis dan lembaga-lembaga negara yang telah diciptakan masyarakat ini”. Dengan kata-kata ini, pembantu, murid dan sahabat marx yang terdekat ringkas menyimpulkan tenaga penggerak dari kehidupan pemberontak sosial yang termasyur ini.

Marx terlahir dalam suatu jaman yang gaduh. Pemberontakan dan kekacauan selalu mengancam. Kenangan pada revolusi Perancis yang pertama masih segar sedangkan yang lain sudah mengancam lagi. Jaman-jaman berikutnya ditandai oleh kegetiran dan ketidak-puasan rakyat yang luas, dan pengeritikan terhadap lembaga-lembaga yang ada. Dalam tahun 1848, perasaan ini telah bertumpuk menjadi suatu tenaga yang bisa meledak. Lalu meletuslah revolusi diseluruh Eropa. Bahkan di Inggris, Gerakan Chartis mengancam pemerintahan yang ada. Tekanan-tekanan untuk mengurangi salah-guna yang terlahir dari industrialisme baru, dan penghancuran pertahanan-pertahanan terakhir feodalisme terasa dimana-mana. Jaman ini memang cocok betul buat temperamen Marx yang subversif dan non-conformistis.

Marx dilahirkan dalam tahun 1818 di Trier di Rheinland Jerman sebagai anak seorang ahli hukum yang kaya. Dari kedua belah pihak orang tuanya. Karl adalah keturunan rabbi-rabbi Yahudi, tapi waktu ia masih kanak-kanak seluruh keluarga itu telah masuk agama Nasrani. Dalam hidupnya, barangkali sebagai reaksi terhadap halangan-halangan yang ditimbulkan latar belakang rasialnya, Marx selalu bersikap anti-semit.

Marx muda belajar ilmu-ilmu hukum dan filsafat di Bonn dan Berlin, dengan cita-cita akhirnya akan mencapai kedudukan seorang guru-besar. Tapi pendiriannya yang makin lama makin bertentangan dengan faham-faham kuno telah menutupkan pintu baginya jabatan ini lalu ia mengarahkan diri pada pekerjaan kewartawanan. Sebuah berkala bru Rheinische Zeitung baru saja dimulai penerbitannya dalam tahun 1842, dan Marx menjadi penyumbang yang pertama dan kemudian dalam waktu singkat menjadi pemimpin redaksinya. Serangan-serangan terhadap pemerintah Prusia dan nada suara berkala itu yang umumnya radikal, menyebabkan berkala ini dilarang setelah setahun lebih.

Marx pindah ke Paris untuk mempelajari sosialisme dan menulis untuk sebuah berkala yang juga singkat umurnya. Buku-buku Tahunan Franco-Jerman (Franco-German Year Books). Disana ia berkenalan dengan wakil-wakil terkemuka dan pemikiran-pemikiran sosialis dan komunis. Dilihat dari sudut perjalanan hidup Marx dimasa datangnya, maka saat yang penting dari msa itu ialah, permulaan dari persahabatannya seumur hidup dengan Friedrich Engels. Engels adalah seorang kawan senegeri Marx. Sebagai anak dari seorang pembuat kain, ia boleh dianggap berkemampuan juga dan pengambdiannya kepada cita-cita sosialis sama besarnya dengan Marx sendiri. Dasar-dasar dari kitab Marx yang kemudian akan terbit Das Kapital telah dibangunkan oleh Engels dalam tahun 1845 dengan penerbitan karangannya Keadaan Kelas Buruh di Inggris (Condition of the Working Classs in England).

Agitasi yang dilanjutkan oleh Marx terhadap pemerintah Prusia telah menyebabkan pembesr-pembesar Perancis mengusir dia sebagai seorang asing yang tidak dikehendaki. Ia mencari perlindungan di Brussel selama tiga tahun, dan kemudian untuk waktu singkat ia kembali ke Jerman. Setelah dibuang kembali, ia kembali ke Paris semasa revolusi tahun 1848. Dalam tahun itu dengan bekerja sama dengan Engels ia telah menulis dan menerbitkan Manifes to Komunis yang termasyur. Pamflet ini adalah salah sebuah dri karangan-karangan radikal yang paling garang dn paling berpengaruh yang pernah dicetak Pamflet ini berakhir dengan semboyan yang menggerakkan:

Kaum komunis merasa tidak perlu untuk menyembunyikan pendapat dan maksudnya. Dengan terus terang mereka mengumumkan bahwa tujuan mereka hanya dapat dicapai dengan merubuhkan seluruh susunan masyarakat ini dengan kekerasan. Biarlah klas-klas pemerintahan gemetar depan reolusi komunis. Kaum buruh tidak akan kehilangan apa-apa kecuali berlenggu mereka. Mereka hanya akan memenangi seluruh dunia.

Buruh sedunia bersatulah!

Kemana saja Marx pergi ia adalah seorang tukang pidato yang garang dan aktif; ia mengorganisir gerakan-gerakan buruh; ia memimpin penerbitan-penerbitan komunis dan menganjurkan pemberontakan.

Kekandasan revolusi-revolusi Eropa 1848 sampai 1849 menyebabkan benua ini jadi sempit bagi Marx. Ia pindah ke Inggris dalam musim panas tahun 1849, tatkala mana ia berumur 31 tahun, dan tinggal di Londok untuk seumur hidup. Sebelum itu ia telah menikah dengan Jenny von Westfalen, anak seorang pembesar Prusia, dan istrinya ini tetap setia sebagai kawan sejawatnya untuk hampir selama 40 tahun, menyertainya dalam suatu masa kemelaratan yang amat sangat, kekurangan dan keburukan nasib. Dari keenam anak mereka, hanya tiga yang  hidup dan menjadi dewasa, dan dari yang tiga, dua orang kemudian membunuh diri. Tak sangsi lagi, tahun-tahun kemelaratan ini telah mewarnai pandangan Marx dan menjadi sumber dari begitu banyak kebencian dan kegetiran dalam tulisannya. Hanya bantuan-bantuan keuangan yang sering dari Friedrich Engels yang telah menyelamatkan keluarga Marx dari pada kelaparan. Satu-satunya penghasilan Marx ialah se-guinea seminggu, diterima dari surat kabar Tribune New York sebagai imbuhan terhadap surat-surat tentang soal-soal Eropa, dan pembayaran yang tak tetap buat karangan-karangan yang semata ditulis untuk mencari makan.

Tapi biarpun menderita kemelaratan, buruan penagih-penagih hutang-hutang, penyakit dan kekurangan yang tak putus-putusnya melingkungi Marx didistrik Soho yang guram, dimana ia berdiam. Marx tetap tak lelah-lelahnya dalam usahanya memajukan alasan-alasan sosialis. Dari tahun ke tahun, sering kali sampai 16 jam sehari, ia bekerja di Museum British untuk mengumpulkan bahan yang besar jumlahnya  untuk sebuah karya yang kelak akan diberi nama Das Kapital. Jika tidak dihitung lowong-lowong yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatan lain dan penyakit, maka buku ini telah memakan waktu persiapan selama 18 tahun. Engels yang sementara itu menyokong keluarga Marx sudah putus harapan bahwa buku itu akan selesai. “Pada hari naskah itu dimasukkan kepercetakan saya akan minum sampai mabuk dengan segala kebersaran,” katanya. Kedua mereka,Engels dan Marx menyebut buku itu sebagai “buku laknat”, dan Marx mengakui bahwa buku itu adalah sebuah “mimpi ngeri yang sempurna.”

Suatu kejadian besar dalam kehidupan Marx dalam tahun-tahun ini ialah terbentuknya Perhimpunan Kaum Pekerja Internasional yang sekarang dikenal sebagai Internasional Pertama, dalam tahun 1864. Usah aini adalah suatu percobaan. Biarpun telah menarik diri dari kehidupan umum. Marx adalah tenaga yang berdiri dibelakang layar dan ialah yang menulis hampir semua dokumen-dokumen perserikatan ini, pidato-pidato, peraturan-peraturan dan programma. Tapi percekcokan didalam dan persaingan untuk menduduki kursi pimpinan bersamaan dengan ketidak-populeran yang dialami organisasi ini setelah kandasnya Commune Paris dalam tahun 1871, telah menyebabkan Perserikatan ini dibubarkan. Kemudian ia diikuti oleh Internasional Kedua, yang mewakili golongan-golongan sosialis barat dan Internasional Ketiga atau Comintern yang mewakili dunia komunis.

Masa pengandungan yang panjang dari Das Kapital akhirnya berakhir. Diakhir tahun 1866, naskah lengkap dari jilid pertama dikirimkanke Hamburg, dan dalam musim gugur tahun berikutnya buku ini keluar dari percetakan. Buku ini ditulis dalam bahasa Jerman, sedangkan terjemahan dalam bahasa Inggris baru akan terbit kira-kira duapuluh tahun sesudahnya. Terjemahan pertama kedalam bahasa lain – tepat sekali jika dilihat dalam sinar kejadian-kejadian yang akan terjadi sesudahnya – ialah kedalam bahasa Rusia dalam tahun 1872.

Dalam masa Marx, Inggris adalah contoh utama dari cara-cara bekerja sistim kapitalis. Karena itu contoh yangia pakai untuk menjelaskan teori-teori ekonominya hampir semuanya dipungut dari negeri itu. Contoh-contoh yang kejam cukup banyak, karena lembaga kapitalisme dalam masa Victoria pertengahan itu berada dalam keadaannya yang paling kejam. Keadaan-keadaan sosial diperkampungan-perkampungan pabrik tak dapat dikatakan buruknya. Marx yang mendasarkan pendapat-pendapatnya atas laporan-laporan resmi penyelidikan-penyelidikian pemerintah, telah menjanjikan fakta-fakta itu dengan teliti dalam Das Kapital. Perempuan menarik kapal-kapal terusan sepanjang pinggir terusan itu dengan tali dibahu mereka. Perempuan-perempuan dipasang sebagai hewan-hewan pembawa beban, depan kereta-kereta yang membawa batu arang dari tambang-tambang Inggris. Kanak-kanak mulai bekerja dikilang-kilang tekstil semenjak mereka mulai berumur 9 atau 10 tahun selama 12 sampai 15 jam sehari. Dan waktu peraturan giliran malam menjadi kebiasaan, dikatakan bahwa ranjang-ranjang tempat anak-anak tidak pernah dingin karena dipakai bergiliran. Tuberculosis dan penyakit-penyakit lain yang disebabkan pekerjaan telah membunuh mereka dalam jumlah yang tinggi.

Protes-protes mengenai keadaan yang buruk ini sekali-kali tidak hanya terbatas pada Marx saja. Orang-orang yang berperikemanusiaan seperti pengarang-pengarang Charles Dickens, John Ruskin dan Thomas Carlyle telah menulis berjilid-jilid buku dengan penuh semangat, menyerukan perobahan. Parlemen digoncang kearah perwakilan yang korektif.

Marx bangga sekali dengan penelaahan “ilmiah”nya tentang masalah-masalah ekonomi dan sosial. Seperti dikatakanoleh Engels, “Seperti Darwin menemui hukum evolusi dalam salam organik begitu Marx menemui hukum evolusi dalam sejarah manusia. Gejala-gejala ekonomi”, demikian Marx menegaskan, “dapat diamati dan dicatat dengan ketelitian yang sama seperti ilmu alam.” Seringkali ia menunjukkan kekarya-karya ahli-ahli ilmu hayat, kimia dan tabii (ahli ilmu alam), dan nyata sekali bahwa ia beringin untuk menjadi seorang Darwin sosiologi atau barangkali seorang Newton ekonomi. Dengan jalan analisa ilmiah dari masyarakat. Marx yakin bahwa ia telah menemui bagaimana caranya merubah suatu dunia kapitalis menjadi dunia sosialis.

Metodos “ilmiah” Marx telah banyak sekali menolong diterimanya pikirannya dengan luas, karena konsep evolusi dalam semua lapangan telah memukau alam pikiran abad ke-XIX. Dengan jalan menghubungkan teori perjuangan klasnya dengan teori evolusi Darwing. Marx telah memberikan tempat yang terhormat pada pikiran-pikirannya, dan serentak, demikian ia yakin, telah membuat pikiran-pikiran ini tidak bisa diingkari.

Dalam pandangan Marx dan pengikut-pengikutnya, sumbangan Marx yang terpenting dalamsoal penelaahan ekonomi, sejarah dan ilmu-ilmu pengetahuan masyakat yang lain ialah pengembangan sebuah prinsip yang disebut “materialisme dialektika” suatu sebutan yang sukar dimengerti dan mempunyai arti yang ganda. Biarpun sebutan ini diterangkan lebih lengkap dalam tulisan-tulisannya sebelumnya. Das Kapital mempergunakan teori ini sampai kedetail-detailnya.

Metodos dialektika ini telah diambil oleh Marx dari ahli filsafat Jerman Hegel. Dalam hakekatnya, teori ini menytakan, bahwa segala didunia ini berada dalam pergantian yng terus-menerus. Kemajuan diperoleh berkat reaksi terhadap masing-masing yang lahir dari dua tenaga yng bertentangan. Jadi, misalnya sistim penjajahan Inggris yang ditentang oleh Revolusi Amerika telah menghasilkan negara Amerika Serikat. Sebagai disebutkan oleh Laski. “Hukum kehidupan ialah peperangan dari pertentangan-pertentangan dengan pertumbuhan sebagai akibatnya.”

Premise ini telah menyebabkan Marx merumuskan teorinya tentang materialisme sejarah, atau tafsiran ekonomi dari sejarah. “Sejarah dari setiap masyarakat yang ada,” demikian Marx dan Engels membela, “adalah sejarah dari perjuangan kelas. Orang merdeka dan budak-budak, patricier dan plebeier, tuan dan chadam, kepala tukang dan ahli yang pindah-pindah, pendeknya yang menindas dan yang ditindas, berada dalam perentangan yang tajam. Mereka melangsungkan peperangan yang tak ada akhirnya. (*)

*Dari berbagai Sumber. Oleh Tim Redaksi Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Buku

Sekilas Riwayat Hidup dan Ajaran Carl Gustav Jung

mm

Published

on

CARL, Gustav adalah seorang psikiater berkebangsaan Swiss, pendiri Sekolah Psikologi Analitis. Ia lahir tanggal 26 Juli 1875 di Kesswil dekat Danau Constance, Switzerland, sebagai putra tunggal dari seorang pendeta Protestan. Dalam usia empat tahun keluarganya pindah ke Basel, di mana anak ini dididik dan belajar kedokteran. Nenek-moyang ibunya banyak yang menjadi teolog. Nenek-moyang ayahnya adalah seorang anggota Dewan Katolik di kota Mainz; kakeknya masuk Protestan karena dipengaruhi oleh Friedrich Schleiermacher tahun 1813. Warisan religious ini, boleh jadi mempengaruhi interesenya dengan persoalan-persoalan religious dalam karya Jung. Perkembangannya juga dipengaruhi oleh warisan medis, khususnya dari nenek-moyang ayahnya yang menjadi dekan pada Fakultas Kedokteran di Universitas Basel (1822) dan mendirikan rumah sakit jiwa yang pertama dan sebuah rumah bagi anak-anak lemah mental (feeble-minded).

Sebelum Jung memutuskan untuk masuk kedokteran, ia belajar biologi, zoology, paleontology, dan arkeologi. Penyeledikannya dalam bidang filsafat, mitologi, literature Kristen dari abad-abad pertama, mistisisme, Ghotisisme, dan alkimia diteruskan sepanjang hidupnya, bersamaan dengan minatnya dalam perkembangan-perkembangan ilmiah. Pikirannya dengan interese yang besar dapat mempersatukan pikiran-pikiran yang sangat berbeda-beda ke dalam satu kesatuan yang erat dan menyebabkan ajarannya memiliki (mengandung) dua aspek, yang menghubungkannya dengan ilmu eksakta dan ilmu kemanusiaan, sehingga menurut pandangannya ini dapat mengungkapkan dengan paling baik banyak segi dari struktur psike.

Jung menjadi asisten dokter pada Klinik Psikiatri di Burgholzli pada Universitas Zurich dibawah Wugen Bleuler tahun 1900. Tahun 1902 dia memperoleh gelar doctor dengan disertasinya: “Zur Psychologie und Pathologie sogenannteer okkulter Phanomene” (“On the Psychology and Pathology of So-Called Occult Phenomena”). Di dalam disertasi ini, dia mengemukakan salah satu dari konsep dasar yakni keutuhan fundamental dari psike yang merupakan dasar semua gejala psikis. Sementara mengobservasi keadaan kesurupan seorang anak muda, Jung yakin bahwa dia dapat melihat usaha-usaha dari satu kepribadian yang lebih lengkap, dan yang masih tersembunyi dalam alam ketaksadaran untuk masuk ke dalam alam kesadaran.

Tahun 1902 Jung berangkat ke luar negeri, mula-mula ke Paris di mana ia menghadiri kuliah dari Pierre Janet, kemudian ke London. Tahun 1903, Jung nikah dengan Emma Rauschenbach, yang merupakan pendamping dan kawan kerjanya dalam bidang ilmu sampai kematiannya tahun 1955.

Hasil-hasil penyelidikan eksperimental yang pertama dipimpinnya dalam kerja sama dengan Franz Riklin dan orang-orang lain, muncul dalam tahun 1904 dengan judul “Diagnostische Assoziationsstudien” (1918; Studies in Word Association). Penyelidikannya ini menyajikan suatu metoda untuk menemukan kelompok-kelompok isi “psikis emosional” (feeling-toned) yang ditekan. Untuk itu ia menciptakan term baru yang terkenal yaitu “Kompleks”, Karya ini menjadikannya tenar dan menyebabkan pertemuannya dengan Sigmund Freud tahun 1907; dalam tulisannya mengenai interpretasi mimpi, Jung mendapat konfirmasi (pengesahan) atas penyelidikannya sendiri.

Jung biasanya dipandang sebagai seorang murid, dan dimata pengikut dari Sekolah Freud (Freudian School), Jung dianggap sebagai murid yang telah mengingkari agama. Akan tetapi ini sama sekali tidak benar. Bahkan walaupun Jung menyokong ide-ide dan metoda-metoda Freud dalam tahun-tahun kerja sama mereka yang membangkitkan semangat dan membawa hasil, namun banyak konsep fundamental dari ajarannya sendiri dapat ditemuinya beberapa tahun sebelum bertemu dengan Freud. Terlebih lagi periode kerja sama mereka berlangsung hanya dari tahun 1907-1913. Perbedaan-perbedaan dalam titik tolak psikologis dan seluruh pandangan dunia segera menjadi jelas. Jung dua puluh tahun lebih muda dari Freud; karena kepribadian Jung yang kuat dan mempunyai kehendak sendiri, akhirnya hubungan bapak-anak tidak dapat bertahan lama. Jung sendiri juga tidak dapat menganuti banyak doktrin Freud seperti teori tentang pemenuhan keinginan atau seksualitas infantile. Terutama sekali Jung menentang prinsip-prinsip analitis Freud yang dalam pandangannya terlalu berat sebelah, terlalu konkret, dan personalistis. Jung juga membantah pandangan Freud tentang karakter anak yang bersifat polymorphous-perverse (yang belum mempunyai satu bentuk tertentu dan bersikap tidak wajar) sambil mengemukakan konsepnya sendiri tentang suatu disposisi yang polyvalent. Disposisi polyvalent ini tidak didominir oleh prinsip kenikmatan (lust-prinzip) dan juga tidak didominir oleh suatu keinginan untuk diterima, melainkan lebih memperlihatkan kecenderungan khusus fantasi anak untuk membuat suatu “interpretasi simbolis lebih daripada satu tafsiran ilmiah rasional”; fantasi simbolis anak adalah aktivitas natural dan spontan yang menurut Jung bukan merupakan hasil dari penekanan saja (repression).

Sesudah memberi kuliah di Amerika Serikat bersama dengan Freud tahun 1911, Jung menghentikan karirnya sebagai penerbit dari majalah Jahrbuch fur psychologische und psychopathologische Forschungen (Yearbook for Psychological and Psychopathological Research), yang telah didirikan oleh Bleuler dan Freud. Jung juga berhenti sebagai ketua dari Perkumpulan Psikoanalitis Internasional (“International Psychoanalytic Society”) yang mana Jung sendiri dirikan, dan masih merupakan organisasi professional Freudian (Pengikut Freud). Jung menjelaskan pandangan-pandangan baru yang berbeda dengan pandangan Freud dalam buku-bukunya yang mungkin paling terkenal dari semua buku Jung yaitu Symbole und Wandlungen der Libido (1912; Synbols and Transformation of the Libido). Kemudian diterbitkan lagi dengan judul Symbole and Wandlung (1952; Symbols of Transformation). Dengan bantuan bahan fantasi dari seorang gadis dalam tahap-tahap permulaan schizophrenia. Jung berusaha menyingkapkan arti simbolis isi dari alam ketaksadaran dan menginterpretasinya dengan parallel-paralel yang diambil dari bidang sejarah dan mitologi. Kemudian keterpisahannya dari Freud tak dapat dielakkan lagi. Untuk bisa membedakan ajarannya dari sekolah-sekolah yang lain itu, Jung memberinya nama “Psikologi Analitis” (analytical psichology) , yang berbeda dengan psikoanalisa Freud dan psikologi individual Alfred Adler.

Dalam tahun 1909, Jung berhenti dari pekerjaanya di Burgholzli, dan tahun 1913 melepaskan jabatannya sebagai dosen pada Universitas Zurich yang telah dipegangnya sejak tahun 1905. Jung makin lama makin menjadi lebih terpikat untuk studi tentang symbol-simbol mitologis dan symbol-simbol religious. Pada awal pecahnya Perang Dunia I, mulailah suatu periode introspeksi yang tergabung dengan penyelidikan empiris, suatu periode kosong (belum ada publikasi) yang berakhir sampai diterbitkannya Psychological Types tahun 1921. Dalam karyanya ini, Jung membedakan posisinya dari Freud dan meletakkan dasar psikologi analitis. Dalam tahun 1920, Jung pergi ke Tunisia dan Algeria; dari tahun 1924-1925 ia menyelidiki orang Indian Pueblo di New Mexico dan Arizona dan dalam tahun 1925-1926 ia menyelidiki penduduk-penduduk Mount Elgon di Kenya. Jung terutama berminat dalam mencari analogi antara isi dari alam ketaksadaran dalam manusia Barat dan mite-mite, kultus-kultus, dan ritus-ritus manusia primitive. Ia melakukan beberapa perjalanan ke Amerika Serikat dan dua kali mengunjungi India (yang terakhir kali tahun 1937). Simbol-simbol religious dari Hinduisme dan Budhisme, khususnya ajaran dari Budhisme Zen dan filsafat Konfusius, memainkan peranan penting dalam penyelidikan psikologisnya.

Pada tahun 1948, Institut C.G. Jung didirikan di Zurich untuk meneruskan ajarannya dan sebagai pusat latihan bagi analisis-analisis. Karyanya dilanjutkan di Inggris oleh “Society of Analytical Psychology” (Perkumpulan Psikologi Analitis), dan dia beberapa perkumpulan lain di New York, San Francisco, dan Los Angeles, serta di beberapa negara Eropa.

Jung adalah ketua Perkumpulan Swiss untuk Psikologi Praktis, yang didirikannya tahun 1935. Tahun 1933-1942 ia menjadi professor pada Federal Technical College di Zurich, dan pada tahun 1949 menjadi professor psikologis medis di Basel. Ia menerbitkan majalah Zentralblatt fur Psychotherapie und ihre Grenzgebiete (Central Journal for Psychoterapy and Related Fields) dari tahun 1933-1939. Jung meninggal di Kusnacht di Danau Zurich pada tanggal 6 Juni 1961.

Ketika ditanya tentang data biografinya, Jung menegaskan bahwa ia hanya mempunyai “kehidupan batin saja” (He has an inner life). Segala sesuatu yang ia alami dalam dunia luar menjadi sebuah pengalaman pribadiah.

Psikologi Analitis

Individuasi adalah inti ajaran Jung: Individuasi adalah kemungkinan yang terdapat dalam species-species manusia dan pada setiap orang dengan mana psike individual dapat mencapai perkembangan yang lengkap dan utuh. Proses individuasi berpangkal dari keseluruhan psike, suatu organism yang bagian-bagian individualnya dikoordinir oleh system relasi komplementer dan saling mengimbangi dan memperkembangkan kematangan kepribadian. Jung menekankan pentingnya fungsi religious dari psike. Penekanan relasi fungsi religious ini dapat membawa gangguan psikis, sedangkan perkembangan religious adalah satu komponen integral dari proses individuasi.

`Jung menganggap neurosis bukan hanya sebagai satu gangguan, tetapi juga sebagai satu dorongan hati yang penting untuk meluaskan kesadaran yang terlalu sempit dan karena itu sebagai stimulus bagi pendewasaan yang terlambat, yang berarti dorongan untuk menjadi sembuh. Dari sudut pandang positif ini, suatu gangguan psikis dianggap bukan sebagai satu kegagalan, keadaan sakit, atau perkembangan yang terhenti, tetapi sebagai suatu dorongan menuju realisasi diri dan keutuhan, yang untuk sementara waktu dihalangi.

Metoda terapi dari Jung berbeda dengan metoda Freud. Si analis tidak selalu tinggal pasif tetapi sering kali memainkan sebuah peranan aktif. Tafsirannya atas mimpi-mimpi dibuatnya dengan tingkat (level) yang berbeda. Lebih daripada asosiasi bebas, Jung menggunakan apa yang ia namakan “Amplifikasi” (perluasan), ini berarti suatu asosiasi yang terarah, yang mempergunakan motif-motif dan simbol-simbol dari sumber-sumber lain untuk mengerti isi mimpi itu.

Jung memperkenalkan konsep alam ketaksadaran kolektif. Isi dari alam ketaksadaran kolektif adalah apa yang dinamakan arketipe-arketipe. Arketipe-arketipe adalah bentuk-bentuk pembawaan lahir dari psike, pola dari kelakukan psikis yang selalu ada secara potensial sebagai kemungkinan, dan apabila diwujudkan, nampak sebagai gambaran spesifik. Sebab dalam psike manusia tergabung sifat-sifat khas yang umum, yang ditentukan oleh species-species manusia, ras, bangsa, keluarga, dan mental zaman dengan sifat-sifat khas, unik, dan personal. Sebab itu fungsi natural dari psike ini hanya dapat diperoleh dari hubungan timbal-balik dua alam ketaksadaran (personal dan kolektif), dan relasi mereka dengan alam kesadaran.

Jung juga memperkenalkan teori yang terkenal mengenai tipe-tipe. Ia membedakan antara tingkah laku ekstrovert dan introvert menurut sikap individu terhadap obyek.

Bidang-bidang Studi yang lain

Penelitian Jung diperluas ke bidang-bidang yang rupanya tidak ada hubungannya dengan psikologi. Dalam percobaan-percobaan alkimia abad pertengahan untuk mengubah inti logam, ia melihat satu proyeksi dari proses penghalusan batin yang analog dengan perubahan bentuk yang disebabkan oleh proses individuasi. Studinya mengenai yoga dan Gnostisisme membawa dia kepada penemuan paralel-paralel yang interesan dalam psike, setelah tersentuh/tercapai lapisan arkais/yang paling mendalam. Penyelidikannya dalam para-psikologi juga membuka horizon-horizon baru. Beberapa fenomen tidak dapat dijelaskan secara ilmiah, seperti telepati, clairvoyance (tukang tenung/sihir), dan mujijat-mujijat yang jelas, yang diistilahkannya “gejala-gejala sinkronis” (Synchronistic phenomena). Gejala-gejala ini oleh Jung didefinisikan sebagai koinsiden yang bersifat kebetulan tetapi “berarti/penuh dengan arti” (meaningful), antara peristiwa batin misalnya (mimpi, premosi/pertanda, penglihatan, keadaan batin) dengan satu peristiwa lahiriah dan real. Koinsiden ini terjadi entah dalam waktu sekarang atau dalam waktu yang baru lewat atau dalam waktu yang akan datang. Kedua macam peristiwa ini (yang batiniah dan yang lahiriah) tidak mempunyai hubungan kausal. Gejala sinkronis ini disebut pengetahuan langsung yang “rupanya ada lebih dulu” (apparently-pre-existent) dalam alam ketaksadaran.

Arti dari Psikologinya

Perbedaan antara psikoanalisa Freud dan psikoanalitis Jung diwarnai oleh dua abad yang pada titik pertemuannya melahirkan dua system psikologis yang berbeda. Freud membongkar ideal-ideal dari periode Victorian (yang bersifat munafik ) dan menyoroti dengan terang pada bagian bawah dari periode dengan memperlihatkan “kemesuman” (filth) yang telah ditekan ke dalam alam ketaksadaran. Meskipun penyelidikannya tentang alam ketaksadaran psike personal, ia toh tetap terikat pada materialism dan rasionalisme dari zaman yang terdahulu. Daya irasional tiba-tiba muncul sejak peralihan zaman, dan mewujudkan diri sendiri dalam dua perang dunia, yang sekarang mengancam dunia dengan teror-teror yang tidak dapat dibayangkan. Justru daya irasional ini dapat dijelaskan dalam teori-teori Jung. Ia menunjukkan daya irasional ini sebagai kekuatan asli yang tidak personal atau superpersonal yang mana muncul dari alam ketaksadaran kolektif yaitu dasar dari kehidupan psikis, sebagai jin-jin gelap dari mitologi.

Jung menulis “Saya yakin bahwa penyelidikan mengenai psike merupakan ilmu yang paling penting dalam masa depan ….. Itu adalah ilmu yang sangat kita butuhkan sebab berangsur-angsur menjadi jelas bahwa bahaya yang terbesar bagi manusia adalah bukan kelaparan, bukan pula gempa bumi, bukan juga kuman-kuman, bukan kanker, tetapi manusia itu sendiri ……”

Karya-karyanya

Hasil karya Jung sangat banyak jumlahnya, kira-kira dua ratus karangan. Satu edisi dari semua karyanya (Collected Works) dalam terjemahan bahasa Inggris sekarang sedang diterbitkan oleh Bollingen Foundation di New York dan Routledge juga Kegan Paul di London.

Judul-judul dari volume-volume adalah sebagai berikut: Psychiatric Studies, Experimental Researches (Penelitian-penelitian Eksperimental), Psychogenesis and Mental Disease, Freud and Psychoanalisis (Freud dan Psikoanalisa), Symbol of Transformation, Psychological Types, Two Essays on Analytical Psychology, The Structure and Dinamics of the Psyche, The Archetypes and the Collective Unconscious and Aion (two parts), Civilization in Transition, Psychology and Religion, West and East, Psychology and Alchemy, Alchemical Studies, Mysterium Conjunctions, The Spirit in Man, Art and Literature, The Practice of Psychotherapy, The Development of Personality.

Beberapa volume tambahan memuat seminar-seminar ekstensif dari Jung. Kita juga harus menyebutkan karya-karya yang dipublisir dalam kerjasama dengan orang lain: ahli kebudayaan Cina (sinologist) Richard Wilhelm, The Secret of the Golde Flower; ahli mitologi Karl Kerenyi, Essays on a Science of Mythology; ahli fisika Wolfgang Pauli, Interpretation of Nature and Psyche.(*)

* Terjemahan dari bahas Jerman ke dalam bahasa Inggris: R.F.C. Hull. Diterjemahkan dari: Collier’s Encyclopedia, Vol.13, 1968. Terjemahan Indonesia oleh Thoby M. Kraeng.

**Dari berbagai sumber, tim redaksi Galeri Buku Jakarta/ 2016.

Continue Reading

Journal

Albert Camus: Cinta dan Peradaban

mm

Published

on

Albert Camus Cinta dan Peradaban

DALAM DRAMA, novel, dan esei-eseinya, Albert Camus telah berupaya mencari jalan keluar dari kebuntuan intelektual – sebagai ujung dari nihilisme – yang sedang dihadapi generasi saat ini. Berulang-ulang ia bertanya: dengan nilai apa kita bisa bertahan di dalam era kekeringan spiritual? Dengan menyinkap ilusi-ilusi dan mempertanyakan semua kemutlakan, atas nama kemanusiaan, Camus menulis tentang cinta sebagai sebuah nilai yang tidak diberikan, tapi tumbuh di dalam sebuah situasi yang hidup.

Dalam The Myth of Sysyphus, Camus pertama kali menggali implikasi dari bunuh diri – untuk hidup atau tidak hidup. Sementara dalam The Rebel, buku yang menjadi rujukan tulisan berikut ini, Camus membahas topic tentang pembunuhan – untuk mempertahankan diri atau untuk tidak mempertahankannya. Sejumlah doktrin pemberontakan yang digagas Camus, memberikan kemungkinan untuk berharap, juga kemungkinan untuk memiliki rasa percaya diri bagi manusia dan masa depannya. “Camus percaya bahwa pemberontakan adalah salah satu ‘dimensi esensial’ dari umat manusia,” demikian tulis Sir Herbert Read pada pengantar buku itu. “Tidak ada gunanya menolak realitas sejarah – alih-alih menolak, dalam realitas itu, justru kita harus mencari sebuah prinsip keberaaan. Namun, cara-cara memberontak telah berubah secara radikal pada masa kita. Pemberontakan tidak lagi antara budak dengan tuannya, bukan pula antara si kaya dengan si miskin. Pemberontakan kini menjadi semacam revolusi metafisik, antara manusia dengan situasi hidupnya sendiri, manusia melawan penciptaannya sendiri. Setidaknya, inilah yang menjadi panduan intelektual Camus.”

Albert Camus adalah salah seorang penulis terbaik Prancis, dan pemenang Nobel Sastera. Novelnya antara lain The Stranger, The Plague dan The Fall. (Cetak ulang dari The Rebel, karya Albert Camus, edisi Vintage Books. Diterjemahkan oleh Anthony Bower. Hak cipta 1956 oleh Alfred A. Knopf, Inc. Perjanjian khusus dengan Alfred A. Knopf, Inc.)

 

Siapakah pemberontak itu? Seseorang yang berkata tidak, tapi penolakan itu tidak sepenuh hati. Ia juga seseorang yang berkata “iya”, tapi sejak pertama kali ia telah bergerak untuk memberontak. Seorang pemberontak adalah budak yang telah melakukan perintah tuannya seumur hidupnya, namun tiba-tiba menolak melakukan perintah yang baru. Lalu, apa yang sebenarnya dimaksud budak itu dengan mengatakan “tidak”?

Maksudnya, antara lain tergambar pada kalimat, “Ini sudah berlangsung terlalu lama”, “Sampai saat ini baiklah, tapi lebih dari ini, tidak.” “Kau sudah terlalu jauh,” atau, lagi-lagi, “Kesabaranku ada batasnya.” Dengan kata lain, kata “tidak” dari si pemberontak menegaskan batas kesabarannya. Konsep yang sama terdapat dalam perasaan si pemberontak, bahwa pihak lain yang ia berontaki “sudah keterlaluan,” bahwa pihak lain itu telah menggunakan kekuasaannya semena-mena dan mulai melanggar hak orang lain. Karena itulah gerakan pemberontakan biasanya sejalan dengan gangguan yang dialami pihak tertentu yang berpikir bahwa itu sudah tidak bisa ditolerir lagi.

Itu sebabnya si pemberontak mulai berpikir bahwa, “Ia punya hak untuk…” Pemberontakan tidak akan muncul  tanpa perasaan bahwa si pemberontak pasti benar. Dengan cara inilah budah pemberontak berkata iya atau tidak. Ia menekankan bahwa ada batas-atas, ia mencurigai – dan ingin memelihara — keberadaan hal-hal dalam batasan-batasan itu. Ia mencontohkan, dengan keras kepala, bahwa ada sesuatu dalam dirinya “yang berharga…” dan harus diperhitungkan. Dalam cara tertentu, ia menentang keteraturan dari hal-hal yang menindasnya dengan sebuah keteguhan bahwa hak-haknya tidak boleh dilanggar.

Dalam setiap aksi pemberontakan, si pemberontak muak atas pelanggaran hak-haknya dan merasa dirinya harus diperjuangkan. Karena itu ia membawa nilai-nilai yang mengandung rasa tidak puas dan siap untuk memperjuangkannya, apapun resikonya. Sebelum perasaan itu muncul ia telah lama diam dalam keputusasaan, ia menerima sebuah keadaan, meski ia tahu itu tidak adil. Diam memberikan kesan bahwa seseorang tidak punya opini, dan tidak mengingkan apa-apa. Keputusasaan – memiliki segala hasrat secara umum, sekaligus tidak memiliki hasrat secara khusus. Diam memperlihatkan hal ini.

Namun, pada detik-detik ketika sang pemberontak menemukan suaranya – walaupun hanya berkata “tidak” – ia mulai menginginkan dan mulai menilai. Ia melakukan hal yang berkebalikan dari dirinya sendiri. Ia yang biasanya bekerja karena cambukan tuannya tiba-tiba berbalik dan melawan, untuk mendapatkan pilihan. Tidak semua nilai diikuti oleh pemberontakan, tapi setiap pemberontakan selalu membawa nilai. Atu apakah ini benar-benar pertanyaan tentang nilai?

Kesadaran, betapapun ia membingungkan, berkembang dari setiap aksi pemberontakan yang secara tiba-tiba mengguncangkan persepsi bahwa ada sesuatu di dalam diri manusia yang dapat mengidentifikasi dirinya, walaupun hanya sesaaat. Sampai saat ini diidentifikasi itu belum benar-benar dialami. Sebelum memberontak, seorang budak menerima semua perintah yang diberikan kepadanya. Sangat sering ia melaksanakan perintah, tanpa reaksi perlawanan, walaupun perintah itu lebih patut untuk dilawan daripada dilaksanakan. Ia menerima perintah dengan sabar, walaupun hatinya menolak, ia tetap diam karena ia lebih berpikir tentang kebutuhannya, ketimbang hak-haknya. Tapi dengan memudarnya kesabaran, sebuah reaksi – yang berlawanan dengan apa yang ia lakukan selama ini – bisa muncul. Si budak mulai menolak perintah memalukan dari tuannya, dan secara perlahan-lahan ia menolak perbudakan. Aksi itu bisa berkembang lebih jauh dari sekedar penolakan. Ia juga menolak hirarki yang membatasinya dengan majikan, dan meminta diperlakukan sebagai orang yang setara.

Apa yang pada awalnya hanya perlawanan satu orang, lalu berubah menjadi perlawanan semua orang, meningkatkan gairah perlawanan. Bagian dari dirinya yang ingin dihormati diposisikan di tempat yang paling tinggi dari segalanya, dan menganggapnya lebih penting dari segalanya, bahkan dari hidupnya sendiri. Baginya, bagian itu merupakan kebaikan yang paling mutlak. Lalu, ketika diperlukan sebuah kompromi, si budak tiba-tiba memutuskan (“karena inilah yang harus terjadi…”) untuk mengatakan semua atau tidak sama sekali. Maka, dengan pemberontakan, kesadaran dilahirkan.

Tapi, kita bisa melihat bahwa pengetahuan yang diperoleh dari “semua” masih belum jelas ketimbang “tidak sama sekali”, menegaskah bahwa si pemberontak akan berkorban untuk “semua” yang belum jelas itu. Si pemberontak ingin menjadi “semau” – untuk mengidentifikasi dirinya dengan kebaikan yang baru saja ia sadaridan ia mengingkan orang lain mengetahuinya – atau “tidak sama sekali”. Dengan kata lain, ia rela dihancurkan oleh kekuatan yang menguasainya. Ia mau menerima kekalahan terakhir, yaitu kematian, daripada hidup tanpa identitas – misalnya  tanpa kebebasan. Lebih baik mati di atas kaki sendiri daripada hidup di bawah kaki orang lain.

Nilai-nilai, menurut para ahli, “sebagian besar sering mewakili sebuah transisi dari fakta-fakta mejanjadi hak-hak, dari apa yang diinginkan menjadi apa yang bisa diraih (biasanya melalui perantara dari apa yang lumrah dianggap dapat diraih).” Transisi dari fakta-fakta menjadi hak-hak termanisfestasikan – sebagaimana telah kita bahas – dalam pemberontakan. Begitu pula transisi dari “seharusnya ini memang terjadi” menjadi “bagaimana sesuatu harus terjadi.” Terlebih lagi, ide tentang sublimasi bagi seseorang dalam pemberontakan bisa menjadi kebajikan universal. Konsep “semua atau tidak sama sekali” yang muncul tiba-tiba, menunjukkan bahwa pemberontakan, berlawanan dengan opini saat ini, dan walaupun ia muncul karena aksi yang paling individualistik, sesungguhnya ia mempertanyakan tentang arti dari individual.

Jika seorang individu menerima kematian sebagai konsekuensi dari tindakan pemberontakannya, maka dengan tindakan ia mencotohkan bahwa ia bersedia mati demi kebaikan banyak orang – yang dipercainya lebih penting daripada takdir sendiri. Jika ia memilih mati daripada mengabaikan hak-hak yang ia bela, itu karena ia menganggap hak-hak itu lebih penting daripada dirinya sendiri. Itu sebabnya ia bertindak atas dasar nilai-nilai yang belum pasti – tapi dipercayinya ada di dalam dirinya dan diri setiap orang. Kita melihat bahwa ada semaca afirmasi tersembunyi atas sebuah aksi pemberontakan yang meluas hingga melampaui sekedar aksi individual hingga ia menjauh dari lelaku keseorangan dan menjauh pula dari aksi yang didasarkan pada sebuah alasan.

Namun, perlu dicatat bahwa konsep dari nilai-nilai yang belum terbukti itu bertentangan dengan kemurnian filsafat sejarah – di mana nilai-nilai baru diperoleh (jika memang pernah diperoleh) setelah aksi dilakukan. Analisis terhadap pemberontakan membawa kita pada sebuah kecurigaan yang berbeda dengan pemikiran kontemporer, bahwa pemberontakan adalah tabiat alamiah manusia seperti yang dipercaya oleh orang-orang Yunani. Kenapa harus memberontak jika tidak ada sesuatu yang permanen yang bisa dipelihara dalam diri seseorang? Adalah untuk kebaikan semua orang di dunia bahwa seorang budak menegaskan dirinya setelah ia sampai pada kesimpulan bahwa sebuah perintah telah memenjarakan sesuatu di dalam dirinya, yang bukan miliknya, tapi milik semua manusia – bahkan manusia  yang menghina dan menekannya.

Dua observasi akan mendukung argument ini. Pertama, kita dapat melihat bahwa aksi pemberontakan bukan – secara esensial – sebuah laku egois. Tentunya, ia bisa memiliki motif yang egoistik, tapi orang dapat memberontak sama baiknya dengan perlawanan terhadap penjajahan. Lebih-lebih pemberontak yang tidak memiliki apapun tapi mempertaruhkan segalanya. Ia ingin kehormatan untuk dirinya sendiri, tentunya bila ia mengidentifikasi dirinya untuk memperjuangkan sebuah kelompok masyarakat. Kedua, kita memperhatikan bahwa pemberontakan tidak semata-mata muncul di antara kaum tertekan, tapi dapat pula muncul karena orang lain diperlakukan sebagai kaum yang tertekan. Dalam kasus seperti ini ada perasaan yang sama dengan orang lain. Dan harus ditegaskan bahwa ini bukan identifikasi psikologis – perasaan pura-pura bahwa si pemberontak mengidentifikasi penyiksaan orang lain sebagai penghinaan terhadap dirinya. Sebaliknya, ini sering terjadi karena kita tidak bisa menerima penyiksaan terhadap orang lain yang seringkali dilakukan kepada kita – tapi kita tidak memberontak.

Sejumlah aksi bunuh diri yang dilakukan teroria Rusia di Siberia sebagai protes atas kamerad-kameradnya yang dicambuk dapat menjadi contoh. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan perasaan yang menyangkut kepentingan sebuah komunitas. Ketidakadilan yang dilakukan terhadap orang-orang yang kita anggap sebagai musuh sebenarnya dapat menjadi senjata untuk  melawan kita sendiri.  Maka, seorang indivvidu – di dalam dirinya sendiri – tidak memiliki nilai-nilai yang ingin ia bela. Setidaknya dibutuhkan sebuah tata kemanusiaan, untuk melakukannya. Saat memberontak, seseorang mengidentifikasi dirinya dengan orang lain, dan karena itu ia melampui dirinya sendiri. Dari titik ini, pandangan tentang solidaritas manusia menjadi metafisik. Tapi, untuk saat ini, kita hanya membicarakan solidaritas yang timbul karena pengekangan.

Akan sangat mungkin bagi kita untuk mendefinisikan aspek-aspek positif dalam setiap aksi pemberontakan dengan menbandingkannya dengan konsep-konsep yang negatif seperti dendam sebagaimana dikemukakan Scheler. Pemberontakan, dalam kenyatannya, lebih kepada usaha pencapaian suatu klaim, dalam arti yang paling kuat dari kata itu. Dendam didefinisikan dengan sangat bagus oleh Scheler sebagi autointoksikasi (peracunan diri sendiri)—kejahatan terselubung, di dalam peti yang tersegel, dari ketidakmampuan yang diperpanjang terus-menerus. Sebaliknya, pemberontakan menghancurkan segel itu dan mengizinkan seluruh kemampuan ikut berperan. Ia membebaskan air yang tenang dan mengubahnya menjadi amukan badai. Scheler sendiri menekankan aspek pasif dari dendam dan mencontohkan tempat di mana dendam bersemayam dalam psikologi perempuan, yang terdedikasi untuk menginginkan dan memiliki.

Hulu dari sungai pemberontakan, sebaliknya, adalah prinsip kelebihan aktivitas dan energi. Scheler benar bahwa dendam seringkali diwarnai oleh dengki. Bila dendam adalah kedengkian atas sesuatu yang dimiliki, maka pemberontakan adalah pembelaan terhadap sesuatu yang dimiliki itu. Ia tidak mengklaim barang-barang yang tidak dan ingin ia miliki. Tujuannya yang hanya untuk mendapatkan pengakuan atas sesuatu dimiliki itu—di hampir semua kasus—lebih penting daripada apapun yang bisa ia dengkikan. Pemberontakan tidaklah realistis. Menurut Scheler, dendam aka berakhir dengan ambisi tak terwujud, atau kepahitan, baik dendam orang lemah ataupun orang kuat sekalipun. Dalam kasus apapun, dendam adalah sebentuk keinginan untuk menjadi sesuatu yang bukan dirinya sendiri. Sebaliknya, pemberontak, sejak dari langkah pertamanya, menolak orang lain untuk mengubah dirinya. Ia bertarung demi integritas sebuah bagian dari keberadaannya. Tujuan utamanya bukan untuk menguasai, tapi untuk diakui.

Yang terakhir, di sini dendam terlihat mendapatkan kepuasan dengan rasa sakit yang dialami oleh objeknya Nietzsche dan Scheler benar dalam melihat contoh tentang hal ini, di mana seorang Tertulian menginformasikan kepada pembacanya bahwa salahsatu sumber kebahagiaan dari orang yang diberkati adalah dengan melihat orang-orang dari kerajaan Roma dibakar oleh api neraka. Kebahagiaan semacam ini juga dirasakan orang-orang biasa yang pergi melihat eksekusi terpidana mati. Pemberontak, sebaliknya—atas dasar prinsip—bahkan rela mengalami rasa sakit asal integritasnya dihormati.

Karena itu, sulit dimengerti mengapa Scheler menyamakan pemberontakan dengan dendam. Kritiknya terhadap dendam yang dapat ditemukan dalam humanitarianisme—yang ia perlakukan sebagai bentuk non-Kristen dari cinta terhadap umat manusia—mungkin dapat ditempatkan ke dalam bentuk-bentuk tak nyata dari idealism humanitarian, atau pada teknik-teknik teror. Tapi, dendam itu membentuk hubungan palsu antara pemberontakan seorang manusia terhadap keadaannya—semacam kekuatan yang menggerakan seseorang dalam pemelaan terhadap harga diri yang sama bagi semua manusia. Schler ingin mencontohkan bahwa perasaan-perasaan humanitarian selalu disertai oleh kebencian terhadap dunia. Kemanusiaan dicintai secara umum untuk dapat menghindar dari mencintai seseorang secara khusus. Dalam beberapa kasus, ini benar. Dan, lebih mudah untuk mengerti Scheler ketika kita menyadari bahwa gagasan itu muncul dari humanitariansme yang diwakili oleh Betham dan Rousseau.

Tapi cinta manusia terhadap manusia lainnya juga bisa lahir dari hal-hal lain selain dari kalukulasi matematis, atau kesadaran teoritis yang alamiah dari manusia. Sebagai contoh, di wajah utilitarianisme, dan pemikiran Emile ada sejenis logika—sebagaimana yang diperlihatkan oleh Dostovesky dalam karakter Ivan Karamazov—yang berkembang dari tabiat pemberontakan menjadi sebuah kudeta. Scheler menyadari gejala ini dan merancang sebuah konsep yang tergambarkan dengan kalimat: “Tidak ada cinta terhadap sesuatu yang cukup memadai di dunia ini selain cinta terhadap kemanusiaan.” Walaupun pernyataan itu benar, keputusasaan yang dihadirkan oleh Scheler akan berujung menjadi ketiadaan, dan akan menimbulkan kesalahpahaman terhadap karakter pemberontakan Ivan Karamazov. Drama Ivan, sebaliknya, timbul dari kenyataan bahwa terlalu banyak cinta tanpa objek. Cinta seperti ini bahkan bisa menolak Tuhan dan menghasilkan apapun. Karena itulah diputuskan untuk menjatuhkan cinta kepada umat manusia sebagai laku dermawan yang penuh pujian.

Terlebih lagi, laku pemberontak yang telah kita bahas, tidak muncul atas dasar pencapaian keinginan murni. Sementara kita bersikeras bahwa bagian dari diri manusia yang tidak bisa dikurangi menjadi ide-ide yang harus dipertimbangkan—sisi keinginan alamiah yang menggerakkan sebuah aksi yang hidup. Apakah ini berarti tidak ada pemberontakan yang dimotivasi oleh dendam? Tidak, dan kita sudah mengetahui hal ini sejak awal perasaan benci itu muncul. Namun, kita harus memikirkan bahwa ide pemberontakan, dalam arti luas, mengandung rasa sakit jika kita mengkhiantinya. Dengan demikian, pemberontakan jauh melebihi dendam.

Ketika Heathcliff—dalam Wuthering Heights—mengatakan bahwa cintanya melebihi cinta pada Tuhan dan rela pergi ke neraka untuk menyatu dengan perempuan yang dicintainya. Ia tidak didorong cinta masa muda atau rasa malunya, tapi oleh pengalaman seumur hidupnya. Emosi yang sama menyebabkan Eckhart—dalam sebuah perilaku kemurtadan, bahwa baginya lebih baik pergi ke neraka bersama Yesus daripada pergi ke surge tanpa-Nya. Ini esensi utama dari cinta. Bertola belakang dengan Scheler yang menegaskan tidak mungkin untuk terlalu menekankan tujuan penuh hasrat yang mendasari sebuah pemberontakan dan membedakannya dari dendam. Pemberontakan, meskipun terlihat negative, karena tidak menciptakan apapun, menjadi positif karena tidak menciptakan apapun, menjadi positif karena ia mempertahankan sebuah bagian di dalam diri manusia.

Di Luar Nihilisme

Karena itulah, cara bertindak dari cara berfikikir—yang memperlihatkan bagaimana manusia mengada—dimungkinkan naik ke level yang lebih moderat dari sekedar yang dimilikinya. Setiap perilaku yang lebih ambisius dari ini terbukti bertentangan. Kemutlakan tidak menjadi tujuan dan tidak diciptakan oleh sejarah. Politik bukanlah agama, atau jika iya, itu tidak lebih dari sekadar inkuisisi. Bagaimanakah masyarakat mendefinisikan kemutlakan? Mungkin setiap orang yang mencari kemutlakan itu karena ia di atas segalanya. Tapi masyarakat dan politik hanya bertanggung jawab dalam mengatur setiap urusan, sehingga masing-masing individu bisa memperoleh kenikmatan dan kebebasan. Sejarah, karena itu, tidak dapat lagi dianggap sebagai objek pemujaan. Ia hanyalah sebuah kesempatan yang harus dibuat menjadi berarti oleh sebuah pemberontakan yang hati-hati.

“Obsesi terhadap hasil dan ketidaktertarikan mengulang sejarah,” tulis Rene Char, “adalah dua kutub ekstrim yang ssaya hormati.” Jika durasi sejarah tidak menghasilkan apapun, maka sejarah, akibatnya, tidak lebih dari seubah bayangan yang cepat dan kejam di mana manusia tidak ambil bagian. Orang yang mendedikasikan dirinya untuk mengulang sejarah sama dengan mededikasikan diri kepada kekosongan, dan karenanya ia tidak menjadi apapun. Tapi orang yang mendedikasikan dirinya untuk masa hidupnya, untuk rumah yang ia bangun, untuk kehormatan umat manusia, sama dengan mendedikasikan diri pada bumi dan karenanya, akan mendapatkan panen dari benih yang ia tanam. Akhirnya, orang yang ingi tahu bagaiman cara memberontak, pada saat yang tepat, melawan masa lalu yang melampaui kepentingannya. Melawan sejarah dapat menimbulkan kesedihan dan tekanan berat sebagaimana telah dibicarakan pula oleh Rene Char. Tapi hidup yang sesungguhnya hadir dalam jantung dikotomi ini. Bahkan hidup adalah dikotomi ini sendiri. Pikiran yang menyeruak dari gunung merapi cahaya, kegilaan pada keadilan dan tuntutan terhadap perubahan.

Kearifan masa kini, dalam bentuk apapun, tidak dapat mengklaim lebih. Pemberontakan yang tanpa lelah melawan kejahatan, dapat melahirkan sebuah perubahan. Manusia dapat menguasai dirinya sendiri dan mengendalikan semua yang dapat dikuasainya. Ia harus menyempurnakan semua yang dapat disempurnakan. Setelah itu, anak-anak tetap akan mati secara tidak adil, bahkan dalam tatanan masyarakat yang sudah sempurna. Meski dengan usaha yang paling keras, manusia hanya dapat mengurangi penderitaan-penderitaan di dunia ini secara aritmatik. Ketidakadilan dan penderitaan akan tetap ada, dan bagaimanapun itu dibatasi, tetap akan menjadi sasaran amuk. Dimitri Karamazov berteriak, “Kenapa?” dan teriakannya akan terus terdengar. Seni dan pemberontakan akan mati hanya dengan matinya manusia terakhir di dunia ini.

Ada sebuah kejahatan—tidak diragukan lagi—yang terakumulasi karena keinginan manusia untuk bersatu. Tapi, ada kejahatan lain yang berakar di dalam gerakan yang tidak dapat ditebak. Berhadapan dengan kejahatan, kematian, manusia—dari hatinya yang paling dalam—akan berteriak untuk keadilan. Sejarah Kristen hanya akan menjawab protes terhadap kejahatan itu dengan janji akhirat dan kehidupan abadi—yang membutuhkan keimanan. Namun, penderitaan memupuskan harapan dan iman, lalu membiarkan manusia sendirian, sehingga penderitaan itu menjadi tidak terjelaskan. Umat yang bekerja keras dan tanpa henti, lelah oleh penderitaan dan kematian, adalah umat tanpa Tuhan. Karena itulah kita harus bersama mereka.

Sejarah Kristen menunda sebuah fase yang berkaitan dengan sejarah kejahatan dan pembunuhan. Materialism kontemporer juga memercayi bahwa para penganutnya bia menjawab segala macam pertanyaan. Tapi sebagaii budak sejarah, ia menambah jumlah pembunuhan, dan pada saat yang sama meninggalkannya tanpa penjelasan, kecuali untuk masa depan—yang lagi-lagi tergantung pada iman. Dalam kedua kasus di atas, orang-orang mesti menunggu, dan selama menunggu itu manusia-manusia tak bersalah terus meneruh mati. Selama 20 abad jumlah total kejahatan di dunia tidak berkurang. Tidak ada surga, baik dari Tuhan ataupun yang secara revolusioner bisa kita wujudkan. Sebuah ketidakadilan tetap terikat pada semua penderitaan, bahkan penderitaan yang paling pantas dijatuhkan sekalipun. Sikap diam Prometheus yang berkepanjangan terhadap kekuatan-kekuatan yang melampauinya terus bergema dalam protes. Tapi Prometheus, sementara itu, telah melihat manusia berlomba dan melindasnya. Ia terjepit di antara kejahatan manusia dan takdirnya, di antara terror dan ketidakpastian, yang memberikan kekuatan kepadanya untuk memberontak, menyelamatkan mereka dari pembunuhan, tanpa menyerah pada arogansi kemurtadan.

Lalu kita mengerti bahwa pemberontakan tidak mungkin ada tanpa cinta—dalam bentuknya yang asing itu. Mereka yang tidak menemukan ketenangan dengan penghambaan pada Tuhan atau tidak menemukan ketenangan dalam sejarah, lalu hidup bagi orang lain—yang seperti mereka—malah tidak bisa hidup, karena mereka hanya hidup untuk orang-orang yang dipermalukan. Karena itu, bentuk paling murni dari gerakan pemberontakan digambarkan oleh teriakan keras Karamazov: jika semua orang tidak terselamatkan, apa gunanya menyelamatkan diri sendiri? Maka, para tahanan Katolik—di dalam rumah tahanan di Spanyol—menolak misa karena para pendeta telah memutuskan misa itu sebagai kewajiban di beberapa penjara. Para saksi yang kesepian yang menyaksikan penyaliban orang-orang tak berdosa juga menolak penyelamatan jika itu harus dibayar dengan ketidakadilan dan penindasan.

Kedermawanan gila ini adalah kedermawanan pemberontakan, yang tanpa ragu-ragu memberikan kekuatan pada cinta dan tanpa sedikitpun penundaan untuk melawan ketidakadilan. Kebajikannya terlihat dengan ketiadaan perhitungan, rela menyerahkan apa saja yang dimiliki demi kehidupan semua orang. Ini adalah berkah yang diturunkan untuk umat di masa depan. Kedermawanan yang nyata di masa depan akan terlihat pada pemberian secara total terhadap masa kini.

Pemberontakan, dengan cara ini, membuktikan bahwa ia adalah sebuah geliat kehidupan dan ia tidak bisa ditolak, kecuali dengan menolak kehidupan itu sendiri. Sebuah pemberontakan menggiring manusia menuju eksistensinya. Pemberontakan adalah cinta, kemajuan, atau bukan apa-apa sama sekali. Revolusi tanpa kehormatan—revolusi yang dikalkulasikan dengan memilih antara konsep abstrak manusia atau tubuh nyata manusia—adalah sebuah gerakan yang menolak eksistensi manusia selama mungkin, dan menaruh dendam sebagai pengganti peran cinta. Pemberontakan yang tergesa, melupakan kedermawanan sebagai watak aslinya, membiarkan dirinya dinodai oeh dendam. Ia menolak kehidupan, melesat menuju kehancuran dan hanya melahirkan kelompok pemberontak yang tidak tangguh. Mereka semua adalah embrio budak, yang akan berakhir dengan menawarkan diri mereka untuk dijual di semua pasar di Eropa, untuk pelayanan dalam bentuk apapun.

Ini tidak lagi menjadi revolusi atau pemberontakan, tapi akan menjadi kebencian, kejahatan dan tirani. Ketika revolusi—atas nama kekuatan dan atas nama sejarah—berubah menjadi tindakan pembunuhan dan menolak perubahan, barulah pemberontakan muncul atas nama perubahan dan atas nama kehidupan. Saat ini kita sedang berada di antara kedua kutub itu. Di ujung terowongan itu kita bisa melihat secercah cahaya yang sudah kita percayai dan harus kita perjuangkan. Di antara reruntuhan, kita sedang mempersiapkan sebuah pencerahan di luar batas-batas nihilisme. Tapi hanya sedikit di antara kita yang mengetahuinya.

Dalam kenyataannya, pemberontakan—tanpa klaim—dapat memecahkan segala masalah, setidaknya berusaha menghadapi masalah itu. Sejak saat ini terik cahaya siang tidak lagi dapat menerangi arus deras sejarah. Dalam gejolak api yng membakar, bayangan-bayangan tentang perang tiba-tiba menyiksa manusia, lalu tiba-tiba menghilang, dan orang buta, dengan jari-jari menjepit kelopak mata mereka, meneriakkannya pada sejarah.

Orang-orang Eropa, telah ditinggalkan oleh bayangan-bayangan itu, kepala mereka telah berpaling dari titik bercahaya itu, juga berpaling dari masa kini. Masa kini dilupakan demi masa depan, nasib kemanusiaan ijual demi ilusi kekuasaan, kesedihan di kekumuhan demi kemegahan kota-kota abadi, keadilan demi sebidang tanah yang dijanjikan. Mereka juga melupakan keputusasaan mereka terhadap kebebasan pribadi dan mimpi tentang kebebasan yang asing dari sebuah spesies; menolak keterasingan dalam kematian dan memberi nama keabadian sebagai kesedihan kolektif. Mereka tidak lagi percaya pada hal-hal yang hidup di dunia, juga pada kehidupan manusia. Rahasia Eropa adalah ia tidak lagi mencintai hidup.

Orang-orang buta di kalangan mereka mempercayai bahwa untuk mencintai satu hari kehidupan cukup dengan menjustifikasi keseluruhan abad penindasan. Karena itulah mereka ingin menghilangkan kebahagiaan dari dunia dan menundanya hingga beberapa saat kemudian. Ketidaksabaran pada batas-batas, penolakan terhadap sisi ganda dari hidup mereka, dan keputusasaan  menjadi manusia, telah mebuat mereka berlebih-lebihan dan tidak manusiawi. Untuk menolak kenikmatan hidup yang sebenarnya, mereka harus mempertaruhkan semua kebaikan mereka. Untuk melakukan hal yang lebih baik, mereka mendewakan diri sendiri, dan ketidakberuntungan mereka pun dimulai; dewa-dewa itu telah membutakan mata mereka. Sebaliknya, Kaliyev, dan saudara-saudaranya di seluruh dunia, menolak untuk didewakan dan menolak kekuasaan tak terbatas untuk melawan kematian. Mereka memilih, dan memberikan contoh kepada kita perihal bagaimana kehidupan hari ini mesti dijalani, yakni untuk belajar hidup dan belajar mati, dan untuk menjadi manusia, menolak menjadi dewa.

Sampai di titik ini, si pemberontak menolak kedewaan demi membagi perjuangannya dengan takdir seluruh umat manusia. Kita akan memilih Ithaca, tanah keianan, dengan mempertaruhkan semuanya, dengan pemikiran yang mengejutkan, aksi nyata, dan kedermawanan dari orang-orang yang mengerti. Saudara-saudara kita bernapa di bawah langit yang sama dengan kita. Keadilan adalah hidup itu sendiri. Kini, telah lahir kegirangan baru yang dapat membantu seseorang, hidup dan mati, dan tidak akan kita pernah lagi menundanya hingga waktu yang akan dating. Di atas bumi yang sedih ada duri-duri yang tak pernah beristirahat, cairan pahit, angina laut yang kasar, fajar lama dan baru. Dengan kegembiraan ini, melalui perjuangan panjang, kita akan menciptakan kembali ruh bagi zaman ini, dan Eropa tidak akan menciptakan kembali ruh bagi zaman ini, dan Eropa tidak akan mengenyampingkan apapun. Tidak pula Nietzsche si hantu—yang setelah 20 tahun sejak kejatuhannya—tetap mempengaruhi Barat dengan pengetahuannya yang mengagumkan, juga nihilismenya. Tidak juga nabi keadilan tanpa belas kasih yang hadir—karena kesalahan, dalam rencana orang-orang tak beriman—dipemakaman Highgate. Tidak juga mumi yang didewakan. Tidak juga bagian manapun dari kecerdasan dan energy Eropa yang telah menjadi kebanggaan, padahal sesungguhnya tak pantas dibanggakan. Semuanya dapat hidup kembali secara berdampingan dengan martir pada 1905, dengan syarat mereka saling membenarkan satu sama lain, dan itulah sebuah batas, di bawah matahari, yang mengendalikan semuanya. Satu sama lain saling mengatakan bahwa ia bukan Tuhan. Inilah akhir dari romantisisme. Kini, kita harus menarik busur guna melesatkan anak panah menuju sasaran baru, untuk menguasai kembali—baik di dalam maupun karena sejarah—apa yang sesungguhnya sudah kita miliki, cinta yang singkat di bumi ini, di zaman ini. Busur dikekang; kayu menegang. Pada ketegangan tinggi, akan melesatkan sebuah anak panah yang kokoh dan bebas. (*)

Continue Reading

Classic Prose

Trending