Connect with us

Prose & Poetry

Sajak Remaja; Sajak di Kafe

mm

Published

on

Sajak Remaja

 

Kulihat dari jendela sekolah

Rumahmu warna merah

Dengan kandang kuda warna senja rekah

Bertaman bunga kamboja

Dari celah bernada

Matamu padaku

Seperti bening sungai musim kemarau

 

O, siapa nyana kita kini tak lagi remaja

Ketemu di kota

Di Jembatan Lima dekat Kota

Kau menuju pulang

Dengan kereta masa silam

Kalah dari segala

 

Di kota ini kau tetap ayu

Tapi kalah dengan warna lampu-lampu

Di kota ini lampu-lampu hanya cocok

Untuk mereka yang punya bedak ratusan ribu

Dan kau yang kerap terburu di pagi buta

Mengejar bus ke pabirk tempat kau kerja

Mana sempat lihat pipi sendiri dalam cermin

Ketemu Tuhan pagi-pagi saja masih untung

Kerap subuhmu telah berlalu

Dan kipas angin berdebu mengganti dzikirmu

 

Oh daraku yang ayu

Kereta malam melaju

Aku tahu kau takkan kembali

Tapi siapa peduli padamu nanti

Pulang ke rumah tiada sawah

Sekolah tiada ijazah

Dan aku hanya pecandu malam

Yang hidup dengan bayang-bayang

Kenangan denganmu jadi dzikir malamku

Telah menjadi kutukan jiwaku kini

Sepanjang jalan bila kukenang

Bau tubuhmu yang wangi aroma roti

Tapi aku suka kopi dan tak pernah makan roti

Tapi malam kini kubeli roti

Aku tahu kemarin kau yang membuat

Tapi kucari namamu di sini tiada dapat

Hanya bau keringatmu membayang lekat

 

Teruslah berjalan pulang dara ayuku

Lelah kita mengeja malam

Ah tapi kau tak pernah lihat malam setahuku

Pulang dari pabrik roti tengah malam

Hampir pagi dan matamu telah sayu

Dalam kontrakan sempit jiwamu bertalu

Lunglai tubuhmu dekat kipas angin berdebu

Lalu subuh kembali merayumu untuk berlalu

Tuhan tak bisa mencegahmu berpaling

Tapi dia maha pengampun

Tahu dalam hatimu ada cintaNya

Kau bawa serta kini kembali

Ke kampung nun jauh

Bersama sekardus roti

Yang kau beli di pasar pagi

 

Dan aku sekarang sendiri

Duduk menatap roti

Yang dulu kau bikin sepanjang hari

Yang tak pernah bisa kau beli

 

Setiap pagi di pasar pagi

Aku mencarimu di kios roti

Setiap malam aku berdiri

Di mall dekat kios roti

Tapi tak kujumpai kau kembali

 

Selamat jalan dara ayuku

Nanti kubuatkan kau roti

Dalam sajak dan puisi.

 

Jakarta, Novomber 2016

 

 

Ratapan Silam

 

Suaramu dari kejauhan

Lagumu ngilu tak terperi

Cinta kita hampir saja abadi

 

Kelembutanmu nestapa abadiku

Jika saja waktu tak menggulung nasibku

Aku mencari jalan pulang padamu

Tapi jauh sekali waktu

Sejak terakhir kita tersenyum

Dan tahu matamu tak lagi buatku

 

November, 2016

 

 

Sajak di Kafe

 

Enam lampu menyala

Seakan di luar tiada kehidupan

O di mana pepohonan, sungai

Tanah liat atau pemakaman?

 

Di mana para penyair?

Di dekat kuburan, atau di hotel

Apa yang kini mereka cari?

Kilau atau nestapa

 

Lampu-lampu menggantikan waktu

Tak tahu terik atau gelap

Sama saja—

Dalam asbak atau segelas kopi

Siapa nyana kita ketemu

Dengan masa silam

Tapi kita lekas jemu

Sebab pada masa silam

Tak ada kafe

Tak ada sajak tentang lampu-lampu

 

 

Aduh dara depanku lembutnya

Satu kaki bertalu-talu

Tapi tetap saja diam di situ

Mengayun dalam awan

Lembut seperti kejauhan

Kita sebelahan

Tapi batin digulung kesunyian

Terhempas lagi dalam kejauhan

 

Mataku menembus kalbunya

“Kenapa kita tak berpeluk?” tanyaku

“Tak pelru”, katamu..

 

Biar kita diburu

Biar kita redam sendiri

Rindu dan nafsu

Sama jauhnya;

Atau begitu dekat

Seperti puisi dan penyairnya.”

 

“Dara ayuku kita hanya sajak di kafe

Yang hilang rupa oleh lampu-lampu

Seolah di luar tiada kehidupan.”

 

“Kita akan kembali bosan, seperti hari kemarin..”

 

Jakarta, 2016

 

Ratapan Aspal Pada Hujan

 

Tak ada musim dingin di sini

Tapi jiwa kita menggigil

Jiwa kita seperti aspal hitam

Di musim hujan ketika malam

Dibanjiri cahaya lampu jalan

Begitu sendiri begitu sepi

Seakan perjalanan abadi

 

Seorang datang seorang pergi

Dan jiwa kita tetap di sini

Kedinginan dan sepi

Cinta menyalakan api

Lalu cahaya

Atau sungguh bukan itu yang kita duga

 

Jiwa kita seperti hitam aspal

Sendiri dan kedinginan

Aku tahu kau akan tiba juga

Tapi kutahu ratapmu bukan tentangku.

 

Jakarta, 2016

 

*SABIQ CAREBESTH: Lahir pada 10 Agustus 1985. Tinggal dan bekerja di Jakarta. Aktif bersama “Galeri Buku Jakarta” (GBJ). Buku kumpulan sajaknya terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012). Kumpulan sajak terbarunya akan segera terbit,  “Seperti Para Penyair” (2016)

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Janin Badai

mm

Published

on

Oleh Ken Hanggara

Di perutku badai asing tumbuh dan beranak-pinak. Hitam, garang, dan liar. Jika ia mengamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki melayang. Ketika badai itu reda, hidupku hambar. Dan saat ia marah, aku mau mati saja.

“Badai asing melukaiku,” ujarku tersengal-sengal, “jadi kubunuh dia.”

Tapi, kata Ibu, kalau kamu bunuh badai di perutmu, bisa saja kamu yang mati. Aku takut dan belum tentu Tuhan menaruhku di surga kalau aku mati. Tapi badai ini sudah keterlaluan. Di perutku ia menggila. Tak tahu apa yang badai itu mau atau bagaimana ia beraktivitas hingga seolah-olah kulihat gambaran: lumatan nasi di lambung campur baur dengan cairan asam berlebih akibat derasnya badai.

Selama badai marah, aku melingkar di kasur, berputar-putar mirip gasing. Kadang diam dan memejamkan mata, atau mengejan dengan maksud mengusir badai itu, dengan harapan bisa kentut, meski ternyata tidak. Sakit luar biasa!

Ibu melarangku mengejan begitu, karena badai dikhawatirkan keluar lewat lubang kentut dengan kekuatan superbesar dan membikin gubuk kami roboh. Kalau rumah ini hancur, mau tinggal di mana kita? Mau menggelandang, ha?

Kubantah kata-kata Ibu. Kita tidak akan menggelandang dan rumah jelek ini tidak mungkin roboh hanya karena kentut. Tidak masuk akal. Bagaimana bisa badai dari perut gadis kurus sepertiku membuat bangunan ini roboh?

Tapi, untuk satu kata ‘logis’, badai yang tumbuh dan beranak-pinak di perut saja tidak bisa dibilang logis. Ia antara ada dan tiada. Bagi orang waras yang tidak tahu, aku pasti dianggap sinting.

“Kamu yakin ada badai di perutmu?” tanya temanku.

“Tidak sih. Di saat tertentu aku tenang. Tapi di saat lain aku mengejan-ngejan, atau berputar-putar seperti gasing. Kukira itu pertanda bahwa badai asing ini mengamuk.”

“Bagaimana kamu menyimpulkan kalau itu adalah badai?”

“Soalnya perutku seperti diputar, digiling. Kamu tahu digiling, nggak?”

Temanku tidak bisa berkata lain selain menyuruhku ke dokter. Anak ini sudah tidak beres, begitu katanya berulang-ulang, diam-diam, bisik-bisik ke yang lain; sayangnya aku dengar, Tolol!

Kataku, pergi ke dokter bukan solusi, meskipun Ibu menyarankan hal yang sama. Barangkali ahli meteorologi bisa memberiku penjelasan mengapa ada badai di perut manusia, sebuah badai yang tidak diketahui asal usulnya, yang tumbuh, berkembang, mengamuk, dan beranak-pinak di sana. Itulah kenapa kusebut dia ‘badai asing’.

Pertanyaan lain, yang sesungguhnya juga kutanyakan: Bagaimana aku yakin badai asing beranak-pinak di perutku? Aku tidak tahu. Aku semakin bingung setelah ada satu malam di mana badai itu menangisi anak-anaknya. Dia tenang dalam kondisi menangis, seperti danau di tengah hutan tanpa seekor binatang atau manusia atau pengaruh musim yang menimbulkan riak di permukaan air. Sikap menangis wanita lemah.

“Kalau badai itu menangis, aku ikut menangis. Tapi aku bingung, buat apa badai menangis? Apa badai asing ini bernyawa? Apa dia makhluk, seperti hewan, tumbuhan, manusia, jin, malaikat…”

Kurasa ini petunjuk Tuhan. Mungkin badai di perutku termasuk makhluk semacam malaikat—atau jin, tapi beda jenis. Kalau benar, ini penemuan besar. Mungkin sudah takdirnya begitu, sehingga aku lega karena ada alasan di balik misteri badai di perutku. Secara teori, badai ini tidak cuma bisa menembus benda material sebagaimana malaikat atau jin, tetapi juga memiliki akal dan nafsu dalam dirinya.

Saat pertama kuberi tahu soal badai di perutku, Ibu diam. Beberapa jam Ibu tidak bicara dan sekalinya bersuara, dia bilang tidak terima saat kukatakan badai asing bisa beranak-pinak karena dia satu dari sekian jenis makhluk di dunia ini.

“Kamu bicara apa? ‘Kan sudah Ibu bilang, kamu bawa saja ke dokter!”

“Ibu tidak tahu badai asing ini makhluk berbahaya! Dokter tidak bisa melawannya. Kalau bisa, tidak satu pun dokter di dunia ini yang meninggal!”

“Kamu ini kacau, ya!”

“Memang, Bu. Kalau badai ini ngamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki di atas. Ibu tahu, nggak? Benar-benar biadab! Beraninya main di perut. Coba berhadapan langsung, sudah kubunuh dia!”

“Ya Tuhan, cobaan apa ini!”

Ibu pergi dan membanting pintu.

Setelah itu Ibu jarang bicara denganku dan aku bergelut dengan sakit luar biasa akibat badai dalam perut yang aneh dan lama-lama menakutkan. Ini pasti ada akhirnya. Tapi, betapapun kuatnya keyakinan bahwa si badai asing makhluk bernyawa dan kelak akan mati sebagaimana janji Tuhan bahwa setiap yang berjiwa pasti akan diambil, aku tidak tenang. Badai ini, jika beranak-pinak, suatu saat memenuhi seluruh bagian perut; ini juga ada waktunya. Kubayangkan lambung, usus, dan sebagainya, tak lagi cukup menampung hal lain selain badai asing dan anak turunnya. Dan badanku mungkin meledak!

Yang paling kuingat dari malam penemuanku, badai ini menangis dan memohon agar anak-anaknya tidak nakal dan kabur. Dia rela berbagi tubuh dengan mereka: “Satu sisi di puncak untukmu, Mata, Akal, Telinga. Sisi di samping untuk kalian, Jantung, Hati, Perasaan. Dan bawah badanku bagimu, Nafsu, Bencana, Aib…”

Dasar sinting! Ibu macam apa itu? Akal, perasaan, nafsu…? Jangan sok bijak, Setan! Tujuan dia menetap di perutku karena ingin menyiksaku. Mungkin badai ini semacam benalu, yang numpang hidup dalam tubuh makhluk lain, tapi tak sedikit pun memberi manfaat.

“Ya! Itulah dirimu, wahai badai asing!”

Aku sering berputar. Tubuhku tak lagi melingkar. Aku bergelinjang seperti belut di penggorengan. Aku mengejan sekuat tenaga seperti membuang tinja sebesar buaya. Ketika badai reda, tubuhku normal, tetapi pikiranku lari ke mana-mana. Aku tidak bisa menebak bagaimana mulanya badai asing tumbuh. Sesuatu yang ada pasti datang dari ketiadaan. Dulu tidak ada badai di perutku, tapi sejak lima bulan lalu, sejak badai itu datang, hidupku mulai berbeda.

“Kukira kamu perlu ke ahli meteorologi,” kata teman yang sama. “Karena asal-usul badai bisa dilacak. Badai di perutmu mungkin sama dengan badai umumnya. Mungkin ada perubahan atmosfer dalam tubuhmu, meski aku tidak yakin.”

“Dia bukan badai biasa. Dia makhluk seperti jin dan malaikat.”

“Kamu selalu sok tahu!”

“Ya.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Aku tahu karena dia beranak-pinak dan menangis, dan aku juga tahu dia ingin membagi raganya untuk anak-anaknya.”

“Tak masuk akal!”

“Memangnya masuk akal, ada badai dalam perutku? Bisa bayangkan?!”

Aku mencoba cara lain, yang sudah jadi keputusan akhir. Aku tidak tahan lebih lama. Setiap badai asing mengamuk, badanku tidak lagi berputar seratus delapan puluh derajat, atau mengejan, atau menggelinjang, atau melingkar dan mengerang di kasur, tapi aku lari ke sana kemari persis orang gila, karena amukan badai sangat menyakitkan!

Aku harus bunuh badai itu.

Aku tidak yakin diriku tidak terluka oleh rencana ini, tapi badai itu bisa mati kalau aku tahu titik pusatnya.

Jadi begini, saat badai tenang, kuraba perutku, kupijat, lalu kuremas bagian-bagian tertentu. Di sanalah titik pusatnya. Aku tidak menunggu badai mengamuk. Selagi ada kesempatan, ia kubunuh pada detik itu. Bisa dengan pisau atau pedang panjang, sehingga aku menusuknya melalui pusarku dan tembus sampai punggung. Aku tak punya pedang dan tak perlu berpikir rumit untuk sekadar membunuh badai dalam perutmu, bukan?

Aku hanya perlu mencari tempat di mana ia bisa kukubur, setelah kubunuh nanti. Aku percaya kematian badai membuatnya mudah kukeluarkan. Tidak lewat lubang anus, karena anak-anak badai sungguh amat sangat banyak. Hampir tiap malam ia melahirkan anak dan membagi dalam kelompok sesuai kebutuhan fisiknya: bagian atas, samping, bawah…. Tidak heran, hari ini anak-anak itu membuatnya lebih ganas. Aku bahkan tidak yakin selamat usai membunuh badai asing itu. Tapi satu yang pasti: percobaan ini jelas membunuhnya.

Kiranya ada hal yang membuat Tuhan tersinggung, aku minta maaf. Aku penemu sekaligus pembasmi makhluk jenis baru serupa jin dan malaikat yang bisa hidup dan beranak-pinak dalam perut seorang gadis tanpa diketahui bagaimana ia bermula.

Maka dengan tenang kuucap, “Badai asing kurang ajar yang masuk ke perutku, beranak-pinak tanpa peduli betapa susah fisikku karena menampung bobotmu yang kian hari kian berat, kuucapkan selamat tinggal.”

Dalam pandangan lamur, pisauku berlumuran darah. Tidak ada makhluk serupa jin atau malaikat, atau tiupan angin hingga gubuk roboh.

Setelah perut terbelah, yang ada seonggok daging, segumpal rambut, dua bola mata, dan bau amis. Tuhan bercanda. Terbuat dari apa badai yang tumbuh dan beranak-pinak dalam perutku sih? [ ]

Gempol, 2015-2019

 

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya tersebar di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

 

Continue Reading

Cerpen

Evolusi Homo Sapiens

mm

Published

on

Oleh: Sasti Gotama

 Seekor Homo sapiens terjatuh begitu saja dari langit. Untung saja ia terjatuh di atas tumpukan rumput kalanjana. Meskipun begitu, tetap saja ia merasa kesakitan lalu menguik    –yang bunyinya lebih mirip suara bekantan di rimba Kalimantan. Jika saja ia tidak terlalu berkonsentrasi dengan nyeri di pantatnya, tentu ia akan sadar bahwa suaranya  mengejutkan sepasang kupu-kupu hitam yang hinggap di pucuk ilalang hingga keduanya terbang berpencar, tak jadi melakukan ritual perkawinan.

Homo sapien itu bangkit sambil berusaha mengingat-ingat, bagaimana ia bisa terjatuh di tumpukan rumput ini. Seingatnya, terakhir kali yang  ia lakukan –beserta kawanannya– adalah mengejar seekor kukang tanah setinggi pohon yang melarikan diri menuju rimbunan  pakis haji raksasa. Ia mengejarnya sambil mengayunkan tombak batu yang baru diasahnya tadi malam. Ujung daun-daun itu sempat menggores kulit lengan sebelum ia merasa kakinya menginjak sesuatu yang lembut dan lunak.  Rawa. Tanah lembek itu mengisapnya ke dalam. Semakin dalam, hingga ia tak sempat berteriak ketika tanah hitam lembap itu masuk ke dalam lubang hidung dan mulutnya –terasa pahit dan asin– sebelum akhirnya ia melihat kegelapan yang berganti cahaya menyilaukan. Kemudian ia terjatuh begitu saja.

Ia melihat ke sekelilingnya. Dunia yang asing. Ia melihat tanaman  sejenis rerumputan yang dikumpulkan dalam berpetak-petak tanah. Ia pernah melihat tanaman sejenis rumput ini yang berbuah biji-bijian di suatu tempat di tengah hutan sebelum ia dan kawanannya berpindah tempat di musim kemarau panjang. Namun, rumput yang pernah dilihatnya hanya  serumpun, bukannya hamparan   kuning keemasan yang sepertinya sengaja ditanam dan terlihat seperti rimbunan bulu-bulu kukang terbentang di bawah kaki bukit.

Ia mendongak dan melihat langit sudah mulai terang. Bola api  raksasa merayap keluar dari balik bukit. Homo sapiens itu  memutuskan berjalan menuju ke arah sinar  dengan menyusuri parit buatan.

***

Sementara itu, seorang Homo sapiens lainnya berjenis kelamin laki-laki dan berbaju hitam  bernama Toha sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu rumah. Ia menunggu Imron, sepupunya, yang berjanji akan datang secepatnya setelah selesai nyabis ke Kyai Soleh.   Toha tak menghiraukan istrinya – Maemunah—juga kopi panas yang diletakkan di atas meja. Ia juga tak  peduli  kelopak mata istrinya bengkak karena menangis semalaman. Yang ada dalam pikirannya adalah harga diri yang harus dibela.

Seminggu yang lalu, Bukad  –pamannya– baru saja memenangkan pemilihan  klebun   di alun-alun Wirakrama. Sayangnya, Sugali, klebun yang lama menolak menyerahkan tanah percaton  karena menganggap sudah melakukan tukar guling dengan tanah miliknya di pinggir desa.  Bukad tidak terima, karena tanah percaton hasil tukar guling terletak jauh dari pusat desa dan tanahnya tidak begitu subur. Sugali berkilah bahwa ini sudah disahkan oleh pemerintah pusat. Ia menunjukkan berbagai macam surat yang menetapkan perihal ini. Tentu saja, Bukad tak terima. Ia mencium adanya persekongkolan dan  mencurigai bahwa tanda-tangan yang tertera di surat-surat itu dipalsukan. Ia lalu mengajak pendukungnya untuk beramai-ramai menyerbu rumah Sugali.

Sebagai kerabat yang baik, tentu saja Toha merasa berkewajiban membela pamannya. Ini masalah kehormatan. Bagi sukunya, kehormatan harus dijunjung tinggi. Lebih baik putih tulang daripada putih mata.

Tepat pukul delapan lebih lima belas menit, Toha melihat Imron datang. Segera diraihnya celurit –berukuran enam puluh sentimeter dengan ujung melengkung– yang telah diasahnya tadi malam . Ia menghampiri Imron yang juga membawa senjata yang sama. Tekad mereka bulat. Membela kebenaran.

Maemunah melepas keduanya dengan mata  sembab. Percuma saja meminta seorang lelaki sukunya yang sudah bertekad bulat untuk mengurungkan niat. Seperti halnya yang terjadi pada kisah-kisah sebelumnya, hal-hal seperti ini  –perihal membela kebenaran–  sering berujung pada carok masal. Padahal entah itu memang sebuah kebenaran atau kepentingann seseorang, Maemunah tak yakin. Sama tak yakinnya ia  bahwa Toha akan pulang selamat. Perlahan ia menutup sepasang pintu jati rumahnya, lalu jatuh terduduk dan bersandar pada pintu. Ia menangis tanpa suara.

Sementara itu pasukan pembela Bukad, termasuk Toha dan Imron,  sudah berkumpul di depan rumah Sugali. Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan celurit yang mereka bawa. Sebagian dari mereka memanggil nama Sugali. Sisanya memaki-maki.

Sugali terdiam di balik pintu. Bukannya ia gentar, tapi ia merasa melakukan hal yang benar. Akhir bulan Mei, lima tahun yang lalu, ia melihat atap salah satu sekolah dasar di pinggir desa tampak miring. Pemandangan yang lebih mengenaskan terlihat saat ia masuk ke dalam ruangan kelas. Dinding banyak yang rusak dan kayu-kayu penyangga rapuh dimakan rayap. Seolah-olah, jika ia bersin, maka bangunan ini akan rubuh begitu saja. Belum lagi letak sekolah ini jauh dari pusat desa. Anak-anak yang bersekolah harus menempuh jalan yang cukup jauh, melewati bukit kapur dan persawahan warga. Sugali berpikir, seandainya saja tanah pecaton di tengah desa bisa ia tukar dengan tanahnya di pinggir desa, mungkin bisa ia bangun sekolah yang lebih bagus.

Teriakan-teriakan semakin keras terdengar. Sugali sempat berpikir untuk keluar dan menjelaskan, tapi sesuatu berbisik di telinganya bahwa itu sama saja dengan bunuh diri dengan sadar. Jadi, ia memutuskan menunggu. Pendukungnya akan segera datang. Rencana Bukad untuk menyerbu rumahnya sudah bocor sejak tadi malam sehingga ia dan pendukungnya sudah menyiapkan taktik balasan. Tadi malam, ia gelorakan semangat pendukungnya. “Mereka melakukan fitnah sistematis. Mengatakan saya melakukan persekongkolan dan tipu muslihat. Padahal saya melakukan kebenaran. Kebenaran harus ditegakkan. Dibela sampai titik darah penghabisan!” Tentu saja ia tak mengatakan darah siapa yang harus dialirkan. Yang pasti bukan darahnya sendiri.

Ketika masa Bukad semakin beringas dan hendak merobohkan pagar rumah Sugali, dari arah belakang, ratusan masa pendukung Sugali menyerbu. Di tangan mereka ada celurit dan kelewang. Carok! Ujung-ujung celurit itu mulai liar. Menghujam kulit, menyobek daging, memenggal leher, hingga darah mengalir deras. Tak ubahnya  medan perang Kurukshetra.

Semuanya sibuk berperang hingga tak memperhatikan seekor Homo sapiens telanjang yang terdiam di pinggir jalan. Ia telah  menempuh empat puluh lima menit menyusuri jalan makadam dan terhenyak ketika melihat sekumpulan makhluk yang mirip dirinya saling menghujamkan senjata tajam.

Homo sapiens itu terheran-heran. Selama hidupnya, tak pernah kawanannya saling melukai seperti itu. Biasanya  mereka memburu bison atau kukang tanah raksasa bersama-sama. Menombak, memenggal kepala, dan mengulitinya, tapi tak pernah kawanannya saling memburu sesama. Ia bertanya-tanya, apakah mereka berperang karena memperebutkan daging  bison atau kambing liar atau kukang raksasa. Tetapi ia melihat  di sekitar mereka  tak ada bangkai binatang yang diperebutkan. Lagipula perut mereka membulat dan otot-otot mereka tampak pejal. Yang pasti mereka tak tampak kelaparan.

Homo sapiens itu tak pernah tahu, bahwa berpuluh-puluh tahun yang lalu, seorang Homo sapiens lain bernama Sigmund Freud telah menemukan  hal penting yang membuat Homo sapiens saling berperang. Ego. Ego yang tunduk pada id. Tentu saja ini adalah hasil evolusi otak dari seekor Homo sapiens. Jika saja Homo sapiens dari masa lalu itu tahu, bahwa ini hasil evolusi dari otak besarnya, mungkin ia akan menolak berevolusi dan tetap memilih menjadi lutung jantan.

***

Sebelas orang meninggal dan puluhan luka berat. Dan berminggu-minggu kemudian, dari kedua belah pihak –baik Bukad maupun Sugali—mengatakan bahwa masing-masing dari masa mereka disusupi oleh pembuat onar. Begitu kata mereka saat diwawancarai oleh reporter wanita cantik berambut pendek yang datang dari ibu kota. Tak  ada satu pun dari mereka menyebutkan keberadaan seekor Homo sapiens telanjang yang melenggang di tengah desa dengan wajah heran.

SELESAI

___

Keterangan:

Keterangan:

Nyabis: diisi tenaga dalam

Klebun: kepala desa

Percanton: tanah bengkok

Continue Reading

Puisi

Sabiq Carebesth: Tentang cinta yang kehilangan bahasa

mm

Published

on

1

Terkadang cinta kehilangan bahasa
Maka ia berjalan dengan bisu
Terkadang cinta bukan lagi kata
Maka ia menghabiskan hari hari
Dengan berjalan menyusuri kota kota

Dari peron stasiun, melewati kesunyian
Terasing di pasar pasar masa silam
Membenam dan beku di lantai enam apartemen
Di antara gerimis yang ragu,

malam yang enggan, lautan yang membisu—
cinta enggan berhenti
Tapi kita telah kehabisan kata-kata.

 

2

Lalu pada malam yang rapuh
Kita bertanya tentang keindahan;
Tentang cinta yang kehilangan bahasa

Kita pergi dari kota ke kota
Stasiun, kafe kafe,
ruang tunggu bandara—
Lalu kita diam diam mengira,
Cinta seperti kanvas kosong;
Kita telah menuang semua warna;
Malam dan subuh; lelah dan terburu—
Dan kita sama tak tahu
Gambar apa yang kita kehendaki
Musim apa yang kita damba.

 

3

Lalu kita beringsut dari mimpi
Mendapati pagi yang basah oleh hujan
Taksi yang menunggu dalam sepi
Jalanan redup—
Kota yang tiba-tiba hampa
Seakan hanya kita yang terjaga
Hanya kesunyian menghampiri
Tapi kita pun tak sempat bercakap;
Kita harus pergi
Dengan cinta yang tetap tak kita pahami.

 

4

“Cinta adalah waktu yang ingin kita tempuhi
Meniti ujung jalan dan kota kota,
kafe kafe yang beku—
lampu lampu yang merona seperti pipimu,
Sebelum hujan melelapkan kita
dalam mimpi buruk—untuk berjalan sendirian;
Menziarahi kesunyian kota kota, hening kafe kafe,

lampu lampu jalan yang sedan,

jendela apartemen berwarna kabut—dengan cinta
Yang tetap tak kita pahami.”


Sabiq Carebesth, Hong Kong—2019

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending