Connect with us

Art & Culture

Rekki Zakkia: Dalam Kehilangan dan Jalan Ketuhanan nun Indah

mm

Published

on

Saya memutuskan menapaki jalan sepiritual sambil berharap Tuhan masih memeberi kesempatan untuk saya dapat menulis keindahan-keindahanya.

Oleh : Doel Rohim *)

Malam itu, saya berkesempatan bertemu Rekki Zakkia. Generasi saat ini tentu bertanya siapa nama dan sosok itu? Tapi pada akhir 90an atau awal tahun 2000an dia adalah salah satu sastrawan yang namanya juga turut beredar mengisi ruang sastra generasi saat itu.

Dia eorang sastrawan yang hampir kehilangan imaji sastranya, bahkan semangat hidupnya setelah sekian lama memerangi penyakit Skizofrenia yang di deritanya. Baru-baru ini ia seperti menemukan gairah hidupnya kembali,  setelah mengeluarkan sebuah kumpulan sajaknya yang sudah lama hilang. Kumpulan puisi yang ia sebut sebagai anak ruhaninya ini baru saja ia temukan, yang ternyata disimpan oleh sahabatnya yang ia pikir sudah tidak bisa diselamatkan.

Beberapa kumpulan puisi ini, merupakan catatan dirinya dalam menghayati dinamika sosial politik, agama hingga identitas dirinya sebagai manusia dalam priode tahun 1998-2009.

Waktu yang cukup menguras energinya dalam menapaki pergulatan batin yang lebih sering terbentur hingga akhirnya ia tak lagi punya daya untuk sekedar menulis sajak, yang pernah menjadi jalan sunyi yang digelutinya.

Kali ini saya ingin mengajak Rekki untuk menyusuri ingatannya kembali terkait proses kepenulisan dan kesustraanya kembali. Di temani segelas kopi dan sebungkus rokok saya pelan-pelan masuk dengan beberapa pertanyaan. Ia bicara pelan, tapi sepenuhnya masih sastrawan.

Sejak kapan anda mulai menulis?

Saya menulis sejak SMP, orang tua saya seorang seniman juga, bisa dikatakan pendakwah, akses buku di rumah sudah lumayan banyak, dari sana saya suka menulis. Begitupun orang tua saya tidak pernah mendorong untuk menjadi penulis, tetapi dengan apa yang dikerjakan ayah saya dengan pergaulanya bersama para kiai dan seniman, itu mendorong saya. Gairah menulis saya mulai muncul.

Apakah anda punya pengalaman terkait kepenulisan

di masa awal anda menggeluti dunia tulis menulis?

Ada, saat itu ketika saya masih SMP ada mahasiswa KKN dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang datang ke rumah saya, ia seorang sastrawan dari Teater Eska, saya memberanikan untuk tanya menggenai puisi, dan jawabanya hanya “pertanyaanmu itu puisi”, jawaban itu seperti petir yang menyambar kepalaku, dari sanalah saya yakin menulis menjadi jalan hidupku. Dari situ juga mulai mendalami kepenulisan mulai dari, puisi, esai dan cerpen.

Bisa di ceritakan peran ayah anda dalam proses kepenulisan anda?

Bapak saya sangat berperan dalam proses kepenulisan saya, beliau memberi kebebasan pada anak-anaknya dan memberi akses yang luas terhadap ilmu pengetahuan, menyediakan banyak buku dan jaringan para sastrawan yang bisa saya kenal dari bapak saya. Selain itu bapak saya juga memberi tauladan dalam membicarakan gerakan sosial kepada masyarakat yang bagi saya luar biasa, ia selama hampir 30 tahun memasukan kultur santri yang sebelumnya sangat jauh dari masyarakat saya, hingga perubahanya bisa dirasakan sampai sekarang. Dari sanalah saya mulai tertarik dengan gerakan sosial sejak kecil, hingga waktu SMA saya menjadi aktifis Frond Perjuangan Pemuda Indonesia, basis pelajar di Yogyakarta.

Anda masuk sebuah basis gerakan sosial sejak SMA, apa yang anda fikirkan saat itu?

Saya tidak tahu itu mengalir saja, awalnya ketika saya memilih sekolah SMA 8 di Yogyakarta. Kondisi sosial politik di masa akhir orde baru saat itu sangat bergejolak termasuk di Yogya, hampir setiap hari ada demonstrasi, berbekal pengetahuan dari buku yang saya baca panggilan untuk terlibat dalam aksi-aksi itu tak bisa dihindarkan, dan akhirnya saya masuk ke forn pelajar Yogya bergabung dengan mahasiswa ikut aksi-aksi menggulingkan Soeharto.

Apakah kondisi seperti itu berpengaruh dalam beberapa puisi yang anda tulis?

Masa puncak priode kepenulisan saya terhitung sangat pendek, tahun 96 sampai 98. Saat itu tulisan saya banyak di muat media di Indonesia, bahkan esai saya pernah menjadi yang terbaik di majalah Horison. Jelas, dalam rentang waktu yang pendek dengan latar kondisi sosial politik yang panas seperti itu, saya juga meresponya dengan beberapa puisi. Namun saat puncak demonstrasi sekitar tahun 98, saya lebih sibuk ke gerakan hingga saya sudah jarang menulis kembali.

Saya membaca beberapa puisi dalam buku yang anda cetak,

bernuansa spiritual dan itu sekitar tahun 98, apakah ada hubungannya dengan situasi saat itu?

Secara langsung tidak, itu moment bulan puasa saja, dimana saat itu saya mengalami situasi batin yang teramat rumit, mempertanyakan identitas diri begitupan eksistensi Tuhan dan munculah beberapa puisi yang bisa anda baca tersebut.

Adakah pengalaman tragis yang bisa anda ceritakan terkait proses kepenulisan anda?

Ini yang saya katakan saya kehilangan anak ruhani saya. Saat itu saya sedang mencintai seorang wanita, cinta yang tidak hanya sekedar cinta monyet seperti anak SMA. Tapi lebih dalam dari pada itu, seperti getaran batin yang hanya ada untuknya, kalau anda pernah dengar kisah cinta penyair besar Umbu Landu Paranggi kira-kira seperti itulah gambaranya. Hingga akhirnya saya menuliskan beberapa surat puisi untuknya,  terhitung hampir ratusan yang saya berikan padanya. Dalam surat tersebut tidak hanya sekedar puisi cinta tapi termasuk catatan saya terkait sosial politik yang saya kemas melalui bait-bait sajak. Saat beberapa kali saya kasih tahu pada teman yang bergelut di dunia sastra terkait karya tersebut, ia merekomendasikan untuk menerbitkanya. Dan saya sendiri yakin itu master pice dari proses kepenulisan saya, saat itu juga saya sudah ingin menerbitkanya menjadi buku, bahkan sudah ada judulnya.

Namun naas, bebarengan perempuan yang saya cintai itu menikah, dan akhirnya karya itu juga tidak terselamatkan. Ketika saya tanyakan, ia tak pernah bisa menjawab, mungkin sudah di bakar. Mulai dari sana hancurlah sebagian dari hidup saya, seperti halnya kehilangan anak ruhani yang saya persiapkan kelahiranya, namun hal tersebut tak pernah terjadi. Semenjak itu saya tak sanggub menulis puisi lagi.

Saat menceritakan prihal di atas, anda begitu haru dan emosional,

apa pengaruhnya dalam hidup anda?

Setelah kejadian itu, saya tak punya daya lagi untuk sekedar menulis, aktifitas gerakan setelah jatuhnya rezim Soeharto pun berhenti, para aktivis tercerai berai. Di masa awal kejatuhan Soharto saya masih berusaha bangkit Bersama kawan-kawan saya menghidukan dan menjalani agenda gerakan social bersama FFPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia). Secara otomatis aktifitas menulis saya sudah tidak saya lakukan lagi. Tahun 2002 saya terkena sakit Skizofrenia, saat-saat seperti itu kegiatan intelektual saya berhenti karna takut mengganggu proses penyembuhan. Tahun  2009 saya berusaha bangkit dengan masuk kampus UNY jurusan sastra, baru dapat satu semester kondisi tidak setabil kembali.

Akhirnya saya memutuskan menapaki jalan sepiritual sambil berharap Tuhan masih memeberi kesempatan untuk saya dapat menulis keindahan-keindahanya. (*)

____

Pewawancara: Doel Rohem—penulis lepas, menempa proses kreatif dunia menulis di LPM ARENA Yogyakarta. | Editor: Sabiq Carebesth.

 

 

 

 

 

 

 

Continue Reading
Advertisement

Philoshopia

Sebuah Sejarah tentang Kesendirian

mm

Published

on

Kesendirian tidak sama dengan kesepian. Perbedaan terbesar dari semuanya, bagaimanapun, adalah bahwa kesendirian sudah jarang sekali membunuh, dimana kesepian dapat mendorongmu ke liang lahat. Sebagaimana coronavirus mengamuk, beberapa dari kita mungkin kini sedang menghadapi pilihan antara penularan fisik dan gangguan mental.

Oleh Teryy Eagleton | Penerjemah : Frea Petra M

Di masa-masa mengisolasi seperti ini, apakah Anda menikmati kesendirian, atau bahkan sangat berbeda, malah terlarut dalam kesepian?

Kesendirian tidak sama dengan kesepian. Orang-orang yang kesepian merasa memerlukan teman, sementara tipe penyendiri cenderung menghindarinya. Definisi paling murni dari kesepian, David Vincent menulisnya dalam penelitian hebatnya yang baru, yaitu “kesendirian yang gagal”. Perbedaan lain di antara kedua kelompok ini adalah para pertapa, pemancing, biksu Trappist dan penyair romantis memilih untuk sendirian, sementara tiada orang yang memilih untuk merasa ditelantarkan dan kehilangan. Menyebut diri sendiri “berpasangan dengan diri” berarti bahwa Anda duduk di dalam bioskop (haruskah mereka buka?) menggenggam tangan Anda sendiri, mungkin juga murni sebuah keinginan untuk menyendiri, atau sebuah cara merasionalisasi stigma dari pengasingan. Perbedaan terbesar dari semuanya, bagaimanapun, adalah bahwa kesendirian sudah jarang sekali membunuh, dimana kesepian dapat mendorongmu ke liang lahat. Sebagaimana coronavirus mengamuk, beberapa dari kita mungkin kini sedang menghadapi pilihan antara penularan fisik dan gangguan mental.

Dalam romansa Pencerahan abad ke-18, menjadi diri sendiri merupakan sebuah penyimpangan dari sifat sejati umat manusia, dimana bersosialisasi merupakan intinya. Diawali oleh kaum romantis hal ini mulai berubah. Isolasi merupakan apa yang kini sama-sama kita miliki. Monster Frankenstein adalah satu dari penyendiri pertama yang besar dari literatur Inggris, ditolak dan difitnah oleh manusia. Meski rasa kesepian merupakan sebuah gejala dari era modern, kesendirian dapat menjadi sebuah kritik terhadapnya. Itu merupakan satu dari sedikit cara dimana kita dapat bersentuhan dengan transedensi, maka membuka kekurangan pada masyarakat materialistis yang semakin marak. Saat Wordsworth menulis bahwa ia berkelana dengan sepi bagai awan, mungkin maksudnya sesederhana ia sedang sendirian, atau bahwa ia tidak ada orang lain yang menemani, atau bahwa menjadi sendirian memungkinkan dirinya memiliki ruang untuk mendapatkan pengetahuan tentang diri dan untuk meditasi spiritual.

Bahwa diri terungkap hanya dalam penurunan dari dunia adalah sebuah keyakinan yang kembali setidaknya pada kurun Kristen awal, namun buku ini menunjukkan bagaimana kebutuhan persekutuan diri meningkat seiring dengan masyarakat yang semakin padat. Penarikan diri seperti itu dapat merugikan: Virginia Woolf memaksakan kebutuhannya akan kamar tidur untuk dirinya sendiri, namun hanya kelas menengah ke atas yang dapat langsung membelinya. Pada abad ke-19, hanya 1% populasi warga Britania yang tinggal seorang diri; pada 2011 sebesar 31%, atau sekitar 18 juta orang. Sebagaimana urbanisasi dan keluarga besar menyatukan orang-orang, dunia tanpa nama dari kapitalisme industri juga memisahkan mereka. Kehidupan desa mungkin keras, tapi setidaknya Anda mengenali tetangga yang tinggal di sebelah rumah. Maka, jika sebuah kerinduan untuk sendirian menjadi semakin menjadi, begitu pula dengan perasaan ditinggalkan.

Baca juga:
6 Rahasia Kebahagiaan Hidup
Warisan Kesepian

A History of Solitude memanggil sebuah “sejarah yang diam tentang masyarakat Britania”, atau “sebuah sejarah tentang tidak melakukan apapun”. Ini merupakan penelitian yang luar biasa serbaguna, dari puisi John Clare hingga “kesendirian yang berjejaring” dari internet dan kultus mindfulness. Ada bagian yang menarik pada berjalan kaki dalam kesendirian, dimana kelas menengah abad 19 memanjakan diri pada rekreasi spiritual (Wordsworth dikenal telah berjalan sejauh 180.000 mil selama hidupnya), dan para kelas pekerja melakukannya demi menemukan pekerjaan. Kegiatan berjalan-jalan yang terus menerus dilakukan itulah yang menyatukan para petani dan ningrat.

Seseorang tentu dapat tetap menyendiri saat bersama dengan orang lain yang menemani. Faktanya, psikolog Donald Winnicott mengklaim bahwa seorang anak dapat belajar untuk menyendiri hanya dengan kehadiran orang dewasa yang dipercaya. Paruh kedua abad ke-19 telah menyaksikan sejumlah biara baru, dimana para wanita dapat sendirian bersama-sama, sementara bentuk kurungan isolasi disediakan oleh sistem penjara. (Pemain perahu balap Robin Knox-Johnson mengira bahwa tingkat kriminalitas akan menurun jika para kriminil dihukum dengan berlayar keliling dunia seorang diri dibandingkan dengan dijebloskan ke penjara.) Pemain latar dalam tayangan merokok menunjukkan bagaimana pada masa pascaperang, kebiasaan ini dilihat tidak lebih dari sekedar perjalanan menuju halaman gereja dibandingkan sebagai jalan menuju ketenangan batin, bahkan sebagai bentuk ragam doa.

Vincent memiliki keraguan mengenai yang digadang-gadang sebagai epidemi kesepian dalam kehidupan modern. Ia menekankan bahwa semakin banyak laki-laki dan wanita memutuskan untuk tinggal sendirian setelah Perang Dunia II karena saat itu memang bisa untuk dilakukan. Dalam berbagai kasus, kesepian yang merajalela bukanlah hal baru, dan beberapa sosiolog melihat sedikitnya bukti terhadap peningkatannya. Sebaliknya, tulisan Fay Bound Alberti berjudul “A Biography of Loneliness” membahas isu tersebut dengan urgensi yang lebih mendalam. Bila Vincent adalah seorang sejarawan sosial, salah satu yang emosional, meyakini bahwa perasaan manusia jauh dari abadi dan universal, dikondisikan secara historis sebagaimana pikiran dan tindakan, dan setiap bagiannya dapat dibisukan. Kasus ini dapat ditentang: cara kita mengekspresikan emosi tentu dibentuk oleh budaya kita, namun dukacita atas kehilangan orang terkasih, atau rasa panik saat didekati oleh beruang liar, tidak serta-merta bergantung pada asal muasal, dari Kansas maupun Kamboja. Hal itu sama meragukannya dengan bahwa seluruh kondisi emosi berbasis gender seperti yang buku ini jelaskan. Apakah semua wanita betul-betul bereaksi berbeda dibandingkan laki-laki Ketika jatuh dari gunung? “Seluruh emosi adalah politis,” tutur Alberti, namun pernyataan “segala hal adalah politis” berisiko menghampakan istilah “politis” dari berbagai makna berguna lainnya. Hal ini mewakili sebuah reaksi yang berlebihan kepada mereka yang berpikir bahwa jabatan tuan kanselir bukanlah politis, namun alamiah.

Meskipun begitu, ini merupakan riset yang penuh kasih dan luas, membuat klaim yang berani bahwa kesepian ditemukan sekitar tahun 1800. Hal ini dapat membantu menjelaskan mengapa Robinson Crusoe tidak sekalipun protes mengenai kurangnya teman. Ini juga berbunyi selaras dengan kasus Vincent: dalam pandangannya, “kesepian” menjadi emosi negatif hanya pada masa ini. Kini menjadi tidak lebih dari fakta (“sendirian”) daripada sebuah kondisi eksistensial sebagaimana pahlawan Byron yang suram. Kini, Alberti menentang, bahwa orang-orang yang kesepian cenderung meninggal 30% lebih cepat dibandingkan dengan orang-orang yang tidak kesepian, orang miskin lebih merasa kesepian dibandingkan dengan orang yang berada, dan para pemuda adalah orang-orang paling kesepian di antara yang lainnya. Menjadi kesepian berarti berhenti “berada penuh makna bersama dengan orang lain”.

Ada catatan yang mencekam mengenai duka patologis Ratu Victoria terhadap kematian Pangeran Albert, yang membandingkan kerajaan yang sedang terluka ini dengan karya surealis Dickens, tokoh Miss Havisham pada novel berjudul Great Expectation. Buku tersebut begitu seimbang: ia melihat bahwa kesepian dalam sisi “kesendirian” Vincent, dapat menjadi harga yang seseorang bayar demi kreativitas. Kesepian dapat memulihkan sebagaimana ia dapat menghancurkan, namun hanya ketika dilihat sebagai pilihan. Secara historis, kesepian lahir dari pemisahan antara diri dan masyarakat; namun ini jauh sebelum tahun 1800, sebagaimana Hamlet atau Othello bersaksi. Melihat fakta ini, buku tersebut mengidealkan abad ke-18 sebagai sebuah “dunia yang relatif kolektif”, yang mungkin akan muncul sebagai sesuatu yang mengejutkan bagi para gelandangan dan pengangguran yang berkelana di jalan raya.

Semuanya sama saja, benar bagi Alberti untuk mempolitisasi kesepian, tidak seperti para ilmuwan neurosains yang berlomba-lomba mengembangkan obat untuk menyembuhkannya. Seseorang tidak dapat memisahkan perasaan tidak berguna dan tidak terhubung dari sejarah individualisme posesif, meski jika sejarah tersebut menarik jauh ke belakang dibandingkan dengan yang dibayangkan oleh penulisnya. Bila sebagaimana yang ia tekankan, “sangat sedikit ruang fisik dimana orang-orang dapat bertemu di abad ke-21 tanpa membayar demi mendapatkan hak istimewa untuk berada di sana”, itu lebih kepada karena ajaran neoliberalisme tidak dapat melihat gunanya. Kemudian, ada seorang penjahat dalam buku ini, sebagaimana tidak adanya cerminan dari Vincent yang lebih berhati-hati. Namun ada banyak pula hal yang bagus: sebuah sejarah singkat tentang zaman dahulu, spekulasi terhadap ketunawismaan, pengungsian, para belahan jiwa, seniman yang kelaparan dan Fomo, hubungan antara kesepian dan obesitas, sebuah penyimpangan pada Wuthering Heights yang gagal untuk memulangkan Si Bajingan Heathcliff, dan jajaran topik lainnya.

Apa yang membedakan kedua penelitian ini adalah campuran riset empiris dan komentar umumnya. Keduanya menceritakan sebuah nasasi besar mengenai kesendirian atau kesepian, membentangkan masa dari abad ke abad, namun mereka juga melakukannya berdasarkan dokumentasi yang mendetil. Dengan kombinasi pengetahuan dan simpati, puisi dan psikologi klinis, mereka menarik bagi pembaca umum dan sama halnya bagi para ahli. Satu jawaban untuk kesepian adalah kesendirian. Menikmati kebersamaan dengan diri sendiri, atau setidaknya mampu menoleransinya, adalah bagian dari menjadi orang dewasa. Namun, Vincent dan Alberti sama-sama menekankan hak istimewa yang melibatkan–seberapa positif kesendirian memungkinkan bagi penyair kelas menengah, namun tidak untuk ibu rumah tangga melarat dengan anak-anak yang harus dirawat, paling tidak pada masyarakat yang telah meretas ketentuan sosial hingga ke tulang. (*)
__

Pembaca yang baik, Galeri Buku Jakarta selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu. Mengembangkan penalaran dan menghadirkan kedalaman dalam pengertiannya yang filosofis. Setiap minggu selama lebih dari 6 tahun, Kami telah mencurahkan waktu, pikiran, cinta, dan sumber daya yang luar biasa ke Galeri Buku Jakarta / galeribukujakarta.com, yang tetap bebas (dan bebas iklan) dan dimungkinkan oleh patronase. Kami membutuhkan ratusan jam sebulan untuk meneliti dan menulis, dan ratusan juta untuk bertahan. Jika Anda menemukan kegembiraan dan penghiburan dalam kerja cinta ini, silakan pertimbangkan untuk menjadi pendukung keberadaan laman ini dengan berkontribusi mengirim artikel / penerjemahan yang sesuai visi kami ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com cc sabiqcarebesth@gmail.com

Continue Reading

Philoshopia

Merajut Nalar Masyarakat melalui Filsafat Publik

mm

Published

on

Samuel Jonathan *)

Indonesia sedang darurat filsafat, katanya. Kemiskinan pemahaman dan radikalisme agama adalah kondisi yang menunjukkan bahwa negara ini darurat nalar. Filsafat, sebaliknya, mengajar untuk berpikir secara jernih dan menekankan dialog daripada koersi. Dengan demikian, kata Reza Watimena, filsafat adalah jalan keluar bagi semuanya itu.[1]

Tidak berlebihan apabila filsafat dianggap sebagai obat penawar bagi berbagai penyakit nalar: dogmatisme yang tidak berdasar, ikut arus pendapat mayoritas, atau takhayul – ringkasnya, dalam terminologi yang Tan Malaka gunakan, terkungkung dalam logika mistika.

Dogmatisme yang tidak berdasar menjadikan seseorang merasa paling benar, tanpa pernah memiliki niat untuk berefleksi akan kemungkinan bagi dirinya untuk pernah salah. Semata ikut arus mayoritas menjadikan seseorang serupa dengan hewan ternak yang hanya tahu soal makan dan tidur. Takhayul menjadikan seseorang pasrah akan keadaan yang ada tanpa berusaha mencari penjelasan bagaimana sesuatu bisa terjadi – untuk mencari kebenaran, memakai nalar, atau meneliti.[2]  

Filsafat membawa para pembelajarnya berbalik dari hal-hal tersebut. Mengutip Bertrand Russell di dalam The Problems of Philosophy bahwa filsafat,”… dipelajari bukan demi jawaban pasti … melainkan (ia dipelajari) demi pertanyaan itu sendiri; karena ia memperluas konsepsi kita akan yang mungkin, memperkaya imajinasi intelektual dan menyingkirkan kepastian dogmatis yang menutup pikiran dari spekulasi; namun, dari keseluruhannya … pikiran diubah dengan handal, dan menjadikannya satu dengan semesta.”[3] Belajar berfilsafat adalah belajar untuk bertanya dengan baik: itu kuncinya.

Permasalahannya adalah filsafat memiliki terminologi-terminologi teknis yang tidak mudah dipahami oleh kebanyakan orang awam yang tidak mempelajari ilmu filsafat secara formal – oleh publik. Terminologi-terminologi teknis yang ada di dalam ilmu filsafat acap kali membuat publik memiliki impresi pertama yang buruk. Kadang kelihatan terlalu besar, sehingga publik merasa kecil untuk berhadapan dengan filsafat; atau, terlalu rumit, sehingga publik khawatir tersesat di dalamnya.

Para ahli filsafat boleh ribut kalau Indonesia darurat filsafat, tetapi pertanyaannya adalah: apa yang sudah mereka kerjakan bagi publik? Apakah selama ini ada satu upaya untuk turun dari menara gading, dan bergaul bersama orang awam – mereka yang tidak belajar filsafat secara formal? Sejauh ini, rasa-rasanya, tidak banyak. Nampaknya, memang benar apa yang Marx sampaikan bahwa para filsuf terlalu sibuk untuk mendeskripsikan dunia, ketika seharusnya mereka mengubahnya.

Dibandingkan membawa publik ke dalam akademia filsafat, ada baiknya untuk mencoba mengerjakan yang sebaliknya, yaitu: membawa filsafat bagi publik.[4] Itulah yang disebut sebagai filsafat publik.

Perlu realistis bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mendalami filsafat secara formal, tetapi bukan berarti bahwa mereka tidak boleh mempelajari filsafat dengan cara mereka sendiri – sebuah pembelajaran filsafat yang ramah bagi publik.

Publik tidak lagi memerlukan dewa-dewi lainnya, ahli-ahli filsafat, yang berdiam di atas gunung Olimpus, di akademia, yang asyik dengan urusannya masing-masing. Publik memerlukan dewa Hermes yang tidak berdiam di Olimpus, melainkan pergi turun darinya untuk menyampaikan pesan dewa-dewi – yang tidak bisa secara langsung dimengerti manusia – dan menyampaikannya, dengan menerjemahkannya, bagi manusia.

Publik memerlukan orang-orang yang mampu memijakkan filsafat: seorang komunikator filsafat. Sains punya Richard Feynman, Neil deGrasse Tyson, Richard Dawkins, atau bahkan Ryu Hasan. Mereka menyederhanakan sains, tapi tidak membuat sains terlihat bodoh.

Sama seperti sains bagi publik, filsafat publik tentu bukan pengganti dari ilmu filsafat itu sendiri. Ilmu filsafat memiliki permasalahan, metodologi, pemecahan yang khas di dalam ilmunya, dengan terminologi yang eksklusif pula. Filsafat publik memiliki sifat yang lebih komplementer, atau bersifat pengantar bagi mereka yang bersedia, atau tertarik, untuk mencicip kedalaman dari ilmu filsafat. Ia bukan yang sesungguhnya, tetapi, mudah-mudahan, memimpin ke yang sesungguhnya.[5]

Apa yang bisa kita harapkan dari filsafat publik? Mengutip Warburton, filsafat memiliki kemampuan untuk mengubah kehidupan bagi mereka yang mempelajarinya[6] – pertama-tama secara intelek, kemudian afektual, terakhir laku hidup.

Setidak-tidaknya, ada tiga hal mendasar yang pertama mempengaruhi intelek dari publik, yaitu: kritisisme, perasaan kagum, dan keingin tahuan. Dalam pendidikan, ketiga hal tersebut adalah yang paling fundamental untuk memberikan alasan, makna, atau motivasi, bagi seseorang berkeinginan untuk belajar. Bayangkan apabila ketiga hal tersebut terbentuk fondasinya sedari masa remaja seseorang. Betapa transformasionalnya!

Meski begitu, filsafat yang ditawarkan bagi publik bukan bertujuan untuk menjadikan mereka intellectual snob. Filsafat memang soal diskursus, argumentasi, dan sebagainya, tetapi bukan semata yang itu-itu saja. Karena, dibandingkan bicara soal orang yang lain, filsafat, pertama-tama, adalah ajakan untuk menjadi reflektif terhadap diri sendiri, kehidupan yang tidak diuji (melalui refleksi) bukanlah kehidupan yang layak untuk dihidupi. Filsafat adalah sebuah usaha untuk mengenal diri sendiri, sesama, dan semesta.

Beruntung bahwa di masa pandemi ini, bermunculan komunitas-komunitas filsafat yang berbasis daring yang berusaha untuk menghadirkan filsafat bagi publik dengan cara yang khas masing-masingnya. Sebut saja @logos_id dan @schole_id di Twitter, atau @kelas.isolasi di Instagram, juga berbagai profil lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu per satu.

Bermunculannya komunitas-komunitas tersebut boleh jadi sebuah kabar baik bagi diskursus filsafat di Indonesia. Apabila dahulu orang-orang Yunani memiliki Agora atau Gimnasium untuk berdiskusi, berdebat, dan belajar, mudah-mudahan, di era ini kita bisa mengerjakan ketiganya di internet. Tantangannya adalah bagaimana filsafat boleh dihadirkan bagi publik tanpa ada distorsi makna, atau membuatnya terlalu dangkal; sekaligus menghindarkannya dari teminologi teknis yang menghalangi kebanyakan orang untuk mempelajari filsafat. Filsafat publik harus berjalan di garis tipis yang memisahkan antara yang pertama dan yang kedua, untuk selalu berjalan dengan seimbang.

*) Samuel Jonathan, S.Hum. seorang pendidik dan penggiat filsafat yang berusaha menyajikan filsafat yang lebih mudah diakses oleh publik. Menyelesaikan pendidikan sarjananya di departemen filsafat Universitas Indonesia. Selain sibuk untuk bekerja sebagai tutor sejarah dari perusahan rintisan Zenius Education, juga merupakan inisator dari komunitas filsafat berbasis daring Schole Indonesia.


[1] Reza Wattimena, Indonesia darurat Filsafat, 2018, diambil 16 Agustus 2020 dari https://rumahfilsafat.com/2018/08/27/indonesia-darurat-filsafat/

[2] Franz Magnis-Suseno, Dalam Bayang-bayang Lenin, PT Gramedia, Jakarta, 2016, hlm. 213.

[3] Bertrand Russell, The Problems of Philosophy, Oxford University Press, UK, 2001, Hlm. 93-94.

[4] Gary Gutting, What Philosophy Can Do, W. W Norton & Company, New York, 2015, hlm. xii.

[5] Julian Baggini, New British Philosophy: The Interviews, Taylor & Francis, UK, hlm. 280

[6] Ibid., hlm. 282

Continue Reading

Art & Culture

Soekanto SA: Mengarus di Sastra Anak (Indonesia)

mm

Published

on

Oleh Setyaningsih

“Cerita anak-anak lebih subtil dan esensial. Pantangan-pantangan dalam cerita anak-anak memaksa seorang pengarang untuk lebih kreatif. Hasil pencarian, eksplorasi hidup bisa disampaikan lebih tersaring. Di sinilah pesonanya!” inilah jawaban Soekanto SA ketika Agus Dermawan T. menyinggung pilihan berlabuh di dermaga cerita anak (Kompas, 16 Desember 1979). Berpindah dari Tegal ke Jakarta pada 1949, Pak Kanto kepincut sastra. Saat itu, ia mondok di rumah guru bahasa, Soeparto Dirdjowinoto, yang berlangganan majalah sastra Mimbar Indonesia. Di majalah ini, cerpen pertama dimuat. Pak Kanto mulai bergaul dengan para sastrawan-seniman, seperti Ajip Rodisi, Ramadhan KH, Trisnoyuwono. Pak Kanto juga menulis cerita untuk harian Pikiran Rakyat, majalah Kisah dan Siasat serta ngantor di Penerbit Indrapress dan Gaya Favorit.   

Soekanto SA

Usai 90 tahun nan panjang, Soekanto SA (18 Desember 1930-8 Juni 2020) berpulang. Pak Kanto memang lebih karib sebagai penulis cerita anak, pendongeng, pemikir kepustakaan anak-remaja. Terutama sejak 70-an, namanya tidak asing meriuhkan pertemuan mendongeng untuk anak-anak, kelas diskusi-penulisan cerita anak, seminar sastra anak, sampai forum perbukuan anak bersifat nasional dan internasional. Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (Pamusuk Eneste, ed., 1983) mencatat bahwa lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini pernah menjadi redaktur majalah Arus (1954) dan redaktur harian Jakarta Post (1995).

Disebutkan buku-buku garapan Pak Kanto, di antaranya Bulan Merah (1954-mengalami cetak ulang kedua pada 1964), Orang-orang Tercinta (1971), Sahabat dan Kembang (1971), Jayamada (1971, digarap bersama Toha Mochtar), Anak-anak Malam (1973). Tidak disinggung kontribusi di Femina (editor buku anak dan remaja penerbitan Femina Group), dan terkhusus majalah anak Si Kuncung (1956) didirikan Soedjati SA, sosok yang juga mengajurkan Pak Kanto bertungkus lumus di bacaan anak.    

Di tahun 70-an, menguat perbincangan identitas bacaan anak Indonesia bertaut dengan penulis cerita anak “dalam negeri”. Indonesia tidak saja mengalami masalah kemandirian dan politik impor pangan, tapi juga impor bacaan. Di majalah dua mingguan Mutiara, edisi 1-14 Juni 1988, pernah memuat liputan panjang tentang asupan bacaan bagi anak-anak Indonesia. Asupan rohani berwujud buku digelisahkan. Indonesia lebih didominasi bacaan impor (terjemahan). Anak-anak Indonesia masa itu lebih karib dengan serial Lima Sekawan, Tin Tin, Oshin, Asterix, Donald Bebek. Kepala Bidang Penerbitan Balai Pustaka saat itu, Sudibyo Z. Hadisutjipto, mengatakan masalahnya bukan krisis naskah masuk, tapi mutu cerita. Penulis seperti mengalami kegersangan ide karena cerita berkisar di kedurhakaan anak, gembala, atau dramatisasi kemiskinan.

Buku-buku garapan Pak Kanto, di antaranya Bulan Merah (1954-mengalami cetak ulang kedua pada 1964), Orang-orang Tercinta (1971), Sahabat dan Kembang (1971), Jayamada (1971, digarap bersama Toha Mochtar), Anak-anak Malam (1973). Tidak disinggung kontribusi di Femina (editor buku anak dan remaja penerbitan Femina Group)

Pak Kanto urun tulisan berjudul “Lintas Sejarah Bacaan Anak-anak”. Setiap tahun, lahir buku-buku dianggap sebagai “karya-karya asli”. Misal di akhir 40-an, makin bergaung nama Aman Dt. Majoindo pengarang cerita klasik Si Doel Anak Betawi. Ada juga Duapuluh Dongeng Anak-anak garapan Zuber Usman, atau Dari Anak untuk Anak garapan Ibu Munah. Selain berpredikat asli, cerita sanggup menggembirakan hati dan imajinasi anak-anak. Pak Kanto juga menandai upaya-upaya intelektual sekalipun birokratis untuk menyokong bacaan dan anak. Pada tahun 1973 di Bogor misalnya, diadakan “Makan Siang Bersama Presiden” sekaligus sebagai ajang menghimpun dana bagi Yayasan Buku Utama untuk menobatkan buku-buku fiksi dan nonfiksi terbaik. Buku-buku anak turut ditimbang sejak 1981.  

Pesta dan Gila Buku

Yang sangat seru sekalipun masih memusat di Jakarta, Indonesia pernah menghelat “Pesta Buku Anak-anak dan Remaja” I dan II (1984 dan 1985). Seperti dipercayai anak-anak bahwa buku itu membahagiakan, Pak Kanto mengatakan bahwa buku “memberikan kenikmatan kepada anak-anak dan bukan sebaliknya, membuat anak-anak lari darinya karena jemu.” Setidaknya pada 1993 dan 1994, anak-anak masih memiliki perayaan bacaan bernama “Pesta Buku Anak ’93” dan Pesta Buku Anak ‘94” yang melibatkan pelbagai penerbit; Gaya Favorit Press, Djambatan, Balai Pustaka, Indira, BPK Gunung Mulia, dan lainnya.

Kita bisa menyepakati jika laporan khusus bacaan anak di Prisma (Mursidi Musa, M. Ahmad Soemawisastra, dan Edward S. Simandjuntak, Mei 1987) menyebut anak-anak Indonesia mengalami “sakit gila baca”. Meski bukan indikator satu-satunya, kegilaan tampak dari serbuan anak sekolah dasar ke pameran buku yang dihelat Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Gunung Agung, toko buku berjaya di masa itu bahkan hampir mirip perpustakaan atau tempat penitipan anak saking lama dan sering pembaca belia singgah. Inilah peristiwa di masa-masa kejayaan asupan bacaan cetak sebelum globalisasi memasukkan televisi ke rumah ruang keluarga atau mukjizat internet lebih dikagumi daripada ilustrasi-ilustrasi apik sampul majalah Kawanku.

Namun, laporan khusus sekaligus membabarkan dampak aliran dana Inpres sejak 1973 yang membuat ribuan eksemplar buku dibeli dan disebar ke sekolah se-Indonesia. Penerbit yang awalnya emoh menerbitkan buku bacaan anak karena takut merugi, berbalik berburu naskah. Memang muncul penulis-penulis baru dengan jaminan finansial, tapi mutu terkadang tidak berbarengan dengan naskah-naskah yang digarap serba cepat dan banyak. Di luar sokongan pemerintah, penerbitan bacaan anak masih membawa beban sampingan sampai hari ini seperti pernah diungkap Pak Kanto; royalti, idealisme penulis dan penerbit, dan kualitas.

Kebijakan pemerintah dan politik perbukuan memang terlihat menonjol saat buku masuk masalah nasional. Perubahan kebijakan berdampak besar, tapi upaya-upaya “bawah” lebih menjanjikan dampak seismik. Inilah yang diingat dan dibagi Pak Kanto usai melakukan pelawatan ke Tokyo, Jepang, memenuhi undangan Asian Culture Centre for Unesco bersama Perhimpunan Penerbit Buku Jepang dalam acara “The Elevent Training Course/ Seminar on Book Production in Asia” pada 7 September-7 Oktober 1978 (Kompas, 27 November 1978). Asupan buku untuk anak di Jepang, salah satunya ditekuni oleh ibu-ibu yang merintis Katei Bunko atau rumah pustaka setingkat RT tanpa sponsor pemerintah. Katei Bunko tidak hanya menyediakan buku bacaan. Setiap bulan, diundang para ahli membuat pertimbangan dan saran tentang buku-buku. Hasilnya akan disebar lewat siaran pers. Katalog atau brosur buku anak juga diterbitkan untuk pegangan para ibu. Hal ini dilengkapi dengan tindakan 20 menit ibu dan anak membaca buku tanpa penjadwalan khusus. Serunya, ada majalah bulanan Japan Children Book Publishers yang mengabarkan buku-buku terbit bulan depan. Tentu ditegaskan Pak Kanto, Jepang adalah negeri yang bersemangat menerjemahkan dan menerbitkan buku.       

Jika ditimbang di Indonesia, potensi PKK bertahan sampai hari ini bisa saja menyejahterakan asupan buku anak. Tapi, sepuluh program pokok belum menyasar bacaan anak dan keluarga dengan tepat. Lalu, apa kabar “Gerakan 10 Menit Membacakan Cerita untuk Anak?” Gerakan tidak menimbulkan dampak seismik karena diserukan dari “atas” sebagai program. Kita justru lebih bersemangat menyaksikan gairah mengantarkan buku ke setiap pelosok Indonesia oleh ibu, bapak, mas, dan mbak dengan gerobak, bronjong, kuda, perahu, bahkan noken. Mengantarkan buku berarti mengantarkan harapan dan kegembiraan kepada anak-anak.

Penulis sekaligus pernah wartawan Kompas, Maria Hartiningsih, dalam pengantar penerbitan ulang kumpulan cerita anak Pak Kanto berjudul Orang-orang Tercinta (Kompas, 2006) mengatakan bahwa Pak Kanto “tinggal dalam kenangan banyak anak yang sekarang sudah menjadi orang tua.” Suatu hari di kantor Si Kuncung, kedatangan anak bernama Gustini. Ia bertemu Pak Kanto sekaligus menghibur diri karena ikan-ikan peliharaannya megap-megap karena akuarium kena tendangan bola adik. Kedatangan Gustini membuat Pak Kanto menulis serial Hari-hari Bersama Gustini. Pertemuan pembaca kecil dengan Pak Kanto ini pasti istimewa. Bukan dari hal-hal muluk atau menggurui, Pak Kanto mencipta cerita-cerita hangat bagi jiwa anak-anak.

Saya membayangkan salah satu peristiwa di Lantai III Aldiron Plaza Blok M pada Sabtu sore, 20 Mei 1980 (Kompas, 20 Mei 1980). Para bocah berebut duduk paling depan menantikan Pak Kanto mendongeng dalam rangkaian acara pameran buku. Suara dan cerita itulah semesta yang dipanggil setiap anak di dalam kepala dan pendar matanya. Tidak boleh ada satu kata pun berkelit. Tiga tahun kemudian, bukan dari representasi pahlawan super, selebritas, tokoh militer, atau penguasaha sukses anak-anak memilih sosok lekat di tepian biografinya. Mereka menahbiskan Pak Kanto sebagai sang “Tokoh Favorit di Mata Anak-anak.”

Selamat jalan, Pak Kanto! Terima kasih untuk cerita-cerita bersahaja nan lembut..     

*) Esais dan penulis Kitab Cerita (2019)

Continue Reading

Trending