Connect with us

Puisi

Sajak-sajak Afrizal Malna

mm

Published

on

Zhenghui, aku mengagumi lukisanmu, yang kembali ke kertas bubur beras dan tinta China. Angin menjelang musim dingin mulai menyapa leherku.kartu identitas penduduk di china

kartu identitas penduduk di china

untuk lan zgenghui

Aku sudah menyiapkan tas ransel, mesin pencukur jenggot, dan sebuah kebangsaan yang dipotret di kantor kecamatan. Setiap terbangun, aku takut ketinggalan pesawat. Atau menemukan diriku sedang bercinta dengan bahasa China di kamar orang lain. Hari Selasa kemarin tidak datang. Besok masih besok. Kemarin entah ke mana sebelum hari Minggu. Hari Selasa masih menunggu kemarin yang tidak datang. Hari Selasa bukan hari Selasa kalau belum hari Selasa.

Besok, hari Selasa mulai akan melubangi bayanganku dari punggungku, untuk mendengar bahasa China dari sipit mataku hingga hardware komputerku. Besok masih besok sebelum kemarin. Hari Selasa tidak menyimpan 100 tahun dari ketakutan setiap generasi pada Kartu Identitas Penduduk, pendidikan dan lapangan kerja. Orang-orang membuat rumah untuk berdusta. Menjeritkan generasi yang berceceran di tangga eskalator. Dan menjeritkan lagi ketakutan mereka di atas great wall. Sejarah seperti obeng dan gergaji yang menjauhkan manusia dari tangan-tangan waktu.

Apakah kamu dari Indonesia? Tanya supir taksi. Ya jawabku. Seperti menjawab suara jeritan dari toko-toko yang terbakar di Jakarta. Perempuan mereka yang ditelanjangi dan diperkosa. Tubuh-tubuh yang berubah menjadi arang hitam. Sejarah yang mengambil tangan kita, dan membenamkannya kembali berulang ke dalam luka yang sama. Luka yang kembali bertanya: Apakah kamu dari Indonesia?

Pagi itu kabel-kabel listrik di jalan masih menahan dingin, melepaskan sisa-sisa malam, lemak dan kembang api olimpiade. Seorang teman memesan topi Mao. Apa yang aku kenang tentang negeri ini dari great wall, topi bulu musang dari Mongol, teguran politik dari Tibet, air terjun manusia yang tumpah dari lubang langit – hingga manajemen komunis yang mengatur penghasilan penduduk sampai kamar hotelku.

Zhenghui, aku mengagumi lukisanmu, yang kembali ke kertas bubur beras dan tinta China. Angin menjelang musim dingin mulai menyapa leherku.

khotbah di bawah tiang listrik

Aku membiarkan malam membuat balok kayu di punggungku. Angin berhembus seperti tiang gantungan yang menyeret talinya sendiri. Seorang lelaki, setelah menutup pintu mobilnya, berlari ke tiang listrik. Suara lubang dari tubuhnya terdengar mengerikan seperti suara sel penjara jam 11 malam. Kenapa kau berada di luar khotbah yang kau buat sendiri? Kenapa ada lendir yang menetes dari jam 11 malam?

Lelaki itu adalah jam 11 malam yang meninggalkan khotbahnya sendiri. Adalah jam 11 malam yang baru menemukan lubang sebesar paku di telapak tangannya sendiri, menyeret kesunyian dari leher tuhan yang telah menciptakan lelaki jam 11 malam. Bekas kawat berduri di keningnya, dan sisa-sisa nikotin di jari-jari tangannya. Lelaki itu membersihkan semua vagina untuk menemukan anaknya, khotbah-khotbah yang selalu ditutup dengan hujan yang digantung di tiang listrik.

Benarkah, tuhan, benarkah aku bisa melihat? Benarkah aku bisa mendengar? Benarkah, tuhan, benarkah aku sedang berdiri di bawah tiang listrik ini? Benarkah aku telah menggantikan khotbah dengan kematianku sendiri, bukan dengan kematian orang lain. Benarkah aku sedang berjalan meninggalkanmu, meninggalkan pakaianku di dalam mobil. Benarkah tubuhku telah menjadi lantai dalam geraja itu.

antri uang di bank

Seseorang datang menemui punggungku. Membicarakan sesuatu, menghitung sesuatu, seperti kasur yang terbakar dan hanyut di sungai. Lalu ia meletakkan batu es dalam botol mineralku.

batu dalam sepatu

Selamat pagi Kamsudi, selamat pagi Busro, selamat pagi Remy dan Aidil yang marah. Kami masih di sini, di warung sop buntut kemarin, gelas kopi kemarin, asbak dan kursi plastik kemarin. Kami masih menjaga sebuah batu yang kami simpan dalam sepatu kami. Kami memotret tubuh kami sendiri di depan warung kopi, di samping tong sampah. Rambut putih yang putus dari kepala kami, setelah tertawa tertahan, dan hari kemarin masih di sini.

Selamat pagi, waktu. Selamat pagi semua yang telah menggantikan malam kami dengan cerita-cerita kecil. Waktu yang melapukkan atap kamar tidur kami, sebelum kami sempat terpulas, mengintip mimpi dari tembok-tembok berjamur. Hampir 50 tahun kami menunggu hingga sepatu kami kembali berubah menjadi kulit sapi. Waktu, seperti makhluk-makhluk asing yang beranak-pinak dalam tubuh kami. Puisi yang sampai sekarang tidak tahu bagaimana cara menuliskannya: 12 selimut untuk teman-teman dari Makassar. 12 selimut untuk teman-teman dari Padang dan Lampung.

Dan besok, besok kami akan datang lagi ke warung kemarin, ke Jalan Cikini kemarin yang telah menjadikan tubuh kami sebagai percobaan waktu untuk menunggu, percobaan menunggu untuk bisa melihat, percobaan melihat untuk mengenal kedatanganmu tak terduga. Percobaan untuk tetap berada di hari kemarin. Para gubernur datang dan berganti di kota ini, seperti permainan dalam kota-kota kolonial. Membuat peti telur untuk puisi dan teater.

Kemarin. Kami—kami tidak pernah tahu tentang hari ini dan hari esok. Dan batu lebih dalam lagi, lebih keras lagi, antara sepatu dan kulit sapi. Batu—untuk semua negeri yang terlalu curiga pada kebebasan, pada kemiskinan dan orang-orang yang masih tetap berjalan dengan kakinya.

kesepian di lantai 5 rumah sakit

Lelaki itu menatapku setelah selesai mengucapkan doa. Keningnya seperti mau berkata, apakah aku sedang membuat dusta? Aku menghampirinya, dan mencium bibirnya. Tubuh manusia itu sedih dan menyimpan bangkai masa lalu. Tetapi keningnya mengatakan, bahuku sakit dan bisa merasakan ciuman dari seluruh kesepian.

Aku kembali mencium lelaki itu, seperti jus tomat yang tidak tahu kenapa lelaki itu berdoa dan sekaligus merasa telah berdusta. Aku memeluk lelaki itu di lantai 5 sebuah rumah sakit. Lelaki itu melihat ambulan datang dan menerobos begitu saja ke dalam jantungnya. Dia tidak yakin apakah ambulan itu apakah jantung itu.

Lalu aku melompat dari lantai 5 rumah sakit itu, lalu aku melihat tubuhku melayang, batang-batang rokok berhamburan dari saku bajuku. Aku melihat kesunyian meledak dari seragam seorang suster, lalu aku tidak melihat ketika tiba-tiba aku tidak bisa lagi merasakan waktu: tuhan, jangan tinggalkan kesepian berdiri sendiri di lantai 5 sebuah rumah sakit. Lelaki itu tidak tahu apakah kematian itu sebuah dusta tentang waktu dan tentang cinta.

Lelaki itu kembali menatapku setelah selesai mengucapkan kesunyian, dan membuat ladang bintang-bintang di kaca jendela rumah sakit. Ciumannya seperti berkata, kesunyian itu, tidak pernah berdusta kepadamu. Aku lihat wajah lelaki itu, seperti selimut yang berbau obat-obatan. Perangkap tikus di bawah bantal. Dan kau tahu, akulah tahanan dari luka-lukamu.

__________________

*) Afrizal Malna lahir di Jakarta dan kini bermukim di Yogyakarta. Penulis buku sajak “Bantal Berasap: Empat Kumpulan Puisi (2010). Dan beberapa kumpulan sajak, kritik sastra dan naskah drama lainnya.

 

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Sabiq Carebesth: Tentang cinta yang kehilangan bahasa

mm

Published

on

1

Terkadang cinta kehilangan bahasa
Maka ia berjalan dengan bisu
Terkadang cinta bukan lagi kata
Maka ia menghabiskan hari hari
Dengan berjalan menyusuri kota kota

Dari peron stasiun, melewati kesunyian
Terasing di pasar pasar masa silam
Membenam dan beku di lantai enam apartemen
Di antara gerimis yang ragu,

malam yang enggan, lautan yang membisu—
cinta enggan berhenti
Tapi kita telah kehabisan kata-kata.

 

2

Lalu pada malam yang rapuh
Kita bertanya tentang keindahan;
Tentang cinta yang kehilangan bahasa

Kita pergi dari kota ke kota
Stasiun, kafe kafe,
ruang tunggu bandara—
Lalu kita diam diam mengira,
Cinta seperti kanvas kosong;
Kita telah menuang semua warna;
Malam dan subuh; lelah dan terburu—
Dan kita sama tak tahu
Gambar apa yang kita kehendaki
Musim apa yang kita damba.

 

3

Lalu kita beringsut dari mimpi
Mendapati pagi yang basah oleh hujan
Taksi yang menunggu dalam sepi
Jalanan redup—
Kota yang tiba-tiba hampa
Seakan hanya kita yang terjaga
Hanya kesunyian menghampiri
Tapi kita pun tak sempat bercakap;
Kita harus pergi
Dengan cinta yang tetap tak kita pahami.

 

4

“Cinta adalah waktu yang ingin kita tempuhi
Meniti ujung jalan dan kota kota,
kafe kafe yang beku—
lampu lampu yang merona seperti pipimu,
Sebelum hujan melelapkan kita
dalam mimpi buruk—untuk berjalan sendirian;
Menziarahi kesunyian kota kota, hening kafe kafe,

lampu lampu jalan yang sedan,

jendela apartemen berwarna kabut—dengan cinta
Yang tetap tak kita pahami.”


Sabiq Carebesth, Hong Kong—2019

 

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Agust Gunadin

mm

Published

on

Getty Images/ my verson of a great painting by robert-burns

Juni Menggerutu Pada Memilih

Masih seperti yang model kemarin

Kisah tentang waktu yang menggerutu dibahumu

Yang ingin ditepiskan pada suatu masa

Bahwa kau ingin segera memilih

Pada tempat ingin dipijak, pada ruang yang ingin bersahabat

Dan pada masa yang tepat sasar

Aku dan kamu telah menamainya

Namun sedang merajut tentang suatu nama itu

Tentang “berkuliah”

Yang tepat sasar, kata seorang kakek dalam perutusan

Agar kau jangan asal pilih

Sebab memilih sebuah konsekuensi

Sekali pilih “itu sudah”

Cbl:Pau, Juni 09

 

Cukup Meringankan Saja

Jika senja sebelumnya, kami menikmati kelegahan

Namun, senja pada hari itu berubah semburat merah

Sebab ada pilihan yang tersengal

Tak kala pendidikan bisa terapung

Lantas, ada waktu untuk merenung

Bukan! Merenung lalu menikmati

Tetapi merenung karena kami terbirit meraih angan

Angan kami pun jelas!

Menutup lubang yang masih terbuka

Bagaimana kami ke sana

Jika pada kini dan di sini

Menganga dan tercengang, kata mereka ilmu itu mahal

Maka jelas dibayar mahal

Kami pun mulai lunglai, berpikir pun agak meradang

Tatkala ilmu yang ingin dicari

Tergeletak pada ekonomi kami yang masih terpuruk

Mengeluh adalah cara kami

Mungkin yang di seberang sana peduli

Agar kami tersenyum sumringah

Bahwa kami butuh pendidikan yang perlu diringankan

Gnd: San Camillo, Mei 2019

Dilema Sebuah Lilin

Sengaja kudekapkan dengan lilin, sebab ia seringkali indah pada cahaya

Dan hangat untuk asa

Kita yang ingin menjadi (maha….)

Sesekali bertumpu pada lilin

Yang memampukan untuk kehangatan

Yang membawa asa pada cahaya

Menerangi lorong yang masih gelap

Menghangat yang masih peluh

Mengata untuk mewakili yang bisu, sebab seringkali

Kita keenakan untuk menjadi bisu

Lantas, penerangan ditindis api kebisuan

Dan kehangatan ditimpas asa kelesuan

Yang ingin menjadi (maha…)

Menjadi duta untuk menuntaskan

Maumere, 0609: GND

__________

*) Agust Gunadin, Mahasiswa STFK Ledalero, Ketua Kelompok Sastra di Seminari Tinggi St. Kamilus-Maumere. Beberapa puisi pernah dimuat di Pos Kupang, Warta Flobamora, Majalah Simalaba-Lampung, Floresmuda.Com, Gita Sang Surya-OFM dan Media online.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Aditya Ardi N

mm

Published

on

mumu

 

petiklah bianglala di dada ibumu

sebelum bintang mati dan bulan berlayar menjauh

 

ciptakan langitmu sendiri

yang berbeda dari langit marah kota ini

dengan tembakan laser dan merkuri

⎼dikutuk tunduk pada polusi

 

menarilah, mumu

dengan keriangan sebagaimana mustinya

sebelum kau kenali kutukan hari-hari

seperti mahalnya harga susu formula untuk bayi,

dokumen penghilang ingatan

serta agenda kerja yang memangkas usia

 

teruslah tersenyum, mumu

sebab hanya dengan itu hidup yang keras bisa dikalah

hanya dengan tersenyum, mumu

dunia akan dipenuhi belas kasih

dan cahaya cinta yang acap terlupa umat manusia

 

dangdut koplo rapsodi

 

dangdut koplo adalah obat

bagi rakyat melarat

ia beri bunyi bagi sunyi

yang kekal mengendap di lokalisasi

 

di dolly, di dolly

ia nyatakan diri untuk pertama kali

sebuah susunan notasi

mengurapi seluruh pelacur dan mucikari

merasuki seluruh ranjang dan sprei

menggoyang larik-larik larut menuju pagi

 

meski waktu terkutuk kedaluwarsa membungkus dolly

di sini, di jambon gang sempit ini

dangdut koplo bakal abadi

mengorkestrasi kehampaan hari-hari

 

  madah bagi para biduanita orkes

 

/1/ arlida putri

tak hanya berdiam dalam mikrofon

suaramu debur ombak

yang tidur dalam pikiranku

sapuan angin yang kini bersarang

di hulu jantungku

 

o, betapa cantikmu serupa pisau

berkilat dan mengacung ke arahku

 

tanpa bedak—tanpa gincu

kupuisikan namamu

dalam bait sunyi sajak ini

 

/2/ niken yra

 

seluruh isi dadamu adalah puisi

yang tak henti aku bacai

 

o, biduan

kerling nakalmu,

merogoh dalam-dalam lipatan jiwaku

yang selalu ingin menari dan hanyut bersamamu

 

suaramu api yang menjilat-jilat kayu tubuhku

begitu kusaksikan kau bergoyang—berdendang

teror mengambang di puncak siang

terbakar habis aku jadi abu

 

/3/  tasya rosmala

 

gendang telingaku adalah penampung terbaik

bagi pertikel sendu basah suaramu

seluruh getarnya aku rasakan

ia beresonansi menembusi urat nadi

hingga terpicu detak jantung ini

 

lewat larik-larik  yang naif

kita lantas rajin bertemu

di panggung-panggung orkesan

di kaset vcd bajakan dan sesekali di televisi

kemudian begitu saja kau kuakrabi

 

biduan,

barangkali hanya dalam puisi ini

lagu dangdut koplo begitu berarti

dan tak bakal mati

 

penggemar orkes garis keras

 

setelah seliter arak beras tandas

segera kami bergegas

menyerbu gelanggang dangdut

dimana hati dan pikiran kami tertaut

 

kami datang dengan hati riang

meski hidup kian keras meradang

oleh tagihan dan himpitan hutang

seirama kendang kami bergoyang

seturut dendang segala sakit hilang

 

pantat bulat biduan dangdut

bikin kami melupa anak istri

membawa kami jauh terhanyut

menepi dari kutukan hari-hari

 

di altar panggung orkes ini

kami akan terus bejoged, terus berjoged

hingga kami dapati cara  menyiasati

hidup yang telanjur koplo ini

 

saweran

matamu goyah

di hadapan lima ribu rupiah

mengasingkanmu dari pengertian ibu dan ayah

 

cium tangan biduan

 

aku cium tanganmu

dan sedikit terangsang

dan tuhan tahu itu

dan aku malu

tapi mau

_________

*) Aditya Ardi N: Penyair, lahir di Ngoro – Jombang, Jawa Timur 7 Januari 1987. Buku  Puisi  tunggalnya Mobilisasi Warung Kopi  (2011), Mazmur dari Timur (2016) .  Beberapa  karya puisi dan esai dimuat di media online/cetak  lokal maupun nasional serta  beberapa jurnal kebudayaan. Kini tinggal dan berkarya  di  Jl. Musi no 137, RT 02/RW 02, Dusun Gresikan, Desa Ngoro, Kec Ngoro, Kab Jombang,    Jawa Timur  kodepos: 61473. HP 0812-3374-0285 IG: @mas_genjus

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending