© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Sajak Remaja; Sajak di Kafe

Sajak Remaja

 

Kulihat dari jendela sekolah

Rumahmu warna merah

Dengan kandang kuda warna senja rekah

Bertaman bunga kamboja

Dari celah bernada

Matamu padaku

Seperti bening sungai musim kemarau

 

O, siapa nyana kita kini tak lagi remaja

Ketemu di kota

Di Jembatan Lima dekat Kota

Kau menuju pulang

Dengan kereta masa silam

Kalah dari segala

 

Di kota ini kau tetap ayu

Tapi kalah dengan warna lampu-lampu

Di kota ini lampu-lampu hanya cocok

Untuk mereka yang punya bedak ratusan ribu

Dan kau yang kerap terburu di pagi buta

Mengejar bus ke pabirk tempat kau kerja

Mana sempat lihat pipi sendiri dalam cermin

Ketemu Tuhan pagi-pagi saja masih untung

Kerap subuhmu telah berlalu

Dan kipas angin berdebu mengganti dzikirmu

 

Oh daraku yang ayu

Kereta malam melaju

Aku tahu kau takkan kembali

Tapi siapa peduli padamu nanti

Pulang ke rumah tiada sawah

Sekolah tiada ijazah

Dan aku hanya pecandu malam

Yang hidup dengan bayang-bayang

Kenangan denganmu jadi dzikir malamku

Telah menjadi kutukan jiwaku kini

Sepanjang jalan bila kukenang

Bau tubuhmu yang wangi aroma roti

Tapi aku suka kopi dan tak pernah makan roti

Tapi malam kini kubeli roti

Aku tahu kemarin kau yang membuat

Tapi kucari namamu di sini tiada dapat

Hanya bau keringatmu membayang lekat

 

Teruslah berjalan pulang dara ayuku

Lelah kita mengeja malam

Ah tapi kau tak pernah lihat malam setahuku

Pulang dari pabrik roti tengah malam

Hampir pagi dan matamu telah sayu

Dalam kontrakan sempit jiwamu bertalu

Lunglai tubuhmu dekat kipas angin berdebu

Lalu subuh kembali merayumu untuk berlalu

Tuhan tak bisa mencegahmu berpaling

Tapi dia maha pengampun

Tahu dalam hatimu ada cintaNya

Kau bawa serta kini kembali

Ke kampung nun jauh

Bersama sekardus roti

Yang kau beli di pasar pagi

 

Dan aku sekarang sendiri

Duduk menatap roti

Yang dulu kau bikin sepanjang hari

Yang tak pernah bisa kau beli

 

Setiap pagi di pasar pagi

Aku mencarimu di kios roti

Setiap malam aku berdiri

Di mall dekat kios roti

Tapi tak kujumpai kau kembali

 

Selamat jalan dara ayuku

Nanti kubuatkan kau roti

Dalam sajak dan puisi.

 

Jakarta, Novomber 2016

 

 

Ratapan Silam

 

Suaramu dari kejauhan

Lagumu ngilu tak terperi

Cinta kita hampir saja abadi

 

Kelembutanmu nestapa abadiku

Jika saja waktu tak menggulung nasibku

Aku mencari jalan pulang padamu

Tapi jauh sekali waktu

Sejak terakhir kita tersenyum

Dan tahu matamu tak lagi buatku

 

November, 2016

 

 

Sajak di Kafe

 

Enam lampu menyala

Seakan di luar tiada kehidupan

O di mana pepohonan, sungai

Tanah liat atau pemakaman?

 

Di mana para penyair?

Di dekat kuburan, atau di hotel

Apa yang kini mereka cari?

Kilau atau nestapa

 

Lampu-lampu menggantikan waktu

Tak tahu terik atau gelap

Sama saja—

Dalam asbak atau segelas kopi

Siapa nyana kita ketemu

Dengan masa silam

Tapi kita lekas jemu

Sebab pada masa silam

Tak ada kafe

Tak ada sajak tentang lampu-lampu

 

 

Aduh dara depanku lembutnya

Satu kaki bertalu-talu

Tapi tetap saja diam di situ

Mengayun dalam awan

Lembut seperti kejauhan

Kita sebelahan

Tapi batin digulung kesunyian

Terhempas lagi dalam kejauhan

 

Mataku menembus kalbunya

“Kenapa kita tak berpeluk?” tanyaku

“Tak pelru”, katamu..

 

Biar kita diburu

Biar kita redam sendiri

Rindu dan nafsu

Sama jauhnya;

Atau begitu dekat

Seperti puisi dan penyairnya.”

 

“Dara ayuku kita hanya sajak di kafe

Yang hilang rupa oleh lampu-lampu

Seolah di luar tiada kehidupan.”

 

“Kita akan kembali bosan, seperti hari kemarin..”

 

Jakarta, 2016

 

Ratapan Aspal Pada Hujan

 

Tak ada musim dingin di sini

Tapi jiwa kita menggigil

Jiwa kita seperti aspal hitam

Di musim hujan ketika malam

Dibanjiri cahaya lampu jalan

Begitu sendiri begitu sepi

Seakan perjalanan abadi

 

Seorang datang seorang pergi

Dan jiwa kita tetap di sini

Kedinginan dan sepi

Cinta menyalakan api

Lalu cahaya

Atau sungguh bukan itu yang kita duga

 

Jiwa kita seperti hitam aspal

Sendiri dan kedinginan

Aku tahu kau akan tiba juga

Tapi kutahu ratapmu bukan tentangku.

 

Jakarta, 2016

 

*SABIQ CAREBESTH: Lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Aktif bersama “Galeri Buku Jakarta” (GBJ). Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Kumpulan sajak terbarunya akan segera terbit,  “Seperti Para Penyair” (2016)

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT