© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.

Kita mengenal beberapa kenikmatan. Ada kenikmatan badani; kenikmatan estetis atau seni; kenikmatan intelektual; kenikmatan etis-moral; kenikmatan rohani, spiritual. Di dalam kenikmatan badani ada kenikmatan yang menyeluruh mengenai sekujur tubuh; ada kenikmatan indriawai yang berkenaan dengan indra; dan ada kenikmatan seksual yang berhubungan dengan seks. Di antara banyak manusia ada orang-orang yang mempunyai pandangan dan pendirian khusus terhadap kenikmatan seksual. Mereka itu mungkin terkena pandangan dan pendirian seksualistis, Seksualisme.  Kata yang menjadi akar istilah seksualisme adalah dari bahasa Latin, sexualis, yang merupakan kata sifat dari kata benda sexus, yang berarti ‘jenis kelamin’.  Karena itu, seksualisme adalah pandangan dan pendirian yang terlalu tinggi menghargai, menjunjung, dan mendewakan kenikmatan seksual.

Masalah yang berkaitan dengan seks sejak zaman dulu hingga sekarang selalu merupakan hal menarik. Dalam dongeng peristiwa seks menjadi pangkal perang besar, antara lain, dalam kisah Ramayana dan Perang Troya. Banyak orang besar di dunia politik jatuh karena soal seks. Novel, film, dan cerita TV menjadi bertambah lengkap karena bumbu-bumbu seks. Gosip dan pembicaraan diwarung, di kantor, di jalanan ramai karena seks menjadi bahannya. Seks adalah hal yang banyak dimensi. Seks membuat orang yang menyandangnya memiliki ciri khusus, menjadi manusia laki-laki atau perempuan. Seks mewarnai pergaulan antarmanusia. Pergaulan dan hubungan yang awalnya hanya satu jenis kelamin, misalnya laki-laki saja, tiba-tiba berubah pada saat jenis perempuan bergabung. Seks menjadi faktor penting dalam pembentukan keluarga. Oleh seks, hubungan dan komunikasi cinta suami istri mendapat bentuk ungkapan yang paling intim. Dalam perbuatan seksual suami istri saling  memberi dan menerima kenikmatan. Berkat hubungan seksual umat manusia dikembangkan. Demikian, seks mengandung dimensi pribadi, sosial, komunikasi cinta, kenikmatan, dan pengikutsertaan manusia dalam penciptaan dan prokreasi manusia.

Dari semua dimensi itu, seksualisme mengambil dimensi kenikmatan sebagai yang utama. Tak dapat disangkal seks mendatangkan kenikmatan. Kenikmatan seksual merupakan kenikmatan yang paling dekat dan terasa lahir dan batin. Akan tetapi, kenikmatan seksual tidak berhenti di tubuh. Kenikmatan seks menyentuh kenikmatan estetis sejauh menyangkut keindahan cinta antarmanusia. Kenikmatan seksual menghampiri kenikmatan rohani, spiritual, sejauh menyatukan jiwa dua makhluk rohani. Oleh karena itu, tak heran bila kehidupan, hubungan, dan kegiatan seksual dalam sastra, dalam kisah lisan, dalam film dilukiskan dengan berbagai cara dan masih saja tidak tuntas, dan masih dapat digambarkan dengan cara-cara baru lain lagi.

Sayangnya, seksualisme hanya terpaku pada kenikmatan seksual sebatas badani. Pandangan dan pendirian itu menciptakan gaya hidup dan perilaku pergaulan tersendiri. Orang yang bermental seksualistis dalam pemikirannya banyak berkecamuk perkara-perkara seksual fisik. Dalam pembayangannya, banyak berkeliaran datang pergi gambaran-gambaran seksual fisik. Untuk relaksasi, rekreasi, dan pelepasan lelah, yang dicari adalah hiburan yang berbau seks, seperti film seks, kesenian yang nyrempet seks, dan kegiatan seksual, entah di mana tempatnya dan bagaimana bentuknya. Dalam pergaulan dengan jenis lain yang diperhatikan pada rekan bergaulnya adalah tanda-tanda seksual yang ada padanya. Orang jenis lain dipandangnya sebagai objek seksual untuk dinikmati. Dengan demikian, bagi orang seksualistis pergaulan dengan manusia jenis lain yang baik-baik, sejajar, saling menghargai sebagai pribadi dan bukan objek seksual merupakan hal yang sulit dimengerti dan dilaksasnakan. Dari uraian ringkas pribadi yang terkena pandangan dan pendirian seksual itu, dapat disampaikan catatan-catatan berikut.

Pertama, kenikmatan seksual fisik memang ada, baik, berguna, penting, dan berharga. Akan tetapi, kenikmatan seksual fisik bukan merupakan satu-satunya kenikmatan dan yang paling tinggi. Karena itu, menganggapnya demikian jelas merupakan anggapan yang keliru.

Kedua, kenikmatan seksual fisik, seperti kenikmatan lain, merupakan akibat samping dari kegiatan. Misalnya, kenikmatan estetis merupakan dampak samping dari kegiatan kesenian, entah lukis, musik, tari. Karena itu, kenikmatan seksual fisik tak dapat dicari pada dirinya sendiri, sebagai tujuan. Kenikmatan seksual fisik adalah buah dari kegiatan yang mengungkapkan hubungan cinta. Tanpa cinta, kenikmatan seksual fisik mirip dengan kenikmatan sekresi, pada waktu kita pergi ke “belakang”. Kenikmatan seksual fisik lalu hanya sama dengan perasaan lega karena sudah “membuang” sesuatu.

Ketiga, kita manusia adalah makhluk yang badani, tetapi juga rohani. Dengan hanya menekankan kenikmatan seksual fisik, orang seksualistis menekankan segi jasmani dari dirinya. Memperhatikan tuntutan fisik pada saat-saat tertentu rasanya memang diperlukan. Akan tetapi, jika terus-menerus dan satu-satunya, perhatian itu dapat menenggelamkan unsur rohani dan melemahkan dayanya. Akibatnya, dirinya menjadi manusia yang terlalu badani, dan kerohaniannya tidak berkembang, bahkan merosot, kalah oleh tekanan dorongan fisik.

Seks merupakan hal penting dalam hidup. Kenikmatan seksual ada peranan dan pentingnya dalam hidup. Akan tetapi, bila dipandang sebagai yang terlalu tinggi, akan merusak pandangan, mempersempit dimensi seks, wawasan hidup, dan keterlibatan di dalamnya. (*)

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT