Connect with us

Buku

Roti Kecil Berumur Panjang

mm

Published

on

Sebuah perusahaan roti  di Solo berhasil bertahan hingga satu abad lebih. Menghapus stigma tentang perusahaan keluarga yang biasanya luluh lantak di tangan generasi ketiga. 

Oleh: Wahyu Arifin*

Uang itu punya daya magis yang luar biasa. Terkadang ia bisa merekatkan, tapi juga bisa merenggangkan bahkan memisahkan. Jadi, jangan heran kalau ada istilah “uang tak kenal saudara atau kawan.” Terbukti, banyak terjadi pecah kongsi antar kawan atau putus hubungan persaudaraan gara-gara perselisihan yang disebabkan oleh uang.

Beberapa perusahaan internasional ternama seperti Gucci, Ambani Group, Puma dan Adidas atau perusahaan dalam negeri seperti Nyonya Meneer memberikan contoh paling nyata, bagaimana perusahaan keluarga sangat rentan dibayangi perselisihan.

Lazimnya, konflik akan muncul setelah perusahaan itu dikelola oleh generasi ketiga atau keempat. Mengapa bisa muncul kelaziman seperti? Biasanya, dua generasi pertama itu merupakan perintis yang masih belum membayangkan usahanya akan seperti apa ke depan, selain faktor masih kentalnya nilai-nilai persaudaraan.

Beda saat generasi ketiga dan keempat memegang tampuk kepemimpinan, akan muncul gagasan perlunya perluasan dan pembesaran bisnis yang sudah sekian puluh tahun berjalan. Lompatan besar ini tentunya memerlukan banyak kepala, dan putusan-putusan final yang terkadang tak menyenangkan keluarga besar.

Kuatnya kontrol keluarga bisa membuat usaha menjadi slebih solid, tapi juga bisa membuat usaha runtuh. Terlebih lagi jika kecenderungan keluarganya masih bersifat sole proprietor dan bukan entreupreneur. Sole proprietor alias  pemilik tunggal itu merasa was-was dan khawatir akan terjadinya perkembangan dan pertumbuhan dalam bisnis keluarga.

Ketakutan terbesarnya terkait soal tergerusnya kewenangan akan pengambilan keputusan, keuntungan yang terbagi oleh masuknya orang-orang baru. Pasalnya, jika bisnis sudah meluas pastinya perlu penanganan profesional yang belum tentu orang dalam keluarga. Berbeda halnya Entrepreneur yang justru bersikap terbuka dan siap dengan segala kemungkinan.

Peliknya mengurus bisnis keluarga dialami pula oleh bisnis keluarga yang masih dalam taraf Usaha Kecil Menengah (UKM) namun mempunyai riwayat yang sangat panjang, lebih dari satu abad, tepatnya 130 tahun. UKM ini berupa bisnis makanan sederhana, berupa roti kecil alias roti kecik produksi perusahaan Roti Ganep yang berlokasi di Solo.

Meskipun kecil, sederhana dan polos, camilan ini bukan sembarang camilan. Usianya mencapai 130 tahun, sudah melampaui dua tampuk kekuasaan kolonial Belanda dan Jepang serta mengalami enam pemerintahan presiden RI. Begitu tuanya usia camilan ini, karena lahir di tahun 1881. Dan sudah mengalami lima generasi kepemimpinan yang sebentar lagi akan memasuki generasi keenam.

Nyah Ganep, begitu penciptanya Nyonya Auw Like Nio disebut oleh Sinuhun Pakubuwono X yang menjadi penggemar kue kecil ini. Siapa sangka, kini kue buatan Nyah Ganep ini akan bertengger di rak-rak ruangan berpendingin udara Supermarket dan menjadi pesanan bocah-bocah yang melek komputer dan lihai berkicau di media-media sosial.

Modal Sosial

Ganep menjadi nama yang magis sekaligus anggun. Magis, karena mempunyai keterkaitan dengan keluarga kerajaan atau keraton Kasunanan Surakarta, di mana makanan ini menjadi kuliner kerajaan dan  anggun karena dalam bahasa Jawa, Ganep berarti sehat jiwa dan raga, lengkap dan utuh.

Sehatnya ganep diperlihatkan dengan bahannya yang tidak memakai pengawet dan tidak memakai terigu, sedangkan lengkap dan utuh adalah sebuah doa dari leluhur pendiri Ganep yang membuatnya bertahan serta utuh hingga saat ini.

Ya, Ganep mampu menghapus stigma tentang perusahaan keluarga yang akan luluh lantak di generasi ketiga. Toh, di gerbang generasi ke enam, Ganep justru semakin maju. Bisa dibilang, nilai luhur dan perikemanusiaan yang membuatnya bisa bertahan hingga satu abad.

Urusan tentang kehidupan manusia dan bukan semata-mata bisnis, menjadi sebuah modal sosial yang selalu dipegang oleh Ganep. Modal sosial ini adalah ruh dari Ganep. Tak percaya? Anda bisa membuktikannya dengan mengunjungi toko pertama Ganep di kawasan Tambaksegaran, Solo dan bertanya pada karyawan yang bekerja di situ.

Rata-rata para karyawan di Ganep adalah kelompok-kelompok keluarga yang sejak turun temurun bekerja di Ganep. Bahkan, ada yang menurunkan pada keluarganya hingga generasi ketiga dan keempat.  Sistem kekerabatan dari atas hingga bawah ini yang mengeratkan Ganep. Hebatnya lagi, saking saling percayanya antara pemilik dengan karyawannya, selama hampir puluhan tahun tidak ada mesin absensi di perusahaan roti Ganep.  Baru belakangan ini saja mesin absensi dimunculkan, itu pun lantaran harus ada pembagian jam kerja 80 orang karyawan yang bekerja berdasarkan shift.

Sekuat-kuatnya persaudaraan, pasti ada titik lemahnya. Ini seakan sudah menjadi hukum alam yang harus dijalani. Begitupun Ganep. Di awal-awal memasuki generasi kelima, Ganep sempat mengalami kelimbungan. Neraca keuangan Ganep bobol dikarenakan pengeluaran yang terlalu besar.

Kebolongan neraca keuangan itu bukan juga tanpa tujuan baik. Adalah E. Oh Khay Hie alias Hidayat Purnadi, anak ketiga dari pasangan Oh Sing Tjian dan Tan Tries Nio-generasi keempat Ganep- yang rencananya akan menjadi pewaris generasi kelima bisnis Ganep, menjadi sosok dibalik tergerusnya keuangan Ganep.

Khay Hie, yang sejak muda sudah terlibat dalam banyak bisnis, mencoba peruntungan dengan membuka beragam bisnis sampingan Ganep, yang tentunya memakai sumber keuangan bisnis keluarga itu. Hanya saja, Khay Hie kurang pandai mengelola keuangan. Akibatnya, neraca keuangan Ganep pun defisit. Ganep pun berada di ambang kehancuran.

Di benak Mak Tries (Tan Tries Nio)sempat terpikir untuk menjual bisnis keluarga itu pada orang lain yang melek menajemen dengan harga Rp400 juta. Menjual Ganep dan hasilnya dibagi rata sebagai warisan menjadi pilihan yang paling mungkin untuk menyelamatkan bisnis keluarga ini.

Namun, untungnya pilihan sulit itu tak jadi terealisasi. Rapat keluarga besar berjalan alot dan tak menghasilkan jalan keluar. Akhirnya, diputuskan Ganep tetap dijalankan meskipun dengan tertatih-tatih. Untuk itu, perseroan terbatas dicetuskan  dengan menunjuk anak bungsu Mak Tries, Oeke sebagai Direktur Utama.

Di tangan Oeke inilah bisnis Ganep kembali mencuat. Tangan dingin lulusan sastra Inggris di Amerika Serikat ini mampu membuat Ganep bangkit dari keterpurukan. Meskipun tak mempunyai kompetensi bisnis secara khusus, naluri bisnis yang dipadukan nilai luhur akan semangat kekeluargaan warisan leluhurnya membuat Oeke mampu mengelola Ganep.

Ia percaya, keloyalan karyawan adalah modal yang membuat Ganep bertahan. Untuk itu, ia pun selalu menganggap karyawannya sebagai bagian tak terpisahkan dari Ganep. Modal sosial inilah yang  membuat Ganep tetap ada hingga kini. Oeke dan Ganep berhasil menjadikan profit sebagai akibat bukan tujuan dari sebuah bisnis. (*)

 

Data Buku           :

Judul                     : Ketangguhan Perusahaan Keluarga Bertahan Lebih Satu Abad

Penulis                 : Peni R. Pramono dan Wiwied Esmaningtyas

Penerbit              : Elek Media Komputindo, Kompas Gramedia, Jakarta

Cetakan               : Pertama, 2012

Tebal                     : xviii+148 hal

 

*Wahyu Arifin: Mahasiswa STF Driyarkara. Wartawan, bekerja untuk kantor Sindo/ MNC  

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku

Melawan Klise, Menghampiri Kesegaran

mm

Published

on

Simon Dentith dalam bukunya tentang Bakhtinian Thought: Antroductory Reader (1995) mengatakan sebuah kamus adalah sebentuk makam bagi bahasa. Temuan Dentith ini sungguh mengejutkan, mengingat definisi kamus pada umumnya merupakan penanda (kata/frase/idiom) secara sangat general, terlepas dari konteks sosial saat penanda itu diungkapkan atau dipakai.

Dengan pemahaman tersebut berarti sebuah kamus malah seringkali menjadi sarana untuk meringkus dan membatasi makna suatu penanda, dan bukan justru dijadikan wadah atau penampung ketakterbatasan kemungkinan makna sebuah penanda dalam konteks-konteks sosial tertentu. Akibatnya, justru kamuslah yang menjadikan suatu (makna) bahasa menjadi terhimpit dan terbelenggu oleh serangkaian daftar istilah yang termaktub dalam sebuah kamus.

Namun, maklumat Dentith di atas nampaknya kurang tepat—untuk tidak mengatakan tidak berlaku—bagi Tesaurus Bahasa Indonesia yang disusun oleh Eko Endarmoko ini. Kamus bukannya menjadi makam bagi bahasa sebagaimana dikhawatirkan Dentith, tetapi justru kamus-kamus sinonim semacam ini memungkinkan bisa menjadi sarana yang amat penting bagi siapapun, khususnya mereka yang setiap hari bergulat dengan bahasa atau dunia tulis-menulis sebagai wahana untuk memperkaya dan menghidupkan (makna) bahasa.

Dalam dunia tulis-menulis sesungguhnya bukan sekedar menyusun kata, kalimat, paragraf lantas menjadi tulisan yang utuh. “Dalam menulis”, begitu kata Goenawan Mohamad dalam sampul belakang, “saya selalu ingin menghindari satu kata yang sama berulang dalam satu kalimat—bahkan kalau mungkin dalam satu paragraf. Bagi saya”,  begitu lanjut Mas Goen biasa disapa, “tiap karya tulis yang bersungguh-sungguh ibarat sebuah ukiran. Prosesnya memerlukan kreativitas dan ketekunan, inovasi terus-menerus, dan kemauan meneliti pelbagai anasir untuk memasukkan yang ‘baru’ itu”. Itulah dunia tulis-menulis. Ia membutuhkan kecergasan dan ketangkasan mengunyah kata-kata.

JUDUL : Tesaurus Bahasa Indonesia PENULIS : Eko Endarmoko PENERBIT : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta TAHUN TERBIT : Pertama, 2006 TEBAL : xxii + 715 halaman

Dalam bahasa Inggris, misalnya avontur dalam merangkai kata-kata semacam itu mungkin tidaklah terlalu sulit. Seorang penulis siap dibantu oleh “kamus” seperti Merriam-Webster’s Collegiate Thesaurus (1993), Collins English Thesaurus in A-Z Form (1993) atau The Concise Roget’s International Thesaurus (2003). Di sana kekayaan sinonim bahasa didaftar dengan begitu rapi dan tangkas.

Dalam bahasa Indonesia, paling tidak sudah ada dua kamus sinonim yang menjadi umum dikenal publik. Pertama, Kamus Sinonim Bahasa Indonesia (1988) karya Harimurti Kridalaksana. Kedua, Kamus Sinonim Antonim Bahasa Indonesia (2000) disusun oleh Nur Arifin Chaniago dkk. Namun, keduanya kurang begitu lengkap dalam menyusun lema atau entri, dan nampak cara penyajiannya pun belum sungguh-sungguh digarap secara sistematis.

Menjadi penting untuk disadari, seperti dalam bahasa lain juga, bahwa tidak ada kesamaan makna yang mutlak dalam bahasa Indonesia. Itu disebabkan oleh adanya perbedaan-perbedaan dialek regional (contoh: menurut dan manut), dialek sosial (contoh: kebatinan, mistik dan tasawuf), dialek temporal (contoh: abdi dan pelayan), nuansa makna (contoh: dongkol, geram, dan marah), serta perbedaan ragam bahasa (contoh: mampus dan meninggal). Semua perbedaan itu menegaskan bahwa makna kata senantiasa ditentukan atau terkait oleh konteksnya dalam kalimat (hlm. viii). Inilah satu kelebihan Tesaurus garapan Eko Endarmoko ini. Pembaca bisa leluasa memilih makna kata-kata yang sesuai bersama konteksnya.

Di samping itu, Tesaurus ini juga sungguh membantu bagi orang-orang yang setiap saat berjibaku dengan bahasa atau tulisan. Hal ini dimungkinkan untuk menghindari klise dalam penggunaan suatu kata, frase, dan idiom tertentu dalam satu kalimat atau sebuah ungkapan. Penggunaan sebuah kata, frase, atau idiom akan menjadi tumpul, kurang segar, dan nampak kehilangan makna, jika sudah amat sangat sering digunakan, sehingga tanpa disadari sebenarnya mereka sudah terjerembab dalam klise.

Bagi orang yang berhasrat membahasakan pikiran atau perasaannya dengan tepat, cermat atau elok dan santun, Tesaurus ini merupakan tambang emas kata yang sangat diperlukan. Buku inilah yang saya kira dinanti-nantikan oleh para penulis, penyair, pengajar, dan pelajar untuk memperagakan serta memperkaya bahasa Indonesia yang narum dan bernas. Sungguh kita dapat menimba dari karya Eko Endarmoko ini sebagai sebuah hasil dari ikhtiar yang patut dicatat sejarah.***

 

*)Ahmad Jauhari, Founder Jivaloka Cakra Pustaka; Mengajar di Universitas PGRI Yogyakarta

 

Continue Reading

Buku

Duka dan Nestapa Para Pencinta

mm

Published

on

Oleh Arif Yudistira*)

Membaca cerita selalu membuat kita sadar, bahwa hidup yang kita jalani adalah kenyataan, bukan fiksi. Meski begitu, cerita selalu mengajak kita menjelajahi berbagai kemungkinan-kemungkinan yang tak terbayangkan dalam hidup. Sesekali cerita punya kemiripan dengan hidup kita itu sendiri. Karena itulah, cerita selalu membuat manusia lebih hidup. Ada kebutuhan yang tak bisa dinafikkan dari hidup manusia yang singkat ini, barangkali karena itulah, sastrawan tak lelah untuk mengisahkan ceritanya, mendongengkan cerita pada kita.

25 cerita dari para peraih nobel sastra di buku ini mampu menyuguhkan kisah-kisah cinta yang awet. Ditulis oleh para cerpenis dunia yang piawai, cerita-cerita di buku ini meninggalkan kesan yang dalam di mata pembaca. Cerita dimulai dari cerpen berjudul Ayah dan Anak karya Bjornstjerne Bjornson. Cerpen ini menceritakan betapa Ayah yang kaya raya pun tak bisa berkutik dan tiada berdaya saat ia harus dihadapkan oleh satu keinginan membahagiakan anaknya. Dan saat sang anak tiada, ia merasa tak lagi memerlukan hartanya, hingga ia menjadi seorang yang lebih dermawan. Di cerita ini nampak sekali kasih sayang seorang Ayah yang sama hebatnya dengan seorang ibu.

Selain menggambarkan kasih sayang seorang Ayah, cerpen di buku ini juga menceritakan bagaimana gambaran kisah-kasih seorang manusia. Di cerpen berjudul Kesetiaan karya Rabrindanath Tagore kita bakal menemukan kisah sepasang anak manusia yang begitu setia. Dikisahkan ada seorang suami yang begitu posesif melindungi istrinya, hingga di luar nalar kita. Akibatnya, sang istri pun risih, merasa dicurigai. Akhirnya, sang istri pun lelah dengan sikap suami. Tapi ia begitu kaget, saat melihat betapa cemburunya suaminya itu sebagai satu perasaan yang tulus. Kisah pun diakhiri dengan tragisme saat sang suami ayan melihat surat yang disembunyikan istrinya. Suaminya pun mati karena ayan. Lalu sang istri pun ikut bunuh diri dengan minum racun. Kesetiaan suami istri di cerita ini menjadi kisah yang tragis sekaligus menyayat. Meski nampak fiktif, namun cerita tentang kesetiaan ini kadangkala menjadi fakta di dalam keseharian hidup manusia. Seorang lelaki biasanya susah untuk mengekspresikan “kesetiaan”. Sementara, seorang perempuan bisa kesulitan saat menghadapi seorang lelaki mengekspresikan cintanya. Cerpen ini tentu menjadi gambaran heroic bagaimana “kesetiaan” begitu agung dalam sebuah kisah cinta.

Judul Buku : Maut Lebih Kejam daripada Cinta Penyusun dan Penerjemah : Anton Kurnia Penerbit : BasaBasi Tahun : Agustus 2017 Halaman : 280 Halaman ISBN : 978-602-6651-04-4

Bila di cerita Tagore kita mendapati kisah kesetiaan, kita bakal disuguhi kisah cinta seorang pelayan di kedai makan dengan pemilik toko besi. Jim, pemilik toko besi ini sedang diincar oleh Liz pelayan kedai makan. Di cerita berjudul Bila Dara Jatuh Cinta karya Ernest Hemingway ini kita bakal disuguhi drama cinta yang barangkali terlampau picisan. Tapi barangkali disanalah perangai wanita bisa kita lihat saat ia jatuh cinta. Ada penggambaran malu-malu, terkesima, kagum, tapi sekaligus perasaan senang saat perempuan jatuh cinta. Cerita ini barangkali akan menjadi cerita terkesan tentang bagaimana seorang perempuan jatuh cinta. Tentu saja cerita ini bakal tak disukai oleh para perempuan atau sebaliknya diakui sebagai penggambaran paling gampang dari seorang perempuan ketika jatuh cinta.

Yang menarik dari 25 cerita ini, kita bisa mendapati cerita surealisme. Cerita ditulis oleh Oktavio Paz dengan cerpen berjudul Kisah Cintaku Dengan Ombak. Paz berhasil menghidupkan sosok ombak sebagai sosok manusiawi. Ia bak manusia yang hidup wajar sebagai seorang perempuan di kehidupan si tokoh. Tapi kisah ini diakhiri dengan tragisme saat ombak itu pun akhirnya  dijual dan dipotong-potong menjadi pendingin botol-botol minuman.

Pembaca juga disuguhi cerita tentang kesedihan, kesepian, dan derita seorang pencinta di cerpen berjudul Aib karya J.M. Coetzee. Di cerita ini kita akan mendengar bagaimana sosok lelaki tua digambarkan sebagai seseorang yang merindukan kasih sayang menemukan kebahagiaan dengan Soraya, seorang pekerja seksual. Semula, kebahagiaan yang ia nikmati bersama Soraya mampu menyembuhkan kesepian yang hinggap di dadanya. Akan tetapi, kejadian menjadi berubah saat Soraya menghadapi ujian ibunya sakit. Disitulah lelaki ini menyadari, bahwa ia telah kehilangan Soraya, sosok perempuan yang dicintainya. Ketika agen menawarkan perempuan lain, ia merasakan betapa sakit, betapa perih kesedihan yang hinggap di hatinya kembali.

Cerita diakhiri dengan cerita agak sadis tentang seorang Ayah yang mengajak anaknya untuk mencari obat bagi neneknya yang terkena katarak. Konon, luka itu hanya bisa disembuhkan dengan membedah jantung manusia dan mencari kantung empedunya. Ayah dan anak lelakinya itu harus menghadapi kisah pembunuhan orang baik dengan penuh jantung dan dada berdebar. Di cerita ini, kita menemukan kepiawaian Mo Yan. Ia hendak menyentuh nurani kita bahwa tak selamanya obat mujarab itu harus dicari ketika ia harus mengorbankan nyawa, dan menyayat nurani kita.

Di 25 cerita ini, kita bakal disuguhi kisah tentang pengorbanan, luka, keluguan, hingga hal yang mustahil dari tokoh-tokoh yang dilanda cinta. Ada cerita tentang kesetiaan, daya juang, hingga kesepian yang menyayat yang dirasakan seorang pencinta. Apapun itu, buku kumpulan cerita ini memberikan gambaran pada pembaca, meski nampak mustahil dan musykil, cinta tetap tak bisa dihindari dari kehidupan manusia.

 

*) Penulis adalah Tuan Rumah Pondok FIlsafat Solo, Kontributor bukuonlinestore.com

Continue Reading

Budaya

Sejarah Laut Sulawesi Dan Kolonialisme

mm

Published

on

Sejarah Laut Sulawesi Dan Kolonialisme

Oleh : Kasmiati[1]

Judul buku : Orang Laut Bajak Laut Raja Laut | Penulis : Adrian B. Lapian

Penerbit : Komunitas Bambu (2009) | Tebal : xx + 284

Membaca sejarah laut merupakan usaha mengenali Indonesia yang lebih utuh. Sebuah usaha yang bersumber dari dalam untuk mengutamakan apa yang semestinya dari negri maritim, serupa Indonesia. Lautan. Lautan sebagai kekuatan, lautan sebagi rumah, lautan sebagai ruang hidup tempat bergantung sekian puluh juta penduduk negri. Namun sejarah ditulis secara timpang, hanya darat yang terus menerus dikisahkan. Sementara cerita tentang laut tidak banyak digarap Sejarawan. Padahal sebuah negri unsur utamanya adalah tanah dan air termaksud di dalamnya lautan. Dari sinilah titik pijak kegelisahan Adrian B. Lapian mengapa meneliti, menuliskan sejarah kawasan laut Sulawesi abad XIX yang meliputi tiga kata kunci utama yaitu Orang Laut, Bajak Laut dan Raja Laut. Abad ke ke XIX menjadi fokus penelitian karena pada masa ini proses perluasan kekuasaan maritim kolonial  dan di sisi lain terjadi kemunduran kekuasaan maritim bahari pribumi. Sehingga dianggap strategis untuk dikaji karena merupakan masa penentu bagi situasi abad XX dan sesudahnya (hal.2).

Buku ini dibuka dengan sebuah argumen yang mencoba mengantarkan kita bagaimana seharusnya memandang Indonesia yang merupakan negara kepulauan  (Archieplagic state), melalui penegasan makna kata archipelago yang berdasarkan kamus oxford dan Webster bahwa kata ini berasal dari bahasa Yunani, yakni arch (besar, utama) dan pelagos (laut). Jadi archipelagic state sebenarnya harus diartikan sebagai “negara laut utama” yang ditaburi dengan pulau-pulau, bukan negara pulau-pulau yang dikelilingi laut. Dengan demikian paradigma perihal negara kita seharusnya terbalik, yakni negara laut yang ada pulau-pulaunya, (hal.2). Paradigma ini semestinya yang menjadi pandu kita dalam membangun Indonesia. Namun nasi telah menjadi bubur, Indonesia terlanjur dibangun dengan sudut pandang yang sangat berorientasi daratan maka laut ditimbun menjadi darat, sumber daya darat diperebutkan sampai berdarah-darah, lalu laut dipunggungi, hanya terus dikuras, tidak pernah diurus.

Segala tentang laut semisal musim dipelajari hanya sebagai penanda waktu kapan mesti berlayar  dan arah mana perlu dituju agar ombak tak menerkam dan ekspedisi berjalan sesuai rencana. Dalam sejarahnya  jalur-jalur laut dikaji agar selamat menempuh perjalanan menaklukkan kekuatan raja-raja setempat untuk menguasai sumberdaya alam bumi nusantara. Hal ini bisa terbaca misalnya dari usaha Portugis dan Spanyol pada abak ke XVI berlayar melalui utara pulau Sulawesi dan Kalimantan untuk menghindari laut Jawa dan Flores yang mana kekuasaan bahari setempat masih sangat kuat dan juga untuk meringkas jarak pelayaran hingga  200 leagues untuk sampai di kepulauan Maluku.

Sebagaimana kita tau bahwa kepulauan Maluku di masa lalu adalah tempat muasal kemewahan yang paling diincar dan diinginkan seluruh bangsa-bangsa, tempat rempah-rempah termahal—pala dan cengkih—tumbuh. Salah satu cerita tentang pentingnya pulau-pulau di Maluku  dapat kita baca melalui karya Milton (2015) mengenai Pulau Run tempat pala terbaik tumbuh pernah diperebutkan oleh Belanda dan Inggris. Oleh Belanda, Pulau Run ditukar dengan Manhattan. Salah satu kota yang merupakan bagian dari New York ini diberikan kepada Inggris.  Roelofsz (2016) juga mencatat bahwa cengkeh yang berasal dari lima pulau di Maluku –Ternate, Tidore, Makian, Mortir, dan Bacan—juga sangat penting dalam perdagangan  di wilayah Indonesia. Penemuan rempah-rempah di timur Indonesia ini merupakan daya tarik utama, masuk dan mencokolnya kolonialisme. Korban utama dari kolonialisme yang hidup di Indonesia adalah pribumi termaksud di dalamnya raja laut, Orang Laut hingga bajak laut.

***

Kategori Orang Laut atau yang biasa disebut sebagai bajau atau orang bajo (dan beberapa penyebutan lainnya seperti Orang Sama, Samal merujuk pada mereka yang memang menjadikan lautan sebagai ruang utama dalam melaksanakan berbagai macam aktifitas. Orang Laut dalam hal ini dapat diartikan sebagai mereka yang masih hidup di perahu, berumah di lautan meskipun pada waktu tertentu kadang menepi ke pesisir tapi tidak tinggal secara permanen  atau selamnya pada suatu tempat tertentu, melainkan hanya sejenak. Seperti ketika melakukan pertukaran dalam usaha memenuhi beberapa kebutuhan hidup.Namun  pemerintah menganggap Orang Laut ini sebagai suku terasing sehingga ada upaya pendaratan/ mendaratkan Orang Laut agar lebih beradab. Namun abai melihat proses adaptasi terhadap alam dan lingkungan yang telah terbangun dalam budaya hidup Orang Laut selama ini.

Situasi ini menunjukkan ketidak berpihakan pemerintah terhadap minoritas, terhadap Orang Laut. Maka, jika hari-hari terakhir ini kita banyak menyaksikan pulau-pulau ditimbun atas naman pembangunan pada dasarnya bukan hal baru.

Meskipun tidak selalu karena kebijakan dari pemerintah namun proses pendaratan berlangsung sejak lama.  Peralihan dari laut ke darat telah dilaporkan sejak abad ke XVI. Tampaknya dalam proses menjadi modern budaya bahari banyak ditinggal. Hal ini berkait kelindang dengan kolonialisme yang masuk dan tumbuh di wilayah kuasa kerajaan nusantara.

Pelayaran, Penaklukkan dan Proses Pendaratan

Orang Laut salah satu bagian penting dari kehidupan laut yang seringkali disalah mengerti. Banyak sekali naskah-naskah awal yang menceritakan tentang Orang Laut yang dianggap pemalu. Tapi lebih sering dicitrakan sebagai orang yang kasar dan kejam. Maka Orang Laut diasosiasikan sebagai bajak laut. Padahal Orang Laut dan bajak laut merupakan dua hal yang berbeda. Meskipun terkadang ada kerjasama di antara keduanya untuk melawan musuh bersama atau juga kadang Orang Laut ditaklukan oleh bajak laut sehingga mereka terpaksa bertindak sebagai perompak. Dalam kasus lain wilayah teritorial Orang Laut terkadang diganggu, memaksa mereka melakukan perlawanan atau bertindak kasar.

Meski demikian catatan Leonard Andaya menunjukkan sisi lain Orang Laut yang digambarkan sebagai kelompok yang sangat loyal dan setia pada Sultan dan mempunyai peranan penting dalam kerajaan Johor dan Melaka. Di dalam struktur kekuasaan kerajaan, kelompok orang laut merupakan salah satu komponen vital, sesudah sultan, para menteri dan orang kaya. Karena loyalitas Orang Laut sangat kuat dan hangat terhadap Sultan mereka merupakan kekuatan yang sangat diandalkan, baik terhadap ancaman dari luar maupun terhadap ronrongan dari dalam, misalnya terhadap meningkatnya kekuatan Orang Kaya, (hal.104). Ini menjukkan kekuatan Orang Laut merupakan benteng pertahanan Sultan untuk menjaga keseimbangan kerajaan dari berbagai bentuk serangan.

Ketika Portugis menduduki Melaka pada tahun 1511 dan memaksa Sultan berpindah hingga ke Johor dan Riau yang kemudian diserangnya juga pada tahun 1526 maka Orang Laut lah yang menjemput Sultan untuk mengungsi. Dan pada awal abad ke XIX ketika kerajan Riau-Johor dalam masalah pergantian tahta, Raffles telah berhasil menduduki Singapura. Maka, kehadiran Inggris yang berambisi “menguasai gelombang” tidak lagi memungkinkan Johor untuk berperan sebagai negara maritim, (hal.107) dari sinilah kemudian perhatian kerajan terhadap laut beralih ke daratan, sehingga peranan orang laut menjadi tidak penting dan relevan dalam pembangunan kerajaan atau negri.

Kehadiran bangsa-bangsa asing dan penaklukanya terhadap raja-raja nusantara menyebabkan proses daratanisasi terjadi. Karena jalur-jalur laut telah dikuasai sehingga para raja terpaksa meninggalkan laut. Proses daratanisasi kemudian menyajarah dan terus belangsung hingga hari ini, dimana korban pertamanya adalah orang laut yang terpaksa menyingkir dari pusat-pusat kekuasaan dan pemerintahan.  Berlayar jauh ke pulau-pulau kecil, terpencil—menuju timur—.

Maka bukan hal yang mengherangkan ketika saat ini kita menemukan lebih banyak orang-orang laut yang bermukim di wilayah timur Indonesia.

***

Dulu, pelayaran merupakan satu-satunya jalan masuk para kolonialis untuk tiba di pulau-pulau rempah. Jalur darat dan udara masih sangat tidak memungkinkan. Hasrat menaklukkan para kolonialis ini sangat besar, bukan hanya di darat tetapi sejak berlayar di lautan. Penaklukkan di laut terkadang melalui jalan kekerasan atau perompakan sebagaimana yang dilakukan oleh para bajak laut tapi jika yang melakukan semisal VOC (perusahan dagang milik belanda) dalam kecamata barat dilaporkan sebagai “korsario” yaitu tindakan kekerasan di lautan namun di restui negara. Padahal tindakan seperti VOC—sebelum menjadi kekuatan politik di Asia— merupakan tindakan bajak laut “pirate”.

Pirate atau Bajak Laut adalah orang yang melakukan kekerasan di laut tanpa mendapat wewenang dari pemerintah untuk melakukan tindakan itu. Dengan kata lain perbuatan itu dilakukan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan suatu kelompok tertentu. Dalam hal ini melanggar hukum negara dan dianggap sebagai seorang kriminal (hal.117).

Maka Bajak Laut dalam istilah bahasa Indoensia yang mengandung pengertia kata “ pirata dan korsario” tidak terlalu menyimpang, meksipun pada kasus tertentu dapat dibuat pembedaan yang tegas (hal. 118).  Cerita tentang bajak laut ini merupakan berita yang sudah tertulis lama seperti yang tertuan dalam catatan perjalanan  Faxian (Fah-Hsien) yang dalam perjalanannya pulang dari India ke negri Cina (413-414) mengatakan bahwa “laut [Asia Tenggara]  penuh dengan bajak laut, barang siapa bertemu mereka akan menemui ajalnya, (hal.122).

Adrian B. Lapian juga membuat kesimpulan bahwa selama abad ke V sampai dengan abad ke XIV berita mengenai bajak laut terpusat di daerah selat malaka. Namun keadaan berubah semenjak abad ke XV. Terlebih dengan munculnya kapal Portugis dan Spanyol pada abad ke XVI yang bertujuan mengambil rempah-rempah dari Maluku, maka berita tentang pelayaran di wilayah bagian timur  mulai banyak ditemukan dengan demikian muncul pula berita tentang kegiatan bajak laut di sana, (hal.125).

Sialnya para bajak laut yang bermunculan ini seringkali diidentikkan sebagi orang laut padahal belum ada bukti nyata yang dapat mendukung argumen jikalau setiap orang laut adalah bajak laut. Pandangan tentang bajak laut ini memang seringkali subjektif seperti yang disimpulkan sendiri oleh A.B Lapian bahwa pandangan yang dimiliki umum tentang bajak laut didasarkan atas pandangan kekuatan yang menumpasnya.  Dan untuk kasus Asia Tenggara sumber tentang bajak laut berasal dari masa ketika kekuatan yang menumpasnya—kekuatan kolonial—sedang giat mengadakan ‘pemberantasan’ fenomena yang disebut bajak laut, (hal.159).

Tindakan yang dicap bajak laut terkadang merupakan bentuk perlawanan terhadap kekuatan kolonial seperti serangan “Moro” di Filipina pada abad XVI dan XVII pada dasarnya pernyataan perang terhadap Spanyol. Namun dalam kepustakaan barat hal ini dianggap serangan bajak laut atau apa yang dilakukan orang Tobelo pada akhir abad ke XVIII dianggap sebagai kegiatan bajak laut. Padahal ini bukan tindakan murni untuk merompak tapi  Orang Tobelo yang merupakan pengikut dari Sultan Nuku tengah melakukan perlawanan terhadap penguasa di Tidore dan VOC yang berada di Ternate. Perlawanan-perlawanan seperti ini tentu menyusahkan Belanda—dalam hal ini VOC—. Amal, (2010) mencatat bahwa pada dekade kedua menjelang 1800, VOC mengalami kemorosotan laba yang sangat drastis. Hal ini terutama disebabkan  pengeluaran biaya peperangan yang demikian besar.

Raja Laut dan Penguasaan Laut

Selain bajak laut, raja laut merupakan satu terminologi penting dalam kebudayan maritim. Raja laut dalam kawasan laut Sualwesi merupakan tokoh yang memimpin kekuatan laut kerajaan. Raja laut merupakan kekuatan laut yang resmi. Namun pada awal abad ke XIX kekuatan laut asing masuk ke wilayah perairan Asia. Hasrat untuk berkuasa yang didukung oleh tekhnologi yang lebih maju sangat  membantu mereka dalam menyingkirkan keuasaan raja laut sebelumnya.

Takluknya raja-raja laut nusantara menyebabkan kekuasaan asing menguat.  Maka, ketika memasuki abad XX perairan Asia Tenggara telah dikuasai kekuatan asing itu (hal. 173).  Pembagian wilayah kekuasaan kemudian hanya dilakukan sesama penguasa asing tersebut tanpa melibatkan lagi raja-raja nusantara yang semakin lemah. Pada abad ke XIX raja laut terkuat adalah Inggris yang paling menguasai tekhnologi kemudian disebut sebagai Adi-Raja Laut bersama Spanyol dan Belanda. Namun di akhir abad ke XIX kekuatan Spanyol jatuh ke tangan Amerika dan pada  abad ke XX menjadi Adi Raja Laut.

Situasi penguasaan dan pembagi-bagian kekuasaan yang terjadi di masa lampau oleh negara-negara maju yang lebih menguasai tekhnologi masih sangat terasa. Jika dulu kolonialisme  maka hari ini imperialisme yang wataknya sama saja untuk menguras sumber daya yang ada di Indonesia.

Daftar Pustaka

Amal, MA. 2010.Kepulauan Rempah-Rempah Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia

Milton, G. 2015. Pulau Run Magnet Rempah-rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan. Tangerang Selatan: Alvabet

Roelofsz, MAPM. 2016. Persaingan Eropa dan Asia di Nusantara Sejarah Perniagaan 1500-1630. Depok: Komunitas Bambu

 

[1] Perempuan, penikmat sejarah yang saat ini mengelolah Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PESKP)  Fakultas Ekonomi Univ.Muhammadiyah Kendari

Continue Reading

Classic Prose

Trending