Connect with us
mm

Published

on

By Konstantin Paustovsky

 

Potapov tua telah meninggal dunia sebulan yang lewat, ketika Tatyana Petrovna menempati rumahnya. Tatyana Petrovna tinggal bersama Varya, anak perempuannya yang masih kecil, serta seorang pengasuh yang telah berusia lanjut.

Rumah yang memiliki tiga kamar itu terletak di atas bukit, dekat sungai utara, di perbatasan kota. Di belakang rumah, di luar areal taman, tampak hutan pohon berk[1] yang memutih. Di hutan ini dari pagi sampai sore burung-burung gagak riuh rendah mengeluarkan suaranya.

Setelah meninggalkan Moskow cukup lama juga Tatyana Petrovna baru mampu membiasakan dirinya terhadap kota yang sepi, rumah kecil Potapov, pintu pagar yang berderit, malam yang lengang serta merasakan kelap-kelip lampu kerosin.

“Alangkah tololnya aku!” pikir Tatyana Petrovna, “untuk apa aku meninggalkan Moskow, kawan-kawan dan berhenti dari teater![2] Namun Varya harus dibawa ke kota Pushkino[3], ke tempat pengasuhnya – di sana tidak akan ada serangan apapun juga,[4] tetapi seharusnya aku tetap tinggal di Moskow. Alangkah tololnya aku!”

Akan tetapi untuk kembali lagi ke Moskow sudah tidak mungkin. Tatyana Petrovna lalu memutuskan untuk bekerja di rumah sakit yang jumlahnya tidak seberapa di kota kecil tersebut. Dan dia pun merasa tenang kembali. Bahkan kota itu mulai menarik simpatinya, terutama ketika musim dingin tiba dan salju menyelimutinya. Hari-hari menjadi lembut dan kelabu. Sungai-sungai pun membeku.

Tatyana Petrovna sudah merasa terbiasa dengan kota kecil itu dan dengan rumah milik orang lain tersebut. Dia pun sudah terbiasa dengan piano yang rusak, dengan potret-potret di dinding yang warnanya kekuning-kuningan. Potapov tua dulunya adalah seorang ahli mekanik kapal laut. Di atas meja tulisnya yang dilapisi kain laken hijau yang telah luntur, tegak berdiri sebuah jenis kapal penjelajah Gromoboi.[5] Dengan jenis kapal itulah dulu dia pernah berlayar. Varya tidak diijinkan memegang kapal itu. Dan dia sama sekali tidak diperbolehkan memegang barang apapun juga, yang terdapat di dalam ruangan itu.

Tatyana Petrovna mengetahui, bahwa Potapov meninggalkan seorang anak laki-laki, yang bekerja sebagai pelaut dan sekarang sedang bertugas di Laut Hitam. Potretnya ada di samping ‘Gromoboi’, di atas meja, terkadang Tatyana mengambilnya, memperhatikannya dengan saksama, seraya mengerutkan alis tipisnya. Dia tampak berpikir. Rasa-rasanya dia pernah bertemu dengannya di sebuah tempat, tetapi sudah sangat lama, sebelum dia mengalami perkawinan yang kurang beruntung ini. Akan tetapi di mana? Dan kapan?.

Sang pelaut memandangnya dengan tenang dan dengan mata yang sedikit mengejek seakan-akan bertanya: “Hai bagaimana? Masa Anda tidak mengingat di mana kita pernah bertemu?”

“Tidak, saya tak ingat,” jawab Tatyana Petrovna dengan pelan.

“Mama, dengan siapa Mama bicara?” Varya berteriak dari kamar sebelah.

“Dengan piano,” sambil tersenyum Tatyana Petrovna menjawab.

Di pertengahan musim dingin datang surat-surat yang ditujukan kepada Potapov tua, yang ditulis oleh tangan yang sama. Tatyana Petrovna menumpuknya di atas meja tulis. Suatu malam dia terbangun dari tidurnya. Salju di jendela kelihatan kusam. Arhip, kucing abu-abu peninggalan Potapov, tidur mendengkur di atas dipan.

Tatyana Petrovna mengenakan mantel, berjalan ke kamar Potapov dan berdiri di dekat jendela. Seekor burung jatuh dari pohon tanpa suara, di atas salju. Dan salju yang berceceran menjadi debu putih, menempel di kaca.

Tatyana Petrovna menyalakan sebatang lilin di atas meja, duduk di kursi, serta memandangi lidah api lama-lama, tetapi api itu diam saja. Kemudian dengan hati-hati dia mengambil sebuah surat, membukanya dan sambil memandang ke kiri dan ke kanan dia mulai membaca:

“Papa sayang,” Tatyana Petrovna membaca, “sudah sebulan saya berbaring di rumah sakit. Lukanya tidak terlalu berat. Tampaknya mulai sembuh. Jangan cemas dan janganlah merokok terus. Saya mohon!”

“Saya, kerap kali, selalu mengingatmu,” Tatyana Petrovna melanjutkan, “rumah dan kota kecil kita. Jaraknya yang jauh mengerikan, seolah-olah ada di ujung dunia. Saya memejamkan mata, ketika teringat bagaimana saya membuka pintu pagar, masuk ke halaman. Musim dingin, salju, tetapi jalan kecil ke arah huma tua kita di atas tebing curam tampak bersih dan pohon-pohon sireng dilapisi embun beku. Di kamar terdengar bunyi keretak perapian yang ditandai dengan asap kayu berk. Akhirnya piano disetem dan kau memasang lilin berwarna kuning di tempatnya masing-masing – tempat lilin itu saya bawa dari Leningrad. Begitu pula dengan not-not di atas piano, merupakan overture[6] Pikawaya Dama[7] dan nyanyian pujaan Djlya Beregov Otchizne Dalnoi[8]. Apakah bel di pintu masih berbunyi? Saya sangat tidak ingin mengusikmu. Masa hanya sekali itu saya melihat segalanya? Masa saya akan membersihkan muka dengan air sumur dari jolang hanya sekali saja? Kau ingat itu? Ah, sekiranya kau mengetahui, bagaimana saya mencintai semuanya dari sini, dari jauh! Janganlah kau terheran-heran, saya mengatakan hal ini kepadamu dengan sungguh-sungguh. Saya mengenang semuanya pada detik-detik peperangan yang mengerikan. Saya tahu, bahwa saya tidak hanya mempertahankan tanah air, tetapi juga sisinya yang kecil dan paling memikat bagiku dan bagimu, taman kita, semua anak-anak kecil yang berambut ikal, hutan kecil pohon berk di seberang sungai, bahkan Arhip si kucing. Ayolah, jangan ketawa dan jangan menggeleng-gelengkan kepalamu.

Mungkin, jika saya keluar dari rumah sakit, saya akan diijinkan pulang untuk waktu yang tidak terlalu lama. Saya tidak tahu kapan. Akan tetapi lebih baik jika tidak menunggu.”

Lama juga Tatyana Petrovna duduk di bangku, melihat dengan mata yang terbuka lebar ke luar jendela, yang di sana sinar kebiru-biruan mulai tampak. Dia berpikir, bahwa dalam hari-hari ini akan datang dari medan pertempuran seseorang yang tak begitu dikenal ke rumah Potapov tua. Di sini dia akan merasa sulit bertemu dengan orang asing dan akan melihat semuanya benar-benar tidak seperti apa yang ingin dilihatnya.

Pagi harinya Tatyana Petrovna menyuruh Varya mengambil sekop kayu dan membersihkan jalan kecil ke huma di atas tebing terjal. Huma itu sudah sangat tua. Pompa airnya yang terbuat dari kayu telah menjadi kusam kelabu, penuh dengan semak belukar. Tatyana Petrovna sendiri memperbaiki bel serta tulisan di atas pintu yang berbunyi: Saya gantungkan di sini – lonceng yang riang gembira! Tatyana Petrovna menyentuh bel dan suara gemerincing pun terdengar. Bunyi itu serasa menyentak-nyentak di telinga Arhip, dia merasa terusik dan keluar dari kamar depan. Bunyi bel itu tampaknya membuat Arhip kesal.

Dan siang harinya Tatyana Petrovna yang pipinya tampak memerah, dengan penuh semangat menyambut seorang penyetem suara yang datang dari kota. Dia adalah seorang laki-laki tua keturunan Czech, yang sudah lama tinggal di Rusia. Nama keluarganya Nevidal. Kerjanya memperbaiki kompor, mainan anak-anak, harmonika, dan menyetem piano. Laki-laki Czech itu, setelah menyetem piano, berkata bahwa piano tua tersebut masih sangat baik. Dan Tatyana Petrovna tanpa diberitahu pun sudah mengetahuinya.

Sesudah laki-laki itu pergi, Tatyana Petrovna memeriksa semua laci meja tulis dan menemukan satu pak lilin. Dia meletakkan lilin-lilin itu di tempatnya di atas piano. Malam harinya dia menyalakannya dan duduk di depan piano. Maka rumah itu pun dipenuhi oleh bunyi-bunyian yang indah.

Ketika Tatyana Petrovna menghentikan permainan pianonya dan memadamkan lilin, tercium bau asap lilin yang menyenangkan; bagaikan berada di dekat pohon cemara.

Varya sudah tak sabar lagi.

“Untuk apa Mama menyentuh barang-barang orang lain?” katanya kepada Tatyana Petrovna. “Mama melarang Varya, tetapi Mama sendiri menyentuhnya! Lonceng, lilin dan piano, semua Mama sentuh. Malah memainkan piano segala.”

“Karena Mama orang dewasa,” jawab Tatyana Petrovna.

Varya, sambil mengerutkan alisnya, memandang dengan penuh curiga pada ibunya. Memang Tatyana Petrovna sekarang lebih tampak dewasa. Dia, seolah-olah, tampak bercahaya dan mirip seorang gadis dengan rambut yang keemasan; yang kehilangan sepatu kacanya di sebuah istana. Tatyana Petrovna sendiri pernah menceritakan tentang gadis itu kepada Varya.

Di kereta Letnan Nikolai Potapov mengira, bahwa dia akan tiba di rumah orangtuanya tidak lebih dari sehari semalam. Cutinya tidak lama, tetapi perjalanan pulangnya telah menyita banyak waktu.

Kereta tiba siang hari di kota. Dan di saat itu juga, dari kepala stasiun yang dikenalnya, dia mengetahui, bahwa orangtuanya telah meninggal dunia sebulan yang lalu dan rumah mereka telah ditempati oleh seorang penyanyi muda dari Moskow dengan anaknya.

“Dia itu perempuan yang berevakuasi,” kata kepala stasiun. Nikolai Potapov terdiam, melihat ke luar jendela dan di sana para penumpang dengan barang bawaannya: mengenakan pakaian tebal dan bersepatu panjang saling berdesakan. Dia merasa kepalanya jadi pusing.

“Ya,” kata kepala stasiun, “ayahmu adalah orang yang luhur. Meskipun di saat kematiannya, dia tidak sempat melihat anaknya.”

“Kapankah kereta akan kembali?” tanya Potapov.

“Subuh esok hari, jam lima tepat,” jawab kepala stasiun, dia terdiam dan kemudian menambahkan: “Nenek saya akan memberimu air teh dan makanan. Kau bisa tinggal di rumahku. Tidak ada gunanya pulang ke rumah.”

“Terima kasih,” jawab Potapov dan pergi keluar.

Kepala stasiun mengikutinya dengan pandangan mata, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Nikolai Potapov melewati kota, ke arah sungai. Di atas sungai membayang langit yang kelabu kebiru-biruan. Di antara langit dan tanah, salju yang tipis melayang miring. Burung-burung gagak berterbangan di sepanjang jalan. Hanyalah kegelapan yang ada. Angin berhembus dari tepi sungai, dari hutan dan tetesan air mengalir dari pelupuk matanya.

“Ya, baiklah!” kata Potapov, “aku sudah terlambat. Kini segala-galanya seolah-olah menjadi asing bagiku: kota ini, sungai dan rumah.”

Dia memandang tebing terjal di seberang kota. Di sana ada taman, yang dilapisi embun beku, rumah yang kelihatan menghitam. Asap kelabu keluar dari cerobong. Angin membawanya ke hutan kecil pohon berk. Potapov dengan perlahan menuju ke sudut dekat rumah. Dia sudah memutuskan untuk tidak singgah ke rumahnya, tetapi hanya melewatinya, mungkin dia akan melihat taman dan huma yang sudah tua barang sebentar. Perasaannya yang tak mampu ditahan adalah mengenai rumah orangtuanya, yang sudah ditempati oleh orang lain, orang yang tak akan mengurusnya. Adalah lebih baik, jika dia tak melihatnya sama sekali, itu tidak akan memedihkan hatinya, dia akan pergi dan melupakan semua masa silam!

“Ah, baiklah,” pikir Potapov, “karena setiap hari kau melakukan sesuatu secara lebih dewasa, kau melihat semua yang ada di sekeliling menjadi lebih keras,” katanya pada diri sendiri.

Potapov sampai di rumah pada senja hari. Dengan hati-hati dia membuka pintu pagar, tetapi suara berderit masih saja terdengar. Dia memandangi tamannya. Salju jatuh dari ranting, gemerisik suaranya. Potapov memalingkan wajahnya. Jalanan kecil yang sudah dibersihkan dari salju membimbingnya ke huma. Dia berjalan menuju ke sana, tangannya memegangi pegangan tangga yang menua. Di kejauhan, di balik hutan, langit tampak memerah. Tampaknya, bulan mulai muncul dari balik awan. Potapov melepaskan topinya, merapikan rambutnya dengan tangannya. Terasa kesunyian menggigit, hanya di bawah bukit terdengar suara wanita dengan ember kosong, yang mencari air dari lubang es. Potapov menyandarkan sikunya pada pegangan tangga dan berkata dengan lirih: “Bagaimana ini bisa terjadi?”

Seseorang dengan pelan-pelan menyentuh bahu Potapov. Dia menoleh. Di belakangnya berdiri seorang wanita muda, yang wajahnya begitu pucat, kepalanya dilindungi oleh baju hangat. Diam-diam dia memandang Potapov dengan mata hitamnya yang penuh perhatian. Di pipi dan bulu matanya salju mencair, yang tampaknya telah rontok dari ranting.

“Pakailah topi itu,” kata wanita muda itu dengan pelan, “Anda bisa masuk angin. Ayolah ke rumah. Jangan berdiri di sini.”

Potapov terdiam. Wanita itu memegang tangannya dan menuntunnya melewati jalan kecil yang bersih. Potapov berhenti di dekat serambi. Tenggorokannya tercekat, dia tak mampu bernafas. Wanita itu dengan perlahan berkata:

“Tidak apa-apa. Ayolah, Anda tidak perlu merasa malu dengan saya. Itu sekarang mesti dihilangkan.” Dia menghentakkan kakinya, berusaha melepaskan salju dari sepatunya, dan itu menyebabkan pintu masuk ikut bergetar; lonceng pun bergemerincing. Potapov menarik nafas dalam-dalam, mengeluarkannya. Dia masuk ke dalam rumah, sambil bergumam dengan malu, melepaskan mantelnya di ruang depan, mencium harumnya kabut pohon berk yang tipis, dan melihat Arhip. Arhip duduk di atas dipan, menguap. Di dekat dipan seorang anak perempuan berdiri dengan memegang alat pemotong rumput dan memandang Potapov dengan sinar mata yang riang, tetapi bukan di wajahnya, melainkan pada tanda pangkat keemasan, yang ada di lengan.

“Ayo kita ke dapur!” kata Tatyana Petrovna mengajak Potapov. Di sana ada air sumur yang dingin di dalam jolang, handuk yang terbuat dari kain linen yang dibordir dengan gambar daun oak tampak tergantung. Tatyana Petrovna keluar. Anaknya membawakan Potapov sabun dan melihat, bagaimana Potapov tampak berpikir setelah membuka bajunya. Rasa malu Potapov belum juga sirna.

“Siapakah ibumu itu?” tanya Potapov pada anak tersebut dan wajahnya memerah. Dia hanya iseng saja memberikan pertanyaan.

“Dia pikir, dia orang dewasa,” anak itu membisikkan sesuatu yang bersifat rahasia.

“Tetapi dia sama sekali belum dewasa. Dia lebih buruk dari anak-anak, dia lebih buruk dari saya.”

“Mengapa?” tanya Potapov. Akan tetapi anak itu tidak menjawab, sambil tertawa dia berlari keluar dari dapur.

Sepanjang malam itu Potapov tidak mampu menghindari perasaan anehnya – jiwanya seolah lemah, tetapi sebenarnya sangat kuat. Semua yang ada di rumah adalah sesuai dengan apa yang ingin dilihatnya. Partitur-partitur yang sama terletak di atas piano, lilin-lilin yang sama juga menyala menerangi ruangan kecil milik orangtuanya. Bahkan surat-suratnya yang dari rumah sakit tetap tergeletak di atas meja – tergeletak di bawah kompas tua, tempat ayahnya biasa menyimpan surat-surat.

Setelah minum teh Tatyana Petrovna mengantar Potapov berziarah ke makam ayahnya di hutan kecil pohon berk. Bulan yang diselimuti kabut semakin meninggi. Cahayanya yang redup menyinari pohon-pohon berk, memantulkan bayangan yang tipis di atas salju.

Dan kemudian setelah malam semakin larut, Tatyana  Petrovna duduk di dekat piano dan dengan hati-hati menekan tutsnya, setelah itu dia berpaling pada Potapov dan berkata:

“Sepertinya saya pernah melihat Anda di suatu tempat,”

“Ya, boleh jadi,” jawab Potapov. Dia memandangi Tatyana Petrovna. Cahaya lilin yang menerpa dari samping tampak menyinari wajahnya. Potapov bangkit, berjalan dari sudut ke sudut ruangan itu, kemudian berhenti.

“Tidak, saya tidak ingat,” katanya dengan suara meredam. Tatyana Petrovna membalik dan dengan terkejut memandang pada Potapov, tetapi dia tak berkata apa-apa.

Bagi Potapov telah disiapkan sebuah dipan di kamar, tetapi dia tidak dapat tidur. Setiap menit di rumah itu tampaknya sangat berharga baginya dan dia tak mau kehilangan.

Dia berbaring, memasang telinganya untuk mendengarkan langkah Arhip yang mencuri-curi, bunyi tik-tik jam, bisikan Tatyana Petrovna: dia tampaknya tengah mengatakan sesuatu kepada pengasuh Varya di balik pintu. Kemudian suara itu tak terdengar lagi, pengasuh tersebut pergi, tetapi cahaya di bawah pintu tidak menghilang. Potapov seperti mendengar gemersik halaman buku, agaknya Tatyana Petrovna sedang membaca. Potapov sengaja tidak tidur, agar tidak ketinggalan kereta. Dia ingin sekali mengatakan, bahwa dia juga tidak bisa tidur, tetapi dia tidak berani menegur Tatyana Petrovna.

Pukul empat pagi Tatyana Petrovna dengan perlahan-lahan membuka pintu dan memanggil-manggil Potapov. Dia pun mulai bergerak-gerak.

“Ini sudah saatnya Anda bangun,” kata Tatyana Petrovna, “menyesal sekali saya harus membangunkan Anda!”

Tatyana Petrovna mengantarkan Potapov ke stasiun kereta melewati kota yang masih diliputi malam. Setelah bunyi peluit yang kedua, mereka saling mengucapkan selamat tinggal. Tatyana Petrovna mengulurkan kedua tangannya pada Potapov, sambil berkata:

“Tulislah surat. Kita sekarang adalah saudara. Bukankah begitu?”

Potapov tak mengatakan apa-apa, dia hanya mengangguk.

Selang beberapa hari Tatyana Petrovna menerima surat dari Potapov, yang ditulis di dalam perjalanannya.

“Aku ingat, ini pasti, di mana kita pernah bertemu,” tulis Potapov, “tetapi aku tak ingin mengatakannya pada Anda di rumah. Ingatkah Anda pada Krim 27 tahun yang lalu? Pada musim gugur. Batang-batang pohon tua di taman Livadiski. Langit mendung, lautan tampak pucat. Aku berjalan di sepanjang jalan kecil ke Oreanda. Di bangku taman di dekat jalan kecil itu duduk seorang gadis. Dia kira-kira berusia 16 tahun. Memandangku, bangun dan berjalan lurus ke arahku. Jarak kami semakin dekat, aku menatapnya. Dengan bergegas dia melewatiku, begitu lembut, tangannya memegang buku yang terbuka. Aku menghentikan langkah, lama sekali memandanginya dengan tatapan mataku. Gadis itu adalah Anda. Aku tidak mungkin keliru. Aku melihat Anda dan menyadari saat itu, bahwa seorang wanita telah melewatiku, seorang wanita yang mampu membayang-bayangi seluruh hidupku dan memberikan rasa bahagia yang tiada tara. Aku mengerti, bahwa aku mampu mencintai wanita itu dengan mengabaikan impian-impian lain. Ketika itu aku berpikir, bagaimanapun juga aku harus mendapatkan Anda. Akan tetapi aku tak bergerak sejengkal pun dari tempat aku berdiri. Mengapa? Aku tak tahu. Sejak itu aku mencintai Krim dan jalan kecilnya, tempat aku telah melihat Anda, meski hanya selintasan, tetapi kehilangan selama-lamanya. Biarpun begitu hidup masih memperlihatkan keramahannya padaku, aku berjumpa dengan Anda. Dan sekiranya semuanya berakhir dengan baik, hidupku membutuhkan Anda; hidupku itu tentunya menjadi milik Anda. Lagi pula aku menemukan semua surat untuk ayahku masih tertutup di atas meja. Aku memahami segala-galanya dan hanya bisa mengucapkan terima kasih pada Anda dari jauh.”

Tatyana Petrovna meletakkan surat itu, dengan mata berkabut menatap taman yang dilapisi salju putih di balik jendela dan berkata:

“Ya, Tuhan! Saya tidak pernah ada di Krim! Tidak pernah! Tetapi apakah itu sekarang masih begitu berarti? Ada gunanya juga aku tidak berusaha meyakinkan dia! Ada gunanya aku tidak meyakinkan diriku sendiri!”

Tatyana Petrovna tertawa, menutup kedua belah matanya dengan telapak tangannya. Di balik jendela, cahaya matahari yang mulai terbenam masih memancar. Agaknya belum bisa sirna.

 

1943

 

 

*Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

**Biografi Konstantin Paustovsky: Konstantin Georgiyevich Paustovsky (31 Mei 1892-14 Juli 1968) merupakan sastrawan Rusia yang dilahirkan di Moskow, tetapi tumbuh di Kiev dan juga di wilayah pedesaan di Ukraina. Paustovsky belajar di Gymnasium Kiev (semacam sekolah yang menekankan pada pembelajaran akademik dan mempersiapkan pendidikan menengah lanjutan), sekelas dengan Mikhail Bulgakov (pengarang The Master and Margarita). Tahun 1912 Paustovsky masuk ke Universitas Kiev dan belajar di Fakultas Sejarah Alam. Tahun 1914 dia pindah ke Fakultas Hukum Univesitas Negeri Moskow, tetapi Perang Dunia I membuat Paustovsky menghentikan kuliahnya dan beralih melakukan berbagai pekerjaan.

Semasa masih di Gymnasium, Paustovsky mulai menulis sajak. Tetapi dia pun akhirnya menulis prosa dan menghasilkan On the Water (1911) dan The Four (1912). Selama Perang Dunia I Paustovsky menulis Sea Sketches, yang dipublikasikan tahun 1925. Kemudian Minetoza (1927), novel Shining Clouds (1929), Kara-Bugaz (1932), Kolkhida (1934), Summer Days (1937), Tale of the North (1938) dan Meshcherskaya Storona (1939). Selama Perang Dunia II, Paustovsky menghasilkan screenplay film Lermontov (pengarang A Hero of Our Time) yang disutradarai Gendelshtein untuk Gorky Film Studio, The Rainy Dawn (1946) dan kemudian pada tahun 1948 dia menulis Tale of the Woods.

Dari tahun 1948 sampai tahun 1955 Paustovsky mengajar di Maxim Gorky Literature Institute dan mengedit beberapa koleksi kesusastraan.

Karya monumental Paustovsky adalah The Story of A Life (1945-1963), yang terdiri dari 6 buku: Childhood and Schooldays (1946), Slow Approach of Thunder (1954), In That Dawn (1956), Years of Hope (1958), Southern Adventure (1959—1960), dan The Restless Years (1963).

Pada paruh kedua abad 20 karya-karya Paustovsky mulai diajarkan di sekolah-sekolah Rusia di dalam program pelajaran kesusastraan Rusia.

Pada tahun 1965 Paustovsky menjadi kandidat penerima Hadiah Nobel, tetapi menurut Wolfgang Kazak di dalam Leksikon Kesusastraan Rusia Abad XX, otoritas pemerintahan Soviet mengancam menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Swedia, dan akhirnya Hadiah Nobel pun dianugrahkan kepada fungsionaris kesusastraan Soviet, Mikhail Sholokhov (pengarang And Quiet Flows the Don).

Konstantin Georgiyevich Paustovsky wafat pada tanggal 14 Juli 1968 di Moskow, tetapi berdasarkan pada kemauannya sendiri, dia dimakamkan di kota Tarusa, di atas sebuah bukit, yang dikelilingi banyak pohon. (*)

[1] Pohon dengan kulit kayu yang licin dan rantingnya tipis

[2] Nama teater tidak dijelaskan. Akan tetapi ada data, misalnya saja, yang menunjukkan pada tanggal         14 Oktober 1941 para seniman teater Bolshoi berevakuasi ke Kuibyshev (Samara) selama 21 bulan

[3] Pushkino (Rusia: Пушкино) adalah sebuah kota dan pusat administrasi Pushkinsky District di Moskow Oblast, Rusia, terletak di pertemuan sungai Ucha dan Serebryanka, 30 kilometer (19 mil) timur laut dari Moskow

[4] Perang melawan Jerman

[5] Dari kata grom yang artinya petir dan boi bermakna perang, pukulan atau sambaran. Jadi kurang lebih artinya adalah sambaran petir

[6] Tembang pembuka

[7] Queen of  Spades, prosa karya Alexander Pushkin yang ditulis tahun 1833 dan dipublikasikan tahun 1834. Operanya ditulis oleh Tchaikovsky dan ditampilkan pada tanggal 19 Desember 1890 di Maryinsky Theatre – Saint Petersburg

[8] For Shores of Home, sajak karya Alexander Pushkin yang ditulis tahun 1830

Continue Reading

Classic Prose

Toni Morrison: Takut

mm

Published

on

Tidak terjadi apa-apa pada rasa takut itu. Dia berbaring di ranjang milik Guitar diterpa cahaya matahari, mencoba membayangkan bagaimana rasanya jika ganco pembelah es membacok lehernya. Dia membayangkan semprotan darah segar semerah anggur dan bertanya-tanya apakah sodokan tongkat tajam itu akan membuatnya terbatuk-batuk. Rasa takut melanda bagaikan sepasang cakar yang menggaruki dadanya.

Dia menutup mata dan melemparkan kedua tangannya menutupi wajah untuk menahan cahaya yang mengganggu lamunannya. Dalam kegelapan di bawah tangannya ia bisa melihat tongkat pemecah balok e situ melaju ke arahnya lebih cepat dari siraman air hujan yang pada masa kecilnya sering berusaha ditadahnya dengan lidah.

Lima jam yang lalu, sebelum dia mengetuk pintu rumah Guitar, dia berdiri di tangga, berlindung dari hujan musim panas yang masih memercik ke jendela, membayangkan tetesan itu sebagai paku-paku baja yang tajam. Lalu dia mengetuk pintu.

“Ya?” Suara itu begitu tajam. Guitar tak pernah membukakan pintu sebelum yakin siapa yang mengetuknya.

“Aku – Milkman,” jawabnya, dan menunggu suara gerendel kunci dibuka.

Milkman masuk, menggoyangkan bahu di bawah jaketnya yang basah. “Ada minuman?”

Guitar tersenyum, sepasang mata emasnya berkilat sejenak. Mereka lama tak saling jumpa sejak perdebatan seru tentang Honore lawan Alabama, namun pertengkaran itu tak berbekas lagi di antara mereka. Mereka tak punya beban satu sama lain sehingga tak perlu berpura-pura. Jika dalam suatu percakapan mereka terperosok dalam pertengkaran karena berbeda pendapat, perkataan mereka masih tetap dipenuhi lelucon. Lebih jauh lagi, persahabatan mereka telah teruji oleh berbagai hal. Enam bulan terakhir ini adalah saat-saat berbahaya bagi Milkman, dan Guitar terus-menerus memperingatkannya.

“Kopi saja,” kata Milkman. Dia duduk di ranjang seperti seorang tua yang amat letih.

“Bagaimana kalau the?”

“Oh, Tuhan…”

“Seperti kapas Louisiana… Orang kulit hitam menggunakannya sebagai popok dan ganjal kepala. Di seluruh India kamu bisa melihatnya. Semak-semak dengan kantung-kantung the bermekaran. Betul kan?”

“Beri aku the, Guitar! Hanya the. Tanpa geografi.”

“Tanpa geografi? Baiklah. Bagaimana dengan sedikit sejarah di dalam tehmu? Atau sedikit sosio-politik—Tidak! Itu juga geografi. Setan, Milk, aku percaya seluruh hidupku adalah geografi.”

“Kamu tidak mencuci dulu poci itu sebelum memasak air di dalamnya, ya?”

“Contohnya:aku tinggal di Utara sekarang. Pertanyaan pertama adalah sebelah Utara apa? Utara ada karena Selatan ada. Tapi bukankah itu berarti bahwa Utara berbeda dengan Selatan? Tak mungkin! Selatan hanyalah sebelah selatan dari Utara…”

“Hei, kamu tidak meletakkan daun teh itu dalam air mendidih! Kamu malah menyiramkan air ke atas daun the. Dalam poci, Sobat. Dalam poci teh!”

“Tapi ada beberapa perbedaan kecil yang layak diperhatikan. Orang-orang Utara, contohnya, pelit soal makanan. Kamu paham maksudku? Poci dan kotoran. Kini, mereka bicara amat menggelikan soal poci itu. Tapi teh? Mereka tak tahu apa-apa soal teh instan Lipton.”

“Aku cuma mau teh…”

“Orang tua Lipton memborong New York Times dan menyimpannya dalam tas putih yang bagus, dan orang-orang Negro di Utara mengamuk. Mereka tak puas. Kamu memperhatikan itu tidak?”

“Oh, Yesus!”

“Yesus juga orang Utara. Ya, dia memang tinggal di Israel , tapi sebenarnya dia seorang Utara dalam lubuk hatiNya. Hati yang berdarah. Hati yang mungil dan indah, yang berdarah-darah sejak lama. Orang-orang Selatan mengira mereka memiliki-Nya, itu karena pada awalnya mereka melihat-Nya saat bergantung di sebuah pohon. Tapi orang-orang Utara tahu lebih baik tentang….”

“Siapa yang sedang kamu bicarakan? Orang kulit putih atau kulit hitam?”

“Hitam? Putih? Jangan bilang padaku bahwa kamu salah seorang negro rasialis itu! Siapa yang bicara soal orang kulit hitam? Ini hanyalah pelajaran geografi.” Guitar memberikan pada Milkman secangkir teh yang masih mengepulkan uap.

Yeah, baiklah, jika ini the, aku adalah telur goring yang lunak.”

“Hei, kenapa kamu ingin menjadi telur goreng yang lunak? Kenapa bukan hanya telur goreng saja? Dan kenapa mesti telur? Orang negro sudah pernah menjadi apa pun, tapi bukan sebutir telur.”

Milkman tertawa. Dia datang di depan pintu dengan basah kuyup, siap untuk rubuh dan mati, dan kini da tertawa-tawa, menyeruput teh dan menyahut, “Bagaimana mungkin, katamu? Seorang negro akan menjadi sebutir telur jika dia mau.”

“Tidak. Tak bisa! Itu berhubungan dengan gen. gennya tak akan membiarkan si negro itu menjadi sebutir telur, sekeras apa pun dia berusaha. Alam berkata tidak. ‘Tidak, kamu tak akan pernah menjadi sebutir telur, Negro. Kamu bisa saja menjadi seekor gagak jika kamu mau. Atau seekor monyet besar. Tapi bukan telur. Menjadi telur itu sulit dan rumit. Dan rapuh. Lagi pula, telur itu berwarna putih.’ “

“Ada telur yang berwarna coklat,”

“Itu kesalahan. Lagi pula orang tak menyukainya.”

“Orang-orang Prancis menyukainya.”

“Di Prancis, memang. Tapi tidak di Kongo. Orang-orang Prancis di Kongo tak mau menyentuh telur berwarna coklat.”

“Kenapa?”

“Mereka takut. Dikiranya itu berakibat buruk pada kulit mereka. Seperti matahari.”

“Orang Prancis menyukai matahari. Mereka selalu berusaha mendapatkan matahari. Di Riviera…”

“Mereka berusaha mendapatkan matahari Prancis, tapi bukan matahari Kongo. Di Kongo mereka membenci matahari.”

“Aku berhak menjadi apa pun yang kuinginkan, dan aku ingin menjadi sebutir telur.”

“Telur goreng?”

“Telur goreng.”

“Kalau begitu, seseorang akan melahapmu.”

Lebih cepat dari detak jantung, ucapan terakhir Guitar telah mengubah suasana. Milkman, mengelap mulutnya, menghindari tatapan Guitar karena dia tahu arti kilatan di belakang matanya. Ruang kecil itu terpaku dalam hening. Tempat itu adalah serambi lantai dua yang disewakan sehingga nyonya rumah bisa mengambil uang sewa sekaligus memiliki seorang penjaga. Tangga di luar membuatnya makin sempurna. Khususnya untuk orang misterius macam Guitar Bains.

“Bisakah aku minta benda itu sekarang?” Milkman bertanya padanya. Dia mempermainkan telunjuknya.

“Buat polisi?”

Milkman menggelengkan kepala.

Guitar tak mempercayainya. Tak percaya kawannya sungguh ingin menyendiri di malam sebelum hari pembunuhannya. “Ini mengerikan, Sobat. Amat mengerikan.”

Milkman tak menyahut.

“Semua orang tahu kamu seorang pemberani jika kamu menginginkannya.”

Milkman menatapnya tapi masih tak menjawab.

“Masih dan akan terus begitu,” lanjut Guitar hati-hati, “kamu mungkin akan membiarkan jantungmu berhenti berhentak. Lalu kamu akan menjadi seorang negro pemberani yang sia-sia seperti yang lainnya.”

Milkman meraih kotak Pall Mall. Karena kotak rokok itu kosong maka dia mencari-cari punting yang masih panjang dari tutup selai kacang yang digunakan oleh Guitar sebagai asbak. Dia merentangkan tubuhnya di ranjang, memasukan jemarinya yang panjang ke dalam saku bajunya, mencari-cari korek api. “Semua akan baik-baik saja,” katanya.

“Gila!” kata Guitar. “Tak ada yang baik-baik saja. Di mana pun! Bahkan biar di Kutub Utara sekalipun.” Guitar berdiri, kepalanya nyaris menyentuh langit-langit. Terganggu oleh ketakpedulian Milkman, dia mengalihkan perhatiannya dengan membereskan ruangan itu. Dia menarik sebuah kotak kosong dari bawah kursi yang meringkuk di pojok dan mulai membuangi sampah ke dalam kotak itu: bekas korek api dari sela-sela jendela, tulang babi sisa barbeque yang dimakannya kemarin, dan kertas-kertas bekas cangkir. “Setiap negro yang kukenal ingin semuanya baik-baik saja. Tak sulit untuk mengendalikan orang lain.” Dia menatap dari samping ke wajah Milkman, waspada terhadap tanda-tanda apa pun. Kebisuan semacam ini adalah sesuatu yang baru. Sesuatu pasti telah terjadi. Guitar sungguh-sungguh khawatir tentang kawannya itu, tapi dia juga tak ingin terjadi sesuatu di kamarnya yang bisa membawa polisi berdatangan ke situ. Dia mengambil asbak yang berasal dari tutup selai kacang.

“Tunggu! Masih ada puntung yang bagus di situ, “Milkman berkata lunak.

Guitar membuang seluruh isi asbak itu ke dalam kotak.

“Apa yang kamu lakukan? Kamu tahu kita kehabisan rokok.”

“Pergilah dan beli beberapa batang.”

“Ayolah, Guitar.” Milkman bangkit dari ranjang dan mengulurkan tangannya ke arah kotak itu. Dia nyaris mendapatkannya ketika Guitar melangkah mundur dan melemparkannya berhamburan ke seberang ruangan, membuatnya kacau seperti semula. Guitar melayangkan lengannya dan menghempaskan tinjunya ke dinding.

“Perhatikanlah…” Guitar bersuara dalam nada rendah. “Dengarkan baik-baik saat aku mengatakan sesuatu padamu.”

Mereka berdiri berhadap-hadapan, kepala dengan kepala, jari dengan jari. Kaki kiri Milkman gemetar di atas lantai dan mata Guitar yang berkilat menakutkan hatinya sejenak, tapi dia balas menatap. “Dan kalau tidak? Kamu mau apa? Kamu mau cari perkara? Ingat, aku sudah mati.”

Guitar tak tersenyum mendengar lelucon itu.

“Seseorang sebaiknya mengatakan hal itu pada pembunuhmu,” ujar Guitar.

Milkman tertawa pendek dan mundur ke arah ranjang. “Kamu terlalu khawatir, Guitar.”

“Aku khawatir sewajarnya. Aku mau tahu kenapa kamu sama sekali tak merasa khawatir. Kamu datang ke sini saat sadar bahwa ini adalah hari ketiga puluh. Tahu bahwa seseorang sedang mencarimu. Dan kamu menyuruhku meninggalkanmu sendirian. Katakan apa yang akan kamu lakukan.”

“Lihat,” kata Milkman. “Selama ini aku telah menanganinya, bukan?”

“Ya. Tapi ada sesuatu yang lucu saat ini.”

“Tak ada yang lucu.”

“Ya, ada. Kamu. Kamu lucu!”

“Tidak. Aku hanya lelah. Lelah pada orang-orang gila di sekitarku, lelah pada kota ini, lelah pada kota ini, lelah mondar-mandir di jalanan tanpa tujuan…”

“Baiklah, rumah ini bebas buatmu jika kamu lelah.”

“Mungkin perempuan itu tak akan datang kali ini.”

“Dia tak akan pergi selama enam bulan ini.”

“Aku tak bisa bersembunyi lagi dari pelacur itu. Aku harus menghentikannya.”

“Kenapa kamu tak menyuruh anak buahnya melakukan sesuatu.”

“Akulah anak buahnya.”

“Dengar, Milk. Dengarkan aku sebentar. Terakhir kali, perempuan itu punya sebilah pisau Carslon. Kamu tahu betapa tajamnya pisau itu? Dia akan memotongmu seperti sinar laser.”

“Aku tahu.”

“Tidak, kamu tak tahu.”

“Aku tahu apa yang dia punya.”

“Kali ini dia mungkin punya pistol.”

“Orang bodoh macam apa yang memberi seorang perempuan negro sepucuk pistol?”

Guitar menyeringai. Dia tahu mereka telah kembali ke jalur persahabatan.

“Baiklah, Tuan Mayat. Terserah padamu. Apakah aku mesti meminta seorang tamu untuk merapikan segala sesuatu sebelum dia pergi? Aku tak mau saat pulang ke tempat ini menemukan puntung rokok berserakan di sekitar kepalamu. Hati-hatilah jika kamu hendak rubuh, jangan di tempat yang aku sulit membersihkan bercak darahmu. Dan jika kepala perempuan itu yang tertinggal, ada handuk di kamar mandi.”

“Tenanglah. Tak ada seorang  pun yang akan meninggalkan kepalanya di sini.”

Mereka tertawa. Guitar meraih jaket kulit coklatnya dan beranjak ke pintu.

“Rokok!” Milkman berteriak padanya. “Bawakan aku rokok sebelum kamu pergi.”

Dia tak kembali lagi malam itu. (*)

*) Toni Morrison (terlahir Chloe Anthony Wofford pada 18 Februari 1931 di Lorain, Ohio, Amerika Serikat) adalah seorang penulis Afrika-Amerika. Romannya Beloved mengantarkannya memenangkan Penghargaan Pulitzer pada 1988. Pada 1993 ia dianugerahi Hadiah Nobel dalam Sastra, dan merupakan tokoh pertama Afro-Amerika yang menerimanya.

 

Continue Reading

Cerpen

Samuel Beckett: Molloy

mm

Published

on

Aku ada dikamar Ibu. Sekarang aku memang tinggal di sana. Aku tak tahu, bagaimana aku bisa sampai ke sana. Barangkali dengan ambulans, sejenis kendaraan atau angkutan tertentu. Aku tidak betah. Heran. Aku tak pernah disana sendirian.

Ada seorang laki-laki yang rutin berkunjung setiap minggu. Mungkin aku harus berterima kasih padanya. Dia tidak banyak bicara. Dia memberiku uang dan mengambil berkas-berkas. Lebih banyak berkas, akan lebih banyak uang. Ya, aku bekerja sekarang. Setidak-tidaknya, yang kuangankan, sedikit mirip. Lagi pula aku tidak tahu persis, bagaimana sesungguhnya bekerja itu. Agaknya ini tidak penting.

Apa yang sesungguhnya kuinginkan sekarang adalah membicarakan hal-hal yang telah lewat, mengucapkan selamat tinggal, lalu mengakhiri dengan kematian. Tetapi mereka tak mengiinginkan hal itu terjadi padaku. Ya, kukatakan mereka, karena lebih dari satu—tampaknya begitu. Tetapi, hanya orang itu-itu saja yang datang. Kamu akan bisa mengerjakannya nanti, katanya. Baguslah.

Nyatanya, aku tak akan membiarkan semua ini terus tertinggal. Yaitu ketika dia datang dengan berkas-berkas baru yang ia bawa minggu berikutnya. Mereka sibuk menandai dengan tanda-tanda yang sama sekali tidak kumengerti. Karena itu, aku sengaja tak membacanya. Dan ketika aku tidak mengerjakan apa-apa, mereka tidak memberiku apa-apa. Bahkan mengancamku.

Sebenarnya aku tidak bekerja demi uang. Lalu, untuk apa? Aku tidak tahu. Sungguh, aku tidak tahu banyak. Sebagai contoh, kematian Ibu. Apakah berliau sudah meninggal waktu aku datang? Ataukah beliau meninggal kemudian, yaitu baru meninggal beberapa saat setelah kedatanganku?

Kukira Ibu sudah dimakamkan. Entahlah. Mungkin mereka malah belum menguburkannya. Yang pasti, di sisi lain, aku memiliki kamarnya. Aku tidur di ranjangnya. Aku buang air dan meludah di pispotnya. Aku sudah mengambil alih tempatnya. Barangkali, semakin lama aku semakin mirip dengannya.

Yang lebih kubutuhkan sekarang sebenarnya seorang anak laki-laki. Barangkali suatu saat nanti aku akan memiliki satu. Tapi kupikir tidak. Dia sudah sangat tua sekarang. Hampir setua aku. Dia hanyalah pelayan rendahan. Ini bukan cintaku yang sesungguhnya.

Cinta yang sejati telah kupersembahkan pada orang yang lainnya lagi. Kita akan membicarakannya setelah ini. Namanya? Ah, aku sudah lupa. Dan agaknya, bagi diriku sendiri, kadang-kadang seakan aku merasa begitu mengetahui ihwal anak laki-lakiku tadi. Aku bentul-betul menganguminya. Kemudian aku meyakinkan diriku kalau itu tidak mungkin. Seperti juga tidak mungkinya aku dapat mengagumi orang lain. Aku bahkan sudah lupa, bagaimana mengeja dan memilah kata-kata. Tampaknya ini tidak penting.

Baiklah. Dia adalah kartu ajaib bagiku, yang datang secara khusus untuk menjengukku. Agaknya dia datang hanya setiap hari Minggu. Pada hari-hari yang lain, dia libur. Dia selalu keharusan. Dialah yang membentakku kalau aku mulai mengerjakan sesuatu yang menurutnya salah; dan aku seharusnya mengerjakannya secara berbeda. Mungkin dia benar. Aku harus memuliai dari permulaan lagi; seperti meneliti suatu kesalahan yang usang dan membingunkan—bisakah kalian bayangkan?

Ini permulaan bagiku. Mungkin karena itulah mereka membiarkannya saja.Aku menemui banyak kesulitan. Padahal ini baru permulaan—kalian lihat? Seolah-olah sekarang aku sedang mendekati titik akhir. Apakah yang kukerjakan saat ini jauh lebih baik? Entahlah.

Kota itu tidak jauh. Ada dua orang, mungkin tidak mudah kalian pahami. Yang satu pendek, yang satunya lagi lebih tinggi. Mererka bergerak meninggalkan kota. Mula-mula yang satu, kemudian yang lainnya. Dan kemudian, dengan susah-payah mereka mengingat-ingat semua perbuatan yang telah mereka kerjakan. Udara dingin menusuk tajam, sehingga mereka mengenakan mantel-mantel tebal. Mereka tampak serupa satu sama lain.

Tetapi tak ada lagi yang mereka kerjakan. Pada awalnya jarak yang lebar membentang diantara mereka. Mereka tidak saling melihat. Padahal mereka sudah mencapai keadaan di mana kepala mereka saling berhadapan. Namun, dikarenakan jarak yang lebar, ruang yang lapang, dan kemudian karena tanah yang bergelombang yang menyebabkan jalanan jadi ikut bergelombang—meskipun tidak curam dan terjal tapi cukup berkelok. Tetapi saatnya tiba, ketika mereka berdua tiba di sebuah ruang yang sama dan akhirnya tikungan-tikungan itu bertemu.

Untuk mengatakan bahwa mereka saling memperkenalkan diri, tidak, tidak ada apa pun yang jadi jaminannya. Tetapi, barangkali dari suara langkah-langkah kaki atau ditandai gemerisik uap insting yang samar-samar, mereka saling mendongakkan kepala dan saling menyelidiki satu sama lain, untuk menentukan langkah-langkah yang baik sebelum akhirnya mereka berhenti dan saling berhadapan.

Ya, mereka tidak saling melewati, tetapi mengendap-endap, berhadap-hadapan, mengadu wajah seperti ketika di desa: pada suatu senja di ruas jalan yang sejuk, dua sosok bayang-bayang saling berkelebat, tanpa terjadi sesuatu yang luar biasa. Tetapi barangkali saja mereka sudah saling mengenal satu sama lain, mengagumi satu sama lainnya, saling memuji, bahkan setelah mereka sampai ke sudut-sudut kota.

Mereka berjalan memutar, melewati laut yang ada di ujung timur. Jauh dari padang-padang rumput, memanjat cakrawala tinggi dengan menggubah sedikit kata-kata. Kemudian keduanya berjalan ke arah masing-masing. A melintasi kota, B melewati jalanan yang seolah teramat sulit untuk dia mengerti. Atau semuanya.

Selama dia pergi dengan langkah-langkah tak menentu dan terkadang terlalu sering menghentikan langkahnya untuk mengamati apa saja, dia seperti seseorang yang mencoba memperbaiki letak penanda batas-tanah-milik di dalam benaknya. Pada suatu hari, barangkali dia harus berkali-kali membalikkan langkahnya—kalian tak akan pernah tahu kenapa.

Dia tampak tua. Dan dengan pandangan mata penuh penyesalan, ia menekuri kesunyian yang telah ditempuhnya berabad-abad, bertahun-tahun, berhari-hari, dan bermalam-malam tanpa bernah berpikir untuk membiarkan keajaiban-keajaiban itu muncul justru pada hari kelahirannya, atau bahkan jauh-jauh hari sebelumnya.

Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Sekarang, perlahan, sebuah bisikan. Sekarang, lebih teliti dari apa yang telah dikerjakan seorang pelayan teladan. Dan selanjutnya? Sesudah itu? Dan sering pula muncul sebagai jeritan. Dan pada akhirnya, aku harus percaya padanya. Aku tahu, tinggal ini kesempatanku. Tinggal ini saja. Aku percaya lagi pada umur panjangku. Dan sekarang aku mengunyah apa saja dengan asyik.

Apa yang kubutuhkan sekarang adalah dongeng-dongeng yang membutuhkan waktu sangat lama untuk memahaminya, dan aku tidak yakin apakah itu ada, memberi informasi padamu, pada kalian, hal-hal tertentu; tentang benda-benda yang kuketahui, tentang hal-hal yang tidak kumengerti. Hal-hal yang begitu menyulitkanku, juga yang tak pernah menyulitkanku.

Apapun bahasanya. Apa pun istilahnya. Aku bahkan telah mempelajari apa profesinya, karena aku tertarik pada keahlian-keahlian. Dan berpikir: aku mencoba mengerjakan yang terbaik untuk tidak bercerita tentang diriku sendiri. Pada suatu ketika aku mungkin akan bercerita tentang ternak-ternak, tentang langit dan apa saja, apabila aku mampu melakukannya.

Aku di sana, kemudian dia meninggalkan aku. Dia tampak terburu-buru. Dia mengembara, seperti yang sudah pernah kukatakan pada kalian; tetapi, setelah tiga menit berbicara denganku, dia tampak terburu-buru. Aku percaya padanya. Dan sekali lagi, aku tak akan menceritakan diriku sendiri. Tidak, itu tidak seperti aku. Tetapi bagaimana aku harus mengatakannya, aku tidak tahu.

Memperbaiki diri sendiri, menyempurnakan diri sendiri, oh tidak. Aku tak akan bisa membiarkan diriku sendiri. Bebas. Ya. Aku tak tahu apa artinya itu, tetapi itulah kata yang kupilih dan kugunakan. Bebas untuk mengerjakan apa saja, bebas untuk tidak melakukan apa-apa, bebas untuk mengetahui—tapi apa? Mungkin hukum-hukum pemikiran; pemikiran-pemikiranmu sendiri yang serupa air mengalir secara proporsional ketika ia memutuskan untuk membasahimu. Dan kalian akan mengerjakan hal-hal yang baik, paling tidak, tidak terlalu buruk untuk menghapus teks-teks, menghilangkan margin-margin, mengisi lubang kata-kata, sampai segalanya menjadi kosong dan datar. Sehingga segala kesibukan yang tampaknya dahsyat, menakutkan dan tak berperasaan atau semacamnya menjadi tak terkatakan, sampai tak ada lagi isu kemiskinan. Jadi aku tak merasa ragu untuk mengerjakan semua yang lebih baik, paling tidak, tidak terlalu buruk, dan tidak menyusahkan diriku sendiri dengan serangkaian observasi tentang segala sesuatu yang akan terjadi nanti.

Aku memiliki cacat untuk dapat membangkitkan semangat orang lain, yaitu orang-orang yang bertongkat. Kemudian bisik-bisikan dan gumam-gumam itu kembali dimulai. Untuk bersunyi sendiri; mengembalikan peranan lebih dari sekadar objek-objek.

Kemudian, aku masih hidup. Mungkin kehadiranku masih berguna. Mahkota dan pakaian kebesaran kupandang sebagai sesuatu yang belum layak kubicarakan sekarang, karena masih terlalu dini. Tanpa ragu-ragu aku akan membicarakannya nanti, jika sudah tiba saatnya untuk membicarakan penemuan kebaikan-kebaikan serta harapan-harapan milikku. Jika tidak, aku akan merelakannya hilang, terselip di antara hari-hari sekarang dan nanti. Tetapi, bahkan ketika semua itu hilang, mereka tetap akan mendapat tempat, di dalam daftar semua barang kesayanganku. Tetapi, mudah bagi ingatanku; tidak seharusnya aku menghilangkannya. Seperti tongkat setiaku, yang tidak seharusnya kuhilangkan juga.

Barangkali sekarang aku sedang berada di puncak atau di lereng, di antara orang-orang penting dan terkenal, demi orang lain. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku dapat melihat begitu jauh, begitu dekat di tangan, begitu banyak hal yang tetap dan yang berpindah-pindah. Tetapi, apa yang akan dilakukan seseorang yang sudah sangat terkenal di tempat yang hampir-hampir tak beriak ini? Dan aku, apa yang kukerjakan di sini, dan kenapa mesti datang?

Ada banyak hal yang mesti kita coba dan temukan. Tetapi ada hal-hal tertentu yang tidak seharusnya kita pikirkan dengan serius. Ada sebagian dari segala sesuatu yang secara penampakan wajud lahirnya memiliki cacat tersendiri. Dan pada suatu ketika aku mungkin menjadi bingung oleh kontrasnya perbedaan-perbedaan itu. Tetapi pertentangan-pertentangan adalah tempat kediamanku. (*)

_______________________

*) Samuel Beckett: Peraih Nobel Prize for Literature 1969. Lahir di Dublin, Irlandia tahun 1906 dan meninggal tahun 1989 di Paris, Prancis. Beckett dianggap sebagai salah satu pengarang abad ke-20 yang paling inovatif dan berpengaruh. Hal ini berangkat dari keyakinannya, yang lalu membekas dalam karya-karyanya, bahwa hidup manusia adalah absurd, tidak jelas, keras, dan akhirnya tidak memiliki tujuan. Secara pribadi, ia gigih menyuarakan metafora-metafora tentang malaise moral manusia.

Beckett terutama dikenal sebagai penulis drama, tetapi ia juga menulis novel dan puisi. Ia telah menulis enam novel, empat naskah drama serta lusinan framen yang lebih pendek, selain sebuah esai dan satu kumpulan puisi. Tetapi yang membuat namanya dikenal adalah karya drama Waiting for Godot (1952) yang disebut-sebut sebagai drama paling penting dalam abad ke-20.

Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Keusastraan pada Beckett sebagai pengakuan: “…..untuk karangan-karangannya yang dalam serta mengungkap kekurangan manusia modern, mendapatkan tempat yang luhur lewat bentuk novel dan drama gaya baru…..

Beckett adalah sastrawan kedua Irlandia (Setelah William Butler Yeats tahun 1923) yang memperoleh penghargaan tersebut. Atau sastrawan ketiga setelah George Benard Shaw (tahun 1925) yang kemudian hijrah dan menjadi warga negara Inggris.

**) Penerjemah: Endang Susanti R.A.

 

 

 

Continue Reading

Cerpen

Naguib Mahfouz: Surga Anak-anak

mm

Published

on

“BAPAK!”

“Ya?”

“Saya dan teman saya Nadia selalu bersama-sama.”

“Tentu, Sayang. Dia kan sahabatmu.”

“Di kelas, pada waktu istirahat, dan waktu makan siang.”

“Bagus sekali. Ia anak yang manis dan sopan.”

“Tapi waktu pelajaran agama, saya di satu kelas dan ia di kelas yang lain.”

Terlihat ibunya tersenyum, meskipun sedang sibuk menyulam seprai. Dan ia berkata sambil juga tersenyum:

“Itu hanya pada pelajaran agama saja.”

“Kenapa, Pak?”

“Karena kau punya agama sendiri dan ia punya gama lain.”

“Bagaimana sih, pak?”

“Kau Islam dan ia Kristen.”

“Kenapa?”

“Kau masih kecil, nanti akan mengerti.”

“Saya sudah besar sekarang.”

“Masih kecil sayangku.”

“Kenapa saya seorang Islam?”

Ia harus lapang dada dan harus hati-hati. Juga tidak mempersetankan pendidikan modern yang baru pertama kali diterapkan. Dan ia berkata:

“Bapak dan Ibu orang Islam. Sebab itu kau juga orang Islam.”

“Dan Nadia?”

“Bapak dan ibunya Kristen. Sebab itu ia juga Kristen.”

“Apa karena bapaknya berkacamata?”

“Bukan. Tak ada urusannya kacamata dalam hal ini. Dan juga karena kakeknya Kristen.”

Ia berusaha mengikuti silsilah kakek-kakeknya sampai entah tak ada batasnya, agar anak itu bosan dan mengalihkan pecakapan ke arah lain. Tapi sang anak bertanya:

“Siapa yang lebih baik?”

Ia berpikir sejenak, lalu berkata:

“Orang Islam baik dan orang Kristen juga baik.”

“Tentu salah satu ada yang lebih baik.”

“Ini baik dan itu juga baik.”

“Apa boleh saya berlaku seperti Kristen, agar kami bisa selalu bersama-sama?”

“Oo tidak, Sayang, itu tidak bisa. Tiap orang harus tetap seperti bapak dan ibunya.”

“Tapi, kenapa?”

Memang betul, pendidikan modern itu keji juga! Dan ia bertanya:

“Apa tidak tunggu saja sampai kau besar nanti?”

“Tidak.”

“Baiklah, kau tahu mode kan? Seseorang bisa menyenangi mode tertentu, dan orang lain menyenangi mode lain. Bahwa kau orang Islam, itu artinya mode terakhir. Sebab itu kau harus tetap Islam.

“Jadi, Nadia itu mode lama?”

Hmm, jangan-jangan Tuhan akan menjewermu bersama Nadia pada hari yang sama. Tampaknya ia telah melakukan kesalahan, betapapun ia sudah berhati-hati. Dan ia meraa seperti didorong tanpa ampun ke sebuah leher botol. Katanya:

“Masalahnya adalah selera. Tapi tiap orang harus tetap seperti bapak dan ibunya.”

“Apakah dapat saya katakan pada Nadia, bahwa ia mode lama dan saya mode baru?”

Segera ia memotong:

“Tiap agama baik. Orang Islam menyembah Allah, dan orang Kristen menyembah Allah juga.”

“Kenapa ia menyembah Allah di satu kelas dan saya di kelas yang lain?”

“Di sini Allah disembah dengan cara tertentu, dan di sana dengan cara lain?”

“Apa bedanya, Pak?”

“Nanti tahun depan kau akan mengetahuinya, atau tahun berikutnya lagi. Sekarang kau cukup tahu saja, bahwa orang Islam itu menyembah Allah dan orang Kristen juga menyembah Allah.”

“Siapa sih Allah, Pak?”

Jadinya ia berpikir agak lama juga. Lantas ia bertanya untuk sekadar mengulur waktu:

“Apa kata Bu Guru di sekolah?”

“Ia membaca surat-surat dari Al-Quran dan mengajari kami sembahyang. Tapi saya tidak tahu siapa Allah itu.”

Ia berpikir lagi, sambil tersenyum agak remang. Katanya:

“Ia yang menciptakan dunia seluruhnya.”

“Seluruhnya?”

“Ya, seluruhnya.”

“Apa artinya mencipta?”

“Yang membuat segala sesuatu.”

“Bagaimana caranya?”

“Dengan kekuasaan yang agung sekali.”

“Dimana Ia tingal?”

“Di dunia seluruhnya.”

“Dan sebelum ada dunia?”

“Di atas.”

“Di langit?”

“Ya.”

“Saya ingin melihat-Nya.”

“Tidak bisa.”

“Meski melalui televisi?”

“Ya, tidak bisa juga.”

“Tak seroang pun bisa melihat-Nya?”

“Tak seorang pun.”

“Bagaimana Bapak tahu Ia ada di atas?”

“Begitulah.”

“Siapa yang kasih tahu ia di atas?”

“Para nabi.”

“Para nabi?”

“Ya, seperti nabi kita Muhammad.”

“Bagaimana caranya?”

“Dengan kesanggupan yang khas ada padanya.”

“Kedua matanya tajam sekali?”

“Ya.”

“Kenapa begitu?”

“Allah menciptakannya begitu.”

“Kenapa?”

Dan ia menjawab sambil menahan kesabarannya:

“ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki.”

“Dan bagaimana nabi melihat-Nya?”

“Agung sekali, kuat sekali, dan berkuasa atas segala sesuatu.”

“Seperti Bapak?”

Ia menjawab sambil menahan tawanya:

“Ia tak ada bandingannya.”

“Kenapa Ia tinggal di atas?”

“Bumi tak bisa memuat-Nya. Tapi Ia bisa melihat segala sesuatu.”

Anak kecil itu diam sebentar, lalu katanya:

“Tapi Nadia bilang, Ia tinggal di bumi.”

“Karena Ia tahu dan melihat segala sesuatu, maka seolah-olah Ia tinggal di mana-mana.”

“Dan ia juga bilang, orang-orang telah membunuh-Nya.”

“Tapi Ia hidup dan tidak mati.”

Nadia bilang, orang-orang itu telah membunuh-Nya.”

“Tidak, Sayang. Mereka mengira telah membunuh-Nya. Tapi Ia hidup dan tidak mati.”

“Dan kakekku masih hidup juga?”

“Kakekmu sudah meninggal.”

“Apa orang-orang juga telah membunuhnya?”

“Tidak, ia meninggal sendiri.”

“Bagaimana?”

“Ia sakit, dan kemudian meninggal.”

“Dan adikku juga akan meninggal karena ia sakit?”

Keningnya mengernyit sebentar, sementara ia melihat gerak semacam protes dari arah istrinya.

“Tidak, insya Allah ia akan sembuh.”

“Dan kenapa Kakek meninggal?”

“Sakit dalam ketuaannya.”

“Bapak pernah sakit dan Bapak juga sudah tua. Kenapa tidak meninggal?”

Tiba-tiba ibunya menghardiknya. Anak itu jadi heran tak mengerti, sebentar matanya ditujukan pada ibunya, sebentar lagi pada ayahnya. Kata sang ayah:

“Kita semua akan mati kalau Tuhan menghendakinya.”

“Kenapa Tuhan menghendaki agar kita semua mati?”

“Ia bebas berbuat apa yang Ia kehendaki.”

“Apa mati itu menyenangkan?”

“Tidak, Sayang.”

“Kenapa Tuhan menghendaki sesuatu yang tidak menyenangkan?”

“Selama Tuhan yang menghendaki begitu, itu artinya baik dan menyenangkan.”

“Tapi tadi Bapak bilang, itu tidak menyenangkan.”

“Hmm, Bapak keliru tadi.”

“Dan kenapa Ibu marah waktu saya bilang bahwa Bapak akan mati?”

“Karena Tuhan belum menghendaki begitu.”

“Kenapa Ia menghendaki begitu, Pak?”

“Dialah yang membawa kita ke dunia, dan Dia pula yang membawa kita pergi.”

“Kenapa?”

Agar ita berbuat baik di dunia sebelum kita pergi.”

“Kenapa kita tidak tinggal saja terus di dunia?”

“Nanti tak akan muat dunia kalau semua orang tinggal.”

“Dan kita tinggalkan hal-hal yang baik?”

“Kita akan pergi ke hal-hal yang lebih baik lagi.”

“Di mana?”

“Di atas.”

“Si sisi Tuhan?”

“Ya.”

“Dan kita bisa melihat-Nya?”

“Ya.”

“Tentunya itu bagus kan?”

“Tentu.”

“Kalau begitu, kita harus pergi.”

“Tapi sekarang kita belum melakukan hal-hal yang baik.”

“Dan kakek sudah melakukannya?”

“Ya.”

“Apa yang ia lakukan?”

“Ia telah membangun rumah dan menanam kebun.”

“Dan Tutu, sepupuku, apa yang sudah ia lakukan?”

Wajahnya jadi merengut sebentar, kemudian pandangannya ia tujukan ke arah istrinya seperti minta kasihan.

“Ia juga telah bikin sebuah rumah kecil sebelum ia pergi.”

“Tapi Lulu, tetangga kita, ia pernah memukulku dan tak pernah berbuat baik.”

“Ia anak nakal.”

“Tapi ia tidak akan mati.”

“Kecuali kalau Tuhan menghendakinya.”

“Meskipun ia tidak berbuat hal-hal yang baik?”

“Semua akan mati. Siapa yang berbuat baik, ia akan pergi ke sisi Tuhan. Dan siapa yang berbuat jahat, ia akan ke neraka.”

Anak kecil itu menarik napas seraya kemudian diam. Sang ayah tiba-tiba merasa dirinya begitu capek. Tak tahu ia, berapa dari kata-katanya tadi yang benar dan berapa yang salah. Pertanyaan-pertanyaan itu sudah menggerakkan tanda-tanya, yang kemudian mengendap di dalam dirinya. Namun si kecil tiba-tiba berseru:

“Saya ingin selalu bersama Nadia!”

Ditolehkannya kepalanya seperti ingin tahu. Si kecil itu berseru lagi:

“Meski pada pelajaran agama sekalipun!”

Dan ia tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Istrinya juga ketawa. Sambil menguap mengantuk, ia kemudian berkata:

“Tak bisa kubayangkan, pertanyaan-pertanyaan ini bisa didiskusikan pada taraf umur begitu!”

Istrinya menyahut:

“Nanti ia akan besar, dan kau akan bisa menjelaskan hal-hal itu padanya.”

Cepat ia menoleh ke perempuan itu, untuk mengetahui apa memang betul kata-katanya atau hanya sekadar cemoohan berlaka. Namun dilihatnya perempuan itu sudah sibuk lagi dengan sulamannya. (Penerjemah: M. Fudoli Zaini)

_______________________________________

*) Naguib Mahfouz: Lahir di Kairo, Mesin tahun 1911. Mahfouz dianggap sebagai pengarang besar berbahasa Arab, bahkan ia dianggap yang terbesar dalam sastra modern Mesir yang belum berusia satu abad itu. Sebagai pengarang, mula-mula ia menulis dengan gaya romantis, kemudian realistis, simbolis, filosofis, dan terakhir simbolis-filosofis dengan kecenderungan sufistis. Ia meraih Nobel Prize for Literature 1988.

Mahfouz terutama dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis cerita pendek. Karya-karyanya meliputi 32 novel, 14 kumpulan cerita, dan 30 naskah film. Di antara karya-karyanya adalah Khan Al-Khalili (1946), Zuqaq Al-Midag (1947), trilogi Bain Al-Qasrain, Qasr Asy-Syauq, As-Sukkariyah (1956-1957), Al-Liss Wa al-Kilab (1962), Al-Tariq (1964), Asy-Syahhadz (1965), dan Pentalogi Aulad Haratina (1969).

Dalam keterangan pers-nya Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusastraan pada Mahfouz sebagai pengakuan untuk: “…ketajaman nuansa realistik, kadang ambigu, yang dibentuk dalam seni kisahan Arab yang diaplikasikan bagi semesta kemanusiaan….”

Mahfouz adalah sastrawan pertama Mesir yang memperoleh penghargaan tersebut.

Continue Reading

Classic Prose

Trending