Connect with us
Taufik Ikram Jamil Taufik Ikram Jamil

Puisi

Puisi Taufik Ikram Jamil

mm

Published

on

KEPADA JAWA

 

mungkin kita jumpa lagi pada malam empat persegi

langsung saja bersalin terang dalam bayang

di antara remang-remang bumbung melayang

di samping embun menjingjing dingin

sambil melupakan rama dan sinta

yang berpagut peluk entah di mana

dan mengacuhkan kurawa maupun pundawa

saling berebutan entah untuk apa

betapapun kalimasada kita tatap

dengan seluruh pinta dan segenap harap

 

saya selalu rindu padamu katamu saat sua itu kelak

tapi engkau menjawabnya dengan kleningan gamelan

hingga aku terpancing untuk menjadi dalang

menghabiskan cerita ke puncak angin

kemudian melesat dalam lirik sinden

yang pada gilirannya meliuk dalam serimpi

dengan getar yang lebih besar dari merapi

 

sungguh ingin kusaksikan lagi

saat kau bentangkan rambutmu di pantai selatan

sedangkan kakimu di banyuwangi

dengan tangan terkulai di ujungkulon

bengawan solo melilit pinggangmu ramping

jemput aku bermain alun di muaranya

 

dan bagaikan homo erectus paleojavanicus

sekelip mata mengembara sampai eropa

tapi kau memangilku sebagai arjuna

dengan panah asmara yang sudah memiliki tuju

 

sempat lama bertatapan di dataran dieng

dengan ketinggian yang tak terpahami

menjadikan kita jadi begitu gelisah

lalu kuhumban pandangan ke kawah bromo

tapi kau mengiringinya dengan lengking

karena khawatir seperti gatotkaca

resah kita akan bertulang baja berkulit besi

kokoh bagai borobudur dan kalasan sekaligus

lalu dengan gusar kau lari menghindar

hinggap tersingkap betismu pada bunting

yang jangan-jangan membuat iri dewi sri

untunglah aku sadar bahwa engkau bukan ken dedes

dan aku tak pula ken arok dengan dada membidang

kita akan terkenang babad tanah jawi

bergenggam ingat antara carik braja dengan adilangu

biarkan hj de graaf menggapai lupa

menadah serat pramono sidhi dengan hampa

ketika kala demi kala berlepas pergi

sebelum akhirnya kita sama-sama manangisi dara petak

sebab oleh kisah salah yang tak sudah-sudah

menjadi lahar yang dipendam empat puluh kepundan

dijinakkan laku berpuluh ribu tahun mengeram

 

di jepara yang kusebut kalingga kita berjumpa kelak

bukan hanya karena di sana sempat dipesan keranda

bagi raja ali haji yang berimbang nyawa di usia belia

tapi tempat pertama sua kitalah yang menjadi sebabnya

tanpa mengurangi rasa takzim kepada gersik dan tuban

menerima utusan khalifah usman dengan gempita

agar dapat menyadari diri sebagai manusia

sehingga mampu memahami makna syukur tanpa ukur

dan begitulah selanjutnya nafas terhela ke tanah aceh

di pajang dan demak dan mataram sampai tidore bertukar ukir

kemudian memenuhi armada pati unus mara ke Melaka

bahkan terhadap fatahillah dan ratu kalinyamat

disamping menyelinap dalam kitab-kitab kuning

menjadi santri bagi harga diri

juga meregang kekang kuda diponegoro

sebelum tiba saatnya mematut lidah di serantau riau

sampai menggiring soekarno-hatta di rengasdengklok

pun tak serak suara bersama bung tomo

 

betapa cepat waktu pergi

sementara datang bukan bagian dari dirinya

(Kompas, 25 Maret 2012)

Continue Reading

Puisi

Puisi Sabiq Carebesth

mm

Published

on

 

“Cinta macam apa yang tak membuatmu muda?”

Dalam dunia di mana daun-daun menguning berguguran

Kau kenakan gaun warna merah—dadamu bertalu dipenuhi

Kucup rindu dan cinta yang berbahaya

Rindu yang jadi semenjana semenjak musim menjadi lalu

Dan usia tak lagi muda—dalam dunia yang tua

Kenangan telah menumpuk menjadi temaram pura

Kebebasan yang dulu gemuruh berganti sepi yang lagut

Siapa akan datang mengabarkan nyanyian baru

Hanya para kelana penuh ratap—yang melupakan cinta

Cinta macam apa yang tak membuatmu muda?

Yang tak membuat dunia penuh gemintang abadi

Atau tak ada bedanya sebab waktu telah menjadi kegilaan

Tiap jengkal darinya adalah masa lalu dan masa depan

Masa kini adalah hayalan yang meloloskan diri

Dari dendam masa lalu dan kengerian esok;

Oh sampan itu yang membawa usia mudaku dan usia mudamu

Ke mana perginya masa—larung di sungai yang mana

Labuh di bandar kota mana atau tersesat dan tertambat?

Tapi betapa tak satu pun ingatanku padamu sirna!

Bila saja kota berganti rupa dan dunia baru menyepuh

Biarlah ingatanku padamu tinggal—tak soal bila hanya kenangan

Tapi rambutmu yang berseri, matamu binar—bibirmu segar

Seolah kita hendak berlari di atas laut,

Bagaimana bisa ingatan padamu padam? Meski dunia lupa

Bagaimana kota-kota dibangun; dengan cinta para pertapa

Yang papa dihadapan dunia—

Oh kota macam apa ini? Dibangun untuk membinasakan usia muda

Tidak cinta; tidak rindu; tanpa nafsu tanpa jiwa menari!

Ayo pulang sayangku pada kota lama kita—di mana kita muda

Rambutmu yang berseri, matamu binar—bibirmu segar

Seolah kita hendak berlari di atas laut; atau pergi ke museum

Nanti kubelikan untukmu kembang warna merah

Yang dibuat dari kertas berisi sajakku yang terbakar.

2018

 

“kelam sajak-sajak; ngeri lagu-lagu”

Betapa gersang dunia kita—tanpa musik dan lembar koran

Seorang datang entah dari dunia yang mana

Meski ia hanya sejengkal dari rumah kita

Seorang bernyanyi tapi ia tak pernah tahu

Dari mana nyanyian dan kidungnya bermula;

 

Betapa mengerikan dunia kita—

Aku tak menginginkan dunia baru

Hingga dunia kita sekarang kembali menjadi kehidupan

Seorang datang membawa tanda dan kengerian

Seorang lain datang membawa

Tanda dan kengerian yang lain;

Aku memandang pada hidup yang sepi

Tapi kesepian akan menjadi korban sejarah

 

Siapa bisa tahan, hidup dalam kenang tanpa cinta

Luput dari kasih dan kecantikan jiwa

Nanti lautan berhenti menderu—kalah oleh gemuruhmu

Aku akan terbang menjadi kupu-kupu mona

Mengabarkan kematian jiwa-jiwa

 

Kelam sajak-sajak; ngeri lagu-lagu

Dunia kita yang padam dunia kita yang muram

Dari jendela rumahmu hujan telah jadi angin

Dengan bau-bau kuburan—menjelang petang

Dunia kita berkabut penuh ketakutan—

hanya pemuja kegelapan berpesta dalam hujan

 

Tak ada lagi kecantikan—kita telah berhenti menatapnya

Di hadapan dan belakang dari penjuru-penjuru

Orang-orang siap memadamkan cahaya

Betapa rindu aku pada binar matamu…

Betapa pilu jiwaku melihat keletihan manusia.

 

2018

 

 

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi Georg Trakl

mm

Published

on

Musim Gugur Yang Cerah

Begitu akhir tahun; penuh megah.

Bertanggar kencana dan buahan ditaman

Sekitar, ya aneh, membisu rimba.

Yang bagi orang sepi menjadi taman.

Lalu petani berkata: nah, sukur.

Kau bermain dengan senja Panjang dan pelan

Masih menghibur dibunyi terakhir

Burung-burung di tengah perjalanan.

 

Inilah saat cinta yang mungil

Berperahu melayari sungi biru

Indahnya gambaran silih berganti

Semua ditelah istirah membisu.

 

*) Georg Trakl (3 February 1887 – 3 November 1914) Penyair Austria.  Salah satu penyair liris terpenting berbahasa Jerman di abad 21. Ia tak banyak menulis karena meninggal. Overdosis kokain menjadi penyebabnya. | Editorial Team GBJ | Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Classic Poetry

Puisi Rainer Maria Rilke

mm

Published

on

Hari Musim Gugur

Tuhan: sampai waktu. Musim panas begitu megah.

Lindungkan bayanganmu pada jarum hari

Dan atas padang anginmu lepaslah.

 

Titahkan buahan penghabisan biar matang:

Beri padanya dua hari dari selatan lagi

Desakkan mereka kemurnian dan baru jadi

Gulang penghabisan dalam anggur yang garang.

 

Yang kini tidak berumah, tidak kan menegak tiang.

Yang kini sendiri, akan lama tinggal sendiri.

Kan berjaga, membaca, menyurat Panjang sekali

Dan akan pulang kembali melewati gang

Berjalan gelisah, jika dedaunan mengalun pergi.

 

Musim Gugur

Dedaunan berguguran bagai dari kejauhan,

Seakan di langit berlajuan taman-taman nun jauh;

Gerak-geriknya menampikkan tak rela jatuh.

 

Dan dalam gulingan malam dunia berat—jatuh

Lepas dari galau gemintang masuk kesunyian.

 

Kita semua jatuh. Ini tangan bergulingan

Dan padang Akumu itu: tak satu pun luput!

Betapa pun, ada orang yang sambut

Maha lembut ini jatuh di lengan kasihan.

 

Lagu Asmara

Betapa beta  akan tahan jiwaku, supaya

Jangan meresah dikau? Betapa nanti ia

Kuntandai lintas dirimu ke benda lain?

Ah, aku ingin, semoga dapat ia kupisah

Ke dekat suatu sungai di tengah kegelapan

Disuatu tempat, sepi dan asing, nan tidaklah

Lanjut berdesing, bila kalbumu berdesingan.

Tapi semua yang menyentuh kita, kau dan aku,

Bagai penggesek menyatukan; kau dan aku.

 

Menarik bunyi tunggal dari sepasang tali

Pada bunyian mana kita ini terpasang

Dan ditangan pemain mana kita terpegang?

Wahai lagu berseri.

 

Dari buku ketika

Kau hari nanti, nyala pagi berkilau

Yang mencerah ranah keabadian

Kau kokok ayam disubuh akhir zaman

Embun, misa pagi dan perawan

Orang asing, sang ibu dan maut.

 

Kaulah sosok yang berubah-ubah

Yang menjulang dari nasib, selalu sepi

Yang tinggal tak dipuji dan tak diwelasi

Dan belum dipetakan bagai rimbaraya

 

 

Kau hakikat benda yang dalam nian

Yang menyimpan kata-kata wujudnya

Dan bagi yang lain selalu lain menyata;

Dipantai bagai kapal, di kapal; daratan.

 

*) Rainer Maria Rilke (1875-1926): ia kelahiran Praha, Ceko.Dianggap penyair bahasa Jerman terbesar dari abad 20. Karyanya yang terkenal antara lain Sonnets to Orpheus, Duino Elegies, Letters to a Young Poet, dan The Notebooks of Malte Laurids Brigge. | Editorial Team GBJ | Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Classic Prose

Trending