Connect with us

Prose & Poetry

Sajak Remaja; Sajak di Kafe

mm

Published

on

Sajak Remaja

 

Kulihat dari jendela sekolah

Rumahmu warna merah

Dengan kandang kuda warna senja rekah

Bertaman bunga kamboja

Dari celah bernada

Matamu padaku

Seperti bening sungai musim kemarau

 

O, siapa nyana kita kini tak lagi remaja

Ketemu di kota

Di Jembatan Lima dekat Kota

Kau menuju pulang

Dengan kereta masa silam

Kalah dari segala

 

Di kota ini kau tetap ayu

Tapi kalah dengan warna lampu-lampu

Di kota ini lampu-lampu hanya cocok

Untuk mereka yang punya bedak ratusan ribu

Dan kau yang kerap terburu di pagi buta

Mengejar bus ke pabirk tempat kau kerja

Mana sempat lihat pipi sendiri dalam cermin

Ketemu Tuhan pagi-pagi saja masih untung

Kerap subuhmu telah berlalu

Dan kipas angin berdebu mengganti dzikirmu

 

Oh daraku yang ayu

Kereta malam melaju

Aku tahu kau takkan kembali

Tapi siapa peduli padamu nanti

Pulang ke rumah tiada sawah

Sekolah tiada ijazah

Dan aku hanya pecandu malam

Yang hidup dengan bayang-bayang

Kenangan denganmu jadi dzikir malamku

Telah menjadi kutukan jiwaku kini

Sepanjang jalan bila kukenang

Bau tubuhmu yang wangi aroma roti

Tapi aku suka kopi dan tak pernah makan roti

Tapi malam kini kubeli roti

Aku tahu kemarin kau yang membuat

Tapi kucari namamu di sini tiada dapat

Hanya bau keringatmu membayang lekat

 

Teruslah berjalan pulang dara ayuku

Lelah kita mengeja malam

Ah tapi kau tak pernah lihat malam setahuku

Pulang dari pabrik roti tengah malam

Hampir pagi dan matamu telah sayu

Dalam kontrakan sempit jiwamu bertalu

Lunglai tubuhmu dekat kipas angin berdebu

Lalu subuh kembali merayumu untuk berlalu

Tuhan tak bisa mencegahmu berpaling

Tapi dia maha pengampun

Tahu dalam hatimu ada cintaNya

Kau bawa serta kini kembali

Ke kampung nun jauh

Bersama sekardus roti

Yang kau beli di pasar pagi

 

Dan aku sekarang sendiri

Duduk menatap roti

Yang dulu kau bikin sepanjang hari

Yang tak pernah bisa kau beli

 

Setiap pagi di pasar pagi

Aku mencarimu di kios roti

Setiap malam aku berdiri

Di mall dekat kios roti

Tapi tak kujumpai kau kembali

 

Selamat jalan dara ayuku

Nanti kubuatkan kau roti

Dalam sajak dan puisi.

 

Jakarta, Novomber 2016

 

 

Ratapan Silam

 

Suaramu dari kejauhan

Lagumu ngilu tak terperi

Cinta kita hampir saja abadi

 

Kelembutanmu nestapa abadiku

Jika saja waktu tak menggulung nasibku

Aku mencari jalan pulang padamu

Tapi jauh sekali waktu

Sejak terakhir kita tersenyum

Dan tahu matamu tak lagi buatku

 

November, 2016

 

 

Sajak di Kafe

 

Enam lampu menyala

Seakan di luar tiada kehidupan

O di mana pepohonan, sungai

Tanah liat atau pemakaman?

 

Di mana para penyair?

Di dekat kuburan, atau di hotel

Apa yang kini mereka cari?

Kilau atau nestapa

 

Lampu-lampu menggantikan waktu

Tak tahu terik atau gelap

Sama saja—

Dalam asbak atau segelas kopi

Siapa nyana kita ketemu

Dengan masa silam

Tapi kita lekas jemu

Sebab pada masa silam

Tak ada kafe

Tak ada sajak tentang lampu-lampu

 

 

Aduh dara depanku lembutnya

Satu kaki bertalu-talu

Tapi tetap saja diam di situ

Mengayun dalam awan

Lembut seperti kejauhan

Kita sebelahan

Tapi batin digulung kesunyian

Terhempas lagi dalam kejauhan

 

Mataku menembus kalbunya

“Kenapa kita tak berpeluk?” tanyaku

“Tak pelru”, katamu..

 

Biar kita diburu

Biar kita redam sendiri

Rindu dan nafsu

Sama jauhnya;

Atau begitu dekat

Seperti puisi dan penyairnya.”

 

“Dara ayuku kita hanya sajak di kafe

Yang hilang rupa oleh lampu-lampu

Seolah di luar tiada kehidupan.”

 

“Kita akan kembali bosan, seperti hari kemarin..”

 

Jakarta, 2016

 

Ratapan Aspal Pada Hujan

 

Tak ada musim dingin di sini

Tapi jiwa kita menggigil

Jiwa kita seperti aspal hitam

Di musim hujan ketika malam

Dibanjiri cahaya lampu jalan

Begitu sendiri begitu sepi

Seakan perjalanan abadi

 

Seorang datang seorang pergi

Dan jiwa kita tetap di sini

Kedinginan dan sepi

Cinta menyalakan api

Lalu cahaya

Atau sungguh bukan itu yang kita duga

 

Jiwa kita seperti hitam aspal

Sendiri dan kedinginan

Aku tahu kau akan tiba juga

Tapi kutahu ratapmu bukan tentangku.

 

Jakarta, 2016

 

*SABIQ CAREBESTH: Lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Aktif bersama “Galeri Buku Jakarta” (GBJ). Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Kumpulan sajak terbarunya akan segera terbit,  “Seperti Para Penyair” (2016)

Continue Reading

Puisi

Puisi-Puisi Novia Rika Perwitasari

mm

Published

on

DALAM PERJALANAN KE STASIUN KERETA

Dalam perjalananku ke stasiun kereta, matahari telah luput
udara dingin menembus—kulit terbuka
kebisingan, kemacetan demi kemacetan
melenyapkan suara batin langit
wajah-wajah asing melintas
lampu jalan yang suram dan muram
di bawah grafiti sayap
menyulap siluet napasku

udara dingin menembus—kulit terbuka
kebisingan, kemacetan demi kemacetan
melenyapkan suara batin langit
wajah-wajah asing melintas
lampu jalan yang suram dan muram
di bawah grafiti sayap
menyulap siluet napasku

Dalam cermin hitam di bangunan dan mobil-mobil
aku melihat bayangan diriku yang tak sempurna;
pantulanku yang tak sempurna di jendela
mengumumkan adanya manusia di dalam diriku
mengintip jiwaku di antara orang-orang asing
dan percakapan yang hilang
dalam perjalanan ke stasiun kereta

Ini adalah perjalanan pulangku
di antara wajah-wajah yang merindukan rumah
menatah langit yang suram
pada baja kereta yang dingin
dan ruang di antara kursi-kursi kosong
dengan kelupaan yang selalu kulakukan
pada diriku dan jiwaku

Aku selalu sendirian
hingga kau datang hanya untuk menambah keheningan
keheningan yang tiba-tiba, sungguh lebih dari cukup
untuk memperbaiki setengah hatiku yang rusak
Diam-diam aku berharap, lebih lama
tiba di rumah
untuk menghirup udara tanpa batas ini

Jakarta, April 2018

TIBA DI STASIUN

Inginku memeluk bayangmu
di kaca kereta yang berganti-ganti cerita
namun kesunyian mengaburkan waktu
dan pintu terbuka di pemberhentian selanjutnya
Selamat tinggal, itu saja kataku

Akasia, 21 April 2018

JALAN HIDUP

Kita berdiri di beranda rumah, pagi-pagi sekali
Menanti pertanda arah hari dalam cahaya matahari
Perlahan merambati tubuh kita yang sekaku batang pepohonan
Kabar apa yang kita nanti, kita cari
Selain ingatan hangat yang mengepul di dekat secangkir teh hangat
Semakin mengental, semakin melekat tanpa perlu disuarakan

Setiap pagi aku menunggu matahari
Menelanjangi diri dari rasa sakit yang terkikis
Selapis demi selapis di bawah gradasi langit fajar
Sekali lagi hidup memberikan kesempatan mencicip luka
Yang terus kita obati dengan cara-cara rahasia
Goresan-goresan itu seringkali menyala di kala malam
Ketika kita fasih berbicara bahasa kalbu
Lalu, saat matahari menapak cakrawala maka hidup kita kembali menyala
Berjalan dengan kekuatan sederhana dan menjadi manusia

Apakah yang kita punya itu kepalsuan?
Bagiku, itulah kehidupan di bawah debu-debu matahari
Berlimpah cahaya, penuh bayangan dan pada saatnya pun tenggelam
Kita punya cara untuk memilih menjaga hati
yang kita cintai, dan mengikhlaskan hati kita sendiri
Terkadang cahaya akan hilang, lorong gelap menemui jalan terang
Cinta akan ditantang cobaan dan rasa benci mendadak hambar

Tak ada yang akan memilihkannya untuk kita
Jalan ini hanya kita yang mampu laluinya
Dengan kekuatan yang tersisa dalam napas

Jakarta, 29 Agustus 2018

BULAN TENGGELAM DI MATAMU

Aku melihat bulan tenggelam di matamu
Entah berapa lama, sinarnya merasuki
dan aku mulai melihat bayanganmu
berjalan melintasi lampu-lampu jalan,
pohon-pohon yang dimakan temaram,
asap-asap kendaraan dan riuh jalanan
Aku tak mengira akan mencari jejakmu
di tengah asing riuh malam

Di bawah bulan yang tenggelam di matamu
aku melihat kilas cahaya, saat kau menoleh
dari atas jembatan penyeberangan
mungkin saja, kau sama sepertiku
mencari jejak yang ditinggalkan bulan
Meski saat kita saling menemukan
kita sudah terbiasa pada cahaya bulan yang tak bersuara

Aku melihatnya di matamu, bulan yang tenggelam itu
mengisi kesunyian yang kita rahasiakan
dan aku tahu, tak ada jalan untuk membuka rahasia
kecuali pada angin jalanan ketika kita berjalan bersama

Malam ini
bulan menerangi setengah bagian bumi,
menerangi mata kita,
menerangi kesunyian yang timbul tenggelam,
dan sebelum ucapan selamat tinggal
sekali lagi aku melihat bulan tenggelam di matamu

Akasia, 17 April 2018


KOTA TANPA NAMA

Bila hati adalah kota yang kehilangan nama
tumbuh semarak dari ingatan yang berpijar
melingkar dan berpendar di sudut-sudut kota
Dan kota yang sibuk mencatat setiap perjalanan
tumbuh dari bumi, turun dari langit,
bertemu di persimpangan mata hati

Rombongan pejalan kaki menyusuri jalan berdebu;
sementara kita mencari jalan sendiri
yang terus bersisian, bersinggungan
namun tak akan pernah menjadi tujuan
tak akan mungkin, meski betapa dahsyat
hati ini berdetak di sampingmu

Kita telah menjadi bagian perjalanan,
fragmen yang berserakan di sudut kota
Di setiap keramaian dan ritme yang tak terkejar
sejenak waktu menghadirkan ruang temu
tempat kita bersandar tanpa saling bersentuhan,
tanpa saling bertatapan, tanpa saling mengungkapkan perasaan

Semua ingatan menjadi satu di dinding-dinding kota
mekar di setiap pergantian siang-malam
Bila suatu saat nanti,
aku menghentikan langkah di tengah jalan pulang
mungkin aku tengah mengingatmu
mungkin aku menyebut namamu dalam sepi
mungkin aku menahan luka ini sendiri

Akasia, 4 November 2018

*) Novia Rika Perwitasari. Berasal dari Malang, Jawa Timur. Saat ini tinggal di Tangerang Selatan. Senang menulis puisi untuk menghidupkan jiwanya. Karya puisinya masuk dalam berbagai buku antologi puisi nasional serta beberapa media puisi internasional seperti Dying Dahlia Review, The Murmur House, Haiku Masters NHK Japan, Optimum Poetry Zine. Pernah meraih juara 1 nasional lomba puisi Penerbit Oksana (2015), juara 1 nasional lomba puisi Majelis Sastra Bandung (2016), juara 1 nasional lomba puisi “Pindul Bersajak” (2017), juara 2 nasional Sayembara Pena Kita (2017), dll.

Continue Reading

Puisi

Sajak Cinta Sepanjang Malam

mm

Published

on

1/

Cinta adalah masa yang menjadi silam

Yang terbakar menjadi api unggun

Di antara orang-orang mabuk

Kepayang dan kedinginan

Menahan pilu dan menari

Hasrat yang terkburu dan pedih yang menjulang

Dewi kasmaran memadahkan kidung dan lara

Janji yang silam

Tangismu dan ratapku bangkit

Dari kedalaman

Membisu dalam nyanyian

Tersesat dalam tarian yang asing

 

2/

“Mabuklah dalam cinta—

Kenapa tak kau nyanyikan lagu jiwamu?—

Beritahu seluruh dunia

Cinta yang tak sanggup berhenti

Ia berlari memburu

Lagu-lagu telah dikidungkan

Kenapa tak kau miliki cintamu

Yang telah menjadi lagu burung-burung malam

Dinyanyikan sepanjang pesta

Saat semua perindu

Merayakan keheningan.”

 

3/

Detak jantungmu

Pejam matamu

Ratap dan pilimu

Lelahmu yang menunggu

Bersekutulah bersama

Mabuk dan menyanyilah

Cinta adalah sajak panjang

Milik penyair dan penari

Yang tak pernah menulis sajak cintanya

Yang tak pernah menyanyikan lagu kasmaran

Detak jantungmu lagu ratapmu

Telah menjadi serigala

Yang melolong ke puncak dan jauh

Ratap cinta yang memanggil…

 

4/

Cinta ini akan kehilangan bahasa

Lagu ini akan kehilangan irama

Rembulan akan menjadi api

Seorang akan tetap menari

Perindu akan tetap bernyanyi

Kata-kata pulang ke surga

 

Yang tidak mabuk tidak mengerti

Yang bukan penyair takkan mendengar

Ratap cinta yang memanggil..

 

5/

“Lagu-lagu akan berakhir

Penyair akan berhenti

Api kan padam

Waktu segera berlalu

Pesta dan sunyi kan jadi pagi

Jika jiwa tak juga berpeluk

Takkan ada kisah cinta

Takkan ada lagu dan tari

Tak ada kesunyian dan hening

Juga tidak ratap dalam duka kata

Cintalah yang melahirkan bahasa

Cinta yang membakar semua

Cinta yang menyusun sajak ini

Cinta yang membakar

Sajak cintaku sepanjang malam”

 

6/

 

Peluk cintamu sebelum

Lampu-lampu kota ini dipadamkan

Dan orang-orang menggantinya

Dengan kata-kata tak bermakna

Berhamburan di jalan-jalan

Di kafe-kafe

 

O kekasihku, tak ada sajak dikafe-kafe

Tak ada sajak di jalan-jalan

Kita semua telah terlambat

Kehilangan lagu-lagu

Ditinggalkan dan Lelah

O kekasihku

Aku mabuk—senidirian!

Sepanjang malam—dalam sajak-sajak cinta

Yang gagal kutulis untukmu.

 

Jakarta, 23 Oktober 2018

Sabiq Carebesth

 

Continue Reading

Classic Poetry

Sajak-Sajak Rasul Gamzatov

mm

Published

on

Sajak-Sajak Rasul Gamzatov—Sastrawan dari Dagestan

Penerjemah dari Bahasa Rusia: Ladinata Jabarti

___________

 

BURUNG-BURUNG BANGAU

Kadang kala terasa bagiku, bahwa serdadu-serdadu,

Yang tidak pernah kembali dari ladang-ladang pertempuran berdarah,

Entah pada suatu kapan bukan dibaringkan ke dalam bumi,

Tetapi mereka berubah menjadi kawanan burung bangau berwarna putih.

 

Burung-burung bangau tersebut sampai waktu kini sejak masa yang jauh itu

Berterbangan dan menyampaikan suaranya kepada kita.

Bukan lantaran itu-kah begitu kerap dan lara

Kita terdiam, seraya memandang-mandang langit?

 

Pada hari ini, di kala senja mengejar malam,

Aku melihat, bagaimana burung-burung bangau di tengah kabut

Terbang dengan susun-banjar yang pasti,

Bagaimana mereka mengembara seperti galibnya manusia di ladang-ladang.

 

Burung-burung bangau itu terbang dan menempuh perjalanan yang jauh

Dan mereka memanggil-manggil nama seseorang.

Bukan karena itu-kah bahasa Avar semenjak berabad-abad yang lalu

Serupa dengan teriakan burung-burung bangau?

 

Terbang, terbang melintas langit sebarisan baji yang kelelahan –

Terbang di tengah kabut pada penghujung hari,

Dan di dalam susun-banjar itu ada ruang kecil –

Bolehlah jadi, itu adalah tempat bagiku!

 

Bakal datang hari dan dengan kawanan burung-burung bangau itu

Aku akan berlayar di dalam kabut kelabu serupa,

Dan dari balik langit dengan bahasa para burung, aku memanggil-manggil

Kalian semua, yang telah aku tinggalkan di atas permukaan bumi.

 

 

KAU – SAJAK PERTAMAKU

 

Kepadamu aku kembali jatuh hati dan terpaku…

Yang demikian itu tidak bakalan terjadi – demikiankah yang kau ujarkan?

Tetapi pada setiap kedatanganku, tampak bagiku

Paris itu penuh misteri, magis dan selalu baru.

 

Begitulah yang terjadi. Kau hidup, kau hidup di dalam keberkahan sinar.

Musim semi sedang terjadi – dan seakan buat pertama kalinya

Kau merasakan, betapa belianya angin

Dan kisah tidak konsisten dari butiran salju yang meleleh merupakan sesuatu yang baru.

 

Buat pertama kalinya aku menuliskan sajak-sajak –

Meski aku menulis sajak sudah sedemikian lama.

Biarkanlah begitu banyak kegembiraan yang meriangkan,

Tetapi aku mengingat hanya sajak terakhir – satu sajak saja.

 

Begitulah yang terjadi…Tidak ada yang surut, atau pun yang membusuk

Yang dikenal oleh gairah, yang dilahirkan lagi dan lagi.

Kau – sajak pertamaku

Dan cinta pertama, dan cinta yang tidak bakal pernah mati.

 

 

TIDAK ADA YANG LEBIH INDAH

 

Hidup itu tidak dapat dikira. Kita semua ada di dalam kekuasaannya.

Kita bersungut kepada kehidupan dan menyerapahinya.

Semakin rumit hidup, semakin berbahaya –

Semakin jadi putus asa kita mencintainya.

 

Aku melangkah di jalan yang tidaklah mudah,

Lubang-lubang, kubangan-kubangan – hanya, aku, bertahanlah!

Tetapi tidak ada seorang pun yang memikirkan, sesungguhnya,

Mengenai sesuatu pun, yang lebih indah, dibandingkan kehidupan.

 

 

CINTA, YANG DATANG KEPADAKU PADA MUSIM SEMI ITU

 

Tahun-tahun berlaluan, dengan mengambil dan memberi,

Kadang – melalui hati secara terang-terangan, kadang dengan jalan memutar,

Dan jangan menutup lembaran-lembaran kalender dan

Cinta, yang datang kepadaku pada musim semi itu.

 

Segalanya berubah – kadang mimpi, kadang waktu.

Segalanya berubah – kampungku dan bumi raya.

Segalanya berubah. Hanya satu yang tidak berubah

Cinta, yang datang kepadaku pada musim semi itu.

 

Ke manakah badai telah membawa kalian, kawan-kawanku?

Masih belum begitu lama juga kalian mengadakan pesta denganku.

Kini aku melihat satu-satunya kawan –

Cinta, yang datang kepadaku pada musim semi itu.

 

Baiklah, aku akan tunduk kepada tahun-tahun yang mendatang,

Akan aku berikan segalanya kepada mereka – kemilaunya siang dan sinarnya malam.

Hanyalah satu– biarkan orang-orang tidak memintanya! – yang tidak bakal aku berikan:

Cinta, yang datang kepadaku pada musim semi itu.

 

 

DAGESTAN

 

Manakala aku, yang berpergian ke banyak negara,

Dan kelelahan, kembali dari jalan, pulang ke rumah,

Dagestan bertanya, seraya membungkuk di atasku:

“Tidak adakah pelosok jauh, yang membuatmu jatuh hati?”

 

Aku pun menaiki gunung dan dari ketinggian itu,

Setelah menghela nafas dalam-dalam, kepadanya aku jawab:

“Tidaklah sedikit pelosok yang aku lihat, tetapi kau

Sebagaimana dulu memang tempat yang paling dicintai di muka bumi.”

 

Aku, bisa jadi, memang jarang bersumpah kepadamu dalam soal cinta,

Mencintai bukanlah sesuatu yang baru, tetapi bersumpah juga bukan sesuatu yang baru,

Aku mencintai dengan diam-diam, lantaran aku waswas:

Kata-kata yang diulang ratusan kali bakalan memudar.

 

Dan jika kepadamu, setiap anak laki-laki dari tempat ini

Seraya berteriak, seperti seorang bentara, akan bersumpah dalam soal cinta,

Maka batu-batu karang milikmu akan merasa jemu

Baik mendengar, maupun menjawab gema di dalam kejauhan.

 

Ketika kau tenggelam di dalam airmata dan darah,

Anak-anak lelakimu, yang sedikit berujar,

Pergi ke kematian, dan dengan sumpah diabdikannya perasaan cinta.

Terdengar tembang hebat dari bilah-bilah pisau belati.

 

Dan setelahnya, ketika pertempuran mereda,

Kepadamu, wahai Dagestan, di dalam cinta sejati

Anak-anakmu yang tidak banyak bicara bersumpah

Dengan beliung yang dipukul-pukul dan sabit yang mendencing.

 

Selama berabad-abad kau mengajarkan semua orang dan aku

Untuk bekerja dan hidup tidak dengan berisik, tetapi berani,

Kau mengajarkan, bahwasanya kata-kata lebih berharga dibandingkan kuda,

Dan orang-orang gunung tidak akan memasangkan pelana tanpa urusan.

 

Dan bagaimanapun juga, setelah kembali kepadamu dari tempat-tempat yang asing,

Dari kota-kota yang jauh, baik yang riuh bicara maupun yang penuh akal,

Aku masih saja kesulitan untuk berdiam, manakala mendengarkan suara-suara

Dari ricikanmu yang menembang dan suara gunung-gunungmu yang bermartabat.

 

SANTA CLARA

 

Sampai pagi hari di boulevard aku berjalan-jalan,

Aku masih belum semuanya melihat Santa Clara

Barangkali, Santa Clara dari dongengan kuno –

Kota dengan penamaan yang demikian halus?

 

Semuanya aku ulangi dengan lembut: Santa Clara.

Dan aku memanggil dengan segala harap: Santa Clara.

Dan aku melirih dengan lara: Santa Clara.

Dan aku berdiri di dalam diam: Santa Clara.

 

Siapatah yang mendirikan sebagai kehormatan bagi perempuan kecintaannya

Kota indah yang tak tertiru ini?

Siapatah yang memberikan hadiah kepada pengantin perempuannya

Kota ini – sebagai satu dongengan, kota ini – sebagai satu tembang?

 

Aku mendengar, di kejauhan terdengar suara gitar.

Kepadamu aku akui, Santa Clara:

Hidupku ini indah dan kaya

Dengan nama-nama, yang sakral bagi hati.

 

Itu adalah bunda – kau dengar, Santa Clara

Itu adalah anak perempuan – o, lebih tenanglah, Santa Clara

Dan saudara perempuanku di kampung tua.

Dan istriku, ah, Santa Clara!

 

Kalau saja aku mampu membikin keajaiban –

Aku bakal dirikan kota-kota di mana pun

Kota-kota di seberang sungai, di balik gunung-gunung

Dan aku menamainya dengan nama-nama yang indah.

 

Kalau saja setiap kota ditahbiskan

Dengan nama-nama perempuan yang sangat luar biasa,

Orang-orang akan dapat tidur dengan tenang

Dan perseteruan dan perang akan menghilang.

 

Semua orang akan mengulang pada tiap jamnya

Nama-nama kawan perempuan yang indah –

Serupa, seperti di dalam kesunyian boulevard-mu

Dan sampai pagi hari aku ulang-ulang: Santa Clara…

________________________

*) RASUL GAMZATOV

Rasul Gamzatovich Gamzatov (1923-2003) dilahirkan di desa Tsada, distrik Khunzakhsky, Dagestan, di dalam keluarga sastrawan Gamzat Tsadasa. Ayahnya tersebut merupakan seorang guru dan mentor pertamanya di dalam seni sajak. Sajak pertama Rasul Gamzatov ditulis  ketika dia berumur sebelas tahun.

Setelah lulus dari sekolah setempat, Rasul Gamzatov masuk ke sekolah pedagogi. Kemudian dia menjadi seorang guru, tetapi tidak begitu lama dan beberapa kali dia mengubah profesi: pernah menjadi asisten sutradara di teater keliling Avar, koresponden di surat kabar Bolshevik Mountains, dan bekerja di radio.

Pada tahun 1943 Gamzatov mempublikasikan kumpulan puisi pertamanya di dalam  bahasa Avar, Fiery Love dan Burning Hate.

Pada tahun 1945-1950 Gamzatov belajar di The Maxim Gorky Literature Institute. Setelah menamatkan pendidikannya, Rasul Gamzatov pada tahun 1951 menjadi Chairman of  the Union of Writers of Dagestan, tempat dia mengabdi sampai akhir hayatnya pada tahun 2003.

Karya-karya ternama Gamzatov, antara lain: The Older Brother (1952), Dagestani Spring (1955), Miner (1958), My Heart is in The Hills (1959), Two Shawls, Letters (1963), novel liris My Dagestan (1967-1971), Rosary of Years (1968), By The Hearth (1978), Island of Women (1983), dan Wheel of Life (1987).

Pada tahun 1952 Gamzatov dihadiahi the State Stalin Prize untuk karya kumpulan puisinya The Year of My Birth, tahun 1963 – The Lenin Prize untuk karyanya High Star, dan tahun 1981 –  The International Botev Prize, suatu penghargaan yang didasarkan kepada nama sastrawan ternama Bulgaria dan juga seorang tokoh Revolusioner: Hristo Botev.

Monumen Gamzatov, sebagai suatu penghargaan yang tinggi dari pemerintah Rusia dan orang-orang Dagestan, diresmikan pada 5 Juli 2013 di Yauzsky Boulevard,  Moskow. Monumen tersebut didirikan untuk merayakan 90 tahun kelahiran Rasul Gamzatov.

Sangatlah mungkin, Rasul Gamzatov merupakan satu-satunya sastrawan yang paling dikenal, yang menulis di dalam bahasa Avar atau Avarik, yakni bahasa yang digunakan, terutamanya, di bagian barat dan selatan Republik Kaukasus-Rusia di Dagestan, daerah Balaken, Zaqatala di barat laut Azerbaijan. Penutur bahasa ini diperkirakan hanya sekitar 762.000 orang dan UNESCO mengklasifikasikan bahasa Avar ini sebagai bahasa yang rentan terhadap kepunahan.

Continue Reading

Classic Prose

Trending