Connect with us

Cerpen

Sekarang Aku, Besok Kamu

mm

Published

on

Dini hari, seorang lelaki terbangun, beranjak dari tempat tidurnya. Jemarinya merayap di permukaan meja. Pandangannya belum kembali normal seperti seharusnya. Matanya remang kunang-kunang. tapi keadaan segera membaik. Lelaki itu beringsut ke atas kursi. Kini ia duduk sempurna menghadap meja. Tangannya mantap menggenggam pena. Di sampingnya, secarik kertas tergeletak begitu saja. Seperti rela digagahi tinta-tinta.

*

Stasiun Gambir. Aku bukan orang bodoh. Jauh-jauh hari sebelum berangkat menuju Ibu kota, aku sudah melayangkan kabar kepada Adi, kawan lamaku di bangku sekolah menengah pertama yang lebih dulu mengadu nasib di Ibu kota. Adi menjemputku di stasiun dan untuk sementara, ia bersedia menampungku di tempat kosnya.
Jalanan padat, orang-orang di sini-sana, deru mesin kendaraan beradu dan wajah-wajah kelelahan setelah seharian bekerja keras adalah potret pemandangan setiap hari yang aku jumpai di Ibu kota. Di sini, manusia bagai mesin. Mereka bergerak dinamis hampir 24 jam non stop. Otak mereka dipenuhi hasrat-ambisi duniawi, wajah mereka lusuh tak bahagia, bahkan bibir mereka seakan berat untuk sekedar melempar senyum. Mereka menjadi budak dari pekerjaannya sendiri. Pola hidup orang Ibu kota juga sangat monoton dan jauh dari kesan menyenangkan. Bangun tidur – kerja – pulang kerja (malam) – tidur – bangun lagi, begitu seterusnya. Muak dan tentu saja kurang sentuhan seni.
Untunglah aku seorang bohemian. Hidup dari jalan ke jalan. Setiap kata adalah kelakar, setiap langkah adalah kemerdekaan. Tidak terikat aturan-aturan, tidak terjerat campur tangan berbagai hal yang memasung kebebasan. Hidup sehidup-hidupnya. Hidup semau-maunya. Bukankah sedari dulu kita mendamba-perjuangkan kemerdekaan? Maka berbahagialah mereka yang hidupnya benar-benar merdeka.

*

Waktu berlalu dengan cepat. Takdir tereksekusi dengan singkat. Kini aku bukan sekedar gelandangan biasa. Kawan-kawan se-pergelandangan menyebutku sebagai gelandangan profesional. Friend list-ku tidak melulu mereka yang mewarnai kehidupan jalanan. Mereka yang berdasi rapi dan menyebut diri sebagai politisi juga sedikit banyak mulai aku kenal. Beberapa di antara mereka bahkan tak jarang memintaku agar datang ke rumahnya untuk sekedar join kopi dan memperbincangkan hal-ihwal teraktual. Bahkan sesekali mereka juga tanpa merasa sungkan meminta pendapat dan pandanganku terkait langkah politis yang harus dilakukan.
Sebagai seniman –aku akhir-akhir ini sering disebut begitu– tentu saja aku mengagumi segala jenis keindahan. Aku jatuh cinta pada puisi, prosa, novel, syair-syair, aforisme, seni dan termasuk, tentu saja, lukisan. Jujur, honor dari berbagai tulisanku yang dimuat diberbagai media massa itulah yang membuatku tetap survive di tengah hedonisme Ibu kota.
Khusus lukisan, meski hingga hari ini aku belum dikaruniai kemampuan mumpuni, entah kenapa, aku tetap jatuh cinta. Padahal, umumnya seseorang akan membenci hal-hal yang tidak dikuasainya. Dalam berbagai kesempatan, aku sering kali mengajak Adi menyatroni pameran lukis. Terkadang aku heran kepada diriku sendiri. Percaya tidak percaya, setiap kali menatap sebuah lukisan, aku mampu menghabiskan waktu hampir satu jam. Ya, satu lukisan saja dan hanya mematung!

*

Aku seniman dan aku bukan orang bodoh. Enam tahun sudah peraduan nasibku di Ibu kota terlalui. Enam tahun bukan waktu yang singkat. Enam tahun mampu menciptakan banyak perubahan. Gubernur lama berwajah Jawa sudah naik pangkat menjadi Kepala Negara. Kursi yang ditinggalkannya diberikan cuma-cuma kepada seorang lelaki berwajah Cina. Enam tahun juga sanggup merubah nasib dan gaya hidupku di Ibu kota.
Aku memang ditakdirkan menjalani kehidupan yang progresif. Setiap tahun, Tuhan selalu menaikkan grade kesejahteraan hidupku. Dari gelandangan biasa menjadi gelandangan profesional, dari seniman ala kadarnya menjadi seniman paling bertalenta. Aku adalah salah satu anugerah terbesar yang Tuhan karuniakan dalam dunia seni –begitu kata seorang profesor dalam sebuah kolom di koran lokal. Pujian yang berlebihan? Aku rasa tidak. Aku sebenarnya tidak suka menyombongkan diri, tapi aku lebih tidak suka lagi jika harus menutup-sembunyikan fakta yang sebenarnya. Begini, harap diketahui, hampir setiap hari karya tulisku bisa kalian jumpai di berbagai macam surat kabar ternama. Tulisan-tulisanku selalu dinanti. Karya tulisku adalah sumbangsih intelektual penting bagi peradaban bangsa ini. Puisi-puisiku digandrungi berbagai kalangan. Namaku dibicarakan di mana-mana. Dan kau masih menganggap pujian itu berlebihan? Aku tidak suka menyombongkan diri, tapi kali ini aku harus memaksamu berkata tidak.
Aku bukan orang bodoh. Aku tidak mungkin bertahan hidup dari honor tulisan-tulisanku. Bagi seorang seniman besar sekaliber diriku, bergantung hidup kepada tulisan adalah bentuk pengkhianatan terhadap karya tulis itu sendiri. Kalau kalian masih mengharapkan pamrih atas tulisan yang terpublikasikan, itu tandanya kalian belum benar-benar mencintai tulisan. Tulisan-tulisanmu masih diback-up hasrat materialis menggebu. Tulisanmu tidak ditulis dengan tulus. Tulisanmu hampa tak bernyawa. Tidak ada ruh di dalamnya. Tulisanmu cacat!
Maka kuputuskan untuk menggeluti dunia bisnis. Aku menyuntikkan investasi di sana-sini. Lain itu, aku juga seorang pengusaha ayam berpenghasilan ratusan juta per bulan. Sederhananya, aku sudah sangat sehat secara finansial meski usiaku masih sangat muda.
O, iya. Aku hampir lupa menceritakan sobat karibku, Adi. Empat tahun lalu, Adi putus kerja sebagai tukang ojek. Ia lebih memilih mengadu nasib di tanah rantau, di negeri orang, di Arab sana. Adi kini berprofesi sebagai Tenaga Kerja Indonesia alias TKI. Menjelang hari-hari terakhirnya di Indonesia, kami banyak menghabiskan waktu bersama. Kusingkirkan dulu rutinitas bohemianku demi menemani saat-saat terakhirnya menghirup udara Indonesia, sebelum nantinya ia pergi meninggalkan Ibu pertiwi. Bahkan akulah orang satu-satunya yang melepas kepergian Adi di bandara. Aku masih ingat betul nasihat Adi sesaat sebelum ia berangkat. “Jangan lupa Tuhan, Dre.”
Adi tipikal seseorang yang musti kalian jadikan sebagai sahabat begitu kalian mengenalnya. Tidak hanya religius, Adi juga sangat loyal dan terkadang jenius. Aku mengenal banyak orang dengan latar belakang bermacam rupa. Dan, dari sekian banyak orang yang kukenal, hanya Adi-lah satu-satunya orang yang masih sudi merangkul dan memapah langkahku saat aku terpuruk. Adi juga motivator ulung. Kata-katanya api, membakar. Di saat orang lain menjelma fatamorgana, Adi mengulurkan tangan dengan tulus dan nyata. Itulah mengapa sebabnya aku tetap respek dan segan terhadap Adi meski profesinya tak lebih dari sekedar tukang ojek online belaka. Hingga hari ini-pun, empat tahun setelah kepergiannya, aku tetap menghormati Adi. Aku sadar sepenuhnya, dalam kesuksesan yang aku rasakan, ada banyak sentuhan tangan Adi berperan.

*

Aku bukan orang bodoh. Tapi aku bukan orang baik. Sebagaimana seniman berlatar belakang bohemian lainnya, aku tidak begitu mengindahkan aturan-aturan. Sebab aku merdeka. Sebab aku memiliki kuasa penuh terhadap kendali hidupku. Aku bebas, lepas dan tidak mengenal batas-batas. Meski agama melarang mengkonsumsi minuman beralkohol -dan aku mengetahuinya- mejaku selalu dipenuhi bir berbotol-botol. Aku juga kerap mengunjungi nite club dan tak jarang berakhir di kamar hotel, dengan seorang wanita tentunya.
Selama tidak ada yang tersakiti dan dirugikan, menurutku sah-sah saja berkencan dengan wanita-wanita penghibur itu. Aku memperoleh pelayanan dari mereka dan hasrat biologisku tertunaikan. Sebagai gantinya, selain dapat menyalurkan hasrat biologis, mereka bahkan juga mendapatkan ‘ongkos’ servis. Aku sudah memberi nafkah terhadap mereka dan keluarganya. Aku sudah menyediakan lapangan pekerjaan bagi mereka. Aku sudah menjadi warga negara yang baik dengan berperan aktif dan langsung dalam mengentaskan kemiskinan. Dan tentu saja mereka bahagia. Bukankah membahagiakan orang lain adalah puncak kebahagiaan tertinggi? Lantas, di mana letak kesalahannya? Persetan dengan halal-haram. Aku tidak peduli selama itu tetap memanusiakan manusia.

*

Meskipun Adi tidak lagi tinggal di Ibu kota, aku tetap merawat hubungan baik dengannya. Kami tetap menjalin komunikasi seperti biasanya. Kecanggihan tekhnologi memudahkan kami bertukar sapa. Semua jadi dekat dan terjangkau. Rasanya seperti Adi tak pergi ke mana-mana saja.
Aku sering bercerita berbagai hal dengan Adi. Mulai kabar politik dalam Negeri, bisnis-bisnisku, hingga gaya hidup dan rutinitasku di dunia remang-remang. Aku tidak pernah menutup-nutupi. Aku terbuka. Aku telanjang. Dan seperti biasanya, Adi tanpa pernah bosan terus menasihatiku agar aku menjauhi perbuatan-perbuatan yang ia sebut tak beretika itu. Sebenarnya aku punya banyak argumen untuk berdebat dan menyangkal nasihat-nasihat Adi, tapi seperti yang pernah kukatakan, aku masih menaruh respek terhadap Adi. Aku tidak ingin persahabatan yang sudah terjalin bertahun-tahun ini rusak begitu saja hanya gara-gara perbedaan persepsi. Aku tidak pernah tega menentang nasihat Adi, meskipun aku juga tidak pernah mengindahkannya. Jadilah nasihat-nasihat itu masuk telinga kanan dan segera keluar dari telinga kiri. Hanya lewat.

*

Pagi ini aku mengucap syukur dua kali kepada Tuhan atas nikmat ganda yang dikirimNya. Setelah sekian lama gonta-ganti rumah kontrakan dan menjalani kehidupan ala nomaden, hari ini akhirnya aku menempati rumah pribadiku yang belum lama kubeli. Yang kedua, pagi-pagi sekali, via media elektronik, Adi mengabarkan kepulangannya ke Indonesia. Sayang, saat kubujuk untuk mampir di Ibu kota, Adi menolak. Ia langsung menuju kampung. Katanya sudah rindu emak.
“Salam… Adi, apa kabar? Sehat, kan?” Aku menelepon Adi sesaat setelah ia memberi kabar bahwa pesawatnya sudah mendarat di Tanah Air.
“Salam… Alhamdulillah, Dre. Aku sehat. Sehat sekali malah. Kamu sendiri punya kabar seperti apa? Wah, tampaknya si bohemian sudah menjelma menjadi jutawan Ibu kota, nih,” Adi terkekeh.
“Haha, bisa aja kamu, Di. Jangan lupa doanya aja lah. Biar temanmu ini bisa jadi orang bener di Ibu kota. Kabar baik semua.”
“O.. pasti itu. Tentu saja. Jadi nempatin rumah baru hari ini, Dre?”
“Iya, Di. Jadi hari ini. Mungkin nanti agak siangan aku ke rumah. Ini perabot juga sudah sebagian dipindahin ke sana. Ayolah ke Ibu kota. Main-main ke rumah baru. Sekalian kita bikin acara syukuran kecil-kecilan.”
“Oh gitu.. iya, iya. Sebenarnya aku juga pengen mampir dulu di Ibu kota. Ingin nyobain sofa empuk jutawan Ibu kota. Tapi ya gimana lagi, Dre, ini si emak udah kepalang rindu dengan anak lakinya yang tak pulang-pulang. Udah kayak bang Toyib saja aku ini. Hehe…”
“Haha… Iya gak masalah, Di. Kapan-kapan lah kamu main ke sini. Salam buat emak di kampung.”
“Ok. Gampang, bisa diagendakan. O iya, Dre, aku punya sesuatu buat kamu.”
“Sesuatu apa ini? Special something-kah?”
“Barang remeh aja sih. Tapi ya cocok lah buat dipajang di ruang tamu rumah jutawan.”
“Hahaha. Pasti lukisan! Ya kan? Kamu memang sahabat yang paling tahu seleraku, Di. Terima kasih lho.”
“Oke lah. Nanti barangnya biar aku kirim lewat jasa pengiriman aja. Mungkin tiga hari lagi sampai di rumahmu.”
“Siap, bos. Laporan diterima. Hehe.”
“Udah dulu, Dre. Sampai ketemu lain waktu. Salam…”
“Salam…,” panggilan terputus.

*

Tepat tiga hari kemudian, ‘barang remeh’ dari Adi sampai ke tanganku. Tadi malam Adi berpesan untuk tidak membukanya lebih dulu. Dalam instruksinya via SMS, Adi mengatakan, “Bukanya nanti saja setelah kamu gantungkan di dinding. Kalau bisa dibuka saat kamu lupa Tuhan.”
Aku tersenyum kecil membaca SMS dari Adi. Aku tahu sekali selera humor Adi yang suka mendramatisir hal-hal kecil seperti itu. Namun saran Adi untuk tidak membuka barang itu terlebih dahulu tetap aku patuhi. Lagipula aku cukup lelah untuk memasangnya sekarang. Alhasil barang itu kubiarkan saja tergeletak di atas sofa ruang tamu depan.
Rupanya Tuhan masih enggan menyetop kucuran rezekiku. Sore itu, uang ratusan juta masuk ke rekeningku. Bisnis salah seorang rekan yang usahanya aku modali sedang panen besar. Demi mengungkapkan rasa syukur bertubi-tubi ini, aku mentraktir beberapa kolega bisnis dan menghabiskan sepanjang malam di nite club. Sembari kuniati syukuran rumah, aku party.
Malam itu aku mabuk berat. Entah sudah berapa botol bir yang aku tenggak. Bourbon, gin, vodka, dan rum berbotol-botol memenuhi tubuhku. Mataku seperti rabun. Pandanganku tiba-tiba kabur. Dengan langkah sempoyongan, aku meninggalkan nite club. Untungnya aku tidak sendiri. Aku dipapah Lolita, gadis penghibur yang bersedia menemaniku malam ini. Lolita juga yang mengendarai mobilku sampai rumah.
“Mas Andre, bangun. Sudah sampai…” Segera kukenali pemilik suara halus mendesah ini. Betul, itu suara Lolita.
“Ah, kita sudah sampai rumah ya…” Aku bangkit. Perlahan, pengelihatanku beranjak normal.
“Mas, Lolita mandi dulu yah. Biar seger…” Lolita tersenyum nakal. Aku membalas dengan anggukan kecil.
Sembari menanti Lolita mandi, aku merebahkan tubuh di sofa. Agh! Kepalaku membentur sesuatu. O, ternyata barang kiriman Adi.
Dengan pikiran yang masih belum seutuhnya normal, aku bangkit dari sofa. Pikirku, Lolita pasti lama sekali mandinya. Tidak ada salahnya kalau aku memasang hadiah dari Adi terlebih dahulu.
Sebenarnya tadi pagi aku sudah mengukur panjang lebar lukisan itu. Jadi tugasku malam ini tidak berat. Hanya menggantungkan lukisan itu di tempatnya saja. Finishing touch.
“Sreek…” Aku membuka kertas yang menutupi lukisan.
“Blaaaar!”
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku mendadak bisu tanpa mampu berkata-kata. Alih-alih berbicara, mulutku justru gemetaran. Dan, pasca sepersekian detik, gemetar di mulutku menjalar cepat ke seluruh tubuh. Sendi-sendi tubuhku rontok satu per satu. Darahku seperti cuti mengalir. Jantungku seperti lupa cara berdetak. Tubuhku menggigil hebat. Aku seperti tersambar petir. Tak ada daya, yang tersisa hanya getir.
Aku keliru. Barang itu ternyata bukan sebuah lukisan seperti yang aku kira. Ia lebih mirip sebuah foto ketimbang lukisan.
Foto itu menyuguhkan potret pedesaan yang asri. Tampak sebuah gunung mengakar kokoh dengan balutan awan-awan tipis di sekitarnya. Hijau sawah terhampar luas hingga ke cakrawala. Jalanan kecil bebatuan non aspal khas pedesaan membelah sawah tepat di tengah-tengah.
Potret yang menyambarkan petir ke tubuhku adalah sesuatu di atas jalanan kecil itu: terlihat puluhan orang dengan ekspresi muka beragam. Ada yang menangis tersedu, ada yang mengernyitkan dahi yang dipenuhi peluh, ada yang menghujamkan pandangan ke bumi, ada yang tampak seperti melafalkan sesuatu dengan setengah teriak dan ada juga yang tampak polos dan tak bergairah. Pandangannya kosong. Orang-orang itu memikul keranda mayat, lengkap dengan kain hijau penutupnya yang khas. Foto kiriman Adi adalah potret prosesi pemakaman.
Mendadak bayangan tindakan-tindakan tak terpuji yang pernah kulakukan melintas di langit-langit, satu per satu. Pesta bir, kencan gelap dengan Lisa, cumbu nafsu dengan Nanda, tidur berdua dengan Lolita….
Kemudian terdengar olehku suara tanpa rupa, “Aku Izrail pencabut nyawa. Aku ditugaskan untuk memisahkan suami dari istrinya. Aku ditugaskan untuk memutus hubungan ibu dan anak-anaknya. Aku ditugaskan untuk melerai manusia dengan segala hal yang dicintainya semasa hidup di dunia. Aku Izrail pencabut nyawa, yang akan mencerabut otot-otot manusia sebagaimana mereka mencabuti rumput liar yang tumbuh di pekarangan rumahnya. Aku Izrail pencabut nyawa, yang memisahkan ruh dan raga manusia dengan tega sebagaimana mereka mengkuliti kambing dan sapi dengan paksa. Aku Izrail pencabut nyawa yang ditugaskan Tuhan untuk menjemputmu, Andre.”
Aku bukan orang bodoh. Tapi waktu itu, aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.
Dengan sisa-sisa energi yang ada, aku menyeret tubuhku ke dalam kamar. Aku tergeletak lemas dengan tubuh menggigil dahsyat. Samar-samar, kulihat Lolita berdiri di hadapanku tanpa sehelai benang-pun di tubuhnya.
“Mas Andre…” Lolita menggelayutkan lengannya dengan manja di bahuku dan segera mendaratkan ciuman bergairah di sekitar tengkuk leherku.
Demi Tuhan! Aku sudah tidak bernafsu lagi meniduri Lolita malam itu. Meski Lolita terus menerus memberi rangsangan liar, secuilpun aku tidak terangsang sama sekali. Sebab bayangan keranda mayat itu terus menerus mengusik pikiranku.
“Pergi Lolita! Pergi, pulang sana!” Lolita tampak kebingungan dengan hardikanku yang menyuruhnya pergi. Namun setelah aku melemparkan segepok uang kepadanya, ia akhirnya pergi begitu saja.
Lalu yang tersisa hanya bayangan keranda, keranda dan keranda, sebelum tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

____________________

Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari saat lelaki itu menyudahi tulisannya. Ia beranjak dari kursi-mejanya dan keluar meninggalkan kamar.
Di ruang tamu depan, lelaki itu mematung menatap sebuah foto yang terbingkai megah seperti sebuah lukisan. Lelaki itu terbelalak, seperti ada sesuatu yang telat ia sadari. Ada secarik kertas di sudut kiri-bawah foto. Lelaki itu menyambarnya dengan tergesa.
“Andre, setiap kita pasti akan mati. Entah kapan terjadinya, kita tak pernah tahu dan akan terus seperti itu. Sebab ia memang misteri ilahi yang tiada seorang makhluk-pun mengetahui kapan datangnya. Ingatlah bahwa meski kita tidak bisa memilih untuk kelahiran kita, dilahirkan dalam keadaan seperti apa, dari rahim ibu yang mana, dari ayah yang bagaimana, namun Tuhan masih memberi kita pilihan untuk mati dalam keadaan seperti apa. Hidup adalah tentang pilihan kita untuk mati dengan bagaimana. Kalau ingin mati dalam keadaan baik, hiduplah dengan baik. Kalau ingin mati dalam keadaan tercela, hiduplah semau-maunya. Setiap jenazah yang terbujur di dalam keranda seolah berpesan kepada orang-orang yang masih hidup, calon penumpang keranda selanjutnya: ‘Sekarang aku, besok kamu’. Selagi Izrail belum menyapa, masih ada waktu untuk memperbaiki segalanya. Cukuplah kematian itu sebagai nasehat yang paling baik. Aku tahu kamu masih bisa. Dari sahabatmu, Adi, yang kelak juga akan mati.”
Lelaki itu membaca tulisan di secarik kertas dengan bibir bergetar. Air matanya tanpa diperintah luruh begitu saja, membasahi kedua pipinya. “Terima kasih, Di. Terima kasih.”
Lelaki itu bukan orang bodoh. Dan ia tahu harus berbuat apa. (*)
*Muhammad Imdad, lahir di Banyuwangi, 06 Juni 1992. Blogger di midadwathief@blogspot.co.id. Santri di Pondok Pesantren Alfalah Ploso Kediri, PP. Darus Sholah Jember dan PP. Bustanul Makmur Banyuwangi. Sekarang tinggal di Depok.

 

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Janin Badai

mm

Published

on

Oleh Ken Hanggara

Di perutku badai asing tumbuh dan beranak-pinak. Hitam, garang, dan liar. Jika ia mengamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki melayang. Ketika badai itu reda, hidupku hambar. Dan saat ia marah, aku mau mati saja.

“Badai asing melukaiku,” ujarku tersengal-sengal, “jadi kubunuh dia.”

Tapi, kata Ibu, kalau kamu bunuh badai di perutmu, bisa saja kamu yang mati. Aku takut dan belum tentu Tuhan menaruhku di surga kalau aku mati. Tapi badai ini sudah keterlaluan. Di perutku ia menggila. Tak tahu apa yang badai itu mau atau bagaimana ia beraktivitas hingga seolah-olah kulihat gambaran: lumatan nasi di lambung campur baur dengan cairan asam berlebih akibat derasnya badai.

Selama badai marah, aku melingkar di kasur, berputar-putar mirip gasing. Kadang diam dan memejamkan mata, atau mengejan dengan maksud mengusir badai itu, dengan harapan bisa kentut, meski ternyata tidak. Sakit luar biasa!

Ibu melarangku mengejan begitu, karena badai dikhawatirkan keluar lewat lubang kentut dengan kekuatan superbesar dan membikin gubuk kami roboh. Kalau rumah ini hancur, mau tinggal di mana kita? Mau menggelandang, ha?

Kubantah kata-kata Ibu. Kita tidak akan menggelandang dan rumah jelek ini tidak mungkin roboh hanya karena kentut. Tidak masuk akal. Bagaimana bisa badai dari perut gadis kurus sepertiku membuat bangunan ini roboh?

Tapi, untuk satu kata ‘logis’, badai yang tumbuh dan beranak-pinak di perut saja tidak bisa dibilang logis. Ia antara ada dan tiada. Bagi orang waras yang tidak tahu, aku pasti dianggap sinting.

“Kamu yakin ada badai di perutmu?” tanya temanku.

“Tidak sih. Di saat tertentu aku tenang. Tapi di saat lain aku mengejan-ngejan, atau berputar-putar seperti gasing. Kukira itu pertanda bahwa badai asing ini mengamuk.”

“Bagaimana kamu menyimpulkan kalau itu adalah badai?”

“Soalnya perutku seperti diputar, digiling. Kamu tahu digiling, nggak?”

Temanku tidak bisa berkata lain selain menyuruhku ke dokter. Anak ini sudah tidak beres, begitu katanya berulang-ulang, diam-diam, bisik-bisik ke yang lain; sayangnya aku dengar, Tolol!

Kataku, pergi ke dokter bukan solusi, meskipun Ibu menyarankan hal yang sama. Barangkali ahli meteorologi bisa memberiku penjelasan mengapa ada badai di perut manusia, sebuah badai yang tidak diketahui asal usulnya, yang tumbuh, berkembang, mengamuk, dan beranak-pinak di sana. Itulah kenapa kusebut dia ‘badai asing’.

Pertanyaan lain, yang sesungguhnya juga kutanyakan: Bagaimana aku yakin badai asing beranak-pinak di perutku? Aku tidak tahu. Aku semakin bingung setelah ada satu malam di mana badai itu menangisi anak-anaknya. Dia tenang dalam kondisi menangis, seperti danau di tengah hutan tanpa seekor binatang atau manusia atau pengaruh musim yang menimbulkan riak di permukaan air. Sikap menangis wanita lemah.

“Kalau badai itu menangis, aku ikut menangis. Tapi aku bingung, buat apa badai menangis? Apa badai asing ini bernyawa? Apa dia makhluk, seperti hewan, tumbuhan, manusia, jin, malaikat…”

Kurasa ini petunjuk Tuhan. Mungkin badai di perutku termasuk makhluk semacam malaikat—atau jin, tapi beda jenis. Kalau benar, ini penemuan besar. Mungkin sudah takdirnya begitu, sehingga aku lega karena ada alasan di balik misteri badai di perutku. Secara teori, badai ini tidak cuma bisa menembus benda material sebagaimana malaikat atau jin, tetapi juga memiliki akal dan nafsu dalam dirinya.

Saat pertama kuberi tahu soal badai di perutku, Ibu diam. Beberapa jam Ibu tidak bicara dan sekalinya bersuara, dia bilang tidak terima saat kukatakan badai asing bisa beranak-pinak karena dia satu dari sekian jenis makhluk di dunia ini.

“Kamu bicara apa? ‘Kan sudah Ibu bilang, kamu bawa saja ke dokter!”

“Ibu tidak tahu badai asing ini makhluk berbahaya! Dokter tidak bisa melawannya. Kalau bisa, tidak satu pun dokter di dunia ini yang meninggal!”

“Kamu ini kacau, ya!”

“Memang, Bu. Kalau badai ini ngamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki di atas. Ibu tahu, nggak? Benar-benar biadab! Beraninya main di perut. Coba berhadapan langsung, sudah kubunuh dia!”

“Ya Tuhan, cobaan apa ini!”

Ibu pergi dan membanting pintu.

Setelah itu Ibu jarang bicara denganku dan aku bergelut dengan sakit luar biasa akibat badai dalam perut yang aneh dan lama-lama menakutkan. Ini pasti ada akhirnya. Tapi, betapapun kuatnya keyakinan bahwa si badai asing makhluk bernyawa dan kelak akan mati sebagaimana janji Tuhan bahwa setiap yang berjiwa pasti akan diambil, aku tidak tenang. Badai ini, jika beranak-pinak, suatu saat memenuhi seluruh bagian perut; ini juga ada waktunya. Kubayangkan lambung, usus, dan sebagainya, tak lagi cukup menampung hal lain selain badai asing dan anak turunnya. Dan badanku mungkin meledak!

Yang paling kuingat dari malam penemuanku, badai ini menangis dan memohon agar anak-anaknya tidak nakal dan kabur. Dia rela berbagi tubuh dengan mereka: “Satu sisi di puncak untukmu, Mata, Akal, Telinga. Sisi di samping untuk kalian, Jantung, Hati, Perasaan. Dan bawah badanku bagimu, Nafsu, Bencana, Aib…”

Dasar sinting! Ibu macam apa itu? Akal, perasaan, nafsu…? Jangan sok bijak, Setan! Tujuan dia menetap di perutku karena ingin menyiksaku. Mungkin badai ini semacam benalu, yang numpang hidup dalam tubuh makhluk lain, tapi tak sedikit pun memberi manfaat.

“Ya! Itulah dirimu, wahai badai asing!”

Aku sering berputar. Tubuhku tak lagi melingkar. Aku bergelinjang seperti belut di penggorengan. Aku mengejan sekuat tenaga seperti membuang tinja sebesar buaya. Ketika badai reda, tubuhku normal, tetapi pikiranku lari ke mana-mana. Aku tidak bisa menebak bagaimana mulanya badai asing tumbuh. Sesuatu yang ada pasti datang dari ketiadaan. Dulu tidak ada badai di perutku, tapi sejak lima bulan lalu, sejak badai itu datang, hidupku mulai berbeda.

“Kukira kamu perlu ke ahli meteorologi,” kata teman yang sama. “Karena asal-usul badai bisa dilacak. Badai di perutmu mungkin sama dengan badai umumnya. Mungkin ada perubahan atmosfer dalam tubuhmu, meski aku tidak yakin.”

“Dia bukan badai biasa. Dia makhluk seperti jin dan malaikat.”

“Kamu selalu sok tahu!”

“Ya.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Aku tahu karena dia beranak-pinak dan menangis, dan aku juga tahu dia ingin membagi raganya untuk anak-anaknya.”

“Tak masuk akal!”

“Memangnya masuk akal, ada badai dalam perutku? Bisa bayangkan?!”

Aku mencoba cara lain, yang sudah jadi keputusan akhir. Aku tidak tahan lebih lama. Setiap badai asing mengamuk, badanku tidak lagi berputar seratus delapan puluh derajat, atau mengejan, atau menggelinjang, atau melingkar dan mengerang di kasur, tapi aku lari ke sana kemari persis orang gila, karena amukan badai sangat menyakitkan!

Aku harus bunuh badai itu.

Aku tidak yakin diriku tidak terluka oleh rencana ini, tapi badai itu bisa mati kalau aku tahu titik pusatnya.

Jadi begini, saat badai tenang, kuraba perutku, kupijat, lalu kuremas bagian-bagian tertentu. Di sanalah titik pusatnya. Aku tidak menunggu badai mengamuk. Selagi ada kesempatan, ia kubunuh pada detik itu. Bisa dengan pisau atau pedang panjang, sehingga aku menusuknya melalui pusarku dan tembus sampai punggung. Aku tak punya pedang dan tak perlu berpikir rumit untuk sekadar membunuh badai dalam perutmu, bukan?

Aku hanya perlu mencari tempat di mana ia bisa kukubur, setelah kubunuh nanti. Aku percaya kematian badai membuatnya mudah kukeluarkan. Tidak lewat lubang anus, karena anak-anak badai sungguh amat sangat banyak. Hampir tiap malam ia melahirkan anak dan membagi dalam kelompok sesuai kebutuhan fisiknya: bagian atas, samping, bawah…. Tidak heran, hari ini anak-anak itu membuatnya lebih ganas. Aku bahkan tidak yakin selamat usai membunuh badai asing itu. Tapi satu yang pasti: percobaan ini jelas membunuhnya.

Kiranya ada hal yang membuat Tuhan tersinggung, aku minta maaf. Aku penemu sekaligus pembasmi makhluk jenis baru serupa jin dan malaikat yang bisa hidup dan beranak-pinak dalam perut seorang gadis tanpa diketahui bagaimana ia bermula.

Maka dengan tenang kuucap, “Badai asing kurang ajar yang masuk ke perutku, beranak-pinak tanpa peduli betapa susah fisikku karena menampung bobotmu yang kian hari kian berat, kuucapkan selamat tinggal.”

Dalam pandangan lamur, pisauku berlumuran darah. Tidak ada makhluk serupa jin atau malaikat, atau tiupan angin hingga gubuk roboh.

Setelah perut terbelah, yang ada seonggok daging, segumpal rambut, dua bola mata, dan bau amis. Tuhan bercanda. Terbuat dari apa badai yang tumbuh dan beranak-pinak dalam perutku sih? [ ]

Gempol, 2015-2019

 

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya tersebar di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

 

Continue Reading

Cerpen

Evolusi Homo Sapiens

mm

Published

on

Oleh: Sasti Gotama

 Seekor Homo sapiens terjatuh begitu saja dari langit. Untung saja ia terjatuh di atas tumpukan rumput kalanjana. Meskipun begitu, tetap saja ia merasa kesakitan lalu menguik    –yang bunyinya lebih mirip suara bekantan di rimba Kalimantan. Jika saja ia tidak terlalu berkonsentrasi dengan nyeri di pantatnya, tentu ia akan sadar bahwa suaranya  mengejutkan sepasang kupu-kupu hitam yang hinggap di pucuk ilalang hingga keduanya terbang berpencar, tak jadi melakukan ritual perkawinan.

Homo sapien itu bangkit sambil berusaha mengingat-ingat, bagaimana ia bisa terjatuh di tumpukan rumput ini. Seingatnya, terakhir kali yang  ia lakukan –beserta kawanannya– adalah mengejar seekor kukang tanah setinggi pohon yang melarikan diri menuju rimbunan  pakis haji raksasa. Ia mengejarnya sambil mengayunkan tombak batu yang baru diasahnya tadi malam. Ujung daun-daun itu sempat menggores kulit lengan sebelum ia merasa kakinya menginjak sesuatu yang lembut dan lunak.  Rawa. Tanah lembek itu mengisapnya ke dalam. Semakin dalam, hingga ia tak sempat berteriak ketika tanah hitam lembap itu masuk ke dalam lubang hidung dan mulutnya –terasa pahit dan asin– sebelum akhirnya ia melihat kegelapan yang berganti cahaya menyilaukan. Kemudian ia terjatuh begitu saja.

Ia melihat ke sekelilingnya. Dunia yang asing. Ia melihat tanaman  sejenis rerumputan yang dikumpulkan dalam berpetak-petak tanah. Ia pernah melihat tanaman sejenis rumput ini yang berbuah biji-bijian di suatu tempat di tengah hutan sebelum ia dan kawanannya berpindah tempat di musim kemarau panjang. Namun, rumput yang pernah dilihatnya hanya  serumpun, bukannya hamparan   kuning keemasan yang sepertinya sengaja ditanam dan terlihat seperti rimbunan bulu-bulu kukang terbentang di bawah kaki bukit.

Ia mendongak dan melihat langit sudah mulai terang. Bola api  raksasa merayap keluar dari balik bukit. Homo sapiens itu  memutuskan berjalan menuju ke arah sinar  dengan menyusuri parit buatan.

***

Sementara itu, seorang Homo sapiens lainnya berjenis kelamin laki-laki dan berbaju hitam  bernama Toha sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu rumah. Ia menunggu Imron, sepupunya, yang berjanji akan datang secepatnya setelah selesai nyabis ke Kyai Soleh.   Toha tak menghiraukan istrinya – Maemunah—juga kopi panas yang diletakkan di atas meja. Ia juga tak  peduli  kelopak mata istrinya bengkak karena menangis semalaman. Yang ada dalam pikirannya adalah harga diri yang harus dibela.

Seminggu yang lalu, Bukad  –pamannya– baru saja memenangkan pemilihan  klebun   di alun-alun Wirakrama. Sayangnya, Sugali, klebun yang lama menolak menyerahkan tanah percaton  karena menganggap sudah melakukan tukar guling dengan tanah miliknya di pinggir desa.  Bukad tidak terima, karena tanah percaton hasil tukar guling terletak jauh dari pusat desa dan tanahnya tidak begitu subur. Sugali berkilah bahwa ini sudah disahkan oleh pemerintah pusat. Ia menunjukkan berbagai macam surat yang menetapkan perihal ini. Tentu saja, Bukad tak terima. Ia mencium adanya persekongkolan dan  mencurigai bahwa tanda-tangan yang tertera di surat-surat itu dipalsukan. Ia lalu mengajak pendukungnya untuk beramai-ramai menyerbu rumah Sugali.

Sebagai kerabat yang baik, tentu saja Toha merasa berkewajiban membela pamannya. Ini masalah kehormatan. Bagi sukunya, kehormatan harus dijunjung tinggi. Lebih baik putih tulang daripada putih mata.

Tepat pukul delapan lebih lima belas menit, Toha melihat Imron datang. Segera diraihnya celurit –berukuran enam puluh sentimeter dengan ujung melengkung– yang telah diasahnya tadi malam . Ia menghampiri Imron yang juga membawa senjata yang sama. Tekad mereka bulat. Membela kebenaran.

Maemunah melepas keduanya dengan mata  sembab. Percuma saja meminta seorang lelaki sukunya yang sudah bertekad bulat untuk mengurungkan niat. Seperti halnya yang terjadi pada kisah-kisah sebelumnya, hal-hal seperti ini  –perihal membela kebenaran–  sering berujung pada carok masal. Padahal entah itu memang sebuah kebenaran atau kepentingann seseorang, Maemunah tak yakin. Sama tak yakinnya ia  bahwa Toha akan pulang selamat. Perlahan ia menutup sepasang pintu jati rumahnya, lalu jatuh terduduk dan bersandar pada pintu. Ia menangis tanpa suara.

Sementara itu pasukan pembela Bukad, termasuk Toha dan Imron,  sudah berkumpul di depan rumah Sugali. Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan celurit yang mereka bawa. Sebagian dari mereka memanggil nama Sugali. Sisanya memaki-maki.

Sugali terdiam di balik pintu. Bukannya ia gentar, tapi ia merasa melakukan hal yang benar. Akhir bulan Mei, lima tahun yang lalu, ia melihat atap salah satu sekolah dasar di pinggir desa tampak miring. Pemandangan yang lebih mengenaskan terlihat saat ia masuk ke dalam ruangan kelas. Dinding banyak yang rusak dan kayu-kayu penyangga rapuh dimakan rayap. Seolah-olah, jika ia bersin, maka bangunan ini akan rubuh begitu saja. Belum lagi letak sekolah ini jauh dari pusat desa. Anak-anak yang bersekolah harus menempuh jalan yang cukup jauh, melewati bukit kapur dan persawahan warga. Sugali berpikir, seandainya saja tanah pecaton di tengah desa bisa ia tukar dengan tanahnya di pinggir desa, mungkin bisa ia bangun sekolah yang lebih bagus.

Teriakan-teriakan semakin keras terdengar. Sugali sempat berpikir untuk keluar dan menjelaskan, tapi sesuatu berbisik di telinganya bahwa itu sama saja dengan bunuh diri dengan sadar. Jadi, ia memutuskan menunggu. Pendukungnya akan segera datang. Rencana Bukad untuk menyerbu rumahnya sudah bocor sejak tadi malam sehingga ia dan pendukungnya sudah menyiapkan taktik balasan. Tadi malam, ia gelorakan semangat pendukungnya. “Mereka melakukan fitnah sistematis. Mengatakan saya melakukan persekongkolan dan tipu muslihat. Padahal saya melakukan kebenaran. Kebenaran harus ditegakkan. Dibela sampai titik darah penghabisan!” Tentu saja ia tak mengatakan darah siapa yang harus dialirkan. Yang pasti bukan darahnya sendiri.

Ketika masa Bukad semakin beringas dan hendak merobohkan pagar rumah Sugali, dari arah belakang, ratusan masa pendukung Sugali menyerbu. Di tangan mereka ada celurit dan kelewang. Carok! Ujung-ujung celurit itu mulai liar. Menghujam kulit, menyobek daging, memenggal leher, hingga darah mengalir deras. Tak ubahnya  medan perang Kurukshetra.

Semuanya sibuk berperang hingga tak memperhatikan seekor Homo sapiens telanjang yang terdiam di pinggir jalan. Ia telah  menempuh empat puluh lima menit menyusuri jalan makadam dan terhenyak ketika melihat sekumpulan makhluk yang mirip dirinya saling menghujamkan senjata tajam.

Homo sapiens itu terheran-heran. Selama hidupnya, tak pernah kawanannya saling melukai seperti itu. Biasanya  mereka memburu bison atau kukang tanah raksasa bersama-sama. Menombak, memenggal kepala, dan mengulitinya, tapi tak pernah kawanannya saling memburu sesama. Ia bertanya-tanya, apakah mereka berperang karena memperebutkan daging  bison atau kambing liar atau kukang raksasa. Tetapi ia melihat  di sekitar mereka  tak ada bangkai binatang yang diperebutkan. Lagipula perut mereka membulat dan otot-otot mereka tampak pejal. Yang pasti mereka tak tampak kelaparan.

Homo sapiens itu tak pernah tahu, bahwa berpuluh-puluh tahun yang lalu, seorang Homo sapiens lain bernama Sigmund Freud telah menemukan  hal penting yang membuat Homo sapiens saling berperang. Ego. Ego yang tunduk pada id. Tentu saja ini adalah hasil evolusi otak dari seekor Homo sapiens. Jika saja Homo sapiens dari masa lalu itu tahu, bahwa ini hasil evolusi dari otak besarnya, mungkin ia akan menolak berevolusi dan tetap memilih menjadi lutung jantan.

***

Sebelas orang meninggal dan puluhan luka berat. Dan berminggu-minggu kemudian, dari kedua belah pihak –baik Bukad maupun Sugali—mengatakan bahwa masing-masing dari masa mereka disusupi oleh pembuat onar. Begitu kata mereka saat diwawancarai oleh reporter wanita cantik berambut pendek yang datang dari ibu kota. Tak  ada satu pun dari mereka menyebutkan keberadaan seekor Homo sapiens telanjang yang melenggang di tengah desa dengan wajah heran.

SELESAI

___

Keterangan:

Keterangan:

Nyabis: diisi tenaga dalam

Klebun: kepala desa

Percanton: tanah bengkok

Continue Reading

Cerpen

Tentang Maria, Gedung Bioskop, dan Buku Harian yang Tertinggal

mm

Published

on

Getty Images/ The Lovers by Rene Magritte

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

 

Oleh Ken Hanggara *)

Pada sore hari setelah Maria pergi, aku duduk di teras dan membuka-buka sebuah buku harian. Di sampul depan buku harian tersebut terdapat suatu cap yang dahulu aku buat di sana untuk kenang-kenangan agar Maria tak melupakanku.

“Ini hadiah dariku, Bung,” kataku kepada seorang tetangga.

“Kau yakin kalian benar-benar saling mencintai?”

Aku berdiri dan mengajaknya masuk ke ruang tamu. Toni tetangga baruku, dan ia belum pernah menyapa Maria. Tiga hari yang lalu Toni datang dengan membawa mobil pick up berisi berbagai perabot, dan kepadaku yang kebetulan berada di teras rumahku, ia mengaku semua benda tersebut warisan. Ia akan tinggal di rumah sebelah yang sudah sepuluh tahun lebih kosong.

Aku mengenal Toni sejak itu, dan karena ia bujangan, aku bisa mengajak pemuda itu mengobrol apa saja sampai larut malam. Maria tidak pernah mau kuajak bercumbu sebelum tidur dan itu tidak kuceritakan pada Toni.

Karena tidak pernah kuungkit-ungkit soal Maria, dan begitu tahu pasanganku pergi tanpa pamit, Toni berpikir Maria tidak benar-benar mencintaiku. Ia berkata, sambil kami melangkah ke dalam, “Kalau tidak begitu, ada sesuatu yang salah.”

Aku berhenti dan bermenung di depan foto diriku dan Maria yang berdiri sambil berpelukan di depan gedung bioskop tujuh tahun lalu, waktu kami pengantin baru. Aku tidak berkata apa-apa sampai akhirnya sadar ada Toni di sini, dan kujawab, “Sebetulnya tidak ada yang salah.”

Aku tahu ada yang beda di wajah Toni, dan kukira dia tidak enak saja padaku yang lebih tua beberapa tahun, tapi sudah dituduh macam-macam. Soal asmara bagi beberapa orang bisa jadi sensitif. Mungkin karena itu Toni memutuskan diam.

Kami tidak berkata apa-apa sampai kuajak Toni ke ruang tengah. Ada lebih banyak fotoku dan Maria dari tahun ke tahun. Ada beberapa yang sengaja dibuat khusus untuk mengenang bahwa kami tidak akan berubah soal cinta.

“Foto-foto macam ini,” jelasku pada Toni, yang terlihat agak lega, karena aku bisa bersikap santai, “dimulai dari ketidaksengajaan. Itu foto waktu kami pertama jadian.”

Kutunjuk sebuah foto, dan kemudian jariku beralih ke foto lain di samping kanan foto tadi.

“Ini setahun pertama kami jadian. Posisiku dan Maria terlihat sama seperti di hari ketika kami bersumpah akan terus bersama. Dia di kanan dan aku di kiri. Kami tetap berpelukan. Lihat, senyum kami juga sama. Ketika itu Maria bilang, ‘Aku tidak mau kita pacaran, dan kelak selesai begitu saja tanpa ada yang bisa dikenang.’ Maka kusodorkan ide foto dengan pose yang sama dari tahun ke tahun, dan perempuanku itu setuju. Dan kini, kamu lihat hasilnya!”

Toni mengangguk-angguk selagi kujelaskan itu. Ia sesekali bicara soal keakuratan senyum kami.

Senyumku dan Maria dari tahun ke tahun nyaris tak pernah terlihat beda dari foto di tahun sebelum dan sesudahnya. Bagi Toni, merancang foto seperti ini tidak semudah yang orang pikir, apalagi yang kami lakukan melebihi dari foto dengan pose tunggal. Yang kami lakukan membeku untuk urusan asmara. Ada beberapa yang beda di wajahku, yang jadi agak bulat, tapi senyumku dan Maria tak pernah beda.

Lalu kami melompat ke topik lain soal ayah dan anak di suatu belahan bumi, yang berfoto dengan pose tunggal setiap tahunnya, dan ketika si bocah semakin lama semakin besar, posisi ayah yang menggendong anaknya dapat dibalik sewaktu-waktu.

“Di foto kalian, tidak ada yang bakal terbalik, sebab kalian saling berpelukan, dan kita bisa memeluk siapa pun tanpa harus menjadi kuat. Apa yang tadi sempat kukatakan soal kalian yang sama-sama saling mencintai, harus kutarik dan aku menyesal sudah mengatakannya,” tutur Toni dengan memandangku lesu.

Aku mengangguk. Urusan percintaan saat manusia sudah berusia tiga puluh ke atas, atau empat puluhan, atau bahkan lima puluh hingga seratus tahun, sangat berbeda dari kisah cinta yang pada umumnya orang percayai.

“Aku dan Maria sering bertengkar dari waktu ke waktu setelah tahun keenam kami. Bayangkan, itu baru enam tahun kami menikah. Aku menikahi Maria pada saat umurku dua puluh delapan, dan dia dua puluh tujuh. Jadi, sekarang ini kami masih cukup muda, padahal kenyataannya aku dan Maria merasa sama-sama menua.”

Aku tidak ingin menjelaskan lebih jauh. Kuajak Toni berjalan lagi ke depan setelah puas melihat hampir semua fotoku dan Maria yang ada di ruang tengah.

Begitu aku ingat sudah menunjukkan foto-foto kami dengan pose tunggal kepada seorang tetangga baru, aku berbelok ke kamar dan mencari sesuatu di sana.

“Kau tunggu di depan,” kataku pada Toni.

Tak butuh waktu lama untuk tahu betapa Maria sudah membawa kamera dan setiap file dalam laptopku yang menyimpan seluruh foto dengan pose tunggal tadi. Itu adalah bukti untuk, paling tidak, dua kemungkinan. Pertama, Maria tidak ingin melupakanku sehingga foto-foto yang kami buat akan ia simpan selamanya meski kami tak bersama. Kedua, ia hapus seluruh file tersebut sehingga tidak ada lagi yang tahu bagaimana cara kami menyimpan cinta yang dulu begitu kami agungkan.

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

Di gedung bioskop,” desisku.

Itulah potongan kalimat pertama di buku harian Maria. Ia pernah bilang bahwa ia sengaja memindah catatan hariannya ke buku baru, setelah ada lelaki yang memenuhi kebutuhan cintanya, yakni aku. Jadi, hari ketika kami berdua bertemu itu Maria jadikan halaman pertama di buku harian barunya yang tebal.

Aku pernah bertanya, “Kamu menyiapkan buku setebal itu untuk tahun-tahun yang manis bersama orang paling beruntung, ya?”

“Aku yakin buku ini tidak akan pernah putus, karena ketika dia sudah kehabisan halaman kelak, akan kutambah dengan buku harian yang juga tebal, lalu mereka berdua kujahit, begitu seterusnya. Bisa dibayangkan? Kelak anak cucu kita akan tahu betapa nenek moyang mereka adalah penulis yang romantis!”

Aku bahagia dan merasa terhormat mendapat tempat seistimewa itu di hati Maria. Dia pernah dikhianati lelaki sewaktu masih SMA, dan sejak itu hingga berumur dua puluh tujuh, tidak sekali pun jatuh cinta. Dengan kata lain, akulah pria pertama yang ia cintai setelah bertahun-tahun membenci cinta.

Di gedung bioskop, seorang lelaki datang menyapaku, dan dia bertanya film apa yang bagus ditonton seorang diri? Kalimat pertama itulah yang ditulis Maria, dan aku ingat betapa dengan konyolnya aku bertanya soal film yang baik ditonton oleh orang yang kesepian. Waktu itu pilihan filmnya hanya romansa. Aku dan Maria dengan senang hati menonton bersama. Ia mudah menerima teman baru sepertiku, yang baginya lucu. Memang ketika itu aku merasa bodoh dan lucu.

Pulang dari bioskop kami mengobrol seperti teman biasa yang baru berkenalan. Ia kumintai nomor telepon, dan sejak itu, kami sering pergi ke bioskop. Sering juga kami menonton film yang dibuat untuk mereka yang tidak punya pasangan. Film-film macam superhero dan hal-hal tak masuk akal yang cenderung kekanak-kanakan. Aku tahu film semacam itu tidak benar-benar dibuat khusus untuk mereka yang single, tetapi tentu saja aku dan Maria ketika itu senang bercanda.

Begitulah, aku membaca halaman demi halaman buku harian Maria yang ditinggal, entah sengaja atau tidak. Buku harian itu kutemukan di lantai ruang tengah, tergeletak begitu saja bersama beberapa brosur liburan murah ke luar negeri serta beberapa buah buku bacaan yang Maria sukai. Benda-benda ini tersimpan di salah satu tas yang kukira harus Maria bawa, namun tak sengaja ditinggalkan. Aku tahu dia pergi dari rumahku dengan tergesa-gesa. Tidak ada alasan lain selain karena takut aku melarangnya.

Memikirkan Maria yang merasa tidak akan ada gunanya kami hidup tanpa pernah ada calon bayi di perutnya, membuatku sedih dan mungkin baiknya aku juga berkemas malam ini dan pergi dari rumah. Aku pergi untuk mencari Maria, atau mungkin pergi ke tempat mana pun yang kusuka untuk menghibur diri. Tapi, tubuhku lemas dan tak ada kemauan mewujudkan pikiran gila apa pun.

Mungkin esok keputusan itu ada. Mungkin juga tidak. Tapi, untuk saat ini tak ada hal apa pun yang ingin kulakukan selain tetap di sini. (*)

Gempol, 2017-2019

 _______________

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending