Connect with us

Kajian

Sekilas Pemikiran FIlsafat Maurice Merleau-Ponty

mm

Published

on

 

Meskipun ia masih bisa dikatakan sebagai “filsuf kesadaran” Prancis, Maurice Merleau-Ponty lambat laun memisahkan diri dari aliran fenomenologi Jean-Paul Sartre, dan  mungkin juga Husserl. Secara khusus Maurice Merleau-Ponty memasukkan Saussure ke dalam renungan dan kuliahnya tentang bahasa pada akhir 1940-an dan awal 1950-an. Selama tahun 1950-an, ia juga menyadari pengaruh Saussure pada karya Levi-Strauss dan menjalin hubungan dekat dengan yang disebutkan terakhir ini yang akhirnya menjadi sejawatnya di College de France.

Marleau-Ponty lahir pada tahun 1908. Seperti juga ayah Roland Barthes, ayahnya meninggal dalam Perang Dunia I. Ia  menempuh pendidikannya di Louis-le-Grande, dan pada tahun 1930 ia berhasil menamatkan agregation-nya dalam bidang filsafat di Ecole Normale Superieure (rue d’Ulm). Sebagaimana banyak intelektual seangkatannya, Merleau-Ponty juga mengikuti kuliah tentang Hegel yang diberikan oleh Kojeve. Ia juga pernah sebentar bergabung dalam sebuah jurnal Katolik, Esprit. Saat Perang Dunia II pecah, Merleau-Ponty masuk dinas infanteri dan pernah mengalami penyiksaan oleh Jerman. Selama masa Pendudukan ia berhubungan dengan kelompok perlawanan independen yang juga dikaitkan dengan Jean-Paul Sartre. Pada tahun 1945 Merleau-Ponty menerbitkan karya utamanya: Phenomenology of Perception. Pada tahun 1949 ia diangkat untuk menduduki jabatan dekan fakultas filsafat di College de France; jabatan ini dipangkunya sampai ia meninggal pada tahun 1961.

Sejak tahun 1945 sampai tahun 1952, Merleau-Ponty merupakan sahabat dekat dan sejawat Jean-Paul Sartre, serta menjadi editor pendiri dari Les Temps Modernes. Tahun 1952 merupakan tahun kekecewaan Merleau-Ponty terhadap perang Korea dan politik bergaya Sartrian, dan karena itu ia mengundurkan diri dari dewan editor Les Temps Modernes yang nantinya menjadi jurnal Sartre. Inti pertentangannya dengan Sartre terdapat dalam buku karangan Merleau-Ponty yang berjudul Adventures of the Dialectic yang diterbitkan pada tahun 1955. Di sini, seorang mantan kawan dalam dinas ketentaraan memberikan analisis mendalam tentang hubungan Sartre dengan komunisme, dan pada saat yang sama mempertanyakan penonjolan hubungan subjek-objek yang ada dalam fenomenologi versi Sartre. Seperti yang dijelaskan oleh Vincent Descombes, tanpa adanya suatu “dunia antara”, dikotomi subjek-objek akan menghasilkan solipsisme: “Jika dikotomi subjek-objek benar maka semua makna akan datang dari manusia, dan semua makna bagi diri saya akan datang dari saya sendiri.”[1]

Sartre, Boris Vian, Michelle Vian and Simone de Beauvoir. Café Procope, Paris. / tumblr.com

Sejak tahun 1952 Merleau-Ponty mengembangkan konsep tentang kegiatan politik yang membebaskan dirinya dari kecintaan naif Sartre terhadap komunisme garis keras. Lebih penting lagi, Merleau-Ponty memulai suatu jalur filosofis yang mengakui pentingnya pengalaman yang dihayati dalam menangkap ciri bahasa, pencerapan, dan tubuh. Sebuah kerangka tentang aspek-aspek pokok keterkaitan antara pencerapan dan pikiran yang pertama kali diungkapkan dalam Philosophy of Perception bisa memperjelas hal-hal penting yang diungkapkan di sini.

            Dalam pendahuluan dari karya yang tersebut di atas, Merleau-Ponty mengakui pengaruh Husserl di dalam filsafatnya. Oleh sebab itu, seperti Husserl, Merleau-Ponty menekankan pentingnya reduksi fenomenologis, atau epoche (tanpa sikap; juga disebut sebagai “penggolongan” dan “pelepasan keterhubungan”) diperkenalkan untuk membuka akses ke “esensi”. Yang terakhir ini harus dipahami, bukan sebagai suatu esensi transenden dalam disiplin ilmiah yang ada, atau dalam pengetahuan umum abstrak tentang dunia (seperti yang terkait dengan ruang dan waktu) yang dimiliki seseorang. Akan tetapi, epoche fenomenologis memberikan akses terhadap esensi imanen dari kesadaran tentang “pengalaman yang ditemui”. Epoche ini adalah keterlepasan hubungan dari dunia tertentu dengan segala objektivitasnya. Husserl tidak ragu-ragu untuk mengatakan bahwa keterlepasan hubungan ini bukan merupakan suatu penolakan terhadap dunia alam. Alam ini tidak ditolak, dan semua pengetahuan yang diperoleh untuk menggunakan ilmu yang mempelajari segala aspeknya diterima seluruhnya.

Walaupun begitu, kesadaran tentang pengalaman yang dihayati – kesadaran yang selalu merupakan kesadaran tentang sesuatu – secara mendasar berbeda dengan penerimaan dunia sebagaimana apa adanya, atau pengetahuan ilmiah. Dalam kata-kata Husserl sendiri:

Kita memusatkan perhatian kita pada bola Kesadaran dan mempelajari hal-hal yang kita anggap imanen di dalamnya. … Kesadaran itu memiliki pengada sendiri yang dalam bentuk keunikan mutlaknya tetap tidak dipengaruhi oleh keterlepasan fenomenologis.[2]

Oleh sebab itu, telaah tentang esensi segala hal yang berada di dalam kesadaran membuka bidang “ilmu Fenomenologi”.[3]

Titik awal pandangan Merleau-Ponty adalah epoche yang datang dari Husserl. Walaupun begitu, tujuannya bukan untuk berada di dalam struktur “filsafat keraguan” Descartes, seperti yang cenderung dilakukan Husserl dalam memberikan penjelasan tentang fenomenologi, melainkan bergerak menuju keinti pengalaman yang terwujud, yaitu apa sebenarnya pencerapan itu. Dengan meletakkan dirinya berseberangan dengan keabstrakan dan kekosongan cogito Cartesian – “saya berpikir, oleh sebab itu saya ada” – Merleau-Ponty menunjukkan bahwa “bertubuh berarti berada di dalam suatu dunia tertentu”; kemudian ditambahkannya: “tubuh kita pada hakikatnya tidak berada di dalam ruang, tubuh kitalah ruang itu”.[4] Akibatnya, tubuh kita selalu sudah berada dalam dunia, oleh sebab itu tidak pernah ada tubuh yang berada dengan dirinya, tubuh yang bisa diobjekkan dan diberi suatu status universal. Maka dari itu, pencerapan merupakan suatu pencerapan yang diejawantahkan, suatu pencerapan yang hanya di dalam konteks atau situasi tertentu. Pencerapan yang ada dalam dirinya sendiri itu tidak pernah ada.

Dalam penjelasan tentang arah filosofis yang diberikannya,[5] Merleau-Ponty mengakui keunggulan pengalaman yang dihayati dengan mengatakan bahwa “pikiran yang melakukan pencerapan adalah pikiran yang bertubuh”.[6] Lebih jauh lagi, pencerapan itu tidak hanya hasil dari dampak dunia luar terhadap tubuh, karena meskipun tubuh itu berbeda dengan dunia yang didiaminya, ia tidak terpisah darinya. Memang, tatanan organisme yang melakukan pencerapan beserta lingkungan sekelilingnya adalah tatanan yang terletak di landasan pencerapan. Ini berarti bahwa secara umum tidak ada pencerapan – pengertian yang bisa membuatnya menjadi suatu hal abstrak universal; pencerapan yang ada hanya pencerapan seperti yang dihayati di dunia. Pencerapan yang “dihayati” dan tubuh inilah yang membuat penelitian fenomenologi bisa dan perlu dilakukan. Sebagai hasil dari sifat pencerapan yang terpersonifikasi, subjek yang mengalami pencerapan selalu berubah, selalu mengalami proses kelahiran kembali. Namun, kesadaran tidak berhubungan dengan dunia dalam cara seperti seorang pemikir mengolah pemikirannya dalam hubungannya dengan sekumpulan objek. Sebagai akibatnya, seperti kata Descartes, secara umum tidak ada objek; secara keseluruhan semua bersifat otonom dan terpisah dari objeknya. Akan tetapi, kesadaran bersifat perseptual; dan akibatnya kepastian gagasan itu didasarkan atas pencerapan itu. Kepastian itu selalu harus ditetapkan dan dipastikan melalui penelitian fenomenologis, karena bagi ahli fenomenologi tidak ada kepastian universal dan ideal pada tataran gagasan. Cogito Descartes merupakan prinsip yang sangat ditentang oleh pandangan fenomenologis Merleau-Ponty. Singkatnya, “saya melakukan pencerapan” tidak identik dengan “saya berpikir”, dan juga hal ini tidak bisa diuniversalkan. Status personal subjek yang melakukan pencerapan membuka jalan bagi suatu deskripsi fenomenologis tentang Kehidupan Masa Kini. Dalam deskripsi semacam itu – yaitu di dalam epoche fenomenologis – hal yang dicerap setara dengan sebutan tentang hal itu. Diungkapkan dengan jelas oleh Merleau-Ponty:

Benda yang dicerap bukan merupakan suatu kesatuan idieal milik intelek, seperti suatu pengertian geometris; ini lebih merupakan suatu totalitas yang terbuka terhadap ketakterhingaan cakrawala pandangan perspektif yang saling merasuk satu sama lain menurut suatu pola tertentu dan mendefinisikan objek tersebut.[7]

Berdasarkan status pencerapan yang mewujud, apakah yang sebenarnya menjadi raisan d’etre ungkapan fenomenologis dan perenungan? Jawaban Merleau-Ponty adalah bahwa jika dibiarkan begitu saja maka pencerapan akan “melupakan dirinya dan tidak memikirkan hasil-hasil yang dicapainya”. [8] Akan tetapi, masalahnya bukan kembali ke masa sebelum datangnya filsafat, seperti yang seolah dipikirkan Merleau-Ponty, melainkan pada pembedaan yang jelas antara pencerapan oleh suatu subjek pencerap yang mewujud dengan filsafat pencerapan. Di sini seolah dipaksakan agar paling sedikit beberapa versi dari bentuk “saya berpikir” yang universal diterima saat pada satu titik keunggulan yang diberikan kepada “saya mencerap” tampak mengalami pukulan mematikan. Ini mungkin menjadi masalah yang tidak terpecahkan oleh filsafat kesadaran bagi yang ingin mempertahankan eksistensinya (yang terkandung dalam “saya berpikir”), sedang pada saat yang sama mengungkapkan tataran heterogen dari subjek yang tampil. Di dalam kerangka fenomenologisnya, Merleau-ponty menunjukkan jurang yang tak terseberangi antara kesadaran dan “Pengalaman yang Dialami”, jurang yang harus tetap ditekankan.

Simone de Beauvoir & Maurice Merleau-Ponty (1908-1961) in 1930. / Painters

Walaupun begitu, jika ini adalah akhir dari kisahnya, maka tidak diragukan lagi bahwa para filsuf pencerapan sudah lama tidak menarik perhatian generasi purna-perang yang dibesarkan di dalam lingkungan filsafat kesadaran, seperti para guru Merleau-Ponty (misalnya Brunschvig) yang juga sudah kehilangan penganut. Bahasa, dan upaya Merleau-Ponty untuk meletakkannya di titik pusat pemikiran filosofisnya melalui wacana pembelaan tentang Saussure, memberikan inspirasi munculnya strukturalisme awal. Sebagai contoh, Algirdas-Julien Greimas adalah salah seorang yang menghadiri kuliah perdana Merleau-Ponty di College de France pada tahun 1952, dan pulang dengan keyakinan bahwa Saussure-lah, dan bukan Marx, yang memegang kunci asli filsafat sejarah.[9]

Meskipun sering dikatakan bahwa Merleau-Ponty mengambil dari teori bahasa Saussure untuk memberikan pembenaran fenomenologinya, perlu disebutkan juga bahwa Merleau-Ponty menonjolkan dua prinsip Saussurian yang akan menjadi titik perhatian utama dari teori bahasa dan semiotika strukturalis. Yang dimaksud adalah, makna dalam bahasa bangkit melalui hubungan diakritis antara tanda-tanda, dan bahwa suatu telaah diakronis tentang bahasa tidak bisa menjelaskan bentuk pemakaian masa kini. Oleh sebab itu, dalam karyanya yang tak selesai, The Prose of the World, Merleau-Ponty menulis “dengan sangat mengagumkan Saussure menunjukkan bahwa … yang menentukan makna masa kininya bukanlah sejarah kata-kata atau bahasa”. [10] Yang ditemukan para ahli fenomenologi di dalam linguistik struktural adalah suatu teori yang tampaknya menekankan hubungan kehidupan subjek dengan dunia. Di sini juga Merleau-Ponty menuliskan bahwa pengertian Saussure tentang keunggulan dimensi sinkronik bahasa untuk bisa memahami ciri bahasa itu sendiri, “akan membebas bahasa dari historisisme dan memungkinkan adanya konsepsi baru tentang penalaran”.[11] Menurut Merleau-Ponty, melihat bahasa secara sinkron adalah melihatnya saat ia dipakai, dan bukan sebagai suatu entitas yang abstrak dan universal, dan yang mengalami evolusi gradual dalam waktu. Secara mendasar di sini bahasa adalah “masa kini yang hidup” dalam wicara (speech). Berbicara, berkomunikasi (menggunakan bahasa) secara sebagian setara dengan menyadari bahwa masa kini yang dialami adalah yang datang secara berurutan. Oleh sebab itu, suatu ilmu linguistik yang patut diberi nama seperti itu akan menyadari bahwa bahasa itu hanya bisa dipahami dari dalam. Dengan kata lain, bahasa tidak lagi bisa direduksikan ke suatu sejarah linguistik seperti halnya sejarah tidak bisa direduksikan ke dalam diskursus sejarah.

            Meskipun demikian, dalam usahanya menghindari teori Saussure tentang langue (bahasa sebagai suatu sistem), yang menjelaskan bagaimana wicara itu dilaksanakan demi parole (tindakan wicara itu sendiri), Merleau-Ponty tidak mampu menunjukkan bahwa bahasa itu diartikulasikan secara ganda: tataran penanda itu relatif bebas terhadap tataran yang ditandakan. Selain itu, bila Merleau-Ponty dengan penekanannya pada “kehidupan masa kini yang dijalani”, menitikberatkan bahasa hanya pada yang ditandakan (pelaksanaan makna), maka, hampir sejak kematian Merleau-Ponty pada tahun 1961, linguistik strukturalis akan menentang penekanan para ahli fenomenologi pada pengejawantahan transparansi dari yang ditandakan, [12] yang kemudian hanya dibuat bingung oleh keburuman bahasa sebagai suatu sistem penanda.

Lebih jauh lagi, dalam upaya menitikberatkan tataran parole sebagai pengejawantahan bahasa, para ahli fenomenologi tidak bisa memberikan penjelasan dengan memuaskan tentang bagaimana suatu tindakan bisa datang dari tindakan individual “saya berbicara”, yang diikuti dengan fakta bahwa orang lain berbicara. Klaim (Sartrian) yang biasa diberikan bahwa adanya “saya berbicara” yang mensyaratkan pengertian “kita berbicara” tidak mampu menunjukkan bagaimana, dalam wacana ini, “saya” tidak begitu saja naik kedudukannya menjadi “kami”, yaitu “kami” yang dianggap homogen di dalam proses itu. Masalah ini hanyalah “puncak gunung es”, karena sudah diketahui bahwa fenomenologi (termasuk Merleau-Ponty) sulit berhadapan dengan masalah “yang lain” – yang salah satu contohnya adalah masalah “saya bericara”. Dengan menolak teori tentang ketidaksadaran, fenomenologi memperlakukan setiap peristiwa subjektif (meskipun terejawantahkan) sebagai suatu kesatuan yang ada bagi dirinya. Kemudian, di dalam ilusi upaya mempluralisasikannya, ia menaikkan derajatnya menjadi “kami”. “Kami” ini kemudian menjadi suatu kesatuan: kesatuan kolektivitas. Oleh sebab itu, “yang lain” dan heterogenitas disingkirkan melalui tongkat ajaib penghomogenan fenomenologi. Walaupun begitu, mungkin berkat ketegaran kreatif Merleau-Ponty-lah keterbatasan fenomenologi menjadi jelas di dalam karyanya. (Johnson Lechte., 50 Fisluf Kontemporer, Yogyakarta: Kanisius, 2001. Thomas Baldwin., Maurice Merleau-Ponty: basic writings, USA: Routledge, 2004)

[1] Vincent Descombes, Modern French Philosophy, terjemahan L. Scott-Fox dan J. M. Harding, Cambridge, Cambridge University Press, 1980, hlm. 72.

[2] Edmund Husserl, Ideas. A General Introductory to Pure phenomenology, terjemahan W.R. Boyce-Gibson, New York, Collier Books, 1962, hlm. 102. Penekanan dari Husserl.

[3] Ibid.

[4] Maurice Merleau-Ponty, Phenomenology of Perception, terjemahan Colin Smith, london, Routledge, dicetak ulang tahun 1992, hlm, 148. Penekanan dari Merleau-Ponty.

[5] Maurice Merleau-Ponty, “An unpublished text by Maurice Merleau-Ponty: A prospectus of his work” terjemahan Aleen B. Dallery dalam James M. Edie (ed). The Primacy of Perception, Evanston, Northwestern university Press, 1964. Cetakan sampul tipis ke delapan, 989, hlm. 3-11.

[6] Ibid.

[7] Maurikce Merleau-Ponty, “The Primacy of Perception and its philosopical consequenes”, terjemahan James M. Edie (ed.) dalam ibid. hlm. 16.

[8] Ibid., hlm. 19.

[9] Lihat Francois Dosse, Histoire du structuralisme I. Le champ du signe, 1945-1966, Paris, edition la decouverte, 1991, hlm. 62-63.

[10] Maurice Merleau-Ponty, The Prose of the World, terjemahan John O’Neill, London, Heinemann, 1974, hlm. 22.

[11] Ibid., hlm. 23.

[12] Sebagai contoh, Merleau-Ponty menulis: “percakapan seorang teman di telepon memunculkan teman itu sendiri, seolah secara keseluruhan ia tampil dalam acara pembicaraan dan mengucapkan selamat tinggal dengan kita” (“Indirect language and the voices of silence” dalam signs, terjemahan Richard C. McCleary, Evanston, Northwestern university Press, 1964; cetakan kedelapan, 1987, hlm. 43)

Continue Reading

Buku

Frankenstein Sebagai Ilmu Pengetahuan dan Science Fiction

mm

Published

on

Pengantar Redaksi: Sebelumnya Redaksi Galeri Buku Jakarta telah menayangkan tulisan “Frankenstein, Hermeneutika dan Science Fiction”, tulisan berikut adalah bagian ke II dari tulisan tersebut di atas. Frankenstein; atau, The Modern Prometheus secara umum dikenal sebagai Frankenstein adalah sebuah novel gothik karya penulis Mary Shelley yang berkebangsaan Inggris

_____________________________________________

Frankenstein (1818) karya Mary Shelley merupakan salah satu dari novel klasik yang terus diterbitkan dari waktu ke waktu. Karena cukup populer, orang-orang setidaknya pernah mendengar judul novel yang juga sempat diadaptasi menjadi beberapa film tersebut. Ketika misalnya bertanya pada orang-orang mengenai kesan terhadap judul “Frankenstein”, kebanyakan akan berkata bahwa itu adalah nama makhluk yang mengerikan atau itu adalah cerita horror. Sebelum saya belajar filsafat dan juga hermeneutika, ketika saya membaca novel Frankenstein, saya justru menemukan kekeliruan dari anggapan umum terhadapnya. Yaitu, bahwa Frankenstein bukan nama makhluk yang mengerikan itu melainkan nama panjang dari orang yang menciptakannya, sementara makhluk itu tak bernama dan sering disebut “demon”, “monster”, “wretch”, dan kata gantinya “it”. Kemudian, sensasi yang saya dapatkan dari cerita Frankenstein adalah itu bukan cerita horror seperti film-film horror yang sempat marak di bioskop, tetapi kalaupun horror, itu merupakan horror dan mengerikan yang merupakan konsekuensi dari tindakan yang kurang dipikirkan secara bijak, dan bukannya merasa ketakutan justru saya merasa sedih. Agaknya cerita tersebut ada hubungannya dengan kemanusiaan, pengetahuan, agama, dan moralitas. Untuk tugas akhir ini saya berupaya meninjau novel Frankenstein untuk menelaahnya terutama dengan hermeneutika dekonstruksi Derrida dan hermeneutika faktisitas Heidegger.

  • Ilmu Pengetahuan dan Science Fiction

Science fiction yang merupakan genre fiksi spekulatif yang berhubungan dengan imajinasi konsep-konsep ilmu pengetahuan dan teknologi sering digunakan untuk melampaui sekaligus berkontemplasi mengenai ilmu pengetahuan, tentang berbagai kemungkinan dan berbagai dampaknya. Di abad ke-18 dan ke-19, ada kepercayaan umum bahwa para ilmuwan sedang mencoba menemukan esensi kehidupan dan mencari tahu apa yang membuat organisme dapat hidup. Konsep-konsep seperti kehidupan abadi di dunia, elixir of life, dan yang semacam itu mengisi percakapan sehari-hari dan menginspirasi penyelidikan ilmiah. Novel Frankenstein dengan tema yang serupa dapat dipandang sebagai salah satu literatur awal yang memiliki tema science fiction.

Contoh positif dalam kegiatan di ilmu pengetahuan misalnya Newton dan gravitasi yang tidak sengaja ditemukannya. Sementara contoh negatif dalam kegiatan di ilmu pengetahuan misalnya Einstein dan atomic bomb yang tidak sengaja ditemukan kearah sana ketika ia menelaah tentang neutron dan kelanjutan teori relativitas. Sudah merupakan hal yang diketahui sejak lama bahwa ilmu pengetahuan itu dapat digunakan untuk tujuan baik dan tujuan yang buruk, tergantung dari maksud para ilmuwannya. Tetapi kadang, para ilmuwan yang cukup pintar untuk melakukan berbagai eksperimen canggih itu ironisnya, seperti Frankenstein, tidak sadar, tidak waspada, malah tidak cukup pintar untuk berpikir lebih lanjut atas dampak dari hasil karyanya. Maksud mereka mungkin baik dalam pikirannya sendiri, untuk kebesaran diri, untuk kebaruan, tetapi hasilnya malah buruk untuk hasil ciptaannya seperti makhluk itu sendiri dan juga untuk sekelilingnya.

Baca juga: Pancasila dan Jalan Tengah Keindonesiaan

Baca juga: Tiongkok Tuliskan Sejarah Nusantara

 

  • Tuhan, Adam, dan Hawa

Frankenstein dapat dibandingkan dengan Tuhan tetapi juga Adam dan Hawa, sementara itu, Makhluk Tak Bernama dapat dibandingkan dengan Adam dan Hawa. Dengan bekerja dan menghidupkan sesuatu, Frankenstein seakan bekerja bukan dengan ilmu pengetahuan lagi, dan hal itu melawan bukan hanya aturan masyarakat tetapi juga melawan aturan Tuhan. Secara serupa, Adam dan Hawa juga bertindak melawan aturan Tuhan dengan memakan buah terlarang. Frankenstein, seperti Adam dan Hawa, ia ingin dan berupaya untuk memiliki pengetahuan yang hanya ditujukan untuk Tuhan yang Maha Pencipta. Tapi, Frankenstein yang berusaha menciptakan karyanya dengan indah ia tak sadar bahwa ia gagal hingga sudah terlambat. Lalu, Frankenstein meninggalkan dan menghina karyanya sendiri. Sementara itu, serupa dengan Adam dan Hawa yang diusir oleh penciptanya ke dunia, Makhluk Tak Bernama itu diusir oleh penciptanya ke dunia dimana tidak ada seorang pun menerima dan memahaminya. Bedanya, Adam dan Hawa mengetahui kesalahannya, sementara Makhluk Tak Bernama itu tidak mengetahui kesalahannya atau mungkin tidak memiliki kesalahan apapun untuk diusir. Kemudian sama seperti Adam yang meminta pasangan yang serupa dengannya pada Tuhan, Makhluk Tak Bernama juga meminta pasangan yang sama mengerikan dengannya pada Frankenstein, bedanya, yang satu dikabulkan, yang satunya tidak. (Bagian ini menunjukkan kecenderungan ke hirarki metafisis yang entah Mary Shelley sengaja dan sadari, atau malah penafsiran yang cenderung ke arah sana.)

  • Moralitas dan Kepedulian Dimulai dengan Berpikir dan Merasa

Keterbukaan akan pengalaman merupakan awal yang penting untuk memungkinkan seseorang agar dapat mengenal dan memahami sesuatu. Dialog dan komunikasi menjadi medium untuk pengalaman antar subjek sehingga satu sama lain dapat mengenal dan memahami lebih baik. Dengan berpikir dan merasa, seseorang dapat mempertimbangkan dan menjelaskan baik atau tidaknya suatu perbuatan. Dalam cerita Frankenstein, Makhluk Tak Bernama itu langsung ditolak dan diserang oleh semua manusia yang ditemuinya. Mereka semua mencerminkan ketidakterbukaan pandangan untuk mengenal dan memahami sesuatu yang lain daripada mereka. Kemudian, dialog dan komunikasi antara Frankenstein dan Makhluk Tak Bernama walaupun tidak membuat Frankenstein mengenal dan memahami makhluk itu dengan lebih baik, setidaknya berguna untuk memberikan pandangan pada para pembaca. Meskipun makhluk itu jelek, mengerikan, dan menyeramkan, ia merupakan karakter satu-satunya dalam cerita yang terus berpikir dan merasa dengan kritis dan refleksif. Ia karakter yang selalu memikirkan permasalahan baik dan buruk, meskipun pada akhirnya kalah pada sisi gelap kehidupan. (*)

*) Karina Andjani, Pianis, saat ini tengah menyelesaikan studi di negeri kincir angin, Belanda.

___________________

 

Referensi

Shelley, Mary. (1818). Frankenstein. HarperCollins Publishers: London.

Sarup, Madan. (2011). Poststrukturalisme & Posmodernisme. Jalasutra: Yogyakarta.

Hardiman, F. Budi. (2015). Seni Memahami. PT Kanisius: Yogyakarta.

Haryatmoko. (2016). Membongkar Rezim Kepastian. PT Kanisius: Yogyakarta.

Schmidt, Lawrence K. (2006). Understanding Hermeneutics. Acumen Publishing: Durham.

Continue Reading

Buku

Frankenstein, Hermeneutika dan Science Fiction

mm

Published

on

Meninjau Novel Frankenstein dengan Hermeneutika Dekonstruksi dan Hermeneutika Faktisitas (bagian I)

Karina Andjani *)

  1. Pengantar

Frankenstein (1818) karya Mary Shelley merupakan salah satu dari novel klasik yang terus diterbitkan dari waktu ke waktu. Karena cukup populer, orang-orang setidaknya pernah mendengar judul novel yang juga sempat diadaptasi menjadi beberapa film tersebut. Ketika misalnya bertanya pada orang-orang mengenai kesan terhadap judul “Frankenstein”, kebanyakan akan berkata bahwa itu adalah nama makhluk yang mengerikan atau itu adalah cerita horror. Sebelum saya belajar filsafat dan juga hermeneutika, ketika saya membaca novel Frankenstein, saya justru menemukan kekeliruan dari anggapan umum terhadapnya. Yaitu, bahwa Frankenstein bukan nama makhluk yang mengerikan itu melainkan nama panjang dari orang yang menciptakannya, sementara makhluk itu tak bernama dan sering disebut “demon”, “monster”, “wretch”, dan kata gantinya “it”. Kemudian, sensasi yang saya dapatkan dari cerita Frankenstein adalah itu bukan cerita horror seperti film-film horror yang sempat marak di bioskop, tetapi kalaupun horror, itu merupakan horror dan mengerikan yang merupakan konsekuensi dari tindakan yang kurang dipikirkan secara bijak, dan bukannya merasa ketakutan justru saya merasa sedih. Agaknya cerita tersebut ada hubungannya dengan kemanusiaan, pengetahuan, agama, dan moralitas. Untuk tugas akhir ini saya berupaya meninjau novel Frankenstein untuk menelaahnya terutama dengan hermeneutika dekonstruksi Derrida dan hermeneutika faktisitas Heidegger.

 

  1. Rangkuman Cerita

Victor Frankenstein lahir dari keluarga terhormat dan sejahtera di Genevese.[1] Ketika ia berumur lima tahun, orangtuanya pesiar ke Italia dan tidak sengaja mengadopsi anak perempuan cantik yang bernama Elizabeth Lavenza, yang diharapkan ibunya akan menjadi teman hidup Frankenstein. Ia kemudian memiliki dua adik laki-laki dan memiliki sahabat bernama Henry Clerval. Ketika remaja, Frankenstein sangat tertarik pada filsafat alam, kemudian setelah menyaksikan hujan badai luar biasa yang petirnya menghancurkan pohon ek, ia terkejut dan memutuskan mencari yang lebih luar biasa dari itu semua.

Ketika berumur tujuh belas tahun, ibunya meninggal karena demam berdarah dan setelahnya Frankestein mulai menjadi pelajar di universitas Ingolstadt dengan fokus filsafat alam. Tetapi sesungguhnya Frankenstein tidak puas dan lebih tertarik pada alkimia dan kimia, ia banyak membaca buku ilmu pengetahuan kuno, tentang elixir of life, dan ia sangat tertarik pada proses kehidupan semua makhluk hidup entah dengan darah, nafas, atau keajaiban. Ia kemudian memiliki tujuan untuk dapat menjadi pelopor cara baru untuk menjelajahi kekuatan yang tidak diketahui sebelumnya dan menyingkap misteri terdalam mengenai penciptaan dan terobsesi dengan gagasan menciptakan kehidupan spesies baru dan menjadi pencipta.

Selama dua tahun, Frankenstein rajin bekerja dan rutin mengunjungi rumah mayat untuk mengumpulkan potongan-potongan tubuh yang kemudian disambungnya sedikit demi sedikit dan ia bekerja untuk proyeknya, tetapi ketika selesai, ia begitu kecewa dan ngeri karena sadar bahwa hasil kerjanya sangat mengerikan. Makhluk yang diciptakannya jauh dari konsep keindahan; tubuh makhluk itu besar karena merupakan kumpulan beberapa anggota tubuh yang sama, kulit kuning jarangnya hampir tidak menutupi otot dan arteri, matanya berair, bibirnya hitam, dan kepala berambut hitam serta gigi putih bersihnya malah menjadi kontras yang menambah kengerian. Ketika Frankenstein tertidur lelah, makhluk itu ternyata berhasil hidup dan ingin menyapanya, tetapi malah Frankenstein yang ketakutan malah kabur darinya.

Shelley, Mary. (1818). Frankenstein. HarperCollins Publishers: London

Makhluk Tak Bernama itu memulai hidupnya dengan rasa kecewa karena ditolak penciptanya, tetapi ia juga takjub pada sensasi inderawi yang bekerja secara bersamaan. Ia kemudian hidup luntang-lantung kesana kemari karena ia selalu diusir, ditolak, dengan kekerasan dari setiap manusia yang ditemuinya, manusia takut padanya dan menyerangnya dengan jahat sementara ia juga menjadi takut dengan manusia yang jahat padanya. Ia mencoba bertahan hidup, mengatasi rasa lapar, dingin, dan merana, dan bertanya-tanya mengapa ia hidup dengan kehidupan seperti itu, karena bahkan ia tidak meminta untuk hidup.

Setelah beberapa kali diusir, ia menemukan kolong pondokan sebuah keluarga pedesaan dan tinggal disana diam-diam untuk kemudian pada waktu yang lama. Untuk makan, ia awalnya mengambil makanan mereka tetapi setelah mengamati bahwa ternyata mereka juga sedang kesulitan dan kekurangan makanan sehingga dua orang muda akan mengalah untuk seorang laki-laki tua yang buta, ia tersentuh dan malah diam-diam membantu mencari makanan dan mengumpulkan kayu bakar untuk mereka juga. Ia senang ketika melihat ekspresi dua manusia itu melihat kumpulan makanan dan kayu bakar yang diberikannya untuk mereka. Selama diam-diam tinggal bersama mereka, ia mulai punya harapan baik lagi tentang manusia.

Secara perlahan tapi pasti, ia diam-diam belajar bahasa dari mereka, belajar sastra dan dongeng dari yang mereka bacakan, asal-usul keluarga mereka, konsep baik dan buruk, dan ia mulai belajar konsep keluarga, sesuatu yang juga ia tidak miliki. Setelah lama mengumpulkan niat, ia mencoba untuk menghadirkan diri pada keluarga tempatnya menumpang itu, yang sekarang anggota keluarganya bertambah satu. Awalnya ia menunjukkan diri pada bapak tua yang buta ketika anak-anaknya dan pacar anaknya sedang pergi. Bapak tua yang buta itu tentu menerimanya dengan senang hati seperti menerima tamu saja, tetapi ketika orang-orang yang muda pulang lagi ke rumah, reaksi mereka kacau, ada yang kabur, ada yang pingsan, dan ia diserang oleh yang laki-laki. Makhluk Tak Bernama kemudian melarikan diri ke hutan, dan dalam perjalanannya ia sempat menolong seorang perempuan yang tercebur di sungai, tetapi ketika menggendong perempuan itu ia malah diserang orang-orang yang salah sangka padanya, ia dipanah dan ditembak, ia begitu terluka karena lagi-lagi ia menerima kebencian dan serangan dari ketulusan dan kebaikan hatinya. Ia akhirnya memutuskan untuk benci selamanya pada umat manusia. Dalam perjalanannya kemudian, secara kebetulan ia bertemu dengan adik Frankenstein, yang kemudian dibunuhnya, lalu perhatiannya terarah untuk membuat hidup Frankenstein menderita. Ia kemudian bertanggung jawab untuk banyak kematian di sekeliling Frankenstein termasuk kematian adiknya, pengasuh adiknya, sahabatnya, Elizabeth, dan ayahnya yang mati karena sedih, tetapi ia sesungguhnya tidak merasa damai dengan segala perbuatannya itu. Sebagai penutup cerita, Frankenstein yang mengejar Makhluk Tak Bernama itu ke kutub utara menjadi sakit fisik dan psikis, ia menceritakan kisahnya pada kapten kapal laut bernama Robert Walton, termasuk cerita dari sudut pandang makhluk itu yang diceritakan padanya saat mereka bertemu setelah kematian adiknya. Frankenstein kemudian sekarat dan ketika ia mati, Makhluk Tak Bernama itu menghampirinya, merenungi hidupnya dan kesalahannya kembali dengan Walton yang mendengar dan menyaksikannya. Sesudahnya, ia lompat dari kabin kapal, dibawa ombak, lalu menghilang dalam jarak dan kegelapan.

Baca juga: Pancasila dan Jalan Tengah Keindonesiaan

Baca juga: Tiongkok Tuliskan Sejarah Nusantara

  1. Hermeneutika Dekonstruksi Derrida

Derrida terinspirasi oleh linguistik Saussure namun ia mengkritisi ketidakstabilan bahasa, ia juga mengkritisi kecenderungan metafisika Barat ke logosentris dan fonosentris. Mengadopsi cara Heidegger yang melakukan penyilangan kata Being, Derrida menggunakan konsep sous rature dengan menuliskan kata lalu memberi tanda silang karena menurutnya kata tidaklah akurat dan tidak memadai dalam menggambarkan realitas, maka kata tersebut diberi tanda silang, tetapi karena berguna, kata tersebut dibiarkan juga tetap terbaca.[2] Berbeda dengan teori Saussure, menurut Derrida signified (penanda) tidak berkaitan dengan signifier (petanda). Ia melihat tanda sebagai struktur perbedaan dalam artian sebagian darinya selalu tidak di sana dan sebagian yang lain selalu bukan yang itu. Bila melihat kamus, suatu tanda akan merujuk ke tanda yang lain dan seterusnya. Penanda terus berubah menjadi petanda, dan sebaliknya. Sehingga, makna dari suatu kata bukanlah sesuatu yang jelas dan identik dengan dirinya sendiri, melainkan terus bergerak sepanjang mata rantai penanda dan pada konteks yang berbeda yang juga tidak dapat dipahami begitu saja tanpa jaringan konsep dari kata-kata tersebut dan kata-kata lainnya. Tidak hanya ketiadaan makna yang dikhawatirkan, tetapi juga ketidakutuhan subjek yang berbahasa, sebab bahasa bukan diciptakan olehnya, tetapi tidak mungkin melepaskan diri darinya sebab bahasa adalah yang paling mungkin digunakan olehnya untuk mengemukakan gagasan dan makna sehingga keseluruhan gagasan bahwa subjek merupakan entitas yang utuh dan stabil juga berubah menjadi sekedar ilusi.[3]

Dengan différance yang harus dipahami sebagai yang mendahului pemisahan antara “deffering” sebagai penangguhan dan “differing” sebagai pembedaan, kata tersebut mengisyaratkan dan mengandung arti dua momen sekaligus, yaitu temporalisasi dan spesialisasi.[4] Sehingga différance dapat menunjukkan bahwa bahasa selalu bersifat hirarkis dan dikotomis dengan kecenderungan mendorong, melawan, dan memperbedakan kata-kata lain, sehingga makna bersifat metaforis dan asosiatif, tidak referensial maupun logis dan manusia seakan terperangkap dalam sistem tersebut dengan hanya mampu mengetahui segala sesuatunya sesuai dengan ketersediaan penjelasan sistem-sistem mengenai realitas.

Shelley, Mary. (1818)

Filsafat Barat mengasumsikan terdapat esensi, atau kebenaran yang berperan sebagai dasar semua keyakinan, maka dari itu ada kecenderungan dan kerinduan pada penanda transendental yang menghubungkan atau berkaitan dengan petanda misalnya Tuhan, roh, dst. Masing-masing konsep tersebut berperan sebagai dasar sistem pemikiran dan membentuk poros yang menjadi pusat tanda-tanda lainnya. Terdapat tanda-tanda lain yang dikaitkan dengan penanda-penanda tersebut seperti misalnya kebaikan, kebebasan, dst. Dapat dikatakan bahwa agar makna-makna itu mungkin, tanda-tanda lain harus ada terlebih dulu. Pembahasan mengenai asal-usul juga berarah untuk melihat tujuan makna, dan melihat dari tujuan atau telosnya merupakan cara mengorganisasi makna dalam hirarki penandaan. Kata-kata atheist dan theist misalnya menunjukkan bahwa kata-kata tersebut bergantung satu sama lain misalnya sebelum ada kata atheist, harus lebih dulu ada kata theist, dan menunjukkan kecenderungan hirarkis dalam bahasa terlebih dengan adanya kecenderungan menomorsatukan penanda transendental apalagi yang berkaitan dengan Tuhan, sehingga kata theist akan langsung diposisikan lebih tinggi daripada atheist. Kecenderungan filsafat Barat mengasumsikan esensi dan prinsip mendasar juga disebut Derrida sebagai kecenderungan metafisis, dan prinsip dasar itu sering dilalui secara sederhana dengan jalan pintas seperti dengan dikotomi, melakukan oposisi biner pada konsep, seperti subjek dan objek, tulisan dan ujaran, dll. Menurut Derrida, hasrat pada pusat dan tekanan otoritas juga berpengaruh pada kecenderungan hirarkis dan dikotomis bahasa. Oposisi konseptual yang sering digunakan untuk mengorganisir diskursus malah membuat hubungan-hubungan mendasar menjadi salah, (misalnya dikotomi theist dan atheist atau laki-laki dan perempuan dst.) maka oposisi biner yang biasa digunakan dan melestarikan metafisika seperti itu harus dipersoalkan dan didekonstruksi.

Namun dipengaruhi gagasan Freudian antara kesadaran dan ketidaksadaran yang saling tarik menarik, pertentangan bahasa itu saling membutuhkan dan saling menunjuk satu sama lain. Dengan dekonstruksi Derrida, seseorang dapat terbebaskan dari perangkap sistem seperti itu, dikotomi dan hirarki itu dapat dibolak-balik, diacak, atau dilenyapkan, dan seseorang akan menyadari bahwa terdapat banyak hal yang disembunyikan dan banyak penafsiran yang jauh lebih luas bila melihat hal-hal yang disembunyikan, dan mungkin memang segala sesuatunya seperti pengetahuan, kebenaran, keyakinan itu adalah konstruksi manusia sendiri.

 

  • Memunculkan yang Lain

Tujuan dekonstruksi antara lain, pertama menawarkan cara mengidentifikasi kontradiksi dalam teks sehingga memperoleh kesadaran lebih tinggi akan adanya bentuk-bentuk inkonsistensi dalam teks, misalnya pemilihan kata, penyusunan kalimat, cara memilih representasi, dan kecenderungan ideologis secara sadar atau tidak sudah memberikan kesan tertentu pada teks. [5] Kedua, memberlakukan teks, konteks, dan tradisi sebagai sarana yang mampu membuka kemungkinan baru untuk perubahan melalui hubungan yang tidak mungkin.[6] Ketiga, dekonstruksi membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan melihat cara-cara bagaimana pengalaman ditentukan oleh ideologi yang tidak kita sadari karena sudah dibangun dan menyatu dalam bahasa.[7] Keempat, dekonstruksi dianggap berhasil bila mampu mengubah suatu teks menjadi asing bagi para pembaca yang sudah menganggapnya familiar, dan menyingkap makna-makna yang terpinggirkan.[8] Aspirasi utama dekonstruksi adalah menyingkap makna-makna yang dipinggirkan, diabaikan, atau disembunyikan.[9] Hal itu dapat dilakukan dengan menangguhkan dikotomi atau oposisi biner dan hirarki.

Dekonstruksi Derrida hanya mungkin bila pembaca tidak percaya begitu saja kepada kepenuhan makna suatu teks. Maka, dekonstruksi mengusik secara cermat kekuatan-kekuatan yang menentukan pemaknaan di dalam teks itu sendiri. Artinya, dekonstruksi membaca suatu teks untuk melihat bagaimana teks tersebut mengonstruksi pusatnya, sistem kebenaran dan maknanya, serta pertentangannya. Setiap teks menciptakan dunianya sendiri, dengan istilah-istilah dan premis-premisnya sendiri.[10]

Dengan semangat penangguhan, mengenai makna, maka menyimpulkan yang berarti memutuskan seharusnya tidak dilakukan karena tindakan memahami tidak pernah dipastikan dengan adanya penangguhan atas kemungkinan-kemungkinan lain.

 

  • Analisa dengan Hermeneutika Dekonstruksi

Dengan hermeneutika dekonstruksi Derrida, seseorang dapat terbebaskan dari perangkap sistem. Dikotomi dan hirarki itu dapat dibolak-balik, diacak, atau dilenyapkan, dan setelah menyingkap yang tersembunyi, seseorang akan menyadari bahwa banyak penafsiran yang jauh lebih luas dari itu. Terlihat bahwa masyarakat terjebak atau diatur  misalnya oleh konsep indah dan jelek, dan dengan demikian Makhluk Tak Bernama langsung ditolak dan diserang oleh setiap manusia yang ditemuinya. Mereka tak bertanya lebih lanjut dan langsung bertindak sesuai kerangka yang berlaku. Mereka tak ingin menyingkap dan mengetahui lebih lanjut tentang Makhluk Tak Bernama yang padahal tadinya berhati baik dan lembut.

Kemudian posisi protagonis dan antagonis dari novel Frankenstein dapat ditelaah juga. Protagonis sering diartikan sebagai pemeran utama atau pemeran pusat dari suatu cerita, sementara antagonis sering dipahami sebagai musuh, saingan, lawan, dari karakter protagonis,  dari bahasa Yunani antagonistēs  anti-(“against”) dan agonizesthai (“to contend for a prize”). Dipahami juga bahwa antagonis merepresentasikan hambatan dan ancaman pada karakter protagonis dengan kehadirannya dan tindakannya.

Sifat hirarkis dan dikotomis yang melekat dengan bahasa dan wacana di masyarakat seperti misalnya subjek dan objek, pencipta dan karyanya, manusia dan non-manusia, indah dan jelek, akan membuat pembaca terarah untuk berpikir bahwa Frankenstein secara hirarkis lebih tinggi daripada Makhluk Tak Bernama, bahwa Frankenstein adalah protagonis sementara Makhluk Tak Bernama adalah antagonis. Tetapi, sesuai dengan berbagai tujuan dekonstruksi yang ditulis sebelumnya, suatu teks selalu terbuka untuk penafsiran baru, kontradiksi harus identifikasi, dan dekonstruksi akan dianggap berhasil bila mampu mengubah teks menjadi asing bagi pembaca yang sudah familiar dengannya, maka harus dilakukan penafsiran lagi pada teks Frankenstein. Pertama, hirarki dan dikotomi antara Frankenstein dan Makhluk Tak Bernama yang sering disebut monster, setan, bedebah, dan berbagai kata negatif lainnya, harus dibalik menjadi Makhluk Tak Bernama dan Frankenstein, pembalikan itu membantu untuk memahami dengan cara baru dan selanjutnya hal itu mungkin dapat ditiadakan juga, sebab dengan interseksionalitas, dipahami bahwa ada sangat banyak aspek dalam diri seseorang, bahwa dirinya itu berlapis. Ia adalah a, tetapi juga b, c, d, e, dan seterusnya.

Kemudian, dengan minat dan kepedulian untuk memunculkan yang lain, maka dapat dianggap Makhluk Tak Bernama adalah protagonis, sementara Frankenstein yang merupakan sumber penderitaan dan hambatan hidupnya adalah antagonis dari cerita itu. Mungkin bila diterbitkan dengan interpretasi baru, judul novel itu juga dapat diganti dari Frankenstein menjadi Makhluk Tak Bernama, sebab Makhluk Tak Bernama itu bahkan sempat berkata,

“By the virtues that I once possessed, I demand this from you. Hear my tale…”[11]

 

  1. Heidegger dan Hermeneutika

Heidegger merupakan salah satu filsuf penting dalam sejarah filsafat abad ke-20, dengan bukunya Being and Time yang sering disebut sebagai salah satu karya filosofis terpenting, ia mengemukakan kekayaan gagasan yang melingkupi metafisika, ontologi, filsafat bahasa, fenomenologi, eksistensialisme, dan tentunya hermeneutika dengan memulai dari menelaah hal penting mendasar yang menurutnya luput dipertanyakan filsafat selama ini yaitu persoalan mengenai makna being. Ia mencoba memahami being dari metafisika seperti menelaah kembali berbagai substansi being dari Aristoteles dan Descartes dan merumuskan bahwa being merupakan proses dari becoming dan dengannya menolak gagasan Aristotelian mengenai esensi manusia yang tetap dan merumuskan modus being antara lain Dasein, faktisitas, presence-at-hand, dan readiness-at-hand dan dengannya menolak juga gagasan Cartesian tentang tipe substansi res cogitans, dan res extensa. Ia juga mencoba memahami being dari filsafat bahasa Dun Scotus, bahwa kategori realitas tidak dapat ditarik begitu saja dari realitas seperti kata Aristoteles, melainkan diterapkan oleh manusia, sehingga persoalan being juga merupakan hubungan struktur bahasa yang menyediakan konsep untuk memahami struktur realitas, dengan menyadari bahasa itu sangat penting untuk menyingkap being, ia bahkan mengatakan bahwa language is the house of being.

Kemudian dengan mencari makna being dan cara mendapatkannya dari pengalaman dan bahasa, pemikirannya juga dapat disebut sebagai hermeneutika. Baik fenomenologi maupun eksistensialisme tidak dapat melepaskan kaitan antara subjek dan objek. Dengan memandang makna being yang ditentukan dari judgment dan keterarahan dalam pengalaman, ia juga menggunakan analisa fenomenologi. Lalu Heidegger juga percaya bahwa cara terbaik untuk memahami being adalah dengan melihat dan mempertanyakan pada diri manusia sendiri, pemikirannya seringkali disebut juga dengan eksistensialisme dengan merumuskan pembedaan Dasein sebagai being yang bereksistensi, menyadari keberadaannya melalui keterlibatannya dengan dunia, menyadari bahwa ia berada dalam temporalitas dan menuju pada kematian, dan merupakan satu-satunya being yang dapat mempersoalkan being lainnya dan dengan refleksi memiliki kemungkinan untuk menjadi otentik.

 

  • Hermeneutika Faktisitas

Tidak seperti filsuf sebelum zamannya yaitu Schleiermacher dan Dilthey yang merumuskan hermeneutika dengan nuansa metode seni memahami, pada Schleiermacher untuk menangkap maksud pengarang sementara pada Dilthey untuk sesuatu yang lebih luas tentang karya tersebut dan banyak aspek lainnya, bagi Heidegger, hermeneutika bukan konsep intelektual melainkan konsep praktis, hermeneutika adalah sesuatu yang lebih luas dan mendalam yang berkaitan langsung dengan kehidupan dan cara hidup seseorang, dan memahami bukan sesuatu yang bersifat kognitif tetapi bahkan bersifat pra-kognitif.

Pada tahun 1923, Heidegger memberikan kuliah berjudul “Ontology – The Hermenutics of Facticity dimana ia menjelaskan peranan hermeneutika dalam filsafatnya, yang memuncak dalam karyanya Being and Time (1927). Ontologi merupakan studi mengenai being, dan berkenaan dengan kuliahnya, Heidegger mengatakan bahwa being harus dapat diselidiki dengan bahasa. Awalnya, Heidegger menunjuk dua masalah utama dari ontologi yaitu prasangka bahwa makna dari being hanya dapat ditentukan dari menelaah objek yang objektif dan tidak mempertimbangkan kemungkinan lain tentangnya. Kedua, turunan dari masalah pertama, ontologi jadi tidak mempertimbangkan manusia untuk ditelaah. Lalu dengan faktisitas, Heidegger memaksudkannya sebagai modus partikular being. Dasein (“da” = “there” dan “sein” = “to be”) maksudnya adalah “being there” atau berada di sana, yang merupakan modus manusia untuk berada di dunia. Semua manusia memiliki modus tersebut, tetapi yang benar-benar dimiliki dan membedakan satu manusia dengan manusia lainnya adalah caranya berada di dunia. Berada di dunia bisa dijalani dengan kesadaran dan kewaspadaan akan kehidupan, atau sama sekali tidak dijalani dengan keduanya.[12]

Berada di dunia bagi Heidegger bukan hanya berada sebagai objek pasif saja, tetapi bagaimana seseorang hidup atau menghidupi hidupnya. Dasein merupakan makhluk hidup yang aktif dengan kehidupannya. Faktis berarti segala artikulasi tentang modusnya sebagai Dasein, yaitu ekspresi, artikulasi, dan pemahaman dirinya sendiri sebagai being merupakan bagian dari faktisitas[13] yaitu kenyataan eksistensial sebagai Dasein. Makna menurut Heidegger dijumpai dengan pengalaman hidup itu sendiri, sementara kebenaran menurutnya merupakan penyingkapan yang terjadi di dalam atau melalui pengalaman hidup itu sendiri, bukan melalui penilaian dari subjek terhadap objek.[14] Pemahaman eksistensial merujuk pada cara Dasein memahami dirinya dalam modus being, tidak hanya dirinya, Dasein juga memahami hal-hal lain dan manusia lainnya (other things and other human beings).[15] Dengan kata lain, sebelum merumuskan ontologi, seseorang harus dapat menjawab makna being secara keseluruhan.

Dalam Being and Time, terdapat drama Dasein yang terlempar ke dunia ini. Ia berada di dalam dunia dan hal itu membuatnya mengalami kecemasan eksistensial. Memahami merupakan momen yang sama primordialnya dengan kecemasan itu, sehingga ada dua hal yang diandaikan disana yaitu pertama, keterlemparan itu ada sebelum ada perbedaan subjek dan objek dalam pengetahuan, sehingga memahami bukan tindakan kognitif ala Cartesian, merupakan tindakan pra-kognitif. Kedua, sebagai konsekuensinya memahami bukan merupakan alat untuk mengetahui dunia, melainkan keterbukaan Dasein terhadap dunia dan kemungkinan-kemungkinannya untuk berada dalam dunia.[16]

Hermeneutika Heidegger disebut hermeneutik faktisitas karena baginya memahami bukan tidakan kognitif tetapi merupakan bagian dari kenyataan eksistensial dan tindakan primordial Dasein yang tak terelakkan dalam dirinya sebagai manusia. Memahami bukan merupakan sesuatu yang dimiliki, tetapi merupakan cara bereksistensi. Berada di dunia tidak lain kecuali merupakan berupaya memahami. Menjadi manusia adalah menjadi makhluk hermeneutis yang terus mencoba memahami diri dan sekelilingnya dengan berbagai cara.

 

  • Analisa dengan Hermeneutika Faktisitas

Makhluk Tak Bernama terlempar ke dunia. Ia tidak meminta untuk hidup, ia tidak dapat memilih fisiknya, ia tidak dapat memilih tempat ia lahir, bagaimanapun ia ada begitu saja di dunia ini. Ia bingung, merana karena ketubuhannya dan perasannya, ia cemas, tetapi tetap menjalani hidupnya. Ia berada di dalam dunia, menyadari keterlemparannya, kemudian berupaya untuk memahami dunia dan dirinya sebagai caranya berada. Ia juga menyadari keberadaannya melalui keterikatannya dan keterlibatannya dengan dunia dan being lainnya. Makhluk yang dibentuk dari berbagai tubuh manusia itu memiliki perasaan dan pikiran yang sangat peka untuk berhubungan dengan being-being lain.

“They often, I believe, suffered the pangs of hunger very poignantly, especially the two younger cottagers; for several times they placed food before the old man when they reserved none for themselves.”

“This trait of kindness moved me sensibly. I had been accustomed, during the night to steal a part of their store for my own consumption; but when I found that in doing this I inflicted pain on the cottagers, I abstained, and satisfied myself with berries, nuts, and roots, which I gathered from a neighbouring wood.”

“I discovered also another means through which I was enabled to assist their labours. I found that the youth spent a great part of each day in collecting wood for the family fire; and, during the night, I often took his tools, the use of which I quickly discovered, and brought home firing sufficient for the consumption of several days.”

“I remember the first time that I did this the young woman, when she opened the door in the morning, appeared greatly astonished on seeing a great pile of wood on the outside. She uttered some words in a loud voice, and the youth joined her, who also expressed surprise. I observed, with pleasure, that he did not go to the forest that day, but spent it in repairing the cottage and cultivating the garden.

“By degrees I made a discovery of still greater moment. I found that these people possessed a method of communicating their experience and feelings to one another by articulate sounds. I perceived that the words they spoke sometimes produced pleasure or pain, smiles or sadness, in the minds and countenances of the hearers. This was indeed a godlike science, and I ardently desired to become acquainted with it.” [17]

Ia mampu menjarak, mengatasi dirinya dan hal-hal yang mengungkung dirinya, dan ia selalu merefleksikan dengan sadar hal-hal yang dari dirinya dan sekelilingnya bahkan dimulai dari sensasi, perasaan, hingga pikirannya.

“No distinct ideas occupied my mind; all was confused. I felt light, and hunger, and thirst, and darkness; innumerable sounds rung in my ears, and on all sides various scents saluted me: the only object that I could distinguish was the bright moon, and I fixed my eyes on that with pleasure.”[18]

Keterlibatannya dengan dunia, meskipun seringnya negatif dan menyakitkannya, tidak membuatnya menyerah begitu saja. Ia terus mencoba memahami dunia dan being lainnya. Ia bahkan mempertanyakan kebahagiaan orang-orang lainnya.

“They were not entirely happy. The young man and his companion often went apart, and appeared to weep. I saw no cause for their unhappiness; but I was deeply affected by it. If such lovely creatures were miserable, it was less strange that I, an imperfect and solitary being, should be wretched. Yet why were these gentle beings unhappy? They possessed a delightful house (for such it was in my eyes) and every luxury; they had a fire to warm them when chill, and delicious viands when hungry; they were dressed in excellent clothes; and, still more, they enjoyed one another’s company and speech, interchanging each day looks of affection and kindness. What did their tears imply? Did they really express pain? I was at first unable to solve these questions; but perpetual attention and time explained to me many appearances which were at first enigmatic.”[19]

Ia mencoba untuk berkomunikasi dan terus menunjukkan kebaikan hatinya pada orang-orang lain.

“How can I move thee? Will no entreaties cause thee to turn a favourable eye upon thy creature, who implores thy goodness and compassion? Believe me, Frankenstein: I was benevolent; my soul glowed with love and humanity: but am I not alone, miserably alone? You, my creator, abhor me; what hope can I gather from your fellow-creatures, who owe me nothing? they spurn and hate me. The desert mountains and dreary glaciers are my refuge.”[20]

“I discovered also another means through which I was enabled to assist their labours. I found that the youth spent a great part of each day in collecting wood for the family fire; and, during the night, I often took his tools, the use of which I quickly discovered, and brought home firing sufficient for the consumption of several days.”[21]

“I was scarcely hid, when a young girl came running towards the spot where I was concealed, laughing, as if she ran from some one in sport. She continued her course along the precipitous sides of the river, when suddenly her foot slipt, and she fell into the rapid stream. I rushed from my hiding-place; and, with extreme labour from the force of the current, saved her, and dragged her to shore. She was senseless; and I endeavoured by every means in my power to restore animation, when I was suddenly interrupted by the approach of rustic.”[22]

Namun lama-lama setelah ia terus disakiti oleh berbagai manusia yang dijumpainya karena mereka langsung hanya menilainya dari keburukan rupanya, ia memutuskan kesia-siaannya dan berpihak tidak lagi pada kebaikan, melainkan pada kejahatan, dan bersumpah terus membenci dan membalas dendam pada umat manusia.

“This was then the reward of my benevolence! I had saved a human being from destruction, and as a recompense, I now writhed under the miserable pain of a wound, which shattered the flesh and bone. The feelings of kindness and gentleness which I had entertained but a few moments before gave place to hellish rage and gnashing of teeth. Inflamed by pain, I vowed eternal hatred and vengeance to all mankind.”[23]

Tetapi, bahkan setelah bersumpah jahat demikian dan sungguhan melakukan perbuatan jahatnya, makhluk itu tetap mencoba untuk berbuat baik lebih dahulu.

“Suddenly as I gazed on him, an idea seized me that this little creature was unprejudiced, and had lived too short a time to have imbibed a horror of deformity. If, therefore, I could seize him and educate him as my companion and friend, I should not be so desolate in this peopled earth.”[24]

Dan setelah ia melakukan perbuatan jahatnya, ia tidak merasa puas melainkan merasa semakin merana.

“A frightful selfishness hurried me on, while my heart was poisoned with remorse. Think you that the groans of Clerval were music to my ears? My heart was fashioned to be susceptible of love and sympathy; and when wrenched by misery to vice and hatred it did not endure the violence of the change without torture such as you cannot even imagine.”[25]

Tetapi perasaan merana karena kesalahannya itu dengan cepat berubah menjadi hasrat untuk membalas dendam lagi.

“After the murder of Clerval I returned to Switzerland heartbroken and overcome. I pitied Frankenstein; my pity amounted to horror: I abhorred myself. But when I discovered that he, the author at once of my existence and of its unspeakable torments, dared to hope for happiness; that while he accumulated wretchedness and despair upon me he sought his own enjoyment in feelings and passions from the indulgence of which I was forever barred, then impotent envy and bitter indignation filled me with an insatiable thirst for vengeance.”[26]

Makhluk itu terus merenungkan kembali hidupnya, perbuatannya, harapannya, dan dampaknya atas dirinya.

“Once I falsely hoped to meet with beings who, pardoning my outward form, would love me for the excellent qualities which I was capable of unfolding. I was nourished with high thoughts of honour and devotion. But now crime has degraded me beneath the meanest animal. No guilt, no mischief, no malignity, no misery, can be found comparable to mine. When I run over the frightful catalogue of my sins, I cannot believe that I am the same creature whose thoughts were once filled with sublime and transcendent visions of the beauty and the majesty of goodness. But it is even so; the fallen angel becomes a malignant devil. Yet even that enemy of God and man had friends and associates in his desolation; I am alone.”[27]

Makhluk Tak Bernama merepresentasikan hermeneutika faktisitas bahwa memahami bukan tidakan kognitif tetapi merupakan bagian dari kenyataan eksistensial dan merupakan tindakan primordial Dasein yang tak terelakkan. Makhluk Tak Berrnama itu bagaikan Dasein sebagai being yang bereksistensi. Ia menyadari keberadaannya melalui keterlibatannya dengan dunia, menyadari bahwa ia berada dalam temporalitas dan menuju pada kematian, awalnya ia cemas tetapi akhirnya menerimanya (I shall die and what I now feel will be extinct. Soon these burning miseries will be extinct.)[28] dan merupakan satu-satunya being yang dapat mempersoalkan being lainnya dalam narasi ini dan dengan refleksi ia memiliki kemungkinan untuk menjadi otentik meskipun ia pada akhirnya memiliki masalah dengan moralitas dan jatuh pada kegelapan. Tetapi masalah moralitas dan perubahan tindakannya itu mencerminkan gambaran manusia yang suatu saat bisa berbuat sangat baik dan pada saat lain bisa berbuat sangat buruk.

“I cannot believe that I am the same creature whose thoughts were once filled with sublime and transcendent visions of the beauty and the majesty of goodness.”[29]

Dibandingkan dengan makhluk tak bernama itu, Heideggerian mungkin akan menyebut Frankenstein tidak otentik karena menjalani hidupnya dengan tidak refleksif. Ia bekerja selama dua tahun untuk proyeknya, tetapi tidak berpikir matang dan bahkan tidak menyadari perbuatannya hingga selesai. Ia begitu mengagungkan dirinya sebagai subjek pencipta, sementara ciptaannya baginya hanya merupakan objek yang hina. Ia memiliki tujuan hidup yang besar untuk menjadi pelopor dan pencipta, tetapi ia tidak memiliki rasa tanggung jawab atas hasil karyanya, ia tidak memikirkan bagaimana rasanya menjadi makhluk tak bernama itu, dan segala yang dipikirkannya terus berfokus untuk kenyamanan dan keuntungan dirinya. Pada akhirnya, ia merasa bersalah tetapi dalam artian sempit karena kebahagiaannya terenggut olehnya karena hasil karyanya sendiri.

*) Karina Andjani, Pianis, saat ini tengah menyelesaikan studi di negeri kincir angin, Belanda.

**) Baca kelanjutan kajian ini dalam artikel : Frankenstein Sebagai Ilmu Pengetahuan dan Science Fiction

___________________

 

Referensi

Shelley, Mary. (1818). Frankenstein. HarperCollins Publishers: London.

Sarup, Madan. (2011). Poststrukturalisme & Posmodernisme. Jalasutra: Yogyakarta.

Hardiman, F. Budi. (2015). Seni Memahami. PT Kanisius: Yogyakarta.

Haryatmoko. (2016). Membongkar Rezim Kepastian. PT Kanisius: Yogyakarta.

Schmidt, Lawrence K. (2006). Understanding Hermeneutics. Acumen Publishing: Durham.

 

 

[1] Shelley, Mary. (1818). Frankenstein. HarperCollins Publishers: London. Hal: 21. Sepanjang bagian dua ini, saya merangkum dari buku tersebut.

[2] Sarup, Madan. (2011). Poststrukturalisme & Posmodernisme. Jalasutra: Yogyakarta. Hal: 46.

[3] Ibid. Hal: 48-49.

[4] Hardiman, F. Budi. (2015). Seni Memahami. PT Kanisius: Yogyakarta. Hal: 289.

[5] Haryatmoko. (2016). Membongkar Rezim Kepastian. PT Kanisius: Yogyakarta. Hal: 134.

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] Ibid. Hal: 135.

[9] Ibid. Hal: 133.

[10] Ibid. Hal: 136.

[11] Shelley, Mary. (1818). Frankenstein. HarperCollins Publishers: London. Hal: 87.

[12] Schmidt, Lawrence K. (2006). Understanding Hermeneutics. Acumen Publishing: Durham. Hal: 52.

[13] Ibid. Hal: 53.

[14] Ibid. Hal: 54.

[15] Ibid. Hal: 60.

[16] Hardiman, F. Budi. (2015). Seni Memahami. PT Kanisius: Yogyakarta. Hal: 110.

[17] Shelley, Mary. (1818). Frankenstein. HarperCollins Publishers: London. Hal:  97.

[18] Ibid. Hal: 90.

[19] Ibid. Hal: 96-97.

[20] Ibid. Hal: 87.

[21] Ibid. Hal: 97.

[22] Ibid. Hal: 123.

[23] Ibid.

[24] Ibid. Hal: 124.

[25] Ibid. Hal: 198.

[26] Ibid. Hal: 198-199.

[27] Ibid. Hal: 199-200.

[28] Ibid. Hal: 201.

[29] Ibid. Hal: 199-200.

Continue Reading

Kajian

Imajinasi dan Strukturalisme Jacques Lacan

mm

Published

on

Meskipun Jacques Lacan berhasil mengubah seluruh orientasi psikoanalisis di Prancis dan tempat-tempat lain, pendidikan awal yang ditempuhnya cukup konvensional. Ia lahir di Paris pada tahun 1901, dalam sebuah keluarga Katolik borjuis. Kemudian ia mengikuti pendidikan kedokteran di Sorbonne sebelum lebih lanjut belajar dalam bidang psikiatri pada tahun 1920-an di bawah bimbingan ahli psikiatri terkenal, Gaetan de Clerambault. Dari tokoh ini Lacan belajar seni pengamatan, dan dari kaum surealis ia belajar seni penampilan diri gaya barok. Hal ini muncul dengan indahnya dalam tulisan sejarahwan psikoanalisis Prancis, Elisabeth Roudinesco, saat menguraikan perilaku Lacan dalam salah satu seminarnya:

“Ia berdandan dengan cara yang sama dengan tata kalimat baroknya. Segera setelah perpisahannya yang pertama, ia pindah ke amfiteater di Sainte-Anne… Di sana dalam kurun waktu 10 tahun ia tampil dengan suara yang berubah-ubah, kadang-kadang lemah, kadang-kadang menguntur. Ia akan menuliskan terlebih dahulu apa-apa yang akan dikatakannya, dan kemudian di depan para hadirin ia melakukan improvisasi seperti seorang aktor dari Royal Shakespeare Company yang mendapatkan pelajaran diksi dari Greta Garbo dan dibimbing secara spiritual oleh Arturo Toscanini. Lacan melakukannya dengan salah karena ia mengatakan yang benar, seolah berusaha membangkitkan cerminan rahasia ketidaksadaran, seolah memperlihatkan pertahanan tanpa kenal menyerah ditepian ajal. Sebagai seorang tukang sihir tanpa ilmu sihir, guru tanpa hipnosis, nabi tanpa dewa, ia mengangumkan hadirin dalam bahasa yang mengagumkan, dan membangkitkan pencerahan yang sudah berlangsung satu abad”.[1]

Retorika seminar dari Lacan ini mempraktekkan prinsip bahwa bahasa mampu mengungkapkan lain dari apa yang dikaitkannya, suatu prinsip yang pertama dirumuskan pada tahun 1950-an. Singkatnya, bahasa berbicara melalui manusia sama seperti manusia mengucapkannya.

Upaya untuk menafsirkan ulang Freud – “kembali ke Freud”, seperti kata Lacan – mungkin dimulai pada tahun 1930-an yang diilhami oleh penafsiran atas pemikiran Hegel menurut Alexandre Kojeve. Memang benar bahwa kosa kata Hegelian ada dalam tulisan-tulisan Lacan pada tahun 1950-an, seperti yang ditunjukkan pada kepekaan Hegelian terhadap nuansa antarsubjektif dalam dialektika Tuan-Budak menurut Hegel.[2] Yang menonjol di sini adalah peranan Yang  Lain (dengan “L” huruf besar untuk menunjukkan bahwa kata ini tidak hanya menunjuk ke satu orang lain), yang memiliki peranan mendasar dalam pengungkapan hasrat manusia. Karena ini didasarkan atas hilangnya objek (ibu dalam contoh pertama), hasrat tidak mengakui identitas subjek, tetapi mempertanyakannya: hasrat memang menegaskan adanya perpecahan yang berlangsung dalam subjek.

Dalam upaya meninjau kembali teori tentang subjektivitas dan seksualitas yang diturunkan dari karya Freud, Lacan membaca ulang Freud untuk memperjelas dan menghidupkan kembali sekumpulan konsep – paling tidak konsep tentang ketidaksadaran. Pada tahun 1950-an Lacan mengatakan bahwa yang paling menghambat pengetahuan tentang ciri revolusioner dan subverifnya karya-karya Freud adalah pandangan bahwa ego merupakan hal yang paling penting dalam upaya memahami perilaku manusia. Teori tentang ego yang dipakai sebagai yang identik dengan dirinya sendiri, sebagai yang bersifat homogen, dan menjadi sumber utama dari identitas individu, tidak hanya mendominasi psikologi-ego di Amerika Serikat di bawah pengaruh Heinze Hartmann, tetapi juga melebar ke semua disiplin ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. Akibatnya, masa-masa sesudah  perang (khususnya di Amerika Serikat dan negara-negara berbahasa Inggris lainnya) merupakan zaman humanisme, dan adanya keyakinan bahwa keinginan, pemahaman, dan kesadaran manusia adalah sesuatu yang bersifat mendasar. Muncul suatu keyakinan bahwa ego itu – baik atau buruk – berada di pusat kehidupan psikis manusia.

Dengan penekanan strukturalis pada bahasa sebagai suatu sistem perbedaan tanpa pengertian positif, Lacan menojolkan pentingnya bahasa dalam karya Freud. Akan tetapi, sebelum pendekatan strukturalis menjadi populer, pada tahun 1936 Lacan telah mengembangkan teori tentang “Bayangan Cermin”.[3] Bayangan cermin terkait dengan munculnya kemampuan bayi (bayi = infant; enfans = belum bersuara) yang berumur antara 6 dan 18 bulan, yang belum bisa bicara untuk mengenali bayangannya sendiri di cermin. Tindak pengenalan diri tidak menjadi jelas dengan sendirinya; ini karena sang bayi akan melihat gambaran tersebut baik sebagai dirinya sendiri (patulannya) maupun bukan dirinya sendiri (hanya imaji yang terpantul). Gambaran sosok tersebut tidak identik dengan sang subjek bayi, dan menjadi manusia utuh (yaitu menjadi makhluk sosial) berarti menyesuaikan diri dengan hal ini. Masuknya sang bayi ke dalam bahasa sangat tergantung pada pengenalan diri ini, demikian juga pembentukan ego (pusat kesadaran). Sekarang unsur-unsur bahasa dan simbolik (yaitu yang kultural) menjadi unsur yang paling mendasar, sedangkan sebelumnya, faktor-faktor biologis (yaitu yang kultural) menjadi unsur yang paling mendasar, sedangkan sebelumnya, faktor-faktor biologis (yaitu yang alami) mendasari subjektivitas manusia. Hal ini pernah dikatakan Lacan pada tahun 1953 dalam Diskursus Roma: “Manusia berbicara,….. tetapi simbollah yang membuatnya menjadi manusia.”[4]

Teori Saussurian tentang hubungan acak antara penanda dan yang ditandakan, serta pengertian tentang bahasa sebagai suatu sistem perbedaan akhirnya membawa Lacan untuk mengatakan pada tahun 1960-an bahwa subjek yang dimaksudkannya adalah subjek dari penanda. Karena penanda selalu terpisah dari yang ditandakan (seperti batang dalam algoritma Saussure) dan memiliki otonomi yang nyata, akhirnya tidak ada penanda yang sampai pada yang ditandakan. Realitas penanda adalah realitas tatanan yang simbolik – tatanan tanda, simbol, makna, representasi, dan segala macam bayangan. Dalam tatatan inilah para individu terbentuk sebagai suatu subjek.

Bahasa itu juga memegang peranan penting dalam suatu wawancara psikoanalitis, saat yang dianalisis diminta untuk mengatakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya – tanpa kecuali – karena penting sekali sebagai pembentuk ingatan. Itulah sebabnya manusia itu tak pernah lepas dari tatanan yang simbolik.

Akan tetapi, bahasa itu bukan hanya pembawa pikiran dan informasi; ia bukan hanya merupakan medium komunikasi. Lacan berpendapat bahwa faktor yang membuat komunikasi menjadi cacat itu juga penting. Kesalahpahaman, kekacauan, resonansi puitis, dan berbagai macam kesalahan (seperti selip lidah, linglung, lupa nama orang, salah ucap, dan sebagainya – keselahan yang dianalisis Freud dalam The Psychopathology of Everyday Life) juga muncul dalam dan melalui bahasa. Ini adalah kesalahan yang membuat kita bisa memahami ketidaksadaran. Hal-hal inilah yang memungkinkan Lacan mengungkapkan aforismenya yang terkenal: “Ketidaksadaran itu terstruktur seperti bahasa”. Oleh sebab itu, ketidaksadaran inilah yang mengganggu diskursus komunikatif – bukan secara kebetulan, melainkan mengikuti suatu keteraturan struktural.

Berdasarkan karya Roman Jakobson dalam linguistik, Lacan mengaitkan konsep Freud tentang “kondensasi” dan “perpindahan” dengan konsep Jakobson tentang “metafora” dan “metonimia”. Dengan demikian, metafora didefinisikan sebagai “digantikannya satu kata dengan kata lain”, sedangkan memtonimia adalah “hubungan kata per kata” (kesinambungan). Pendekatan semacam ini memungkinkan Lacan menyamakan “keberadaan” ketidaksadaran dalam bahasa dengan pengaruh yang diakibatkan oleh metafora dan metonimia sebagaimana Freud, dalam The Interpretation of Dream, mengaitkan bukti ketidaksadaran dalam mimpi dengan bekerjanya kondensasi dan perpindahan.

Bila bahasa, yang merupakan anggota istimewa dari tatanan yang simbolik, menduduki tempat sentral dalam teori psikoanalisis Lacan, ini hanyalah suatu unsur dalam trilogi tatanan yang membentuk subjek psikoanalisis. Dua tatanan lainnya adalah Yang Imajiner dan Yang Real. Bila ketidaksadaran melepaskan subjek dari pusat karena mengakibatkan perpecahan, maka dalam tingkatan tataran yang Imajiner (yaitu dalam diskursus kehidupan sehari-hari pengaruh ketidaksadaran tidak diakui adanya. Pada tataran Yang Imajiner subjek yakin tentang adanya transparansi dari Yang simbolik; ia tidak menyadari kurangnya realitas dalam Yang Imajiner itu tidak hanya menjadi tempat pembentukan bayangan atau terlibatnya subjek dalam kenikmatan-kenikmatan imajinasi. Sebagai akibatnya, Yang Imajiner adalah situasi di mana subjek salah mengenali (meconnait) sifat dari Yang Simbolik. Oleh sebab itu, Yang Imajiner merupakan realitas ilusi, tetapi ia adalah suatu “ilusi niscaya”, seperti yang dikatakan Durkheim tentang agama.

Satu perumusan tentang Yang Real yang diberikan Lacan adalah bahwa ia “selalu berada di tempatnya”. Yang Real selalu berada  di tempatnya karena hanya yang hilang (tidak ada) saja yang bisa disimbolkan, dan dari sini diinformalkan.Yang simbolik adalah pengganti dari “yang hilang dari tempatnya”. Simbol, kata, dan sebagainya selalu mensyaratkan tidak adanya objek atau yang dirujuk. Pendekatan terhadap Yang Real ini diuraikan dalam esai singkat  Lacan tentang cerita pendek Edgar Allan Poe “The Purloined Letter”.[5]

Walaupun begitu, pada tataran pembentukan subjek individu sebagai yang berjenis kelamin, yang hilang adalah alat kelamin laki-laki sang ibu. Kisahnya adalah bahwa masuknya sang anak ke dalam bahasa sejajar dengan perpisahannya dengan ibu. Sebelum perpisahan ini terjadi, terdapat suasana berlimpah ini terjadi, terdapat suasana berlimpah yang didasarkan atas bersatunya ibu dan anak. Setelah perpisahan ini sang ibu menjadi objek pertama sang anak, yaitu pengalaman kekurangan atau ketiadaannya yang pertama. Di sisi lain, bagi sang ibu, anak adalah pengganti dari alat kelamin laki-laki yang hilang: ia menemukan rasa kepenuhan dalam hubungan dekatnya dengan sang anak. Meskipun demikian, tanpa adanya perpisahan ini pembentukan bahasa menjadi terganggu. Selain itu, sang ayah adalah suatu unsur yang cenderung melakukan intervensi dalam hubungan ibu-anak, sehingga dalam melakukan identifikasi dengannya sang anak bisa membentuk identitasnya sendiri. Dalam skenario ini – yang status metaforisnya tidak boleh diabaikan – kedudukan sang ibu (juga menjadi kedudukan dari yang feminim) cenderung menjadi tempat kedudukan dari Yang Real, sedangkan sang ayah membangkitkan Yang simbolik dan Yang Real agar bisa ditangkap oleh sang anak. Pada tataran individu yang lebih tepat dan khusus, identitas sang anak adalah hasil dari upayanya menghadapi perbedaan seksual. Yang utama dan pertama dalam proses diferensiasi seksual ini adalah munculnya kesadaran pada sang anak bahwa ibunya itu tidak memiliki penis: jadi, sang ibu memiliki tanda perbedaan yang permanen ini. Dari sini, Lacan lalu menunjukkan bahwa penis memiliki status simbolik yang tidak bisa direduksikan lagi, status yang ditunjukkan dengan hanya berbicara tentang alat kelamin laki-laki. Penis itu nyata, tetapi yang menjadi penanda adalah falus (yang simbolik); falus, karena peranannya dalam menandakan yang hilang (atau kurang), menjadi penanda dari penandaan ini.

Pengalaman ini tidak hanya datang dari pengetahuan (sang anak) tentang tidak adanya penis pada sang ibu, tetapi juga datang dari sang ibu sebagai kesimpulan tentang potensi tidak adanya kastrasi yang dialami sang anak. Sebagai akibatnya, melalui peranan dari falus sebagai simbol par excellence, Yang simbolik menghadapkan subjek dengan kerawanan dan kefanaannya.

Dalam pengertiannya yang paling umum, Yang simbolik adalah sesuatu yang memberi makna dan hukum pada dunia – jika bukan keteraturannya. Memang pada tahu 1950-an, Lacan berbicara tentang hukum sebagai yang tampil dalam Demi-Nama-Bapa; maka tatanan yang simbolik  yang dicontohkan dengan Demi-Nama-Bapa inilah yang membentuk masyarakat. Bisa juga, dalam nama sang ayah yang sudah mati – mengikuti kisah Freud dalam Totem and Taboo – anak-anak melepaskan hak mereka untuk memiliki wanita yang menjadi milik sang ayah. Bagi Levi-Strauss, yang karyanya sangat menarik Lacan pada saat itu, ini adalah saat pelembagaan inses (incest) yaitu hubungan seksual dengan saudara sendiri atau kerabat sendiri.

Bagi banyak penulis feminis, sebuah sistem patriarkal yang mengunggulkan maskulinitas, yang berarti juga sebagian besar lelaki, merupakan hasil paling dominan dari pemahaman Lacan terhadap antropologi Freudian. Tanpa ragu, Lacan memperkuat kesan terhadap para wanita tentang hal ini dengan aforismenya yang provokatif “Ia femme n’existe pas” [wanita itu tidak ada], dan “ia femme n’est pas toute” [wanita itu tidak lengkap]. Pernyataan yang pertama dimaksudkan untuk menunjukkan tentang tidak adanya stereotipe yang menangkap esensi kewanitaan, tidak ada yang namanya esensi femininitas. Itulah sebabnya seksualitas itu selalu merupakan permainan topeng dan penyamaran. Oleh karena itu pula, pengatakan baha “wanita itu tidak ada” berarti mengatakan bahwa perbedaan seksual tidak bisa dirangkum dalam suatu bentuk simbolik yang esensial: ia tidak bisa direpresentasikan. Pernyataan yang kedua terkait dengan pengertian bahwa wanita itu tidak memiliki penis, dan oleh sebab itu ia menjadi bagian dari munculnya Yang Simbolik, yaitu penis menjadi falus, dan falus menjadi penanda ketiadaan. Sebelum terlalu cepat mengatakan bahwa gambaran tentang wanita ini bersifat negatif (yang berarti menguntungkan laki-laki), perlu dikatakan bahwa laki-laki pun tidak memiliki kecenderungan yang lebih besar dalam menerima gambaran tentang wanita sebagai yang mengalami kastrasi daripada wanita itu sendiri. Kita memang perlu mempertimbangkan perlawanan terhadap “realitas” dari mitos kastrasi yang selalu  muncul dalam kehidupan sosial. Perlawanan ini tidak muncul dalam kata-kata atau bayangan, tetapi persis pada penolakan upaya untuk menyimbolkan rasa kehilangan yang diakbiatkan oleh kastrasi ini. Jika demikian halnya, masih ada pertanyaan – meskipun tidak bisa dijawab di sini – apakah “kisah” yang diceriterakan para ahli psikoanalisis ini, yang sebagian dipakai untuk memberikan koherensi pada psikoanalisis, akhirnya menunjukkan pada adanya penindasan terhadap wanita sebagai makhluk sosial? Ada juga pertanyaan lain: Apakah pilihannya adalah  tokoh simbolik wanita yang palsu (seperti ibu falik) dan (wanita sebagai) kebenaran yang tak terungkap?

Dimensi lain dari teori Lacan, khususnya yang muncul dalam seminar-semianr berikutnya, seperti Encore, adalah upaya untuk memberikan landasan matematis pada psikoanalisis. Maka, jika sebuah penanda hanya bisa bermakna dalam kaitannya dengan penanda lainnya, ia bisa disimbolkan dengan “x”. Dengan kata lain, sebuah penanda murni akan berupa simbol matematis selama penanda ini bersifat formal. Mengikuti karya Jacques-Alain Miller, Lacan berpendapat bahwa ketidaksadaran adalah juga penanda murni bentuk ini, dan dengan demikian bisa memiliki makna apa pun; artinya ia sepenuhnya tergantung pada konteks tempat ditemukannya. Pengertian inilah yang kemudian dimasukkan Lacan pada sebuah surat saat ia membaca cerita pendek karya Edgar Allan Poe, “The Purloined Letter”. Surat (pernyataan) ini, yang hilang-tercuri, memiliki makna yang berbeda tergantung pada siapa yang mencurinya, apakah raja, ratu, atau menteri. Karena isi surat ini tidak jelas (bagi para pembaca) – karena isinya tidak penting – ia menjadi lebih mirip huruf yang menjadi dukungan material dari bahasa: huruf dalam alfabet. Dalam pengertian ini, ketidaksadaran menjadi sebentuk penulisan yang terlepas dari objek alami. Sebagai suatu perumusan matematis ia juga bisa diajarkan. Bagi ketidaksadaran yang tidak bisa diungkapkan ia menjadi objek = x. Selama tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an, karya Lacan banyak menyerap pemikiran para ahli matematika, seperti Frege, Russell, Godel, dan Cantor. Ia semakin jauh dari gaya retoris yang mendominasi pengajarannya pada tahun 1950-an. Menurut Roudinesco, “Berpindahnya Lacan ke formalisasi dan matematika adalah upaya terakhir untuk menyelamatkan psikoanalisis dari akar hipnotisnya, namun, pada unjung yang lain juga dari penyekolahan, yaitu di dalam masyarakat di mana sekolah cenderung menggantikan Gereja.”[6]

 

***

[1] Elisabeth Roudinesco, Jacques Lacan and Co. A History of Psychoanalysis in France 1925-1985, terjemahan Jeffrey Mehlman, Chicago, University of Chicago Press, 1990, hlm. 295-296.

[2] Secara khusus lihat Jacques Lacan, ‘The subversion of the subject and the dialectic of desire in the Freudian unconscious’, dalam Ecrits: A Selection, terjemahan Alan Sheridan, london, Tavistock, 1977, hlm. 294-324.

[3] Lihat Jacques Lacan, ‘The mirror stage asketi formative of the function of the I’ dalam Ecrits: A Selection, hlm. 1-7.

[4] Lacan, Ecrits: A Selection, hlm. 65.

[5] Lihat Jacques Lacan, ‘Seminar on “The Purloined Letter”’, terjemahan Jeffrey Mehlman dalam Yale French Studies (French Freud), 48 (1972), hlm. 38-72

[6] Roudinesco, Jacques Lacan and Co, hlm. 561.

Continue Reading

Classic Prose

Trending