Connect with us

Inspirasi

Riwayat Kepengarangan Ahmad Tohari

mm

Published

on

Nama Ahmad Tohari baru muncul setelah pertengahan tahun 1970-an. Mula-mula hanya dikenal lewat sebuah cerpen yang memenangkan penghargaan Kincir Emas dari Radio Hilversum, Belanda. Kemudian naskah novelnya mendapatkan rekomendasi untuk diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Juga sebuah novelnya memenangkan salah satu nomor dalam sayembara yang serupa.

Munculnya nama baru dalam sastra Indonesia lewat sayembara DKJ rupanya merupakan gejala baru dalam periode 1970-an ini. Sayembara semacam itu memang banyak diikuti oleh para pendatang baru. Dan meskipun bukan keluar sebagai pemenang utama, asal di deretan pemenang, atau direkomendasikan buat diterbitkan tanpa nomor, biasanya karyanya cepat mengorbit. Dan itu merupakan dorongan yang baik bagi pengarang. Ia tinggal meneruskan dengan karya-karyanya yang lain. Sayembara roman DKJ adalah pintu gerbang memasuki sastra Indonesia.

Ahmad Tohari adalah contoh dari sastrawan hasil sayembara demikian itu. Riwayat munculnya tak lepas dari beberapa sayembara demikian itu. Dimulai dengan Kincir Emas dan berakhir di DKJ.

Ahmat Tohari adalah kelahiran Banyumas 13 Juni 1948. Menulis sejak SMA dan kini bekerja sebagai wartawan sebuah majalah. Novelnya yang pertama adalah Kubah dan disusul kemudian dengan Di Kaki Bukit Cibalak serta Ronggeng Dukuh Paruk yang keduanya pernah dimuat secara bersambung dalam surat kabar Kompas.

Rupanya pengarang muda yang baru muncul ini menjawab stimulasi sayembaranya. Ia aktif menulis dan punya bobot. Ini merupakan harapan. Pengambilan tema yang bermacam ragam selama ini setidak-tidaknya ia tidak “mabuk” pada hasil sebelumnya. Ia tidak jatuh ke dalam arus penulisan novel populer.

Namun pembentukannya sebagai seorang sastrawan masih harus dibuktikan dengan karya-karyanya yang lain. Sayang bahwa kedua novelnya yang telah pernah dimuat secara bersambung itu belum dibukukan.

Kubah

Pada karya pertama biasanya terlihat kekuatan-kekuatan seorang pemula. Dan pada Tohari tanda-tanda itu juga nampak. Ia memiliki “sesuatu” yang bisa dikembangkan. Sikapnya yang sederhana dalam mengolah materi ceritanya dan kedalaman serta kesungguhannya dalam menilai kehidupan ini merupakan salah satu yang pantas dipelihara dan dikembangkan.

Tidak nampak adanya sikap “aneh-aneh” pada karyanya yang pertama ini. Ia lugu berkisah, apa adanya, bahkan juga tanpa kembang kata-kata. Hanya usahanya untuk menggali lebih dalam materi kisahnya kurang dijalankan. Novelnya ini nampak terlalu tergesa-gesa ditulis. Untuk materi cerita yang penuh dengan pergolakan emosi dan krisis yang diramu oleh sebuah peristiwa sosial besar semacam G-30-S rasanya buku ini terlalu kecil takarannya. Untuk mengabadikan sebuah peristiwa besar dalam ukuran Keluarga Gerilya. Namun untuk seorang pendatang baru harapan yang demikian agak terlalu berlebihan. Untuk mencapai taraf itu saya kira diperlukan suatu usaha besar-besaran di pihak pengarangnya, menilik karyanya yang sekarang ini.

Kubah menceritakan pembebasan Karman dari tahanan selama 12 tahun di pulau B. Ia ragu-ragu untuk pulang. Sebab tak ada keluarga yang ditujunya. Ia memang punya isteri yang manis dan anak-anak yang dilahirkannya, tetapi itu semua bukan lagi miliknya. Isterinya telah kawin lagi. Dan setelah akhirnya Karman sampai di rumah kakaknya diketahuilah bahwa ia disambut secara ramah oleh penduduk dan tetangganya, bahkan juga salah seorang anaknya dan keluarganya sendiri. Bahkan ia menyaksikan anak gadisnya menikah dengan pemuda yang berasal dari keluarga berpengaruh di desanya, Haji Bakir.

Tanda dari penerimaan yang tulus ikhlas dari penduduk desa ini adalah kepercayaan yang diberikan pada Karman untuk membangun kubah mesjid desanya. Ini lambang dan sekaligus kenyataan sosial yang berarti Karman bekas tahanan politik PKI itu telah diterima kembali oleh masyarakatnya.

Tetapi lebih dari separoh buku ini justru mengisahkan secara sorot balik riwayat Karman mengapa ia sampai menjadi tahanan politik. Semula Karman adalah pemuda desa yang rajin sembahyang, bahkan hampir kawin dengan anak Haji Bakir sendiri. Tetapi kesulitan mencari pekerjaan menyebabkan ia jatuh ke tangan agen-agen partai komunis untuk dibina masuk partai. Karman diberi pekerjaan yang baik dan kegagalannya mencintai gadis anak haji Bakir diganti oleh “orang-orang partai” dengan menyodorkan gadis Marni yang kelak jadi isterinya dan melahirkan tiga orang anaknya. Setelah menjadi orang partai (Karman masuk Partindo) Karman harus menerima kenyataan pula ketika partai komunis gagal dalam melakukan kudetanya. Ia diburu-buru. Ia tinggalkan keluarganya dan bersembunyi di sebuah kuburan lebih dari satu bulan. Hanya karena ia sakit perut terpaksa keluar dari sarangnya dan akhirnya ditangkap penduduk. . . .

Nampaknya kisah ini berdasarkan kisah nyata. Artinya ada riwayat yang demikian yang didengar oleh pengarangnya. Kejadian-kejadian yang dipaparkan di dalamnya benar-benar jelas dan teliti. Posisi masing-masing tokoh begitu teguh seperti sebuah biografi. Ada banyak tokoh yang bermain di dalamnya. Hanya sayang pengarang tidak berhasil mengolahnya secara luas. Peristiwa-peristiwa yang kuat kedudukannya dalam cerita, setting cerita yang sangat jelas dan amat dikenal oleh pengarangnya menunjukkan bahwa cerita ini bukan hanya sekedar fiksi mentah belaka. Ada sumber kejadiannya yang dengan sendirinya tak perlu persis seperti kejadian sebenarnya.

Tema utama novel ini adalah kesadaran kembalinya seorang muslim ke dalam agama dan masyarakatnya. Tobat yang penuh dan bersih. Tetapi tema ini seperti saya katakan kurang dikerjakan secara luas. Pengarang hanya terpikat pada plotnya yang memang bagus.

Bagaimana Karman yang ditahan begitu lama di pulau B dapat begitu saja bertobat 100%. Meskipun dalam kenyataan kehidupan kejadian semacam itu ada, tetapi tak cukup hanya dikisahkan belaka. Yang penting pengarang bisa meyakinkan pembaca bahwa kejadi semacam itu secara logis bisa terjadi. Dan pembuktian inilah yang rasanya tak tergarap. Juga jatuhnya Karman ke kelompok orang –orang partai seperti Margo dan Triman kurang mendapat penerangan yang cukup baik. Meskipun pengarang berhasil menuturkan sistimatika komunuis dalam menggarap kader-kadernya, tetapi pergolakan batin Karman sendiri kurang digarap. Bagaimana seorang muslim yang taat, meskipun masih sangat muda yakni berusia sekitar 20 tahun, tiba-tiba bisa beralih pada faham Marxis. Ini tentnya soal pergolakan batin. Dala roman Atheis gejala ini dengan baik sekali dikupas secara panjang lebar. Kita memahami emngapa si tokoh yang santri bisa berubah menjadi seorang atheis. Tetapi pada Kubah penekanan semacam itu tak hadir. Yang ditonjolkan justru taktik orang partai bagaimana menggarap seorang calon korban.

Taktik ini bisa mempan bagi seseorang tetapi juga tidak mempan bagi orang lain. Tetapi rupanya pengarang percaya bahwa pendekatan seperti itu bisa berhasil bagi tiap orang. Alasan memang cukup kuat: Karman masih muda, habis putus cinta dan dendam pada ulama bekas mertuanya yang tak jadi, dan berhutang budi pada partai. Namun pengingkaran Karman yng semula rajin sembahyang dan kini belot kurang terjelaskan secara psikologis.

Yang menonjol dari novel ini adalah nilai informasinya. Kita diberi banyak keterangan “tangan pertama” tentang tragedy G-30-S di desa-desa. Bagaimana orang-orang PKI diciduk dan dihabisi oleh rakyat dan bagaimana mayat banyak dibuang di sungai-sungai. Bagian tentang pengejaran Karman merupakan bagian yang amat bagus dan menegangkan dalam novel ini.

Juga “kearifan” pengarang muda ini dalam menilai kejadian kemanusiaan di dalam ceritanya cukup matang. Tak ada kesan bahwa pengarang ada semangat menggurui atau sok pamer filsuf. Semua aporisma kebijaksanaan muncul begitu wajar dan sederhana seperti layaknya terjadi pada pengarang-pengarang besar.

Saya kira ketekunan dan kesabaran mengolah materi kisah akan mampu mengangkat karyanya ini menjadi karya yang cukup berarti dari jenisnya. Sayang novel ini terlalu pendek dan singkat untuk sebuah tragedy di keluarga yang cukup hebat. Bagaimana seorang suami ditinggalkan oleh isterinya yang setia dan masih dicintai, bagaimana hancur seorang suami mendapatkan bekas isterinya dan bekas anak-anaknya yang masih dirindukannya, bagaimana sebuah jiwa menjadi begitu bersih diterima oleh lingkungan yang dahulu hampir membinasakannya dan sebagainya. Itu semua bisa menggoncangkan jiwa besar bagaimana pun. Dan kejadian-kejadian semacam itu akan mampu melahirkan karya-karya yang monumental pula. (GBJ)

Inspirasi

Jassin Bicara tentang Dasar Bagi Pengarang

mm

Published

on

Dasar pokok menjadi pengarang menurut HB Jassin salah satunya adalah bacalah buku-buku pengetahuan dan filsafat.

by Hasan Aspahani

YANG mendorong HB Jassin menulis esai-esai sastra saya yakin hanya satu: dia ingin melihat sastra Indonesia maju dan menjadi bagian dari sastra dunia, apa yang kelak menjadi judul orasi ilmiahnya saat menerima gelar doktor kehormatan. Maka sejak awal tulisannya selalu beraroma penyemangat, dan  kritiknya melecut perih.

Kekejamannya menghantam karya yang buruk dalam timbangannya menjadikannya legenda yang ditakuti, meskipun kelak itu dia sesali. Ia seakan menjadi sang paus pembabtis seorang menjadi sastrawan.

Nanti pada satu masa ia mulai memperhalus gaya kritiknya. Hasrat Jassin untuk mendorong mutu karya sastra yang ditulis sastrawan Indonesia memang besar tapi ternyata tak cukup untuk mencapai tingkat yang ia bayangan. Ia bahkan sempat tiga belas tahun berhenti menulis kritik. Putus asakah Jassin? Kecewakah dia dengan perkembangan dan pencapaian mutu sastra Indonesia yang padanya ia mengabdikan nyaris seluruh hidupnya? Ini pertanyaan menarik yang bisa dibahas panjang. 

Kali ini di esai ini, saya ingin membicarakan hal lain. Yaitu soal bagaimana Jassin ‘mengajari’ para peminat sastra yang hidup dalam ‘Kesusastraan Indonesia yang masih muda remaja’. Tentu saja lewat warisannya yang bernilai yaitu esai-esainya.

Pada 1949 di mingguan Mimbar Indonesia Jassin memulai rubrik bernama “Bimbingan Sastra”. Jelas tersurat apa yang ingin ia sampaikan di rubrik itu, meskipun kemudian rubrik itu berganti nama menjadi “Tifa Penyair dan Daerahnya”, nama yang kemudian menjadi judul ketika tulisan-tulisannya dibukukan pada 1952 .

Salah satu tulisan dalam rubrik itu berjudul “Dasar bagi Pengarang”. Tulisan itu dimulai dengan sebuah paragraf pendek: Seorang peminat sastra menanyakan apakah yang harus dibacanya untuk memajukan diri dalam kesusastraan.

Kata kuncinya adalah: memajukan diri. Artinya bergerak ke depan. Artinya meningkatkan kemampuan menulis sastra. Dan itulah yang dipaparkan Jassin sepanjang tulisannya itu, tulisan kedua dalam buku “Tifa…”

Saya meringkas tulisan tersebut dalam butir-butir yang saya kira masih sangat relevan bagi pengarang kapanpun dia mulai menulis dan mengajukan pertanyaan yang sama.

  • Untuk mengenal bentuk sastra, baca dan perhatikan contoh hasil kesusastraan yang telah maju. Jassin juga menyarankan baca juga esai-esai telaah, kritik, penyelidikan, dan pemandangan sastra di majalah kesusastraan. Baca karya-karya termasyhur, karya terjemahan dari negara lain, yang terbukti telah melewati ujian tempat dan zaman.
  • Baca buku-buku pengetahuan dan filsafat, carilah pengalaman sebanyak-banyaknya, cernakan apa yang dibaca dan apa yang dialami hingga jadi sebagian dari jiwa sendiri. Apa yang kita baca itu, kata Jassin, apa yang kita cerna itu harus jadi bahan, rujukan, dan kemudian keluar dalam karya kita sebagai keyakinan dan visi, pandangan diri kita sendiri.
  • Jangan menunggu ilham! Jika ilham saja yang ditunggu dengan tidak banyak berusaha, maka biasanya yang keluar hanya getaran perasaan yang dangkal. Ya, dangkal. Seperti kerut-kerut air di permukaan danau tenang ditiup angin. Jassin tak terlalu percaya pada ‘seniman alam’. Seniman yang mengandalkan bakat alam dan kemudian malas mengembangkan diri.
  • Bentuk seni penting, tapi isi juga sama pentingnya. Untuk mencapai kesempurnaan isi sastrawan harus berani bikin eksperimen, percobaan dengan kehidupan. Apa artinya? Segala rahasia hidup harus dicari, senang-susah, yang biasa saja juga yang luar biasa. Pengalaman batin tidak datang kalau seniman hanya duduk menunggu ilham. Seniman harus masuk, menggabungkan diri dengan kehidupan orang banyak.
  • Kejarlah kebaruan. Jangan selalu berjalan di atas garis pikiran yang lama, karena kalau hanya tetap di situ, orang tak akan pernah mendapatkan yang baru-baru. Melibatkan diri dengan kehidupan orang banyak, itu yang disebut oleh Jassin sebagai eksperimen untuk mengenal manusia yang sesungguhnya. Ekspresimen sosial itu melibatkan diri kita sebagai penulis, manusia dan kehidupan di sekitarnya. Hanya dengan begitu, kata Jassin, tercapai kematangan jiwa sendiri dan kematangan karya-karya ciptaannya.
  • Kesusastraan seharusnya melingkupi seluruh kehidupan dipandang dari mata dan keinsyafan peninjau dan pengarang, dan sebab itu tidak mungkin serupa saja semua. Karena itu karya sastra menjadi kaya. Sekian banyak sastrawan dan penyair, sekian banyak cara pandang dalam melihat kehidupan. Itu sebabnya, banyak sekali hasil dan corak kesusastraan dari masa dan bangsa yang berbeda.
  • Isi kesusastraan ialah kehidupan. Kehidupan manusia dengan jiwanya, pikirannya, dan perasaannya. Bagi Jassin kesadaran itu penting sekali. Segala yang terpikir, dirasakan, dan yang mengusik-gelisahkan jiwa manusia, adalah wilayah perhatian sastrawan. Ya, dengan demikian, itu soal manusia dan kemanusian. Maka, bidang apapun yang membantu sastrawan untuk memahami manusia – filsafat, sosial, politik, teknik, kesehatan, psikologi, hingga mistik –  penting bagi sastrawan untuk diketahui bahkan dikuasai.

Depok, 10 Februari 2020.   

Continue Reading

Inspirasi

Buku Harian Steinbeck dan Proses Kreatifnya

mm

Published

on

Dia, Steinbeck, sangat tidak percaya pada pengakuan publik dan rasa puas yang dihasilkannya: “Kehormatan yang aneh. Hal yang paling menyedihkan di dunia.

 

From “How Steinbeck Used the Diary as a Tool of Discipline, a Hedge Against Self-Doubt, and a Pacemaker for the Heartbeat of Creative Work” by BY MARIA POPOVA | www.brainpickings.org |  (p) Virdika R Utama (ed) Sabiq Carebesth

____

Bagaimana Steinbeck Menggunakan Buku Harian sebagai Alat mendisiplinkan diri? membebaskan dirinya dari keraguan dan menjadikan hal itu sebagai alat pacu bagi detak jantung kreatifnya? “Cukup atur pekerjaan satu hari di depan pekerjaan hari terakhir. Begitulah caranya. Dan itulah satu-satunya cara.”

Banyak penulis terkenal telah memperjuangkan manfaat kreatif dari membuat buku harian, tetapi tidak ada yang menempatkan buku harian itu untuk penggunaan praktis yang lebih mengesankan dalam proses kreatif daripada John Steinbeck (27 Februari 1902 – 20 Desember 1968).

Pada musim semi 1938, tak lama setelah melakukan salah satu aksi keberanian artistik terbesar—yaitu mengubah pikiran seseorang ketika sebuah proyek kreatif berjalan dengan baik, seperti yang dilakukan Steinbeck ketika dia meninggalkan sebuah buku yang dia rasa tidak sesuai dengan tugas kemanusiaannya.—dia memulai pengalaman menulis paling intens dalam hidupnya. Buah publik dari kerja ini akan menjadi karya utama tahun 1939, The Grapes of Wrath—sebuah judul yang disetujui isterinya, seorang politisi radikal, Carol Steinbeck, setelah membaca The Battle Hymn of Republic oleh Julia Howe. Novel ini menghasilkan Hadiah Pulitzer Steinbeck pada tahun 1940 dan merupakan landasan bagi Hadiah Nobelnya dua dekade kemudian. Tetapi buah pribadinya dalam banyak hal setidaknya sama pentingnya dan instruktif secara moral.

Bersamaan dengan novel, Steinbeck juga mulai membuat buku harian, akhirnya diterbitkan sebagai Hari Kerja: Jurnal The Grapes of Wrath.

Jurnal The Grapes of Wrath (perpustakaan umum)—buku harian Steinbeck, berisi catatan hidup yang luar biasa dari perjalanan kreatifnya. Hal utama dari buku harian itu adalah pemandangan ambigu: di mana penulis yang luar biasa ini berselisih dengan keraguan diri yang luar biasa bertubi, terkadang penderitaan dan juga kesepian—tetapi ia tetap maju ke depan, dengan semangat dan putaran antusiasme yang setara, didorong oleh tekad yang teguh untuk melakukan yang terbaik dan mungkin. Buku harian menjadi praktik baik penebusan dan bagaimana pun, tampak sebagai sesuatu yang juga transenden.

Steinbeck hanya memiliki dua permintaan untuk buku harian itu—bahwa itu tidak akan dipublikasikan pada masa hidupnya, dan bahwa itu harus dibuat tersedia untuk kedua putranya sehingga mereka dapat “melihat ke belakang mitos dan desas-desus dan sanjungan dan fitnah seorang pria yang hilang menjadi dan untuk mengetahui sampai batas tertentu seperti apa manusia ayah mereka. ”Ia berdiri, di atas segalanya, sebagai bukti tertinggi akan fakta bahwa satu-satunya substansi kejeniusan adalah tindakan harian yang muncul.

Steinbeck in 1959

Steinbeck menangkap ini dengan sempurna dalam catatannya yang berlaku juga untuk bidang usaha kreatif apa pun:

Dalam menulis, kebiasaan tampaknya menjadi kekuatan yang jauh lebih kuat daripada kemauan atau inspirasi. Akibatnya harus ada sedikit kualitas keganasan sampai pola kebiasaan sejumlah kata ditetapkan. Tidak ada kemungkinan, setidaknya dalam diriku, untuk mengatakan, “Aku akan melakukannya jika aku menginginkannya.” Seseorang tidak pernah merasa seperti bangun setiap hari. Bahkan, mengingat alasan terkecil, seseorang tidak akan bekerja sama sekali. Sisanya adalah omong kosong. Mungkin ada orang yang bisa bekerja seperti itu, tetapi saya tidak bisa. Saya harus menurunkan kata-kata saya setiap hari apakah itu ada gunanya atau tidak.

*

Jurnal itu kemudian menjadi alat disiplin diri (dia bersumpah untuk menulis di dalamnya setiap hari kerja, dan melakukannya, menyatakan dalam salah satu catatan pertama: “Bekerja adalah satu-satunya hal yang baik.”), Sebuah mekanisme mondar-mandir (dia memberi dirinya tujuh bulan untuk menyelesaikan buku itu, mengantisipasi itu hanya akan memakan waktu 100 hari, dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari lima bulan, rata-rata 2.000 kata per hari, lama, tidak termasuk buku harian), dan papan suara untuk diri positif yang sangat dibutuhkan -Berbicara dalam menghadapi keraguan terus-menerus (“Saya sangat malas dan hal di depan sangat sulit,” ia putus asa dalam satu catatan; tetapi ia meyakinkan dirinya sendiri di catatan lain: “Keinginan saya rendah. Saya harus membangun kembali keinginan saya. Dan saya bisa melakukannya. ”) Yang terpenting, ini adalah alat pertanggungjawaban untuk membuatnya terus maju meskipun ada banyak gangguan dan tanggung jawab dalam hidup. “Masalah menumpuk sehingga buku ini bergerak seperti siput Tide Pool dengan cangkang dan teritip di punggungnya,” tulisnya, namun yang penting adalah meskipun ada masalah, terlepas dari teritip, ia bergerak. Dia menangkap ini dalam salah satu catatan yang paling pedih, tak lama sebelum menyelesaikan paruh pertama novel:

“Setiap buku tampaknya merupakan perjuangan seumur hidup. Dan kemudian, ketika sudah selesai – pouf! Sudah! Tidak pernah terjadi. Jadi hal terbaik adalah menurunkan kata-kata setiap hari. Dan sekarang saatnya untuk memulai kembali. Dan beberapa hari kemudian, ia kembali ragu-ragu: “Banyak kelemahan saya mulai menunjukkan kepada mereka. Saya harus mengeluarkan benda ini dari sistem otak saya. Saya bukan seorang penulis. Saya telah membodohi diri sendiri dan orang lain. Aku berharap begitu. Keberhasilan ini akan menghancurkan saya dengan pasti. Mungkin tidak akan bertahan lama, dan itu akan baik-baik saja. Saya akan mencoba melanjutkan pekerjaan sekarang. Hanya menjalankan tugas setiap hari. Saya selalu lupa.”

Memang, setelah memulai buku harian itu, Steinbeck memiliki tujuan jelas, pendisiplinan dan perannya sebagai pengingat kemajuan kerjanya saban harian yang semakin meningkat, sering lambat dan kecil, justru yang menghasilkan keseluruhan yang lebih besar. Dalam salah satu catatan pertamanya pada awal Juni, ia menulis:

“Ini adalah buku harian terpanjang yang pernah saya simpan. Tentu saja bukan buku harian tetapi upaya untuk memetakan hari dan jam kerja novel yang sebenarnya. Jika satu hari dilewati maka akan terlihat mencolok pada catatan ini dan akan ada beberapa alasan yang diberikan untuk hal seperti kekeliruan..”

Komitmen Steinbeck terhadap disiplin bukan hanya kesombongan moral atau fetisisme produktivitas—keinginannya sungguh-sungguh untuk menciptakan karya terbesar dalam hidupnya, puncak kemampuannya sebagai manusia yang sadar dan kreatif. Dalam salah satu catatan awal, ia memutuskan:

“Ini pasti buku yang bagus. Itu harus. Saya tidak punya pilihan. Pasti jauh dan jauh dari hal terbaik yang pernah saya coba—lambat tapi pasti, menumpuk detail pada detail sampai gambar dan pengalaman muncul. Sampai semuanya berdenyut-denyut muncul. Dan saya bisa melakukannya. Saya merasa sangat kuat untuk melakukannya.”

Tetapi menurut Dani Shapiro, ada perbedaan tajam antara keyakinan dan keberanian, ini adalah pernyataan yang terakhir, kebajikan yang lebih benar—Steinbeck sangat menyadari segala sesuatu yang mungkin menggagalkan usahanya, kekesalan baik eksternal maupun internal, namun ia tetap memutuskan untuk mengerahkan dirinya, untuk sepenuh hati tentang upaya, meskipun kurangnya kepercayaan diri yang mendalam. Inilah keberanian, hidup yang berdenyut, dari catatan awal lainnya:

“Segala macam hal mungkin terjadi dalam perjalanan buku ini tetapi saya tidak boleh lemah. Ini harus dilakukan. Kegagalan kemauan bahkan untuk satu hari memiliki dampak buruk pada keseluruhan, jauh lebih penting daripada hanya kehilangan waktu dan kata-kata. Seluruh dasar fisik novel ini adalah disiplin penulis, materialnya, bahasa. Dan cukup menyedihkan, jika salah satu dari disiplin itu hilang, semuanya menderita.”

Menulis kadang seperti sebuah tujuan yang puncak, dalam satu catatan ia menyatakan:

Setelah buku ini selesai, saya tidak akan peduli seberapa cepat saya mati, karena pekerjaan utama saya akan berakhir.

Dan di tempat lain:

Ketika saya sudah selesai saya akan bersantai tetapi tidak sampai saat itu. Hidup saya tidak terlalu lama dan saya harus menulis satu buku yang bagus sebelum berakhir.

Tetapi beberapa hari, tekadnya nyaris mengalahkan keraguan dirinya:

“Kalau saja saya bisa mengerjakan buku ini dengan benar, itu akan menjadi salah satu buku yang sangat bagus dan buku yang benar-benar Amerika. Tetapi saya diserang oleh ketidaktahuan dan ketidakmampuan saya sendiri. Saya hanya harus bekerja dari latar belakang ini. Kejujuran. Jika saya dapat menjaga kejujuran, itulah yang dapat saya harapkan dari otak saya yang buruk – jangan pernah marah kepada prasangka pembaca, tetapi bengkokkan seperti dempul untuk pengertiannya.”

Dan beberapa waktu kemudian, keraguan diri itu menjadi sangat luar biasa:

Jika saya bisa melakukan itu semua …. Karena tidak ada orang lain yang tahu kurangnya kemampuan saya seperti yang saya lakukan. Saya mendorongnya sepanjang waktu. Kadang-kadang, saya tampaknya melakukan pekerjaan kecil yang baik, tetapi ketika hal itu dilakukan, itu akan menjadi biasa-biasa saja.

Pada orang lain, ia bisa mengenali keraguan tetapi tidak setuju:

Untuk beberapa alasan saya sedikit gugup. Itu tidak selalu berarti apa-apa. Saya hanya akan menyelam lari dan mengatur apa yang terjadi.

John and Elaine Steinbeck in 1950

Di satu sisi, ini adalah kualitas jurnal (Catatan Harian) yang paling berani—hampir merupakan tulisan suci Buddhis, beberapa dekade sebelum Bradbury’s Zen dalam Seni Menulis, ketika Steinbeck menghadapi pasang surut dan aliran pengalaman. Dia merasakan perasaan keraguannya sepenuhnya, membiarkannya melewatinya, namun mempertahankan kesadaran yang lebih tinggi bahwa mereka hanya: perasaan, bukan Kebenaran.

Namun, yang paling mengejutkan dan paling aneh meyakinkan semua – terutama bagi mereka yang juga bekerja di kuali mendidih ketidakpastian yang merupakan karya kreatif – adalah kasus kronis dan akut Sindrom Impostor milik Steinbeck. Meskipun ia telah mencapai keberhasilan yang kritis dan finansial dengan pekerjaannya sebelumnya, ia tampaknya tidak hanya tidak percaya tetapi juga meremehkan keberhasilan itu, melihat di dalamnya bukan sumber kebanggaan tetapi juga rasa malu. Dalam jurnal awal, ia menulis:

Untuk saat ini, beban keuangan telah dihapus. Tapi itu tidak permanen. Saya tidak dibuat untuk sukses. Saya menemukan diri saya sekarang dengan reputasi yang berkembang. Dalam banyak hal itu adalah hal yang mengerikan … Di antara hal-hal lain saya merasa telah meletakkan sesuatu. Bahwa keberhasilan kecilku ini curang.

Dia sangat keras pada dirinya sendiri, sampai-sampai membiarkan kecurigaannya atas keberhasilannya sendiri membengkak menjadi kecurigaan terhadap keberanian pribadinya dan kebaikan dasar karakternya: Saya harus yakin untuk memilih mana yang cinta dan yang menyesal. Saya bukan orang yang sangat baik. Terkadang murah hati dan baik dan baik dan lain kali berarti dan pendek.

Seperti kebanyakan seniman, ia berulang kali mempertanyakan validitas seni dan kualifikasinya. Bahkan ketika dia hampir menyelesaikan novel yang kelak akan memenangkan Pulitzer dan membawanya mendapatkan Hadiah Nobel, dia masih tidak percaya pada kelebihan dan bakatnya: “Buku ini menjadi kesengsaraan bagiku karena ketidakmampuanku”.

Tak lama sebelum memulai The Grapes of Wrath, Steinbeck menangkap dalam jurnal lain sifat penyelamatan diri yang palsu. “Saya bosan dengan perjuangan melawan semua kekuatan yang telah membawa kesuksesan yang menyedihkan ini terhadap saya. Saya tidak tahu apakah saya bisa menulis buku yang layak sekarang. Itu adalah ketakutan terbesar dari semua. Saya sedang mengerjakannya tetapi saya tidak bisa mengatakannya.”

Dia sangat tidak percaya pada pengakuan publik dan rasa puas yang dihasilkannya: “Kehormatan yang aneh. Hal yang paling menyedihkan di dunia.

Memang, ia mengukur kesuksesannya bukan dari pendapatan atau pujian tetapi dari pekerjaan hari itu. “Inilah buku harian sebuah buku dan akan menarik untuk melihat bagaimana hasilnya. Saya telah mencoba untuk menulis buku harian sebelumnya tetapi mereka tidak berhasil karena keharusan untuk jujur. Dalam hal-hal di mana tidak ada kebenaran yang pasti, saya condong ke arah yang sebaliknya. Kadang-kadang di mana ada kebenaran yang pasti, saya merasa jijik dengan keangkuhannya dan melakukan hal yang sama. Namun dalam hal ini, saya akan mencoba hanya untuk menyimpan catatan hari kerja dan jumlah yang dilakukan di masing-masing dan keberhasilan (sejauh yang saya tahu) hari itu.”

Steinbeck sama-sama tidak terganggu oleh prospek komersial, pekerjaanya adalah sebagai kebutuhan moral: “Tidak tahu siapa yang akan menerbitkan buku saya. Tidak tahu sama sekali. Tidak ada alasan untuk membiarkannya. Harus terus melakukannya. Perlu.”

Proses itu, baginya, didorong oleh apa yang oleh Anne Lamott disebut pendekatan “burung demi burung” untuk ditulis beberapa dekade kemudian. Jurnal kemudian menjadi mekanisme mondar-mandir. Steinbeck menulis:

“Saya bertanya-tanya apakah saya akan pernah menyelesaikan buku ini. Dan tentu saja saya akan menyelesaikannya. Hanya bekerja dalam jangka waktu tertentu dan poco a poco akan selesai. Lakukan saja pekerjaan hari itu.”

__
Selengkapnya dalam Majalah “Book Coffee and More” by Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Inspirasi

Etos Kepengarangan Pramoedya Ananta Toer

mm

Published

on

Pramoedya menjawab, “Saya punya hak untuk menentukan apa yang saya tulis, yang dapat memberikan kepuasan individual pada saya. Dalam hal ini saya tidak peduli apa orang lain suka atau tidak.”

Oleh Hasan Aspahani *)

TIAP pengarang punya cara kerja sendiri. Tapi ada etos dasar yang harus dimiliki oleh siapa saja yang ingin menjadi pengarang yang bersungguh-sungguh. Kita bisa menemukan teladan itu pada Pramoedya Ananta Toer (1925-2006).

Sebagian masa hidupnya dihabiskan di dalam penjara. Tapi ia tak pernah berhenti mengarang. Banyak pengarang dibuang bersamanya dan 800 tapol lain yang dibawa ke Pulau Buru, tapi sepertinya hanya dari Pramoedya kita mendapatkan karya yang monumental.

Banyak tapol yang jatuh dan rusak mentalnya, sakit fisiknya, bahkan meninggal di Pulau Buru. Tapi Pram tidak. Ia bertahan sebagai manusia. Saya yakin kepengarangannyalah yang mengguatkan dia. Dia tegar karena dia – sesulit apapun – masih bisa menulis.

Bagaimanakah etos kepengarangan seorang Pram? Banyak sisi yang bisa kita teladani. Saya membaca “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” (Hasta Mitra, 2000), dan dari situ, saya butirkan empat hal yang menurut saya adalah yang terpokok dan terpenting:

  • Menulis dalam Keadaan Apapun

Ketika rombongan wartawan datang ke Pulau Buru, pada 1973, dan diberi kesempatan mewawancarai para tahanan politik, Rosihan Anwar dan sejumlah sastrawan lain bertanya jawab dengan Pramoedya Ananta Toer. Rosihan bertanya, “Pram, Jij masih menulis?”

Jawab Pram, “Ya, baru-baru ini hampir separoh dari roman tentang periode kebangkitan nasional telah aku selesaikan.”

Dalam tahanan, dalam buangan dan pengasingan, dengan harga diri yang direndahkan, dengan akses pada bacaan bahkan alat tulis yang terbats, serta diperlakukan dengan tak manusiawi, Pram tetap menulis.

  • Tulis Hanya Apa yang Ingin Kita Tulis

Dalam kesempatan yang sama, Gayus Siagian bertanya pada Pram. Ia menanggapi jawaban Pram atas pertanyaan Mochtar Lubis tentang kenapa Pram menulis cerita berlatar sejarah. Pram bilang ia muak dengan hal-hal yang tidak menyenangkan kala itu.

“Bukankah justru yang memuakkan itu yang harus ditulis?” tanya Gayus.

Pramoedya menjawab, “Saya punya hak untuk menentukan apa yang saya tulis, yang dapat memberikan kepuasan individual pada saya. Dalam hal ini saya tidak peduli apa orang lain suka atau tidak.”

  • Bertekadlah untuk Menghasilkan Karya Besar

Roman Tetralogi Pulau Buru adalah karya yang lahir dari tekad itu. Pram menuliskannya dengan hasrat untuk menghasilkan karya yang abadi. Tak pernah berhenti dibaca, tak pernah kehilangan relevansi.

Ia menulis: … Aku ingin menulis roman besar dalam hidupku, dan setiap pengarang bercita-cita menghasilkan karya abadi, dibaca sepanjang abad, dan lebih baik lagi: dibaca oleh umat manusia di seluruh dunia sepanjang zaman.

  • Bangun Dokumentasi dan Arsip Pribadi

Pramoedya adalah penulis yang mengandalkan riset. Ia percaya bahwa inspirasi adalah produk dari pemikiran, bacaan, serta pengalaman. Karena itu baginya sumber bacaan itu sangat penting.

Rangkaian roman Bumi Manusia dan tiga serialnya, sudah ia rancang sebelum ia ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru, 1965. Ia memulai dengan riset dan mengumpulkan bahan sejarah.

Ia menghimpun data-data otentik, wawancara, membaca buku, dan menyiarkan bahan-bahan yang didapat itu sedikit demi sedikit, untuk memancing masukan.

Ia juga menyalin bahan dari perpustakaan museum. Ia membayar tenaga pembantu untuk pekerjaan itu. Memang, perlu biaya dan kerja keras untuk menghasilkan karya besar.

Dokumentasi adalah tulang punggung bagu kerja seorang pengarang. Juga “…kekuatan, pedoman kenyataan di tangan, yang dengannya suatu kerja cipta dibangun.”

  • Kesempurnaan Dicapai dengan “Rasa Tidak Puas”

Pram adalah pengarang yang kritis pada diri dan karyanya sendiri. Ia melayani idenya. Ketika ia merasa harus berhenti dahulu menulis “Bumi Manusia”, roman tentang kebangkitan nasional itu, ia merasa perlu  menulis tentang masa-masa “kejatuhn Nusantara”, agar pemahamannya tentang kebangkitan nasional lebih utuh.

Maka ia pun menulis roman lain, yaitu “Arus Balik”.  Ia selesaikan karya itu dengan perasaan tak puas. Karena tak tersedi pustaka yang cukup.  Kalaupun roman itu akhirnya selesai, dia menganggap itu sebagai “naskah belum sempurna”.

__

CTI, Depok, 2019 

Hasan Aspahani
Lahir, di Handil Baru, Samboja Kutai Kartanegara, 1971. Jurnalis di grup Jawa Pos, penyair dengan sejumlah buku dan penghargaan, penulis nonfiksi dan fiksi antara lain ‘Biografi Chairil Anwar” (Gagasmedia, 2016), “Ya, Aku Lari” (DivaPress, 2018).
Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending