Connect with us

Buku

Seperti Para Penyair Seperti Juru Kunci Sepi di Jantung Keramaian

mm

Published

on

Damhuri Muhammad*

Nama Bagi Kesenyapan

Dalam keramaian abad digital yang mustahil dihindari, dengan apa sebaiknya kesepian dinamai? Inilah pertanyaan pembuka yang hendak saya ajukan setelah membaca 66 sajak karya Sabiq Carebesth yang dibuhulnya dengan tajuk Seperti Para Penyair. Adapun yang saya sebut “keramaian” dalam hal ini adalah lalu-lalang kelisanan yang terus merajalela di dunia maya sejak fajar mulai menyingsing, siang, petang, malam, hingga subuh datang menjelang. Doa-doa, himbauan, maklumat, nasihat, petuah, wejangan, tausiyah, berhamburan di sana sini. Kabar gembira, berita kematian, puja-puji, umpatan, makian, sumpah-serapah, hasutan, hujatan, fitnah, adu-domba, beranak-pinak dan membelah diri sepanjang hari. Saya membayangkan betapa letihnya makhluk bernama “bahasa.” Betapa terkuras tenaganya, betapa sibuk aktivitasnya, betapa minim waktu tidurnya. Keramaian yang tak mungkin disangkal itulah yang telah menghisap segenap jiwa bahasa, merenggut sekujur sukma kata, hingga ia hampir-hampir tak mungkin punya waktu untuk menjenguk kesepian. Begitu sukar bagi bahasa untuk hadir, apalagi pasang-badan di tengah-tengah padang kerontang bernama; kesepian. Bahasa tidak sanggup lagi memberi nama bagi kesepian. Mata bahasa dilanda semacam rabun senja setiap kali berhadapan dengan realitas keheningan.

Menurut hemat saya, ketercampakan bahasa dari realitas kesepian itulah yang sedang diratapi oleh sajak-sajak Sabiq dalam buku ini. Kalau penyair penggila kopi ini saya kiaskan dengan personalitas seorang penggembala, maka ia adalah penggembala yang sedang membujuk kembali ternak-ternak piaran yang lepas masuk ke dalam kerumunan ramai, sementara di sana rumput amatlah terbatas. Dengan berbagai cara ia menghalau dan menghela hewan-hewan itu untuk kembali mencari makan di padang-padang rumput yang lapang dan lengang. Dengan begitu, maka alam yang pantas dihuni oleh puisi bukanlah alam ramai yang sibuk, melainkan alam kesendirian yang hening. Tapi sungguh aku ingin pergi/menyusuri sungai dalam belantara sepi/seolah di sana kita telah pergi begitu jauh/seolah kita kelana dalam dunia kabut/di mana batu-batu berlumut/Dan harimau paling ganas—sama mengadu tentang kesunyiannya (Dalam Tungku Waktu, Sajak-sajak Membakarku).

Bahasa, bagi Sabiq, tampaknya hanya bisa lega bernapas dalam semesta sunyi, bukan di keramaian yang menyesakkan–atau barangkali sudah menyesakkan. Perkenankan saya mengandaikan frasa “tungku waktu” dalam sajak di atas, sebagai durasi waktu sepi yang tidak seberapa lama itu. Tapi di sanalah, sajak-sajak memercikkan api, dan membakar apa saja. Sementara dalam arus keramaian, ia terkutuk sebagai daun-daun mati yang beterbangan dihembus kesiur angin dari utara. Maka, lewat sajak di atas, penyair merindukan rimba raya kesenyapan, yang dipenuhi kabut dan batu-batu berlumut.

Dalam sajak Seperti Para Penyair yang dipilih sebagai judul antologi ini, Sabiq membangun sebuah karakter yang ia sebut dengan “tuan bagi kesepian sendiri.” Sekali lagi saya ingin mengandaikan kalimat itu sebagai kerinduan penyair pada kesendirian yang diringkus oleh rupa-rupa keramaian realitas dunia mutakhir. Bila dalam keramaian bahasa menjadi budak yang senantiasa diperdaya, maka di ruang-ruang kesendirian ia hendak dikembalikan menjadi tuan dan majikan.

Di sinilah barangkali tugas berat puisi dalam rimba raya keramaian kontemporer.Dengan segenap daya upaya, penyair membebaskannya, menyelamatkannya dari etos ketertindasan yang tak kasat.  Ikhtiar semacam itu saya jumpai dalam sajak-sajak seperti Elegi Sepi, Elegi Hening, Rajawali Musim Sepi, Kursi-kursi Mati Sunyi, dan beberapa sajak lainnya.

Tapi, apakah dengan demikian bahasa yang meringkuk sebagai terpidana dalam penjara keramaian itu sungguh-sungguh telah terselamatkan? Saya kira belum. Menimbang-nimbang upaya Sabiq dalam buku ini, sekali perkenankan saya mengumpamakan kepenyairannya. Kali ini ia adalah sipir penjara yang nakal, di mana pada waktu-waktu petugas lain sedang lengah, ia menyeludupkan seorang napi untuk bebas berkeliaran menghirup udara luar. Tapi, napi itu, yang tidak lain adalah bahasa, harus tetap bersetia pada penjara. Mesti kembali pada waktunya, menyerahkan diri dan kembali meringkuk di balik jeruji besi. Dengan begitu, di tangan Sabiq, bahasa hanya dibuat sekadar bersandiwara. Seolah-olah bebas, seakan-akan merdeka dari kuasa keramaian, padahal statusnya masih narapidana. Tidak ada puisi di siang terik/penyair tengah sibuk bekerja/membangun mimpi di dekat kuburan/jadi badut atau politisi/jadi tukang pulung atau tukang tipu/apa bedanya?/sajak-sajak dijual di pasar loak/atau di sosial media, sebagai hiburan/tapi siang ini tak ada sajak Tuan/penyair tengah sibuk bekerja/membangun mimpi di dekat kuburan (Siang Ini Tak Ada Sajak,Tuan)

Sampul buku kumpulan sajak “Seperti Para Penyair”.

Bait “membangun mimpi di dekat kuburan” sepintas lalu mungkin kedengarannya sebagai kesendirian dalam kesenyapan, tapi sekali lagi saya mengandaikannya sebagai laku yang sebenarnya juga berlangsung dalam lalu-lalang keramaian. Frasa sibuk bekerja, pasar loak, dan sosial media, adalah pertanda bagi medan ramai tempat bahasa terperangkap. Maka, “membangun mimpi di dekat kuburan” adalah semacam ziarah yang diselenggarakan dalam keramaian. “Kuburan” yang dibayangkan penyair mungkin saja pusara bagi tubuh-tubuh kesepian yang dipancangkan di jantung metropolitanisme kota-kota yang sibuk.

Piknik ke Masa Lalu

Di masa ketika doa-doa hanya dilafalkan untuk kebahagiaan di masa datang, masih adakah khutbah yang berisi nasihat dan himbauan untuk sesekali piknik ke masa lalu? Inilah pertanyaan kedua yang hendak saya munculkan bagi segenap sajak-sajak Sabiq di buku ini. Aduh sayangku/mana sempat kita melalui malam/sambil berbelanja kenangan di pojok-pojok toko sepatu, kedai kopi atau segala yang ingin kita singgahi. Demikian saya kutipkan beberapa bait dari sajak berjudul “Kota dalam 5 Paragraf Tanpa Jeda dan Dialog.” Sajak itu seolah-olah hendak menegaskan betapa masa silam telah menjadi barang rongsokan yang hanya dapat dibeli¾itupun kalau berminat¾di pojok-pojok toko sepatu atau di kedai-kedai kopi. Masa lalu tidak akan pernah dijumpai dalam etalase-etalase kaca Pondok Indah Mall, Senayan City, atau Pacific Place. Bagi sajak itu, kenangan yang bermukim di masa silam sudah lama jatuh sebagai residu perabadan kontemporer dengan kegemilangan masa depan sebagai kiblat dan berhalanya.

Oleh karena itu, kalau masih ada¾sekali lagi kalau ada¾manusia urban yang diklaim tekun merawat koleksi kenangan, lelaku semacam itu tiada lebih dari kegiatan piknik akhir pekan, untuk sekadar melarikan diri dari kebosanan berlibur di gedung-gedung mentereng dengan lantai yang licin, dan ruang-ruang berpendingin. Bukankah sudah lazim dalam keinginan orang-orang kota, bahwa sekali waktu kita perlu bertamasya di alam terbuka, dengan suasana yang digarap seperti perkampungan, tempat kita bermain di masa kanak-kanak. Demikian kira-kira pengandaian saya.

Tapi persoalannya adalah, masa lalu yang dikunjungi dalam piknik sehari itu, hanya untuk semakin jauh dilupakan. Banyak orang gemar menapaktilasi kenangan hanya untuk semakin dalam menguburkannya. Maka ia tuangkan ke dalam gelas kopinya debu-debu kenangan/seperti debu-debu ia adalah waktu-waktu yang menempel di dinding-dinding kota/sebelum akhirnya malam merenggut kotanya dan hujan membersihkan debu-debu kenangannya; ia kedinginan, membeku dalam sendirian/seolah telah ditakdirkan demikian. Tengoklah, betapa masa lalu dalam kutipan itu, tiada lebih dari residu di masa kini. “Debu-debu,”¾demikian Sabiq menyebutnya¾yang tentu saja mengotori, atau bahkan menajisi tubuh-tubuh mentereng abad ini, dan oleh karena itu ia perlu dibersihkan dengan perkakas vacum-cleaner, paling tidak seminggu sekali.

Selepas itu, pertanyaan yang hendak saya ajukan kemudian adalah, apakah sajak-sajak Sabiq mengandung semacam ajakan untuk bersetia pada kenangan? Atau sebaliknya, penyair yang gemar sekali dengan kata “kopi” ini justru mengampanyekan agar kita segera berbenah membersihkan tubuh-tubuh modern ini dari remah-remah masa lalu?  Untuk apa bersetia pada kenangan bila kenangan itu hanyalah timbunan luka yang bila diungkit-ungkit kembali tentu akan menjadi beban yang menyakitkan? Tapi, tanpa kenangan apalah artinya hidup yang terus-menerus dibuat lelah oleh tahyul kemajuan ini? Begitulah sikap saya yang terombang-ambing saat membaca sajak-sajak Sabiq dalam buku ini.

Ekspektasi saya sesungguhnya lebih jauh. Sajak semestinya tidak hanya memperlakukan kenangan sebagai “destinasi” piknik sehari, melainkan sebagai padang mahsar tempat semua yang bernama “kekinian” dan “ke-disini-an” akan berpulang dan tidak akan kembali lagi sebagai masa kini, apalagi masa datang. Dengan rupa-rupa kenangan, sajak semestinya sanggup mengunci masa kini dan masa datang, hingga putaran waktu berhenti, dan buku-buku sejarah tak ditulis lagi. Sajak seharusnya mampu menghisap semua ruang, menghisap laju kencang waktu, dan mengunci putaran roda-roda zaman.

Puisi yang Lenyap di Belantara yang Bising

Saya mengenal Sabiq bukan sekadar pribadi yang menggemari puisi, tapi juga personalitas yang hendak menghadirkan realitas puitik dalam kesehariannya. Betapa tidak? Ia bahkan memberi nama anaknya dengan Puisi, dan beberapa sajak dalam buku ini ia garap sebagai perbincangan imajiner dengan Puisi, putri kecilnya yang menggemaskan itu.

Sabiq adalah pribadi yang gemar bersembunyi. Meskipun pada akhirnya saya berkesempatan memotret prosesi pernikahannya beberapa tahun lalu, tapi hingga kini saya tak pernah tahu di mana kampung halamannya, siapa bapak-ibunya, dan apa pekerjaannya. Ia kerap muncul tiba-tiba, menghilang beberapa lama, lalu datang lagi dengan membawa sekian banyak rencana, tapi ujung-ujungnya mengeluarkan draft buku puisi dari ranselnya. Ia selalu mengaku belum ada satu pun rencana yang pernah ia bincangkan itu terwujud, meskipun kegiatan menulis puisi tak kunjung berhenti. Pendeknya, Sabiq adalah teka-teki yang belum terpecahkan bagi saya hingga kini.

Sabiq pasti tahu bahwa di belantara kelisanan yang sedemkian nyinyir dan bising ini, puisi adalah dunia yang sama sekali tidak seksi. Menulis puisi bukanlah perkara gampang, sementara mendapatkan pembaca yang tajam¾apalagi pembaca yang mendambakan kedalaman¾jauh lebih tidak mudah lagi. Mungkin sebagian orang masih giat merayakan puisi dengan berteriak-teriak di atas mimbar, sembari mendabik-dada sebagai penyair besar, lalu para hadirin bertepuk bersorak-sorai, tapi masih adakah orang yang sungguh-sungguh menyelam guna mengapai kedalaman puisi?

Hari-hari ini puisi hanya diperlakukan sebagai hiburan alternatif dalam dunia keramaian yang menyuguhkan macam-macam kesenangan. Bila ada yang jenuh, bolehlah sesekali menonton upacara pembacaan puisi, atau sekadar mengoleksi buku-buku puisi, supaya tampak sebagai makhluk berbudaya. Puisi tidak lagi menjadi laku dalam kedalaman, tapi sekadar lipstik yang dioleskan bilamana seorang perempuan hendak menghadiri sebuah pesta. Di rumah, di dapur, atau bahkan di hadapan suami, lipstik tidaklah diperlukan. Biarlah tampak kusut, dan awut-awutan, toh kita tidak sedang berada di tengah keramaian. Sabiq, saya kira menyadari betapa tak mujurnya nasib puisi di masa kini. Tapi alih-alih mengabaikannya, saban hari ia justru semakin asyik bercengkrama dengan Puisi, putri kecilnya, senantiasa melibatkan diri dalam kesadaran puitik. Semoga Puisi (dengan huru p besar) dan puisi (dengan huruf p kecil) juga memaklumi betapa besarnya cinta Sabiq kepada mereka…   (*)

______________________

*Artikel merupakan Epilog untuk buku “Seperti Para Penyair”. di tulis oleh Damhuri Muhammad, seorang Esais dan Kolektor kenangan

 

Continue Reading

Buku

Optimisme dari Chomsky

mm

Published

on

Siapa yang tak kenal dengan Noam Chomsky? Seorang intelektual yang dianggap “nyeleneh” karena selalu berbeda pandangan dalam tatanan keilmuan dan masyarakat Amerika Serikat. Banyak buku yang ia tulis justru untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan Amerika baik dalam maupun luar negeri. Namun, sebenarnya yang ia kritik bukan Amerika, melainkan sistem kapitalisme yang dianut oleh Amerika.

Hampir sama dengan buku-buku yang ia tulis, buku Optimism Over Despair merupakan kekesalan atau lebih tepatnya kemarahan Chomsky terhadap Amerika dan kapitalisme. Buku ini merupakan hasil sebuah wawancara Noam Chomsky dengan C. J. Polychroniou dalam kurun waktu 2014—2016. Meski secara garis besar buku ini sama dengan buku Chomsky lainnya, tapi Chomsky coba menguraikan situasi sosial, ekonomi, dan politik  abad ke-21 dan dampak yang ditimbulkan hingga bagaiamana kita harus menyikapi dampak tersebut.

Menurut Marx, kapitalisme merupakan sebuah hubungan masyarakat yang dibangun atas hubungan-hubungan produksi  dan menghadirkan ketimpangan kelas serta alienasi. Pada perkembangan awal kapitalisme, kapitalisme didasari oleh pemilikan modal yang diwujudkan dalam pabrik dan negara bagian dari kelas tersebut.

Sedangkan, kapitalisme pada abad ke-21 menurut Chomsky jauh lebih buruk. Kenapa dapat dikatakan lebih buruk? Sebab, kapitalisme abad ke-21 sudah menutup akses atau alat bagi masayarakat bawah untuk melakukan mobilitas sosial (hlm.154).

Jika konteks dalam negara, maka negara maju sudah menutup kesempatan bagi negara miskin untuk melakukan perbaikan kehidupan ekonomi. Dengan kata lain, kapitalisme sudah menjadi sebuah kekaisaran besar dengan Amerika sebagai rajanya. Kenapa demikian? Karena Amerika masih menguasai perekonomian dan politik dunia, meski pasca-perang dingin Amerika secara perlahan sudah tidak lagi digdaya.

Dengan dana besar yang dimiliki, Amerika dengan sangat mudah untuk mengintervensi suatu negara dengan memaksakan sistem “plutokrasi”. Plutokrasi dibahasakan oleh Chomsky karena sangat jauh dari cita-cita demokrasi. Jika demokrasi bertujuan untuk memakmurkan rakyat dengan menjamin hak asasi, maka plutokrasi sebaliknya.

Judul Buku : Optimism Over Despair on Capitalism, Empire, and Social Change Penulis : Noam Chomsky dan C. J. Polychroniou Penerbit : Haymarket Books Tahun Terbit : Agustus 2017 Tebal : 210 halaman

Plutokrasi hanya akan memamurkan dan menjamin hak asasi untuk penguasa, sedangkan masyarakat akan terus dieksploitasi melalui serangkaian aturan yang dibuat oleh negara (hlm.155). Dengan kata lain, sosialisme untuk si kaya dan kapitalisme untuk si miskin.

Lalu bagaimana dengan kesenjangan yang dibuat oleh kapitalisme? Chomsky setidaknya menyebut dua masalah besar yakni meningkatnya kekuatan fundamentalisme dan rusaknya lingkungan.

Munculnya fundamentalisme dalam berpolitik dapat tercermin dari terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika. Chomsky menganalisis kemenangan Trump sebagai sebuah bentuk kekecewaan dan frustrasinya rakyat Amerika karena demokrasi dan kemakmuran tidak terjadi di masyarakat.

Poin lainnya, Trump berhasil memainkan sentimen agama untuk menaikan popularitasnya. Sejatinya, “agama” yang dibawa Trump saat pemilu dan memimpin adalah sebuah propaganda untuk membuat garis diametral antara kami dan mereka, malaikat dan setan (hlm.50).

Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt dalam buku How Democracies Die (2018) menyatakan, majunya Trump sebagai calon presiden Partai Republik karena aturan untuk menyeleksi seorang calon presiden sudah memudar yakni dalam poin tidak menyerang secara personal kompetitor dan tidak merendahkan pemilih kompetitor.

Hal ini dilakukan partai Republik dan Trump karena kepentingan bisnisnya terhambat. Disitat dari Cherian George dalam buku Hate Spin (2016) Trump dapat memenangkan emosi warga Amerika yang membuat seolah-oleh ketidakmakmuran warga Amerika adalah korban dari kebijakan yang pro-imigran. Padahal, menurut Chomsky, hadirnya pengungsi di negara-negara maju merupakan sebuah keharusan, sebab negara mereka dibombardir oleh Amerika dan sekutunya.

Selain itu, Trump juga berhasil meyakinkan warga amerika yang mayoritas Kristen sebagai korban dari adanya pengungsi yang beragama Islam yang dinilai akan dapat merebut Amerika. Oleh sebab itu, Trump membuat slogan Make America Great Again. Cara kemenangan Trump ini juga menginspirasi negara-negara lainnya di Eropa dan Asia.

Lalu bagaimana dengan kerusakan lingkungan? Chomsky berpendapat bahwa ini terjadi secara nyata, bukan hanya sebuah iklan terselubung dari produk tertentu agar warga menggunakan atau membeli produknya. Keluarnya Amerika dari Kesepakatan Paris merupakan sebuah kekonyolan terbesar. Kesepakatan yang dibuat pada 2015 lalu, Amerika dan 187 negara lainnya mesti menjaga kenaikan temperature global di bawah 2 derajat Celscius

Terlebih, alasan yang dikeluarkan Trump hanya untuk penghematan anggaran. Demi menjaga kesepakatan itu, Amerika sedikitnya mesti mengeluarkan uang 3 triliun USD. Padahal Amerika merupakan negara dengan penghasil karbon terbesar di dunia. Selain itu, banyak perusahaan Amerika di berbagai negara melakukan penebangan hutan dan membuat kerusakan alam lainnya yang mengancam kelangsungan hidup umat manusia.

Dengan segala kekacauan tersebut, apa yang harus dilakukan?

Tentu saja kita tak memiliki banyak pilihan. Menyitat Gramsci, Chomsky berpendapat akan selalu ada ruang untuk “optimisme kehendak” (hlm.133). Akan tetapi, layaknya seorang filsuf, Chomsky tidak menjabarkan secara rinci bagaimana kita mesti menghadapi kekacauan itu dan mengubahnya menjadi sebuah kebaikan.

Secara tersirat Chomsky masih memercayai adanya kekuatan rakyat. Kekuatan rakyat itu dapat mendesar pemerintah dan membawa perubahan. Akan tetapi, dalam konteks abad ke-21, kekuatan rakyat bukan berarti harus mengadakan sebuah revolusi besar seperti yang terjadi di abad ke-20.

Kekuatan rakyat terjewantahkan dalam sebuah kelompok komunitas. Dengan konsentrasi di bidangnya masing-masing, mereka mesti berjejaring satu sama lain dan dapat melebur sebagai kekuatan baru tanpa sekat negara layaknya kapitalisme saat ini. Sebab, kata Chomsky, kita masih kekurangan asosiasi dan organisasi yang memungkinkan public untuk berpartisipasi dalam  hal yang berarti seperti diskursus politik, social, dan ekonomi (hlm165).

Kita hanya memiliki dua pilihan. Kita bisa pesimis, menyerah, dan membantu keberlangsungan yang terburuk akan terjadi atau kita bisa optimis, menangkap kesempatan yang masih ada, dan mungkin dapat membuat dunia menjadi lebih baik. (*)

*) Virdika Rizky Utama: Periset di Narasi.TV

Continue Reading

Buku

Beberapa catatan bekal membaca drama Menunggu Godot

mm

Published

on

En Attendant Godot adalah karangan penulis Prancis kelahiran Irlandia, Samuel Beckett. Ia berbahasa Prancis laiknya menggunakan bahasa ibu meski ia lahir dan berbahasa pertama Irlandia. Naskah En Attendant Godot diterjemahkan ke dalam bahasa inggris oleh Beckett sendiri dengan judul Waiting for Godot, dan terbit pertama kali di Amerika pada 1954 atau setahun setelah pertama kali dipentaskan dalam bahasa Prancis di Paris 1953.

Dramawan W.S Rendra adalah teatrawan indonesia pertama mengerjakan pementasan dari versi bahasa inggris setelah sebelumnya coba disadur dalam bahasa Indonesia oleh Dosen Fakultas Sastra UGM, Bakdi Sumanto.

Di Indonesia, lakon Godot umum dikenal dengan drama “Menunggu Godot”, dipentaskan pertama kali pada 1969 di Teater Besar TIM oleh Bengkel teater pimpinan W.S. Rendra. Tepat pada saat pengarangnya—Samuel Beckett menerima hadiah nobel berkat Waiting for Godot.

Pada pementasan pertamanya di Paris (1953), dan di Miami, Amerika (1955) lakon Godot mendapat kritikan pedas dari pada pengamat. Akan tetapi ada cerita lain pada tahun-tahun tersebut.

Pada musim semi 1954 Beckett menerima surat dari direktur penjara di Luttringhausen, Jerman, yang meminta ijinnya agar agar lakon Menunggu Godot boleh diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman untuk di pentas di penjara itu. Dan Beckett menyetujuinya. Pada 1957 drama Godot kembali dipentaskan di dalam penjara, yaitu di penjara San Quentin di San Fransisco. Dalam dua pementasan di Penjara tersebut, para napi menunjukkan mereka tidak memahami drama itu secara kognitif, tapi pengalaman yang mereka alami di dalam penjara membuktikan bisa menjadi medium komunikasi untuk bisa menikmati karya tersebut. Bahwa mereka terpenjara dalam penantian, dan menunggu sang kebebasan menjemput.

Sementara itu, berikut adalah beberapa fakta intrinsik dari buku Waiting for Godot yang akan bermanfaat bagi pembaca yang belum pernah menikmati karya besar Beckett dan berniat membacanya:

  • Waiting for Godot bersetting di A country road. A tree. Evening. Tokoh utamanya: Vladimir, Estragon, Pozzo, Lucky dan A boy. Alur: Cyclical, dalam arti akhir lakon menyiratkan alur kembali pada awal. Topik dialog dari awal hingga akhir, berpusat pada akan datagnya tokoh bernama Godot, akan tetapi, hingga akhir lakon, Godot tak pernah datang.
  • Dari rujukan tekstual, tampak, bahwa walau pun tokoh Godot menjadi pusat pembicaraan, topik sebenarnya bergeser dari Godot ke situasi menanti itu sendiri. Oleh karena itu yang dominan bukan tema, tapi suasana menunggu.
  • Walau pun dalam lakon disajikan lima tokoh, tetapi sebenarnya yang penting hanyalah Vladimir dan Estrogan. Mereka adalah tokoh utamanya, dilukiskan seperti dua orang gelandangan, compang-camping, terdampar pada suatu tempat yang mirip nowhere. Teks drama tersebut menyebutkan mereka sangat miskin yang ditunjukkan oleh ucapan dalam dialog dua gelandangan itu, bahwa mereka hanya membawa bekal potongan wortel dan lobak. Mereka sangat kelaparan ditunjukkan dengan keinginan Estrogan memakan tulang sapi atau ayam yang dibuang oleh Pozzo, setelah dagingnya dihabiskan.
  • Sepanjang jalan cerita, dari dua tokoh utamanya menunjukkan bahwa mereka sejak awal; mengisyaratkan keputusasaan, bicara dalam dialog yang tidak nyambung, mereka kehilangan orinetasi waktu—intinya bagi Vladimir dan Estrogan, symbol rakyat jelata dan papa, tidak ada persoalan serius yang dibicarakan, apalagi diselesaikan. Sebab masalah pokoknya, hanya menantikan seseorang atau sesuatu yang tidak dapat didefinisikan. Oleh karena itu, dilihat dari jagat konvensi alam pikir filsafat Prancis, lakon godot memberikan isyarat refleksi metafisik, yang mengingatkan orang pada refleksi filosfis Alber Camus, terutama yang tampak dalam esainya Le mythe de Sisyphe (Mite Sisifus) tahun 1943 atau novel Camus yang terkenal L’etranger (1944).
  • Karenanya drama Waiting for Godot digolongkan dalam teater absurd. Di mana orang tidak melihat teater absurd sebagai alat perjuangan, betapa pun ada suasana perlawanan atau “terrorizing” di dalamnya. Sebab konsep dasar tetaer absurd sendiri berambisi menghadirkan kemurnian. Untuk membedakannya dengan misalnya filsafat sebagai senjata atau alat perlawanan terhadap “unidentified dominating power” seperti paham Brecht.
  • Dalam refleksi yang lebih mendasar, drama ini terus relevan, sebab dalam keadan yang serba tidak jelas, pertanyaan dasar drama ini kembali muncul, siapakah Godot yang dinantikan itu? Sebab bahkan ketika bom atom jatuh di Jepang untuk menghentikan PD II, ternyata hal itu tidak mengakhiri ketegangan perang dingin. Bahkan hingga hari ini, di Amerika dan juga di Indonesia, di belahan dunia lain, rakyat seperti Vladimir dan Estrogan masih menantikan Godot. Dan kita hari ini bahkan masih terus bicara satu sama lain dalam dialog yang tidak nyambung…

*) Sabiq Carebesth, Juni 2018. Ditulis dengan malas dan kesal karena kebingungan menyusun orientasi waktu dan ruang paska libur lebaran. Tulisan pendek ini disarikan dari buku “Sementara Menunggu Godot” dan Makalah Bakdi Sumanto bertajuk “Teater dan Bom” (2001).

Continue Reading

Buku

Pahlawan Dibalik Layar

mm

Published

on

Foto: Koleksi foto ANTARA

Oleh: Umar Fauzi Ballah *)

Dalam situasi bernegara dan berbangsa yang diliputi laku korupsi dan kolusi sebagian besar elit politik, bahkan kerawanannya telah menjangkau sakit kebudayaan—membangunkan sosok anutan dari tidur sejarahnya bisa menjadi upaya baik dalam mencarikan jalan ingatan; bahwa bangsa ini dibangun oleh pribadi berintegritas dan orang-orang jujur. Sosok Djohan Sjahroezah, adalah salah satunya.

Usaha Riadi Ngasiran—penulis buku “Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah, Pejuang Kemerdekaan Bawah  Tanah” untuk mengumpulkan renik kehidupan seorang Djohan Sjahroezah dalam buku biografi karyanya patut diapresiasi dengan kegembiraan, terutama karena usaha kerasnya mengingat sosok yang ditulis tidak setenar Bung Karno atau Bung Hatta. Usaha memperkenalkan sosok Djohan Sjahroezah yang dikenal sebagai tokoh pergerakan dan politikus adalah momentum tepat di tengah kondisi korup elite di negara ini.

Nama Djohan memang tidak setenar Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Hatta, Soekarno, maupun Adam Malik, teman seangkatannya, serta mertuanya, H. Agus Salim. Ia juga tidak setenar sosok reaksioner, bung Tomo, walaupun pada saat meletus peristiwa 10 November 1945, bung Djohan juga sedang berada di Surabaya untuk melindungi Tan Malaka (hlm. 147).

Djohan adalah pahlawan dalam kapasitasnya dan perannya sebagai organisator yang disegani di Indonesia, terutama di tanah Jawa. Ia bukan pahlawan yang dikenang namanya dengan mengangkat senjata. Ia juga bukan pahlawan yang disegani karena kelihaian berpidato, tetapi ia adalah satu-satunya tokoh yang paling dipercaya banyak kelompok dalam membangun jaringan-jaringan bawah tanah. Ia mengkader pemuda saat itu di berbagai daerah seperti Batavia, Bandung, Yogyakarta, maupun Surabaya yang pada saat itu ia menjadi buruh di perusahaan minyak Belanda, BPM (Bataafsche Petroleum Maatshappij).

Djohan Sjahroezah adalah tokoh kelahiran Muara Enim, Sumatera Selatan, 26 November 1912. Ia seakan menggenapi tokoh-tokoh lain dari trah Minangkabau yang juga berjibaku di panggung sejarah Indonesia seperti Muhammad Hatta, Muhammad Yamin, Tan Malaka, Hamka, Mohammad Natsir, H. Agus Salim, maupun Sutan Sjahrir, pamannya.

Dengan kelihaiannya membangun jaringan, dia bersama Adam Malik, Soemanang, A.M. Sipahuntar, dan Pandoe Kartawiguna mendirikan Kantor Berita Antara tahun 1937 yang sampai saat ini masih eksis. Kantor Berita Antara adalah perjuangan perdananya dalam rangka turut serta memperjuangan kebebasan bangsa Indonesia. Ia menyadari betul fungsi dan peranan pers sebagai alat perjuangan.

KB Antara bukanlah tempat pertama Djohan di bidang jurnalistik. Sebelumnya, dia bergabung dengan Arta News Agency, sebuah kantor berita milik Samuel de Heer, seorang Belanda. Ia memutuskan keluar dari Arta tahun 1937 dengan kesadaran bahwa dirinya harus mengembalikan komitmen aslinya: mengutamakan fungsi dan tanggung jawab kemasyarakatan. Masyarakat di bawah kekuasaan penjajah harus dibebaskan, demikianlah posisi dan peranan pers yang telah didefinisikannya. Djohan dan jurnalis sezaman merumuskan peranan pers sebagai pengantar masyarakat ke masa depan (hlm. 83).

Lingkaran Sjahrir

Ketika membincangkan kehidupan Djohan, tidak bisa terlepas dari sosok Sutan Sjahrir. Karena itu, sebagian besar buku ini berada dalam “alur” Sutan Sjahrir. Ketika membicarakan tindak-tanduk Djohan, muncul juga peran Sutan Sjahrir di dalamnya. Djohan adalah salah satu loyalis utama Sutan Sjahrir.

Ketika Sutan Sjahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pada 12 Februari 1948, Djohan adalah sosok yang masih setia mengikuti Sjahrir. Sebelumnya, pada 1 November 1945 Amir Sjarifuddin mendirikan Partai Sosialis Indonesia (Parsi), sedangkan Sjahrir mendirikan Partai Rakyat Sosialis (Paras) pada 19 November 1945. Karena persamaan sikap antikapitalis dan antiimperialis, pada 16—17 Desember 1945 kedua partai tersebut bergabung menjadi Partai Sosialis (PS) yang di dalamnya juga ada kelompok komunis. PS tidak berumur lama karena ketegangan kelompok komunis dan kelompok sosialis di dalamnya yang puncaknya terjadi ketika Bung Hatta mengumumkan kabinetnya pada 29 Januari 1948 menggantikan Kabinet Amir Sjarifuddin. Sjahrir adalah pendukung penuh Kabinet Hatta, sedangkan Amir memutuskan menjadi oposisi bagi Kabinet Hatta. Hal itu membuat Sjahrir dan kelompoknya, termasuk Djohan keluar dari Partai Sosialis dan mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Judul : Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah, Pejuang Kemerdekaan Bawah Tanah | Penulis : Riadi Ngasiran | Penerbit : Penerbit Buku Kompas | Tahun : cetakan pertama, Mei 2015 | Tebal : xlvi + 418 hlm. | ISBN : 978-979-709-918-3 | Harga : Rp99.000,00

Sebagai tokoh yang bergerak di dunia pergerakan, Djohan memiliki banyak kader yang tentunya diharapkan mengikutinya sebagai bagian dari lingkaran Sjahrir. Namun, kenyataannya berbeda. Tidak sedikit kader-kadernya berada di seberang jalan menjadi kader partai komunis. Dengan kemampuannya memahami ajaran Marxisme dan jurnalistik, Djohan menjadi corong untuk menjelaskan pandangan-pandangan kelompok sosialis secara tertulis dalam rangka menjawab “tuduhan-tuduhan” kelompok komunis.

Riadi Ngasiran, dengan pengalamannya di bidang jurnalistik dan sastra, berhasil mengolah biografi ini dengan baik. Pernik kehidupan Djohan memang tidak disampaikan secara dramatis sebab biografi ini adalah catatan politis tentang sosok Djohan Sjahroezah. Riadi menggambarkan sosok Djohan secara umum dalam tiga masa penting, yakni perannya sebagai tokoh pergerakan bawah tanah dalam usahanya mengkader pemuda; peran Djohan di dunia jurnalistik; dan perannya sebagai politikus Partai Sosialis Indonesia.

Djohan, sebagaimana manusia biasa, juga menjalani hidup sebagaimana kebanyakan masyarakat. Hal ini takluput dari catatan Riadi. Kisah Djohan dengan istrinya, Violet Hanifah, putri H. Agus Salim, pun digambarkan dengan hidup, seperti perjuangan masa-masa sulit bersama sang istri. Dalam biografi ini, Riadi menyuguhkan tempo tulisan yang dinamis. Di saat tertentu, ia menggambarkan secara naratif dan di saat yang lain secara argumentatif dengan memaparkan berbagai fakta tekstual.

Sebuah buku tidak lain adalah representasi ide-ide sang penulis. Kehadiran biografi ini menjadi wacana tandingan yang menampilkan tokoh dari golongan sosialis. Riadi Ngasiran sadar betul bahwa, selain karena peran Djohan sebagai tokoh jurnalis, menampilkan sosok Djohan adalah meneguhkan keberimbangan wacana tentang peran pergerakan yang dilakukan oleh kelompok sosialis, terutama kaitannya dengan konfrontasi golongan komunis.

Buku ini telah menandai keberadaan sosok yang tidak begitu populis di panggung sejarah Indonesia. Buku ini dihadirkan di waktu yang tepat. Keteladanan Djohan Sjahroezah dalam perjuangannya melalui berbagai pergerakan aktivis dan politis harusnya menjadi ruang refleksi bagi pergulatan politis Indonesia saat ini yang sudah jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. (*)

*) Umar Fauzi Ballah penikmat buku di Komunitas Stingghil, Sampang tinggal di Sampang sebagai Kepala Rayon LBB Ganesha Operation Sampang.

 

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending