Connect with us

Buku

Sekilas Karl Marx dan Bukunya Das Kapital

mm

Published

on

Dalam duka-pidato penguburan Karl Marx, Friedrich Engels menyimpulkan bahwa “diatas segala-galanya Karl marx adalah seorang revolusioner, dan tujuan besar dalam hidupnya ialah memberikan sumbangan dengan salah satu cara untuk menghancurkan masyarakat kapitalis dan lembaga-lembaga negara yang telah diciptakan masyarakat ini”. Dengan kata-kata ini, pembantu, murid dan sahabat marx yang terdekat ringkas menyimpulkan tenaga penggerak dari kehidupan pemberontak sosial yang termasyur ini.

Marx terlahir dalam suatu jaman yang gaduh. Pemberontakan dan kekacauan selalu mengancam. Kenangan pada revolusi Perancis yang pertama masih segar sedangkan yang lain sudah mengancam lagi. Jaman-jaman berikutnya ditandai oleh kegetiran dan ketidak-puasan rakyat yang luas, dan pengeritikan terhadap lembaga-lembaga yang ada. Dalam tahun 1848, perasaan ini telah bertumpuk menjadi suatu tenaga yang bisa meledak. Lalu meletuslah revolusi diseluruh Eropa. Bahkan di Inggris, Gerakan Chartis mengancam pemerintahan yang ada. Tekanan-tekanan untuk mengurangi salah-guna yang terlahir dari industrialisme baru, dan penghancuran pertahanan-pertahanan terakhir feodalisme terasa dimana-mana. Jaman ini memang cocok betul buat temperamen Marx yang subversif dan non-conformistis.

Marx dilahirkan dalam tahun 1818 di Trier di Rheinland Jerman sebagai anak seorang ahli hukum yang kaya. Dari kedua belah pihak orang tuanya. Karl adalah keturunan rabbi-rabbi Yahudi, tapi waktu ia masih kanak-kanak seluruh keluarga itu telah masuk agama Nasrani. Dalam hidupnya, barangkali sebagai reaksi terhadap halangan-halangan yang ditimbulkan latar belakang rasialnya, Marx selalu bersikap anti-semit.

Marx muda belajar ilmu-ilmu hukum dan filsafat di Bonn dan Berlin, dengan cita-cita akhirnya akan mencapai kedudukan seorang guru-besar. Tapi pendiriannya yang makin lama makin bertentangan dengan faham-faham kuno telah menutupkan pintu baginya jabatan ini lalu ia mengarahkan diri pada pekerjaan kewartawanan. Sebuah berkala bru Rheinische Zeitung baru saja dimulai penerbitannya dalam tahun 1842, dan Marx menjadi penyumbang yang pertama dan kemudian dalam waktu singkat menjadi pemimpin redaksinya. Serangan-serangan terhadap pemerintah Prusia dan nada suara berkala itu yang umumnya radikal, menyebabkan berkala ini dilarang setelah setahun lebih.

Marx pindah ke Paris untuk mempelajari sosialisme dan menulis untuk sebuah berkala yang juga singkat umurnya. Buku-buku Tahunan Franco-Jerman (Franco-German Year Books). Disana ia berkenalan dengan wakil-wakil terkemuka dan pemikiran-pemikiran sosialis dan komunis. Dilihat dari sudut perjalanan hidup Marx dimasa datangnya, maka saat yang penting dari msa itu ialah, permulaan dari persahabatannya seumur hidup dengan Friedrich Engels. Engels adalah seorang kawan senegeri Marx. Sebagai anak dari seorang pembuat kain, ia boleh dianggap berkemampuan juga dan pengambdiannya kepada cita-cita sosialis sama besarnya dengan Marx sendiri. Dasar-dasar dari kitab Marx yang kemudian akan terbit Das Kapital telah dibangunkan oleh Engels dalam tahun 1845 dengan penerbitan karangannya Keadaan Kelas Buruh di Inggris (Condition of the Working Classs in England).

Agitasi yang dilanjutkan oleh Marx terhadap pemerintah Prusia telah menyebabkan pembesr-pembesar Perancis mengusir dia sebagai seorang asing yang tidak dikehendaki. Ia mencari perlindungan di Brussel selama tiga tahun, dan kemudian untuk waktu singkat ia kembali ke Jerman. Setelah dibuang kembali, ia kembali ke Paris semasa revolusi tahun 1848. Dalam tahun itu dengan bekerja sama dengan Engels ia telah menulis dan menerbitkan Manifes to Komunis yang termasyur. Pamflet ini adalah salah sebuah dri karangan-karangan radikal yang paling garang dn paling berpengaruh yang pernah dicetak Pamflet ini berakhir dengan semboyan yang menggerakkan:

Kaum komunis merasa tidak perlu untuk menyembunyikan pendapat dan maksudnya. Dengan terus terang mereka mengumumkan bahwa tujuan mereka hanya dapat dicapai dengan merubuhkan seluruh susunan masyarakat ini dengan kekerasan. Biarlah klas-klas pemerintahan gemetar depan reolusi komunis. Kaum buruh tidak akan kehilangan apa-apa kecuali berlenggu mereka. Mereka hanya akan memenangi seluruh dunia.

Buruh sedunia bersatulah!

Kemana saja Marx pergi ia adalah seorang tukang pidato yang garang dan aktif; ia mengorganisir gerakan-gerakan buruh; ia memimpin penerbitan-penerbitan komunis dan menganjurkan pemberontakan.

Kekandasan revolusi-revolusi Eropa 1848 sampai 1849 menyebabkan benua ini jadi sempit bagi Marx. Ia pindah ke Inggris dalam musim panas tahun 1849, tatkala mana ia berumur 31 tahun, dan tinggal di Londok untuk seumur hidup. Sebelum itu ia telah menikah dengan Jenny von Westfalen, anak seorang pembesar Prusia, dan istrinya ini tetap setia sebagai kawan sejawatnya untuk hampir selama 40 tahun, menyertainya dalam suatu masa kemelaratan yang amat sangat, kekurangan dan keburukan nasib. Dari keenam anak mereka, hanya tiga yang  hidup dan menjadi dewasa, dan dari yang tiga, dua orang kemudian membunuh diri. Tak sangsi lagi, tahun-tahun kemelaratan ini telah mewarnai pandangan Marx dan menjadi sumber dari begitu banyak kebencian dan kegetiran dalam tulisannya. Hanya bantuan-bantuan keuangan yang sering dari Friedrich Engels yang telah menyelamatkan keluarga Marx dari pada kelaparan. Satu-satunya penghasilan Marx ialah se-guinea seminggu, diterima dari surat kabar Tribune New York sebagai imbuhan terhadap surat-surat tentang soal-soal Eropa, dan pembayaran yang tak tetap buat karangan-karangan yang semata ditulis untuk mencari makan.

Tapi biarpun menderita kemelaratan, buruan penagih-penagih hutang-hutang, penyakit dan kekurangan yang tak putus-putusnya melingkungi Marx didistrik Soho yang guram, dimana ia berdiam. Marx tetap tak lelah-lelahnya dalam usahanya memajukan alasan-alasan sosialis. Dari tahun ke tahun, sering kali sampai 16 jam sehari, ia bekerja di Museum British untuk mengumpulkan bahan yang besar jumlahnya  untuk sebuah karya yang kelak akan diberi nama Das Kapital. Jika tidak dihitung lowong-lowong yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatan lain dan penyakit, maka buku ini telah memakan waktu persiapan selama 18 tahun. Engels yang sementara itu menyokong keluarga Marx sudah putus harapan bahwa buku itu akan selesai. “Pada hari naskah itu dimasukkan kepercetakan saya akan minum sampai mabuk dengan segala kebersaran,” katanya. Kedua mereka,Engels dan Marx menyebut buku itu sebagai “buku laknat”, dan Marx mengakui bahwa buku itu adalah sebuah “mimpi ngeri yang sempurna.”

Suatu kejadian besar dalam kehidupan Marx dalam tahun-tahun ini ialah terbentuknya Perhimpunan Kaum Pekerja Internasional yang sekarang dikenal sebagai Internasional Pertama, dalam tahun 1864. Usah aini adalah suatu percobaan. Biarpun telah menarik diri dari kehidupan umum. Marx adalah tenaga yang berdiri dibelakang layar dan ialah yang menulis hampir semua dokumen-dokumen perserikatan ini, pidato-pidato, peraturan-peraturan dan programma. Tapi percekcokan didalam dan persaingan untuk menduduki kursi pimpinan bersamaan dengan ketidak-populeran yang dialami organisasi ini setelah kandasnya Commune Paris dalam tahun 1871, telah menyebabkan Perserikatan ini dibubarkan. Kemudian ia diikuti oleh Internasional Kedua, yang mewakili golongan-golongan sosialis barat dan Internasional Ketiga atau Comintern yang mewakili dunia komunis.

Masa pengandungan yang panjang dari Das Kapital akhirnya berakhir. Diakhir tahun 1866, naskah lengkap dari jilid pertama dikirimkanke Hamburg, dan dalam musim gugur tahun berikutnya buku ini keluar dari percetakan. Buku ini ditulis dalam bahasa Jerman, sedangkan terjemahan dalam bahasa Inggris baru akan terbit kira-kira duapuluh tahun sesudahnya. Terjemahan pertama kedalam bahasa lain – tepat sekali jika dilihat dalam sinar kejadian-kejadian yang akan terjadi sesudahnya – ialah kedalam bahasa Rusia dalam tahun 1872.

Dalam masa Marx, Inggris adalah contoh utama dari cara-cara bekerja sistim kapitalis. Karena itu contoh yangia pakai untuk menjelaskan teori-teori ekonominya hampir semuanya dipungut dari negeri itu. Contoh-contoh yang kejam cukup banyak, karena lembaga kapitalisme dalam masa Victoria pertengahan itu berada dalam keadaannya yang paling kejam. Keadaan-keadaan sosial diperkampungan-perkampungan pabrik tak dapat dikatakan buruknya. Marx yang mendasarkan pendapat-pendapatnya atas laporan-laporan resmi penyelidikan-penyelidikian pemerintah, telah menjanjikan fakta-fakta itu dengan teliti dalam Das Kapital. Perempuan menarik kapal-kapal terusan sepanjang pinggir terusan itu dengan tali dibahu mereka. Perempuan-perempuan dipasang sebagai hewan-hewan pembawa beban, depan kereta-kereta yang membawa batu arang dari tambang-tambang Inggris. Kanak-kanak mulai bekerja dikilang-kilang tekstil semenjak mereka mulai berumur 9 atau 10 tahun selama 12 sampai 15 jam sehari. Dan waktu peraturan giliran malam menjadi kebiasaan, dikatakan bahwa ranjang-ranjang tempat anak-anak tidak pernah dingin karena dipakai bergiliran. Tuberculosis dan penyakit-penyakit lain yang disebabkan pekerjaan telah membunuh mereka dalam jumlah yang tinggi.

Protes-protes mengenai keadaan yang buruk ini sekali-kali tidak hanya terbatas pada Marx saja. Orang-orang yang berperikemanusiaan seperti pengarang-pengarang Charles Dickens, John Ruskin dan Thomas Carlyle telah menulis berjilid-jilid buku dengan penuh semangat, menyerukan perobahan. Parlemen digoncang kearah perwakilan yang korektif.

Marx bangga sekali dengan penelaahan “ilmiah”nya tentang masalah-masalah ekonomi dan sosial. Seperti dikatakanoleh Engels, “Seperti Darwin menemui hukum evolusi dalam salam organik begitu Marx menemui hukum evolusi dalam sejarah manusia. Gejala-gejala ekonomi”, demikian Marx menegaskan, “dapat diamati dan dicatat dengan ketelitian yang sama seperti ilmu alam.” Seringkali ia menunjukkan kekarya-karya ahli-ahli ilmu hayat, kimia dan tabii (ahli ilmu alam), dan nyata sekali bahwa ia beringin untuk menjadi seorang Darwin sosiologi atau barangkali seorang Newton ekonomi. Dengan jalan analisa ilmiah dari masyarakat. Marx yakin bahwa ia telah menemui bagaimana caranya merubah suatu dunia kapitalis menjadi dunia sosialis.

Metodos “ilmiah” Marx telah banyak sekali menolong diterimanya pikirannya dengan luas, karena konsep evolusi dalam semua lapangan telah memukau alam pikiran abad ke-XIX. Dengan jalan menghubungkan teori perjuangan klasnya dengan teori evolusi Darwing. Marx telah memberikan tempat yang terhormat pada pikiran-pikirannya, dan serentak, demikian ia yakin, telah membuat pikiran-pikiran ini tidak bisa diingkari.

Dalam pandangan Marx dan pengikut-pengikutnya, sumbangan Marx yang terpenting dalamsoal penelaahan ekonomi, sejarah dan ilmu-ilmu pengetahuan masyakat yang lain ialah pengembangan sebuah prinsip yang disebut “materialisme dialektika” suatu sebutan yang sukar dimengerti dan mempunyai arti yang ganda. Biarpun sebutan ini diterangkan lebih lengkap dalam tulisan-tulisannya sebelumnya. Das Kapital mempergunakan teori ini sampai kedetail-detailnya.

Metodos dialektika ini telah diambil oleh Marx dari ahli filsafat Jerman Hegel. Dalam hakekatnya, teori ini menytakan, bahwa segala didunia ini berada dalam pergantian yng terus-menerus. Kemajuan diperoleh berkat reaksi terhadap masing-masing yang lahir dari dua tenaga yng bertentangan. Jadi, misalnya sistim penjajahan Inggris yang ditentang oleh Revolusi Amerika telah menghasilkan negara Amerika Serikat. Sebagai disebutkan oleh Laski. “Hukum kehidupan ialah peperangan dari pertentangan-pertentangan dengan pertumbuhan sebagai akibatnya.”

Premise ini telah menyebabkan Marx merumuskan teorinya tentang materialisme sejarah, atau tafsiran ekonomi dari sejarah. “Sejarah dari setiap masyarakat yang ada,” demikian Marx dan Engels membela, “adalah sejarah dari perjuangan kelas. Orang merdeka dan budak-budak, patricier dan plebeier, tuan dan chadam, kepala tukang dan ahli yang pindah-pindah, pendeknya yang menindas dan yang ditindas, berada dalam perentangan yang tajam. Mereka melangsungkan peperangan yang tak ada akhirnya. (*)

*Dari berbagai Sumber. Oleh Tim Redaksi Galeri Buku Jakarta

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku

Melawan Klise, Menghampiri Kesegaran

mm

Published

on

Simon Dentith dalam bukunya tentang Bakhtinian Thought: Antroductory Reader (1995) mengatakan sebuah kamus adalah sebentuk makam bagi bahasa. Temuan Dentith ini sungguh mengejutkan, mengingat definisi kamus pada umumnya merupakan penanda (kata/frase/idiom) secara sangat general, terlepas dari konteks sosial saat penanda itu diungkapkan atau dipakai.

Dengan pemahaman tersebut berarti sebuah kamus malah seringkali menjadi sarana untuk meringkus dan membatasi makna suatu penanda, dan bukan justru dijadikan wadah atau penampung ketakterbatasan kemungkinan makna sebuah penanda dalam konteks-konteks sosial tertentu. Akibatnya, justru kamuslah yang menjadikan suatu (makna) bahasa menjadi terhimpit dan terbelenggu oleh serangkaian daftar istilah yang termaktub dalam sebuah kamus.

Namun, maklumat Dentith di atas nampaknya kurang tepat—untuk tidak mengatakan tidak berlaku—bagi Tesaurus Bahasa Indonesia yang disusun oleh Eko Endarmoko ini. Kamus bukannya menjadi makam bagi bahasa sebagaimana dikhawatirkan Dentith, tetapi justru kamus-kamus sinonim semacam ini memungkinkan bisa menjadi sarana yang amat penting bagi siapapun, khususnya mereka yang setiap hari bergulat dengan bahasa atau dunia tulis-menulis sebagai wahana untuk memperkaya dan menghidupkan (makna) bahasa.

Dalam dunia tulis-menulis sesungguhnya bukan sekedar menyusun kata, kalimat, paragraf lantas menjadi tulisan yang utuh. “Dalam menulis”, begitu kata Goenawan Mohamad dalam sampul belakang, “saya selalu ingin menghindari satu kata yang sama berulang dalam satu kalimat—bahkan kalau mungkin dalam satu paragraf. Bagi saya”,  begitu lanjut Mas Goen biasa disapa, “tiap karya tulis yang bersungguh-sungguh ibarat sebuah ukiran. Prosesnya memerlukan kreativitas dan ketekunan, inovasi terus-menerus, dan kemauan meneliti pelbagai anasir untuk memasukkan yang ‘baru’ itu”. Itulah dunia tulis-menulis. Ia membutuhkan kecergasan dan ketangkasan mengunyah kata-kata.

JUDUL : Tesaurus Bahasa Indonesia PENULIS : Eko Endarmoko PENERBIT : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta TAHUN TERBIT : Pertama, 2006 TEBAL : xxii + 715 halaman

Dalam bahasa Inggris, misalnya avontur dalam merangkai kata-kata semacam itu mungkin tidaklah terlalu sulit. Seorang penulis siap dibantu oleh “kamus” seperti Merriam-Webster’s Collegiate Thesaurus (1993), Collins English Thesaurus in A-Z Form (1993) atau The Concise Roget’s International Thesaurus (2003). Di sana kekayaan sinonim bahasa didaftar dengan begitu rapi dan tangkas.

Dalam bahasa Indonesia, paling tidak sudah ada dua kamus sinonim yang menjadi umum dikenal publik. Pertama, Kamus Sinonim Bahasa Indonesia (1988) karya Harimurti Kridalaksana. Kedua, Kamus Sinonim Antonim Bahasa Indonesia (2000) disusun oleh Nur Arifin Chaniago dkk. Namun, keduanya kurang begitu lengkap dalam menyusun lema atau entri, dan nampak cara penyajiannya pun belum sungguh-sungguh digarap secara sistematis.

Menjadi penting untuk disadari, seperti dalam bahasa lain juga, bahwa tidak ada kesamaan makna yang mutlak dalam bahasa Indonesia. Itu disebabkan oleh adanya perbedaan-perbedaan dialek regional (contoh: menurut dan manut), dialek sosial (contoh: kebatinan, mistik dan tasawuf), dialek temporal (contoh: abdi dan pelayan), nuansa makna (contoh: dongkol, geram, dan marah), serta perbedaan ragam bahasa (contoh: mampus dan meninggal). Semua perbedaan itu menegaskan bahwa makna kata senantiasa ditentukan atau terkait oleh konteksnya dalam kalimat (hlm. viii). Inilah satu kelebihan Tesaurus garapan Eko Endarmoko ini. Pembaca bisa leluasa memilih makna kata-kata yang sesuai bersama konteksnya.

Di samping itu, Tesaurus ini juga sungguh membantu bagi orang-orang yang setiap saat berjibaku dengan bahasa atau tulisan. Hal ini dimungkinkan untuk menghindari klise dalam penggunaan suatu kata, frase, dan idiom tertentu dalam satu kalimat atau sebuah ungkapan. Penggunaan sebuah kata, frase, atau idiom akan menjadi tumpul, kurang segar, dan nampak kehilangan makna, jika sudah amat sangat sering digunakan, sehingga tanpa disadari sebenarnya mereka sudah terjerembab dalam klise.

Bagi orang yang berhasrat membahasakan pikiran atau perasaannya dengan tepat, cermat atau elok dan santun, Tesaurus ini merupakan tambang emas kata yang sangat diperlukan. Buku inilah yang saya kira dinanti-nantikan oleh para penulis, penyair, pengajar, dan pelajar untuk memperagakan serta memperkaya bahasa Indonesia yang narum dan bernas. Sungguh kita dapat menimba dari karya Eko Endarmoko ini sebagai sebuah hasil dari ikhtiar yang patut dicatat sejarah.***

 

*)Ahmad Jauhari, Founder Jivaloka Cakra Pustaka; Mengajar di Universitas PGRI Yogyakarta

 

Continue Reading

Buku

Duka dan Nestapa Para Pencinta

mm

Published

on

Oleh Arif Yudistira*)

Membaca cerita selalu membuat kita sadar, bahwa hidup yang kita jalani adalah kenyataan, bukan fiksi. Meski begitu, cerita selalu mengajak kita menjelajahi berbagai kemungkinan-kemungkinan yang tak terbayangkan dalam hidup. Sesekali cerita punya kemiripan dengan hidup kita itu sendiri. Karena itulah, cerita selalu membuat manusia lebih hidup. Ada kebutuhan yang tak bisa dinafikkan dari hidup manusia yang singkat ini, barangkali karena itulah, sastrawan tak lelah untuk mengisahkan ceritanya, mendongengkan cerita pada kita.

25 cerita dari para peraih nobel sastra di buku ini mampu menyuguhkan kisah-kisah cinta yang awet. Ditulis oleh para cerpenis dunia yang piawai, cerita-cerita di buku ini meninggalkan kesan yang dalam di mata pembaca. Cerita dimulai dari cerpen berjudul Ayah dan Anak karya Bjornstjerne Bjornson. Cerpen ini menceritakan betapa Ayah yang kaya raya pun tak bisa berkutik dan tiada berdaya saat ia harus dihadapkan oleh satu keinginan membahagiakan anaknya. Dan saat sang anak tiada, ia merasa tak lagi memerlukan hartanya, hingga ia menjadi seorang yang lebih dermawan. Di cerita ini nampak sekali kasih sayang seorang Ayah yang sama hebatnya dengan seorang ibu.

Selain menggambarkan kasih sayang seorang Ayah, cerpen di buku ini juga menceritakan bagaimana gambaran kisah-kasih seorang manusia. Di cerpen berjudul Kesetiaan karya Rabrindanath Tagore kita bakal menemukan kisah sepasang anak manusia yang begitu setia. Dikisahkan ada seorang suami yang begitu posesif melindungi istrinya, hingga di luar nalar kita. Akibatnya, sang istri pun risih, merasa dicurigai. Akhirnya, sang istri pun lelah dengan sikap suami. Tapi ia begitu kaget, saat melihat betapa cemburunya suaminya itu sebagai satu perasaan yang tulus. Kisah pun diakhiri dengan tragisme saat sang suami ayan melihat surat yang disembunyikan istrinya. Suaminya pun mati karena ayan. Lalu sang istri pun ikut bunuh diri dengan minum racun. Kesetiaan suami istri di cerita ini menjadi kisah yang tragis sekaligus menyayat. Meski nampak fiktif, namun cerita tentang kesetiaan ini kadangkala menjadi fakta di dalam keseharian hidup manusia. Seorang lelaki biasanya susah untuk mengekspresikan “kesetiaan”. Sementara, seorang perempuan bisa kesulitan saat menghadapi seorang lelaki mengekspresikan cintanya. Cerpen ini tentu menjadi gambaran heroic bagaimana “kesetiaan” begitu agung dalam sebuah kisah cinta.

Judul Buku : Maut Lebih Kejam daripada Cinta Penyusun dan Penerjemah : Anton Kurnia Penerbit : BasaBasi Tahun : Agustus 2017 Halaman : 280 Halaman ISBN : 978-602-6651-04-4

Bila di cerita Tagore kita mendapati kisah kesetiaan, kita bakal disuguhi kisah cinta seorang pelayan di kedai makan dengan pemilik toko besi. Jim, pemilik toko besi ini sedang diincar oleh Liz pelayan kedai makan. Di cerita berjudul Bila Dara Jatuh Cinta karya Ernest Hemingway ini kita bakal disuguhi drama cinta yang barangkali terlampau picisan. Tapi barangkali disanalah perangai wanita bisa kita lihat saat ia jatuh cinta. Ada penggambaran malu-malu, terkesima, kagum, tapi sekaligus perasaan senang saat perempuan jatuh cinta. Cerita ini barangkali akan menjadi cerita terkesan tentang bagaimana seorang perempuan jatuh cinta. Tentu saja cerita ini bakal tak disukai oleh para perempuan atau sebaliknya diakui sebagai penggambaran paling gampang dari seorang perempuan ketika jatuh cinta.

Yang menarik dari 25 cerita ini, kita bisa mendapati cerita surealisme. Cerita ditulis oleh Oktavio Paz dengan cerpen berjudul Kisah Cintaku Dengan Ombak. Paz berhasil menghidupkan sosok ombak sebagai sosok manusiawi. Ia bak manusia yang hidup wajar sebagai seorang perempuan di kehidupan si tokoh. Tapi kisah ini diakhiri dengan tragisme saat ombak itu pun akhirnya  dijual dan dipotong-potong menjadi pendingin botol-botol minuman.

Pembaca juga disuguhi cerita tentang kesedihan, kesepian, dan derita seorang pencinta di cerpen berjudul Aib karya J.M. Coetzee. Di cerita ini kita akan mendengar bagaimana sosok lelaki tua digambarkan sebagai seseorang yang merindukan kasih sayang menemukan kebahagiaan dengan Soraya, seorang pekerja seksual. Semula, kebahagiaan yang ia nikmati bersama Soraya mampu menyembuhkan kesepian yang hinggap di dadanya. Akan tetapi, kejadian menjadi berubah saat Soraya menghadapi ujian ibunya sakit. Disitulah lelaki ini menyadari, bahwa ia telah kehilangan Soraya, sosok perempuan yang dicintainya. Ketika agen menawarkan perempuan lain, ia merasakan betapa sakit, betapa perih kesedihan yang hinggap di hatinya kembali.

Cerita diakhiri dengan cerita agak sadis tentang seorang Ayah yang mengajak anaknya untuk mencari obat bagi neneknya yang terkena katarak. Konon, luka itu hanya bisa disembuhkan dengan membedah jantung manusia dan mencari kantung empedunya. Ayah dan anak lelakinya itu harus menghadapi kisah pembunuhan orang baik dengan penuh jantung dan dada berdebar. Di cerita ini, kita menemukan kepiawaian Mo Yan. Ia hendak menyentuh nurani kita bahwa tak selamanya obat mujarab itu harus dicari ketika ia harus mengorbankan nyawa, dan menyayat nurani kita.

Di 25 cerita ini, kita bakal disuguhi kisah tentang pengorbanan, luka, keluguan, hingga hal yang mustahil dari tokoh-tokoh yang dilanda cinta. Ada cerita tentang kesetiaan, daya juang, hingga kesepian yang menyayat yang dirasakan seorang pencinta. Apapun itu, buku kumpulan cerita ini memberikan gambaran pada pembaca, meski nampak mustahil dan musykil, cinta tetap tak bisa dihindari dari kehidupan manusia.

 

*) Penulis adalah Tuan Rumah Pondok FIlsafat Solo, Kontributor bukuonlinestore.com

Continue Reading

Budaya

Sejarah Laut Sulawesi Dan Kolonialisme

mm

Published

on

Sejarah Laut Sulawesi Dan Kolonialisme

Oleh : Kasmiati[1]

Judul buku : Orang Laut Bajak Laut Raja Laut | Penulis : Adrian B. Lapian

Penerbit : Komunitas Bambu (2009) | Tebal : xx + 284

Membaca sejarah laut merupakan usaha mengenali Indonesia yang lebih utuh. Sebuah usaha yang bersumber dari dalam untuk mengutamakan apa yang semestinya dari negri maritim, serupa Indonesia. Lautan. Lautan sebagai kekuatan, lautan sebagi rumah, lautan sebagai ruang hidup tempat bergantung sekian puluh juta penduduk negri. Namun sejarah ditulis secara timpang, hanya darat yang terus menerus dikisahkan. Sementara cerita tentang laut tidak banyak digarap Sejarawan. Padahal sebuah negri unsur utamanya adalah tanah dan air termaksud di dalamnya lautan. Dari sinilah titik pijak kegelisahan Adrian B. Lapian mengapa meneliti, menuliskan sejarah kawasan laut Sulawesi abad XIX yang meliputi tiga kata kunci utama yaitu Orang Laut, Bajak Laut dan Raja Laut. Abad ke ke XIX menjadi fokus penelitian karena pada masa ini proses perluasan kekuasaan maritim kolonial  dan di sisi lain terjadi kemunduran kekuasaan maritim bahari pribumi. Sehingga dianggap strategis untuk dikaji karena merupakan masa penentu bagi situasi abad XX dan sesudahnya (hal.2).

Buku ini dibuka dengan sebuah argumen yang mencoba mengantarkan kita bagaimana seharusnya memandang Indonesia yang merupakan negara kepulauan  (Archieplagic state), melalui penegasan makna kata archipelago yang berdasarkan kamus oxford dan Webster bahwa kata ini berasal dari bahasa Yunani, yakni arch (besar, utama) dan pelagos (laut). Jadi archipelagic state sebenarnya harus diartikan sebagai “negara laut utama” yang ditaburi dengan pulau-pulau, bukan negara pulau-pulau yang dikelilingi laut. Dengan demikian paradigma perihal negara kita seharusnya terbalik, yakni negara laut yang ada pulau-pulaunya, (hal.2). Paradigma ini semestinya yang menjadi pandu kita dalam membangun Indonesia. Namun nasi telah menjadi bubur, Indonesia terlanjur dibangun dengan sudut pandang yang sangat berorientasi daratan maka laut ditimbun menjadi darat, sumber daya darat diperebutkan sampai berdarah-darah, lalu laut dipunggungi, hanya terus dikuras, tidak pernah diurus.

Segala tentang laut semisal musim dipelajari hanya sebagai penanda waktu kapan mesti berlayar  dan arah mana perlu dituju agar ombak tak menerkam dan ekspedisi berjalan sesuai rencana. Dalam sejarahnya  jalur-jalur laut dikaji agar selamat menempuh perjalanan menaklukkan kekuatan raja-raja setempat untuk menguasai sumberdaya alam bumi nusantara. Hal ini bisa terbaca misalnya dari usaha Portugis dan Spanyol pada abak ke XVI berlayar melalui utara pulau Sulawesi dan Kalimantan untuk menghindari laut Jawa dan Flores yang mana kekuasaan bahari setempat masih sangat kuat dan juga untuk meringkas jarak pelayaran hingga  200 leagues untuk sampai di kepulauan Maluku.

Sebagaimana kita tau bahwa kepulauan Maluku di masa lalu adalah tempat muasal kemewahan yang paling diincar dan diinginkan seluruh bangsa-bangsa, tempat rempah-rempah termahal—pala dan cengkih—tumbuh. Salah satu cerita tentang pentingnya pulau-pulau di Maluku  dapat kita baca melalui karya Milton (2015) mengenai Pulau Run tempat pala terbaik tumbuh pernah diperebutkan oleh Belanda dan Inggris. Oleh Belanda, Pulau Run ditukar dengan Manhattan. Salah satu kota yang merupakan bagian dari New York ini diberikan kepada Inggris.  Roelofsz (2016) juga mencatat bahwa cengkeh yang berasal dari lima pulau di Maluku –Ternate, Tidore, Makian, Mortir, dan Bacan—juga sangat penting dalam perdagangan  di wilayah Indonesia. Penemuan rempah-rempah di timur Indonesia ini merupakan daya tarik utama, masuk dan mencokolnya kolonialisme. Korban utama dari kolonialisme yang hidup di Indonesia adalah pribumi termaksud di dalamnya raja laut, Orang Laut hingga bajak laut.

***

Kategori Orang Laut atau yang biasa disebut sebagai bajau atau orang bajo (dan beberapa penyebutan lainnya seperti Orang Sama, Samal merujuk pada mereka yang memang menjadikan lautan sebagai ruang utama dalam melaksanakan berbagai macam aktifitas. Orang Laut dalam hal ini dapat diartikan sebagai mereka yang masih hidup di perahu, berumah di lautan meskipun pada waktu tertentu kadang menepi ke pesisir tapi tidak tinggal secara permanen  atau selamnya pada suatu tempat tertentu, melainkan hanya sejenak. Seperti ketika melakukan pertukaran dalam usaha memenuhi beberapa kebutuhan hidup.Namun  pemerintah menganggap Orang Laut ini sebagai suku terasing sehingga ada upaya pendaratan/ mendaratkan Orang Laut agar lebih beradab. Namun abai melihat proses adaptasi terhadap alam dan lingkungan yang telah terbangun dalam budaya hidup Orang Laut selama ini.

Situasi ini menunjukkan ketidak berpihakan pemerintah terhadap minoritas, terhadap Orang Laut. Maka, jika hari-hari terakhir ini kita banyak menyaksikan pulau-pulau ditimbun atas naman pembangunan pada dasarnya bukan hal baru.

Meskipun tidak selalu karena kebijakan dari pemerintah namun proses pendaratan berlangsung sejak lama.  Peralihan dari laut ke darat telah dilaporkan sejak abad ke XVI. Tampaknya dalam proses menjadi modern budaya bahari banyak ditinggal. Hal ini berkait kelindang dengan kolonialisme yang masuk dan tumbuh di wilayah kuasa kerajaan nusantara.

Pelayaran, Penaklukkan dan Proses Pendaratan

Orang Laut salah satu bagian penting dari kehidupan laut yang seringkali disalah mengerti. Banyak sekali naskah-naskah awal yang menceritakan tentang Orang Laut yang dianggap pemalu. Tapi lebih sering dicitrakan sebagai orang yang kasar dan kejam. Maka Orang Laut diasosiasikan sebagai bajak laut. Padahal Orang Laut dan bajak laut merupakan dua hal yang berbeda. Meskipun terkadang ada kerjasama di antara keduanya untuk melawan musuh bersama atau juga kadang Orang Laut ditaklukan oleh bajak laut sehingga mereka terpaksa bertindak sebagai perompak. Dalam kasus lain wilayah teritorial Orang Laut terkadang diganggu, memaksa mereka melakukan perlawanan atau bertindak kasar.

Meski demikian catatan Leonard Andaya menunjukkan sisi lain Orang Laut yang digambarkan sebagai kelompok yang sangat loyal dan setia pada Sultan dan mempunyai peranan penting dalam kerajaan Johor dan Melaka. Di dalam struktur kekuasaan kerajaan, kelompok orang laut merupakan salah satu komponen vital, sesudah sultan, para menteri dan orang kaya. Karena loyalitas Orang Laut sangat kuat dan hangat terhadap Sultan mereka merupakan kekuatan yang sangat diandalkan, baik terhadap ancaman dari luar maupun terhadap ronrongan dari dalam, misalnya terhadap meningkatnya kekuatan Orang Kaya, (hal.104). Ini menjukkan kekuatan Orang Laut merupakan benteng pertahanan Sultan untuk menjaga keseimbangan kerajaan dari berbagai bentuk serangan.

Ketika Portugis menduduki Melaka pada tahun 1511 dan memaksa Sultan berpindah hingga ke Johor dan Riau yang kemudian diserangnya juga pada tahun 1526 maka Orang Laut lah yang menjemput Sultan untuk mengungsi. Dan pada awal abad ke XIX ketika kerajan Riau-Johor dalam masalah pergantian tahta, Raffles telah berhasil menduduki Singapura. Maka, kehadiran Inggris yang berambisi “menguasai gelombang” tidak lagi memungkinkan Johor untuk berperan sebagai negara maritim, (hal.107) dari sinilah kemudian perhatian kerajan terhadap laut beralih ke daratan, sehingga peranan orang laut menjadi tidak penting dan relevan dalam pembangunan kerajaan atau negri.

Kehadiran bangsa-bangsa asing dan penaklukanya terhadap raja-raja nusantara menyebabkan proses daratanisasi terjadi. Karena jalur-jalur laut telah dikuasai sehingga para raja terpaksa meninggalkan laut. Proses daratanisasi kemudian menyajarah dan terus belangsung hingga hari ini, dimana korban pertamanya adalah orang laut yang terpaksa menyingkir dari pusat-pusat kekuasaan dan pemerintahan.  Berlayar jauh ke pulau-pulau kecil, terpencil—menuju timur—.

Maka bukan hal yang mengherangkan ketika saat ini kita menemukan lebih banyak orang-orang laut yang bermukim di wilayah timur Indonesia.

***

Dulu, pelayaran merupakan satu-satunya jalan masuk para kolonialis untuk tiba di pulau-pulau rempah. Jalur darat dan udara masih sangat tidak memungkinkan. Hasrat menaklukkan para kolonialis ini sangat besar, bukan hanya di darat tetapi sejak berlayar di lautan. Penaklukkan di laut terkadang melalui jalan kekerasan atau perompakan sebagaimana yang dilakukan oleh para bajak laut tapi jika yang melakukan semisal VOC (perusahan dagang milik belanda) dalam kecamata barat dilaporkan sebagai “korsario” yaitu tindakan kekerasan di lautan namun di restui negara. Padahal tindakan seperti VOC—sebelum menjadi kekuatan politik di Asia— merupakan tindakan bajak laut “pirate”.

Pirate atau Bajak Laut adalah orang yang melakukan kekerasan di laut tanpa mendapat wewenang dari pemerintah untuk melakukan tindakan itu. Dengan kata lain perbuatan itu dilakukan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan suatu kelompok tertentu. Dalam hal ini melanggar hukum negara dan dianggap sebagai seorang kriminal (hal.117).

Maka Bajak Laut dalam istilah bahasa Indoensia yang mengandung pengertia kata “ pirata dan korsario” tidak terlalu menyimpang, meksipun pada kasus tertentu dapat dibuat pembedaan yang tegas (hal. 118).  Cerita tentang bajak laut ini merupakan berita yang sudah tertulis lama seperti yang tertuan dalam catatan perjalanan  Faxian (Fah-Hsien) yang dalam perjalanannya pulang dari India ke negri Cina (413-414) mengatakan bahwa “laut [Asia Tenggara]  penuh dengan bajak laut, barang siapa bertemu mereka akan menemui ajalnya, (hal.122).

Adrian B. Lapian juga membuat kesimpulan bahwa selama abad ke V sampai dengan abad ke XIV berita mengenai bajak laut terpusat di daerah selat malaka. Namun keadaan berubah semenjak abad ke XV. Terlebih dengan munculnya kapal Portugis dan Spanyol pada abad ke XVI yang bertujuan mengambil rempah-rempah dari Maluku, maka berita tentang pelayaran di wilayah bagian timur  mulai banyak ditemukan dengan demikian muncul pula berita tentang kegiatan bajak laut di sana, (hal.125).

Sialnya para bajak laut yang bermunculan ini seringkali diidentikkan sebagi orang laut padahal belum ada bukti nyata yang dapat mendukung argumen jikalau setiap orang laut adalah bajak laut. Pandangan tentang bajak laut ini memang seringkali subjektif seperti yang disimpulkan sendiri oleh A.B Lapian bahwa pandangan yang dimiliki umum tentang bajak laut didasarkan atas pandangan kekuatan yang menumpasnya.  Dan untuk kasus Asia Tenggara sumber tentang bajak laut berasal dari masa ketika kekuatan yang menumpasnya—kekuatan kolonial—sedang giat mengadakan ‘pemberantasan’ fenomena yang disebut bajak laut, (hal.159).

Tindakan yang dicap bajak laut terkadang merupakan bentuk perlawanan terhadap kekuatan kolonial seperti serangan “Moro” di Filipina pada abad XVI dan XVII pada dasarnya pernyataan perang terhadap Spanyol. Namun dalam kepustakaan barat hal ini dianggap serangan bajak laut atau apa yang dilakukan orang Tobelo pada akhir abad ke XVIII dianggap sebagai kegiatan bajak laut. Padahal ini bukan tindakan murni untuk merompak tapi  Orang Tobelo yang merupakan pengikut dari Sultan Nuku tengah melakukan perlawanan terhadap penguasa di Tidore dan VOC yang berada di Ternate. Perlawanan-perlawanan seperti ini tentu menyusahkan Belanda—dalam hal ini VOC—. Amal, (2010) mencatat bahwa pada dekade kedua menjelang 1800, VOC mengalami kemorosotan laba yang sangat drastis. Hal ini terutama disebabkan  pengeluaran biaya peperangan yang demikian besar.

Raja Laut dan Penguasaan Laut

Selain bajak laut, raja laut merupakan satu terminologi penting dalam kebudayan maritim. Raja laut dalam kawasan laut Sualwesi merupakan tokoh yang memimpin kekuatan laut kerajaan. Raja laut merupakan kekuatan laut yang resmi. Namun pada awal abad ke XIX kekuatan laut asing masuk ke wilayah perairan Asia. Hasrat untuk berkuasa yang didukung oleh tekhnologi yang lebih maju sangat  membantu mereka dalam menyingkirkan keuasaan raja laut sebelumnya.

Takluknya raja-raja laut nusantara menyebabkan kekuasaan asing menguat.  Maka, ketika memasuki abad XX perairan Asia Tenggara telah dikuasai kekuatan asing itu (hal. 173).  Pembagian wilayah kekuasaan kemudian hanya dilakukan sesama penguasa asing tersebut tanpa melibatkan lagi raja-raja nusantara yang semakin lemah. Pada abad ke XIX raja laut terkuat adalah Inggris yang paling menguasai tekhnologi kemudian disebut sebagai Adi-Raja Laut bersama Spanyol dan Belanda. Namun di akhir abad ke XIX kekuatan Spanyol jatuh ke tangan Amerika dan pada  abad ke XX menjadi Adi Raja Laut.

Situasi penguasaan dan pembagi-bagian kekuasaan yang terjadi di masa lampau oleh negara-negara maju yang lebih menguasai tekhnologi masih sangat terasa. Jika dulu kolonialisme  maka hari ini imperialisme yang wataknya sama saja untuk menguras sumber daya yang ada di Indonesia.

Daftar Pustaka

Amal, MA. 2010.Kepulauan Rempah-Rempah Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia

Milton, G. 2015. Pulau Run Magnet Rempah-rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan. Tangerang Selatan: Alvabet

Roelofsz, MAPM. 2016. Persaingan Eropa dan Asia di Nusantara Sejarah Perniagaan 1500-1630. Depok: Komunitas Bambu

 

[1] Perempuan, penikmat sejarah yang saat ini mengelolah Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PESKP)  Fakultas Ekonomi Univ.Muhammadiyah Kendari

Continue Reading

Classic Prose

Trending