Connect with us

Buku

Sekilas Riwayat Hidup dan Ajaran Carl Gustav Jung

mm

Published

on

CARL, Gustav adalah seorang psikiater berkebangsaan Swiss, pendiri Sekolah Psikologi Analitis. Ia lahir tanggal 26 Juli 1875 di Kesswil dekat Danau Constance, Switzerland, sebagai putra tunggal dari seorang pendeta Protestan. Dalam usia empat tahun keluarganya pindah ke Basel, di mana anak ini dididik dan belajar kedokteran. Nenek-moyang ibunya banyak yang menjadi teolog. Nenek-moyang ayahnya adalah seorang anggota Dewan Katolik di kota Mainz; kakeknya masuk Protestan karena dipengaruhi oleh Friedrich Schleiermacher tahun 1813. Warisan religious ini, boleh jadi mempengaruhi interesenya dengan persoalan-persoalan religious dalam karya Jung. Perkembangannya juga dipengaruhi oleh warisan medis, khususnya dari nenek-moyang ayahnya yang menjadi dekan pada Fakultas Kedokteran di Universitas Basel (1822) dan mendirikan rumah sakit jiwa yang pertama dan sebuah rumah bagi anak-anak lemah mental (feeble-minded).

Sebelum Jung memutuskan untuk masuk kedokteran, ia belajar biologi, zoology, paleontology, dan arkeologi. Penyeledikannya dalam bidang filsafat, mitologi, literature Kristen dari abad-abad pertama, mistisisme, Ghotisisme, dan alkimia diteruskan sepanjang hidupnya, bersamaan dengan minatnya dalam perkembangan-perkembangan ilmiah. Pikirannya dengan interese yang besar dapat mempersatukan pikiran-pikiran yang sangat berbeda-beda ke dalam satu kesatuan yang erat dan menyebabkan ajarannya memiliki (mengandung) dua aspek, yang menghubungkannya dengan ilmu eksakta dan ilmu kemanusiaan, sehingga menurut pandangannya ini dapat mengungkapkan dengan paling baik banyak segi dari struktur psike.

Jung menjadi asisten dokter pada Klinik Psikiatri di Burgholzli pada Universitas Zurich dibawah Wugen Bleuler tahun 1900. Tahun 1902 dia memperoleh gelar doctor dengan disertasinya: “Zur Psychologie und Pathologie sogenannteer okkulter Phanomene” (“On the Psychology and Pathology of So-Called Occult Phenomena”). Di dalam disertasi ini, dia mengemukakan salah satu dari konsep dasar yakni keutuhan fundamental dari psike yang merupakan dasar semua gejala psikis. Sementara mengobservasi keadaan kesurupan seorang anak muda, Jung yakin bahwa dia dapat melihat usaha-usaha dari satu kepribadian yang lebih lengkap, dan yang masih tersembunyi dalam alam ketaksadaran untuk masuk ke dalam alam kesadaran.

Tahun 1902 Jung berangkat ke luar negeri, mula-mula ke Paris di mana ia menghadiri kuliah dari Pierre Janet, kemudian ke London. Tahun 1903, Jung nikah dengan Emma Rauschenbach, yang merupakan pendamping dan kawan kerjanya dalam bidang ilmu sampai kematiannya tahun 1955.

Hasil-hasil penyelidikan eksperimental yang pertama dipimpinnya dalam kerja sama dengan Franz Riklin dan orang-orang lain, muncul dalam tahun 1904 dengan judul “Diagnostische Assoziationsstudien” (1918; Studies in Word Association). Penyelidikannya ini menyajikan suatu metoda untuk menemukan kelompok-kelompok isi “psikis emosional” (feeling-toned) yang ditekan. Untuk itu ia menciptakan term baru yang terkenal yaitu “Kompleks”, Karya ini menjadikannya tenar dan menyebabkan pertemuannya dengan Sigmund Freud tahun 1907; dalam tulisannya mengenai interpretasi mimpi, Jung mendapat konfirmasi (pengesahan) atas penyelidikannya sendiri.

Jung biasanya dipandang sebagai seorang murid, dan dimata pengikut dari Sekolah Freud (Freudian School), Jung dianggap sebagai murid yang telah mengingkari agama. Akan tetapi ini sama sekali tidak benar. Bahkan walaupun Jung menyokong ide-ide dan metoda-metoda Freud dalam tahun-tahun kerja sama mereka yang membangkitkan semangat dan membawa hasil, namun banyak konsep fundamental dari ajarannya sendiri dapat ditemuinya beberapa tahun sebelum bertemu dengan Freud. Terlebih lagi periode kerja sama mereka berlangsung hanya dari tahun 1907-1913. Perbedaan-perbedaan dalam titik tolak psikologis dan seluruh pandangan dunia segera menjadi jelas. Jung dua puluh tahun lebih muda dari Freud; karena kepribadian Jung yang kuat dan mempunyai kehendak sendiri, akhirnya hubungan bapak-anak tidak dapat bertahan lama. Jung sendiri juga tidak dapat menganuti banyak doktrin Freud seperti teori tentang pemenuhan keinginan atau seksualitas infantile. Terutama sekali Jung menentang prinsip-prinsip analitis Freud yang dalam pandangannya terlalu berat sebelah, terlalu konkret, dan personalistis. Jung juga membantah pandangan Freud tentang karakter anak yang bersifat polymorphous-perverse (yang belum mempunyai satu bentuk tertentu dan bersikap tidak wajar) sambil mengemukakan konsepnya sendiri tentang suatu disposisi yang polyvalent. Disposisi polyvalent ini tidak didominir oleh prinsip kenikmatan (lust-prinzip) dan juga tidak didominir oleh suatu keinginan untuk diterima, melainkan lebih memperlihatkan kecenderungan khusus fantasi anak untuk membuat suatu “interpretasi simbolis lebih daripada satu tafsiran ilmiah rasional”; fantasi simbolis anak adalah aktivitas natural dan spontan yang menurut Jung bukan merupakan hasil dari penekanan saja (repression).

Sesudah memberi kuliah di Amerika Serikat bersama dengan Freud tahun 1911, Jung menghentikan karirnya sebagai penerbit dari majalah Jahrbuch fur psychologische und psychopathologische Forschungen (Yearbook for Psychological and Psychopathological Research), yang telah didirikan oleh Bleuler dan Freud. Jung juga berhenti sebagai ketua dari Perkumpulan Psikoanalitis Internasional (“International Psychoanalytic Society”) yang mana Jung sendiri dirikan, dan masih merupakan organisasi professional Freudian (Pengikut Freud). Jung menjelaskan pandangan-pandangan baru yang berbeda dengan pandangan Freud dalam buku-bukunya yang mungkin paling terkenal dari semua buku Jung yaitu Symbole und Wandlungen der Libido (1912; Synbols and Transformation of the Libido). Kemudian diterbitkan lagi dengan judul Symbole and Wandlung (1952; Symbols of Transformation). Dengan bantuan bahan fantasi dari seorang gadis dalam tahap-tahap permulaan schizophrenia. Jung berusaha menyingkapkan arti simbolis isi dari alam ketaksadaran dan menginterpretasinya dengan parallel-paralel yang diambil dari bidang sejarah dan mitologi. Kemudian keterpisahannya dari Freud tak dapat dielakkan lagi. Untuk bisa membedakan ajarannya dari sekolah-sekolah yang lain itu, Jung memberinya nama “Psikologi Analitis” (analytical psichology) , yang berbeda dengan psikoanalisa Freud dan psikologi individual Alfred Adler.

Dalam tahun 1909, Jung berhenti dari pekerjaanya di Burgholzli, dan tahun 1913 melepaskan jabatannya sebagai dosen pada Universitas Zurich yang telah dipegangnya sejak tahun 1905. Jung makin lama makin menjadi lebih terpikat untuk studi tentang symbol-simbol mitologis dan symbol-simbol religious. Pada awal pecahnya Perang Dunia I, mulailah suatu periode introspeksi yang tergabung dengan penyelidikan empiris, suatu periode kosong (belum ada publikasi) yang berakhir sampai diterbitkannya Psychological Types tahun 1921. Dalam karyanya ini, Jung membedakan posisinya dari Freud dan meletakkan dasar psikologi analitis. Dalam tahun 1920, Jung pergi ke Tunisia dan Algeria; dari tahun 1924-1925 ia menyelidiki orang Indian Pueblo di New Mexico dan Arizona dan dalam tahun 1925-1926 ia menyelidiki penduduk-penduduk Mount Elgon di Kenya. Jung terutama berminat dalam mencari analogi antara isi dari alam ketaksadaran dalam manusia Barat dan mite-mite, kultus-kultus, dan ritus-ritus manusia primitive. Ia melakukan beberapa perjalanan ke Amerika Serikat dan dua kali mengunjungi India (yang terakhir kali tahun 1937). Simbol-simbol religious dari Hinduisme dan Budhisme, khususnya ajaran dari Budhisme Zen dan filsafat Konfusius, memainkan peranan penting dalam penyelidikan psikologisnya.

Pada tahun 1948, Institut C.G. Jung didirikan di Zurich untuk meneruskan ajarannya dan sebagai pusat latihan bagi analisis-analisis. Karyanya dilanjutkan di Inggris oleh “Society of Analytical Psychology” (Perkumpulan Psikologi Analitis), dan dia beberapa perkumpulan lain di New York, San Francisco, dan Los Angeles, serta di beberapa negara Eropa.

Jung adalah ketua Perkumpulan Swiss untuk Psikologi Praktis, yang didirikannya tahun 1935. Tahun 1933-1942 ia menjadi professor pada Federal Technical College di Zurich, dan pada tahun 1949 menjadi professor psikologis medis di Basel. Ia menerbitkan majalah Zentralblatt fur Psychotherapie und ihre Grenzgebiete (Central Journal for Psychoterapy and Related Fields) dari tahun 1933-1939. Jung meninggal di Kusnacht di Danau Zurich pada tanggal 6 Juni 1961.

Ketika ditanya tentang data biografinya, Jung menegaskan bahwa ia hanya mempunyai “kehidupan batin saja” (He has an inner life). Segala sesuatu yang ia alami dalam dunia luar menjadi sebuah pengalaman pribadiah.

Psikologi Analitis

Individuasi adalah inti ajaran Jung: Individuasi adalah kemungkinan yang terdapat dalam species-species manusia dan pada setiap orang dengan mana psike individual dapat mencapai perkembangan yang lengkap dan utuh. Proses individuasi berpangkal dari keseluruhan psike, suatu organism yang bagian-bagian individualnya dikoordinir oleh system relasi komplementer dan saling mengimbangi dan memperkembangkan kematangan kepribadian. Jung menekankan pentingnya fungsi religious dari psike. Penekanan relasi fungsi religious ini dapat membawa gangguan psikis, sedangkan perkembangan religious adalah satu komponen integral dari proses individuasi.

`Jung menganggap neurosis bukan hanya sebagai satu gangguan, tetapi juga sebagai satu dorongan hati yang penting untuk meluaskan kesadaran yang terlalu sempit dan karena itu sebagai stimulus bagi pendewasaan yang terlambat, yang berarti dorongan untuk menjadi sembuh. Dari sudut pandang positif ini, suatu gangguan psikis dianggap bukan sebagai satu kegagalan, keadaan sakit, atau perkembangan yang terhenti, tetapi sebagai suatu dorongan menuju realisasi diri dan keutuhan, yang untuk sementara waktu dihalangi.

Metoda terapi dari Jung berbeda dengan metoda Freud. Si analis tidak selalu tinggal pasif tetapi sering kali memainkan sebuah peranan aktif. Tafsirannya atas mimpi-mimpi dibuatnya dengan tingkat (level) yang berbeda. Lebih daripada asosiasi bebas, Jung menggunakan apa yang ia namakan “Amplifikasi” (perluasan), ini berarti suatu asosiasi yang terarah, yang mempergunakan motif-motif dan simbol-simbol dari sumber-sumber lain untuk mengerti isi mimpi itu.

Jung memperkenalkan konsep alam ketaksadaran kolektif. Isi dari alam ketaksadaran kolektif adalah apa yang dinamakan arketipe-arketipe. Arketipe-arketipe adalah bentuk-bentuk pembawaan lahir dari psike, pola dari kelakukan psikis yang selalu ada secara potensial sebagai kemungkinan, dan apabila diwujudkan, nampak sebagai gambaran spesifik. Sebab dalam psike manusia tergabung sifat-sifat khas yang umum, yang ditentukan oleh species-species manusia, ras, bangsa, keluarga, dan mental zaman dengan sifat-sifat khas, unik, dan personal. Sebab itu fungsi natural dari psike ini hanya dapat diperoleh dari hubungan timbal-balik dua alam ketaksadaran (personal dan kolektif), dan relasi mereka dengan alam kesadaran.

Jung juga memperkenalkan teori yang terkenal mengenai tipe-tipe. Ia membedakan antara tingkah laku ekstrovert dan introvert menurut sikap individu terhadap obyek.

Bidang-bidang Studi yang lain

Penelitian Jung diperluas ke bidang-bidang yang rupanya tidak ada hubungannya dengan psikologi. Dalam percobaan-percobaan alkimia abad pertengahan untuk mengubah inti logam, ia melihat satu proyeksi dari proses penghalusan batin yang analog dengan perubahan bentuk yang disebabkan oleh proses individuasi. Studinya mengenai yoga dan Gnostisisme membawa dia kepada penemuan paralel-paralel yang interesan dalam psike, setelah tersentuh/tercapai lapisan arkais/yang paling mendalam. Penyelidikannya dalam para-psikologi juga membuka horizon-horizon baru. Beberapa fenomen tidak dapat dijelaskan secara ilmiah, seperti telepati, clairvoyance (tukang tenung/sihir), dan mujijat-mujijat yang jelas, yang diistilahkannya “gejala-gejala sinkronis” (Synchronistic phenomena). Gejala-gejala ini oleh Jung didefinisikan sebagai koinsiden yang bersifat kebetulan tetapi “berarti/penuh dengan arti” (meaningful), antara peristiwa batin misalnya (mimpi, premosi/pertanda, penglihatan, keadaan batin) dengan satu peristiwa lahiriah dan real. Koinsiden ini terjadi entah dalam waktu sekarang atau dalam waktu yang baru lewat atau dalam waktu yang akan datang. Kedua macam peristiwa ini (yang batiniah dan yang lahiriah) tidak mempunyai hubungan kausal. Gejala sinkronis ini disebut pengetahuan langsung yang “rupanya ada lebih dulu” (apparently-pre-existent) dalam alam ketaksadaran.

Arti dari Psikologinya

Perbedaan antara psikoanalisa Freud dan psikoanalitis Jung diwarnai oleh dua abad yang pada titik pertemuannya melahirkan dua system psikologis yang berbeda. Freud membongkar ideal-ideal dari periode Victorian (yang bersifat munafik ) dan menyoroti dengan terang pada bagian bawah dari periode dengan memperlihatkan “kemesuman” (filth) yang telah ditekan ke dalam alam ketaksadaran. Meskipun penyelidikannya tentang alam ketaksadaran psike personal, ia toh tetap terikat pada materialism dan rasionalisme dari zaman yang terdahulu. Daya irasional tiba-tiba muncul sejak peralihan zaman, dan mewujudkan diri sendiri dalam dua perang dunia, yang sekarang mengancam dunia dengan teror-teror yang tidak dapat dibayangkan. Justru daya irasional ini dapat dijelaskan dalam teori-teori Jung. Ia menunjukkan daya irasional ini sebagai kekuatan asli yang tidak personal atau superpersonal yang mana muncul dari alam ketaksadaran kolektif yaitu dasar dari kehidupan psikis, sebagai jin-jin gelap dari mitologi.

Jung menulis “Saya yakin bahwa penyelidikan mengenai psike merupakan ilmu yang paling penting dalam masa depan ….. Itu adalah ilmu yang sangat kita butuhkan sebab berangsur-angsur menjadi jelas bahwa bahaya yang terbesar bagi manusia adalah bukan kelaparan, bukan pula gempa bumi, bukan juga kuman-kuman, bukan kanker, tetapi manusia itu sendiri ……”

Karya-karyanya

Hasil karya Jung sangat banyak jumlahnya, kira-kira dua ratus karangan. Satu edisi dari semua karyanya (Collected Works) dalam terjemahan bahasa Inggris sekarang sedang diterbitkan oleh Bollingen Foundation di New York dan Routledge juga Kegan Paul di London.

Judul-judul dari volume-volume adalah sebagai berikut: Psychiatric Studies, Experimental Researches (Penelitian-penelitian Eksperimental), Psychogenesis and Mental Disease, Freud and Psychoanalisis (Freud dan Psikoanalisa), Symbol of Transformation, Psychological Types, Two Essays on Analytical Psychology, The Structure and Dinamics of the Psyche, The Archetypes and the Collective Unconscious and Aion (two parts), Civilization in Transition, Psychology and Religion, West and East, Psychology and Alchemy, Alchemical Studies, Mysterium Conjunctions, The Spirit in Man, Art and Literature, The Practice of Psychotherapy, The Development of Personality.

Beberapa volume tambahan memuat seminar-seminar ekstensif dari Jung. Kita juga harus menyebutkan karya-karya yang dipublisir dalam kerjasama dengan orang lain: ahli kebudayaan Cina (sinologist) Richard Wilhelm, The Secret of the Golde Flower; ahli mitologi Karl Kerenyi, Essays on a Science of Mythology; ahli fisika Wolfgang Pauli, Interpretation of Nature and Psyche.(*)

* Terjemahan dari bahas Jerman ke dalam bahasa Inggris: R.F.C. Hull. Diterjemahkan dari: Collier’s Encyclopedia, Vol.13, 1968. Terjemahan Indonesia oleh Thoby M. Kraeng.

**Dari berbagai sumber, tim redaksi Galeri Buku Jakarta/ 2016.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku

Menggeledah Misteri Kekerasan

mm

Published

on

JUDUL BUKU : Kambing Hitam Teori René Girard

PENULIS : Sindhunata

PENERBIT : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

TAHUN TERBIT : 1, 2006 TEBAL : xiii + 422 halaman

Oleh: Ahmad Jauhari*

“(Yang jahat) mampu mengulang dirinya, secara tak terampuni, tanpa penyesalan dan janji,” demikian kata Derrida. Ungkapan Derrida tersebut hendak menunjukkan bahwa kekerasan sungguh selalu menyelimuti hidup kita. Kesemuanya terjaring dalam selimut kekerasan. Ia bisa menghampiri siapa saja. Manusia yang lembut dan ramah, termasuk perempuan yang cantik, cerdas dan sopan, sekejab bisa berubah garang, geram, dan brutal, begitu kekerasan menghampiri mereka.

Lewat terang buku Sindhunata ini, berjudul Kambing Hitam teori René Girard, kita diajak mengelupasi kekerasan mulai dari kulit terluar sampai biji misterinya yang terdalam. Girard membuat banyak orang terperangah. Teorinya seakan adalah ramalan yang kebenarannya belakangan ini terbukti ketika dunia dilanda kekerasan tiada habisnya. Lewat analisis sastra, budaya, dan agama, Girard menunjukkan bahwa manusia mempunyai potensi menghancurkan dirinya sendiri dan kultur adalah bangunan yang amat rapuh.

René Girard adalah intelektual masyhur kebangsaan Prancis. Ia lahir persis di Hari Natal 1923. Ilmuwan besar abad ke-20 ini mengupas kekerasan dari perspektif korban. Dalam arti karyanya bukan melulu kajian teoritis, melainkan juga rasa empatik terhadap runtuhnya solidaritas, pengejaran oposisi dan minoritas, merebaknya kekerasan massa, teror, terlantarnya rakyat dan luka-luka yang tetap basah tak tersembuhkan.

Dalam buku ini, Sindhunata membagi teori René Girard kedalam tiga fase perkembangan. Pertama, teori hasrat mimesis yang terkait dengan bidang sastra. Teori ini didasarkan Girard berkat penelitiannya atas lima novelis besar dunia, yakni Miguel de Cervantes, Gustave Flaubert, Marcel Proust, Sthendhal, dan Fyodor Dostojevsky. Teori ini termaktub dalam Deceit, Desire, and the Novel. Self and Other in Literary Structure (1965).

Kedua, teori kambing hitam, yang terkait dengan bidang antropologi budaya. Teori ini bersumber dari penelusuran Girard atas mitos, ritus pengorbanan agama arkais dan tragedi besar Yunani di zaman antik. Penelitian ini disarikan dalam buku Violence and the Sacred (1972). Ketiga, telaah Kitab Suci dan teologi, khususnya interpretasi terhadap kristianitas. Kajian ini dibukukan dalam Things Hidden since the Foundation of the World (1987).

Gagasan Girard menyangkut kekerasan dapat dipadatkan demikian: Setiap hasrat mengandung ruas konflik oleh sebab berwatak mimesis. Wajah mimesis yang memperbudak kebebasan manusia, berbentuk kebencian dan kecemburuan, menghadirkan rivalitas.

Rivalitas memanggil-manggil eksistensi kekerasan. Kekerasan yang mulai bangkit membentuk mekanisme kambing hitam. Inilah yang disebut Girard sebagai hasrat segitiga, yang berarti suatu sistem metafisik, oleh sebab ia merupakan struktur dasar pengalaman manusia, kemudian menjelma dalam pengalaman konkret, yang satu sama lain itu sebenarnya seragam.

Teori kambing hitam René Girard, menurut Sindhunata, memberi nuansa baru hubungan agama dan kekerasan. Kata Girard, Religions is always against violence. Bangunan kultur masyarakat, termasuk juga agama yang dianggap barang suci sekalipun, meneguk juga darah kekerasan. Kekerasan dalam agama itu paling nampak ketika menjalankan ritus korbannya, entah dengan persembahan manusia maupun binatang. Praktek kekerasan yang dibungkus ritus seolah dan justru dianggap puncak kesucian. Untuk itu ia tak habis-habisnya menelanjangi agama. Maka Girard sampai pada kesimpulan yang cukup mengejutkan: Violence is the heart and secret soul of the sacred (hlm. 205).

Kultur, bahkan juga agama, adalah institusi manusia yang dihantui rivalitas dan kekerasan yang bermuara pada pembunuhan kambing hitam. Girard menelanjangi muslihat dan tata karma kultural maupun religius yang kelihatannya amat luhur. Ia meramalkan ‘akan datang saat di mana agama tidak mampu lagi meredam kekerasan’. Ramalan itu seolah sungguh-sungguh terjadi. Kekerasan meledak bagai letusan gunung berapi. Inilah yang terjadi pada tragedi berdarah 1965 maupun peristiwa 11 September 2001.

Titik lengah agama dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga pengelola kekerasan (the economic violence) membuat dunia tak kunjung padam akan bara api krisis korbani. Krisis korbani tak selalu lahir berkat lunturnya ritual keagamaan, melainkan juga disebabkan oleh tipisnya garis batas antara kekerasan ‘suci’ dan kekerasan jahat. Agama mestinya berfungsi, kata Girard, “untuk menunjukkan kekerasan, dan menjaga supaya kekerasan itu tidak liar” (hlm. 211).

Di zaman globalisasi, agama mengalami kegagalan menjalankan fungsinya sebagai economic of violence. Hal itu muncul, kata Girard, oleh sebab krisis diferensiasi. Budaya, komunitas dan etnik akan terancam rusak akibat mengerutnya diferensiasi dalam proses interaksi antar manusia. Mimetis dan rivalitas cenderung membawa pada situasi yang seragam. Kondisi tanpa ada diferensiasi memungkinkan pendulum menuju muara kekerasan.

Demistifikasi

Selangkah lebih maju, Sindhunata mengurai kekerasan justru memungkinkan demistifikasi. Sebab, sambil mengutip Girard, demistifikasi diri sesungguhnya adalah suatu pertobatan. Bahwa, an experience of demystification, if radical enough, is very close to an experience of conversion. I think this has been the case with a number of great writers (hlm xi). Pengalaman pertobatan itu, diperoleh Girard, saat menulis karyanya yang pertama, Deceit, Desire, and the Novel, Self and Other in Literary Structure (London, 1965). Di buku tersebut, Girard menjelajahi novel-novel karya penulis terkenal: Miguel de Cervantes, Guatave Flaubert, Stendhal, Marcel Proust, termasuk juga Fyodor Mikhailovitsy Dostojevsky.

Girard sendiri bahkan terkaget-kaget, bagaimana novelis-novelis klasik itu mampu menuliskan pergulatan tokoh-tokohnya melawan segala kesia-siaan diri, sampai akhirnya mereka dapat meninggalkan segala kehampaan itu, kemudian menerima dirinya, apa adanya.

Marcel Proust, misalnya dalam karyanya tentang The Past Recaptured, tentang kisah kenangan dengan tokohnya Mme de la Fayette, melantunkan “kematian adalah keharusan. Ia melihat keharusan itu sudah sangat mendekat. Karena itu, ia terbiasa untuk menarik diri dan sakitnya yang lama membuat penarikan diri itu kebiasaan… Ia melihat nafsu dan kegiatan duniawi dengan penglihatan seperti penglihatan orang-orang yang bervisi lebih dalam dan luas” (hlm. 83). Visi yang dalam dan luas itu hanyalah dimiliki oleh mereka yang secara literer lahir dari kematian.

Kisah pertobatan yang serupa itu muncul lagi dengan sangat terang-terangan dalam karya Dostojevsky tentang Notes from Underground. Novel itu membisikkan suara manusia yang telah menarik diri dari lingkungan masyarakat setelah mengorbankan cinta dan bakatnya. Karya ini pada dasarnya menyoroti relung-relung kejiwaan secara filosofis ini, menampilkan tokoh seorang pemuda yang peka, yang mampu merasakan penolakan dari lingkungan kehidupannya, padahal ia merasa lebih unggul dalam intelegensia. Karena kehilangan daya untuk mencintai dan dicintai, ia pun mengobarkan cita-citanya dengan tujuan despotisme. Kemudian mengalami keterlemparan dalam hidup, lalu melakukan demistifikasi diri.

Bagi Girard, pertobatan para tokoh itu sesungguhnya adalah pengalaman diri para novelis sendiri. Mereka mengalami suatu kejatuhan diri, di mana mereka dipaksa untuk meninggalklan segala anggapan dirinya selama ini. Kejatuhan memang menyakitkan. Tapi justru dengan kejatuhan itulah mereka memperoleh prespektif baru. Mereka tak terdorong lagi untuk membuat pembenaran diri, dan tak menggoreskan lagi kisah yang bercerita tentang dikotomi hitam dan putih dari tokoh-tokohnya. Tidak ada yang baik di atas yang jelek.

Para novelis itu bahkan merasakan, yang jelek, yang sia-sia, yang artifisial, yang suka meniru itu bukanlah orang lain atau pun tokoh yang mereka ciptakan, melainkan diri mereka sendiri. Terhadap segala kesia-siaan itu, para novelis ingin bersimpuh dan bertobat. Girard mengatakan, “So the career of the great novelist is dependent upon a conversion and even if it is not made completely explicit, there are symbolic allusions to it at the end of the novel. These allusions are at least implicitly religious” (xii).

Pengalaman para novelis ternyata telah mampu membimbing Girard untuk bersimpuh pada an intellectual-literary conversion. Sehingga, pada hari Kamis Putih, Girard mengikuti ibadat yang telah lama ditinggalkannya. Lalu dengan suara lirik berkata, “So on Holy Thursday I went to Mass after going to confession. I took the Eucharist. I felt that God liberated me just in time for me to have a real Easter experience, a death and resurrection experience.” (hlm. xii).

Buah karya Sindhunata ini ditulis ke dalam lima bagian, yang ditutup dengan 2 ekskursus. Pertama, mengupas dan mengkritisi Kultur Batara Kala yang diperlihatkan bahwa dalam mitos Jawa, mimesis, sudah mulai tampak dalam teogoni (kisah mengenai asal-usul dewa), rivalitas, dalam kisah Sugriwa & Subali, kemudian kambing hitam dalam nasib anak-anak Sukerta. Ekskursus kedua, bertutur mengenai Kesedihan Putri Cina. Orang-orang Cina yang selalu menjadi kambing hitam ketika terjadi pergolakan atau gesekan sosial.

Di akhir buku ini, Sindhunata menggoreskan esai yang cukup menyentuh mengenai wajah Cina yang selalu menjadi “cermin kecurigaan dan kebencian”. Karya ini merupakan refleksi Sindhunata sebagai Cina peranakan untuk membebaskan diri dari jeratan karma kambing hitam. Ia juga membisikkan pada kita untuk juga menyapa manusia secara personal, agar mendemistifikasi diri, sebab demistifikasi sesungguhnya adalah suatu pertobatan. (*)

____________________________

*) Ahmad Jauhari, Founder Jivaloka Cakra Pustaka; Sembari Mengajar di Universitas PGRI Yogyakarta

Continue Reading

Buku

Menyelami dan Melampaui Negativitas

mm

Published

on

Oleh: Ahmad Jauhari *)

Baru-baru ini, ledakan hebat mengguncang Kosambi di Tangerang. Pabrik petasan itu meledak. Di belahan Indonesia Timur, gunung Agung di Bali dalam situasi gawat. Ribuan orang mengungsi. Bila direnungkan, bangsa ini adalah tuan rumah fenomenologi peristiwa-peristiwa negatif: pembantaian tragis 1965, konflik bersenjata di Aceh, tragedi Mei 1998, bom Bali 2002, tsunami Aceh Desember 2004, gempa Yogyakarta Mei 2006, tenggelamnya KM Levina 1 2006, gempa Padang 2009, dan yang baru-baru ini, ledakan pabrik minyak di Lamongan, dan seterusnya. Peristiwa-peristiwa itu merupakan jejak-jejak dari negativitas pengalaman manusia.

Buku ini mendiskusikan  tentang “pengremangan kesadaran” sebagai sesuatu yang tidak nyaman untuk dibicarakan termasuk hal-hal negatif di dalam kehidupan bersama, yakni kehidupan yang hancur yang secara sosial-politis berarti runtuhnya solidaritas, pengejaran oposisi dan minoritas, merebaknya kekerasan massa, teror, terlantarnya rakyat dan luka-luka yang tetap basah tak tersembuhkan.

Hal-hal ini tetap tinggal sebagai hantu-hantu atau pengalaman-pengalaman negatif manusia. Buku ini berbicara secara fenomenologis tentang kerusakan-kerusakan sosial dan moral yang diwariskan oleh Orde Baru dari sudut pandang radikal, yaitu—dalam arti etimologis kata Latin itu—menelusuri sampai ke “radix” (akar) kerusakan-kerusakan itu. Di tengah-tengah lirihnya nasehat-nasehat moral, F. Budi Hardiman dalam buku ini lebih memilih pendekatan deskriptif (filsafat politik) dari pada analisis normatif (etika politik) untuk memahami kerusakan mental sampai ke palung terdalam dari relung-relung jiwa (psikologi politik).

JUDUL : Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma PENULIS : F. Budi Hardiman PENERBIT : Buku Kompas, Jakarta CETAKAN : 1, Oktober 2005 TEBAL : xIiv + 222 halaman

Sebelum memperjuangkan demokrasi, kiranya lebih bijaksanalah jika lebih dahulu diteliti kendala-kendala atau patologi-patologi mental menuju demokrasi. Massa, teror, dan trauma adalah pengalaman-pengalaman negatif yang selalu membayangi proses demokrasi, dan ancaman itu semakin besar seiring dengan bertambah banyaknya mereka yang termarginalisasi dalam proses globalisasi pasar dewasa ini. Dalam wacana demokrasi dan diskursus negara hukum modern, bertolak dari “pencerahan kesadaran” sebagai ekspresi kebebasan dan perbedaan individualitas manusia. Negativitas pengalaman manusia, mendasarkan diri pada wilayah “pengremangan kesadaran”, sebagai ancaman demokratisasi.

Istilah “negativitas” dalam buku ini dipakai sebagai “metafor” bagi semua deskripsi, analisis dan kritik dari keseluruhan gagasan. Kata “negativity”, dalam bahasa Inggris sebagai “negative attitude” atau “sikap negatif”, sementara  “negative” diartikan sebagai “hamful” atau “merusak” (hlm. xix). Sikap agresif dan destruktif jelas termasuk dalam kategori ini.

Namun, negativitas dipahami sebagai sesuatu yang melampaui “sikap atau “perilaku”, yaitu sebagai sesuatu yang memungkinkan sikap, perilaku dan pengalaman negatif itu sendiri.  Negativitas bukanlah sesuatu yang netral. Dia juga bukan ketiadaan atau titik nol melainkan sesuatu, yakni sesuatu yang tidak didefinisikan dari dirinya sendiri akan tetapi dari efek yang ditimbulkannya. Eksistensi negativitas dapat dipersepsi dalam kenyataan bahwa ia tidak membuat sesuatu itu “hilang”, melainkan “kurang”. Negativitas adalah sisi ‘yang lain’ (the other) dari jiwa manusia.

Akar Kekerasan Massa

Fenomena kekerasan massa yang semakin marak akhir-akhir ini menurut George Simmel, diproyeksikan oleh heterofobia (takut akan ‘yang lain’). Heterofobia berasal dari otofobia (takut akan diri sendiri). Dalam filsafat yang abnormal dirumuskan dalam konsep “the other” (Inggris), “l’ autri” (Prancis) atau “das Andere” (Jerman), dan “yang lain” dalam terjemahan bahasa Indonesia. Yang lain, menduduki posisi negativas, karena dianggap berbahaya dan harus diberangus. Sebab yang lain ditatap jauh diseberang sana.

Padahal “yang lain” itu justru mengeram di palung terdalam individualitas manusia. Tidak sekedar penampakan wajah (face) ‘yang lain’ sebagai ‘yang lain’ hadir dengan selubung tabir ideologi. Namun juga, wajah seram yang dihadapanku hadir secara terus-menerus. Kehadiran itu “mengharuskan” subyek mengelak dan berpaling bahkan kalau perlu ‘yang lain’ itu dimusnahkan, agar tidak menggerogoti eksistensi subyek. Maka pembrangusan dan pengejaran terhadap yang berlainan sebagai minoritas merupakan tanda keruntuhan solidaritas.

Di zaman Orde Baru (Orba) hancurnya solidaritas pada kehidupan bernegara berpengaruh terhadap masyarakat setelahnya. Maka negara bagi Hannah Arendt, dalam Vita Activa, 1996 (The Human Condition) adalah wadah ekspresi kemajemukan dari ketunggalan. Dalam kediktatoran tak ada lagi negara sebab represi, agresi dan dominasi (Herrschaft) akan menghancurkan kemajemukan dalam ketunggalan. Kediktatoran bukanlah sekedar intervensi publik ke dalam yang privat melainkan “kolonisasi” ruang publik oleh yang privat. Kolonisasi atas ruang publik itu terjadi manakala para konglomerat berkongkalikong dengan kekuasaan politis atau juga agama dalam komando kementrian agama. Republik dalam kondisi semacam itu kehilangan esensinya, dan teror justru bertolak dari penguasa sebagai ‘pelaku’ destruktif.

Histerisitas massa pada teror dan kekerasan massa disorot dari ‘prespektif pelaku’, meminjam ungkapan Hermann Broch dalam buku Massenwahntheorie, 1979 (teori kegilaan massa) ditimbulkan dari ketidakmampuan untuk menegaskan diri yang mendapatkan energi dengan cara tindakan kolektif yang dektruktif. Dalam kekerasan massa ‘pelaku’ kekerasan justru mengalami penumpulan tidak hanya perasaan melukai para korban tetapi juga sirna rasa bersalah atas perilaku kekerasan. Lenyaplah daya serap moralitas dan akal sehat kehilangan “otoritasnya”.

Secara struktural, akar-akar kekerasan massa dalam teori tindakan kolektif Veit Michael Bader (sosiolog Jerman) berpangkal dari disparitas sosial yang terbentuk lewat interaksi sosial. Negativitas dilihat sebagai signal dari kebuntuan komunikasi dan bentuk perjuangan untuk meraih kesamaan dan keadilan. Macetnya komunikasi merupakan resonansi perubahan manusia dari “personalitas” menjadi “massa”.

Disorot dari psikologi politik (mental), kebuntuan komunikasi yang memproduksi kekerasan secara epistemologis dimengerti sebagai proses pengenalan manusia. Artinya, tindakan kekerasan itu sudah terkondisi di dalam struktur pikiran manusia. Hal itu mengacu pada dua hal; pertama, pengenalan atas manusia berarti mengandung momen dominasi sebab mengenali berarti mendefinisikan. Kekerasan itu semakin melar eksistensinya jika yang didefinisikan tak mampu mendefinisikan dirinya sendiri dan tunduk pada “institusi” di luar dirinya. Kedua, pengenalan atas manusia lain diawali dengan stereotipikasi bahwa orang lain dimengerti sebagai kelompok dan bukan sebagai individu. Dalam situasi konflik stereotipikasi yang netral menjadi destruktif (George Simmel). Kekerasan massa pada taraf antropologis berpangkal dari rasa panik dan kebutuhan akan ekstasis (Hermann Borch), dan posisi sosiologis kekerasan massa itu dilahirkan dari proses atomisasi individu secara struktural dalam masyarakat kapitalis (Hannah Arendt).

Kekuasaan (dalam masyarakat kapitalis) menghasilkan kepatuhan. “Bila orang menelusuri sejarah umat manusia yang panjang dan kelabu,” demikian kata C.P. Snow, “orang akan menemukan bahwa lebih banyak kejahatan yang menjijikkan, dilakukan atas nama kepatuhan daripada atas nama pembangkangan”. (hlm. 115). Realitas kepatuhan inilah yang mengilhami Elias Canetti dalam Masse und Macht 1995, merumuskan konsep Verwandlung (metamorfosis\mimesis). Tubuh menampakkan egonya sebagai sesuatu yang meniru gerakkan mesin. Maka destruksi massa merupakan bentuk disiplinasasi tubuh. Disiplinisasi tubuh (docile bodies) adalah elemen penting pemerintahan otoriter sebab hal itulah tenaga praksis destruksi moral dan sosial.

Adalah Viktor E. Frankl dalam konsep logoterapi memandang negativitas dari ‘prespektif korban’. Ia bergumul dengan persoalan makna hidup yang dilontarkan pasiennya. Lebih jauh ia tidak hanya memasuki persoalan makna hidup melainkan juga mengais “makna penderitaan” (termasuk derita para korban). Manusia berbahagia dengan menemukan kehidupannya. Demi menemukan makna itulah, jika perlu, manusia siap untuk menderita. Manusia menurut Frankl memiliki “den Willen zum Sinn” (kehendak-untuk-makna). Konsep ini didasarkan atas pengalaman Frankl sendiri sebagai tawanan di tiga kamp konsentrasi (yaitu Dachau, Bauchenwald dan Auschwitz). Penderitaan akan bermakna jika fokus hidup kita tidak berpijak pada apa yang diharapkan dari hidup ini melainkan bertolak pada apa yang dapat diharapkan oleh kehidupan darinya. Berpindah dari yang bertanya menjadi yang ditanyai. Jadi, makna penderitaan itu tergantung pada sikap yang benar terhadap penderitaan.

Untuk melampaui mengingat dan melupakan negativitas, diakhir buku ini Hardiman menggunakan diskursus detraumatisasai. Detraumatisasi merupakan “tindak merelakan”. Sedang merelakan adalah melampaui mengingat dan melupakan. Memaafkan adalah bertindak, yang menurut Arendt “memulai sesuatu yang baru, lahir kembali”, yakni membiarkan lewat itu yang lewat. Detraumatisasi harus dimulai dengan “askese duniawi”. Fritz Leist memandainya dalam tiga latihan; diam (Schweigen), ketenangan hati (Sammlung) dan merelakan (Verzicht) (hlm. 174). Diam adalah “das Hören in der Stille” (mendengarkan dalam kesunyian).

Berpijak pada metafisika Martin Heidegger dalam buku Discourse on Thinking, 1969 (diskursus tentang berpikir) bahwa Gelassenheit (ketenangan) terjadi melalui berdiam dalam kesunyian. Namun, Heidegger memakai kata kuno Gelassenheit zu den Dingen yang mengacu pada Meister Eckhart tentang “membiarkan dunia berjalan dan menyerahkan diri kepada Allah”.  Sehingga askese untuk diam dan pengumpulan diri berkaitan dengan sesuatu yang dasariah yaitu kerelaan. Kerelaan berarti membiarkan sesuatu itu berjalan sebagai yang lewat.

Buku ini merupakan “resonansi” dari riset disertasi Hardiman tentang massa dan penaklukan totaliter yang diselesaikannya di München Jerman tahun 2001. Disertasi itu lengkapnya berjudul Die Herrschaft der Gleichen. Masse und totalitäre Herrschaft. Eine kritische Überprüfung der Texte von George Simmel, Hermann Broch, Elias Canetti und Hannah Arendt (Peter Lang Verlag, Frankfurt a.M., 2001). Buku yang anda baca ini adalah catatan refleksi tentang keringat dan darah para korban, kaum survivors di negeri ini.

Sayangnya, itu semua merupakan bunga rampai yang tersiar di beberapa media dan ceramah-ceramah Hardiman. Sebagaimana kata Taufik Abdullah menyebut bunga rampai tulisan sebagai “non- book book” (buku yang bukan buku). Tetapi itu tidak berarti mengurangi ketajaman Hardiman memotret setiap negativitas pengalaman manusia. Pembaca justru dibantu secara perlahan-lahan merefleksikan diri bahwa setiap kita memungkinkan satu roda gigi mesin raksasa penghancur bekerja. (*)

JUDUL            : Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma

PENULIS         : F. Budi Hardiman

PENERBIT      : Buku Kompas, Jakarta

CETAKAN      : 1, Oktober 2005

TEBAL            : xIiv + 222 halaman

______________________________________

*) Ahmad Jauhari,mengajar di Universitas PGRI Yogyakarta; Founder Jivaloka Cakra Pustaka

 

Continue Reading

Buku

Anggitan Epos Memikat: Ke Mana Bajang Menggiring Angin?

mm

Published

on

Oleh: Ahmad Jauhari

Tidak banyak karya sastra di Indonesia yang telah menjadi klasik. Bukan hanya ia telah dicetak ulang beberapa kali (Februari 2007 memasuki cetakan ke-VIII), melainkan novel Sindhunata dalam Anak Bajang Menggiring Angin ini telah banyak memberikan inspirasi bagi lahirnya sejumlah karya seni tari dan teater. Bahkan, di banyak Sekolah Menengah Umum (SMU), buku ini dipakai sebagai bahan pelajaran sastra.

Berangkat dari kisah Ramayana, karya sastra ini telah menjadi aktual untuk kehidupan masa kini. Kisah-kisahnya memuat pelbagai khazanah kekayaan tentang cinta sejati, mengenai pergulatan manusia menghadapi penderitaan, kesendirian, dan kesunyiannya, sekitar kesia-siaan kekuasaan, serta perkara kemenangan autentisitas manusia di tengah segala kepalsuan hidup.

Banyak kritikus sastra mengatakan, kekuatan novel gubahan Sindhunata ini terletak dalam bahasanya yang sangat indah, lebih-lebih dalam corak liriknya yang puitis dan ritmis. Kisah-kisahnya merepresentasikan perlawanan mereka yang lemah dan tidak berdaya menghadapi absurditas nasib dan kekuasaan. Sungguh perjalanan buku ini sendiri telah menjadikannya sebuah karya sastra yang tidak mudah lekang digerus zaman.

Kisah Ramayana yang pertama kali digubah oleh Mpu Walmiki ratusan tahun yang silam ini, telah hadir dengan berbagai macam versi. Akan tetapi, banyak pengamat sastra berpendapat bahwa novel ini tak dapat dianggap sebagai sekedar salah satu versi dari kisah Ramayana, melainkan sebagai penciptaan kembali kisah tradisional Ramayana ke dalam bentuk sebuah karya sastra dengan gaya bahasanya yang khas, imajinatif simbolik.

Buku “Anak Bajang Menggiring Angin” Karya Sindhunata

Novel ini dibuka dengan kisah Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali dari Alengka, yang menyodorkan syarat bagi siapa saja yang ingin meminangnya untuk bisa mengajarkan arti Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Sementara ayah Sukesi sangat khawatir akan banyaknya darah yang tertumpah karena keganasan Jambumangli, paman Sukesi. Jambumangli, diam-diam menginginkan Dewi Sukesi. Lalu, diselenggarakanlah sayembara bagi para ksatria yang berhasil mengalahkan dirinya. Sesungguhnya, sayembara ini hanyalah kedok Jambumangli untuk menyingkirkan semua lelaki, supaya akhirnya tinggallah ia yang akan meminang Sukesi.

Demi mewujudkan keinginan putra tunggalnya, Prabu Danareja, raja Lokapala yang ingin memperistri Sukesi, Begawan Wisrawa menyanggupi untuk mengajari Sukesi tentang Sastra Jendra. Berangkatlah Wisrawa ke negeri Alengka. Di sisi lain, para dewa belum mengizinkan ajaran tersebut diketahui manusia biasa. Kemudian datanglah Batara Guru, raja para dewa, yang tidak menghendaki mereka berdua untuk mengetahui ajaran suci ini lebih mendalam.

Bersama istrinya, Dewi Uma, Batara Guru menyusup ke wadag dua manusia ini. Niatnya ingin menguji keteguhan mereka melawan hawa nafsu. Namun ternyata dua manusia ini gagal. Akhirnya mereka bersetubuh, dan kelak melahirkan Rahwana, tokoh antagonis di babad Ramayana beserta saudara-saudaranya, Sarpakenaka, Kumbakarna, dan Wibisana. Sementara Jambumangli sendiri telah tewas ditangan Begawan Wisrawa.

Bobot kisah Dewi Sukesi sendiri terletak pada Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, sebuah ajaran dewata yang konon dapat mengangkat derajat makhluk apa pun. Begitu tingginya, bahkan dalam setiap pertunjukan wayang kulit, hanya Dalang yang pandai, bisa menggambarkan ajaran ini. Itu pun hanya selintas. Dalam Sastra Jendra, kita dapat menemukan relevansi dengan kehidupan, karena inti ajaran tersebut sebenarnya adalah kepasrahan pada Ilahi.

Cerita bergulir terus ke tempat lain di mana Anoman lahir, kehidupan Rama, pernikahan Rama dengan Dewi Sinta, diculiknya Sinta oleh Rahwana, hingga perjuangan Rama dibantu oleh adiknya, Laksmana, dan kera putih yang sakti, Anoman, pergi ke Negeri Alengka untuk menyelamatkan Sinta.

Ada sebuah tafsir cukup menarik atas tokoh Rama dalam novel ini. Dari cerita yang secara umum termaktub di dalam komik, serial televisi, atau cerita guru di sekolah, Rama digambarkan sebagai sosok ksatria perkasa yang hebat dan memesona. Sebentuk gambaran umum tentang laki-laki dambaan sejuta perempuan.

Namun dalam novel ini, Rama yang dikenal sebagai ksatria dapat menjadi begitu cengeng saat kehilangan Dewi Sinta. Dan Rama yang ksatria, juga tidak lepas dari sisi arogan kelaki-lakiannya. Setelah berjuang setengah mati mengalahkan Rahwana dan puluhan ribu bala tentara Alengka untuk menyelamatkan Dewi Sinta, dengan begitu tega Rama meminta dewi cantik jelita itu melemparkan diri ke kobaran api dengan alasan yang sungguh kerdil, takut jika Dewi Sinta sudah tidak suci lagi. Padahal, Sinta yang selama ini digambarkan begitu lemah, telah berjuang mati-matian menghadapi kebengisan Rahwana untuk mempertahankan kesuciannya.

Tentu bukan hanya kisah cinta yang ada di novel ini, pembaca juga disuguhkan beragam petuah yang bijak. Dalam kisah Dewi Sukesi, misalnya, di saat ia berhenti meratapi nasibnya, dan menyadari bahwa kesalahan masa lalunya timbul karena ia tak sanggup untuk menderita, benar-benar memberikan kita pengalaman batin yang luar biasa. Kebahagiaan di dunia terkadang hanya keindahan yang menipu. Penderitaan merupakan milik kita yang berharga, karena dengan melampaui penderitaan, kebahagiaan sejati dapat diraih.

Kisah-kisah dalam buku ini sebetulnya pernah dimuat sebagai serial dalam cerita Ramayana dalam harian Kompas setiap hari Minggu selama tahun 1981. Tentu dengan sudah ada perbaikan dan tambahan di sana-sini. Sungguh novel ini mempunyai kekuatan re-interpretasi atas epos besar yang memikat. (*)

JUDUL            : Anak Bajang Menggiring Angin

PENULIS        : Sindhunata

PENERBIT     : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

CETAKAN     : Februari, 2007

TEBAL             : vii + 363 halaman

________________________________________________

*Ahmad Jauhari, Mengajar di Universitas PGRI Yogyakarta; Founder Jivaloka Cakra Pustaka

Continue Reading

Classic Prose

Trending