Connect with us

Puisi

Sajak Cinta Sepanjang Malam

mm

Published

on

1/

Cinta adalah masa yang menjadi silam

Yang terbakar menjadi api unggun

Di antara orang-orang mabuk

Kepayang dan kedinginan

Menahan pilu dan menari

Hasrat yang terkburu dan pedih yang menjulang

Dewi kasmaran memadahkan kidung dan lara

Janji yang silam

Tangismu dan ratapku bangkit

Dari kedalaman

Membisu dalam nyanyian

Tersesat dalam tarian yang asing

 

2/

“Mabuklah dalam cinta—

Kenapa tak kau nyanyikan lagu jiwamu?—

Beritahu seluruh dunia

Cinta yang tak sanggup berhenti

Ia berlari memburu

Lagu-lagu telah dikidungkan

Kenapa tak kau miliki cintamu

Yang telah menjadi lagu burung-burung malam

Dinyanyikan sepanjang pesta

Saat semua perindu

Merayakan keheningan.”

 

3/

Detak jantungmu

Pejam matamu

Ratap dan pilimu

Lelahmu yang menunggu

Bersekutulah bersama

Mabuk dan menyanyilah

Cinta adalah sajak panjang

Milik penyair dan penari

Yang tak pernah menulis sajak cintanya

Yang tak pernah menyanyikan lagu kasmaran

Detak jantungmu lagu ratapmu

Telah menjadi serigala

Yang melolong ke puncak dan jauh

Ratap cinta yang memanggil…

 

4/

Cinta ini akan kehilangan bahasa

Lagu ini akan kehilangan irama

Rembulan akan menjadi api

Seorang akan tetap menari

Perindu akan tetap bernyanyi

Kata-kata pulang ke surga

 

Yang tidak mabuk tidak mengerti

Yang bukan penyair takkan mendengar

Ratap cinta yang memanggil..

 

5/

“Lagu-lagu akan berakhir

Penyair akan berhenti

Api kan padam

Waktu segera berlalu

Pesta dan sunyi kan jadi pagi

Jika jiwa tak juga berpeluk

Takkan ada kisah cinta

Takkan ada lagu dan tari

Tak ada kesunyian dan hening

Juga tidak ratap dalam duka kata

Cintalah yang melahirkan bahasa

Cinta yang membakar semua

Cinta yang menyusun sajak ini

Cinta yang membakar

Sajak cintaku sepanjang malam”

 

6/

 

Peluk cintamu sebelum

Lampu-lampu kota ini dipadamkan

Dan orang-orang menggantinya

Dengan kata-kata tak bermakna

Berhamburan di jalan-jalan

Di kafe-kafe

 

O kekasihku, tak ada sajak dikafe-kafe

Tak ada sajak di jalan-jalan

Kita semua telah terlambat

Kehilangan lagu-lagu

Ditinggalkan dan Lelah

O kekasihku

Aku mabuk—senidirian!

Sepanjang malam—dalam sajak-sajak cinta

Yang gagal kutulis untukmu.

 

Jakarta, 23 Oktober 2018

Sabiq Carebesth

 

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Puisi Puisi B.B. Soegiono

mm

Published

on

PINTU KAMAR

 

pintu kamar       adalah hati

yang mempersilahkan siapa saja masuk

kecuali              kamu;

yang pernah tinggal

jadi                   penghuni

akan dijadikannnya abadi

namun             tak sampai.

terseret arus kehidupan

bahkan            tak kembali,

bukan karena mati

bukan karena di makam

bukan karena di penjara

ataupun          disekap

tapi karena telah nyaman

dengan pintu kamar yang baru.

lebih              mewah,

megah,

bersih,

dan tanpa aroma busuk masa depan.

 

Probolinggo, 6 Juni 2019

 

AKU DAN WANITA ITU

 

yang mengganggu pikiranku

semenjak berusia 22 tahun

yang memenjara tubuhku

sampai jadi mayat

adalah kamu

wanita malaikat

yang membunuhku

tanpa menyentuh

urat-urat saraf, seketika macet

ruas-ruas tubuh jadi sumbat

dan selonjor kaki dan tangan

tiba-tiba kaku

tak berani bergerak

atau sebatas berjingkrak

merayakan luka dan duka

jadi darah dan nanah kehidupan

 

kau, wanita itu

kau, yang disebut

sebagai malaikat

ganti profesi

jadi pembantai

 

aku, lelaki itu

aku, yang dimaksud

sebagai korban

tindak kejam

pembantaian

 

ketika darah mengalir cepat

napas hidung masih mengedus

ketika luka kian melebar

tidak kuasa:

badan,

nadi,

dan jantung bergejolak;

memberontak

sampai menodong telinga

yang berdetak, yang berdebar.

 

Probolinggo, 9 Juni 2019

 

KEMATIAN CINTA  I

 

kulihat setiap laju matamu mengintai

dalam arus air dan busa kali watuewu

kadangkala juga memburuku dari sela-sela

rumput yang tenggelam di dasar

dengan batu-batu

ikan-ikan menatapi

saat tengah beranjangsana

mencari sepi

 

lalang-lalang air kau biarkan mati

bahkan sampai membusuk

kicauan burung

dan sayap-sayap tuanya, jatuh perlahan

mengiringi terjun air ke dasar kali

asap dan api jadi tidur di puncak gunung

 

inilah aku di antara itu

dengan cinta yang kini tergusur waktu

dijarah;

dan tak pernah kokoh meski dihimpit

bantaran-bantaran kali

 

daun-daun jati berserakan

batang tinggi menjulang

kupu-kupu kecil

mondar mandir

menatap penuh gelisah

bertegur padaku

yang menangis karenamu

 

matahari membantu membuat hangat

meski tubuh terbaring lemah

karena cinta, kasih, sayang lebur;  jadi masalah

bahkan mencekik pada setiap urat nadi

dan hendak ingin membawa segenap jiwa

melayang-layang di udara

meski akan tersapu juga dengan gibasan angin

dari pohon-pohon sengon

serta sayup kecil

memberontak keluar dari kebun jagung

 

menjadi jarum

menusuk;

menjadi pisau

merombek,

mengiris,

memotong,

urat pembungkus jantung

bahkan sampai ke dasar dada,

ingin menculik namamu

yang telah sekian tahun mengakar

bahkan jadi museum cinta

“ya, itulah yang ingin direbut,

nama dan kasih sayang untuk dipersembahan kepadanya.”

 

tergeletak

mayat hidup

yang kini kosong tanpamu.

meski tetap ditunggu burung-burung pipit

sambil melepas beraknya

di tengah wajah.

 

Resongo, 6 Juni 2019

 

*) B. B. Soegiono, lahir di Tempuran, Bantaran, Probolinggo, tanggal 11 Oktober 1996. Kini mengembara di Singaraja—

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Melki Deni

mm

Published

on

Oil Painting on Canvas, Sleeping Woman by Anonymous Via http://www.artnet.com

Doa Seorang Pelacur

 

Kecewa memang ekor terkeren dari perjuangan keras.

Ia selalu menari dari belakang,

Mengejar cela-cela perjuangan sang teguh.

Kecewa ialah dosen tergratis dalam memberikan kuliah-kuliah kehidupan.

Sebab hidup selalu bergerak, berkembang dan bermaju.

Kematian hanyalah tempat bagi yang tak mau menerima perubahan dan perkembangan.

Tiada yang bisa memaksa tuk bertandang dalam medan pertempuran yang sama.

dan tak ada yang berhak tuk mengurungi kehidupan ini.

Tak boleh ciptakan sangkar sehingga aku dipenjarakan di dalamnya.

Aku hanya mau memupuk tanaman kejujuran dan kesetiaan.

dan setiap pagi aku berusaha mencabut kebohongan, gombalan, munafik dan tipu daya sampai ke akar-akarnya.

Tapi tetaplah di-tumbuh-kan dengan siraman air yang mengalir dalam hati itu.

Tak apalah, yang sia-sia bukanlah sia-sia atau terakhir.

Memang kita tidak lebih dari dua orang yang tidak berpikir tentang hal yang sama,

kendati menggunakan bahasa yang sama.

 

Mengapa Aku Tanya!

 

Sedari kecil aku bertanya tentang yang tidak bisa dijawab lengkap.

Memang pertanyaan adalah jawaban yang harus ditanya terus-menerus.

Mengapa harus ada peperangan di dunia yang dihuni oleh daging-daging murahan dari debu tanah?

ada bahasa yang dilahirkan nenek moyang kita!

Mengapa tidak berpikir suci, bertutur manis, dan berlaku lembut.

Bibir-bibir sudah dilas dengan aluminium murahan di bengkel pinggir jalan.

Aku tetap bertanya,

Mengapa ada ayahanda bertuhan memerkosa anak gadisnya?

Ibunda dibunuh anak kandung di tempat tidur?

Otak-otak sudah dicemar oleh puing-puing elektromagnetik di depan emperan maya.

Mengapa ada manusia mengobral murah manusia lain di tangan manusia tidak bermoral?

Aku haus akan jawaban yang jujur, tanpa melilit ngawur.

Atau jika sudah dijawab dengan analogi dan metafora,

aku tetap bertanya.

Mengapa harus ada yang rela gugur di kota-kota besar demi Tuhan,

kekuasaan, nama, kepentingan, melayani tuan nafsu dan nafsu tuan-tuan monster?

Aku tetap bertanya kepada siapa saja yang rela mendengar.

Mengapa ada Tuhan yang haus akan pujian dan belaan?

Mengapa aku harus bertanya!

 

*) Melki Deni, mahasiswa semester III STFK Ledalero Maumere, berasal dari Reo Manggarai. Penyair aktif menulis pada beberapa media.

 

Continue Reading

Puisi

(Terj) Puisi-Pusi David Lehman

mm

Published

on

David Lehman--The book consists of daily poems he combined into one bigger poem, and he said it is inspired by songs he heard on the radio. (Courtesy of David Lehman)/ Getty Image Via dailybruin

Puisi-Puisi David Lehman | Diterjemahkan oleh A. Nabil Wibisana *)

 

Seksisme

Momen terindah dalam hidup seorang perempuan

Adalah ketika ia mendengar suara suaminya

Memutar kunci pintu, sementara ia pura-pura terlelap

Saat lelaki itu memasuki ruangan—diam-diam

Tapi ceroboh, sehingga menabrak barang-barang—

Ia bisa mencium bau alkohol dari napas si lelaki

Tapi ia memaafkannya karena senang lelaki itu kembali

Dan ia tidak harus tidur sendiri.

 

Momen terindah dalam hidup seorang lelaki

Adalah ketika ia bangkit dari ranjang

Seorang perempuan—setelah satu jam tidur bersama,

Sehabis bercinta begitu rupa—dan memakai

Celana panjangnya, kemudian berjalan keluar

Dan kencing di semak-semak, sambil melihat

Langit bulan Agustus yang penuh bintang

Lalu masuk ke mobilnya dan beranjak pulang.

*) Dari Valentine Place (Scribner, 1996), dipublikasikan ulang di laman Academy of American Poets.

 

 

Ketika Perempuan Mencintai Lelaki

Ketika perempuan itu berkata margarita, yang ia maksud ialah daiquiri.

Ketika ia bilang majenun, yang ia maksud ialah temperamen.

Dan ketika ia berujar, “Aku tak akan pernah bicara denganmu lagi,”

yang ia maksud sebenarnya, “Peluk aku dari belakang

saat aku berdiri merana di depan jendela.”

 

Lelaki itu seharusnya paham.

 

Ketika lelaki mencintai perempuan, ia di New York dan perempuan itu di Virginia

atau ia membaca di Boston dan si perempuan menulis di New York,

atau perempuan itu memakai sweter dan kacamata hitam di Taman Balboa

sedangkan ia sibuk menyapu daun-daun di Ithaca

atau ia menyetir mobil ke East Hampton dan perempuan itu berdiri getir

di depan jendela yang menghadap ke arah teluk,

di mana perahu layar warna-warni meluncur dengan tenang

sementara ia terjebak kemacetan di jalur cepat Long Island.

 

Ketika perempuan mencintai lelaki, pada pukul satu dini hari

ia terlelap dan lelaki itu menatap skor bola di televisi

makan setumpuk pretzel dan minum segelas limun

dan dua jam kemudian si lelaki bangkit dan terhuyung-huyung ke ranjang,

di mana ia masih terbaring pulas dengan tubuh sehangat wol.

 

Ketika perempuan itu berkata besok, yang ia maksud ialah tiga atau empat minggu.

Ketika ia berujar, “Kita sedang membahas diriku sekarang,”

lelaki itu berhenti mengoceh. Sahabatnya berkunjung dan bertanya,

“Apa ada seseorang yang mati?”

 

Ketika perempuan mencintai lelaki, mereka pergi

berenang telanjang di satu sungai kecil

pada suatu hari cemerlang di bulan Juli

bahana air terjun bagaikan gelak

air deras di batu-batu halus,

dan tak ada apa pun yang asing dalam semesta itu.

 

Apel masak jatuh di sekitar mereka.

Apa lagi yang bisa dilakukan selain memakannya?

 

Ketika lelaki itu bersaksi, “Era kita adalah masa peralihan.”

“Pikiranmu memang tak bisa ditebak,” sahut si perempuan,

kering seperti martini yang ia sesap.

 

Mereka bertengkar sepanjang waktu

Cekcok yang kocak

Memang aku berutang apa?

Mulailah dengan permintaan maaf

Baiklah, maafkan aku, berengsek.

Sebuah tanda terangkat, mempertontonkan “Tawa.”

Sebuah gambar bisu.

“Aku begitu kacau tanpa ciuman,” kata si perempuan,

“dan kau boleh percaya seratus persen,”

yang terdengar keren dalam aksen orang Inggris.

 

Dalam setahun mereka putus tujuh kali

dan mengancam akan berpisah sembilan kali lagi.

 

Ketika perempuan mencintai lelaki, ia meminta lelaki itu menjemputnya

di satu bandara di negara asing, mengendarai jip pula.

Ketika lelaki mencintai perempuan, ia benar-benar berada di sana.

Ia tak mengeluh meski perempuan itu terlambat dua jam

dan tak ada makanan sedikit pun di lemari es.

 

Ketika perempuan mencintai lelaki, ia ingin tetap terjaga

sepanjang malam, menangis layaknya bocah kecil

karena ia sungguh-sungguh tak ingin hari itu berakhir.

 

Ketika lelaki mencintai perempuan, ia mengawasi perempuan itu tidur,

seraya berpikir: tengah malam bagi bulan adalah tidur bagi kekasih.

Seribu kunang-kunang berkedip padanya.

Suara kawanan katak bagaikan kuartet gesek

dalam sebuah geladi orkestra.

Bintang-bintang berjuntai serupa anting-anting anggur.

*) Dari Columbia: Journal of Literature and Art (1996), dipublikasikan ulang di laman Academy of American Poets.

 

 

Perintah Kesepuluh

Perempuan itu berkata ya, ia mau pergi ke Australia bersamanya

Kecuali si lelaki salah dengar dan perempuan itu berkata Argentina

Di mana mereka bisa belajar Tango dan memburu janda-janda

Penjahat perang Nazi yang tidak sudi bertobat sampai akhir.

Tapi tidak, perempuan itu meyebut Australia. Ia lahir di Selandia Baru.

Perbedaan antara dua wilayah itu sama dengan perbedaan antara

Setangkup hamburger dan segelas malt cokelat, ujarnya.

Di toko permen di seberang gedung sekolah dasar,

Mereka merencanakan kencan. Perempuan itu melafalkan Australia,

Yang artinya ia bersedia diajak bercinta, dan semua peristiwa itu terjadi

Sebelum suaminya kena serangan jantung koroner, pada masa ketika

Seorang perempuan tak akan melepas celana dalamnya

kecuali untuk orang yang ia sukai. Perempuan itu berkata

Australia, lantas si lelaki melihat koleksi kerang musim panas

Tahun lalu dalam sebuah kantong plastik di ruangan kotor

Yang dipenuhi lumpur pasir. Siklus tawanan seksual

Dimulai dari romansa dan berakhir dengan perzinahan

Apakah era kiwari merupakan fase paruh akhir, cara Amerika

Meluncur dari barbarisme ke amnesia tanpa diselingi

Periode keruntuhan moral dahsyat, yang mestinya bermakna

Sesuatu, tapi apa? Rakit di tengah jeram? Pemain biola

Di depan gerbang? Oh, absolutisme adalah hukum biologi.

Untuk seminar pornografi, busana apa yang mesti perempuan itu pakai?

*) Dari Valentine Place (Scribner, 1996), dipublikasikan ulang di laman American Poems.

 

Dua Puluh Pertanyaan

Mengapa ngengat terbang menuju nyala api? Apa sama dengan alasan

Mengapa Achilles mati muda? Siapa yang memperoleh lebih banyak kenikmatan

Dari seks, lelaki atau perempuan? (Jelaskan bagaimana kau bisa tahu pasti.)

Mana yang lebih nyata bagimu, surga atau neraka?

 

Mengapa para pendosa hidup sejahtera? Apa penyebab kematian cinta—

Atau cinta akan kematian? Apa Adam dan Eva punya pilihan?

Apa Perawan Maria punya pilihan? Apa yang kita takutkan sebenarnya?

Bahkan kaum agnostik punya hak untuk berkata terima kasih tuhan, bukan?

 

Menatap atom-atom itu menari, mestikah aku bersaksi aku melihat cincin

Cahaya murni yang tak berujung? Atau aku hanya memimpikan semuanya?

Siapa yang harus kupanggil? Apa kau akan ikut jika orang itu adalah istrimu?

Apa kau bersedia pindah? Apa kau menyukai hidupmu?

 

Apa yang membedakan malam ini dengan malam-malam lain?

Apa kau akan berkata bahwa memang sudah nasibmu untuk selalu,

Tanpa kecuali, terlambat lima menit? Jika kau tiba

Pada pukul 9:10, acara ternyata dimulai pukul 9:05

 

Padahal jelas-jelas dijadwalkan pukul 9:15? Saat kau melintasi

Lorong, dan orang-orang memaku perhatian mereka padamu,

Apa kau bertanya pada diri sendiri apa yang akan kaulakukan,

Seolah-olah semua itu penting, seolah-olah kau memang paham?

*) Dari An Alternative to Speech (Princeton University Press, 1986), dipublikasikan kembali di laman Poetry Foundation.

 

Film Prancis

Aku hanyut dalam sebuah film Prancis

dan hanya punya sembilan jam sisa hidup

dan aku tahu benar

bukan karena aku berencana mencabut nyawaku

atau menelan racun mematikan yang bekerja lambat,

jenis ramuan yang biasa ditujukan untuk para juri

dalam persidangan pembunuhan oleh mafia,

aku pun tak berharap akan dihabisi

seperti pakar kimia yang keliru

ditarget sebagai seorang penting di Milan

atau jurnalis Yahudi yang diculik di Pakistan;

tidak, tidak satu pun; tak ada dasar untuk

curiga, tak ada plot pembunuhan

atas diriku, dengan pesan telepon rahasia

dan petunjuk semacam syal atau lipstik

yang tertinggal di kursi depan sebuah mobil;

tapi aku tahu aku akan mati

di ujung hari itu

aku tahu, dengan kepastian paripurna,

sewaktu aku melintas di jalan itu

dan mata kami bersirobok

saat perempuan itu melangkah ke arahku,

aku tahu belaka bahwa ia pun tahu,

dan meski kami belum pernah bertemu sebelumnya,

aku tahu ia akan menghabiskan sisa hari itu

bersamaku, sembilan jam berjalan bersisian,

bertualang, pergi ke toko buku di Roma,

merokok Gitane, berjalan dan

terus berjalan di London, naik kereta

ke Oxford dari Paddington atau ke Cambridge

dari Liverpool, lantas berjalan

di sepanjang tepi sungai dan melewati jembatan,

berjalan dan berbincang, sampai jatah sembilan jam

habis dan film hitam-putih itu

berakhir dengan satu kata TAMAT,

dalam huruf kapital putih di layar hitam pekat.

*) Dari Yeshiva Boys (Scribner, 2009), dipublikasikan ulang di laman Academy of American Poets.

 

_____________________

TENTANG PENYAIR

David Lehman adalah penyair, editor, dan kritikus sastra terpandang. Lahir di New York tahun 1948, ia meraih PhD dari Universitas Columbia. Menulis sejumlah buku puisi, di antaranya New and Selected Poems (Scribner, 2013), Yeshiva Boys (Scribner, 2009), When a Woman Loves a Man (Scribner, 2005), The Daily Mirror: A Journal in Poetry (Scribner, 2000), Valentine Place (Scribner, 1996), dan An Alternative to Speech (Princeton University Press, 1986). Editor buku antologi penting The Oxford Book of American Poetry (Oxford University Press, 2006) dan editor seri antologi tahunan The Best American Poetry sejak 1988 sampai sekarang. Ia menerima berbagai penghargaan dari beberapa lembaga terkemuka, di antaranya National Endowment for the Arts, Guggenheim Foundation, Academy of Arts and Letters, dan Lila Wallace-Reader’s Digest Writer’s Award.

TENTANG PENERJEMAH

Nabil Wibisana bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, Kupang – NTT. Menulis puisi dan esai yang telah dipublikasikan di berbagai media massa. Penerjemah lepas, dengan minat khusus pada penerjemahan prosa dan puisi Amerika kontemporer.

Continue Reading

Trending