Connect with us

Cerpen

Sebuah Cerita Untuk Anak-Anak

mm

Published

on

Sebuah Cerita Untuk Anak-Anak[1] | Karya: Svava Jakobsdóttir[2] | Diterjemahkan oleh: Regina N. Helnaz

Sepanjang ingatannya, ia telah menetapkan hati untuk setia pada sifat dasarnya dan mengabdikan seluruh tenaga untuk rumah dan anak-anaknya. Saat ini ada beberapa anak dan dari pagi hingga malam ia dibanjiri pekerjaan, melakukan kegiatan rumah tangga dan mengurus anak. Ia sekarang sedang menyiapkan makan malam dan menunggu kentang mendidih.[3] Majalah wanita Denmark tergeletak di atas bangku dapur seakan dilempar dengan tidak sengaja; kenyataannya, ia memang sengaja menaruh majalah itu disana dan meliriknya ketika ada kesempatan. Tanpa mengacuhkan panci kentang dari pikirannya, ia mengambil majalah dan membaca sepintas kolom nasihat Fru Enson[4].  Bukan berarti kolom itu terlihat paling menarik baginya, namun karena tulisannya pendek-pendek. Mungkin juga akan memakan cukup banyak waktu untuk membacanya sehingga kentang yang dimasak akan mendidih ketika, ia selesai membaca. Surat pertama di kolom itu singkat: Kepada Fru Enson, saya hidup demi anak saya dan selalu melakukan segala sesuatunya untuk mereka. Sekarang saya ditinggal sendiri dan mereka tidak pernah mengunjungi saya. Apa yang harus saya lakukan? Fru Enson membalas: Lakukan lebih untuk mereka.

Tentunya, ini jawaban yang logis. Sangat jelas hingga tidak ada lagi hal yang lebih memungkinkan. Ia berharap tidak akan mulai menulis untuk majalah itu tentang hal yang sudah jelas adanya ketika waktunya tiba. Tidak, kolom ini tempat orang-orang mengerang dan mengeluh bukanlah kesukaannya.  Kolom yang berisi cara pengasuhan anak dan peran ibu – lebih terdengar positif. Aspek fundamental pengasuhan anak tentunya telah familiar baginya sekarang ini, tapi ada saatnya ia merasa lemah dan letih di beberapa waktu. Di saat itu, ia akan buru-buru membalik halaman majalah untuk segera membaca kolom pengasuhan anak demi mencari keteguhan hati dan penegasan bahwa ia memang berada di jalur yang benar dalam hidup. Ia hanya menyesal memiliki sedikit dan semakin sedikit waktu untuk membaca.

Ikan yang belum dibersihkan menunggu dirinya di bak cuci piring dan kali ini ia menahan godaan untuk membaca kolom pengasuhan anak. Ia menutup majalah dan kemudian berdiri. Ia sedikit pincang sejak anak-anaknya memotong satu jari besar di kaki kanannya. Mereka penasaran apa yang akan terjadi jika seseorang hanya memiliki sembilan jari kaki. Di dalam dirinya, ia merasa bangga atas kepincangannya dan atas hasrat belajar anak-anaknya, dan terkadang ia bahkan pincang lebih sering daripada seharusnya. Sekarang ia mendinginkan kentang dan mulai membersihkan ikan. Pintu dapur terbuka dan anak laki-laki kecilnya, yang berusia enam tahun, bermata biru dan berambut agak ikal, menghampirinya.

“Mama,” katanya, dan menusukkan peniti ke tangannya. Ia kaget dan hampir mengiris jarinya dengan pisau.

“Ya, sayang,” jawabnya, dan membentangkan tangannya yang lain sehingga sang anak bisa menusuknya juga.

“Mama, ceritakan aku satu kisah.”

Ia menaruh pisau, mengeringkan tangan dan duduk dengan anaknya di pangkuan untuk menceritakan sebuah kisah. Ia sudah setengah jalan bercerita ketika terpikirkan bahwa salah seorang anaknya bisa menderita gangguan psikologi akibat tidak makan malam tepat waktu. Di wajah anaknya, ia mencoba melihat bagaimana anaknya akan bereaksi ketika ia berhenti bercerita. Ia merasakan keraguan menggenggam tangannya dan menjadi tidak konsentrasi bercerita. Ketidakmampuan dirinya untuk membuat keputusan semakin bertambah beriringan dengan banyaknya anak dan tugas rumah tangga yang tak ada habisnya. Ia mulai mengkhawatirkan hal-hal tadi yang menyela kesibukannya dari pagi hingga malam.  Lebih dan lebih sering ia kehilangan ketenangan jika berhenti membuat keputusan. Kolom pengasuhan anak sedikit sekali, bahkan tidak membantu, pada saat-saat seperti itu, meskipun ia mencoba mengingatnya. Kolom itu hanya membicarakan satu masalah dan satu anak di satu waktu. Masalah-masalah lainnya selalu harus menunggu hingga minggu depan.

Kali ini ia menghindari membuat keputusan. Pintu terbuka dan semua anaknya berbondong masuk ke dapur. Stjani, si sulung, memimpin yang lain. Di usia yang amat dini, dia telah menunjukkan minat mengagumkan akan biologi manusia dan hewan. Anak laki-laki yang sedaritadi mendengarkan cerita sekarang meluncur dari pangkuan dan mengambil posisi di antara saudara-saudara lelaki dan perempuannya. Mereka membentuk setengah lingkaran di sekelilingnya dan ia memandang mereka satu persatu.

“Mama, kami mau tahu rupa otak seseorang.”

Ia melirik jam dinding.

“Sekarang juga?” tanyanya.

Stjani tidak menjawab pertanyaan ibunya. Dengan anggukan kepala dan pandangan tajam, dia memberikan tanda kepada adik laki-lakinya, dan si adik laki-laki keluar dan kembali dengan tali, sementara Stjani mengencangkan pisau gergaji ke pegangan kursi. Tali kemudian diikatkan disekitar sang ibu. Sang ibu merasakan ketika tangan-tangan kecil meraba punggungnya sementara simpul dikencangkan.  Talinya dibuat longgar dan tidak butuh banyak usaha untuk meloloskan diri. Namun ia berhati-hati agar anak-anak tidak mengetahui hal itu. Stjani selalu sensitif akan kecerobohan tangannya sendiri. Tepat ketika anaknya, Stjani, mengangkat gergaji ke kepalanya, gambaran akan sang ayah dari anak-anak muncul di pikirannya. Ia melihat lelaki itu di hadapannya seperti dia sesekali terlihat: berdiri di ambang pintu dengan tas kerja di satu tangan dan topi di tangan lainnya. Ia tidak pernah melihat lelaki itu kecuali di pintu depan rumah, entah ketika lelaki itu sedang berjalan keluar atau masuk ke rumah. Ia pernah sekali berhasil membayangkan lelaki itu sedang berada di luar rumah di antara orang-orang atau di kantor, tapi sekarang, setelah anak-anak mereka lahir, mereka pindah ke rumah baru dan lelaki itu bekerja di kantor baru, dan ia kehilangan arah.  Lelaki itu akan pulang lebih cepat dan ia bahkan belum mulai menggoreng ikan. Darahnya sekarang mulai menetes dari kepalanya. Stjani sudah selesai dengan gergaji. Operasi itu nampaknya berhasil, dan lumayan singkat.  Lalu dia berhenti seakan sedang mengira-ngira dengan matanya, seberapa besar lubang yang dihasilkan. Darah memuncrat ke seluruh wajahnya dan makian terucap dari mulutnya. Dia menganggukkan kepala dan adik laki-lakinya buru-buru keluar ruangan untuk mengambil ember pel. Mereka menaruh ember itu di bawah lubang dan tak lama ember terisi setengah penuh. Prosedur itu selesai dilaksanakan tepat di saat sang ayah muncul di pintu rumah. Sang ayah berdiri kaku sesaat dan merenungkan pemandangan yang tersuguhkan kepadanya: istrinya terikat, dengan sebuah lubang di kepala, anak laki-laki bungsunya memegang otak berwarna abu-abu di tangan, anak-anak dengan rasa penasaran saling berkerumun membentuk grup, dan hanya ada satu panci di kompor.

“Anak-anak! Bisa-bisanya kalian berpikiran melakukan ini di saat waktunya makan malam?”

Sang ayah mengambil potongan tengkorak istrinya dan memasangnya kembali saat sang istri hampir mati karena pendarahan. Lalu dia mengambil kendali dan segera setelahnya anak-anak sibuk merapihkan diri mereka. Dia mengelap hampir semua noda darah di dinding sebelum memeriksa panci di kompor. Ada suara mencurigakan dari panci itu. Air sudah lama mendidih dan dia memindahkan panci dari kompor dan menaruhnya di meja besi di sebelah bak cuci piring. Saat dia melihat ikan yang setengah bersih di bak cuci piring, dia sadar bahwa istrinya belum bergerak dari kursi. Bingung, dia mengerutkan alis. Tidak biasanya istrinya hanya duduk-duduk ketika ada banyak hal yang harus dikerjakan. Dia menghampiri istrinya dan menatapnya dengan penuh perhatian. Ternyata, anak-anak lupa membuka tali yang mengikat istrinya.

Saat dia telah membebaskan istrinya dari tali, mereka saling menatap mata satu sama lain dan tersenyum. Tidak pernah ada saat harmoni mereka terasa lebih dalam dibanding ketika mata mereka bertemu karena rasa bangga atas anak-anak mereka.

“Anak-anak malang,” katanya, dan suara lelaki itu dipenuhi nada khawatir sekaligus sayang untuk keluarganya.

Tak lama setelahnya mereka duduk di meja. Semuanya kecuali Stjani. Anak laki-laki itu sedang di kamar mempelajari otak dibawah mikroskop. Sementara itu, ibunya menghangatkan makan malamnya di dapur. Mereka semua lapar dan menghabiskan makanan dengan lahap; makan malam kali ini lebih telat dari biasanya. Tidak ada perubahan terlihat pada sang ibu. Ia sudah keramas dan menyisir rambut melewati bekas luka sebelum ia duduk. Ekspresi tenangnya menampakkan kesabaran dan penyangkalan diri yang biasa terlihat pada waktu makan. Ekspresi ini pertama kali muncul bertahun-tahun lalu ketika ia selalu menomorsatukan anaknya dan hanya menyimpan bagian yang teramat kecil bagi dirinya sendiri. Sekarang anak-anaknya sudah cukup besar hingga mereka dapat mengambil potongan terbaik untuk diri mereka sendiri dan ekspresi sebenarnya tidaklah penting, namun sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kegiatan makan. Sebelum makan malam berakhir, Stjani masuk ke ruangan dan duduk. Sang ibu segera mengambilkannya makan malam. Di dapur, ia membersihkan ikan dari tulang dengan cermat sebelum meletakkannya di piring. Saat mengambil ember sampah untuk membuang tulang-tulang ikan, ia berteriak kencang. Otaknya ada di bagian paling atas ember itu.

Anggota keluarga lainnya bergegas keluar sesaat setelah teriakannya mencapai ruang makan. Sang ayah memimpin di depan dan segera mengetahui permasalahan ketika dia melihat istrinya menundukkan pandangan ke ember sampah. Teriakan istrinya telah padam, namun masih bisa terlihat di garis wajahnya.

“Kamu malu membuangnya, bukankah begitu, sayang?” dia bertanya.

“Aku tidak tahu,” jawabnya dan menatap dengan penuh rasa maaf. “Aku tidak berpikir.”

“Mama engga berpikir, mama engga berpikir, mama engga berpikir,” ejek salah seorang anaknya yang berselera humor tajam.

Mereka semua tertawa terbahak dan tawa itu nampaknya menyelesaikan masalah. Sang ayah berkata dia punya ide; mereka tidak harus membuang otak itu, mereka bisa merendamnya dalam alkohol.

Maka, sang ayah meletakkan otak itu di toples bening dan menuangkan alkohol di atasnya. Mereka membawa toples itu ke ruang tamu dan menaruhnya di rak pajangan. Mereka semua sepakat otak itu cocok ditaruh disana. Kemudian mereka menyelesaikan makan malam.

Tidak ada perubahan kentara pada rutinitas rumahtangga akibat hilangnya otak. Awalnya, banyak orang berkunjung. Mereka datang ingin melihat otak itu, dan mereka yang membanggakan diri karena memiliki mesin pintal tua nenek mereka yang diletakkan di sudut ruang tamu sekarang tampak iri akan otak yang ditaruh di rak itu. Sang ibu tidak merasakan sedikitpun perubahan pada dirinya bahkan sejak awal. Tidak juga sulit baginya untuk melakukan pekerjaan rumah tangga atau untuk mengerti majalah Denmark. Banyak hal bahkan menjadi lebih mudah dimengerti dibandingkan sebelumnya, dan situasi yang dahulu sempat membuatnya harus putar otak tidak lagi berlaku sekarang. Namun lama-kelamaan ia mulai merasa sesak di dada. Seakan paru-parunya tidak lagi punya cukup ruang untuk berfungsi dan setelah setahun berlalu ia pergi ke dokter. Melalui pemeriksaan seksama terungkap bahwa di dalam hatinya telah tumbuh usus in naturalis et adsidui causa.[5] Ia meminta maaf pada dokter karena telah melupakan Bahasa Latin yang pernah dipelajarinya di sekolah, dan dengan sabar sang dokter menjelaskan padanya bagaimana hilangnya satu organ bisa berdampak perubahan pada organ lainnya. Sama halnya dengan seorang pria yang kehilangan penglihatan akan menderita gangguan pendengaran akut, hatinya telah mengalami peningkatan aktivitas yang pesat di saat otaknya tidak lagi tersedia. Ini adalah perkembangan yang alami, lex vitae[6], konon begitu katanya – dan karena hal itu, sang dokter tertawa – tidak perlu khawatir karena dalil tersebut pasti adil. Maka ia tidak perlu takut. Ia dalam kondisi primanya.

 Ia merasa lega karena kata-kata itu. Belakangan ini ia khawatir hanya memiliki sedikit waktu tersisa dalam hidup, dan ketakutan ini telah menjadi suara lantang di dalam dadanya yang berkata: Akan jadi apa mereka jika aku mati? Namun sekarang ia menyadari bahwa suara ini, yang kekuatan dan kemurniannya semakin bertumbuh, bukanlah ramalan, melainkan suara hatinya. Hal ini membuatnya senang sebab suara hati seseorang dapat dipercaya.

Tahun demi tahun berlalu dan suara hatinya menunjukkan jalan: mulai dari kamar anak-anaknya dan ruang kerja suaminya hingga ke dapur dan kamar tidur. Rute ini berharga baginya, dan tidak sedikitpun angin yang menghempas dari pintu rumah cukup kuat untuk menyapu jejaknya. Hanya satu hal yang bisa bangkitkan ketakutan dirinya: perubahan yang tidak terduga di dunia ini. Tahun ketika orang-orang lima kali memecat dan mengganti gadis-gadis konter di toko susu, ia tidak pernah merasa baik-baik saja. Namun anak-anak tumbuh. Ia bangun bersamaan dengan mimpi buruk saat anak tertuanya, Stjani, mulai merapihkan kopernya untuk pergi menjelajah dunia. Dengan kekuatan berapi-api yang tak terkontrol ia melemparkan dirinya ke ambang pintu untuk menghadang anaknya keluar. Suara sesapan terdengar saat anak laki-laki itu menginjaknya kala melangkah keluar. Anak laki-laki itu mengira ia sedang merintih dan berhenti sejenak lalu berkata bahwa semua salah dirinya sendiri. Tidak ada yang menyuruhnya untuk berbaring di lantai. Wanita itu tersenyum kala ia bangkit karena apa yang telah dikatakan anak laki-laki itu tidaklah benar. Hatinya berkata untuk berbaring disana. Ia telah mendengar suara itu teramat jelas dan sekarang, saat ia melihat lelaki itu berjalan menyusuri jalanan, suara itu kembali berbicara padanya dan berkata kalau ia masih bisa merasa senang karena telah melunakkan langkah pertama anak laki-lakinya keluar menuju dunia. Setelahnya mereka semua, anak-anaknya, pergi satu per satu dan ia ditinggal sendirian. Ia tidak lagi punya hal untuk dilakukan di kamar anak-anaknya dan ia seringkali duduk di kursi goyang di ruang tamu belakangan ini. Jika ia mendongak, toples di rak terlintas di pandangannya, dimana otaknya berada selama bertahun-tahun ini, dan nyatanya, hampir terlupakan. Budaya membuat hal ini lumrah adanya. Kadang ia merenungkan ini. Sejauh yang ia lihat, otaknya baik-baik saja disana. Namun ia kehilangan kesenangan menatap itu. Membuatnya teringat anak-anaknya. Dan lambat laun ia merasa suatu perubahan sedang terjadi dalam dirinya, namun ia tidak bisa mengatakan hal ini pada suaminya. Ia jarang melihat suaminya akhir-akhir ini, dan kapanpun suaminya muncul di rumah, ia segera beranjak dari kursi, seakan tamu baru saja tiba. Suatu hari suaminya dengan sendirinya bertanya apakah ia tidak baik-baik saja. Puas, ia mendongak, tapi ketika ia lihat suaminya sedang menghitung rekening di saat yang bersamaan, ia jadi bingung menjawab (ia tidak pernah mahir dalam berhitung). Dalam kebingungannya ia berkata tidak punya cukup banyak hal yang bisa dilakukan. Suaminya melihat ke arahnya takjub dan berkata bahwa ada cukup banyak hal yang bisa dilakukan hanya jika orang menggunakan otak mereka. Tentu saja lelaki itu berkata demikian tanpa berpikir. Lelaki itu tahu benar kalau ia tidak punya otak, tapi bagaimanapun juga ia tidak mengartikannya secara harfiah. Ia menurunkan toples dari rak, membawanya ke dokter dan bertanya jikalau otak itu masih bisa digunakan. Dokter tidak meniadakan kemungkinan otak itu masih berfungsi untuk satu dua hal, namun di sisi lain, semua organ akan mengalami penyusutan setelah diawetkan dalam alkohol dengan rentang waktu sedemikian lama. Oleh karena itu, akan menjadi perdebatan apakah sebanding jika harus memindahkannya; sebagai tambahan, nervi cerebrales[7] telah berubah bentuk menjadi memprihatinkan, dan dokter bertanya apakah pernah ada sosok ceroboh yang melakukan operasi sebelumnya.

“Ia masih sangat kecil waktu itu, menyedihkan sekali,” kata si wanita.

“Omong-omong,” kata dokter, “Saya ingat anda pernah punya hati yang tumbuh pesat.”

Sang wanita menghindari tatapan menyelidiki sang dokter dan sebersit samar hati nurani mencengkeramnya. Ia berbisik pada dokter apa yang tidak berani ia ungkapkan pada suaminya:

“Suara hatiku telah bungkam.”

Saat mengatakan ini ia sadar mengapa ia datang ke tempat itu. Ia membuka kancing blusnya, melepaskannya, dan menyampirkannya rapi di belakang bangku. Bra nya juga bernasib sama. Lalu ia berdiri siap di hadapan dokter, telanjang dari pinggang ke atas. Dia mengambil pisau bedah dan menyayat, lalu sesaat kemudian dia menyerahkan hati yang merah juga berkilauan. Hati-hati dia menaruhnya di atas telapak tangan wanita itu dan tangan si wanita lalu mendekapnya. Detak ragu-ragu hati itu serupa kepakan burung dalam sangkar. Ia menawarkan untuk membayar sang dokter, namun dia menggelengkan kepala dan, melihat bahwa ia sedang dilanda kesulitan, dia membantunya berpakaian. Dia lalu menawarkan untuk memanggilkan taksi untuknya mengingat ia memiliki banyak hal untuk dibawa. Ia menolak, menyumpalkan toples berisi otak ke tas belanjanya dan menyampirkan tas itu di lengannya. Kemudian ia pergi dengan membawa hatinya di kedua tangannya.

Sekarang dimulailah long march dari anak yang satu ke yang lainnya. Mulanya ia pergi menemui anak laki-lakinya, tapi tak satupun dari mereka ada di rumah. Mereka telah menemukan tempat berlabuh di kapal Negara dan mustahil untuk berkata kapan mereka akan kembali. Terlebih lagi, mereka tak pernah berlabuh di rumah cukup lama untuk memiliki waktu melakukan hal lain alih-alih mengurus anak. Ia menarik diri dari kegetiran menantu perempuannya dan pergi mengunjungi putri sulungnya, yang membuka pintu rumah. Ekspresi terkejut dan jijik muncul di wajahnya saat melihat hati merah, berlendir, yang berdenyut di telapak tangan ibunya, dan ketakutan, ia membanting pintu. Tentu ini hanya reaksi sesaat dan segera ia membuka pintu kembali, namun ia menekankan pada ibunya bahwa ia sama sekali tidak peduli akan hati ibunya; dan ia tidak yakin hati itu akan cocok dengan furnitur baru di ruang tamu. Sang ibu lalu sadar bahwa sia-sia melanjutkan long march-nya, sebab anak-anak perempuannya yang lebih muda bahkan memiliki furnitur baru. Maka, ia pulang. Di sana ia mengisi toples dengan alkohol dan menjatuhkan hatinya ke dalam toples. Suara sesapan yang dalam, seperti hembusan napas dalam dada manusia, bisa terdengar saat hati itu tenggelam ke dasar. Dan sekarang, mereka berdiri beriringan di rak dalam toples masing-masing, otaknya dan hatinya. Tapi tak ada satupun orang yang datang untuk melihatnya. Dan anak-anaknya tidak pernah datang berkunjung. Mereka selalu beralasan sibuk. Namun kenyatannya, mereka tak suka bau steril yang melekat pada segala hal yang ada di rumah. (*)

______________________________________________

[1] Teks asli berjudul Saga Handa Börnum dalam Bahasa Islandia diterjemahkan oleh Dennis Auburn Hill ke dalam Bahasa Inggris berjudul A Story for Children. Teks diunduh dari http://www.shortstoryguide.com/feminist-short-stories/.  Dalam cerita ini, ia adalah kata ganti untuk perempuan dan dia adalah kata ganti untuk pria.

[2] Svava Jakobsdóttir (1930-2004) ialah seorang penulis, politikus, juga feminis asal Islandia. Ia banyak menyuarakan hak-hak perempuan dalam karyanya. Jane Simmonds (1999) dalam buku berjudul Iceland (1999) menyebutnya sebagai penulis yang berhaluan feminisme surealis.

[3] Dalam cerita ini, ia adalah kata ganti orang ketiga perempuan, dan dia adalah kata ganti orang ketiga lelaki

[4] Fru Enson, Bahasa Denmark: Nyonya Kesepian

[5] Latin: kasus yang melibatkan penggunaan yang tidak wajar dan terus-menerus

[6] Latin: dalil kehidupan

[7] Latin: saraf otak

 

Cerpen

Rahwana Di Tepi Kolam Pemancingan Ikan

mm

Published

on

Memancing adalah usahaku menyelamatkan diri dari kematian. Bagaimana bisa? Iya, setiap ikan yang kudapat dari kolam pemancing mampu menyelamatkanku dari kematian itu. Kematian macam apa? Mengusahakan hidup bahagia bukankah kalimat lain dari menghindari kematian. Dan buatku itu mulia. Sedangkan hidup yang penuh duka nestapa, kesedihan, kesusahan, kemurungan, kegalauan dan lain sejenisnya serupa dengan kematian. Kematian semasa hidup. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Siapa tahu, apa yang sudah menggerakkan pikiranku hingga setubuhku, sepagi itu, mematung hidmat di tepi kolam pemancingan ikan. Yang kulakukan bukan laku orang suci yang menyepi di dalam gua Tsur atau naik ke Sinai atau Olympus.

Seperti aku yang beribu, kota ini semestinya memiliki asal-usul yang bisa ditelusuri secara genetika sejarah. Itu akan berguna seperti markah jalan yang akan menolong para sopir. Sopir itu adalah anak-anak zaman dalam perjalanannya menuju kehidupan agung, bukan kematian. Manusia, dalam ekspedisi hidupnya, mengikatkan diri pada dua mitologi, ibu dan rumah. Sehingga, Abdul Wachid BS pun tak kuasa menolak, maka jadikannya sekumpulan puisinya, Rumah Cahaya. Bahkan, sebuah negara menyebut pusat administrasi pemerintahannya dengan nama ibu kota. Jakarta adalah tempat yang kupilih untuk tinggal, meninggalkan ibu di kampung kelahiranku. Sebagai penghormatan, aku menyematkan nama kampung itu di belakang namaku dalam kartu nama.

Kota bagi ibuku tak ubahnya sawah yang ditumbuhi gedung pencakar langit sebagai gulma. Sedangkan gulma adalah sianggit yang akan merebut dengan serakah hara yang menjadi cikal bakal bulir-bulir padi yang hanya mahal ongkos produksinya.

Pernah suatu ketika, aku terbangun dengan mata yang tak awas karena sisa-sisa kantuk mengira terjadi gempa. Sepasang sandal murahan, kipas angin yang sudah rusak, dan keyboard mengapung di atas air setinggi dengkul. Beruntung, laptop dan flashdisk sempat kutaruh di meja sebelum tidur. Kalau dua benda itu ikut terendam, itu akan menjadi subuh terkutuk kedua terbesar dalam sejarah dosa manusia seperti yang menyebabkan Ratna Anjani dan dua saudaranya mewujud segawan, kera.

Tapi, benarlah kata ibu, segala yang di dunia adalah nisbi. Terbatas ruang dan waktu. Dari derita Anjanilah kemudian lahir Anoman yang agung. Kota ini begitu arogan dan culas, hujan pun dituduh sebagai penyebab banjir yang mengapungkan sampah tak berharga dalam kamarku itu. “Menanam padi, pasti akan tumbuh gulma, tapi tak kebalikannya,” kata ibuku suatu hari.

Apa sudah menjadi tabiatnya, manusia takut perubahan, apalagi yang mendadak. Yang membuat kaget. Jantungan. Yang darah tinggi bisa stroke, kalau tak modar sekalian. Bukankah manusia dibekali kemampuan menalar, menganalisis, bersistesis, mengevalusi hingga berimajinasi untuk mengada dari yang ada sesuai kebutuhan dan seleranya. Orang di kota ini, ibarat menanam benih padi kualitas terbaik di atas tanah subur, tapi tak dirawat. Ia akan  menjadi rumpun liar. Angker. Anak-anak takkan menjadikannya tempat bermain, orang dewasa tanpa kesaktian yang mumpuni akan mati sia-sia tak mampu menaklukan ketakutan dan kesunyian di dalamnya.

Kota ini kapankah lepas dari kutukan. Penduduknya diharamkan dari sinar matahari. Tubuh mereka terhimpit bangunanan yang semakin hari makin tinggi besar seperti Rahwana yang lahir dari ayah ibu yang terhasut nafsu. Bahkan, ayam jago tak tahu kapan waktu berkokok, makan, dan kawin. Anak-anak tak bisa membedakan fajar atau senja, timur atau barat, siang atau malam, bagaimana mereka ingat pulang ke rumah dan ibu?  Wajah mereka letih dan tua, bosan dengan permainan hingga berubah friksi.

Sementara itu, kota ini makin sempit karena penduduk harus berbagi tempat dengan koloni tikus, kecoa, dan lalat. Mereka bukan hewan biasa—kalau manusia tak mau disamakan—dari leher hingga kaki mereka adalah manusia, hanya kepala saja yang menyerupai hewan-hewan yang akrab dengan sampah itu. Ah, penduduk kota yang manusia seutuhnya makin punah, dalam satu malam mereka telah berrevolusi menjadi manusia berkepala hewan hanya dengan hasutan dan fitnah. Mereka yang sadar dan tak sanggup menerima perubahan itu memutuskan mengakhiri hidup alih-alih hidup tersiksa tak kuat menahan malu. Ah, kata mereka yang bertahan, malu takkan buat orang kenyang dan hidup.

Hari ini, di kota yang tak penah ibu injak tanahnya, semua kata-kata ibu menjadi nyata. Aku membayangkan, kota ini akan bebas dari kutukan kesialannya bila tanahnya sekali saja ibuku menginjakkan telapak kakinya yang penuh tuah. Seakan kebenaran itu datang kepadaku hanya untuk menggatikan jasadnyanya. Ia datang ketika ibu telah memantapkan dirinya untuk tinggal seorang diri di rumah sunyi tanpa pintu dan jendela. Tapi, aku sendiri menjadi geli ketika tersadar aku sendiri—sebagai penghuni kota—tak pernah menginjak tanahnya dalam arti yang sesungguhnya, kecuali latai keramik atau marmer dan jalan beton atau aspal.

Tanggal merah di hari Jumat—kemewahan yang langka untuk para buruh urban sepertiku—menjadi tanpa makna. Umumnya, orang sepertiku akan pulang kampung, atau menepi ke puncak Bogor menyewa vila untuk satu atau dua malam. Di antara keduanya tak satupun kupilih. Ibarat orang luka parah, hanya diberi obat penahan rasa sakit, bukan disembuhkan lukanya.

Aku tak punya lagi alasan untuk pulang kampung. Berkereta empat atau lima jam hanya untuk menziarahi kuburan rasanya hanya akan menambah deritaku. Aku bahkan tak tahu di sebalah mana ibuku dikuburkan. Apa yang mesti kukatakan pada orang-prang kampung. Mereka akan bertanya, kenapa tak pulang di hari kematian ibumu? Apa tempat kerjamu di tengah samudera sehingga tak dapat dihubungi? Untuk apa pandai dan bersekolah di luar negeri kalau sekarang hanya jadi buruh? Bukankah bos di perusahaanmu yang tak selesai kuliah karena dropout?

Ibu tidak menyukai hobiku yang satu ini meski tak pernah mengatakan dan melarangku. Satu-satunya hal yang tidak pernah ia mau lakukan untukku adalah memasak ikan pancinganku. Karenanya, aku terbiasa mengolah ikan sendiri. Ikan-ikan itu tak pernah kumakan, melainkan kuberikan pada tetangga kanan-kiri rumah. Kepada ibu, mereka kerap memberi pujian atas kemampuanku mengolah ikan. Karena itu pula, ibu sering mendapat kiriman balasan dari para tetangga dalam bentuk masakan yang lain.

Joran yang kuletakkan di lantai tepi kolam yang disemen kasar itu bergerak. Umpannya disambar ikan. Kaki kananku sigap menginjak pangkal joran. Tangan kananku angkat ujung jorannya. Berat. Joran itu membentuk parabol yang indah seperti lengkungan pelangi. Aku merasa joran itu akan patah. Aku melepaskan kuncian tali, memberi jarak yang cukup untuk ikan melakukan perlawanan.

Perlawanan ikan segera berganti pada kejadian empat puluh hari setelah kematian ibu. Satu jam tertidur di dalam mobil, getar ponsel di saku kemeja yang tak lagi rapi membangunkanku. Sejam kemudian, kami baru sampai di rumah setelah kujamu mereka makan malam di restoran mewah. Tak ada pembicaraan serius selama perjamuan, hanya perkenalan seorang gadis yang turut bersama paman.

Selepas subuh, gadis itu sudah berada di dapur yang aku sendiri tak pernah memakainya. Memasak air untuk membuat kopi, kebiasaan yang entah kapan terakhir kali lakukan.

Setelah membicarakan masalah rumah dan sawah peninggalan ibu dan ayah yang harus kuurus agar tak terbengkalai, dia mengingatkanku tentang perjodohanku dengan anak perempuan saudari sepupu ibuku, anak tetangga yang dulu sering kukirim ikan pancingan.

Astaga, ibu pun membaca bahasa cinta masa kecilku yang aku sendiri hampir lupa. Aku berkecil hati karena pernah menyembunyikan sesuatu di balik punggungku dari ibu, dan itu gagal. Meski bukan sesuatu yang perlu ditutupi karena bukan dosa seperti yang pernah melahirkan Rahwana.

Tapi, itu baru hidangan pembuka di restoran, hidangan intinya adalah akulah Rahwana itu sendiri. Gadis yang dijodohkan dengaku oleh ibu adalah Sinta yang hatinya telah dikuasai Rama. Sinta datang kepadaku untuk meminta pembebasan atas ikatan perjodohan yang disepakati antara ibuku dan kedua orang tuanya.

“Bagaimana?”

Aku tak merasa perlu segera menjawab. Kuminum kopi buatan Sinta. Dua tamuku terlihat tegang menunggu jawabanku. Tanpa sadar, aku menghabiskan satu cangkir kopi itu dalam satu teguk saja.

“Aku setuju melepas perjodohan itu.”

Sejam berlalu, ikan menghentikan perlawanannya kemudian bersikap tenang meski mata kail sudah menancap di antara bibir dan matanya. Aku menunda ikan yang hampir pasti kudapat untuk menjawab telfon. Baru kuambil ponsel itu dari dalam tas, berhenti. Kubaca notifikasi, sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, Sinta. Kubuka pesan WA, foto undangan pernikahan dengan desain sampul gunungan wayang. Tercetak tulisan emas dua nama Sinta dengan Rama, pamanku.

Joran yang sejak tadi kuinjak pangkalnya itu kuangkat. Berasa ringan. Ikan lepas bersama kailnya. Aku membuka tas kecil di pinggang, mengmbil dan memasang kail yang baru. (*)

Bunga Pustaka, 2017

*) Mufti Wibowo. Penulis, tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan 06 Purwokerto. Email: bowoart60@yahoo.co.id

Continue Reading

Cerpen

Jika Neraka Itu Ada…

mm

Published

on

Ole: Ferry Fansuri

Terkadang saat kuberdiri diantara senja itu kubisa merasakan hawa dingin yang pekat, bisa kusentuh aliran udara disekitarku. Terasa waktu berhenti seketika, entah ini sebuah ilusi tapi yang kurasakan nyata. Gejala itu selalu terjadi ketika mata ini menemukan burung-burung gereja berkeliaran di sekeliling diriku. Cuma aku tak habis berpikir kenapa burung-burung gereja ini ada disini, apalagi kampung ini tidak ada tradisi atau jejak burung-burung gereja itu.

Mereka begitu jinak berjalan dihamparan sawah kampung kami, melompat-lompat sesekali terbang rendah di dahan-dahan, ranting pada pohon-pohon rindang disana. Munculnya burung-burung gereja ini semenjak pertikaian itu terjadi di kampung kami. Dulu kampung ini yang dibelah sungai yang mengalir di tengah-tengah memberikan penghidupan bagi penduduk disini. Tanah disini bagai melempar sebuah biji akan menghasilkan buah-buahan, tumbuh subur dan tak pernah habis.

Disini dulunya terdapat dua kampung yang saling berdekatan biarpun secara harfiah berbeda. Kampung Maidiling ada diutara sungai ini, disana tengah bangunan kokoh bertahtakan tembok dan diatas tanda salib. Gereja bergaya renaisance menjulang dan dipuja masyarakat Maidiling. Sedangkan bagian selatan dari sungai besar tersebut Kampung Sidempuan setiap senja atau saat ayam belum berkokok, alunan ayat-ayat suci begitu merdu ditelinga. Dua kampung saling berdekatan dan bersahabatan, berabad-abad tak pernah sekalipun bermusuhan atau menumpahkan darah untuk hal yang konyol sekalipun.

Tapi tepat dua ratus abad setelah bulan Oktober yang lalu, masa kelam merudung kedua desa tersebut. Diawali gemuruh awah hitam bukan menandakan hujan, muncul sosok asing yang meracuni kedua desa tersebut. Dia datang entah darimana atau dari dunia antah berantah, mulutnya begitu berbisa dan siapa saja yang mendengarkannya seperti dihipnotis untuk membenarkan semua perkataannya. Berkoar tentang kemurnian ajaran, siapa sesat atau bukan, pilihan neraka atau surga dan hal-hal yang tak bisa dipikirkan oleh akal pikiran.

“Tak maukah engkau janji Surga bagimu jika masih membenarkan Neraka untukmu”

Doktrin-doktrin itu membangkitkan napsu purba dalam penduduk kampung tersebut. Orang asing menuduh bahwa toleransi adalah bahaya laten yang harus diberantas sampai akar-akarnya. Semua perbedaan akan menimbulkan pertikaian di masa depan jika tidak ditekan sejak dini.

“Sesuatu yang murni itu merupakan hal mutlak dan tidak bisa diganggu gugat”

Entah kenapa dari sanalah kemudian muncul wajah-wajah beringas kesetanan yang terus merangsek ke ubun-ubun. Hawa iblis keluar dari cangkang manusianya, saling olok, ejek kemudian adu fisik tak terhindarkan. Aku dulu merasa hawa yang begitu panas melingkupi kampungku ini, Sidempuan dulu berhawa sejuk karena konon kadar oksigen disini tinggi hingga harapan hidup penduduknya tinggi diatas rata-rata. Tak heran disini tak pernah jatuh sakit biarpun sudah berumur lebih 100 tahun.

Tapi saat ini berbeda, pertumpahan darah terus terjadi. Gesekan kecil atas nama agama pun berujung bertikai tak habis-habisan. Aku sendiri tak habis pikir mengapa mereka menumpahkan darah hanya janji-janji surga dan neraka sesuai ajaran yang mereka pegang. Apakah nalar dan logika mereka tak dipakai untuk mencerna semua ini?.

Tiap kali ada hinaan dari kampung sebelah, kumpulan pemuda kampung ini terbakar emosi dan menyulut emosi. Tangan-tangan mereka berkumpul benda-benda tumpul yang dikit demi dikit diasah menjadi tajam. Tapi aku tak bergeming sedikitpun atas ajakan mereka, caci maki dilontarkan dari mulut-mulut mereka yang berbusa dan berbau arak.

“Pengecut !!”

“Penista !!”

“Murtad!!”

Ocehan dan rancuan mereka tan aku gubris sama sekali, lebih baik aku moksa daripada harus menebas orang-orang yang tak sejalan dengan kita. Manusia diciptakan dengan derajat yang sama yang membedakan amalan dan napsunya.

Mereka selalu pulang dengan bersimbah darah apakah itu sebuah kemenangan atau kekalahan, itu sama saja. Andai aku bisa menghentikan semua tanpa kaki ini tetap terjejak masuk kedalam tanah.

Sebenarnya aku membenci mereka yang melakukan ini. Demi apa? demi rancuan-rancuan tak becus menerangkan apa itu Surga atau Neraka.

Aku membenci mereka yang culas menjual agama demi sebuah kemurnian yang omong kosong belaka.

Aku menghujat mereka yang begitu gampang menumpahkan darah saudara-saudara yang tak sejalan atau tidak seiman. Mereka menganggap apa yang dilakukan adalah perang suci yang direstui penguasa langit.

Kuingin melenyapkan mereka !

Memberanggus !

Menggibas !

Menghembuskan topan !

Memporak porandakan !

Tapi aku hanya manusia lemah hati dan pikiran, ada secuil ketakutan yang berkutat dalam rongga dadaku. Menyerah akan keadaanku yang ganjil dan mereka pun mengucilkan dan memasung diriku di tanah antah berantah. Hingga mereka bisa bebas melakukan pekerjaan nistanya itu tanpa diriku.

Hura-hara itu sudah sampai ke titik pedih, kulihat langit mendung berbalut merah jingga hampir semerah darah. Teriakan-teriakan menyayat dari wanita serta bocah kecil membahana beriringan kegelapan menelusup.

Kejadian itu terus bergulir dari hari ke hari, minggu ke mingu sampai berbulan-bulan. Entah aku tak tahu sampai kapan ini akan berakhir, dulu disini gemah lo jinawi berganti gersang sengsara. Tanah disini kering membentuk petak-petak pecah, tak ada juluran padi atau korekan katak, semua hilang kusam.

***

            Kehampaan dan keheningan ini selalu kurasakan saat memasuki kampung ini, udara sekitarnya sekali lagi terhenti. Kaki ini mencoba melangkah dan sejurus mata ini melihat rumah-rumah itu tampak kosong melompong tanpa penghuni. Kemana orang-orang beringas itu, apakah masih trengginas untuk menyerang kampung sebelahnya? Atau semua tewas ditebas parang terbang kiriman dukun sakti milik kampung seberang.

Tidak ada jejak kaki atau saksi mata yang nyata untuk ditanyakan, makhluk hidup tak diijinkan menghirup napas di bumi Sidempuan ini. Sungai disana tampak keruh hitam pekat bak tinta yang akan dikuaskan pada lukisan kesedihan. Langit diatas tidak sejingga dulu, sekarang merah sedarah. Tiba-tiba gemuruh beriringan  kilat berkejaran dengan guntur, awan hitam itu menyemburkan airmata yang tersampaikan hujan. Titik-titik air itu mengenai mata dan mukaku, bau amis dan sangir terasa di hidungku.

Ini darah!!

Guyuran hujan itu berubah menjadi darah mengenangi tanah, kaki telanjangku merasakan gemericik air darah itu. Tapi yang kurasakan beda, rinai hujan perlahan menetes seperti waktu terhenti seketika. Ujung jariku bisa menyentuh bulir-bulir itu, aku bisa menyibak dan menepisnya. Gejala apakah ini?

Bersamaan itu muncul burung-burung gereja berkeliaran di sekitarku. Kasat mata aku melihat ratusan bahkan ribuan burung gereja itu terbang berseliweran tak tentu arah. Berputar-putar diatas kepalaku, kemudian hinggap diatas kubah berujung bintang rembulan itu.

Sunyi dan senyap.

Terkadang ada sebuah pertanyaan yang dalam tempurung otak ini bergeliat saat melihat burung-burung gereja yang nangkring di kubah bulan bintang ini. Agama apakah yang tepat buat mereka? Mereka dikenal burung gereja yang bisa hinggap kemana mereka mau tanpa kuatir. Jika mereka punya agama, tak mungkin rela menjejakkan kakinya diatas kubah itu.

Suara-suara koak-koak itu muncul dari burung-burung gereja itu, menciptakan senandung kematian yang memekakkan telinga ini. Mata bulat hitam itu menatap tajam ke arahku, mereka seperti menginginkan diriku. Sekali kepak berterbangan jingkat diatas ubun-ubun, berputar-putar. Sekali kibas, burung-burung gereja itu menerjang. Mata ini melihat itu dengan terbelalak tak percaya, mereka mengincar mata ini. Paruh burung-burung itu menusuk kedua mata ini, masuk kedalam menyelinap dan melesat hilang dalam pupil bola mata ini. Mereka terus masuk tanpa henti, aku hanya berteriak kesakitan.

“Hentikan !!”

Teriakanku tak membuat mereka berhenti memasuki mataku, tidak hanya satu tapi ribuan terus dan terus. Akhirnya terhenti saat burung gereja terakhir lenyap kedalam kedua mataku. Aku merasakan perih yang amat sangat, disela-sela kelopak mataku meleleh darah hitam pekat. Aku hanya bisa memegangi dan menutupi salah satu mataku, raunganku menggelegar.

Aku pun tertunduk.

Saat kubuka mata ini, kulihat sekitarku bergelimpang mayat-mayat bersimbah darah dan tangan kananku lunglai begitu saja meloloskan sebilah parang belepotan darah segar yang tercecer beku.  (*)

Surabaya, November 2017

Continue Reading

Cerpen

Layar Sebelah

mm

Published

on

Galeh Pramudianto *)

Untuk pertama kalinya Pentol bertemu dan berbincang lama dengan seorang produser film. Hal yang awalnya sering ia bayangkan, namun tidak secepat ini terjadi. Tiga hari yang lalu sebelum ia dimaki-maki dan dinasihati Bang Nide, Pentol mendapat telepon dari salah satu rumah produksi film.

“Ini dengan Mas Pentol? Bisa ke kantor Layar Sebelah sekarang? Kami sedang butuh penulis skenario horror.”

Tanpa pikir panjang Pentol langsung menuju kantor Layar Sebelah. Ini awal yang bagus untuk masuk ke industri film di Indonesia, Pentol meyakini. Maka bergegaslah ia ke kantor Layar Sebelah. Pentol duduk di ruang tunggu, ketika satpam sedang memanggil salah seorang kru. Ia perhatikan benar-benar kantornya. Dinding dengan balutan warna kuning gading, dibubuhi banyak kata-kata motivasi dan penyemangat hidup. Ia mendelik. Merasa belum mendapatkan atmosfer rumah produksi yang bergerak di bidang sinematografi, ia melihat ke sudut dinding lainnya.

Terpampang poster-poster film berjudulkan ajaib: Hantu Terbang Tanpa Hati, Setan Asem Manis, Jenglot Jengkol, Kuntilanak Kekanak-kanakan dan lain sebagainya. Pentol menelan ludah. Awalnya ia ingin mengabadikan gambar-gambar tersebut lewat telepon genggamnya, namun urung ia lakukan karena sudah keburu dipanggil oleh salah satu kru Layar Sebelah. Masuklah ia ke dalam suatu ruangan.

“Dengan Mas Pentol?” tanya salah seorang kru perempuan dengan tatapan sedikit heran.

“Iya Mbak, betul.”

“Mas selama ini sudah pernah nulis apa aja?”

Langsung dihujam dengan pertanyaan oportunis, Pentol langsung menjawab diplomatis.

“Sejauh ini satu film televisi (FTV) dan serial horor, Mbak. Tergantung kebutuhan dari

pihak Layar Sebelah, saya siap untuk menulis genre apapun.”

“FTV dan horor? Judulnya apa? Pol skenario atau hanya sinopsis?”

“Ehm, satu skenario dan satu sinopsis mbak.”

Pentol seperti tidak siap menerima jawaban. Ia sedikit terbata menjawab. Mbak-mbak yang belum memperkenalkan nama tersebut, memandang wajah Pentol dengan terukur. Dari kening sampai dagu. Seolah kualitas penulis skenario dapat dilihat dari tampangnya.

“Oke, jadi begini. Saya dapat kontakmu dari Mas Jae. Kenal kan?” Pentol kembali

kebingungan.

“Saya kenalnya bang Nide mbak.”

“Oalah Nide. Iya, Jae dapet kontakmu dari Nide. Jadi gini mas, kenalin saya Okta. Layar

Sebelah lagi ada proyek untuk film layar lebar. Mas sudah sering bikin horor?”

“Sering sih nggak mbak Okta, tapi saya orangnya mau belajar dan terus terpacu

menghasilkan karya-karya terbaik unuk belantika film Indonesia.” Dengan sok gagah

Pentol menjawab.

“Oke, film horor terakhir apa yang kamu tonton? Terus kenapa kamu suka itu?”

“Lokal atau luar?”

“Terserah.”

“Saya suka film Rekah. Manifestasi horor yang begitu kuat lewat atmosfer dan

pembangunan karakter. Premis kuat dengan mengambil mitos kebudayan di Indonesia. Dicampur dengan realisme magis ala prosa latin, membuat Rekah begitu manis dalam mise en scène—”

“Oke, oke cukup. Kalau sutradara favorit?” Mbak Okta memotong.

“Tapi yang luar negeri belum Mbak?”

“Udah, udah. Nggak masalah.”

“Kalau untuk dalam negeri saya suka sama mas Girang Negeri. Karya-karyanya begitu

berisi dengan konten yang artistik dan kedalaman cerita. Ia sering kali mengangkat nuansa lokal diimbangi dengan kebudayaan populer. Mas Girang bisa mengimbangi antara estetika dan komersil. Antara film sebagai seni dan sebagai bisnis, lalu—”

“Oh oke, cukup. Cukup.”

Mbak Okta kembali memotong penjelasan Pentol. Kemudian ia menelpon atasannya. Produser yang dimaksud.

“Ayo ikut saya ke atas. Kita ketemu Pak Kapur.”

**

“Sebelum kita masuk ke konsep cerita, deal di awal dulu deh ya mas. Nanti udah sepakat, malah harganya yang nggak cocok lagi.” Ujarnya terkekeh.

Pentol kembali belum siap langsung ditembak harga. Ia berpura-pura memasang wajah sok tahu dan berpengalaman. Ia yakin bahwa harga ini langsung cocok dan kesempatan dia untuk menulis skenario layar lebar dapat terwujud.

“Empat, Pak Kapur.”

“Wah gila kamu. 40? Memang kau sebelumnya sudah pernah nulis layar lebar?”

“Empat juta Pak.”

Raut muka Pak Kapur langsung berubah. Pria keturunan India ini nampak menyunggingkan senyum. Kemenangan seperti berada di kubu Layar Sebelah. Pentol nampak merasa menyesal. Ia begitu lugu dan tidak mengetahui industri film seperti apa dan berapa upah yang layak untuk dibayarkan.

“Oke kalau begitu Pak. Jadi saya ada proyek film layar lebar. Bapak belum pernah nulis untuk layar lebar kan? ini kesempatan bapak untuk masuk ke industri. Kalau film ini meledak, yang untung jelas bapak. Bapak akan dicari ke mana-mana dan dapat banyak tawaran,” Pak Kapur tersenyum.

“Nah sekarang kita lihat cuplikan film ini dulu. Setelah itu saya jelaskan.”

Pak Kapur pun menjelaskan dengan rinci. Ia mengatakan akan membuat film horor berjudul Vila Berhantu. Pentol awalnya ragu, karena Pak Kapur menyomot alur di film yang telah ditonton sebelumnya untuk kepentingan film yang ia inisiasi. Tapi Pentol berpikir lebih jauh. Ia menganggap ini sebagai batu loncatan untuk karir menulisnya. Selama ini, sebagai mahasiswa prestasi menulisnya hanya sampai tingkat universitas. Label medioker erat dengannya. Maka ia terima lah film hantu yang aji mumpung itu.

“Bagaimana Pak? Sepakat? Saya tunggu 3 hari dari sekarang sudah jadi draf 1 ya?”

“Nggak kerangka dulu pak? Outline?”

“Wah saya maunya langsung skenario. Orang yang kerja sama dengan saya semua

langsung skenario. Saya nggak mau capek-capek dan buang-buang waktu banyak baca. Ya, you tau sendiri kan, I sibuknya kaya apa? pendanaan, pemasaran, pengawasan dan lain-lain. Yah, you tau lah kayak beginian.”

Keduanya pun bersalaman dan sepakat. Pentol keluar Layar Sebelah dengan perasaan berkecamuk. Senang karena mendapat kesempatan nulis film layar lebar, dan bingung karena masih belum tau birokrasi dan ritme kerja dari industri ini.

**

Saat mengendarai motor untuk sampai rumah, Pentol tersenyum-senyum sendiri. Ia kilas balik dengan pengalamannya saat ikut unit kegiatan mahasiswa (UKM) di bidang sinematografi. Dari mulai pertama kali ia menjadi boom man ketika produksi bersama seniornya di UKM, sampai menulis dan menyutradarai film pendek pertamanya sendiri. Meski prestasi terbaiknya di bidang audio visual hanya sampai tingkat nominasi di sebuah kompetisi film pendek, namun ia yakin dengan semua pelajaran itu.

Vila Berhantu sekali lagi baginya bisa menjadi batu loncatan untuk melangkah lebih jauh. Ia kesampingkan egonya ketika berhadapan dengan film festival art-house yang semua orang awam tidak mengerti. Ia singkirkan pandangan bahwa long shot dengan objek yang statis adalah manifestasi semiotik gambar yang luhur. Ia sekarang fokus pada permukaan saja: jam weker menandakan pagi hari, kokok ayam, matahari terbit, adegan berlari dengan latar musik kencang, dialog-dialog klise dan lain sebagainya. Pentol mulai mendalami itu semua. Hal yang sebenarnya ia jauhi saat bergiat di UKM-nya terdahulu.

Tiga hari telah berlalu. Beberapa kali ponsel Pentol berdering. Pak Kapur menagih janji yang sudah disepakati: Draf 1 Villa Berhantu. Namun, Pentol panik. Naskahnya belum selesai. Tinggal beberapa adegan untuk mencapai garis finis. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Pentol, karena ketika mendapat mandat ia langsung mengejar hal yang tidak ia ketahui secara mendalam. Ia riset tentang berbagai formula film horor. Jump scare yang tidak kacangan. Membangun atmosfer ketakutan dengan logika. Semua ia bangun dengan presisi. Ia tidak mau namanya buruk di kalangan kritikus ketika lagi-lagi film horor yang keluar berbau seks dan cacat logika. Namun, hal tersebut malah menyita waktunya. Ia riset selama seharian penuh, dan dua hari ia kebut untuk adegan serta dialog.

“Pentol! Kau jangan malu-maluin saya! Sudah benar namamu saya rekomendasikan.

Kredibilitas saya yang hancur, bukannya kau!”

Pentol pun menjelaskan dengan panjang lebar ke bang Nide lewat telepon. Bang Nide adalah guru teater dan filmnya ketika masa SMA. Ia mengatakan tidak bisa mengatur ritme kerja ketika ditawarkan nulis layar lebar namun hanya dengan 3 hari harus sudah selesai. Mendengar 3 hari tenggatnya, bang Nide pelan-pelan mulai memahami masalahnya.

“Ya, harusnya kau kabarkan ke Pak Kapur dong kalau belum selesai. Jangan hilang

ditelan bumi begini. Kan yang kena semprot saya juga.”

“Iya bang. Saya takut kalau bilang belum selesai nanti saya dicoret dari proyek ini. Masalahnya saya belum tekan kontrak.”

“Memangnya kau pasang tarifmu berapa—3 hari bisa selesai?”

“4 juta bang.”

“Tolol kau Tol! Masak bikin layar lebar dihargain 4 juta. Merendahkan penulis skenario

itu namanya. Merendahkan saya juga. Layar lebar tuh minimal 10 juta.”

Pentol makin tersudut ketika mengetahui fakta langsung dari praktisi. Ia arahkan kursor untuk menyimpan hasil ketikannya selama 3 hari belakangan. 3 hari yang membuatnya tak beranjak dari manapun kecuali kamar mandi dan dapur.

“Oke begini deh. Sebenernya keterlaluan juga 3 hari jadi draf 1. Tidak ada itu di industri.

Minimal skenario layar lebar itu 2 bulan. Revisi sana-sini. Itu pun kalau kita ngomongin kualitas. Nah sekarang coba kita kerjain bareng-bareng. Kau besok ke rumahku, deh ya.”

**

Untuk pertama kalinya Pentol bertemu dan berbincang lama dengan seorang produser film. Hal yang awalnya sering ia bayangkan, namun tidak secepat ini. Tidak secepat ini menerima kenyataan pahit bahwa skenario yang ditulisnya dengan susah payah belum ada kabar sampai setengah tahun lebih. Setelah bang Nide dan Pentol sepakat untuk menawarkan harga 20 juta kepada Pak Kapur, maka dari itu pula Pentol belum mendapat kabar lanjutan dari bang Nide dan Pak Kapur.

Ia menyadari bahwa batas antara reel life dan real life itu memang begitu tipis. Setipis harapannya saat ini yang terbentur dengan realita. Dari kejadian tersebut Pentoel jadi teringat salah satu cerpen yang ia pernah baca saat awal kuliah. Cerpen tersebut berjudul What is Really Good Picture for Me karya Misbach Yusa Biran. Sambil telentang di atas kasur, Pentol membaca kalimat akhir cerpen tersebut, begini bunyinya: Mereka menuntut betul adanya film Indonesia yang bermutu, masa tidak mau sedikit mempertaruhkan uangnya demi kemajuan seni film Indonesia? Siapa tahu!

*) Galeh Pramudianto, bekerja sebagai tenaga pendidik dan mengelola media Penakota.id bersama handai tolannya. Naskah teaternya Poligon masuk nominasi Rawayan Awards 2017 (DKJ) Karya-karyanya telah dimuat di media lokal dan nasional. Beberapa cerpennya termaktub di antologi bersama Kelas Melamun (2017). Buku puisi perdananya Skenario Menyusun Antena (IBC, 2015).

Continue Reading

Classic Prose

Trending