Connect with us

Tabloids

Rekomendasi Buku Klasik dari editor “Book Review” Galeri Buku Jakarta: Dari Hamlet Hingga Animal Farm

mm

Published

on

photo by Toby Melville / via Today

Classic books recommended by the editors of galeribukujakarta.com Book Review: Frankenstein, by Mary Shelley: Sebenarnya agak mengagetkan, saat orang-orang yang hanya menonton filmnya, memiliki anggapan kurang lebih sama soal monster di novel ini. Padahal, sebenarnya tidak begitu. Film menggambarkan monster itu sebagai binatang buas yang bisu dan berjalan lamban. Sementara di dalam novel, makhluk itu (namanya bukan Frankenstein, itu nama dokter) dikisahkan secara berbeda —Novel ini dipecah menjadi beberapa bagian berbeda, dengan beberapa pencerita. Makhluk itu dikisahkan mengatakan hal-hal seperti, “Hidup, meskipun itu mungkin hanya akumulasi kesedihan, sangat berharga bagiku, dan aku akan mempertahankannya.” Gambaran soal monster ini di dalam novel jauh lebih menarik dan puitis serta jauh lebih kompleks ketimbang sekadar adanya beberapa baut di lehernya. | Heart of Darkness by Joseph Conrad | Novel yang menginspirasi film Apocalypse Now (1979) tersebut sebenarnya lebih dari sekadar kata-kata si aktor Marlon Brando yang bergumam, “Kengerian … kengerian.” Novel ini bercerita tentang kisah perjalanan dengan perahu menyusuri sebuah sungai tidak bernama di Afrika untuk mencari pedagang gading jahat bernama Kurtz. “Seorang utusan dari belas kasihan, sains dan kemajuan” merupakan istilah bagus untuk menyebut bahwa Kurtz mungkin agak gila. Novel ini sebenarnya berkisah soal horor yang dibawa imperalisme, dan bagaimana “orang-orang liar” sebenarnya tidak seperti yang dinarasikan peradaban modern kepada kita.| Anna Karenina, by Leo Tolstoy: Novel ini setebal 864 halaman. Karenanya tidak banyak siswa sekolah menengah yang secara disiplin menandaskan seluruh isinya. Hal itu sebuah kerugian bagi mereka. Novel klasik Karya Tolstoy ini, di mana semua orang jatuh cinta dengan seseorang yang tidak mencintai mereka kembali, seperti film komedi romantis terbaik yang tidak pernah diproduksi. Dikisahkan, Konstantin ingin menikahi Kitty Shtcherbatsky, yang hanya terpikat dengan Count Vronsky, yang lebih tertarik pada Nyonya Karenina. Ada banyak pelajaran penting yang bisa Anda dapatkan, termasuk contoh kasus soal jangan terburu-buru menjalin hubungan. Dan, mengutip parafrase Rolling Stones: “Anda tidak selalu bisa mendapatkan apa yang Anda inginkan” — tetapi jika Anda berusaha, Anda mungkin menemukan kekasih yang Anda inginkan. | The Diary of a Young Girl, by Anne Frank: Adalah tidak mungkin membaca buku harian, yang ditulis seorang gadis muda saat bersembunyi dari Nazi bersama keluarga mereka di sebuah loteng rumah di Amsterdam, ini dan tidak terpengaruh olehnya. Dengan banyak pelajaran untuk masa depan dan wawasan soal bagaimana manusia dapat menjadi sangat mengerikan sekaligus baik terhadap satu sama lain, buku ini akan mengubah Anda dengan cara yang bahkan tidak dapat Anda pahami. Jika Anda sekarang menjadi orangtua, bersiaplah untuk bercucuran air mata saat membaca buku ini. | Their Eyes Were Watching God, by Zora Neale Hurston | Salah satu topik penting di novel inovatif ini — tentang kemauan keras seorang perempuan yang ingin lari dari harapan masyarakat kulit hitam di awal tahun 1900-an—adalah bahwa Anda hanya bisa menemukan kepuasan sejati jika mau melihat ke luar diri Anda. Tidak mudah bagi remaja untuk menghargai pelajaran ini. Lebih penting lagi, buku ini, yang ditulis oleh seorang wanita yang disebut “Faulkner kulit hitam,” memiliki lebih banyak humor subtil daripada yang mungkin anda temui saat pertama kali membacanya. | Sun Also Rises by Ernest Hemingway: Sekelompok ekspatriat Amerika berpesta pora di Paris karena mereka begitu kecewa dan bosan dan kemudian mereka pergi ke Spanyol untuk menonton adu banteng dan minum-minum lagi. Apakah itu yang disebut the Lost Generation berkelana tanpa tujuan, ataukah itu termasuk liburan terbaik? (Juga, mencoba memahami misteri “luka perang” Jake yang membuatnya impoten jelas lebih menyenangkan bagi orang dewasa yang mengerti anatomi.) | Great Expectations by Charles Dickens: Di pertengahan abad 19 di Inggris, seorang anak yatim miskin bernama Pip meyakini bahwa entah bagaimana dia akan keluar dari penderitaan, hidup miskin dan menjadi seorang pria berharta, dan akhirnya meyakinkan perempuan idamannya, Estella, agar jatuh cinta padanya dan menikah. Lalu seorang dermawan yang tak diketahui identitasnya menjadikannya kaya, dan tak mengejutkan bahwa hal itu tidak membuatnya bahagia, dan pada akhirnya dia kehilangan segalanya. Buku ini seperti 500 halaman yang mengingatkan mengapa kau tak seharusnya bermain lotre. | The Invisible Man by Ralph Ellison: Saat pertama kali membacanya di masa sekolah menengah, kau mungkin kecewa karena bukunya sama sekali tak mendekati film dengan judul yang sama, karena kisahnya tidak melibatkan seorang pria tak terlihat yang berbalut plester sungguhan. Mem-bosankan! Tapi saat dewasa, kau bisa memahami simbolismenya dengan lebih baik bahwa Ellison dengan sangat cerdas menyelipkan ke dalam ceritanya, sebuah penggambaran bukan hanya soal seorang pria yang merasa dirampas haknya oleh negeri yang dia usahakan dengan keras untuk beradaptasi, tapi tentang goresan-goresan luka rasisme yang bergelayut di bawah permukaan, dan bagaimana orang kulit hitam bisa merasa tak terlihat di tengah masyarakat Amerika. | Catcher in The Rye by J. D. Salinger: Holden Caulfied mungkin terlihat seperti karakter yang hanya dapat dipahami oleh reamaja yang penuh kekecewaan. Tapi saat kau menjauh dari masa itu, kau menyadari betapa mudahnya melihat dunia lewat pandangan Holden, mencemooh kepalsuan dan siapa pun yang tidak hidup sesuai dengan standar moralmu, dan kau mulai memahami bagaimana pemberontakkan remaja tak selalu layak ditiru, dan sebagian dari mereka mungkin hanya anak orang kaya manja yang butuh diabaikan. “Semua orang dungu tak suka saat kau memanggilnya dungu,” kata Holden, yang mungkin saja dirinya dungu. | Fahrenheit 451 by Ray Bradbury: Jika adaptasi terbarunya (diperanan Michael Shannon dan Michael B. Jordan) tak membangkitkan seleramu untuk memungut salinan kumal distopia klasik Bradbury milikmu, kami hanya akan berasumsi bahwa kamu tak tahu itu berasal dari sebuah buku. Benar, itu dari buku. Dan dongeng mengerikan tentang masa depan distopia di mana buku-buku tak diizinkan dan dibakar oleh “petugas pemadam kebakaran”-dan satu-satunya hiburan yang legal adalah menonton televisi raksasa sebesar dinding, menyetir sangat kencang, dan mendengarkan “Seashell Radio” dengan alat-alat yang menempel di telinga-mungkin terlihat sedikit lebih familiar dengan kehidupan nyata sekarang dibanding saat kau di sekolah menengah dulu. | To Kill a Mockingbird by Harper Lee: Novel pemenang hadiah Pulitzer ini baru saja terpilih sebagai “Novel Amerika yang paling disukai” sebagai bagian dari seri PBS “Great American Read”, dan rasanya tak mungkin para fans Mockingbird hanya membacanya satu kali saat mereka ada di kelas dua sekolah menengah. Hal yang menakjubkan dari melihat kembali kisah ini adalah sebesar apa risiko yang dihadapi Atticus Finch, yang bukan hanya bisa menerima kekalahan dalam satu kasus hukum. Membela seorang pria kulit hitam dengan tuduhan palsu di Alabama tahun 40an merupakan simbol dari pekerjaan yang sia-sia, tetapi Atticus berjuang dengan kesungguhan moral dari seseorang yang tahu bahwa hal yang benar tidak selalu berarti hal yang mudah atau aman. | Animal Farm by George Orwell: “Hadapilah,” kata salah satu karakter dalam satir brutal karya Orwell, “hidup kita menyedihkan, melelahkan, dan pendek.” Tentu saja, dia merujuk pada binatang-binatang di peternakan Manor yang terlalu keras bekerja dan disiksa, yang pada akhirnya memutuskan untuk memberontak terhadap penindas dan mendirikan pemerintahan baru yang mirip sekali dengan Soviet Union di masa kekuasaan Komunis tetapi dengan lebih banyak tapal kuda. Kisah ini merupakan sebuah alegori tentang kodrat kekuasaan, dan penurunan moral bahkan dalam hal-hal baik, dan meskipun kisah itu ditulis sesuai pada masanya, diyakini di dalamnya terdapat tanda-tanda mengenai totalitarianisme modern yang membuat buku itu terasa semakin relevan. The Divine Comedy by Dante Alighieri: “Tak ada kesedihan yang lebih besar dibanding mengenang kebahagiaan di saat kau menderita.” Tunggu, benarkah kalimat itu ada di dalam buku Dante, yang mungkin kau ingat sebagai puisi yang ditulis dengan aneh tentang seorang pria yang berjalan-jalan di kehidupan setelah mati, tempat penyucian, dan surga, dan kemudian menulis cerita tentangnya? Ada banyak sekali penggalan seperti ini-yang terdengar seperti ditulis oleh seorang lelaki paruh baya yang terbangun dengan perasaan sedih-seperti kau telah melewatkan babak pertama kekhidupanmu.| The Great Gatsby by F. Scott Fitzgerald: Wajar saja untuk melebih-lebihkan simbolisme dalam karya besar Fitzgerald. Ya, cahaya hijau di ujung dok rumah Daisy mungkin mewakili harapan-harapan dan aspirasi Gatsby tentang masa depan. Atau mungkin saja itu hanya cahaya hijau. Dan Jay Gatsby yang memesona dan kaya raya mungkin contoh nyata American Dream, dengan segala kelemahannya dan ideal-idealnya dan jiwa muda yang gelisah untuk kehidupan yang lebih baik. Atau dia mungkin hanya seorang bajingan yang kaya. Apa pun jadinya, buku ini benar-benar mengagumkan. | Beloved by Toni Morrison: Buku ini tak selalu mudah dibaca-terutama jika kau masih muda, dan mempelajari kapasitas manusia untuk menghadirkan penderitaan bagi manusia lain terasa seperti beban yang berat di bahumu-tapi ini kisah yang penting untuk diingat, terutama dalam dunia masa kini, di mana luka dari rasisme tak pernah sebegitu terang benderang seperti sekarang. Berlatar pasca-perang sipil di Ohio, buku ini mengisahkan seorang bekas budak yang meyakini hantu dari anaknya yang meninggal-yang mati demi melindungi calon bayi dari pemilik budak yang menangkap mereka – bereinkarnasi menjadi seorang gadis muda bernama Beloved. Buku ini juga menciptakan kosa kata baru untuk mendeskripsikan sebuah respon emosional “rememory,” yang berarti mengenang masa lalu sekaligus dengan berani menolak untuk kembali ke masa itu. | Hamlet by William Shakespeare: Mungkin pikiran kami saja, tapi saat kami pertama kali membaca Shakespeare, kami tak mengerti separuhnya. Kami biasanya berpura-pura bahwa kami mengerti apa yang dikatakan karakter-karakternya. Kami tahu intinya: Hantu dari mendiang ayah Hamlet memberitahu dia telah dibunuh oleh pamannya, Claudius, jadi Hamlet membunuhnya dan sekelompok orang lain, dan kemudian bunuh diri. Tapi keindahan dari Hamlet bukan soal pembantaianya; tapi bahasa Shakespeare yang puitis. “To be, or not to be: that is the question,” Hamlet berkata dalam monolognya yang paling terkenal; “Whether ’tis nobler in the mind to suffer the slings and arrows of outrageous fortune, or to take arms against a sea of troubles, and by opposing end them? To die: to sleep.” | Brave New World by Aldous Huxley: Teknologi bukanlah sahabat kita di dunia yang menakutkan dalam ramalan masa depan ini, di mana cloning telah menggantikan reproduksi manusia dan ada pil yang berfungsi menghilangkan beragam jenis emosi buruk manusia. Pemerintah telah mengubah penduduknya menjadi budak virtual dengan menjaga merka berada dalam kebahagian yang abadi. Tapi ketika amukan salah satu karakter, dia menginginkan hak untuk tak bahagia, “Tak perlu disebutkan hak untuk menua dan buruk rupa dan impoten; hak untuk merasakan kelaparan; hak untuk menjadi ceroboh; hak untuk hidup dalam ketakutan terus-menerus atas apa yang akan terjadi esok.” Kisah ini pengingat yang baik bahwa kegembiraan sepanjang waktu mungkin terdengar seperti ide yang bagus secara teori, akan tetap kebebasan selalu lebih baik dibanding euforia yang terkondisi. | I Know Why The Caged Bird Sings by Maya Angelou: Diterbitkan saat Angelou baru berusia 40an, memoar ini-yang pertama dari seri dengan tujuh bagian-hanya mengisahkan 17 tahun awal hidupnya di pedesaan Arkansas, tapi kekuatan dan kegigihannya di hadapan begitu banyak kebencian rasial mengejutkan. Seorang gadis muda dengan inferiority complex menemukan kepercayaan dirinya, dan di usia saat kita biasanya hanya memikirkan tentang pasangan prom dan pekerjaan rumah, dia belajar menemukan jalannya lewat “teka-teki ketidaksetaraan dan kebencian.” | The Odyssey by Homer: Kenapa bersusah payah membaca ulang puisi Homer yang sangat sangat sangat panjang tentang perjalanan Odysseus yang sangat sangat sangat panjang menuju pulau kampung halamannya Ithaca, di mana dia bertemu dengan monster laut, cyclops, pemakan teratai, dan banyak lagi makhluk yang mengancam raganya? Hanya saja, meski ditulis 2800 tahun lalu dan mengandung 12.110 bait dacrylic hexameter (apapun artinya itu), orang-orang terus terpukau oleh Odysseus. | Mrs. Dalloway by Virginia Woolf: Setidaknya di permukaan, novel modern ini terlihat benar-benat simple. Kita mengikuti kisah Clarissa Dalloway di musim panas kota London seperti biasanya, selagi dia melakukan hal-hal tak biasa-biasa saja seperti berjalan di taman atau mengobrol dengan teman lama atau membeli bunga atau berpapasan dengan pengagum lamanya yang masih mengira dia mempunyai pernikahan yang bahagia. Akan tetapi keindahan narasi ini terletak dalam detail-detail yang tak disebutkan, seperti keangguhan kelas atas Clarissa dan kebiasannnya “menggali secara berlebihan atas apa pun itu yang merusak,” dan kesan umum bahwa ada sesuatu yang lebih serius bersembunyi di bawah permukaan, sesuatu yang tak pernah benar-benar kita lihat tetapi selalu di sana. | Waiting for Godot by Samuel Beckett: Buku ini terlihat tak berarti sama sekali saat pertama kali kita membacanya semasa remaja. Tanpa kita sadari bahwa dongeng Beckett tentang dua pria dengan topi bowler, Vladimir dan Estragon, menunggu seorang kawan bernama Godot-yang jelas-jelas tak punya niat untuk datang-sebenarnya merupakan metaphor besar bagi krisis eksistensial manusia modern. | The Bell Jar by Sylvia Plath: Cerita tentang seorang penyair yang mencoba mengakhiri hidupnya, ditulis oleh penyair yang mengakhiri hidupnya, hanya sebulan setelah penerbitan The Bell Jar, mengandung cukup banyak ironi untuk memenuhi seribu esai bahasa Inggris anak sekolah menengah. Akan tetapi alasan buku ini layak dibaca ulang bukan karena banyaknya bagian dari satu-satunya novel Plath ini yang berupa autobiografi. Mulai dari ekspektasi atas perempuan dalam masyarakat sampai bagaimana hidup di kota besar bisa membuatmu merasa terisolasi, ada banyak hal dalam 234 halaman ini yang akan membuatmu mengangguk setuju. | Metamorphosis by Franz Kafka: Seorang sales keliling bernama Gregor Samsa terbangun pada suatu pagi dan mendapati dirinya dengan tak masuk akan telah bertransformasi “menjadi seekor serangga raksasa.” Buku ini mengandung keangkuhan yang luar biasa, akan tetapi cepat membuat bosan jika kamu tak cukup tua untuk mengapresiasi kisahnya. Bukan karena remaja tak punya imajinasi yang kuat, tapi karya agung Kafka yang mengerikan ini sebenarnya bukan tentang keganjilan seorang manusia yang berubah menjadi hama. Seperti kita ketahui, Samsa seorang yang gila kerja, menjerumuskan dirinya sendiri pada kematian muda lewat stress yang berkelanjutan dan komitmen yang tak berujung. Kerangka luar tubuhnya bukan hanya aneh, itu juga merepresentasikan sebagaimana Kafka tunjukkan, seorang lelaki yang “telah terpenjara oleh pekerjaan dan hutang-hutang orang tuanya.” | The Adventures of Huckleberry Finn by Mark Twain: Huck Finn lari dari ayahnya yang pemabuk, menyusuri sungai Mississippi menggunakan rakit bersama temannya Jim, seorang budak pelarian. Buku ini dianggap salah satu novel terbaik Amerika, dan sekaligus buku yang tak seharusnya kau baca lagi karena terlalu banyak penggunaan julukan-julukan rasial. Bisa dikatakan bahwa Twain hanya menggunakan rasisme yang menyolok sebagai satir untuk zamannya. Atau mungkin apa yang dianggap rasisme di tahun 1884 tidak sama dengan apa yang dikenal di tahun 2018. Apa pun pendapatmu, novel itu layak dibaca ulang, dan biarkan ia mendorongmu untuk mengikuti langkah Huck dan mengutuk keyakinan terbelakang dan beritahu mereka yang ingin menakutimu soal perbuatan immoral untuk memeriksa diri mereka sendiri. | Moby-Dick by Herman Melville: Bahkan jika kamu tak membacanya saat sekolah, kamu mungkin sudah tahu cerita tentang Kapten Ahab dan si paus putih. Lalu untuk apa membacanya, apalagi kalau butuh waktu lama untuk sampai ke bagian menariknya, dan ada satu bab penuh yang membahas kehidupan laut? Secara spesifik karena bukunya berisi momen yang bikin garuk-garuk kepala seperti ini. Moby Dick bukan hanya novel tentant paus, akan tetapi buku yang menantang keseluruhan ide tentang penulisan narasi literatur. Sebagai pengarang Nathaniel Philbrick menjelaskan dalam eksplorasinya atas karya klasik yang tak lekang waktu, Why Read Moby-Dick?, Melville “menarik tabir fiksi dan memasukkan cuplikan yang tampaknya tak relevan atas dirinya saat menyusun komposisi.” | Jane Eyre by Charlotte Brontë: Dibuang oleh satu-satunya keluarga yang pernah ia kenal, Jane Eyre bertahan dan bahkan berprestasi di sekolah asrama, menjadi seorang tutor, jatuh cinta pada bosnya, dan akhirnya menikahi cinta sejatinya. Tapi dia melakukan semua itu tanpa sedikit pun kehilangan integritasnya atau kemandiriannya. Ini yang membuat Jane menjadi sosok yang luar biasa dalam literatur; dia bukanlah gadis sengsara, yang menunggu untuk diselamatkan, tapi seorang pahlawan perempuan yang sangat mampu mengurus dirinya sendiri, bahkan ketika dia gagal atau membuat kesalahan, karena dia ingin mendefinisikan hidupnya dengan caranya sendiri. “Aku bukan burung; dan tak ada sarang yang mejerat diriku,” Jane berkata pada suatu kali. “ Aku manusia bebas dengan kehendak yang merdeka.”. (by Marlina Sopiana, Addi M Idham, Sabiq Carebesth)

 

__
Lebih banyak rekomendasi buku lainnya, baca selengkapnya dalam buku “Memikirkan Kata”, terbit Agustus 2019.

 

Tabloids

Virginia Woolf: Pengantar A Room of One’s Own

mm

Published

on

By  Rachel Bowlby | Diterjemahkan oleh: Regina N. Helnaz | Dipublikasikan pada 25 Mei 2016 oleh British Library

Profesor Rachel Bowlby menelaah A Room of One’s Own sebagai karya penting kritik feminis, mengungkap bagaimana Virginia Woolf sendiri berada di luar topik resmi esai tersebut yang berkisar soal perempuan dan fiksi untuk mempertanyakan isu-isu seputar pendidikan, seksualitas, dan nilai-nilai gender.

A Room of One’s Own by Virginia Woolf (Author)
‘Tapi, kau mungkin berkata, kami memintamu untuk berbicara tentang perempuan dan fiksi – apa hubungannya dengan sebuah ruang kepunyaanku sendiri? A Room of One’s Own berkembang dari perkuliahan yang diberikan Virginia Woolf ketika dia diundang oleh Giton College, Cambridge 1928.
Secara mengejutkan, esai panjang tentang masyarakat dan seni serta seksisme ini merupakan kerja Woolf yang paling mudah diakses. Woolf, seorang penulis dan kritikus modernis, membawa kita pada yang terpelajar sekaligus bersifat percakapan—dan sangat menghibur—berputar pada sejarah seorang penulis perempuan.

Ketika ia menyimpulkan bahwa untuk mencapai kejayaan sebagai penulis perempuan, mereka membutuhkan penghasilan yang kuat dan privasi, Woolf menciptakan kecaman feminis modern. (w)

Buku seperti apa sebenarnya A Room of One’s Own karya Woolf itu? Dibuka dengan deskripsi sajian makanan di dua perguruan tinggi di Oxbridge, Anda mungkin berpikir ini semacam ulasan eksentrik ala TripAdvisor: makan malam kampus ala para laki-laki, setengah jalan menuju surga; makan malam kampus ala para perempuan, bintang satu. Di titik lain, Anda juga bisa memasukkan bahasan tadi ke dalam daftar rekomendasi untuk penelitian berikutnya di waktu mendatang, tentang topik yang tidak pernah diperdebatkan sebelumnya untuk studi yang serius: kehidupan sehari-hari perempuan kelas menengah di masa yang berbeda, atau sejarah penentangan laki-laki terhadap emansipasi perempuan, atau nilai yang laki-laki tempatkan pada keperawanan perempuan. Terkadang saran Woolf untuk sebuah studi terdengar seperti laporan preliminer tentang hal ini dan subjek lainnya, dengan informasi (dan kejengkelan) hasil membaca di pagi hari karya laki-laki dengan subjek perempuan. (Pembacaan ini berlangsung di British Library, lokasi terdahulunya di British Museum).

Ada banyak bahasan sastra di A Room of One’s Own – tentang apa yang dikatakan di dalamnya perihal perempuan (ketika ditulis oleh laki-laki), tentang jenis tulisan seperti apa yang pernah atau belum mampu ditulis penulis perempuan, dan tentang apakah menulis itu terbantu atau terhalang oleh kesadaran penulis, apakah menempatkan diri sebagai seorang laki-laki atau perempuan saat ia menulis. Pada saat yang sama – dan ini terkait dengan semua saran untuk penelitian – ada penekanan pada bagaimana penulis dengan jenis kelamin apa pun, namun perempuan pada khususnya, membutuhkan dukungan materi minimum yang memadai untuk melakukan pekerjaan mereka (atau menciptakan kreasi mereka): untuk berpikir tanpa gangguan (atau ‘rintangan’, jika menggunakan kata yang disukai Woolf). Woolf menetapkan persyaratan materi yang cukup tinggi. Setiap perempuan, idealnya, harus memiliki pendapatan tahunan sebesar £500 (yang merupakan gaji laki-laki kelas menengah yang mapan saat itu). Dan perempuan juga harus memiliki ruang yang sekarang terkenal itu, ruangan miliknya sendiri, a room of one’s own.

Teks landasan kritik feminis

Jika menyatukan berbagai hal ini, kita mungkin berpikir kita dapat mengatakan dengan percaya diri bahwa apa yang kita hadapi di A Room of One’s Own adalah bagian dari kritik feminis. Tetapi, pada akhir 1920-an, ketika karya itu ditulis, tidak ada hal seperti itu – atau setidaknya, tidak ada praktik atau nama yang sudah ditetapkan untuk memberikan legitimasi pada gagasan semacam itu. Faktanya, A Room of One’s Own lah yang memulai aksi – atau menyoroti bongkahan pemikiran-pemikiran proto-feminis yang nyaris tidak diperhatikan sampai Woolf mengangkat dan memberi dorongan atas pemikiran-pemikiran itu di dalam jalur feminis. Ini akan mengarah, pada akhir abad ke-20, pada kritik feminis sebagai praktik berpikir tentang sastra dan kehidupan sehari-hari yang tidak memerlukan justifikasi khusus (dan yang sekarang menjadi bagian dari silabus sekolah dan universitas dalam pembelajaran sejarah dan sastra, kedua disiplin ilmu yang Woolf memiliki kepedulian besar atasnya). Membaca, seperti yang kita lakukan hampir seabad setelah Woolf menulis dua ceramah yang menjadi dasar A Room of One’s Own, hampir tidak mungkin jika kita berpikir kembali ke dunia di mana dia menulis, di mana gadis dan perempuan, seperti yang dia sebutkan, hampir seluruhnya tidak dilibatkan dalam pendidikan akademik yang serius di tingkat manapun, dan baru saja (dalam 10 tahun terakhir) memperoleh suara dan hak untuk menjalankan suatu profesi. Sebenarnya tidak berlebihan jika mengatakan bahwa A Room of One’s Own adalah teks landasan kritik feminis. Memang ia bukan buku pertama feminis Inggris (terlebih, ada A Vindication of the Rights of Woman karya Mary Wollstonecraft yang sudah ada sejak 1792). Bersambung…

Sampul edisi perdana “Book Coffee and More” | Vol I Agustus 2020 | Sublim Imajinasi Perempuan

*) Ditulis oleh Rachel Bowlby Rachel Bowlby adalah profesor Comparative Literature di University College London. Buku-bukunya antara lain Feminist Destinations and Further Essays on Virginia Woolf (Edinburgh, 1997). Buku terbarunya adalah A Child of One’s Own: Parental Stories (2013), dan Everyday Stories (2016). Dia juga telah menulis beberapa buku tentang sejarah berbelanja, termasuk Carried Away dan Shopping with Freud.

___

Artikel lengkapnya di edisi majalah Book Coffee and More–Literature Magazine by Galeri Buku Jakarta. Majalah ini dapat dibeli dengan harga Rp. 55.000 melalui kontak pemesanan +62 813-1684-2110 (whatsapp)

Continue Reading

Tabloids

Dunia Kafka—Tumpukan Masalah Yang Tak Menghendaki Dimengerti

mm

Published

on

Oleh Sabiq Carebesth *)

Franz Kafka mendapat kajian khusus dalam upaya penalaran absurdis yang dikerjakan Albert Camus.

Camus menyatakan inti seni Kafka adalah “memaksa pembacanya untuk membaca kembali karyanya. Penyelesaian atau tidak adanya  penyelesaian dalam karyanya menyiratkan penjelasan, tetapi penyelesaian itu tidak diungkapkan dengan jalas dan, supaya tampak memiliki dasar, menuntut untuk dibaca ulang dengan sudut pandang baru.“

Kafka menghendaki pembacaan ulang atas karyanya dengan tekadang, sengaja entah tidak, ia menghadirkan dua kemungkinan intrepretasi. Intrepretasi yang justeru akan melahirkan kekelirun jika dilakukan pembaca sampai ke detail-detailnya. Sebab Kafka memunculkan strategi perlambangan. Sebagaimana lambang ia bersifat umum, hanya gerakannya yang bisa ditampilkan—dalam arti tidak ada arti harfiah. Camus sendiri menulis “Sebuah lambang selalu melampaui orang yang menggunakannya dan dalam kenyataan membuat dia berkata lebih dariada yang hendak ia jelaskan.” Maka cara terbaik menafsirkannya adalah dengan spontanitas yang begitu saja, dengan tidak membangkit-bangkitkannya, masuk ke dalam karya tanpa rencana dan tidak mencari alur-alurnya  yang tersebunyi. Pembaca harus masuk ke daalam karya Kafka dengan hanya mengikuti kiat-kiat darinya: yaitu masuk ke dalam dramanya melalui penampilan luarnya dan ke dalam romannya melalui bentuknya.

Tokoh-tokoh Kafka adalah tokoh-tokoh yang memburu masalah, dipenuhi petualangan yang mengkhawatirkan dan kita pembacanya disarankan untuk tidak melakukan pemihakan. Cukup hanya dengan menyaksi bagaimana para tokoh itu, yang ketakutan dan gigih, alih-alih menghindari masalah, malam memburu masalah-masalah dan menganggap masalah-masalah yang diketemukannya dan menimpa dirinya, sebagai hal yang wajar.

Roman-roman berusaha menciptakan drama yang akan memberi kesan pembacanya sebagai hal yang wajar—kewajaran. Tetapi bagaimana pun kewajaran selalu merupakan kategori yang sukar dimengerti. Kafka berada dalam ketegori yang sukar dimengerti, sebab alih-alih menyusun peristiwa yang akan tampak wajar bagi pembaca karyanya, ia malah justeru, seperti disebut Camus “para tokohnyalah yang menganggap wajar peristiwa yang menimpanya.”

Tampak mengherankan bahwa di sini kita tak tertahankan untuk bertanya sebenarnya Kafka menulis untuk siapa? Untuk pembacanya, dirinya, atau untuk tokoh-tokoh dalam karyanya itu sendiri. Tampaknya bahwa jawaban yang paling tepat meski aneh, adalah yang terakhir. Dia memang tidak menulis—paling tidak bukan sepenuhnya—untuk pembaca atau dirinya, melainkan porsi yang ditujukan lebih besar untuk tokoh-tokoh yang direkanya sendiri. Jika tidak menulis untuk pembaca apakah dia Kafka memang tidak berniat menjadi novelis? Jadi seniman yang katakan berharap dengan kerja susah payahnya itu ingin dikenang karena karyanya memiliki pembaca sebagaimana diniatkannya?

Manuskrip Kafka dalam tulisan tangan dan sketsa miliknya yang disimpan di Jerusalem.

Itulah tampaknya, keanehan yang membuat Camus merujuk tokoh-tokoh, berikut pribadi Kafka sendiri, sebagai tautan dan rujukan yang akan memberikan analogi penguat bagi bangunan nalar absurdis yang dikembangkannya. Dunia seperti apa yang sebenarnya diciptakan Kafka dalam novel-novelnya?

Dengan strategi pembacaan karya seperti saya sebutkan di atas—yaitu masuk ke dalam dramanya melalui penampilan luarnya dan ke dalam romannya melalui bentuknya—kita akan mendapati bagaimana Kafka menciptakan dunia yang menyingkapkan bahaya yang ada pada hubungan psikologis dan sosial yang direduksikan menjadi sekadar sarana.

Sebuah Upaya Menulis Untuk Berkorban

Tetapi penting digaris bawahi bahwa dunia semacam itu diciptakan hanya sejauh menyarankan atau membangkitkannya, Kafka tidak berpretensi untuk menunjukkan, tidak pula mengungkapkan atau menguraikannya. Itulah khas dari karya-karya Kafka—sekedar saran tentang adanya pesan—hal yang ihwalnya lalu bisa dimengerti dengan penggunaan lambang-lambang dan strategi tek-teki yang dibuatnya: kaleidoskopis. Tulisan yang bergaya sugestif yang minimalis.

Halnya seperti kekuatan emosi yang besar dalam seorang menulis dalam buku hariannya sendiri. Sehingga ia berada dalam persimpangan antara kegiatan mengarang (untuk pembaca) dan kegiatan pribadi dalam suatu proses pengejewantahan diri. Atau memang Kafka menyadari keduanya.

Dengan emosi yang demikian kuat itu, seperti seorang yang meluapkan dalam buku harian—pertanyaanya adalah apakah itu suatu bentuk kebaktian dalam berkarya? Suatu elan vital dalam pengertian Henry Bergson? Kegelisahan pribadi Kafka sendiri tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan upaya seorang untuk membaktikan diri pada seni secara umum, seni menulis khususnya? Apa pertanyaan itu bisa dijawab sama dengan bagaimana “asa” seorang yang menekuni profesi dokter atau pengacara di abad ke 20 ini? Jawabannya memang pertama bergantung pada yang dirasakan penulis sendiri sebagai “panggilan” menulis. Jika si penulis cukup puas dengan konvensi-konvensi penulisan yang ada, jelas tidak ada masalah untuk direnungkan. Masa depan terbentang untuk memasuki pintu jurnalisme atau genre penulisan fiksi yang telap mapan lainnya katakana menulis novel detektif.

Kenyataan bahwa dari satu sudut sastra adalah suatu “kanonisasi” satu penulisan tunggal yang sejati. Bagi Kafka, ia mensyaratkan dan berusaha sepenuhnya guna mengejar dan meuntut dilakukannya penyucian pada pengalaman pribadinya. Maka tulisannya yang menjadi sastra ini memunculkan adanya suatu ketegangan. “Ini lantaran setelah sang penulis membuat lakonnya, membakar jembatannya, meletakkan kemeng-ada-annya dalam sasaran, dan membentuk medan tantangannya pada konvensi-konvensi mendasar seni pada masanya, bisa saja akhirnya ia tidak dikenal; mungkin ini tidak menghasilkan apa-apa. Kegagalan dan kekalahan sang penulis amat besar kemungkinannya sehingga dengan pertaruhan sebasar itu, godaan untuk melakukan komporomi menjadi sangat kuat.” (John Lechte, 1994)

Apa yang diandaikan Kafka adalah: penulis bukan hanya hidup “demi” karyanya tapi juga hidup “dalam” karyanya dan bahkan dalam pengertian fisik dibentuk olehnya. Ini adalah penulisan sebagai upaya menghabiskan energi tertentu tanpa ada yang bisa diperoleh.

Potret diri Franz Kafka–Karya an sosoknya telah menginspirasi dan beralih wahana dalam bentuk karya seni lain terutama lukisan dan tafsir atas Metamorfosis

Biografinya paling tidak cukup menggambarkan dan memberikan keyakinan akan pertaruhan sepenuh-penuhnya meski tanpa jaminan perolehan apa-apa. Paling tidak untuk satu kenyataan bahwa sebagai penulis, alih-alih menjadi seorang penulis profesional penuh yang menggantungkan hidupnya pada kegiatan menulis, Kafka justeru tetap mempertahankan pekerjaanya dalam lembaga asuransi pemerintah pada siang hari, dan hanya menulis pada sore atau malam harinya. Ia juga diketahui memberitahu Max Brod bahwa sepeninggalnya ia ingin semua tulisannya dibakar. Meski kemudian Max Brod tidak memenuhi wasiat itu sebab sepeninggal Kafka, ia justeru melihat pentingnya  karya Kafka dan berinisiatif menerbitkan lima volume karya lengkap Kafka. Dan karyanya—emosi yang tumpah penuh dalam buku harian—itu akhirnya memang menjadi karya sastra. Membuat nama Kafka menjadi terkenal dan terus dibicarakan hingga kini—lengkap dengan ketragisannya; bahwa ia sendiri tidak bisa menikmati semua itu semasa hidupnya.

Meski karya Kafka penuh teka-teki dan perlambangan, tinjauan singkat John Lechte menunjukkan pula bahwa bagaimana pun karya fiksi Kafka juga berisi unsur-unsur yang bisa cocok dengan wacana alegoris, yang berarti juga bisa dipakai untuk tujuan-tujuan politik. Tetapi tetap bahwa pengaruh-pengaruh politik yang bisa diberikan oleh karya-karya  Kafka bersifat tidak langsung, dalam artian hanya dicapai melalui upaya menonjolkan praktek menulis. Sebab ia tidak menghadirkan kebenaran ideal yang menjadi niscaya dalam suatu sikap politik sebagaimana terasa langsung persis pada apa yang dilakukan Sartre dengan karya tulisannya.

Bagi Kafka praktek menulis adalah menulis itu sendiri—meskipun di dunia berlangsung kepapaan dan ketidakpastian, meskipun tidak ada tatanan rasional yang bisa diikuti dengan cukup pasti. Dalam pengertian ini karya Kafka adalah sebuah upaya menulis untuk berkorban. Untuk suatu pengandaian bahwa dia ingin seluruh tulisannya dibakar sepeninggal dirinya—mengapakah untuk diketahui bahwa Kafka dalam sutau kesempatan untuk menyelesaikan karyanya berjudul “The Judgement” pada 22-23 Sepetember 1912, ia mengaku menulis sampai hampir tidak bisa menarik kakinya dari bawah meja karena duduk terlalu lama.

“Ketegangan dan kegembiraan yang menakutkan, bagaimana kisah ini berkembang, seolah saya maju dipermukaan air. Pada malam itu berapa kali saya menimpakan berat badan saya ke punggung saya… pada pukul dua dini hari, saya melihat jam untuk yang terakhir kalinya. Saat pembantu rumah tangga saya masuk ke dalam ruangan penghubung, saya tuliskan kalimat yang terakhir… Ada rasa sakit dalam hati saya. Kelelahan yang menghilang di tengah malam..” (The Diaries of Franz Kafka 1910-1923, ed. Max Brod: Penguin, 1964) 

Figur Absurdis

Bagi Albert Camus, lebih dari sekedar karya-karyanya, tokoh dan bentuk cerita yang dikerjakannya, Franz Kafka sendiri adalah tabiat ideal seorang absurdis yang dibayangkan Camus dalam semua upaya penalaranannya yang panjang tentang seorang absurd.

Kafka seorang yang total dalam mempertaruhkan kesia-siaan; tetapi juga menaruh sepenuh kekuatan emosinya sebagai bentuk kebernaian pada harapan persis di sebelah kesia-siaan. Ia membaktikan diri pada yang tanpa imbalan pun dan karenanya ia menggenggam kebebasannya dengan penuh—tetapi juga pelan-pelan dan lirih-lirih.

Sebab meski tampaknya absurdis seperti Kafka membebaskan diri dari ruang politis, tetapi hal lain akan menunjukkan bahwa relasi politiis absurdis justeru menjadi aktual dan faktual karena teka-teki dan tampak remehnya, juga perburuan masalah-masalahnya dan sekali lagi mewajarkan semuanya.

Hal dimaksud adalah bahwa Kafka seorang Yahudi-Ceko dan dengan itu ia adalah minoritas di Jerman. Ia mencari jalan dalam bahasa yang dominan dengan membentuk idiom minor di dalamnya; menolak metafora dan bermain-main dengan tonalitas bahasa Jerman, sebagai suatu strategi untuk mengeluarkan bahasa dari ikatan teritorial bahasa dominan dengan menolak hubungan-hubungan geneologisnya, mengalihkan pada hal-hal kecil di sekitar dan membanjirkan kata-kata tetapi bukan pandangan yang menyeluruh yang merupakan konstruksi bahkan bentuk hegemoni—di mana Kafka hanya “orang asing” dalam keseluruhan bahasa dan sosiologi politik Jerman—aksen dan juga pribadinya.

Kafka akhirnya menunjukkan bahwa dengan “teka-teki”, sikap absurd, perlambang-perlambang yang mendorong dan bukan mengungkapkan, dalam berkarya-sastranya, merupakan bagian dari cara yang bisa ia tempuh untuk terbebas dari determinisme sosiologis dan psikologis. Ia diam-diam bukannya menyerah sebagai minoritas, tetapi memberontak dan menggenggam tanggung jawab atas itu dengan pengorbanan yang dia lakukan melalui jalan menulis. Dengan kepeloran akan cara menulis yang terbebas dari determinisme sosiologis atau psikologis yang berusaha menjelaskan (membatas) penulisan dalam biografi mau pun kondisi material penulisnya—Kafka memperoleh kebebasan eksistensialnya.

Setalah Kafka, sastra, seni menulis—sebagai jalan hidup dan cara mengada dalam sejarah khususnya yang tampak tidak menguntungkan dan tidak bermakna bagi kondisi-kondisi psikologis mau pun sosioligis penulisnya, mengandaikan suatu totalitas, sebab sastra yang demikian tidak diandaikan sebagai semata-mata “hasil” dari kondisi-kondisi, melainkan juga “yang membentuk” kondisi-kondisi. (*)

*) Sabiq Carebesth, penulis lepas, editor Galeri Buku Jakarta.

Continue Reading

Tabloids

Pengarang Boleh Mati tapi Biarkan Rohnya Gentayangan

mm

Published

on

Pembaca harus memisahkan karya sastra dari penciptanya untuk membebaskan teks dari tirani interpretatif. Setiap bagian tulisan berisi banyak lapisan dan makna. Dalam sebuah kutipan yang terkenal, Barthes menggambar sebuah analogi antara teks dan tekstil, yang menyatakan bahwa “teks adalah sebuah jaringan (atau kain) dari kutipan”, diambil dari “pusat budaya yang tak terhitung banyaknya”, bukan dari satu pengalaman individu. Haruskah demikian? 

Oleh Hasan Aspahani | Penulis dan Penyair

“SAYA sudah menuliskan puisi saya. Silakan pembaca membacanya dan memaknainya. Buat apa saya harus membacakan dan menjelaskannya lagi?” Saya mendengar, kira-kira begitu, adalah penyair kita Sapardi Djoko Damono yang bicara seperti itu. Banyak yang mengait-ngaitkan kalimat itu dengan gagasan dan judul esai Rolland Barthes (1915-1980) yang terkenal itu “Kematian Sang Pengarang” (Bahasa Prancis: “La Mort de l’Auteur”).

Esai itu ditulis tahun 1967. Barthes dalam esainya tersebut menentang praktik kritik sastra tradisional yang memasukkan maksud dan konteks biografi seorang penulis dalam sebuah interpretasi teks, dan sebaliknya berpendapat bahwa menulis dan pencipta tidak terkait dalam pemaknaan karyanya. Barthes mencoba menawarkan cara lain, sembari menghantam tradisionalisme yang kala itu mungkin bersimaharahalela. Dari judul esai tersebut saja tampak kesebelan Barthes. Ia meminjam judul “Le Morte d’Arthur”, sebuah kompilasi cerita legenda Arthurian versi Abad ke-15 karya Sir Thomas Malory.

Esai Barthes dalam bahasa Inggris pertama kali muncul di Amerika dalam jurnal “Aspen”, No. 5-6 di tahun yang sama. Di Prancis sendiri esai tersebut muncul majalah “Manteia”, No. 5, tahun 1968. Esai tersebut menjadi bagian dari antologi esai Barthes, “Image-Music-Text” (1977).

Apa sebenarnya maksud dari gagasan Barthes? Bagaimana pengarang menyikapinya? Bagaimana pembaca memanfaatkannya?

Dalam esai tersebut, Barthes menentang metode membaca dan kritik yang bergantung pada aspek identitas pengarang – pandangan politik, konteks historis, agama, etnisitas, psikologi, atau atribut biografi atau pribadi – untuk menyuling makna dari karya penulis. Dalam jenis kritik ini, pengalaman dan bias penulis berfungsi sebagai “penjelasan” pasti teks tersebut. Bagi Barthes, metode pembacaan ini mungkin tampak beres dan nyaman namun sebenarnya ceroboh dan cacat: “Memberikan teks kembali kepada seorang penulis” dan memberikan sebuah interpretasi tunggal yang sesuai dengannya “adalah memaksakan batas pada teks itu”.

Pembaca harus memisahkan karya sastra dari penciptanya untuk membebaskan teks dari tirani interpretatif. Setiap bagian tulisan berisi banyak lapisan dan makna. Dalam sebuah kutipan yang terkenal, Barthes menggambar sebuah analogi antara teks dan tekstil, yang menyatakan bahwa “teks adalah sebuah jaringan (atau kain) dari kutipan”, diambil dari “pusat budaya yang tak terhitung banyaknya”, bukan dari satu pengalaman individu. Arti penting sebuah karya bergantung pada kesan pembaca, bukan “hasrat” atau “selera” penulis; “Persatuan teks tidak terletak pada asal-usulnya”, atau penciptanya, “tapi di tempat tujuannya”, atau para pembaca dan atau penontonnya.

Tidak lagi fokus pada pengaruh kreatif, penulis hanyalah seorang “skriptor” (sebuah kata yang digunakan Barthes secara tegas untuk mengganggu kesinambungan kekuasaan tradisional antara istilah “author” dan “authority”). Skriptor ada untuk menghasilkan tapi tidak menjelaskan pekerjaan dan “dilahirkan bersamaan dengan teks, sama sekali tidak dilengkapi dengan huruf sebelum atau melebihi penulisan, (dan) bukan subjek dengan buku sebagai predikat”. Setiap karya “selalu ditulis di sini dan sekarang”, dengan setiap pembacaan ulang, karena “asal mula” makna itu terletak secara eksklusif dalam “bahasa itu sendiri” dan kesannya terhadap pembaca.

Barthes mencatat bahwa pendekatan kritis tradisional terhadap literatur menimbulkan masalah yang berduri: bagaimana kita bisa mendeteksi dengan tepat apa yang penulis maksudkan? Jawabannya adalah kita tidak bisa.

Dia memperkenalkan gagasan ini di dalam epigraf di paragraf awal esainya yang diambil dari kisah Honoré de Balzac “Sarrasine” (1830) di mana seorang protagonis laki-laki menyalahkan seorang castrato (penyanyi opera laki-laki yang bersuara wanita) yang memerankan seorang wanita dan membuat si protagonis jatuh cinta padanya. Ketika, dalam bagian ini, karakter yang meniru kepribadian wanita mengungkapkan perasaannya, Barthes menantang pembacanya sendiri untuk menentukan siapa yang berbicara, dan tentang apa.

“Apakah Balzac penulisnya menganut ide ‘sastra’ tentang feminitas? Apakah ini kebijaksanaan universal? Psikologi romantis? … Kita tidak pernah tahu.” Menulis, “penghancuran semua suara,” menentang kepatuhan terhadap satu interpretasi atau perspektif.

Barthes mengakui bahwa gagasannya ini (atau variasi dari itu) dalam karya para penulis sebelumnya. Barthes mengutip dalam esainya penyair Stéphane Mallarmé, yang mengatakan bahwa “bahasa itulah yang berbicara”. Dia juga mengakui Marcel Proust sebagai “prihatin dengan tugas pengabaian yang tak terelakkan … hubungan antara penulis dan karakternya”; Gerakan Surealis untuk menggunakan praktik “penulisan otomatis” untuk mengungkapkan “apa yang kepalanya sendiri tidak sadar”; Dan bidang linguistik sebagai sebuah disiplin untuk “menunjukkan bahwa keseluruhan ucapan adalah sebuah proses yang kosong”.

Roland Barthes

Gagasan yang disajikan dalam “Kematian Sang Pengarang” diantisipasi sampai batas tertentu oleh New Criticism, sebuah aliran kritik sastra yang penting di Amerika Serikat dari tahun 1940-an sampai 1970-an. New Criticism berbeda dengan teori Barthes tentang pembacaan kritis karena mencoba untuk sampai pada interpretasi teks yang lebih otoritatif.

Meskipun demikian, ajaran  New Criticism yang penting dari “kekeliruan yang disengaja” menyatakan bahwa sebuah puisi bukan milik pengarangnya;  Sebaliknya, “ini terlepas dari penulis saat lahir dan membahas dunia di luar kemampuannya untuk berniat mengenainya atau mengendalikannya. Puisi itu milik publik.”

Barthes sendiri menyatakan bahwa perbedaan antara teorinya dan New Criticism hadir dalam praktik “keterasingan”.

Karya Barthes memiliki banyak kesamaan dengan gagasan “Aliran Yale”, kritik dekonstruksionis, beberapa di antara pendukungnya Paul de Man dan Barbara Johnson di tahun 1970-an, meskipun mereka tidak cenderung melihat makna sebagai produksi pembaca. Barthes, seperti para dekonstruksionis, menekankan sifat teks yang terputus-putus, celah makna dan ketidakcocokan, interupsi, dan jeda mereka.

Barthes menutup esainya dengan kalimat: Pembaca tidak pernah menjadi perhatian kritik klasik, karena itu, tidak ada orang lain dalam sastra tapi siapa yang menulis. Kita sekarang mulai menjadi duplikat antiphrase yang tidak lagi antiphrase, dimana masyarakat kita dengan bangga memperjuangkan dengan tepat apa yang ditolak, diabaikan, disalahkan atau dihancurkan; Kita tahu bahwa untuk mengembalikan penulisan ke masa depannya, kita harus membalikkan mitosnya: kelahiran pembaca harus ditebus oleh kematian sang pengarang.

Nah, yang dibela Barthes adalah soal penulisan, soal kemungkinan yang lebih sehatu untuk kehidupan sastra. Gagasannya ingin memperjuangkan apa yang ia sebut masa depan penulisan. Gagasan Barthes adalah soal membebaskan teks dari apapun yang membuat sebuah karya sastra menjadi terkurung, sempit, dan selesai dimaknai. Dulu, itu terjadi karena pembacaan sangat berpegang pada latar belakang bahkan otoritas pengarang, dan pembaca ikut saja dengan “kebenaran” tunggal itu.

Kini, jika ternyata menautkan latar belakang pengarang justru bisa memperkaya pemaknaan atas teks itu, setelah tentu saja pemaknaan itu terutama berangkat dari kekuatan teks tersebut, maka sebaiknya memang kita harus membiarkan pengarang terus hidup. Jika pun dia dianggap mati lebih dahulu, maka harus kita terima roh pengarang gentayangan membayang-bayangi pembaca, membantu si pembaca menikmati teks karyanya. (*)

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending