© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Rendra adalah “Kawindra” sekaligus “Agra Manggala”

“WS Rendra adalah Kawindra, yang dalam bahasa Kawi artinya Penyair Besar.” Demikian sebut Remy Silado dalam orasi budayanya “Kawindra Rendra” di Graha Bhakti Budaya TIM, Jakarta, suatu ketika dalam dalam agenda NAPAK TILAS SASTRA WS RENDRA. Sebutan yang berlebihan?

Tampaknya tidak. Terlalu banyak alasan yang bisa diajukan untuk membenarkan pernyataan tersebut. Salah satunya adalah keberpihakan nyata Rendra kepada akal sehat dari setiap zaman. Akal sehat yang telah membuatnya terus maju, kadang juga harus “zig-zag” demi membangunkan kesadaran orang, merawat akal sehat zaman dari setiap dominasi dan kebenaran tunggal rezim yang otoriter.

Ironisnya, di hari wafatnya sang seniman, yang ketika itu berdekatan dengan meninggalnya mbah Surip, Presiden Indonesia saat itu, SBY justru lebih memberikan pidato bela sungkawanya pada mbah Surip ketimbang pada Rendra. Ada apa? Atau persisnya kenapa?

“Apakah tidak mengenal Rendra? Tapi kenapa tak sudi memberi bela sungkawa. Apakah itu politis? Enathlah!” tutur Remi Silado. Yang pasti, menurut Remy Silado, dengan tidak memberikan bela sungkawa pada penyair besar yang dimiliki bangsa ini.

Pelaku seni “pop” dihargai karena perannya, atau lantaran ia bisa dimanfaarkan. Bukan sebab martabat kemanusiannya sebagai seniman. Itulah yang akhir-akhir ini terjadi ketika seni hanya dijadikan hiburan. Hal yang berlaku pada Mbah Surip, yang kemudian juga segera terlupakan, bahkan bela sungkawa dari SBY ketika itu tak cukup membuat umur kenangan pada mbah Surip dapat berumur panjang.

Remi yang punya hubungan dekat dengan Rendra baik sebagai teman dan sesama pelaku seni, menuturkan bagaimana Rendra mengalami ketegangan kreatif terkait padanan politik yang membuatnya seperti tertawan dan kerasukan. Kumpulan puisi dalam “Blues Untuk Bonie” yang salah satunya adalah sajak “bersatulah pelacur sejakarta” merupakan pengejewantahan dari ketegangan kreatif Rendra sebagai seniman melihat ketimpangan hidup di masyarakat sekitaran tahun 70-an.

“Tahun 1970 ia benar-benar melihat ketimpangan di bawah kehendak militeristik orde baru, dan ia menulis sajak-sajaknya.” Oposisi Rendra tentu berbuah pada pengucilan Rendra oleh rezim despotis orde baru. Hebatnya, ia keluar penjara dan terus bersuara lantang membacakan “pamflet” situasi daruratnya. “baginya orang-orang harus dibangunkan.”

Penyair Besar

Kebesaran Rendra terungkap dengan gamblang malam itu, terutama karena penceritanya, Remy Silado, adalah teman dekat Rendra dan banyak melakukan kerja kreatif bersama di zaman yang juga sama.

Seberapa besar Rendra? Ada cerita, tutur Remy Silado, “suatu ketika saya di undang kementrian sesneg (Sekertaris Negara) yang intinya mengajak bagaimana menandingi gelaran budaya yang dibuat Guruh Sukarno Putra. Saya mikir, lalu bilang; hal itu hanya mungkin jika saya boleh ngajak Rendra, yang notabene baru keluar dari penjara! Langsung seketika orang di kantor kemtrian membeku mukanya seperti disiram cuka.” kisah Remy Silado disertai gemuruh tawa penonton yang hadir dalam Orasi Budaya napak tilas WS. Rendra.
“Agenda itu dilakukan Golkar untuk menandingi pengaruh aksi panggung Guruh Sukarno yang dikhwatirkan membangkitkan kembali: Pejah gesang nderek sang Bung (karno)” Imbuh pengarang Ca Bau Kan itu.

Arti Penting Rendra

Selain sikap dan keberpihakan Rendra di ranah sosial politik. Arti penting Rendra juga harus dilihat juga terutama dari perkembangan teater modern indonesia. Bahwa sepulang dari belajar drama di Amerika Rendra pulang membangunkan tradisi teater indonesia yang saat itu tengah tidur lelap.

Rendra membangun grup teater mini kata “bengkel teater” dengan konsepsi pribadi seni yang “urakan” sebagai konsepsi seni dan paham politik. “Saya bilang ke Rendra konotasi ‘urakan’ kurang pas, dan saya menyusuli gagasan Renda dengan konsep ‘mbeling’ yang konotasinya nakal tapi sembodo.”

Akhirnya, menurut Remy Silado, Rendra tak hanya “Kawindra”, ia juga seorang “Agra Manggala”, yang dalam bahasa Kawi bisa diterjemahkan sebagai, seorang pemimpin unggul.

“Saya, atau yang lain, takkan bisa menyamai Rendra. Meminjam istilah Sutardji Coulzum Bachri, biar ‘terberak-berak’ takkan bisa menyamai kebesaran seni sang Burung Merak. Demikianlah Rendra, sang penyair besar dan pemimpin unggul; Kawindra sekaligus Agra Manggala…” pungkas Remy Silado. (SC)

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT