Connect with us

Milenia

Sastra Anak: Ingatan dan Keluhan

mm

Published

on

A.S. Laksana, Hamid Basyaib, dan Reda Gaudiamo memberi sindiran di awal pertanggungjawaban: “Anak-anak penting bagi banyak orang, dan bagi banyak kepentingan, kecuali bagi para penulis. Para penulis bagus yang kita miliki, atau setidaknya nama-nama yang dikenal sebagai penulis bagus, hampir tidak ada yang menulis buku cerita anak-anak. Mereka merelakan penulisan buku anak-anak kepada orang-orang yang bukan penulis.

Bandung Mawardi *)

Pada 4 Desember 2019, penulis berada di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, memiliki pengharapan mendapat kejutan di hajatan sastra. Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) membuat sejarah baru dengan Sayembara Cerita Anak. Hajatan mendapat tanggapan menggairahkan dari para penulis dan publik. DKJ mencatat ada 198 peserta. Gairah pengiriman naskah itu membuktikan ada situasi aneh dalam kesusastraan anak. Yusi Avianto Pareanom justru mengeluhkan kehadiran ratusan naskah belum sebanding dengan mutu cerita. Maksud mengadakan Sayembara Cerita Anak adalah memunculkan bacaan anak bermutu. Maksud belum kesampain.

Keluhan itu pengulangan dari masa lalu. Pada masa 1950-an dan 1960-an, mutu bacaan anak menjadi masalah. Penerbitan buku anak mulai ramai tapi meragukan ditakar dari kesusastraan dan sekian misi keindonesiaan. Organisasi Pengarang Indonesia mengusahkan ada mufakat pelbagai pihak memajukan mutu bacaan anak melalui seminar dan penerbitan buku-buku. Pada 1966, hasil kerja itu tersaji sebagai buku berjudul Batjaan Anak-Anak. Sekian tulisan di buku bermula dari riset dan pengamatan sepintas lalu.

Achdiat K. Mihardja, pengarang novel Atheis, turut urun pendapat mengenai bacaan anak melalui makalah berjudul “Sastrawan dan Batjaan Anak-Anak.” Pada masa bocah, Achdiat K. Mihardja membaca buku-buku sastra dunia dalam edisi bahasa Indonesia dan Sunda. Ia rampung membaca Don QuixoteHector Malot, dan Robinson Crusoe. Cerita-cerita dari negeri asing. Bacaan memikat dan menuntun anak-pembaca ke pengembaraan imajinasi mendebarkan. Kita mengira bocah-bocah masa lalu melulu gandrung cerita dari Eropa dan Amerika Serikat. Para penulis Indonesia belum keranjingan menulis cerita anak untuk menimbulkan pikat ke para pembaca. Sastra anak belum subur di Indonesia.

Kita mengikuti tanggapan Achdiat K. Mihardja atas pendapat Theodor Storm: “Sastrawan tidak perlu menulis jang chusus ditudjukan untuk anak-anak.” Omongan mirip bualan atau peremehan derajat sastra anak. Achdiat K Mihardja justru menginginkan para sastrawan mau menggubah cerita atau puisi untuk anak. Bacaan anak itu soal peradaban berupa literasi-kultural dan literasi-pedagogis. Ia pun berseru: “Soal batjaan anak-anak hendaknja mendapat perhatian jang setjukupnja pula dari para sastrawan kita.” Situasi sastra modern di Indonesia sedang menderu dan menggebu. Para pengarang tampil dengan pelbagai teks mencengangkan di capaian estetika puisi, cerita pendek, dan novel. Mereka di titian persaingan dan raihan pujian tapi agak melupa dengan tanggung jawab menulis sastra untuk bacaan anak-anak.

Kita bandingkan dengan anggapan Komite Sastra DKJ: “Cerita anak adalah tempat penyimpanan ingatan kolektif yang kaya dan sebuah catatan harapan dan impian dari satu generasi ke generasi berikutnya. Maka, sastra anak tak jarang bisa berperan sebagai mesin perubahan budaya yang penting….” Uraian mereka selalu mengutip dan menampilkan contoh bacaan dari negeri-negeri asing, sulit mengajukan cerita anak di Indonesia masa lalu. Mereka fasih memberi tafsir dan pukau sekian bacaan anak dari pelbagai negara: Petualangan Huckleberry FinnTom SawyerToto Chan, dan The Rabbits. Sastra anak di Indonesia mungkin belum memiliki buku-buku bercap klasik. Kita belum memiliki para penulis cerita anak legendaris jika mengacu penjelasan Komite Sastra DKJ.

Kita mampir dulu ke buku berjudul Bacaan Anak Indonesia Tempo Doeloe: Kajian Pendahuluan Periode 1908-1945 (1996) susunan Christantiowati. Buku memuat daftar bacaan anak klasik, tak dikutip di publikasi DKJ. Balai Poestaka dan penerbit milik peranakan Tionghoa dan Belanda berperan besar dalam pengadaan bacaan anak, sejak awal abad XX. Ada catatan sekian buku digemari bocah-bocah masa lalu: Senggoetroe, Petrok Dados RatoeSerat Tri Djaka Soewala, dan Gara-Gara. Semua beraksara dan berbahasa Jawa. Kita terlalu jauh untuk mengerti situasi dan gairah keaksaraan masa lalu. Pada masa 1930-an, anak-anak mulai digirangkan dengan buku-buku terbitan Balai Poestaka berbahasa Indonesia. Kita mulai mengingat Si Doel Anak Betawi (Aman), Pak Djanggoet (Aman), Teman Doedoek (M Kasim), dan lain-lain. Sejak masa 1930-an, penerbitan sastra terjemahan atau saduran semakin bertambah. Cerita anak gubahan para pengarang Indonesia terhitung sedikit.

Puluhan tahun berlalu dari sejarah bacaan anak belum menjadi studi serius, kita simak pertanggungjawaban juri di Sayembara Cerita Anak. A.S. Laksana, Hamid Basyaib, dan Reda Gaudiamo memberi sindiran di awal pertanggungjawaban: “Anak-anak penting bagi banyak orang, dan bagi banyak kepentingan, kecuali bagi para penulis. Para penulis bagus yang kita miliki, atau setidaknya nama-nama yang dikenal sebagai penulis bagus, hampir tidak ada yang menulis buku cerita anak-anak. Mereka merelakan penulisan buku anak-anak kepada orang-orang yang bukan penulis. Mereka mengikhlaskan anak-anak menjalani masa kanak-kanak mereka, yang disebut-sebut sebagai masa emas pertumbuhan, untuk menggeluti buku-buku yang rata-rata ditulis dengan kecakapan seadanya.”

Di situ, mereka tak berhasil memberi daftar penulis Indonesia dan buku sudah terbit dianggap buku (agak) bermutu untuk dibaca anak-anak. Para pengarang asing dan buku-buku kondang diajukan lagi bermaksud “mengejek” lakon kesusastraan anak di Indonesia. Mereka tak mau menulis sekian nama penting: Soekanto S.A., Dwiyanto Setiawan, Leila S. Chudori, Mohamad Sobary, Mansur Samin, A. Soeroto, dan lain-lain. Mereka terbukti rajin menulis buku cerita anak. Pada masa berbeda, Leila S Chudori tampil sebagai penulis moncer dengan novel berjudul Pulang dan Laut Bercerita. Dulu, para pengarang besar Indonesia turut menulis buku bacaan anak (puisi, cerita pendek, novel, dan naskah drama) saat Soeharto mengeluarkan kebijakan bersejarah: Inpres pengadaan buku anak. Para pengarang menulis buku dan menerima duit berlimpahan. Kita belum perlu memikirkan mutu buku dan misi suci mereka.

Peremehan sastra anak pun terjadi dari riset institusi di naungan pemerintah. Buku berjudul Antologi Puisi Indonesia Modern Anak-Anak (2003) memberi dilema pemahaman sastra anak. Tim memilih ratusan puisi dan membagi porsi tak seimbang. Puisi-puisi dari pujangga kondang dipilih masuk buku: 80%. Puisi gubahan anak-anak cuma 20%. Puisi suguhan para pengarang berusia dewasa itu tak dimaksudkan untuk bacaan anak-anak. Tim “memaksa” itu pantas atau sesuai disantap anak-anak berdalih estetika atau mutu. Puisi-puisi gubahan Roestam Effendi, Amir Hamzah, Sanoesi Pane, Chairil Anwar, Toto Sudarto Bachtiar, Eka Budianta, Emha Ainun Nadjib, Hamid Jabbar, Rendra, Sapardi Djoko Damono, Sitor Situmorang, Subagio Satrowardoyo, Sutardji Calzoum Bachri, dan Taufiq Ismail dianggap sebagai puisi anak. Di hadapan puisi-puisi, anak-anak mungkin menunduk atau merenung berkepanjangan. Kita mulai digoda dalam polemik sastra anak itu digubah pengarang dewasa atau pengarang masih berusia anak.

Kita sampai ke situasi semakin tak keruan atas nasib sastra anak. Para juri dalam Sayembara Cerita Anak mengaku “pusing” dan gagal mendapatkan naskah-naskah bermutu. Mereka bermufakat tak ada juara pertama, kedua, dan ketiga. Mereka cuma sanggup memilih 9 pemenang harapan dalam posisi setara. Penciptaan sejarah sastra anak oleh Dewan Kesenian Jakarta belum memberi kabar baik. Kita masih prihatin dan wajib menilik (lagi) arus sejarah bacaan anak Indonesia, dari masa ke masa. Begitu.  (*)

 

Continue Reading
Advertisement

Milenia

Sayembara Manuskrip Puisi Jakarta: Siapakah Jakarta

mm

Published

on

“SIAPAKAH JAKARTA”
Sayembara Manuskrip Puisi Jakarta

By Galeri Buku Jakarta 2020

Masalah Jakarta adalah bagaimana caranya seseorang mengalami dirinya sebagai warga kota? Apakah juga kota ini terlalu angkuh untuk seseorang merasa kesulitan untuk menjadi warga kota. Siapakah Jakarta? Yang terus angkuh, sibuk dengan segala yang terasa mengasingkan kita dan memblok diri kita untuk mengalami kewargaan kota ini?

Sebagian orang melihat Jakarta antara rutinitas dan kreativitas, antara kemacetan dan keihklasan, antara polusi dan kebertahanan untuk mutasi. Halnya menjadi semacam meniti tali tambang usang. Sebagain lain memilih cara “mengalami” Jakarta dengan cara paling sederhana; turun hambur ke jalan bersama yang berangkat dan pulang kerja, merasakan kemacetan dengan lapang dada, melihat galain proyek dari waktu ke waktu tanpa batas usang dan tak perlu bertanya apa dan kenapa, segala seperti dititik yang sama. Sementara yang lain lagi merasa berada di luar realitas, antara penderitaan dan kenikmatan; melihat spion motor yang copot dihempas ketidaksengajaan orang-orang, melihat anak kecil kencing di got, melihat dua mobil di gang memilih diam tiada siapa akan mengalah, kebuntuan, kata-kata kasar, panas matahari di lampu merah, apa yang membuat anda mengalami Jakarta?

Galeri Buku Jakarta, tahun ini mengadakan Sayembara Manuskrip Puisi Jakarta. Sayembara ini memanggil para penulis Indonesia untuk turut merespon kemanusiaan abad ini. Merefleksikan wajah kota-kota yang tengah kebingungan mencari bentuk dan sandaran kesadaran di tengah konstruksi sosial politik yang semakin rumit dan cenderung involutif dalam kegagapan menghadapi abad baru, budaya industri baru dan konteks perkembangan ekonomi mau pun politik yang relatif baru dan dalam beberapa ruang-dimensi berbeda sama sekali dibanding pada beberapa dekade lalu.

Proyek ini ditujukan untuk menghadirkan puisi sebagai mahluk konkrit dalam upaya kultural merebut kesadaran warga dari keterasingan dan kebingungannya. Sayembara manuskrip puisi ini mengambil tema utama: SIAPAKAH JAKARTA (tanpa tanda tanya).

PARA PENYAIR

Sayembara manuskrip puisi Jakarta ini akan ditujukan kepada publik melalui sayembara. Para pemenanganya adalah 15 penyair yang naskahnya oleh Dewan Juri/ kurator dipilih sebagai layak dan terbaik untuk mewakili tema utama SIAPAKAH JAKARTA dan akan diterbitkan dalam buku Antologi Sajak Jakarta bersama para penyair tamu—yaitu para penyair yang diminta oleh Galeri Buku Jakarta untuk terlibat dalam proyek ini.

PENYAIR TAMU

Selain 15 penyair peserta sayembara puisi Jakarta, beberapa penyair tamu akan turut terlibat dalam proyek ini, mereka adalah penyair yang dimintai langsung oleh galeri buku Jakarta untuk ikut menulis puisi bertema “Siapakah Jakarta”. Diantaranya adalah: Afrizal Malna, Aan Mansyur, Esha Tegar Putra, Joko Pinurbo, Hamdy Salad, Mutia Sukma, Kang Maman, Hasan Aspahani, dan nama nama lainnya.

SAYEMBARA

Sayembara ini akan berlangsung mulai pada bulan Maret hingga final penjurian dan peluncuran pada Agustus-September 2020. Tidak memberikan hadiah berupa uang kepada peserta sayembara mau pun penyair tamu. Apresiasi diberikan hanya dalam bentuk penerbitan buku antologi bersama puisi Jakarta.

Dan berikut adalah ketentuannya:

1. KETENTUAN UMUM

  • Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan fotokopi KTP atau bukti identitas lainnya),
  • Naskah puisi belum pernah diterbitkan/ publikasikan dalam bentuk apa pun baik cetak maupun elektronik.
  • Naskah puisi tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa
  • Naskah puisi ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik
  • Tema bebas dengan merujuk pada tema utama: SIAPAKAH JAKARTA
  • Naskah puisi adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya)

2. KETENTUAN KHUSUS

  • Menggunakan A4, spasi 1, bentuk huruf  Times New Roman ukuran 12,
  • Naskah puisi yang dikirimkan maksimal 5 judul puisi/ sajak.
  • Menyerahkan biodata, alamat surat pos, dan nomor kontak whatsapp di lembar terpisah
  • Naskah dalam dokumen Ms. Word dikirim ke email redaksigbj@gmail.com
  • Empat salinan naskah dikirim ke: Panitia Sayembara Puisi Jakarta

GALERI BUKU JAKARTA

An. Sabiq Carebesth
Jl. Damai No. 30 C1-C2 Rt 003/ 05, Pejaten Timur, 
Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 12510 
  • Batas akhir pengiriman naskah : 11 Mei 2020 (cap pos)

3. LAIN – LAIN

  • Para pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Manuskrip  Puisi Galeri Buku Jakarta Agustus-September 2020 dalam event peluncuran buku.
  • Hak cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis
  • Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat.
  • Sayembara ini terbuka bagi siapa saja.
  • Maklumat ini bisa diakses di galeribukujakarta.com
  • Dewan Juri sayembara ini adalah: Afrizal Malna, Damhuri Muhammad, Aan Mansyur dan Saras Dewi.

4. HADIAH      

  • 15 penyair terpilih akan mendapat kesempatan untuk minimal 2 judul puisinya terbit dalam antologi puisi Jakarta bersama para penyair tamu di antaranya: Afrizal Malna, Aan Mansyur, Esha Tegar Putra, Mutia Sukma, Hamdy Salad, Saras Dewi, Joko Pinurbo, Hasan Aspahani dan beberapa penyair tamu lainnya.
  • Masing – masing pemenang akan mendapatkan 3 eksemplar buku antologi puisi Jakarta setelah proses penerbitan.
  • Tidak ada hadiah uang, atau honorarium apa pun dalam sayembara ini.

5. JADWAL

  • Publikasi maklumat: Maret 2020
  • Pengumpulan karya: Maret-Mei 2020
  • Penjurian: Juni-Juli 2020
  • Pengumuman pemenang dan Peluncuran: Agustus 2020

___
GALERI BUKU JAKARTA

Reclaiming Our Cities With The Culture | www.galeribukujakarta.com | t, ig, f : galeribuku_jkt | email: galeribukujakarta@gmail.com  | unduh Pdf rilis Sayembara Puisi Jakarta di sini | unduh posternya di sini: Poster Sayembara Puisi Jakarta

Continue Reading

Milenia

‘Memikirkan Kata’ Panduan Berpikir atau Menulis?

mm

Published

on

Buku ini memuat catatan dari mereka yang telah begitu lama memikirkan kata, tersesat dalam kegelapannya, mengambil dari wilayah pribadi kata-kata untuk menghasilkan cerita dan pencerahan yang dibutuhkan manusia. Para editor media ternama, para penyair, esais dan para sastrawan berkumpul dalam buku ini

Editor’s Note

Menulis dan buku-buku adalah sebuah seni. Melampaui keliteraturan—dalam arti kenikmatan yang dikandung di dalamnya memerlukan hampir seluruh dari diri kita, menghabiskan nyaris semua waktu yang kita miliki jika ingin mencecap nikmatnya.

Seorang bisa saja memiliki kenikmatan itu—dengan membeli buku-buku terbaik karya para pengarang. Seorang juga bisa memasak untuk dirinya sendiri, atau menghidangkan kreasi final masakannya bagi yang lain agar bisa turut mencecap kenikmatan puncak yang bisa dicapainya.

Apa pun pilihannya meski tidak semua harus menjadi Chef, setiap orang harus bisa memasak—bisa menulis. Paling tidak untuk memberi makan batinnya sendiri.

Buku “Memikirkan Kata” dikerjakan salah satunya dengan motif semacam itu. Agar setiap kita, para pembaca, bisa memasak, menulis paling tidak untuk diri sendiri. Sebab bagaimana pun membaca dan juga menulis adalah aktivitas yang memberi pengayaan batin dan intelektual. Jika kita percaya lebih dari itu, bahwa dengan menulis seorang bisa berkontribusi bagi kebaikan dan majunya peradaban, maka motif yang tampaknya sederhana tersebut mungkin juga mengandung motif politik (kebudayaan).

Sementara itu untuk bisa memasak, orang butuh tahu ragam bumbu-bumbu yang pada setiap masakan yang dikehendaki, berbeda pula rupa bumbu maupun teknik mengolahnya; juga kapan memasukkan masing-masing bumbu, kapan mengurangi atau membesarkan apinya, semua itu butuh dipelajari dan hasilnya selalu khas, unik dan personal—bahkan dengan bumbu sama, bisa menghasilkan rupa dan rasa hidangan yang berbeda-beda—juga penikmat yang khas dan berbeda pula.

Pemesanan Buku “Memikirkan Kata” bisa hubungi kontak Whatsapp: 082111450777

Dalam andaian semacam itu, teknik memasak, teknik menulis, pengetahuan akan bumbu-bumbu, cara mengolah dan cara menghidangkan perlu dipelajari dan dimiliki, meski hasil akhir, dan pada tahapan “pengalaman dan jam tempuh”, semua fase kaidah dan pelajaran teknik itu boleh dilanggar dan dilampaui. Tak terkecuali dalam seni menulis, berlaku juga hal serupa.

Seperti para pendaki menuju puncak, ia sudah lagi berjalan dengan spirit, ketenangan, serta kematangan batin yang didapat tak lain dari semua proses tidak mudah dan tidak sebentar dalam melampaui kaidah-kaidah teknis tersebut. Ia telah menempa diri dengan kejujuran, komitmen dan kesadaran malampui pencapaian subjektif semata. Hemingway suatu kali berujar: “Hal tersulit yang harus dilakukan penulis adalah menuliskan prosa dengan sejujur-jujurnya. Pertama, ia harus tahu subjek yang hendak diceritakkan, lalu tahu caranya menulis—keduanya butuh latihan seumur hidup.”

Sementara Natalie Goldberg pada puncaknya menyeru hal senada: “Soalnya akan seperti seorang master Zen yang mengajarkan kepadamu tentang bermeditasi selama setahun, dan pada tahun berikutnya dia berkata, ‘Abaikan rasa iba kasihan. Berdiri dengan kepala kita sendiri itu juga termasuk ke dalam meditasi’.”

Meski demikian buku “Memikirkan Kata” bukan pertama-tama disusun untuk menjadi “buku panduan” ia dikerjakan untuk membuat kita memiliki kesadaran akan pentingnya dunia buku, membaca dan juga menulis. Juga segala kemungkinan kemajuan yang bisa dibuat dengan “berpikir” dan “kata”.

Ia adalah awalan dan pondasi: pikiran yang kritis, logis, sebab luasnya wasasan dan berlimpahnya pengalaman, bisa menjadi bahan baku utama bangunan peradaban yang kita harapkan—tetapi ia membutuhkan perangkat, dan “kata” adalah bahan baku utamanya, ia disusun menjadi kata-kata, menjadi kalimat, sehingga memiliki makna dan dengan cara itu ia memperlihatkan eksistentinya untuk dipahami, memberi harapan dan sekalian menghadirkan keindahan. Saya rasa itu juga maksud dari judul yang dipilih untuk buku ini—Memikirkan Kata.

This slideshow requires JavaScript.

*

Sementara itu  mari kita bicara realitas faktual. Tetapi tidak dalam bahasan tentang angka dan pencapaian memerangi buta huruf, tinggi dan rendahnya minat baca, angka perpustakaan dan toko buku yang bangsa ini meiliki, atau kualitas pendidikan dan penyelenggaraanya, itu terlampau besar untuk bisa diwacankan dengan pengerjaan buku ini.

Faktualitas yang menjadi pijakan keinginan menghadirkan buku ini adalah faktualitas kultural: bahwa nyaris tanpa perdebatan untuk menyebut budaya literasi, khususnya “budaya menulis” masyarakat kita belum lagi memadai, atau terfasilitasi dalam kaitannya dengan kebijakan publik, atau untuk mengatakan secara lebih konstan: membaca dan menulis belum menjadi budaya bangsa ini. Pada tahap budaya artinya ia menjadi cara hidup masyarakat—bukan sekadar kebutuhan praktis misalnya karena soal pekerjaan atau sekolah barulah seseorang menulis. Budaya menulis itu penting, tetapi harus dimulai juga dari kesadaran bahwa membaca dan menulis adalah begitu penting bagi kemajuan peradaban kita.

Secara praktis, pentingnya kemampuan menulis sebenarnya tidak hanya baik dan diperlukan mereka yang butuh berkembang dalam dunia sastra dan menulis buku-buku, tapi juga dunia industri, iklan, film, kampanye lembaga sosial, kebutuhan dalam ruang pendidikan, benar dan hoaks dalam relatifitas dunia politik, bahkan juga kebutuhan personal branding di era serba digital saat ini.  Di sisi lain perkembangan dunia digital dan teknologi informasi saat ini butuh diimbangi dengan kemampuan literasi dalam artinya yang luas. Dan menulis adalah salah satu pokok yang bisa menjadi pondasi penting khususnya bagi generasi muda dalam peningkatan kapasitas dan perkembangan logika berpikirnya sehingga dapat berkompetisi dan memahami dinamika sosial yang bergerak kian lekas—disruptive. Kemampuan dan kemajuan budaya literasi semacam itu tidak hanya memberi dampak kemajuan tapi juga sekaligus penangkal yang diharpkan mampu mengalahkan lubang hitam puritanisme dan radikalisme. Karenanya yang terpenting dari hal itu adalah terawatnya kemanusiaan dan empati sosial.

“Memikirkan Kata” bisa anda dapatkan dengan harga Rp. 235.000,- |  Kajian atas buku ini klik artikel ‘Memikirkan Kata’ deciphers one of the greatest writing conundrums: Producing words | Pemesanan buku sila hubungi melaui whatsapp 082 111 450 777.

Buku “Memikirkan Kata” sendiri terdiri dari 9 bab utama, yaitu:  (1) Pengantar tentang berpikir, membaca dan pada akhirnya menulis. (2) Voice of Editor; Menilik Dapur Pikiran Para Editor Tentang Dunia Kepengarangan (3) The Prose Reader: Retorika Pengantar Tentang Teknik Penulisan (4) Tulisan Bermutu Tinggi: Panduan Tidak Sederhana Tentang Cara Menulis Bermutu  (5) Tentang Inspirasi: Bagaimana ide bekerja—dari Saul Bellow hingga Gabriel Marquez (6) Writing Tips: Menulis Itu Terkadang Mudah (7) Artist at Work—Bagaimana Pengarang itu Begitu Keras Bekerja. (8) Interview—Merayakan Obrolan Tentang Semesta Seni. (9) Nasihat Mengarang dari Penulis Buku Best Seller Dunia.

Kesembilan bab tersebut ditujukan untuk tiga pondasi utama yaitu; Pertama: melalui bab 1-2 para pembaca disuguhi “spirit” dunia buku, dunia menulis, bahwa menulis bukan pekerjaan mudah dan untuk menjadi penulis bermutu para penulis dunia telah melalui proses yang tidak satu pun gampang dan instan, bahkan memerlukan waktu belajar seumur hidupnya. Kedua; melalui bab 3-5 pembaca akan mendapatkan dasar teknikal bagaimana menullis baik dan bermutu, bahwa menulis bukan sekedar “mengarang”, ia membutuhkan kapasitas, wawasan pengetahuan, dan pendidikan teknis yang tuntas tentang bahasa, tentang tema, tentang ide dan teknik yang dibutuhkan dalam dunia tulis-menulis lainnya. Ketiga: melalui bab 6 pembaca mendapat “bonus” berupa tips atau panduan untuk menjadikan kerja menulisnya efektif. Dan Keempat: melalui bab 7-8 pembaca akan mendapatkan keluasan perspektif bahwa menulis bukan hanya soal teknik, kemampuan bagus dan tujuan menjadi penulis besar, tapi dunia menulis memiliki tanggung jawab moral sebagaimana pengakuan puncak yang ditulis para peraih nobel dalam bab tersebut. Terakhir adalah bonus bagaimana para penulis dunia terkini, umumnya penulis best seller dunia menghasilkan karya-karya terbaik mereka.

Buku ini memuat catatan dari mereka yang telah begitu lama memikirkan kata, tersesat dalam kegelapannya, mengambil dari wilayah pribadi kata-kata untuk menghasilkan cerita dan pencerahan yang dibutuhkan manusia. Para editor media ternama, para penyair, esais dan para sastrawan berkumpul dalam buku ini melalui ulasan atas karyanya, penerjemahan dan juga wawancara atas proses kreatifnya. Semua untuk membantu kita hidup dalam seni, hidup dalam kata-kata; untuk menjadi pribadi yang tumbuh, khas, berbahagia dan memberi makna bagi kehidupan—dengan menjadi pembaca, pemikir dan pada akhirnya penulis dalam artinya yang paling luas.

Pada ujungnya, saya ingin menutup dengan keyakinan Virginia Wolf yang pemikirannya tentang kata-kata dan seni menulis juga tertuang dalam buku ini: “Kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Kata-kata, menginginkan kita untuk berpikir, dan mereka menginginkan kita untuk merasa; sebelum kita menggunakannya; tetapi mereka juga ingin kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka…”

Selamat membaca, selamat memikirkan kata…

*) Sabiq Carebesth, editor dan Pendiri Galeri Buku Jakarta

____

“Memikirkan Kata” bisa anda dapatkan dengan harga Rp. 235.000,- |  Kajian atas buku ini klik artikel ‘Memikirkan Kata’ deciphers one of the greatest writing conundrums: Producing words | Pemesanan buku sila hubungi melaui whatsapp 082 111 450 777.

 

Continue Reading

Milenia

Dono, Rumah dan Novel

mm

Published

on

Dono tak cuma pelawak atau artis. Dono adalah pengarang novel. Kita membuka dan membaca novel berjudul Cemara-Cemara Kampus (1988) gubahan Dono. Novel terbit saat Dono sudah kondang.

Bandung Mawardi *)

___

Kita membuka Suara Merdeka, 3 Januari 2020. Berita itu berjudul “Rumah Keluarga Dono Warkop Tidak Terurus.” Berita cukup panjang digenapi foto rumah dalam kondisi memang tampak “sedih”. Pembaca perlu ikhlas menikmati berita (belum tentu) penting. Kita diajak mengingat tokoh dan rumah. Si wartawan mungkin mengenali Dono itu pelawak atau pemain film. Ketokohan penting menguatkan pamrih memberi warta ke pembaca. Dono memiliki masa lalu di Klaten (Jawa Tengah). Ia bekerja dan moncer di Jakarta. Orang-orang terhibur oleh ulah dan omongan Dono dalam siaran radio, rekaman kaset, film, dan sinetron. Dono tak besar sendirian. Di Jakarta, ia mengumbar tawa bersama Kasino dan Indro.

Di Klaten, sekian orang mengingat Dono mengacu rumah. Kita simak paragraf dari penelusuran si wartawan: “Rumah berarsitektur tahun 1960-an itu berada di tepi jalan desa. Rumah itu tampak sepi tak berpenghuni. Berdiri kokoh, rumah berukuran 10 x 12 meter itu tampak tak terawat. Letaknya hanya 50 meter dari bekas pabrik karung goni Delanggu yang terbengkalai sejak lama. Bentuk dan warna rumah tersebut serupa dengan rumah-rumah di bekas kompleks pabrik karung. Rumah bercat putih dengan jendela hijau muda itu hanya sejauh 100 meter dari Balai Desa Delanggu (Klaten). Warga sekitar saat ditanya alamat rumah Dono Warkop akan langsung menunjukkan rumah itu.” Pembaca sejenak berimajinasi bangunan dan kondisi geografi di Delanggu. Dono bermasa lalu bersama rumah, keluarga, dan warga desa di Delanggu: meninggalkan ingatan-ingatan masih bisa terkabarkan.

Pada masa 1970-an, bapak Dono adalah kepala desa di Delanggu. Rumah itu dihuni keluarga. Tahun demi tahun berlalu, para penghuni rumah meninggal. Rumah semakin sepi. Dono sudah memilih bekerja dan memiliki rumah di Jakarta. Warga masih ingat Dono dulu memiliki kebiasaan setahun pulang ke Delanggu, dua atau tiga kali. Di mata warga, Dono sudah “jadi orang” di Jakarta. Pulang kampung sejenak itu kewajaran. Tahun-tahun berganti, rumah semakin kehilangan penghuni. Kini, rumah tanpa penghuni. Kosong. Kita diajak berpikiran waktu, tokoh, rumah, kampung, dan pelbagai hal. Berita tentang rumah pernah dihuni keluarga Dono cukup memberi “panggilan” untuk mengenali Dono dan memahami rumah.

Dono tak cuma pelawak atau artis. Dono adalah pengarang novel. Kita membuka dan membaca novel berjudul Cemara-Cemara Kampus (1988) gubahan Dono. Novel terbit saat Dono sudah kondang. Kita ingin mengutip pengisahan rumah dalam novel. Si tokoh bernama Kodi adalah mahasiswa. Babak ia pulang ke kampung halaman: “Dalam bus berhawa sejuk Kodi tak dapat tidur. Untuk kali ini pikirannya terganggu dengan keadaan di rumah.” Perjalanan lancar. Pagi, turun dari bus, ia berjalan menuju rumah. Di perjalanan, Kodi bertemu dan memberi sapaan ke para tetangga. Kodi sampai depan rumah: “Pohon sawo di tengah halaman masih seperti biasanya. Tanah di bawahnya tampak bersih. Memang sudah biasa, sebelum matahari semburatnya kelihatan di sebelah timur, halaman ini sudah disapu Mbok Nah, pembantunya sejak kecil.” Kita menduga si Kodi hidup di keluarga priyayi. Dono pelit bercerita rumah. Kita sulit mengetahui kondisi dalam rumah.

Dono lekas mengajak pembaca ke peristiwa Kodi dolan ke rumah Wulan, teman semasa kecil dan pernah jadi kekasih. Dono menceritakan: “Suasana rumah seperti biasanya, sepi. Tidak ada perubahan yang berarti. Hanya sedikit sekali. Sekarang bunga tapak doro lebih banyak tumbuh dengan sedikit bunga.” Kodi sering ke rumah Wulan, sejak masih bocah. Dono lumrah mengimbuhi cerita: “Bagi Kodi, rumah ini sudah dianggap rumah sendiri. Rumah masa kanak-kanaknya. Dia bebas keluar masuk tanpa banyak basa-basi.” Di rumah dan kampung halaman, Kodi membedakan dengan suasana di Jakarta. Kembali ke rumah cuma sebentar, membawa perkara genting dan teringat nostalgia. Pengisahan rumah tak rinci dalam novel cukup bagi pembaca mengerti olahan imajinasi rumah, kampung halaman, dan Jakarta mungkin bereferensi biografi Dono.

Petikan-petikan dalam novel tak menggamblangkan rumah itu milik keluarga priyayi. Rumah sederhana tapi apik di mata warga. Kita mengutip gagasan orang-orang Jawa mengenai rumah di pembedaan predikat dan gengsi. Sartono Katodirdjo, A Sudewo, dan Suhardjo Hatmosuprobo dalam buku berjudul Perkembangan Peradaban Priyayi (1987) menjelaskan: “Salah satu lambang kepriyayian tampak pada rumah yang menjadi tempat tinggal.” Rumah megah dan artistik. Rumah menentukan derajat kepriyayian di mata penguasa dan kaum jelata. Rumah keluarga Kodi berkesan sederhana, tak memenuhi kaidah-kaidah rumah priyayi. Berita di Suara Merdeka pun mengabarkan rumah itu memang sederhana, tak tampak mentereng dibandingkan rumah-rumah tetangga. Kita menduga Dono tak ingin berbagi cerita dengan pilihan tokoh atau keluarga priyayi. Rumah diceritakan sejumput saja asal menguatkan kemauan bercerita tata krama, keintelektualan, asmara, dan identitas Kodi. Kita menganggap Dono (pengarang) dan Kodi (tokoh dalam novel) itu berbeda tapi memiliki kemiripan berkaitan rumah di kampung halaman.

Dono dan Kodi lahir dan tumbuh dalam asuhan sosial-kultural Jawa. Rumah dianggap penting dalam segala cerita, sejak lahir sampai mati. Berita dan novel memang belum mencukupi untuk mengerti imajinasi rumah dalam biografi Dono. Kita mendingan melancong jauh ke Amerika Serikat, ingin mengetahui rumah, bukan bermaksud membuat perbandingan biografi dan mutu bersastra. Di Indonesia, Dono belum mendapat pengakuan di jagat sastra. Para pembaca novel-novel gubahan Dono mungkin berhak mengadakan kongres agar Dono masuk dalam kamus, direktori, leksikon, atau ensiklopedia sastra di Indonesia.

Michael Pearson dalam buku berjudul Tempat-Tempat Imajiner: Perlawatan ke Dunia Sastra Amerika (1994) mengunjungi dan mengisahkan rumah-rumah berpengaruh dalam biografi dan kerja kesastraan John Steinbeck (1902-1968. Pada suatu kunjungan, Michael Pearson memberi deskripsi: “Steinbeck House adalah sebuah bangunan bergaya Victoria yang tidak bernoda dengan puncak menara dan menjulang dan trotoar. Panorama rumah itu tampak seperti sebuah lukisan yang baru kemarin digambar. Halaman rumputnya kelihatan seolah-olah dipelihara oleh seorang penata rambut…. Dari jalan di bawah sana, rumah-rumah terkesan lebih kecil, catnya telah memudar dan semak-semak tumbuh liar.” Ia berlebihan mendeskripsikan rumah bergelimang cerita tentang John Steinbeck, pengarang besar Amerika Serikat dan peraih Nobel Sastra 1962.

Rumah Dono di Klaten, Jawa Tengah. | Sumber: Suara Merdeka

Dono dan John Steinbeck memiliki persamaan: lucu. Kita membuktikan dengan pengisahan John Steinbeck mengenai rumah dalam novel berjudul Dataran Tortilla (1977), diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Djokolelono. Si tokoh dalam novel (Danny) kebingungan mendapat warisan dua rumah dari kakek. Sekian tahun, ia sudah terbiasa tak berumah. Warisan itu mungkin memberi petaka atau kesialan. Ia bingung hidup di rumah. Segala hal harus dipikirkan. Tinggal di rumah pun memerlukan ongkos untuk air, listrik, makan, dan lain-lain. Warisan dua rumah mencipta keruwetan hidup. Ia berkelakar ke sahabat: “Pilon alangkah senangnya bila kaulah yang memiliki rumah ini, dan aku datang menumpang padamu.” Dua tokoh dan sekian orang dalam novel memeng belum menghendaki menghuni rumah. Mereka ingin berkeliaran dan menumpang saja di rumah milik siapa saja. Hidup mereka bukan berpuncak makna pada rumah tapi minum anggur. Sial demi sial dialami dan rumah semakin kehilangan makna. Novel lucu di pengisahan rumah. Tragis bagi tokoh-tokoh memuja minuman anggur.

Kita mungkin keterlaluan gara-gara membaca berita di Suara Merdeka mengenai rumah. Kita sembrono mengadakan perbandingan dua novel. Orang-orang pasti terpikat Dataran Tortilla dan gamblang mengaku penggemar John Steinbeck. Di Indonesia, kita meragu ada ribuan orang membaca novel berjudul Cemara-Cemara Kampus. Jutaan orang memang menggemari Dono tapi bukan sebagai pengarang. Dua novel memiliki kalimat-kalimat memicu imajinasi rumah. Kita membaca dengan kesadaran rumah-rumah itu beralamat di Jawa dan Amerika. Perbandingan tak lucu tapi perlu ketimbang kita terlalu lama bengong, membiarkan novel-novel telantar tanpa pembaca saat hari-hari terus berganti. Begitu. (*)

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending