Connect with us

Prose & Poetry

Sajak-Sajak Alexander Robert Nainggolan

mm

Published

on

Di dalam Puisi

 

barangkali. hanya di dalam puisi, sunyi begitu teduh dan tenang untuk sembunyi. menguliti segala bonyok duka– merintih sedirian. diam dan cuma bisa mengeram. ia, sosok waktu yang tak pernah sempat engkau rapikan. sekalipun tubuhmu telah wangi oleh busa sabun dan menyisir rambut sehabis mandi pagi. dengan tertatih, ia menyulam debu-debu sepi yang kian rindang. mungkin, engkau bahagia. seperti bertemu dengan ingatan yang usang, terbaring. seperti ibu yang menunggu di rumah besar, berharap anak-anaknya segera pulang. sebelum senja datang dan matahari menghilang. di gelap langit.

 

2016

 

 

Domino

 

pada cerah warna angkaku, engkau telah lungkrah. setiap biji yang menyambung mirip barisan peluh yang keruh. maka engkaupun lihai membaca ruang, atau sekadar menunggu waktu. atau barangkali berhitung, siapa yang keluar lebih dulu. serupa barisan antrian di pangkal lelah. balok-balok yang berkubah, angka enam kembar siam. sebetulnya cuma siasat sebelum pikiranmu menjadi berat. hanya hitungan yang alpa, seperti kita yang tak utuh membaca prakiraan cuaca.

 

di kedalaman warna merah bijiku, engkau akan bertunas. tumbuh bersama setiap kemungkinan.

 

2016

 

 

Jam Satu Malam

 

ia berdiam. jam satu malam. hanya gema percakapan atau suara dengkur. insomnia seperti kuntum bunga pada cuaca. rekah yang terlanjur muda. ia berdiam. barangkali ingin menanam biji puisi di beranda. angin mengetuk tubir pagar. seperti menelusup ke dadanya. tapi kesedihan tak melulu indah untuk dikenang.

 

di beranda, masalalu cuma remah. yang sulit dikubur atau sekadar dikumpulkan.

 

2016

 

Seperti Isak

 

seperti isak yang tak kelihatan. tangisan itu bertahan. sebentar lagi menjelma jadi amuk hujan. tidak kentara bercampur udara, tapi perihnya mencekik leher, seperti sayat pecahana kaca pada biru nadi. lalu jendela, hanya ada rangka kepala, memandang langit yang tak lagi jernih. didapatinya kedua bola mata yang kelabu.

 

seperti isak. bertahan di setiap gigir tanah negeri. semakin di pinggir. tergelincir.

 

2016

 

 

Gerhana

 

mungkin di sebuah gerhana, engkau memelukku dengan erat. kenyal susu dan kelenjar rambutmu bergetar. di sebuah kegelapan, dengan napas panjang. pendingin ruangan, hujan di luar. seperti bayangan pekat. cahaya tubuhmu menjadi gelap. mendekat dan melumat. kita mengayuh. seperti jangat keringat yang lekat. menyatu. memutar gundah waktu.

 

di luar, memang gerhana terjadi. bayangan hari tiba-tiba tunduk. hanya kegelapan merasuk. bergumul.

 

oh!

 

2016

 

 

Akhir Februari

; torang nainggolan

 

di pangkal tangismu yang bayi, sudah terlewat. remah yang membuatku tercekat, empat tahun yang memberat di badanmu. aku, ayah bagi usiamu. mungkin selalu abai di sepanjang harap. tapi di langkah kakimu menuju taman, hanya asa isyarat riang. kanak-kanak yang menetas dari kedua matamu.

 

akhir februari menyentuh bilangan usiamu. merebut kecut tahun. kau yang terus bernyanyi nama-nama hari. kalimat ajaib yang merekah dari bibirmu. menggelembung di tubuhku. ah, seketika aku teringat ayah.

 

2016

 

 

Jalan Jambu Gondangdia

 

kerumun pohon, memeluk langit. hanya pagar besar yang sejajar. sepanjang jalan orang-orang yang bersenandung. begitu sulit tuan rumah untuk ditemui. selebihnya sepi. gegas roda atau langkah. menjauh. sehimpun bangunan dan pohon yang kekar. tak lagi menyisakan debar. hanya sebuah pagi yang berjalan tergesa. seterusnya sepi.

 

2016

 

Setiap Ayah

 

di tubuh setiap ayah

akan ada jalan pulang

rumah yang bagai selimut

dari kepala yang kusut

 

telah kugali-gali

tangis yang kecut

dan terduduk di sudut

segala sesal yang sampai sekarang

hanya tertunduk

 

maka aku ingat ayah

setiap percakapan

yang abai kutafsirkan

 

lalu ayah mengerubung

di setiap hari

bahkan bertahun setelah dirinya pergi

 

di mata setiap ayah

selalu ada kegembiraan

meski hanya sebentar

bertemu

atau percakapan yang biasa saja

dengan anaknya

 

2016

 

 

Muara Keluh

 

suara dari kejauhan. berenang melintasi hujan. seperti gumpalan lumpur. namun harapan hanya seberkas remang. begitu penuh kubang. di sana, orang-orang meludah. menyimpan kata-kata yang pekat. membangun kota yang dipenuhi asap. hanya ada suara mengaduh, sementara jejalan makin terjal dan goyah. kerumun mimpi yang tak kunjung beranak.

 

lamat mendekat. potret pejabat dengan senyum memikat. gegas hari merekam candu dari mimpi televisi yang wangi. lalu kitapun mengalir, berharap ada muara jenuh. menyobek kalender dari tahun yang busuk dan berat. namun suara itu kembali sekarat. sebuah keranda mereguk luka.

 

“seperti suara keputusasaan,” terdengar bisik yang halus. entah dari mana. samar.

 

2016

 

 

Di Rumah Ibu

 

di rumah ibu, waktu menjauh. menarik aku dengan lengannya yang kekar. lalu wajah ayah tertawa. tapi yang tergambar hanya sisa karat pada pagar dengan cat kusam. di rumah ibu, percakapan terus berjalan. seperti langkah kaki yang tergesa, memberi kabar pada remang tangisanku yang kanak. tak pernah tanak.

 

dan ibu cuma sendiri. ia begitu kuat, menahan semua ingin yang terasa jadi dingin. lantai keramik putih, kayu yang keropos. tapi ibu bertahan sebagaimana nafas pada hujan. yang membersihkan debu di jangat tubuh.

 

2016

 

Berkas-berkas yang Terus Kausingkap

 

kau menelusuri kalimat. mengingat beberapa riwayat. menandai tempat. alamat yang berkerat. ada pelepah gundah yang lupa. seperti sketsa. betapa biografi hanya sekumpulan sunyi. menimang segala aturan. tapi kau terus memberi tanda. seperti menghitung potret diri. atau masalalu yang terikat dengan selamat. engkau membaca lagi. setiap kalimat yang menarikmu dalam sebuah ingatan gelap.

 

2016

 

 

Jalan ke Tanjungkarang

 

jalan ke tanjungkarang kini memadat. kerumun tubuh liat yang tercekat. cahaya lampu yang membakar keriap sunyi. namun  kau terus memasuki kota, membelah-belah ingatan yang mulai buram. menyimpan jantung masa belia. di geliat cahaya, hanya ada desir angin menjilat tubir patung gajah. sebuah bundaran yang berkilat hujan.

 

jalan ke tanjungkarang meneguhkan bisik. sisik pakaian para perempuan muda, menujah matamu. payung terbentang penuh warna. terang benderang dihantam merkuri. menghadap jalan besar yang melingkar. remah langkah perempuan menerjang hujan. sekejap kau disergap ilusi, atau kota ini memang hanya imajinasi sebuah puisi?

 

2016

 

Alexander Robert Nainggolan: Alexander Robert Nainggolan (Alex R. Nainggolan) lahir di Jakarta, 16 Januari 1982. Bekerja sebagai staf Satlak Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kelurahan Gondangdia Kec. Menteng Kota Adm. Jakarta Pusat. Menyelesaikan studi di FE Unila jurusan Manajemen. Tulisan berupa cerpen, puisi, esai, tinjauan buku terpublikasi di Majalah Sastra Horison, Jurnal Puisi, Kompas, Republika, Jurnal Nasional, Jurnal Sajak, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Seputar Indonesia, Berita Harian Minggu (Singapura), Sabili, Annida, Matabaca, Majalah Basis, Minggu Pagi, Koran Merapi, Indo Pos, Minggu Pagi, Bali Post, News Sabah Times (Malaysia), Surabaya News, Suara  Merdeka, Pikiran Rakyat (Bandung), Tribun Jabar, Radar Surabaya, Lampung Post, Sriwijaya Post, Riau Pos, Suara Karya, Bangka Pos, NOVA, Tabloid Cempaka (Semarang), Rakyat Sumbar, Padang Ekspres, Medan Bisnis, Analisa, On/Off, Majalah e Squire, Majalah Femina, www.sastradigital.com, www.angsoduo.net, Majalah Sagang Riau, dll. Pernah dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi di LPM PILAR FE Unila. Beberapa karyanya juga termuat dalam antologi Ini Sirkus Senyum…(Bumi Manusia, 2002), Elegi Gerimis Pagi (KSI, 2002), Grafitti Imaji (YMS, 2002), Puisi Tak Pernah Pergi (KOMPAS, 2003), Muli (DKL, 2003), Dari Zefir Sampai Puncak Fujiyama (CWI, Depdiknas, 2004), La Runduma (CWI & Menpora RI, 2005), 5,9 Skala Ritcher (KSI & Bentang Pustaka, 2006), Negeri Cincin Api (Lesbumi NU, 2011), Akulah Musi (PPN V, Palembang 2011), Sauk Seloko (PPN VI, Jambi 2012), Negeri Abal-Abal (Komunitas Radja Ketjil, Jakarta, 2013). Bukunya yang telah terbit Rumah Malam di Mata Ibu (kumpulan cerpen, Penerbit Pensil 324 Jakarta, 2012), Sajak yang Tak Selesai (kumpulan puisi, Nulis Buku, 2012), Kitab Kemungkinan (kumpulan cerpen, Nulis Buku, 2012).

Continue Reading

Puisi

Puisi-Puisi Novia Rika Perwitasari

mm

Published

on

DALAM PERJALANAN KE STASIUN KERETA

Dalam perjalananku ke stasiun kereta, matahari telah luput
udara dingin menembus—kulit terbuka
kebisingan, kemacetan demi kemacetan
melenyapkan suara batin langit
wajah-wajah asing melintas
lampu jalan yang suram dan muram
di bawah grafiti sayap
menyulap siluet napasku

udara dingin menembus—kulit terbuka
kebisingan, kemacetan demi kemacetan
melenyapkan suara batin langit
wajah-wajah asing melintas
lampu jalan yang suram dan muram
di bawah grafiti sayap
menyulap siluet napasku

Dalam cermin hitam di bangunan dan mobil-mobil
aku melihat bayangan diriku yang tak sempurna;
pantulanku yang tak sempurna di jendela
mengumumkan adanya manusia di dalam diriku
mengintip jiwaku di antara orang-orang asing
dan percakapan yang hilang
dalam perjalanan ke stasiun kereta

Ini adalah perjalanan pulangku
di antara wajah-wajah yang merindukan rumah
menatah langit yang suram
pada baja kereta yang dingin
dan ruang di antara kursi-kursi kosong
dengan kelupaan yang selalu kulakukan
pada diriku dan jiwaku

Aku selalu sendirian
hingga kau datang hanya untuk menambah keheningan
keheningan yang tiba-tiba, sungguh lebih dari cukup
untuk memperbaiki setengah hatiku yang rusak
Diam-diam aku berharap, lebih lama
tiba di rumah
untuk menghirup udara tanpa batas ini

Jakarta, April 2018

TIBA DI STASIUN

Inginku memeluk bayangmu
di kaca kereta yang berganti-ganti cerita
namun kesunyian mengaburkan waktu
dan pintu terbuka di pemberhentian selanjutnya
Selamat tinggal, itu saja kataku

Akasia, 21 April 2018

JALAN HIDUP

Kita berdiri di beranda rumah, pagi-pagi sekali
Menanti pertanda arah hari dalam cahaya matahari
Perlahan merambati tubuh kita yang sekaku batang pepohonan
Kabar apa yang kita nanti, kita cari
Selain ingatan hangat yang mengepul di dekat secangkir teh hangat
Semakin mengental, semakin melekat tanpa perlu disuarakan

Setiap pagi aku menunggu matahari
Menelanjangi diri dari rasa sakit yang terkikis
Selapis demi selapis di bawah gradasi langit fajar
Sekali lagi hidup memberikan kesempatan mencicip luka
Yang terus kita obati dengan cara-cara rahasia
Goresan-goresan itu seringkali menyala di kala malam
Ketika kita fasih berbicara bahasa kalbu
Lalu, saat matahari menapak cakrawala maka hidup kita kembali menyala
Berjalan dengan kekuatan sederhana dan menjadi manusia

Apakah yang kita punya itu kepalsuan?
Bagiku, itulah kehidupan di bawah debu-debu matahari
Berlimpah cahaya, penuh bayangan dan pada saatnya pun tenggelam
Kita punya cara untuk memilih menjaga hati
yang kita cintai, dan mengikhlaskan hati kita sendiri
Terkadang cahaya akan hilang, lorong gelap menemui jalan terang
Cinta akan ditantang cobaan dan rasa benci mendadak hambar

Tak ada yang akan memilihkannya untuk kita
Jalan ini hanya kita yang mampu laluinya
Dengan kekuatan yang tersisa dalam napas

Jakarta, 29 Agustus 2018

BULAN TENGGELAM DI MATAMU

Aku melihat bulan tenggelam di matamu
Entah berapa lama, sinarnya merasuki
dan aku mulai melihat bayanganmu
berjalan melintasi lampu-lampu jalan,
pohon-pohon yang dimakan temaram,
asap-asap kendaraan dan riuh jalanan
Aku tak mengira akan mencari jejakmu
di tengah asing riuh malam

Di bawah bulan yang tenggelam di matamu
aku melihat kilas cahaya, saat kau menoleh
dari atas jembatan penyeberangan
mungkin saja, kau sama sepertiku
mencari jejak yang ditinggalkan bulan
Meski saat kita saling menemukan
kita sudah terbiasa pada cahaya bulan yang tak bersuara

Aku melihatnya di matamu, bulan yang tenggelam itu
mengisi kesunyian yang kita rahasiakan
dan aku tahu, tak ada jalan untuk membuka rahasia
kecuali pada angin jalanan ketika kita berjalan bersama

Malam ini
bulan menerangi setengah bagian bumi,
menerangi mata kita,
menerangi kesunyian yang timbul tenggelam,
dan sebelum ucapan selamat tinggal
sekali lagi aku melihat bulan tenggelam di matamu

Akasia, 17 April 2018


KOTA TANPA NAMA

Bila hati adalah kota yang kehilangan nama
tumbuh semarak dari ingatan yang berpijar
melingkar dan berpendar di sudut-sudut kota
Dan kota yang sibuk mencatat setiap perjalanan
tumbuh dari bumi, turun dari langit,
bertemu di persimpangan mata hati

Rombongan pejalan kaki menyusuri jalan berdebu;
sementara kita mencari jalan sendiri
yang terus bersisian, bersinggungan
namun tak akan pernah menjadi tujuan
tak akan mungkin, meski betapa dahsyat
hati ini berdetak di sampingmu

Kita telah menjadi bagian perjalanan,
fragmen yang berserakan di sudut kota
Di setiap keramaian dan ritme yang tak terkejar
sejenak waktu menghadirkan ruang temu
tempat kita bersandar tanpa saling bersentuhan,
tanpa saling bertatapan, tanpa saling mengungkapkan perasaan

Semua ingatan menjadi satu di dinding-dinding kota
mekar di setiap pergantian siang-malam
Bila suatu saat nanti,
aku menghentikan langkah di tengah jalan pulang
mungkin aku tengah mengingatmu
mungkin aku menyebut namamu dalam sepi
mungkin aku menahan luka ini sendiri

Akasia, 4 November 2018

*) Novia Rika Perwitasari. Berasal dari Malang, Jawa Timur. Saat ini tinggal di Tangerang Selatan. Senang menulis puisi untuk menghidupkan jiwanya. Karya puisinya masuk dalam berbagai buku antologi puisi nasional serta beberapa media puisi internasional seperti Dying Dahlia Review, The Murmur House, Haiku Masters NHK Japan, Optimum Poetry Zine. Pernah meraih juara 1 nasional lomba puisi Penerbit Oksana (2015), juara 1 nasional lomba puisi Majelis Sastra Bandung (2016), juara 1 nasional lomba puisi “Pindul Bersajak” (2017), juara 2 nasional Sayembara Pena Kita (2017), dll.

Continue Reading

Puisi

Sajak Cinta Sepanjang Malam

mm

Published

on

1/

Cinta adalah masa yang menjadi silam

Yang terbakar menjadi api unggun

Di antara orang-orang mabuk

Kepayang dan kedinginan

Menahan pilu dan menari

Hasrat yang terkburu dan pedih yang menjulang

Dewi kasmaran memadahkan kidung dan lara

Janji yang silam

Tangismu dan ratapku bangkit

Dari kedalaman

Membisu dalam nyanyian

Tersesat dalam tarian yang asing

 

2/

“Mabuklah dalam cinta—

Kenapa tak kau nyanyikan lagu jiwamu?—

Beritahu seluruh dunia

Cinta yang tak sanggup berhenti

Ia berlari memburu

Lagu-lagu telah dikidungkan

Kenapa tak kau miliki cintamu

Yang telah menjadi lagu burung-burung malam

Dinyanyikan sepanjang pesta

Saat semua perindu

Merayakan keheningan.”

 

3/

Detak jantungmu

Pejam matamu

Ratap dan pilimu

Lelahmu yang menunggu

Bersekutulah bersama

Mabuk dan menyanyilah

Cinta adalah sajak panjang

Milik penyair dan penari

Yang tak pernah menulis sajak cintanya

Yang tak pernah menyanyikan lagu kasmaran

Detak jantungmu lagu ratapmu

Telah menjadi serigala

Yang melolong ke puncak dan jauh

Ratap cinta yang memanggil…

 

4/

Cinta ini akan kehilangan bahasa

Lagu ini akan kehilangan irama

Rembulan akan menjadi api

Seorang akan tetap menari

Perindu akan tetap bernyanyi

Kata-kata pulang ke surga

 

Yang tidak mabuk tidak mengerti

Yang bukan penyair takkan mendengar

Ratap cinta yang memanggil..

 

5/

“Lagu-lagu akan berakhir

Penyair akan berhenti

Api kan padam

Waktu segera berlalu

Pesta dan sunyi kan jadi pagi

Jika jiwa tak juga berpeluk

Takkan ada kisah cinta

Takkan ada lagu dan tari

Tak ada kesunyian dan hening

Juga tidak ratap dalam duka kata

Cintalah yang melahirkan bahasa

Cinta yang membakar semua

Cinta yang menyusun sajak ini

Cinta yang membakar

Sajak cintaku sepanjang malam”

 

6/

 

Peluk cintamu sebelum

Lampu-lampu kota ini dipadamkan

Dan orang-orang menggantinya

Dengan kata-kata tak bermakna

Berhamburan di jalan-jalan

Di kafe-kafe

 

O kekasihku, tak ada sajak dikafe-kafe

Tak ada sajak di jalan-jalan

Kita semua telah terlambat

Kehilangan lagu-lagu

Ditinggalkan dan Lelah

O kekasihku

Aku mabuk—senidirian!

Sepanjang malam—dalam sajak-sajak cinta

Yang gagal kutulis untukmu.

 

Jakarta, 23 Oktober 2018

Sabiq Carebesth

 

Continue Reading

Classic Poetry

Sajak-Sajak Rasul Gamzatov

mm

Published

on

Sajak-Sajak Rasul Gamzatov—Sastrawan dari Dagestan

Penerjemah dari Bahasa Rusia: Ladinata Jabarti

___________

 

BURUNG-BURUNG BANGAU

Kadang kala terasa bagiku, bahwa serdadu-serdadu,

Yang tidak pernah kembali dari ladang-ladang pertempuran berdarah,

Entah pada suatu kapan bukan dibaringkan ke dalam bumi,

Tetapi mereka berubah menjadi kawanan burung bangau berwarna putih.

 

Burung-burung bangau tersebut sampai waktu kini sejak masa yang jauh itu

Berterbangan dan menyampaikan suaranya kepada kita.

Bukan lantaran itu-kah begitu kerap dan lara

Kita terdiam, seraya memandang-mandang langit?

 

Pada hari ini, di kala senja mengejar malam,

Aku melihat, bagaimana burung-burung bangau di tengah kabut

Terbang dengan susun-banjar yang pasti,

Bagaimana mereka mengembara seperti galibnya manusia di ladang-ladang.

 

Burung-burung bangau itu terbang dan menempuh perjalanan yang jauh

Dan mereka memanggil-manggil nama seseorang.

Bukan karena itu-kah bahasa Avar semenjak berabad-abad yang lalu

Serupa dengan teriakan burung-burung bangau?

 

Terbang, terbang melintas langit sebarisan baji yang kelelahan –

Terbang di tengah kabut pada penghujung hari,

Dan di dalam susun-banjar itu ada ruang kecil –

Bolehlah jadi, itu adalah tempat bagiku!

 

Bakal datang hari dan dengan kawanan burung-burung bangau itu

Aku akan berlayar di dalam kabut kelabu serupa,

Dan dari balik langit dengan bahasa para burung, aku memanggil-manggil

Kalian semua, yang telah aku tinggalkan di atas permukaan bumi.

 

 

KAU – SAJAK PERTAMAKU

 

Kepadamu aku kembali jatuh hati dan terpaku…

Yang demikian itu tidak bakalan terjadi – demikiankah yang kau ujarkan?

Tetapi pada setiap kedatanganku, tampak bagiku

Paris itu penuh misteri, magis dan selalu baru.

 

Begitulah yang terjadi. Kau hidup, kau hidup di dalam keberkahan sinar.

Musim semi sedang terjadi – dan seakan buat pertama kalinya

Kau merasakan, betapa belianya angin

Dan kisah tidak konsisten dari butiran salju yang meleleh merupakan sesuatu yang baru.

 

Buat pertama kalinya aku menuliskan sajak-sajak –

Meski aku menulis sajak sudah sedemikian lama.

Biarkanlah begitu banyak kegembiraan yang meriangkan,

Tetapi aku mengingat hanya sajak terakhir – satu sajak saja.

 

Begitulah yang terjadi…Tidak ada yang surut, atau pun yang membusuk

Yang dikenal oleh gairah, yang dilahirkan lagi dan lagi.

Kau – sajak pertamaku

Dan cinta pertama, dan cinta yang tidak bakal pernah mati.

 

 

TIDAK ADA YANG LEBIH INDAH

 

Hidup itu tidak dapat dikira. Kita semua ada di dalam kekuasaannya.

Kita bersungut kepada kehidupan dan menyerapahinya.

Semakin rumit hidup, semakin berbahaya –

Semakin jadi putus asa kita mencintainya.

 

Aku melangkah di jalan yang tidaklah mudah,

Lubang-lubang, kubangan-kubangan – hanya, aku, bertahanlah!

Tetapi tidak ada seorang pun yang memikirkan, sesungguhnya,

Mengenai sesuatu pun, yang lebih indah, dibandingkan kehidupan.

 

 

CINTA, YANG DATANG KEPADAKU PADA MUSIM SEMI ITU

 

Tahun-tahun berlaluan, dengan mengambil dan memberi,

Kadang – melalui hati secara terang-terangan, kadang dengan jalan memutar,

Dan jangan menutup lembaran-lembaran kalender dan

Cinta, yang datang kepadaku pada musim semi itu.

 

Segalanya berubah – kadang mimpi, kadang waktu.

Segalanya berubah – kampungku dan bumi raya.

Segalanya berubah. Hanya satu yang tidak berubah

Cinta, yang datang kepadaku pada musim semi itu.

 

Ke manakah badai telah membawa kalian, kawan-kawanku?

Masih belum begitu lama juga kalian mengadakan pesta denganku.

Kini aku melihat satu-satunya kawan –

Cinta, yang datang kepadaku pada musim semi itu.

 

Baiklah, aku akan tunduk kepada tahun-tahun yang mendatang,

Akan aku berikan segalanya kepada mereka – kemilaunya siang dan sinarnya malam.

Hanyalah satu– biarkan orang-orang tidak memintanya! – yang tidak bakal aku berikan:

Cinta, yang datang kepadaku pada musim semi itu.

 

 

DAGESTAN

 

Manakala aku, yang berpergian ke banyak negara,

Dan kelelahan, kembali dari jalan, pulang ke rumah,

Dagestan bertanya, seraya membungkuk di atasku:

“Tidak adakah pelosok jauh, yang membuatmu jatuh hati?”

 

Aku pun menaiki gunung dan dari ketinggian itu,

Setelah menghela nafas dalam-dalam, kepadanya aku jawab:

“Tidaklah sedikit pelosok yang aku lihat, tetapi kau

Sebagaimana dulu memang tempat yang paling dicintai di muka bumi.”

 

Aku, bisa jadi, memang jarang bersumpah kepadamu dalam soal cinta,

Mencintai bukanlah sesuatu yang baru, tetapi bersumpah juga bukan sesuatu yang baru,

Aku mencintai dengan diam-diam, lantaran aku waswas:

Kata-kata yang diulang ratusan kali bakalan memudar.

 

Dan jika kepadamu, setiap anak laki-laki dari tempat ini

Seraya berteriak, seperti seorang bentara, akan bersumpah dalam soal cinta,

Maka batu-batu karang milikmu akan merasa jemu

Baik mendengar, maupun menjawab gema di dalam kejauhan.

 

Ketika kau tenggelam di dalam airmata dan darah,

Anak-anak lelakimu, yang sedikit berujar,

Pergi ke kematian, dan dengan sumpah diabdikannya perasaan cinta.

Terdengar tembang hebat dari bilah-bilah pisau belati.

 

Dan setelahnya, ketika pertempuran mereda,

Kepadamu, wahai Dagestan, di dalam cinta sejati

Anak-anakmu yang tidak banyak bicara bersumpah

Dengan beliung yang dipukul-pukul dan sabit yang mendencing.

 

Selama berabad-abad kau mengajarkan semua orang dan aku

Untuk bekerja dan hidup tidak dengan berisik, tetapi berani,

Kau mengajarkan, bahwasanya kata-kata lebih berharga dibandingkan kuda,

Dan orang-orang gunung tidak akan memasangkan pelana tanpa urusan.

 

Dan bagaimanapun juga, setelah kembali kepadamu dari tempat-tempat yang asing,

Dari kota-kota yang jauh, baik yang riuh bicara maupun yang penuh akal,

Aku masih saja kesulitan untuk berdiam, manakala mendengarkan suara-suara

Dari ricikanmu yang menembang dan suara gunung-gunungmu yang bermartabat.

 

SANTA CLARA

 

Sampai pagi hari di boulevard aku berjalan-jalan,

Aku masih belum semuanya melihat Santa Clara

Barangkali, Santa Clara dari dongengan kuno –

Kota dengan penamaan yang demikian halus?

 

Semuanya aku ulangi dengan lembut: Santa Clara.

Dan aku memanggil dengan segala harap: Santa Clara.

Dan aku melirih dengan lara: Santa Clara.

Dan aku berdiri di dalam diam: Santa Clara.

 

Siapatah yang mendirikan sebagai kehormatan bagi perempuan kecintaannya

Kota indah yang tak tertiru ini?

Siapatah yang memberikan hadiah kepada pengantin perempuannya

Kota ini – sebagai satu dongengan, kota ini – sebagai satu tembang?

 

Aku mendengar, di kejauhan terdengar suara gitar.

Kepadamu aku akui, Santa Clara:

Hidupku ini indah dan kaya

Dengan nama-nama, yang sakral bagi hati.

 

Itu adalah bunda – kau dengar, Santa Clara

Itu adalah anak perempuan – o, lebih tenanglah, Santa Clara

Dan saudara perempuanku di kampung tua.

Dan istriku, ah, Santa Clara!

 

Kalau saja aku mampu membikin keajaiban –

Aku bakal dirikan kota-kota di mana pun

Kota-kota di seberang sungai, di balik gunung-gunung

Dan aku menamainya dengan nama-nama yang indah.

 

Kalau saja setiap kota ditahbiskan

Dengan nama-nama perempuan yang sangat luar biasa,

Orang-orang akan dapat tidur dengan tenang

Dan perseteruan dan perang akan menghilang.

 

Semua orang akan mengulang pada tiap jamnya

Nama-nama kawan perempuan yang indah –

Serupa, seperti di dalam kesunyian boulevard-mu

Dan sampai pagi hari aku ulang-ulang: Santa Clara…

________________________

*) RASUL GAMZATOV

Rasul Gamzatovich Gamzatov (1923-2003) dilahirkan di desa Tsada, distrik Khunzakhsky, Dagestan, di dalam keluarga sastrawan Gamzat Tsadasa. Ayahnya tersebut merupakan seorang guru dan mentor pertamanya di dalam seni sajak. Sajak pertama Rasul Gamzatov ditulis  ketika dia berumur sebelas tahun.

Setelah lulus dari sekolah setempat, Rasul Gamzatov masuk ke sekolah pedagogi. Kemudian dia menjadi seorang guru, tetapi tidak begitu lama dan beberapa kali dia mengubah profesi: pernah menjadi asisten sutradara di teater keliling Avar, koresponden di surat kabar Bolshevik Mountains, dan bekerja di radio.

Pada tahun 1943 Gamzatov mempublikasikan kumpulan puisi pertamanya di dalam  bahasa Avar, Fiery Love dan Burning Hate.

Pada tahun 1945-1950 Gamzatov belajar di The Maxim Gorky Literature Institute. Setelah menamatkan pendidikannya, Rasul Gamzatov pada tahun 1951 menjadi Chairman of  the Union of Writers of Dagestan, tempat dia mengabdi sampai akhir hayatnya pada tahun 2003.

Karya-karya ternama Gamzatov, antara lain: The Older Brother (1952), Dagestani Spring (1955), Miner (1958), My Heart is in The Hills (1959), Two Shawls, Letters (1963), novel liris My Dagestan (1967-1971), Rosary of Years (1968), By The Hearth (1978), Island of Women (1983), dan Wheel of Life (1987).

Pada tahun 1952 Gamzatov dihadiahi the State Stalin Prize untuk karya kumpulan puisinya The Year of My Birth, tahun 1963 – The Lenin Prize untuk karyanya High Star, dan tahun 1981 –  The International Botev Prize, suatu penghargaan yang didasarkan kepada nama sastrawan ternama Bulgaria dan juga seorang tokoh Revolusioner: Hristo Botev.

Monumen Gamzatov, sebagai suatu penghargaan yang tinggi dari pemerintah Rusia dan orang-orang Dagestan, diresmikan pada 5 Juli 2013 di Yauzsky Boulevard,  Moskow. Monumen tersebut didirikan untuk merayakan 90 tahun kelahiran Rasul Gamzatov.

Sangatlah mungkin, Rasul Gamzatov merupakan satu-satunya sastrawan yang paling dikenal, yang menulis di dalam bahasa Avar atau Avarik, yakni bahasa yang digunakan, terutamanya, di bagian barat dan selatan Republik Kaukasus-Rusia di Dagestan, daerah Balaken, Zaqatala di barat laut Azerbaijan. Penutur bahasa ini diperkirakan hanya sekitar 762.000 orang dan UNESCO mengklasifikasikan bahasa Avar ini sebagai bahasa yang rentan terhadap kepunahan.

Continue Reading

Classic Prose

Trending