Connect with us

Puisi

Puisi Puisi Sang Agni Bagaskoro

mm

Published

on

Pengiba

 

Diatas lantai berwarna putih pasi,

terbaring seorang lelaki  yang begitu diam

sedang mencium mimpinya,

 

Diabadikan oleh malam

sampai matahari menjelang,

dia yang telah melupakan arti sia-sia.

 

Disebelah kanannya, seorang lelaki lain

dengan kelopak mata  yang menggelembung,

tidak menangis, dan tidak tahu sebab.

 

Dimakan mual dan perasaan-perasaan

yang tidak menyenangkan.

Sedang menunggu datangnya keajaiban dari Tuhan.

Juga dia berpesan doa pada ibunda.

Dia iri dengan lelaki disebelahnya.

 

Mereka dibatasi oleh kayu-kayu yang tersusun rapi

namun sedikit ringkih, memberikan batas

seperti sungai yang dibelah bebatuan tua.

 

2019

 

Tamasya Jiwa Penuh Dosa

 

Berita dari negri seberang selatan

Merasuk nadi, hati, dan jari

 

Setiap orang menjadi penyihir

Memberi mantra, kutuk, atau amuk

 

Sebab sebelumnya

Kegelapan sedang berjalan

Dengan kaki yang mantap

Mengokang dan berderap

 

Terlumatlah dalam daging-daging

para pencari-pemyembah iman

Terpelanting kuasa punya nyawa

 

Keributan dalam rumah Tuhan itu

Terhembuskan  badik peluru

Pun tanpa ada tafsir soal cinta

Doa selesai sebelum waktunya

 

Siapa pemilik salah ?

 

Kita perlu menghidupkan lagi

Zarathustra dari alam kubur

 

Orang-orang masih saja

Menyembelih beberapa nama,

Mencatut lalu kasar mencarut.

 

 

Tak ada yang pasti tahu

Apa raut wajah Tuan.

 

Disebelah kiri sebuah tangan,

Masih tersimpan rapi

Peta menuju neraka

Bertabur hitam masa lalu.

 

2019

 

 

Seseorang Mencari-Cari

Sesuatu yang Tak Pernah

lahir Ke Dunia.

 

Dunia tak akan mau

memberikan keadilan.

Melainkan ruang,

bersembunyi pada kemarahan

dan perjuangannya.

 

Seperti jarak

yang tak akan pernah

menjanjikan berlari jauh,

atau mencintai bibir hujan

yang tak pernah tepat perlu.

 

Sebab sejarah mengajarkan :

Membunuh manusia lebih mulia,

dibanding waktu.

Mendendam manusia lebih unggul

dibanding cumbu.

 

2019

 

 

Mengapa Sosok Kesatria Tampak

Terlalu Dingin Pada Piaraan ?

 

Kuda tidak sedang membinal,

tapi ia sibuk mencari penunggangnya.

Seorang kestaria senang berebut,

tapi juga tak kuat memperdulikan.

Kecuali dalam pacuan janji.

 

Kestaria tak boleh menjamin,

soal kehidupan atau kebahagiaan.

Sebab perang bisa saja melahap esok.

 

Ia hanya mencintai dua tangan,

untuk perisai tamak dan pedang dendam,

demi selir yang enggan diperkenalkan,

berselundup dibalik nama besar Adam.

 

Ia akan bersabda sekitab pengorbanan,

membiarkan si lincah mati berdiri.

Menjerit untuk kepastian nanti,

tangisnya terkelabui deras darah.

 

Binatang memang ditakdirkan sebagai binatang.

 

2019

 

Penghabisan

 

Pada akar yang

membentang tebal kekal.

Menjalar tanpa suara

menjadi nadimu.

 

Diantara hutan-hutan

pembenci ciuman

Kau tumbuh dengan sesuatu

yang tak diinginkan orang-orang :

Kebenaran dan kejujuran.

Kau tak pernah menunda kekalahan.

 

Maka itu hisaplah aku dalam

bejana cinta milik ibu-bapakmu

yang sedang dimakan usia.

 

Yang berpuluh-puluh tahun

berhasil merubah khianat menjadi kuat.

Demi menumbangkan jengah

yang tak akan pernah dimiliki

oleh anak-anak kita kelak.

 

Mereka yang menyebut dirinya

bangsa penyangkal kebenaran tunggal.

 

2019

_________

*) Sang Agni Bagaskoro, lahir di Medan tanggal 10 Oktober 1995, saat ini menetap di Jakarta, dapat disapa di akun @sangagni (instagram). Riwayat Kekaryaan : “Burung-Burung yang Berjatuhan di Depan Rumah.” Antologi Puisi Bersama (Oase Group, 2017).

 

 

 

 

 

 

 

 

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Puisi Puisi Ozi Marzuki

mm

Published

on

Kotamu Ingin Bunuh Diri

 

Ular naga panjang –Kata nyanyian kita waktu kecil

Menuju ke kotamu

Tapi tidak dengan kotaku

Mengangkut pikiran yang ingin pulang

Tapi raga memutuskan untuk tetap tinggal

Ada apa dengan kotaku dan kotamu?

keduanya penuh dengan persetujuan yang tidak disetujui

 

Kotaku tidak habis pikir pada dirinya

Terlalu banyak kesamaan dalam rupanya

Kata kotaku, kotamu juga demikian

Dia punya noda yang terlalu banyak

Hingga kotamu dianggap tidak suci

Meski sudah mencoba wudhu berkali-kali

 

Kabar terbaru; kotamu ingin bunuh diri

Tapi kotaku bilang lebih baik mengasingkan diri

Karena sendiri untuk sementara layak dicoba

Dibanding sendiri untuk selamanya

 

Satu kesempatan kota kita berbincang

Tentang Ibu yang dalam waktu dekat akan hilang

Memang selama ini Ibu merepotkan

Tapi pelukannya yang menghangatkan juga dirindukan

 

Ayah bilang Ibu pergi karena sayang

Tapi mana ada sayang tanpa kasih

Keduanya saling membutuhkan

Seperti kotamu butuh kotaku.

 

Tiga Pagi

 

Dari dengkur yang tersungkur di telinga

Kau telah berdua menindih aku yang ke-tiga

Kesendirianmu menemukan kesendirian lain;

Bukan kesendirianku

 

Bukan maksud ingin punya kesunyianmu

Tapi aku benci

Sunyimu berisik bukan dengan sunyiku.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Zulfikar A.S

mm

Published

on

MENGERANGNYA SEORANG PEMABUK

Hujan merayu bumi

merayu manja dalam sunyi.

Terdengar sayup-sayup rembulan,

ketakutan.

Cahaya-cahaya lampu merajam kematian,

seperti sedang berlari

meraba-raba, apakah ini?

kematian?

jiwa yang hilang?

atau ketakutan akan kesadaran?

Kegelapan melumat habis pikiran.

Dalam lorong yang panjang

di antara mereka ada yang sedang melawan kematian.

Tidak tahu pasti

mereka benar-benar terpejam

atau sedang terbenam.

Melonglong seperti serigala di malam hari

barangkali menakuti mereka yang terpejam bersama mimpi.

Ah….

Sepertinya aku sedang mabuk

ditelan ilusi.

 

KATA YANG HILANG DARI KOSAKATA

hari-hari berbicara kepadaku

angin-angin mengabarkan berita penuh haru

langit sudah enggan membuka matanya di pagi hari

burung-burung tidak lagi bernyanyi dengan syair-syair selamat pagi

ia berkidung

dalam aroma busuk yang menyengat hidung

apakah kaki-kaki sudah tak bergerak

dan, barangkali tangan-tangan pun sudah terikat

mulut dijadikannya peluru

pikiran dijadikannya meriam

jiwa-jiwa yang terbunuh

berpuluh-puluh dalam peluh

hati sudah berhati-hati memberi kasih

benar dan salah hilang dalam kamus bahasa

yang ada hanya

benar dan benar

salah dan salah

benar dibungkam

salah kalah

tanpa mengalah

 

PELARIAN

Baru saja waktu merampas diriku

dari hingar bingar lekukan tubuh wanita itu.

Aku menemukan angka satu sembilan

di balik sebuah lukisan.

 

Ada yang terjatuh,

ada yang melihat.

Manusia menjadi hadiah

dalam sekantong perayaan.

 

Di dalam ruang dan waktu

di antara sudut dinding berlumut

tubuh-tubuh yang bernyala api,

terbakar─

 

hingga kalian bersembunyi

juga mereka yang melarikan diri.

 

*) Zulfikar A.S., lahir dan tinggal di Bogor

 

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Rofqil Junior

mm

Published

on

Hampir Gelap

goyang anggrek hitam dan akar bakau

menjuntai melengkapi sepi hingga larut

burung-burung malam bersayap angin

membidik petang dari barat ke timur

 

matahari yang mengubur dirinya

dalam-dalam

sedalam ketakutan masa silam

kupastikan esok bangkit dengan pakaian

serba baru dan dari jalan biasa

 

sedang yang kukutuk sebagai kenangan

adalah bekas pijakan anak-anak

seusia jagung di sekat pembatas

bibir pasir dan lidah ombak.

 

temaram tandang, gugusan bintang

tenggara sempurna menyatu

dengan gelap. berjalan bersama-sama

 

lalu burung-burung lain

berekor lilin, memperpanjang kicau.

Gapura, 2019

Sebuah Pagi 

sementara pendar fajar kedua tersangkut

di ujung pohon kelapa sekitar halaman berumput

pagi mencair seperti patung lilin,

kujemput diam-diam. di luar hening mengalir

terulang kembali

 

jalak putih gegas melintas

di persimpangan langit lurus di atas kepala

mencari bahan untuk menenun sarang

atau sekadar membidik penawar lapar

anak-anaknya

 

gigil semakin nyaring berkepanjangan

tiada matinya

menyatu dengan embun, menyapa

daun ranggas sebelum akhirnya luruh

 

betapa mungkin angin lebih semilir

dari yang kau dan aku rasakan

 

takut-takut mekar kembang api

tak tertunaikan dan mati dihajar terik

lantas putri malu semakin kuncup saja

 

Gapura, 2019

 

Desa Terbakar 

aku melayat desa mati dibakar terik matahari

tinggal desau kepodang di pohon kedongdong

yang condong dan hampir roboh

suaranya ringkih sekali

 

langit biru bercermin pada selokan pematang

sengau lumbung kian lesat tajamnya

akar-akar tembakau meminta lepas satu-perastu.

berjalan  menyibak padi kuning setengah runduk

ujungnya mencucuk dasar kaki

 

bunga angin yang kupetik tiap kedatangan ke sini

tempat puisi-puisi itu lahir lalu mengeram

dan menetas sendirinya

adalah teduh yang rutin kuburu, hingga

tak satu pun tersisa gerah di kepala

 

betapa luka akan sangat basah

kalau tiba-tiba jarum jam tak gegas

lebih gila

 

sedang desa kita

hanya kutaburi kembang berupa-rupa

sekadar penenang kenang yang kian semarak.

Gapura, 2019

Koran Pagi

sedang secawan kopi yang tetap mengepul

di rongga meja

menyulut lara berderai yang sudah menahun

bapak memulai ritual bersepi-sepi dengan kursi

 

abjad di dasar koran, penghantar kabar asing

dan sekian banyak tepi dan ruang

di perut bumi

 

mula-mula ia membetulkan duduk kacamatanya

lantas, menyibak lapis-lapis halaman

hingga sampai pada kabar kematian.

 

dibayangkan kematiannya sendiri

dengan upacara yang tak begitu sepi

 

dan mungkin muncul di lembar pertama

koran besok pagi

 

sekali-kali ia akan berseru, jika pandangannya

tertuju pada lembar terakhir

sementara kopi sudah tinggal ampas

seperti pagi yang kehilangan dingin

dan aku yang memburu ingin

Gapura, 2019

 

Pohon Hayat  

ranting setengah gigil dan sudah menua

bentuknya

ada sulur sulur baru yang tidak pernah

menolak untuk jatuh

 

segalanya tergantung pada angin,

derap musim yang bebas melintas

 

lalu kau tidak perlu bertanya

siapa di antara kita yang jatuh

lebih dulu. dan mati sebelum waktu

 

sebab nasib kerap terbalik

 

akar yang kokoh enggan menolak roboh

bila sampai pada waktunya,

betapa kematian begitu menyakitkan

 

demi masa dan ranting ranggas

dimakan usia

kau dan aku daun

menanti kabar untuk tanggal

sambil menikmati jalan terpenggal

 

Gapura, 2019

*) Rofqil Junior adalah nama pena dari Moh. Rofqil Bazikh. Lahir di pulau Giliyang kec. Dungkek kab. Sumenep Madura pada 19 Mei 2002. Aktif di Kelas Puisi Bekasi dan Komunitas ASAP Merupakan alumnus MA. Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur Gapura Sumenep dan MTs. Al-Hidayah Bancamara Giliyang. Tempatnya memulai berproses menulis. Esssainya mendapat juara 1 dalam lomba Creative Student Day 2018. Puisinya mendapat juara 1 dalam lomba yang diadakan oleh PT. Mandiri Jaya Surabaya sekaligus terangkum dalam antologi Surat Berdarah di Antara Gelas Retak (2019). Puisinya juga termaktub dalam antologi Dari Negeri Poci 9; Pesisiran (KKK;2019), BuluWaktu (Sastra Reboan;2018), Banjarbaru Festival Literary (2019), Sua Raya (Malam Puisi Ponorogo; 2019), Dongeng Nusantara Dalam Puisi (2019).Saat ini sudah menulis puisi di berbagai media cetak dan online antara lain Bangka Post, Suara Merdeka, Banjarmasin Post, Malang Post,Radar Malang, Radar Banyuwangi, Radar Cirebon, Radar Madura, Rakyat Sumbar,Radar Pagi, Kabar Madura, Takanta.id, Riau Pos, NusantaraNews, SerikatNews, dll.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending