Connect with us

Tabloids

Rekomendasi Buku Klasik dari editor “Book Review” Galeri Buku Jakarta: Dari Hamlet Hingga Animal Farm

mm

Published

on

photo by Toby Melville / via Today

Classic books recommended by the editors of galeribukujakarta.com Book Review: Frankenstein, by Mary Shelley: Sebenarnya agak mengagetkan, saat orang-orang yang hanya menonton filmnya, memiliki anggapan kurang lebih sama soal monster di novel ini. Padahal, sebenarnya tidak begitu. Film menggambarkan monster itu sebagai binatang buas yang bisu dan berjalan lamban. Sementara di dalam novel, makhluk itu (namanya bukan Frankenstein, itu nama dokter) dikisahkan secara berbeda —Novel ini dipecah menjadi beberapa bagian berbeda, dengan beberapa pencerita. Makhluk itu dikisahkan mengatakan hal-hal seperti, “Hidup, meskipun itu mungkin hanya akumulasi kesedihan, sangat berharga bagiku, dan aku akan mempertahankannya.” Gambaran soal monster ini di dalam novel jauh lebih menarik dan puitis serta jauh lebih kompleks ketimbang sekadar adanya beberapa baut di lehernya. | Heart of Darkness by Joseph Conrad | Novel yang menginspirasi film Apocalypse Now (1979) tersebut sebenarnya lebih dari sekadar kata-kata si aktor Marlon Brando yang bergumam, “Kengerian … kengerian.” Novel ini bercerita tentang kisah perjalanan dengan perahu menyusuri sebuah sungai tidak bernama di Afrika untuk mencari pedagang gading jahat bernama Kurtz. “Seorang utusan dari belas kasihan, sains dan kemajuan” merupakan istilah bagus untuk menyebut bahwa Kurtz mungkin agak gila. Novel ini sebenarnya berkisah soal horor yang dibawa imperalisme, dan bagaimana “orang-orang liar” sebenarnya tidak seperti yang dinarasikan peradaban modern kepada kita.| Anna Karenina, by Leo Tolstoy: Novel ini setebal 864 halaman. Karenanya tidak banyak siswa sekolah menengah yang secara disiplin menandaskan seluruh isinya. Hal itu sebuah kerugian bagi mereka. Novel klasik Karya Tolstoy ini, di mana semua orang jatuh cinta dengan seseorang yang tidak mencintai mereka kembali, seperti film komedi romantis terbaik yang tidak pernah diproduksi. Dikisahkan, Konstantin ingin menikahi Kitty Shtcherbatsky, yang hanya terpikat dengan Count Vronsky, yang lebih tertarik pada Nyonya Karenina. Ada banyak pelajaran penting yang bisa Anda dapatkan, termasuk contoh kasus soal jangan terburu-buru menjalin hubungan. Dan, mengutip parafrase Rolling Stones: “Anda tidak selalu bisa mendapatkan apa yang Anda inginkan” — tetapi jika Anda berusaha, Anda mungkin menemukan kekasih yang Anda inginkan. | The Diary of a Young Girl, by Anne Frank: Adalah tidak mungkin membaca buku harian, yang ditulis seorang gadis muda saat bersembunyi dari Nazi bersama keluarga mereka di sebuah loteng rumah di Amsterdam, ini dan tidak terpengaruh olehnya. Dengan banyak pelajaran untuk masa depan dan wawasan soal bagaimana manusia dapat menjadi sangat mengerikan sekaligus baik terhadap satu sama lain, buku ini akan mengubah Anda dengan cara yang bahkan tidak dapat Anda pahami. Jika Anda sekarang menjadi orangtua, bersiaplah untuk bercucuran air mata saat membaca buku ini. | Their Eyes Were Watching God, by Zora Neale Hurston | Salah satu topik penting di novel inovatif ini — tentang kemauan keras seorang perempuan yang ingin lari dari harapan masyarakat kulit hitam di awal tahun 1900-an—adalah bahwa Anda hanya bisa menemukan kepuasan sejati jika mau melihat ke luar diri Anda. Tidak mudah bagi remaja untuk menghargai pelajaran ini. Lebih penting lagi, buku ini, yang ditulis oleh seorang wanita yang disebut “Faulkner kulit hitam,” memiliki lebih banyak humor subtil daripada yang mungkin anda temui saat pertama kali membacanya. | Sun Also Rises by Ernest Hemingway: Sekelompok ekspatriat Amerika berpesta pora di Paris karena mereka begitu kecewa dan bosan dan kemudian mereka pergi ke Spanyol untuk menonton adu banteng dan minum-minum lagi. Apakah itu yang disebut the Lost Generation berkelana tanpa tujuan, ataukah itu termasuk liburan terbaik? (Juga, mencoba memahami misteri “luka perang” Jake yang membuatnya impoten jelas lebih menyenangkan bagi orang dewasa yang mengerti anatomi.) | Great Expectations by Charles Dickens: Di pertengahan abad 19 di Inggris, seorang anak yatim miskin bernama Pip meyakini bahwa entah bagaimana dia akan keluar dari penderitaan, hidup miskin dan menjadi seorang pria berharta, dan akhirnya meyakinkan perempuan idamannya, Estella, agar jatuh cinta padanya dan menikah. Lalu seorang dermawan yang tak diketahui identitasnya menjadikannya kaya, dan tak mengejutkan bahwa hal itu tidak membuatnya bahagia, dan pada akhirnya dia kehilangan segalanya. Buku ini seperti 500 halaman yang mengingatkan mengapa kau tak seharusnya bermain lotre. | The Invisible Man by Ralph Ellison: Saat pertama kali membacanya di masa sekolah menengah, kau mungkin kecewa karena bukunya sama sekali tak mendekati film dengan judul yang sama, karena kisahnya tidak melibatkan seorang pria tak terlihat yang berbalut plester sungguhan. Mem-bosankan! Tapi saat dewasa, kau bisa memahami simbolismenya dengan lebih baik bahwa Ellison dengan sangat cerdas menyelipkan ke dalam ceritanya, sebuah penggambaran bukan hanya soal seorang pria yang merasa dirampas haknya oleh negeri yang dia usahakan dengan keras untuk beradaptasi, tapi tentang goresan-goresan luka rasisme yang bergelayut di bawah permukaan, dan bagaimana orang kulit hitam bisa merasa tak terlihat di tengah masyarakat Amerika. | Catcher in The Rye by J. D. Salinger: Holden Caulfied mungkin terlihat seperti karakter yang hanya dapat dipahami oleh reamaja yang penuh kekecewaan. Tapi saat kau menjauh dari masa itu, kau menyadari betapa mudahnya melihat dunia lewat pandangan Holden, mencemooh kepalsuan dan siapa pun yang tidak hidup sesuai dengan standar moralmu, dan kau mulai memahami bagaimana pemberontakkan remaja tak selalu layak ditiru, dan sebagian dari mereka mungkin hanya anak orang kaya manja yang butuh diabaikan. “Semua orang dungu tak suka saat kau memanggilnya dungu,” kata Holden, yang mungkin saja dirinya dungu. | Fahrenheit 451 by Ray Bradbury: Jika adaptasi terbarunya (diperanan Michael Shannon dan Michael B. Jordan) tak membangkitkan seleramu untuk memungut salinan kumal distopia klasik Bradbury milikmu, kami hanya akan berasumsi bahwa kamu tak tahu itu berasal dari sebuah buku. Benar, itu dari buku. Dan dongeng mengerikan tentang masa depan distopia di mana buku-buku tak diizinkan dan dibakar oleh “petugas pemadam kebakaran”-dan satu-satunya hiburan yang legal adalah menonton televisi raksasa sebesar dinding, menyetir sangat kencang, dan mendengarkan “Seashell Radio” dengan alat-alat yang menempel di telinga-mungkin terlihat sedikit lebih familiar dengan kehidupan nyata sekarang dibanding saat kau di sekolah menengah dulu. | To Kill a Mockingbird by Harper Lee: Novel pemenang hadiah Pulitzer ini baru saja terpilih sebagai “Novel Amerika yang paling disukai” sebagai bagian dari seri PBS “Great American Read”, dan rasanya tak mungkin para fans Mockingbird hanya membacanya satu kali saat mereka ada di kelas dua sekolah menengah. Hal yang menakjubkan dari melihat kembali kisah ini adalah sebesar apa risiko yang dihadapi Atticus Finch, yang bukan hanya bisa menerima kekalahan dalam satu kasus hukum. Membela seorang pria kulit hitam dengan tuduhan palsu di Alabama tahun 40an merupakan simbol dari pekerjaan yang sia-sia, tetapi Atticus berjuang dengan kesungguhan moral dari seseorang yang tahu bahwa hal yang benar tidak selalu berarti hal yang mudah atau aman. | Animal Farm by George Orwell: “Hadapilah,” kata salah satu karakter dalam satir brutal karya Orwell, “hidup kita menyedihkan, melelahkan, dan pendek.” Tentu saja, dia merujuk pada binatang-binatang di peternakan Manor yang terlalu keras bekerja dan disiksa, yang pada akhirnya memutuskan untuk memberontak terhadap penindas dan mendirikan pemerintahan baru yang mirip sekali dengan Soviet Union di masa kekuasaan Komunis tetapi dengan lebih banyak tapal kuda. Kisah ini merupakan sebuah alegori tentang kodrat kekuasaan, dan penurunan moral bahkan dalam hal-hal baik, dan meskipun kisah itu ditulis sesuai pada masanya, diyakini di dalamnya terdapat tanda-tanda mengenai totalitarianisme modern yang membuat buku itu terasa semakin relevan. The Divine Comedy by Dante Alighieri: “Tak ada kesedihan yang lebih besar dibanding mengenang kebahagiaan di saat kau menderita.” Tunggu, benarkah kalimat itu ada di dalam buku Dante, yang mungkin kau ingat sebagai puisi yang ditulis dengan aneh tentang seorang pria yang berjalan-jalan di kehidupan setelah mati, tempat penyucian, dan surga, dan kemudian menulis cerita tentangnya? Ada banyak sekali penggalan seperti ini-yang terdengar seperti ditulis oleh seorang lelaki paruh baya yang terbangun dengan perasaan sedih-seperti kau telah melewatkan babak pertama kekhidupanmu.| The Great Gatsby by F. Scott Fitzgerald: Wajar saja untuk melebih-lebihkan simbolisme dalam karya besar Fitzgerald. Ya, cahaya hijau di ujung dok rumah Daisy mungkin mewakili harapan-harapan dan aspirasi Gatsby tentang masa depan. Atau mungkin saja itu hanya cahaya hijau. Dan Jay Gatsby yang memesona dan kaya raya mungkin contoh nyata American Dream, dengan segala kelemahannya dan ideal-idealnya dan jiwa muda yang gelisah untuk kehidupan yang lebih baik. Atau dia mungkin hanya seorang bajingan yang kaya. Apa pun jadinya, buku ini benar-benar mengagumkan. | Beloved by Toni Morrison: Buku ini tak selalu mudah dibaca-terutama jika kau masih muda, dan mempelajari kapasitas manusia untuk menghadirkan penderitaan bagi manusia lain terasa seperti beban yang berat di bahumu-tapi ini kisah yang penting untuk diingat, terutama dalam dunia masa kini, di mana luka dari rasisme tak pernah sebegitu terang benderang seperti sekarang. Berlatar pasca-perang sipil di Ohio, buku ini mengisahkan seorang bekas budak yang meyakini hantu dari anaknya yang meninggal-yang mati demi melindungi calon bayi dari pemilik budak yang menangkap mereka – bereinkarnasi menjadi seorang gadis muda bernama Beloved. Buku ini juga menciptakan kosa kata baru untuk mendeskripsikan sebuah respon emosional “rememory,” yang berarti mengenang masa lalu sekaligus dengan berani menolak untuk kembali ke masa itu. | Hamlet by William Shakespeare: Mungkin pikiran kami saja, tapi saat kami pertama kali membaca Shakespeare, kami tak mengerti separuhnya. Kami biasanya berpura-pura bahwa kami mengerti apa yang dikatakan karakter-karakternya. Kami tahu intinya: Hantu dari mendiang ayah Hamlet memberitahu dia telah dibunuh oleh pamannya, Claudius, jadi Hamlet membunuhnya dan sekelompok orang lain, dan kemudian bunuh diri. Tapi keindahan dari Hamlet bukan soal pembantaianya; tapi bahasa Shakespeare yang puitis. “To be, or not to be: that is the question,” Hamlet berkata dalam monolognya yang paling terkenal; “Whether ’tis nobler in the mind to suffer the slings and arrows of outrageous fortune, or to take arms against a sea of troubles, and by opposing end them? To die: to sleep.” | Brave New World by Aldous Huxley: Teknologi bukanlah sahabat kita di dunia yang menakutkan dalam ramalan masa depan ini, di mana cloning telah menggantikan reproduksi manusia dan ada pil yang berfungsi menghilangkan beragam jenis emosi buruk manusia. Pemerintah telah mengubah penduduknya menjadi budak virtual dengan menjaga merka berada dalam kebahagian yang abadi. Tapi ketika amukan salah satu karakter, dia menginginkan hak untuk tak bahagia, “Tak perlu disebutkan hak untuk menua dan buruk rupa dan impoten; hak untuk merasakan kelaparan; hak untuk menjadi ceroboh; hak untuk hidup dalam ketakutan terus-menerus atas apa yang akan terjadi esok.” Kisah ini pengingat yang baik bahwa kegembiraan sepanjang waktu mungkin terdengar seperti ide yang bagus secara teori, akan tetap kebebasan selalu lebih baik dibanding euforia yang terkondisi. | I Know Why The Caged Bird Sings by Maya Angelou: Diterbitkan saat Angelou baru berusia 40an, memoar ini-yang pertama dari seri dengan tujuh bagian-hanya mengisahkan 17 tahun awal hidupnya di pedesaan Arkansas, tapi kekuatan dan kegigihannya di hadapan begitu banyak kebencian rasial mengejutkan. Seorang gadis muda dengan inferiority complex menemukan kepercayaan dirinya, dan di usia saat kita biasanya hanya memikirkan tentang pasangan prom dan pekerjaan rumah, dia belajar menemukan jalannya lewat “teka-teki ketidaksetaraan dan kebencian.” | The Odyssey by Homer: Kenapa bersusah payah membaca ulang puisi Homer yang sangat sangat sangat panjang tentang perjalanan Odysseus yang sangat sangat sangat panjang menuju pulau kampung halamannya Ithaca, di mana dia bertemu dengan monster laut, cyclops, pemakan teratai, dan banyak lagi makhluk yang mengancam raganya? Hanya saja, meski ditulis 2800 tahun lalu dan mengandung 12.110 bait dacrylic hexameter (apapun artinya itu), orang-orang terus terpukau oleh Odysseus. | Mrs. Dalloway by Virginia Woolf: Setidaknya di permukaan, novel modern ini terlihat benar-benat simple. Kita mengikuti kisah Clarissa Dalloway di musim panas kota London seperti biasanya, selagi dia melakukan hal-hal tak biasa-biasa saja seperti berjalan di taman atau mengobrol dengan teman lama atau membeli bunga atau berpapasan dengan pengagum lamanya yang masih mengira dia mempunyai pernikahan yang bahagia. Akan tetapi keindahan narasi ini terletak dalam detail-detail yang tak disebutkan, seperti keangguhan kelas atas Clarissa dan kebiasannnya “menggali secara berlebihan atas apa pun itu yang merusak,” dan kesan umum bahwa ada sesuatu yang lebih serius bersembunyi di bawah permukaan, sesuatu yang tak pernah benar-benar kita lihat tetapi selalu di sana. | Waiting for Godot by Samuel Beckett: Buku ini terlihat tak berarti sama sekali saat pertama kali kita membacanya semasa remaja. Tanpa kita sadari bahwa dongeng Beckett tentang dua pria dengan topi bowler, Vladimir dan Estragon, menunggu seorang kawan bernama Godot-yang jelas-jelas tak punya niat untuk datang-sebenarnya merupakan metaphor besar bagi krisis eksistensial manusia modern. | The Bell Jar by Sylvia Plath: Cerita tentang seorang penyair yang mencoba mengakhiri hidupnya, ditulis oleh penyair yang mengakhiri hidupnya, hanya sebulan setelah penerbitan The Bell Jar, mengandung cukup banyak ironi untuk memenuhi seribu esai bahasa Inggris anak sekolah menengah. Akan tetapi alasan buku ini layak dibaca ulang bukan karena banyaknya bagian dari satu-satunya novel Plath ini yang berupa autobiografi. Mulai dari ekspektasi atas perempuan dalam masyarakat sampai bagaimana hidup di kota besar bisa membuatmu merasa terisolasi, ada banyak hal dalam 234 halaman ini yang akan membuatmu mengangguk setuju. | Metamorphosis by Franz Kafka: Seorang sales keliling bernama Gregor Samsa terbangun pada suatu pagi dan mendapati dirinya dengan tak masuk akan telah bertransformasi “menjadi seekor serangga raksasa.” Buku ini mengandung keangkuhan yang luar biasa, akan tetapi cepat membuat bosan jika kamu tak cukup tua untuk mengapresiasi kisahnya. Bukan karena remaja tak punya imajinasi yang kuat, tapi karya agung Kafka yang mengerikan ini sebenarnya bukan tentang keganjilan seorang manusia yang berubah menjadi hama. Seperti kita ketahui, Samsa seorang yang gila kerja, menjerumuskan dirinya sendiri pada kematian muda lewat stress yang berkelanjutan dan komitmen yang tak berujung. Kerangka luar tubuhnya bukan hanya aneh, itu juga merepresentasikan sebagaimana Kafka tunjukkan, seorang lelaki yang “telah terpenjara oleh pekerjaan dan hutang-hutang orang tuanya.” | The Adventures of Huckleberry Finn by Mark Twain: Huck Finn lari dari ayahnya yang pemabuk, menyusuri sungai Mississippi menggunakan rakit bersama temannya Jim, seorang budak pelarian. Buku ini dianggap salah satu novel terbaik Amerika, dan sekaligus buku yang tak seharusnya kau baca lagi karena terlalu banyak penggunaan julukan-julukan rasial. Bisa dikatakan bahwa Twain hanya menggunakan rasisme yang menyolok sebagai satir untuk zamannya. Atau mungkin apa yang dianggap rasisme di tahun 1884 tidak sama dengan apa yang dikenal di tahun 2018. Apa pun pendapatmu, novel itu layak dibaca ulang, dan biarkan ia mendorongmu untuk mengikuti langkah Huck dan mengutuk keyakinan terbelakang dan beritahu mereka yang ingin menakutimu soal perbuatan immoral untuk memeriksa diri mereka sendiri. | Moby-Dick by Herman Melville: Bahkan jika kamu tak membacanya saat sekolah, kamu mungkin sudah tahu cerita tentang Kapten Ahab dan si paus putih. Lalu untuk apa membacanya, apalagi kalau butuh waktu lama untuk sampai ke bagian menariknya, dan ada satu bab penuh yang membahas kehidupan laut? Secara spesifik karena bukunya berisi momen yang bikin garuk-garuk kepala seperti ini. Moby Dick bukan hanya novel tentant paus, akan tetapi buku yang menantang keseluruhan ide tentang penulisan narasi literatur. Sebagai pengarang Nathaniel Philbrick menjelaskan dalam eksplorasinya atas karya klasik yang tak lekang waktu, Why Read Moby-Dick?, Melville “menarik tabir fiksi dan memasukkan cuplikan yang tampaknya tak relevan atas dirinya saat menyusun komposisi.” | Jane Eyre by Charlotte Brontë: Dibuang oleh satu-satunya keluarga yang pernah ia kenal, Jane Eyre bertahan dan bahkan berprestasi di sekolah asrama, menjadi seorang tutor, jatuh cinta pada bosnya, dan akhirnya menikahi cinta sejatinya. Tapi dia melakukan semua itu tanpa sedikit pun kehilangan integritasnya atau kemandiriannya. Ini yang membuat Jane menjadi sosok yang luar biasa dalam literatur; dia bukanlah gadis sengsara, yang menunggu untuk diselamatkan, tapi seorang pahlawan perempuan yang sangat mampu mengurus dirinya sendiri, bahkan ketika dia gagal atau membuat kesalahan, karena dia ingin mendefinisikan hidupnya dengan caranya sendiri. “Aku bukan burung; dan tak ada sarang yang mejerat diriku,” Jane berkata pada suatu kali. “ Aku manusia bebas dengan kehendak yang merdeka.”. (by Marlina Sopiana, Addi M Idham, Sabiq Carebesth)

 

__
Lebih banyak rekomendasi buku lainnya, baca selengkapnya dalam buku “Memikirkan Kata”, terbit Agustus 2019.

 

Tabloids

Joker dan Review Yang Sama Ambigunya—dan tidak lucu!

mm

Published

on

getty image | https://durangoherald.com

Sementara ia berharap orang tertawa pada leluconnya, yang ia dapat hanya; ia ditertawakan dengan menjijikkan karena kegagalan selera humornya untuk diterima masyarakatnya! Orang-orang berkata: Itu tidak lucu—tapi menyedihkan! —Dia bukan pahlawan tentu saja—mengingat kita telah biasa memahami pahlawan sebagai “Super” dan mentalnya ditampilkan tidak sakit. Ya meski pahlawan sesempurna itu barangkali memang hanya ada di dunia fiksi?

__

Bayangkan, anda duduk di Kereta KRL khas peradaban urban abad 21. Dalam perjalanan petang menuju pulang yang rentan karena buruknya keadaan. Terpinggirkan oleh sistem dan miskin. Dilecehkan karena sakit mental yang nyaris tak bisa dipahami. Sementara anda harus menerima kenyataan bahwa ibu yang pesakitan di rumah bergantung dengan jerih payah anda di luar, sebagai badut kota (Kota Gotham, red).

Sementara baru saja, anda menjadi korban dari buruknya moral warga kota. Kekerasan, nir empati, dan sejarah menempatkan anda terus, seperti selalu, secara terhubung dan acak: sebagai korban kerasnya kehidupan kota.

Dalam kecamuk beban personal yang tampak tak bisa lagi diakrabi, malah seperti musuh dalam selimut yang menjadikan waham dan implus seperti menyerbu pikiran nyaris tanpa jeda, tanpa kategori dan mengeroyok akal sehat anda yang memang telah sakit.

Lalu di depan anda, dalam gerbong sebuah kereta dalam perjalanan petang yang melelahkan: tiga orang pekerja mapan membuat keributan, menyatroni dengan tindakan sexis pada perempuan yang duduk manis sendiri di dalam kereta sambil membaca buku—batin anda terguncang, muak pada tatanan, hasrat membuat kategori “watak sebagian mewakili keseluruhan” membuncah: beginikah adab orang kaya? Kenapa orang-orang tak peduli? Kosong empati bahkan pada orang yang sakit secara mental seperti anda, yang tak bisa menahan tawa sendiri meski anda menginginkan untuk membisu!

Image via Warner Bros.Maka dor dor dor.. Joker si lemah yang sakit dan terguncang bereaksi di luar kendali sadarnya sendiri. Kesadaran hanya waham dan implus yang tak pernah terang dalam rasionalitas yang tersisa dalam benaknya. Petang itu ia telah jadi pembunuh, sengaja atau tidak, sadar atau alpa!

Apa yang telah dimulai lalu hanya punya satu hasrat, dituntaskan. Dendam pribadi berganti rupa dalam wujud ambigu sebagai dendam (kelas) sosial. Dor dor dor! Tiga lelaki kelas menengah mapan yang bekerja di kantor bursa saham Wall Street mati terkapar—tuntas dan impas terasa! Semua berlangsung dengan cara brutal dan mengerikan. Sisi lain dari kenekatan manusia pun tergambar dengan konstan!

*

Selanjutnya waktu seperti berjalan tanpa jeda, tak pernah ada lagi rasa lega. Memupuk pikiran dengan begitu banyak kegelisahan dan kecewa. Implus implus kekecewaan, dikebiri, berkecamuk bersama rasa takut sekaligus frustasi, memupuk sakit yang kian dalam. Tak ada jeda tidur atau makan dengan pelan dan penuh perhatian, percintaan atau rumitnya asmara. Waktu habis dalam protes mersepsi ketidakadilan, keterkucilan dan “nasib sial”.

Dendam kian tak tertahan—meski bimbang. Resepsi berjalan lambat tapi pasti segera menjadi perlawanan, “rebellion” pada hidup yang tidak hanya absurd tapi sial.—sementara dendam kian meminta dituntaskan sejak keberanian yang berujud kenekatan kesadaran mengendap seperti morfin. Membuatnya kecanduan pada kehendak bebas untuk bertindak dengan pembenaran moral subjektif. Berharap bahwa memang sudah bagiannya menjadi martir. Menuntaskan tugas yang datang dari ketiadaan kebahagiaan sepanjang hayat!

*

Sementara di luar sana terus berlangsung, normal dan tampak tanpa beban; orang-orang kaya mengambil ruang publik untuk memoles kemunafikan menjadi hal wajar (sebagaimana Brett Cullen—diperankan Thomas Wayne yang kaya, rajin sedekah, tapi tak pernah mau rugi dan selalu tampak jijik dengan segala yang kumal dari kemiskinan jalanan).

Orang-orang sepertinya menampilkan pesona juru selamat sementara tak ada hal nyata yang dibuat untuk membantu sesama. Mereka menghancurkan semesta sosial dengan cara yang ditutupi oleh aristokrasi, fashion, kesopanan dan hal-hal mulia yang disepakati dunia modern yang kapitalistik. Dunia di luar telah mengambil hak begitu banyak orang yang dengan hayalannya, Joker jadikan mereka “kawan” sependeritaan meski tanpa persetujuan. Orang-orang yang terdampak deregulasi, pencabutan subsidi, pajak tinggi dan hal lain dari kongsi aneh kapitalisme dan birokrasi rente dan korup—yang dalam kasusnya telah menghilangkan kesempatannya untuk melakukan terapi psikiatri yang selama ini sedikit meredam penyakitnya yang membuncah! Tapi “sory”, setelah ini tidak ada lagi !

Apa yang bisa ia katakan kepada sistem yang tidak memihak? Pada modal dan regulasi  yang tidak ada wujudnya tetapi terus eksploitatif tanpa bisa dikendalikan? Pada dimensi yang sama, ia mendapati kegagalannya sendiri yang makin akut. Dipecat dari pekerjaan. Menyadari dirinya hanya Anak tanpa bapak yang mau mengakui meski telah ia perjuangkan. Sakit mental yang kian menakutkan dan membebani. Ia benar-benar tak lebih dari komedian yang gagal membuat satu lelucon pun!

Sementara ia berharap orang tertawa pada leluconnya, yang ia dapat hanya; ia ditertawakan dengan menjijikkan karena kegagalan dari selera humornya untuk diterima masyarakat sekitar! Orang-orang berkata: Itu tidak lucu—tapi menyedihkan!

Ia segera melampaui kemanusiannya sendiri. Terasing dari diri sendiri, dari manusia lain dan juga kemanusiaan. Dan bisa diduga, pilihannya bertahan di kolong langit yang ia gambar sendiri sebagai kelam kelabu hanya mungkin ia tinggali jika ia memutuskan untuk terjerembab lebih dalam ke dalam standar moral dari hayalannya sendiri tentang nilai-nilai. Meski ia menentang, tapi ia tak sanggup berhadapan dengan kecamuk yang dibuat otaknya sendiri. Betapa berbahayanya otak!

Frances Conroy sebagai Penny Fleck, ibu Arthur

Pembunuhan demi pembunuhan pun berlangsung dengan kian tidak terimanya ia pada keadaan. Dendam telah dimulai dilangsungkan dan akan terus meminta korban! Ia lalu membunuh ibunya (Penny Fleck, diperankan dengan kaku dan menjengkelkan oleh Frances Conroy—karena memang sebaiknya ia berperan demikian) yang tidak hanya telah merepotkannya tapi kemudian juga ia ketahui menelantarkan masa kecilnya. Dan penelantaran adalah kejahatan yang layak mendapat pelunasan dendam. Ia membekap ibunya yang terbaring di rumah sakit, mati!

Terapis yang disangkanya hanya menjalankan formalitas kerja tapi tak pernah benar benar mendengarkannya sebagai pasien kecuali mengatakan hal-hal sama setiap kalinya dan monoton—adalah penipu yang juga layak mendapat penuntasan dendam. Tuntas! Murray Franklin (diperankan sangat lambat dan apik oleh Robert de Niro) tak ubahnya, ia telah bernasib buruk dengan keyakinan pada kebaikannya sendiri terhadap seorang yang tampak polos dan penuh harap juga rasa kagum seperti Arthur padanya—tapi ia lupa, ia melanggar hak personal Arthur sang Joker, sebab menayangkan lelucon dan pengebiran terhadapnya tanpa izin. Dan ia juga layak…

Nihilistik

Nihil, semua nihil. Joker menjadi moralis bebas yang tak memerlukan konfirmasi masyarakatnya tentang tindakannya benar atau salah. Baik atau buruk—semua ditentukan oleh dirinya sendiri. Sebagai manusia bebas kehendak. Ingat Nietzsche tentang Übermensch? Manusia super yang digambarkan bebas kehendak, tak memerlukan konfirmasi moral selain dirinya sendiri.

Image via Warner Bros.

Todd Phillips—sutradara, produser, sekaligus penulis naskah film ini—3000 % berhasil membuat Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) memainkan adegan merokok dengan sangat elegan dan luwes! Nyaris sepanjang film berlangsung! (merokok tampak sangat nikmat untuk mereka yang menghirupnya bagai menghirup penderitaan dan aroma hidup yang kian payah). Lebih dari itu film ini memberi gambaran ambigu lain bagi narasi tentang pahlawan dan manusia super!

Psikososial Karl Jung mendeklarasikan gagasanya dengan intim dalam film ini, kegelisahan kolektif atau akumulasi dari sakit sosial individual untuk melampaui gagasan Freud tentang neurosis. Film ini menempatkan Karl Jung dengan teori psikososial dan neurosis dalam proses individuasi dengan lebih tinggi ketimbang Freud. Anda harus membaca kedua pemikiran tersebut untuk menikmati kepulan asap kegelisahan yang dibakar film ini.

Demikianlah Joker—lelucon yang tak pernah sekali pun lucu! Komedi hidup yang selalu lahir dari kegetiran yang memuncak menjadi frustasi sosial. Tanpa nilai—nihilis—tetapi sebagaimana banyak nihilis, ia tak sempat memeriksa kembali nilai nilai sebagaimana dimandatkan Nietzsche. Mereka hampir semuanya, baru pada tahap meruntuhkan nilai-nilai tanpa pernah meniliknya kembali untuk melahirkan nilai nilai baru yang diharapkan menjadikan kehidupan ini sembuh dari sakit sosialnya.

Ambiguitas Moral

Lalu mari ajukan pertanyaan untuk menilai apakah Joker dan personifikasi atas penokohannya baik atau buruk? Dia salah, atau sistem sosial yang sakit telah melahirkan pribadi seperti Joker? Pertanyaan itu kita pinjam dari tesis pokok pemikiran Erich Fromm: mana yang anda pilih—masyarakat (sistem) yang sakit atau individu yang sakit? Yang membuat peradaban kita dalam sakit?

Dalam istilah masyarakat Prancis awal abad 19 yang juga dipinjam Formm sendiri;  la maladie du siècle—masyarakat yang sakit. Tirani oleh negara kapitalis atau tirani anarkisme oleh kaum tertindas? Serentetan pertanyaan (masalah) khas abad 21 atau bahkan persis sejak setelah renaisance mendeklarisakan diri dan pencerahannya melahirkan kapitalisme sebagai anak haram yang enggan diakui bapak humanisme di muka bumi ini.

Dan kita sekarang pun rasanya belum bisa menjawab pertanyaan semacam. Bahkan keadaanya jauh lebih rumit dan sulit. Meski dari kerumitannya terus menghasilkan kegemilangan dalam filsafat, kemajuan teknologi, seni dan psikologi—tak terkecuali film Joker sendiri. Adalah buah dari masalah masalah abad kita!

Film ini memberi kita gambaran, bahwa kesadaran, perlawanan, rupanya memiliki banyak wajah dan motif, tak terkecuaki ekspresi yang lahir dari ketertekanan, rasa cemas, takut dikebiri dan takut terasing dari manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Dan Joker menunjukkan salah satunya—dengan eksperesi memuncak; dendam harus dituntaskan, tak seperti rindu, dendam melahirkan anarki, menjadikan sejarah buta sehingga bisa memakan korban siapa saja tak peduli ia baik atau buruk. Kaya tau miskin.

Dendam membuat sejarah tak pernah memiliki tujuan pasti sehingga membuat kita sebagai mahluk sejarah seperti terus terkutuk dalam ambiguitas, kebingungan! dan keterlambatan mereka para bijak bestari untuk menyedikan jawaban (sementara) bagi kebingungan umatnya bisa berakibat fatal pada segala rupa praktik ekspolitasi, kolonialisme, diskriminasi, yang darinya setiap kali akan melahirkan penderitaan dan kegetiran baru, Joker-Joker baru,—yang tak pernah bisa menertawakan dirinya sendiri apalagi menghibur orang lain.

Dunia yang kita tinggali mungkin memang dunia yang sakit. Dan kebahagiaannya hanya ilusi yang bergantung pada kemampuan imajinasi. Kenyataan tak pernah benar-benar membahagiakan terutama bagi mereka yang papa dan dipinggirkan oleh kita yang sesekali merasa sanggup berbahagia.

Maka solidaritas dan empati sosial harus dibangun, hukum yang adil, kekuasaan yang bermoral pada landasan kemanusiaan harus tegak sebagai kapal di tengah dunia kita yang tak ubahnya laut bergelombang Tsunami—dan lebih mengerikannya; kita tak pernah benar-benar persis tahu ke mana kapal sejarah ini hendak menuju.

Seperti film Joker yang konstan, menerkam kita sejak mulai sampai akhir, nyaris tanpa jeda dan acuan, tulisan ini dibuat naratif dengan pola alur yang sama. Lantaran saya sendiri memiliki ketakutan dan beban psikis yang sama tak lucunya.

*

Lalu apa moral film ini? Tidak ada. Sebagaiamana nihilisme Nietzsche, ia hanya bertugas mengguncang, meledakan dinamit, merangsek dengan kegelisahan sampai nilai nilai kemapanan runtuh. Kita diharapkan “menilai kembali nilai nilai—semua nilai tanpa kecuali.” Untuk menghadirkan wajah dunia yang lebih baik dan humanis, jika saja itu mungkin. Sungguh tugas berat yang tak pernah dikerjakan para nihillis dan memang demikian adanya.

Kesimpulan? Saya kutipkan saja langsung dari pemeran dan rumah produksi film ini—yang dilontarkan paska heboh di negara asalnya, mengingat film ini sampai memaksa Departemen keamanan nasional AS, Department of Homeland Security, Kepolisian Los Angels dan bahkan FBI, menerbitkan memo khusus peringatan keamaan kota akibat protes yang berlangsung setelah rilis film ini karena khwatir kekerasan akan ditiru di dunia nyata. Atau yang sebenarnya film ini meniru dunia nyata? Entahlah.

Sang sutrada mengatakan bahwa kekhawatiran semacam itu berlebihan, mengingat ini hanya fiksi. “It’s just a movie about a character that’s going through a transformation. To me, it just feels like, I don’t know how to put it into words, it’s just not a big deal.”

Sementara pemeran utama film ini, Joaquin Phoenix, mengajukan pembelaan senada: “I think it’s really good … when movies make us uncomfortable or challenge us or make us think differently.”

Saya kira dia tidak akan mendapatkan Piala Oscar meski layak—tetapi seperti Nietzsche yang melahirkan hologan supernya sendiri, Phoenix akan memiliki pengagumnya—yang mungkin berbuat lebih jauh dari yang bisa ia kira sebagaimana Nietzsche memiliki pengagum seperti Hitler. Jadi wajar saja sebagian penduduk di US khawatir. Semoga saja tidak..

WarnerMedia selaku rumah produksi film ini menyatakan dalam rilis medianya, sebagaimana dikutip CNN, “the movie does not aim to hold this character up as a hero.”

Dia bukan pahlawan tentu saja—mengingat kita telah biasa memahami pahlawan sebagai “Super” dan mentalnya ditampilkan tidak sakit. Ya meski pahlawan sesempurna itu barangkali memang hanya ada di dunia fiksi?

Jadi sudahkan Anda hari ini berhasil menghibur diri sendiri dengan lelucon yang nyaris sama sekali tidak lucu? Saya sendiri tampaknya hari ini berhasil—dengan menulis ulasan yang sama sekali tidak lucu ini!

It’s not a Joke (R)

*) Sabiq Carebesth—Penulis lepas, editor Galeri Buku Jakarta–yang baru kali pertama nonton film seri Joker—dan belum pernah nonton film Batman di Bioskop. Lantaran lebih menyukai genre film cowboy—

Continue Reading

Tabloids

Ruang Untuk Kata Kata, Ruang Untuk Kita

mm

Published

on

Kemajuan teknologi membutuhkan ruang imajiner dalam logika yang dikembangkan, peradaban politik lahir tak lepas dari fase memuncak bagaimana kehalusan dan kejujuran sublim sastra telah memberikan inspirasi bagi kondisi-kondisi memprihatinkan abad kita dari krisis iklim, konflik etnik, krisis pangan, atau ketimpangan dalam keadilan gender—wacana politik kerap kaku dan terlalu keras dalam upayanya memahamkan kepada kita, tetapi sastra dan buku-buku ia berhasil menkonversinya menjadi suatu analogi dan metafora intim tentang krisis kepada nalar dan logika kemanusiaan kita yang dari sana orang-orang terdorong untuk bergerak dan menemukan bentuk-bentuk nyata kebaikan.

Inilah dunia yang kita inginkan—mungkin juga anda, ruang yang kita rindukan di tengah begitu rupa urusan saling silang kepentingan atas nama politik, kekuasaan, atau modal dalam kompetisi primitif perebutan kuasa kapital—yang di dalam bangsa kita sendiri mau pun dunia secara global tengah berkembang dalam pusaran konflik entah untuk bentuk peradaban yang mana lagi.

Dalam ruang bincang buku, mendialogkan kehidupan bagi pikiran dan batin seperti ini—tampak nyata dunia dalam ekosistem yang akrab (untuk kembali menebalkan kepercayaan) bahwa sastra dan buku buku, dunia kreatif, hadir sebagai penerimaan kepada sesama dan sesiapa saja untuk suatu usaha memahami dan menerima bahkan hal hal yang individualitas kita memang berangkat dan dasariahnya berbeda.

Ruang di mana buku dan sastra dibincangkan, nyata menciptakan sebuah dunia yang diletakkan dalam tautan untuk memahami kehendak diri dan penemuan atas “individuasi” tiap tiap individu, ruang semacam itu telah memberi bekal dan pondasi kokoh untuk eksosistem yang lebih luas, di mana kita mungkin berkontribusi bagi kehidupan baik sebagai pribadi bebas mau pun solider.

Apa yang kerap tidak kita pahami dari dauni buku dan sastra adalah kemampuannya untuk mengejewantahkan empati kemanusiaan dengan cara yang metaforik, tampak bahwa ia seperti omong kosong menghabiskan waktu, tetapi di sana berangsung keseluruhan upaya yang mungkin bagi penebalan rasa kemanusiaan, pencerahan bagi nalar kritis, sebab di sana berlangsung suatu kerja mengingat, mendedah dan akhirnya upaya memahami rupa rupa hidup dalam perbedaanya yang khas.

Dunia buku, dunia menulis dan sastra khususnya, memang tidak dihadirkan sebagai perangkat dan perkakas langsung untuk suatu hal yang secara konstan tampak hasil dan agenda perubahan yang revolutif. Tetapi siapa bisa memungkiri tautan empatik, spirit, kematangan dan suatu persuasi kepada kejujuran kemanusiaan yang bisa diberikan buku dan sastra? Suatu ambang kejujuran dalam kemanusiaan kita yang mulai kering di sana sini. Dunia secama itu, nyata telah mendorong orang orang dalam penciptaan kemajuan secara lebih nyata dalam banyak rupa dari zaman dan kemanuisaan yang kita butuhkan dalam kondisi politik apa pun.

Kemajuan teknologi membutuhkan ruang imajiner dalam logika yang dikembangkan, peradaban politik lahir tak lepas dari fase memuncak bagaimana kehalusan dan kejujuran sublim sastra telah memberikan inspirasi bagi kondisi-kondisi memprihatinkan abad kita dari krisis iklim, konflik etnik, krisis pangan, atau ketimpangan dalam keadilan gender—wacana politik kerap kaku dan terlalu keras dalam upayanya memahamkan kepada kita, tetapi sastra dan buku-buku ia berhasil menkonversinya menjadi suatu analogi dan metafora intim tentang krisis kepada nalar dan logika kemanusiaan kita yang dari sana orang-orang terdorong untuk bergerak dan menemukan bentuk-bentuk nyata kebaikan.

This slideshow requires JavaScript.

Buku buku dan sastra memberi kita tidak hanya imajinasi yang membuat nalar dan logika tidak membebaskan diri secara otonom dari intuisi dan individuasi yang bagamana pun—apalagi di zaman milenial sekarang dimana determinisme atas totalitas apa pan menjadi menakutkan; tak terkecuali pada fanatisme atas sekterianisme dan nilai nilai pengetahuan ideologis abad modern ini. Ambisi totalitias dengan pananda fanatisme selama abad modern semacam itu, tercatat telah melahirkan banyak tragedi dan korban dan sekarang abad kita tengah bergerak mencari bentuk bentuk baru sebagai alternative, disadari pun tidak—meski juga terasa prosesnya gelap kelabu—dan sastra, buku buku, sangat mungkin melepangkan kesempitan dan kemuraman demikian.

Ruang dan pertautan, kehendak merasa dan memahami kondisi zaman dan kehidupan hari ini, di mana kita berharap tumbuh harapan di atas tumpukan kerumitan dan kejumudan kita pada masalah masalah abad kita, berlangsung dalam ruang diskusi dan dialog, seperti berlangsung (21/11) dalam momen peluncuran buku “Memikirkan Kata”. Ruang semacam itu, sekali lagi, sedikit atau banyak menebalkan kembali kepercayaan kita dan mungkin juga anda, kalian yang hadir sore itu, tentang bahasa bahasa universal dari kemampuan manusia untuk saling bersolidaritas, suatu upaya saling memahami dunia dan proses penemuan, suatu jejak individuasi yang puspa ragam pada tiap individu, memberi dorongan kepada diri sendiri dan energi yang membuncah darinya telah menciptakan kesadaran kolektif pada banyak kemungkinan penciptaan dan alternatif bagi kerumitan dan krisis zaman kita—kita lalu merasa, meski mungkin hanya untuk sejenak, mampu merobohkan ambang egoisme, sekterianisme, narsisme, kemayaan, kepalsuan dunia internet dan hal semacam itu yang kita keluhkan diam diam dari dunia kita hari ini meski dan sebab kita satu dimensi di dalamnya—dan mengambil dari momen sejenak itu kepercayaan dasar akan kemanusiaan dan kemampuan kreatif manusia untuk menjadi pendorong dan pencipta keindahan bumi ini. Untuk suatu persahabatan universal dan kreatifitas di mana kerja termasuk kerja kreatif adalah eksistensial dan material dalam proses dari gerak menyejarah.

Kami percaya, semakin banyak ruang semacam ini dicipta, semakin kecil pula peluang bagi sakit sosial abad kita untuk berkembang dan mengendemikkan diri—memungkinkan hal semcam itu ditekan dan dinetralisir, dan dengan begitu sebuah upaya kecil merawat abad kita, zaman dan manusia manusia konkrit di dalamnya yang adalah kita dan generasi yang kita lahirkan kelak dari proses hari ini, petang tadi telah dilangsungkan.

Maka kami akan mencatat acara petang itu, paling tidak bagi Galeri Buku Jakarta sendiri dan semua yang ada di dalamnya, sebagai sebuah moment istimewa, historis dalam banyak sisi dan harapannya.

Terimakasih kami sampaikan untuk semua, selamat untuk tim kerja dan sukses selalu untuk kita semua. Sekali lagi selamat memikirkan kata—kata kata yang dipikirkan, tautan ambigu dunia di dalam diri kata-kata sendiri dan dunia penciptaan yang kita ciptakan dari bahan baku kata kata, sangat mungkin dan terbukti telah merubah begitu rupa dunia dulu dan nanti. Percaya atau tidak, itu kenyataanya.

Jadi kenapa kita memikirkan kata? Atau kenapa kita tidak memikirkan kata sebelum kita menggunakannya? Alih-alih hanya menjadikan kata kata sebagai bahan baku tanpa memahami gelap terang dalam pribadi kata-kata sendiri? (*)

___

Jakarta, 21 September 2019

Sabiq Carebesth—editor “Memikirkan Kata”

Dan pendiri Galeri Buku Jakarta.

Continue Reading

Tabloids

Bagaimana Perpustakaan Dapat Meredam Populisme?

mm

Published

on

“Setelah pemilihan umum tahun 2016, Mark Zuckerberg menulis sebuah surat publik yang mengklaim bahwa Facebook akan menjadi sebuah infrastruktur sosial yang penting yang menghidupkan kembali demokrasi. Akan tetapi sejak saat itu, kita telah melihat bahwa sosial media lebih banyak mempromosikan kebencian, propaganda dan perpecahan daripada menghasilkan “komunitas penuh makna” yang dijanjikan Zuckerberg.” Ia membuka sebuah rahasia dan inilah faktanya: “Jika Anda ingin tahu jenis infrastruktur sosial yang benar-benar dihargai oleh para pemimpin industri teknologi, lihatlah dengan seksama bangunan-bangunan yang didirikan di Silicon Valley: Kantor-kantor yang didesain untuk pertemuan-pertemuan tak sengaja antara anggota dari tim-tim yang berbeda. Kafetaria-kafetaria dengan meja bersama dan makanan gratis. Lapangan-lapangan olahraga, jalan-jalan setapak, taman-taman di atap bangunan, ruang-ruang untuk pesta. Mengapa? Karena mereka ingin pekerjanya merasa begitu senang di kantor hingga mereka tak ingin pergi. Dan, seperti yang Mr Zuckerberg ketahui lebih dari siapa pun, cara untuk melakukannnya bukanlah dengan membiarkan para pekerja menghabiskan waktu dengan sosial media lebih lama.

 

Oleh: Sabiq Carebesth & Marlina Sophiana *)
(Redaktur dan Editor Utama Galeri Buku Jakarta)

Dunia abad kita hari ini membutuhkan infrastruktur sosial jika ingin kemanusiaan dan perdamaian dunia terus bisa dijaga dan dimajukan. Infrastruk sosial yang nyata, difasilitasi oleh instrumen penentu kebijakan pubik dan pada saat sama sedikit mengabaikan utopia maya tentang komunitas bersama seperti di janjian sosial media. Kenapa?

Di tengah gejala bahkan telah faktual berkembangnya populisme di banyak negara di dunia dan telah menyebabkan dampak-dampak mengerikan yang nyata, dunia membutuhkan infrastruktur sosial untuk menampung kohesi bersama dan mewujudkan kemanusiaan yang diimpikan seluruh manusia. Ketika banyak pemimpin pemerintah di dunia membangunan insfrastruktur dalam logika pembangunanisme, infrastruktur sosial kerap kali terabaikan, sementara dunia digital terutama sosial media yang diklaim mampu menghubungkan semua dan berbagi kebaikan untuk semua terbukti gagal memenuhi janji kemanusiaanya. Infrastruktur pembangunan dan sosial media justeru berkontribusi paling besar pada makin tinggi dan kokohnya tembok pembatas yang kian memisahkan manusia dari sesamanya dan dari kemanusiaan. Sementara dalam keterasingan yang terus memuncak itu, populisme merebak seperti jamur di musim pancaroba keadilan ekonomi dan politik.

Itulah pesan menarik dari buku terbaru karya Eric Klinenberg, seorang sosiolog di New York University dan pengarang “Palaces for the People: How Social Infrastructure Can Help Fight Inequality, Polarization, and the Decline of Civic Life” (Crown, 2018) mengungkapkan gagasan menarik tentang sosiologi kenapa populisme khususnya di barat menjadi begitu mengerikan. Buku itu memulai wacananya dengan fakta di mana tahun-tahun ini beragam gagasan telah dikemukakan untuk menjelaskan bangkitnya populisme di Barat: dari mulai ketidakamanan ekonomi, reaksi negatif dari persoalan imigran dan berita palsu. Hal lain yang masuk daftar itu mungkin kurangnya ruang-ruang bersama di mana orang dari berbagai dimensi kehidupan dapat bertemu dan bergaul.

Secara spesifik Eric Klinenberg juga menyatakan jika politik menuju semangat kesukuan, mungkin hal itu akibatnya jika orang-orang diberikan tembok pemisah satu sama lain-dalam beberapa kasus tembok betulan-mengikis perasaan kesamaan dan komunitas.

Krisis infrastruktur sosial dinilai menjadi salah satu pemicu utama krisis global yang melanda dunia saat ini. Bagi Klinenberg, infrastruktur sosial merupakan ruang-ruang publik yang membawa orang-orang bersama sehingga dapat terbentuk suatu ikatan. Dalam bukunya, dia mencatatkan bagaimana hal tersebut memberikan manfaat mulai dari pertumbuhan ekonomi hingga laku pemerintahan yang lebih baik, di masa di mana sosial media tampak mendorong orang untuk saling menjauh.

Sosial Media dan Kesemuannnya

Perkembangan dunia digital terutama ditandai oleh lahirnya era sosial media pernah menjanjikan kemajuan global sekaligus perdamaian umat manusia yang cemerlang. Tetapi kenyataanya justeru sebailiknya.

Melalui Program Inisiatif Open Future, The Economist, Eric Klinenberg dalam satu sesi wawancara bahkan menuding sosial media menjadi perkakas utama masifnya kebencian dan populisme menyebar seperti virus mematikan yang endemik.

“Setelah pemilihan umum tahun 2016, Mark Zuckerberg menulis sebuah surat publik yang mengklaim bahwa Facebook akan menjadi sebuah infrastruktur sosial yang penting yang menghidupkan kembali demokrasi. Akan tetapi sejak saat itu, kita telah melihat bahwa sosial media lebih banyak mempromosikan kebencian, propaganda dan perpecahan daripada menghasilkan “komunitas penuh makna” yang dijanjikan Zuckerberg.”

Ia membuka sebuah rahasia dan inilah faktanya: “Jika Anda ingin tahu jenis infrastruktur sosial yang benar-benar dihargai oleh para pemimpin industri teknologi, lihatlah dengan seksama bangunan-bangunan yang didirikan di Silicon Valley: Kantor-kantor yang didesain untuk pertemuan-pertemuan tak sengaja antara anggota dari tim-tim yang berbeda. Kafetaria-kafetaria dengan meja bersama dan makanan gratis. Lapangan-lapangan olahraga, jalan-jalan setapak, taman-taman di atap bangunan, ruang-ruang untuk pesta. Mengapa? Karena mereka ingin pekerjanya merasa begitu senang di kantor hingga mereka tak ingin pergi. Dan, seperti yang Mr Zuckerberg ketahui lebih dari siapa pun, cara untuk melakukannnya bukanlah dengan membiarkan para pekerja menghabiskan waktu dengan sosial media lebih lama. Caranya adalah dengan mendesain dan membangun infratruktur sosial terbaik yang dapat disediakan.”

Peran Pemerintah dan “Minus”nya Philantropi

Pemerintah dinilai tetap menjadi aktor kunci yang harus memfasilitasi dan membangun infrastruktur sosial. Klinenberg meragukan hal semacam itu bisa diatasi sendirian oleh misalnya gerakan philantropi yang memiliki beban watak dasarnya untuk memiliki kecenderungan untuk tidak adil pada semua komunitas. Philantropi selalu memihak, pilih-pilih, dan tidak terdistribusi secara merata. Satu-satunya cara kita mendapatkkan infrastruktur sosial yang komprehensif adalah jika sarana publik itu disediakan oleh pemerintah.

Perpustakaan Modern Aleksandria di kota Aleksandria, Mesir. | Perpustakaan ini dalam sejarahnya merupakan salah satu perpustakaan terbesar dan terpenting pada zaman kuno. Perpustakaan ini merupakan bagian dari sebuah lembaga penelitian yang lebih besar, Mouseion, yang dipersembahkan untuk para Musai.

Sebagai gantinya ia menandaskan kerjasama pemerintah-swasta sealu memainkan peran penting dalam pembangunan infrastruktur sosial—menggaris bawahi peran pemerintah dalam hal inisitif politik dan dana pengelolaan-perawatannya.

Sebagai contoh, untuk kasus Amerika. Andrew Carnegie, bagaimanapun, menyumbangkan uang untuk membangun hampir 1700 perpustakaan umum di Amerika, dengan syarat bahwa pemerintah lokal menanggung semua biaya untuk operasional dan perawatannya. Kemurah hatian Carnegie muncul di saat tidak ada pajak penghasilan negara bagian. Bayangkan berapa banyak “palaces for the people” yang dapat dibangun di Amerika jika negara membebankan pajak yang adil padanya dan para pelaku industri sukses lainnya.

Jadi tidak efektif sama sekali untuk misalnya memberikan kebijakan memotong pajak bagi orang-orang yang paling kaya dan berharap kedermawanan mereka dapat meolong persoalan-persoalan pubik, apakah itu berkaitan dengan keadilan ekonomi dan kesejahteraan atau pun infratruktur sosial.

Infrastuktur Sosial dan Perpustakaan

Kesadaran pembangunan infrastrutur fisik pada saat bersaa harus diimbangi dengan investasi sama besar pada infrastruktur sosial menjadi hajat kesadaran kita bersama dan menyorongkannya terutama pada pengambil kebijakan publik.

Untuk dijadikan contoh, beberapa negara telah mengembangan porsi adil akan hal itu dan terbukti mampu menyelamatkaan kota dan generasinya dengan lebih baik.

Belanda disebut Klinenberg sebagai pelopor dan merupakan rujukan utama dalam pengintegrasian infrastuktur sosial ke dalam strategi-strategi  adaptasi dan mitigasi iklim. Orang Belanda telah belajar membangun taman-taman, plaza dan taman bermain yang berfungsi ganda sebagai sistem manajemen banjir, jadi investitasi keamanan ekologis juga menigkatkan kulaitas kehidupan sosial sehari-hari.

Jepang telah memasukkan infrastruktur sosial ke dalam infrastruktur sistem transitnya. Stasiun-stasiun di Tokyo berupa bangunan bawah tanah yang luas dan terlindungi dari bahaya banjir yang dialami kota New York selama badai Sandy. Stasiun-stasiun di sana juga bersih, dirawat dengan baik dan dihidupkan dengan berbagai aktivitas komersil. Beberapa stasiun kini menjadi destinasi sosial-sangat jauh dibandingkan dengan apa yang kita alami di New York, di mana kegiatan transit menjadi perang antar semua.

Dalam kasus yang lebih umum infrastruktur sosial sangat terkait dengan ruang bersama untuk memajukan penalaran dan pikiran kritis publik dengan pada saat bersamaan kohesi dan empati kemanusiaan ditumbuhkan. Ruang publik semcam itu paling mungkin dan mudah dibayangkan dalam bentuk perpustakaan.

Perpustakaan

Ketika The Economist menanyakan apa relasi langsung dan lebih mendalam infratruktur sosial dalam menjawab persoalan populisme, otoritarianisme, post-truth dan masyarakat terbuka—bukan sekadar kohesi sosial, yang merupakan efek langsung… –wujud paling konkrit yang bisa diterapkan dengan konstan, Klinenberg menjawab lugas: Perpustakaan.

Baginya, perpustakaan memainkan peran yang begitu penting dalam mempromosikan budaya demokrasi-dan menantang otoritarianisme-karena cara mereka diisi oleh pegawai-pegawai, dikelola, dan deprogram. Mereka sangat inklusif. Mereka diatur oleh professional yang patuh pada norma-norma kejuruan: mengejar pengetahuan dengan peralatan terbaik yang kita punya; tak menghakimi; menghargai martabat setiap orang; menjaga privasi; memperlakukan semua orang secara setara, tak peduli kelas sosial, ras, etnsitas, usia, kemampuan atau pun status kependudukan. Jika di sisi lain peperangan ini, para demagog dan jawara teknologi mendorong kita kepada era post-truth, di sisi lain, para pustakawan menarik kita kembali.

This slideshow requires JavaScript.

[Photos: Identity is celebrated at Katikati’s new library in its sculptural building design and the vibrant colours woven through its double-height interior. Serving a population of just over 4600, the Katikati library and adjacent community hub must cater for a wide range of age groups and interests. With a vibrant local artistic community and the Kaimai Range nearby, First Principles Architects has developed an architectural and interior design language to celebrate local identity.]

Sebaliknya, penelantaran persputakaan bisa menjadi preseden buruk tidak hanya tampaknya tapi juga dalam relasi ekonomi dan sosial politik yang lebih luas.

Kenyataanya justeru menyedihkan bahwa abad kita sekarang justeru cenderung menelantarkan perpustakaan-perpustakaan justru di saat kita sangat membutuhkannya.

Di New York, mayor Bill De Blasio yang dikenal “progresif” ingin memotong jutaan dolar dari anggaran perpustakaan, yang berarti dapat menutup beberapa cabang penting di akhir pekan. Di Ontario, Kanada, pemerintahan kota Doug Ford memotong anggaran layanan perpustakaan hingga setengahnya. Jika kamu tak menganggap hal ini penting, coba kunjungi perpustakaan lokalmu minggu ini dan lihat hal-hal luar biasa yang terjadi di sana. Tiap kali perpustakaan ditutup masyarakat kita menjadi agak kurang terbuka, demokrasi kita sedikit lebih rapuh. Jika kita tidak berinvestasi ulang pada perpustakaan, dan pada infrastruktur sosial secara umum, apa yang akan menjaga kita dari zaman kegelapan yang ditakuti banyak orang itu?

Kita tidak perlu menalar dan membayangkan rumit bagaimana hal itu bisa dilangsungkan. Dalam buku “Palaces for the People: How Social Infrastructure Can Help Fight Inequality, Polarization, and the Decline of Civic Life” (Crown, 2018) Klinenberg telah memberikan laporan pandanan matanya:

“Saya sudah melihatnya, dalam kunjungan saya ke Oodi Library di Helsinki. Itu merupakan perpustakaan yang terasa seperti sebuah kapal luar angkasa di tengah-tengah kesibukan metropolis. Perpustakaan itu punya ruang-ruang yang terbuka, terang, dan berangin untuk membaca dan menulis. Perpustakaan itu punya ruangan untuk berbagai jenis kegiatan kolaborasi, dari video gaming hingga pembuatan podcast dan menjahit. Tempat itu punya ruangan untuk pertemuan-pertemuan komunitas, sebuah teater, makanan terjangkau dan beragam program. Lebih hebat lagi, tempat itu buka setiap hari, dari jam 8 pagi hingga 10 malam di hari kerja, dan hampir dengan jam kerja yang sama di akhir pekan.

Tapi tempat seerti Oodi ada juga di luar negara-negara Skandinavia. Kota-kota di penjuru bumi telah berinvestasi pada perpustakaan-perpustakaan modern baru yang didesain sesusai kebutuhan abad 21. Lihatlah perpustakaan baru di Austin, Texas, yang menyediakan ruang khusus bagi pelaku teknologi lokal dan banyak sekali ruang terbuka untuk anak-anak dan orang dewasa. Atau yang lebih kecil, perpustakaan di sururban Cuyahoga County, Ohio yang disibukkan dengan aktivitas siang dan malam-pembacaan buku oleh pengarang, 3D printing, waktu bercerita untuk keluarga, pertemuan-pertemua komunitas terkait isu-isu lokal yang perlu disiarkan. Sementara di Kanada, deskripsi tersebut mungkin mengingatkanmu dengan perpustakaan baru di Calgary. Di tiap-tiap kota itu, penduduk secara kolektif memutuskan bahwa investasi publik pada infrastruktur sosial akan membawa beragam manfaat. Di Columbus, Ohio, voter memutuskan untuk membebani diri dengan pajak untuk mendapatkan keistimewaan dari perpustakaan yang lebih baik.”

Begitulah dunia di sana mengabarkan pentinganya infrastruktur sosial khususnya perpustakaan, bahkan orang-orang, kelompok milenial, membebani dirinya sendiri untuk pajak demi terbangunnya ruang perpustakaan yang lebih baik. Di sini? Perpustakaan yang lebih megah di bangun, di pusat kota sementara di kota-kota lain yang lebih kecil? Peran pemerintah daerah?

Di sisi lain komunitas-komunitas baca tumbuh meski malah terlihat menyedihkan dengan tidak adanya dukungan dari lebih banyak orang sekitar bahkan pemerintah sendiri, kegiatan mereka kerap dilarang dan dicurigai. Bisa kita bayangkan sendiri situasinya, anggaran yang… pelarangan.. pembiaran terhadap aksi-aksi brutal terhadap buku dan komunitas baca. Tidakkah itu hal mengerikan yang seharusnya meminta perhatian lebih dari kita semua? (*)

_________
*) Ditulis oleh Sabiq Carebesth & Marlina Sophiana: disarikan dari interview Eric Klinenberg dengan The Economist dalam program Open Future dan ihtisar dari Buku “Palaces for the People: How Social Infrastructure Can Help Fight Inequality, Polarization, and the Decline of Civic Life” (Crown, 2018)

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending