Connect with us

Cerpen

Senja dan Sebuah Dendam

mm

Published

on

Oleh: Ivanasha*

 

Aku menatap langit di atas kepala sedang berwarna ungu. Kukira, ia habis bertengkar dengan waktu, hingga lebam seluruh wajahnya. Aku sedang berusaha mengingat seseorang dengan bertanya kepada langit, apakah warna yang disebut senja ini sampai juga di langitnya yang terpaut begitu jauh dari tempatku berdiri?

 

Aku tidak bisa menebak rupanya, bagaimana kepala seseorang itu berisi. Apakah serumit pikiranku yang dipenuhi tatapan mata dan senyumannya, atau bahkan memang tidak pernah serumit itu. Sementara, puisi senja pernah kukirimkan kepadanya—sepenuh keberanian. Tetapi tak sampai sekarang pun seseorang itu menjawab apa yang kutuliskan kepadanya. Dan aku lagi-lagi berusaha mencari jawaban dengan bertanya-tanya sendiri sambil menatap langit jauh-jauh. Meski aku tahu tidak ada gunanya, tetapi perasaan ringan yang kurasakan setelahnya tidak pernah gagal menghibur gelisah. Sebab langit selalu mampu menampung apapun yang orang-orang tak bisa menampungnya. Seperti pertanyaanku. Seperti perasaanku.

 

Sore sebentar lagi pergi dan aku masih perlu mengeluarkan banyak pertanyaan. Kakiku rasanya ingin melangkah dan lalu berlari tak berarah. Mungkin aku hanya butuh udara lebih banyak masuk ke rongga paru-paru, sebab merindukannya, membuat sesak. Sementara aku tidak rela malam datang terlalu cepat dan menutup mataku dengan hanya gelap. Sebab kusadari ketika seseorang itu tiada di sini, aku bukan siapa-siapa, dan aku tidak memiliki cahaya apa-apa. Aku hanyalah setitik yang hilang karena memikirkannya, kata orang, begitu butanya.

 

Sebuah pohon berdiri menjulang di hadapanku. Dahan-dahannya meninggi dan rindang dipenuhi daun yang hijau dan banyak juga yang kuning—mungkin penanda gantinya musim. Sepenuh harap kubayangkan daun-daunnya itu ialah rambut seseorang yang melingkar-lingkar, dan tubuh pohon itu ada tubuh seseorang yang selalu ingin kupeluk. Aku menganggap langit sedang menghadiahkanku teduhnya untuk mengingat lebih lapang lagi. Mungkin juga sebenarnya langit sedang mencarikan seseorang itu untukku, tetapi tidak menemukannya, sebab aku tahu ia sedang bersembunyi di balik kesunyiannya.

 

Tiba-tiba angin yang sangat kencang datang dan membuat seluruh pertanyaanku berantakan terserak di jalan raya yang ramai. Aku bahkan tak sempat memungut kata-katanya yang terurai untuk kembali ke dalam kepalaku, sebab kemudian aku merasa lelah untuk mencoba. Kemudian aku menyadari bahwa pertanyaan tidaklah ada arti jika yang ditanya tidak pernah menjawab. Kemudian kuketahui kalau rasa penasaranku ini sudah tersesat terlalu jauh. Aku tidak lagi mencari untuk lepas dari sendiri, karena aku telah mencuri jawaban dengan berkhayal dalam-dalam. Sekali lagi kusadari angin beserta gunanya yang tiba-tiba; aku tidak perlu bertanya jika bisa kurangkai jawabannya.

 

Sebab kata-kata bisa kumiliki seluruhnya dan seutuhnya, aku bisa menulis apa saja dan menjadikan diriku sendiri tuhan di dalamnya. Aku bisa membuat seseorang bersedih membawa isi kepalanya yang sangat berat karena ia tidak bisa berhenti bertanya dan merasa penasaran. Aku bisa juga membunuhnya karena rindu membuat ia ingin menyerah. Aku akan membuat seolah-olah ia sedang terjebak senja yang panjang usia, hingga ia mencari keberadaan waktu di lain hari. Aku tahu aku bisa merangkai kenyataan apa saja.

 

Maka aku menulis seperti sedang membalas dendam.

 

 

***

 

Pagi ini saya terbangun menemukan langit berwarna ungu. Saya kira, ada yang mengganti tirai saya tiba-tiba. Tetapi mana mungkin begitu. Saya selalu berangkat tidur sendiri, pula terbangun disapa sepi. Tidak mungkin ada orang lain berjingkat malam-malam hanya untuk mengganti tirai jendela kamar orang asing. Tidak mungkin itu. Tetapi tetap saja saya memikirkan kemungkinan lainnya, sembari mengumpulkan nyawa dan berusaha bangkit dari kasur.

 

Saya menduga-duga akan ada berita apa hari ini. Langit pagi warnanya keungu-unguan. Tidak terlalu mendung, cenderung teduh, seperti sesaat ketika hujan akan datang. Mungkin memang begini karena hujan akan datang. Mungkin datangnya akan sangat deras dan orang-orang bisa tersapu ke entah. Kalau begitu, mungkin saya perlu mengunci diri di dalam kamar. Atau sebaiknya saya pergi mencari dataran tinggi?

 

Tubuh ini berat sekali rasanya untuk bangun dan mencari tahu. Seperti ada kesedihan yang murung. Saya tidak tahu apakah kemalasan sedang bertamu, atau saya terlalu nyaman memendam diri di atas kasur. Yang saya pikirkan sekarang adalah tentang pagi yang asing. Saya ingin segera berangkat mencari tahu dan mendapatkan jawaban. Tiba-tiba saya khawatir kalau-kalau saya akan telat menyelamatkan diri saya sendiri. Duh!

 

Saya mencoba sekali lagi bertanya kepada pikiran. Mungkinkah subuh tadi ada hujan deras jatuh dari langit dan menyisakan pelangi yang begitu terang dan panjang. Siluet yang biasa samar kini menjadi fenomenal. Orang-orang sehabis beribadah di masjid berbondong-bondong mengambil kameranya di rumah dan memotret angkasa yang semakin siang waktu menjulang, semakin terang pelanginya benderang. Kemudian mereka memanggil tetangganya yang lain untuk ikut menikmati apa yang mereka sebut-sebut sebagai keajaiban dari Tuhan.

 

“Lihatlah ke luar! Pagi melukis pelangi yang aneh! Terang sekali!”

 

“Maha Kuasa Tuhan!”

 

“Potret yang banyak! Abadikan keajaiban usia kita sebagai kaum yang beruntung!”

 

Tiba-tiba saya keluar dari labirin pikiran saya sendiri. Dunia masih terlalu lengang untuk suatu keributan. Dari balik jendela yang bercahaya ungu itu sama sekali tidak terdengar suara seorang pun. Saya justru mendengar napas saya sendiri semakin menderu, yang saya yakin dipicu oleh rasa resah dan penasaran saya di pagi yang asing ini. Bagaimana tidak, pagi ini langit berwarna ungu terang! Meski sebagian hati saya seperti mengatakan kalau cahaya di balik jendela itu sungguh indah, tetapi kepala saya tetap menganggapnya sebagai hal yang ganjil.

 

Setelah beberapa saat, saya akhirnya mengalahkan beban berat yang menimpa tubuhku. Saya perlahan bangkit dari kasur dan berjalan ke arah jendela untuk menyibak tirai di hadapan cahaya ungu itu. Kepala saya mulai lelah dituding pertanyaan dan rasa penasaran yang tidak sudah-sudah. Saya menjulurkan tangan dan meraih kain tirai untuk kemudian menyibaknya ke samping. Kemudian, saya tidak menyangka apa yang saya lihat di hadapan mata saya.

 

Cahaya ungu itu benar-benar terlukis di langit di atas bumi ini. Garis melintang berwarna merah dan oranye tergores di sana-sini, menghiasi keseluruhan warna ungu tersebut. Saya tahu, ini adalah langit senja. Saya pernah melihatnya sewaktu saya kecil dan masih senang bermain-main di lapangan dekat rumah sebelum maghrib. Tetapi ini senja yang berbeda. Senja ini begitu indah. Sangat indah hingga sepasang mata saya enggan memercayainya. Sinarnya memantul di balik awan teduh, memanjakan mata saya dengan pemandangan yang mencuri napas saya perlahan-lahan.

 

Tetapi, senja apakah yang datang di pagi hari? Ataukah saya masih bermimpi dan belum terbangun dari tidur saya? Saya mencubit lengan sendiri. Nyeri. Ini bukan mimpi. Tetapi lantas ini apa?

 

Langit yang begitu indah masih terlukis di atas sana, sementara saya masih terkagum-kagum dan bertanya-tanya. Keindahan ini sepantasnya saya nikmati ketika tidak terasa asing. Keindahan ini sepantasnya terpapar ketika sore hendak menjemput malam. Keindahan ini begitu ganjil, tetapi saya tetap mencintainya. Seakan sengaja membuat saya jatuh di dalam cantiknya yang begitu janggal. Terpesona sejadi-jadi, tanpa berhati-hati.

 

Di dalam ruang kamar saya tergantung sebuah jam dinding. Saya ingat, saya belum melihatnya sejak saya membuka mata pagi ini. Sekejap kupalingkan kepala dari senja ke arah jarum jam yang berdetak. Jam setengah tujuh pagi. Saya kemudian merasa semakin aneh. Waktu seperti terbalik! Seharusnya senja belum datang sampai setidaknya sebelas jam lagi. Seharusnya tidak ada warna ungu, merah, dan oranye yang bersinar di langit pagi hari. Seharusnya tidak ada. Ini tidak nyata!

 

Sudahlah, nikmati saja senja itu. Sebut saja hadiah dariku.

 

Suara apa barusan? Saya seperti mendengar dengung lembut yang mampu kupahami. Seperti kalimat, tetapi tak bersuara. Sementara tidak ada siapa-siapa di dalam kamar ini.

 

Tahukah kau seorang perempuan yang pernah mencintaimu dengan terlalu, tetapi tak pula kaulihat sedikit pun perasaannya?

 

Saya semakin bingung. Tetapi kalimat-kalimat ini terdengar semakin jelas. Saya seperti mendengarnya dari dalam kepala. Kemudian saya mencoba mencerna arti dari  kata-katanya. Saya mengingat seorang perempuan yang pernah mengirimkan saya sepotong puisi. Di dalam puisi itu, ia mengemas senja begitu teduh dengan bait-baitnya. Tetapi betapa pun indah kata-katanya, tak satu huruf pun mampu membuatku membalas puisinya. Saya tidak bisa menulis puisi untuk seseorang yang tidak saya cintai.

 

Aku tahu. Maka kini aku menuliskanmu.

 

Tiba-tiba air mata saya jatuh. Kurasakan kesedihan membalut hangat dan perlahan memanas di dalam dadaku. Saya ingat ia pernah menangis di dalam sepotong puisi. Puisi itu mencintai saya, tetapi saya memutuskan untuk tidak memedulikannya. Saya kira, sebaiknya saya tidak memberikannya harapan sama sekali jika saya tidak bisa mempertanggungjawabkannya. Tetapi kali ini, bagaimana ia bisa masuk ke dalam kepala saya? Tangis saya jatuh semakin basah. Saya pun tidak tahu kenapa saya menangis. Saya tidak seharusnya sedang bersedih. Ada masalah lain yang harus saya pikirkan jalan keluarnya. Senja di hadapan jendela semakin ungu, saya harus menemukan pagi yang sebenarnya. Segera.

 

Ya, kau memang tidak pernah membalas sepatah kata pun yang telah aku tangiskan untukmu. Puisi itu, adalah puisi yang kutulis dengan senja agar indah dan cantik rupanya; agar bisa menarik perhatianmu meski hanya sedetik saja. Tetapi, kau tetap menjadi seseorang yang dingin tanpa hati. Kaupatahkan kecintaanku dengan kejamnya sikapmu. Kau bahkan tak menjawab sama sekali setelah kaubaca puisi yang kutangiskan itu. Tanpa kau sadari, kau telah melukai hati yang sungguh, mencintaimu dengan terlalu.

 

Saya berusaha tidak mendengar kalimat-kalimat yang berdengung di kepala saya kian tajam. Meski akhirnya saya sadari itu tidak mungkin. Sebab semakin saya berusaha, semakin dalam saya terjebak ke dalam arti yang terlalu saya pahami.

 

Saya mengenal perempuan itu. Saya pernah membaca senja yang ia kirimkan. Begitu indah, begitu cantik. Senja yang kemudian saya sadari terbaca seperti senja yang sedang saya lihat ini. Senja itu cinta di hatinya. Cinta yang berwarna ungu dengan semburat merah dan oranye. Cinta yang begitu tabah menahan lebam, sebab tak sekali pun saya menjawab pertanyaan-pertanyaanya. Lalu mata saya kembali meneteskan airnya semakin deras. Kini saya sadari mengapa saya bersedih. Saya merasakan apa yang perempuan itu rasakan.

 

Saya menangis seakan air mata yang pernah dijatuhkan perempuan itu mengalir di mata saya. Jatuhnya kemudian membasahi dada saya yang kian sesak. Mungkinkah ini sebentuk sesak yang pernah perempuan itu rasakan? Saya semakin terisak. Sambil menatap senja, saya mengenang kata-kata di dalam puisi yang pernah perempuan itu kirimkan. Tetapi sayang sekali, sungguh, sungguh sayang sekali—saya menyesal—tak satu kata pun mampu saya ulangi bunyinya. Saya tidak mengingat puisi perempuan itu, sama sekali. Tetapi kesedihannya semakin tajam menusuk kekhawatiran saya. Saya menangis sejadi-jadi.

 

Lihatlah senja di hadapanmu, kekasih. Langit yang kuhadiahkan kepada kau, agar mampu kau rasakan duka yang palung yang bersandar lama di penantianku. Bukankah cahayanya begitu indah? Membuatmu menyempatkan sedikit waktumu untuk mengenang seseorang. Sementara kenangan diciptakan untuk mengulang sesuatu yang tak pernah kembali, baik dengan kebahagiaan atau dengan penyesalan. Dan kuhadiahkan pagi ini, senja yang begitu silau, yang membuatmu bertanya-tanya dan merasa takut karena tak kau ketahui jawaban dari pertanyaanmu.

 

Begitulah aku. Perempuan yang pernah tenggelam di dalam senjanya sendirian. Tak lama setelah kau berlalu, aku menunggu jawaban darimu. Tetapi kutemukan diriku tidak akan pernah mendapatkan jawaban. Dan aku bertambah resah setiap hari. Seiring senja berganti senja, aku terbakar oleh rasa penasaranku sendiri. Aku mengutukmu sebab cinta tak lain hanyalah sebagian dari benci yang belum tumbuh. Jika dulu pernah kutuliskan kepadamu sebuah senja, kini aku menuliskanmu kepada senja. Aku ingin kau terbunuh seperti aku membunuh perasaanku sendiri. Dan kau tahu, kematian setitik perasaan tidaklah pernah menjadi hal yang mudah. Dan itu semua kutanggung sendirian.

 

Saya tertegun dan menahan napas. Sesak semakin membakar di dalam dada saya. Kemudian, meskipun saya tahu saya akan terdengar gila, akhirnya saya bersuara dan bertanya, seakan sedang berbicara dengan diri saya sendiri.

 

“Apa yang kaulakukan kepadaku? Apa yang kaulakukan kepada langit?”

 

Lalu saya menunggu jawaban.

 

Saya menunggu dan menunggu.

 

***

 

Setahun sudah berlalu. Senja masih menyala-nyala di hadapan jendela kamarku. Ungunya masih sama seperti awal saya menemukannya setelah bangun dari tidur. Cahaya yang indah itu kini seperti penjara bagi saya. Saya tidak pernah menemukan jawaban dari pertanyaan yang saya katakan satu tahun yang lalu. Saya mulai kehilangan waras. Mungkinkah pada waktu itu saya memang sudah gila, sehingga mengajak bicara diri saya sendiri?

Saya tidak bisa keluar dari keindahan senja ini. Dan kesedihan seperti membangun rumah mewah di dalam dada saya, hingga sesak tak pernah hilang, dan air mata saya seperti telah kering.

 

Saya tidak pernah mendapatkan jawaban. Senja masih begitu nyala di hadapan jendela kamar saya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil tali dan mengaitkannya di kayu yang melentang di atap kamar saya. Saya menaiki sebuah meja dan melilitkan tali itu di leher saya. Lalu perlahan tapi pasti, saya tinggalkan pijakan kaki saya dari atas meja tersebut.

 

Kemudian, saya merasakan air mata terakhir perempuan itu jatuh di pipi saya.  (*)

*Ivanasha, cerpenis. Twitter @Ivanasha

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerpen

Naguib Mahfouz: Surga Anak-anak

mm

Published

on

“BAPAK!”

“Ya?”

“Saya dan teman saya Nadia selalu bersama-sama.”

“Tentu, Sayang. Dia kan sahabatmu.”

“Di kelas, pada waktu istirahat, dan waktu makan siang.”

“Bagus sekali. Ia anak yang manis dan sopan.”

“Tapi waktu pelajaran agama, saya di satu kelas dan ia di kelas yang lain.”

Terlihat ibunya tersenyum, meskipun sedang sibuk menyulam seprai. Dan ia berkata sambil juga tersenyum:

“Itu hanya pada pelajaran agama saja.”

“Kenapa, Pak?”

“Karena kau punya agama sendiri dan ia punya gama lain.”

“Bagaimana sih, pak?”

“Kau Islam dan ia Kristen.”

“Kenapa?”

“Kau masih kecil, nanti akan mengerti.”

“Saya sudah besar sekarang.”

“Masih kecil sayangku.”

“Kenapa saya seorang Islam?”

Ia harus lapang dada dan harus hati-hati. Juga tidak mempersetankan pendidikan modern yang baru pertama kali diterapkan. Dan ia berkata:

“Bapak dan Ibu orang Islam. Sebab itu kau juga orang Islam.”

“Dan Nadia?”

“Bapak dan ibunya Kristen. Sebab itu ia juga Kristen.”

“Apa karena bapaknya berkacamata?”

“Bukan. Tak ada urusannya kacamata dalam hal ini. Dan juga karena kakeknya Kristen.”

Ia berusaha mengikuti silsilah kakek-kakeknya sampai entah tak ada batasnya, agar anak itu bosan dan mengalihkan pecakapan ke arah lain. Tapi sang anak bertanya:

“Siapa yang lebih baik?”

Ia berpikir sejenak, lalu berkata:

“Orang Islam baik dan orang Kristen juga baik.”

“Tentu salah satu ada yang lebih baik.”

“Ini baik dan itu juga baik.”

“Apa boleh saya berlaku seperti Kristen, agar kami bisa selalu bersama-sama?”

“Oo tidak, Sayang, itu tidak bisa. Tiap orang harus tetap seperti bapak dan ibunya.”

“Tapi, kenapa?”

Memang betul, pendidikan modern itu keji juga! Dan ia bertanya:

“Apa tidak tunggu saja sampai kau besar nanti?”

“Tidak.”

“Baiklah, kau tahu mode kan? Seseorang bisa menyenangi mode tertentu, dan orang lain menyenangi mode lain. Bahwa kau orang Islam, itu artinya mode terakhir. Sebab itu kau harus tetap Islam.

“Jadi, Nadia itu mode lama?”

Hmm, jangan-jangan Tuhan akan menjewermu bersama Nadia pada hari yang sama. Tampaknya ia telah melakukan kesalahan, betapapun ia sudah berhati-hati. Dan ia meraa seperti didorong tanpa ampun ke sebuah leher botol. Katanya:

“Masalahnya adalah selera. Tapi tiap orang harus tetap seperti bapak dan ibunya.”

“Apakah dapat saya katakan pada Nadia, bahwa ia mode lama dan saya mode baru?”

Segera ia memotong:

“Tiap agama baik. Orang Islam menyembah Allah, dan orang Kristen menyembah Allah juga.”

“Kenapa ia menyembah Allah di satu kelas dan saya di kelas yang lain?”

“Di sini Allah disembah dengan cara tertentu, dan di sana dengan cara lain?”

“Apa bedanya, Pak?”

“Nanti tahun depan kau akan mengetahuinya, atau tahun berikutnya lagi. Sekarang kau cukup tahu saja, bahwa orang Islam itu menyembah Allah dan orang Kristen juga menyembah Allah.”

“Siapa sih Allah, Pak?”

Jadinya ia berpikir agak lama juga. Lantas ia bertanya untuk sekadar mengulur waktu:

“Apa kata Bu Guru di sekolah?”

“Ia membaca surat-surat dari Al-Quran dan mengajari kami sembahyang. Tapi saya tidak tahu siapa Allah itu.”

Ia berpikir lagi, sambil tersenyum agak remang. Katanya:

“Ia yang menciptakan dunia seluruhnya.”

“Seluruhnya?”

“Ya, seluruhnya.”

“Apa artinya mencipta?”

“Yang membuat segala sesuatu.”

“Bagaimana caranya?”

“Dengan kekuasaan yang agung sekali.”

“Dimana Ia tingal?”

“Di dunia seluruhnya.”

“Dan sebelum ada dunia?”

“Di atas.”

“Di langit?”

“Ya.”

“Saya ingin melihat-Nya.”

“Tidak bisa.”

“Meski melalui televisi?”

“Ya, tidak bisa juga.”

“Tak seroang pun bisa melihat-Nya?”

“Tak seorang pun.”

“Bagaimana Bapak tahu Ia ada di atas?”

“Begitulah.”

“Siapa yang kasih tahu ia di atas?”

“Para nabi.”

“Para nabi?”

“Ya, seperti nabi kita Muhammad.”

“Bagaimana caranya?”

“Dengan kesanggupan yang khas ada padanya.”

“Kedua matanya tajam sekali?”

“Ya.”

“Kenapa begitu?”

“Allah menciptakannya begitu.”

“Kenapa?”

Dan ia menjawab sambil menahan kesabarannya:

“ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki.”

“Dan bagaimana nabi melihat-Nya?”

“Agung sekali, kuat sekali, dan berkuasa atas segala sesuatu.”

“Seperti Bapak?”

Ia menjawab sambil menahan tawanya:

“Ia tak ada bandingannya.”

“Kenapa Ia tinggal di atas?”

“Bumi tak bisa memuat-Nya. Tapi Ia bisa melihat segala sesuatu.”

Anak kecil itu diam sebentar, lalu katanya:

“Tapi Nadia bilang, Ia tinggal di bumi.”

“Karena Ia tahu dan melihat segala sesuatu, maka seolah-olah Ia tinggal di mana-mana.”

“Dan ia juga bilang, orang-orang telah membunuh-Nya.”

“Tapi Ia hidup dan tidak mati.”

Nadia bilang, orang-orang itu telah membunuh-Nya.”

“Tidak, Sayang. Mereka mengira telah membunuh-Nya. Tapi Ia hidup dan tidak mati.”

“Dan kakekku masih hidup juga?”

“Kakekmu sudah meninggal.”

“Apa orang-orang juga telah membunuhnya?”

“Tidak, ia meninggal sendiri.”

“Bagaimana?”

“Ia sakit, dan kemudian meninggal.”

“Dan adikku juga akan meninggal karena ia sakit?”

Keningnya mengernyit sebentar, sementara ia melihat gerak semacam protes dari arah istrinya.

“Tidak, insya Allah ia akan sembuh.”

“Dan kenapa Kakek meninggal?”

“Sakit dalam ketuaannya.”

“Bapak pernah sakit dan Bapak juga sudah tua. Kenapa tidak meninggal?”

Tiba-tiba ibunya menghardiknya. Anak itu jadi heran tak mengerti, sebentar matanya ditujukan pada ibunya, sebentar lagi pada ayahnya. Kata sang ayah:

“Kita semua akan mati kalau Tuhan menghendakinya.”

“Kenapa Tuhan menghendaki agar kita semua mati?”

“Ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki.”

“Apa mati itu menyenangkan?”

“Tidak, Sayang.”

“Kenapa Tuhan menghendaki sesuatu yang tidak menyenangkan?”

“Selama Tuhan yang menghendaki begitu, itu artinya baik dan menyenangkan.”

“Tapi tadi Bapak bilang, itu tidak menyenangkan.”

“Hmm, Bapak keliru tadi.”

“Dan kenapa Ibu marah waktu saya bilang bahwa Bapak akan mati?”

“Karena Tuhan belum menghendaki begitu.”

“Kenapa Ia menghendaki begitu, Pak?”

“Dialah yang membawa kita ke dunia, dan Dia pula yang membawa kita pergi.”

“Kenapa?”

Agar ita berbuat baik di dunia sebelum kita pergi.”

“Kenapa kita tidak tinggal saja terus di dunia?”

“Nanti tak akan muat dunia kalau semua orang tinggal.”

“Dan kita tinggalkan hal-hal yang baik?”

“Kita akan pergi ke hal-hal yang lebih baik lagi.”

“Di mana?”

“Di atas.”

“Si sisi Tuhan?”

“Ya.”

“Dan kita bisa melihat-Nya?”

“Ya.”

“Tentunya itu bagus kan?”

“Tentu.”

“Kalau begitu, kita harus pergi.”

“Tapi sekarang kita belum melakukan hal-hal yang baik.”

“Dan kakek sudah melakukannya?”

“Ya.”

“Apa yang ia lakukan?”

“Ia telah membangun rumah dan menanam kebun.”

“Dan Tutu, sepupuku, apa yang sudah ia lakukan?”

Wajahnya jadi merengut sebentar, kemudian pandangannya ia tujukan ke arah istrinya seperti minta kasihan.

“Ia juga telah bikin sebuah rumah kecil sebelum ia pergi.”

“Tapi Lulu, tetangga kita, ia pernah memukulku dan tak pernah berbuat baik.”

“Ia anak nakal.”

“Tapi ia tidak akan mati.”

“Kecuali kalau Tuhan menghendakinya.”

“Meskipun ia tidak berbuat hal-hal yang baik?”

“Semua akan mati. Siapa yang berbuat baik, ia akan pergi ke sisi Tuhan. Dan siapa yang berbuat jahat, ia akan ke neraka.”

Anak kecil itu menarik napas seraya kemudian diam. Sang ayah tiba-tiba merasa dirinya begitu capek. Tak tahu ia, berapa dari kata-katanya tadi yang benar dan berapa yang salah. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah menggerakkan tanda-tanya, yang kemudian mengendap di dalam dirinya. Namun si kecil tiba-tiba berseru:

“Saya ingin selalu bersama Nadia!”

Ditolehkannya kepalanya seperti ingin tahu. Si kecil itu berseru lagi:

“Meski pada pelajaran agama sekalipun!”

Dan ia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Istrinya juga ketawa. Sambil menguap mengantuk, ia kemudian berkata:

“Tak bisa kubayangkan, pertanyaan-pertanyaan ini bisa didiskusikan pada taraf umur begitu!”

Istrinya menyahut:

“Nanti ia akan besar, dan kau akan bisa menjelaskan hal-hal itu padanya.”

Cepat ia menoleh ke perempuan itu, untuk mengetahui apa memang betul kata-katanya atau hanya sekadar cemoohan berlaka. Namun dilihatnya perempuan itu sudah sibuk lagi dengan sulamannya. (Penerjemah: M. Fudoli Zaini)

_______________________________________

*) Naguib Mahfouz: Lahir di Kairo, Mesin tahun 1911. Mahfouz dianggap sebagai pengarang besar berbahasa Arab, bahkan ia dianggap yang terbesar dalam sastra modern Mesir yang belum berusia satu abad itu. Sebagai pengarang, mula-mula ia menulis dengan gaya romantis, kemudian realistis, simbolis, filosofis, dan terakhir simbolis-filosofis dengan kecenderungan sufistis. Ia meraih Nobel Prize for Literature 1988.

Mahfouz terutama dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis cerita pendek. Karya-karyanya meliputi 32 novel, 14 kumpulan cerita, dan 30 naskah film. Di antara karya-karyanya adalah Khan Al-Khalili (1946), Zuqaq Al-Midag (1947), trilogi Bain Al-Qasrain, Qasr Asy-Syauq, As-Sukkariyah (1956-1957), Al-Liss Wa al-Kilab (1962), Al-Tariq (1964), Asy-Syahhadz (1965), dan Pentalogi Aulad Haratina (1969).

Dalam keterangan pers-nya Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusastraan pada Mahfouz sebagai pengakuan untuk: “…ketajaman nuansa realistik, kadang ambigu, yang dibentuk dalam seni kisahan Arab yang diaplikasikan bagi semesta kemanusiaan….”

Mahfouz adalah sastrawan pertama Mesir yang memperoleh penghargaan tersebut.

Continue Reading

Cerpen

Bagaimanapun, Tikus Tidak Membelah Diri

mm

Published

on

pict by atoygarden.com

Ali seharusnya mati pada pukul sembilan malam. Tuhan telah bersusah payah menyiapkan latar yang diperlukan untuk itu; hujan sejak Magrib (selepas Ashar, Ali mengeluh, “apa kiamat sudah tiba? Kok tiba-tiba segelap ini?” dan Mutia menjawab, “jangan tolol! Itu mendung!” dan Ali melanjutkan, “kukira mendadak malam.”), petir tak henti-henti, angin merontokkan dedaunan kembang kemuning di depan kamar kos, dan sejumlah pertengkaran antara dua kekasih yang semestinya mendorong Ali segera keluar dari ruangan lima kali enam meter itu, apa pun yang terjadi di luar, seperti kebiasaannya. Pertengkaran itu meliputi:

1/ Kopi habis. Mutia mengatakan warung dekat kos tutup. Famili pemiliknya meninggal tadi pagi. Seharusnya kamu pergi ke warung sana, kata Ali merujuk warung di ujung gang. Malas, jawab Mutia, aku tidak suka kopi, lanjutnya. Ali berang. Jauh-jauh aku datang ke sini dan sekadar kopi pun kamu gak mau mengusahakannya, keluhnya. Aku capek, kata Mutia, kamu tahu itu, lanjutnya. Tapi Ali tak mau tahu. Dan Mutia mengangkat roknya, memelorot celana dalamnya, menunjukkan bercak kemerahan dan pembalut di celana dalam itu. Aku dilepan anjing, katanya keras.

2/ Asap rokok. Ali merokok seperti sepur. Kamu mau membunuhku? keluh Mutia, kalem. Apa sebenarnya maumu? Kopi gak ada dan merokok juga gak boleh? jawab Ali dengan serangkaian pertanyaan, ketus. Itu bukan rokokmu yang biasanya, kata Mutia. Aku sedang kere, jawab Ali, ini rokok murah. Kamu seharusnya bilang tadi, kata Mutia. Lha wong kopi saja kamu gak mau beli, apalagi rokok, jawab Ali. Mutia tertawa, lalu berkata lirih, matikan rokokmu, aku sesak. Anjing, jawab Ali. Dan ia terus saja merokok.

3/ Telepon. Burhan menelepon selama, tak kurang, 30 menit. Urusan kerjaan, bela Mutia. Apa kataku? Kamu lupa? Aku gak suka kamu ngurusi kerjaan kalo ada aku di sini, kata Ali. Aku juga gak pingin, tapi tadi penting, Mutia masih membela diri. Kamu seharusnya gak ngangkat teleponnya, serang Ali. Jangan tolol, kata Mutia, lagipula sudah selesai kok teleponnya, tambahnya. Kamu benar-benar menyebalkan, aku rasa aku salah ke sini kali ini, kata Ali akhirnya.

4/ Petai. Cium aku, Mutia merayu. Kamu mens, Ali menolak. Halah, cuma cium kok, Mutia masih merayu, matanya mengedip genit, sedikit saja, tambahnya. Anjing, kamu makan petai ya, Ali menjauhkan menjauhkan mulutnya yang sudah berjarak dua senti dari bibir Mutia. Tadi pagi pas sarapan, kata Mutia seraya secara reflek meletakkan kedua tangannya di depan mulut dan memantulkan napasnya sendiri. Aku sudah sikat gigi, gak bau, kata Mutia lagi. Gak bau? Gila, sudah, jangan dekat-dekat, Ali mundur tiga langkah. Kamu jahat, Mutia purik. Biar, kata Ali, cuek. Sudah, kamu pulang saja, perintah Mutia.

Tapi Ali tidak keluar dari kamar kos itu. Seekor tikus tiba-tiba melompat dari lemari tivi ke sofa hijau, berlari di sepanjang sandarannya, dan terlihat tergelincir di ujung.

“Bagaimana bisa ada tikus di sini?”

“Itu tidak mungkin.”

Ali meletakkan tas yang sudah ia sandang. Mutia tampak sepucat mayat. “Ambilkan sapu,” kata Ali. “Aku akan membuatnya gepeng dengan sekali gebyok.”

Tikus itu menghilang. Ali menyeret sofa. Napasnya ngos-ngosan. “Sudah lama aku tidak berolah raga,” keluhnya. Ada tiga bungkus permen mint, dua puntung rokok putih, dan empat tutup botol minuman bersoda yang ia temukan di bawah sofa itu. “Gila, kemana tikus itu pergi?”

“Apa tadi benar-benar tikus?” Mutia masih sepucat mayat.

“Tentu saja. Apa kau kira itu dinosaurus?”

“Maksudku, bagaimana bisa ada tikus di sini?”

“Barangkali ada lubang.”

Gelegar petir menyelusup ke dalam kamar kos. Namun bagi mereka, tak ada yang lebih mengagetkan selain seekor tikus yang tiba-tiba ada dalam kamar kos itu, yang melompat dari lemari tivi, berlari di sepanjang sandaran sofa, lalu tergelincir dan menghilang di ujung.

“Dua tahun aku tinggal di sini,” kata Mutia, “dan gak pernah ada tikus.”

“Tentu saja aku tahu. Aku yang membantumu pindahan.”

Ali memindai tembok. Ia memiringkan tubuh di samping lemari tivi, memeriksa celah selebar lima senti antara tembok yang dilapisi kertas krem motif kembang-kembang dengan lemari kayu jati tersebut. “Bersih,” gumamnya. Ia bergeser ke samping ranjang. Ruang antara ranjang dan tembok lebih sempit lagi. Ali menyalakan senter dari ponselnya. “Susah sekali,” keluh Ali. “Tapi aku yakin ini juga aman.”

“Lalu di mana lubangnya?”

“Mungkin di balik lemari baju.”

“Apakah menurutmu tikus bisa lahir dari sisa makanan?”

“Jangan tolol, Mutia.”

“Tapi tidak ada lubang.”

“Ya, dan kau bisa yakin tiga juta tahun lagi tikus itu akan ber-evolusi menjadi manusia.”

Ali mengecek tembok di balik lemari baju. Tidak begitu susah. Ia hanya perlu memiringkan kepala sedikit, mengarahkan cahaya senter, dan sampai pada kesimpulan bahwa lubang sarang tikus itu tidak berada di sana.

Di luar, tik-tik hujan di atas genting menunjukkan volume air yang tidak terkira. Suara petir terdengar kian rapat. Dan cahayanya menyelusup melewati jendela kaca dan kelambu kamar kos. Tetangga kos berteriak. Mereka, Mutia dan Ali, terdiam selama beberapa detik.

“Dia akan mati kalau tahu ada tikus di kamarnya,” dengus Mutia, lalu meletakkan pantatnya ke kasur bersprei putih.

“Tikusnya sudah gak ada,” Ali menghela napas panjang. Lalu duduk di sofa, meloloskan sebatang rokok, dan menyulutnya.

“Bagaimana dia bisa menghilang? Dia pasti sembunyi.”

“Aku tidak tahu. Bangsa tikus sepertinya memang dilengkapi semacam kemampuan ajaib untuk bersembunyi di depan mata kita dan kita tidak bisa melihatnya. Kecuali kita seekor ular atau kucing, kukira.”

“Ia akan beranak pinak di sini, bukan?”

“Jangan tolol. Kau jelas-jelas lihat bahwa dia sendirian. Lagipula, tidak ada pembuahan yang bisa berhasil di kamar ini. Dua tahun kita…”

“Stop… kita sedang membahas tikus. Bukan kita.”

“Dia sendirian!”

“Dia bisa saja membelah diri!”

“Mutia, gila. Berapa nilai biologimu?”

“Dan seminggu lagi kamar ini akan penuh dengan tikus. Koloni tikus. Kampung tikus. Kota tikus. Negara tikus. Dan aku mesti ke mana?”

“Dia tikus. Gila… tikus tidak membelah diri.”

“Mereka akan merencakan kudeta. Dan aku, perempuan seperti aku, yang lemah dan tak berdaya, yang berpacaran dengan lelaki tak berguna, yang bahkan tak mampu menemukan seekor tikus kecil di kamar kos kecil. Oh, apa yang bisa aku lakukan?”

“Ini bukan panggung teater, dasar kau aktris gagal!”

Ali meraih ponselnya. Membuka Google, mengetik tikus. Lalu menyodorkannya ke Mutia. “Baca! Tikus tidak membelah diri!”

“Ponselmu mati.”

“Sial! Mana chargermu?”

Di luar kamar, maut menggigil. Di tangan kanannya tongkat petir teracung, siap dilemparkan. Waktu menunjukkan pukul sembilan kurang tiga menit. Tapi tentu saja tak ada yang tahu, selain dirinya sendiri, Tuhan, dan aku sebagai penutur kisah ini.

“Tikus tidak membelah diri, Mutia. Bagaimana pun, tidak.”

Mutia mulai terisak. Tampak betul ketakutan. Ali duduk di sebelahnya. Merangkulnya. Sudah pukul sembilan tepat ketika terdengar dentuman keras yang menggetarkan kaca jendela kos, menyentakkan mereka berdua dari suasana manis nan romantis yang baru terbangun, dan menggegerkan kos-kosan yang memiliki tujuh kamar itu dengan teriakan-teriakan histeris. Mereka akan menemukan, beberapa saat lagi, pohon kemuning tepat di depan kamar kos yang gosong dan berasap. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

Continue Reading

Cerpen

Ernest Hemingway: Bila Dara Jatuh Cinta

mm

Published

on

Jim Gilmore datang ke Hortons Bay dari Kanada. Dia membeli toko pandai besi dari seorang tua bernama Horton. Jim bertubuh pendek dan berkulit gelap dengan kumis besar melintang dan tangan yang gempal. Ia jago membuat sepatu kuda, namun begitu penampilannya tak tampak seperti seorang tukang besi biarpun dia sedang mengenakan seragam kerja dari kulit. Jim tinggal di loteng di atas bengkel pandai besi miliknya dan biasanya makan di kedai milik D.J.Smith.

Liz Coates bekerja di kedai milik D.J. Smith. Nyonya Smith adalah perempuan bertubuh subur yang amat memperhatikan kebersihan. Menurutnya Liz adalah gadis paling rapi yang pernah ia kenal. Liz memiliki sepasang kaki yang indah. Ia selalu memakai pakaian seragam kerja yang bersih dan Jim memperhatikan bahwa rambutnya selalu digelung rapi di belakang kepalanya. Jim menyukai wajahnya yang tampak segar, namun ia tak pernah memikirkan sesuatu yang berlebihan tentang gadis itu.

Liz sangat menyukai Jim. Dia menyukai cara berjalan dan sering mengintipnya dari balik pintu dapur kala lelaki itu berjalan melintasi jalanan ke arah kedai. Dia menyukai kumisnya. Dia menyukai barisan gigi putih yang kelihatan saat Jim tersenyum. Dia suka Jim karena lelaki itu tak tampak seperti seorang tukang besi. Dia menyukai betapa pasangan Smith begitu menyenangi Jim. Suatu hari ia menyadari betapa ia pun menyukai rambut hitam Jim sat lelaki itu sedang mencuci rambut di sebuah bak di depan rumahnya. Menyukai hal itu membuatnya merasa lucu.

Hortons Bay, kota itu, hanya terdiri dari lima rumah di jalan utama yang menghubungkan Boyne City dengan Charlevoix. Ada sebuah toko kelontong dan kantor pos yang di depannya sering diparkir sebuah mobil pos, lalu rumah Smith, rumah Stroud, rumah Dilworth, rumah Horton, dan rumah milik Van Hoosen. Jalanan di muka rumah-rumah itu amat berpasir. Berhadapan dengan rumah-rumah itu terdapat sebuah gereja Methodis dan di sisi lainnya ada sebuah sekolah lokal. Bengkel pandai besi milik Jim terletak di seberang sekolahan dan bercat merah.

Ada sebuah jalanan curam berpasir melintasi lereng bukit ke arah teluk. Dari pintu belakang kedai Smith kita bisa memandang barisan pepohonan di sepanjang jalan yang melintasi pinggiran danau menuju ke teluk. Pemandangan di sana sangat indah di musim semi dan musim panas, teluk yang terang dan kebiruan biasanya dihiasi awan putih yang dibawa angin dari Charlevoix  dan Danau Michigan. Dari pintu belakang kedai Smith, Liz bisa melihat pemandangan di sekitar danau dan jalan menuju Boyne City. Saat melihat pemandangan itu sama sekali dia tak ingin pergi ke sana, namun ia selalu memandang ke arah sana jika sedang mengeringkan piring selesai dicuci.

Setiap saat kini Liz melamunkan Jim Gilmore. Tapi lelaki itu tampaknya tak terlalu peduli padanya. Jim sering ngobrol tentang kedai itu dengan D.J. Smith atau tentang Partai Republik dan James Blaine. Di senja hari biasanya lelaki itu membaca The Toledo Blade diterangi sinar lampu di depan kamarnya atau kadang-kadang memancing ikan di teluk bersama D.J. Smith.

Di musim gugur dia dan Smith serta Charley Wyman pergi membawa mobil, tenda, kapak, senapan, dan dua ekor anjing untuk berburu rusa dan hutan pinus dekat V anderbilt. Liz dan Nyonya Smith memasak makanan untuk persediaan empat hari buat mereka. Liz sebetulnya ingin memasak sesuatu yang istimewa buat Jim, namun akhirnya dibatalkannya karena ia segan meminta telur dan tepung pada Nyonya Smith. Untuk membelinya ia was-was jika Nyonya Smith memergokinya saat ia memasak. Sebetulnya Nyonya Smith tak akan keberatan, namun tetap saja Liz merasa takut.

Ketika Jim pergi berburu, Liz selalu gelisah memikirkannya. Baginya kepergian Jim adalah sesuatu yang menyedihkan. Dia tak bisa tidur dengan enak karena memikirkan lelaki itu terus-menerus, namun ia menutupinya dengan berkata pada dirinya sendiri bahwa memikirkan Jim adalah suatu hal yang konyol. Pada malam mereka akan pulang, Liz benar-benar tak bisa tidur. Dia seolah-olah sedang bermimpi, namun kenyataannya dia tak bisa tidur sama sekali. Ketika mobil mereka mulai tampak di jalan raya, ia merasa deg-degan. Ia tak sabar menunggu Jim kelihatan. Semuanya jadi serba menyenangkan jika lelaki itu tiba dengan selamat. Saat mobil itu berhenti di depan rumah, Nyonya Smith dan Liz segera memburunya. Ketiga orang itu tampak brewokan dan ada tiga ekor rusa di bak belakang mobil. Kaki-kakinya yang ramping mencuat kaku dari pinggiran bak yang terbuka. Nyonya Smith mencium D.J. lalu suaminya balas memeluknya. Jim menyapa, “Hai, Liz,” dan meringis padanya. Liz tak tahu apa yang terjadi, namun dia merasa ada sesuatu yang menyenangkan saat Jim kembali. Dia senang mereka semua pulang dengan selamat. Liz memperhatikan Jim menyeret hasil buruan mereka dari mobil. Salah satunya amat besar. Tampaknya rusa-rusa itu berat sekali.

“Kamu yang menembaknya, Jim?” tanya Liz.

“Yeah. Bagus kan?” Jim memanggul rusa itu di punggungnya.

Malam itu Charley Wyman masih ada di rumah Smith saat makan malam. Sudah terlalu larut untuk kembali ke Charlevoix. Mereka membersihkan badan dan menunggu saat makan malam sambil duduk-duduk di beranda.

“Ada yang ketinggalan di mobil, Jim?” D.J.Smith bertanya. Jim berjalan ke mobil dan kembali dengan membawa gentong wiski yang mereka bawa waktu berburu. Ada empat gallon wiski dalam gentong itu. Jim membawanya ke dalam rumah. Gentong itu tampaknya cukup berat, susah untuk membawanya sendirian. Sebagian wiski tumpah membasahi kemeja Jim. Dua orang kawannya tersenyum melihat Jim membawa wiski itu. D.J. meminta gelas dan Liz membawakannya. D.Z. menuangkan wiski itu ke dalam tiga gelas besar.

“Rusa itu menatapmu, D.J.,” kata Charley Wyman sambil melirik bangkai rusa.

“Rusa yang besar, Jimmy,” kata D.J.

“Ini dia yang ketinggalan, D.J.,” kata Jim sambil menenggak minumannya.

“Rasanya lezat.”

Jim merasa nyaman. Dia menyukai rasa wiski itu. Dia senang telah pulang kembali dan dibayangkannya betapa kasur empuk serta makanan hangat telah menunggunya. Jim minum segelas lagi. Mereka menuju meja makan dengan riang gembira. Liz duduk setelah menyiapkan makanan. Makan malam yang menyenangkan. Para lelaki itu makan dengan lahap. Setelah makan mereka kembali ke ruang depan sementara Liz membersihkan bekas makan malam bersama Nyonya Smith. Tak lama kemudian Nyonya Smith naik ke lantai atas dan suaminya segera menyusulnya. Jim dan Charley masih ada di ruang depan. Liz duduk di dapur di depan perapian berpura-pura membaca sebuah buku padahal ia sedang melamunkan Jim. Dia belum ingin tidur karena ia tahu Jim akan pulang dan ia ingin melihat Jim saat lelaki itu pulang.

Liz sedang melamun tentang Jim saat lelaki itu datang. Matanya bersinar-sinar dan rambutnya agak berantakan. Liz menunduk pada buku yang dipegangnya. Jim menuju ke belakang kursi yang diduduki oleh gadis itu dan berdiri di situ hingga Liz bisa merasakan bunyi tarikan napasnya. Lalu di rasakannya tangan Jim melingkari tubuhnya. Buah dadanya terasa membesar dan mengencang dan putingnya mengeras karena sentuhan lelaki itu. Liz merasa amat takut, tak seorang pun pernah menyentuhnya sebelum itu. Tapi ia berkata dalam hati, “Akhirnya dia datang juga. Dia benar-benar datang padaku.”

Liz merasa tubuhnya kaku karena ia begitu takut dan tak tahu apa yang harus diperbuatnya, kemudian Jim memeluknya dengan erat dari belakang kursi dan menciumnya. Dia merasakan semacam rasa sakit yang menusuk saat ia sadar bahwa ia tak mampu menahan perasaannya. Dia merasakan Jim di belakang tubuhnya dan sesuatu dalam dirinya bergolak, perasannya menjadi hangat dan lembut. Jim masih memeluknya erat dan dia menyukainya. Jim berbisik, “Ayo kita jalan-jalan.”

Liz mengambil mantelnya dari gantungan di dinding dapur dan mereka pergi lewat pintu dapur. Jim melingkarkan tanganya di tubuh Liz dan sesekali mereka berhenti berjalan, tubuh mereka saling menekan dan Jim menciumnya. Tak ada rembulan di langit saat mereka berjalan melalui jalanan berpasir di sepanjang barisan pepohonan yang menurun ke arah teluk. Air danau begitu tenang dan bagian tengahnya tampak gelap di seberang teluk. Udara begitu dingin, namun Liz merasa hangat karena Jim ada di dekatnya. Mereka duduk di depan sebuah gudang dan Jim menarik menarik Liz agar lebih mendekat padanya. Liz merasa takut. Salah satu tangan Jim menyusup di balik gaunnya dan meraba payudaranya, tangannya yang lain bergerak di pangkuan Liz. Perempuan itu amat takut dan tak tahu apa yang akan dilakukan Jim padanya, namun ia meringkuk rapat ke tubuh lelaki itu. Kemudian tangan yang terasa besar di pangkuannya itu bergerak liar ke arah sepasang kakinya.

“Jangan, Jim,” kata Liz. Jim bergerak makin liar. Tangannya menyusup kian ke atas

“Kamu tak boleh, Jim. Jangan. “Jim maupun tangannya yang besar itu tak mempedulikannya.

Jim menyingkapkan rok Liz dan berusaha melakukan sesuatu padanya. Liz merasa takut, namun diam-diam dia menyukainya. Dia menginginkannya, namun ia takut.

“Jangan, Jim. Jangan…”

“Aku ingin. Kita menginginkannya.”

“Kita tidak boleh, Jim. Belum waktunya. Oh, ini salah… Kamu tak boleh, Jim. Oh, Jim. Oh…”

Angin berhembus keras di sekitar teluk itu dan udara begitu dingin. Jim begitu bernafsu di atas tubuh perempuan itu dan dia membuatnya kesakitan. Liz mendorongnya. Dia merasa tidak nyaman dan kaku. Sesaat kemudian Jim tertidur di atas tubuh Liz, diam tak bergerak. Liz mencoba melepaskan diri dari himpitan tubuh Jim dan berusaha duduk sambil merapikan rok dan mantelnya. Dirapikannya juga rambutnya yang acak-acakan. Jim tertidur dengan mulut agak terbuka. Liz menyentuhnya sekilas dan mencium pipinya. Dia mengangkat kepala Jim lalu menggoyang-goyangkannya. Jim hanya menggerakkan kepalanya sedikit. Liz mulai menangis. Dia berjalan ke ujung dermaga dan menatap kilatan air di bawah. Sebaris kabut bergerak beriringan dari arah teluk. Liz merasa kedinginan dan sedih. Dia kembali ke arah Jim terbaring dan menggoyangkan tubuh lelaki itu sekali lagi agar benar-benar terjaga. Perempuan itu menangis.

“Jim,” katanya. “Jim. Bangun, Jim.”

Jim bergerak sejenak lalu meringkuk lebih dalam. Liz membuka mantelnya dan menyelimutkannya ke tubuh Jim yang terbaring diam. Dia melingkarkannya di sekeliling tubuh Jim dengan rapi dan hati-hati. Lalu ia berjalan melintasi dermaga menaiki jalanan curam berpasir menuju ke rumah. Dari arah teluk, kabut dingin merayapi sela-sela pepohonan di sepanjang jalan itu. (*)

________________________________

*) Ernest Miller Hemingway adalah salah satu penulis terkemuka di abad 20. Dia memulai karirnya sebagai jurnalis sebelum sukses menjadi pengarang. Pria kelahiran Oak Park, Illinois, pada 21 Juli 1899 ini tak kalah menarik dengan karya-karyanya. Ia adalah sosok kontroversial sejak usia muda. Dia mulai menulis untuk koran sekolahnya saat SMA.

Walaupun cukup berhasil dalam hampir seluruh aktivitasnya di sekolah, ia sempat dua kali berhenti sekolah dan kabur dari rumah sebelum bergabung sebagai reporter magang di sebuah koran lokal yang terbit di Kansas City pada umur 17 tahun. Ia lalu menjadi sopir ambulan pasukan Sekutu di Italia dalam Perang Dunia I dan pulang dalam keadaan terluka sebagai seorang pahlawan perang. Kemudian, sebagai wartawan muda ia menulis feature secara teratur untuk mingguan Star Weekly yang terbit di Toronto, Kanada.

Pengalaman hidupnya yang luas dituangkan dalam karya-karyanya, antara lain novel The Old Man and the Sea (1952) ini yang berkisah tentang perjuangan seorang nelayan tua Kuba untuk menangkap seekor ikan marlin raksasa. Novel yang ditulis saat dia tinggal di Kuba ini memenangi Hadiah Pulitzer 1953 dan Award of Merit Medal for Novel dari American Academy of Letters. Novel ini juga kemudian mengantarnya meraih penghargaan bergengsi Hadiah Nobel Sastra pada 1954. Novelnya juga berulang kali dijadikan film.

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending