© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.

Oleh: Agus Hernawan*

Pernikahan Ferdinand of Aragon dengan Isabella of Castile menyatukan dua dominasi, melahirkan Spanyol sebagai bangsa dalam satu kesatuan dan realitas. Granada direbut kembali melalui pembantaian orang Moor atas nama perang suci Abad Pertengahan. Sang Ratu Isabella pun ditasbihkan oleh Pope Alexander VI sebagai ”pemilik dan tuan” Dunia Baru setelah Columbus bersama armadanya  merapat di pulau karang berbentuk cincin yang dinamai San Salvador.

Tetapi, bagi Neruda, Granada telah hilang untuk selamanya. Kematian Lorca, perang saudara di Spanyol, dan simpatiknya ke kaum Republiken, membawa Neruda kembali ke Cile. Ia mengakhiri mimpi buruk: memanggul beban kesunyian 550 tawanan Indian yang diangkut Columbus, persembahan bagi Sang Ratu, the patroness of the Holy Inquisition.  Neruda—seorang yang ingin berterima di tanah beradab—mendapati dirinya memikul beban kesunyian budak Indian yang mati kedinginan dan dicampakkan ke laut.

”Kami menenggelamkan mereka, tidak jauh dari daratan Spanyol,” tulis Michele de Cuneo (dalam Journal and Other Documents on the life and Voyages of Christopher Columbus (ed) Morison, 1963). Sementara sisanya, tulis Galeano, dijual sebagai budak di Sevilla dan mati sengsara. Tetapi, saat kembali Neruda mendapati  Amerika Latin bukan ”the New World” yang eksotik seperti termuat dalam peta perjalanan ke Dunia Timur di Biblioteca Marciana sejak pangkal Abad ke-16. Ia mendapati sejarah yang menghampar di atas kekejaman pelatuk senapan. Dengan nada geram, dalam Explico Algunas Cosas, Neruda menulis:

Dan kau akan bertanya: mengapa puisi-puisinya tidak berbicara  tentang anggur mimpi dan dedaun gugur dan kemegahan jubah gunung emas tanah asalnya? Datang dan lihat kematian menggenang di jalan-jalan. Datang dan lihat darah di jalan-jalan. Datang dan lihat darah menggenang di jalan-jalan!

Sejarah modernitas adalah sejarah benua yang hilang. The primitive accumulation of capital di balik serbuan Barat, buruh-buruh imigran Irlandia yang dimiskinkan, budak-budak Asia dan Afrika yang diangkut kapal Portugis menuju Brasil, dan 90 juta kaum pribumi yang musnah dalam 500 tahun kolonialisme. Neruda pun mendatangi sebuah pangkal, sebelum waktu imperial. Ia berziarah  ke ketinggian Pegunungan Andes, ke reruntuhan kota kuno. Ia mendatangi Macchu Picchu untuk menemukan akarnya.

Ziarah ke Macchu Picchu mengawali kemunculan puisi-puisi Neruda yang memanggul kewajiban dan etis pada hidup.  Suara untuk kematian masa lalu, untuk bebatu, dan di atas segalanya, untuk sejarah yang ditenggelamkan. Pedro Orgambide menyebut Neruda dalam Ganto General-nya menyuguhkan suara yang sangat politis, suara Amerika Latin dengan sejarah yang drastis dan penuh lubang peluru.

Amerika Latin adalah tempat sastra menafsir ”realitas” sekaligus mentransformasikannya. Ia menjadi kesastraan yang penuh risiko karena menempatkan bahasa bukan melodi, melainkan ”suara dan gema” di dalam sistem komunikasi yang dimonopoli kekuasaan. Di keseluruhan Amerika Latin, kediktatoran militer yang didukung Barat meletakkan kebebasan berpikir di bawah bayang-bayang bayonet. Monopoli atas ”kata” (the monopoly of the world) membuat bahasa menjadi properti kekuasaan. Neruda jauh lebih beruntung dibandingkan Otto Rene Castilio, penyair paling menjanjikan dari Guatemala yang  dibakar di Zacapa oleh rezim militer—layaknya serdadu Portugis dan Spanyol yang membuat unggun dari tubuh laki-laki, perempuan, dan anak-anak Indian yang jadi kayu bakar.

Akibat surat terbuka berisi kritik pedas ke Presiden Gonzalez Videla, Neruda terpaksa bersembunyi, menyusuri Pegunungan Andes, dan menuju Argentina. Eksil adalah jarak, satu kemewahan di tengah ketiadaan lagi alternatif. Eksil menjadi semacam takdir sastrawan dan intelektual Amerika Latin, ujar Galeano. Masa bersembunyi di rumah-rumah petani itu membawa puisi-puisi Neruda menjadi ledakan dari ruang sejarah orang-orang yang diabaikan. Puisi-puisi Neruda lebih sederhana, tetapi sangat politis. Satu utang budi  ke compesinos yang melindunginya, satu kemurnian protogonisme pada kediktatoran yang mengakuisisi bahasa sebagai properti dan kata sebagai kutukan.

Dalam Deber del Poeta, Neruda menulis:

…untuk siapa pun yang dibungkam

di rumah atau di gedung-gedung pemerintah,

buruh atau perempuan, yang terlempar di jalanan

di lubang lubang tambang, atau dinistakan di balik sel penjara panas

untuk mereka aku datang…

Di tahun 1970, melalui pemilihan yang paling demokratis dalam sejarah Cile, Salvador Allende terpilih sebagai presiden. Tiga tahun kepemimpinannya, Cile menasionalisasi industri tembaga, perbankan, dan sistem telekomunikasi. Menggulirkan program pendidikan bagi semua, jaminan kesehatan, distribusi tanah, dan menerbitkan undang-undang yang mengakui hak-hak perempuan dan kaum pekerja. Di masa Allende, Neruda menduduki pos duta besar di Perancis. Itulah masa kegemilangan Neruda melayani Cile baik sebagai penyair  dengan mempersembahkan Nobel Kesastraan (1971). Juga sebagai politisi, ia ikut mendirikan satu pemerintahan demokratis yang dibayangkannya akan kekal.

Kesehatan yang memburuk membawa Neruda,  di tahun 1973, kembali ke Cile. Di rumahnya, di Isla Negra, Neruda terbaring sakit. Di Luar,  Santiago de Chile dikepung junta militer dipimpin Augusto Pinochet—didukung oleh CIA lewat sandi operasi bernama Operasi Djakarta. Allende gugur dalam  kudeta 11 September 1973 dan Cile pun kembali penuh lubang peluru dalam 17 tahun kediktatoran Augusto Pinochet. Sepanjang 1973-1990,  sekitar 3.000 orang tewas atau hilang. Dalam Descubridores de Chile,  Neruda menulis …kesunyian terbaring di sepanjang garis.

Tema kesunyian muncul tetapi lebih getir dibandingkan Amor America atau Los Rios Acuden. Bahkan, dijajarkan dengan the Heights of Macchu Picchu (alturas de Macchu Picchu) yang penuh gairah dan kedalaman puitis yang politis, Descubridores de Chile terbaca kesunyian yang sangat muram. Di puisi yang hanya beberapa baris itu setiap kata seperti kesunyian yang terbaring abadi jalur sempit pantai barat. Kesunyian yang membawa Cile, negeri ujung daratan Benua Amerika itu, berhadapan langsung dengan lautan sejarah yang tidak pernah tenang, dengan Samudra Pasifik yang penuh badai dan gejolak.

Pinochet, dengan tangan besinya, membawa Cile menjadi kelinci percobaan pasar bebas dan agenda neoliberal. Kediktatoran dan ekonomi liberal yang diterapkan Pinochet, tulis Orlando Letelier, adalah dua sisi dari satu keping koin. Separuh industri yang sudah dinasionalisasi Allende dikembalikan Pinochet ke pemiliknya, separuh lagi dijual. Restorasi Pinochet ini telah mengembalikan ekonomi Cile dimonopoli segelintir elite.

Duncan Green dalam Silent Revolution: The Rise and Crisis of Market Economics in Latin America mengisahkan bagaimana tak lama setelah berkuasa, Pinochet mengundang para ekonom University of Chicago (Milton Friedman, Friedrich von Hayek, dan Arnold Harberger) untuk mengarsiteki ekonomi Cile. Mereka yang dijuluki ”Chicago Boys” itu  merekomendasi prinsip-prinsip ekonomi liberal. Sebanyak 400 lebih perusahaan negara diprivatisasi, diikuti PHK 10.000 pekerja publik. Prinsip ekonomi liberal dari Chicago dipaksakan dengan mata penuh kebencian dan kecurigaan ke serikat pekerja dan organisasi politik.

Agenda pasar bebas telah membuat negara kehilangan kontrol untuk berbagai produk. Susu yang jadi perhatian khusus masa Allende, sejak 1975, mengikuti mekanisme pasar. Hasilnya, harga ke konsumen menaik sampai ke 40 persen, sebaliknya  harga ke produsen terjun 22 persen. Dan, kematian bayi meningkat drastis, tulis Galeano dalam Sevent Years After. Hanya satu kuarter setelah kejatuhan Allende, program charity asing membanjiri kaum miskin Cile. Satu cara cuci tangan sekaligus menciptakan dependensi baru. Neruda, dalam Demasiodas Nombres, demikian liris, ”…semua kita debu atau pasir/semua kita berkubur sunyi tangis…”.

*Pekerja Kebudayaan yang Lahir di Palembang. Esai ini pernah terbit di Harian Kompas, (2015). Photo by http://www.journalgazette.net

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT