Connect with us

COFFEESOPHIA

Reforma Agraria Beberapa Negara: Merefleksikan Basis Bagi Revitalisasi Pertanian dan Pembangunan Pedesaan

mm

Published

on

By Gunawan Wiradi / (penyunting) Sabiq Carebesth *)

Pada umumnya memang dipercayai bahwa negara yang ”maju” adalah negara industri, dan karenanya secara konvensional lalu didalilkan bahwa masyarakat ’agraris’ harus diubah menjadi masyarakat industri. Namun kenyataannya, masyarakat yang begitu ”maju” seperti Amerika Serikat pun disitu masih banyak petani kecil dan penyakap, walaupun ciri hubungan produksinya tidak lagi bercorak ”agraris” klasik. Artinya, mengubah masyarakat agraris tidak harus berarti memarginalkan pertanian. Sebab, secara awam, bodoh-bodohan saja, seandainya tidak ada lagi kegiatan pertanian pangan, dan semua negara di dunia menjadi negara industri, manusia mau makan apa ? Kecuali, barangkali 500 tahun lagi semua menjadi austronout, hidup melayang diangkasa dengan makanan odol, entah dibuat dari apa. Tidak perlu rumah, dan tak memerlukan tanah.


Buku “Transformasi Agraria dan Transisi Agraris” ini meski diandaikan dalam tajuk “untuk pemula” namun dalam perjalanan teksnya yang berkisar dari: “Apa itu Reforma Agraria” hingga pada pemahaman konsepsi “Transformasi dan Transisi Agraris”—rupanya telah memancing perhatian luas di lingkungan akademisi, politisi, pengusaha, mau pun rezim penguasa, tak terkecuali juga para pemikir dan pemerhati mau pun penggerak reforma agrarian itu sendiri.

Daya pikatnya terutama bukan pada analisis akademisnya semata, tapi pada aura politis yang ditimbulkan, karena pandangan dan pemikiran politik agraria Gunawan Wiradi berhasil menunjukan dengan lebih terang adanya ketidakadilan agraria, kesalah-pemahaman dan bahkan terkadang malah salah tafsir mengenai apa dan siapa agraria dan politik agraria di Indonesia itu sendiri.
 
Buku ini diharapkan bukan hanya untuk menjadi fundamental pemikiran politik agraria bagi pemula, tapi juga untuk memulai kembali gerak dan daya dongkrak upaya reforma agraria di indonesia.
 
-Sabiq Carebesth, Penyunting.

Kegiatan manusia penyedia pangan adalah di pedesaan tempat pangan dihasilkan. Namun bencana kurang pangan biasanya terjadi di pedesaan, dan bukan di kota-kota. Karena itu, pertanyaannya ”…mengapa masih saja ada ratusan ribu orang laki-laki dan wanita yang menggarap tanah di Asia, Afrika, Amerika latin, yang telah menabur benih, memanen hasil, menggembala ternak.. mati kelaparan karena kurang pangan ? Mengapa, sementara mereka mati kelaparan orang-orang (di kota) yang tidak menghasilkan pangan tetap hidup?” (Piere Spitz, 1979). Menurut Spitz bencana kurang pangan, apapun sebabnya, mencerminkan bekerjanya sistem sosial ekonomi yang salah, yang kurang menguntungkan bagi anggota miskin masyarakat. Ini harus dirubah ! Dan dalam masyarakat agraris landasan dasar bagi struktur sosial ekonomi yang harus diubah adalah struktur distribusi pemilikan, penguasaan dan penggunaan  tanah, melalui Reforma Agraria.

Seorang pejabat tinggi di Indonesia pernah mengatakan bahwa ”Indonesia sudah 50 tahun merdeka, namun mengapa suasana kehidupan masyarakat pedesaan kita rasanya kok sama saja?” Pernyataan ini benar adanya. Pelaksanaan ”pembangunan” selama Orde Baru rasanya seperti mubajir. Struktur sosial ekonomi pedesaan masih kurang lebih sama. Transisi agraris belum terjadi, karena Orde Baru tidak meletakkan Reforma Agraria sebagai basis pembangunan. Bahkan hasil-hasil ”land reform” yang pernah dicapai dalam masa sebelumnya (bagaimanapun kecil hasil itu), justru dijungkirbalikkan, dan isyu ”land reform” ditabukan. Itulah sebabnya sekalipun kita pernah melancarkan ”lndreform”, dalam tabel terlampir Indonesia termasuk ke dalam kelompok negara-negara dengan kategori ”land reform without social transition” (Rehman Sobhan, 1994).

Karena itu maka revitalisasi pertanian, menurut pendapat saya harus dimulai dengan mengagendakan Reforma Agraria. Perbandingan antar negara melakukan kebijakan reforma agraria berikut ini bisa menjadi bahan refleksi:

Reforma Agraria (Ra) : Perbandingan Antar  Negara

Membuat telaah komparatif RA antar negara itu bukan hal yang mudah. Bukan saja diperlukan penguasaan literatur yang luas, tapi juga idealnya, orang perlu melihat lapangan disejumlah negara. Penglihatan sekilas saja ini mungkin untuk dapat menakar kriteria dalam pelaksanaanya. Kriteria yang penulis maksudkan dalam bentuknya:  Landasan normatif (atau ideologi/filosofi); model RA yang dilaksanakan; sifat operasinya (radikal, moderat, atau lunak bertahap); tujuannya; hasilnya (diukur dari tujuan itu).

Pada umumnya, tujuan mendasar dari RA adalah menuju transformasi masyarakat. Ke arah mana tranformasi ditujukan tergantung dari landasan ideologi (filosofinya). Kita tahu bahwa transformasi masyarakat itu adalah suatu proses perubahan yang selalu melalui proses peralihan (inilah yang dimaksud dengan (”agrarian transition”), sebelum masyarakat itu berubah strukturnya secara final. Dalam sejarah dapat dicatat bahwa dibeberapa negara, hasil transformasi itu tidak konsisten dengan landasan normatifnya, karena dalam masa transisi, prosesnya menjadi menyimpang. Dalam hubungan ini, ada beberapa negara yang ada baiknya kita ulas sepintas saja secara khusus karena merupakan kasus-kasus yang menarik:

Uni Soviet

Rusia, sejak sebelum menjadi negara komunis, merupakan salah satu diantara sedikit negara yang telah memiliki data keagrariaan yang lengkap dan rinci. Namun di luar anggapan orang awam ternyata begitu selesai revolusi 1917, Rusia yang menjadi negara Uni-Soviet, tidak melakukan land reform gaya sosialis, melainkan justru melakukan ”reform” yang memberi ciri jalan kapitalisme (dikenal sebagai NEP-New Economic Policy). Barulah dua belas tahun kemudian yaitu pada tahun 1929, dilancarkan reform agraria model kolektivisasi besar-besaran. Sebelum revolusi memang sudah pernah ada reform, yang dikenal sesuai dengan nama pencetusnya yaitu Stolypin Reform. Substansi NEP adalah menjungkirbalikkan substansi Stolypin Reform (Untuk uraian yang lebih rinci, lihat, G. Wiradi, 2000: 45-48).

Yugoslavia

Begitu selesai perang dunia kedua, maka sejak awal 1950-an kedua negara itu melakukan: ”land reform”. Bedanya, Italia melakukan itu untuk melawan komunisme, karena itu model ”reform” nya adalah ingin menciptakan satuan-satuan usahatani keluarga, model ”family farm” di Amerika. Tapi untuk itu, pemerintah memberikan fasilitas penuh mengenai apa saja. Apa yang terjadi?. Karena fasilitas penuh itulah maka hasilnya, justru merupakan satuan usahatani luas, mirip ”usahatani negara” (State Farm). Tujuannya mengubah ”buruh tani” menjadi ”petani mandiri” walaupun satuannya kecil-kecil. Tapi yang terjadi sebaliknya. Mereka seolah-olah lalu menjadi ”buruh tani” negara. Di Yugoslavia terjadi yang sebaliknya. Negara ini dikenal sebagai negara komunis yang ”nakal”, artinya, membebaskan diri dari kendali induk komunis Soviet-Rusia. Yugo ingin menunjukkan kepada dunia Barat bahwa melalui kolektivisasi pertanian Yugo akan mampu meningkatkan kehidupan masyarakat tani. Petani-petani kecil diubah menjadi ”buruh tani”, dari satuan usahatani negara. Namun karena kolektivisasi dilakukan dengan ”evolusioner”, maka yang terjadi kemudian adalah, sebaliknya, yaitu justru tercipta, masyarakat tani seperti yang dicita-citakan oleh Italia (Russell King, 1977).

Iran

Iran melakukan ”landreform” secara bertahap. Dimulai tahun 1962. Sasarannya bukan tunakisma, tapi penggarap, penyewa dan penyakap. Batas luas maksimum adalah satu desa (bisa ratusan hektar). Dalam tahap kedua, batas itu diturunkan menjadi 20-100 ha (tergantung kondisi tanahnya). Jika pada tahap pertama para tuan tanah yang dipangkas tanah kelebihannya diberi kompensasi dengan uang cash sebesar 10-20%, dari nilainya dan sisanya dicicil setiap tahun, maka pada tahap kedua kompensasi itu berupa lima opsi (pilihan) : (1) Tanah kelebihan dari batas maksimum itu harus dijual kepada penyewa/ penyakapnya atau; (2) Tanah tersebut disewakan kepada penyewanya selama 30 tahun atau; (3) Membeli ”hak sewa” kepada penyewanya atau; (4) Membagi tanah kelebihan itu dengan para penyewa/penyakapnya berdasarkan rasio pembagian seperti yang lazim dalam ”bagi/hasil”, atau; (5) Menjadikan tanah tersebut satuan usaha kerjasama dengan bekas penyewa/penyakapnya.

Terus terang, karena berbagai keterbatasan, uraian tersebut diatas jelas tidak lengkap, dan mungkin terkesan bahwa susunannya tidak sistematis. Walaupun demikian, mudah-mudahan pokok substansinya dapat berguna menambah wawasan. Dari peristiwa di beberapa negara tersebut, hal bisa digaris bawahi terutama landasan filosofi/normatif itu akan menentukan corak model RA yang direncanakan, tujuannya, serta sifat operasinya.

Kembali ke awalnya yang pokok, jika kita tidak ingin bahwa masalah agraria akan tetap tinggal sebagai wacana, dan harus segera di agendakan, dari mana kita mulai?. Ada dua hal yang ingin dikemukakan di sini, untuk menjawab pertanyaan itu.

Pertama, bagaimana pun juga kita harus mulai dari sikap, pandangan, komitmen politik, dan kesiapan pimpinan nasional (siapapun dia). Pimpinan nasional perlu memahami berbagai ”peta” (peta sosial, peta politik domestik maupun internasional, peta ekonomi, peta keagrariaan, dll.). Melalui berbagai ”peta” itulah, pimpinan nasional diharapkan mampu mengidentifikasi berbagai alternatif, ke arah mana bangsa dan negara kita ini hendak dibawa. Untuk itu, pimpinan perlu menguasai substansi masing-masing alternatif itu, agar mampu mengambil pilihan. Pada gilirannya, dengan penguasaan itu, dia akan mampu menjelaskan kepada rakyat mengapa pilihan pada alternatif tertentu itu diambil. Sebab setiap pilihan selalu mengandung resiko, dan menuntut pengorbanan. Jika ada kesanggupan dan kemampuan mengenai semua itu, dan menjelaskan kepada rakyat secara masuk akal, maka, semoga, rakyat dan kita semua bersedia memberikan pengorbanan. Pilihan-pilihan itu antara lain mengenai pandangan: RA yang a’priori pro pasar, ataukah a’priori anti pasar; ataukah pro rakyat tapi tidak a’priori anti pasar ?; tanah dianggap sebagai komoditi komersial atau dianggap sebagai basis kesejahteraan rakyat banyak ?; Kita ingin meningkatkan ”pertumbuhan dengan pemerataan”, ataukah ”pertumbuhan melalui pemerataan” ? Dalil ”tetesan kebawah”, ataukah dalil ”kedaulatan pangan” ? ; Mengandalkan tanaman ekspor dan perkebunan besar, ataukah mengandalkan ketahanan dan keberlanjutan swasembada pangan yang atas dasar ini akan tercipta daya beli domestik yang meningkat dan merata ? Atau dalam kriteria ideologi klasik, ingin melalui jalur transisi agraria yang berciri kapitalistik, atau yang sosialistik, atau yang neo-populisitik ? Ataukah yang bagaimana ?

Dalam kondisi krisis multi dimensi ini, secara sosial-psikologis, rakyat selalu akan mengharapkan dan membutuhkan pimpinan nasional berciri tiga T, yaitu Tegas sikapnya, Teguh pandangannya, dan Tangkas tindaknya.

Kedua, menyangkut langkah konkrit agar masalah Reforma Agraria tak hanya tinggal sebagai wacana, hal ini harus dipertimbangkan, Pertama: bahwa sekalipun berbagai pra-syarat RA mungkin belum tersedia, namun sikap terhadap pilihan alternatif harus segera dilakukan. Kedua: Segera setelah pilihan diambil, maka semua perundangan (peraturan yang selama ini simpang-siur perlu ”moratorium”, dan dirumuskan aturan peralihan yang sesuai dengan pilihan itu, apapun pilihannya Aturan Peralihan harus sederhana tapi jelas arahnya. Ketiga: RA harus segera diagendakan. Artinya, harus dibuat ”Grand Design” mengenai jangka waktunya, macam langkahnya, tahapannya, kelembagaannya, dll. Dan Keeampat: begitu selesai ”Grand Design” itu, maka segera di ”enforce”, laksanakan !

Demikianlah RA yang bersifat ”fairly drastic” dan ”fixed in time”, yang bertujuan agar struktur akses rakyat terhadap sumber-sumber agraria menjadi serasi, itulah yang oleh Christodoulou dianggap RA yang ”genuine”. (*)

*) Artikel akan terbit dalam Buku ”Transformasi Agraria dan Transisi Agraria” Karya Pemikir Politik Agraria Dr. HC. Gunawan Wiradi  (Galeri Buku Jakarta: Maret, 2021)

Continue Reading
Advertisement

COFFEESOPHIA

Virginia Woolf: Madame De Sévigné

mm

Published

on

By Virginia Woolf | Penerjemah: Lika Fuaddah

Penulis surat ini merupakan wanita yang hebat, kuat dan produktif. Jika dia hidup sezaman dengan kita mungkin akan menjadi salah satu novelis hebat. Sosoknya akan mengambil ruang dalam kesadaran pembaca yang masih hidup sebagai seorang tokoh. Tapi lebih sulit menentukan posisi tokoh tersebut dalam di suatu era daripada meringkas banyak posisi orang sezamannya. 

Hal itu terjadi sebagian karena dia menciptakan keberadaannya, bukan dalam drama atau puisi, tetapi dalam huruf – sentuhan demi sentuhan, dengan pengulangan, mengumpulkan detail-detail keseharian yang sepele, menuliskan apa yang kepalanya bicarakan.

Jadi, empat belas jilid surat-suratnya melingkupi ruang terbuka yang luas. Salah satunya seperti

hutan besar; wahana saling silang dengan bayangan cabang yang rumit, sosok berkeliaran di lembah, berpindah dari matahari ke bayangan, hilang dari pandangan, muncul kembali, tetapi tidak pernah duduk diam untuk membentuk kelompok.

Jadi kita hidup dalam kehadirannya seolah-olah dia benar-benar masih hidup. Dia terus berbicara, kita setengah mendengarkan. Lalu sesuatu yang dia katakan membangunkan kita. Seiring waktu sesuai persepsi indera, kita juga mulai membangun karakternya, sehingga

karakter itu tumbuh dan berubah tak ada habisnya, layaknya manusia hidup sejati.

Tentu saja ini salah satu kualitas yang dimiliki semua penulis surat, termasuk Madame de Sévigné yang diberkati bakat alami. Keistimewaannya itu menjadikannya lebih bertalenta daripada Walpole si brilian atau Gray si pendiam dan pemalu. Mungkin dalam jangka waktu yang lebih lama, kita akan mengenalnya lebih mendalam lagi dari yang sudah pernah kita kenal sebelumnya. Kita akan tenggelam jauh ke dalam dirinya, naluri menang atas akal dan membimbing kita untuk merasakan apa yang dia rasakan. Itu akan membuatnya senang, lalu dia terjun  bebas ke dalam kesedihan. 

Madame de Sévigné memiliki jangkauan yang luas dipenuhi banyak ruang lingkup serta keragaman lainnya. Semua tampak menghasilkan kesenangan, kenikmatan, dan mengenyangkan renungannya. Dia memiliki hasrat yang kuat sehingga tidak ada yang mengejutkannya. Dia menyerap segala ilmu dari apa pun yang ada di hadapannya. 

Dia seorang intelektual yang cepat mengikuti kecerdasan La Rochefoucauld, untuk menikmati diskriminasi tajam dari Madame de La Fayette. Dia punya tempat tersendiri dalam buku, sehingga Josephus atau Pascal atau romansa panjang yang absurd pada saat itu tidak dibaca olehnya sebanyak yang ada di pikirannya. Ayat-ayat mereka, cerita mereka keluar dari bibirnya seiring dengan yang ada di pikirannya sendiri. Tapi ada kepekaan dalam dirinya yang meningkatkan hasrat yang teramat kuat untuk banyak hal. Tentu saja ditampilkan pada yang paling ekstrim, yang paling tidak rasional, dalam cinta untuk putrinya. Dia mencintainya laiknya pria tua mencintai nyonya muda. Itu adalah gairah yang melenceng dan tidak wajar. Akibatnya, dia menuai banyak penghinaan yang kadang membuatnya malu pada diri sendiri.

Karena, dari sudut pandang putrinya, perlakuan itu sungguh melelahkan, memalukan menjadi objek dari emosi yang begitu kuat; dan dia tidak selalu bisa menanggapinya. Dia takut ibunya membuat citranya konyol di mata teman-temannya. Putrinya juga merasa bahwa dia tidak seperti yang dibayangkan ibunya. Dia berbeda; lebih dingin, lebih teliti, dan bukan sosok yang begitu kuat. Sang ibu menutup mata pada fakta nyata tentang putrinya dan mabuk pemujaan kepada seorang anak yang tidak pernah ada.

Adeline Virginia Stephen atau lebih dikenal dengan Virginia Woolf lahir pada 25 Januari 1882. Virginia adalah putri dari Sir Leslie Stephen, seorang penulis esai, editor, dan intelektual publik, dan Julia Prinsep Duckworth Stephen. Julia, menurut Panthea Reid penulis biografi Woolf, “dipuja karena kecantikan dan kecerdasannya, pengorbanan dirinya dalam merawat orang sakit, dan keberaniannya ketika harus menjadi janda muda. Virginia Woolf adalah seorang novelis Inggris yang dianggap salah satu tokoh terbesar sastra modernis dari abad 20. Walaupun ia seringkali disebut sebagai seorang feminis, ia menyangkal julukan tersebut karena ia merasa itu menunjukkan suatu obsesi. Lebih dari sekadar penulis perempuan, Woolf—dia adalah seorang kritikus yang ganas.

Dia dipaksa untuk menegaskan identitasnya sendiri. Dulu tak terelakkan bahwa Madame de Sévigné, dengan kepekaannya yang semakin memburuk, harus merasa sakit hati.  

Oleh karena itu, kadang-kadang Madame de Sévigné menangis. Putrinya tidak mencintainya. Itu adalah pikiran yang begitu pahit, dan ketakutan yang begitu abadi serta mendalam, bahwa hidup telah kehilangan nikmatnya; dia meminta bantuan kepada orang bijak, kepada penyair untuk menghiburnya; dan merefleksikan kesedihan atas kesia-siaan hidup; serta bagaimana kematian akan datang.

Kemudian, dia juga gelisah tak masuk akal dibayangi pikiran bahwa suratnya belum sampai ke putrinya. Lalu dia menyadari dirinya begitu menggelikan dan membuat teman-temannya bosan dengan obsesi ini. Yang lebih buruk, dia telah membuat putrinya bosan. Dan kemudian saat

tetesan pahit telah jatuh, gelembung ledakan vitalitas yang kuat naik membumbung tak tertahankan. Dari kenikmatan cepat yang tak tertahankan itu muncul kesenangan alami untuk hidup, seolah-olah secara naluriah dia memperbaiki kegagalannya dengan mengibaskan semua bulunya; dan membuat semua sisi gemerlapan.

Dia merontokkan kesuraman dirinya; mengolok-olok “les D’Hacquevilles “; mengumpulkan gosip-gosip; berita terbaru dari Raja dan Madame de Maintenon; bagaimana Charles jatuh cinta; bagaimana Mademoiselle de Plessis yang konyol menjadi bodoh lagi; dia telah menghibur dirinya sendiri bersama gadis sederhana yang menakjubkan yang tinggal di ujung taman – la petite personne – dengan cerita tentang raja dan negara, dari semua dunia agung yang pernah dia tinggali dan dikenalinya dengan baik. 

Akhirnya, Madame de Sévigné untuk sesaat terhibur dan meyakini cinta putrinya. Dia membiarkan dirinya rileks; dan membuang semua yang tersembunyi dengan memberi tahu putrinya betapa tidak ada apa-apa di dunia ini yang dapat membuatnya bahagia layaknya kesendirian. Dia merasa paling bahagia jika berada sendirian di negara ini. Dia suka mengembara sendirian ke hutan, pergi sendirian di malam hari, dan bersembunyi dari penggoda-penggoda jalanan. Dia suka berjalan di antara pepohonan sambil merenung. Dia menikmati bercakap-cakap dengan tukang kebun sekaligus hobi menanam. Dia mengagumi tarian gadis gipsy, seperti tarian putrinya sendiri, tapi tentu saja tidak seindah itu.

Melalui kata-kata tertulis, Madame de Sévigné hidup. Tapi sekarang dan nanti dengan

gema suaranya di telinga kita dan naik turun ritmenya dalam diri kita, kita menjadi sadar akan kemunculan beberapa kalimat yang tiba-tiba menyeruak. Mendadak membicarakan musim semi, atau tentang tetangga desa, sesuatu muncul dalam sekejap. Hal ini menyadarkan kita, bahwa kita sedang disapa oleh salah satu nyonya besar seni pidato.

Kemudian kita mendengarkan sebentar, secara sadar dan bertanya-tanya: apakah dia berusaha membuat kita mengikuti setiap kata dari cerita si juru masak yang bunuh diri karena hidangan ikan tak datang tepat waktu saat pesta makan malam kerajaan; atau adegan pembuatan jerami; atau anekdot dari pelayan yang dipecatnya secara mendadak dan penuh amarah; bagaimana dia mencapai ketertiban ini, kesempurnaan komposisi ini? Apakah dia mempraktikkan seninya? Kelihatannya tidak. Apakah dia menyunting dan merobek teks-teks yang dirasa salah? Tidak ada buktinya. Dia mengatakan berulang kali bahwa dia menulis suratnya sembari berbicara. Dia memulai yang satu saat dia mengirimkan yang lain; ada halaman kertas di meja dan dia mengisinya di sela-sela waktu dengan kegemarannya yang lain. Orang-orang menyela; pelayan datang untuk pesanan. Dia menghibur dan terkendali bersama teman-temannya. 

Tampaknya dia dijiwai dengan akal sehat, pada zaman dia hidup, oleh perusahaan tempat dia bekerja – kebijaksanaan La Rochefoucauld,  percakapan Madame de La Fayette, dengan mendengarkan drama Racine, membaca Montaigne, Rabelais, atau Pascal; mungkin dengan khotbah, mungkin juga dengan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Coulanges. Dia pasti menyerap begitu banyak hal tanpa disadarinya, seketika saat dia mengambil pena, semua mengalir begitu saja seiring hukum yang telah dipelajarinya dengan hati.

Marie de Rabutin tampaknya lahir dalam kelompok di mana elemen-elemennya tercampur dengan begitu kaya dan bahagia sehingga mengeluarkan kebajikannya alih-alih menentangnya. Dia dibantu, bukan digagalkan. Tidak ada yang membuatnya bingung atau layu. Pertentangan apa yang dia hadapi hanya cukup untuk mengkonfirmasi penilaiannya karena dia sangat sadar akan kebodohan, sifat buruk, dan pretensi. Dia terlahir sebagai kritikus yang penilaiannya demikian alami bawaan sejak lahir, tanpa diragukan lagi. 

Dia selalu merujuk kesannya pada standar – tingkatkan ketajaman, kedalaman, dan komedi yang membuat pernyataan spontan itu begitu mencerahkan. Tidak ada yang naif tentangnya. Dia sama sekali bukan penonton biasa. Prinsip-prinsip jatuh dari penanya. Dia menyimpulkan dan menilai dengan sangat mudah. Dia telah mewarisi standar dan menerimanya tanpa bersusah payah.

Dia adalah pewaris tradisi, yang menjaga dan memberi proporsi. Kegembiraan, warna, obrolan, banyak gerakan tokoh di latar depan memiliki latar belakang. Di Les Rocher selalu ada Paris dan lapangan luas; di Paris ada Les Rochers, dengan kesendiriannya, pepohonannya, dan para petani.  Dan di balik ini semua ada kebajikan, keyakinan, serta kematian. Itu semua memberinya rasa aman dan membuatnya bebas berlabuh, menjelajah, menikmati segalanya. Dia masuk dengan sepenuh hati ke dalam segudang humor, keanehan , dan kesenangan dari ladangnya yang subur.

Dia berjalan lewat dengan langkah bebasnya yang megah dari Paris ke Brittany dari Brittany ke seluruh Prancis. Dia tinggal bersama teman-temannya di jalan dan dikunjungi oleh teman -teman karibnya. Di mana pun dia berada, dia langsung menarik cinta dari beberapa laki-laki atau perempuan; atau kekaguman  dari sepupunya yang tidak menyenangkan Bussy Rabutin, yang tidak tinggal diam dengan segala ketidaksetujuannya, namun harus yakin akan pendapatnya yang baik.

Orang-orang yang terkenal dan yang brilian juga ingin ditemani olehnya, karena dia adalah bagian dari dunia mereka; dan selalu memiliki tempat dalam obrolan seru. Ada sesuatu yang bijaksana, agung, dan waras tentangnya yang menarik kepercayaan putranya sendiri, Charles. 

Impulsif dan tak berperasaan adalah kelemahannya yang mempesona dirinya sendiri, Charles merawatnya dengan kesabaran penuh saat dia mengalami demam rematik. Dia menertawakannya kelemahan Charles dan mengetahui kegagalannya. Dia toleran dan blak-blakan; tidak perlu ada yang disembunyikan darinya; dia tahu semua yang perlu diketahui manusia dan gairahnya.

Jadi dia menjelajahi dunia, dan mengirimkan surat-suratnya, berseri-seri dan bersinar dengan semua lalu lintas yang beragam dari satu ujung titik di Prancis ke titik lainnya, dua kali seminggu. Saat keempat belas jilid dibuka dan penuh dengan cerita selama 20 tahun, tampaknya dunia ini cukup besar untuk menampung semuanya. Inilah taman yang telah digali oleh Eropa selama berabad-abad; tempat di mana begitu banyak generasi telah mencurahkan darah mereka; ini dia akhirnya dibuahi dan berbunga.

Dan bunganya bukanlah bunga-bunga yang langka dan penyendiri seperti  orang-orang hebat, dengan puisi mereka, serta penaklukannya. Bunga-bunga di taman ini adalah seluruh masyarakat, pria dan wanita dewasa yang tumbuh dalam harmoni, masing-masing memberikan sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang lain.

Sebagai buktinya, surat-surat Madame de Sévigné sering dibagikan oleh penulis lain; sekarang putranya lah yang mengambil pena itu; Abbé menambahkan paragrafnya; bahkan gadis sederhana – la petite personne – tidak takut untuk berbicara dihalaman yang sama. Jadi, bulan Mei 1678 di Les Rochers di Brittany bergema menjadi suara yang berbeda. Ada kicauan burung; Pilois yang sedang menanam tanaman; Madame de Sévigné menjelajahi hutan sendirian; putrinya menghibur politisi di Provence; tidak terlalu jauh ada Monsieur de Rochefoucauld berdiskusi dengan Madame de La Fayette untuk meringkas kata-katanya yang penting saja; Racine menyelesaikan permainan yang segera akan mereka dengarkan bersama; dan setelah itu mendiskusikannya dengan Raja dan wanita yang mereka mereka sebut Quanto.

Suara-suara itu berbaur; mereka semua berbicara bersama di taman pada tahun 1678. Tapi apa yang telah terjadi di luaran? (*)
___

Pembaca yang baik, Galeri Buku Jakarta selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu. Mengembangkan penalaran dan menghadirkan kedalaman dalam pengertiannya yang filosofis. Setiap minggu selama lebih dari 6 tahun, Kami telah mencurahkan waktu, pikiran, cinta, dan sumber daya yang luar biasa ke Galeri Buku Jakarta / galeribukujakarta.com, yang tetap bebas (dan bebas iklan) dan dimungkinkan oleh patronase. Kami membutuhkan ratusan jam sebulan untuk meneliti dan menulis, dan ratusan juta untuk bertahan. Jika Anda menemukan kegembiraan dan penghiburan dalam kerja cinta ini, silakan pertimbangkan untuk menjadi pendukung keberadaan laman ini dengan berkontribusi mengirim artikel / penerjemahan yang sesuai visi kami ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com cc sabiqcarebesth@gmail.com

Continue Reading

COFFEESOPHIA

Dari Warga Menjadi Warganet: Para Penggemar K-pop dan Masyarakat Jejaring

mm

Published

on

Samuel Jonathan *)

Revolusi industri yang paling pertama terjadi di Eropa dan menjungkir balikkan, atau menghancurkan (disrupt), keadaan masyarakat pada zamannya. Pada mulanya, barang-barang (goods) dihasilkan oleh pengrajin yang memang telah bergelut dengan apa yang ia kerjakan sedari dulu – kursi kayu dibuat oleh tukang kayu, sepatu dibuat oleh tukang sepatu, dan semacamnya –, kemunculan dari alat-alat produksi pabrik memungkinkan segala sesuatu dihasilkan secara massal dan, dengan demikian, para pengrajin ahli kehilangan pekerjaanya: mereka dituntut untuk beralih profesi sebagai buruh pabrik.

Kedua, tanda tangan (signature) dari barang-barang yang dihasilkan oleh para pengrajin, kemudian, terhilang, karena segala sesuatu diciptakan secara massal tanpa diketahui yang memproduksinya – lantas, kata Marx, ada satu bentuk alienasi terhadap manusia yang, sejatinya, adalah homo faber. Selain kedua hal tersebut, masih ada beragam lagi dampak-dampak dari Revolusi Industri yang pertama, terkait institusi keluarga, peran anak, arti pendidikan, dan semacamnya. Meski begitu, poin dari tulisan ini adalah bahwa keterguncangan dari masyarakat adalah sesuatu yang mengikut dari suatu peristiwa revolusi.

            Pada abad kedua puluh, secara khusus abad kedua puluh satu, peradaban manusia kembali dipertemukan dengan revolusi industri, atau teknologi lainnya, yang disebut sebagai revolusi industri 4.0. Jauh melampaui revolusi-revolusi teknologi lainnya, mengutip Floridi (2009: 229), tidak ada satu masa di mana manusia diperhadapkan kecepatan dan kekuatan teknologi dan perubahan sosial. Layaknya, kincir di abad pertengahan, jam mekanik di abad modern, dan mesin uap dan kereta api di abad industri, komputer adalah simbol dari pada zaman ini: teknologi informasi komputasional. Kalau dahulu revolusi industri pertama berhasil menghasilkan barang secara massal, sekarang informasi bisa dihasilkan secara massal – bahkan, kebanjiran. Kalau dahulu institusi keluarga diguncang, sekarang bukan semata institusi keluarga saja, melainkan seluruh kenyataan sosial yang ada – dari warga, menuju warganet, atau from citizen to netizen.

            Kehidupan bersosialisasi yang tadinya didefinisikan oleh pertemuan tatap muka antara satu subjek dengan subjek lainnya, diubah dengan pertemuan antara layar dengan layar lainnya (from screen to screen) yang, lebih jauh lagi, terasa sedemikian nyatanya di masa pandemi covid-19. Pergeseran makna akan yang sosial dari tatap muka ke tatap layar dan, lebih jauh lagi, bukan sekedar bertatap layar, tetapi juga, kejadian-kejadian revolusi industri 4.0 yang ada, menjadikan satu bentuk masyarakat yang baru, yaitu masyarakat jejaring (network society).

Masyarakat jejaring adalah masyarakat yang struktur sosialnya dibentuk oleh jejaring yang ditenagai oleh informasi mikroelektronik dan teknologi komunikasi (Castells, 2009: 4). Dengan demikian, jejaring informasi adalah ontologi dari masyarakat jejaring itu sendiri sebagai warganet. Apa yang ada di dalam jejaring bukan semata jejaring-jejaring informasi, melainkan kenyataan itu sendiri – sebuah realitas virtual –, mengutip Baudrillard, sebuah hiperrealitas.

            Membayangkan bahwa masyarakat jejaring yang, berarti, terhubung dengan berbagai informasi, dan bahkan kebanjiran akan informasi, maka inklusivitas adalah sebuah kefaktaan. Terjadi desentralisasi informasi, bahwa pengetahuan tidak harus menjadi privilese bagi sebagian kelompok, tetapi adalah milik setiap orang – layaknya peristiwa Reformasi Gereja yang juga mendesentralisasi akses terhadap Alkitab yang dimiliki hanya oleh para petinggi Gereja. Dengan demikian, perlawanan terhadap pemerintah, sebagai sosok, atau subjek, yang merepresentasikan sentralisasi dan represifitas dapat secara efektif dilawan oleh masyarakat jejaring.

Di dalam Networks of Outrage and Hope, Castells menunjukkan berbagai gerakan sosial yang terjadi di dalam jejaring misal, demokratisasi yang terjadi di Timur Tengah yang dimulai di Tunisia, atau Revolusi Melati, atau gerakan Occupy Wallstreet, adalah kegerakan yang tersebar di dunia yang terhubung dengan internet nirkabel dan ditandai dengan adanya penyebaran gambar dan ide secara cepat dan viral (Castells, 2015: 2).

            Secara lebih eksplisit, solidaritas masyarakat jejaring terasa lebih jauh lagi di dalam akun-akun media sosial yang dimiliki oleh para penggemar K-pop yang ditandai dengan penggunaan foto profil aktris atau aktor Korea – umumnya, anonim, atau, paling tidak, enggan menampilkan wajah aslinya. Satu perisitwa menarik adalah ketika terjadi bermunculannya video porno yang mirip seorang aktris berinisial G yang, entah bagaimana, menjadi kata kunci yang paling banyak dicari dan dirujuk di Twitter. Sebagai suatu upaya melawan revenge porn yang ditujukan kepada Gisel, para penggemar K-pop dengan sengaja mencuit nama dari aktris tersebut, disertai oleh hashtag, meski begitu menautkan video-video dari foto, atau video, dari aktor dan aktris yang mereka sukai, sehingga usaha pencarian yang dilakukan orang-orang akan sia-sia – bukan menemukan Gisel, melainkan foto dan video dari aktris dan aktor K-pop. Bukan hanya sekali, sewaktu kemunculan dari buzzer, para pendengung, berusaha menciptakan hoaks mengenai Bintang Emon, seorang pelawak yang vokal terhadap isu-isu politis, para penggemar K-pop juga melakukan apa yang mereka lakukan di dalam peristiwa penyebaran revenge porn terhadap G: menampilkan foto dan video aktris atau aktor K-pop sambil mencuit Bintang Emon.

            Bukan hanya isu-isu yang berkaitan dengan figur publik, terutama aktor dan aktris tertentu, tetapi juga sebuah upaya perlawanan terhadap pemimpin otoriter yang, bagi sebagian orang, cenderung fasis yaitu Donald Trump. Acara kampanye Donald Trump di Tulsa, Oklahoma pada Sabtu “diganggu” oleh para penggemar K-pop. Ketua kampanye bagi tim Donald Trump mencuit di Twitter bahwa ada lebih dari satu juta tiket telah dipesan. Tetapi nyatanya menurut pemadam kebakaran setempat, hanya 6.200 orang yang datang. Ternyata, para penggemar K-pop yang ada di Amerika Serikat menggunakan TikTok, sebuah aplikasi media sosial, untuk menggerakkan massa membeli tiket kampanye Donald Trump dan, pada saat yang bersamaan, untuk tidak menghadirinya. Tentu, Donald Trump, dan tim, marah besar dan telah dipermalukan oleh para penggemar K-pop. Juga isu-isu politik lainnya seperti #ReformasiDikorusi di Indonesia, dan semacamnya.

            Perlu diingat bahwa para penggemar K-pop tersebut tidak pernah bertemu, atau, sangat mungkin, tidak mengenal antara satu dengan yang lainnya, meski begitu solidaritas yang ada di antara mereka seakan kelompok yang pernah berkumpul, bercengkrama, secara langsung. Masyarakat di dalam jejaring, warganet, adalah pengejahwantahan dari demokrasi itu sendiri – sebagai upaya perlawanan terhadap fasisme, otoritarianisme, dan sentralisasi informasi dari pemerintah. Gerakan sosial melalui jejaring, kata Castells, akan meningkatkan kemungkinan bagi manusia untuk mempelajari apa artinya hidup bersama (2015: 316).

Daftar Pustaka

Castells, M. (2009). The Network Society: A Cross-cultural Perspective. UK: Edward Elgar Publishing Limited

_________. (2015). Networks of Outrage and Hope: Social Movements in the Internet Age. UK: Polity Press

Floridi, L. (2009). Information Technology. Jan Kyrre Berg Olsen, Stig Andur Pedersen, &Vincent F. Hendricks (Eds.) Blackwell Companions to Philosophy: A Companion to the Philosophy of Technology. UK: Willey-Blackwell

N. N. (2020, Jun 25). Ketika Penggemar K-Pop dan TikTok Guncang Donald Trump. Republika. https://republika.co.id/berita/qcdg7r5215000/ketika-penggemar-kpop-dan-tiktok-guncang-donald-trump

Continue Reading

COFFEESOPHIA

Di Waktu Waktu Di Tempat Tempat

mm

Published

on

Kepada K,

1/

[di waktu waktu—tentang anak gadis kepada bapaknya]

Lampu-lampu di kafe ini berwana seperti warna laut milikmu. Kau tahu, terlalu terang untuk petangku yang meluruh ke dalam wadag waktu yang kubuat sendiri dari tanah basah di atas hutan bakau dengan ikan-ikan kecil bergelayut di kaki sebelum petang tiba menyepuhnya jadi lautan dan sampanku terbuat dari ingatan pada pohon-pohon laban milik bapak—lalu entah dari mana angin membawakan aroma laut milikmu ke dinding-dinding kafe ini, mengecat tembok dan atap langitnya dengan warna keheningan dan debur jiwa yang jauh, kabut dan mendung yang mengeja dirinya sendiri sebagai kemarin. Tetapi sekali petang kita telah melihat jemari seperti jemariku atau mungkin jemarimu; menunggu untuk meraih nasibmu mungkin nasibku; ada mata yang tertunduk pada jiwanya sendiri untuk memberi segala dari kelembutan, lalu seperti buih yang membelai kaki mungilmu, seakan angin terjatuh dari hampanya, seketika terasa seperti benda beku bernama masa silam; ia membawakan kerinduan abadi laut pada segala yang tak mungkin dipeluknya sendiri. Burung-burung mungil yang mencari waktu mengucup bibir ombak, mengungsi dari kedinginan yang membekukan, dari puncak-puncaknya musim kesunyian, tetapi burung-burung tak pernah ikan untuk istirah di ranjang lautan meski keluasan dan rindunya tanpa jeda. Apa kau tahu kerinduan abadi milik lauatan? Ia telah mengeja dan menunggu berabad, memadahkan samsara pada burung-burung waktu, meski tak sekali saja memeluk; malam selalu mengganti segala rekah warna pipinya, matanya yang biru, lekuk lehernya yang pasang, tetapi subuh mengirim padanya nasib tentang musim yang kehilangan.

Tetapi para perindu senantiasa menuju, kepada kabut dingin miliknya, yang menempel di pipi seorang gadis yang bocah; tengah menatap laut miliknya sendiri—di depan kerinduan abadinya pada cintanya yang repih lalu perlahan menjai buih sebelum menyatu dengan keluasan abadi. Tahukah kau apa rasanya menjadi laut?  

Meski tiap waktu debur meski tiap waktu luas meski setiap hening cintanya menenun jelma kejauhan; tak sekali-kali membuatnya gentar, tapi kerinduannya telah jadi abadi; tak pernah jadi subuh atau senja, tidak warna terang di kafe-kafe—

Lalu seorang penyair menulis sajak tentang pipi kekasihnya; rona sukma yang kanak-kanak dihadapan rindu jiwanya yang gelombang, jika saja ia bisa pergi melewati segala jauh dan ujung dari semua batas, ia hanya ingin sekali lagi menjulurkan jarinya, melihat senyum itu dan memberitahu jiwanya yang kini jelita, jiwanya yang baru saja mengira; cinta mengajarinya keheningan, jiwa yang jiwa, petang yang melagut, malam yang doa, pagi yang kerap—seperti lelap aroma wangi rambut itu; melelapkan hasrat batinnya yang bocah.

Sekali malam akan digambarnya, segala rindu—tentang surat –surat yang ditulis untuknya, sebagai keluasan sebagai debur sebagai biru lautan sebagai cahaya keemasan; sebagai jendela sebagai jalan-jalan dan kembang rekah atau apa saja untuk memberitahu jiwa kanak-kanaknya; lautan tak pernah sama bagi mereka yang tak memahami sesekali seorang penyair tak menulis sajak tentang kekosongan dan kabut subuh, atau benda benda di atap matanya yang terbakar—ia penyair, menggaris batas bagi  keheningan.

Sekali ini pada petang yang aneh, aku mendengar nyanyianmu yang biasanya, selalu seperti seorang ayah yang tak pernah mengira anak gadisnya akan menyukai senja yang dilukis penyair di pipi kekasihnya.

2/

[di tempat-tempat—tentang penyair kepada kekasihnya]

Kepadamu yang menulis sajak di waktu-waktu, di manakah tempatmu? Aku kini di bawah lampu-lampu kafe dengan cahaya aneh jika saja kau tahu—lampu-lampu di kafe ini berwana seperti warna laut yang kau kira pipiku; lampunya berwana seperti warna laut milikku. Selalu terlalu terang untuk petang milikmu yang meluruh ke dalam wadag waktu yang kau buat sendiri dari tanah basah di atas hutan bakau dengan ikan-ikan kecil bergelayut di kaki sebelum petang tiba dan menyepuhnya jadi lautan—yang senantiasa kau kira seperti pipiku.

Kepadamu yang menulis sajak di waktu-waktu; aku kini menemu soreku yang kukira seperti warna asing atau terkadang itu seperti tatapan matamu padaku saat itu, kau tidak akan mengira bahwa aku telah menjadi sepertimu juga, menatap pada segala apa sebagai kebisuan yang lagut dan masih bertanya apa yang ingin dikenangkan padamu bila pada waktuku aku tak menemu jalan kembali pada subuhmu.

Tapi tahukah kau bahwa saban waktu menjadi aneh, selalu kukenangkan cahaya matamu, tatapanmu selalu saja memuncak dan tak persis kupahami kecuali cintamu pada segala yang kau cari sebagai jiwa, segala yang duka dari segala yang rindu; tetapi dukamu tak pernah suatu kehilangan abadi, aku tahu itu adalah cinta yang maha pada segala yang kau kira sejati. Tetapi apa yang sejati? Kita sama tak pernah memahami atau tidak akan, kita hanya tahu sekali waktu kita ingin memeluk diri kita sendiri, membebaskan dari segala meski tak pernah habis segala rindu pada segala yang hening dan pada larut di mana batin kita seperti menangis sementara malam menjelang seperti warna tanpa nama di atas kanvas yang pasir di gerimis yang sejanak meluruhkan lagi gambar yang kubuat tentangmu atau tentang pendar cahaya matamu yang subuh, ombak yang bedebur di sekujur rambutmu, selalu saja tak cukup padaku untuk sekali waktu kukenangkan pagimu yang mengantuk, malammu yang terlalu lelah mengeja dirimu sendiri, lalu kau menatapku dengan kebisuan yang tak pernah sungguh-sungguh kupahami—tetapi seperti yang kau telah mengira, aku adalah pahat sukmamu, inilah jadinya aku sekarang, selalu merindumu dan jauh, selalu tak memahami kesejatian yang kau cari, tetapi sepertimu, aku tahu kan kupahat hidup dari hidupku, sebagai gugusan cahaya atau sebagai pagi dengan bantal tidur yang kukira kau menyebalah padaku meski kutahu saban petangku menjadi ingatan padamu, masih terus kukira kebun bunga itu memekarkan wangi aroma rambutmu, kebun bunga di punggung rapuhmu yang memahat batu-batu yang kau kira kabut mendung dan kau singkap kelambu kelamnya agar menjadi aku.

Kau tahu aku kini di bawah lampu lampu berwarna aneh dengan segalas kopi dan seorang asing yang mengira aku lukisan tanpa warna dengan matanya menatapku sebagai gadis kecil dengan pipi yang senja atau rambutku yang malam dengan keheningan serupa tiap kali aku mengeja rambutmu yang malam waktu itu. Apa itu kau?

Kini biar kupahat bebatuan itu menjadi kali-kali dalam jiwaku sendiri, kau tahu ia akan mengalir sampai juga padamu. Aku ingin sepanjang malam ini mengeja langit dan melihatmu menatapaku, tapi segelas kopi pesananku datang, dan aku masih gadis kecilmu yang dulu, hanya saja kau tahu, aku mungkin akan mengerti sekarang, kenapa kadang kau tertidur terlalu larut hanya untuk melihatku lelap—diam diam merindukanku meski aku menyebalah di antara bantal tidur dan sajakmu yang laut. (*)

30 November 2020

SABIQ CAREBESTH pecinta puisi, editor Galeri Buku Jakarta.

Continue Reading

Trending